Pulau Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

PULAU-PULAU INDONESIA 150x39

800px-Java_Topography

Java Topography

Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dan merupakan terluas ke-13 di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta, pulau ini berpenduduk terbanyak di dunia dan merupakan salah satu tempat terpadat di dunia. Meskipun hanya menempati urutan terluas ke-5, Pulau Jawa dihuni oleh 60% penduduk Indonesia, Angka ini turun jika di bandingkan sensus penduduk tahun 1905 yang mencapai 80,6% dari seluruh penduduk indonesia penurunan penduduk di pulau jawa secara persentase di akibatkan perpindahan penduduk (Transmigrasi) dari pulau jawa ke seluruh indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat laut (tepatnya di ujung paling barat Jalur Pantura).

Jawa adalah pulau yang relatif muda dan sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik. Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terbentang dari timur hingga barat pulau ini, dengan dataran endapan aluvial sungai di bagian utara.

Banyak sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Dahulu, Jawa adalah pusat beberapa kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, serta pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pulau ini berdampak besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.

Sebagian besar penduduknya bertutur dalam tiga bahasa utama. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 100 juta penduduk Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di pulau Jawa. Sebagian besar penduduk adalah bilingual, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua. Dua bahasa penting lainnya adalah bahasa Sunda dan bahasa Betawi. Sebagian besar penduduk Pulau Jawa adalah muslim dan Kristen, namun terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta budaya di pulau ini.

Pulau ini secara administratif terbagi menjadi enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten; serta dua wilayah khusus, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.

Etimologi

Asal mula nama “Jawa” dapat dilacak dari kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama yavadvip(a) (dvipa berarti “pulau”, dan yava berarti “jelai” atau juga “biji-bijian”). Apakah biji-bijian ini merupakan jewawut (Setaria italica) atau padi)], keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini pada masa sebelum masuknya pengaruh India. Boleh jadi, pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú yang berarti “jauh”.[1]. Yavadvipa disebut dalam epik asal India, Ramayana. Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip (“Pulau Jawa”) untuk mencari Dewi Shinta. Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau).

Dugaan lain ialah bahwa kata “Jawa” berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia, Awa atau Yawa (Mirip dengan kata Awa’i (Awaiki) atau Hawa’i (Hawaiki) yang digunakan di Polynesia, terutama Hawaii) yang berarti “rumah”.

Aksara

Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀), adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.

Berdasar tradisi lisan, aksara jawa diciptakan oleh Aji Saka, tokoh pendatang dari India, dari suku Shaka (Scythia). Legenda melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Kini kata Saka masih digunakan dalam istilah dalam Bahasa Jawa, saka atau soko, yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula. Aji Saka bermakna “raja asal-mula” atau “raja pertama”.

Sejarah

800px-MerbabuSawah

Pemandangan Gunung Merbabu yang dikelilingi persawahan. Topografi vulkanik serta tanah pertanian yang subur merupakan faktor penting dalam sejarah pulau Jawa.

Pulau ini merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Besar dan paparan Sunda, yang pada masa sebelum es mencair merupakan ujung tenggara benua Asia. Sisa-sisa fosil Homo erectus, yang populer dijuluki “Si Manusia Jawa“, ditemukan di sepanjang daerah tepian Sungai Bengawan Solo, dan peninggalan tersebut berasal dari masa 1,7 juta tahun yang lampau. Situs Sangiran adalah situs prasejarah yang penting di Jawa. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan di pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus. Punden berundak ini dianggap sebagai strukstur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar bangunan candi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha Nusantara setelah penduduk lokal menerima pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India. Pada abad ke-4 SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M Kebudayaan Buni yaitu kebudayaan tembikar tanah liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat. Kebudayaan protosejarah ini merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara.

Pulau Jawa yang sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya padi di lahan basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama antar desa yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa tersebut, berkembanglah kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik dan dataran-dataran tinggi di sekitarnya yang membentang di sepanjang pulau Jawa menyebabkan daerah-daerah interior pulau ini beserta masyarakatnya secara relatif terpisahkan dari pengaruh luar. Pada masa sebelum berkembangnya negara-negara Islam serta kedatangan kolonialisme Eropa, sungai-sungai yang ada merupakan sarana perhubungan utama masyarakat, meskipun kebanyakan sungai di Jawa beraliran pendek. Hanya Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang dapat menjadi sarana penghubung jarak jauh, sehingga pada lembah-lembah sungai tersebut terbentuklah pusat dari kerajaan-kerajaan yang besar.

Diperkirakan suatu sistem perhubungan yang terdiri dari jaringan jalan, jembatan permanen, serta pos pungutan cukai telah terbentuk di pulau Jawa setidaknya pada pertengahan abad ke-17. Para penguasa lokal memiliki kekuasaan atas rute-rute tersebut, musim hujan yang lebat dapat pula mengganggu perjalanan, dan demikian pula penggunakan jalan-jalan sangat tergantung pada pemeliharaan yang terus-menerus. Dapatlah dikatakan bahwa perhubungan antarpenduduk pulau Jawa pada masa itu adalah sulit.

Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Stupa_Borobudur

Sebuah stupa Buddha di candi Borobudur, dari abad ke-9.

Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda muncul di Jawa Barat, masing-masing pada abad ke-4 dan ke-7, sedangkan Kerajaan Medang adalah kerajaan besar pertama yang berdiri di Jawa Tengah pada awal abad ke-8. Kerajaan Medang menganut agama Hindu dan memuja Dewa Siwa, dan kerajaan ini membangun beberapa candi Hindu yang terawal di Jawa yang terletak di Dataran Tinggi Dieng. Di Dataran Kedu pada abad ke-8 berkembang Wangsa Sailendra, yang merupakan pelindung agama Buddha Mahayana. Kerajaan mereka membangun berbagai candi pada abad ke-9, antara lain Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah.

Sekitar abad ke-10, pusat kekuasaan bergeser dari tengah ke timur pulau Jawa. Di wilayah timur berdirilah kerajaan-kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit yang terutama mengandalkan pada pertanian padi, namun juga mengembangkan perdagangan antar kepulauan Indonesia beserta Cina dan India.

Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan kekuasaannya mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (m. 1350-1389). Kerajaan mengklaim kedaulatan atas seluruh kepulauan Indonesia, meskipun kontrol langsung cenderung terbatas pada Jawa, Bali, dan Madura saja. Gajah Mada adalah mahapatih pada masa Hayam Wuruk, yang memimpin banyak penaklukan teritorial bagi kerajaan. Kerajaan-kerajaan di Jawa sebelumnya mendasarkan kekuasaan mereka pada pertanian, namun Majapahit berhasil menguasai pelabuhan dan jalur pelayaran sehingga menjadi kerajaan komersial pertama di Jawa. Majapahit mengalami kemunduran seiring dengan wafatnya Hayam Wuruk dan mulai masuknya agama Islam ke Indonesia.

Masa Kerajaan Islam

Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui Hindu dan Buddha sebagai agama dominan di Jawa, melalui dakwah yang terlebih dahulu dijalankan kepada kaum penguasa pulau ini. Dalam masa ini, kerajaan-kerajaan Islam Demak, Cirebon, dan Banten membangun kekuasaannya. Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16 tumbuh menjadi kekuatan yang dominan dari bagian tengah dan timur Jawa. Para penguasa Surabaya dan Cirebon berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, sehingga hanya Mataram dan Banten lah yang kemudian tersisa ketika datangnya bangsa Belanda pada abad ke-17.

Masa Kolonial

Hubungan Jawa dengan kekuatan-kekuatan kolonial Eropa dimulai pada tahun 1522, dengan diadakannya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di Malaka. Setelah kegagalan perjanjian tersebut, kehadiran Portugis selanjutnya hanya terbatas di Malaka dan di pulau-pulau sebelah timur nusantara saja. Sebuah ekspedisi di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang terdiri dari empat buah kapal pada tahun 1596, menjadi awal dari hubungan antara Belanda dan Indonesia. Pada akhir abad ke-18, Belanda telah berhasil memperluas pengaruh mereka terhadap kesultanan-kesultanan di pedalaman pulau Jawa (lihat Perusahaan Hindia Timur Belanda di Indonesia). Meskipun orang-orang Jawa adalah pejuang yang pemberani, konflik internal telah menghalangi mereka membentuk aliansi yang efektif dalam melawan Belanda. Sisa-sisa Mataram bertahan sebagai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Para raja Jawa mengklaim berkuasa atas kehendak Tuhan, dan Belanda mendukung sisa-sisa aristokrasi Jawa tersebut dengan cara mengukuhkan kedudukan mereka sebagai penguasa wilayah atau bupati dalam lingkup administrasi kolonial.

Di awal masa kolonial, Jawa memegang peranan utama sebagai daerah penghasil beras. Pulau-pulau penghasil rempah-rempah, misalnya kepulauan Banda, secara teratur mendatangkan beras dari Jawa untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Inggris sempat menaklukkan Jawa pada tahun 1811. Jawa kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Britania Raya, dengan Sir Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderalnya. Pada tahun 1814, Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda sebagaimana ketentuan pada Traktat Paris.

Penduduk pulau Jawa kemungkinan sudah mencapai 10 juta orang pada tahun 1815. Pada paruh kedua abad ke-18, mulai terjadi lonjakan jumlah penduduk di kadipaten-kadipaten sepanjang pantai utara Jawa bagian tengah, dan dalam abad ke-19 seluruh pulau mengalami pertumbuhan populasi yang cepat. Berbagai faktor penyebab pertumbuhan penduduk yang besar antara lain termasuk peranan pemerintahan kolonial Belanda, yaitu dalam menetapkan berakhirnya perang saudara di Jawa, meningkatkan luas area persawahan, serta mengenalkan tanaman pangan lainnya seperti singkong dan jagung yang dapat mendukung ketahanan pangan bagi populasi yang tidak mampu membeli beras. Pendapat lainnya menyatakan bahwa meningkatnya beban pajak dan semakin meluasnya perekutan kerja di bawah Sistem Tanam Paksa menyebabkan para pasangan berusaha memiliki lebih banyak anak dengan harapan dapat meningkatkan jumlah anggota keluarga yang dapat menolong membayar pajak dan mencari nafkah. Pada tahun 1820, terjadi wabah kolera di Jawa dengan korban 100.000 jiwa.

Kehadiran truk dan kereta api sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang sebelumnya hanya menggunakan kereta dan kerbau, penggunaan sistem telegraf, dan sistem distribusi yang lebih teratur di bawah pemerintahan kolonial; semuanya turut mendukung terhapusnya kelaparan di Jawa, yang pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan penduduk. Tidak terjadi bencana kelaparan yang berarti di Jawa semenjak tahun 1840-an hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an. Selain itu, menurunnya usia awal pernikahan selama abad ke-19, menyebabkan bertambahnya jumlah tahun di mana seorang perempuan dapat mengurus anak.

Masa Kemerdekaan

Nasionalisme Indonesia mulai tumbuh di Jawa pada awal abad ke-20 (lihat Kebangkitan Nasional Indonesia), dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan setelah Perang Dunia II juga berpusat di Jawa. Kudeta G 30 S PKI yang gagal dan kekerasan anti-komunis selanjutnya pada tahun 1965-66 sebagian besar terjadi di pulau ini. Jawa saat ini mendominasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia, yang berpotensi menjadi sumber kecemburuan sosial. Pada tahun 1998 terjadi kerusuhan besar yang menimpa etnis Tionghoa-Indonesia, yang merupakan salah satu dari berbagai kerusuhan berdarah yang terjadi tidak berapa lama sebelum runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto yang telah berjalan selama 32 tahun.

Pada tahun 2006, Gunung Merapi meletus dan diikuti oleh gempa bumi yang melanda Yogyakarta. Jawa juga sempat terkena sedikit dampak wabah flu burung, serta merupakan lokasi bencana semburan lumpur panas Sidoarjo.

Geografi dan Geologi

Geografi

Semeru_Bromo_Temple

Gunung Semeru dan Bromo di Jawa Timur. Berkas:Semeru Bromo Temple.JPG

Jawa bertetangga dengan Sumatera di sebelah barat, Bali di timur, Kalimantan di utara, dan Pulau Natal di selatan. Pulau Jawa merupakan pulau ke-13 terbesar di dunia. Perairan yang mengelilingi pulau ini ialah Laut Jawa di utara, Selat Sunda di barat, Samudera Hindia di selatan, serta Selat Bali dan Selat Madura di timur.

Jawa memiliki luas sekitar 126.700 km2. Sungai yang terpanjang ialah Bengawan Solo, yaitu sepanjang 600 km. Sungai ini bersumber di Jawa bagian tengah, tepatnya di gunung berapi Lawu. Aliran sungai kemudian mengalir ke arah utara dan timur, menuju muaranya di Laut Jawa di dekat kota Surabaya.

Hampir keseluruhan wilayah Jawa pernah memperoleh dampak dari aktivitas gunung berapi. Terdapat tiga puluh delapan gunung yang terbentang dari timur ke barat pulau ini, yang kesemuanya pada waktu tertentu pernah menjadi gunung berapi aktif. Gunung berapi tertinggi di Jawa adalah Gunung Semeru (3.676 m), sedangkan gunung berapi paling aktif di Jawa dan bahkan di Indonesia adalah Gunung Merapi (2.968 m) serta Gunung Kelud (1.731 m). Gunung-gunung dan dataran tinggi yang berjarak berjauhan membantu wilayah pedalaman terbagi menjadi beberapa daerah yang relatif terisolasi dan cocok untuk persawahan lahan basah. Lahan persawahan padi di Jawa adalah salah satu yang tersubur di dunia. Jawa adalah tempat pertama penanaman kopi di Indonesia, yaitu sejak tahun 1699. Kini, kopi arabika banyak ditanam di Dataran Tinggi Ijen baik oleh para petani kecil maupun oleh perkebunan-perkebunan besar.

Geologi

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_weg_van_Buitenzorg_naar_de_Preanger_Regentschappen_TMnr_3728-429c

Dataran Tinggi Parahyangan, dilihat dari Bogor (k. 1865-1872). Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM De weg van Buitenzorg naar de Preanger Regentschappen TMnr 3728-429c.jpg

Pemerian geologi Jawa paling lengkap diungkap dalam van Bemmelen (1949). Sebagai pulau, Jawa secara geologi relatif muda. Pembentukan dimulai dari periode Tersier. Sebelumnya, kerak bumi yang membentuk pulau ini berada di bawah permukaan laut. Aktivitas orogenis yang intensif sejak kala Oligosen dan Miosen mengangkat dasar laut sehingga pada kala Pliosen dan Pleistosen wujud Pulau Jawa sudah mulai terbentuk. Sisa-sisa dasar laut masih tampak, membentuk fitur sebagian besar kawasan karst di selatan pulau ini.

Van Bemmelen membagi Pulau Jawa dalam tujuh satuan fisiografi sebagai berikut:

  1. Pegunungan Selatan, merupakan zona gamping bercampur sisa aktivitas vulkanis dari kala Miosen yang mengalami beberapa pengangkatan hingga periode Kuarter.
  2. Zona vulkanis dari periode Kuarter, dengan gunung-gunung api tinggi, seringkali dengan puncak di atas 2000 m dari permukaan laut, membentang dari barat sampai ujung timur.
  3. Depresi Tengah, membentuk poros cekungan sebagai poros utama pulau, dengan dua depresi besar: depresi Bandung dan depresi Solo
  4. Zona antiklinal Tengah, terdiri dari endapan-endapan kala Miosen sampai Pleistosen, dimulai dari Gunung Karang terus ke timur melewati Bogor, lembah Serayu, lalu Pegunungan Kendeng, terus sampai ke pantai utara Besuki.
  5. Depresi Randublatung, merupakan depresi kecil memanjang di utara Pegunungan Kendeng, terbentuk dari endapan laut dan daratan.
  6. Antiklinorium Rembang-Madura, merupakan formasi perbukitan gamping di pantai utara Jawa Timur dan membentuk hampir semua bagian Pulau Madura
  7. Dataran aluvial pesisir utara (Jalur Pantura) yang terbentuk dari delta dan endapan lumpur, merupakan daratan paling muda.

Demografi

Pemerintahan

Secara administratif pulau Jawa terdiri atas enam provinsi:

  • Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
  • Provinsi Banten, dengan ibukota provinsi Kota Serang
  • Provinsi Jawa Barat, dengan ibukota provinsi Kota Bandung
  • Provinsi Jawa Tengah, dengan ibukota provinsi Kota Semarang
  • Provinsi Jawa Timur, dengan ibukota provinsi Kota Surabaya
  • Daerah Setingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ibukota Kota Yogyakarta

Penduduk

Dengan populasi sebesar 160 juta jiwa Jawa adalah pulau yang menjadi tempat tinggal lebih dari 60% populasi Indonesia. Dengan kepadatan 1.317 jiwa/km², pulau ini juga menjadi salah satu pulau di dunia yang paling dipadati penduduk. Sekitar 45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa. Walaupun demikian sepertiga bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki kepadatan penduduk lebih dari 1.500 jiwa/km2.

Upenn-f16-0085_1955_5_Java

Ragam Penduduk Pulau Jawa

Sejak tahun 1970-an hingga kejatuhan Suharto pada tahun 1998, pemerintah Indonesia melakukan program transmigrasi untuk memindahkan sebagian penduduk Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia yang lebih luas. Program ini terkadang berhasil, namun terkadang menghasilkan konflik antara transmigran pendatang dari Jawa dengan populasi penduduk setempat. Di Jawa Timur banyak pula terdapat penduduk dari etnis Madura dan Bali, karena kedekatan lokasi dan hubungan bersejarah antara Jawa dan pulau-pulau tersebut. Jakarta dan wilayah sekelilingnya sebagai daerah metropolitan yang dominan serta ibukota negara, telah menjadi tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa di Indonesia.

Java_Transportation_Network_id.svg

Jaringan Transportasi Jawa

Penduduk Pulau Jawa perlahan-lahan semakin berciri urban, dan kota-kota besar serta kawasan industri menjadi pusat-pusat kepadatan tertinggi. Berikut adalah 10 kota besar di Jawa berdasarkan jumlah populasi tahun 2005.

PROVINSI

Etnis dan Budaya

Mitos asal usul pulau Jawa serta gunung-gunung berapinya diceritakan dalam sebuah kakawin, bernama Tangtu Panggelaran. Komposisi etnis di pulau Jawa secara relatif dapat dianggap homogen, meskipun memiliki populasi yang besar dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Terdapat dua kelompok etnis utama asli pulau ini, yaitu etnis Jawa dan etnis Sunda. Etnis Madura dapat pula dianggap sebagai kelompok ketiga; mereka berasal dari pulau Madura yang berada di utara pantai timur Jawa, dan telah bermigrasi secara besar-besaran ke Jawa Timur sejak abad ke-18. Jumlah orang Jawa adalah sekitar dua-pertiga penduduk pulau ini, sedangkan orang Sunda mencapai 20% dan orang Madura mencapai 10%.

355px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_jonge_Javaan_te_Semarang_Java_TMnr_10002811

Seorang pemuda berpakaian tradisional Jawa dengan kelengkapan: blangkon, kain batik, dan keris (1913)

Empat wilayah budaya utama terdapat di pulau ini: sentral budaya Jawa (kejawen) di bagian tengah, budaya pesisir Jawa (pasisiran) di pantai utara, budaya Sunda (pasundan) di bagian barat, dan budaya Osing (blambangan) di bagian timur. Budaya Madura terkadang dianggap sebagai yang kelima, mengingat hubungan eratnya dengan budaya pesisir Jawa. Kejawen dianggap sebagai budaya Jawa yang paling dominan. Aristokrasi Jawa yang tersisa berlokasi di wilayah ini, yang juga merupakan etnis dengan populasi dominan di Indonesia. Bahasa, seni, dan tata krama yang berlaku di wilayah ini dianggap yang paling halus dan merupakan panutan masyarakat Jawa. Tanah pertanian tersubur dan terpadat penduduknya di Indonesia membentang sejak dari Banyumas di sebelah barat hingga ke Blitar di sebelah timur.

Jawa merupakan tempat berdirinya banyak kerajaan yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, dan karenanya terdapat berbagai karya sastra dari para pengarang Jawa. Salah satunya ialah kisah Ken Arok dan Ken Dedes, yang merupakan kisah anak yatim yang berhasil menjadi raja dan menikahi ratu dari kerajaan Jawa kuno; dan selain itu juga terdapat berbagai terjemahan dari Ramayana dan Mahabharata. Pramoedya Ananta Toer adalah seorang penulis kontemporer ternama Indonesia, yang banyak menulis berdasarkan pengalaman pribadinya ketika tumbuh dewasa di Jawa, dan ia banyak mengambil unsur-unsur cerita rakyat dan legenda sejarah Jawa ke dalam karangannya.

Bahasa

Java_languages

Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Jawa (bahasa Jawa warna putih).

Tiga bahasa utama yang dipertuturkan di Jawa adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura. Bahasa-bahasa lain yang dipertuturkan meliputi bahasa Betawi (suatu dialek lokal bahasa Melayu di wilayah Jakarta), bahasa Osing dan bahasa Tengger (erat hubungannya dengan bahasa Jawa), bahasa Baduy (erat hubungannya dengan bahasa Sunda), bahasa Kangean (erat hubungannya dengan bahasa Madura), bahasa Bali, dan bahasa Banyumasan. Sebagian besar besar penduduk mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, yang umumnya merupakan bahasa kedua mereka.

Agama dan Kepercayaan

Jawa adalah kancah pertemuan dari berbagai agama dan budaya. Pengaruh budaya India adalah yang datang pertama kali dengan agama Hindu-Siwa dan Buddha, yang menembus secara mendalam dan menyatu dengan tradisi adat dan budaya masyarakat Jawa. Para brahmana kerajaan dan pujangga istana mengesahkan kekuasaan raja-raja Jawa, serta mengaitkan kosmologi Hindu dengan susunan politik mereka. Meskipun kemudian agama Islam menjadi agama mayoritas, kantong-kantong kecil pemeluk Hindu tersebar di seluruh pulau. Terdapat populasi Hindu yang signifikan di sepanjang pantai timur dekat pulau Bali, terutama di sekitar kota Banyuwangi. Sedangkan komunitas Buddha umumnya saat ini terdapat di kota-kota besar, terutama dari kalangan Tionghoa-Indonesia.

Sekumpulan batu nisan Muslim yang berukiran halus dengan tulisan dalam bahasa Jawa Kuno dan bukan bahasa Arab ditemukan dengan penanggalan tahun sejak 1369 di Jawa Timur. Damais menyimpulkan itu adalah makam orang-orang Jawa yang sangat terhormat, bahkan mungkin para bangsawan. M.C. Ricklefs berpendapat bahwa para penyebar agama Islam yang berpaham sufi-mistis, yang mungkin dianggap berkekuatan gaib, adalah agen-agen yang menyebabkan perpindahan agama para elit istana Jawa, yang telah lama akrab dengan aspek mistis agama Hindu dan Buddha. Sebuah batu nisan seorang Muslim bernama Maulana Malik Ibrahim yang bertahun 1419 (822 Hijriah) ditemukan di Gresik, sebuah pelabuhan di pesisir Jawa Timur. Tradisi Jawa menyebutnya sebagai orang asing non-Jawa, dan dianggap salah satu dari sembilan penyebar agama Islam pertama di Jawa (Walisongo), meskipun tidak ada bukti tertulis yang mendukung tradisi lisan ini.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Moskee_Indonesië_TMnr_10016740

Masjid di Pati, Jawa Tengah, pada masa kolonial. Masjid ini menggabungkan gaya tradisional Jawa (atap bertingkat) dengan arsitektur Eropa.

Saat ini hampir 100% suku Sunda, Betawi, Banten dan Cirebon serta sekitar 95 persen suku Jawa menganut agama Islam. Agama Islam sangat kental memberi pengaruh pada suku Betawi, Banten, Cirebon dan Sunda. Muslim suku Jawa dapat dibagi menjadi abangan (lebih sinkretis) dan santri (lebih ortodoks). Dalam sebuah pondok pesantren di Jawa, para kyai sebagai pemimpin agama melanjutkan peranan para resi pada masa Hindu. Para santri dan masyarakat di sekitar pondok umumnya turut membantu menyediakan kebutuhan-kebutuhannya. Tradisi pra-Islam di Jawa juga telah membuat pemahaman Islam sebagian orang cenderung ke arah mistis. Terdapat masyarakat Jawa yang berkelompok dengan tidak terlalu terstruktur di bawah kepemimpinan tokoh keagamaan, yang menggabungkan pengetahuan dan praktik-praktik pra-Islam dengan ajaran Islam.

Agama Katolik Roma tiba di Indonesia pada saat kedatangan Portugis dengan perdagangan rempah-rempah. Agama Katolik mulai menyebar di Jawa Tengah ketika Frans van Lith, seorang imam dari Belanda, datang ke Muntilan, Jawa Tengah pada tahun 1896. Kristen Protestan tiba di Indonesia saat dimulainya kolonialisasi Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) pada abad ke-16. Kebijakan VOC yang melarang penyebaran agama Katolik secara signifikan meningkatkan persentase jumlah penganut Protestan di Indonesia. Komunitas Kristen terutama terdapat di kota-kota besar, meskipun di beberapa daerah di Jawa tengah bagian selatan terdapat pedesaan yang penduduknya memeluk Katolik. Terdapat kasus-kasus intoleransi bernuansa agama yang menimpa umat Katolik dan kelompok Kristen lainnya.

Tahun 1956, Kantor Departemen Agama di Yogyakarta melaporkan bahwa terdapat 63 sekte aliran kepercayaan di Jawa yang tidak termasuk dalam agama-agama resmi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 35 berada di Jawa Tengah, 22 di Jawa Barat dan 6 di Jawa Timur. Berbagai aliran kepercayaan (juga disebut kejawen atau kebatinan) tersebut, di antaranya yang terkenal adalah Subud, memiliki jumlah anggota yang sulit diperkirakan karena banyak pengikutnya mengidentifikasi diri dengan salah satu agama resmi pula.

Ekonomi dan Mata Pencaharian

Awalnya, perekonomian Jawa sangat tergantung pada persawahan. Kerajaan-kerajaan kuno di Jawa, seperti Tarumanagara, Mataram, dan Majapahit, sangat bergantung pada panen padi dan pajaknya. Jawa terkenal sebagai pengekspor beras sejak zaman dahulu, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan penduduk pulau ini. Perdagangan dengan negara Asia lainnya seperti India dan Cina sudah terjadi pada awal abad ke-4, terbukti dengan ditemukannya keramik Cina dari periode tersebut. Jawa juga terlibat dalam perdagangan rempah-rempah Maluku semenjak era Majapahit hingga era Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). Perusahaan dagang tersebut mendirikan pusat administrasinya di Batavia pada abad ke-17, yang kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah Hindia-Belanda sejak abad ke-18. Selama masa penjajahan, Belanda memperkenalkan budidaya berbagai tanaman komersial, seperti tebu, kopi, karet, teh, kina, dan lain-lain. Kopi Jawa bahkan mendapatkan popularitas global di awal ke-19 dan abad ke-20, sehingga nama Java telah menjadi sinonim untuk kopi.

800px-Rice_plantation_in_Java

Wanita Jawa menanam padi di persawahan dekat Prambanan, Yogyakarta.

Jawa telah menjadi pulau paling berkembang di Indonesia sejak era Hindia-Belanda hingga saat ini. Jaringan transportasi jalan yang telah ada sejak zaman kuno dipertautkan dan disempurnakan dengan dibangunnya Jalan Raya Pos Jawa oleh Daendels di awal abad ke-19. Kebutuhan transportasi produk-produk komersial dari perkebunan di pedalaman menuju pelabuhan di pantai, telah memacu pembangunan jaringan kereta api di Jawa. Saat ini, industri, bisnis dan perdagangan, juga jasa berkembang di kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung, sedangkan kota-kota kesultanan tradisional seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon menjaga warisan budaya keraton dan menjadi pusat seni, budaya dan pariwisata. Kawasan industri juga berkembang di kota-kota sepanjang pantai utara Jawa, terutama di sekitar Cilegon, Tangerang, Bekasi, Karawang, Gresik, dan Sidoarjo.

Jaringan jalan tol dibangun dan diperluas sejak masa pemerintahan Soeharto hingga sekarang, yang menghubungkan pusat-pusat kota dengan daerah sekitarnya, di berbagai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Selain jalan tol tersebut, di pulau ini juga terdapat 16 jalan raya nasional.

Najwa Shihab

BIOGRAPHY 150x17

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Najwa_Shihab

Biodata

  • Lahir: Najwa Shihab
  • Pekerjaan: Pembawa acara, Presenter, Berita
  • Tahun aktif; 2001–2017
  • Agama: Islam
  • Pasangan: Ibrahim Sjarief Assegaf
  • Anak: Izzat Assegaf
  • Orang tua:
    • Quraisy Shihab
    • Fatmawati Assegaf

Najwa Shihab yang akrab dipanggil Nana (lahir di Makassar, 16 September 1977; umur 39 tahun) adalah mantan pembawa acara berita di stasiun televisi Metro TV. Ia pernah menjadi anchor program berita prime time Metro Hari Ini, Suara Anda dan program bincang-bincang Mata Najwa. Najwa adalah putri kedua Quraisy Shihab, Menteri Agama era Kabinet Pembangunan VII. Nana menikah dengan Ibrahim Assegaf, dan sudah memiliki satu orang anak laki-laki yang akrab dipanggil Izzat (14 tahun).

Najwa adalah alumni Fakultas Hukum UI tahun 2000. Semasa SMA ia terpilih mengikuti program AFS, yang di Indonesia program ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Amerika Serikat. Merintis karier di RCTI, tahun 2001 ia memilih bergabung dengan Metro TV karena stasiun TV itu dinilai lebih menjawab minat besarnya terhadap dunia jurnalistik.

Pada bulan Agustus 2017, ia secara resmi telah mengundurkan diri dari MetroTV yang telah membesarkan namanya.

Karier

Penghargaan yang diraih

Pada tahun 2005, ia memperoleh penghargaan dari PWI Pusat dan PWI Jaya untuk lapora-laporannya dari Aceh, saat bencana tsunami melanda kawasan itu, Desember 2004. Liputan dan laporannya dinilai memberi andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap tragedi kemanusiaan tersebut.

Najwa tiba di Aceh pada hari-hari pertama bencana, menjadi saksi mata kedahsyatan musibah itu, berada di tengah tumpukan mayat yang belum terurus, dan menjadi saksi pula betapa pemerintah tidak siap menghadapinya. Tak heran beberapa laporan live-nya amat emosional. Meski demikian ia tidak kehilangan daya kritis dan ketajamannya, kendati orang yang dianggap paling bertanggung jawab atas penanganan pasca-bencana adalah Alwi Shihab, Menko Kesra waktu itu, yang tak lain adalah pamannya. Pakar komunikasi UI, Effendi Ghazali yang terkesan dengan laporan-laporannya, menyebut fenomena itu sebagai Shihab vs. Shihab.

Tahun 2006 ia terpilih sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV, dan masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards.

Pada tahun yang sama, bersama sejumlah wartawan dari berbagai negara, Najwa terpilih menjadi peserta Senior Journalist Seminar yang berlangsung di sejumlah kota di AS, dan menjadi pembicara pada Konvensi Asian American Journalist Association.

Tahun 2007, pengakuan terhadap profesionalisme Najwa tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga manca negara. Terbukti, selain kembali masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards, ia juga masuk nominasi (5 besar) ajang yang lebih bergengsi di tingkat Asia, yaitu Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affairs/Talkshow presenter. Pengumuman pemenang dilangsungkan bulan November 2007 di Singapura. Jika pada Panasonic Awards pemenang dipilih dari jumlah sms terbanyak, maka penentuan pemenang pada Asian TV Awards dilakukan oleh panel juri yang beranggotakan TV broadcaster senior dari berbagai negara di Asia.

Salah satu acara yang dipandu Najwa Shihab dan cukup membekas di benak publik, adalah debat kandidat Gubernur DKI Jakarta. Debat yang mempertemukan pasangan Fauzi Bowo-Priyanto dan Adang Daradjatun-Dani Anwar itu diselenggarakan oleh KPUD DKI Jakarta, disiarkan secara langsung oleh Metro TV dan Jak TV. Najwa terpilih sebagai pemandu debat menyisihkan sejumlah pembawa acara yang diseleksi KPUD DKI Jakarta.

Kendati telah memutuskan untuk total di dunia jurnalistik dan TV broadcast, Najwa terus menerus berupaya memperkuat dan memperkaya wawasan keilmuannya. Awal 2008 mendatang dia akan terbang ke Australia sebagai peraih Full Scholarship for Australian Leadership Awards. Ia akan mendalami hukum media.

Tahun 2010, kembali Najwa Shihab masuk sebagai nominasi Presenter Berita Terbaik Panasonic Awards, walaupun pada akhirnya Putra Nababan sebagai pemenang.

Duta Baca Indonesia dan Duta Pustaka Bergerak

Najwa dan buku. Najwa dan gerakan membaca. Itulah dunia Najwa Shihab saat ini. Mengkampanyekan kecintaan pada buku, bicara tentang literasi, kepedulian pada tingkat membaca buku di kalangan anak muda. Sebuah tantangan besar untuk Najwa, sebagai Duta Baca Indonesia. Najwa Shihab adalah Duta Baca Indonesia (2016-2020) oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dengan tugas utama menyebarkan minat baca ke penjuru negeri. Selain Duta Baca Indonesia, Najwa juga menjadi Duta Pustaka Bergerak. Jaringan literasi yang mendedikasikan untuk membangun perpustakaan bergerak, dari satu wilayah ke wilayah lain, dengan sarana prasarana sederhana. Ada yang menyebarkan buku memakai kuda, pedati, perahu, vespa, dan sebagainya. Tugas Najwa adalah membangun kepedulian terhadap buku dan gerakan membaca, menyebarkan bahan bacaan ke berbagai penjuru negeri, dan ujung-ujungnya adalah meningkatnya minat baca di Indonesia.

Buku Terkait

  • Mantra Layar Kaca, Fenty Effendy, 2015
  • Catatan Najwa, Najwa Shihab, 2016

Penghargaan dan nominasi

PENGHARGAAN NAJWA SHIHAB

Penghargaan Lain

  • Insan Pertelevisian Terbaik dalam ajang Panasonic Gobel Awards (2016)
  • The Influential Woman of The Year dari Elle Magazine (2016)
  • Most Progressive Figure oleh Forbes Magazine (2015)
  • Presenter Pemilukada Terbaik oleh Badan Pengawas Pemilu (2015)
  • Young Global Leader oleh The World Economic Forum (2011)
  • Highly Commended for the Best Current Affairs Presenter di Asian Television Award (2009 dan 2007)
  • Australian Alumni Award for Journalism and Media (2009)
  • National Award for Journalistic Contribution to Democracy (2010)
  • Jurnalis Terbaik Metro TV 2006
  • Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF)
  • Asian Television Awards (ATA) 2011 Pemenang Kedua atau Highly Commended
  • Best Current Affairs Presenter dalam acara Mata Najwa di Metro TV.
  • Sebelumnya pada tahun 2009 juga menjadi Juara kedua dan pada tahun 2007 menjadi Juara Ketiga.

Narasumber yang pernah diwawancarai

  • Joko Widodo, Presiden ke-7 RI
  • Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 RI
  • Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI
  • B.J. Habibie, Presiden ke-3 RI
  • Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI
  • Boediono, Wakil Presiden ke-11 RI
  • Prabowo Subianto, Ketuas Umum Partai Gerindra
  • Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI
  • Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI
  • Agus Rahardjo, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
  • Tito Karnavian, Kepala Kepolisian Republik Indonesia
  • Gatot Nurmantyo, Panglima TNI
  • Puan Maharani, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
  • Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman
  • Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan
  • Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan
  • Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama
  • Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan
  • Pratikno, Menteri Sekretaris Negara
  • Pramono Anung, Sekretaris Kabinet
  • Teten Masduki, Kepala Staf Kepresidenan
  • Basuki Tjahaja Purnama, Mantan Gubernur DKI Jakarta
  • Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah
  • Soekarwo, Gubernur Jawa Timur
  • Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat
  • Zumi Zola, Gubernur Jambi
  • Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya
  • Emil Dardak, Bupati Trenggalek
  • Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung
  • Mustofa Bisri, ulama, pengelola ponpes Raudlatut Thalibin
  • Salahuddin Wahid, ulama, pengelola Ponpes Tebuireng
  • Rhenald Kasali, Inisiator Rumah Perubahan
  • Antasari Azhar, Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi/ terpidana kasus pembunuhan
  • Titiek Puspa, artis senior
  • Slank, grup band
  • Godbless, grup band
  • Addie MS, pimpinan Twilite Orchestra
  • Rhoma Irama, pimpinan Soneta Band.
  • Novel Baswedan, penyidik KPK. Merupakan tokoh terakhir yang diwawancarai Najwa Shihab.

Profil dan Biodata Najwa Shihab

Najwa Shihab yang biasa dipanggil Nana adalah pembawa berita dan reporter televisi, yang berprestasi dan profesional. Nana lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 16 September 1977. Najwa adalah puteri kedua dari Quraisy Shihab, mantan Menteri Agama di era Kabinet Pembangunan VII. Pada umur 20 tahun, Nana menikah muda, dengan Ibrahim Assegaf, dan kini ia sudah memiliki seorang anak laki-laki yang dipanggil Izzat (6 tahun). Najwa Shihab menempuh pendidikan mulai dari TK Al-Quran, SD di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah, lalu SMP dan SMU Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Dan kemudian melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tamat tahun 2000.

Pada saat kelas dua SMU, Najwa Shihab mendapat kesempatan AFS (America Field Service), yaitu program pertukaran pelajar ke Amerika, program ini dilaksanakan oleh Yayasan Bina Antarbudaya, selama satu tahun di AS. Awalnya nana merintis karier di RCTI, tahun 2001, namun kemudian ia memilih bergabung dengan Metro TV. Najwa Shibab bergabung dengan Metro TV sebagai presenter berita sejak 2001 dan Pada tahun 2005, ia menjadi anchor program Mata Najwa.

Dengan kemampuannya, banyak prestasi yang telah Najwa shihab raih dan memperoleh berbagai penghargaan, seperti dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat dan PWI Jaya untuk lapora-laporannya dari Aceh, saat bencana tsunami melanda kawasan itu, Desember 2004, Nana juga mendapat penghargaan pada Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari 2005, Nana meraih penghargaan untuk HPN Award. Tahun 2006 ia terpilih sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV, dan masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards. Pada tahun yang sama, bersama sejumlah wartawan dari berbagai negara, Najwa terpilih menjadi peserta Senior Journalist Seminar yang berlangsung di sejumlah kota di AS, dan menjadi pembicara pada Konvensi Asian American Journalist Association Tahun 2007, selain kembali masuk nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards, ia juga masuk nominasi (5 besar) ajang di tingkat Asia, yaitu Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affairs/Talkshow presenter.

Awal 2008 Najwa shihab berangkat ke Australia sebagai peraih Full Scholarship for Australian Leadership Awards, untuk mendalami ilmu hukum media. Tahun 2010, kembali Najwa Shihab masuk sebagai nominasi Presenter Berita Terbaik Panasonic Awards. Tahun 2011, Najwa Shihab meraih penghargaan Asian Television Awards (ATA) 2011 sebagai pemenang kedua atau Highly Commended untuk kategori Best Current Affairs Presenter dalam acara Mata Najwa di Metro TV. Sebelumnya pada tahun 2009 juga menjadi juara kedua dan pada tahun 2007 menjadi juara ketiga. Presenter Najwa Shihab dari MetroTV meraih penghargaan Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF) yang berkedudukan di Geneva, Swiss, karena pencapaian profesional, komitmen terhadap masyarakat dan kontribusinya yang potensial dalam membentuk masa depan dunia dengan kepemimpinannya yang memberi inspirasi terhadap kaum muda lainnya.

Najwa merupakan wartawan yang pertama mewawancarai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tak lama setelah pelantikan. Hampir semua tokoh politk nasional pernah ia wawancarai. Tokoh manca negara yang pernah ia wawancarai, antara lain adalah mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Biodata Najwa Shihab

  • Nama lengkap : Najwa Shihab
  • Panggiln : Nana
  • Lahir  : 16 September 1977 di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
  • Zodiac : Virgo
  • Kewarganegaraan: Indonesia
  • Almamater : Fakultas Hukum Universitas Indonesia
  • Pekerjaan : Pembaca berita dan reporter
  • Agama : Islam
  • Twitter :  at.NajwaShihab
  • Ayah: Quraish Shihab
  • Pekerjaan Ayah: Penceramah
  • Saudara: Najla (kakak perempuan), Naswa (adik perempuan), Nahla (adik permpuan), Ahmad (saudara laki-laki)
  • Suami/Istri: Ibrahim Sjarief Assegaf (sejak 1997)
  • Anak-anak: Izzat Ibrahim (laki-laki, L. 2001), Namiyah (laki-laki, m. 16-Des-11)
  • Populer Sejak: Meliput bencana tsunami di Aceh (2004)

Photo Gallery

najwa-shihab-twitter-01 najwa-shihab-twitter-04

 

 

 

 

Patung Lilin Jokowi di Hongkong Kini Kenakan Kemeja Batik

JOKO WIDODO 150x20

 

Minggu 13 Agustus 2017, 06:45 WIB

bd51a02c-aa06-4b0c-b3cb-4abd06e0f8d6

Jakarta – Patung lilin Presiden Joko Widodo yang terpajang di Museum Madame Tussauds Hong Kong kini mengenakan kemeja batik. Sebelumnya, patung tersebut mengenakan kemeja putih lengan panjang.

“Setelah lebih dari tiga bulan mengenakan baju putih ciri khasnya, mulai tanggal 12 Agustus 2017, kemeja batik akan menghiasi patung lilin Presiden Joko Widodo di Museum Madame Tussaud Hong Kong,” kata Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Tri Tharyat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/8/2017).

67e0c2c2-0e08-416c-904e-86a247c29683

Tri mediskusikan teknis pergantian tampilan ini kepada pihak Museum. Sebab, mengingat batik adalah satu ikon negara Indonesia dan sebagai satu warisan budaya UNESCO.

“Pemakaian kemeja batik di patung lilin ini akan lebih mengenalkan batik kepada publik sebagai satu warisan Budaya UNESCO,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi datang berkunjung ke Madame Tussauds Hong Kong pada tanggal 1 Mei 2017 lalu. Waktu itu dia menyempatkan mampir di sela pertemuan dengan pemerintahan Special Administrative Region (SAR) Hong Kong. Patung Jokowi dipajang berdekatan dengan patung lilin Pesiden pertama RI, Ir Sukarno.

20840950_1883721955280164_6855346644469635899_n

Dia mengatakan patungnya akan mengenakan kemeja batik. Kemeja batik yang dipasangkan di patung lilinnya itu memang asli miliknya sendiri.

“Iya, dari sini (Indonesia) asli, bukan dari mereka. Jangan keliru, asli dari sini, dijahit di sini. Asli, asli dan sudah saya pakai,” tutur Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (10/8).
(cim/elz)

 

 

Tol Bocimi Akan Beroperasi pada 2019

INDONESIA MEMBANGUN-01 175x23 logo-hut-ri-72-tahun-indonesia-kerja-bersama 100x88

 

03 Jul 2017, 16:27 WIB

013748900_1499074341-IMG-20170621-WA0071

Setahun setelah meninjau Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali meninjau tol yang progresnya berjalan sangat baik tersebut. Pada kunjungan kali ini, Presiden Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry TZ.

Presiden Jokowi menilai pembangunan Tol Bocimi yang dilakukan sejak tahun 1997 sangat diperlukan karena kemacetan dari Bogor-Ciawi-Sukabumi memang sangat parah.

055145900_1499074315-IMG-20170621-WA0069

Basuki Hadimuljono menargetkan Tol Bocimi akan beroperasi penuh sepanjang 54 km pada 2019, jika lahannya bebas 100 persen di 2017

“Perkembangannya sangat baik. Dari total 54 km Tol Bocimi, ini di seksi 1 sepanjang 15 km progresnya tidak ada masalah. Pembebasan lahan sudah beres semua, konstruksi tidak ada masalah. Kita mau masuk kepada seksi berikutnya, yaitu seksi 2, 3, dan 4,” ujar Presiden pada 21 Juni 2017 di lokasi peninjauan.

Hingga saat ini, berdasarkan data Kementerian PUPR progres konstruksi fisik seksi I Ciawi-Cigombong sepanjang 15,3 km telah mencapai 36,52 persen dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2017.

Sementara itu, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menargetkan Tol Bocimi akan beroperasi penuh sepanjang 54 km pada 2019 jika lahannya bebas 100 persen pada 2017.

“Jika tidak ada kendala lahan dan 100 persen bebas pada 2017, maka konstruksi akan selesai pada 2019. Konstruksi Bocimi ini cukup berat,” ujar Menteri Basuki.

Menteri Basuki menjelaskan pengerjaan Tol Bocimi tidaklah mudah karena topografinya pengunungan yang naik-turun dengan risiko pergerakan tanah yang cukup tinggi, seperti Tol Cipularang.

Meski begitu, Kementerian PUPR terus memacu pembebasan lahan dan konstruksi tol yang diharapkan bisa mengatasi kemacetan di beberapa titik rute Jakarta–Sukabumi. Pembangunan jalan tol ini juga akan membantu pengembangan kawasan Jawa Barat Selatan melalui peningkatan aksesibilitas, sehingga, tercipta multiplier efek terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

Sebagai informasi, Tol Bocimi pengusahaannya oleh PT Trans Jabar Toll dengan saham mayoritas dimiliki oleh PT Waskita Toll Road. Berdasarkan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT), jalur Tol Bocimi sepanjang 54 km terdiri atas empat seksi, antara lain Seksi I Ciawi-Cigombong 15,3 km, Seksi II Cigombong- Cibadak 12 km, Seksi III Cibadak-Sukabumi Barat 14 km, serta Seksi IV Sukabumi Barat-Sukabumi Timur 13 km dengan nilai investasi Rp 7,7 triliun.

 

Pembangunan Tol Bocimi Ditargetkan Tahun ini

INDONESIA MEMBANGUN-01 175x23 logo-hut-ri-72-tahun-indonesia-kerja-bersama 100x88

 

Senin , 15 April 2013, 14:26 WIB

jalan-tol-bocimi

SUKABUMI — Anggota Komisi V DPR RI Yudi Widiana Adiya di Sukabumi mengatakan, awal pembangunan jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) ditargetkan bisa terlaksana tahun ini.

“Menurut informasinya Juli ini pembangunan sudah bisa dilaksanakan, tetapi kami belum tahun pasti kapan akan dilaksanakan awal pembangunan tersebut, namun kami targetkan tahun ini sudah bisa ada pengerjaan pembangunan jalan tol tersebut,” kata Yudi, Senin (15/4).

Pihaknya, ujar Yudi, akan terus memantau setiap perkembangan pembangunan jalan tol ini, apakah pihak pemegang proyek, yakni MNC mampu dalam keuangannya atau tidak. Jangan sampai pembangunan ini tertunda lagi. Selain itu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pihak MNC grup agar secepatnya bisa melaksanakan pembangunan tersebut.

Menurut Yudi, keberadaan jalan tol ini akan sangat membantu warga untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, karena dari pantauan pihaknya kondisi arus lalu lintas dan jalan yang menghubungkan Bogor dengan Sukabumi kondisinya rusak dan kemacetannya sudah sulit diurai. “Rencananya awal pembangunan jalan tol ini mulai dari arah Bogor dan secara bertahap akan dilanjutkan hingga Sukabumi. Kami berharap pembangunan ini bisa dipercepat karena rencana pembangunan tersebut sudah cukup lama atau sekitar belasan tahun yang lalu,” terangnya.

Untuk menunjang kelancaran pembangunan ini khususnya di masalah pembebasan lahan, pihaknya juga akan turun tangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat agar lahan warga yang terkena dampak pembangunan ini bisa mendapatkan konpensasi yang tidak merugikan atau sesuai dengan harga lahan tersebut. Yudi mengatakan, panjang jalan tol ini sekitar 54,4 kilometer dengan dilakukan sebanyak empat sesi pembangunan. Sesi pertama akan dibangun 14,6 kilometer dari Ciawi sampai Cigombong.

Kemudian di sesi kedua 12,7 kilometer dari Cigombong sampai Cibadak Sukabumi dan dilanjutkan sepanjang 13,9 kilometer dari Cibadak sampai Sukabumi Barat dan sesi terakhir sepanjang 13,2 kilometer dari Sukabumi Barat sampai Sukabumi Timur. “Anggaran yang dianggarkan di APBN untuk pembebasan lahan yakni Rp 700 miliar dan untuk bangunan fisiknya dialokasikan sekitar Rp 4-5 triliun,” ujarnya.

Sumber : Antara

 

Perkembangan Tol Ciawi Sukabumi Seksi 1 Paket 2.1 (Ciherang – Caringin)

INDONESIA MEMBANGUN-01 175x23 logo-hut-ri-72-tahun-indonesia-kerja-bersama 100x88

 

 

jalan-tol-bocimi

Perkembangan Tol Ciawi Sukabumi Seksi 1 Paket 2.1 (Ciherang – Caringin) Agustus 2017.

presiden-jokowi-tinjau-tol-bocimi_20160621_173435

Proyek jalan tol tersebut sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1997 untuk mengatasi kemacetan di jalur Bogor-Ciawi-Sukabumi yang semakin parah.

Tol Bocimi memiliki panjang 54 kilometer dan akan terdiri atas empat seksi. Seksi I adalah jalur Ciawi-Cigombong sepanjang 15,3 kilometer, seksi II adalah jalur Cigombong- Cibadak sepanjang 12 kilometer, seksi III adalah jalur Cibadak-Sukabumi Barat sepanjang 14 kilometer, serta seksi IV yaitu jalur Sukabumi Barat-Sukabumi Timur sepanjang 13 kilometer.

Jalan Tol Bawen-Salatiga Diresmikan Akhir Agustus

INDONESIA MEMBANGUN-01 175x23 logo-hut-ri-72-tahun-indonesia-kerja-bersama 100x88

TOL BAWEN - SALATIGA

Salatiga, Minggu, 13 Agustus 2017 | 17:05 WIB

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa jalan tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen-Salatiga akan diresmikan oleh pemerintah pada akhir Agustus 2017.

“Sudah ada kunjungan lapangan kemarin (untuk uji kelaikan), kalau itu laik kami rencanakan 28 Agustus 2017 akan dibuka resmi untuk masyarakat,” katanya di sela pelaksanaan Festival Jalan Tol di gerbang tol Salatiga, Minggu (13/8).

Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kempupera, Kementerian Perhubungan, Polri dan tim dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang melakukan uji kelaikan jalan tol Bawen-Salatiga.

Uji kelaikan tersebut merupakan salah satu prosedur yang harus dilakukan sebelum ruas jalan tol dioperasikan secara resmi oleh pemerintah.

Setelah uji kelaikan jalan tol Bawen-Salatiga selesai, tim gabungan akan memberikan rekomendasi kepada PT Trans Marga Jateng agar ditindaklanjuti jika ada yang harus dilengkapi atau diperbaiki.

Seperti diketahui, konstruksi jalan tol Bawen-Salatiga yang memiliki panjang 17,6 kilometer, saat ini sudah selesai 100 persen.

Jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,64 Km yang dikelola oleh PT Trans Marga Jateng (TMJ), kelompok usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk. merupakan salah satu skala prioritas pembangunan jalan tol oleh pemerintah saat ini dan telah sesuai dengan tata ruang terpadu yang disusun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta diharapkan dapat mempercepat pengembangan wilayah tersebut.

Jalan tol Semarang-Solo yang menghubungkan Kota Semarang dan Surakarta (Solo) memiliki arti penting bagi denyut nadi perekonomian di daerah yang dilintasi yaitu, Semarang, Salatiga, Boyolali, Sukoharjo, serta Solo.

Jalan tol Semarang-Solo memperkuat potensi pengembangan wilayah, khususnya untuk mendukung pergerakan perekonomian melalui peningkatan kelancaran arus barang dan jasa.

Jalan tol Semarang-Solo sebagai bagian dari Trans Jawa yang melintas di jalur pantura juga berperan penting dalam membantu kelancaran arus mudik balik Lebaran tiap tahun.

Dengan segera dioperasikan Jalan Tol Semarang-Solo ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di jalan arteri serta memberikan alternatif pilihan bagi pengguna jalan untuk menuju ke kota tujuan dengan aman, lancar dan nyaman.

Related Post: Peta Pulau Jawa

 

 

6 Ruas Tol Baru Dioperasikan 2 Bulan Mendatang

INDONESIA MEMBANGUN-01 175x23

20526356_1929598117289263_8958618789919798269_n

Post Update: PUPR 4 August at 06:00

Berkomitmen dalam menciptakan pemerataan pembangunan yang berkeadilan sosial, Kementerian PUPR melalui peran Ditjen Bina Marga lakukan pembangunan infrastruktur konektivitas di beberapa wilayah.

Tahun ini, sektor Bina Marga ditargetkan untuk menyelesaikan pembangunan 16 ruas tol baru sepanjang 391,98 km. Dari total panjang jalan, 253,44 km di antaranya dibangun oleh badan usaha, sementara 39,65 km lainnya akan dibangun oleh Kementerian PUPR.

Dari total target, sebanyak 6 ruas jalan tol baru akan mulai dioperasikan dalam waktu 2 bulan ke depan, yakni:

  1. Medan-Binjai seksi 2 sepanjang 6,18 km dan seksi 3 sepanjang 4,28 km
  2. Palembang-Indralaya Seksi 1 sepanjang 7,75 km
  3. Kertosono-Mojokerto seksi 2 sepanjang 20,15 km dan seksi 4 sepanjang 0,9 km
  4. Bawen-Salatiga sepanjang 20,51 km,
  5. Gempol Junction-Bangil sepanjang 7.8 km
  6. Sebagian ruas tol Bekasi – Cawang – Kampung Melayu (Becakayu) sepanjang 8,3 km.

 

 

 

 

Tanggul Raksasa di Pantai Utara Jakarta Dikebut, Ini Progresnya

INDONESIA MEMBANGUN-01 175x23

ad9b2-73fbc942-7f2f-4688-a52f-6a76ba5c321a_169

Jakarta 05 Agustus 2017- Kawasan pesisir Jakarta terus mengalami penurunan permukaan tanah hingga 11-12 cm per tahun. Hal ini kerap membuat banjir rob di Utara Jakarta tak terhindarkan setiap tahunnya.

Diperparah lagi dengan terjadinya kenaikan muka laut akibat perubahan iklim yang bila tidak segera ditangani dalam beberapa tahun akan terjadi back water di mana aliran sungai-sungai tidak bisa mengalir ke laut.

Untuk mengatasi penurunan permukaan tanah (land subsidence) di Pantai Utara Jakarta tersebut, pemerintah membangun Tanggul Pengamanan Pantai dengan panjang total mencapai 120 km, karena terdiri dari tanggul pantai dan tanggul muara.

Adapun yang dilakukan saat ini adalah pembangunan tanggul pengaman pantai DKI Jakarta Tahap II yang menjadi bagian dari program jangka pendek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bertanggungjawab membangun tanggul sepanjang 20 km, dan sampai 2018, ditargetkan terbangun 4,5 km tanggul pengaman pantai.

Progres Pembangunan

Proyek Pengamanan Pantai Tahap II yang dikerjakan Kementerian PUPR tersebut terbagi menjadi dua paket pekerjaan. Paket 1 berlokasi di Kelurahan Muara Baru (Pluit), Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara dengan panjang tanggul 2,3 km. Kontraktor yang menangani PT Waskita Karya – PT Adhi Karya KSO dengan nilai kontrak Rp 379 miliar.

Sementara Paket 2 berlokasi di Kelurahan Kali Baru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara dengan panjang tanggul 2,2 km dan dilengkapi dengan bangunan rumah pompa. Kontraktor yang menangani adalah PT Wijaya Karya – PT SAC Nusantara KSO dengan nilai kontrak senilai Rp 405 miliar.

Kepala BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Cilincing Cisadane, T. Iskandar menjelaskan progres paket 1 tersebut saat ini telah mencapai 57,97% dengan tanggul yang sudah terbangun sudah mencapai 1.317 meter. Sedangkan untuk paket 2 telah mencapai 54,43% dengan tanggul yang sudah terbangun mencapai 1.372 meter. Pada tahun 2014 juga telah selesai dibangun tanggul pengaman pantai tahap 1 di Pluit sepanjang 75 meter.

“Jadi total keseluruhan progres pembangunan tanggul pantai tahap II sudah mencapai 56,14% dengan tanggul yang sudah terbangun sepanjang 2.689 meter dari target sepanjang 4.500 meter,” ujar Iskandar dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/8/2017).

Saat ini, Kementerian PUPR berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DKI terkait penyediaan lahan, karena menurut perencanaan masih dibutuhkan lahan seluas 5 hektar untuk pemasangan polder pantai yang diambil sebanyak 3,1 hektar dari dataran laut dan 1,9 hektar dari lahan di daratan yang masih harus dibebaskan.

“Untuk masalah pembebasan lahan tanggung jawab Pemda DKI sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sudah dianggarkan sebesar Rp 59 miliar di dalam APBD Pemda DKI,” kata Iskandar. (eds/hns)