Allah Ada di Mana-Mana

by Harun Yahya

ALLAH ADA DI MANA-MANA

Sebagian orang membayangkan bahwa diri mereka sendiri adalah sebuah materi, dan dunia yang mereka lihat di sekelilingnya adalah sesuatu materi yang pasti. Tapi mereka menganggap Allah (sesungguhnya Allah lebih dari itu) sebagai imajinasi yang meliputi suatu materi yang pasti itu. Atau, karena mereka tidak dapat melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, mereka berkata “Allah pasti berada di suatu tempat yang tidak bisa kita lihat, di luar angkasa atau tidak bisa dilihat dengan mata manusia” (tentu saja Allah lebih dari itu). Tapi semua itu adalah kesalahan fatal.

Karena Allah ada di mana-mana, tidak hanya di langit. Sebagai satu-satunya zat yang absolut, Allah meliputi jagad raya, manusia dan tempat, surga dan di manapun. Dan Allah nyata di jagad raya. Menurut hadis, Nabi kita, Muhammad SAW mengatakan bahwa seseorang yang mengatakan bahwa Allah ada di langit mengatakan yang sesungguhnya. Tapi pernyataan itu tidak menyebabkan konflik dengan fakta bahwa Allah ada di mana-mana. Karena jika seseorang berada di suatu tempat bersama Anda di Bumi, mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah dan berpikir bahwa Allah ada di langit, sementara seseorang yang berada di Kutub Selatan melakukan hal yang sama, sementara seseorang di Kutub Utara mengangkat tangannya dan seseorang lainnya di Jepang, atau Amerika atau Ekuador mengangkat tangan ke langit dengan cara yang sama dan menghadap Allah, maka tidak mungkin berbicara tentang sebuah arah tertentu. Dengan cara yang sama, jika jin, malaikat dan setan berada di tempat-tempat berbeda di luar angkasa dan jagad raya juga berdoa menghadap langit, maka tidak mungkin membicarakan sebuah arah tertentu dan situasinya adalah meliputi seluruh jagad raya.

Kita juga harus ingat bahwa Allah terbebas dariruang dan waktu. Allah sendiri adalah sesuatu yang berbeda. Tapi perwujudan dari Allah ada di mana-mana. Jika seseorang memasuki sebuah ruangan dan mengatakan Allah tidak ada di sana, dia mengingkari Allah. Perwujudan Allah ada di ruangan itu dan di manapun. Di manapun Anda berada, perwujudan Allah ada di sana. Beberapa ayat Alqur’an mengatakan bahwa Allah meliputi seluruh tempat, bahwa Allah lebih dekat dari urat leher kita, dan kita akan melihat wajah-Nya kemanapun kita menatap. Misalnya, di surat Al Baqarah ayat 255, Allah mengatakan : “Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.” Surat Hud, ayat 92 : “Ketahuilah (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan” yang berarti Allah juga meliputi apa yang manusia lakukan.

Kebenaran yang ada di Alqur’an jelas sekali : Allah tidak hanya berada di langit. Allah adalah Dia yang meliputi dan ada di seluruh tempat. Pengetahuan ini ada di dalam Alqur’an untuk kita ketahui. Menjelaskan kenyataan rahasia di balik materi memungkinkan manusia mengerti lebih baik tentang ayat-ayat tersebut. Orang-orang yang menyadari bahwa materi bukanlah kehidupan absolut akan sadar bahwa Allah ada di manapun dan kapanpun, bahwa Allah melihat dan mendengar mereka setiap saat, bahwa Allah menyaksikan semuanya dan lebih dekat dari urat leher mereka, dan Allah mendengar doa dari orang yang berdoa.

Beberapa ayat Al Qur’an berkenaan dengan subyek tersebut.

Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui. (Surat Al-Baqarah, 115)

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar. (Surat Al-Baqarah, 255)

Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu, ”Sungguh, (ilmu) Tuhanmu meliputi seluruh manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk (zaqqum) dalam Alqur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (Surat Al-Isra’, 60)

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (Surat Maryam, 93-94)

Dan (kemenangan-kemenangan) atas negeri-negeri lain yang tidak dapat kamu perkirakan, tetapi sesungguhnya Allah telah menentukannya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surat Al- Fath, 21)

Padahal Allah mengepung dari belakang mereka (sehingga tidak dapat lolos). (Surat Al-Buruj, 20)

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Surat Qaf, 16)

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan. (Surat Ali ‘Imran, 120)

Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan. (Surat An-Nisa’, 108)

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan (pengetahuan) Allah meliputi segala sesuatu. (Surat An-Nisa’, 126)

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan. (Surat Al-Anfal, 47)

Dia (Syu’aib) menjawab, “Wahai kaumku! Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, bahkan Dia kamu tempatkan di belakangmu (diabaikan)? Ketahuilah (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”. (Surat Hud, 92)

Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. (Surat Fussilat, 54)

PENDAPAT TUAN ADNAN OKTAR MENGENAI TAKDIR, KETETAPAN, DAN FAKTA BAHWA ALLAH ADA DI MANA-MANA.

Adnan Oktar : Subyek yang sangat difokuskan sebagian besar orang adalah keberadaan Allah, kematian, apa yang akan terjadi setelah hari kiamat, dan takdir. Dengan kata lain, tak peduli seberapa sering mereka mencoba untuk tidak mengakuinya, mereka selalu memikirkannya. Karena setiap malam, ada sebuah film di TV tentang seseorang yang meninggal. Bahkan jika seseorang melihat seekor serangga mati, hal itu akan mengingatkannya kepada kematian, dan saat seseorang itu berpikir tentang dirinya, hal itu mengingatkannya lagi kepada kematian.

Orang merasa sangat terganggu saat membicarakan takdir. Masih ada perdebatan sengit, bahkan setelah saya membahasnya cukup lama, mereka masih saja belum menerimanya. Mereka mengatakan bahwa Allah telah menetapkan takdir, tentu saja. Ada takdir, tetapi juga ada kebebasan memilih, kata mereka, dengan kata lain ada sedikit kekuatan kecil pada kita – na’udzubillah min dzalik – yang tidak dapat Allah kontrol, yang menjadi hak kita. Dengan kata lain, Allah tidak mengetahui apa yang akan kita lakukan, atau Allah tahu, tapi hanya samar-samar (na’udzubillah min dzalik). Dan saat kita melakukan sesuatu Allah menunjukkan kita dua jalan, tapi tidak tahu jalan mana yang kita pilih. Kita memilih jalan itu, na’udzubillah min dzalik, dengan keinginan kita sendiri. Dan menjadi sebuah informasi kejutan, semoga Allah melarangnya, untuk Allah. Maksudnya menjadi sesuatu yang Allah ketahui untuk pertama kalinya, dan walaupun Allah menguji kita, dan Allah akan mengerti (na’udzubillah min dzalik). Hal itu sama sekali tidak ada. Baik takdir dan sebagian keinginan bebas diciptakan oleh Allah.

Hanya ada satu momen. Apa arti satu momen di dalam masa? Artinya waktu yang sangat singkat. Yang kita sebut ”instan” adalah masa yang sangat singkat. Allah telah mencipta dan menyelesaikan yang tak terhingga sebelum dan sesudah dalam masa yang sangat singkat itu. Tidak ada yang harus diselesaikan. Tidak ada yang bisa dilakukan seseorang pun. Jadi bagaimana kebebasan memilih Anda itu bukan bagian dari takdir? Oleh karena itu, orang yang egois yang melihat dirinya sendiri – na’udzubillah min dzalik – sebagai seorang yang hebat, tidak dapat mengerti hal ini. Fakta bahwa Allah telah menetapkan takdir dan juga kebebasan memilih akan mengganggu pikiran mereka untuk beberapa alasan. Hal kedua yang mengganggu mereka adalah fakta bahwa Allah ada di mana-mana. Mereka menginginkan Allah ada di langit, hanya di satu tempat tertentu di langit. Bukan di semua tempat di langit, hanya di satu tempat saja.

Seseorang baru saja menyatakan bahwa jika Allah ada di kamar kita, dan di tubuh kita, maka kita adalah Allah, na’udzubillah min dzalik! Kita menyembah esensi Allah. Menjadi perwujudan Allah adalah satu hal, dan menjadi esensi Allah adalah hal lainnya, bukan begitu? Kita menyembah esensi Allah. Tentu saja kita perwujudan Allah dan Allah ada di mana-mana. Allah juga ada di tubuh kita. Sebagian orang tidak ingin Allah ada di dalam tubuh mereka. Dan karena itu mereka juga tidak menginginkan-Nya di dalam kamar mereka. Di mana mereka menginginkan-Nya? Jauh di atas langit. Mereka menginginkan-Nya berada di sana, begitu jauh, na’udzubillah min dzalik!

Kenapa mereka harus mengatakannya seperti itu, kenapa mereka mempercayainya, saya benar-benar tidak mengerti. Artinya, jika mereka ditanya apakah Allah ada di sini, mereka akan mengatakan tidak. Di mana Allah? Di langit, tapi Allah tidak ada di sini, kata mereka. Oleh karena itu, mereka akan mengatakan Allah tidak ada di Bumi (na’udzubillah min dzalik) bukan? Mereka akan mengatakan Allah ada di langit dan Dia tidak ada di sini. Mereka mengatakan bahwa hanya pengetahuan-Nya yang dapat sampai kepada kita, tapi bukan diri-Nya. Mereka mengatakan : “kami adalah makhluk yang seutuhnya, Allah hanyalah bayangan.”

Saya terbiasa mendengar kalimat itu saat saya masih kecil. Buktikan bahwa Allah ada, kata mereka. Lalu mereka akan mengatakan, “Bisakah kau tunjukkan gambar di televisi atau suara di radio, atau pikiranmu sendiri? Bisakah kau tunjukkan isi dari pikiranmu?” Mereka katakan itu karena kau tidak bisa memperlihatkan isi pikiranmu, kau juga tidak bisa memperlihatkan Allah, dan itu penjelasan mereka. Benar bahwa Allah tidak bisa dilihat atau disentuh, dan bukan sebuah obyek. Allah bukanlah makhluk dengan ruang dan waktu. Allah berada di luar ruang dan waktu. Tapi tujuan yang sebenarnya dari orang-orang ini sangat berbeda. Misalnya mereka mengatakan ada seorang anak perempuan dan Rasulullah datang. Rasulullah bertanya, ”di mana Allah?” Anak perempuan itu menjawab, ”Allah ada di langit.” “Kau benar,” kata Rasulullah. Mereka menjadikannya bukti dan percaya bahwa Allah ada di langit. Baiklah, Allah ada di langit. Saat anak perempuan ini menunjuk ke atas, dia menunjuk ke langit dan dia berada di Arab. Seseorang yang berada di Kutub Utara atau di Kutub Selatan juga mengangkat tangannya ke langit dan berdoa kepada Allah. Seseorang di ekuator mengangkat tangannya. Seluruh orang di bumi, mengangkat tangan mereka ke atas. Mahkluk lainnya di Merkurius atau Uranus dan sistem planet lainnya juga berdoa ke arah atas. Dengan begitu, berarti meliputi ruang angkasa yang kosong, bukan?

Misalnya, seseorang berada di Merkurius, Bumi juga ada di langit, dan saat seseorang itu mengangkat tangannya, dia mengangkat tangannya ke arah Bumi. Dan saat seseorang di Bumi mengangkat tangannya ke langit, dia akan mengangkat tangannya ke arah planet lain. Untuk itu, wilayahnya meliputi 360 derajat. Mereka telah gagal melihatnya. Seperti yang pernah dikatakan bahwa, mereka tiba-tiba berhenti berkomentar dan kepercayaan yang aneh itu tidak pernah diperdebatkan lagi. Tapi orang-orang seperti itu akan selalu ada dari waktu ke waktu dan tetap mengatakan hal itu. Akan ada orang-orang yang mengatakan adanya kebebasan memilih. Baiklah, kebebasan memilih akan ada, tapi di dalam takdir. Kebebasan itu ada di dalam takdir yang telah diciptakan Allah. Kebebasan itu diciptakan di dalam takdir. Kau memilih, kau membuat pilihanmu sendiri, tapi kebebasan itu ada di dalam takdirmu sendiri. Untuk itu, na’udzubillah min dzalik, kau tidak memiliki cara untuk mengejutkan Allah. Dengan kata lain, kau tidak bisa melakukan apa pun tanpa sepengetahuan Allah.

Lakukanlah yang sudah ada sebelumnya, yang telah terjadi sebelumnya, itu saja.

2ue4nro1

Advertisements

ALLAH BERKUASA ATAS SEGALANYA

By Harun Yahya

ALLAH BERKUASA ATAS SEGALANYA

11806592024xk7cy0un5[1]Allah, pencipta segala sesuatu, satu-satunya pemilik seluruh makhluk. Dialah Allah yang menghimpun gumpalan awan, yang memanaskan dan menerangi bumi, merubah arah angin, menetapkan burung-burung tetap di langit, menyemai benih, menentukan detak jantung manusia, menetapkan fotosintesis tanaman, dan menjaga planet-planet pada orbitnya. Orang pada umumnya mengira bahwa fenomena seperti itu terjadi menurut “hukum fisika”, “gravitasi”, “aerodinamika”, atau faktor-faktor fisika lainnya; akan tetapi, terdapat satu kebenaran pentingyang mereka abaikan: semua hukum fisika itu diciptakan oleh Allah. Sesungguhnya, satu-satunya penguasa di alam raya ini adalah Allah.

Allah mengatur segala sistemdalamsetiap peristiwa di bumi, tanpa memperhatikan apakah kita menyadarinya, atau apakah kita tertidur, duduk, atau berjalan. Pada masing-masing banyaknya proses di alam ini dan segala yangesemsialbagi eksistensi kita, semua itu berada di bawahkendali Allah. Bahkan kemampuan kita untuk mengambil sebuah langkah kecil pun bergantung pada ciptaan Allah dengan sangat detail, termasukgayagravitasi bumi, struktur kerangka manusia, sistem saraf dan otot, otak, jantung, dan bahkan kecepatan rotasi bumi.

Menghubungkan eksistensi dunia dan seluruh alam pada kebetulan belaka sungguh sebuah khayalan. Aturan hebat yang berlaku di bumi maupun alam raya sepenuhnya menentang kemungkinan pembentukan melalui suatukebetulan, dan–bahkan–lebih sebagai pertanda jelas kehendak Allah yang tidak terbatas. Sebagai contoh, orbit bumi mengelilingi matahari manyimpang hanya 2,8 mm di setiap 29 km dari jalur yang sebenarnya. Jika penyimpangan ini 0,3 mm lebih panjang atau lebih pendek, maka semua makhluk hidup di penjuru bumi akan membeku atau terbakar. Sementara, sebenarnya mustahil–bahkan–bagi sebuah kelereng berputar pada orbit yang sama tanpa penyimpangan sedikitpun, dan bumi mengerjakan bagiantersebutmeskipun memiliki masa yang besar. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’ân, “…Allah telah menetapkan kadar pada seala sesuatu…” (QS. Al-Thalâq, (65):3). Sebenarnya, keteraturan di alam yang begitu baik ini, dipelihara sebagai wujud sistem yangluar biasayang bergantung sepenuhnya pada pola keseimbangan yang rumit.

Beberapa orang menganut keyakinan yang keliru, bahwa Allah “menciptakan segalanya dan kemudian meninggalkannya sebagaimana yang telah ditetapkan”. Akan tetapi, peristiwa apapun yang bertempat di alam raya ini, terjadi semata oleh kehendak Allah dan di bawah kendaliNya. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’ân:

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah mengetahui segala yang ada di langt dan di bumi? Yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.(QS. Al-Hajj, (22):70)

Sangat penting menggenggam fakta ini bagi seseorang yang tengah berjuang dekat pada Allah. Doa Nabi Muhammad saw. yang dikutip dibawah ini merupakancontoh yang sangat tepat:

Ya Allah: segala puji bagiMu: Engkaulah Penguasa langit dan bumi. Segala puji bagiMu; Engkaulah Pemelihara langit dan bumi dan segala yang ada di dalamnya. Segala puji bagiMu; Engkaulah Cahaya langit dan bumi. PerkataanMu itu benar, dan janjiMu juga benar, dan pertemuan denganMu itu benar, dan surga dan api neraka juga benar, dan waktu itu benar. Ya Allah! aku serahkan diri ini padaMu, dan aku percaya dan bergantung padaMu, dan aku bertobat padaMu, dan dengan petunjuk-petunjukMu aku berdiri menghadapi musuh-musuhku, dan padaMu aku tinggalkan hukuman (untuk mereka yang menolak pesanku). Ya Allah! Ampunilah dosa-dosaku yang telah kulakukan atau aku lakukan nanti, dan juga dosa-dosa yang aku lakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi. Hanya Engkaulah Tuhanku yang aku sembah dan tiada Tuhan bagiku (yaitu tidak menyembah kecuali padaMu). (HR. Al-Bukhârî)

Proses rumit yang terjadi pada tubuh makhluk hidup adalah contoh menarik yang membantu kita meyakini kehendak Allah. Sebagai contoh, di setiap saat, ginjal menyaring darah dan melepaskan molekul-molekul berbahaya untuk dikeluarkan dari tubuh. Penyaringan dan proses pembersihan ini , yang dapat dijalankan oleh satu sel ginjal, hanya dapat dikerjakan oleh haemodialyser (ginjal buatan). Haemodialyser secara sengaja dirancang oleh parailmuan. Akan tetapi, ginjal tidak merasakan atau memilikipusatpembuat keputusan, ataupun daya berpikir. Dengan kata lain, sel ginjal yang ‘tidak sadar’ ini dapat menyelesaikan tugas yang–justru–menuntut sebuah proses berpikir yang rumit.

Adalah hal yang mungkin menemukan jutaan contoh serupa di dalam makhluk hidup. Molekul, tersusun dari materi yang ‘tidak sadar’, melakukan tugas yang begitu hebatyangsebaliknya memberi kesan ‘kesadaran’. Jenis ‘kesadaran’ dalam perkara ini jelas–tentunya–merupakan ilmu dan kearifan Allah yang tidak terbatas. Allah lah yang menciptakan sel-sel ginjal, seperti halnya moleku-molekul tersebut, dan yang menetapkan–dalam keteraturan–untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Dalam Al-Qur’ân Allah menerangkan pada kita bahwa Dia yang terus-menerus mengirimkan ‘perintah’ pada makhluk ciptaanNya:

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalâq, (65):12)

Jelaslah, Allah, yang menciptakan segala yang ada di alam ini, tentu saja dapat menghidupkan yang mati. Dari kenyataan ini, Allah menetapkan sebagai berikut:

“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan Dia tidak merasa letih karena menciptakannya, dan Dia kuasa menghidupkan yang mati? Begitulah, sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Ahqaf, (46):33)

BENTUK CIPTAAN TUHAN LAINNYA

By Harun Yahya

BENTUK CIPTAAN TUHAN LAINNYA

Hal lainnya yang diacuhkan oleh orang beriman yang telah tertipu oleh kesalahan evolusi adalah keragaman bentuk ciptaan Allah. Allah telah menciptakan makhluk hidup yang membedakan secara nyata dari manusia hewan, seperti malaikat dan jin. Mari kita bahas hal tersebut :

A0037Malaikat yang bersayap dua-tiga dan Empat

Malaikat disinggung dalam Al-Quran dan Injil. Malaikat adalah makhluk yang selalu mematuhi perintah Allah. Allah menggambarkan ciptaan-Nya yang tertulis di dalam Al Quran sebagai berikut:

Segala Puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S Fatir: 1).

Seperti yang dapat kita lihat dalam penjabaran tersebut, bentuk malaikat dianggap sangat berbeda dari manusia. Allah menunjukkan perbedaan bentuk dari penciptaan dalam ayat ini.

Allah juga menginformasikan bahwa malaikat selalu dalam perintah-Nya dan patuh kepada-Nya:

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (Q.S An-Nahl, 49-50)

Al Masih sekali-sekali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (Q.S An-Nisa’, 172)

Hai orang –orang yang beriman! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S At Tahrim. 6)

Sebagai informasi, malaikat diciptakan sebelum manusia, Pada kenyataannya Allah mengatakan kepada para malaikat, bahwa Ia akan menciptakan nabi Adam (saw), manusia pertama dan memerintahkan mereka untuk bersujud dihadapnya.

A0069Pada saat yang bersamaan, Allah memberi nabi Adam (saw) pengetahuan yang berbeda dari para malaikat, dan mengajarkan kepadanya nama-nama benda. Malaikat tidak memilki pengetahuan itu, Seperti yang terungkap dalam Al-Qur’an :Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, Mereka bertanya “ Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab:”Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman:” Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka (malaikat) kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Surat al-Baqara, 30-34) .

PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI

By Harun Yahya

PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI

Seorang yang beriman menjalani seluruh hidupnya berdasarkan Al Qur’an, dan berusaha menerapkan secara hati-hati dari hari ke hari apa yang telah ia baca dan pelajari dalam ayat-ayatnya. Dalam segala perbuatannya, sejak saat dia bangun di pagi hari sampai waktu dia tertidur di malam hari, dia memiliki niat bahwa dalam berpikir, berbicara dan bertindak itu harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur’an

Allah Menyatakan kepada kita dalam Al Qur’an bahwa pengabdian seperti ini yang mendominasi seluruh kehidupan orang yang beriman.

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(Surat Al-An’am: 162)

R0372Sejak saat seorang muslim memiliki iman, ia telah membuat keputusan untuk menghabiskan setiap saat dalam hidupnya untuk mendapatkan ridha Allah. Sejak saat itu, ia menunjukkan semangat rohani dan usaha yang besar baik dalam segi material maupun spiritual. Namun, karena kecenderungan yang melekat, seorang Muslim tidak pernah merasa bahwa imannya sudah berada pada tingkat yang cukup, sehingga selama belum sampai pada napas terakhirnya, ia selalu memiliki kesempatan untuk meningkatkan keimanannya di setiap saat dalam hidupnya.

Dengan demikian, maka setiap hari, setiap jam, setiap saat, dia harus sekali lagi membuat niat dalam hatinya untuk memperdalam imannya, memperbaharuinya dan berkomitmen untuk menghabiskan setiap saat dalam hidupnya dalam mengerjakan amal saleh sehingga mendapatkan ridhlo Allah.

Orang Yang Beriman Harus Memperbaharui Niatnya Setiap Hari

Pada saat ini, seperti saat kita sedang membaca artikel ini, kitapun dapat memperbaharui niat kita. Sejak saat ini, kita dapat berniat untuk menghabiskan waktu kita, menggunakan kesempatan kita, dan mengerahkan segenap kekuatan spiritual dan fisik kita untuk digunakan pada hal-hal yang jauh lebih berguna, penuh perhatian dan tulus

Kita bisa menilai setiap kesempatan dalam melaksanakan segala macam ibadah dengan penuh semangat. Kita bisa mengamati setiap kesempatan yang dapat menjadikan kita mendapatkan ridha Allah dan berlomba untuk melakukan amal saleh.

Kita bisa mengalami kemajuan dalam rangka mendapatkan ridha Allah jika tidak memiliki pemikiran seperti “Saya sudah membuat perbuatan yang baik ini, dan ini sudah cukup untuk hari ini,” atau “Dibandingkan dengan orang lain di sekitar saya, saya sudah melakukan banyak usaha yang lebih besar, dan dalam hal apapun, saya lebih baik dari mereka”,.

Apa yang dimaksud di sini adalah keadaan yang sangat berbeda dan khas dari pikiran. Tidak diragukan lagi, seorang Muslim menghabiskan setiap waktunya sesuai dengan moralitas Al-Qur’an. Namun, sikap seseorang yang membuat keputusan secara sadar dan tegas mengenai hal ini sangat jauh berbeda, untuk hati nurani seseorang yang seperti itu, hal ini sangat sensitif.

Dia sangat peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dia lebih waspada terhadap pekerjaan yang sulit, dibandingkan dengan orang yang lain. Dia adalah orang yang selalu berbicara dengan kata-kata terbaik. Dia lebih baik, lebih damai dan lebih positif dibandingkan dengan orang yang lain.

Dia adalah orang yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Dia lebih memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan berusaha untuk memenuhinya, sebelum orang lain melakukannya. Dia selalu berpenampilan dengan gaya yang damai dan sesuai. Suasana hatinya sangat berbeda dan positif, dimana orang lain langsung bisa mengetahuinya.

Orang beriman Berniat untuk Hidup dengan Nilai Moral Yang Diajarkan oleh Allah dalam Al Qur’an dengan Cara Terbaik selama 24 Jam Sehari.

Apapun kondisinya, orang beriman tidak akan berkompromi dalam menunjukkan akhlak yang tinggi. Nilai-nilai mereka tidak berubah, mereka selalu menyesuaikan dengan apa yang Allah Perintah dan Ridhoi.

Mereka mengambil Muhammad Rasulullah (saw) sebagai suri tauladan mereka yang Allah Puji dalam Al Qur’an dalam kata-kata ini:

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (Surat Al-Qalam: 4)

Hanya ada satu cara untuk selamat dari hancur dalam siksaan kekal api neraka, yaitu hidup menurut Al-Qur’an dan Sunnah, dimana dengan cara ini, Alloh Menghadiahkan kepada manusia “suatu kemenangan”

Hidup dalam Al-Qur’an dan Sunnah lah yang menyelamatkan manusia dari kebodohan, di mana mereka tenggelam, cara berpikir mereka yang primitif, lingkungan yang penuh dengan stres, karakter negatif, ketakutan yang tak berdasar, keyakinan yang sesat, dimana kesemuanya inilah yang merupakan penyebab dari disiksanya dalam neraka.

Dengan menerapkan hidup berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, mereka memperoleh pemahaman dan kebijaksanaan, nilai yang lebih tinggi, lingkungan yang wajar, penuh dengan ketenangan pikiran, dan yang terpenting adalah hidup di Surga yang penuh dengan berkah tiada akhir.

Hanya ada satu cara untuk menghapus semua kecemasan, pertempuran, perang, permusuhan, kemiskinan, kemelaratan dan kemarahan yang mengisi dunia: yaitu dengan hidup sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah Muhammad (saw). Tidak ada cara lain bagi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan, keadilan, kasih dan damai yang dia inginkan

Hidup menurut Al-Qur’an dan Sunnah adalah semacam sebuah tameng terhadap ketidakadilan, konflik, ketidaksetaraan, iri hati, perang, ketidakseimbangan, kotoran, ketakutan, kefanatikan, kekejaman, kekerasan, amoral, dan hal lain seperti itu adalah solusi yang paling dasar bagi manusia agar mereka dapat hidup dengan nyaman, damai, penuh kebahagiaan dan keadilan.

Meskipun demikian, dan karena mereka telah berpaling dari moralitas agama yang benar demi keuntungan kecil, keuntungan duniawi dan kelemahan manusia itu sendiri, sebagian orang menimbulkan kerusakan besar pada diri mereka sendiri. Bagi manusia, dengan berpaling dari moralitas Al-Qur’an dan Sunnah, ini berarti bahwa ia akan tetap tidak sadar akan kebenaran yang merupakan hal yang sangat penting untuk diketahuinya.

Namun, sumber daya yang telah dikumpulkan oleh dia dan manusia fana seperti dia, tidak akan cukup untuk bertahan hidup dalam situasi dan masalah yang mereka hadapi di dunia. Orang-orang seperti mereka akan menghabiskan seluruh hidup mereka didalam kecemasan, kekhawatiran, stres, ketakutan dan kesulitan, dan tidak ada solusi untuk masalah mereka. Dan pada akhirnya, mereka akan menerima situasi ini sebagai suatu yang normal dan akan menghabiskan sisa hidup mereka dalam keadaan tertipu, dan mereka berpikir bahwa penderitaan mereka adalah “sebuah kenyataan hidup”, padahal keadaan seperti itu sebenarnya merupakan hukuman karena tidak menjalani hidup dengan prinsip-prinsip moralitas agama.

Orang-orang beriman yang mengikuti nilai-nilai yang ditetapkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan membuat mereka menang atas setiap saat dalam hidup mereka, akan hidup dalam keadaan terbaik.

Allah mengumumkan kabar baik untuk orang beriman dalam kata-kata berikut:

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Surat Saba: 37)

A0078Orang beriman mengalami efek positif dari “memperbaharui niatnya” setiap hari. Tujuan seorang beriman yang memiliki sikap moral seperti ini (selalu memperbaharui niat) adalah agar menjadi salah seorang diantara “para hamba yang paling dicintai Allah.” Untuk alasan seperti ini, saat dia bisa sepenuhnya mengadopsi sikap moralitas ini, ia sekali lagi berkeinginan untuk menjadi lebih tulus, lebih sensitif terhadap ridha Allah, dan lebih teliti, hal ini akan memperdalam moralitasnya dan bahkan lebih.

Hal ini berlanjut hingga akhir hidupnya, ia tidak pernah merasa bahwa usaha dan perbuatannya yang baik ini sudah mencukupi. Akibatnya, iman, moralitas, kepribadian dan sikapnya, mengalami kemajuan terus menerus dan pada akhirnya mencapai kesempurnaan.

Dalam Qur’an, Allah Memberi tahu kepada kita tentang karakter Muslim seperti itu, berikut ini:

Orang-orang seperti itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Surat Al-Mu’minun: 61)

Dengan kehendak Allah, hidup sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah akan menjadikan orang untuk mampu mengembangkan suatu wawasan yang luas dari pemahaman, kecerdasan yang unggul, kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah, serta kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal secara mendalam.

Karakter-karakter seperti ini akan memastikan bahwa orang yang memiliki karakter-karakter tersebut, akan menjalani hidup setiap saat dalam kehidupannya dalam kemudahan yang berasal dari keuntungan-keuntungan ini.

Seseorang yang menjalani hidupnya dengan tunduk pada Allah dan sesuai dengan ajaran agama akan sangat berbeda dari orang lain dalam cara dia berperilaku, duduk dan berjalan, dalam sudut pandangnya dan bagaimana ia menjelaskan dan menafsirkan sesuatu hal, dan dalam solusi yang ia temukan untuk masalah-masalah yang menghadapinya.

Dunia Elektron Yang Menakjubkan

DUNIA ELEKTRONBy Harun Yahya

atom2Sebuah atom, terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, terdiri dari inti dan elektron yang berputar di sekitar inti.

Proton merupakan inti bermuatan positif dan neutron tidak bermuatan, inti itu sendiri selalu bermuatan positif. Sedangkan elektron yang berputar di sekitar inti sebanyak satu juta kali putaran per detik SELALU bermuatan negatif.

Salah satu karakteristik terpenting yang membuat atom begitu menakjubkan adalah putaran dari electron yang tanpa henti.

Elektron dalam atom, yang tidak pernah berhenti berputar sejak saat penciptaan mereka, TERUS BERPUTAR TANPA TERPUTUS DENGAN KECEPATAN YANG SAMA, tidak peduli berapa banyak waktu berlalu atau dari bagian apa substansi mereka.

Setiap atom memiliki jumlah elektron yang berbeda. Misalnya, hanya ada 1 elektron dalam atom hidrogen, 2 elektron dalam atom helium dan 92 elektron dalam atom uranium.

Elektron-elektron tersebut berputar pada tujuh orbit yang terpisah. Dalam atom yang berat, sekitar 100 elektron didistribusikan di antara tujuh orbit tersebut. Sejumlah elektron berputar dengan kecepatan luar biasa pada orbit yang sama, atau bahkan ada elektron yang menyeberang antar orbit. TETAPI MEREKA TIDAK PERNAH bertabrakan.

Hal Ini adalah salah satu aspek yang paling menakjubkan dari elektron. Tak ada satupun dari seratus atau lebih elektron pada tujuh orbit berbeda, yang berputar satu juta kali tiap detiknya, yang pernah bertabrakan dengan elektron yang lain, berhenti berputar atau putarannya menjadi lambat. Setiap elektron masing-masing mengontrol gerakannya yang menakjubkan itu agar tetap pada jalannya sendiri, dalam harmoni yang menakjubkan, dan telah melakukannya sejak penciptaan alam semesta.

Ada hal lain yang menakjubkan di sini. Agar elektron dapat berputar pada orbit yang berbeda mereka harus memiliki massa yang berbeda, seperti planet-planet. Tapi anehnya semua elektron MEMILIKI MASSA DAN UKURAN YANG SAMA. Hal inilah yang hingga saat ini belum diketahui mengapa tingkat energi dari partikel-partikel identik ini berbeda dan mengapa mereka berputar dalam orbit yang berbeda (padahal massa dan ukurannya sama).

Elektron menempati tempat mereka di orbitnya dengan suatu perintah khusus dan berpindah tempat bila perlu, juga dengan cara yang sama. Mereka terlindungi secara special, maka dengan demikian mereka tidak pernah berbenturan, karena pada hakikatnya mereka berada di bawah kendali tunggal dari Alloh Yang Maha Kuasa, yang Menciptakan dan Selalu Mengawasi mereka setiap saat.

Setiap atom telah diciptakan lebih dari 15 miliar tahun yang lalu dan sampai saat ini masih tetap patuh menjalankan aturan sama yang menakjubkan tersebut.

Selama 15 miliar tahun, tidak ada satupun elektron berputar pada orbit yang salah, tak ada satupun yang merubah kecepatan atau bertabrakan dengan elektron yang lain, karena setiap elektron berada dalam pengetahuan Tuhan kita dan setiap elektron bergerak atas perintah-Nya.

Itu sebabnya, jika dikaji dari sisi pengetahuan dan penciptaan, mulai dari galaksi raksasa hingga ke dunia yang tak terlihat di dalam atom, semuanya adalah satu dan sama. Mereka semua ada karena Tuhan kita Allah memerintahkan mereka untuk “Jadilah!”

Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syetan yang terkutuk

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (Surat An-Nahl: 40)

Adnan Oktar | Harun Yahya

BIOGRAPHY-NEW

Wikipedia

adnan-oktar-2013-resimleri

Adnan Oktar (born 1956), also known as Harun Yahya, is a Turkish author referred to as “the biggest propagator of ijaz literature” as well as an Islamic creationist. In 2007, he sent thousands of unsolicited copies of his book, Atlas of Creation, which advocates Islamic creationism, to American scientists, members of Congress, and science museums.

Oktar runs two organizations of which he is also the Honorary President: Bilim Araştırma Vakfı (literally, “Science Research Foundation”, BAV, established 1990), which promotes creationism and Milli Değerleri Koruma Vakfı (literally, “National Values Preservation Foundation”, established 1995) which works domestically on a variety of “moral issues.” In the last two decades, Oktar has been involved in a number of legal cases, both as defendant and plaintiff.

adnan-oktar-rc3bcyasc4b1nda-hz-isa-harun-yahya

Adnan Oktar

Born Adnan Oktar
1956 (age 56–57)
Ankara, Turkey
Residence Turkey
Other names Harun Yahya, Adnan Hoca
Occupation Author
Known for Islamic creationism, Anti-Zionism, Anti-Masonry, Ijaz Literature
Religion Sunni Islam
Website
harunyahyadotcom

Biography

sayin-adnan-oktar

Adnan Oktar was born in Ankara, Turkey, in 1956, and raised there through his high school years, where he studied the works of Islamic scholars like Said Nursi, a Muslim Kurdish scholar who wrote Risale-i Nur, an extensive Qur’anic commentary which includes a comprehensive political and religious ideology.

In 1979, Oktar came to Istanbul and entered Mimar Sinan University. These years were marked with violence and repression which led to the installation of a military junta following the coup of September 1980.

The environment in Turkey was one of political and cultural instability, threatened by Cold War politics, and a clash between Kemalist secular modernisers and a rising tide of Islamic militancy.

In this environment he regularly attended the Molla Mosque in Fındıklı locality, close to the academy of fine arts where he studied interior architecture, to pray regardless of threats. Edip Yuksel, who knew him during those years, described him as a “Sunni zealot.”

In the early 1980s, he gathered young students around him to share his views of Islam. These students belonged to socially-active and prosperous families of Istanbul. From 1982 to 1984, a group of 20 to 30 was formed.

They were joined by private high school students who were from socially active and well-known families with a high economic status who had become newly religious. Yüksel said Oktar presented his teachings “gently and in a modern fashion to the children of the privileged class, without intimidating them … a refined and urbanized version of Said Nursi.”

In his religious teachings, Oktar argued against Marxism, communism and materialistic philosophy. He attached special importance to refuting the Theory of Evolution and Darwinism because he felt that it had been turned into an ideology used to promote materialism and atheism, and numerous derivative ideologies. He personally funded a pamphlet entitled the Theory of Evolution which combined “mysticism with scientific rhetoric.”

In 1986 he enrolled in the Philosophy Department of Istanbul University. Oktar appeared as the cover story of Nokta (The Point) magazine, reporting how he gathered with his friends and held lectures in a mosque. Many university students, mostly from Bosphorus University, one of the most prestigious universities of Turkey, started to participate.

Adnan Oktar’s name began to appear regularly in the press, sometimes in the headlines. Later that year he published a book titled Judaism and Freemasonry based on conspiracy theories that state offices, universities, political groups and media were influenced by a “hidden group”. Adnan Oktar later qualified those remarks (see “Conspiracy Theories” below).

Oktar was arrested, charged with promoting a theocratic revolution for which he served 19 months, though he was never formally charged. In 1986, Oktar spent 10 months in a mental hospital, but he complains that he was not mentally ill but a political “prisoner” who was punished because of the publication of his book, Freemasonry and Judaism.

Throughout the 1980s and early 1990s, Oktar built up his community. His followers were especially active recruiting at summer resorts along the Sea of Marmara. The social organization within the group became more hierarchical and took on a Messianic nature. Oktar says that due to the anarchy and terror in those years, he was unable to continue his studies. He had already begun working on his books, so when he left school he devoted his energy to his books.

In 1990, he founded the Science Research Foundation (SRF, or, in Turkish, Bilim Araştırma Vakfı, or BAV). Oktar founded the Science Research Foundation to hold conferences and seminars for scientific activities “that target mass awareness concerning what the real underlying causes of social and political conflicts are”, which he describes to be materialism and Darwinism, though some media describe the BAV as “a secretive Islamic sect” and “cult-like organization, that jealously guards the secrets of its considerable wealth”. Members of the BAV are sometimes referred to as Adnan Hocacılar (“Adherents of Adnan the Hodja”) by the public

In 1994 the Islamist Welfare Party (Refah Partisi), the predecessor of the Justice and Development Party (AKP), won control of the municipalities of Istanbul and Ankara. The new mayors (in Istanbul this was Recep Tayyip Erdoğan, now Turkey’s Prime Minister) sought broader support.

The journalist and editor Fatih Altayli wrote that Oktar made business agreements with municipalities under the control of the Welfare party. This accusation was denied by Oktar, and resulted in libel suits against Fatih Altayli with various results. In 1995, Oktar founded Foundation for Protection of National Values (FPNV or in Turkish Millî Değerleri Koruma Vakfı), through which he networks with other conservative Turkish nationalist organizations and individuals based on the ideology of Mustafa Kemal Atatürk, the founder of the Republic of Turkey.

In 1997, after another military intervention, the “bloodless coup” of 1997, the government of Erbakan stepped down and the Welfare Party disbanded. According to the New Humanist, the current AKP government avoids political connections with Oktar and his organization.

In September 1999 Adnan Oktar was arrested and charged with using threats for personal benefit and creating an organization with the intent to commit a crime (see “Legal issues” below). After a court case lasting two years the charges were dismissed. After 11 September 2001 and the WTC attacks, he published a book, Islam Denounces Terrorism.

Between that time and the present, BAV has organized hundreds of conferences on creationism in Turkey and worldwide. He built a large publishing enterprise with publications sold though Islamic bookstore worldwide. He is considered “one of the most widely distributed authors in the Muslim world”. His television show is viewed by many in the Arab world.

Oktar has been preaching about the “Turkish-Islamic Union”, which would bring peace to the entire Muslim world under the leadership of Turkey. In 2007 he sent out thousands of unsolicited copies of his Atlas of Creation advocating Islam and creationism to schools and colleges in several European countries and the USA. In 1999, the case was reopened by another court (see “Legal issues” below).

Oktar was convicted and sentenced to three years in prison. But the verdict was appealed and in May 2010 it was overturned. During these years he engaged in numerous libel suits with various results (See “Legal Issues” below). In some cases he was successful in blocking high-profile websites in Turkey for slander (see “Blocking Internet Sites” below), including that of Richard Dawkins, as well as the complete WordPress-site.

In 2010, Oktar was selected as one of the top fifty of The 500 Most Influential Muslims in the World by the Royal Islamic Strategic Studies Centre of Jordan for his dissemination of creationism in an Islamic context, and other extensively distributed publications on Islamic topics.

Writings

Oktar has written numerous books under the pen name Harun Yahya. “Harun” refers to the biblical Aaron and “Yahya” refers to the New Testament John the Baptist. His books on faith-related topics attempt to communicate the existence and oneness of God (Allah in the Qur’an) according to the Islamic faith, and are written with the main purpose of introducing Islam to those who are strangers to religion.

Each of his books on science-related topics stresses his views on the might, sublimity, and majesty of God. A sub-group within this series are the series of “Books Demolishing the Lie of Evolution”, a critique of the ideas of materialism, evolution, Darwinism, and atheism.

These publications argue against evolution. They assert that evolution denies the existence of God, abolishes moral values, and promotes materialism and communism. Oktar argues that Darwinism, by stressing the “survival of the fittest”, has inspired racism, Nazism, communism and terrorism. An argument not unexpected in Turkey when during the political turmoil before a 1980 military coup, communist bookshops touted Darwin’s works as a complement to Karl Marx.

Truman State University physicist Taner Edis, who was born in Turkey, says the secret to BAV’s success is the huge popularity of the Harun Yahya books. “They’re fairly lavishly produced, on good-quality paper with full-color illustrations all over the place,” he says. “They’re trying to compete with any sort of science publication you can find in the Western world. And in a place like Turkey, Yahya books look considerably better-published than most scientific publications.” Many of his books have been made into high-resolution videos which are freely downloadable on the Internet.

Creationism

The spread of organized Christian creationism to Islam began in the 1980s, when the Muslim minister of education in Turkey turned to the Institute for Creation Research (ICR), a Christian institution then located near San Diego, California, for help in developing twofold curriculum that would teach evolution and creationism side by side. In 1990, the Science Research Foundation (BAV in Turkish) was formed in Istanbul, headed by Oktar.

For many years Oktar drew on the writings of young earth Christian creationists to develop his case against evolution. However, Islam does not require belief in Young Earth creationism, and making use of the fact that earth may have existed for billions of years, Oktar later produced material which was more similar to Intelligent Design. In fact, Harun Yahya’s website was listed as an “Islamic intelligent design” website by the Discovery Institute. However Oktar does not embrace use of the term ‘Intelligent Design’ due to its lack of specific mention of God, calling it ‘another of Satan’s snares’.

In early 1998, the BAV launched its first campaign against evolution and Darwinism. Thousands of free copies of Oktar’s book, The Evolution Deceit, and the booklets based on this book were distributed throughout Turkey. They regularly ran full-page ads against evolution in daily Turkish newspapers and even ran an ad in the U.S. magazine TIME. The funding of the campaigns is unknown. BAV spearheaded an effort to confront Turkish academics who taught evolutionary biology A number of faculty members were harassed, threatened and slandered in fliers, leading to legal action against BAV (see “Legal Issues” below).

In 2005, Professor Ümit Sayın summed up the effect of the BAV’s campaign when he said to The Pitch:

In 1998, I was able to motivate six members of the Turkish Academy of Sciences to speak out against the creationist movement. Today, it’s impossible to motivate anyone. They’re afraid they’ll be attacked by the radical Islamists and the BAV.

In September 2008 Oktar issued a challenge offering “10 trillion Turkish lira to anyone who produces a single intermediate-form fossil demonstrating evolution”. He has stated: “Not one [fossil] belongs to strange-looking creatures in the course of development of the kind supposed by evolutionists.” Dr Kevin Padian at the University of California has criticized the notion that such fossils do not exist, stating that Oktar “does not have any sense of what we know about how things change through time. If he sees a fossil crab, he says, ‘It looks just like a regular crab, there’s no evolution.'”

Taner Edis has said “there is nothing new in the Yahya material: scientifically negligible arguments and outright distortions often copied from Christian anti-evolution literature, presented with a conservative Muslim emphasis” concluding it “has no scholarly standing whatsoever”. According to Richard Dawkins, Oktar “doesn’t know anything about zoology, doesn’t know anything about biology. He knows nothing about what he is attempting to refute”.

In France, scientists spoke out against the book, and American scientists are unimpressed.

The Atlas of Creation

Oktar published volume 1 of his Yaratılış Atlası (The Atlas of Creation), with Global Publishing, Istanbul, Turkey in October 2006. Volumes 2 and 3 followed in 2007. A dedicated website (yaratilisatlasi.com, English atlasofcreation.com) registered to Global Yayıncılık (Global Publishing), Istanbul, went online also in 2007.

At 11 x 17 inches and 12 pounds, with a bright red cover and almost 800 glossy pages, most of them lavishly illustrated, “Atlas of Creation” is according to the New York Times “probably the largest and most beautiful creationist challenge yet to Darwin’s theory, which Mr. Yahya calls a feeble and perverted ideology contradicted by the Koran”. Tens of thousands of copies of the book have been delivered, on an unsolicited basis, to schools, prominent researchers and research institutes throughout Europe and the United States.

Biologist Kevin Padian from the University of California, Berkeley, said people who had received copies were “just astounded at its size and production values and equally astonished at what a load of crap it is.” adding that “[Oktar] does not really have any sense of what we know about how things change through time.”

Gerdien de Jong, one of five biologists at Utrecht University who received a copy of the book, has described its reasoning as “absurdly ridiculous”.

Biologist PZ Myers wrote: “The general pattern of the book is repetitious and predictable: the book shows a picture of a fossil and a photo of a living animal, and declares that they haven’t changed a bit, therefore evolution is false. Over and over. It gets old fast, and it’s usually wrong (they have changed!) and the photography, while lovely, is entirely stolen.”

The Committee on Culture, Science and Education of the Parliamentary Assembly of the Council of Europe wrote in a report that “None of the arguments in this work are based on any scientific evidence, and the book appears more like a primitive theological treatise than the scientific refutation of the theory of evolution.”

Conspiracy Theories

Oktar propagates a number of conspiracy theories, beginning with his 1986 Yahudilik ve Masonluk (Judaism and Freemasonry). The book suggests that the principal mission of Jews and Freemasons in Turkey was to erode the spiritual, religious, and moral values of the Turkish people and, thus, make them like animals, as stated in what Oktar refers to as their use of “Distorted Torah.” Oktar asserts that “the materialist standpoint, evolution theory, anti-religious and immoral lifestyles were indoctrinated to the society as a whole” by Jews and Freemasons.

His theory of a global conspiracy of Freemasonry is expounded in his book Global Masonluk (English Global Freemasonry) and on his websites Masonluk and Global Freemasonry. According to Oktar, Freemasonry is “the main architect of the world system based on materialist philosophy, but which keeps that true identity concealed.” Oktar called the theory of evolution a Masonic conspiracy initiated by the Rosicrucians.

Oktar’s recent publications declare Darwinism and Materialism to be conspiracies responsible for anti-semitism and terrorism. In recent publications and interviews (since 2004), Oktar qualifies his condemnations of Zionism and Freemasonry by adding the word atheist before them, as in atheist Zionists and atheist Freemasons.

Holocaust Denial and Affirmation

In 1996, BAV distributed its first book, originally published the previous year, entitled Soykırım Yalanı (The Holocaust Deception). The publication of Soykırım Yalanı sparked controversy. This book claims that “what is presented as Holocaust is the death of some Jews due to the typhus plague during the war and the famine towards the end of the war caused by the defeat of the Germans.”

A Turkish painter and intellectual, Bedri Baykam, published a strongly worded critique of the book in Ankara’s daily newspaper, Siyah-Beyaz (“Black and White”). A legal suit for slander was brought against him. During the trial in September, Baykam exposed the real author of The Holocaust Lie as Adnan Oktar. The suit was withdrawn in March 1997.

In 2001, the Stephen Roth Institute, of Tel-Aviv University, listed Oktar as a Holocaust denier due to the publication of The Holocaust Lie. Three years later the Stephen Roth Institute expressed the opinion that Oktar had increased his tolerance toward others, asserting that “he now works towards promoting inter-religious dialogue”. calling upon all Muslims to have “a tolerant and friendly attitude toward other religions”.

In 2006, BAV published a book affirming the Holocaust, called The Holocaust Violence. The Holocaust Violence states “The Nazis subjected European Jews to indisputable and unforgivable cruelty during World War II. They humiliated, insulted and degraded millions of Jewish civilians, forcing them from their homes and enslaving them in concentration camps under inhuman conditions… Certainly the Jewish people, of whom 5.5 million died in concentration camps, were the worst victims of the Nazi barbarity.”

In a 2007 interview with The Guardian, Oktar denied writing The Holocaust Lie, a claim that The Guardian stated was “hard to believe.” The next year in an interview with Der Spiegel, Oktar claimed The Holocaust Lie had been written by a friend who had published his own essays using Oktar’s pen-name, “Harun Yahya”, on his own. Oktar disclaimed the first book, and said the second book reflected his own opinions.

In 2009, Oktar expressed his new views on Jews in his own words, “hatred or anger toward the line of the Prophet Abraham is completely unacceptable. The Prophet Abraham is our ancestor, and the Jews are our brothers. We want the descendants of the Prophet Abraham to live in the easiest, pleasantest and most peaceful manner. We want them to be free to perform their religious obligations, to live as they wish in the lands of their forebears and to frequently remember Allah in comfort and security.”

Nevertheless, that year the Anti-Defamation League (ADL) described Yahya as “an anti-Semitic Turkish writer whose articles demonize Jews who support Israel as “godless” and blames them for committing atrocities.” The ADL also argued that Yahya quotes Holocaust-denier Roger Garaudy and still cites The Holocaust Deception in the articles on his site.

Other Legal Issues

In addition to the slander trial over The Holocaust Lie, Oktar has been involved in other cases. Although most are unrelated to creationism or religion, a BAV spokesperson says Oktar is being persecuted “because of his ideas.” Physicist Taner Edis of Truman State University, who has followed the case closely, says given the political pressures on Turkey’s justice system, that’s “not entirely implausible.”

In the summer of 1986, Oktar was arrested for his statement “I am from the nation of Abraham and Turkish ethnicity” in a newspaper interview. Oktar was arrested for promoting a theocratic revolution for which he served 19 months, though he was never formally charged.

In 1991, Oktar was arrested for possession of cocaine, which he claimed had been planted in one of the books in his library by the security forces, who, he said, also spiked his food with cocaine. He was later acquitted.

A number of faculty members who taught evolution were harassed, threatened and slandered in flyers that labeled them “Maoists”. In 1999, six of the professors won a civil court case against the BAV for defamation and were each awarded $4,000.

In 1999, Oktar was arrested and charged with using threats for personal benefit and creating an organization with the intent to commit a crime. BAV’s lawyers claimed there were several human rights violations during this police operation, as well as the use of violence during the arrest and afterwards. The judicial process lasted over two years, during which most of the complainants retracted their claims. As a result, cases against Oktar and other BAV members were dismissed.

The 1999 case was reopened by another court in 2008. The indictment from the prosecutor’s office, made public by Cumhuriyet, claimed blackmail and extortion. Among other things, it claimed that BAV used its female members to attract young scholars from rich families with the promise of sexual favors in exchange for attending events. It was claimed that the sexual activities of thousands of people were videotaped with hidden cameras for the purpose of blackmail. Members who wanted to leave the group were threatened that the tapes would be made public. In the face of all these allegations against BAV, the Chairman of the Court announced in the hearing on 29 February 2008, that testimonies obtained through unlawful means may not be considered as evidence based on article 148 of the criminal code.

Oktar was convicted of creating an illegal organization for personal gain. He and 17 other members of his organisation were sentenced to three years in prison. Oktar appealed the verdict. In May 2010, the Court of Appeals overturned the conviction and dismissed the charges.

Blocking of Internet Sites

Since 2007 Oktar has successfully had the Turkish government block public access to several websites. In April 2007, Oktar filed a libel lawsuit against the owners of Ekşi Sözlük, a virtual community similar to everything2. The court reviewed the complaint and ordered the service provider to close the site to public access. The site was temporarily suspended so the entry on Oktar could be expunged and locked. Then access to Süper Poligon, a news website, was also restricted following Oktar’s complaint. In August 2007, Oktar got a Turkish court to block WordPress.com throughout Turkey. His lawyers argued that blogs on WordPress.com contained libelous material, which WordPress.com was unwilling to remove.

Edip Yuksel, a Turkish writer who knew Oktar in the 1980s, had his own website banned in Turkey due to Oktar’s complaints. In addition, Yuksel wrote a Turkish-language book, The Cult of the Antichrist, but has yet to find “a publisher willing to brave Mr. Oktar’s lawyers.”

On 19 September 2008, a Turkish court banned Internet users in Turkey from viewing the official Richard Dawkins website after Oktar claimed its contents were defamatory, blasphemous and insulting to religion, arguing that his personality was violated by this site.[ The ban was lifted on 8 July 2011.

In September 2008, a complaint by Oktar led to the banning of the internet site of the Union of Education and Scientific Workers. This was followed by a block of the country’s third-biggest newspaper site, Vatan, in October.

Television broadcasting

On 21 March 2011, Oktar started television broadcasting on A9 satellite channel where his interviews and night lectures are broadcast live.

Bibliography

Oktar’s books and brochures appear in Turkish with “Vural Yayıncılık” (“Global Publishing”), Istanbul. English translations of Oktar’s books appear with “Ta-Ha Publishers”, London, UK; “Global Publishing”, Istanbul, Turkey; “Al-Attique Publishers”, Ontario, Canada and “Goodword Books”, New Delhi, India.

Publication media includes: Books, booklets, pamphlets, children’s books, journals, documentaries, audio books, CDs, posters and over a hundred websites. The total number of books and brochures published by Oktar number in the hundreds. The works are lavishly produced, on good-quality paper with full-color illustrations and sold in Islamic bookstores worldwide.

Keajaiban Al Qur’an – AL QUR’AN & BIOLOGI

AL QUR’AN & BIOLOGI

By Harun Yahya

Ilmu Pengetahuan MODERN Mengungkap

KEAJAIBAN AL QUR’AN

quran-300-2

AL QUR’AN & BIOLOGI

Related Posts:

Bagian Otak yang Mengendalikan Gerak Kita

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Al Qur’an, 96:15-16)

Ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan Al Qur’an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar). Buku berjudul Essentials of Anatomy and Physiology, yang berisi temuan-temuan terakhir hasil penelitian tentang fungsi bagian ini, menyatakan:

Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal, dan bagian prefrontal. Ini adalah daerah korteks asosiasi…(Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211; Noback, Charles R.; N. L. Strominger; and R. J. Demarest, 1991, The Human Nervous System, Introduction and Review, 4. edition, Philadelphia, Lea & Febiger , s. 410-411)

Buku tersebut juga mengatakan:

Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan, daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang…(Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211)

Jadi, daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan, memberi dorongan, dan memulai perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta.

Jelas bahwa ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini, telah dinyatakan Allah dalam Al Qur’an sejak dulu.

Kelahiran Manusia

Terdapat banyak pokok persoalan yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang mengundang manusia untuk beriman. Kadang-kadang langit, kadang-kadang hewan, dan kadang-kadang tanaman ditunjukkan sebagai bukti bagi manusia oleh Allah. Dalam banyak ayat, orang-orang diseru untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah proses terciptanya mereka sendiri. Mereka sering diingatkan bagaimana manusia sampai ke bumi, tahap-tahap mana yang telah kita lalui, dan apa bahan dasarnya:

“Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya?” (Al Qur’an, 56:57-59)

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci sehingga mustahil bagi orang yang hidup di abad ke-7 untuk mengetahuinya. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

  1. 1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
  2. (spermazoa).
  3. 2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
  4. 3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
  5. 4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.

Orang-orang yang hidup pada zaman kala Al Qur’an diturunkan, pasti mengetahui bahwa bahan dasar kelahiran berhubungan dengan mani laki-laki yang terpancar selama persetubuhan seksual. Fakta bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan tentu saja merupakan peristiwa yang gamblang dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Akan tetapi, sedikit informasi yang dikutip di atas itu berada jauh di luar pengertian orang-orang yang hidup pada masa itu. Ini baru disahihkan oleh ilmu pengetahuan abad ke-20.

Setetes Mani

Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (Al Qur’an, 75:36-37)

Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.

sperm1_indPada gambar di atas, kita saksikan air mani yang dipancarkan ke rahim. Dari keseluruhan sperma berjumlah sekitar 250 juta yang dipancarkan dari tubuh pria, hanya sedikit sekali yang berhasil mencapai sel telur. Sperma yang akan membuahi sel telur hanyalah satu dari seribu sperma yang mampu bertahan hidup. Fakta bahwa manusia tidak diciptakan dengan menggunakan keseluruhan air mani, tapi hanya sebagian kecil darinya, dinyatakan dalam Al Qur’an dengan ungkapan, “setetes mani yang ditumpahkan”.

SPERM22_indCairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.

Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:

“Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.” (Al Qur’an, 76:2)

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari “bahan campuran” ini:

“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al Qur’an, 32:7-8)

Kata Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

 Jenis Kelamin Bayi

KROMOZOM1_indKromosom Y membawa sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X berisi sifat-sifat kewanitaan. Di dalam sel telur ibu hanya dijumpai kromosom X, yang menentukan sifat-sifat kewanitaan. Di dalam air mani ayah, terdapat sperma-sperma yang berisi kromosom X atau kromosom Y saja. Jadi, jenis kelamin bayi bergantung pada jenis kromosom kelamin pada sperma yang membuahi sel telur, apakah X atau Y. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, penentu jenis kelamin bayi adalah air mani, yang berasal dari ayah. Pengetahuan tentang hal ini, yang tak mungkin dapat diketahui di masa Al Qur’an diturunkan, adalah bukti akan kenyataan bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah.

Hingga baru-baru ini, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sel-sel ibu. Atau setidaknya, dipercaya bahwa jenis kelamin ini ditentukan secara bersama oleh sel-sel lelaki dan perempuan. Namun kita diberitahu informasi yang berbeda dalam Al Qur’an, yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki atau perempuan diciptakan “dari air mani apabila dipancarkan”.

“Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” (Al Qur’an, 53:45-46)

Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur’an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.

Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut “XY” pada pria, dan “XX” pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.

Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.

Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke-20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan.

Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, Al Qur’an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.

Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

ALAK_indPada tahap awal perkembangannya, bayi dalam rahim ibu berbentuk zigot, yang menempel pada rahim agar dapat menghisap sari-sari makanan dari darah ibu. Gambar di atas adalah zigot yang terlihat seperti sekerat daging. Informasi ini, yang ditemukan oleh embriologi modern, secara ajaib telah dinyatakan dalam Al Qur’an 14 abad yang lalu dengan menggunakan kata “‘alaq”, yang bermakna “sesuatu yang menempel pada suatu tempat” dan digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Jika kita terus mempelajari fakta-fakta yang diberitakan dalam Al Qur’an mengenai pembentukan manusia, sekali lagi kita akan menjumpai keajaiban ilmiah yang sungguh penting.

Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.

Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur’an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur’an and Sunnah, s. 36)

Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “‘alaq” dalam Al Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (Al Qur’an, 96:1-3)

Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.

Tentunya bukanlah suatu kebetulan bahwa sebuah kata yang demikian tepat digunakan untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an merupakan wahyu dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

 Pembungkusan Tulang oleh Otot

ELDOUM188_indTahapan-tahapan perkembangan bayi dalam rahim ibu dipaparkan dalam Al Qur’an. Sebagaiman diuraikan dalam ayat ke-14 surat Al Mu’minuun, jaringan tulang rawan pada embrio di dalam rahim ibu mulanya mengeras dan menjadi tulang keras. Lalu tulang-tulang ini dibungkus oleh sel-sel otot. Allah menjelaskan perkembangan ini dalam ayat: “…dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging”.

Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Al Qur’an, 23:14)

eeISKELETB1_indEmbriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur’an adalah benar kata demi katanya.

Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.

eeBACAKKEM1_indPeristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:

Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)

Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Al Qur’an, benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern.

Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim

BEBEKYZC1_indDalam ayat ke-6 surat Az Zumar, disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam rahim ibu dalam tiga kegelapan. Embriologi modern telah mengungkap bahwa perkembangan ebriologi bayi terjadi pada tiga daerah yang berbeda dalam rahim ibu.

Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.

“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Al Qur’an, 39:6)

Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:

“Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)

Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:

  • Tahap Pre-embrionik

Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

  • bbEMBRIYOC2_indTahap Embrionik

Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.

  • Tahap fetus

Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai “fetus”. Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.

Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur’an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur’an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.

Air Susu Ibu

BEBEKKAT_indAir susu ibu adalah suatu campuran ciptaan Allah yang luar biasa dan tak tertandingi sebagai sumber makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir, dan sebagai zat yang meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap penyakit. Bahkan makanan bayi yang dibuat dengan teknologi masa kini tak mampu menggantikan sumber makanan yang menakjubkan ini.

Setiap hari ditemukan satu manfaat baru air susu ibu bagi bayi. Salah satu fakta yang ditemukan ilmu pengetahuan tentang air susu ibu adalah bahwa menyusui bayi selama dua tahun setelah kelahiran sungguh amat bermanfaat. (Rex D. Russell, Design in Infant Nutrition, http:// www. icr.org/pubs/imp-259.htm)

Allah memberitahu kita informasi penting ini sekitar 14 abad yang lalu, yang hanya diketahui melalui ilmu pengetahuan baru-baru ini, dalam ayat-Nya “…menyapihnya dalam dua tahun…”.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Al Qur’an, 31:14)

Isra dan Mikraj

dIsra dan Mikraj

Related Posts:

Isra Mikraj (bahasa Arab: الإسراء والمعراج, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah beliau mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Beberapa penggambaran tentang kejadian ini dapat dilihat di surah ke-17 di Al-Quran, yaitu Surah Al-Isra.

Menurut tradisi, perjalanan ini dikaitkan dengan Lailat al Mi’raj, sebagai salah satu tanggal paling penting dalam kalender Islam.

Kejadian Isra Mikraj

Isra Mikraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.

Perbedaan Isra dan Mikraj

Seringkali masyarakat menggabungkan Isra Mikraj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal sebenarnya Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.

Pengaruh

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.

Zaman modern

Lailat al Mi’raj (bahasa Arab: لیلة المعراج, Lailätu ‘l-Mi‘rāğ), juga dikenal sebagai Shab-e-Mi’raj (bahasa Persia: شب معراج, Šab-e Mi’râj) di Iran, Pakistan, India dan Bangladesh, dan Miraç Kandili dalam bahasa Turki, adalah sebuah perayaan yang dilangsungkan saat Isra dan Mikraj. Beberapa Muslim merayakannya dengan melakukan salat tahajud di malam hari, dan di beberapa negara mayoritas Muslim, dengan menghias kota dengan lampu dan lilin. Umat Islam berkumpul di masjid dan salat berjamaah serta mendengarkan khutbah mengenai Isra dan Mikraj.

Masjid Al-Aqsa dipercaya sebagai tempat dimana Nabi Muhammad naik ke surga. Tanggal pasti mengenai kejadian ini tidak jelas, tetapi tetap dirayakan karena terjadi sebelum hijrah dan setelah kunjungan Nabi ke Taif. Beberapa orang menganggapnya telah terjadi hanya setahun sebelum hijrah, pada 27 Rajab; tetapi tanggal ini tidak selalu diterima. Tanggal ini akan sama dengan 26 Februari 621 di kalender Julian dan 8 Maret 620 jika terjadi setahun sebelumnya. Dalam tradisi Syi’ah di Iran, 27 Rajab merupakan hari pemanggilan pertama Nabi Muhammad, disebut Mab’as. Masjid Al-Aqsa dan sekitarnya dianggap sebagai tempat tersuci ketiga di dunia bagi para Muslim.

Maulid Nabi Muhammad

Maulid Nabi Muhammad

Related Posts:

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي‎, mawlid an-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Sejarah

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (wilayah Iraq sekarang), bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan,` alim dan seorang yang adil -semoga Allah merahmatinya-”. Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn al-Jauzi bahawa dalam peringatan tersebut Sultan al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama’ dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama’ dalam bidang ilmu fiqh, ulama’ hadits, ulama’ dalam bidang ilmu kalam, ulama’ usul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan mawlid Nabi beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama’ saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandang dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang dibuat untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A`yan menceritakan bahwa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Moroco menuju Syam dan seterusnya ke Iraq, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh kerana itu, al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada Sultan al-Muzhaffar.

Para ulama’, semenjak zaman Sultan al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahawa perayaan maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh al-Hadits telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W. 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani (W. 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H), al-Hafizh aL-Sakhawi (W. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar al-Haitami (W. 974 H), al-Imam al-Nawawi (W. 676 H), al-Imam al-`Izz ibn `Abd al-Salam (W. 660 H), mantan mufti Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W. 1354 H), Mantan Mufti Beirut Lubnan iaitu Syeikh Mushthafa Naja (W. 1351 H) dan terdapat banyak lagi para ulama’ besar yang lainnya. Bahkan al-Imam al-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn al-Jauzi, Ibn Kathir, al-Hafizh al-Sakhawi, al-Hafizh al-Suyuthi dan lainnya telah bersepakat menyatakan bahawa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan al-Muzhaffar, bukan sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Orang yang mengatakan bahawa sultan Salahuddin al-Ayyubi yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi telah membuat “fitnah yang jahat” terhadap sejarah. Perkataan mereka bahawa sultan Salahuddin membuat maulid untuk tujuan membangkitkan semangat umat untuk berjihad dalam perang salib, maka jika diadakan bukan untuk tujuan seperti ini bererti telah menyimpang, adalah perkataan yang sesat lagi menyesatkan.

Perayaan di Indonesia

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.

Perayaan di Luar Negeri

Perayaan Maulid di India

Perayaan Maulid di India

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Maulid dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania, Rusia[1] dan Kanada. Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi.[11] Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya.

Perkiraan tanggal Maulid, 2010-2013*  Tahun Masehi 12 Rabiul Awal (Sunni) 17 Rabiul Awal (Syiah)

  • 2010 26 Februari 3 Maret
  • 2011 15 Februari 20 Februari
  • 2012 5 Februari 10 Februari
  • 2013 24 Januari 29 Januari

* Semua tanggal adalah perkiraan, karena tanggal aktual dapat berbeda sesuai dengan penetapan awal bulan (kalender) berdasarkan pengamatan fisik terhadap rembulan (benda astronomi).

Perbedaan Pendapat

Terdapat beberapa kaum ulama yang berpaham Salafi dan Wahhabi yang tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah bid’ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya. Namun demikian, terdapat pula ulama yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah hal bid’ah, karena merupakan pengungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Islam

Islam

Wikipedia

Related Posts:

Islam (Arab: al-islām, الإسلام Tentang suara ini dengarkan : “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Aspek Kebahasaan

Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti ‘Menyelamatkan’ misal teks ‘Assalamu Alaikum’ yang berarti Semoga Keselamatan menyertai kalian semuanya. Islam/Islaman adalah Masdar/Kata benda sebagai bahasa penunjuk dari Fi’il/Kata kerja yaitu ‘Aslama’ =Telah Selamat (Past Tense) dan ‘Yuslimu’ =Menyelamatkan (Past Continous Tense)

Kata triliteral semitik ‘S-L-M’ menurunkan beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna “untuk menerima, menyerah atau tunduk” dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan. 

Aspek Kemanusiaan

Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penyerahan diri kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam…” Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai “agama”): “…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.

Kepercayaan

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin (“dua kalimat persaksian”), yaitu “asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah” – yang berarti “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah”. Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur’an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Umat Islam juga meyakini al-Qur’an yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril adalah sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Di dalam al-Qur’an Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur’an hingga akhir zaman.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an, umat Islam juga diwajibkan untuk beriman dan meyakini kebenaran kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur’an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu sebelum Muhammad. Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur’an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Umat Islam meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah satu agama yang sama dengan (tauhid|satu Tuhan yang sama), dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni) yang menjadikannya seorang muslim. Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur’an, penganut Yahudi dan Kristen sering direferensikan sebagai Ahli Kitab atau orang-orang yang diberi kitab.

Lima Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas. Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.

Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:

  1. Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

Enam Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar

Ajaran Islam

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari empat mazhab yaitu Mazhab Syafi’i, Mazhab Hanafi, Mazhab Hambali dan Mazhab Maliki. Islam adalah agama dominan sepanjang wilayah Timur Tengah atu negara-negara Arab, juga di sebagian besar Afrika Utara, Afrika Barat dan Asia Selatan serta Asia Tenggara. Komunitas besar juga ditemui di RRC yaitu Muslim Hui dan Muslim Xinjiang Uighur, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab, 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.

Allah

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid, yaitu kepercayaan tentang keesaan Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Ilāh; kebanyakan ilmuwan percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ʾilāh‘ (dewa, bentuk maskulin), bermaksud “Tuhan” (al-ilāh‘), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari bahasa Aram Alāhā. Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid dituangkan dalam syahadat (pengakuan), yaitu bersaksi:

لا إله إلا الله محمد رسول اللهTiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

Konsep tauhid ini dituangkan dengan jelas dan sederhana di dalam al-Qur’an pada Surah Al-Ikhlas yang terjemahannya adalah:

  1. Katakanlah: “Dia-lah Allah (Tuhan), Yang Maha Esa,
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
  3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Nama “Allah” tidak memiliki bentuk jamak dan tidak diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam Islam sebagaimana disampaikan dalam al-Qur’an dikatakan:

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (Asy-Syu’ara’ [42]:11)

Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui al-Quran :

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku”. (Ta Ha [20]:14)

Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan umat Yahudi dan Nasrani, dalam hal ini adalah Tuhan Ibrahim. Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme.

Mengutip al-Qur’an, An-Nisa’ [4]:71:

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :”Tuhan itu tiga”, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”.

Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru penghinaan, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (Asy-Syu’ara’ [42]:11). Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama/gelar/julukan Tuhan (asma’ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada al-Qur’an.

Al-Qur’an

FirstSurahKoranAl-Qur’an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah Qur’an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah buku/kitab, ummat Islam merujuk Al-Qur’an sendiri lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau Al-Qur’an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya pada tulang, batu-batu dan dedaunan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an yang ada saat ini persis sama dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi Al Qur’an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi Al-Qur’an yang ada saat ini pertama kali dikompilasi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu dimusnahkan untuk keseragaman.

Al-Qur’an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat perbedaan tergantung cara menghitung). Hampir semua Muslim menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur’an, mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur’an dikenal sebagai hafiz (jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang, dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur’an diseluruh dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an yaitu lomba membaca Al-Qur’an dengan tartil atau baik dan benar. Yang membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).

Muslim juga percaya bahwa Al-Qur’an hanya berbahasa Arab. Hasil terjemahan dari Al-Qur’an ke berbagai bahasa tidak merupakan Al-Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur’an ataupun bentuk usaha untuk mencari makna Al-Qur’an, tetapi bukan Al-Qur’an itu sendiri.

Nabi Muhammad S.A.W

Mohammad_SAV.svgMuhammad (570-632 M) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat). Dalam Islam Muhammad tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya.

Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa. Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur’an.

A panoramic view of Al-Masjid al-Nabawi (the Mosque of the Prophet) in Medina, Saudi Arabia, the second most sacred Mosque in Islam

A panoramic view of Al-Masjid al-Nabawi (the Mosque of the Prophet) in Medina, Saudi Arabia, the second most sacred Mosque in Islam

Sejarah

Masa Sebelum Kedatangan Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menghubungkan antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka’bah. Masyarakat ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.

Masa Awal

Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi'ah) (Sumber - CIA World Factbook, 2004).

Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi’ah) (Sumber – CIA World Factbook, 2004).

Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira’, Arab Saudi.

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan di tengah-tengah suku Quraish pada zaman jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.

As-Sabiqun al-Awwalun

Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, ia akhirnya menyampaikan ajaran Islam secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.

Pada tahun 622 Masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, peristiwa itu menjadi dasar acuan permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga umat Islam semakin menguat. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Keunggulan diplomasi nabi Muhammad pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.

Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang diberi petunjuk, diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.

Masa Kekhalifahan Selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut “khalifah”, atau kadang-kadang disebut “amirul mukminin”, “sultan”, dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah yang kesemuanya diwariskan berdasarkan keturunan.

Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.

Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk “kesultanan”; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.

Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.

Demografi

Masjid Quba di Madinah, Arab Saudi.

Masjid Quba di Madinah, Arab Saudi.

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.

Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia.  Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim . Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat.

Hari Besar Dalam islam

  • Idhul Adha / Idul Qurban
  • Idhul Fitri
  • Hari Jumat

Tempat ibadah

Rumah ibadat umat Muslim disebut masjid atau mesjid. Ibadah yang biasa dilakukan di Masjid antara lain salat berjama’ah, ceramah agama, perayaan hari besar, diskusi agama, belajar mengaji (membaca Al-Qur’an) dan lain sebagainya

end of page