Wanita Merasakan Seks Paling Hebat Saat Bercinta Dengan Orang yang Dipercaya

PASUTRI 150

11 Juli 2013

Wanita Merasakan Seks Paling Hebat Saat Bercinta Dengan Orang yang Dipercaya

7 Rahasia Seks Yang Wajib Diketahui PriaPergaulan bebas di kota-kota besar semakin mengkhawatirkan, hingga sering dijumpai pasangan yang hanya bercinta untuk satu malam saja. Fenomena ini akhirnya menimbulkan anggapan bahwa orang hanya memikirkan seks saja tanpa mempertimbangakan perasaan atau emosi.

Tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar sebab nyatanya keterikatan emosi masih menjadi pertimbangan utama. Sebuah survei yang dilakukan produsen kondom ternama dunia, Durex, menemukan bahwa kepercayaan dan kehangatan asmara antar pasangan tetap perlu.

Dalam surveinya, Durex mewawancarai 2.000 orang pria dan wanita berusia 25 tahun dan lebih tua. Hasilnya menunjukkan bahwa 87 persen wanita mengaku seks terpanas yang pernah mereka miliki dilakukan dengan orang yang mereka kenal dan mereka percayai, bukan dengan orang asing.

Tak hanya itu, sebanyak 95 persen pria mengatakan hubungan seks jadi lebih memuaskan dengan adanya ikatan emosional. Sebanyak 95 persen wanita dan 96 persen pria setuju bahwa memuaskan pasangan adalah yang paling penting sebelum memuaskan diri sendiri.

Temuan yang dimuat Hufington Post, Kamis (11/4/2013) ini menunjukkan bahwa pria dan wanita pada akhirnya tak hanya mencari kepuasan seksual dengan sembarang orang. Sayangnya, survei ini tidak menanyakan apakah pengalaman seksual yang diungkapkan responden terjadi dalam pernikahan ataukah hubungan kasual.

“Pada akhirnya, keinginan untuk hubungan yang lebih pada diri manusia manusia selalu menang, baik untuk pria maupun wanita. Petualangan seksual cenderung berakhir sebagai serangkaian foto, dikuburkan di suatu tempat pada halaman Facebook yang tidak akan diberitahu kepada suami. Kenangannya bisa menyenangkan atau masam, tapi itu tidak mendefinisikan mereka,” kata Hanna Rosin, penulis buku ‘The End Of Men’.

Berbagai Sumber

Wanita Membesar Klitorisnya Hingga 20 Persen Tiap Tanggal Ini

PASUTRI 150

 

11 Juli 2013

7 Rahasia Dapatkan Kepuasan Saat BercintaKalau ditanya kapankah waktu yang tepat bagi pria untuk bercinta, mungkin jawabannya bisa setiap saat. Tapi kalau ditanya kapankah waktu yang tepat bagi wanita untuk bercinta, mungkin jawabannya lebih sulit. Sebenarnya ada saat di mana wanita dapat merasakan seks paling hebat.

Sebuah penelitian baru-baru ini yang dimuat dalam Journal of Sexual Medicine menunjukkan bahwa sekitar hari ke-14 dari siklus menstruasi, klitoris wanita akan mengembang hingga 20 persen lebih besar dari biasanya. Artinya, kesempatan untuk bergairah dan mencapai orgasme juga lebih besar.

Sebelum sampai pada penemuan ini, para peneliti di Italia meneliti 24 orang wanita berusia 18 – 35 tahun. Menggunakan peralatan USG, peneliti mengukur klitoris wanita dan pembuluh darah arteri utama yang mengalirkan darah ke klitoris, yaitu pembuluh yang penting membantu memunculkan gairah bercinta.

Pengukuran ini dilakukan pada awal, tengah dan akhir siklus menstruasi setiap wanita. Para peneliti menemukan bahwa pada hari ke-14 dari siklus menstruasi, klitoris wanita membesar ukurannya. Pembesaran ini tak hanya sedikit, melainkan rata-rata bisa mencapai 15 – 20 persen lebih besar.

Pada saat itu, pembuluh darah arteri klitoris akan melebar sehingga darah dapat mengalir ke klitoris lebih mudah. Perubahan ini membuat wanita jadi lebih mudah terangsang dan bergairah. Maka peneliti menganjurkan untuk bercinta saat masa-masa ini karena akan sangat memuaskan pasangan.

“Lonjakan estradiol (estrogen alami) menjelang waktu ovulasi mungkin penyebab terjadinya perubahan ini. Tapi Anda tidak perlu memberitahu pasangan Anda, langsung saja jadwalkan untuk bercinta di malam harinya,” kata peneliti, Cesare Battaglia, MD, PhD dari University of Bologna seperti dilansir Women’s Health, Jumat (12/4/2013).

Bersaman dengan itu, ternyata hari ke-14 dari siklus menstruasi ternyata juga merupakan masa terjadinya ovulasi. Jadi masuk akal jika tubuh wanita secara fisiologis mengalami aktivitas yang mendukung pembuahan. Nyatanya, para wanita dalam penelitian mengaku lebih sering berhubungan seks saat pertengahan siklus dibandingkan waktu lainnya.

Berbagai Sumber

7 Manfaat Sehat dari Hubungan Seks Suami & Istri

KHUSUS PASUTRI


11 Juli 2013

GS-woman-on-top

Seks bukan sekadar aktivitas yang menyenangkan tapi juga menyehatkan. Jika ingin memiliki badan yang bugar dan organ tubuh yang berfungsi baik, maka suami istri jangan sampai melewatkan waktu untuk berhubungan seks.

Berikut ini 7 manfaat sehat yang bisa diperoleh melalui hubungan seks, seperti dikutip dari Healthmeup, Senin (15/4/2013):

1. Seks Juga Olahraga

Seks juga olahraga. Bagaimana tidak, sebab seks memiliki berbagai gaya yang memungkinkan suami istri untuk melakukan latihan yang bisa membakar kalori sekaligus. Berbagai posisi dalam aktivitas seks ini melibatkan banyak anggota tubuh dari kaki, paha, lengan, dan pinggul. Seks membuat Anda berkeringat, sehingga secara harfiah seks merupakan latihan kardio.

2. Menurunkan Berat Badan

Karena seks adalah kegiatan yang bisa membuat berkeringat, maka artinya ada kalori yang terbakar. Itu makanya seks bisa membantu Anda menurunkan berat badan dan bahkan mengurangi nafsu makan.

3. Membangun Kekebalan

Seks bisa meningkatkan immunoglobulin yang akan membuat seseorang lebih kebal pada flu. Tak hanya itu, seks juga meningkatkan kepadatan tulang dan memperbaiki jaringan.

4. Memerangi Stress

Sebelum seseorang mencapai orgasme, oksitosin akan dilepaskan yang kemudian membantu pelepasan endorfin. Ini merupakan hormon kebahagiaan yang menekan kecemaasan, stres, dan bisa mengatasi insomnia. Seks juga membantu pencernaan melakukan tugasnya lebih baik sehingga nutrisi dapat diserap dengan baik.

5. Meningkatkan Toleransi Rasa Sakit

Seks meningkatkan toleransi pada rasa sakit yang mana hal ini akan sangat membantu perempuan saat menghadapi rasa sakit kala menstruasi dan sakit kepala. Dengan demikian akan mengurangi ketergantungan pada obat-obatan pereda rasa sakit.

6. Kulit Sehat

Hanya dengan melakukan kegiatan seks, kulit akan menjadi lebih sehat. Sebab kolagen akan diproduksi saat seks dilakukan. Kolagen ini akan membuat kulit kencang, lembut dan berseri.

Soal kolagen, umumnya kandungan ini digunakan di produk kosmetik. Cobalah baca bahan pembuatan kosmetik di bungkus kosmetik, dan pastikan ada kolagen. Ya, kolagen memang salah satu resep kulit sehat.

7. Meningkatkan Harapan Hidup

Rupanya seks juga meningkatkan harapan hidup. Mungkin karena bahagia setelah melakukan aktivitas ini membuat seseorang menjadi lebih sehat, sehingga usianya lebih panjang.

Para pembaca detikHealth, saat ini para peneliti masih terus meneliti tentang seks dan mencari apa manfaat seks lainnya. Jadi, mari ditunggu hasil penelitian lainnya.

Berbagai Sumber

Melakukan Hubungan Seks Teratur Membuat Badan Sehat

11 Juli 2013

ANDHIKA BLOG LOGO 01 70x70 ADULT ONLY 70x70

Melakukan Hubungan Seks Teratur Bikin Badan Sehat

getting pregnant, get pregnant, sexual position, best position to get pregnant, pregnantJangan ragu untuk rutin melakukan hubungan seks dengan pasangan sah Anda. Para peneliti menyebutkan banyak manfaat yang bisa didapatkan bila melakukan seks secara rutin. Bahkan seks teratur bisa mencegah flu.

“Berhubungan seks secara teratur tidak hanya membuat Anda lebih dekat dengan pasangan, tetapi juga dapat membuat fisik Anda dan pasangan semakin sehat,” ujar Dr. Hilda Hutcherson, profesor klinis kebidanan dan ginekologi di Columbia University, dikutip dari Mid-day, Selasa (16/4/2013).

“Penelitian yang dilakukan oleh University of the West of Scotland mengungkapkan bahwa orang-orang yang melakukan hubungan seks setidaknya 2 minggu sekali lebih mampu mengelola situasi stres dalam kehidupannya sehari-hari,” sambung Stuart Brody, Ph.D, seorang peneliti dan profesor psikologi.

Disampaikan juga oleh Laura Berman, Ph.D, hal ini dikarenakan hormon endorfin dan oksitosin dilepaskan selama berhubungan intim. Hormon ini memicu pusat pengatur kesenangan yang ada di otak. Hormon ini juga menciptakan perasaan keintiman dan relaksasi, serta membantu mencegah timbulnya kecemasan dan depresi. Berman saat ini merupakan asisten klinis profesor obstetri ginekologi di Feinberg School of Medicine di Northwestern University.

“Seks juga akan memastikan tidur yang lebih lelap karena endorfin yang dilepaskan juga dapat menenangkan pikiran dan tubuh, sangat membantu untuk dapat tertidur dengan lelap,” ujar Cindy Meston M, Ph.D, direktur the Sexual Psychophysiology Laboratory di University of Texas, Austin. Jika mengalami orgasme, maka hormon akan melonjak secara maksimal dan efek yang didapat juga semakin baik karena saat itulah hormon prolaktin juga dilepaskan.

20440-woman-on-top
“Kadar prolaktin secara alami lebih tinggi ketika kita sedang tidur, hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara keduanya,” lanjut Meston.

Seks juga dapat membantu meminimalkan rasa sakit. Lonjakan hormon yang dilepaskan setelah orgasme dapat membantu meringankan sakit, seperti sakit kepala. Sebuah studi yang dilakukan The Headache Clinic di Southern Illinois University mengungkapkan bahwa setengah dari wanita pencerita migrain melaporkan merasa sakitnya mereda setelah mencapai klimaks dalam seks.

“Endorfin yang dilepaskan selama orgasme sangat mirip dengan morfin, dan secara efektif mampu mengurangi rasa sakit,” ungkap Meston.

Peneliti juga mengungkapkan bahwa seks dapat mengurangi risiko flu. Orang-orang yang rutin berhubungan seks ditemukan memiliki tingkat antibodi immunoglobulin A (IgA) yang lebih tinggi. Menurut para peneliti di Wilkes University, Pennsylvania, antibodi ini membantu melawan penyakit dan menjaga kondisi tubuh dari flu dan pilek.

Berbagai Sumber

Mengapa Wanita Lebih Sering Ingin Bercinta dibanding Pria

PASUTRI 150

11 Juli 2013

Mengapa Wanita Lebih Sering Ingin Bercinta dibanding Pria

Man-and-Woman-Couple-in-Bed

Banyak orang berpendapat jika pria lebih sering membicarakan dan memikirkan tentang seks, tapi mungkin tak banyak yang tahu jika wanitalah yang belakangan diketahui lebih sering menginginkannya. Alasannya bisa beragam, mulai dari besarnya manfaat terhadap kesehatan hingga meningkatkan kepercayaan dirinya.

Ini dia beberapa alasan utama yang mendasari kecintaan wanita terhadap seks melebihi pria seperti dikutip dari timesofindia, Kamis (18/4/2013) berikut ini.

1. Menyenangkan Fisik Wanita

Di antara sekian banyak alasan yang mendasari seseorang mencintai seks, ini adalah salah satu alasan yang paling menonjol. Sebab hubungan seksual yang baik dapat memuaskan kebutuhan fisik seorang wanita dan setiap orang memang berhak untuk mendapatkan kepuasan itu.

“Seks adalah kebutuhan paling mendasar setiap orang dan saya sering kali menemukan kasus dimana sang istri terus mengeluhkan suaminya tak mampu memuaskan kebutuhan fisiknya,” tandas psikolog Seema Naina.

2. Memberikan Perasaan Positif Terhadap Diri Sendiri

Idealnya, seks yang luar biasa menunjukkan bahwa Anda menikmati aktivitas seksual tersebut dan berpartisipasi secara seimbang. Hal itu memberikan perasaan positif terhadap diri Anda sendiri, termasuk meningkatkan harga diri.

Seorang ibu rumah tangga, Neelam Nehra mengisahkan, “Ketika suami pulang setelah seharian bekerja dan kami bercinta, hal ini menaikkan harga diri saya, terutama karena munculnya perasaan bahagia ketika dapat memuaskan si dia. Dan karena saya tak ingin terlihat tak menarik di mata suami saya, hal ini menjadi semacam motivasi bagi saya untuk rajin berolahraga agar suami selalu tertarik pada saya.”

Menurut psikolog Sunaina Bajaj, hal ini karena seks memberikan kekuatan yang memulihkan, menimbulkan emosi positif, dan membuat seseorang merasa lebih percaya diri. “Ketika seorang wanita melihat suaminya sangat bergairah ketika bercinta, memuji kemolekan tubuh dan gerakannya, maka hal ini akan menimbulkan perasaan positif yang luar biasa pada wanita,” katanya.

3. Makin Mendekatkan Diri dengan Suami

Keintiman fisik melepaskan hormon oksitosin pada pasangan yang juga dikenal sebagai hormon cinta. Pakar hubungan Vandana Mitra mengatakan, “Saya selalu menekankan bahwa pasangan seharusnya tidak menganggap seks sebagai sesuatu yang kasual. Ini merupakan komposisi yang sangat penting untuk mempertahankan suatu hubungan, termasuk memperkuat ikatan diantara keduanya.

“Jangan heran jika ada yang mengatakan bahwa lebih banyak bercinta dengan pasangan akan memperkecil risiko perselingkuhan karena itu masuk akal,” tandasnya.

4. Meredakan Stres dan Menghilangkan Emosi Negatif

Seks bukan semata soal memuaskan sensasi fisik tapi juga menenangkan dan membuat pasangan menjadi rileks. Seorang eksekutif call centre Neetu Sharma pun mengisahkan pengalamannya, “Kapanpun saya mengalami hari kerja yang buruk, seks benar-benar membantu saya agar menjadi santai. Aktivitas ini benar-benar mengenyahkan stres dari pikiran saya, membuat saya rileks dan merasa seperti diremajakan kembali.”

Psikolog Reena Kapur menerangkan, “Pasalnya seks melibatkan banyak aktivitas seperti menghirup nafas dalam-dalam dan saling sentuh dengan pasangan, padahal keduanya dapat menyebabkan pelepasan hormon-hormon yang dapat menenangkan Anda.”

5. Olahraga

Meski temuan ini dianggap masih simpang-siur, sejumlah pakar sepakat jika bercinta selama 30 menit dapat membakar lebih dari 85 kalori. Konsultan kebugaran Stuti Batra pun memastikan hal ini dengan mengatakan, “Meski saya tidak menyarankan agar Anda berhenti berolahraga, tapi melakukan dua sesi bercinta dalam sehari dapat membantu menurunkan berat badan Anda.”

“Mungkin ini terdengar lucu tapi ketika bercinta saya memilih berperan dominan. Ini membantu saya membakar lebih banyak kalori sekaligus membuat suami saya ketagihan,” kata Payal Verma.

6. Meningkatkan Gairah

“Terkadang saya merasa seperti seseorang yang mesum karena saya selalu memikirkan pasangan dan apa yang kami lakukan kemarin malam. Ini membuat saya ketagihan dan ingin terus melakukan hubungan seksual bersamanya. Ia pun mengira saya gila tapi ini benar-benar terjadi pada saya,” ungkap seorang eksekutif call centre Richa Sharma.

“Sangatlah normal untuk berfantasi tentang seks tapi saya dengar ini membuat para pria ketakutan karena kami, para pria masih belum percaya dan harus beradaptasi dengan konsep bahwa wanita ternyata menginginkan seks lebih banyak dari kami. Tapi kami menyukai gairah itu,” aku psikolog Prateek.

Berbagai Sumber

Bercinta Hanya Perlu 10 Menit Bagi Kebanyakan Wanita

PASUTRI 150

11 Juli 2013

Bercinta Hanya Perlu 10 Menit Bagi Kebanyakan Wanita

bed4_041811032351

Kalau ditanya berapa idealnya hubungan intim yang ideal, jawaban orang pasti bermacam-macam. Para pria akan menjawab selama mungkin demi melindungi ego maskulinnya. Yang lebih rumit mungkin pada wanita, pihak yang digambarkan pasif untuk urusan seks.

Namun tak perlu khawatir. Sebuah survei yang baru-baru ini dilakukan situs Glamour.com mencoba mencari tahu berapa lama durasi hubungan seks para wanita. Dengan menanyai 1.000 orang wanita muda mengenai berapa lama waktu yang digunakan untuk foreplay dan bercinta, gambaran rata-rata durasi seks yang di ideal mata wanita agaknya bisa didapat.

Hasil survei menemukan bahwa mayoritas wanita dalam survei, yaitu sekitar 33 persen, mengatakan bahwa mereka menghabiskan waktu 5 – 9 menit untuk pemanasan. Sedangkan untuk masalah seks, sebagian besar wanita, yaitu sekitar 28 persen, menjawab melakukan seks selama 10 – 14 menit.

Seperti dilansir Glamour.com, Selasa (22/4/2013), durasi yang digunakan untuk foreplay dan seks secara umum yang didapat dari survei adalah sebagai berikut:

  • Durasi kurang dari 5 menit: Foreplay 23 persen, Seks 8 persen
  • Durasi 5 sampai 9 menit: Foreplay 33 persen, Seks 25 persen
  • Durasi 10 sampai 14 menit: Foreplay 24 persen, Seks 28 persen
  • Durasi 15 sampai 19 menit: Foreplay 12 persen, Seks 17 persen
  • Durasi 20 menit atau lebih: Foreplay 8 persen, Seks 22 persen

Sebuah penelitian tahun 2012 menemukan bahwa idealnya wanita menghabiskan waktu selama 106 menit untuk seks agar selalu bahagia. Resep ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Christian Kroll dari Jacobs University di Jerman dan Sebastian Pokutta dari Georgia Tech.

Jika dihitung-hitung, idealnya setiap orang bekerja selama 36 menit dan menyediakan waktunya untuk seks selama 106 menit agar bahagia. Namun secara umum, rata-rata orang menghabiskan waktunya selama 244 menit dalam sehari untuk melakukan kegiatan yang kurang disukai dan 7 menit untuk melakukan kegiatan yang disukai.

Berbagai Sumber

2 Cara Sederhana untuk Wanita Mencapai Orgasme

PASUTRI 150

11 Juli 2013

2 Cara Sederhana untuk Wanita Mencapai Orgasme

Posisi-Seks-Agar-Cepat-Hamil

Bagi wanita, masalah kesulitan mencapai orgasme tampaknya bukan hal yang langka. Nyatanya, para ahli memperkirakan sekitar 10 persen wanita tidak pernah mengalami orgasme, baik saat bercinta dengan pasangan ataupun selama masturbasi. Sebenarnya ada 2 cara sederhana untuk membantu wanita agar mencapai orgasme.

“Yang pertama dan yang paling penting adalah bagaimana belajar menyeimbangkan antara ketegangan dan relaksasi selama aktivitas seksual. Tapi klien saya bertanya, bagaimana mereka dapat menjadi tegang dan santai pada saat yang sama?” kata Louanne Cole Weston, PhD, pakar seks seperti dikutip dari Web MD, Rabu (24/4/2013).

Menurut Cole Weson, ada 2 cara yang penting agar wanita dapat mencapai orgasme, yaitu:

1. Tegang

Jenis ketegangan yang membantu wanita mencapai orgasme adalah ketegangan otot atau myotonia. Banyak wanita memiliki anggapan keliru, yaitu mereka harus rileks karena relaksasi selama bercinta sangat penting.

Tapi ternyata ketegangan otot juga diperlukan untuk mencapai orgasme. Kebanyakan wanita belajar meraih orgasme dengan cara menegangkan kaki, perut dan pantat. Kontraksi otot yang paling sering memicu orgasme adalah pada otot dasar panggul. Otot ini berfungsi menghentikan aliran urine.

Penyebab ketegangan saat orgasme terletak pada gairah seksual. Kontraksi atau ketegangan otot akan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh dan ke daerah genital. Sedangkan gairah akan sangat membantu sebagian besar wanita mencapai orgasme.

2. Tenang

Saat berhubungan seks, wanita sebaiknya hanya memfokuskan pikiran untuk merasakan sensasi dari rangsangan. Isilah pikiran dengan hal-hal yang mendorong gairah seksual, namun bukan diisi dengan pikiran negatif yang justru dapat menurunkan gairah.

sex postion

Teknik ini memang membutuhkan latihan, tetapi dapat bekerja jika diterapkan dari waktu ke waktu. Apabila cara ini tidak dapat membantu, besar kemungkinan kesulitan orgasme yang dialami disebabkan oleh penyakit atau efek samping obat. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Berbagai Sumber

 

G-Spot

 PASUTRI 150

Apakah Anda Tau Tentang G-Spot?

Berikut ini adalah Informasi tentang G-Spot. Semoga Bermamfaat.

(from Wikipedia)

g-spot-button-horz

The Gräfenberg Spot, often called the G-Spot, is defined as a bean-shaped area of the vagina. Some women report that it is an erogenous zone which, when stimulated, can lead to strong sexual arousal, powerful orgasms and female ejaculation. The G-Spot is typically described as being located one to three inches (2.5 to 7.6 cm) up the front (anterior) vaginal wall between the vaginal opening and the urethra and is a sensitive area that may be part of the female prostate.

Scheme_female_reproductive_system-en-horz

Latin Vagina
Gray’s subject #269 1264
Artery superior part to uterine artery, middle and inferior parts to vaginal artery
Vein uterovaginal venous plexus, vaginal vein
Nerve Sympathetic: lumbar splanchnic plexus
Parasympathetic: pelvic splanchnic plexus
Lymph upper part to internal iliac lymph nodes, lower part to superficial inguinal lymph nodes
Precursor urogenital sinus and paramesonephric ducts
MeSH Vagina
Dorlands/Elsevier Vagina
Clitoris
Clitoris anatomy labeled-en.svg
The internal anatomy of the human vulva, with the clitoral hood and labia minora indicated as lines. The clitoris extends from the visible portion to a point below the pubic bone.
Gray’s subject #270 1266
Artery Dorsal artery of clitoris, deep artery of clitoris
Vein Superficial dorsal veins of clitoris, deep dorsal vein of clitoris
Nerve Dorsal nerve of clitoris
Precursor Genital tubercle
MeSH Clitoris
Dorlands/Elsevier Clitoris

Although the G-Spot has been studied since the 1940s, disagreement persists over its existence as a distinct structure, definition and location. A 2009 British study concluded that its existence is unproven and subjective, based on questionnaires and personal experience. Other studies, using ultrasound, have found physiological evidence of the G-Spot in women who report having orgasms during intercourse. It is also hypothesized that the G-Spot is an extension of the Clitoris and that this is the Cause of Vaginal Orgasms.

Female_reproductive_system_lateral_nolabelSexologists and other researchers are concerned that women may consider themselves to be dysfunctional if they do not experience the G-Spot, and emphasize that it is normal not to experience it. Some women have undergone a plastic surgery procedure called G-Spot amplification (see below) in an effort to enhance its sensitivity.

Difinisi Titik-G (G-Spot) dalam Bahasa Indonesia

Titik G atau Titik Gräfenberg (bahasa Inggris: G-Spot) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan area di dalam vagina, yang dilaporkan oleh banyak wanita merupakan titik sensitif yang bila distimulasi dapat menyebabkan gairah yang tinggi, orgasme yang sangat kuat dan ejakulasi wanita. “Titik Grafenberg” biasanya terletak sekitar satu sampai tiga inchi pada bagian atas (anterior) dinding vagina, dan area sensitif yang merupakan bagian dari prostat pada wanita. Juga bisa disebut daerah kecil pada area kemaluan wanita yang terletak di belakang tulang kemaluan dan mengelilingi uretra. Titik ini dinamakan berdasarkan nama seorang ahli kebidanan Jerman, Ernst Gräfenberg.

Daerah ini sempat dipercaya sebagai daerah berkas saraf yang mengelilingi dinding vagina, namun kini dilaporkan bahwa titik ini adalah bagian dari spons uretra, di dekat kelenjar Skene yang homolog dengan prostat pada pria.

Titik ini juga terletak di ventral dari vagina, di tengah-tengah jarak antara tulang kemaluan dan leher rahim. Ketika titik ini terangsang, maka timbul rasa sensasi seperti rasa buang air kecil, namun bila titik ini bekerja saat berhubungan seks maka akan menjadi rasa kenikmatan seksual (Shibley Hyde, J. and DeLamater, J.D., Understanding Human Sexuality, Eighth Edition (2003)).

Bagi beberapa wanita, titik ini dapat menjadi tempat stimulasi utama untuk menuju orgasme saat berhubungan seks.

History

17th-century, Dutch physician Regnier de Graaf described female ejaculation and referred to an erogenous zone in the vagina that he linked with the male prostate; this zone was later reported by the German gynecologist Ernst Gräfenberg. The term “G-Spot” was coined by Addiego et al. in 1981, named after Gräfenberg, even though Gräfenberg’s 1940s research was dedicated to urethral stimulation; Gräfenberg stated, “An erotic zone always could be demonstrated on the anterior wall of the vagina along the course of the urethra.” The concept of the G-Spot entered popular culture after the publication of The G Spot and Other Recent Discoveries About Human Sexuality by Alice Kahn Ladas and Beverly Whipple et al. in 1982,[2] but it was criticized immediately by leading gynecologists. Some of them denied its existence, as the absence of arousal made it less likely to observe and autopsy studies did not report it.

An anonymous questionnaire was distributed to 2350 professional women in the United States and Canada with a subsequent 55% return rate. Of these respondents, 40% reported having a fluid release (ejaculation) at the moment of orgasm. Further, 82% of the women who reported the sensitive area (Gräfenberg Spot) also reported ejaculation with their orgasms. Several variables were associated with this perceived existence of female ejaculation.

Sexual Stimulation and Studies

General Stimulation

The location of the G-Spot is typically reported as being about 50 to 80 mm (2 to 3 in) inside the vagina, on the front wall. For some women, stimulating the area creates a more intense orgasm than Clitoral Stimulation. The G-Spot area has been described as needing direct stimulation, especially with firm moves and constant pressure as it is ~1 cm below the surface. Stimulating the area through sexual penetration, especially in the Missionary Position, is difficult to achieve because of the special angle at which penetration must occur. Women usually need direct clitoral stimulation to orgasm, and G-Spot stimulation may be best applied by using both manual stimulation and vaginal penetration.

The Mssionary Position or Man-On-Top Position is a sex position in which a woman lies on her back and a man lies on top of her while they face each other and engage in sexual intercourse or other sexual activity. Though the sex position is commonly associated with heterosexual sexual activity, it may also be used by gay or lesbian couples.

Posisi Missionary

The missionary position may involve sexual penetration or non-penetrative sex (for example, intercrural sex), and its penile-vaginal aspect is an example of ventro-ventral (front-to-front) reproductive activity. Variations of the position allow varying degrees of vaginal tightness, clitoral stimulation, depth of penetration, participation on the part of the woman, and the likelihood and speed of orgasm.

A common subject of debate is that the term “missionary position” arose in response to Christian missionaries, who taught that the position was the only proper way to engage in sexual intercourse; this explanation has been called a myth in some scholarly texts, with one argument being that it probably originated from Alfred Kinsey’s Sexual Behavior in the Human Male through a confluence of misunderstandings and misinterpretations of historical documents.[5][6] Tuscans refer to the position as “The Angelic Position” while some Arabic-speaking groups call it “the manner of serpents.”

The missionary position is often preferred by couples who enjoy its romantic qualities afforded by copious skin-to-skin contact and opportunities to look into each other’s eyes and kiss and caress each other. The position is also believed to be a good position for reproduction. During sexual activity, the missionary position allows the man to take charge of the rhythm and depth of thrusting. It is also possible for the woman to thrust against him by moving her hips or pushing her feet against the bed, or squeeze him closer with her arms or legs. The position is less suitable for late stages of pregnancy, or when it is desired for the woman to have greater control over rhythm and depth of penetration.

Two primary methods have been used to define and locate the G-Spot as a sensitive area in the vagina:

  • Self-reported levels of arousal during stimulation
  • Stimulation of the G-Spot leads to Female Ejaculation

Studies using ultrasound have also been used to identify physiological differences between women and changes to the G-Spot region during sexual activity.

Sexual Stimulation

Sexual Stimulation is any stimulus (including, but by no means limited to, bodily contact) that leads to, enhances and maintains sexual arousal, and may lead to ejaculation and/or orgasm. Although sexual arousal may arise without stimulation, achieving orgasm usually requires sexual stimulation.

The term often implies stimulation of the genitals but may also include stimulation of other areas of the body, stimulation of the senses (such as sight or hearing) and mental stimulation (i.e. from reading or fantasizing). Sufficient stimulation of the penis in males and the clitoris in females usually results in an orgasm. Stimulation can be by self (e.g. masturbation) or by a partner (sexual intercourse, oral sex, mutual masturbation, etc.), by use of objects or tools, or by some combination of these methods.

Some people practice orgasm control, whereby a person or their sexual partner controls the level of sexual stimulation to delay orgasm, and to prolong the sexual experience leading up to orgasm.

Physical Sexual Stimulation

Physical sexual stimulation usually consists of the touching of parts of the human body, especially erogenous zones. Masturbation, sexual intercourse, oral sex, and a handjob are considered types of sexual stimulation. Physiological reactions are usually triggered through sensitive nerves in these body parts, which cause the release of pleasure-causing chemicals that act as mental rewards to pursue such stimulation. Physical sexual stimulation may also involve the touching of other people’s body parts and may trigger similar physiological reactions.

Sex Toy Use

One common Sex Toy used in G-Spot stimulation is the specially-designed G-Spot Vibrator. This is a Phallus-like Vibrator that has a curved tip which attempts to make G-Spot stimulation easy.

800px-Vb1-horz
G-Spot Vibrator (ruler is in inches)

G-Spot vibrators are made from the same materials as regular vibrators, ranging from hard plastic, rubber, silicone, jelly, or any combination of them. The level of vaginal penetration when using a G-Spot vibrator depends on the woman because women’s physiology is not always the same. The effects of G-Spot stimulation when using the penis or a G-Spot vibrator may be enhanced by additionally stimulating other erogenous zones on a woman’s body, such as the clitoris or vulva as a whole. When using a G-Spot vibrator, this may be done by manually stimulating the clitoris, using the vibrator as a clitoral vibrator in addition to a G-Spot vibrator, or, if the vibrator is designed for it, by applying it so that it stimulates the head of the clitoris, rest of the vulva and the vagina simultaneously.

Findings

General

In a 1981 published case study of one woman, it was reported that stimulation of the anterior vaginal wall made the area grow by fifty percent and that self-reported levels of arousal/orgasm were “deeper” when the G-Spot was stimulated. Another study, in 1983, examined eleven women by palpating the entire vagina in a clockwise fashion, and reported a specific response to stimulation of the anterior vaginal wall in four of the women.

Researchers at the University of L’Aquila have found, using ultrasonography, that women who experience vaginal orgasms are statistically more likely to have thicker tissue in the anterior vaginal wall. The researchers believe these findings make it possible for women to have a rapid test to confirm whether or not they have a G-Spot. A French study in late 2009 examined a small number of women with ultrasound as they had intercourse. By examining changes in the vagina, the research team found physiological evidence of the G-Spot.

Though the hypothesis has been challenged (see below), there is some research suggesting that G-Spot and clitoral orgasms are of the same origin. Masters and Johnson were the first to determine that the clitoral structures surround and extend along and within the labia. Upon studying women’s sexual response cycle to different stimulation, they observed that both clitoral and vaginal orgasms had the same stages of physical response, and found that the majority of their subjects could only achieve clitoral orgasms, while a minority achieved vaginal orgasms. On this basis, Masters and Johnson argued that clitoral stimulation is the source of both kinds of orgasms, reasoning that the clitoris is stimulated during penetration by friction against its hood. Professor of genetic epidemiology, Tim Spector, who co-authored research questioning the existence of the G-Spot, finalized in 2009, hypothesizes thicker tissue in the G-Spot area may be part of the clitoris and is not a separate erogenous zone.

Supporting Spector’s conclusion is a study published in 2005 which investigates the size of the clitoris – it suggests that clitoral tissue extends into the anterior wall of the vagina. The main researcher of the studies, Australian urologist Helen O’Connell, asserts that this interconnected relationship is the physiological explanation for the conjectured G-Spot and experience of vaginal orgasms, taking into account the stimulation of the internal parts of the clitoris during vaginal penetration. While using MRI technology, O’Connell noted a direct relationship between the legs or roots of the clitoris and the erectile tissue of the “clitoral bulbs” and corpora, and the distal urethra and vagina. “The vaginal wall is, in fact, the clitoris,” said O’Connell. “If you lift the skin off the vagina on the side walls, you get the bulbs of the clitoris – triangular, crescental masses of erectile tissue.” O’Connell et al., who performed dissections on the female genitals of cadavers and used photography to map the structure of nerves in the clitoris, were already aware that the clitoris is more than just its glans and asserted in 1998 that there is more erectile tissue associated with the clitoris than is generally described in anatomical textbooks. They concluded that some females have more extensive clitoral tissues and nerves than others, especially having observed this in young cadavers as compared to elderly ones, and therefore whereas the majority of females can only achieve orgasm by direct stimulation of the external parts of the clitoris, the stimulation of the more generalized tissues of the clitoris via intercourse may be sufficient for others.

French researchers Odile Buisson and Pierre Foldès reported similar findings to that of O’Connell’s. In 2008, they published the first complete 3D sonography of the stimulated clitoris, and republished it in 2009 with new research, demonstrating the ways in which erectile tissue of the clitoris engorges and surrounds the vagina. On the basis of this research, they argued that women may be able to achieve vaginal orgasm via stimulation of the G-Spot because the highly innervated clitoris is pulled closely to the anterior wall of the vagina when the woman is sexually aroused and during vaginal penetration. They assert that since the front wall of the vagina is inextricably linked with the internal parts of the clitoris, stimulating the vagina without activating the clitoris may be next to impossible. In their 2009 published study, the “coronal planes during perineal contraction and finger penetration demonstrated a close relationship between the root of the clitoris and the anterior vaginal wall”. Buisson and Foldès suggested “that the special sensitivity of the lower anterior vaginal wall could be explained by pressure and movement of clitoris’s root during a vaginal penetration and subsequent perineal contraction”.

In 2011, researcher Adam Ostrzenski claimed to have found the first evidence of G-Spot anatomical structures by dissecting a cadaver in Poland. Between the fifth and sixth layer of the vaginal wall, there were grape-like clusters Ostrzenski believes are erectile tissue that would function as a G-Spot. The research was published in The Journal of Sexual Medicine in 2012. Critics of Ostrzenski’s claim note that he provided no evidence that his sample consists of nerve endings, that the structures play a role in arousal, or that they would be in one specific area. Ostrzenski said that part of the reason he did not detail a precise type of tissue and how it works is because the Polish regulations that govern dissection of fresh cadavers prevented him from taking samples for histological testing. He said that he is not suggesting that the G-Spot he reports to have found will be in the same place, or have the same effect, for every woman.

Female Prostate

In 2001, the Federative Committee on Anatomical Terminology accepted female prostate as an accurate term for the Skene’s gland, which is believed to be found in the G-Spot area along the walls of the urethra. The male prostate is biologically homologous to the Skene’s gland; it has been unofficially called the male G-Spot because it can also be used as an erogenous zone. It is located where the rectum joins the colon, about 50 mm (2 in) from the anus, and when aroused it is a walnut-shaped swelling.

Regnier de Graaf, in 1672, observed that the secretions (female ejaculation) by the erogenous zone in the vagina lubricate “in agreeable fashion during coitus”. Modern scientific hypotheses linking G-Spot sensitivity with female ejaculation led to the idea that non-urine female ejaculate may originate from the Skene’s gland. Tissue examination showed 15 prostate-specific antigens in the gland,[41] with the Skene’s gland and male prostate acting similarly in terms of prostate-specific antigen and prostate-specific acid phosphatase studies, which led to a trend of calling the Skene’s glands the female prostate. Additionally, the enzyme PDE5 (involved with erectile dysfunction) has additionally been associated with the G-Spot area. Because of these factors, it has been argued that the G-Spot is a system of glands and ducts located within the anterior (front) wall of the vagina about one centimeter from the surface. A similar approach has linked the G-Spot with the urethral sponge.

Debates

G-Spot proponents are criticized for giving too much credence to anecdotal evidence, and for questionable investigative methods; for instance, the studies which have yielded positive evidence for a precisely located G-Spot involve small participant samples. While generally reported in sources describing vaginal anatomy that a greater concentration of nerve endings are at the lower third (near the entrance) of the vagina, some scientific examinations of vaginal wall innervation have shown no single area with a greater density of nerve endings. A 2006 study of 110 biopsy specimens drawn from 21 women concluded with the absence of a vaginal area with greater nerve density. Several researchers also consider the connection between the Skene’s gland and the G-Spot to be weak. They contend that the Skene’s gland does not appear to have receptors for touch stimulation, and that there is no direct evidence for its involvement. However, while neither the area of the anterior vaginal wall where the G-Spot is said to be located nor the Skene’s gland appear to possess great nerve density, the urethral sponge, which is thought by some to be homologous to the G-Spot, contains sensitive nerve endings and erectile tissue. Additionally, sensitivity is not determined by neuron density alone: other factors include the branching patterns of neuron terminals and cross or collateral innervation of neurons.

In addition to general skepticism among gynecologists, doctors and researchers that the G-Spot exists, a team at King’s College London in late 2009 suggested that its existence is subjective. They acquired the largest sample size of women to date – 1,800 – who are pairs of twins, and found that the twins did not report a similar G-Spot in their questionnaires. The research, headed by Tim Spector, documents a 15-year study of the twins, identical and non-identical. Identical twins share genes, while non-identical pairs share 50% of theirs. According to the researchers, if one identical twin reported having a G-Spot, it was more likely that the other would too, but this pattern did not materialize. Study co-author Andrea Burri believes: “It is rather irresponsible to claim the existence of an entity that has never been proven and pressurise women and men too.” Burri stated that one of the reasons for the research was to remove feelings of “inadequacy or underachievement” for women who feared they lacked a G-Spot. Researcher Beverly Whipple dismissed the findings, commenting that twins have different sexual partners and techniques, and that the study did not properly account for lesbian or bisexual women.

Like Burri, Petra Boynton, a British scientist who has written extensively on the G-Spot debate, is concerned about the promotion of the G-Spot leading women to feel “dysfunctional” if they do not experience it. “We’re all different. Some women will have a certain area within the vagina which will be very sensitive, and some won’t—but they won’t necessarily be in the area called the G spot,” stated Boynton. “If a woman spends all her time worrying about whether she is normal, or has a G spot or not, she will focus on just one area, and ignore everything else. It’s telling people that there is a single, best way to have sex, which isn’t the right thing to do.”

The G-Spot having an anatomical relationship with the clitoris has been challenged by Vincenzo Puppo, who, while agreeing that the clitoris is the center of female sexual pleasure, disagrees with Helen O’Connell and other researchers’ terminological and anatomical descriptions of the clitoris. “Clitoral bulbs is an incorrect term from an embryological and anatomical viewpoint, in fact the bulbs do not develop from the phallus, and they do not belong to the clitoris: ‘clitoral bulbs’ is not a term used in human anatomy, the correct term is the vestibular bulbs,” stated Puppo. “Gynecologists, sexual medicine experts, and sexologists should spread certainties for all women, not hypotheses or personal opinions, they should use scientific terminology: clitoral/vaginal/uterine orgasm, G/A/C/U spot orgasm, and female ejaculation, are terms that should not be used by sexologists, women, and mass media.” He argues that the “anterior vaginal wall is separated from the posterior urethral wall by the urethrovaginal septum (its thickness is 10–12 mm)” and that the “inner clitoris” does not exist. “The female perineal urethra, which is located in front of the anterior vaginal wall, is about one centimeter in length and the G-spot is located in the pelvic wall of the urethra, 2–3 cm into the vagina,” Puppo stated. He believes that the penis cannot come in contact with the congregation of multiple nerves/veins situated until the angle of the clitoris, detailed by Georg Ludwig Kobelt, or with the roots of the clitoris, which do not have sensory receptors or erogenous sensitivity, during vaginal intercourse. He did, however, dismiss the orgasmic definition of the G-Spot that emerged after Ernst Gräfenberg, stating that “there is no anatomical evidence of the vaginal orgasm which was invented by Freud in 1905, without any scientific basis”.

Puppo’s belief that there is no anatomical relationship between the vagina and clitoris is contrasted by the general belief among researchers that vaginal orgasms are the result of clitoral stimulation because, for example, clitoral tissue extends even in the area most commonly reported to be the G-Spot. “My view is that the G-spot is really just the extension of the clitoris on the inside of the vagina, analogous to the base of the male penis,” said researcher Amichai Kilchevsky. Because female fetal development is the “default” direction of fetal development in the absence of substantial exposure to male hormones and therefore the penis is essentially a clitoris enlarged by such hormones, Kilchevsky believes that there is no evolutionary reason why females would have two separate structures capable of producing orgasms and blames the porn industry and “G-spot promoters” for “encouraging the myth” of a distinct G-Spot. The significant difficulty of achieving vaginal orgasms, which is a predicament that is likely due to nature easing the process of child bearing by drastically reducing the number of vaginal nerve endings, challenge arguments that vaginal orgasms help encourage sexual intercourse in order to facilitate reproduction. O’Connell stated that focusing on the G-Spot to the exclusion of the rest of a woman’s body is “a bit like stimulating a guy’s testicles without touching the penis and expecting an orgasm to occur just because love is present”. She stated that it “is best to think of the clitoris, urethra, and vagina as one unit because they are intimately related”. Ian Kerner stated that the G-Spot may be “nothing more than the roots of the clitoris crisscrossing the urethral sponge”.

One study, published in 2011, which was the first to map the female genitals onto the sensory portion of the brain, supports the possibility of a distinct G-Spot. When a Rutgers University research team asked several women to stimulate themselves in a functional magnetic resonance (fMRI) machine, brain scans showed stimulating the clitoris, vagina and cervix lit up distinct areas of the women’s sensory cortex, which means the brain registered distinct feelings between stimulating the clitoris, the cervix and the vaginal wall – where the G-Spot is reported to be. “I think that the bulk of the evidence shows that the G-spot is not a particular thing,” stated Barry Komisaruk, head of the research findings. “It’s not like saying, ‘What is the thyroid gland?’ The G-spot is more of a thing like New York City is a thing. It’s a region, it’s a convergence of many different structures.”

In 2010, The Journal of Sexual Medicine planned a debate and publications from both sides of the G-Spot issue. In 2012, scholars Kilchevsky, Vardi, Lowenstein and Gruenwald stated in the journal, “Reports in the public media would lead one to believe the G-spot is a well-characterized entity capable of providing extreme sexual stimulation, yet this is far from the truth.” The authors cited that dozens of trials have attempted to confirm the existence of a G-Spot using surveys, pathologic specimens, various imaging modalities, and biochemical markers, and concluded:

The surveys found that a majority of women believe a G-spot actually exists, although not all of the women who believed in it were able to locate it. Attempts to characterize vaginal innervation have shown some differences in nerve distribution across the vagina, although the findings have not proven to be universally reproducible. Furthermore, radiographic studies have been unable to demonstrate a unique entity, other than the clitoris, whose direct stimulation leads to vaginal orgasm. Objective measures have failed to provide strong and consistent evidence for the existence of an anatomical site that could be related to the famed G-spot. However, reliable reports and anecdotal testimonials of the existence of a highly sensitive area in the distal anterior vaginal wall raise the question of whether enough investigative modalities have been implemented in the search of the G-spot.

G-Spot Amplification

G-Spot amplification (also called G-Spot augmentation or the G-Shot) is a procedure intended to temporarily increase pleasure in sexually active women with normal sexual function, focusing on increasing the size and sensitivity of the G-Spot. G-Spot amplification is performed by attempting to locate the G-Spot and noting measurements for future reference. After numbing the area with a local anesthetic, human engineered collagen is then injected directly under the mucosa in the area the G-Spot is concluded to be in.

A position paper published by the American College of Obstetricians and Gynecologists in 2007 warns that there is no valid medical reason to perform the procedure, which is not considered routine or accepted by the College; and it has not been proven to be safe or effective. The potential risks include sexual dysfunction, infection, altered sensation, dyspareunia, adhesions and scarring. The College position is that it is untenable to recommend the procedure. The procedure is also not approved by the Food and Drug Administration or the American Medical Association, and no peer-reviewed studies have been accepted to account for either safety or effectiveness of this treatment.

 

 

Bolehkan Penderita Kanker Payudara Menyusui?

KANKER PAYUDARA 20

11 Juli 2013

Kanker-payudara-2-horz

Seorang ibu yang sudah sadar manfaat menyusui tentu sangat ingin memberikan ASI pada bayinya. Namun bila keadaan ibu sakit kronis seperti kanker payudara, masih bisakah ia menyusui?

Menurut dr. Utami Roesli, SpA, pakar laktasi, ibu dengan kanker payudara bisa saja menyusui anaknya. Pasalnya kanker mungkin berada bukan pada sel-sel pembuat ASI. Hanya saja, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pertama, ibu tidak dalam pengobatan dengan obat-obatan. Utami mengatakan, obat-obatan mengalir dalam darah yang bisa terlarut juga dalam ASI. Sehingga pemberian ASI ke bayi mungkin akan memberikan efek obat.

“Jika pengobatan bersifat radiasi, asalkan tidak saat mendapat terapi, ibu boleh saja menyusui,” tuturnya.

Selain terapi radiasi, pengobatan yang bisa dilakukan untuk kanker payudara adalah lumpektomi. Karena pengobatan ini sifatnya yang tidak terlalu ekstensif sehingga tidak mempengaruhi kemampuan untuk menyusui.

Namun keadaan fisik ibu yang memiliki kanker payudara berbeda-beda sehingga membutuhkan konsultasi secara khusus pada dokter yang memeriksa. Apabila sel kanker mempengaruhi produksi ASI, maka diperlukan cara lain agar anak tetap mendapat ASI.

Sebagai alternatif, ibu dapat memberikan ASI dari payudara yang tidak terkena kanker. Dikhawatirkan produksi ASI lebih sedikit di payudara yang terkena kanker.

Utami mengatakan, ASI dapat memberikan kekebalan alami bagi bayi. Sehingga bayi dapat terhindar dari penyakit-panyakit, termasuk kanker di kemudian hari. Maka kanker yang diderita ibu, tidak akan menurun ke anak.

“Bahkan apabila ibu terkena infeksi ringan seperti influenza, ibu tidak akan menularkan bayi yang disusuinya berkat kekebalan alami yang dimiliki ASInya,” imbuhnya.

Kanker merupakan penyakit yang menakutkan bagi banyak orang. Ada banyak jenis kanker yang dapat menyerang orang-orang, baik laki-laki juga perempuan. Kanker juga tidak memandang umur, siapa saja dapat terkena penyakit kanker, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang ditakuti oleh perempuan. Berdasarkan penelitian, jumlah penderita kanker payudara pada perempuan lebih tinggi dibanding kanker serviks.

Hubungan Antara Kanker Payudara Dan Menyusui

Kanker adalah terjadinya mutasi gen yang abnormal. Kita ketahui bahwa kanker payudara menyerang perempuan, namun ternyata ada juga laki-laki yang terkena kanker payudara meskipun persentasenya kecil. Namun, bagaimana hubungan antara kanker payudara dan menyusui?

Menyusui 1-horz

Seseorang dapat terkena kanker payudara karena ada beberapa faktor, antara lain

  • faktor genetik,
  • faktor pola hidup,
  • faktor usia,
  • faktor periode menstruasi,
  • faktor tidak menyusui,
  • faktor kegemukan,
  • faktor kontrasepsi oral (pil KB),
  • faktor kurang olahraga,
  • faktor hormon tubuh,
  • faktor riwayat keluarga, dan
  • faktor lainnya.

Semua faktor tersebut dapat memicu timbulnya kanker payudara, sehingga setiap perempuan yang telah mengalami menstruasi harus memperhatikan faktor-faktor tersebut.

Kemudian, berdasarkan penelitian hubungan antara kanker payudara dan menyusui adalah perempuan yang memberikan ASI bagi bayinya, memiliki faktor resiko lebih rendah dibanding perempuan yang tidak memberikan ASI bagi bayinya. Namun, ada juga perempuan yang menyusui bayinya terkena kanker payudara. Hal tersebut dapat terjadi karena penyakit kanker merupakan penyakit yang sulit diprediksi.

Selain itu, ada banyak faktor resiko yang dapat memicu terjadinya kanker payudara.

Sebagai perempuan sebaiknya melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin.

Bila merasa terjadi

  • perubahan bentuk,
  • ada benjolan pada payudara,
  • bengkak pada payudara sebagian atau seluruhnya,
  • ada rasa nyeri pada payudara atau puting, 
  • puting payudara mengalami retraksi atau masuk ke dalam,
  • keluarnya nanah atau darah dari payudara, dan
  • kelenjar getah bening yang membengkak,

itu merupakan tanda-tanda gejala kanker payudara.

Bila ibu menyusui merasa ada benjolan yang aneh pada payudara, sebaiknya ibu memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu. Dan untuk sementara bayi jangan diberi ASI, sampai hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ASI ibu aman untuk bayinya.

Hal-hal Yang Perlu Diketahui Tentang Kanker Payudara Dan Menyusui

Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, bahwa resiko berkurang sampai 59% bagi perempuan yang menyusui, meskipun keluarganya memiliki riwayat kanker payudara.

Menyusui dapat mencegah peradangan pada payudara ibu, berdasarkan jurnal ilmiah Archieves of Internal Medicine.

Ini adalah salah satu penelitian hubungan antara kanker payudara dan menyusui.

Selain itu, pada jurnal Obstetri dan Ginekologi, resiko penyakit lainnya seperti penyakit jantung berkurang 10%, bila ibu menyusui bayinya lebih dari 12 bulan.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Center for Research on Health Care, University of Pittsburgh Menyusui merupakan kewajiban seorang ibu dan merupakan hak bagi bayi.

Berdasarkan penelitian tersebut, menyusui tidak hanya baik bagi bayi, namun baik pula bagi ibu.

Baca JugaKeuntungan Menyusui Bagi Penderita Kanker Payudara

Benjolan pada Payudara, Berbahayakah?

Penyebab benjolan payudara pada wanita bervariasi. Beberapa penyebab tidak berbahaya dan benjolan hilang secara alami atau dengan beberapa metode sederhana pengobatan sementara beberapa mungkin sangat berbahaya dan mengakibatkan kanker payudara.

kanker-payudara-horzAda beberapa pertumbuhan non-kanker yang menyebabkan benjolan payudara seperti :

1. Benjolan payudara karena infeksi

Infeksi dapat menyebabkan benjolan payudara pada wanita menyusui, suatu kondisi yang dikenal sebagai mastitis. Selama menyusui kulit pada puting dan daerah sekitarnya akan retak atau terluka sehingga menyediakan ruang masuknya bakteri yang menyebabkan infeksi. Kadang-kadang saluran susu tersumbat dan mengarah ke pengerasan payudara dan membentuk benjolan yang menyakitkan.Ini dapat diobati dengan mudah dengan antibiotik kecuali infeksi berakar mendalam.

2. Benjolan payudara karena cedera

Benjolan payudara juga bisa disebabkan karena shock fisik pada payudara,gumpalan pembuluh darah kecil pecah didaerah tertentu. Shock berat dapat merusak jaringan lemak dari nekrosis payudara menyebabkan dan membentuk benjolan jinak atau tidak besifat kanker.

3. Kista payudara

Kista payudara adalah kantung kecil yang berisi cairan di dalam payudara yang menyebabkan benjolan jinak yang tidak besifat kanker. Kista payudara ini sangat umum di atas usia 35 dan wanita yang sudah mendekati menopause. Selama periode siklus menstruasi ukuran kista sering berubah dan mereda saat periode berakhir. Ketidakseimbangan hormon mengakibatkan pembentukan kista payudara

4. Perubahan Fibrokistik

Perubahan fibrokistik terjadi dengan pembentukan benjolan banyak dengan ukuran merata. Hal ini ditandai dengan payudara yang nyaris kasar, kental dan dengan banyak penyimpangan. Perempuan mungkin menderita rasa sakit atau benjolan selama perubahan fibrokistik.

5. Fibroadenoma

Fibroadenoma sangat umum di kalangan wanita berusia antara 30-35 tahun. Jenis benjolan payudara biasanya tumbuh selama kehamilan. Benjolan ini terbentuk akibat pertumbuhan berlebihan jaringan kelenjar dan jaringan ikat pada payudara. Mereka umumnya mereda sendiri atau dihapus oleh operasi bedah.

Deteksi Mandiri Gejala Kanker Payudara Sejak Dini

Gejala kanker payudara seringkali tidak muncul hingga bertahun-tahun. Resiko menderita kanker payudara semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Benjolan tanpa rasa sakit di sekitar payudara dan di bawah ketiak segera setelah siklus menstruasi menjadi pertanda adanya gejala kanker payudara. Namun, tidak semua benjolan menjadi indikasi adanya pertumbuhan sel kanker.

Di sisi lain, sel kanker tumbuh dan tidak mampu teraba hingga bertahun-tahun kemudian. Oleh karena itulah mamogram diperlukan untuk deteksi pertumbuhan sel kanker sejak dini bahkan ketika benjolan belum terbentuk. Gejala lainnya adalah pembengkakan di daerah ketiak.

Deteksi Mandiri Gejala Kanker

Payudara Deteksi mandiri juga dianjurkan selain mamogram berkala untuk mendeteksi gejala kanker payudara. Hal ini dapat dilakukan dengan meraba dan mengamati perubahan warna kulit di area payudara hingga ketiak. Selain benjolan, indikasi kanker payudara juga ditandai dengan adanya lekukan di area payudara. Perubahan warna kulit di sekitar payudara menjadi kemerahan, oranye, atau area dengan bentuk menyerupai pualam dan mengeras di bawah kulit menjadi indikasi selanjutnya.

Gejala-Kanker-Payudara-1-580x386

Perubahan di sekitar area payudara juga mencakup ukuran, temperatur, tekstur, dan kontur dari payudara itu sendiri. Berikutnya amati perubahan yang terjadi pada puting susu, apakah ada ruam, rasa gatal, terbakar, atau luka. Amati jika ada area di sekitar payudara yang bentuk dan warnanya berbeda dari area lainnya. Jika menemukan satu atau lebih dari gejala di atas segera temui dokter atau lakukan tes mammogram.

Faktor Timbulnya Gejala Kanker Payudara

Penyebab kanker payudara terdiri dari beberapa faktor. Genetis menjadi faktor pertama yang menyebabkan seseorang memiliki kemungkinan menderita payudara, terutama yang memiliki hubungan kekerabatan dekat. Faktor hormonal juga menjadi salah satu penyebab kanker payudara.

Perempuan yang mendapat siklus menstruasi lebih cepat, sekitar umur 12 tahun dan menopause pada umur yang lebih tua, sekitar 55 tahun memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker payudara dibandingkan perempuan yang mendapat siklus menstruasi pertama lebih lambat, namun menopause lebih cepat.

Wanita yang melahirkan, terutama sebelum umur 30 memiliki resiko lebih rendah terhadap wanita yang tidak memiliki anak. Terapi hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang memasuki masa menopause juga memiliki resiko tersendiri terhadap kanker payudara. Selain itu, gaya hidup juga menjadi faktor. Obesitas dan konsumsi lima jenis minuman beralkohol atau lebih per hari dapat meningkatkan resiko adanya gejala kanker payudara.

Disusun dari berbagai sumber