Menapaki Surga Kiwi di Selandia Baru

NEW AH.OLS LOGO-3-80-1 10 Agustus 2013

Menapaki Surga Kiwi di Selandia Baru

Buah-buah kiwi masih bergelantungan dengan lebatnya di sebuah perkebunan di kota Tauranga, North Island, Selandia Baru, pertengahan bulan April lalu.

1150376620X310Terlihat, tak kurang dari 20 orang pekerja dengan hati-hati memetik buah yang menjadi salah satu ikon Selandia Baru itu. Bulan Maret dan April merupakan masa-masa panen bagi ribuan petani kiwi di Selandia Baru.

nzauPara petani kiwi di Selandia Baru yang umumnya memiliki lahan hingga hitungan hektar harus mendatangkan pekerja dari luar negeri saat musim panen tiba. Umumnya, mereka datang dari Kepulauan Fiji, Solomon Island, dan sekitarnya.

Para pekerja ini akan menetap selama 6 bulan di Selandia Baru. Sebab, seusai panen, para pemetik itu harus membenahi lahan, mulai dari memotong tangkai, hingga menyiapkan tempat rambatan tanaman kiwi. Seluruh proses itu harus siap sebelum musim dingin tiba sehingga kebun siap untuk ditanam pada musim berikutnya.

new_zealand_roadtrip_mapSelandia Baru memiliki anugerah untuk menjadi negara penghasil utama buah kiwi di dunia. Mulai dari udaranya yang sejuk, sinar matahari yang cukup, curah hujan yang tidak berlebihan, hingga tanah vulkanik yang subur. “Kami bersyukur tinggal di tanah surga,” kata Marion Ingham (63), seorang penanam atau grower kiwi yang tinggal di Tauranga.

Sebesar 35 persen pasar kiwi global dikuasai Selandia Baru. Selain kualitas yang tak diragukan, manajemen pemasaran menjadi kunci keberhasilan yang utama. Bayangkan, di negara indah yang terdiri dari dua pulau utama, North dan South Island ini, ribuan penanam kiwi berhimpun di dalam ZESPRI. Ini merupakan organisasi para petani penanam buah kiwi. Mereka lantas memasarkan kiwi dengan merek ZESPRI.

Proses panen, penyortiran, pengepakan, hingga pengapalan buah itu sebelum diekspor ke hampir 70 negara, termasuk Indonesia, dilakukan dengan seksama di bawah pengelolaan ZESPRI.

General Manager Grower & Goverment Relation ZESPRI Simon Limmer, dalam perbincangan santai dengan Kompas.com di kantornya di Mt Maunganui, Taurangga, mengatakan, pasar utama kiwi Selandia Baru adalah Eropa, Jepang, dan China. “Tapi, pasar Indonesia pun sangat menarik. Masih baru, tetapi terus tumbuh,” sambungnya.

Limmer menjelaskan, buah kiwi sesungguhnya ada sekitar 50 jenis. Namun, kiwi yang umum dikenal konsumen adalah kiwi hijau dan kiwi gold (emas) yang rasanya tidak seasam kiwi hijau. Kiwi gold merupakan hasil pengembangan varietas.

“Setiap variasi kiwi dikembangkan selama 10-20 tahun. Setelah kiwi gold, kini kami juga mengenalkan kiwi hijau manis (sweet green), dan yang sedang dipersiapkan adalah kiwi merah,” paparnya.

Dia mengatakan, ZESPRI sangat serius dalam melakukan pengembangan komoditas ini. Salah satu buktinya adalah, pengucuran investasi lebih dari 5 juta dollar Selandia Baru atau sekitar Rp 38 miliar per tahun, untuk mengembangkan varietas kiwi baru.

Bekerja sama dengan para petani, ZESPRI juga menggandeng perusahaan riset, pemerintah, dan universitas untuk terus melakukan pengembangan tersebut. Selain pengembangan varietas, riset ini juga menjadi bagian dalam penentuan waktu panen, penyeleksian, dan proses pengiriman buah sehingga setiap buah dipastikan sampai ke tangan konsumen dalam kondisi prima.

Namun, sebagaimana perjuangan para petani pada umumnya, hama pun mengancam pertumbuhan dan perkembangan kiwi. Hama yang menyebar melalui udara tergolong sulit untuk diatasi. Tak jarang, pohon-pohon kiwi gold mati sebelum dipanen. “Melalui riset, kini kami mengembangkan varietas kiwi gold baru yang lebih tahan terhadap hama. Dalam satu atau dua tahun kami optimistis akan kembali pada jumlah produksi semula,” kata Limmer.

Sejalan dengan upaya itu, pemerintah setempat memberikan dukungan kepada para petani dengan menyalurkan pinjaman berbunga rendah. “Bagi kami, para penanam harus mempunyai keberanian untuk menanam varietas kiwi baru, karena modalnya tidak sedikit. Mencoba varietas baru berarti mengurangi pendapatan. Karenanya, perlu ada dukungan bank,” papar Limmer.

Masalah lain yang dihadapi para penanam kiwi saat ini adalah masalah regenerasi. Marion misalnya, ketiga anaknya tidak ada yang berminat untuk meneruskan pengelolaan kebun kiwi miliknya. Salah satu anaknya adalah profesor di sebuah universitas di Selandia Baru. “Mungkin dalam beberapa tahun mendatang kebun kiwi kami akan dijual karena kami merasa sudah tua untuk kegiatan pertanian,” katanya.

Begitulah, di balik setiap buah kiwi yang kita santap, tersimpan cerita panjang mengenai kerja keras para penanam hingga riset yang mendalam, termasuk komitmen dan dukungan pemerintahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s