Prestasi Gemilang Seorang Anak Tukang Becak – Raeni Raih IPK 3,96 di UNNES


PRESTASI PENDIDIKAN 20

Raeni menaiki Becak ayah nya Mugiyono, diantar sang Ayah untuk mengikuti Wisuda. Selasa (10/6/2014).

Raeni menaiki Becak ayah nya Mugiyono, diantar sang Ayah untuk mengikuti Wisuda di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK 3,96 . Selasa (10/6/2014).

Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Raeni untuk menambatkan cita-citanya setinggi langit dengan menyelesaikan pendidikan di Unnes Semarang.

Meski orangtuanya pengemudi becak, ia menunjukkan, biaya bukan penghalang masuk perguruan tinggi. Bukan hanya selesai lulus dan wisuda biasa, namun Raeni kelahiran 13 Januari 1993 (21) menjadi wisudawan terbaik pada upacara wisuda periode kedua 2014 Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Uniknya, lulusan Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unnes ini berangkat menuju ke tempat wisuda, Auditorium Unnes, Selasa, menumpang becak yang digenjot Mugiyono (55), ayahandanya.

Tanpa memperlihatkan rasa canggung, anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Mugiyono dan Sujamah itu naik becak mulai dari tempat indekosnya, sekitar kampus Unnes, menuju lokasi wisuda.

Demikian pula, ketika usai wisuda, peraih beasiswa Bidik Misi itu kembali menumpang becak yang digenjot ayahnya. Bahkan Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman pun ikut menumpang menuju rektorat.

Raeni mengaku bangga bisa menamatkan kuliah di Unnes dengan prestasi yang membanggakan dan menyandang predikat lulusan terbaik meski dirinya berasal dari kalangan keluarga yang tidak mampu.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Inginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Anies: Raeni Lolos Tes Indonesia Mengajar Tahap Pertama

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan

Kepopuleran Raeni, anak tukang becak yang berhasil meraih IPK hampir sempurna saat kelulusannya di Universitas Negeri Semarang (Unnes) rupanya telah sampai ke telinga Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan. Keberhasilan Raeni membuat Anies tertarik untuk berkomunikasi secara langsung.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies saat ditemui di Hotel Mulia, Senyan, Jakarta, Kamis (12/6/2014).

Saat berkomunikasi, Anies akhirnya mengetahui bahwa gadis 21 tahun tersebut telah mengikuti ujian masuk Indonesia Mengajar dan telah lolos tahapan pertama.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assesment atau wawancara,” jelas Anies.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, Anies menegaskan seleksi Indonesia Mengajar pada Raeni tetap berlangsung objektif. “Bisa masuk Indonesia Mengajar setelah lulus dulu, kami objektif,” ungkap Anies.

Indonesia Mengajar adalah program yang digagas Anies Baswedan yang merekrut, melatih dan mendidik anak-anak muda berprestasi menjadi guru di sekolah-sekolah pelosok Indonesia.

Raeni sendiri lewat beasiswa Bidikmisi, dapat melalui masa-masa kuliah dengan belajar dan berprestasi. Berkali-kali menjuarai lomba di kampusnya, Raeni akhirnya dapat membuktikan kesungguhannya menuntut ilmu dengan menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,96.

Wamendikbud Imbau Raeni Lanjutkan S2 ke Luar Negeri, Janjikan Beasiswa

Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim

Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim

Raeni, wisudawati dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang mendapatkan predikat lulusan terbaik mendapat perhatian dari Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim. Dia memberikan apresiasi dengan memberikan beasiswa unggulan apabila gadis tersebut masih berambisi untuk melanjutkan pendidikannya.

“Ada program beasiswa unggulan. Itu semua tergantung Raeni. Kalau dia diangkat jadi calon dosen bisa ambil beasiswa di Dikti, jika tidak ya bisa juga ambil beasiswa unggulan,” ujar Musliar di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (12/6/2014).

Menurut Musliar, program Bidik Misi selalu memiliki anggaran yang cukup. Oleh karena itu, dia menantikan generasi-generasi muda yang memiliki nasib yang sama seperti Raeni untuk memanfaatkan program tersebut.

“Bidik Misi selalu ada anggaran. Bidik Misi sudah berjalan dengan baik, nah sekarang tinggal program beasiswa S2 dan S3 yang agak kesulitan. Dana yang tersedia tidak pernah terserap semua,” jelasnya.

Musliar menyarankan, supaya Raeni mengambil program beasiswa dan belajar di universitas luar negeri. Saran tersebut bukan berarti universitas pasca sarjana di Indonesia kurang baik, melainkan dengan belajar di negeri asing, dapat menambah pengetahuan dan pengalaman hidup di negeri orang.

“Kita mengharapkan banyak keluar, bukan berarti S2 dan S3 kita kurang baik. Kita sudah pikirkan semua standar living cost-nya. Paling 1000 Euro dalam satu bulan,” tutur Musliar.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4.

Prestasi itu dipertahankan hingga dia lulus, sehingga ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Selepas wisuda, ambisi Raeni untuk kembali melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Maunya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata Raeni.

Setelah Sukses di Unnes, Raeni Putri Tukang Becak ini Punya Mimpi ke Inggris

Raeni (21) telah melalui masa-masa perkuliahan di Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dia sukses membuat bangga ayahnya Mugiyono yang hanya tukang becak di Kendal, Jateng dengan penghasilan Rp 10-50 ribu per/hari.

Lewat beasiswa Bidikmisi, Raeni melalui masa-masa kuliah dengan belajar dan berprestasi. Saat ditemui di kosnya di Jl Kalimasada 24, Semarang, Rabu (11/6/2014), Raeni yang diwisuda akhir pekan lalu sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,96 ini menuturkan mimpi-mimpi yang ingin digapainya.

“Saya ingin kuliah di Inggris, semoga bisa dapat beasiswa,” terang dia.

Inggris tak sembarang dipilih. Dia melihat dosennya yang berkuliah di negeri asal pesepakbola David Beckham itu.

“Kenapa di Inggris? Karena dosen saya ada yang kuliah di sana. Saya asisten dosen, kami cerita-cerita dan berawal dari mimpi itulah semoga terwujud,” tandas Reni yang mengenakan hijab warna biru dongker itu.

Kabarnya sudah ada yang menawarkan beasiswa kepadanya, tapi apakah untuk berkuliah di Inggris? Kita tunggu saja kabar gembira selanjutnya dari Raeni.

Raeni dan Ayahnya yang Tukang Becak Bertemu SBY di Halim

Raeni dan Ayah nya saat bertemu pak SBY dan Istri

Raeni dan Ayah nya saat bertemu pak SBY dan Istri

Raeni (21) dan ayahnya Mugiyono yang tukang becak becak di Kendal, Jateng bertemu Presiden SBY dan Ibu Ani. Presiden memberi ucapan selamat kepada Raeni dalam pertemuan di Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

Dalam akun resmi presiden @SBYudhoyono, Jumat (13/6/2014) ditampilkan foto pertemuan itu. Raeni dan ayahnya tampak terharu bertemu presiden dan ibu negara.

Sang ayah yang mengayuh becak demi masa depan Raeni agar bisa kuliah, tampak mengusap air matanya. Raeni merupakan lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK 3,96.

Raeni berkuliah dengan beasiswa Bidikmisi dari Kemdikbud, hingga tamat dari jurusan akutansi fakultas ekonomi Unnes. Raeni juga menjadi asisten dosen dan memiliki sejumlah prestasi.

Sehari-hari untuk menambah uang saku dia mengajar les pelajar SMA. Dia juga mengajar ngaji anak-anak di mushola.

Sang ayah berhenti dari pekerjaan sebagai karyawan di pabrik kayu agar uang pesangon bisa dipakai untuk masuk dan biaya kuliah. Setelah berhenti menjadi karyawan, ayahnya membecak dan menjadi penjaga malam di sekolah.

“Presiden SBY: Raeni, Saya ucapkan selamat atas prestasi yg sangat membanggakan kita semua. Keterbatasan ekonomi tdk halangi utk berprestasi,” tulis akun @SBYudhoyono.

Cerita Ibu Kos Soal Raeni yang Jaga Amanah karena Beasiswa dari Pemerintah

Pendidikan moral yang diberikan orang tua Raeni (21) menjadikannya sosok yang disiplin dan sopan dimanapun ia tinggal. Di tempat kosnya di Jalan Kalimasada nomor 24 Semarang ia bahkan memperlakukan ibu kos layaknya ibu kandung dan teman-teman kosnya layaknya saudara.

Pemilik kos tersebut, Koyimah sangat terkesan dengan Raeni karena selalu taat beribadah dan sopan. Sesekali Raeni juga curhat kepadanya tetang nilai-nilai yang diperoleh di kampus.

“Paling berkesan masalah ibadahnya. Kalau ke luar kos ya cium tangan. Kalau mau lomba juga minta doa ke saya. Saya itu dianggap wakil orang tuanya,” kata Koyimah saat ditemui detikcom.

Koyimah juga terkesan dengan tekad Raeni yang selalu ingin memperoleh nilai sempurna tiap semesternya. Nilai 3,9 bahkan dianggap kurang oleh Raeni sampai-sampai ia menangis.

“Dia dapat IPK 4.00 itu sering, kalau kurang dari itu dia menangis ke saya,” kenangnya.

Menurut Koyimah tekad Raeni itu karena rasa tanggungjawab terhadap beasiswa bidikmisi yang diperolehnya di Unnes dan rasa ingin membanggakan orang tuanya yang hanya bekerja sebagai pengayuh becak.

“Betul-betul mengemban amanah, dengan biaya pemerintah ia semangat ingin sukses. Dia juga tauladan bagi saya dan anak-anak kos saya,” pungkas Koyimah.

Selain itu, Raeni sama sekali tidak pernah meminta uang kepada orangtuanya, bahkan ia justru menyisihkan uang beasiswa, kerja sambilan, dan hadiah lomba untuk orang tuanya. “Dia itu enggak minta sangu ke orang tuanya, tapi malah ngasih. Uang beasiswa masih sisa pasti dikasihkan. Tidak pernah terlambat bayar uang kos,” ujarnya.

Koyimah merasa bangga ada penghuni kosnya yang memiliki pribadi dan prestasi seprti Raeni. “Anak-anak kos kadang minta doa ke saya agar bisa menjadi seperti Raeni,” tutup Koyimah.

Raeni menjadi sorotan karena putri dari pengayuh becak ini menjadi lulusan terbaik pada upacara wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK 3,96. Ia masih memiliki mimpi untuk meneruskan pendidikannya ke Inggris.

Kata Raeni Anak Tukang Becak Lulusan Terbaik Unnes: Semua Mimpi Bisa Diraih

Raeni (21) tak menyangka bisa berkuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan diwisuda sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,96. Ayahnya Mugiyono hanya seorang tukang becak dengan penghasilan seadanya. Dibantu beasiswa Bidikmisi Kemdikbud, dia bisa meraih mimpinya.

Raeni berkuliah di jurusan pendidikan akutansi Fakultas Ekonomi Unnes. 3 Tahun 6 bulan 10 hari, Raeni yang menambah uang saku dengan menjadi asisten dosen dan ikut berbagai lomba. Dahulu awal masuk kuliah dia sempat berhutang untuk beli laptop, yang dilunasi ayahnya dengan pesangon dari perusahaan pabrik kayu.

Sejak itu, ayahnya alih profesi menjadi tukang becak yang penghasilannya Rp 10-50 ribu sehari ditambah menjadi penjaga malam di sekolah di Kendal, Jateng dengan gaji Rp 450 ribu/bulan.

“Setelah lulus saya ingin sekali melanjutkan kuliah di Inggirs,” kata Raeni bercerita kepada detikcom, Kamis (12/6/2014).

Raeni dikenal cerdas dan disiplin belajar. Dia juga aktif di kegiatan kemahasiswaan, dia tak minder walau ayahnya seorang tukang becak.

“Kata pihak humas sudah ada yang menawarkan beasiswa ke Inggris, tapi saya belum tahu pastinya dari mana,” tutur Raeni.

Inggris dipilihnya karena dosen dia di akutansi menamatkan master di negeri Ratu Elizabeth itu. Raeni kerap mendengar cerita soal pendidikan di sana.

Kisah Raeni ini mungkin satu dari kisah-kisah lainnya, anak dari kalangan bawah menembus bangku kuliah dan suatu hari nanti bisa mengangkat ekonomi keluarganya.

Raeni juga memberikan pesan bagi teman-teman dan siapapun yang punya mimpi berkuliah tapi dari kalangan bawah.

“Kalau misalnya punya kemapuan terus berusaha, insya Allah bisa berhasil. Semua memang dari mimpi, tapi karena dikejar dengan ridho Allah dan dengan semangat dan tekad kuat pasti bisa berhasil,” tutup Raeni yang tengah diajak sebuah stasiun TV ke Jakarta dan diwawancara ini.

Soal Laptop yang Ngutang dan Jadi Guru Ngaji di Kendal

Raeni (21), masa kuliah benar-benar penuh perjuangan. Selama 3 tahun 6 bulan 10 hari, Raeni menempuh pendidikan di Jurusan Akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes). Akhir pekan lalu dia diwisuda dan menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,96.

Yang cukup menarik, kala diwisuda sang ayah Mugiyono datang dari Kendal ke Semarang dengan mengayuh becak. Sang ayah mengantarkan Raeni dengan becak dari tempat kosnya ke kampus Unnes. Mugiyono sehari-hari memang pengayuh becak dengan penghasilan Rp 10-50 ribu/hari dan kala malam menjadi penjaga sekolah dengan gaji Rp 450 ribu/bulan.

“Dulu pas beli laptop ngutang, karena bapak nggak punya uang,” terang Raeni saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/6/2014).

Raeni mengenang, hingga akhirnya sang ayah pensiun dini dari perusahaan kayu tempatnya bekerja. Uang pensiun itu yang digunakan untuk membayar utang laptop. Raeni berkuliah dengan biaya beasiswa dari Bidikmisi Kemdikbud.

“Uang pensiun bapak buat bayar lunasin utang laptop,” imbuhnya.

Sejak berhenti bekerja pada 2010, sang ayah pun menjadi pengayuh becak di Kendal. Raeni membalas kepercayaan ayahnya itu dengan rajin belajar dan prestasi.

“Saya juga jadi asisten lab dan ikut berbagai lomba, buat nambah uang saku,” jelas Raeni yang tak ingin membebani orangtuanya.

Raeni juga kerap mengisi waktu dengan mengajari anak-anak mengaji di mushola dekat rumahnya. Dia menularkan ilmu yang dimilikinya ke anak-anak di sekitar rumah.

“Kalau pulang ke Kendal saya juga mengajar di TPQ di mushala depan rumah,” tutur Raeni yang kini tengah berada di Jakarta karena diundang sebuah stasiun TV.

Raeni bersyukur bisa membanggakan orangtuanya dengan prestasi. Dia masih punya mimpi melanjutkan jenjang S2 ke Inggris. Semoga saja Raeni bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pengajar.

Sempat Dicibir Tetangga Anak Tukang Becak ini Tetap Semangat Kuliah di Unnes

Raeni (21) mengaku tidak mudah bagi orang sepertinya dari kalangan bawah untuk menimba ilmu di bangku kuliah. Satu hal, banyak tetangganya di Kendal, Jawa Tengah yang bersuara sumbang. Alasannya dia membebani orangtuanya Mugiyono yang hanya tukang becak.

“Ada tetangga bilang, orang nggak mampu ngapain kuliah, ngerepotin orangtua,” terang Raeni saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/6/2014).

Walau sempat bersedih, Raeni tetap memantapkan hati untuk terus berkuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) jurusan pendidikan akutansi Fakultas Ekonomi. Dia memperoleh beasiswa Bidikmisi

“Bapak dan ibu sayang sama saya, mereka tetap saya mau terus kuliah,” ujar Raeni yang hari ini berada di Jakarta karena sebuah stasiun TV mengundangnya untuk wawancara.

Raeni ingin mengubah nasib keluarganya. Sang ayah hanya tukang becak dengan penghasilan Rp 10-50 ribu perhari dan kala malam menjadi penjaga sekolah dengan bayaran Rp 450 ribu/bulan. Raeni percaya hanya dengan pendidikan dia bisa mengubah hidupnya dan keluarganya.

Jujur, Sederhana, dan Disiplin Kunci Sukses Raeni Jadi Lulusan Terbaik Unnes

Prestasi Raeni (21) seorang putri dari pengayuh becak asal Desa Langenharjo, Kabupaten Kendal yang menjadi lulusan terbaik wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang (Unnes) diperoleh berkat kebiasaan disiplin yang diajarkan orang tuanya. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes. Raeni mengaku dengan mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” kata Raeni kepada detikcom saat ditemui di kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang, Rabu (11/6/2014).

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” imbuhnya.

Penerima beasiswa bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos.

Dara kelahiran 13 Januari 1993 itu juga tidak pernah merepotkan orang tuanya, bahkan ia sering menyisihkan uang beasiswa dan uang menang lomba untuk diberikan kepada orang tuanya ketika pulang ke Kendal. Selain itu, sejak semester tiga kuliah, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

“Awalnya satu murid, terus jadi enam murid, dan Alhamdulillah semuanya lulus ujian,” tandas Raeni. Raeni menegaskan sifat yang ada di dalam dirinya itu merupakan bentukan dari cara mendidik orang tuanya. Sejak kecil ia dibiasakan disiplin, mengakui kesalahan, dan hidup sederhana.

“Bapak orangnya tegas, ketika saya salah ya harus mengaku salah. Bapak selalu mengarahkan supaya hidup sederhana,” ujarnya.

Setelah lulus ini, Raeni bercita-cita melanjutkan kuliah di luar negeri terutama Inggris. Berkat prestasinya, sejumlah tawaran mulai mengalir untuk memberikan beasiswa kepada Raeni agar bisa kuliah di luar negeri.

“Kenapa di Inggris? Karena dosen saya ada yang kuliah di sana. Saya asisten dosen, kami cerita-cerita dan berawal dari mimpi itulah semoga terwujud,” katanya.

Bahkan ketika sedang berbincang dengan detikcom, ada telepon dari pihak yang menawarkan beasiswa ke Inggris lewat telepon seluler Kepala Humas Unnes, Sucipto Hadi Purnomo yang juga sedang berkunjung ke kos Raeni.

Sucipto mengatakan, tawaran beasiswa dan pekerjaan dari perusahaan-perusahaan terus mengalir. Selain itu pihak Unnes juga ingin mendorong Raeni menjadi tenaga pengajar atau dosen di Unnes.

“Unnes akan berupaya mendorong menjadi dosen Unnes, kita upayakan, tapi tergantung pilihannya dia sendiri,” kata Sucipto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s