Mengenal Arsitek Kesayangan Bung Karno – Silaban

Arsitek Legendaris

Ars- F- Silaban 550 Arsitek_Silaban_dan_Bung_Karno

Kita tidak akan menemukan jalan Silaban atau nama wisma Silaban di Kota Bogor, padahal beliau adalah seorang arsitek yang terkenal dengan karya-karyanya yang hingga kini masih berdiri kokoh, baik di Kota Bogor dan juga di Jakarta. Bangunan hasil karya Silaban yang hingga kini masih berdiri kokoh antara lain Rumah Dinas Walikota Bogor, dan Masjid Istiqlal Jakarta.

Ide dan Karya F Silaban sebagian muncul antara Tahun 1950 – 1960. Pada kurun waktu tersebut Kondisi Sosial Politik Luar Negeri maupun Dalam Negeri dalam keadaan labil. Keadaan Sosial Politik Luar Negeri dalam pembenahan setelah Perang Dunia II

Sedangkan keadaan Sosial Politik Dalam Negeri dalam taraf renovasi untuk menentukan bentuk Negara Republik Indonesia Kondisi yang sangat menonjol saat itu adalah adanya Kultur Individu terhadap seorang Pemimin, yaitu Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno. Pada saat itu Pribadi F Silaban sangat dekat dengan sosok Soekarno, bahkan sering mendukung ide–ide yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno termasuk ide-ide tentang arsitektur dan produknya..Hal ini dapat dilihat pada saat Presiden Soekarno mencetuskan ide adanya Nation Building, adalah Paham tentang bangunan yang mampu mencerminkan dan membangkitkan kebanggan Nasional, sehingga bangunan–bangunan yang tercetus berskala raksasa, megah dah heroik.

Hal inilah sempat memberikan warna terhadap ide dan karya F Silaban, pada waktu itu sering mendapat pesanan langsung dari Presiden Soekarno. Sang Arsitek kesayangan Bung Karno ini seorang Bapak yang dekat dengan anak–anaknya dan sahabat–sahabatnya,dan beliaulah perancang Mesjid Istiqlal yang memiliki Skala Gigantik.

Mengamati riwayat hidupnya dapat diketahui dengan jelas bahwa waktu yang dijalani sepanjang hidup dan karier sebagai arstiek adalah di Bogor dan Jakarta. Masa kecil di Tapanuli dilalui hanya sebentar setamat HIS (Holland Inlandsche School, Sekolah Dasar Belanda dahulu) di Narumonda tahun 1927. Melanjutkan pendidikan pada Koninginlijke Wilhelmina School, KWS, yaitu Sekolah Tehnik jaman Belanda tahun 1931 di Batavia: setelah tamat dari KWS, langsung bekerja di Batavia sebagai juru gambar (Bouwkundig Tekenaar Stadsgemeente ) pada kantor Kota Praja Batavia. Bagi F. Silaban, putera kelima keluarga Djonas Silaban, pekerjaan itu dipandang sebagai suatu rahmat.

Ketika lulus dari KWS di Batavia tahun 1931 ia langsung bekerja sebagai Bouw Kundig Tekenar Stads gemeente mulai Mei–Juni 1931 dan langsung setelah itu menjabat Opzichter Geniedienst di Jakarta sampai tahun 1937. Selanjutnya tahunitu pula ia diangkat sebagai Geniedief Pontianak untuk daerah Kalimantan Barat. Jabatan itu diembannya hingga tahun 1939.

Kepindahannya ke Bogor sebagai Opzichter Tekenaar Stadsgemeente Bogor mengawali babak baru di dalam riwayat hidupnya, baik sebagai warga Bogor maupun sebagai Arsitek yang selanjutnya ia bolak – balik Jakarta – Bogor.

Mengingat proyek–proyek yang ditanganinya kebanyakan berlokasi di Jakarta dari tahun 1939 – 1949, Silaban tidak pernah lepas dari tugas dan jabatan yang berkaitan dengan lingkup pekerjaan umum, Berturut – turut tahun 1942 – 1947 menjabat Kepala PU dan Direktur PU Kota Bogor .

Tahun 1950, Silaban sempat menjabat sebagai Kepala PU Kota Bogor, Bahkan, selama lima tahun dipercaya menjadi Ketua Panitia Keindahan Kota DKI Jakarta. Dari sejumlah Karya tercatat beberapa hasil rancangannya antara lain:

  • Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor,
  • Kantor Perikanan Darat Sempur, Kota Bogor,
  • Rumah Dinas Walikota Bogor,
  • Bank Indonesia, Jalan Thamrin Jakarta, Bank Indonesia,
  • Masjid Istiqlal Jakarta,
  • Gedung Bank Negara Indonesia 46 di Surabaya,
  • Gedung Bank Indonesia di Surabaya,
  • Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) Pancoran Jakarta, (1962)
  • Gedung Pola Jakarta Hotel Banteng (1962) yang kemudian menjadi Hotel Borobudur.
  • Gedung Universitas Nommensen – Medan (1982)
  • Stadion utama senayan – Jakarta (1962)
  • Rumah Lie A. Hong – Bogor (1968)
  • Gedung BNI 1946 – Medan (1962)
  • Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960)
  • Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960)
  • Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958)
  • Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958)

Sedangkan beberapa karya lainnya rumah tinggal dan monumen–monumen, antara lain :

  • Monumen Nasional Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng Jakarta,
  • Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960)
  • Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)
  • Tugu Selamat Datang Bunderan HI Jakarta,
  • Taman Makam Pahlawan Kalibata (peresmian 10 Nopember 1954,
  • Makam Raden Saleh Bondongan Bogor.
  • Silaban sempat dikukuhkan sebagai Anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas)

Akhirnya bulan Mei tahun 1965, sang arsitek F Silaban pensiun dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Madya Bogor. Masa bebas tugas itu bukan berarti Silaban duduk berpangku tangan. Dari tahun 1967 hingga ahir hayatnya Silaban tercatat sebagai Wakil Kepala Proyek Masjid Istiqlal Jakarta (1954). Sedengkan diluar profesi arsitek, F Silaban menjabat dosen luar biasa.

senayan

Perjalanan seorang Silaban

TAPANULI, 1927. Seorang pemuda, yada suatu hari membaca iklan tentang penerimaan siswa baru STM (d/h Koningin Wilhelmina School) di Batavia. Syaratnya: mengikuti testing berhitung dan menggambar. Lulus testing di kantor Residen Sibolga, ia berangkat ke Batavia mengikuti tes lisan, dengan bekal 100 goelden. Cukup banyak. “Dengan uang itu, kamu masih bisa pulang kalau tidak lulus”, kata orang tuanya

Sialnya, di kapal, uang itu hilang. la menangis. Bagi pemuda yang baru berusia 15 tahun itu, Batavia terasa begitu jauh dari kampung dan amat asing. Sementara menyesali diri karena kurang berhati-hati, seorang orang Arab berjanggut datang menghampirinya.

Di geladag kapal itu, diceritakannya nasib malang yang menimpanya. Terharu mendengar kisah sedih itu, tanpa komentar Arab berjanggut itu memasukkan sejumlah uang ke kantong si pemuda. “Dua genggam penuh tanpa dihitung”, Sampai di Batavia, uang dihitung: 75 goelden. Lumayan. “Tuhan kasih pengalaman pada saya supaya berhati-hati”, ujarnya.

Sejak itu, katanya, ia tak pernah lagi kehilangan, “walaupun saya berkali-kali ke luar negeri”.

Silaban, juga dikenal sebagai arsitek yang amat dekat dengan almarhum Bung Karno. Di zaman Jepang, Silaban bekerja di Kotapraja Bogor. Ia sering berkunjung ke rumah sahabatnya, Ernest Dezentje. indo Belanda-Sunda, pelukis tenar saat itu. Bung Karno juga pengagum Dezentje. Maka di rumah pelukis itulah mereka bertemu. Seminggu 3 kali Jum’at, Sabtu dm Minggu Bung Karno selalu di Istana Bogor. Dan pada hari-hari itulah Bung Karno sering memanggilnya.
Silaban mengagumi 2 arsitek dunia: Frank Lloyd Wright (AS) dan Le Corbusier (Perancis). Itulah sebabnya, baginya “kita tak perlu terikat pada arsitektur tradisionil, asal daiam membangun kita tetap setia pada kondisi alam tropis”. Dan karena itulah disain Monas bikinan Silaban begitu megah. Saking megahnya, malah tak dipakai. Tingginya saja sampai 100 meter, dengan mimbar yang mampu menarllpung 20 000 orang.

maket monas

“Bung Karno tak setuju, alasannya kurang bersifat Indonesia”, kata Silabam Akhirnya disain yang dipakai ciptaan arsitek istana, Sudarsono, dengan Bung Karno sendiri sebagai supervisi. “Cuma lihat saja sekarang. Monas jadi kalah dengan gedungnya Bang Ali: Balai Kota. Padahal disain itu saya buat sesuai dengan gagasan Bung Karno untuk mengecilkan Borobudur”, tambahnya. Waktu itu Bung Karno bilang, “harus kita bikin Borobudur jadi kecil”.

Monas

Maksudnya, barangkali, ingin membuat sebuah monumen yang benar-benar megah melebihi Borobudur, satu dari sejumlah kebanggaan dunia itu. Setelah disainnya tak terpakai, Silaban baru sadar. “Bung Karno biasa bersikap begitu karena memang suka bakar semangat. Dan sesudah itu ia mundur teratur” ujar Silaban.

Tentang Istiqlal, meskipun disain sudah siap tahun 1954, pekerjaan persiapan baru mulai tahun 1961, sedang peletakan batu pertama 3 tahun kemudian oleh Bung Karno. Pembangunan itu hanya sampai sekarang sudah 16 tahun. Ketika itu sampai-saunpai gambar orisinilnya sempat hilang. “Untung saya masih punya kopinya”, katanya.

Silaban menilai, naluri Bung Karno dalam melihat yang indah dan tak indah sangat tajam. Ada sebuah proyek mercusuar yang tak jadi dibangun, Menara Bung Karno, yang dulu direncanakan di Ancol dekat Pasar Ikan. “Menara itu direncanakan mirip Donou Turm di Wina. Gambar-gambarnya, sekarang masih disimpan Bang Ali”, ujar Silaban yang untuk persiapan pembuatan disainnya me rasa perlu 2 minggu tinggal di Wina.

Arsitek kesayangan Bung Karno

Silaban sudah mengenal dengan Bung Karno sejak zaman Jepang. ketika itu Silaban mengaku “masih saja dalam politik, bahkan agak naik”. Suatu hari ia bertanya pada Bung Karno, “me ngapa bapak jadi begitu pro Jepang?” Sukarno hanya tertawa saja. Dan pada saat pidato di bioskop Maxim Bogor, antara lain Bung Karno melontarkan kata-kata, “saya tahu di sini ada mata-mata musuh”.

pag04e

Kemudian pemimpin itu, yang didampingi oleh Suzuki, orang Jepang, berbicara tentang kekuatan Jepang dan Amerika. “Secara tatabahasa, pidato itu kalau ditafsirkan bisa berarti Jepang yang kuat”, kata Silaban. “Tapi karena orang Jepang yang mendampinginya tak tahu nuansa bahasa kita, ia tak tahu sebenarnya Bung Karno menjelaskan bahwa Jepang bakal kalah perang. Sejak itu saya yakin bahwa Bung Karno sebenarnya tidak pro Jepang”, tutur Silaban. Ketika hal itu ia ceritakan kepada Bung Karno, yang bersangkutan cuma tersenyum.

Mau Dibunuh

Sejak zaman Jepang (1942) sampai penyerahan kedaulatan (1949) merupakan masa-masa sedin dan gembira. Pernah ditahan Jepang, di masa revolusi pun pernah pula ditahan pemuda peluang – dituduh pro Belanda. Di tahan Jepang di Cipanas, ia dibebaskan oleh tentara Inggeris lalu dibawa ke Sukabumi. Di Sukabumi pernah mau dibunuh oleh tentara pejuang, Silaban dipindah ke kamp Kedunghalang, kawasan elit di Bogor.

Een brug bij een dorp  1948

Di Kedunghalang itu pulalah ia kawin dengan Letty Kievits, gadis Sunda-Belanda, yang kini dianugerahi 10 anak. Sebelum penyerahan kedaulatan, Silaban dan keluarga cuti ke Negeri Belanda. “Tepat pada hari penyerahan kedaulatan itu, 29 Desember 1949, saya berada di kapal”, ujarnya Di Amsterdam, Silaban belajar lagi di Academie van Bouwkunst selama 1 tahun.

Pulang dari Negeri Belanda ia kembali ke Bogor menduduki jabatannya yang lama, Kepala DPU Kotapraja Bogor. Jabatan ini terus dipegangnya sampai ia pensiun tahun 1965. Begitu lama menja bat kepala DPU, katanya, “saya ini nggak pernah naik pangkat”. Arsitek bllkan tamatan perguruan tinggi yang lebih banyak belajar sendiri ini, oleh Bung Karno pernah dijuluki sebagai arsitek “by the race of God “.

Sejak Orde Lama diganyang, Silaban yang begitu dekat dengan Bung Karno selama 3 tahun nganggur. Tapi ia tidak mengalami pemeriksaan seperti halnya orang-orang yang digolongkan sebaga orla. Begitu akrab hingga saya tak l ernah bicara dalam bahasa Indonesia de ngan Bung Karno”, kata Silaban.

Dalam setiap pertemuan, juga dalam sidang Dewan Perancang Nasional (Silaban salah seorang anggotanya), di mana hadir Mr. Moh. Yamin, ir. Rooseno Prof. Priyono, Bung Karno selalu berbahasa Belanda dengan Silaban. Suatu saat Bung Karno minta maaf kepada hadirin, “maaf saudara-saudara, jangan gusar. Kita, Silaban dan saya, lebih memahami jiwa masing-masing kalau bicara dalam bahasa Belanda”.

Punya 2 cucu dari 2 anaknya yang sudah berumah-tangga, di rumahnya jalan Gedung Sawah II (belakang hotel Salak Bogor), Silaban sekeluarga tampak hidup berbahagia. Rumahnya bagus dengan arsitektur menarik, dengan beberapa pohon rindang depan rumahnya.

Di sana nongkrong sebuah mobil Chrysler yang otomatik penuh. “Mobil ini pernah dipakai berkeliling istana oleh Bung Karno”, katanya bangga. Dan sebagai kenang-kenangan, sang mobil kini tak lagi dipakainya. Tapi di hari-hari tertentu “dipanasi” agar mesinnya tetap terpelihara.

Meski dulu suka bekerja keras, kini Silaban harus lebih banyak menjaga kesehatannya. Selama tak bekerja 3 bulan (sejak pengganyangan Orde Lama dulu), ia kejangkitan penyakit kencing manis. “Dulu saya biasa bekerja 14 jam sehari. Dan seperti kebanyakan orang Batak saya juga banyak makan. Rakus”, katanya tertawa. Mungkin itulah sebabnya ia kena diabetes. Dan karenanya ia tak lagi makan atau minum yang manis-manis.

Sumber :
Silaban dot net
Radio Sipatahunan
Bogornews
Majalah Tempo, Edisi. 11/IIIIIII/14 – 20 Mei 1977

Advertisements

Frederich Silaban (1912-1984)

Arsitek Legendaris

Arsitek Pengukir Sejarah Toleransi  – Arsitek Masjid Istiqlal

Dia arsitek pengukir sejarah toleransi beragama di negeri ini. Bung Karno menjulukinya sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal. Friedrich Silaban, seorang penganut Kristen Protestan yang taat kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, wafat dalam usia 72 tahun pada hari Senin, 14 Mei 1984 RSPAD Gatot Subroto Jakarta, karena komplikasi beberapa penyakit yang dideritanya.

Ars- F- Silaban 550

Toleransi beragama yang tinggi sedari dulu telah ditunjukkan oleh umat beragama di Indonesia, baik yang Muslim, Nasrani maupun yang lainnya. Apabila satu pemeluk agama tertentu suatu ketika membangun tempat ibadah, tidak jarang kemudian dibantu oleh umat agama lain. Demikian halnya dalam pembangunan Mesjid Agung Istiqlal. Mesjid yang di awal abad 21 merupakan mesjid terbesar di Asia Tenggara itu, dalam proses pembangunannya telah menyimpan satu sejarah toleransi beragama yang sangat tinggi.

Disebutkan demikian, karena sang arsitek dari mesjid tersebut adalah seorang penganut Kristen Protestan yang taat. Tidak ada yang dibuat-buat sehingga menjadi demikian, namun begitulah memang gambaran toleransi beragama antara umat di negeri ini sejak dulu. Kebesaran jiwa dari umat Islam sangat jelas terlihat disini. Mereka mau menerima pemikiran atau desain tempat ibadah mereka dari seorang yang non muslim. Demikian juga dengan Friedrich Silaban, sang arsitek, telah menunjukkan kebesaran jiwanya dengan terbukanya hati dan pikirannya untuk mengerjakan mesjid yang sangat monumental tersebut.

Pekerjaan karya besar demikian, memang hanya mungkin dilakukan Silaban dengan jiwa besarnya tadi. Sebab dengan perbedaan latar belakang kepercayaan tersebut, maka ia harus terlebih dahulu mampu menjawab pertanyaan yang timbul dalam hati nuraninya sendiri. Pertanyaan dimaksud adalah pantaskah ia sebagai seorang pemeluk Agama Kristen Protestan membuat desain sebuah mesjid?

Sedangkan mesjid dalam hal ini bukanlah sekedar bangunan yang terdiri dari atap genting, dengan dinding batu bata semata. Melainkan merupakan bangunan yang disucikan sebagai tempat umat Islam beribadah dan melakukan kegiatan religius dan sosial lainnya. Apalagi mesjid disini adalah Mesjid Agung Istiqlal (Istiqlal artinya merdeka).

Mesjid yang diniatkan untuk melambangkan kejayaan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mesjid yang merupakan suatu bangunan monumental kebanggaan seluruh umat Islam di Indonesia, dan akan tercatat sebagai mesjid terbesar di Asia Tenggara dijamannya. Karenanya, bangunan ini akan ‘berbicara’ tidak hanya puluhan tahun tapi sampai ratusan tahun kelak.

Pencetus ide pembangunan mesjid ini sendiri adalah KH Wahid Hasyim yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama RI pertama. Selanjutnya, pada 1950 ayah KH Abdurrahman Wahid (Presiden RI keempat) ini bersama-sama dengan H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, Ir Sofwan dan sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman melembagakannya dengan membentuk Yayasan Mesjid Istiqlal.

Lembaga ini kemudian dikukuhkan di hadapan notaris Elisa Pondang pada tanggal 7 Desember 1954. Yayasan Mesjid Istiqlal mengharapkan adanya mesjid yang kelak dapat menjadi identitas bagi mayoritas umat Islam di Indonesia. Gagasan dimaksud, juga mendapat dukungan dari Ir. Soekarno, Presiden RI ketika itu. Bahkan, presiden bersedia membantu pembangunan mesjid.

Demi mendapatkan hasil terbaik, desain mesjid sengaja diperlombakan. Untuk itu dibentuklah tim juri yang beranggotakan Prof. Ir. Rooseno, Ir. H Djuanda, Prof. Ir. Suwardi. Hamka, H. AbubakarAceh dan Oemar Husein Amin yang diketuai langsung oleh Ir. Soekarno.

Setelah melalui beberapa kali pertemuan di Istana Negara dan Istana Bogor, maka pada 5 Juli 1955 tim juri memutuskan desain kreasi Silaban yang berjudul ‘Ketuhanan’ jadi pemenangnya. Dia menciptakan karya besar untuk saudaranya sebangsa yang beragama Islam, tanpa mengorbankan keyakinannya pada agama yang dianutnya.

Sedangkan lokasinya diputuskan di Wilhelmina Park, bekas benteng kolonial Belanda. Karena lokasi yang terletak di depan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat itu tergolong sepi, gelap, dan tembok-tembok bekas bangunan benteng telah ditumbuhi lumut dan ilalang menyemak di mana-mana, maka masyarakat, alim ulama sampai ABRI turun bahu-membahu bekerja bakti membersihkan lokasi tersebut pada tahun 1960. Dan setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1961, pemancangan batu pertamapun dilaksanakan oleh Ir. Soekarno.

Pembangunan mesjid ini memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun. Panjangnya waktu ini karena pembangunannya memang sempat tersendat oleh krisis ekonomi dan iklim politik yang memanas. Disamping itu, kebetulan pula pembangunan mesjid ini berbarengan dengan pembangunan monumen lainnya, seperti Gelora Senayan (sekarang Gelora Bung Karno) dan Monas.

Bahkan meletusnya peristiwa pemberontakan G 30 S PKI pada 1965, mengakibatkan pembangunannya sempat berhenti total. Dan baru dimulai kembali setelah Menteri Agama KH. M. Dahlan mengupayakan penggalangan dana. Kepengurusanpun diganti dan ditangani langsung oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai koordinator.

Mesjid dengan arsitektur bergaya modern yang memiliki luas bangunan sekitar empat hektar dengan luas tanah mencapai sembilan setengah hektar dan terbagi atas beberapa bagian, yakni gedung induk dan qubah, gedung pendahuluan dan emper penghubung, teras raksasa dan emper keliling, menara, halaman, taman, air mancur, serta ruang wudhu itu akhirnya terselesaikan juga. Penggunaannya kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

Di Mesjid ini, beragam kegiatan diselenggarakan, diantaranya kuliah zuhur, taklim magrib, pengajian kaum ibu, pengajian bulanan, bimbingan qiro atul Qur’an, pengajian tinggi Istiqlal, pusat perpustakaan Islam Indonesia, TK Islam, dan lain-lain.

Pergulatan Hati Silaban

Menjawab pertanyaan hati nuraninya mengenai pantas tidaknya dirinya membangun sebuah mesjid, maka sebelum Silaban mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal tersebut, ia minta nasehat dari Monsigneur Geisse, seorang uskup dari Bogor. Dan terutama memohon petunjuk dari Tuhan Allahnya sendiri.

“Oh, Tuhan! Kalau di MataMu itu benar, saya sebagai pengikut Yesus turut dalam sayembara pembuatan Mesjid Besar buat Indonesia di Jakarta. Tolonglah saya! Tunjukkan semua jalan-jalannya dan ide-idenya, supaya saya sukses. Akan tetapi Tuhan! kalau di MataMu itu tidak benar, tidak suka Tuhan saya turut maka gagalkanlah semua usaha saya. Bikin saya sakit atau macam-macam hingga saya tak dapat turut dalam sayembara”, begitu doa Silaban minta petunjuk Tuhan.

Ternyata Arsitek kelahiran Bonandolok (sebelah barat Danau Toba), Sumatera Utara, 16 Desember 1912 ini tidak mengalami hambatan apa-apa ketika hendak mengikuti sayembara. Dengan demikian ia berkesimpulan bahwa Tuhan mengijinkannya, maka iapun mengikuti. Begitulah akhirnya hingga ia dipilih sebagai pemenang pertama.

Desainnya yang menerapkan prinsip minimalis pada Mesjid Istiqlal tersebut serta penataan ruangan-ruangannya yang terbuka di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang lebar diantaranya sehingga memudahkan sirkulasi udara dan penerangan yang alami kedalamnya, membuat desain Silaban ini sangat cocok untuk mesjid yang berdaya tampung 100.000-an tersebut.

Kisah dengan Bung Karno

Arsitektur yang satu ini memang seorang yang selalu kuat mempertahankan apa yang sudah diyakininya benar. Sifatnya yang demikian, telah juga menggoreskan kenangan manis dalam perjalanan hidupnya. Sifat pendirian yang konsisten itu telah membuat hubungannya dengan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama, menjadi agak menarik dan unik. Cerita dimaksud diungkapkannya pada Solichin Salam dalam satu wawancara pada bulan Pebruari 1978.

Secara jujur dikatakannya, bahwa arsitekturlah yang membuat hubungannya dengan Bung Karno menjadi unik. Menurutnya, selama 24 tahun dia sering berselisih pendapat dengan Bung Karno. Namun dalam perselisihan pendapat itu, katanya, tidak jarang Bung Karno mengakui terus terang bahwa beliau yang salah dan Silabanlah yang benar.

Bagi Anak kelima dari Jonas Silaban (ayah) dan Noria boru Simamora (ibu), ini pengalaman-pengalaman dengan Presiden Soekarno itu menjadi kenangannya sampai mati. “Saya sudah bekerja 47 tahun terus menerus sampai sekarang, tetapi belum pernah ada pemimpin yang mengaku salah pendapat terhadap saya, selain dari Bung Karno. Contoh untuk ini saya sebutkan antara lain masalah kompleks Bangunan Olah Raga (sebelumnya Asian Games-red) Senayan”, kata Silaban saat itu.

“Karena adalah suatu kekeliruan untuk membuat suatu ‘sport complex’ yang berkaliber internasional atau dua bidang tanah yang terpisah oleh sebuah jalan raya yang nanti akan menjadi jalan raya yang tersibuk di Asia Tenggara. Ditilik dari sudut manajemen dan organisasi, ini akan menyulitkan secara terus menerus dan berganda. Betul saya lihat di sini (gambar) direncanakan sebuah tunnel raksasa, di bawah jalan Jenderal Sudirman, tetapi itu terlalu ‘onna tuurijk’.

Di samping itu ‘tunnel’ demikian akan terus kebanjiran, sehingga membutuhkan pompa raksasa untuk menjamin kekeringannya. Tenaga listrik untuk itu dan untuk penerangan ‘tunnel’ demikian besarnya, sehingga cukup untuk sebuah kota menengah. Tetapi bukan itu saja keberatan saya. Keberatan terbesar adalah masalah lalu-1intas. Duku Atas terlalu dekat kepada bundaran Jalan Thamrin seperti tadi saya telah katakan, maka jalan Sudirman akan menjadi jalan raya tersibuk di seluruh Asia Tenggara. Sukar dapat dibayangkan, betapa macetnya lalu lintas apabila ada ‘sport festival’di ‘Asian Games Complex’ itu” katanya.

Suami dari Letty Kievits, ini lebih lanjut mengatakan, untuk menonton pertandingan pada pukul 17.00 (sore), rakyat sudah harus berkumpul di Stadion sejak pukul 13.00 (siang) kalau tidak, mereka tidak akan kebagian tempat. Sementara kalau presiden mau jalan, selalu didahului ‘voorrijders’ dengan sirenenya, sehingga tidak pernah mengalami apa yang harus dihadapi oleh rakyat.

“Jadi kalau tokh Pemerintah mempertahankan Duku Atas sebagai tempat untuk Asian Games itu, maka sudah dapat diramalkan bahwa lalu lintas pada hari-hari ada acara sport di Asian Games Complex, di jalan itu akan macet total. Kalau Presiden tokh mempertahankan tanah Duku Atas itu dengan rencana Rusia yang pada hari ini saya lihat, maka saya khawatir, bahwa kelak anak-anak Guntur akan nyeletuk: Kok kakek kami bodoh amat membuat kompleks stadion begitu”, begitu kritik Silaban dengan jujur kepada Bung Karno ketika itu.

Menurutnya, ketika itu Bung Karno berkomentar, “Ya, Presiden Soekarno yang salah dan Silaban yang benar”. Itulah kenangan yang tak pernah dilupakannya sampai akhir hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan formal di H.I.S. Narumonda, Tapanuli tahun 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S.) di Jakarta pada tahun 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda pada tahun 1950, Ia kemudian bekerja menjadi pegawai Kotapraja Batavia, Opster Zeni AD Belanda, Kepala Zenie di Pontianak Kalimantan Barat (1937) dan sebagai Kepala DPU Kotapraja Bogor hingga 1965.

Di zaman kolonial, ayah dari 10 orang anak dan kakek 5 orang cucu, ini sudah menunjukkan prestasi-prestasi yang gemi1ang, seperti misalnya ia berhasil memenangkan sayembara perencanaan rumah Walikota Bogor (1935) dan beberapa hotel. Dalam sayembara-sayembara tersebut, hanya dialah satu-satunya arsitek pribumi. Karyanya dalam membuat monumen mengenang orang-orang Belanda yang gugur melawan Nazi Jerman di masa Perang Dunia II, membuatnya mendapat pujian dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. Telah banyak karyanya yang sungguh mengagumkan, diantaranya adalah Mesjid Istqlal, Monumen Nasional, Gelora Senayan dan lain-lain.

Karya-karyanya itu jualah yang menobatkannya menjadi orang yang dianggap pantas mendapat penghargaan-penghargaan, baik dari bangsanya sendiri maupun dari luar bangsanya. Penghargaan dimaksud antara lain berupa tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan yang disematkan oleh Presiden Sukarno pada tahun1962. Penghargaan Honorary Citizen (warga negara kehormatan) dari New Orleans, Amerika Serikat. Di samping itu Qubah Mesjid Istiqlal telah diakui Universitas Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak ciptanya, sehingga disebut sebagai “Si1aban Dom”, atau qubah Si1aban.

Tokoh yang dijuluki Bung Karno sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal, ini akhirnya tutup usia di RSP AD Gatot Subroto Jakarta, pada hari Senin, 14 Mei 1984, karena komplikasi beberapa penyakit yang dideritanya.

Ia pergi dengan hati bangga, karena hasil karya besarnya telah menjadi kenyataan. Silaban yang sampai akhir hayatnya masih tetap menjabat sebagai Wakil Kepala Proyek Pembangunan Mesjid Istiqlal Jakarta itu akan tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai arsitek dari Mesjid Istiqlal. Sebuah mesjid yang termegah di Asia Tenggara pada jamannya.

Dia pergi setelah mengukir sejarah, suatu sejarah yang lebih tinggi dari karya sebuah hasil seni atau teknologi. Tapi adalah sejarah kemanusiaan, kebersamaan, toleransi. Namanya akan dikenang sepanjang zaman.

Source: Silaban Brotherhood

Read also:

.

Frederich Silaban Arsitek Masjid Istqlal Jakarta

Arsitek Legendaris

Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Ars- F- Silaban 550

Namun di balik kemegahan masjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beragama di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.

Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Adalah Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal. Ia beragama Kristen Protestan kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.

Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950.

Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.

Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.

Selain Masjid Istiqlal, hasil karyanya yang lain, diantaranya Gedung Universitas Nommensen – Medan (1982), Gelora Bung Karno – Jakarta (1962), Rumah Lie A. Hong/Indriawaty Tanusukma (1968) di Jl. Gunung Gede No. 33 Bogor, Monumen Pembebasan Irian Barat – Jakarta (1963), Markas TNI Angkatan Udara – Jakarta (1962), Gedung Pola – Jakarta (1962), Gedung BNI 1946 – Medan (1962), Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun), Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960), Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960), Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960), Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958), dan Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958).

Seputar Frederich Silaban Arsitek Legenda Indonesia

 

Frederich Silaban

BIOGRAPHY-NEW

Frederich Silaban telah menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas prestasinya dalam merancang pembangunan Mesjid Istiqlal.

Frederich Silaban juga merupakan salah satu penandatangan Konsepsi Kebudayaan yang dimuat di Lentera dan lembaran kebudayaan harian Bintang Timur mulai tanggal 16 Maret 1962 yakni sebuah konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional termasuk musik yang diprakarsai oleh Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat, onderbouw Partai Komunis Indonesia) dan didukung oleh Lembaga Kebudayaan Nasional (onderbouw Partai Nasional Indonesia) dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) milik Pesindo.

Arsitek_Silaban_dan_Bung_KarnoSelain itu, Frederich Silaban juga berperan besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pada April 1959, Ir. Soehartono Soesilo yang mewakili biro arsitektur PT Budaya dan Ars. F. Silaban merasa tidak puas atas hasil yang dicapai pada Konperensi Nasional di Jakarta, yakni pembentukan Gabungan Perusahaan Perencanaan dan Pelaksanaan Nasional (GAPERNAS) dimana keduanya berpendapat bahwa kedudukan “perencana dan perancangan” tidaklah sama dan tidak juga setara dengan “pelaksana”. Mereka berpendapat pekerjaan perencanaan-perancangan berada di dalam lingkup kegiatan profesional (konsultan), yang mencakupi tanggung jawab moral dan kehormatan perorangan yang terlibat, karena itu tidak semata-mata berorientasi sebagai usaha yang mengejar laba (profit oriented). Sebaliknya pekerjaan pelaksanaan (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial, yang keberhasilannya diukur dengan besarnya laba dan tanggung jawabnya secara yuridis/formal bersifat kelembagaan atau badan hukum, bukan perorangan serta terbatas pada sisi finansial. Akhir kerja keras dua pelopor ini bermuara pada pertemuan besar pertama para arsitek dua generasi di Bandung pada tanggal 16 dan 17 September 1959. pertemuan ini dihadiri 21 orang, tiga orang arsitek senior, yaitu: Ars. Frederich Silaban, Ars. Mohammad Soesilo, Ars. Lim Bwan Tjie dan 18 orang arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 1958 dan 1959. Dalam pertemuan tersebut dirumuskan tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang tertuang dalam dokumen pendiriannya, “Menuju dunia Arsitektur Indonesia yang sehat”. Pada malam yang bersejarah itu resmi berdiri satu-satunya lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur profesional Indonesia dengan nama Ikatan Arsitek Indonesia disingkat IAI.

Hasil Karya

  • Gedung Universitas HKBP Nommensen – Medan (1982)
  • Gelora Bung Karno – Jakarta (1962)
  • Rumah A Lie Hong – Bogor (1968)
  • Monumen Pembebasan Irian Barat – Jakarta (1963)
  • Markas TNI Angkatan Udara – Jakarta (1962)
  • Gedung Pola – Jakarta (1962)
  • Gedung BNI 1946 – Medan (1962)
  • Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)
  • Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960)
  • Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960)
  • Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960)
  • Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958)
  • Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958)
  • Masjid Istiqlal – Jakarta (1954)
Frederich Silaban memenangkan sayembara pembuatan gambar maket Masjid dengan motto (sandi) “Ketuhanan” yang kemudian bertugas membuat desain Istiqlal secara keseluruhan. Istiqlal ini juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara pada tahun 1970-an
  • Gedung Bentol – Jawa Barat (1954)
Gedung ini merupakan bagian dari Istana Kepresidenan Cipanas yang terletak di jalur jalan raya puncak, Jawa Barat dan berlokasi tepat di belakang gedung induk dan berdiri di dataran yang lebih dari bangunan-bangunan lain. Gedung yang sering disebut sebagai tempat Soekarno mencari inspirasi dinamakan Gedung Bentol karena seluruh dindingnya ditempel batu alam yang membuat kesan bentol-bentol.
  • Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata – Jakarta (1953)
  • Kampus Cibalagung, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP)/Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) – Bogor (1953)
Sekolah pertanian ini telah melahirkan sejumlah tokoh kawakan di berbagai bidang. Beberapa di antaranya bahkan pernah menjabat sebagai menteri. Padahal sekolah yang kini berumur seabad ini sejatinya “kawah candradimuka” bagi penyuluh dan teknisi di bidang pertanian.
  • Rumah Dinas Walikota – Bogor (1952)
  • Kantor Dinas Perikanan – Bogor (1951)
  • Tugu KhatulistiwaPontianak (1938)
Tugu ini dibangun pertama kali pada 1928 oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Pada 1938 dibangun kembali dan disempurnakan oleh Frederich Silaban. Pada 1990 dibangun duplikatnya dengan ukuran 5 kali lebih besar untuk melindungi tugu khatulistiwa yang asli. Pembangunan yang terakhir diresmikan pada 21 September 1991.

Source: Wikipedia

Masjid Istiqlal

093526320140728RAM27780x390

Masjid Istiqlal adalah masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di pusat ibukota Jakarta. Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno di mana pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

ISTIQLAL 005

Lokasi kompleks masjid ini berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas). Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari dua ratus ribu jamaah.

Istiqlal_Cathedral

Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik, dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. Masyarakat non-Muslim juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun demikian bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.

ISTIQLAL 004

Pada tiap hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Muhammad dan Isra dan Mi’raj, Presiden Republik Indonesia selalu mengadakan kegiatan keagamaan di masjid ini yang disiarkan secara langsung melalui televisi nasional (TVRI) dan sebagian televisi swasta.

Nama Masjid

Masjid Istiqlal merupakan masjid negara Indonesia, yaitu masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. Karena menyandang status terhormat ini maka masjid ini harus dapat menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sekaligus menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini dibangun sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. Karena itulah masjid ini dinamakan “Istiqlal” yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka“.

Sejarah

Setelah perang kemerdekaan Indonesia, mulai berkembang gagasan besar untuk mendirikan masjid nasional. Ide pembangunan masjid tercetus setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan. Gagasan pembangunan masjid kenegaraan ini sejalan dengan tradisi bangsa Indonesia yang sejak zaman kerajaan purba pernah membangun bangunan monumental keagamaan yang melambangkan kejayaan negara. Misalnya pada zaman kerajaan Hindu-Buddha bangsa Indonesia telah berjaya membangun candi Borobudur dan Prambanan. Karena itulah pada masa kemerdekaan Indonesia terbit gagasan membangun masjid agung yang megah dan pantas menyandang predikat sebagai masjid negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Perencanaan

Pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di Deca Park, sebuah gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman, yang membahas rencana pembangunan masjid. Gedung pertemuan yang bersebelahan dengan Istana Merdeka itu, kini tinggal sejarah. Deca Park dan beberapa gedung lainnya tergusur saat proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai.

Masjid tersebut disepakati akan diberi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang berarti: kebebasan, lepas atau kemerdekaan, yang secara istilah menggambarkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat berupa kemerdekaan bangsa.

Pada pertemuan di gedung Deca Park tersebut, secara mufakat disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Dia juga ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal meskipun dia terlambat hadir karena baru kembali ke tanah air setelah bertugas sebagai delegasi Indonesia ke Jepang membicarakan masalah pampasan perang saat itu.

Pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, melaporkan rencana pembangunan masjid itu kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan membantu sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian Yayasan Masjid Istiqlal disahkan dihadapan notaris Elisa Pondag pada tanggal 7 Desember 1954.

Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal sejak dia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang diumumkan melalui surat kabar dan media lainnya pada tanggal 22 Februari 1955. Melalui pengumuman tersebut, para arsitek baik perorangan maupun kelembagaan diundang untuk turut serta dalam sayembara itu.

Terjadi perbedaan pendapat mengenai rencana lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Ir. H. Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI) berpendapat bahwa lokasi yang paling tepat untuk pembangunan Masjid Istiqlal tersebut adalah di Jl. Moh. Husni Thamrin yang kini menjadi lokasi Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan lokasi tersebut berada di lingkungan masyarakat Muslim dan waktu itu belum ada bangunan di atasnya.

Sementara itu, Ir. Soekarno (Presiden RI saat) mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan serta dekat dengan Istana Merdeka. Hal ini sesuai dengan simbol kekuasaan kraton di Jawa dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid harus selalu berdekatan dengan kraton atau dekat dengan alun-alun, dan Taman Medan Merdeka dianggap sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. Selain itu Soekarno juga menghendaki masjid negara Indonesia ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta untuk melambangkan semangat persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama sesuai Pancasila.

Pendapat H. Moh. Hatta tersebut akan lebih hemat karena tidak akan mengeluarkan biaya untuk penggusuran bangunan-bangunan yang ada di atas dan di sekitar lokasi. Namun, setelah dilakukan musyawarah, akhirnya ditetapkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. Untuk memberi tempat bagi masjid ini, bekas benteng Belanda yaitu benteng Prins Frederick yang dibangun pada tahun 1837 dibongkar.

Sayembara Rancang Bangun Masjid

Dewan Juri sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal, terdiri dari para Arsitek dan Ulama terkenal. Susunan Dewan Juri adalah Presiden Soekarno sebagai ketua, dengan anggotanya Ir. Roeseno, Ir. Djuanda, Ir. Suwardi, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Rd. Soeratmoko, H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), H. Abu Bakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Sayembara berlangsung mulai tanggal 22 Februari 1955 sampai dengan 30 Mei 1955. Sambutan masyarakat sangat menggembirakan, tergambar dari banyaknya peminat hingga mencapai 30 peserta. Dari jumlah tersebut, terdapat 27 peserta yang menyerahkan sketsa dan maketnya, dan hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba.

Setelah dewan juri menilai dan mengevaluasi, akhirnya ditetapkanlah 5 (lima) peserta sebagai nominator. Lima peserta tersebut adalah:

  1. Pemenang Pertama: Fredrerich Silaban dengan disain bersandi Ketuhanan
  2. Pemenang Kedua: R. Utoyo dengan disain bersandi Istighfar
  3. Pemenang Ketiga: Hans Gronewegen dengan disain bersandi Salam
  4. Pemenang Keempat: 5 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi Ilham
  5. Pemenang Kelima: adalah 3 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi Khatulistiwa dan NV. Associatie dengan sandi Lima Arab

Pada tanggal 5 Juli 1955, Dewan Juri menetapkan F. Silaban sebagai pemenang pertama. Penetapan tersebut dilakukan di Istana Merdeka, sekaligus menganugerahkan sebuah medali emas 75 gram dan uang Rp. 25.000. Pemenang kedua, ketiga, dan keempat diberikan hadiah. Dan seluruh peserta mendapat sertifikat penghargaan.

Pembangunan

Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan umat Islam.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Istiqlal_moskee_in_aanbouw_en_de_kathedraal_TMnr_20025717

Selanjutnya pelaksanaan pembangunan masjid ini tidak berjalan lancar. Sejak direncanakan pada tahun 1950 sampai dengan 1965 tidak mengalami banyak kemajuan. Proyek ini tersendat, karena situasi politik yang kurang kondusif. Pada masa itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada tahun 1965 saat meletus peristiwa G30S/PKI, sehingga pembangunan masjid terhenti sama sekali. Setelah situasi politik mereda,pada tahun 1966, Menteri Agama KH. M. Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.

Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978,ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Biaya pembangunan diperoleh terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (tujuh miliar rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua belas juta dollar AS).

Peristiwa Kontemporer

Karena Masjid Istiqlal adalah masjid nasional Republik Indonesia, setiap upacara atau peringatan hari besar Islam senantiasa digelar di masjid ini. Misalnya Hari raya Idul Fitri, Idul Adha, Isra Mi’raj, dan Maulid Nabi digelar di masjid ini dan diliput televisi nasional. Untuk turut memeriahkan perhelatan Visit Indonesia Year 1991 digelarlah Festival Istiqlal yang pertama pada tahun 1991. Festival ini digelar untuk memamerkan seni dan kebudayaan Islam Indonesia, turut hadir perwakilan negara sahabat berpenduduk muslim seperti Iran, Arab Saudi, dan perwakilan muslim China dari Uighur. Festival Istiqlal yang kedua digelar pada tahun 1995 untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada pukul 15.20 WIB hari Senin, 19 April 1999 bom meledak di lantai dasar Masjid Istiqlal. Letusan ini meretakkan tembok dan memecahkan kaca beberapa kantor organisasi Islam yang berkantor di Masjid Istiqlal, termasuk kantor Majelis Ulama Indonesia. Dua orang terluka akibat ledakan ini. Pada bulan Juni 1999 Polisi mengumumkan tujuh orang pengamen tersangka pelaku pengeboman Masjid Istiqlal yang telah ditangkap. Ketujuh orang ini adalah pelaksana yang menempatkan bom di Masjid Istiqlal, meskipun demikian siapakah otak perencana di balik pengeboman ini masih belum terungkap jelas.

Karena letak Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang bedampingan, maka kedekatan ini menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Kendaraan umat Katolik yang merayakan misa hari besar keagamaan Katolik diperkenankan menggunakan lahan parkir Masjid Istiqlal.

Pengunjung

Sebagai masjid terbesar di Kawasan Timur Asia (Asia Tenggara dan Asia Timur), Masjid Istiqlal menarik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri, terutama wisatawan muslim yang datang dari berbagai penjuru Indonesia ataupun wisatawan muslim dari luar negeri. Pengunjung muslim dapat langsung masuk dan berbaur dengan jemaah untuk menunaikan shalat berjamaah. Wisatawan non-Muslim diperbolehkan berkunjung dan memasuki masjid ini, setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal. Pengunjung non-Muslim harus mengikuti tata cara mengunjungi masjid seperti melepaskan alas kaki serta mengenakan busana yang sopan dan pantas. Misalnya pengunjung tidak diperkenankan mengenakan celana pendek atau pakaian yang kurang pantas (busana lengan pendek, kaus kutang atau tank top). Pengunjung yang mengenakan celana pendek biasanya dipinjamkan sarung, sedangkan pengunjung wanita diminta mengenakan kerudung. Meskipun demikian bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu. Misalnya pengunjung non-Muslim (kecuali tamu negara atau VVIP) tidak diperkenankan memasuki lantai pertama ruang utama tempat mihrab dan mimbar, tetapi diperbolehkan melihat bagian dalam ruangan ini dari balkon lantai kedua. Selebihnya pengunjung non-Muslim boleh mengunjungi bagian lain seperti pelataran terbuka, selasar, kaki menara dan koridor masjid.

Setelah presiden Amerika Serikat Barack Obama didampingi istrinya mengunjungi Masjid Istiqal pada November 2010, makin banyak wisatawan asing yang berkunjung ke masjid ini, rata-rata sekitar 20 wisatawan asing mengunjungi masjid ini tiap harinya. Kebanyakan berasal dari Eropa. Para tokoh penting asing terkenal yang pernah mengunjungi Masjid Istiqlal antara lain; Bill Clinton Presiden Amerika Serikat pada tahun 1994, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Libya Muammar Gaddafi, Pangeran Charles dari Britania Raya, Li Yuanchao wakil ketua Partai Komunis China, Presiden Cile Sebastián Piñera, Heinz Fischer Presiden Austria, dan Jens Stoltenberg Perdana Menteri Norwegia,dan Kanselir Jerman Angela Merkel pada tahun 2012.

Arsitektur

Sebagai masjid negara Indonesia, Masjid Istiqlal diharapkan dapat menampung jamaah dalam jumlah yang besar. Karena itu arsitekturnya menerapkan prinsip minimalis, dengan mempertimbangkan keberadaannya di kawasan beriklim tropis. Masjid dirancang agar udara dapat bebas bersirkulasi sehingga ruangan tetap sejuk, sementara jemaah terbebas dari panas matahari dan hujan. Ruangan shalat yang berada di lantai utama dan terbuka sekelilingnya diapit oleh plaza atau pelataran terbuka di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang dengan bukaan lowong yang lebar di antaranya, dimaksudkan untuk memudahkan sirkulasi udara dan penerangan yang alami.

Gaya Arsitektur

Masjid ini bergaya arsitektur Islam modern internasional, yaitu menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana seperti kubus, persegi, dan kubah bola, dalam ukuran raksasa untuk menimbulkan kesan agung dan monumental. Bahannya pun dipilih yang besifat kokoh, netral, sederhana, dan minimalis, yaitu marmer putih dan baja antikarat (stainless steel). Ragam hias ornamen masjid pun bersifat sederhana namun elegan, yaitu pola geometris berupa ornamen logam krawangan (kerangka logam berlubang) berpola lingkaran, kubus, atau persegi. Ornamen-ornamen ini selain berfungsi sabagai penyekat, jendela, atau lubang udara, juga berfungsi sebagai unsur estetik dari bangunan ini. Krawangan dari baja ini ditempatkan sebagai jendela, lubang angin, atau ornamen koridor masjid. Pagar langkan di tepi balkon setiap lantainya serta pagar tangga pun terbuat dari baja antikarat. Langit-langit masjid dan bagian dalam kubah pun dilapisi kerangka baja antikarat. Dua belas pilar utama penyangga kubah pun dilapisi lempengan baja antikarat.

Karena bangunan yang begitu besar dan luas, jika memanfaatkan seluruh permukaan lantai di semua bagian bangunan, masjid ini dapat menampung maksimal sekitar 200.000 jamaah, meskipun demikian kapasitas ideal masjid ini adalah sekitar 120.000 jamaah. Masjid ini mempunyai arsitektur yang bergaya modern. Jamaah dan wisatawan yang berkunjung ke masjid ini dapat melihat konstruksi kokoh bangunan masjid yang didominasi oleh batuan marmer pada tiang-tiang, lantai, dinding dan tangga serta baja antikarat pada tiang utama, kubah, puncak menara, plafon, dinding, pintu krawangan, tempat wudhu, dan pagar keliling halaman.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Istiqlal juga merupakan obyek wisata religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, jamaah dan wisatawan dapat melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Indonesia, Timur Tengah, dan Eropa. Arsitektur Indonesia nampak pada bangunan yang bersifat terbuka dengan memungkinkan sirkulasi udara alami sesuai dengan iklim tropis serta letak masjid yang berdekatan dengan bangunan pusat pemerintahan. Kemudian pada bagian dalam kubah masjid yang berhiaskan kaligrafi merupakan hasil adopsi arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga dipengaruhi gaya arsitektur Barat, sebagaimana terlihat dari bentuk tiang dan dinding yang kokoh.

Arsitektur Masjid Istiqlal juga menampilkan pendekatan yang unik terhadap berbagai serapan budaya dalam komposisi yang harmonis. Perpaduan itu menunjukkan kuatnya pemahaman yang menghargai berbagai budaya dari masyarakat yang berbeda, yang ditempatkan sebagai potensi untuk membangun harmoni dan toleransi antar umat beragama, dalam rangka membina kesatuan dan persatuan bangsa.

Beberapa kalangan menganggap arsitektur Islam modern Timur Tengah masjid Istiqlal berupa kubah besar dan menara terlalu bersifat Arab dan modern, sehingga terlepas dari kaitan harmoni dan warisan tradisi arsitektur Islam Nusantara tradisional Indonesia. Mungkin sebagai jawabannya mantan presiden Suharto melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila menyeponsori pembangunan berbagai masjid beratap limas tingkat tiga bergaya tradisional masjid Jawa.

Simbolisme

Rancangan arsitektur Masjid Istiqlal mengandung angka dan ukuran yang memiliki makna dan perlambang tertentu. Terdapat tujuh gerbang untuk memasuki ruangan dalam Istiqlal yang masing-masing dinamai berdasarkan Al-Asmaul-Husna, nama-nama Allah yang mulia dan terpuji. Angka tujuh melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam, serta tujuh hari dalam seminggu. Tempat wudhu terletak di lantai dasar, sementara ruangan utama dan pelataran utama terletak di lantai satu yang ditinggikan. Bangunan masjid terdiri atas dua bangunan; bangunan utama dan bangunan pendamping yang lebih kecil. Bangunan pendamping berfungsi sebagai tangga sekaligus tempat tambahan untuk beribadah. Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter, angka “45” melambangkan tahun 1945, tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemuncak atau mastaka kubah utama dimahkotai ornamen baja antikarat berbentuk Bulan sabit dan bintang, simbol Islam.

1280px-Istiqlal_Mosque_Eid_ul_Fitr_Jamaah_1

Interior ruang utama masjid Istiqlal; kubah raksasa ditopang 12 tiang berlapis baja antikarat

Kubah utama ini ditopang oleh 12 tiang ruang ibadah utama disusun melingkar tepi dasar kubah, dikelilingi empat tingkat balkon. Angka “12” yang dilambangkan oleh 12 tiang melambangkan hari kelahiran nabi Muhammad yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, juga melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam (juga penanggalan Masehi) dalam satu tahun. Empat tingkat balkon dan satu lantai utama melambangkan angka “5” yang melambangkan lima Rukun Islam sekaligus melambangkan Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia. Tangga terletak di keempat sudut ruangan menjangkau semua lantai. Pada bangunan pendamping dimahkotai kubah yang lebih kecil berdiameter 8 meter.

Adanya dua bangunan masjid; yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping (berfungsi sebagai tangga, ruang tambahan dan pintu masuk Al Fattah), serta dua kubah yaitu kubah utama dan kubah pendamping, melambangkan angka “2” atau dualisme yang saling berdampingan dan melengkapi; langit dan bumi, kepentingan akhirat dan kepentingan duniawi, bathin dan lahir, serta dua bentuk hubungan penting bagi muslim yaituHablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhannya) dan Hablum minannaas (hubungan manusia dengan sesamanya). Hal ini sesuai dengan sifat agama Islam yang lengkap, mengatur baik urusan keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Islam tidak semata-mata bertitik berat pada masalah ibadah dan akhirat saja tetapi juga memperhatikan urusan duniawi; kesejahteraan, keadilan dan kepedulian sosial, ekonomi, hukum, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari umat muslim.

Rancangan interior masjid ini sederhana, minimalis, dengan hiasan minimal berupa ornamen geometrik dari bahan baja antikarat. Sifat gaya arsitektur dan ragam hias geometris yang sederhana, bersih dan minimalis ini mengandung makna bahwa dalam kesederhanaan terkandung keindahan. Pada dinding utama yang menghadap kiblat terdapat mihrab dan mimbar di tengahnya. Pada dinding utama terdapat ornamen logam bertuliskan aksara Arab Allah di sebelah kanan dan nama Muhammad di sebelah kiri, di tengahnya terdapat kaligrafi Arab Surah Thaha ayat ke-14. Semua ornamen logam baja antikarat didatangkan dari Jerman. Pada awalnya direncanakan menggunakan bahan marmer impor dari Italia seperti Monumen Nasional. Akan tetapi untuk menghemat biaya dan mendukung industri mamer lokal maka bahan marmer akhirnya diambil dari Tulungagung di Jawa Timur.

Thousands of the Indonesian muslims congregrated during Eid ul Fitr mass prayer in Istiqlal Mosque, the largest mosque in Southeast Asia, located in Central Jakarta, Indonesia.

Ribuan umat muslim Indonesia berkumpul untuk menunaikan shalat Ied pada Hari Raya Idul Fitri di Masjid Istiqlal

Struktur bangunan utama dihubungkan dengan emper dan koridor yang mengelilingi pelataran terbuka yang luas. Teras besar terbuka ini berukuran seluas 29.800 meter persegi, berupa pelataran berlapis tegel keramik berwarna merah bata yang disusun sesuai shaf shalat, terletak di sisi dan belakang gedung utama. Teras ini berfungsi menampung jemaah pada saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Koridor di sekeliling teras pelataran menghubungkan bangunan utama dengan menara masjid. Tidak seperti masjid dalam arsitektur Islam Arab, Persia, Turki, dan India yang memiliki banyak menara, Istiqlal hanya memiliki satu menara yang melambangkan Keesaan Allah. Struktur menara berlapis marmer berukuran tinggi 66,66 meter (6.666 cm),melambangkan 6.666 ayat dalam persepsi tradisional dalam Al Quran. Ditambah kemuncak yang memahkotai menara terbuat dari kerangka baja setinggi 30 meter melambangkan 30 juz’ dalam Al Quran, maka tinggi total menara adalah 96,66 meter. Selain koridor emper keliling terdapat pula koridor di tengah yang menghubungkan Gerbang Al Fattah dengan Gerbang Ar Rozzaq. Jika masjid sudah tentu berkiblat ke arah Mekkah, penjuru koridor ini mengarah ke Monumen Nasional, hal ini untuk menunjukkan bahwa masjid ini adalah masjid nasional Republik Indonesia.

Di masjid ini juga terdapat bedug raksasa yang terbuat dari dari sebatang pohon kayu meranti merah asal pulau Kalimantan yang berusia sekitar 300 tahun.

Masjid Istiqlal dikenal dengan kemegahan bangunannya. Luas bangunannya hanya mencapai 26% dari kawasan seluas 9.32 hektare, yang selebihnya adalah halaman dan pertamanan. Pada taman masjid di sudut barat daya terdapat kolam besar dengan air mancur yang dapat menyemburkan air setinggi 45 meter. Air mancur ini hanya diaktifkan tiap hari Jumat menjelang shalat Jumat atau pada hari raya dan hari penting keagamaan Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, dan Isra Miraj.

Lingkungan Sekitar

Pada tahun 1950, keadaan dan kondisi kawasan Taman Wilhelmina yang berada di depan Lapangan Banteng merupakan tempat yang sepi, gelap, kotor, dan tak terurus. Reruntuhan tembok bekas bangunan Benteng Prins Frederick di taman itu penuh dengan lumut, dan ditumbuhi ilalang dimana-mana.

Pada tanggal 21 Mei 1961, dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Nasional di tempat yang sama, sekitar 50.000 orang dari berbagai unsur lapisan masyarakat, termasuk pegawai negeri dan swasta, alim ulama, tentara, dan lain-lain bekerja bakti membersihkan taman Wilhelmina yang tak terurus itu, sebagai persiapan lokasi pembangunan Masjid yang diawali dengan pidato Menteri Jaksa Agung.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 24 Agustus 1961, telah menjadi tanggal yang paling bersejarah bagi kaum muslimin di Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya, untuk pertama kalinya di bekas taman itu, kota Jakarta akan memiliki sebuah masjid besar dan monumental. Maka dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim Presiden RI Ir. Soekarno meresmikan permulaan pembangunan Masjid Istiqlal diatas area seluas 9.32 Ha. Yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang disaksikan oleh ribuan ummat Islam. Sebuah masjid yang akan menjadi simbol kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Kompleks Masjid Istiqlal juga mempunyai daya tampung parkir untuk 800 kendaraan.

Pagar dan Pintu Gerbang

Komplek Masjid Istiqlal dikelilingi pagar setinggi empat meter, terdiri dari tembok setinggi satu meter dan diatasnya berdiri pagar setinggi tiga meter yang terbuat dari bahan stainless steel, baja anti karat sepanjang 1.165 meter.

Semula pagar ini meski dibuat dari bahan baja antikarat dan cukup kokoh, namun tingginya hanya sekitar 1,2 meter ditambah 1 meter tembok sehingga memudahkan keluar masuknya orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara melompati pagar tersebut, ditambah lagi dengan pintu gerbang yang sangat mudah dilewati meski pintu tersebut dalam keadaan terkunci.

Sebagai solusinya maka mulai tahun 2007 pagar diganti menjadi lebih tinggi dan indah seperti yang disaksikan sekarang. Pintu gerbangpun diubah dan dipercantik dengan menggunakan alumunium cor dan dirancang memiliki celah-celah yang rapat yang tidak mungkin dilewati oleh manusia.

Saat ini untuk masuk ke wilayah Masjid Istiqlal baik menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki harus melalui pintu gerbang yang terbuka yang masing-masing mempunyai gardu jaga. Pintu-pintu gerbang tersebut terletak di sebelah utara, timur, tenggara dan selatan. Salah satu dari pintu gerbang tersebut diperuntukkan khusus untuk VIP yaitu RI 1 dan RI 2.

Terdapat lima pintu gerbang masuk menuju kompleks Masjid Istiqlal, beberapa gerbang masuk ini dihubungkan ke masjid oleh jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Ciliwung dan di kiri kanannya terdapat lapangan parkir yang luas, sedangkan dua buah lainnya di bagian utara tidak dihubungkan dengan jembatan. Gerbang masjid ini terdapat di ketiga sisi kompleks masjid, yaitu sisi utara menghadap pintu air dan jalan Veteran, sisi timur menghadap Gereja Katedral Jakarta dan jalan Katedral, dan sisi tenggara-selatan menghadap jalan Perwira dan kantor pusat Pertamina. Sementara di sepanjang sisi barat terdapat rel kereta api yang menghubungkan Stasiun Gambir dan Stasiun Juanda, di sisi barat ini tidak terdapat pintu gerbang.

  1. Sisi Utara dari arah Pintu Air terdapat satu pintu gerbang yang langsung diarahkan menuju pintu As-Salam. Pada acara kenegaraan biasanya hanya dibuka untuk dilalui para undangan VIP setingkat pejabat negara, para menteri, duta-duta besar perwakilan negara sahabat, pejabat legislatif, pejabat daerah dan undangan VIP lainnya.
  2. Sisi Timur Laut dari arah Katedral terdapat satu buah pintu gerbang berhadapan dengan bangunan gereja Katedral. Pintu gerbang inilah yang dibuka setiap harinya untuk keluar masuk area Masjid Istiqlal dan mulai pada pertengahan tahun 2008 perparkiran menggunakan sistem Check Point.
  3. Sisi Tenggara-Selatan dari arah Kantor Pusat Pertamina dan jalan Perwira terdapat tiga pintu gerbang, satu pintu gerbang ujung selatan tepat di pertigaan Jalan Merdeka Timur dan jalan Perwira searah dengan gedung kantor pusat Pertamina dan Stasiun Gambir, satu pintu di sisi tenggara dekat jembatan Ciliwung, dan satu lagi dekat pertigaan Lapangan Banteng searah dengan gedung Kementerian Agama Pusat. Gerbang tenggara dekat jembatan Ciliwung biasanya dibuka untuk umum hanya pada saat shalat Jumat, sedangkan pintu gerbang ujung selatan khusus diperuntukkan bagi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia beserta rombongan bila menghadiri acara keagamaan yang diselenggarakan secara kenegaraan di Masjid Istiqlal, seperti peringatan hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Seluruh pintu gerbang ini dibuka setiap acara resmi kenegaraan, sedangkan untuk hari-hari biasa pintu gerbang yang dibuka hanya pintu dari arah Katedral yang langsung menuju pintu Al-Fattah.

Sedangkan pada bangunan Masjid Istiqlal terdapat 7 buah pintu gerbang yand dinamakan berdasarkan Asmaul Husna.

Taman, Parkir, Jembatan, dan Air Mancur

Halaman di sekitar Masjid Istiqlal sebelah utara, selatan dan timur seluas 6,85 Ha terdari dari:

Pertamanan seluas 4,15 Ha, dibagi menjadi 23 lokasi dan masing-masing diberi nama sesuai dengan nama pepohonan yang dominan berada di lokasi tersebut. Misalnya Taman Kamboja dan lain-lain. Rindangnnya pertamanan berfungsi juga sebagai hutan kota, dihidupi pula dengan beberapa jenis unggas untuk menambah keindahan komplek Masjid Istiqlal. Dengan demikian menjadikan suasana masjid terasa sejuk sehinnga akan menambah kekhusyuan beribadah bagi para jamaah.

Fountain_Istiqlal_Mosque_Monas_background

Air mancur di tengah kolam sudut barat daya taman Masjid Istiqlal

Perparkiran seluas 2,15 Ha, yang dapat menampung kurang lebih 800 kendaraan sekaligus melalui 7 buah pintu gerbang yang ada. Kualitas pengaspalan untuk halaman, parkir dan jalan dibuat dengan methode pengaspalan kelas satu. Sungai Ciliwung mengalir membelah kompleks Masjid Istiqlal. Karena halaman Masjid Istiqlal dikelilingi oleh sungai, maka dibangun pula tiga buah jembatan besar yang lebarnya 18,6 meter dan panjang sekitar 21 sampai 25 meter. Ditambah satu buah jembatan kecil untuk pejalan kaki, kerangka dari jembatan-jembatan ini juga terbuat dari bahan stainless steel. Tepat di taman ini aliran sungai Ciliwung bercabang dua, cabang ke barat mengarah ke Harmoni, Jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk, dan kawasan Kota Tua Jakarta, sedangkan cabang ke timur mengarah ke Pasar Baru, Gunung Sahari dan Ancol. Di sisi utara cabang barat terdapat pintu air yang dibangun pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Untuk menambah indahnya panorama kompleks Masjid Istiqlal, di halaman bagian selatan dilengkapi dengan kolam air mancur yang ditempatkan di tengah-tengah, taman air mancur ini seluas 2.803 meter persegi, dan kolam air mancur seluas 8.490 meter persegi, jadi luas keseluruhannya 11,293 meter persegi. Pada bagian tengah kolam dibuat ring penampung air bersih bergaris tengah 45 meter, jumlah nozel pemancar air mancur sebanyak: 1 buah tegak lurus di tengah-tengah cawan air mancur, 17 buah di lingkar luar, dan 8 buah buah di lingkar dalam pada kolam penampungan air bersih. Air mancur ini dapat memancarkan air setinggi 45 meter.

Gedung Utama dan Gedung Pendukung

Masjid Istiqlal berdaya tampung jamaah sebanyak 200.000 orang yang terdiri dari:

  1. Ruang shalat utama dan balkon serta sayap memuat 61.000 orang.
  2. Ruang pada bangunan pendahuluan memuat 8.000 orang.
  3. Ruang teras terbuka di lantai 2 memuat 50.000 orang.
  4. Semua koridor dan tempat lainnya memuat 81.000 orang.

Pintu Masuk

Terdapat tujuh pintu gerbang masuk ke dalam Masjid Istiqlal. Masing-masing pintu itu diberi nama berdasarkan Asmaul Husna. Dari ketujuh pintu ini tiga pintu yaitu Al Fattah, As Salam dan Ar Rozzaq adalah pintu utama. Ketujuh pintu itu adalah:

  1. Al Fattah (Gerbang Pembuka): pintu utama yang terletak sisi timur laut berhadapan dengan Gereja Katedral. Pintu ini adalah pintu untuk masyarakat umum yang senantiasa terbuka dan terletak di bangunan pendamping dengan kubah kecil diatasnya.
  2. Al Quddus (Gerbang Kesucian): pintu yang terletak di sisi timur laut terdapat di sudut bangunan utama masjid.
  3. As Salam (Gerbang Kedamaian): salah satu pintu utama ini terletak di ujung utara pada sudut bangunan utama. Pintu ini langsung menuju dekat shaf terdepan barisan shalat, sehingga pintu ini digunakan untuk tamu penting VIP, seperti ulama, tamu asing, duta besar dari negara muslim, dan tamu penting lainnya pada acara keagamaan penting.
  4. Al Malik (Gerbang Raja): pintu VVIP di sisi barat pada sudut bangunan utama masjid. Seperti pintu As Salam pintu ini juga langsung menuju dekat shaf terdepan barisan shalat, sehingga pintu ini digunakan untuk tamu penting VVIP seperti presiden dan wakil presiden Indonesia serta tamu negara yang berkunjung.
  5. Al Ghaffar (Gerbang Ampunan): pintu ini terletak di ujung selatan pada bangunan selasar pelataran, tepat di bawah menara masjid Istiqlal. Pintu ini adalah yang paling dekat gerbang tenggara sekaligus yang terjauh dari mihrab masjid.
  6. Ar Rozzaq (Gerbang Rezeki): salah satu pintu utama ini terletak di tengah-tengah sisi selatan selasar pelataran Istiqlal. Dari pintu ini terdapat koridor yang lurus menghubungkannya dengan pintu Al Fatah di sisi timur laut.
  7. Ar Rahman (Gerbang Pengasih): pintu ini terletak di sudut barat daya bangunan selasar masjid, dekat pintu Al Malik.

Gedung Utama

  • Tinggi: 60 meter
  • Panjang: 100 meter
  • Lebar: 100 meter
  • Tiang pancang: 2.361 buah

1280px-Istiqlal_Mosque_Minbar

Masjid Istiqlal yang megah ini adalah bangunan berlantai dua. Lantai pertama untuk perkantoran, ruang pertemuan, instalasi AC sentral dan listrik, kamar mandi, toilet dan ruang tempat wudhu. Lantai dua, untuk shalat yang terdiri dari ruang shalat utama dan teras terbuka yang luas guna untuk menampung jemaah yang melimpah terutama pada saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Gedung utama dengan ruang shalat utama mengarah ke kiblat (Mekkah), sedangkan teras terbuka yang luas mengarah ke Monumen Nasional (Monas).

Lantai utama yang disediakan untuk ruang sholat baik Rawatib ataupun sholat sunnat lainnya terletak di gedung utama dengan daya tampung 61.00 orang jamaah. Di bagian depan terdapat Mihrab tempat dimana imam memimpin sholat jamaah, dan disebelah kanan mihrab terdapat mimbar yang ditinggikan. Lantainya ditutupi karpet merah sumbangan seorang dermawan dari Kerajaan Arab Saudi.

Kubah besar

Dengan diameter 45 m, terbuat dari kerangka baja antikarat dari Jerman Barat dengan berat 86 ton, sementara bagian luarnya dilapisi dengan keramik. Diameter 45 meter merupakan simbol penghormatan dan rasa syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945 sesuai dengan nama Istiqlal itu sendiri. Bagian bawah sekeliling kubah terdapat kaligrafi Surat Yassin yang ditulis oleh K.H Fa’iz seorang Khatthaath senior dari Jawa Timur.

Dari luar atap bagian atas kubah dipasang penangkal petir berbentuk lambang Bulan dan Bintang yang terbuat dari stainless steel dengan diameter 3 meter dan berat 2,5 ton. Dari dalam kubah di topang oleh 12 pilar berdiameter 2,6 meter dengan tinggi 60 meter, 12 buah pilar ini merupakan simbol angka kelahiran nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 20 April 571 M.

Seluruh bagian di gedung utama ini dilapisi marmer yang didatangkan langsung dari Tulungagung seluas 36.980 meter persegi.

Gedung pendahuluan

  • Tinggi: 52 meter
  • Panjang: 33 meter
  • Lebar: 27 meter

Bagian ini memiliki lima lantai yang terletak di belakang gedung utama yang diapit dua sayap teras. Luas lantainya 36.980 meter persegi, dilapisi dengan 17.300 meter persegi marmer. Jumlah tiang pancangnya sebanyak 1800 buah. Di atas gedung ini ada sebuah kubah kecil, fungsi utama dari gedung ini yaitu setiap jamaah dapat menuju gedung utama secara langsung. Selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai perluasan tempat shalat bila gedung utama penuh.

Teras raksasa

Teras raksasa terbuka seluas 29.800 meter terletak di sebelah kiri dan dibelakang gedung induk. Teras ini berlapis tegel keramik berwarna merah kecoklatan yang disusun membentuk shaf shalat. Teras ini dibuat untuk menampung jamaah pada saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu teras ini juga berfungsi sebagai tempat acara-acara keagamaan seperti MTQ dan pada emper tengah biasa digunakan untuk peragaan latihan manasik haji, teras raksasa ini dapat menampung sekitar 50.000 jamaah.

Emper keliling dan koridor

  • Panjang: 165 meter
  • Lebar : 125 meter

Emper atau koridor ini mengelilingi teras raksasa dan koridor tengah yang sekelilingya terdapat 1800 pilar guna menopang bangunan emper. Di bagian tengah terdapat koridor tengah yang menghubungkan pintu Al Fattah di timur laut dengan pintu Ar Rozzaq di barat daya. Arah poros koridor ini mengarah ke Monumen Nasional menandakan masjid ini adalah masjid nasional.

Menara

  • Tinggi tubuh menara marmer: 6.666 cm = 66.66 meter
  • Tinggi kemuncak (pinnacle) menara baja antikarat: 30 meter
  • Tinggi total menara: sekitar 90 meter
  • Diameter menara 5 meter

Bangunan menara meruncing ke atas ini berfungsi sebagai tempat Muadzin mengumandangkan adzan. Di atasnya terdapat pengeras suara yang dapat menyuarakan adzan ke kawasan sekitar masjid.

Menara megah tersebut melambangkan keagungan Islam, dan kemuliaan kaum muslimin. Keistimewaan lainnya, menara yang terletak di sudut selatan masjid, dengan ketinggian 6.666 cm ini dinisbahkan dengan jumlah ayat-ayat Al-Quran. Pada bagian ujung atas menara, berdiri kemuncak (pinnacle) dari besi baja yang menjulang ke angkasa setinggi 30 meter sebagai simbol dari jumlah juz dalam Al-Quran. Menara dan kemuncak baja ini membentuk tinggi total menara sekitar 90 meter.

The minaret or tower of Istiqlal Mosque, Jakarta, Indonesia. The National Monument (Monas) and Medan Merdeka Square in the background with Jakarta skyline.

Menara Istiqlal dengan Monas terlihat di kejauhan

Puncak menara yang meruncing dirancang berlubang-lubang terbuat dari kerangka baja tipis. Angka 6.666 merupakan simbol dari jumlah ayat yang terdapat dalam AL- Quran, seperti yang diyakini oleh sebahagian besar ulama di Indonesia.

Lantai Dasar dan Tangga

Ruangan shalat terdapat di lantai pertama tepat di atas lantai dasar, sedangkan lantai dasar terdapat ruang wudhu, kantor Masjid Istiqlal, dan kantor berbagai organisasi Islam. Lantai dasar Masjid Istiqlal seluruhnya ditutupi oleh marmer seluas 25.000 meter persegi dipersiapkan untuk sarana perkantoran, sarana penunjang masjid, dan ruang serbaguna. Gagasan semula tempat ini akan dibiarkan terbuka yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan, misalnya pada saat penyelenggaraan Festival Istiqlal I tahun 1991 dan Festival Istiqlal II tahun 1995 ruangan-ruangan serbaguna di lantai dasar dan pelataran halaman Masjid dijadikan ruang pameran seni Islam Indonesia dan bazaar. Namun pasca terjadinya pengeboman di Masjid Istiqlal pada tanggal 19 April 1999 maka dilakukanlah pemagaran dan pembuatan pintu-pintu strategis pada tahun 1999.

Jumlah tangga menuju lantai shalat utama sebanyak 11 unit. Tiga diantaranya memiliki ukuran besar dan berfungsi sebagai tangga utama yaitu: satu unit berada disisi utara gedung induk, satu unit berada pada gedung pendahuluan yang dapat dipergunakan langsung menuju lantai lima, dan satu unit lainnya berlokasi di emper selatan menuju lantai utama, tangga-tangga ini memiliki lebar 15 meter.

Disamping itu terdapat 4 unit tangga dengan ukuran lebar 3 meter berlokasi pada tiap-tiap pojok gedung utama yang langsung menuju lantai lima dan di sudut-sudut teras raksasa.

Sarana dan Fasilitas

Ruang shalat utama luasnya satu hektare dapat menampung jamaah lebih dari 16.000 orang. Ruang tersebut ditambah balkon 4 tingkat dan sayap disebelah timur, selatan, dan utara sehingga luas seluruhnya menjadi 36.980 meter persegi atau sama dengan hampir 4 hektare yang berarti dapat menampung jamaah sekitar 61.000 orang.

1280px-Eid_ul-Fitr_prayer_Istiqlal_Mosque_women_section

Koridor keliling dipenuhi jemaah shalat Ied hari raya Idul Fitri

Di sebelah barat ruang shalat utama terletak mimbar yang diapit sebelah kiri dan kanannya oleh tembok berlapiskan marmer di mana terpajang kaligrafi Arab yang indah berbunyi: “Allah” (sebelah utara), “Laa Ilaha Illa Allah, Muhammad ar Rasulu Allah” (tengah), dan “Muhammad” (sebelah selatan).

Sarana Peribadatan

Karpet

Seluruh lantai utama masjid ditutupi oleh karpet merah sumbangan dari seorang dermawan Arab Saudi bernama Sheikh Esmail Abu Daud yang diserah terimahkan pada tanggal 3 Juni 2005. Karpet sebanyak 103 gulung ini berwarna merah terbuat dari bahan dasar wol.

Perawatan karpet tersebut dikerjakan secara manual, setiap hari dibersihkan dengan menggunakan alat vacum cleaner. Jumlah karpet penutup lantai utama 18 lembar, setiap lembarnya berukuran: panjang 25 meter dan lebar 4 meter, rata-rata beratnya 250 kg.

Rak Al Quran

Masjid Istiqlal juga menyediakan mushaf Al-Qur’an untuk dibaca oleh para jama’ah yang ditempatkan pada rak yang melingkar di 12 tiang yang terdapat pada lantai utama, setiap rak berbentuk setengah lingkaran yang terdiri dari dua tingkat terbuat dari bahan stainless steel.

Setiap rak dapat menampung 100 sampai 150 buah mushaf yang disediakan oleh BPPMI serta waqaf dari jamaah.

1203px-Istiqlal_Mosque_Reciting_Al_Quran

Umat muslim Indonesia tengah membaca Al Quran setelah menunaikan shalat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia. Indonesia memiliki jumlah umat muslim terbesar di dunia

Sketsel

Untuk pembatas antara tempat shalat bagi jamaah pria dan wanita dan batas area sholat rawatib, di lantai utama Masjid Istiqlal juga disediakan sketsel yang terbuat dari 20 modul dengan bahan stainless steel dan dari bahan kayu 20 modul dengan ukuran masing-masing 2 meter x 80 cm. Sketsel tersebut bersifat knock down yang bisa dipasang sesuai kebutuhan.

Sarana Olahraga

Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Menjaga kesehatan dengan berolahraga merupakan hal yang rutin dilakukan oleh siswa-siswi madrasah dan remaja Masjid Istiqlal.

Untuk mendukung berbagai macam program yang ada, BPPMI menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung seperti sarana olah raga yang representatif berstandart nasional dan internasional yang dibangun di pojok kiri bagian timur Masjid.

Pusat kegiatan olahraga ini berupa lapangan terbuka terdiri dari lapangan Futsal, Badminton, Bola Volly dan Basket. Lapangan olah raga ini berukuran 420 meter persegi, diresmikan penggunaannya oleh ibu Menteri Agama RI pada Tanggal 17 Januari 2009 M/20 Muharram 1430 H.

Tenaga Listrik

Tenaga listrik di Masjid Istiqlal difungsikan untuk:

  1. Penerangan
  2. Tenaga Hydrofour
  3. AC
  4. Sound system
  5. Air Mancur
  6. Alat eloktronik lainnya seperti TV, Komputer dll.

Penggunaan listrik untuk kebutuhan penerangan diseluruh areal Masjid Istiqlal baik di gedung ataupun di taman dan halaman serta pagar menggunakan layanan listrik dari PLN. Suplai listrik yang diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan satu gardu tersendiri yang menyiapkan central box berkapasitas 2.000 KVA.

Sebagai cadangan bila terjadi pemadaman dari pihak PLN, disiapkan juga dua buah mesin diesel atau generator berkekuatan 825 KVA dan 500 KVA. Selain untuk penerangan tenaga listrik ini juga dipergunakan untuk mesin-mesin Hydrofour dan AC di ruang perkantoran yang terdapat di lantai dasar masjid, rata-rata konsumsi listrik setiap bulannya adalah 1.750 KVA, dengan pembayaran rekening rata-rata sebesar Rp: 125.000.000/bulan.

Sistem Suara dan Multimedia

Untuk keperluan ibadah dan sarana informasi Masjid Istiqlal menggunakan sound system yang dikendalikan secara terpusat yang terletak pada ruang kaca bagian belakang lantai dua, dengan jumlah speaker sebanyak 200 chanel yang tersebar pada lantai utama.

Jumlah speaker yang terdapat pada koridor, gedung penghubung dan gedung pendahuluan sebanyak 158 chanel. Sound system dikendalikan oleh 26 amplyfire dan 5 (lima) buah mixer dan diawasi oleh enam orang yang bertugas secara bergantian baik siang ataupun malam hari.

Untuk mendukung kelancaran komunikasi pada waktu pelaksanaan ibadah dan kegiatan, di lantai utama juga telah dipasang system TV plasma sehingga akses informasi dpat diikuti secara merata oleh para jamaah yang berada diseluruh area ruang utama Masjid.

Pendingin Udara (AC)

AC difungsikan secara sentral yang meliputi seluruh perkantoran dan ruangan lain yang ada di lantai dasar. Untuk memenuhi kebutuhan AC ini didukung oleh empat buah mesin pendingin atau chiller.

Pendingin ruangan hanya digunakan bagi ruangan-ruangan kantor di lantai bawah dengan menggunakan sistem AC central dan AC split.

Untuk menambah kenyamanan beribadah bagi jamaah, sekarang ini ruang utama Masjid Istiqlal dilengkapi juga dengan 5 unit standing AC, masing-masing berkekuatan 5 PK dan sebelas unit AC celling berkekuatan masing-masing 5 PK, ditambah kipas angin berukuran besar.

Disamping itu pada ruangan perkantoran, ruang madrasah serta ruang VIP yang berada pada lantai dasar sistem pendinginnya juga menggunakan AC sentral yang digerakkan oleh empat unit mesin chiller dengan 300 buah fan coil unit yang tersebar pada setiap ruangan, karena termakan usia di beberapa ruangan ditemukan AC chiller sudah kurang berfungsi maka secara bertahap dilakukan penggantian dengan AC split.

Fasilitas Air, Ruang Wudhu, Kamar Mandi, WC

Keperluan air untuk bersuci di Masjid Istiqlal pada awalnya dari Perusahaan Air Minum (PAM). Sebagai cadangan untuk mengantisipasi kekurangan dan kerusakan maka dibuatlah 6 buah sumur artesis dengan kedalaman 100 M, menggunakan mesin berkekuatan 3 PK dan 3 fase berkapasitas 600 liter permenit dan didistribusikan ke tempat-tempat wudhu.

752px-Istiqlal_Mosque_Wudhu_(Ablution)

Tempat wudhu pria

Untuk kebutuhan air di tempat pembuangan air kecil digunakan delapa buah mesin Hydrofour, ditambah empat tangki Hydrofour berkapasitas 1400 liter. Mesin-mesin air tersebut menggunakan tenaga listrik sebanyak 15 PK.

Tempat wudhu terdapat di beberapa lokasi di lantai dasar yaitu di sebelah utara, timur maupun selatan gedung utama. Di setiap lokasi tersedia 100 unit tempat wudhu dengan kran air terbuat dari bahan stainless steel, tiap unitnya terdiri atas 6 buah kran maka jumlah kran seluruhnya sebanyak 600 buah. Berarti pada saat yang bersamaan dapat melayani 600 orang berwudhu sekaligus.

800px-Wudu_Istiqlal_Mosque

Tempat wudhu wanita

Sedangkan toilet terdapat di lantai dasar sebelah barat, selatan dan timur di bawah teras raksasa. Toilet ini sengaja dibangun terpisah dari tempat wudhu, hal ini dimaksudkan agar tempat yang bersih dan suci tidak berdekatan dengan tempat yang kotor. Disisi sebelah timur, dibawah emper masjid terdapat dua lokasi urinior yang berkapasitas 80 ruang.

Selain itu juga terdapat 52 kamar mandi dan WC, dengan rincian: 12 buah dibawah emper barat, 12 buah dibawah emper selatan dekat menara dan 28 buah dibawah emper sebelah timur. Keperluan air untuk wudhu, kamar mandi dan toilet ini setiap hari dipasok air dari PAM yaang berkapasitas 600 liter per menit.

Lift Bagi Penyandang Cacat

Mengingat Masjid Istiqlal sebagai sarana umum dan jamaah yang berkunjung juga terdapat diantaranya penyandang cacat dan jamaah lanjut usia. Karena itu bagi penyandang cacat yang akan menuju ke lantai dua dan lantai utama disediakan lift yang terletak di bagian selatan. Hal ini dalam rangka peningkatan pelayanan kepada para jamaah penyandang cacat dan lansia.

Keberadaan satu unit lift yang diperuntukkan khusus bagi jamaah penyandang cacat dan lansia ini adalah berkat bantuan pemerintah DKI Jakarta. Lift tersebut berkapasitas 6 orang dan dioperasikan pada waktu-waktu tertentu sesuai kebutuhan.

Lift ini terdapat di lokasi pintu Ar-Rahman dan dapat diakses melalui pintu gerbang depan kantor pusat pertamina.

Perpustakaan Islam

Firman yang pertama kali diturunkan-Nya dalam Al Quran adalah perintah membaca, melalui firman-Nya tersebut Allah memerintahkan manusia membaca sebagai jalan untuk menuntut ilmu. Jadi jika menutut ilmu memiliki kedudukan mulia, maka jalan kearahnya pun dengan membaca menjadi jalan yang mulia. Kesadaran akan pentingnya membaca sebagai jalan masuknya ilmu telah mendorong generasi terdahulu umat Islam untuk mendirikan fasilitas yang bisa menampung bahan bacaan karya-karya ulama Islam waktu itu.

Perpustakaan Islam Istiqlal, walaupun belum bisa mewakili jumlah besarnya koleksi buku seperti perpustakaan-perpustakaan Islam yang besar lainnya, mewakili fungsinya sebagai pusat keilmuan Islam. Perpustakaan Islam sendiri sudah mulai berkembang di Indonesia. Hampir di setiap masjid-masjid besar di Ibukota, telah dilengkapi dengan sarana perpustakaan.

Poliklinik

Ketika gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Bapak Sumarno pada tahun 1968 dimana Masjid Istiqlal masih dalam proses pembangunan, maka untuk membantu karyawan dalam pemeriksaan kesehatan, Gubernur Sumarno ketika itu meminta bantuan pihak RS Gatot Soebroto untuk turut serta membantu dalam bidang pelayanan kesehatan bagi seluruh pekerja dan karyawan proyek pembangunan Masjid Istiqlal. Pihak RS mengirimkan bantuan empat orang tenaga mantri secara bergiliran yaitu:

H.Abd.Hamid Ipang H.M.Sukiran Suster Yuyun Rahayu Suster Rosda Setelah proyek pembangunan masjid diserahkan kepada Sekretaris Negara pada tahun 1984 tenaga medis yang menangani pelayanan kesehatan tinggal dua orang yaitu H.Abd. Hamid Ipang dan H.M. Sukiran.

Sampai sekarang Masjid Istiqlal tetap menyediakan fasilitas berupa Poliklinik Umum. Poliklinik ini berada di bawah tanggung jawab dr. Khulushinnisak, MARS yang juga PNS Departemen Agama. Di Klinik ini karyawan dan para jamaah Masjid Istiqla bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan berbagai kemudahan. Klinik Istiqlal bertempat di lantai dasar Masjid Istiqlal Jl. Taman Wijaya Kusuma No.1, Jakarta Pusat.

Pelayanan Kesehatan yang diberikan berupa pemeriksaan dan konsultasi dokter umum serta obat-obatan generik. Bagi karyawan dan jamaah Masjid Istiqlal, dibebaskan biaya pemeriksanaan. Karyawan dan jamaah harus membawa kartu berobat (atau kartu identitas jika belum memiliki kartu berobat) agar dibebaskan dari biaya pemeriksaan dan konsultasi dokter.

Obat-obatan yang diberikan diutamakan dalam bentuk generik, dan bagi obat-obatan yang tidak ada dalam bentuk generik diutamakan penyediaan hasil produksi perusahaan farmasi nasional.

Jadwal pelayanan kesehatan bagi karyawan adalah setiap hari kerja :

Senin s/d Jum’at : 08.00 – 16.00, Hari sabtu dan Ahad tutup kecuali jika di Masjid Istiqlal diadakan acara hari-hari besar Islam atau acara-acara penting lainnya.

Sejak tahun 2003, pliklinik Masjid Istiqlal sudah dilengkapi oleh tiga orang tenaga dokter dan seorang paramedis, tiga orang tenaga dokter tersebut adalah dokter umum yang terdiri dari seorang dokter PNS Departemen Agama DPK, dua orang dokter Kememterian Agama dan seorang paramedis/mantri karyawan Masjid Istiqlal pensiunan dari RS Gatot Soebroto. Poliklinik Masjid Istiqlal juga dilengkapi alat untuk mengecek kadar gula darah dan kolestrol serta satu unit mobil ambulans.

Adapun obat-obatan yang tersedia di poliklinik ini adalah obat generik bagi penyakit ringan untuk membantu pada tahap pertolongan pertama, bila ada penyakit yang memerlukan pengobatan medis yang serius maka akan dirujuk ke RS. Gatot Soebroto atau RSCM.

Madrasah

Masjid ini menjadi pedoman dan teladan pengelolaan masjid di Indonesia, sehingga harus menjadi contoh dan model dalam pengelolaan masjid secara nasional. Dalam konsep pengelolaan masjid yang ideal, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus mejadi tempat pembinaan umat melalui berbagai macam kegiatan. Salah satu kegiatan yang sangat penting adalah pendidikan untuk pembinaan masyarakat atau umat baik pendidikan formal maupun non formal.

Telah diselenggarakan pendidikan formal di Masjid Istiqlal yang terdiri dari jenjang pendidikan: Kelompok bermain dan Raudhatul Athfal, Madarasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Bedug Raksasa

Pada waktu dulu masjid-masjid di Indonesia dilengkapi dengan bedug yang berfungsi sebagai tanda masuk waktu shalat. Bedug dipukul ketika waktu untuk shalat tiba, diikuti adzan.

BEDUG RAKSASA

Di Masjid Istiqlal bedug masih ada dan dilestarikan keberadaannya sebagai warisan budaya bangsa, saat ini bunyi bedug direkam kemudian diperdengarkan melalui pengeras suara sebelum adzan dikumandangkan. Bedug tersebut memiliki ukuran yang sangat besar, diletakkan di atas penyangga setinggi 3,80 meter, panjangnya 3,45 meter, dan lebarnya 3,40 meter. Semua terbuat dari kayu jati dari hutan Randu Blatung di Jawa Tengah.

Bedug Masjid Istiqlal panjangnya 3 meter, dengan berat 2,30 ton, bagian depan berdiameter 2 meter, bagian belakang 1,71 meter, terbuat dari kayu meranti merah (shorea wood) dari sebuah pohon berumur 300 tahun, diambil dari hutan di Kalimantan Timur, diawetkan menggunakan bahan pengawet superwolman salt D (fluoride, clirome, dan arsenate)

Dulu bedug di Masjid Istiqlal tersebut dipukul setiap hari Jumat, mendahului adzan Jumat yang dikumandangkan melalui pengeras suara. Belakangan ini suara bedug direkam kemudian diperdengarkan melalui pengeras suara sebelum adzan dikumandangkan. Walaupun fungsi beduk sudah dapat digantikan oleh pengeras suara, dalam menentukan tanda masuk waktu shalat, tetapi di Masjid Istiqlal, beduk masih dimanfaatkan. Beduk dipukul sebelum adzan. Selain itu beduk raksasa masjid ini juga berfungsi sebagai hiasan dan sekaligus melestarikan salah satu budaya Islam Indonesia.

Bedug

  • Garis tengah bagian depan : 2 meter
  • Garis tengah bagian belakang : 1,71 meter
  • Panjang : 3 meter
  • Berat : + 2,30 ton
  • Jenis kayu : Meranti Merah (Shorea) dari Kalimantan Timur
  • Umur pohon : + 300 tahun.

Kaki bedug (Jagrag)

  • Tinggi : 3,80 meter
  • Panjang : 3,45 meter
  • Lebar : 3,40 meter
  • Volume kayu  : + 3,10 meter kubik
  • Jenis kayu : jati (tectona grandis) dari Randublatung Jawa Tengah.
  • Ukiran : Jepara.

Ukiran pada Jagrag

Tulisan “Allah” di dalam segilima pada 4 tempat. Segi-lima melambangkan : 5 rukun Islam dan 5 waktu sholat.

Tulisan “Bismillahirrahmanirrahim” pada 2 tempat. Tulisan Kalimah Sahadat pada 4 tempat. Surya Sengkala (tahun Matahari) : 1978 dalam seni kaligrafi yang berbunyi :

  • Angesti = angka 8
  • Suwara = angka 7
  • Kusumaning = angka 9
  • Samadi = angka 1

Pada bagian-bagian jagrag seluruhnya terdapat 27 (dua puluh tujuh) ukiran Surya sengkala.

“Nanasan” dengan dua susun kelopak daun, masing-masing menunjukkan Angka 7 dan 8 (daun).

Ukiran pada Bedug

Ukiran surya Sengkala (tahun matahari) : 1978 dalam seni kaligrafi dengan pengertian sama dengan No.4. Pada kayu bedug terdapat 2 (dua) ukiran Surya Sengkala dilingkari segi lima. Dua buah kendit/sabuk dari logam kuningan terukir berfungsi sebagai hiasan. Pada kedua kendit terdapat 11 (sebelas) ukiran Surya Sengkala.

Bahan kayu

Kayu jagrag berbahan jati (tectona grandis) dari Randublatung Jawa Tengah. Bahan kayu bedug dari jenis Meranti Merah (Shorea) dari Kalimantan Timur, umur pohon diperkirakan 300 tahun, sumbangan dari Badan Pelaksana Pembangunan dan Pengelolaan Pengusahaan Proyek Taman Mini Indonesia Indah dan merupakan potongan batang pohon dari koleksi Taman Mini Indonesia Indah.

Bahan kulit

Bagian depan adalah kulit sapi jantan dari daerah Jawa Timur. Bagian belakang adalah kulit sapi betina jenis Santa Gertrudis, umur 2 tahun, sumbangan PT. Redjo Sari Bumi, Tapos, Bogor.

Bahan lainnya

  • Kendit/Sabuk : dari logam kuningan.
  • Gantungan : dari besi baja yang di verchroom.
  • Band penguat : (pada kedua ujung) dari baja anti karat (stainless steel).
  • Paku kulit : dari kayu sonokeling, 90 buah pada bagian depan dan 80Â buah pada bagian belakang.
  • Obat pengawet : Superwolmansalt D (fluoride, chrome, arsenate), konsentrasi larutan kl. 4%, masa rendam 6 (enam) hari.
  • Pemukul bedug : 4 (empat) buah dari kayu jati terukir.

Jagrag/kaki dikerjakan dalam waktu 25 hari, sedangkan bedug dalam 60 hari.

Koperasi Karyawan dan Jamaah Masjid Istiqlal (KOSTIQ)

Usaha Pengembangan KOSTIQ (Koperasi karyawan dan Jamaah Masjid Istiqlal), selain dapat memakmurkan masjid, juga sangat diharapkan mampu menciptakan dan meningkatkan kesejahtraan karyawan dan jamaah Masjid Istiqlal.

KOSTIQ telah diakui keberadaannya oleh badan hukum yang telah disahkan oleh Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil pada tanggal 19 Mei 1997 nomor 171/BHKWK.9/V/1997 serta anggaran rumah tangga yang disahkan pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) tanggal 31 Maret 2004. Pendirian Kostiq dimotori oleh para pengurus BPPMI, dalam rangka pemberdayaan potensi yang dimiliki oleh Masjid Istiqlal.

Salah satu tujuan KOSTIQ adalah ikut serta meningkatkan citra baik Masjid Istiqlal melalui kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Saat ini KOSTIQ telah banyak dimanfaatkan oleh para karyawan dan jamaah Masjid Istiqlal.

Pada awal berdirinya KOSTIQ mensepakati usaha yang dijalankan adalah pengadaan barang-barang kebutuhan sehari-hari, usaha yang sudah berjalan hingga saat ini adalah penjualan sembako. Untuk kebutuhan lainnya seperti barang-barang elektronik KOSTIQ menerapkan sistem kredit jangka pendek maksimun 12 bulan.

Disamping itu usaha yang benar-benar menjadi konsentrasi KOSTIQ adalah:

  • Usaha simpan pinjam
  • Usaha perdagangan umum
  • Usaha toko sembako dan elektronik serta usaha cetak foto yang sangat dibutuhkan oleh para pengunjung di Masjid Istiqlal
  • Usaha kerjasama khusus
  • Usaha jasa boga

Kegiatan KOSTIQ dipusatkan di kamar 58 Masjid Istiqlal, sebagai pusat administrasi usaha. Untuk toko penjualan sembako selama ini dipusatkan di pintu air sebelah utara Masjid Istiqlal sementara usaha wartel dan foto copy di area parkir timur pintu utama Masjid Istiqlal.

Koperasi Istiqlal mempekerjakan 6 (enam) orang tenaga staf yang terdiri dari tenaga bantuan dan tenaga staf penuh, jumlah angota sampai dengan 31 Desember 2008 adalah 261 orang. Pengurus Kostiq selalu berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pembinaan administrasi melalui pemanfaatan potensi pegawai dan saran perkantoran dengan segala keterbatasannya.

Imam dan Muadzin

Masjid Istiqlal mempunyai seorang imam besar, seorang wakil imam besar, dan tujuh orang imam. Sampai saat ini, Masjid Istiqlal memiliki empat imam besar. Imam Besar bertugas untuk mengawasi peribadatan di Masjid Istiqlal sesuai Syari’at Islam dan memberikan layanan konsultasi agama. Mereka adalah K. H. A. Zaini Miftah (1970-1980), K. H. Mukhtar Natsir (1980-2004), K. H. Nasrullah Djamaluddin (2004-2005)dan Imam Besar saat ini yang dijabat oleh Prof. Dr. K. H. Ali Musthafa Ya’qub, M. A. Dia adalah pengasuh Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah di Ciputat, Jakarta Selatan. Wakil Imam Besar dijabat Drs. H. Syarifuddin Muhammad, M. M. Dia adalah mantan Ketua Ikatan Penghafal al-Qur’an. Tujuh imam lainnya adalah:

  1. Drs. H. Ali Hanafiah
  2. H. Ahmad Husni Isma’il S. Ag.
  3. Drs. H. Muhasyim Abdul Majid
  4. H. Martomo Malaing AS, S. Q. , S. Th. I
  5. H. Ahmad Rofi’uddin Mahfudz, S. Q.
  6. Drs. H. Hasanuddin Sinaga, M. A.
  7. Drs. H. Dzulfatah Yasin, M. A.

Selain itu, Masjid Istiqlal juga memiliki tujuh orang muadzin yang bertugas mangumandangkan adzan dan memberikan pengajaran tentang Al-Qur’an dan agama Islam. Mereka adalah:

  1. Drs. H. Abdul Wahid
  2. H. Sayuti
  3. H. Muhammad Mahdi, S. Ag.
  4. H. Ahmad Achwani S. Ag.
  5. H. Hasan Basri
  6. H. Muhdori Abdur Razzaq, S. Ag.
  7. H. Saiful Anwar al-Bintani

Galeri

1024px-Istiqlal_Mosque Istiqlal2

1024px-Istiqlal_Interior 1024px-Eid_ul-Fitr_Family_Istiqlal_Mosque_Jakarta

1024px-Istiqlal_Mosque_Eid_ul_Fitr_Jamaah_4 masjid-istiqlal-laksanakan-dua-gelombang-shalat-tarawih-86556

image032 Hukum Berdiam Di Masjid Bagi Wanita Haidh, Abu Mujahidah

01 istiqlal.c6b7b7262abaa7d476637cc6ded984c6 MASJID-ISTIQLAL1

ISTIQLAL 001 ISTIQLAL 002 ISTIQLAL 003 ISTIQLAL 004 ISTIQLAL 005 ISTIQLAL 006

Source: Wikipedia

Read also:

.

A Tight Squeeze: Corinth Canal, Greece

AMAZING SITE

CORINTH CANAL 01

The famous Corinth Canal connects the Gulf of Corinth with the Saronic Gulf in the Aegean Sea. It cuts through the narrow Isthmus of Corinth and separates the Peloponnesian peninsula from the Greek mainland, thus effectively making the former an island.

The canal is 6.4 kilometers in length and only 21.3 meters wide at its base. Earth cliffs flanking either side of the canal reach a maximum height of 63 meters. Aside from a few modest sized cruise ships, the Corinth Canal is unserviceable to most modern ships.

The Corinth Canal, though only completed in the late 19th century, was an idea and dream that dates back over 2000 thousand years.

Before it was built, ships sailing between the Aegean and Adriatic had to circumnavigate the Peloponnese adding about 185 nautical miles to their journey.

The first to decide to dig the Corinth Canal was Periander, the tyrant of Corinth (602 BCE). Such a giant project was above the technical capabilities of ancient times so Periander carried out another great project, the diolkós, a stone road, on which the ships were transferred on wheeled platforms from one sea to the other.

Dimitrios Poliorkitis, king of Macedon (c. 300 BCE), was the second who tried, but his engineers insisted that if the seas where connected, the more northerly Adriatic, mistakenly thought to be higher, would flood the more southern Aegean.

At the time, it was also thought that Poseidon, god of the sea, opposed joining the Aegean and the Adriatic. The same fear also stopped Julius Caesar and emperors Hadrian and Caligula.

The most serious try was that of Emperor Nero (67 CE). He had 6,000 slaves for the job. He started the work himself, digging with a golden hoe, while music was played. However, he was killed before the work could be completed.

corinth-canal-13[2]

Will it pass?

In the modern era, the first who thought seriously to carry out the project was Capodistrias (c. 1830), first governor of Greece after the liberation from the Ottoman Turks. But the budget, estimated at 40 million French francs, was too much for the Greek state.

Finally, in 1869, the Parliament authorized the Government to grant a private company (Austrian General Etiene Tyrr) the privilege to construct the Canal of Corinth. Work began on Mar 29, 1882, but Tyrr’s capital of 30 million francs proved to be insufficient.

The work was restarted in 1890, by a new Greek company (Andreas Syggros), with a capital of 5 million francs. The job was finally completed and regular use of the Canal started on Oct 28, 1893.

Due to the canal’s narrowness, navigational problems and periodic closures to repair landslips from its steep walls, it failed to attract the level of traffic anticipated by its operators. It is now used mainly for tourist traffic. The bridge above is perfect for bungee jumping.

corinth-canal-2[3]

corinth-canal-15[5].corinth-canal-16[5]

corinth-canal-17[5]

corinth-canal-9[10]

corinth-canal-3[2]

corinth-canal-20[2]

corinth-canal-21[3]

corinth-canal-17[5]

corinth-canal-18[2]

CORINTH CANAL MAP

The Corinth Canal, Greece

From Wikipedia, the free encyclopedia

AMAZING SITE

Corinth Canal

The Corinth Canal (Greek: Διώρυγα της Κορίνθου, Dhioryga tis Korinthou) is a canal that connects the Gulf of Corinthwith the Saronic Gulf in the Aegean Sea. It cuts through the narrow Isthmus of Corinth and separates the Peloponnesefrom the Greek mainland, thus effectively making the former peninsula an island. The builders dug the canal through the Isthmus at sea level; no locks are employed. It is 6.4 kilometres (4 mi) in length and only 21.4 metres (70 ft) wide at its base, making it impossible for most modern ships. It now has little economic importance.

The canal was mooted in classical times and an abortive effort was made to build it in the 1st century AD. Construction finally got under way in 1881 but was hampered by geological and financial problems that bankrupted the original builders. It was completed in 1893 but, due to the canal’s narrowness, navigational problems and periodic closures to repairlandslides from its steep walls, it failed to attract the level of traffic expected by its operators. It is now used mainly for tourist traffic.

History

Ancient Attempts

Several rulers in antiquity dreamed of digging a cutting through the Isthmus. The first to propose such an undertaking was the tyrant Periander in the 7th century BC. The project was abandoned and Periander instead constructed a simpler and less costly overland portage road, named the Diolkos or stone carriageway, along which ships could be towed from one side of the isthmus to the other. Periander’s change of heart is attributed variously to the great expense of the project, a lack of labour or a fear that a canal would have robbed Corinth of its dominant role as an entrepôt for goods. Remnants of the Diolkos still exist next to the modern canal.

The Diadoch Demetrius Poliorcetes (336–283 BC) planned to construct a canal as a means to improve his communication lines, but dropped the plan after his surveyors, miscalculating the levels of the adjacent seas, feared heavy floods.

The philosopher Apollonius of Tyana prophesied that ill would befall anyone who proposed to dig a Corinthian canal. Three Roman rulers considered the idea but all suffered violent deaths; the historian Suetonius tells us that the Roman dictator Julius Caesar considered digging a canal through the isthmus but was assassinated before he could commence the project. Caligula, his successor as the third Roman Emperor, commissioned a study in AD 40 from Egyptian experts who claimed incorrectly that the Corinthian Gulf was higher than the Saronic Gulf. As a result, they concluded, if a canal was dug the island of Aegina would be inundated. Caligula’s interest in the idea got no further as he too was assassinated.

The emperor Nero was the first to actually attempt to construct the canal, personally breaking the ground with a pickaxe and removing the first basket-load of soil in AD 67, but the project was abandoned when he died shortly afterwards. The Roman workforce, consisting of 6,000 Jewish prisoners of war, started digging 40–50 m (130–160 ft) wide trenches from both sides, while a third group at the ridge drilled deep shafts for probing the quality of the rock (which were reused in 1881 for the same purpose). According to Suetonius, the canal was dug to a distance of four stades (approximately 700 metres (2,300 ft), in other words about a tenth of the total distance across the isthmus). A memorial of the attempt in the form of a relief of Hercules was left by Nero’s workers and can still be seen in the canal cutting today. Other than this, as the modern canal follows the same course as Nero’s, no remains have survived.

The philosopher and Roman senator Herodes Atticus is also known to have considered digging a canal in the 2nd century AD, but did not manage to get a project under way. The Venetians also considered it in 1687 after their conquest of the Peloponnese but likewise did not initiate a project.

Construction of the Modern Canal

The idea of a Corinth Canal was revived after Greece gained formal independence from the Ottoman Empire in 1830. The Greek statesman Ioannis Kapodistrias asked a French engineer to assess the feasibility of the project but had to abandon it when its cost was assessed at some 40 million gold francs—far too expensive for the newly independent country. Fresh impetus was given by opening of the Suez Canal in 1869 and the following year, the government of Prime Minister Thrasyvoulos Zaimis passed a law authorising the construction of a Corinth Canal. French entrepreneurs were put in charge but, following the bankruptcy of the French company that dug Panama Canal, French banks refused to lend money and the company went bankrupt too. A fresh concession was granted to the Société Internationale du Canal Maritime de Corinthe in 1881, which was commissioned to construct the canal and operate it for the next 99 years. Construction was formally inaugurated on 23 April 1882 in the presence of King George I of Greece.

Corinth_canal_inauguration_by_Volanakis

The Inauguration of the Corinth Canal (1893) by Konstantinos Volanakis. CLICK IMAGE TO ENLARGE

The company’s initial capital was some 30,000,000 francs, but after eight years of work it ran out of money and a bid to issue 60,000 bonds of 500 francs each flopped when less than half of the bonds were sold. The company’s head, the Hungarian István Türr, went bankrupt, as did the company itself and a bank that had agreed to raise additional funds for the project. Construction resumed in 1890 when the project was transferred to a Greek company, and was finally completed on 25 July 1893 after eleven years’ work.

The canal experienced financial and operational difficulties after completion. The narrowness of the canal makes navigation difficult; its high rock walls channel high winds down its length, and the different times of the tides in the two gulfs cause strong tidal currents in the channel. For these reasons, many ship operators did not bother to use the canal and traffic was far below what had been predicted. An annual traffic of just under 4 million net tons had been anticipated but by 1906 traffic had reached only half a million net tons annually. By 1913 the total had risen to some 1.5 million net tons, but the disruption caused by the First World War produced a major decline in traffic.

Canal_of_korinth_greece 1024

The Corinth Canal seen from the airCLICK IMAGE TO ENLARGE

Another persistent problem was due to the heavily faulted nature of the sedimentary rock, in an active seismic zone, through which the canal is cut. The canal’s high limestone walls have been persistently unstable from the start. Although it was formally opened in July 1893 it was not opened to navigation until the following November, due to landslides. It was soon found that the wake from ships passing through the canal undermined the walls, causing further landslides. This required further expense in building retaining walls along the water’s edge for somewhat more than half of the length of the canal, utilising some 165,000 cubic metres of masonry. Between 1893 and 1940, it was closed for a total of four years for maintenance to stabilise the walls. In 1923 alone, 41,000 cubic metres of material fell into the canal, which took two years to clear out.

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Aerial photograph of the Corinth Canal area (2011). CLICK IMAGE TO ENLARGE

Serious damage was caused to the canal during World War II, when it was the scene of fighting due to its strategic importance. On 26 April 1941, during the Battle of Greece between defending British troops and the invading forces of Nazi Germany, German parachutists and glider troops attempted to capture the main bridge over the canal. The bridge was defended by the British and had been wired for demolition. The Germans were able to surprise the defenders with a glider-borne assault in the early morning of 26 April and captured the bridge, but the British were able to set off the charges and destroy the structure. Other authors maintain that German pioneers did cut the cables, thus securing the bridge, and it was a lucky shell by British artillery that triggered the explosion.

Three years later, as German forces retreated from Greece, the canal was put out of action by German “scorched earth” operations. German forces used explosives to set off landslips to block the canal, destroyed the bridges and dumped locomotives, bridge wreckage and other infrastructure into the canal to hinder repair work. The United States Army Corps of Engineers began work to clear the canal in November 1947 and managed to reopen it for shallow-draft traffic by 7 July 1948, and for all traffic by that September.

Layout

The canal consists of a single channel 8 metres (26 ft) deep, excavated at sea level (thus requiring no locks), measuring 6,346 metres (20,820 ft) long by 24.6 metres (81 ft) wide at the top and 21.3 metres (70 ft) wide at the bottom. The rock walls, which rise 90 metres (300 ft) above sea level, are at a near-vertical 80° angle. The canal is crossed by a railway line, a road and a motorway at a height of about 45 metres (148 ft). In 1988 submersible bridges were installed at sea level at each end of the canal, by the eastern harbour of Isthmia and the western harbour of Poseidonia.

Although the canal saves the 700-kilometre (430 mi) journey around the Peloponnese, it is too narrow for modern ocean freighters, as it can only accommodate ships of a width of up to 17.6 metres (58 ft) and a draft of 7.3 metres (24 ft). Ships can only pass through the canal one convoy at a time on a one-way system. Larger ships have to be towed by tugs. The canal is nowadays mostly used by tourist ships; 11,000 ships per year travel through the waterway.

1143px-Isthmus_of_Corinth.svg

The location of the Isthmus of Corinth; the canal is shown in light blue. CLICK IMAGE TO ENLARGE

 

Khasiat Kunyit Asam

LOGO-ANDHIKA BLOG 01 50x50 LOGO-ADULT ONLY 50x50

manfaat kunyit asam

Indonesia merupakan negara yang kaya akan ramuan tradisional yang baik untuk kesehatan. Ramuan-ramuan tersebut bahkan masih tetap lestari hingga sekarang.

Salah satu jenis ramuan yang terkenal adalah kunyit asam. Mungkin ibu atau nenek Anda mengatakan bahwa ramuan ini berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam infeksi penyakit.

Namun selain khasiat tersebut, inilah khasiat lain dari mengonsumsi kunyit asam secara rutin seperti dilansir dari boldsky . com.

Detoksifikasi

Khasiat utama dari mengonsumsi kunyit asam adalah untuk membantu proses detoksifikasi di dalam tubuh. Kunyit memiliki kemampuan untuk mengeluarkan racun di dalam tubuh sehingga tubuh Anda pun akan lebih sehat.

Mengontrol berat badan

Bagi Anda yang ingin menjaga berat badan, konsumsilah minuman kunyit asam. Minuman ini mampu menekan nafsu makan Anda sehingga Anda pun terhindar dari keinginan mengonsumsi makanan secara berlebih.

Menyembuhkan infeksi tenggorokan

Kunyit memiliki sifat anti bakteri sehingga mampu membunuh bakteri penyebab infeksi. Kunyit juga mampu membersihkan tenggorokan Anda.

Painkiller

Selain memiliki sifat anti bakteri, kunyit juga memiliki sifat anti inflamasi. Sehingga minuman ini mampu menghilangkan rasa sakit atau pegal di tubuh.

Menyembuhkan infeksi kulit

Infeksi kulit karena luka bakar, cedera, atau terpapar sinar matahari secara berlebihan dapat disembuhkan dengan rutin meminum kunyit asam. Hal ini disebabkan karena sifat anti inflamasi di dalam kunyit.

Mencerahkan kulit

Karena kunyit mampu menghilangkan racun di dalam tubuh, maka hal ini juga akan berdampak positif bagi kulit. Dengan rajin mengonsumsi kunir asam, maka Anda akan memiliki kulit yang bersih dan cerah.

Cara membuat jamu kunyit asam

Bahan :
1/2 Kg Kunyit
1/4 Gula jawa
1/2 Kg asam jawa
2 Liter Air
Sepucuk Sendok teh garam

Cara Membuat :

Bersihkan kunyit lalu diparut atau blender. Kemudian kunyit yang telah halus di saring dan diambil sari/airnya.
Rebus air perasan kunyit dengan menambahkan asam, gula dan garam sampai campuran benar-benar mendidih (sambil di aduk-aduk).
Bila telah mendidih, angkat dan dinginkan.
Jamu kunyit asem siap untuk diminum, bisa juga ditambahkan es batu.

Daripada mengonsumsi obat-obatan kimia, lebih baik beralihlah pada ramuan herbal. Salah satunya adalah mengonsumsi kunyit asam dan dapatkan banyak manfaatnya.

Tips Agar Wanita Mencapai Klimaks

 PASUTRI 150

SUSAH MENCAPAI KLIMAKS? COBA LAKUKAN INI!

Banyak wanita mengeluh susah mencapai klimaks ketika bercinta. Menurut sebuah penelitian, stres dan depresi adalah salah satu faktor utama penyebab wanita gagal orgasme. Jika Anda juga mengalami masalah serupa, coba lakukan tips seperti yang dilansir dari Prevention berikut ini.

Posisi seks

Ganti posisi seks lain ketika bercinta. Misalnya mengubah misionaris menjadi wanita di atas. Dengan mengeksplorasi hal baru, pasangan tentu bisa lebih mudah mencapai klimaks. Posisi ‘Angkat Bokong’ (Bum Lift Sex Position)

Jangan berpikir

Terkadang pasangan terlalu serius memikirkan masalah pekerjaan, anak, atau tagihan listrik. Pikiran itu akhirnya mengganggu konsentrasi bercinta dengan pasangan.

Gangguan sekitar

Matikan televisi ketika bercinta, kunci pintu, jauhkan binatang peliharaan dan gangguan lainnya di sekitar ranjang. Hal ini dilakukan agar pasangan bisa fokus memuaskan dan mencapai kenikmatan.

Foreplay

Foreplay terlalu sebentar juga bisa menjadi penyebab pasangan susah mencapai klimaks. Jika ini masalah utamanya, jatah foreplay bisa ditambah untuk merangsang pasangan.

Penetrasi

Orgasme bisa terjadi jika penetrasi dilakukan secara maksimal. Caranya adalah dengan meletakkan bantal di atas pinggul sehingga penetrasi lebih maksimal dan membuat pasangan meraih klimaks.

Itulah beberapa cara ampuh yang bisa dilakukan untuk meraih orgasme. Semoga bermanfaat!

 

 

.

Tips 8 Langkah Tetap Mesra dengan Istri

PASUTRI 150

HAPPY WOMAN 800x600

Tidak ada salahnya melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan pada aktifitas seksual antara Anda dan pasangan. Terbayang tidak serunya apabila, kegiatan intim diranjang bersama pasangan menjadi satu rutinitas saja. Padahal dikeseharian kehidupan kita tak pernah luput dari rutinitas. Dari kemacetan hingga pekerjaan kantor. Tidak ada salahnya sedikit meramu aktifitas ditempat tidur dengan pasangan menjadi lebih bervariasi. Beberapa langkah yang mungkin bisa dilakukan antara lain:

  • Siapkan makan malam romantis atau kenakan pakaian yang menggoda sebagai isyarat

Aktifitas seksual ditempat tidur tidak harus selalu dimulai diatas tempat tidur kan? Memulainya dengan menyiapkan makan malam romantis bisa menjadi satu alternatif memulai aktifitas seksual Anda dengan pasangan. Tidak perlu membayangkan makan malam yang complicated. Kalau Anda biasa melakukan makan malam bersama dengan anak-anak dan anggota keluarga lainnya, usahakan makan malam kali ini hanya antara Anda dan pasangan. Pilih tempat yang yang tidak biasanya untuk makan malam romantis kali ini. Teras belakang mungkin bisa jadi pilihan. Sessi membangun suasana ini bisa dijadikan awal aktifitas seksual Anda dengan pasangan.

KINSLEY RED 1-horz

  • Nyalakan lilin aroma dan taburkan mawar ditempat tidur untuk lebih membangkitkan sensasi sensual antara Anda dan pasangan

Salah satu kunci melakukan aktifitas seksual tanpa harus merasa menjadi rutinitas adalah dengan melakukan sesuatu yang tidak biasa tiap kali Anda dan pasangan akan melakukan hubungan seksual. Kalau hanya melakukan hubungan seksual diatas tempat tidur mungkin hal ini menjadi satu hal yang biasa. Tapi apabila ditambah dengan aromaterapi yang ditaruh disudut ruangan akan menjadi satu hal yang tidak biasa.

artikel-4candles

  • Pancing imajinasi pasangan dengan mengajaknya berdiskusi seputar fantasi seksual yang pernah dibayangkannya dengan memberikan pijatan mesra

Salah satu hal yang seringkali terjadi adalah jarang sekali ada pasangan yang mau mendiskusikan mengenai keinginan-keinginan yang berkaitan dengan aktifitas seksual yang diinginkan. Jangan harap Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan dalam hal aktifitas seksual apabila Anda tidak membicarakannya dengan pasangan Anda. Berikan pijatan mesra sambil membicarakan fantasi seksual yang ada dikepala Anda dan tanyakan pada pasangan mengenai fantasi seksual apa yang ada dikepalanya. Tentu saja setelah sebelumnya Anda dan pasangan sama-sama menyepakati tidak akan ada masalah setelahnya.

  • Jika Anda dan pasangan sudah merasa siap, mulailah melakukan hubungan seksual dengan saling memberikan ciuman mesra selama kurang lebih 10 detik

Ciuman mesra 10 detik saja ketika Anda akan memulai aktifitas seksual akan memberikan suasana lebih mesra antara Anda dan pasangan. Lakukan hal ini setiap kali Anda dan pasangan memulai satu aktifitas ranjang Anda.

extenze-male-enhancement-man-woman-kissing-on-bed

  • Lanjutkan dengan pemanasan! Ingatlah untuk melakukannya secara perlahan dan santai. Penting bagi Anda dan pasangan untuk menikmatinya

Masih ingat pada malam pertama Anda? Beberapa merasa hal ini adalah sesuatu yang buruk. Karena biasanya aktifitas seksual yang dilakukan terasa terlalu terburu-buru tanpa ada pemanasan atau foreplay terlebih dahulu. Seperti lagu yang tiba-tiba saja masuk ke bagian tengah tanpa ada intro terlebih dahulu. Tidak enak kan? Begitu juga dengan aktifitas seksual tanpa pemanasan. Selalulah memulai dengan pemanasan. Meminta atau bertanya pada pasangan mengenai perlakuan apa yang kita inginkan pada aktifitas pemanasan ini. Ketika melakukannya, nikmati saja tanpa harus terburu-buru.

143229073688853ad9

  • Percaya atau tidak, pasangan selalu menantikan ekspresi Anda saat mencapai klimaks. Ini akan membantunya bereaksi terhadap Anda.

Pasangan Anda menantikan ekspresi Anda untuk memastikan apakah apa yang dilakukannya untuk menyenangkan dan membuat Anda merasa puas cukup berhasil. Jadi, untuk tetap mesra disaat-saat selanjutnya, tunjukkan ekspresi Anda dihadapan pasangan. Kalau ternyata apa yang dilakukan pasangan Anda tidak terlalu Anda nikmati, sampaikan hal ini secara hati-hati. Katakan “aku lebih senang kamu usap bagian punggung dengan lebih lembut” sambil membawa tangan pasangan Anda ke area dimana Anda ingin disentuh.

article-2384870-1B2880DF000005DC-293_468x286 orgasm2

  • Setelah selesai melakukan hubungan seksual jangan lupa untuk memberinya kecupan dan mengatakan “I Love You” sebagai ungkapan kasih sayang.

Berikan kalimat mesra selesai Anda melakukan aktifitas seksual dengan pasangan. Kalimat mesra ini akan menjadi bumbu yang membuat hubungan Anda dengan pasangan semakin manis.

AFTER SEX

  • Buatlah eksperimen dan kreasi berbeda agar saat-saat berhubungan seksual bersama pasangan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.

Satu kunci lagi agar hubungan Anda dengan pasangan tidak terjebak pada rutinitas adalah dengan membuat kejutan-kejutan untuk aktifitas seksual Anda. Mengirimkan sms mesra untuk merencanakan agenda malam Anda akan menjadi surprise menyenangkan untuk pasangan.