Cerita Sunan Ampel – Asal Usul Sayyid Ali Rahmatullah

WALI SONGO

LOGO-ANDHIKA BLOG 01 70x70 AMAZING PEOPLE 01-70x70

Pada cerita Wali Songo kali ini akan mengulas mengenai cerita Sunan Ampel. Ia merupakan putra dari Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Ibrahim adalah seorang Ulama yang berasal dari Samarkand, Asia Tengah. kawasan ini melahirkan beberapa Ulama Besar, seperti Imam Bukhari, Perawi Hadits. Silahkann simak cerita sunan ampel di bawah ini :

Sunan AmpelMenurut buku kisah teladan Wali Songo, di samarqand, ada seorangulama besar bernama Syekh Jamaluddin jumadil Kubra, seorang ahlussunnah bermadzhab Syafi’i. Ia mempunyai putra bernamaIbrahim yang kemudian mendapat tambahan nama samarqandi karena berasal dari samarqand. Orang jawa sangat sukar mengucapkan samarqandi, maka mereka hanya menyebutnya sebagaiSyekh Ibrahim Asmarakandi.

Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya, Syekh Jamaluddin jumadil Kubra, untuk berdakwah ke negara-negara asia. Perintah ini pun dilaksanakan, lalu ia diambil menantu oleh raja cempa di muangthai. Ia dijodohkan dengan Putri Raja Cempa yang bernamaDewi Candrawulan.

Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan, lahirlah dua orang putra, yaitu raden Ali Rahmatullahatau Sayyid Ali Rahmatullah dan Raden Santri atau Sayyid Ali Murtadho. Sementara itu, adik Dewi Candrawulan yang bernama dewi dwarawati dipersunting oleh Prabu Brawijaya dari Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmatullah masih Keponakan Raju Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan.

Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari Negeri Cempat yang wajahnya tidak kalah cantik dengan Dewi Sari, putri Raja Cermain, penguasaan kerajaan Gedah Aliash Kedah di Malaysia, sehingga para istrinya yang lain diceraikan. Seluruh bekas istrinya diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara untuk dinikahi. Karena Dewi Dwarawati tidak mau dimadu, sehingga para istri Prabu Wijaya harus mencerraikan istri-istrinya yang lain.

Salah satu istri Prabu Brawijya yang bernama Dewi Kian, seorang putri Cina, diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang. Saat itu, ia sedang hamil tiga bulan ketika diceraikan dan diberikan kepada Ario Damar. Sehingga Ario Damar tidak diperkenankan untuk menggauli putri Cina itu sampai ji jabang bayi terlahir ke dunia. Bayi yang lahir dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan, atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Patah, salah satu murid Sunan Ampel yang menjadi Raja di Demak Bintoro.

Syekh Ali Rahmatullah diperkirakan lahir pada tahun 1420 M. Sebab, sebuah sumber sejarah menyebutkan bahwa ia berusia 20 tahun ketika berada di Palembang pada tahun 1440 M. sebelum singgah ke Jawa, ia memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang yang bernama Ario Damar pada tahun 1440 M. selama tinggal di Majapahit, ia dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila atau Dewi Candrawati, putri Prabu Brawijaya; penguasa Majapahit waktu itu. Sejak saat itu, ia pun semakin disegani masyarakat.

Kisah Kemrosotan Moral Bangsawan dan Rakyat di Majapahit

Cerita sunan Ampel – Kerajaan majapahit mengalami kemunduran setelah ditinggalkan maha Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk. Kerajaan terpecah karena terjadi perang saudara dan para adipati banyak yang tidak setiap kepada Prabu Brawijaya. Banyak pajak dan upeti kerajaan yang tidak sampai ke istana Majapahit. Sebab, semua itu lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri.

Hal tersebut membuat hati Prabu Brawijaya sedih, terutama terhadap kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora, bermain judi dan mabuk-mabukan, ia sadar betul bila kebiasaan semacam itu diteruskan, maka dikawatirkan negara akan menjadi lemah, dan jika negara sudah kehilangan kekuatan, maka betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan kerajaan majapahit.

Ratu Dwarawati, yang merupakan istri Prabu Brawijaya, mengetahui kegelisaan hati suamnya dengan memberanikan diri, ia mengajukan kepada suaminya.

“Kanda Prabu, agaknya para pejabat dan rakyat Majapahit sudah tidak takut lagi kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan). Mereka tidak segan dan malu melakukan tindakann yang tidak terpuji. Mereka suka berpesta pora, berfoya-foya, mabuk-mabukan, dan judi sudah menjadi kebiasaan mereka. Bahkan, para pangeran dan kaum bangsawan sudah mulai ikut-ikutan. Sungguh berbahaya bilamana hal ini dibiarkan terus menerus. Kerajaan bisa rusak karena hal tersebut, Kanda prabu, Kata Ratu Dwarawati.

“Ya, hal itulah yang membuatku risau selama ini,” Sahut Prabu Brawijaya “Lalu, apa tindakan Kanda Prabu?” tanya istrinya

“Aku masih bingung,” kata sang prabu. Lanjutnya, “Aku sudah mengusahakan nuntuk menambah para guru agar mendidikan dan memperingatkan mereka, tapi kelakuan mereka masih tetap seperti semula. Bahkan para guru agama hindu dan budha itu dianggap sepele”

“Kanda prabu, saya mempunyai keponakan yang ahli dalam hal mengaatasi kemerosotan budi pekerti,” kata Ratu Dwarawati. “Batulkan?” tanya sang prabu

“Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan, saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini”

Pada suatu haru, sesorang utusan diberagkatkan dari Majapahit menuju negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Adapun negeri Cempa ini terletak diMuangthai. Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh Raja Cempa. Ia tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman. Tentu saja, keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke tanah Jawa tidak sendirian. Ia juga ditemani oleh ayah dan kakaknya. Ayah Sayyid Ali Rahmatullah bernama Syekh Maulana Ibrahmi Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho.

Menurut sebuah riwayat, mereka diduga tidak langsung singgah ke Majapahit, melainkan mendarat di tubhan. Sebab, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia di Tuban, tepatnya di desa Gesikharjo, kemudian beliau dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang, kabupaten Tuban.

Akhirnya, Asyyid Ali Murtadho segera meneruskan perjalanan, ia berdakwah keliling daerah Nusa Tenggara, Madura, hingga ke Bima. Disana ia mendapat sambutan Raja Pandita Bima. Dan akhirnya ia berdakwah di Gresik, sehingga dikenal dengan sebutan Raden Santri. Ia juga wafat dimakamkan di Gresik.

Sementara itu, Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.

“Nanda Rahmatullah, bersedikah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerja mulia?” tanya sang prabu. Dengan sikapnya yang sopan, Sayyid Ali Rahmatullah menjawab “Dengan senan hati gusti prabu, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan kemampuan saya dalam mendidik mereka”

“Bagus, sahut sangat prabu. lanjutnya, “Jika demikian, aku akan memberimu hadiah sebidang tanah dan bangunannya di surabaya. Di sanalah kamu akan mendidik para bangsawan dan pangeran majapahit agar berbudi pekerti mulia

“saya haturkan terima kasih Gusti Prabu ” jawab Sayyid Ali Rahmatullah.

Sayyid Ali Rahmatullah diberi hadiah tanah di ampeldenta, surabaya. Sejumlah tiga ratus keluarga diserahkan untuk dididik, lalu mereka mendidikan pemukiman di Ampel. Meski prabu wijaya menolak masuk islam. Sayyid Ali Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam kepada warga Majapahit dengan syarat tanpa paksaan. Sayyid Ali Rahmatullah inilah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel.

Sayyid Ali Rahmatullah (sunan ampel) berangkat ke Ampel

Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Sayyid Ali Rahmatullah ke ampel, Surabaya. Mereka berangkat dari trowulan, ibu kota Majapahit, melewati Desa krian, Wonokromo, berlanjut ke desa Kembang Kuning. di sepanjang perjalan ia terus melakukan dakwah.

Ternyata, cara dakwah Sayyid Ali Rahmatullah tergolong cukup unik karena membagi bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup membalas dengan mengucapkansyahadat. Karena itu pengikutnya pun semakin hari semakin bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, ia membangun langgar (mushola) sederhana di Kembang Kuning, sejah delapan kilometer dari kota Ampel di Surabaya.

Sering perkembangan zaman, langgar ini menjadi besar, megah dan bertahan sampai sekarang, yang kemudian diberi nama masjid Rahmat. Sayyid Ali Rahmatullah setiba di Ampel, maka langkah pertamanya adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian iamembangun pesantren mengikuti model maulana Malik Ibrahim di Gresik. Dan, bentuk pesantren nya mirip biara yang sudah dikenal masyarakat.

Sayyid Ali Rahmatullah memang dikenal memiliki kepekaan menyesuaikan diri. Caranya menanamkanakidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kata “Sholat” diganti “sembahyang” yang berasal dari kata “sembah” dan “hyang”. Tempat ibadah tidak dinamai mushola, tapi “Langgar: yang mirip kata “sanggar”.

Penuntut ilmu disebut santri yang berasal dari kata “Shastri”, maksudnya adalah orang yang tahu buku suci agama hindu. Selain itu, setiap orang, baik bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri kepada dirinya. Dari sinilah sebutan “Sunan Ampel” mulai disematkan kepadanya.

Source:

Cerita Islami, By Gunawan – February 12, 2013

.

Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar

WALI SONGO

Pondo Pesantren Walisongo

Latar Belakang Sejarah Pra Berdirinya Pondok Pesantren Wali Songo

Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, penyiaran agama Islam pada umumnya mengalami hambatan dan kesulitan. Demikian halnya di Desa Ngabar yang keadaannya masih sangat mundur, baik di bidang ekonomi, pendidikan maupun sosial budaya, terutama di bidang pengamalan agama Islam. Berjudi, minum candu dan minum-minumam keras adalah di antara perbuatan munkar yang biasa dilakukan. KH Mohammad Thoyyib salah seorang penduduk Desa Ngabar yang alumnus Pondok Pesantren Salafiyah, bercita-cita dan berkemauan keras untuk menunjukkan masyarakatnya ke jalan lurus, jalan yang mestinya mereka lalui, yakni jalan Allah SWT.

Untuk mewujudkan cita-citanya yang luhur itu, halangan demi halangan, kesulitan demi kesulitan beliau singkirkan dengan perjuangan yang sangat gigih. Beliau berpendapat bahwa jalan pendidikan adalah jalan yang paling tepat untuk melaksanakan tujuan mulianya itu. Dengan kesadaran ini, dimasukkannya putra-putranya di Pondok-Pondok Pesantren Salafiyah yang berada di Ponorogo, seperti Pondok Pesantren Joresan dan Pondok Pesantren Tegalsari. Kemudian untuk penyempurnaan pembinaan kader-kader ini dimasukkannya putra-putranya ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Daiajak pula kawan seperjuangannya untuk turut serta mengkaderkan putranya ke pondok-pondok tersebut

Langkah berikutnya, pada tahun 1946 didirikan Madrasah Diniyah yang ditangani oleh: Ahmad Thoyyib, Ibrohim Thoyyib, Imam Badri dan kawan-kawan yang lain. Madrasah Diniyah yang masuk sore hari ini, kemudian diubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah dan masuk pada pagi hari. Sebagai kelanjutannya pada tahun 1958 didirikan Madrasah tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Setelah Madrasah ini berjalan 3 (tiga) tahun (1961) diselenggarakan sistem pendidikan Pondok Pesantren yang diberi nama Wali Songo.Pondok Pesantren Wali Songo ini didirikan oleh KH Mohammad Thoyyib, yang dibantu oleh para putera dan sahabat-sahabatnya, pada hari Selasa tanggal 18 Syawal 1380 H, bertepatan dengan 4 April 1961 M.Pondok Pesantren ini diberi nama: “Pondok Pesantren Wali Songo” karena:

  1. Santrinya yang pertama kali mondok berjumlah sembilan orang yang datang dari Jawa dan dari luar Jawa.
  2. Optimisme agar para santri setelah selesai mondok dapat mengembangkan Dakwah Islamiyah Optimisme agar para santri setelah selesai mondok dapat mengembangkan Dakwah Islamiyah sebagaimana diemban oleh para da’i terdahulu, yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar ini adalah lembaga pendidikan Islam tempat menggembleng pemuda dan pemudi Islam dengan berbagai pendidikan dan pengajaran, termasuk ilmu-ilmu agama maupun umum. Semenjak awal berdirinya sampai sekarang dan seterusnya, bebas dari afiliasi dengan partai-partai politik dan golongan-golongan.

Pondok Pesantren Wali Songo ini terletak di Desa Ngabar, Kecamatan Siman, KabupatenPonorogo Propinsi Jawa Timur, pada kilometer tujuh arah selatan kota Ponorogo.

Ikrar Wakaf

Dalam sejarahnya Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar ini didirikan oleh Kiai Pendiri (KH Mohmmad Thoyyib). Setelah Pondok ini berjalam 19 tahun dan menjadi besar, maka pendiri meng-“Ikrarwakafkan” Pondok ini kepada umat Islam untuk kepentingan Pendidikan Islam. Dengan ikrar wakaf ini diharapkan kelangsunga hidup dan perkembangan Pondok ini di masa yang akan datang menjadi lebih terjamin.

Pada hari Ahad; 22 Sya’ban 1400 H, bertepatan dengan 6 Juli 1980 M, KH Ahmad Thoyyib dan KH Ibrohim Thoyyib mengikrarkan bahwa Pondok Pesantren Wali Songo dengan segala kekayaan yang dimilikinya sebagai “Wakaf Untuk Pendidikan Islam”. Untuk itu ditunjuk 15 (lima belas) orang dariKeluarga Besar Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar untuk bertindak sebagai Nadzir atas wakaf tersebut, dengan amanat Supaya Pondok Pesantren Wali Songo:

  1. Menjadi lembaga pendidikan yang tunduk kepada hukum Islam, berkhidmat kepada masyarakat menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
  2. Menyelanggarakan lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak, Ibtidaiyah, Mu’allimin dan Mu’allimat dan apabila sudah memungkinkan Pendidikan Tinggi.
  3. Mejadi Lembaga Pendidikan Islam yang berjiwa pondok pesantren dengan mengutamakan arah pendidikannya kepada: Taqwa kepada Allah, beramal soleh, berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berfikiran bebas dan berwiraswasta.
  4. Menjadi tempat beramal untuk meninggikan Kalimat Allah.
  5. Tidak berafiliasi kepada partai politik atau golongan apapun.

Diamanatkan pula agar Nadzir dalam waktu sesingkat-singkatnya mendirikan Yayasan yang berbadan hukum bernama “Majlisu Riyasatil Ma’had” sebagai lembaga tertinggi dalam struktur organisasi Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar dan sebagai pelaksana amanat wakif yang tercantum dalam Piagam Ikrar Wakaf. Dengan berdirinya lembaga berbadan hukum ini struktur organisasi di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar diperjelas. Fungsi dan wewenang masing-masing lembaga dibuat sepilah dan sejelas mungkin sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara fungsi dan wewenang lembaga-lembaga yang ada.

Termasuk juga telah dibuat aturan yang jelas tentang mekanisme pergantian kepemimpinan di Pondok Pesantren Wali Songo, yang dengan demikian kelangsungan hidup Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar dapat lebih dijamin dan dipertanggung jawabkan.

Yayasan Penyelengara

Lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Wali Songo adalah yayasan bernama “Majlisu Riyastil Ma’had Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar” dengan akte Notaris Widyatmoko, SH. Nomor 04, tanggal 13 Juli 1998. Terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Ponorogo nomor: 10/Pr/Non./1998.

Yayasan Majlisu Riyasatil Ma’had Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar adalah lembaga berbadan hukum yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta usaha-usaha lain di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar

Program Pendidikan Dan Lembaga-Lembaga Di PPWS Ngabar

A. Sistem Pendidikan

Sistem Pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar menggunakan program formal terpadu (terpadu antara pendidikan formal dan nonformal, keilmuan Agama Islam dan Umum, akademis dan kemasyarakatan); berasrama dengan didukung oleh pembinaan intensif dan proporsional di dalam dan di luar kelas selama 24 jam. Ustadz, Ustadzah dan kanselor hampir semuanya berlatar belakang pendidikan pesantren (Wali Songo Ngabar, Pondok Modern Gontor dll), serta berbagai sarjana lulusan perguruan tinggi di dalam atau di luar Negeri.

B. Jenjang Pendidikan

Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar adalah lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang di dalamnya terdapat jenjang-jenjang pendidikan formal dengan sistem klasikal. Melalui jenjang-jenjang pendidikan yang ada para santri-santri tidak hanya mendapatkan pendidikan agama tetapi juga mendapatkan pendidikan umum yang memadai.
Jenjang pendidikan yang ada meliputi:

  1. Jenjang pra sekolah: Tarbiyatul Athfaal al-Manar (tidak berasrama)
  2. Madrasah Ibtidaiyah Mamba’ul Huda (berasrama/tidak berasrama; setingkat SD; 6 tahun)
  3. Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (khusus putra; 6 tahun bagi tamatan SD dan 3 atau 4 tahun bagi tamatan M.Ts./SLTP; berasrama; pendidikan formal setingkat MTs/SLTP dan MA/SMU)
  4. Tarbiyatul Mu’allimat al-Islamiyah (khusus putri; 6 tahun bagi tamatan SD dan 3 atau 4 tahun bagi tamatan M.Ts./SLTP; berasrama; pendidikan formal setingkat MTs/SLTP dan MA/SMU).
  5. Istitut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin (jenjang S-1; Fak. Dakwah, Syari’ah, Tarbiyah; berasrama)

C. Lembaga-Lembaga Penunjang Pendidikan

Di samping lembaga-lembaga pendidikan tersebut, terdapat lembaga-lembaga lain:

  1. Majlisu Riyasatil Ma’had; Yayasan sebagai lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar dan pelaksana amanat wakif yang tercantum dalam Piagam Ikrar Wakaf tanggal 22 Sya’ban 1400 H/6 Juli 1980 M.
  2. Yayasan Pemeliharaan dan Pengembangan Wakaf Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar. Bertugas:
    1. Memelihara, menyempurnakan dan mengembangkan segala usaha Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, dalam bidang materiil, untuk tercapainya tujuan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, terlakksana menjadi suatu lembaga pendidikan Islam yang bermutu tinggi dan bermanfa’at bagi masyarakat Indonesia umumnya dan tetap berjiwa pondok.
    2. Melanjutkan dan menyempurnakan segala usaha yang telah dirintis oleh pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar di bidang materiil, baik benda tetap maupun benda bergerak, sehingga memenuhi hajat Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, sesuai dengan perkembangannya.
  3. Majlis Pembimbing Santri (MPS) Putra. Bertugas dalam bidang pengasuhan dan pembinaan santri putra dalam kegiatan luar sekolah.
  4. Majlis Pembimbing Santri (MPS) Putri. Bertugas dalam bidang pengasuhan dan pembinaan santri putri dalam kegiatan luar sekolah.
  5. Himpunan Alumni dan Keluarga Pondok Pesantren Wali Songo (HAKPW) dengan cabang-cabangnya di dalam dan di luar Negeri. Bertanggung jawab dalam bidang pembinaan alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar.

D. Pendidikan Komputer Dan Bahasa

Dalam rangka memperkaya dan memperluas bekal bagi masa depan santri-santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar didirikan “Lembaga Pendidikan Komputer Wali Songo (LPKWS)” dimana melalui lembaga ini para santri mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan dasar tentang komputer dan Internet. Di samping itu, melalui pendidikan komputer tersebut juga dapat dijadikan sarana untuk memperluas wawasan dan menambah media belajar bagi santri-santri.

Di samping pendidikan komputer, kepada santri-santri juga diharuskan untuk menguasai beberapa bahasa asing yang menjadi prasyarat mutlak untuk pengembangan kemampuan ilmiah mereka.

Dalam hal pendidikan bahasa ini, di samping dilaksanakan melalui pendidikan kurikuler di kelas; juga dibuatkan “Laboratorium Hidup” dengan mengharuskan setiap santri untuk menggunakan bahasa-bahasa asing tersebut menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Dengan demikian akan tercipta lingkungan berbahasa yang menjadikan bahasa-bahasa asing tersebut menjadi bahasa ibu. Melalui cara inilah kemampuan berbahasa dapat dikembangkan dengan mudah.

Sarana pendidikan bahasa asing yang masih sangat diharapkan untuk dimiliki adalah “Laboratorium Bahasa” yang memadai. Bahasa asing yang sangat ditekankan untuk dikuasai oleh santri-santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar adalah:

  1. Bahasa wajib untuk setiap santri: Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
  2. Bahasa penunjang dan bersifat elektif bagi santri yaitu: Bahasa Jerman dan (sedang diusahakan) Bahasa Jepang.

E. Kegiatan-Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler meliputi:

  • Latihan Kepemimpinan (Kepengurusan Organisaasi);
  • Kepramukaan;
  • Tahfidzul Qur’an;
  • Jam’iyyatul Qurra’;
  • Lembaga Bahasa;
  • Muhadloroh (latihan pidato bahasa Arab, Inggris dan Indonesia);
  • Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD);
  • Olah Raga;
  • Kesenian;
  • Kursus Komputer;
  • Amaliyah Tadris (praktek Mengajar).

Source:

  • Direktorat Pendidikan Dinayah dan Pondok Pesantren Kementerian Republik Indonesia, Rabu, 04 Februari 2009

.