Cerita Sunan Ampel – Asal Usul Sayyid Ali Rahmatullah


WALI SONGO

LOGO-ANDHIKA BLOG 01 70x70 AMAZING PEOPLE 01-70x70

Pada cerita Wali Songo kali ini akan mengulas mengenai cerita Sunan Ampel. Ia merupakan putra dari Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Ibrahim adalah seorang Ulama yang berasal dari Samarkand, Asia Tengah. kawasan ini melahirkan beberapa Ulama Besar, seperti Imam Bukhari, Perawi Hadits. Silahkann simak cerita sunan ampel di bawah ini :

Sunan AmpelMenurut buku kisah teladan Wali Songo, di samarqand, ada seorangulama besar bernama Syekh Jamaluddin jumadil Kubra, seorang ahlussunnah bermadzhab Syafi’i. Ia mempunyai putra bernamaIbrahim yang kemudian mendapat tambahan nama samarqandi karena berasal dari samarqand. Orang jawa sangat sukar mengucapkan samarqandi, maka mereka hanya menyebutnya sebagaiSyekh Ibrahim Asmarakandi.

Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya, Syekh Jamaluddin jumadil Kubra, untuk berdakwah ke negara-negara asia. Perintah ini pun dilaksanakan, lalu ia diambil menantu oleh raja cempa di muangthai. Ia dijodohkan dengan Putri Raja Cempa yang bernamaDewi Candrawulan.

Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan, lahirlah dua orang putra, yaitu raden Ali Rahmatullahatau Sayyid Ali Rahmatullah dan Raden Santri atau Sayyid Ali Murtadho. Sementara itu, adik Dewi Candrawulan yang bernama dewi dwarawati dipersunting oleh Prabu Brawijaya dari Majapahit. Dengan demikian, Raden Rahmatullah masih Keponakan Raju Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan.

Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari Negeri Cempat yang wajahnya tidak kalah cantik dengan Dewi Sari, putri Raja Cermain, penguasaan kerajaan Gedah Aliash Kedah di Malaysia, sehingga para istrinya yang lain diceraikan. Seluruh bekas istrinya diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara untuk dinikahi. Karena Dewi Dwarawati tidak mau dimadu, sehingga para istri Prabu Wijaya harus mencerraikan istri-istrinya yang lain.

Salah satu istri Prabu Brawijya yang bernama Dewi Kian, seorang putri Cina, diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang. Saat itu, ia sedang hamil tiga bulan ketika diceraikan dan diberikan kepada Ario Damar. Sehingga Ario Damar tidak diperkenankan untuk menggauli putri Cina itu sampai ji jabang bayi terlahir ke dunia. Bayi yang lahir dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan, atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Patah, salah satu murid Sunan Ampel yang menjadi Raja di Demak Bintoro.

Syekh Ali Rahmatullah diperkirakan lahir pada tahun 1420 M. Sebab, sebuah sumber sejarah menyebutkan bahwa ia berusia 20 tahun ketika berada di Palembang pada tahun 1440 M. sebelum singgah ke Jawa, ia memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang yang bernama Ario Damar pada tahun 1440 M. selama tinggal di Majapahit, ia dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila atau Dewi Candrawati, putri Prabu Brawijaya; penguasa Majapahit waktu itu. Sejak saat itu, ia pun semakin disegani masyarakat.

Kisah Kemrosotan Moral Bangsawan dan Rakyat di Majapahit

Cerita sunan Ampel – Kerajaan majapahit mengalami kemunduran setelah ditinggalkan maha Patih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk. Kerajaan terpecah karena terjadi perang saudara dan para adipati banyak yang tidak setiap kepada Prabu Brawijaya. Banyak pajak dan upeti kerajaan yang tidak sampai ke istana Majapahit. Sebab, semua itu lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri.

Hal tersebut membuat hati Prabu Brawijaya sedih, terutama terhadap kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora, bermain judi dan mabuk-mabukan, ia sadar betul bila kebiasaan semacam itu diteruskan, maka dikawatirkan negara akan menjadi lemah, dan jika negara sudah kehilangan kekuatan, maka betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan kerajaan majapahit.

Ratu Dwarawati, yang merupakan istri Prabu Brawijaya, mengetahui kegelisaan hati suamnya dengan memberanikan diri, ia mengajukan kepada suaminya.

“Kanda Prabu, agaknya para pejabat dan rakyat Majapahit sudah tidak takut lagi kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan). Mereka tidak segan dan malu melakukan tindakann yang tidak terpuji. Mereka suka berpesta pora, berfoya-foya, mabuk-mabukan, dan judi sudah menjadi kebiasaan mereka. Bahkan, para pangeran dan kaum bangsawan sudah mulai ikut-ikutan. Sungguh berbahaya bilamana hal ini dibiarkan terus menerus. Kerajaan bisa rusak karena hal tersebut, Kanda prabu, Kata Ratu Dwarawati.

“Ya, hal itulah yang membuatku risau selama ini,” Sahut Prabu Brawijaya “Lalu, apa tindakan Kanda Prabu?” tanya istrinya

“Aku masih bingung,” kata sang prabu. Lanjutnya, “Aku sudah mengusahakan nuntuk menambah para guru agar mendidikan dan memperingatkan mereka, tapi kelakuan mereka masih tetap seperti semula. Bahkan para guru agama hindu dan budha itu dianggap sepele”

“Kanda prabu, saya mempunyai keponakan yang ahli dalam hal mengaatasi kemerosotan budi pekerti,” kata Ratu Dwarawati. “Batulkan?” tanya sang prabu

“Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan, saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini”

Pada suatu haru, sesorang utusan diberagkatkan dari Majapahit menuju negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Adapun negeri Cempa ini terletak diMuangthai. Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh Raja Cempa. Ia tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman. Tentu saja, keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke tanah Jawa tidak sendirian. Ia juga ditemani oleh ayah dan kakaknya. Ayah Sayyid Ali Rahmatullah bernama Syekh Maulana Ibrahmi Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho.

Menurut sebuah riwayat, mereka diduga tidak langsung singgah ke Majapahit, melainkan mendarat di tubhan. Sebab, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia di Tuban, tepatnya di desa Gesikharjo, kemudian beliau dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang, kabupaten Tuban.

Akhirnya, Asyyid Ali Murtadho segera meneruskan perjalanan, ia berdakwah keliling daerah Nusa Tenggara, Madura, hingga ke Bima. Disana ia mendapat sambutan Raja Pandita Bima. Dan akhirnya ia berdakwah di Gresik, sehingga dikenal dengan sebutan Raden Santri. Ia juga wafat dimakamkan di Gresik.

Sementara itu, Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.

“Nanda Rahmatullah, bersedikah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerja mulia?” tanya sang prabu. Dengan sikapnya yang sopan, Sayyid Ali Rahmatullah menjawab “Dengan senan hati gusti prabu, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan kemampuan saya dalam mendidik mereka”

“Bagus, sahut sangat prabu. lanjutnya, “Jika demikian, aku akan memberimu hadiah sebidang tanah dan bangunannya di surabaya. Di sanalah kamu akan mendidik para bangsawan dan pangeran majapahit agar berbudi pekerti mulia

“saya haturkan terima kasih Gusti Prabu ” jawab Sayyid Ali Rahmatullah.

Sayyid Ali Rahmatullah diberi hadiah tanah di ampeldenta, surabaya. Sejumlah tiga ratus keluarga diserahkan untuk dididik, lalu mereka mendidikan pemukiman di Ampel. Meski prabu wijaya menolak masuk islam. Sayyid Ali Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam kepada warga Majapahit dengan syarat tanpa paksaan. Sayyid Ali Rahmatullah inilah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel.

Sayyid Ali Rahmatullah (sunan ampel) berangkat ke Ampel

Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Sayyid Ali Rahmatullah ke ampel, Surabaya. Mereka berangkat dari trowulan, ibu kota Majapahit, melewati Desa krian, Wonokromo, berlanjut ke desa Kembang Kuning. di sepanjang perjalan ia terus melakukan dakwah.

Ternyata, cara dakwah Sayyid Ali Rahmatullah tergolong cukup unik karena membagi bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup membalas dengan mengucapkansyahadat. Karena itu pengikutnya pun semakin hari semakin bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, ia membangun langgar (mushola) sederhana di Kembang Kuning, sejah delapan kilometer dari kota Ampel di Surabaya.

Sering perkembangan zaman, langgar ini menjadi besar, megah dan bertahan sampai sekarang, yang kemudian diberi nama masjid Rahmat. Sayyid Ali Rahmatullah setiba di Ampel, maka langkah pertamanya adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian iamembangun pesantren mengikuti model maulana Malik Ibrahim di Gresik. Dan, bentuk pesantren nya mirip biara yang sudah dikenal masyarakat.

Sayyid Ali Rahmatullah memang dikenal memiliki kepekaan menyesuaikan diri. Caranya menanamkanakidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kata “Sholat” diganti “sembahyang” yang berasal dari kata “sembah” dan “hyang”. Tempat ibadah tidak dinamai mushola, tapi “Langgar: yang mirip kata “sanggar”.

Penuntut ilmu disebut santri yang berasal dari kata “Shastri”, maksudnya adalah orang yang tahu buku suci agama hindu. Selain itu, setiap orang, baik bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri kepada dirinya. Dari sinilah sebutan “Sunan Ampel” mulai disematkan kepadanya.

Source:

Cerita Islami, By Gunawan – February 12, 2013

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s