6 Gunung di Indonesia Dengan Pemandangan yang Indah

Puncak gunung adalah salah satu tempat untuk melihat pemandangan yang indah. Beruntung kita tinggal di Indonesia yang punya banyak sekali gunung-gunung cantik. Dari atas ketinggian kalian dapat menyaksikan pemandangan alam sekitar beserta perkampungan penduduk yang berjejer seperti semut. Dari puncak gunung pula, kamu dapat merasakan sensasi berada di atas awan karena terkadang kawasan lembah tertutup kabut putih yang membuatmu berada lebih tinggi ketimbang awan.

Berada di puncak gunung membuat traveler merasa bebas dan lepas. Segala masalah seakan terlupakan begitu saja digantikan dengan perasaan senang dengan keagungan Tuhan yang terefleksi dari pemandangan alam yang tertangkap dari puncak gunung tersebut. Dari sekian banyak gunung yang ada di Indonesia, setidaknya ada 6 gunung yang punya pemandangan superb dan layak kamu daki paling tidak seumur hidup sekali.

1. GUNUNG PRAU, WONOSOBO, JAWA TENGAH

gunung-prau

Gunung Prau dapat menjadi pilihan utama buat kamu yang ingin mendaki gunung namun ogah trekking lama-lama dan capek-capekan. Letaknya ada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, antara Kabupaten Kendal dan Wonosobo, Jawa Tengah. Sepintas tidak ada yang istimewa saat melewati rute pendakian, namun saat sampai di puncaknya traveler tidak akan berhenti mengagumi apa yang mereka lihat.

Gunung Prau memiliki tinggi 2.565 mdpl yang artinya untuk sampai di puncaknya hanya butuh trekking selama 2-3 jam saja. Tidak perlu cuti lama-lama atau menunggu libur panjang untuk mendaki gunung ini, karena jika mau kamu pun bisa naik dan turun di gunung ini dalam sehari saja. Jalur pendakiannya juga ramah buat traveler pemula, sebab jarang sekali ditemui jalan yang terjal dan curam.

Kawasan puncak Gunung Prau akan menjadi seperti kawasan perkotaan pada akhir pekan atau libur panjang. Puluhan hingga ratusan tenda dibangun oleh traveler yang berebut mendapatkan golden sunrise, istilah matahari terbit yang sempurna dengan warna jingga keemasan. Inilah fenomena alam yang paling banyak digandrungi traveler yang pergi ke Gunung Prau.

2. GUNUNG RINJANI, LOMBOK

gunung-rinjani

Banyak yang bilang jika Gunung Rinjani memiliki pemandangan paling top di Indonesia. Kamu tentu tidak akan percaya begitu saja sebelum datang langsung dan melihatnya sendiri. Cara lainnya adalah dengan ngepoin instagram para pendaki atau traveler yang sudah pernah ke sana, dari situ keindahan gunung serta alam sekitarnya sudah tergambarkan dengan jelas.

Namun tidak puas rasanya jika tidak menginjakkan kaki sendiri di Gunung Rinjani. Kalau mau ke puncaknya ada dua jalur yang bisa dipilih yaitu Sembalun dan Senaru, kedua jalur ini punya satu kesamaan yakni sama-sama menyuguhkan pemandangan yang superb. Pendakian ke gunung Rinjani tidaklah terlalu susah, dengan ketinggian maksimal 3.726 mdpl rute yang dilalui cukup landai apalagi starting point trekking sudah berada di separo lebih dari ketinggian maksimal.

Banyak sekali keistimewaan di gunung ini yang akan membuat traveler tercengang. Sebut saja pemandangan indah dari alam sekitar, serta adanya Danau Segara Anak yang begitu legendaris. Bukan suatu yang mengada-ada jika banyak sekali pendaki yang ketagihan untuk datang lagi ke Rinjani. Kamu kapan?

3. GUNUNG SEMERU, JAWA TIMUR

gunung-semeru

Sebagai pendaki tentu kamu tidak akan melewatkan pendakian ke “atapnya” Pulau Jawa yaitu Gunung Semeru. Sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, gunung Semeru juga menjadi buruan pendaki tak hanya dari dalam negeri namun juga luar negeri. Banyaknya pendaki yang pergi ke sana selain disebabkan karena trekknya yang menantang namun juga pemandangan alam yang luar biasa indah yang disuguhkan.

Di Camping Ground yang terletak di kawasan Danau Ranu Kumbolo pada ketinggian 2.400 mdpl, pendaki sudah disuguhi bentang alam berupa danau dengan pagar pegunungan hijau yang memukau. Sebelum sampai ke puncaknya, lagi sebuah pemandangan cantik berupa padang lavender di Oro-oro Ombo akan memanjakan mata. Terakhir, negeri atas awan alias puncak Mahameru yang gahar menjadi suguhan akhir pendaki yang berhasil melewati halang-rintang pada rute yang dilaluinya. Rasa bangga dan bahagia akan bercampur aduk jika kamu berhasil menggapai ketinggian 3.676 mdpl yang berarti kamu berada di puncak tertinggi Pulau Jawa.

4. GUNUNG BATUR, BALI

gunung-batur

Jika berlibur ke Bali, sesekali cobalah untuk menjauh dari pantai dan temukan surga lainnya di gunung. Kamu bisa memilih gunung Batur sebagai destinasi, gunung ini bisa kamu nikmati dengan cara mendaki atau hanya memandangi dari sisi danau di bawahnya. Tempat ini juga menyajikan matahari terbit yang tidak kalah cantik dari sunrise milik pantai Sanur dan sunset secantik pantai Kuta.

Gunung Batur memiliki tinggi 1.500 mdpl dan menjadi gunung tertinggi kedua di Bali setelah Gunung Agung. Kawasannya telah terdaftar sebagai Global Geopark Network (GGN) UNESCO. Karena tidak terlalu tinggi, puncak gunung ini bisa ditempuh hanya dalam waktu dua jam saja. Kalau naik ke puncaknya sebaiknya start agak sore agar saat sampai di puncaknya, bebarengan dengan matahari terbenam yang keren abis. Uniknya pendaki yang datang selalu membawa bekal berupa pisang, telur maupun jagung. Di puncak gunung ini ada lubang-lubang kawah yang bisa digunakan untuk memasak. Keren!

5. GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT, JAWA BARAT

gunung-papandayan

Gunung Papandayan berada di kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini cocok menjadi pilihan khususnya bagi pendaki pemula sebab ukuran gunung ini tidak terlalu tinggi hanya sekitar 2.265 mdpl saja. Sebelum sampai di puncaknya ada satu kawasan yang tidak pernah dilewatkan pendaki mana pun untuk singgah yaitu kawasan hutan mati.

Kawasan hutan mati adalah bekas hutan pohon cantigi yang terbakar dan menyisakan pepohonan yang gosong. Kayu-kayu pohon yang masih berdiri tanpa daun ini kemudian menghasilkan gambar yang unik dan mirip seperti di dunia lain. Banyak sekali pendaki yang menyempatkan foto-foto di kawasan tersebut. Bahkan ada beberapa orang yang pernah melakukan sesi foto pre-wedding di hutan mati Gunung Papandayan ini.

6. GUNUNG BROMO, JAWA TIMUR

gunung-bromo

Gunung Bromo yang termasuk di dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semerumemang terkenal memiliki pemandangan yang indah terutama matahari terbitnya. Di kawasan ini pula terdapat lautan pasir bak gurun pasir di Timur Tengah serta bukit Teletubbies yang mirip di Selandia Baru, tak ketinggalan kawah yang juga eksotis.

Gunung Bromo adalah gunung yang paling mudah didaki dibanding semua daftar gunung yang telah disebutkan Travelingyuk di atas. Tempat ini juga sudah dipenuhi dengan fasilitas yang lengkap sehingga traveler yang tidak punya basic mendaki sekalipun bisa menikmati gunung ini. Jika kamu sangat tertarik untuk datang ke Gunung Bomo, sepertinya harus sedikit bersabar sebab aktivitas gunung ini sedang meningkat sehingga saat ini kurang aman untuk dikunjungi.

Sudah menentukan gunung mana yang akan pertama kali kamu daki genks? Gunung mana saja pilihanmu yang jelas keenam gunung ini memiliki pemandangan yang superb abis!

Menelusuri Perut Bumi di 8 Goa Terindah di Indonesia

Klikers, Anda sudah pernah menonton film Sanctum (Universal Pictures, 2011)? Film itu berkisah tentang para penelusur goa. Dalam film tersebut, Anda bisa menyaksikan bagaimana perut bumi kita ini menyimpan sejuta keindahan. Penelusuran atau penjelajah goa (caving) juga dapat menjadi salah satu wisata olahraga yang mengasyikkan. Nah, untuk Klikers yang tertarik untuk melakukan penjelajahan goa, berikut 8 goa terindah di Indonesia yang bisa Klikers telusuri:

1. Goa Gong

goa-gong

Bukan hanya menjadi salah satu goa terindah di Indonesia, Goa Gong pun menjadi goa terindah di Asia Tenggara. Goa Gong terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung,Donorejo, sekitar 140 km arah selatan kota Solo, atau 30 km arah barat daya kota Pacitan. Goa Gong memiliki kedalaman sepanjang 256 meter. Goa ini tercipta dari hasil aktivitas vulkanik dan gerakan termik yang berlangsung ribuan tahun. Goa Gong ini dipenuhi stalaktit dan stalakmit yang sudah berumur ratusan tahun. Goa ini dinamakan Goa Gong karena masyarakat setempat sering mendengar suara serupa gong yang ditabuh dari dalam goa. Goa Gong ini sudah dilengkapi dengan cahaya lampu temaram di sepanjang jalan masuknya.

2. Goa Tabuhan

goa-tabuhan

Tak jauh dari Goa Gong, masih di kota Pacitan, ada satu goa lagi yang tak kalah indahnya yaitu Goa Tabuhan. Goa Tabuhan terletak di Bukit Kapur Tapan, di Desa Wareng, kecamatan Punung, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Saat berjalan masuk ke Goa Tabuhan, Anda akan disuguhi indahnya pemandangan stalaktit dan stalagmit berusia ratusan tahun menempel di kubah gua yang luas. Uniknya, stalaktit dan stalagmit ini bila dipukul akan menghasilkan bunyi merdu. Karena itulah, kerap diadakan pentas musik jawa tradisional dengan kendang, stalaktit, dan stalagmit sebagai instrumen musiknya.

3. Goa Petruk

goa-petruk-air-terjun

Kenal Petruk? Petruk adalah salah satu tokoh Punakawan dalam kisah pewayangan yang memiliki hidung panjang. Goa Petruk terletak di Dukuh Mondoyono, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen. Untuk mencapai Goa Petruk, terlebih dahulu Anda harus mendaki sekitar 250 anak tangga. Stalaktit dan stalagmit di Goa Petruk ini memiliki berbagai bentuk yang diberi nama. Ada stalaktit yang bentuknya mirip hidung Petruk. Itulah sebabnya goa ini dinamakan Goa Petruk. Ada juga Batu Tirai Pintu, Batu Jamur yang memang bentuknya seperti jamur, Batu Mangun Serono, Batu Buaya, Batu Lalon (mayat), Batu Prangko, bahkan ada batu Payudara. Goa Petruk ini memiliki tiga lantai goa, dengan sejumlah sungai, sendang, dan air terjun. Air terjun di Goa Petruk ini sangat indah. Tak heran bila Goa Petruk menjadi salah satu goa terindah di Indonesia.

4. Goa Pindul

goa-pindul-gunung-kidul

Goa Pindul terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa ini memiliki panjang kurang lebih 350 meter, jarak permukaan air dengan atap gua 4 meter, dan kedalaman air sekitar 5-12 meter. Goa Pindul ini memiliki tiga zona, yaitu: zona terang, zona remang, dan zona gelap. Di tengah-tengah goa, Anda dapat melihat sebuah ruangan agak besar dengan lubang besar di atasnya. Warga setempat menamainya “sumur terbalik”. Cahaya matahari yang menyorot masuk dari lubang ini membuat suasana menjadi sangat indah. Anda juga dapat melihat stalaktit terbesar ke-4 di dunia di dalam Goa Pindul ini. Anda dapat menyusuri Goa Pindul dengan cave tubing. Cave tubing ini aman untuk dilakukan, bahkan untuk anak-anak. Penelusuran Goa Pindul memakan waktu sekitar satu jam dan berakhir di sebuah dam.

5. Goa Jatijajar

goa-jatijajar

Goa terindah di Indonesia yang berikutnya adalah Goa Jatijajar. Goa Jatijajar merupakan goa alam yang terletak di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Goa Jatijajar yang terbentuk dari batu kapur ini ditemukan oleh Jayamenawi, seorang petani pada tahun 1802. Suatu kali saat sedang bertani, Jayamenawi jatuh ke dalam lobang yang ternyata merupakan lobang ventilasi yang ada di langit-langit goa. Goa Jatijajar ini juga sangat lekat dengan kisah Raden Kamandaka dalam legenda Lutung Kasarung. Konon, Goa Jatijajar ini menjadi tempat Raden Kamandaka bersemedi. Kita dalam melihat diorama Lutung Kasarung di dalam Goa Jatijajar. Selain itu, di dalam goa juga terdapat sungai bawah tanah. Ada dua sendang, yaitu Sendang Kantil dan Sendang Mawar. Warga setempat mempercayai bahwa membasuh wajah dengan air sendang tersebut dapat membuat awet muda.

6. Goa Istana Maharani

goa-istana-maharani1

Goa Istana Maharani atau Goa Maharani terletak di Tanjung Kodok, Lamongan, Jawa Timur. Goa yang ditemukan pada tahun 1992 ini dinamakan Goa Istana Maharani karena memiliki keindahan seperti istana. Goa ini juga dinobatkan menjadi salah satu goa terindah di Indonesia berkat kecantikan stalaktit dan stalagmitnya yang sudah berumur ratusan tahun. Ada yang berbentuk seperti bunga mekar, binatang, dan bentuk singgasana. Stalaktit dan stalagmit di Goa Istana Maharani ini masih tumbuh hingga kini, lho! Kira-kira 1cm setiap 10 tahun. Adapun para ahli menyatakan bahwa Goa Istana Maharani ini sudah terbentuk jutaan tahun yang lalu. Untuk menambah keindahan goa, pihak pengelola memasang lampu berwarna-warni untuk menyinari stalaktit dan stalagmit. Tidak jauh dari Goa Istana Maharani terdapat obyek wisata Wisata Bahari Lamongan.

7. Goa Jomblang

goa-jomblang

Goa Jomblang berada di Desa Jetis, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Goa Jomblang merupakan goa vertikal bertipe collapse doline. Goa ini terbentuk dari hasil proses geologi amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini disebut sinkhole atau luweng dalam bahasa jawa. Goa Jomblang memiliki luas mulut gua sekitar 50 meter dengan lorong sepanjang 300 meter. Untuk memasuki Goa Jomblang, diperlukan teknik tali tunggal (single rope technique). Anda harus menggunakan peralatan khusus standar caving goa vertikal dan harus didampingi penelusur goa yang sudah berpengalaman. Di dasar goa, Anda akan dibuat terkagum dengan keindahan hutan purba dan keindahan cahaya matahari yang menyorot masuk ke dalam goa. Begitu indahnya sehingga sorot cahaya matahari tersebut dijuluki “Cahaya Surga” oleh para caver.

8. Goa Barat

goa-barat-superman-big-sister-1024x678

Jatijajar ternyata menyimpan dua goa terindah di Indonesia. Goa Barat terletak di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kebumen, di sebelah timur Goa Jatijajar. Nama Goa Barat berasal dari bahasa jawa yang berarti goa angin. Dari dalam goa selalu berhembus ke luar mulut goa. Angin kencang ini dalam bahasa jawa disebut angin barat. Di dalam Goa Barat ini terdapat banyak sekali air terjun sehingga kerap dijuluki goa dengan 100 air terjun. Salah satu air terjunnya memiliki ketinggian hingga 32 meter. Begitu tinggi dan derasnya sehingga para caver menjuluki air terjun tersebut Superman’s big sister. Goa Barat juga dikenal dengan keindahan stalaktit dan stalagmitnya yang berwujud unik. Ada batu jenggot, batu tirai, batu kuncup, batu kristal, dan lainnya. Di dalam Goa Barat Anda juga dapat menjumpai sawahan, yaitu tanah yang berbentuk secara alamiah menjadi petak-petak sawah. Untuk menelusuri Goa Barat, Anda harus menggunakan peralatan caving yang memadai dan ditemani pemandu.

Waw, asyik sekali kan Klikers? Apalagi bagi Anda pecinta adrenaline, aktivitas caving ini tentu sangat menantang bagi Anda. Saat mengagumi 8 goa terindah di Indonesia ini, niscaya Anda pun akan semakin terkagum dengan kedahsyatan Tuhan kita. Beberapa hal yang perlu diingat saat akan melakukan aktivitas caving yaitu pertama, kondisi fisik Anda harus dalam keadaan sehat. Kedua, ikuti arahan pemandu dan utamakan keselamatan selalu. Selamat susur goa, Klikers!

BY MARCHAELA · 01 JUN 2015

Rumah Sakit Apung, Melayani Pasien Di Atas Perahu

Dokter Legendaris

Salah satu program yang digalakkan oleh doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) adalah pelayanan medis Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan.

Rumah sakit ini berkonsep menjemput pasien dengan cara berlayar menggunakan perahu.

Rumah sakit yang berdiri sejak 26 Maret 2009 ini melakukan pelayanan medis di Pulau Kei Maluku Tenggara yang dilaksanakan di dua titik, Kei Kecil dan Kei Besar pada 25-30 September 2013 . DoctorSHARE kali ini mengusung tema Merajut Mimpi Indonesia Timur dalam Kasih dan Kebersamaan.

rumah-sakit-apung

Dalam program tersebut, doctorSHARE menurunkan dokter spesialis bedah, 10 dokter umum, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran, seorang penata anestesi, dan 4 sukarelawan nonmedis. Jenis pelayanan medis meliputi bedah mayor dan bedah minor yang dilakukan di RSA dr. Lie Dharmawan, pengobatan umum, dan penyuluhan kesehatan.

DoctorSHARE telah menangani 13 pasien bedah (mayor dan minor) serta 277 pasien pengobatan umum di Pulau Kei Kecil pada 25-26 September dan 30 September 2013. Pengobatan umum dilaksanakan di SD Nasional Katolik, Kelanit dengan jenis penyakit terbanyak yaitu ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), gangguan saluran cerna, hipertensi (darah tinggi), myalgia (nyeri otot), dan dermatitis (penyakit kulit).

rsa_dr-_lie_dharmawan

Sedangkan di Pulau Kei Besar, terdapat 38 pasien bedah (mayor dan minor) dan 112 pasien pengobatan umum. Pengobatan umum di Kei Besar berlokasi di Pelabuhan Kei Besar pada 27-28 September 2013. Jenis penyakit terbanyak meliputi ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), penyakit kulit (limpetigo, tinea, dan dermatitis), gastritis (lambung), dan hipertensi (darah tinggi).

Pelayanan bedah yang mencapai 51 pasien di Pulau Kei Besar dan Kei Kecil merupakan rekor terbesar sejak pelayanan medis RSA dr. Lie Dharmawan pada 6 Maret 2013 silam.

Jenis bedah mayor yang dilakukan adalah hernia varicocele, appendisitis kronis eksaserbasi akut, fistel mamme, dan kompartemen sindrom. Adapun jenis bedah minor yaitu lipoma, kista aterom, skin tag, ganglion, kista dermatoid, papiloma, fibroma, dan basalioma.

“Pelayanan medis di Pulau Kei sukses menjangkau antusiasme masyarakat. Banyaknya kasus yang kami tangani menunjukkan bahwa usaha doctorSHARE membantu pemerintah benar-benar mengenai sasaran,” ujar pendiri doctorSHARE, dr. Lie A. Dharmawan, Ph.d, FICS, Sp.B, Sp.BTKV pada press release yang diterima Bisnis hari ini (4/10/2013)

Sebelumnya, doctorSHARE dengan RSA dr. Lie Dharmawan-nya telah melakukan pelayanan medis ke berbagai penjuru Indonesia yaitu Pulau Panggang (Kepulauan Seribu) pada 16–17 Maret 2013, Belitung Timur pada 2–4 April 2013, Ketapang (Kalimantan Barat) pada 12–14 April 2013, Pontianak (Kalimantan Barat) pada 11-13 Juni 2013, Bangka Tengah pada 17–19 Juni 2013, Bali pada 3–7 September 2013, dan Nusa Tenggara Timur pada 9–15 September 2013.

dr-lie-a-dermawan

KM RSA dr. Lie Dharmawan berukuran panjang 25,13 meter dan lebar 6,82 meter. RSA yang diresmikan pada 6 Juni 2013 ini memiliki fasilitas rumah sakit seperti kamar bedah, kamar EKG, USG & rontgen, laboratorium, ruang rawat pasien, ruang resusitasi, kamar dokter.

dr. Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia

Dokter Legendaris

dr-lie-a-dermawan

Kepedulian terhadap warga miskin dan sulit mendapat layanan kesehatan mendorong dr Lie Dharmawan membangun rumah sakit apung. Setelah menghabiskan waktu 4 tahun, kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit ini siap mengarungi samudra menyambangi masyarakat yang membutuhkan.

“Ini adalah rumah sakit apung pertama milik swasta di Indonesia. Saya yakin ini adalah rumah sakit apung pertama dan akan diikuti banyak-banyak lagi rumah sakit lainnya yang pasti akan membawakan keuntungan dan kebahagian bagi bangsa dan negara kita,” tegas dr Lie kepada detikHealth seperti ditulis Senin (18/3/2013).

Gagasan pembuatan rumah sakit apung ini sebenarnya sudah ada di benak dr Lie sejak tahun 2008, namun baru bisa direalisasikan tahun 2013. Lamanya proses ini disebabkan karena adanya pro dan kontra, apalagi referensi mengenai rumah sakit apung di Indonesia belum ada.

Sebenarnya konsep rumah sakit apung di Indonesia sudah ada, namun milik tentara dan hanya digunakan ketika perang, sedangkan yang dimiliki swasta tidak ada. Maka lewat yayasan doctorSHARE yang ia dirikan, dr Lie berupaya menggalang bantuan, baik moriil dan materiil untuk mewujudkan idenya.

Selama 4 tahun menyelesaikan proyek rumah sakit apung ini, tim doctorSHARE awalnya sulit menemukan jenis kapal yang sesuai. Beberapa jenis kapal dipertimbangkan untuk dicoba, termasuk kapal tongkang, namun dianggap tidak layak karena badannya terlalu lebar.

Dari segi bahan juga demikian. Sempat diusulkan menggunakan kapal berbahan fiber, namun urung karena mudah pecah ketika menabrak. Akhirnya diputuskan menggunakan perahu nelayan yang sederhana karena dianggap lebih memadai. Setelah jadi, kapal itupun berganti nama menjadi ‘Floating Hospital’.

“Kapal ini memang secara fisik kecil, ini adalah floating hosiptal yang terkecil di dunia. Tapi sebagai lawannya, sebagai kebailkannya, semangat yang menggebu-gebu, semangat yang membara tidak pernah putus asa selama 4 tahun merancang kapal ini dan bekerja untuk keberhasilan kapal ini,” terang dr Lie.

Disebut kecil karena Floating Hospital ini sejatinya adalah kapal berukuran panjang 23,5 meter, lebar 6,55 meter dan bobot mati 114 ton. Kapal ini terbagi menjadi tiga dek. Dek atas untuk nahkoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi ruangan steril dan ruang operasi, dek bawah adalah laboratorium.

Pembangunan rumah sakit ini menghabiskan dana Rp 3 miliar dari rencana semula Rp 6 miliar. Dana tersebut sepenuhnya diperoleh dari sponsor. Menurut dr Lie, ada sponsor yang menyumbang dengan cara memberikan diskon untuk peralatan dan perlengkapan yang diperlukan, jadi bisa menghemat biaya sekian banyak.

Sebagai pilot project, kapal ini melakukan pelayaran perdananya pada 16 – 17 Maret lalu di pulau Panggang, kepulauan Seribu. Pelayanan kesehatan yang diberikan berupa penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, bedah minor dan bedah mayor. Sebanyak 25 dokter dan 25 orang relawan disiapkan untuk melayani pasien.

Yang istimewa, Floating Hospital ini dibangun untuk memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma. Dr Lie tergerak hatinya karena melihat kenyataan banyak masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis, tapi belum mendapat kesempatan karena berbagai faktor, terutama faktor demografis dan faktor finansial.

“Kami akan berusaha mendapatkan dana dari donatur. Kami akan membuka sebuah klinik di Jakarta dan penghasilannya digunakan untuk membiayai kelangsungan hidup doctorSHARE. Kami belum tahu apa lagi yang dapat kami lakukan untuk mendapatkan dana bagi kelangsungan pelayanan yang terus kami kerjakan. Tapi satu yang menjadi concern kami, masyarakat tidak akan kami bebani dengan pembayaran,” ungkap dr Lie.

Dalam sehari, dr Lie berhasil melakukan 3 operasi di atas kapal. Walau kapal sesekali bergoyang karena ombak, dokter yang kesehariannya bertugas sebagai kepala dokter bedah di RS Husada ini bisa melakukan operasi dengan baik. Direncanakan akan ada 15 pasien yang menjalani operasi bedah di atas kapal, sedangkan penyuluhan kesehatan dilakukan di Balai Karang Taruna.

Ada beberapa kendala yang ditemui dalam pelayaran pertama Floating Hospital ini, salah satunya adalah kecepatan kapal yang hanya 6 – 7 knot. Jika dikonversikan, kecepatannya adalah sekitar 11 – 13 km/jam, cukup lambat jika dibandingkan speed boat. Kendala lain adalah beberapa peralatan yang belum bisa dioperasikan, misalnya alat rontgen.

“Sesudah pulang dari Kepulauan Seribu, kami akan mereview apa yang menjadi kekurangan kami, misalnya kapal ini terlalu pelan jalannya. Kalau memungkinkan, dari segi finansial kami bisa mendapatkan dana, lalu secara teknis mesinnya bisa diganti, kami akan mengganti dengan mesin yang lebih baik dan besar agar kapal ini bisa lebih cepat jalannya,” terang dr Lie.

Masalah mesin tentu menjadi permasalahan yang cukup serius karena kapal ini direncanakan menjelajah daerah-daerah terpencil, lebih terpencil dari kepulauan seribu yang masih masuk dalam wilayah DKI Jakarta. Jadi bisa dibayangkan, sarana dan prasarananya tentu jauh lebih minim.

Karena tidak memungut biaya dari pasien, dr Lie berharap bisa menjalin kerjasama dengan aparat-aparat setempat. Misalnya jika di suatu tempat sudah ada puskesmas, dokter setempat diharapkan bisa menjadi ujung tombak mencari pasien yang butuh pelayanan. Hal itu akan mempersingkat waktu singgah sehingga tim bisa melanjutkan ke tempat lain.

“Kami merencanakan tujuan kami berikutnya bulan April ini Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Sesudah itu kami akan ke Bali, Sumba, Flores, Timor Barat dan kepulauan Kei karena kami sudah punya home base di sana. Kami punya 2 panti di sana, Therapeutic Feeding Center KAI. Ada 2 pulau Kei besar dan Kei kecil,” terang dr Lie.

Profil

  • Nama : Dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV (Li De Mei)
  • Tempat, tanggal lahir : Padang, 16 April 1946
  • Orang tua : Lie Goan Hoey dan Pek Leng Kiau (Julita Diana)
  • Isteri : Tan Lie Tjhoen (Listijani Gunawan)

Anak

  • Lie Mei Phing (29 April 1978)
  • Lie Ching Ming (9 November 1980)
  • Lie Mei Sing (16 September 1992)

Pendidikan

  • SD Ying Shi, Padang
  • SMP Katolik Pius, Padang
  • SMA Don Bosco, Padang
  • S1 Free University, Jerman
  • S2 University Hospital, Cologne
  • S3 Free University Berlin, Jerman

Pekerjaan/Kiprah Organisasi

  • Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971)
  • Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984)
  • Aktivis gereja Katolik, Jakarta (1985-sekarang)
  • Kepala bagian bedah RS Husada, Jakarta (2000-sekarang)
  • Kepala Serikat Karyawan RS Husada (2000-2006)
  • Kepala Komite Medik RS Husada (2006-2009)
  • Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta (2000-sekarang)
  • Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang)
  • Pendiri Yayasan Dokter Peduli/doctorSHARE (2008-sekarang)

Sumber: Putro Agus Harnowo – detikHealth

Sejarah Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan

Dokter Legendaris

rumah-sakit-apung

26 Maret 2009, doctorSHARE melakukan pelayanan medis cuma-cuma di Langgur, Kei Kecil – Maluku Tenggara. Saat melangsungkan bedah, di luar rencana datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia 9 tahun dalam keadaan usus terjepit. Mereka telah berlayar selama tiga hari dua malam mengarungi lautan. Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus sudah dioperasi dalam 6-8 jam. Anak perempuan tersebut dioperasi dan akhirnya sembuh.

dr-lie-a-dermawan

Peristiwa ini sangat menggugah hati pendiri doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli), dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV. Bayangan anak perempuan tersebut selalu melintas dalam benaknya. Beliau pun terpanggil melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak mendapatkan pelayanan medis sebagaimana mestinya karena kendala geografis dan kondisi finansial. Ide utamanya adalah “menjemput bola” melalui Rumah Sakit Bergerak atau Rumah Sakit Terapung di atas sebuah kapal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga masih harus melakukan banyak hal untuk memberikan pelayanan medis sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Banyak warga pra sejahtera belum mendapatkan pelayanan medis memadai.

Penelitian mulai dilakukan. Diketahui bahwa jenis kapal untuk Rumah Sakit Apung yang sesuai dengan kondisi Indonesia bukanlah kapal besar yang sulit merapat ke pulau-pulau kecil. Di samping itu, jenis kapal berbahan fiber juga terlalu ringan dan akan segera bocor ketika menabrak karang.

Di Seattle, Amerika Serikat – dr. Lie A. Dharmawan mengunjungi museum kapal laut dan melihat kapal laut berbahan kayu berusia seratusan tahun dalam kondisi yang masih sangat baik. Dari perpustakaan di sana, terdapat sebuah artikel yang menulis bahwa jenis kayu terbaik bagi kapal adalah kayu ulin yang tumbuh di Indonesia dan Filipina.

Pulang ke Indonesia, dr. Lie mulai mencari kapal kayu dan akhirnya menemukan sebuah kapal barang di Palembang. Kapal berjenis pinisi tersebut akhirnya dibeli tahun 2012. Kapal dapat memuat barang hingga 250 ton dan mampu berlayar dari Palembang menuju Riau, Batam, dan sebagainya. Dengan kualifikasi tersebut, Rumah Sakit Apung dapat berdiri di atas kapal ini.

Draft kapal sangat tinggi yaitu 4,4 meter. Kamar-kamar pun mulai didirikan di dalam lambung kapal. Kondisi ini sangat menguntungkan karena guncangan saat melangsungkan tindakan bedah (operasi) di dalam lambung kapal jauh berkurang dibandingkan jika harus melakukannya di atas geladak.

Melalui perombakan, lahirlah Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan yang terdiri dari dua tingkat. Bagian dasar digunakan sebagai ruang Rontgen, EKG, USG, serta laboratorium. Di tingkat atas terdapat Kamar Bedah, Ruang Resusitasi, Ruang Dokter, dan sebagainya.

Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan milik doctorSHARE berlayar untuk uji coba pelayanan medis perdananya pada 16 Maret 2013 ke Kepulauan Seribu dan diresmikan pada 6 Juni 2013.

Profil Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan

Nama Kapal: KLM RSA DR. LIE DHARMAWAN
Nama Panggilan Kapal: YC-7342
Jenis Kapal: Pinisi

Bendera Kebangsaan: INDONESIA
Tanda Selar                      : GT.173 No.6786/Bc

Tonase Kotor (GT): 173 GT
Tonase Bersih (NT): 52 NT

Mesin Induk: MITSUBISHI 8DC11 – 340 PK
Tahun Pembangunan: 2002
Penggerak Utama: Motor
Bahan Utama Kapal: Kayu

Jumlah Geladak: Satu
Jumlah Baling-Baling: Satu

Panjang Kapal: 25,13 meter
Lebar Kapal: 6,82 meter
Draft Kapal: 4,00 meter

Kecepatan Maksimum: 10 KNOTS
Kecepatan Normal: 8 KNOTS
Kecepatan Ekonomis: 6 KNOTS

Kapasitas Tangki
a.     Tangki utama: 5.000 liter
b.     Tangki cadangan: 2.200 liter
Bahan Bakar: SOLAR/HSD

Lie A. Dharmawan

Biografi Lie A. Dharmawan


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
dr-lie-a-dermawan-biodatadr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV, yang bernama Tionghoa Lie Tek Bie (lahir di Padang, Sumatera Barat, 16 April 1946; umur 69 tahun) adalah seorang ahli kesehatan atau dokter ahli bedah Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri rumah sakit apung (floating hospital) swasta yang pertama di Indonesia. Dibawah Yayasan doctorSHARE, Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat di daerah miskin dan terpencil di Indonesia yang tidak terjangkau oleh pelayanan kesehatan secara reguler.

Riwayat

Kehidupan Pribadi

Lie A. Dharmawan yang bernama Tionghoa Lie Tek Bie lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 16 April 1946. Ia merupakan putra dari pasangan Lie Goan Hoey (ayah) dan Pek Leng Kiau (Julita Diana) (ibu). Ia menikah dengan perempuan bernama Tan Lie Tjhoen (Listijani Gunawan) dan telah dikaruniai tiga orang anak, yaitu Lie Mei Phing, Lie Ching Ming, dan Lie Mei Sing.

Pendidikan

Ia menamatkan pendidikan dasar di SD Ying Shi, Padang, sedangkan pendidikan menengah ia selesaikan di SMP Katolik Pius dan SMA Don Bosco, juga di kota Padang. Setelah itu Lie melanjutkan pendidikan tinggi di Jerman. Gelar S1 berhasil diraihnya di Free University, S2 dari University Hospital, Cologne, serta S3 dari Free University Berlin, yang semuanya berada di Jerman.

Aktivitas dan Organisasi

Dibawah Yayasan doctorSHARE, ia dengan Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan memberikan pelayanan medis diatas kapal motor (KM) yang berukuran panjang 25,13 meter dan lebar 6,82 meter. dr. Lie telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjurunusantara, seperti di Kepulauan Kei (Maluku), Pulau Panggang (Kepulauan Seribu), Bangka Tengah,Belitung Timur (Bangka Belitung), Ketapang dan Pontianak (Kalimantan Barat), Bali, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai wilayah lainnya.

Beberapa Kegiatan dr. Lie A. Dharmawan:

  • Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971)
  • Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984)
  • Aktivis gereja Katolik, Jakarta (1985-sekarang)
  • Kepala bagian bedah RS Husada, Jakarta (2000-sekarang)
  • Kepala Serikat Karyawan RS Husada (2000-2006)
  • Kepala Komite Medik RS Husada (2006-2009)
  • Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta (2000-sekarang)
  • Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang)
  • Pendiri Yayasan Dokter Peduli/doctorSHARE (2008-sekarang)

Related Articles: