Surakarta

Pasangan wali kota dan wakil wali kota, yang sering disebut sebagai Jokowi-Rudy, pertama kali terpilih sebagai wali kota Surakarta untuk masa bakti 2005-2010

balaikota_solo_by_bennylin_04-01

surakarta-1-vertKota Surakarta (Hanacaraka: ꦑꦸꦛꦯꦸꦫꦏꦂꦠ), juga disebut Solo atau Sala (ꦱꦭ), adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Kota ini juga merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang menurut jumlah penduduk. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.

Nama

“Sala” adalah satu dari tiga dusun yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II atas saran dari Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, ketika akan mendirikan istana baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura.

Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih merujuk kepada penyebutan umum yang dilatarbelakangi oleh aspek kultural. Kata sura dalam Bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti “makmur”, sebagai sebuah harapan kepada Yang Maha Kuasa. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura. Kata sala, nama yang dipakai untuk desa tempat istana baru dibangun, adalah nama pohon suci asal India, yaitu pohon sala (Couroupita guianensis atau Shorea robusta).

Ketika Indonesia masih menganut Ejaan van Ophuysen, nama kota ini ditulis Soerakarta. Dalam aksara Jawa modern, ditulis ꦱꦸꦫꦏꦂꦠ atauꦯꦸꦫꦑꦂꦡ. Nama “Surakarta” diberikan sebagai nama “wisuda” bagi pusat pemerintahan baru Mataram. Namun, sejumlah catatan lama menyebut, bentuk antara “Salakarta”.

Sejarah

Masa Pra-kemerdekaan

Eksistensi kota ini dimulai di saat Sunan Pakubuwana II, raja Kesultanan Mataram, memindahkan kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala, sebuah desa yang tidak jauh dari tepi Bengawan Solo, karena istana Kartasura hancur akibat serbuan pemberontak. Sunan Pakubuwana II membeli tanah dari lurah Desa Sala, yaitu Kyai Sala, sebesar 10.000 ringgit (gulden Belanda) untuk membangun istana Mataram yang baru.

Secara resmi, istana Mataram yang baru dinamakan Keraton Surakarta Hadiningrat dan mulai di tempati tanggal 17 Februari 1745. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surakarta. Perjanjian Giyanti yang ditanda-tangani oleh Sunan Pakubuwana III, Belanda, dan Pangeran Mangkubumi pada 13 Februari 1755 membagi wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Selanjutnya wilayah Kasunanan Surakarta semakin berkurang, karena Perjanjian Salatiga yang diadakan pada 17 Maret 1757 menyebabkan Raden Mas Said diakui sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaan berstatus kadipaten, yang disebut dengan namaPraja Mangkunegaran. Sebagai penguasa Mangkunegaran, Raden Mas Said bergelar Adipati Mangkunegara I.

Masa Kemerdekaan

Daerah Istimewa Surakarta

Kekuasaan politik kedua kerajaan ini dilikuidasi setelah berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama 10 bulan, Surakarta berstatus sebagai daerah istimewa setingkat provinsi, yang dikenal sebagai Daerah Istimewa Surakarta.

Karesidenan Surakarta

Selanjutnya, karena berkembang gerakan antimonarki di Surakarta serta kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan pejabat-pejabat DIS, pada tanggal 16 Juni 1946 pemerintah membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan raja-raja

Kasunanan dan Mangkunegaran. Status Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaran menjadi rakyat biasa di masyarakat dan keraton diubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Kemudian Surakarta ditetapkan menjadi tempat kedudukan dari residen, yang memimpin Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) dengan luas daerah 5.677 km². Karesidenan Surakarta terdiri dari daerah-daerah Kota Praja Surakarta

  • Kabupaten Karanganyar
  • Kabupaten Sragen
  • Kabupaten Wonogiri
  • Kabupaten Sukoharjo
  • Kabupaten Klaten
  • Kabupaten Boyolali

Tanggal 16 Juni 1946 diperingati sebagai hari jadi Pemerintah Kota Surakarta era modern.

Kota Surakarta

Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.

Geografi dan Administrasi

20120814181201peta_solo

Hidrogeologi

Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta, 100 km tenggara Semarang dan 260 km barat daya Surabaya serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu (tinggi 3145 m) dan Merapi (tinggi 2930 m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (tinggi 3265 m) di bagian timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes.

bengawan_solo_topography_map

Aliran sungai Bengawan Solo

Mata air bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik. Ketinggian rata-rata mata air adalah 800-1.200 m dpl. Pada tahun 1890 – 1827 hanya ada 12 sumur di Surakarta. Saat ini pengambilan air bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang berlokasi di 23 titik. Pengambilan air tanah dilakukan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol.

Sampai dengan Maret 2006, PDAM Surakarta memiliki kapasitas produksi sebesar 865,02 liter/detik. Air baku berasal dari sumber mata air Cokrotulung, Klaten(387 liter/detik) yang terletak 27 km dari kota Solo dengan elevasi 210,5 di atas permukaan laut dan yang berasal dari 26 buah sumur dalam, antara lain di Banjarsari, dengan total kapasitas 478,02 liter/detik. Selain itu total kapasitas resevoir adalah sebesar 9.140 m3.Dengan kapasitas yang ada, PDAM Surakarta mampu melayani 55,22% masyarakat Surakarta termasuk kawasan hinterland dengan pemakaian rata-rata 22,42 m3/bulan.

Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akibat aktivitas vulkanik Merapi dan Lawu. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan air yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini sangat baik untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu.

Namun, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata berkembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan untuk kegiatan industri dan perumahan penduduk.

Iklim dan Topografi

Menurut klasifikasi iklim Koppen, Surakarta memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, musim hujan di Solo dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September.

Rata-rata curah hujan di Solo adalah 2.200 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius.

Suhu udara tertinggi adalah 32,5 derajat Celsius, sedangkan terenda adalah 21,0 derajat Celsius. Rata-rata tekanan udara adalah 1010,9 MBS dengan kelembaban udara 75%. Kecepatan angin 4 Knot dengan arah angin 240 derajat.

data-iklim-surakarta

Batas-batas Administrasi

surakarta_day_view-1

Kota Surakarta terletak di antara 110 45` 15″ – 110 45` 35″ Bujur Timur dan 70` 36″ – 70` 56″ Lintang Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.

Di masing-masing batas kota terdapat Gapura Kasunanan yang didirikan sekitar tahun 1931–1932 pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana X di Kasunanan Surakarta. Gapura Kasunanan didirikan sebagai pembatas sekaligus pintu gerbang masuk ibu kota kerajaan (Kota Surakarta) dengan wilayah sekitar. Gapura Kasunanan tidak hanya didirikan di jalan penghubung, namun juga didirikan di pinggir sungai Bengawan Solo yang pada waktu itu menjadi dermaga dan tempat penyeberangan (di Mojo/Silir).

Ukuran Gapura Kasunanan terdiri dari dua ukuran yaitu berukuran besar dan kecil. Gapura Kasunanan ukuran besar didirikan di jalan besar. Gapura Kasunanan ukuran besar bisa dilihat di Grogol (selatan), Jajar (barat), dan Jurug (timur). Sedangkan Gapura Kasunanan ukuran kecil bisa dilihat di daerah RS Kandang Sapi (utara), jalan arah Baki di Solo Baru (selatan), Makamhaji (barat), dan di Mojo/Silir. Gapura Kasunanan besar juga memiliki prasasti waktu pendirian gapura.

Pembagian Administratif

Kota Surakarta dan kabupaten-kabupaten di sekelilingnya, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, secara kolektif masih sering disebut sebagai eks-Karesidenan Surakarta. Surakarta dibagi menjadi 5 kecamatan yang masing-masing dipimpin oleh seorang camat dan 51 kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh seorang lurah. Kelima kecamatan di Surakarta adalah:

  • Kecamatan Pasar Kliwon (57110): 9 kelurahan
  • Kecamatan Jebres (57120): 11 kelurahan
  • Kecamatan Banjarsari (57130): 13 kelurahan
  • Kecamatan Lawiyan (disebut juga Laweyan, 57140): 11 kelurahan
  • Kecamatan Serengan (57150): 7 kelurahan

balaikota_solo_by_bennylin_04-01

Balai kota Surakarta

Kota Satelit

Surakarta dan kota-kota satelitnya (Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak) adalah kawasan yang saling berintegrasi satu sama lain. Kawasan Solo Raya ini unik karena dengan luas kota Surakarta sendiri yang hanya 44 km persegi dan dikelilingi kota-kota penyangganya yang masing-masing luasnya kurang lebih setengah dari luas kota Surakarta dan berbatasan langsung membentuk satu kesatuan kawasan kota besar yang terpusat.

Solo Baru (Soba) merupakan kawasan yang dimekarkan dari kota Solo. Solo baru selain sebagai salah satu kota satelit dari Kota Surakarta juga merupakan kawasan permukiman bagi para pekerja atau pelaku kegiatan ekonomi di kawasan Kota Surakarta.

Di Solo Baru banyak terdapat perumahan sedang dan mewah, maka dari itu Solo Baru juga merupakan kawasan permukiman elit. Di Solo Baru juga terdapat pasar swalayan Carrefour. Pandawa waterboom yang merupakan waterboom terbesar di Jawa Tengah dan Yogyakarta terdapat di kawasan ini.

Meskipun termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukoharjo tetapi secara ekonomi dan politis Solo Baru lebih dekat ke Kota Surakarta, karena letak wilayah kotanya yang langsung berbatasan dengan Kota Surakarta, bahkan pernah ada wacana tentang penggabungan wilayah wilayah kota satelit di sekitar Surakarta termasuk Solo Baru untuk dimasukkan ke dalam wilayahnya. Luas wilayah Kota Surakarta beserta wilayah-wilayah kota penyangganya saat ini sekitar 150 km² dengan jumlah penduduknya sekitar 1 juta jiwa.

Pemerintahan

Surakarta terletak di Provinsi Jawa Tengah. Sebelum bergabung dengan Indonesia, Surakarta diperintah oleh Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaran. Semasa dikuasai oleh Belanda, Surakarta dikenal sebagai sebuah Vorstenland atau wilayah kerajaan. Penguasa Kasunanan Surakarta saat ini adalah Sunan Pakubuwana XIII, dan penguasa Praja Mangkunegaran saat ini adalah Adipati Mangkunegara IX. Kedua penguasa monarki seremonial ini tidak memiliki kekuasaan politik di Surakarta.

Secara yuridis Kota Surakarta terbentuk berdasarkan Penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor 16/SD, yang diumumkan pada tanggal 15 Juli. Dengan berbagai pertimbangan faktor-faktor historis sebelumnya, tanggal 16 Juni 1946 ditetapkan sebagai hari jadi Pemerintah Daerah Kota Surakarta.

Wali Kota

Wali kota Surakarta sejak Juli 2015 dijabat oleh pejabat sementara, merangkap sebagai Sekretaris Daerah, Boeddy Soeharto. Sebelumnya jabatan ini dijabat oleh F.X. Hadi Rudyatmo yang menggantikan Ir. Joko Widodo yang dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta tanggal 15 Oktober 2012.

Pasangan wali kota dan wakil wali kota, yang sering disebut sebagai Jokowi-Rudy, pertama kali terpilih sebagai wali kota Surakarta untuk masa bakti 2005-2010. Kemudian pasangan dari PDI-P ini terpilih lagi untuk masa bakti kedua dengan perolehan suara lebih dari 90% untuk masa jabatan 2010-2015.

Di bawah kepemimpinan Jokowi dan Rudy, Surakarta mengalami perubahan yang pesat. Para pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dapat direlokasi hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka.

Investor diberi syarat untuk mau memikirkan kepentingan publik. Komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) diadakan secara rutin dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang telantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman.

Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Sejak 1 Oktober 2012 Wali Kota Surakarta Ir. Joko Widodo mengundurkan diri dari jabatan wali kota setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017.

Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008”.

Pada tanggal 17 April 2013, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo resmi melantik Dr. H. Achmad Purnomo sebagai wakil wali kota Surakarta menggantikan F.X. Hadi Rudyatmo yang menjadi wali kota Surakarta.

Julukan dan Semboyan

solo-spirit-of-javaSurakarta memiliki semboyan “Berseri”, akronim dari “Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah”, sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Surakarta mengambil slogan pariwisata Solo, The Spirit of Java (Jiwanya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Slogan Solo The Spirit of Java diperoleh dari hasil sayembara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surakarta pada 4 Oktober sampai 14 November 2005 yang dimenangkan oleh Dwi Endang Setyorini (warga Giriroto, Ngemplak, Boyolali). Logonya, dikerjakan oleh perusahaan periklanan pemenang pitching (tender), yaitu Freshblood Indonesia (Surakarta) dan didampingi oleh tim konsultan desain Optimaxi (Jakarta) di bawah pengawasan GTZ dalam rangkaian program Regional Economic Development (RED) atau GTZ-RED.

Perancangan logo berlangsung sekitar enam bulan di Surakarta. Selama masa itu diselenggarakan sesi konsultasi dengan Badan Koordinasi Antar Daerah (BKAD) dan tokoh masyarakat, yang puncak sosialisasinya digelar di Ballroom Hotel Quality (The Sunan Hotel saat ini), dihadiri beragam kalangan sebagai representasi wilayah Solo Raya.

Tim perancang bekerja dengan bekal slogan hasil sayembara dan dituntut menjabarkan konsep Spirit of Java dalam wujud visual. Identitas visual yang berupa tulisan ”Solo” beserta slogan di bawahnya dengan aksen huruf ”O” berbentuk relung diperoleh dari ekstraksi konsep visual yang merefleksikan kesan Jawa dalam tampilannya. Relung dalam logo bisa saja mengingatkan orang pada ornamen keris, batik, atau mebel yang merujuk pada wilayah (Jawa).

Selain itu Kota Surakarta juga memiliki beberapa julukan, antara lain Kota Batik, Kota Budaya, Kota Liwet. Penduduk Surakarta disebut sebagai wong Solo, dan istilah putri Solo juga banyak digunakan untuk menyebut wanita yang memiliki karakteristik mirip wanita dari Surakarta.

Kependudukan

Salah satu sensus paling awal yang dilakukan di wilayah Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) pada tahun 1885 mencatat terdapat 1.053.985 penduduk, termasuk 2.694 orang Eropa dan 7.543 orang Tionghoa. Wilayah seluas 5.677 km² tersebut memiliki kepadatan 186 penduduk/km². Ibukota karesidenan tersebut sendiri pada tahun 1880 memiliki 124.041 penduduk.

abdi_dalem_keraton_surakarta

Abdi dalem Keraton Surakarta mengenakan busana Jawi Jangkep Sowan Keraton. Suku Jawa merupakan etnis mayoritas di Kota Surakarta, dan Surakarta merupakan kota pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa.

Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2010 adalah 503.421 jiwa[1], terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, yang tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan dengan daerah seluas 44,1 km2. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Catatan dari tahun 1880 [18] memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa. Pertumbuhan penduduk dalam kurung 10 tahun terakhir berkisar 0,565 % per tahun.[19] Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/km2, yang merupakan kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2).[20]

Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah[1] dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.

Daftar kecamatan di Surakarta

DAFTAR KECAMATAN SURAKARTA.png

Kecamatan terpadat di Surakarta adalah Pasar Kliwon, yang luasnya hanya sepersepuluh luas keseluruhan Surakarta, sedangkan Laweyan merupakan kecamatan dengan kepadatan terendah. Laju pertumbuhan penduduk Surakarta selama 2000-2010 adalah 0,25%, jauh di bawah laju pertumbuhan penduduk Jawa Tengah sebesar 0,46%.

Jika wilayah penyangga Surakarta juga digabungkan secara keseluruhan (Solo Raya: Surakarta, Kartasura, Colomadu, Ngemplak, Baki, Grogol, Palur), maka luasnya adalah 130 km². Penduduknya lebih dari 800.000 jiwa.

Pendidikan

Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 68.153 siswa dan 869 sekolah di Surakarta, dengan perincian: 308 TK/RA, 292 SD/MI, 97 SMP/MTs, 56 SMA/MA, 46 SMK, 54 PT, dan 16 sekolah lain.

Di Surakarta terdapat dua universitas besar, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),keduanya memiliki lebih dari 0 mahasiswa aktif dan termasuk katagori 50 universitas terbaik di Indonesia. Demikian pula terdapat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

universitas-sebelas-maret

Universitas Sebelas Maret, salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia

Selain itu terdapat 52 universitas swasta lainnya seperti Unisri ( Universitas Slamet Riyadi ), Universitas Tunas Pembangunan, Universitas Setia Budi, STIKES Muhammadiyah, Universitas Islam Batik, dll. Surakarta juga kini menjadi tempat tujuan studi para lulusan SMA dari seluruh Indonesia.

Perekonomian dan Perdagangan

Industri batik menjadi salah satu industri khas Surakarta. Sentra kerajinan batik dan perdagangan batik antara lain di Laweyan dan Kauman. Pasar Klewer serta beberapa pasar batik tradisional lain menjadi salah satu pusat perdagangan batik di Indonesia. Perdagangan di Surakarta berada di bawah naungan Dinas Industri dan Perdagangan.

pusat_grosir_solo

Pusat perdagangan batik di Pusat Grosir Solo

Selain Pasar Klewer, Surakarta juga memiliki banyak pasar tradisional, di antaranya Pasar Gedhe (Pasar Besar), Pasar Legi, dan Pasar Kembang. Pasar-pasar tradisional yang lain menggunakan nama-nama dalam bahasa Jawa, antara lain nama pasaran (hari) dalam Bahasa Jawa: Pasar Pon, Pasar Legi, sementara Pasar Kliwon saat ini menjadi nama kecamatan dan nama pasarnya sendiri berubah menjadi Pasar Sangkrah. Selain itu ada pula pasar barang antik yang menjadi tujuan wisata, yaitu Pasar Triwindu/Windu Jenar (setiap Sabtu malam diubah menjadi Pasar Ngarsopuro) serta Pasar Keris dan Cinderamata Alun-Alun Utara Keraton Surakarta.

Pusat bisnis kota Surakarta terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini, termasuk Graha Soloraya, Loji Gandrung (rumah dinas wali kota). Pada hari minggu pagi, jalanan Slamet Riyadi khusus ditutup bagi kendaraan bermotor, untuk digunakan sebagai ajang Solo Car Free Day, sebagai bagian dari tekad pemda untuk mengurangi polusi. Beberapa mal modern di Surakarta antara lain Solo Square, Solo Grand Mall (SGM), Solo Paragon, Solo Center Point (SCP), Singosaren Plaza, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), Hartono Mall Solo Baru, Pusat Perbelanjaan Luwes (Ratu Luwes, Sami Luwes, Luwes Sangkrah, Luwes Gading, Luwes Nusukan, Luwes Mojosongo, Luwes Palur), dan Palur Plaza.

Sebagai salah satu kota yang maju, tentu saja di Surakarta juga telah berdiri usaha penginapan dari mulai homestay, losmen, bintang kelas melati hingga hotel berbintang 4 (empat) dan 5 (lima) diantaranya adalah Red Planet (hotel bintang 2, Mangkubumen), Amarelo Hotel (hotel bintang 3, Kemlayan), Grand Amira Hotel (hotel bintang 2, Pasar Kliwon), Amaris Hotel (hotel bintang 2, Sriwedari), Grand Orchid Hotel (hotel bintang 3, Timuran), The Sunan Hotel (hotel bintang 4, Kerten), Hotel Sahid Jaya (hotel bintang 5, Timuran), Simple In Solo (hotel bintang 1, Manahan), Novotel (hotel bintang 4, Timuran)

Surakarta memiliki beberapa pabrik yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang besar antara lain Sritex, Konimex, dan Jamu Air Mancur. Selain itu masih ada banyak pabrik-pabrik lain di zona industri Palur. Industri batik juga menjadi salah satu industri khas Surakarta.

Keberagaman

Bangunan ibadah bersejarah di Surakarta beragam, yang mencerminkan keberagaman kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Surakarta, mulai dari masjid terbesar dan paling sakral yang terletak di bagian barat Alun-alun Utara Keraton Kasunanan, Surakarta, yaitu Masjid Agung Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1763 atas prakarsa dari Sunan Pakubuwana III, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di Surakarta, Gereja St. Petrus di Jl. Slamet Riyadi, Gereja St. Antonius Purbayan, hingga Tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie, ViharaAm Po Kian, dan Sahasra Adhi Pura.

great_mosque_of_solo

Masjid Agung Surakarta

Selain dihuni oleh Suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Surakarta. Walaupun tidak ada data pasti berapa jumlah masing-masing kepercayaan maupun etnis penduduk dalam sensus terakhir (2010), namun mereka banyak membaur di tengah-tengah warga Surakarta pada umumnya.

798px-tien_kok_sie

Klenteng Tien Kok Sie

Perkampungan Arab menempati tiga wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu di Kecamatan Pasar Kliwon. Penempatan kampung Arab secara berkelompok tersebut sudah diatur sejak zaman dulu untuk mempermudah pengurusan bagi etnis asing di Surakarta dan demi terwujudnya ketertiban dan keamanan. Etnis Arab mulai datang di Pasar Kliwon diperkirakan sejak abad ke-19. Terbentuknya perkampungan di Pasar Kliwon, selain disebabkan oleh adanya politik permukiman pada masa kerajaan, juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial.

Warto dalam penelitiannya menyebutkan pada tahun 1984, jumlah keturunan Arab adalah 1.877 jiwa, sementara jumlah warga Tionghoa adalah 103 jiwa. Berdasarkan data monografi kelurahan Pasar Kliwon tahun 2005, menyebutkan bahwa jumlah keturunan Arab adalah 1.775 jiwa, sedangkan keturunan Tionghoa adalah 135 jiwa.

Dari data tersebut dapat dilihat adanya penurunan jumlah penduduk keturunan Arab di Pasar Kliwon. Hal ini disebabkan karena lahan di kelurahan Pasar Kliwon semakin sempit sehingga terjadi perpindahan di daerah lain.

Sementara itu perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah, seperti Kelenteng Tien Kok Sie.

Layanan Publik

pedestrian_di_sepanjang_jalan_slamet_riyadiBeberapa rumah sakit bersejarah antara lain RS Kadipolo dan Rumah Sakit Panti Kosala (Kandang Sapi). Sementara rumah sakit lain dengan fasilitasUGD 24 jam antara lain RSUD Moewardi, RS PKU Muhammadiyah, RS Islam Surakarta (Yarsis), RS Kustati, RS Kasih Ibu, RS Panti Waluyo, RS Brayat Minulyo, dan RS Dr. Oen Solo Baru. RS Ortopedi Dr. Soeharso adalah salah satu pusat ortopedi terkemuka di Indonesia yang pernah menjadi pusat rujukan tulang nasional.

Surakarta juga memiliki beberapa taman, antara lain Taman Balekambang, Taman Tirtonadi, Taman Sekartaji, Taman Sriwedari, yang juga merangkap sebagai tempat hiburan, tempat pagelaran musik dangdut dan wayang orang, tepatnya di Gedung Wayang Orang Sriwedari.

Tempat ini menyajikan seni pertunjukan daerah wayang orang yang menyajikan cerita wayang berdasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata. Pada kesempatan tertentu juga digelar cerita-cerita wayang orang gabungan antara wayang orang sriwedari dengan wayang orang RRI Surakarta dan bahkan dengan seniman-seniman wayang orang Jakarta, Semarang, ataupun Surabaya.

Tempat hiburan umum lainnya adalah Kebun Binatang Jurug (Taman Satwataru Jurug), yaitu salah satu dari kebun binatang terbesar dan tertua di Indonesia.

Tempat pemakaman umum di Surakarta antara lain adalah TPU Purwoloyo, TPU Utoroloyo, TMP Kusuma Bakti, TPU Pucang Sawit, dan pemakaman Tionghoa yang terletak di kecamatan Jebres, TPU Bonoloyo, Astana Utara Nayu, dan Astana Bibis Luhur yang terletak di kecamatan Banjarsari, TPU Pracimoloyo maupun TPU Daksinoloyo di perbatasan Kabupaten Sukoharjo.

Karena jumlah lahannya yang terbatas, saat ini banyak anggota masyarakat yang memilih untuk menguburkan orang yang sudah meninggal di pemakaman-pemakaman yang terletak di luar batas kota Surakarta, misalnya pemakaman Kristen di Jeruksawit, Karanganyar, kompleks pemakaman Delingan di Karanganyar, dll.

Khusus bagi raja-raja keraton Surakarta, bagi raja yang meninggal akan dimakamkan di pemakaman hereditas di Makam Imogiri di puncak sebuah bukit 12 km di sebelah selatan Yogjakarta.

Kode area untuk kota Surakarta adalah 0271 (+6271). Telepon umum koin/kartu jarang dijumpai, sebagai gantinya, beberapa wartel tersebar di berbagai sudut kota. Selain itu mereka juga biasanya menjual pulsa prabayar. Warnet juga banyak dijumpai di berbagai tempat, sedangkan beberapa tempat sudah mulai menyediakan fasilitas Wi-Fi untuk para pengunjungnya.

Kesehatan

Rumah sakit

Kota Surakarta dan wilayah sekitarnya mempunyai beberapa rumah sakit, di antaranya:

  • Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi (Rumah Sakit Jebres)
  • Rumah Sakit Islam Kustati
  • Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta
  • Rumah Sakit Dr. Oen Surakarta (Kandang Sapi)
  • Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso
  • Rumah Sakit Panti Waluyo
  • Rumah Sakit Slamet Riyadi (DKT)
  • Rumah Sakit AURI Adi Sumarmo
  • Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
  • Rumah Sakit Kasih Ibu
  • Rumah Sakit Brayat Minulyo
  • Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru
  • Rumah Sakit Jiwa Surakarta
  • Rumah Sakit Jiwa Panti Rapih
  • Rumah Sakit Bersalin Triharsi
  • Rumah sakit Kadipolo
  • Rumah Sakit Jiwa Surakarta
  • Rumah Sakit Jiwa Syaraf Puri Waluyo
  • Rumah Sakit Jiwa Dewantoro

Puskesmas

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di Surakarta antara lain:

  • Puskesmas Pajang
  • Puskesmas Penumping
  • Puskesmas Purwosari
  • Puskesmas Jayengan
  • Puskesmas Kratonan
  • Puskesmas Gajahan
  • Puskesmas Sangkrah
  • Puskesmas Purwodiningratan
  • Puskesmas Ngoresan
  • Puskesmas Sibela
  • Puskesmas Pucangsawit
  • Puskesmas Nusukan
  • Puskesmas Manahan
  • Puskesmas Gilingan
  • Puskesmas Banyuanyar
  • Puskesmas Setabelan
  • Puskesmas Gambirsari

Olahraga

Kota Surakarta memiliki sejarah olahraga yang cukup lama. Tahun 1923 di Surakarta telah terbentuk klub sepak bola, salah satu klub yang pertama di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda, yang bernama Persis Solo.

Persis Solo adalah raksasa sepak bola di Hindia Belanda yang masih eksis hingga saat ini, Persis pernah menjuarai kompetisi Perserikatan sebanyak 7 kali dan saat ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia.

Selain Persis Solo, tercatat beberapa klub sepak bola lain pernah hadir di Surakarta, antara lain Arseto Solo, Pelita Solo,Persijatim Solo FC, dan terakhir adalah kontestan Liga Primer Indonesia, Solo FC yang baru terbentuk pada tahun 2010.

Kedua tim sepak bola yang masih eksis saat ini, yaitu Persis Solo dan Solo FC, bermarkas di Stadion Manahan, sebuah stadion tipe Stadion Madya Olimpiade kategori B+ dan salah satu stadion terbaik di Jawa Tengah yang pernah beberapa kali menjadi tempat penyelenggaraan even olahraga tingkat nasional dan internasional.

Di stadion yang memiliki kapasitas 25.000 penonton ini antara lain pernah menjadi tempat pertandingan Liga Champions AFC 2007karena Persik tidak punya stadion kandang memadai, final Piala Indonesia 2010, pembukaan Liga Primer Indonesia musim pertama pada 15 Januari 2011, dan menjadi penyelenggara ASEAN Paragames 2011.

Jika awalnya Manahan merupakan tanah lapang tempat olahragamemanah, stadion ini beberapa kali berubah fungsinya, mulai dari tempat balapan kuda (dengan kandang-kandang kuda di kampung Kestalan dan Setabelan, serta di kompleks keraton), hingga saat ini difungsikan sebagai lapangan sepak bola dan ketika malam hari dan hari Minggu berubah menjadi kawasan sosial bagi warga kota Surakarta. Kebudayaan serta olahraga memanah dan pacuan kuda sendiri saat ini sudah sangat jarang ditemukan di kota Surakarta.

Pada tahun 1948, Surakarta juga dipercaya untuk menyelenggarakan pertama, yang tanggal pembukaannya masih diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional. Pada kejuaraan itu, Surakarta yang berlaga mewakili Karesidenan Surakarta berhasil merebut gelar juara umum.

Sedangkan hingga tahun 2009, Surakarta juga memiliki satu-satunya klub basket profesional di Jawa Tengah, yaitu Bhinneka Solo. Beberapa gelanggang olahraga di kota Surakarta antara lainStadion Manahan dan Stadion Sriwedari untuk olahraga sepak bola dan GOR Bhinneka, yang kini berganti nama menjadi Stadion Sritex.

Transportasi

Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang-Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini. Saat ini sebuah jalan tol – Jalan Tol Semarang-Solo – yang menghubungkan ke Semarang sedang dalam proses pembangunan. Surakarta juga merupakan kota yang terkurung daratan, sehingga tidak memiliki moda transportasi air.

Angkutan darat[sunting | sunting sumber]
Taksi adalah salah satu moda transportasi yang sering dijumpai. Dari bandara, turis dapat memesan tiket dengan menyebutkan tujuannya dan membayar ongkos taksi di muka. Beberapa jasa pelayanan taksi antara lain Aravia (636468), Solo Central Taksi (728728), Kosti (664504,856300), Mahkota Ratu (655666). Sementara itu beberapa persewaan mobil juga dapat ditemu di bandara.

Jasa transportasi tradisional yang terkenal lainnya adalah becak, yang dikayuh dengan tenaga manusia. Angkutan umum dalam kota yang lain mencakup bus kota, angkot, dan andong.

Bus

Terminal bus besar kota ini bernama Terminal Tirtonadi yang beroperasi 24 jam karena merupakan jalur antara yang menghubungkan angkutan bus dari Jawa Timur(terutama Surabaya dan Banyuwangi) dan Jawa Barat (Bandung). Selain Tirtonadi, terdapat pula dua terminal untuk angkutan lokal: Terminal Harjodaksino di sisi selatan kota (dulu merupakan terminal bus antarkota) dan Terminal Tipes di sisi barat kota. Selain itu, dua terminal penunjang terdapat pula di sekitar kota namun berada di luar pengelolaan pemerintah kota, yaitu Terminal Kartasura di barat, yang terhubung ke Jakarta dan Surabaya, dan Terminal Palur di timur kota.

Selain itu pada tahun 2010 diluncurkan angkutan umum massal bus Batik Solo Trans. Saat ini bus rapid transit Batik Solo Trans telah memiliki dua koridor.

Kereta Api

Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (dibangun 1873) yang menghubungkanYogyakarta (barat), Semarang (utara), dan Surabaya (timur), dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia.

Hubungan perjalanan dari setasiun ini cukup baik, mencakup semua kota besar di Jawa secara langsung dan hampir dalam semua kelas. Di Kota Surakarta juga terdapat tiga stasiun kereta api lain. Stasiun Solo Jebres dipakai sebagai stasiun perhentian untuk kereta-kereta api kelas ekonomi atau kereta api relasiSemarang-Madiun. Stasiun Solo-Kota (Sangkrah) merupakan stasiun perhentian untuk jalur KA Purwosari-Wonogiri.

Stasiun Purwosari di tepi barat kota merupakan stasiun cabang menuju Wonogiri (selatan). Dulu Purwosari juga merupakan stasiun pemberhentian untuk jurusan Boyolali (barat). Kereta api ekspres ke Jakarta memakan waktu tempuh 10 jam, sementara kereta api ekspres ke Surabaya memakan waktu tempuh 5 jam. Kereta api ekspres yang melalui Surakarta antara lain: Argo Lawu, Argo Dwipangga, Bima dan Gajayana (dari/ke Jakarta, dengan AC), Argo Wilis dan Lodaya (dari/ke Bandung), Argo Wilis danSancaka (dari/ke Surabaya). Kereta bisnis malam Senja Utama Solo juga melayani transportasi dari/ke Jakarta.

Selain itu transportasi Surakarta juga memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki rel kereta api yang paralel dengan jalan raya, tepatnya di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi. Di jalur ini terdapat rel Railbus Batara Kresna dan juga difungsikan sebagai jalur kereta api wisata Sepur Kluthuk Jaladara yang berhenti di Loji Gandrung (kantor wali kota Surakarta) dan Kampung Batik Kauman.

Pesawat Terbang

Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo (kode SOC, dulu bernama “Panasan”) terletak 14 kilometer di sebelah utara kota Surakarta. Secara administratif banda udara ini terletak di luar batas kota Surakarta, tepatnya di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Bandara ini terhubung ke Jakarta (8-penerbangan sehari), Kuala Lumpur, Singapura & Bandar Seri Begawan, serta Arab Saudi (pada musim haji).

Waktu tempuh perjalanan udara dengan Jakarta berlangsung sekitar satu jam. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari/ke kota Surakarta antara lain Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air, Malaysia Airlines, Singapore Airlines & Royal Brunei Airlines. Bandara Adi Sumarmo juga menjadi pusat pemberangkatan dan penerimaan haji dari Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Pariwisata

Surakarta juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta juga akan singgah di Surakarta, atau sebaliknya. Tujuan wisata utama kota Surakarta adalah Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan kampung-kampung batik serta pasar-pasar tradisionalnya.

Di Surakarta terdapat beberapa citywalk yang ditujukan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda, antara lain di koridor Ngarsopuro, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi (sepanjang 6–7 km dan selebar 3 m), dan di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan. Tempat-tempat yang ditunjuk sebagaicitywalk tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermotor.

Wisata Alam

Wisata-wisata alam di sekitar Surakarta antara lain Kawasan Wisata Tawangmangu (berada di Kabupaten Karanganyar), Kawasan Wisata Selo (berada di Kabupaten Boyolali), Agrowisata Kebun Teh Kemuning, Air Terjun Jumog, Air Terjun Parang Ijo, Air Terjun Segoro Gunung, Grojogan Sewu, dan lain-lain. Selain itu di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, terdapat beberapa candi peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha, seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Monyet, dan lain-lain.

Festival dan Perayaan

Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

Kirab Pusaka Malam 1 Sura

Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada malam hari menjelang tanggal 1 Sura. Acara ini ditujukan untuk merayakan Tahun Baru Jawa 1 Sura. Rute yang ditempuh oleh kirab yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta kurang lebih sejauh 3 km yaitu Keraton Surakarta – Alun-Alun Utara – Gladag – Jl. Mayor Kusmanto – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi – Gladag kemudian kembali ke Keraton Surakarta lagi. Pusaka-pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Peserta kirab yang berada di barisan paling depan adalah sekelompok kerbau albino (kebo bule) bernama keturunan kerbau pusaka Kyai Slamet, sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.

Sekaten

Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-Alun Utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir sekaten, diadakan kembali acara grebeg di Alun-Alun Utara. Upacara sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

Grebeg Sudiro

Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di Kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Surakarta.[40]

Grebeg Mulud

Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana Jawi Jangkep Sowan Keraton mengarak gunungan (pareden) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama keraton), satu buah gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.

Tinggalandalem Jumenengan

Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan Sri Susuhunan Surakarta. Dalam acara ini sang raja duduk di atasdampar (singgasana) di Pendapa Agung Sasana Sewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem dan bangsawan sambil menyaksikan tari sakral, Tari Bedhaya Ketawang, yang ditarikan oleh sembilan remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalem, sentanadalem, dan kerabat raja lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.

Grebeg Pasa

Grebeg ini diadakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan Salat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.

Syawalan

Syawalan mulai diadakan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwataru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu “Larung Gethek Jaka Tingkir” diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

Grebeg Besar

Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.

Solo Batik Carnival

Karnaval Batik Solo atau Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

Solo Batik Fashion

Demikian pula Solo Batik Fashion adalah sebuah peragaan busana batik tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah di tempat-tempat terbuka supaya dapat dinikmati oleh segenap warga Surakarta. Peragaan batik ini diadakan setiap tahun pada bulan Juli sejak tahun 2009.

Wisata Kuliner

Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional. Beberapa makanan khas Surakarta antara lain: sate kambing, nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg dan gudeg cakar, pecel desa, cabuk rambak, bestik solo, selat Solo, bakso solo, serabi solo, intip, tengkleng, roti mandarin, sosis solo, kambing guling, sate buntel, sate kere, dll.

Beberapa minuman khas Surakarta antara lain: wedang asle yaitu minuman hangat dengan nasi ketan, wedang dawet gempol pleret (gempolterbuat dari sejenis tepung beras, sedangkan pleret terbuat dari ketan dan gula merah), jamu beras kencur, yaitu jamu kesehatan yang berbeda dari jamu yang lain karena rasanya yang manis, dll. Sementara itu, koridor Gladag setiap malam diubah menjadi pusat jajanan terbesar di Kota Surakarta dengan nama Galabo (Gladang Langen Bogan)

Arsitektur dan Peninggalan Sejarah

Karena sejarahnya, terdapat banyak bangunan bersejarah di Surakarta, mulai dari bangunan ibadah, bangunan umum, keraton, hingga bangunan militer. Selain Keraton Surakarta (dibangun 1745) dan Pura Mangkunagaran (dibangun 1757), terdapat pula Benteng Vastenburg peninggalan Belanda, dan Loji Gandrung yang saat ini digunakan sebagai kediaman Wali Kota Surakarta.

Sebelumnya, bangunan peninggalan Kolonial yang sampai saat ini masih utuh kondisinya ini selain digunakan sebagi tempat kediaman pejabat pemerintah Belanda, juga sering digunakan untuk dansa-dansi gaya Eropa dan bangsawan Jawa, sehingga disebut sebagai “Gandrung”.

Pada tahun 1997 telah didata 70 peninggalan sejarah di Surakarta yang meliputi tempat bersejarah, rumah tradisional, bangunan kolonial, tempat ibadah, pintu gerbang, monumen, furnitur jalan, dan taman kota.

Lansekap kota Surakarta juga dikenal tidak memiliki bangunan pencakar langit. Namun sejak 2010, di Surakarta terdapat sebuah apartemen pencakar langit, yaitu Solo Paragon.

Museum dan Perpustakaan

Museum batik yang terlengkap di Indonesia, yaitu House of Danar Hadi, dan museum tertua di Indonesia, yaitu Museum Radya Pustaka, terletak di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta.

Museum Radya Pustaka yang dibangun pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh KRA. Sosrodiningrat IV, pepatih dalem pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IX dan Sunan Pakubuwana X, museum ini memiliki artefak-artefak kuno kebudayaan Jawa dan bertempat di kompleks Taman Wisata Budaya Sriwedari.

Selain itu ada pula Museum Keraton Surakarta (termasuk perpustakaan Sasana Pustaka), Museum Pura Mangkunegaran (termasuk perpustakaan Reksa Pustaka), Museum Pers, Museum Sangiran (terletak di Kabupaten Sragen), dan Museum Lukis Dullah.

Selain museum, terdapat pula sebuah situs budaya bernama Balai Sudjatmoko. Bangunan ini adalah rumah Sudjatmoko yang di dalamnya masih bisa dilihat karya-karya dan peninggalan Sudjatmoko baik dalam bentuk buku, kaca mata, toga, dan foto-foto asli dokumenter koleksi pribadi keluarga Sudjatmoko.

Balai Sudjatmoko difungsikan oleh pengelolanya sebagai pusat apresiasi baik pementasan, pertunjukan, pameran, bedah buku dan sarasehan. Para seniman juga diberi kesempatan luas untuk memanfaatkan Balai Sudjatmoko untuk melakukan apresiasi seni dalam bentuk pameran baik pameran lukisan, patung, kriya sampai dengan pameran pendidikan. Di samping itu, Balai ini juga dapat dijadikan sebagai alternatif wahana pembelajaran bagi orang non seni.

Budaya

Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya “persaingan” kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai “Gaya Surakarta” dan “Gaya Yogyakarta” di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

Bahasa

Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah Bahasa Jawa Dialek Mataraman dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman juga dituturkan di daerahYogyakarta, Semarang, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai “varian halus” karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain.

Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar Bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata “inggih” (“ya” bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya “injih” (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.

Walaupun dalam kesehariannya masyarakat Surakarta menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, namun sejak kepemimpinan wali kota Joko Widodomaka Bahasa Jawa mulai digalakkan kembali penggunaannya di tempat-tempat umum, termasuk pada plang nama-nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan dan bisnis swasta.

Surakarta juga berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia. Pada tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Keputusan tersebut, antara lain:

  • mengganti Ejaan van Ophuysen,
  • mendirikan Institut Bahasa Indonesia, dan
  • menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.

Pernikahan Adat

Pernikahan adat Surakarta juga memiliki ciri-ciri yang khusus, mulai dari lamaran, persiapan pernikahan, hingga upacara siraman dan midodaren.

Tarian 

Surakarta memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa. Tarian seperti Bedhaya Ketawang misalnya, secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Surakarta sebagai pemimpin Kota Surakarta.

Batik

Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Surakarta memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.

Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara untuk kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik.

Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapatKampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546.[52] Kampun batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.

Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktikkan kegiatan membatik.

Batik Surakarta memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogyakarta yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman.

Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap tahunnya Surakarta juga mengadakanKarnaval Batik Solo dan mulai tahun 2010 pemerintah kota Surakarta mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans.

Surakarta dalam Budaya Populer

Sungai Bengawan Solo menjadi inspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940-an. Lagu ini menjadi populer di negara-negara di Asia. Selain itu, sungai ini pun telah menjadi judul tiga film, yaitu dua film berjudul “Bengawan Solo” tahun 1949 dan 1971, serta satu film berjudul Di Tepi Bengawan Solo (1951). Film-film lain yang mengambil tema Surakarta antara lain adalah: Putri Solo (1953) dan Bermalam di Solo (1962).

Media

Ada beberapa surat kabar yang beroperasi di daerah Surakarta, antara lain Solo Pos, Radar Solo (grup Jawapos), dan Joglosemar (surat kabar Jogja, Solo, Semarang). Selain itu ada pula puluhanstasiun radio di Surakarta dan sebuah televisi lokal yang beroperasi di Surakarta, yaitu TA TV (Terang Abadi Televisi).

Tokoh-tokoh dari Surakarta

Tokoh-tokoh dari Surakarta meliputi raja-raja Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, antara lain Mangkunegara I (Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa), Mangkunegara IV, yang pada masa pemerintahannya membawa Mangkunegaran menuju puncak kejayaan, Mangkunegara VII, sertaPakubuwana VI, yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, dan Pakubuwana X, yang mendukung pergerakan Sarekat Islam dan Budi Utomo.

Pahlawan dari Surakarta antara lain: Albertus Soegijopranoto, Uskup Agung Semarang, Dr. Muwardi, Kiai Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam, R. Maladi, Menteri Penerangan, Menteri Pemuda dan Olahraga, dan Ketua PSSI, Jenderal GPH. Djatikusumo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949), Muljadi Djojomartono, Menteri Sosial dan tokoh Muhammadiyah, Achmad Baiquni, ahli atom indonesia, Dr. Suharso, ahli ortopedi, lalu Dr.Supomo, Menteri Hukum dan HAM dan salah satu arsitek UUD 1945, Ir. Sedyatmo, pencipta struktur cakar ayam, Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum dan insinyur gedung DPR/MPR, dan Slamet Riyadi, dan dalam pemerintahan, Presiden Joko Widodo juga berasal dari Surakarta.

Dari bidang politik terdapat antara lain mantan ketua MPR Amien Rais dan Wiranto, sedangkan dari bidang seni dan sastra ada sederet tokoh, antara lainBasuki Abdullah, Gesang, Luluk Purwanto, Radjiman Wedyodiningrat, Rangga Warsita, Rendra, Teguh Srimulat, Waljinah, Wahjoe Sardono, Nunung,Yasadipura I, Yasadipura II, Didi Kempot, Setiawan Djodi, dan Mamiek Prakoso. Dari bidang olahraga terdapat petenis Wynne Prakusya, pelari tercepat di Asia Tenggara, Suryo Agung, pembalap Formula 1 Rio Haryanto, grandmaster Edhi Handoko, serta pebulutangkis Icuk Sugiarto, Rudy Gunawan, dan Bambang Suprianto.

Source: Wikipedia

 

 

 

 

 

Datang Sendiri, Pergi Sendiri

Datang Sendiri, Pergi Sendiri. Written By Kebajikan ( De 德 ) on Jumat, 24 Januari 2014

PHILOSOPHY OF LIFE

datang-sendiri-pergi-sendiri

KEBAJIKAN ( De 德 ) – Waktu kita lahir, kita datang sendiri, tiada yang menemani.Kita datang dengan karma dan dosa kita sendiri. Ketika napas terakhir tiba, kita pergi sendiri, membawa dosa dan karma, tiada yang menemani….

Suka atau tidak kita harus menerima segala duka derita hidup ini. Sebab kita yang melakukan karma dan kitalah yang menerima buah akibatnya…kita bertanggung jawab pada apa yang telah kita lakukan.

Pada hakekatnya, kita selalu sendirian, tidak ada siapa siapa yang dapat mendampingi kita, sebab tidak ada ibu-bapak yang selamanya…Tidak ada suami-isteri dan putera-puteri yang abadi di dunia

Inilah hakekat kehidupan. Seberapa banyak pun harta yang Anda miliki, Seberapa pun tinggi jabatan Anda, dan Seberapa pun erat hubungan anak isteri dengan Anda, pada akhirnya, semuanya harus dilepaskan.

Tinggal Anda sendiri…Sendiri menjalani kelahiran dan kematian, sendiri berkelana dan menderita dalam penderitaan dari kalpa tahun tak terhitung yang lalu hingga kalpa tahun tak terhitung yang akan datang, Anda selalu sendirian…

Inilah sebabnya mengapa Anda membutuhkan Kasih dan kebenaran Tuhan yang abadi… Salam kebajikan.

Note: 

Kalpa adalah satuan waktu yang sangat panjang dalam ajaran Hindu dan Buddha.

Kalpa menurut agama Buddha

Dalam ajaran agama Buddha, ada empat Kalpa yang memiliki jangka waktu yang berbeda, yakni:

  1. Kalpa skala tetap (dasar perhitungan), berjalan selama 16 juta tahun
  2. Kalpa skala kecil, (1000 × 16 juta) berjalan selama 16 miliar tahun
  3. Kalpa menengah, (20 × 16 miliar) berjalan selama 320 miliar tahun
  4. Kalpa skala besar, (4 × 320 miliar) berjalan selama 12,8 triliun tahun

Buddha tidak berbicara tentang jangka pasti kalpa dalam tahun. Akan tetapi, Ia memberikan beberapa analogi untuk mengerti hal tersebut.

Bayangkan sebuah tabung kosong pada awal mula kalpa, kurang lebih 16 mil pada setiap sisinya. Setiap 100 tahun, kita memasukan biji mustard kecil di dalam tabung tersebut. Menurut Sang Buddha, tabung yang besar tersebut akan penuh sebelum 1 masa kalpa berakhir.

Bayangkan sebuah batu yang sangat besar/raksasa pada awal mula kalpa kurang lebih 16 x 16 x 16 mil. Kita mengambil sebuah batu kecil dan menyapu gunung tersebut sekali dalam 100 tahun. Menurut Sang Buddha, gunung yang besar tersebut akan habis sebelum 1 masa kalpa berakhir.

Beberapa bhante ingin mengetahui berapa banyak kalpa yang telah berlalu sejauh ini. Sang Buddha memberikan analogi sebagai berikut:

Jika kita menghitung jumlah total partikel pasir pada sepanjang sungai Gangga. dari hulu sungai sampai ia berakhir di laut, jumlah tersebut akan lebih sedikit daripada jumlah kalpa yang telah berlalu.

 

Fakta Kehidupan

Fakta Kehidupan Oleh Ven. Narada Maha Thera. 

PHILOSOPHY OF LIFE

Datang Sendiri …. Pergi Sendiri

_88832527_istock_000073821321_medium

Kita hidup dalam dunia yang tidak seimbang. Dunia yang tidak seluruhnya berisi bunga mawar atau pun seluruhnya berduri. Bunga mawar itu lembut, indah dan harum, tetapi tangkainya penuh dengan duri. Bagaimanapun, orang tidak akan meremehkan bunga mawar karena ada duri-durinya.

Bagi orang yang optimis, dunia ini seluruhnya berisi bunga mawar, bagi seorang yang pesimis, dunia in seluruhnya berduri. Tapi untuk seorang realistis, dunia ini tidak seluruhnya berisi bunga mawar ataupun seluruhnya berduri. Baginya dunia berisi keduanya, bunga mawar yang indah dan duri-duri yang tajam.

tb1mvaskfx

Orang yang mengerti tidak akan terbius oleh keindahan bunga mawar, tapi ia akan melihatnya sebagaimana adanya. Dengan mengetahui dengan baik sifat dari duri-duri, ia pun akan melihat mereka sebagaimana adanya dan akan berhati-hati agar tidak terluka.

Bagaikan bandul yang terus menerus bergoyang ke kiri dan kanan, empat keadaan yang diinginkan dan empat keadaan yang tidak diinginkan terus berlangsung di dunia ini. Setiap orang dalam hidupnya tanpa kecuali akan menghadapi keadaan-keadaan ini. Keadaan ini adalah keuntungan dan kerugian, terkenal akan kebaikan dan terkenal akan keburukan, pujian dan celaan, kegembiraan dan kesedihan.

Keuntungan Dan Kerugian

Pengusaha, sesuai hukumnya , akan mengalami keuntungan maupun kerugian. Adalah hal yang wajar bahwa seorang akan merasa puas diri ketika ia memperoleh keuntungan. Dalam hal ini tidak ada yang salah. Keuntungan baik legal maupun ilegal menghasilkan kenikmatan dalam jumlah tertentu yang dicari oleh umat manusia biasa.

Tanpa saat-saat yang menyenangkan, bagaimanapun singkatnya, hidup tak akan berarti. Dalam dunia yang kacau dan penuh persaingan, adalah benar bahwa orang hendaknya menikmati beberapa jenis kegembiraan yang menyenangkan hatinya. Kegembiraan ini, walaupun secara materil, akan membantu meningkatkan kesehatan dan umur penjang.

Masalah akan timbul jika kerugian terjadi. Keuntungan diterima dengan gembira, tapi tidak demikian halnya dengan kerugian. Kerugian sering menyebabkan penderitaan batin dan kadang kala usaha bunuh diri dilakukan karena karena kerugian yang tidak tertanggulangi. Dalam situasi yang berlawanan inilah, seseorang hendaknya menunjukkan keberanian moral yang tinggi dan mempertahankan keseimbangan batin yang baik. Kita semua pernah mengalami jatuh dan bangun dalam perjuangan hidup. Seseorang hendaknya menyiapkan diri menghadapi yang baik maupun yang buruk, sehingga ia tidak terlalu kecewa.

Ketika sesuatu dicuri, orang umumnya merasa sedih. Tetapi dengan merasa sedih, ia tidak akan dapat mengganti kehilangannya. Ia hendaknya menerima kehilangan itu secara filosofis. Hendaknya ia memiliki sikap yang murah hati dengan berpikir: “Si pencuri lebih membutuhkan barang tersebut daripada saya, semoga ia berbahagia.”

Pada masa Sang Buddha, seorang wanita bangsawan mempersembahkan makanan kepada Yang Ariya Sariputra dan beberapa orang bhikkhu. Ketika melayani mereka, ia menerima pesan yang menyatakan bahwa suatu musibah telah terjadi pada keluarganya. Tanpa menjadi cemas, dengan tenang ia menaruh pesan itu dalam kantung di pinggangnya dan melayani para bhikkhu seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Seorang pelayannya yang membawakan guci berisi mentega(terbuat dari susu kerbau India) untuk dipersembahkan kepada para bhikkhu, secara tidak disengaja tergelincir dan memecahkan guci yang dibawanya. Mengira bahwa sang wanita akan merasa sedih karenanya , Yang Ariya Sariputra menghiburnya dengan berkata bahwa segala sesuatu yang dapat pecah suatu saat pasti akan pecah.

Sang wanita berkata, “Bhante, apalah artinya kehilangan yang tak berarti ini? Saya baru saja menerima pesan yang menyatakan suatu musibah telah menimpa keluarga saya. Saya menerima hal itu tanpa merasa kehilangan keseimbangan batin saya. Saya melayani anda semua walaupun ada berita buruk tersebut.”

Ketabahan semacam ini yang dimiliki wanita tersebut sungguh sangat terpuji. Suatu saat Sang Buddha pergi mencari sedekah di suatu desa. Karena campur tangan Mara, Sang Buddha tidak memperoleh makanan.

Ketika Mara menanyakan apakah Sang Buddha merasa lapar, Sang Buddha dengan agung menerangkan sikap mental mereka yang telah terbebas dari kekotoran batin, dan menjawab, “Ah, betapa bahagianya kita yang hidup terbebas dari kekotoran batin. Sebagai pemberi kebahagiaan, kita bahkan dapat disamakan dengan para dewa di alam cahaya.”

Pada kesempatan lain, Sang Buddha dan para muridnya berdiam selama musim hujan di suatu desa atas undangan seorang brahmana yang ternyata benar-benar lupa akan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan Sang Buddha dan Sangha. Selama tiga bulan, walaupan Yang Ariya Monggalana rela berkorban untuk mendapatkan makanan dengan kekuatan batinnya, Sang Buddha tidak mengeluh, dan merasa puas atas rumput makanan kuda yang ditawarkan oleh seorang penjual kuda.

Seseorang yang tidak beruntung harus berusaha untuk menerima kenyataan secara dewasa. Sungguh sayang, orang menghadapi kerugiannya seringkali secara kelompok dan tidak sendirian. Ia harus menghadapinya dengan ketenangan dan memandangnya sebagai suatu kesempatan untuk menumbuhkan kebajikan yang mulia.

Terkenal Akan kebaikan Dan Terkenal Akan Keburukan

Terkenal atas hal yang baik dan terkenal atas hal yang buruk adalah pasangan keadaan lain yang tidak terhindarkan, yang kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkenal karena hal yang baik kita terima, terkenal karena hal yang buruk sangat kita benci.

  • Terkenal karena hal yang baik menggembirakan hati kita,
  • Terkenal karena hal yang buruk menyedihkan kita.
  • Kita ingin menjadi terkenal. Kita mendambakan foto kita terpampang di surat kabar.
  • Kita sangat gembira ketika kegiatan kita, bagaimanapun tidak berartinya, dipublikasikan.
  • Kadang kala kita bahkan menginginkan publikasi yang berlebihan.

Banyak orang ingin melihat fotonya di majalah, seberapapun biayanya yang harus dikeluarkannya. Untuk mendapatkan kehormatan, sebagian orang menawarkan hadiah atau memberikan sumbangan besar kepada orang yang berkuasa. Demi ketenaran, sebagian orang memamerkan kedermawanan mereka dengan memberikan sedekah kepada seratus orang bhikkhu atau lebih, tetapi mungkin mereka sama sekali tidak memperdulikan penderitaan orang miskin dan orang yang membutuhkan di lingkungan sekitar mereka. Seseorang dapat mendenda dan menghukum orang yang sangat kelaparan, yang untuk menghilangkan rasa laparnya mencuri sebutir kelapa di kebunnya, tetapi ia tidak ragu-ragu untuk mempersembahkan seribu butir kelapa untuk mendapatkan nama baik.

Inilah kelemahan-kelamahan manusia. Kebanyakan orang memiliki maksud terselubung. Orang yang tidak egois yang bertindak tanpa terpengaruhi oleh perasaannya sangatlah jarang di dunia ini. Kebanyakan orang yang terikat keduniawian memiliki maksud terselubung. Siapakah orang yang sempurna? Berapa banyak orang yang memiliki maksud yang benar-benar murni? Berapa banyak orang yang benar-benar tidak mementingkan diri sendiri dan mendahulukan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain?

Kita tidak perlu memburu ketenaran. Jika kita benar-benar pantas untuk menjadi terkenal, ketenaran akan datang kepada kita tanpa perlu dicari. Kumbang akan tertarik pada bunga yang berisi madu. Bunga sendiri tidak mengundang kumbang.

Tentu saja, kita tidak hanya merasa senang tapi juga sangat bahagia ketika ketenaran kita tersebar. Tetapi kita harus menyadari bahwa ketenaran, kehormatan, dan kekuasaan hanyalah bersifat sementara. Mereka dapat menghilang begitu saja.

Bagaimana dengan ketenaran akan keburukan? Hal ini tidak enak didengar dan mengganggu pikiran. Kita pasti gelisah ketika kata-kata tentang reputasi buruk kita menusuk telinga. Perasaan sakit akan lebih hebat ketika laporan tersebut tidak adil dan fitnah belaka.

Umumnya diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mendirikan gedung yang megah. Dalam satu atau dua menit, dengan senjata penghancur modern, dengan mudah gedung itu runtuh. Kadang kala diperlukan waktu bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup untuk membangun reputasi yang baik. Dalam waktu singkat nama baik yang diperoleh dengan susah payah itu hancur. Tidak ada orang yang terlepas dari kata penghancur yang dimulai dengan kata ‘tetapi’. “Ya, ia orang baik, dia melakukan ini dan melakukan itu,” tetapi reputasi yang baik ini diperburuk dengan kata ‘tetapi’. Anda mungkin hidup sebagai seorang Buddha tetapi anda tidak akan terlepas dari kritik, serangan, dan hinaan.

Sang Buddha adalah guru yang paling dikenal dan paling sering difitnah dalam masanya. Orang-orang besar sering kali dikenal, walaupun kadang kala mereka dikenal bukan karena hal-hal yang baik. Beberapa orang yang membenci Sang Buddha menyebarkan desas-desus bahwa seorang wanita sering bermalam di vihara. Setelah gagal dalam upaya ini, mereka menyebarkan fitnah diantara penduduk bahwa Sang Buddha dan para muridnya membunuh wanita tersebut dan menyembunyikan mayatnya di timbunan sampah bunga-bunga layu dalam vihara. Para penghasut akhirnya mengakui bahwa merekalah pelakunya.

Ketika misi bersejarah-Nya berhasil dan banyak orang meminta ditahbiskan oleh-Nya, para musuh memfitnah-Nya, dengan berkata bahwa Beliau merebut putra dari para ibu, memisahkan para istri dari suami mereka, dan bahwa Beliau menghambat kemajuan negara.

Gagal dalam usaha-usaha untuk menghancurkan sifat-Nya yang mulia, Sepupu-Nya sendiri Devadatta, murid-Nya yang iri, berusaha membunuh-Nya dengan menggulingkan batu dari atas, tetapi gagal. Jika demikian menyedihkannya nasib Sang Buddha yang sempurna dan tidak bersalah, bagaimanakah nasib dari manusia biasa yang tidak sempurna?

Semakin tinggi anda mendaki bukit, semakin mudah anda terlihat dan tampak dalam mata orang lain. Punggung anda terlihat, tapi bagian depan tersembunyi. Dunia mudah menemukan kesalahan, menunjukkan kegagalan dan keraguan anda, tetapi mangabaikan kebajikan anda yang lebih mudah terlihat. Kipas perontok merontokkan sekam tapi tetap membiarkan padinya, sebaliknya saringan mempertahankan ampas yang kasar dan membiarkan sari buah yang manis mengalir. Orang yang bermoral mengambil bagian yang halus dan menghilangkan bagian yang kasar, Orang yang tidak bermoral memgambil bagian yang kasar, tapi menghilangkan bagian yang halus.

Ketika anda difitnah, secara sengaja atau tidak, ingatlah nasehat dari Epictus, untuk berpikir atau berkata, “O, dengan pengenalannya yang terbatas dan pengetahuannya yang sedikit tentang saya, saya hanya sedikit dikritik. Tetapi jika ia mengenal saya lebih baik, maka lebih serius dan lebih hebatlah tuduhan yang ditujukan kepada saya.

Tidaklah perlu menghabiskan waktu memperbaiki laporan-laporan palsu kecuali jika keadaan memaksa anda membuat suatu penjelasan. Musuh anda akan senang ketika ia melihat anda terluka. Inilah yang sesungguhnya diharapkannya. Jika anda acuh saja, tuduhan itu akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan melihat kesalahan orang lain, hendaknya kita berlaku seperti orang buta. Dalam mendengar kritikan yang tidak adil kepada orang lain, hendaknya kita berlaku seperti orang tuli. Dalam membicarakan keburukan orang lain, hendaknya kita berlaku seperti orang bisu.

Adalah tidak mungkin untuk menghentikan tuduhan, laporan, maupun desas-desus yang salah. Dunia ini penuh dengan duri dan kerikil. Adalah tidak mungkin untuk memindahkan seluruhnya. Tapi, jika kita harus berjalan melewati rintangan tersebut, daripada mencoba memindahkannya, lebih baik memakai sepasang sandal dan berjalan tanpa terluka.

Dharma mengajarkan:

Berlakulah seperti seekor singa yang tidak takut akan suara apapun. Berlakulah seperti angin yang tidak terikat oleh jaring. Berlakulah seperti bunga teratai yang tidak terkotori oleh lumpur dimana ia tumbuh. Berkelanalah sendiri bagaikan seekor badak. Sebagai raja rimba, singa tidak memiliki rasa takut. Secara alamiah singa tidak dapat ditakuti oleh geraman dari binatang lain. Dalam dunia ini, kita dapat mendengar laporan palsu, tuduhan yang tidak benar, dan kata-kata hinaan. Seperti seekor singa, kita hendaknya tidak mendengarkannya. Seperti sebuah bumerang, semua akan kembali ke tempat asalnya. Anjing menggonggong tapi kafilah tetap berlalu.

Kita hidup dalam dunia yang berlumpur. Begitu banyak bunga teratai muncul dari lumpur tanpa terkotori dan menghiasi dunia. Bagaikan bunga teratai kita hendaknya mencoba menjalani kehidupan yang tidak tercela dan mulia, tidak memperdulikan lumpur yang mungkin dilemparkan kepada kita.

Kita hendaknya mengharapkan lumpur yang dilemparkan kepada, bukan bunga mawar. Dengan demikian kekecewaan tidak akan terjadi. Walaupun sulit, kita hendaknya berusaha mengembangkan ketidakterikatan. Kita datang sendiri dan kita akan pergi sendiri. Ketidakterikatan adalah suatu kebahagiaan di dunia ini.

Tanpa memperdulikan fitnahan, kita hendaknya berkelana sendiri melayani orang lain dengan seluruh kemampuan kita. Hal yang agak aneh bahwa orang-orang besar telah difitnah, dicemarkan namanya, diracun, disalib atau ditembak. Socrates yang agung telah diracun. Yesus Kristus yang mulia telah disalibkan. Mahatma Gandhi yang tidak bersalah telah ditembak.

Apakah berbahaya untuk menjadi orang yang terlalu baik? Ya, selama hidup mereka dikritik, diserang, dan dibunuh. Setelah kematiannya, mereka dipuja dan dihormati. Orang-orang besar tidak peduli akan kemahsyuran ataupun namanya tercemar. Mereka tidak marah ketika dikritik atau difitnah karena mereka bekerja bukan untuk nama baik atau kemahsyuran. Mereka tidak peduli apakah orang menghargai jasa mereka atau tidak. Mereka memiliki hak atas kerja mereka, tapi tidak atas buah yang diperolehnya (kritik dan hinaan).

Pujian Dan Celaan

Adalah hal yang wajar untuk menjadi bersemangat ketika dipuji dan menjadi tertekan ketika dicela. Dari sudut pandang duniawi, satu kata pujian dapat berdampak luas. Dengan sedikit pujian, bantuan dapat diperoleh dengan mudah. Satu kata pujian cukup untuk menarik pendengar sebelum seseorang berbicara. Jika pada awalnya seorang pembicara memuji pendengar, ia akan didengarkan. Jika ia mengkritik pendengar pada awalnya, tanggapan yang diperolehnya tidak akan memuaskan.

Orang yang bermoral tidak menggunakan sanjungan untuk mendapatkan bantuan, dan juga tidak mengharapkan untuk disanjung-sanjung oleh orang lain. Orang yang pantas dipuji akan mereka puji tanpa rasa iri. Orang yang pantas dicela akan mereka cela tidak dengan merendahkan, tetapi dilandasi kasih sayang dengan tujuan untuk memperbaiki mereka.

Bagaimana dengan celaan? Sang Buddha bersabda, “Mereka yang banyak bicara dicela. Mereka yang sedikit bicara dicela. Mereka yang diam juga dicela. Di dunia tidak ada yang tidak dicela.” Sebagian besar orang di dunia menyatakan bahwa Sang Buddha tidak disiplin, namun bagaikan seekor gajah di medan perang menahan semua panah yang ditembakkan kepadanya, Sang Buddha menahan segala hinaan.

Orang yang bermoral rendah dan jahat cenderung mencari keburukan orang lain, tetapi tidak akan mencari kebaikannya. Tidak ada orang yang sempurna baiknya. Sebaliknya tidak ada orang yang benar-benar jahat. Ada keburukan dari orang yang terbaik di antara kita. Ada kebaikan dari orang yang terjahat di antara kita.

Sang Buddha bersabda, “Ia yang berdiam diri bagaikan gong yang telah pecah ketika diserang, dihina, dan dikutuk, Saya sebut berada dalam Nibbana, walaupun ia belum mencapai Nibbana.” Pada suatu kesempatan, Sang Buddha diundang oleh seorang brahmana untuk dijamu di rumahnya. Atas undangan itu, Sang Buddha berkunjung ke rumahnya. Namun bukan menjamu-Nya, brahmana tersebut mencaci maki-Nya dengan kata-kata kotor.

Sang Buddha dengan sopan bertanya, “Apakah tamu-tamu datang ke rumah anda, brahmana yang baik?” “Ya,” jawab brahmana. “Apa yang kamu lakukan ketika tamu datang?” “Oh, kami akan menyiapkan jamuan yang mewah.” “Jika mereka tidak datang?” “Wah, dengan senang hati kita menghabiskan jamuan tersebut.” “Baiklah , brahmana yang baik. Anda mengundang saya untuk dijamu dan anda telah menjamu saya dengan caci maki. Saya tidak menerima apa-apa, silahkan anda mengambilnya lagi.” Sang Buddha tidak membalas. Tidak membalas merupakan nasehat Sang Buddha. “Kebencian tidak dapat diatasi dengan kebencian tetapi hanya dengan kasih sayang saja kebencian itu reda,” adalah ucapan mulia dari Sang Buddha.

Hinaan adalah hal yang biasa dalam kemanusiaan. Semakin banyak anda bekerja dan semakin hebat anda, anda semakin dihina dan dipermalukan. Yesus Kristus telah dihina, dipermalukan, dan disalibkan. Socrates dihina oleh istrinya sendiri. Istrinya selalu memarahinya. Suatu hari istrinya sakit dan tidak mampu melakukan tugas rutinnya yang galak. Socrates meninggalkan rumahnya hari itu dengan wajah yang sedih. Teman-temannya bertanya, “Anda seharusnya merasa gembira karena tidak memperoleh omelan yang tidak menyenangkan itu.” “Oh, tidak! Ketika ia memarahi saya, saya memperoleh kesempatan yang baik untuk melatih kesabaran. Itulah alasan mengapa saya bersedih,”

Kegembiraan dan Kesedihan

Kebahagiaan dan kesedihan adalah faktor terkuat yang mempengaruhi umat manusia. Apa yang dapat ditahan dengan mudah adalah sukkha (kebahagiaan), Apa yang sulit ditahan adalah dukkha (kesedihan). Dapatkah harta benda memberikan kebahagiaan sejati? Jika demikian, seorang milyuner tidak akan merasa frustasi akan kehidupannya. Di negara-negara maju, begitu banyak orang menderita penyakit mental. Mengapa hal ini terjadi jika harta benda saja dapat memberikan kebahagiaan?

Dapatkah kekuasaan akan seluruh dunia menghasilkan kebahagiaan? Alexander Agung, yang penuh dengan kemenangan berbaris menuju India, menaklukkan daerah-daerah di sepanjang perjalanannya, menarik nafas panjang karena tidak ada lagi daerah di bumi yang bisa dikuasai.

Kebahagiaan sejati ditemukan dalam diri kita, dan tidak dapat dinyatakan berdasarkan kekayaan, kekuasaan, kehormatan, atau penaklukkan wilayah. Apa yang menggembirakan bagi seseorang mungkin bukanlah kegembiraan bagi orang lain. Apa yang menjadi makanan dan minuman bagi seseorang mungkin merupakan racun bagi orang lain.

Menjalani hidup yang bebas dari tuduhan adalah satu dari sumber-sumber kebahagiaan terbaik bagi umat awam. Bagaimanapun, sangatlah sulit untuk memperoleh pandangan yang baik dari semua orang. Orang yang berpikiran mulia hanya peduli akan kehidupan yang tak tercela dan tidak peduli kepada tanggapan orang lain.

Kesedihan atau penderitaan datang dalam berbagai bentuk. Kita menderita ketika kita mengalami usia tua, yang sebenarnya merupakan hal yang wajar. Dengan ketenangan, kita harus menahan penderitaan karena usia tua. Lebih menyakitkan adalah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit. Bahkan sakit gigi yang teringan atau sakit kepala terkadang sulit untuk ditahan.

Ketika kita menderita penyakit, tanpa menjadi khawatir hendaknya kita dapat menahannya, betapapun sakitnya. Kita harus menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa kita telah lolos dari penyakit yang lebih parah. Seringkali kita berpisah dengan orang yang dekat dan kita sayangi. Kita hendaknya menyadari bahwa segala pertemuan harus diakhiri dengan perpisahan. Kadangkala kita dipaksa berada dengan orang yang kita benci. Kita hendaknya menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru atau mencoba mengatasi rintangan tersebut.

Bahkan Sang Buddha, mahluk yang sempurna, yang telah menghancurkan segala kekotoran batin, harus menahan penderitaan fisik yang disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan. Sang Buddha menderita sakit kepala terus menerus. Akibat Devadatta, kaki-Nya terluka oleh pecahan batu. Kadang kala Beliau terpaksa menahan rasa lapar. Karena ketidakpatuhan murid-murid-Nya, Beliau terpaksa beristirahat di hutan selama tiga bulan, dialasi daun-daun, menentang angin dingin, Beliau mempertahankan ketenangan yang sempurna. Di antara kesakitan dan kebahagiaan Beliau hidup dengan pikiran yang seimbang.

Ketika seorang ibu ditanya mengapa ia tidak menangisi kematian tragis putra tunggalnya, ia menjawab,Tanpa diundang ia datang. Tanpa diberitahu ia pergi. Ia datang seperti ia pergi, mengapa kita harus menangis? Apakah gunanya menangis?Kematian yang tidak terhindarkan menimpa kita semua tanpa kecuali, kita harus menghadapinya dengan ketenangan yang sempurna.

Sang Buddha bersabda: “Ketika tersentuh oleh kondisi duniawi, pikiran seorang Arahat tidak pernah terpengaruhi.”

Kota dengan Biaya Hidup Paling Mahal di Indonesia

Update terbaru Kabupaten/Kota dengan Biaya Hidup Paling Mahal di Indonesia 2016. Sumber: DATABOKS 26 Sept. 2016

Baca juga : Kabupaten/Kota dengan Biaya Hidup Paling Murah di Indonesia

Survei Biaya Hidup (SBH) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan kota Jakarta sebagai salah satu provinsi dengan biaya hidup paling mahal di Indonesia. Untuk hidup di kota ini biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 7,5 juta. Jumlah tersebut merupakan akumulasi sebulan dengan rata-rata anggota rumah tangga sebanyak 4 orang. Secara nasional rata-rata biaya hidup di Indonesia adalah Rp 5,5 juta per bulan.

SBH merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh BPS setiap lima tahun sekali. SBH terakhir diadakan pada 2012 mencakup 136.080 rumah tangga di Indonesia yang dipantau besarnya nilai pengeluaran konsumsi baik jenis barang maupun jasa selama setahun penuh.

Dibandingkan dengan hasil SBH 2007, terjadi penurunan persentase biaya hidup pada kelompok bahan makanan dari 19,57 persen menjadi 18,85 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dari 16,55 persen menjadi 16,19 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dari 25,41 persen menjadi 25,37 persen.

Kota Meulaboh merupakan kota dengan proporsi biaya hidup makanan tertinggi, sedangkan Jakarta merupakan kota dengan proporsi biaya hidup makanan terendah.

kota-dengan-biaya-hidup-paling-mahal-di-indonesia

Kabupaten/Kota dengan Biaya Hidup Paling Murah di Indonesia

Update terbaru Kabupaten/Kota dengan Biaya Hidup Paling Murah di Indonesia   2016. Sumber: DATABOKS 26 Sept. 2016

Hasil Survei Biaya Hidup (SBH) Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan Banyuwangi sebagai kabupaten/kota dengan biaya hidup terendah di Indonesia. Untuk hidup sebulan di kabupaten yang terletak di Jawa Timur ini, satu keluarga dengan jumlah 4 orang hanya membutuhkan biaya Rp 3,03 juta. Kudus berada di peringkat dua dengan biaya hidup Rp 3,08 juta per bulan.

SBH merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh BPS setiap lima tahun sekali di 82 kota. SBH terakhir diadakan pada 2012 mencakup 136.080 rumah tangga. Rumah tangga ini dipantau besarnya nilai pengeluaran konsumsi baik jenis barang maupun jasa selama setahun penuh. Secara nasional rata-rata biaya hidup di Indonesia adalah Rp 5,5 juta per bulan.

Baca juga : Kota dengan Biaya Hidup Paling Mahal di Indonesia

56% Pekerja Indonesia Status Pendidikan dan Pekerjaan Tidak Cocok
Dibandingkan dengan hasil SBH 2007, terjadi penurunan persentase biaya hidup pada kelompok bahan makanan dari 19,57 persen menjadi 18,85 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dari 16,55 persen menjadi 16,19 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dari 25,41 persen menjadi 25,37 persen.

Kota Meulaboh merupakan kota dengan proporsi biaya hidup makanan tertinggi, sedangkan Jakarta merupakan kota dengan proporsi biaya hidup makanan terendah.

kabupatenkota-dengan-biaya-hidup-paling-murah-di-indonesia-1

Usia Produktif Dominasi Penduduk Indonesia 2016

Update terbaru Data Kependudukan Indonesia 2016. Sumber: DATABOKS 26 Sept. 2016

Hasil proyeksi penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2016 ini, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 258 juta orang. Proporsi penduduk ini terdiri dari laki-laki sebanyak 129,98 juta orang dan penduduk dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 128,71 juta orang.

Rasio Jenis Kelamin penduduk Indonesia sebesar 101, artinya diantara 100 perempuan terdapat 101 laki-laki.

Menurut BPS, populasi penduduk Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-34 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia tengah memasuki era bonus demografi, dimana kelebihan penduduk usia produktif bisa dimanfaatkan untuk peningkatan pembangunan. Diperkirakan, era bonus demografi ini akan mencapai puncaknya pada periode 2025–2030.

usia-produktif-dominasi-penduduk-indonesia-2016

10 Tempat Wisata Pantai di Jakarta

10 Tempat Wisata Pantai di Jakarta dan Sekitarnya yang Wajib Dikunjungi. Original Post by anekatempatwisata 24 November 2015

pantai-anyer

Sebagai ibukota negara Indonesia, Jakarta terkenal sebagai kota yang padat, macet, dan memiliki sedikit wisata alam. Sebagai ibukota negara, kota Jakarta menyimpan banyak sejarah, sehingga ada banyak tempat wisata bersejarah bisa Anda kunjungi di sini. Monumen Nasional (Monas) atau Kota Tua adalah salah satu wisata sejarah yang terkenal di Jakarta.

Tetapi siapa sangka kota super padat ini juga memiliki potensi wisata pantai yang indah. Adakah pantai di Jakarta dan sekitarnya yang indah dan bisa membuat kepenatan akan kemacetan di Jakarta menghilang? Tentu ada, bahkan cukup banyak! Dalam bahasan kali ini, kami akan memberikan beberapa referensi tempat wisata pantai di Jakarta dan sekitarnya. Penasaran? Simak ulasan di bawah ini.

1. Pantai Ancol

pantai-ancol

Ancol merupakan salah satu ikon wahana wisata pantai di kota Jakarta. Tempat wisata ini sangat terkenal sehingga tidak heran jika mereka yang berasal dari luar kota Jakarta ataupun dari dalam kota sendiri gemar berkunjung ke Ancol. Saat musim liburan, Ancol selalu penuh dengan pengunjung. Ini disebabkan oleh banyaknya hiburan yang ditawarkan oleh Ancol, seperti gelanggang samudera, dunia fantasi (dufan) dan masih banyak lainnya.

2. Kepulauan Seribu

kepulauan-seribu

Walau terpisah dari pulau Jawa, kepulauan seribu termasuk bagian dari provinsi DKI Jakarta. Di kepulauan yang luasnya mencapai 108.000 hektar ini terdapat banyak destinasi eksotis yang harus Anda kunjungi, seperti Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Pari dan Pulai Harapan. Di kepulauan yang letaknya 45 km di utara kota Jakarta ini tidak hanya permukaan lautnya yang indah, wisata dalam lautnya juga menarik untuk dijelajahi.

3. Pulau Bidadari

pulau-bidadari

Pulau Bidadari adalah salah satu dari pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Untuk mencapai tempat wisata pantai di sekitar Jakarta ini, bisa melalui dermaga Marina di Taman Impian Jaya Ancol dengan menaiki speed boat selama sekitar 30 menit. Yang khas dari pulau ini adalah pasir putihnya dan laut biru nan jernih. Di Pulau Bidadari terdapat cottage darat dan juga cottage terapung yang sering dipilih oleh para wisatawan sebagai tempat berakhir pekan. Selain itu, pemandangan yang indah dan asri juga cocok untuk melakukan berbagai jenis olahraga, seperti misalnya bersepeda, olahraga air, atau hanya sekedar bersantai menikmati birunya langit dan berjemur di bawah matahari.

4. Pulau Tidung

pulau-tidung

Masih di Kepulauan Seribu, Pulau Tidung adalah paduan pasir pantai putih dan laut tenang yang cocok untuk Anda yang mencari tempat wisata di sekitar Jakarta yang penuh kedamaian. Pulau ini sendiri dibagi menjadi dua yaitu Tidung Besar dan Tidung Kecil yang dihubungkan dengan sebuah jembatan bernama Jembatan Cinta. Pada Pulau Tidung Besar terdapat penduduk dengan jumlah terbanyak di antara pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Untuk bisa sampai ke pulau ini, Anda harus menempuh perjalanan selama tiga jam dari Pelabuhan Muara Angke.

5. Pulau Pramuka

pulau-pramuka

Pulau ini letaknya ada di tengah gugusan laut dari Kepulauan Seribu. Di Pulau Pramuka terdapat banyak penduduk yang bekerja sebagai nelayan dan pemilik penginapan untuk disewakan kepada para wisatawan. Banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan di pulau ini seperti misalnya snorkeling, memancing, berkano, diving atau sekedar menikmati pantai yang indah. Di pulau ini juga Anda bisa melihat penangkaran penyu sisik, sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

6. Pulau Pari

pulau-pari

Karena memiliki bentuk yang mirip dengan ikan Pari jika dilihat dari atas, pulau ini kemudian dinamakanPulau Pari. Dengan pasir putih yang lembut dan kawasan pantai yang tenang, pulau ini cocok untuk Anda yang suka ketenangan.

Di sisi lain, pulau ini juga merupakan kawasan Pusat Penelitian Kelautan LIPI. Jika ingin berkunjung ke pulau ini, Anda bisa berangkat dari Dermaga Marina di Ancol atau Pelabuhan Muara Angke dengan perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 1,5 jam menggunakan speed boat. Atau bisa juga dari Pulau Rambut, Pulau Tidung, Pulau Lancang dan Pulau Pramuka dengan lama perjalanan yang lebih singkat, yaitu 30 menit saja.

7. Teluk Jakarta

teluk-jakarta

Teluk Jakarta adalah kawasan yang masih dalam satu wilayah dengan Kepulauan Seribu. Tempat ini bisa menjadi tempat yang pas untuk melepaskan penat setelah lelah berkutat dengan rutinitas harian dan butuh liburan. Ada banyak yang bisa dilakukan di sini seperti menyewa kapal untuk berkeliling. Anda bisa menyewa kapal dari Ancol atau menggunakan kapal milik nelayan yang ada di Teluk Gong, Tangerang. Di sini juga tersedia cottage yang bisa Anda sewa untuk menghabiskan malam dan menjauh sejenak dari penatnya Jakarta. Ingin menyaksikan keindahan terumbu karang? Cobalah untuk melakukan snorkeling di laut yang dangkal.

8. Pantai Anyer

pantai-anyer

Letaknya sekitar 30 km dari bagian barat Jakarta atau tepanya ada di Serang, Banten. Pantai ini juga merupakan pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya. Banyak yang menjadikan Pantai Anyer sebagai tujuan wisata karena pantainya yang indah dan memiliki fasilitas akomodasi yang cukup lengkap. Dari kawasan pantai ini, Anda bisa melihat Gunung Rakata, anak dari Gunung Krakatau menjulang di balik laut. Di Pantai Anyer juga terdapat mercusuar yang merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda.

9. Pantai Carita

pantai-carita

Pantai ini juga terletak di Banten, tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Untuk Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, pasti sudah tidak asing lagi dengan pantai ini. Pasir putih yang cantik dan air laut yang biru adalah keistimewaan yang akan Anda dapati di sini. Di area Pantai Carita ini sudah banyak penginapan atau villa untuk tempat bermalam, dan juga fasilitas hiburan lainnya.

10. Pantai Sawarna

See also:

pantai-sawarna

Pantai Sawarna adalah pantai yang terbilang masih alami, karena belum dikelola dan dikembangkan seperti pantai di Banten lainnya. Ada tiga kawasan pantai yang harus Anda kunjungi saat berada di Pantai Sawarna ini yaitu Pantai Bokor, Pantai Karang Ciantir dan Pantai Karang Taraje. Di pantai ini, Anda bisa melakukan kegiatan menyelam atau cave tubing, karena pantai ini memiliki banyak gua batu kapur yang bisa Anda jelajahi. Ada juga homestay yang telah disediakan untuk Anda yang ingin bermalam di pantai ini.

10 Pantai di Gunungkidul

10 Pantai di Gunungkidul, Jogja yang Wajib Dikunjungi. Original Post by by anekatempatwisata. 8 November 2015

pantai-indrayanti

Bicara tentang Jogja pasti tak lepas dengan wisata budaya, karena Jogja memiliki banyak bangunan tua bersejarah yang eksotis.

peta-dan-rute-wisata-pantai-gunungkidul

Tetapi siapa sangka kota yang menjadi salah satu tujuan wisata favorit para turis ini juga memiliki banyak pantai yang sayang untuk dilewatkan, terutama bagi Anda yang sudah menyiapkan hari khusus untuk berlibur di Jogja bersama keluarga atau kawan tercinta. 10 pantai di Gunungkidul, Jogja tersebut antara lain:

1. Pantai Baron

Pantai Baron terletak di kabupaten Gunungkidul. Untuk masuk ke Pantai Baron ini nanti Anda akan diminta membayar sebesar 5000 Rupiah dan biaya parkir untuk mobil atau motor sebesar 1000 sampai 2500 Rupiah. Panorama yang masih alami merupakan salah satu keunggulan dari pantai ini.

keramaian-di-pantai-baron-wonosari

pantai-baron

indahnya-pantai-baron

Para pengunjung yang datang bisa menghabiskan waktu mereka dengan bermain dan berbasah-basahan di laut. Tidak perlu khawatir terseret ombak, karena pihak pengelola sudah memberikan pembatas untuk menandai wilayah mana saja yang masih aman dikunjungi. Ombak di pantai ini yang cukup menantang juga digemari oleh para peselencar.

pantai-baron-1

pantai-baron

2. Pantai Drini

Pantai Drini terletak di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul. Yang istimewa dari Pantai Drini adalah sebuah pulau kecil di tengah-tengah pantai. keberadaan pulau kecil ini seolah membuat Pantai Drini terbagi menjadi dua bagian.

pantai-drini

pantai-drini-2

pantai-drini-3

pantai-drini-4

Di sisi timur pantai terdapat barisan tebing yang berdiri kokoh bak benteng yang menghadang ombak dipadukan dengan keindahan pulau karang, airnya yang lebih tenang memungkinkan bagi Anda untuk berenang. Sedangkan di sisi barat, Anda bisa melihat jajaran perahu bercadik yang pulang dari berlayar mencari ikan. Ombak yang besar membuat perairan di barat ini terlihat lebih ganas.

pantai-drini-16

pantai-drini-17

3. Pantai Sadranan

pantai-sadranan

Pantai Sadranan terkenal sebagai salah satu spot snorkeling baru yang banyak diminati di pulau Jawa. Di Pantai Sadranan terdapat tempat penyewaan yang dikenal dengan nama ‘Sadranan Snorkeling’ untuk Anda yang ingin menyewa peralatan snorkeling.

Pantai Sadranan merupakan rumah dari beberapa spesies laut menarik seperti Ikan Lepu, Kerondong, Botana Kuning, Kepe-kepe, Areng-areng, Ikan Neon, dan masih banyak spesies lain yang menunggu kedatangan Anda. Waktu terbaik untuk melakukan snorkeling di pantai ini adalah pada pagi, tengah, atau sore hari menjelang matahari terbenam.

4. Pantai Ngobaran

pantai-ngobaran

Pantai Ngobaran merupakan pantai yang memiliki kisah mistis yang kental. Kisah mistis tersebut menceritakan tentang Prabu Brawijaya V. Pantai ini rutin digunakan sebagai lokasi upacara adat masyarakat sekitar.

Beberapa spot menarik yang dapat dinikmati di Pantai Ngobaran adalah Bukit Karang, Candi Pemujaan, dan Patung Dewa. Apabila Anda hendak mengunjungi pantai ini, ada satu tempat wisata kuliner yang wajib Anda coba, yaitu “landak goreng”. Landak Goreng di Pantai Ngobaran sudah sangat tersohor sebagai kuliner andalan.

5. Pantai Siung

pantai-siung

Pantai Siung merupakan satu-satunya pantai di Jogja yang memiliki medan untuk wisata panjat tebing. Di pantai ini Anda akan disuguhi pemandangan batu karang raksasa yang berdiri kokoh di sisi timur dan barat pantai.

Hingga saat ini Pantai Siung memiliki 250 jalur pemanjatan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Bahkan Pantai ini mendapat julukan sebagai “the best rock climbing site in Jogja”. Pantai Siung adalah pantai yang sangat tepat untuk moncoba sensasi mendaki. Dari atas bebatuan karang yang kokoh ini Anda bisa menikmati pemandangan laut lepas yang lain dari biasannya.

6. Pantai Kesirat

pantai-kesirat

Berbeda dengan pantai di kawasan Gunung Kidul lainnya, Pantai Kesirat adalah pantai yang tidak memiliki keindahan pasir putih yang memukau. Keindahan Pantai Kesirat berupa tebing karang yang kokoh dan suara deburan ombak kencang yang menghantam sisi karang.

Bagi Anda yang ingin berkemping, sangat cocok untuk datang ke pantai ini karena pantai ini tidak terlalu padat dan sangat bersih. Anda dapat menikmati jingga senja sembari bercengkrama dengan kawan-kawan tercinta.

7. Pantai Jogan

pantai-jogan

Ingin menikmati keindahan air terjun yang berada di tepi pantai? Datang ke Pantai Jogan adalah pilihan yang paling tepat. Sama seperti Pantai Banyu Tibo di Pacitan, Pantai Jogan adalah sebuah pantai yang memiliki air terjun sangat indah.

Pantai Jogan memiliki tebing-tebing menjulang khas pegunungan kapur, Air terjun yang terdapat di pantai ini jatuh dari atas tebing langsung menuju laut. Di sini, selain menikmati indahnya pantai dan deburan ombak. Anda juga bisa menikmati guyuran air terjun yang segar. Meskipun memiliki keindahan yang unik, sayangnya pantai ini sering luput oleh perhatian para wisatawan.

8. Pantai Krakal

See also: Pantai Krakal Gunungkidul, Surfing dan Lanskap Alam Indah di Jogja

pantai-drini-17

Selain Pantai Baron, Pantai Krakal adalah salah satu tempat wisata pantai yang terkenal di Gunungkidul. Pantai Krakal memiliki pasir putih yang indah dan batuan karang yang membingkai bibir pantai. Untuk merilekskan pikiran, Anda bisa berjalan menyusuri pantai bertelanjang kaki sambil menikmati deburan ombak yang merdu.

Batuan karang yang membingkai bibir Pantai Krakal adalah rumah bagi para biota laut seperti Ikan damselfish, butterfly fish, bintang laut, dan ikan-ikan lainnya. Bagi Anda yang gemar menaklukan ombak dapat mencoba berselancar di Pantai Krakal, karena pantai ini memiliki ombak yang cukup menantang dengan spot selancar yang cukup beragam.

9. Pantai Indrayanti

pantai-indrayanti-1

Sebenarnya saat ini Pantai Indrayanti lebih dikenal dengan nama Pantai Pulsa atau Pulang Sawal. Hal ini karena nama Indrayanti sendiri sebelumnya telah menuai kontroversi. Pantai Indrayanti tampak lebih bersih dan terawat, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya yang ada di sekitar kota Jogja.

Bagi Anda pecinta olahraga air dapat mencoba permainan jet ski yang telah disediakan di sana, sedangkan bagi Anda yang ingin suasana lebih santai dapat menikmati senja di gazebo pantai ini, atau berjalan menyusuri bukit karang untuk menyaksikan keindahan Samudra Hindia.

10. Pantai Glagah

pantai-glagah

Dibandingkan dengan pantai di Jogja lainnya, Pantai Glagah terbilang unik karena memiliki permukaan tanah yang cukup datar dan landai. Selain hamparan pasir putih yang cantik, anda juga bakal dimanjakan dengan indahnya bukit karang yang berdiri kokoh di daerah pesisir.

Ada beberapa kegiatan yang bisa anda lakukan di Pantai Glagah, seperti misalnya wisata air dan tentu saja yang utama adalah menikmati pemandangan alami yang tersedia di tempat wisata ini. Salah satu keunikan pantai ini yang tersohor adalah laguna yang berada sekitar 300 meter dari dermaga. Laguna di Pantai Glagah tidak banyak dimiliki oleh pantai-pantai lain di Jawa Tengah.

 

 

 

 

 

Pantai Krakal Gunungkidul

Pantai Krakal Gunungkidul, Surfing dan Lanskap Alam Indah di Jogja. Original Post by Sarah Armetia 22 Jun 2015

pantai-krakal-gunungkidul-810x540

Pantai Krakal Gunungkidul adalah salah satu di antara destinasi wisata pantai Gunungkidul yang populer. Pantai ini adalah tempat surfing yang menarik bagi para peselancar selain pula memiliki lanskap alam yang menawan.

Camera 360

Pantai Krakal Gunungkidul seungguhnya telah dikenal sejak lama, bahkan jauh sebelum Pantai Indrayanti, Pantai Jogan, Pantai Baron, atau Pantai Pok Tunggal menjadi ramai dengan kunjungan para penikmat perjalanan.

cropped-pantai-krakal-1

Sejumlah pihak menyebutkan bahwa Pantai Krakal memiliki spot paling indah di antara sederet pantai yang membentang di pesisir Gunungkidul.

pantai-krakal-3

Di Pantai Krakal, Anda dapat menemukan pantai yang begitu landai dengan taburan pasir putih yang terhampar luas. Air laut yang jernih serta hempasan ombak yang berirama menambah keindahan panorama pantai tersebut.

bukit-idaman-4

Anda akan membutuhkan waktu perjalanan selama 2,5 jam untuk dapat tiba di lokasi pantai ini jika perjalanan dimulai dari pusat Kota Yogyakarta. Di sepanjang jalan menuju Pantai Krakal, terdapat deretan warung makan yang menawarkan sajian menu khas Jogja serta makanan olahan hasil laut.

pemandangan-sekitar-pantai-krakal-di-gunungkidul-600x394

Alamat Pantai Krakal: Desa Ngestirejo, Kec. Tanjungsari, Kab. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Koordinat GPS: -8.145009,110.599060

pantai-krakal-gunungkidul

Untuk dapat masuk ke kawasan pantai ini, Anda harus membayar tiket masukPantai Krakal Gunungkidul sebesar Rp 10 ribu per orang. Tiket ini dibayar di post retribusi Pantai Baron.

Biaya tiket sudah mencakup wisata Pantai Baron, Pantai Sundak, serta Pantai Kukup. Ke-4 pantai ini berada pada deretan yang sama di pesisir Gunungkidul.

air-laut-pantai-krakal-yang-begitu-jernih

Lanskap Pantai Krakal Gunungkidul

Di Pantai Krakal Gungkidul, terdapat batu-batu karang yang berdiri kokoh di sepanjang pantai. Uniknya, bebatuan karang tersebut dihuni ribuan ikan karang yang berwarna-warni.

Beberapa spesies ikan tersebut, misalnya Damselfish dengan ciri khas warna kuning dan sedikit aksen biru di punggungnya.

lanskap-pantai-krakal-yang-dikeliling-bebatuan-karang

Ada lagi yang disebut ikan Butterflyfish yang oleh penduduk lokal disebut sebagai ikan Kepe-kepe dengan warna garis-garis biru tua bercampur biru muda. Selain itu, ada pula kelompok ikan-ikan kecil berwarna biru yang bermain di sela-sela karang.

pantai-krakal-1

Batu-batu karang di Pantai Krakal Gunungkidul menghadirkan kekhasan yang menarik untuk dieksplorasi. Anda dapat berjalan-jalan di deretan bebatuan karang yang menyembul ke permukaan laksana membentuk jalan setapak yang membelah lautan.

menikmati-panorama-pantai-krakal-dari-atas-600x423

Untuk menyusuri deretan batu karang ini, Anda harus mengenakan alas kaki sebab sebagian batu ada yang bertekstur cukup runcing dan tajam. Dari bongkahan batu karang ini, Anda dapat menyaksikan para nelayan yang asyik dengan joran mencari lokasi strategis untuk memancing.

Tetapi, ada banyak di antara nelayan tersebut yang justru lebih suka menyelam mencari umbal. Umbal adalah sejenis binatang laut berbentuk kecil yang hidup menempel di batuan karang. Umbal kecil-kecil ini biasanya diolah warga lokal menjadi makanan rempeyek yang gurih.

gazebo-untuk-menikmati-lanskap-indah-pantai-krakal-600x399

Selain panorama alamnya yang menawan, gelombang ombak di Pantai Krakal Gunungkidul juga disukai para peselancar. Setiap hari, terdapat wisatawan yang terlihat asyik berselancar di sana, menari-nari di atas lidah ombak laut.

Para Surfer biasanya berjalan terlebih dulu menuju deretan batu karang di lepas pantai untuk menyambut kedatangan ombak reef break yang disebut-sebut cukup menantang. Tetapi ada yang patut diketahui, dasar lautnya banyak didominasi bebatuan karang yang menuntut para surfer harus ekstra hati-hati.

11

krakal-surf-1

krakal-surf

krakal-surf-8

Kegiatan surfing bukanlah jenis olahraga yang populer di tengah-tengah warga lokal. Jika Anda ingin berselancar di pantai ini, Anda harus membawa papan surfing sendiri sebab di sekitar pantai tidak tersedia rental surfboard.

Hotel di Pantai Krakal Gunungkidul

Di kawasan Pantai Krakal terdapat sejumlah hotel dengan tarif yang terbilang murah. Keberadaan hotel dekat Pantai Krakal Gunungkidul ini menguntungkan bagi para surfer yang menginap sembari menunggu ombak terbaik untuk berselancar. Dengan demikian, para wisatawan tidak perlu membawa tenda atau perlengkapan berkemah.

Rute Perjalanan ke Pantai Krakal

Rute perjalanan ke Pantai Krakal Gunungkidul memiliki arah yang sama dengan rute ke Pantai Baron atau Pantai Kukup. Dari pusat Kota Yogyakarta, ambilah arah menuju Wonosari. Memasuki kota Wonosari, Anda akan melewati tiga lampu merah, kemudian berbeloklah ke kanan, lalu ikuti jalan lurus sampai Anda menjumpai papan petunjuk arah.

Arah ke kiri adalah arah menuju Pantai Sundak, Pantai Siung, dan Pantai Wediombo. Anda tinggal ambil lurus saja sebagaimana papan petunjuk arah menuju Pantai Krakal, Baron, dan Kukup.

 

 

Legenda dan Ritual Suku Tengger Gunung Bromo

bromo-tengger-1

Indonesia adalah Negara kepulauan yang kaya akan budaya dan keindahan panorama alamnya. Jajaran pulau, deretan pantai, rimbunya hutan dengan gunung – gunung yang menjulang tinggi menjadikan Indonesia sebagai Negara destinasi wisata pilihan di Asia Tenggara. Kali ini saya akan mengajak anda mengenal Suku Tengger dan keindahan alam Gunung Bromo yang terletak dikawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Suku Tengger adalah suku pegunungan yang berada dilereng Gunung Bromo dan Semeru Pegunungan ini berada diwilayah Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang Jawa Timur. Keberadaan suku Tengger sering dikaitkan dengan Kerajaan Majapahit yang pernah berkuasa pada priode tahun 1293 Masehi hingga abad ke 6.

bromo-2

Legenda Suku Tengger. Tengger berasal dari nama dua orang suami istri yang menetap disuatu tempat antara gunung Bromo dan Semeru. Rara Anteng adalah anak seorang bangsawan yang cantik, (Nyai Dadap Putih) dan Joko Seger adalah anak yang dilahirkan oleh ayah Pendeta. Wajahya ganteng dan badanya sehat (seger). Keduanya kemudian menikah dan membuka kampung baru. Kampung itu diberi nama “Tengger” yang di ambil dari awalan Rara Anteng untuk awalan “Teng”, dan “Ger” dari Joko Seger.

Masa perkawinanya beranjak dewasa tetapi keduanya belum dikaruniai anak, dengan berharap mereka akhirnya bersemedi dan memohon kepada Dewa agar dikaruniai keturunan, setelah bersemedi mereka mendapatkan wangsit dari Dewata, mereka akan dikarunia anak tetapi dengan satu syarat. kelak jika anak bungsu sudah dewasa, Joko Seger dan Rara Anteng harus merelakan anak bungsunya untuk dikorbankan kepada Bharata Dharma dikawah Gunung Bromo.

Singkat cerita akhirnya pasangan Joko Seger dan Rara Anteng dikaruniai anak yang banyak, yang berjumlah 25. Dari ke 25 anak itu, anak bungsu yang bernama Dewa Kusuma dikorbankan kepada Bharata Dharma dikawah Gunung Bromo sebagai tanda pengabdian dan untuk memenuhi janjinya. Sebelum dikorbankan Dewa Kusuma berpesan agar setiap tahun pada tanggal dan bulan dirinya dikorbankan, saudara dan anak cucu mereka diharapkan mengirimkan korban dan sesaji. Pesan itu dilaksanakan turun menurun hingga hari ini, ini lah asal muasal peringatan hari Kasodo yang kita kenal.

bromo-3

Masyarakat Tengger beranggapan 25 anak Rara Anteng dan Joko Seger itu merupakan nenek moyang mereka, nama 25 orang itu masih hidup dalam pikiran dan hati masyarakat Tengger dan dikaitkan dengan tempat – tempat keramat dimana mereka menyampaikan sesaji dan penyembahan kepada roh-roh yang diyakini bisa memberikan keselamatan hidup. Nama ke25 tempat keramat itu adalah :

  1. Tumenggung Kliwang. Dihubungkan dengan (Gunung Renggit)
  2. Sinta Wiji, dihubungkan dengan (Gunung Mindangan)
  3. Ki Rawit Klinting. Dihubungkan dengan (Lemah Kuning)
  4. Ki Rawit dihubungkan dengan (Sumber Air Semantik)
  5. Jiting Jenah dihubungkan dengan (Gunung Jinahan)
  6. Penganten Ical dihubungkan dengan (Gunung Pranten)
  7. Prabu Sewah dihubungkan dengan (Gunung Lingga)
  8. Cokro Pranoto dihubungkan dengan (Gunung Gandera)
  9. Tumenggung Klinter dihubungkan dengan (Gunung Pananjakan)
  10. Tunggul Wulung dihubungkan dengan (Cemoro Lawang)
  11. Raden Bagus Waris dihubungkan dengan (Gunung Batu Walang)
  12. Kaki Dukun dihubungkan dengan (Gunung. Watu Wangkuk)
  13. Ki Pranoto dihubugkang dengan (Gunun Poten)
  14. Kaki Perniti dihubungkan dengan (Gunung Bajangan)
  15. Tunggul Ametung dihubungkan dengan (Gunung Batok)
  16. Raden Masigit dihubungkan dengan (Gunung Masigit)
  17. Puspo Ki gentong dihubungkan dengan (Gunung Widodaren)
  18. Kaki Teku / Ni Teku dihubungkan sama dengan Ki Pranoto (Gunung Poten)
  19. Ki Dadung Awuk dihubungkan dengan (Gunung Wonongkaro)
  20. Ki Kedamiling dihubungkan dengan (Gunung Pusung Lingkir)
  21. Ki Sindri Jaya dihubungkan dengan ( Gunung Kedung Babat)
  22. Raden Sapu Jagat dihubungkang dengan (Gunung Pudak Lembu)
  23. Ki Jenggot dihubungkan dengan (Gunung Rujak)
  24. Demang Diningrat dihubungkan dengan (Gunung Semeru)
  25. Dewa Kusuma dihubungkan dengan (Gunung Bromo)
bromo-5

Jika merujuk tulisan H.E. Josper dalam buku Tengger on Tenggereezen 1927 ada perbedaan panggilan. (ki = adalah sunan). missal ki dadung awuk = sunan dadung awuk

Sementara itu ada pendapat yang berbeda tentang asal muasal nama Tengger. Nama Tengger ini berasal dari suami istri yang menetap di lereng Gunung Bromo bernama “Kaki Umah” dan “Nini Umah” Keduanya adalah keturunan dari kerajaan Majapahit. Pendapat ini didasari penemuan batu petilasan disalah satu desa yang merupakan tenger (tanda) dari kata tenger inilah penduduk atau masyarakt itu dinamakan Tengger.

pananjakan-bromo-6

Jika anda browsing di internet akan ada banyak tulisan yang mengaikatnya (asal muasal suku Tengger) dengan Kerajaan besar Majapahit. Dalam tulisan itu ada yang menyebutkan jika Rara Anteng yang menjadi legenda suku Tengger adalah putri dari Raja Brawijaya, Raja Majapahit dan ada juga yang menyebutkan jika Suku Tengger adalah suku yang dibagun oleh prajurit-prajurit kerajaan Majapahit yang saat itu terdesak oleh Kerajaan Islam Demak yang kemudian mendirikan perkampungan baru dilereng Gunung Bromo dan Semeru.

Dari legenda yang sudah ada, saya mencoba menghimpun sebuah kesimpulan baru bahwa, suku Tengger adalah bagian dari suku Jawa Kuno yang menempati wilayah pegunungan Tengger yang sudah ada sejak abad ke 7 Masehi pada periode kerajaan Kanuruhan (Kanjurahan) yang dipimpin oleh Raja Gajayana (Malang) yang kemudian terus berkembang dipriode kerajaan berikutnya (Kerajaan Kediri) dan mencapai perkembanganya di era Kerajaan Majapahit. Kesimpulan saya ini hanya pandangan pribadi. Oleh sebab itu masih dibutuhkan study literature yang lebih luas dan mendalam.

Masyarakat Jawa pada jaman kerajaan Hindu-Budha sangat percaya akan kekuatan yang bersifat adikodrati. Mereka mempercayai kekuatan seorang raja yang dapat memberikan berkah dan keselamatan. Semakin sakti seorang raja (pemimpin) semakin luas daerah kekuasaanya, semakin aman wilayahnya, semakin subur lahan pertanianya dan semakin jauh dari musibah dan bencana. Karna itulah pada umumnya masyarakat Jawa bermukim tersentral dan tidak jauh dari pusat Kerajaan (Keraton) dengan harapan bisa mendapatkan efek kekuatan sang raja berupa berkah dan keselamatan. Keyakinan terhadap raja seperti ini masih bisa dilihat di Keraton Yogyakarta. Kerajaan Kanjuruhan adalah kerajaan pertama di-Wilayah Malang sebelum kerajaan Singosari. Kerajaan ini tidak jauh dengan Pegunungan Tengger (suku tengger). Kondisi ini membuka kemungkinan tentang hubungan kepercayaan (berkah dann keselamatan) pemukiman suku Tengger dengan kerajaan yang berkuasa saat itu, Kanjuruhan.

Pada kisaran abad ke 7 hanya orang-orang suci, (pandita) yang tinggal dikawasan lereng gunung Tengger. Pandita ini menghabiskan waktu untuk bersemedi di Gunung Bromo atau Gunung Brahma dalam kosmologi Hindu-Budha. Kemudian petapa ini melahirkan seorang anak tampan yang diberi nama Joko Seger (lihat halaman 1). Riwayat suku Tengger (Joko seger dan Rara Anteng) ini selalu dibacakan saat prosesi Upacara Adat Kasodo hingga saat ini.

bromo-7

Suku Tengger terus berkembang di masa Kerajaan Kediri yang berkuasa sejak abad ke 10 hingga tahun 1222 Masehi. Banyak orang suci yang berdatangan untuk bersemedi dan beribadah dipegunungan Tengger dan kemudian menetap disana. Penemuan Arkeologi berupa prasasti Tengger yang berangka tahun 851 Saka (929 Masehi) bisa menjadi bukti keberadaan kehidupan orang suci (pandita) dipegunungan Tengger (sebelum Majapahit) sekaligus menjadi bukti kemajuan peradaban dan budaya Tengger dalam hal ukiran (pahatan) batu dan tulisan (prasasti).

Isi prasasti Tengger menyebutkan bahwa sebuah Desa bernama Walandit, terletak di pegunungan Tengger, adalah tempat suci karena dihuni oleh hulun. Isi prasasti diatas diperkuat oleh prasasti berikutya yang ditemukan didaerah Penanjakan (desa Wonokitri) berangkakan tahun 1327 Saka (1405 Masehi. Era Majapahit). Prasasti ini menyatakan bahwa desa Walandit dihuni oleh hulun Hyang (abdi Tuhan) dan tanah di sekitarnya itu disebut hila-hila (suci). (Hefner, Robert. 1985. Masyarakat Tengger Dalam Sejarah Nasional Indonesia. Boston: University Boston).

Pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit yang kemudian digantikan oleh Kerajaan Islam pertama (Demak) tahun 1527 Masehi. Banyak simpatisan Majapahit yang berkumpul didaerah-daerah menghimpun kekuatan dan melakukan perlawanan. Pada tahun 1545 terjadi pertempuran sengit didaerah Malang antara simpatisan Majapahit dengan Pasukan Islam (Demak). (Pigeaud, 1985, Kerajan-kerajaan Islam di Jawa, Grafitipers) Sejarah ini membuka kemungkinan jika simpatisan Majapahit itu keteteran saat melawan pasukan kerajaan Islam Demak dan akhirya berbondong-bondong berlindung dipegunungan Tengger karna letak Malang dengan Pegunungan Tengger tidak terlalu jauh. Mereka kemudian hidup dan menetap disana. Sebagian simpatisan Majapahit lainya berpindah tempat ke Blambangan (Banyuwangi) yang merupakan Kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa sebelum ditaklukan oleh kerajaan Mataram Islam dan sebagian lainya menyebrang ke pulau Bali.

Suku Tengger dengan Majapahit memiliki hubungan yang erat, jauh sebelum terjadinya perpindahan besar-besaran simpatisan Majapahit ke pegunungan Tengger pada kisaran tahun 1527 – 1550 Masehi. Ini bisa dibuktikan dari peninggalan Kerajaan Majapahit berupa “prasen” tempat air suci yang terbuat dari kuningan bergambar patung dari Dewa dan zodiak agama Hindu. Sebagian besar “prasen” yang digunakan di Tengger berangka tahun Saka antara 1243 dan 1352 (Masa Majapahit). Peninggalan tempat air dari kuningan berukiran ini membuktikan dua hal. Pertama hubungan suku Tengger dengan Majapahit, kedua puncak kemajuan kebudayaan suku Tengger dari segi peninggalan.

Prasen ini masih digunakan hingga saat ini oleh para pandita (dukun) Suku Tengger. Kedekatan Suku Tengger dengan Majapahit diperkuat naskah yang berasal dari Keraton Yogyakarta yang berangka tahun 1814 M (Nancy), konon daerah Tengger termasuk wilayah yang dihadiahkan kepada Gajah Mada karena jasa-jasanya kepada keraton Majapahit.

Semakin banyak cerita tentang legenda Suku Tengger semakin memberikan banyak pegetahuan kepada kita. Dari beberapa legenda suku Tengger yang ada, anda bebas memilih cerita legenda mana yang ingin anda percayai. Legenda tetaplah legenda, akan selalu menjadi bingkai cerita suatu tempat, daerah atau suku secara turun menurun yang memberikan warna budaya di Indonesia.

bromo-8

Kehidupan masyarakat Tengger dikenal masyarakat yang teratur, dan serasi . jarang terjadi perselisihan, permusuhan antar sesama. ini dikarenakan masyarakat Tengger memiliki tujuh pedoman kehidupan yang dipegang teguh. Tujuh pedoman ini biasanya di bacakan pada hari raya Kasodo. Ketujuh pedoman itu antara lain :

  1. Hong pukulan maniro sak sampune dumerek ing sasi kasodo maningo ing tamah (Yang Maha Kuasa pelindung seluruh mahluk mengetahui amal perbuatan manusia, memberikan berkahnya pada bulan kasodo)
  2. Milango ing sarining potro kanggo milar panjenengan ing manah (hendaknya mansuia berbuat amal kebajikan, merubah perbuatan buruk menjadi baik, memperhatikan gerak hati yang bersih)
  3. Kang adoh pinerekaken , kang parek tinariko nang aron-aron (orang yang jauh dari kebaikan supaya diingatkan untuk berbuat baik dan diajak mendekatkan kepada Tuhan)
  4. Angrasuko ajang kang pinuju ing sang hyang sukmo (kerjakanlah perbuatan yang baik supaya selamat jiwa dan raga dan mendapatkan ridho Tuhan)
    Jiwo raga sinusupan babahan werno songo (hendaklah jiwa raga terjaga segala sesuatu yg memasuki lobang 9 pada manusia).
  5. Ngelingono jiwo premono hanimboho banyu karabayuan (hendaklah manusia mempunyai hati yang bersih dan berbuat kasih sayang terhadap semua mahluk)
  6. Deniru neediyo nyondro nitis spisan kerto rahayu palinggihane titi yang lurah, lurah kyabi dukun sagunge anak putu andoyo puluh. (bila petunjuk2 tesebut dilaksanakan dengan sabaik-baiknya dengan jiwa mantap oleh seluruh lapisan masyarakat, maka manusia setelah mati akan mendapatkan ketentraman dan kebahagian jiwa yang disebut sebagai mati sempurna)

Selain ketujuh pedoman hidup, suku Tengger mempunyai tujuh tuntunan kasih sayang atau yang dikenal dengan “Tuntunan Welas Asih Pepitu”. Isi ketujuh tuntunan kasih sayang itu adalah :

  1. Tansah welas asih dumanteng jiwo raga pribadi . (setiap orang selalu ingat menjaga dirinya memilhara panca inderanya dari perbuatan yang tercela)
  2. Tansah welas asih dating hyang maha agung. (supaya setiap orang selalu berbakti dan mengagunkan Tuhan Yang Maha Kuasa)
  3. Tansah welas asih dumateng ibu pertiwi. (setiap orang harus menjaga dan berbakti kepada bumi tumpah darahnya)
  4. Tansah welas asih dumateng bapo biyung (setiap orang harus berbakti kepada orang tuanya)
  5. Tansah welas asih dating sesamining janmo manuso ing saklumahing bumi sak kurebing langit. (supaya setiap orang harus slalu kasih sayang terhadap sesama manusia dipermukaan bumi ini)
    Tansah welas asih dumateng seto kewan (setiap orang harus slalu sayang terhadap mahluk bintang)
  6. Tansah welas asih dating tuwuh tandur powijo karang kirno kanan kiri, (setiap orang harus selalu memelihara dengan baik semua tanaman, pohon-pohonan dan sebagainya)
bromo-9

Nilai – nilai positif pedoman suku Tengger ini bisa kita adopsi kedalam kehidupan kita sehari – hari agar tercipta hubungan kehidupan social yang harmonis antar sesama.

Pandita atau Dukun Tengger memiliki peran yang penting bagi masyarakat Tengger karena seluruh upacara keagaamaan adat dan pencarian waktu baik atau hari baik tidak dapat dilepaskan oleh peranan dukun. Siapun bisa menjadi dukun asal orang tersebut lulus ujian menjadi dukun yang diadakan tiap tahun saat perayaan Kasodo.

bromo-10

Untuk melakukan tugasnya sebagai dukun, dukun dibantu oleh pembantunya yang terdiri dari:”wong sepuh”, jabatan wong sepuh ditetapkan oleh petinggi berdasarkan kecakapanya dalam melaksanakan tugas,. Wong sepuh inilah yang membantu menyediakan persyaratan sajian dan menjadi saksi.

“Dandan”. yakni seorang wanita pembantu dukun yang bertugas memeriksa syarat sesaji dan selamatan yang akan dilaksanakan “Legen” adalah. Pembantu dukun yang merupakan pesuruh untuk mempersiapkan alat-alat upacara dan pembakaran dupa.

Dalam masyarakat Tengger terdapat beberapa upacara adat yang dilakukan secara besar, rutin dan bersama-sama, misalnya upacara tahunan Kasodo dan Karo Selain itu ada juga upacara adat yang bersifat individu. Missalnya, Upacara tujuh bulanan (sayut), Upacara indung anak, Upacara Tugel Gombak (laki-laki) dan Tugel Kuncung (perempuan), Upacara Wala gara atau Temu Manten dll. Acara adat besar yang akan saya tulis adalah upacara Karo dan Kasodo.

bromo-11

Upacara Karo adalah hari raya adat suku Tengger yang dirayakan bersama-sama secara besara-besaran pada pertengahan bulan karo setiap tahun. Upacara ini dilaksanakan selama tujuh hari, selama itu mereka saling kunjung mengunjungi untuk memperat tali silaturahim (persaudaraan) yang istilahya disebut sambung batin.

Asal muasal diadakanya perayaan Karo menurut cerita masyarakat Tengger adalah untuk memperingati meningalnya dua orang abdi yang setia dalam melaksanakan tugasnya. Yaitu seorang bernama “Setio” abdi dari Aji Saka dan seorang lagi bernama “Satuhu” abdi dari Kanjeng Nabi Muhamad. Siapa Aji Saka? bisa baca tulisan dalam bentuk legenda (C.C.Berg, penulisan sejarah jawa, bahtwera, Jakarta 1972).

Pada suatu hari Aji Saka berkungjung ke rumah Nabi Muhammad, teteapi pada saat ingin pulang keris pusaka yang dibawanya tertinggal. Oleh karena itu diperintahkanlah orang kepercayaanya yaitu Setio untuk mengambilnya dikediaman Nabi Muhammad.

Sebaliknya ketika Nabi Muhammad mengetahui keris pusaka milik Aji Saka tertinggal Beliau langsung mengutus seorang kepercayaanya Satuhu untuk mengembalikan keris puusaka itu kepada Aji Saka sendiri. Dan berpesan jangan memberikan keris itu kepada siapapun kecuali kepada pemiliknya Aji Saka.

Ditengah jalan kedua orang kepercayaan itu bertemu. Setelah saling tegur sapa keduanya menyampaikan maksut dari keperginaya. Setio menceritakan jika diutus oleh Aji Saka untuk mengambil keris pusaka yang tertinggal, begitu juga sebaliknya Satahu menyampaikan alasan kepergianya untuk menyerahkan keris pusaka Aji Saka yang tertinggal langsung kepada Aji Saka.

Akhirnya terjadi perselisihan antara Setio dan Satahu. Setio yang melihat keris pusaka kepunyaan Aji Saka berusaha merebut keris itu untuk dibawa pulang sesuai perintah Aji Saka. Dan sebaliknya, Satahu bersi keras untuk mempertahankan, memegang amanat dari Nabi Muhammad, bahwa keris pusaka itu harus diantar langsung kepada pemiliknya Aji Saka.

Keduanya terlibat perkelahian dan saling menunjukan kesaktianya. Tetapi diantara keduanya tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Keris pusaka yang diperebutkan itu dipakainya untuk saling menusuk, dan kedua utusanya itu pun akhirnya meninggal. Sang Aji Saka dan Nabi Muhammad lama menunggu kedatangan dua utusanya. Karena tidak kunjung datang masing-masing mencarinya.

Ditengah perjalanan masing-masing menemukan kedua orang utusanya tergeletak meninggal, mayat Setio tergeletak membuju kearah selatan dan mayat Satuhu membujur kea rah utara. Karena itu jika orang Tengger meninggal mayatnya dikubur membujur kearah utara. Meningalnya kedua orang utusan itu diadakan upacara salamatan dari asal mula selamatan inilah adanya upacara Karo.

Pelaksaana Karo diadakan dirumah petinggi bersama-sama dan rumah warga desa. Perayaan dirumah petinggi diadakan terlebih dahulu dan baiaya dipukul bersama seluruh warga desa. Untuk merakamaikanya seringkali diadakan hiburan , pertunjukan seperti ludruk.

Tujuan upacara Karo ialah memohon selamat untuk penghormatan kepada bapak dan ibu. Karena dengan perantara keduanyalah Tuhan telah menyebarkan bibit manusia, acara ini dipimpin oleh dukun.

bromo-12

Hari Raya Kasodo adalah hari raya yang diadakan oleh masyarakat Tengger setiap tahun pada bulan (saddo) sepuluh pada pertengahan bulan. Upacara Kasodo ini sangat dinanti oleh masyarakat Tengger. Mereka percaya jika meraka tidak turut merayakan kehidupanya tidak akan tentram. Sebailknya jika mengikuti upacara Kasodo dan merayakanya kehidupan meraka akan selamat dan dimurahkan rejekinya dan diberi kesehatan. Karma itu jauh sebelum perayaan Kasodo masyarakat tengger telah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukanya.

Pusat kegiatan berada di lautan pasir gunung Bromo, di Pura Poten. Dan Desa Ngadisari sebagai pusat keramaian sebelum acara di lautan pasir. Dukun desa Ngadisari menjadi pimpinan upacara sekaligus menjadi kepala dukun diseluruh masyarakat Tengger.

Upacara ini diadakan malam hari. Sore hari sebelumnya acara diadakan dibalai desa Ngadisari (resepsi) didesa ini diadakan hibura sebagai prosesi upacara, sebelum melakukan upacara puncak di pura lautan pasir Gunung Bromo, Ratusan orang datang untuk upacara dan berwisata (Wisata Budaya).

Umumnyua sebelum puncak acara Kasodo masyarakat terlebih dahulu mengadakan sesajian ditempat yang bernama watu baling, watu mungkuk dan watu dukun. Diwatu baling orang mengambil batu sebesar gengaman dan berkeliling sebanyak tiga kali. Arah putaranya searah jarum jam. Setelah berputar tiga kali kemudia naik keatas batu dengan menyampaikan niat yang diinginkanya sambil melempar batu ke lautan pasir.

Di watu wungkuk prosesinya berbeda yaitu dengan cara membakar kemenyan dibawah batu itu, sambil mengutarakan niat dan memberikan sesaji berupa bunga-bunga, buah-buahan dll. Jika niatnya terkabul pemohon wajib menyanpaikan korbanya ke kawah Gunung Bromo.

bromo-15

Prosesi kegiatan di Pura Poten pertama kali adalah pembukaan atau ujub yaitu mengayubagyo (memulyakan) paara hadirin. Kemudian para dukun membacakan mantra untuk keselamatan desa. Selanjutya mumunen ujian bagi calon dukun untuk membacakan mantra Kasodo. Yang dapat menghafal mantra-mantra dan setelah mendapat persetujuan para dukun mulai dari brang wetan dan brang kulon. Maka calon dukun itu dinyatakan lulus menjadi dukun. Berikutnya wewerah yakni memberikan penerangan kepada hadirin yang disampaikan dukun tentang riwayat Tengger dan hari raya Kasodo. Tingkah laku yang baik dan petunju tentang kehidupan. Setelah itu menuju ke kawah Gunung Bromo untuk menyampaikan korban (sesaji). Setelah itu selamatan pagi.

Indonesia kaya akan budaya. Dengan mempelajari suku dan budaya suku Tengger atau suku lain akan memberikan banyak nilai positif terhadap diri. Selain kearifan lokal, pengetahuan dan wasasan kita pun semakin luas. kebanyakan orang yang berkunjung ke gunung Bromo (TNBTS) hanya menikmati keindahan panorama alamnya saja, sejarah dan budaya suku daerah lokasi wisata menjadi tidak penting. Padahal tempat wisata alam tidak dapat dipisahkan dari legenda, mitologi dan budaya daerah lokasi wisata tersebut berada. Mari ber-Wisata sehat, berwisata yang tidak hanya menikmati keindahan alamnya saja tetapi juga mempelajari kearifan lokalnya dan menjaga kelestarianya.

Source: JusteNote