Anak-2 Jenius Indonesia yang Kuliah di Usia Belia

Anak-2 Jenius Indonesia yang Kuliah di Usia Belia


anak-jenius-indonesia-yang-kuliah-di-usia-belia-PrG

Tingkat kecerdasan seseorang memang tidak bisa diwariskan meski bakat-bakat kejeniusan sudah bisa terlihat sejak belia. Banyak remaja Indonesia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata sehingga di saat anak-anak seusianya masih bergelut di bangku SMP-SMA, sejumlah remaja di Tanah Air ini justru sudah akrab di bangku kuliah.

Rinaldi Wilopo (15 tahun)

Usianya baru 15 tahun, 1 bulan, dan 8 hari. Jika pada umumnya remaja berusia 15 tahun baru masuk ke jenjang SMA, Rinaldi sudah duduk di bangku kuliah. Dia kini tercatat sebagai mahasiswa di Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran, Bandung. Universitas Padjadjaran, Bandung.

Aldo Meola Geraldino (14 Tahun)

Aldo berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM dalam usia 14 tahun 8 bulan dan tercatat sebagai mahasiswa termuda UGM angkatan 2015. Aldo mengikuti program akselerasi saat mengenyam pendidikan di SD, SMP, dan SMA.

Aditya Dharma Putra (14 tahun)

Pada tahun ajaran 2011/2012, Aditya menjadi mahasiswa termuda di antara 10.248 mahasiswa baru. Aditya adalah mahasiswa baru Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik dan baru berusia 14 tahun 11 bulan 27hari.

Arya Bagus Kevin (14 Tahun)

Saat diterima sebagai mahasiswa baru UGM tahun akademik 2014/2015, Arya tercatat sebagai mahasiswa baru termuda dengan usia 14 tahun,6 bulan 9 hari. Arya diterima di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM.

Alvinasari Tryasdini Arifin (14 tahun)

Alvinasari menyandang status mahasiswa baru (maba) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada usia 14 tahun 11 bulan 21 hari dan dinyatakan sebagai mahasiswa termuda jurusan Psikologi angkatan 2013 di UGM.

Diyah Utami Kusumaning Putri (14 tahun)

Diyah Utami Kusumaning Putri tercatat sebagai mahasiswa termuda UGM Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) tahun akademik 2012/2013. Diyah menjadi mahasiswa FMIPA UGM pada usia 14 tahun 10 bulan 13 hari.

Aldo Meyolla Geraldino

Aldo Meyolla Geraldino Mahasiswa Termuda UGM Tahun 2015 – Jurusan Fakultas Kedokteran pada Usia 14 Tahun 


aldo-meyolla

Perintah itu melengking lewat pengeras suara. Mengegas seorang remaja tanggung, yang duduk berjejalan dengan ribuan orang. Bercaping rupa-rupa warna, anak-anak muda itu memenuhi Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada (UGM). Ya, para mahasiswa baru itu tengah mengikuti acara Ospek, tradisi tahunan yang umumnya digelar di berbagai kampus di seluruh Indonesia.

Pria berpostur tinggi yang memberi perintah itu, berdiri di tengah lapangan. Dia terlihat gagah. Berbaur dengan ribuan mahasiswa baru. Berpanas-panasan, memakai celana jeans dipadu dengan kemeja putih polos. Dan ini sungguh tak biasa, lelaki itu adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang karir politiknya dirakit lewat PDI Perjuangan.

Jika kemudian dia hadir di situ, dan memberi perintah pula, itu bukan karena Ganjar menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah, tapi karena dia adalah Ketua Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama), yang lulusannya banyak yang menjadi petinggi negeri ini, sebagai misal, Presiden Indonesia Joko Widodo dan begitu banyak menteri, juga ilmuwan.

Dan pemuda tanggung yang digegas sang gubernur itu berlari maju. Dia berperawakan ceking, rambut klimis. Kacamata minus melindungi dua matanya. Sedikit tergopoh-gopoh. Dan sekilas tak ada yang istimewa dari penampilannya, sehingga orang lain tak tahu mengapa dia yang meraih kehormatan itu.

Jaket hijau lumut, ciri khas kampus itu, yang membalut tubuhnya terlihat kedodoran. Tapi bersanding dengan sang gubernur dia berusaha gagah berdiri. Tak canggung. Ribuan mata yang mematut ke arahnya juga tak membuat kikuk.

Pada Selasa, 18 Agustus 2015 iu, Aldo Meyolla Geraldino, begitu nama anak muda itu, dinobatkan sebagai mahasiswa termuda. Dari 9.536 mahasiswa baru tahun akademik 2015-2016 di kampus itu. Dan tampangnya memang terlihat seperti remaja tanggung. Usianya 14 tahun, 7 bulan, 29 hari. Pada usia yang terbilang belia untuk kuliah itu, dia lulus bersaing dengan ribuan orang, masuk Fakultas Kedokteran.

Ketika ribuan anak-anak seusianya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Aldo sudah menyandang status mahasiswa. Dia tidak hanya cerdas, tapi juga menyimpan mental yang prima. Tak kikuk ketika menjawab sang gubernur, meski pertanyaannya bersifat “ dilematis.”

  • Do, kalau kamu melihat tetangga kanan kirimu, yang untuk urusan makan saja susah dan jatuh sakit tapi tidak ada yang menolong, apa yang kamu lakukan? tanya Ganjar.
  • Aldo menjawab dengan tenang bahwa pertama-tama dia akan membeli makanan, Kemudian saya suruh makan dan baru diobati.
  • Ganjar kemudian bertanya lagi,  Disuruh bayar?
  • Enggak usah, cepat Aldo menjawab.

Ganjar lalu memberi sanjungan bahwa Aldo adalah dokter masa depan yang dimimpikan Indonesia. Memberi selamat, memberi semangat. “ Aldo keren,” puji Ganjar, yang disambut tepuk tangan membahana ribuan tangan. Dan semenjak hari itulah nama Aldo menjadi sohor. Para netizen ramai menyanjung di media sosial. Dikagumi banyak orang. Media massa juga antri mewawancara, mengali kisah hidup hingga tips belajar. Dia kemudian disemat sebagai bocah jenius Indonesia.

Mencetak anak jenius seperti Aldo sudah pastilah susah. Anak-anak yang mengalahkan usianya itu memang langka. Bahkan di negeri maju yang gizi dan kurikulumnya paling manjur sekalipun. Jumlahnya sedikit.

Lihatlah data Mensa Indonesia, sebuah perkumpulan untuk orang-orang yang ber-IQ tinggi berikut ini. Dari setidaknya 250 juta penduduk bumi pertiwi ini, hanya sekitar 2 persen yang bisa disebut jenius. Dan mirisnya lagi, sebagian dari orang jenius itu memilih berkiprah di luar negeri ketimbang di tanah air.

Secara umum, di seluruh dunia, jumlah rasio orang jenius yang biasa-biasa saja terpaut jauh. Psikolog dari Ohio State University, Joanne Ruthsatz, bahkan ragu menyebut jumlahnya. ” Saya hanya bisa mengatakan, anak ajaib sesungguhnya sangat langka, mungkin hanya ada 1 dari 5 juta atau 1 dari 10 juta orang di dunia,” katanya mengutip popsci.com.

Berapa jumlah pasti orang jenius di seluruh dunia, belum ada juga data pastinya. Hanya perkiraan kasar. Cuma sekitar 2 hingga 5 persen dari total penduduk dunia. Nilai IQ memang masih menjadi standar kejeniusan seseorang. National Association for Gifted Children menyebut anak dengan IQ rentang 130-144, layak disebut jenius moderat. Sementara IQ 145-159 disebut sangat jenius.

Dari dua tingkatan itu, posisi terhormat diberikan bagi anak ber-IQ lebih dari 180. Anak dengan IQ setinggi ini bisa dipastikan sebagai anak superjenius.

Menilai kejeniusan memang menjadi relatif. Mensa internasional sendiri hanya menyebut tanda-tanda seorang anak layak disebut jenius. Memiliki kemampuan mengingat tak biasa, membaca di usia lebih cepat, punya hobi atau ketertarikan unik, serta melek dengan kejadian di dunia.

Tak hanya itu, anak jenius cenderung menunjukan tanda-tanda sering bertanya, punya selera humor, suka musik, senang berkuasa, dan seringkali menambahkan aturan sendiri dalam sebuah permainan. Aldo, remaja tanggung calon dokter masa depan cukup layak disebut jenius. Pada usia 14 tahun dia menjadi mahasiswa. Fakultas kedokteran. Tempat yang diincar puluhan ribu siswa di seluruh negeri.

Cendikiawan Suryaatmadja

Bocah Jenius Berusia 12 Tahun Asal Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada Jurusan Fisika


diki

Bocah bernama Cendikiawan Suryaatmadja (12 tahun) berhasil memperoleh kesempatan untuk belajar di salah satu universitas ternama di Kanada.

Usai merampungkan jenjang pendidikan menengah atas di Indonesia, anak yang akrab disapa Diki itu kini tengah bersiap-siap untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang mahasiswa di usia 12 tahun.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, Jumat (2/9/2016), bocah yang belajar Bahasa Inggris secara otodidak itu menjadi mahasiswa termuda Jurusan Fisika di Universitas Waterloo (UW), Ontario, Kanada.

“Aku merasa senang dan sedikit cemas dengan perubahan budaya yang akan kualami,” kata bocah yang menyelesaikan sekolah wajib 12 tahunnya kurang dari waktu yang telah ditentukan.

Menurut keterangan salah seorang karyawan administrasi penerimaan mahasiswa baru UW, Andre Jardin, mereka sangat senang sekali dapat menerima bocah jenius ber-IQ 189 itu sebagai mahasiswa termuda yang pernah ada di UW.

“Dia sangat bertalenta dan dianugerahi kemampuan khusus. Kami ingin melihat dia menjadi sukses,” kata Jardin.

Bocah yang menamatkan SD dalam waktu 3 tahun itu bercita-cita untuk menciptakan energi ‘bersih’ untuk menolong dunia.

“Alasanku tertarik pada fisika adalah karena fisika merupakan sebuah ilmu yang dapat mengubah dunia,” kata bocah yang mulai tetarik pada ilmu itu pada usia 9 tahun.

waterloo

Selain itu Diki juga suka mengamati pola dan merenungkan alam.

Pihak UW memberikan beasiswa tersebut kepada Diki karena kepintaran dan kecerdasan yang dimilikinya.

Diki diterima di Waterloo sebagai mahasiswa undangan Jurusan Fisika. Dia juga akan mempelajari matematika, kimia, dan ekonomi.

“Aku merasa senang dan sedikit cemas dengan perubahan budaya yang akan kualami,” kata bocah yang menyelesaikan sekolah wajib 12 tahunnya kurang dari waktu yang telah ditentukan.

Menurut keterangan salah seorang karyawan administrasi penerimaan mahasiswa baru UW, Andre Jardin, mereka sangat senang sekali dapat menerima bocah jenius ber-IQ 189 itu sebagai mahasiswa termuda yang pernah ada di UW.

“Dia sangat bertalenta dan dianugerahi kemampuan khusus. Kami ingin melihat dia menjadi sukses,” kata Jardin.

Bocah yang menamatkan SD dalam waktu 3 tahun itu bercita-cita untuk menciptakan energi ‘bersih’ untuk menolong dunia.

“Alasanku tertarik pada fisika adalah karena fisika merupakan sebuah ilmu yang dapat mengubah dunia,” kata bocah yang mulai tetarik pada ilmu itu pada usia 9 tahun.

Selain itu Diki juga suka mengamati pola dan merenungkan alam.

Pihak UW memberikan beasiswa tersebut kepada Diki karena kepintaran dan kecerdasan yang dimilikinya.

Diki diterima di Waterloo sebagai mahasiswa undangan Jurusan Fisika. Dia juga akan mempelajari matematika, kimia, dan ekonomi.

Posted by: JURNALINDONESIA 2 September 2016