Apa arti ‘Diaspora’

Dikutip dari Wikipedia Indonesia

Apa-itu-Diaspora-696x664

Istilah diaspora (bahasa Yunani kuno διασπορά, “penyebaran atau penaburan benih”) digunakan (tanpa huruf besar) untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena penyebaran dan budaya mereka.

Mulanya, istilah Diaspora (dengan huruf besar) digunakan oleh orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan.

Asal usul kata itu sendiri diduga dari versi Septuaginta dari Kitab Ulangan 28:25, “sehingga engkau menjadi diaspora (bahasa Yunani untuk penyebaran) bagi segala kerajaan di bumi”. Istilah ini telah digunakan dalam pengertian modernnya sejak akhir abad ke-20.

Makna aslinya terlepas dari maknanya yang sekarang ketika Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan kata “diaspora” digunakan untuk merujuk secara khusus kepada penduduk Yahudi yang dibuang dari Yudea pada 586 SM oleh Babel, dan Yerusalem pada 135 M oleh Kekaisaran Romawi. Istilah ini digunakan berganti-ganti untuk merujuk kepada gerakan historis dari penduduk etnis Israel yang tersebar, perkembangan budaya penduduk itu, atau penduduk itu sendiri.

Bidang akademik dari studi diaspora terbentuk pada akhir abad ke-20, sehubungan dengan meluasnya arti ‘diaspora’. Jacob Riis, seorang penulis yang tajam, menyimpulkan bahwa diaspora terbentuk pada pertengahan abad ke-20, namun pada kenyataannya makna diaspora yang diperluas baru disediliki pada akhir abad ke-20.

Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis besar-besaran, karena peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme, serta karena berbagai bencana alam dan kehancuran ekonomi. Pada paruhan pertama dari abad ke-20 ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini tidak meninggal karena kelaparan atau perang, pergi ke benua Amerika.

Advertisements

Kongres Diaspora Indonesia ke-4 Resmi Dibuka

Diutip dari VOA 1 Juli 2017

diaspora-800x445

D6FD60D4-012D-47D7-945D-C76A44D69D13_cx0_cy19_cw0_w1023_r1_s

Ribuan peserta Kongres Diaspora Indonesia ke 4 di kota Kasablanka Jakarta Sabtu (1/7) memberikan standing applaus pembukaan acara. (Foto:VOA/Andylala)

Lebih kurang 9.000 peserta 4th Congress of Indonesian Diaspora 2017 memberikan tepuk tangan berdiri (standing applause) selama satu menit.
Standing applause ini dipandu oleh Ketua Diaspora Network, Dino Pati Djalal.

“Ayo satu menit standing applause untuk Indonesia, untuk NKRI, dan untuk diaspora,” katanya diikuti dengan standing applause meriah dari 9.000 peserta yang berada di di Main Hall The Kasablanka, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Dalam sambutannya, mantan Duta Besar Amerika Serikat ini mengungkapkan, kongres ini dihadiri 9 ribu orang dari dalam dan luar negeri dari 55 negara, 134 kota di dunia, dan 71 kota di Indonesia.

“Kongres diaspora ke-4 ini yang terbesar dalam sejarah diaspora. Ke depan, tidak akan ada kongres sebesar ini. Tapi semuanya satu darah, budaya, dan satu keluarga,” ujarnya.

Sejumlah pejabat negara pejabat negara dan tokoh hadir dalam acara ini. Antara lain Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Ketua DPR Setya Novanto.

Obama Sampaikan Pidato

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama turut hadir sekaligus menyampaikan pidato pada 4th Congress of Indonesian Diaspora atau Kongres Diaspora Indonesia ke-4 yang digelar di Mal Kota Kasablanka ini. [aw/em]

Related Articles:

Kongres Diaspora Indonesia Ke-4 (CID4) di Jakarta, 1-4 Juli 2017

Dikutip dari berita indomesia 22 Juni 2017

diaspora-800x445

Kongres Diaspora Indonesia Ke-4 (CID4) di Jakarta, 1-4 Juli 2017

Kongres Diaspora Indonesia adalah perhelatan yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali oleh Indonesian Diaspora Network Global (IDNG). Jaringan ini dibentuk sewaktu Kongres Diaspora Indonesia yang pertama di Los Angeles, tahun 2012 lalu.

Kongres keempat ini akan dilaksanakan selama empat hari, dari tanggal 1-4 Juli 2017, dengan tema “Bersinergi Bangun Negeri”. Kongres ini akan dihadiri diaspora Indonesia dari seluruh penjuru dunia untuk membahas berbagai isu ekonomi dan sosio-budaya dengan tujuan meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia di tanah air maupun luar negeri.

Kongres kali ini menjadi penting, dengan kehadiran mantan Presiden Barack Obama. “Kami merasa terhormat dapat menyambut Obama kembali ke Jakarta untuk menyampaikan pidato keynote di Konvensi,” kata Dr. Dino Patti Djalal, Ketua Board of Trustees Indonesian Diaspora Network Global (IDNG). “Obama selama ini adalah sahabat sejati Indonesia. Beliau adalah inspirasi bagi masyarakat Indonesia dan sekitar delapan juta orang Indonesia di luar negeri yang terhitung sebagai diaspora,” sambungnya.

Setelah sambutan pembukaan, untuk pertama kalinya Kongres akan mengadakan konvensi selama satu hari yang bersifat terbuka untuk umum. Konvensi terdiri dari 12 sesi yang menghadirkan pembicara-pembicara ternama dari berbagai kalangan di Indonesia; pejabat pemerintah, tokoh korporat, pemuka agama, politisi, selebriti, seniman, aktivis, atlet, inovator, akademisi, pemimpin muda, dan lainnya. Konvensi ini diperkirakan menjadi pertemuan diaspora Indonesia terbesar, dengan sekitar 9000 peserta yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Dari Australia juga akan hadir pembicara & panelis: Iwan Sunito (Sydney), Iwan Wibisono (Melbourne) dan juga pemenang MKR 2016 Tasia dan Gracia (Melbourne). IDN Australia yang dipimpin Andrian Wiguna (Adelaide) juga akan mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan selama ini, baik di tingkat National chapters, juga di local-local chapters.

(by Frans Simarmata)

Barack Obama: Kongres Diaspora Indonesia ke-4

Jakarta, 2 Juli 2017

Pidato Barack Hussein Obama “Warga Jakarta Jangan Pernah Lupakan Pak Ahok Karena Jakarta Bisa Maju Berkat Kerja Keras Pak Ahok , Dan “Generasi muda harus melawan intoleransi!”

Screenshot_320

Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Hussein Obama memberikan pidato di Kongres Diaspora Indonesia keempat. Obama berbicara banyak hal di dalam pidatonya, salah satunya adalah kemajuan kota Jakarta saat ini. Obama membandingkan Jakarta dahulu kala yang masih banyak rawa-rawa dan persawahan di masa kecilnya, dengan Jakarta saat ini.

Dahulu kala saat Obama tinggal di Menteng Dalam, ia masih teringat dengan becak dan bemo, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Kemajuan teknologi dan transportasi menjadi sebuah hal yang tentu menyingkirkan alat transportasi konvensional yang ada di Jakarta, dan beralih kepada alat transportasi massal yang modern dan bebas polusi.

Obama pun mengenang bagaimana dirinya harus mengeringkan lantai rumahnya ketika hujan karena rembesan atap. Obama mengakui bahwa Jakarta saat ini banyak perubahan. Obama sempat tinggal di Jakarta pada tahun 1967 hingga 1971, kira-kira 4 tahun. Obama lahir pada tahun 1961.

Jadi kira-kira Obama sempat menetap di Jakarta pada usianya yang ke 6 hingga 10. Tentu masih teringat kenangan manis Obama di Jakarta. Dengan setiap apa yang menjadi kehidupannya pada masa lalu, tentu ia memiliki kedekatan tersendiri dengan negara Indonesia, khususnya di Jakarta. Suasana Jakarta yang sudah berubah, membuatnya tentu  harus terbiasa lagi dengan hal tersebut.

Kenangan akan suasana Jakarta sebenarnya sudah pernah ditulis oleh Obama di bukunya ‘The Audacity of Hope’ pada tahun 2007. Obama menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana jumlah becak pada saat itu lebih banyak dari pada mobil yang ada di Jakarta. Gubernur Jakarta pada saat itu adalah Ali Sadikin.

Ali Sadikin dikenal sebagai gubernur Jakarta yang cukup nyentrik. Bahkan konon katanya, ia pernah menampar perwira TNI di hadapan umum ketika mengetahui bahwa ada anggota TNI melanggar lalu lintas. Ketegasan Ali Sadikin sampai sekarang dikenang. Ia memimpin Jakarta pada tahun 1966 sampai 1977.

Sebelas tahun ia memimpin Jakarta, berhasil mengontrol dan menyejahterakan para penghuni lingkungan kumuh di Jakarta. Kebijakan dan aturan yang diterapkan Bang Ali, membuat Jakarta berubah. Mungkin Obama yang pada saat itu masih kecil, tidak merasakan bagaimana kinerja sosok Ali Sadikin di Jakarta, berhubung pada saat itu, Ali Sadikin juga baru menjabat beberapa tahun di Jakarta.

Kesal dengan perilaku sang sopir truk yang ugal-ugalan, Bang Ali, yang saat itu tengah dalam perjalanan usai mengunjungi kawasan Menteng Wadas memerintahkan sopirnya untuk mengejar truk tersebut. Akhirnya truk mau berhenti dan setelah beberapa kalimat interogasi, supir Angkatan Laut Republik Indonesia pun tidak mau mengalah, sehingga tamparan keras mendarat telak di pipinya. Inilah kenangan-kenangan yang dimiliki oleh Jakarta dengan pemimpin yang tegas.

Tamparan pertama…

Wonderful to be back in Jakarta” – Obama.

Baru saja kita kehilangan sosok gubernur yang tegas dan bertanggung jawab terhadap rakyat, Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok yang saat ini sedang mendekam di sel rumah tahanan Mako Brimob pun menjadi seseorang yang pernah memajukan Jakarta dan membahagiakan warganya, jauh sebelum Anies bicara tentang hal ini.

Kemajuan Jakarta saat ini pun dirasakan bukan hanya oleh warga Jakarta, melainkan mantan Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama pun memuji kinerjanya dengan pengakuannya, langsung telak di muka Anies.

Kongres Diaspora Indonesia IV yang diisi oleh pembicara mantan Presiden AS Barack Hussein Obama, dihadiri oleh beberapa tokoh seperti Zon, Anies, dan bahkan Gloria Natapradja Hamel yang merupakan anggota Paskibraka 2016. Selain mereka bertiga, sejumlah tokoh hadir.

Ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menlu Retno LP Marsudi, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Menhub Budi Karya Sumadi, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil), dan lain sebagainya.

Tamparan kedua…

Bhinneka Tunggal Ika” – Obama.

Bukan hanya memuji perubahan Jakarta, Obama pun menceritakan perjalanan liburannya kemarin di Candi Borobudur. Obama memuji dan mengapresiasi kebinekaan yang ada di Indonesia. Tentu lagi-lagi ini merupakan tamparan keras kepada Anies Baswedan yang didukung oleh ormas radikal nan intoleran, FPI dengan imam kecilnya, si tersangka Rizieq Shihab. Hahaha.

“Kalau Anda lihat Borobudur, candinya umat Buddha, Candi Prambanan umat Hindu, dia ada di negara mayoritas muslim… Semangatnya toleransi. Ini terabadikan dalam konstitusinya. Saling menghargai dalam semangat harmoni…” kata Obama dalam bahasa Inggris di Kongres Diaspora Indonesia keempat, Sabtu (1/7/2017).

Obama pun mendukung terus aksi-aksi perlawanan terhadap intoleransi. Aduh sampai sini, entah muka Anies mau ditaruh di mana. Sulit bagi Anies untuk tetap memandang wajah Obama yang setiap kalimatnya, mengoyak-ngoyak idealisme dan ‘menampar-nampar’ muka Anies.

Tamparan ketiga, tamparan pamungkas!

Generasi muda harus melawan intoleransi!” –  Obama

Mungkin di dalam ketiga ‘tamparan’ Obama yang sangat keras, Anies dan Fadli Zon yang merupakan tamu istimewa, gelisah dan berkeringat karena apa yang dikatakan Obama, menghantam telak mereka, yang dengan jelas didukung oleh ormas radikal nan intoleran, FPI.

Terima kasih Obama, sudah mewakili Ahok dan Jokowi di dalam menumpas habis intoleransi dan mendukung habis ideologi Pancasila yang sampai saat ini menjadi pengisi dan pemberi makna hidup bagi rakyat Indonesia. Semoga Pak Obama sehat selalu. Sebagai mantan presiden Amerika, Pak Obama tidak baper dan tidak prihatin. Semoga Anda menjadi orang yang berkontribusi bagi negara Anda dan bahkan Indonesia, sampai ke seluruh dunia.

Jangan sampai kebinekaan di Indonesia dikoyak-koyak oleh kaum muslim minoritas seperti FPI. Jangan pikir FPI itu mayoritas. Mereka adalah minoritas, yang bukan mewakili Islam Nusantara. Kita percaya bahwa Islam di Indonesia tidak seperti yang dikerjakan oleh Rizieq CS. Bayangkan agama macam apa yang dianut mereka, sehingga berani-beraninya si tersangka Rizieq lari dari tanggung jawab.

Obama sukses mempermalukan FPI, Gerindra, PKS dan ormas-ormas lainnya yang mendukung atau pun didukung oleh aksi intoleransi di Indonesia.

Entah apa yang Jokowi katakan kepada Obama di Bogor kemarin, sehingga Obama bisa ‘menampar’ telak orang-orang yang mendukung atau didukung oleh aksi maupun ormas intoleransi. Pidato yang dilakukan oleh Obama sangat kontekstual, khususnya di dalam membahas tentang ‘kemajuan Jakarta‘, ‘mengecam aksi intoleransi‘, dan ‘mendukung kebinekaan‘. Obama tahu betul gerakan catur Pak Dhe, sehingga kode tersebut tersampaikan dengan tepat.

Terima kasih Jokowi. Terima kasih Ahok. Terima kasih Obama. Salam Bhinneka Tunggal Ika!

Betul kan yang saya katakan?

Dikutip dari Blogspot exfostshare

Barack Obama: Toleransi di Indonesia

Jakarta, 2 Juli 2017

Barack Obama: Ayah Tiri Saya Muslim, dan Dia Hargai Orang Hindu, Budha, Kristen

Screenshot_322

Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menjadi bintang utama Kongres Diaspora Indonesia di Jakarta, Sabtu (1/7/2017).

Penampilannya disambut amat meriah, apalagi ketika dia bicara tentang toleransi.

Ayah tiri saya, dia Muslim, tapi dia hargai orang Hindu, Buddha, Kristen,” kata Obama yang disambut tepuk tangan riuh dan sorak sorai sekitar 4.000 orang yang hadir, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat.

Toleransi menjadi salah satu topik utama pidato Obama lantaran di dunia dan Indonesia, “Ada peningkatan penolakan pada kelompok minoritas, diskriminasi yang berdasarkan etnis, dan agama.”

Obama bercerita, sikap toleransi yang dilihat dari ayah tirinya, Lolo Soetoro, dan berbagai pengalaman masa kecilnya di Indonesia, menjadi pelajaran berharga baginya untuk “menghargai perbedaan”.

Dan ketika melihat Candi Borobudur yang merupakan candi Buddha, di tengah negara Muslim, Candi Prambanan yang Hindu dan dilindungi negara Muslim, wayang kulit dan Ramayana di negara Muslim, semangat Indonesia haruslah toleransi. Dan itu juga terlihat dari gereja dan mesjid yang bersebelahan,” tutur Obama yang disambut kembali dengan sorakan penonton.

Menurut Obama, toleransi inilah “semangat dan karakter paling penting dari Indonesia yang harus ditiru negara Muslim di seluruh dunia. Bhinneka Tunggal Ika. Unity in Diversity.”Obama kecil bersama ibunya Ann Dunham, Maya dan ayah tirinya Lolo Soetoro, di Jakarta. (OBAMA FOR AMERICA)

‘Tidak perlu khawatir dengan kepercayaan orang lain’

Meskipun begitu, Obama menyadari gelombang anti-toleransi dan diskriminasi sedang berkembang pesat di dunia. Perkembangan teknologi dan internet disebutnya sebagai penyebab utama.

“Informasi instan yang menyebarkan berita buruk, membuat orang khawatir, sehingga mencari kemanan di tempat yang salah.”

Dan muncullah apa yang disebut Obama sebagai ‘nasionalisme yang salah‘, diskriminasi terhadap ‘orang yang berbeda dari kita.’

Obama menekankan, “penting sekali bagi orang Indonesia dan Amerika untuk melawan politiksaya versus mereka‘ itu.”

Dia meminta anak muda Indonesia dan dunia untuk mempromosikan toleransi, karena jika tidak, dunia bisa akan berakhir dengan “perang dan hancurnya masyarakat.”

Di penghujung pidatonya terkait toleransi Obama menyatakan, “Kita harus menghargai satu sama lain. Kalau kamu yakin benar pada kepercayaanmu, kamu tentunya tidak perlu khawatir dengan kepercayaan oang lain,” pungkas Obama.

Toleransi harus diperjuangkan

Pidato Obama terkait toleransi ini mendapat tanggapan positif dari penonton yang hadir.

Misalnya Ayi Putri Cakrawardana, seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Washington, Amerika Serikat.

Obama benar-benar tahu arti toleransi,” tuturnya.

“Buktinya dia sendiri bilang ke Borobudur, tapi banyak orang Islam. Dan itu fakta, makanya saya agak heran mengapa kita, orang Indonesia, tidak begitu bertoleransi, padahal beliau orang luar bisa melihat itu,” tutur Ayi.

Sementara, Aldo dari Universitas Indonesia, lebih melihat pidato toleransi Obama sebagai refleksi bagi masyarakat Indonesia.

“Karena belakangan toleransi jadi isu yang sensitif bagi kita. Dengan tadi dikasih pandangan menyeluruh oleh Obama, ini bisa jadi pandangan positif bagi kita-kita terutama yang kemarin banyak kena efek negatif, terutama terkait masalah politik yang ujungnya bawa kepercayaan masing-masing.”

Baik Ayi maupun Aldo percaya, “Toleransi harus diperjuangkan.”

Berita ini sudah terbit di bbc indonesia berjudul: Obama: “Ayah tiri saya Muslim, dan dia hargai orang Hindu, Buddha, Kristen”

Kutipan berita dari Tribunnews

Related Article:Barack ObamaBiography versi Wikipedia. Pidato Obama pada  “Kongres Diaspora Indonesia ke-4“. Baca juga tentang Pancasila

Patung Lilin Presiden Jokowi Dipamerkan di Madame Tussauds Hong Kong

JOKO WIDODO 175x23

CD696194-6EF9-4933-9E55-43049FABB859_w1023_r1_sPresiden Joko Widodo dan Ibu Negara, Iriana, meninjau patung lilin Presiden Joko Widodo di Museum Madame Tussauds, Hong Kong, 1 Mei 2017 (Foto Courtessy : Setpres RI)

Setelah melalui proses pembuatan selama lebih dari satu tahun, patung lilin Presiden Joko Widodo akhirnya kini bisa ditemui di Museum Madame Tussauds di Hong Kong.

WASHINGTON DC — “99 persen mirip!”

Demikian komentar Ibu Negara Iriana ketika melihat langsung patung lilin Joko Widodo di Museum Madame Tussauds di Hong Hong. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Figur Presiden Jokowi dihadirkan dengan mengenakan pakaian safari tangan pendek berwarna putih yang menjadi ciri khasnya dan sekaligus menjadi simbol kabinet kerja pimpinannya.

Berbeda dengan figur lain di museum itu, di belakang patung lilin Jokowi ada sebuah layar lebar dengan gambar-gambar pemandangan di Indonesia yang bisa diganti, antara lain lokasi wisata terkenal di Borobudur Jawa Tengah, Tanah Lot Bali, Danau Toba Sumatera Utara, Labuan Bajo NTT, Raja Ampat Papua, Tanjung Puting Kalimantan Tengah dan lain-lain.

CE2E80BD-046D-4701-8511-526829ED6BE6_w250_r0_s

“Saya kira ini bisa kita pakai untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia. Seperti kita lihat sekarang ada background Borobudur. Saya minta nanti tiap bulan diganti. Jadi bisa ada Bali, Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba dst-nya,’ kata Presiden Joko Widodo.

Joko Widodo adalah presiden kedua Indonesia yang dibuatkan figur lilinnya di museum ini setelah Presiden Sukarno, dan menjadi satu-satunya kepala negara aktif di Asia Tenggara yang diabadikan di museum terkemuka itu.

‘’Kabarnya, menurut Madame Tussauds, banyak permintaan, baik dari pengunjung langsung maupun dari survei-survei yang mereka lakukan,” jelasnya.

Menurut rencana, patung lilin Presiden Joko Widodo ini juga akan disesuaikan dalam periode tertentu, tidak senantiasa menunjukkan sikap siap kerja dan berbaju putih, tapi juga bisa mengenakan batik dengan profil yang lain. Ibu Negara Iriana yang memilihkan langsung dua pasang batik, celana panjang dan sepatu yang bisa dipakaikan ke patung lilin Jokowi nanti.

“Semua ini properti kita. Saya yang memilihkan dan nanti akan dikenakan. Ada dua kemeja batik, celana panjang, dan sepatu. Semua dari kita,” jelas Ibu Iriana.

Joko Widodo dan Iriana sempat berfoto bersama dengan patung lilin baru ini, dan kemudian juga menyempatkan diri berfoto dengan patung lilin Presiden Sukarno yang letaknya tidak terlalu jauh. Foto-foto dan komentar Jokowi atas patung lilinnya itu diposting oleh pihak Museum Madame Tussauds di halaman depan website resmi mereka hari Senin, 1 Mei 2017.

2017-patung-lilin-jokowi-hadir-di-madame-tussauds-hong-kong-161121h_3x2

Madame Tussauds Hong Kong sendiri dibuka setiap hari untuk pengunjung. Harga tiket masuknya 255 dollar Hong Kong (Rp 429.000) untuk dewasa, dan 185 dollar Hong Kong (Rp 311.000) untuk anak-anak usia 4-12 tahun. Kamu bisa membeli tiket on the spot atau bisa juga memesannya terlebih dulu secara online melalui situs resmi Madame Tussauds Hong Kong.

Madame Tussauds memiliki museum di berbagai lokasi di Amerika, Eropa, Asia dan Australia. Khusus di Asia, museum-museum Madame Tussauds bisa ditemui di Beijing, Chongqing, Shanghai, Wuhan dan Hong Kong (China), Bangkok (Thailand), Tokyo (Jepang), New Delhi (India) dan Singapura. [em/jm]

Source: VOAIndonesia