Pulau Papua

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

800px-New_Guinea_Topography

Geografi

  • Lokasi: Melanesia
  • Koordinat: 5°20′LU 141°36′BT
  • Kepulauan: Kepulauan Melayu
  • Luas: 785,753 km2 (303,381 sq mi)
  • Peringkat luas: 2
  • Ketinggian tertinggi: 4,884 m (16,502 kaki)
  • Puncak tertinggi: Puncak Jaya

Negara

Indonesia

  • Provinsi:
    • Papua
    • Papua Barat

Papua Nugini

  • Provinsi
    • Simbu
    • Tengah
    • Dataran Tinggi Timur
    • Britania Baru Timur
    • Sepik Timur
    • Enga
    • Teluk
    • Madang
    • Manus
    • Teluk Milne
    • Morobe
    • Irlandia Baru
    • Oro (Utara)
    • Dataran Tinggi Selatan
    • Barat
    • Dataran Tinggi Barat
    • Britania Baru Barat
    • Sepik Barat

Demografi

  • Populasi: 11,306,940 (per 2014)
  • Kepadatan: 14 /km2 (36 /sq mi)
  • Kelompok etnik: Orang Papua, Austronesia

Pulau Papua atau Guinea Baru (bahasa Inggris: New Guinea, bahasa Indonesia: Nugini) atau yang dulu disebut dengan Pulau Irian, adalah pulau terbesar kedua (setelah Tanah Hijau) di dunia yang terletak di sebelah utara Australia.

Pulau ini dibagi menjadi dua wilayah yang bagian baratnya dikuasai oleh Indonesia dan bagian timurnya merupakan negara Papua Nugini. Di pulau yang bentuknya menyerupai burung cendrawasih ini terletak gunung tertinggi di Indonesia, yaitu Puncak Jaya (4.884 m).

Nama Irian digunakan dalam Bahasa Indonesia untuk mengacu terhadap pulau ini juga terhadap provinsi, sebagaimana “Provinsi Irian Jaya“. Nama ini diusulkan pada tahun 1945 oleh Marcus Kaisiepo, saudara dari Gubernur yang akan datang Frans Kaisiepo. Nama ini diambil dari Bahasa Biak yang berarti beruap, atau semangat untuk bangkit.

Nama ini juga digunakan dalam bahasa pribumi lain seperti Bahasa Serui, Bahasa Merauke dan Bahasa Waropen. Nama ini digunakan sampai tahun 2001 di mana pulau beserta provinsinya kembali dinamakan Papua. Nama Irian yang awalnya disukai oleh penduduk asli Papua, sekarang dianggap sebagai nama yang diberikan oleh Jakarta.

Nugini” berasal dari kata New Guinea, nama yang diberikan oleh orang Barat, yang di-Indonesiakan. Mereka dahulu berpendapat bahwa tanah Papua mirip Guinea, sebuah wilayah di Afrika dan akhirnya pulau ini disebut Guinea baru.

Istilah “Papua” digunakan untuk merujuk kepada pulau ini secara keseluruhan. Istilah “Papua” sekarang juga digunakan untuk merujuk kepada dua provinsi di Papua bagian barat yang termasuk dalam wilayah pemerintahan negara Indonesia, yaitu Papua dan Papua Barat. Namun beberapa publikasi (lihat misalnya Kartikasari et al. 2007) membatasi penggunaan nama “Papua” untuk bagian barat Pulau Nugini.

Tektonik Setting Pulau Papua

Apabila dilihat secara kasat mata pulau Papua terlihat membentuk seperti burung, di mana bagian kepala merupakan Provinsi Papua barat, badan merupakan Provinsi Papua, dan ekor merupakan Papua Nugini.

Tektonik Papua dipengaruhi oleh pergerakan 2 lempeng besar yaitu lempeng Pasifik ke arah barat dan lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara. Tumbukan tersebut membentuk suatu tatanan struktur kompleks terhadap papua yag sebagian besar dilandasi kerak benua Indo-Australia.

Pertemuan lempeng ini juga menghasilkan zona subduksi oblique yang merupakan zona pertemuan busur vulkanik (pasifik) dan kontinen (IndoAustralia).

Pulau Papua memiliki tektonical setting yang sangat komplek, di mana hasilnya membawa material dari mantel dan terakumulasi di Pulau Papua,sehingga Papua memiliki SDA yang menarik.

Karena akibat dari tektonical setting berupa patahan dan lipatan tersebut, sehingga menghasilkan material-material yang berada dari dalam mantel terekspos sehingga menghasilkan banyak sumber daya alam berupa bahan tambang seperti emas, tembaga, dll.

Subduksi yang terjadi tadi berubah menjadi kolisi, sebagai hasilnya salah satunya berupa pegunungan Jaya Wiajaya yang merupakan pegunungan non-vulkanik dengan puncak tertinggi di Indonesia, memiliki puncak dengan ketinggian 4.884 m dengan panjang pegunungan kurang lebih 1300 km dan merupakan pegunungan tertinggi di Asia Tenggara.

Diketahui bahwa pegunungan Jaya Wijaya ini terbentuk akibat adanya proses patahan dan lipatan yang terjadi akibat kolisi antar lempeng-lempeng tersebut yaitu lempang Pasifik dan lempeng Indo-Australia.

Masjid Agung Demak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Masjid_demak

800px-Java_Locator_Topography

Lokasi di Jawa

Informasi Umum

  • Letak; Kel. Bintoro, Demak, Jawa Tengah, Indonesia
  • Koordinat Geografi: 6,894695°LS 110,637602°BT
  • Afiliasi Agama: Islam

Deskripsi Arsitektur

  • Jenis Arsitektur:  Masjid
  • Gaya Arsitektur: Tajug tumpang tiga
  • Tahun Selesai: 1479

Spesifikasi

  • Menara: 1

Masjid Agung Demak adalah salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Sejarah

Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.

Arsitektur

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak termasuk di antaranya adalah Sultan Fattah yang merupakan raja pertama kasultanan demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.

Galeri

Masjid Agung Demak, akhir abad ke-19.

Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM De moskee van Demak TMnr 10016515.jpg

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_moskee_van_Demak_TMnr_10016515

Masjid Agung Demak, 1920-1939

Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM De moskee van Demak TMnr 60054754.jpg

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_moskee_van_Demak_TMnr_60054754

Masjid Agung Demak, Agustus 2016

Berkas:Masjid Agung Demak.jpg

Masjid_Agung_Demak

Menara Masjid Agung Demak, Agustus 2016

Berkas:Menara Masjid Agung Demak.jpg

Menara_Masjid_Agung_Demak