Candi di Jawa Barat


Sumber: Perpustakaan Nasional

CANDI-CANDI INDONESIA

Peta Candi di Jawa Barat

Sejarah sebuah candi di Indonesia tidak terlepas dari sejarah sebuah kerajaan, karena pembangunan candi pada masa lalu adalah atas perintah seorang raja atau kepala pemerintahan yang menguasai wilayah tempat candi tersebut berada. 

Candi di Jawa BaratBerabad-abad lamanya, sejak masa penjajahan Belanda, hampir tidak ada bangunan peninggalan kuno yang ditemukan di Jawa Barat. Peninggalan masa lalu yang dijadikan pijakan dalam upaya menjelaskan secara runtut sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Barat, khususnya kerajaan Hindu dan Buddha, selama ini berupa prasasti yang ditemukan di beberapa tempat serta kitab-kitab kuno, seperti Pustaka Jawadwipa, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, dan Chu-fan-chi karangan Chau Ju-kua (1178-1225) yang merupakan catatan (buku) Cina yang memuat uraian tentang Sunda.

Salah satu dari prasati tersebut adalah Prasasti Juru Pangambat atau Prasasti Pasir Muara (458 Saka atau 536 M) ditemukan di Pasir Muara, Bogor menerangkan tentang pengembalian pemerintahan negara kepada Raja Sunda.

Prasasti lainnya adalah Prasasti Telapak Gajah peninggalan Raja Purnawarman yang juga ditemukan di Pasir Muara, yang memuat gambar telapak gajah dan keterangan yang menjelaskan sepasang jejak telapak kaki tersebut adalah milik gajah kepunyaan penguasa Tarumanagara.

Prasasti Ciaruteun ditemukan di S. Ciaruteun, sekitar 100 m dari muara S. Cirateun ke S. Cisadane dan berjarak beberapa ratus meter dari tempat ditemukannya Prasasti Juru Pangambat.

Prasasti Ciaruteun memuat gambar jejak sepasang kaki dan tulisan berbahasa Sansekerta dalam huruf Palawa yang menerangkan bahwa jejak telapak kaki tersebut milik Raja Purnawarman yang menguasai Tarumanagara.

Menurut informasi yang dimuat dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raja Purnawarman memerintah Tarumanegara pada tahun 395-434 M. Prasasti Kebon Kopi (942 M) ditemukan di bekas perkebunan kopi milik Jonathan Rig di Ciampea, juga tidak jauh dari ditemukannya Prasasti Juru Pangambat.

Sebuah prasasti juga ditemukan di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Prasasti ini juga memuat gambar sepasang telapak kaki dan keterangan bahwa telapak kaki tersebut milik Raja Purnawarman yang memerintah Taruma.

Masih banyak prasasti lain yang dapat dijadikan sumber informasi mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa barat, seperti Prasasti Citatih (Cibadak, 1030 M), Prasasti Cidanghiang (Lebak) dan Prasasti Jambu (Nanggung; sebelah barat Bogor).

Berdasarkan keterangan dalam prasasti dan kitab-kitab yang ada, dapat diketahui bahwa Kerajaan Taruma didirikan Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Sang raja wafat tahun 382 dan digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382 – 395 M).

Raja Tarumanegara berikutnya adalah Purnawarman (395 – 434 M), yang membangun ibukota kerajaan baru, Sundapura, pada tahun 397 M. Kerajaan Tarumanagara hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Raja Tarumanagara terakhir, Linggawarman, digantikan oleh menantunya pada tahun 669 M.

Prasasti Juru Pangambat yang menerangkan pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda dibuat tahun 536 M, yaitu pada masa pemerintahan Suryawarman (535 – 561 M), Raja Tarumanagara ke-7.

Dalam Pustaka Jawadwipa disebutkan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515 – 535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara, seperti halnya penyerahan kembali kekuasaan oleh Suryawarman.

Pengembalian kekuasaan tersebut merupakan petunjuk bahwa Sundapura, yang semula merupakan ibu kota Tarumanagara, telah berubah status menjadi sebuah kerajaan. Dengan demikian, pusat pemerintahan Tarumanagara mengalami perpindahan ke tempat lain.

Pada tahun 670 M, Tarumanagara terpecah menjadi dua kerajaan yang dibatasi oleh S. Citarum, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Sunda merupakan keturunan Maharaja Tarusbawa, menantu Raja Linggawarman.

Raja Tarusbawa, yang memerintah Kerajaan Sunda sampai dengan tahun 723 M, mendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat Hulu Cipakancilan.

Pada tahun 732 M. Raja Tarusbawa digantikan Raja Sunda II yang bergelar Prabu Harisdarma. Raja Sunda II yang juga menantu Raja Tarusbawa kemudian menaklukkan Kerajaan Galuh dan lebih dikenal dengan nama Raja Sanjaya.

Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Mataram Hindu, di Jawa Tengah, pada tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya, Rakai Panaraban. Putra Raja Sanjaya yang lain, Rakai Panangkaran, mewarisi kekuasaan di Kerajaan Mataram Hindu.

Baru sekitar tigapuluh tahun terakhir ini ditemukan beberapa situs sejarah berupa reruntuhan bangunan kuno di beberapa tempat di Jawa Barat.

Temuan-temuan tersebut di antaranya adalah:

  • Candi Bojongmenje di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung (ditemukan pada 18 Agustus 2002);
  • Candi Candi Ronggeng atau Candi Pamarican di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis (ditemukan tahun 1977);
  • Kompleks candi Batujaya di Kecamatan Batujaya dan di Cibuaya Kabupaten Karawang; serta
  • Candi Cangkuang di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles Kabupaten Garut.

Walaupun sejauh ini belum dapat dipastikan kapan dan oleh siapa candi-candi tersebut dibangun, namun penemuan reruntuhan bangunan kuno tersebut merupakan fakta baru yang dapat digunakan untuk mengungkap sejarah kerajaan di wilayah Jawa Barat. 

Candi di Jawa Barat


1. Candi Bojongmenje

Situs Bojongmenje terletak di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Saat ini candi yang diperkirakan pernah berdiri di situs ini masih dalam proses penelitian dan pemugaran, sehingga belum ada gambaran mengenai bentuk dan fungsi bangunan tersebut pada mulanya.

Candi Bojongmenje dibangun dari batu andesit, diperkirakan berdenah dasar bujur sangkar dengan sisi sepanjang 6 m. Dari reruntuhan bangunan yang ditemukan, dapat diketahui bahwa bentuk bangunan candi sangat sederhana dan dindingnya hanya terdiri satu lapis tanpa hiasan relief.

Kesederhanaan tersebut menjadi petunjuk bahwa peradaban manusia yang membuatnya masih lebih sederhana dibandingkan dengan peradaban pada masa pembangunan Candi Prambanan dan Candi Barabudhur.

Sampai saat ini belum ditemukan sumber tertulis yang menjelaskan hubungan Candi Bojongmenje dengan kerajaan tertentu yang pernah ada di Jawa Barat namun, berdasarkan temuan-temuan arkeologis di situs Bojongmenje, diperkirakan bahwa candi tersebut dibangun pada abad ke-7 dan ke-8.

Dengan demikian, usia Candi Bojongmenje lebih tua dibandingkan dengan usia candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau setidaknya setara dengan Candi Dieng di Jawa Tengah.

Situs purbakala ini ditemukan pada 18 Agustus 2002. Penemuan benda tersebut berawal dari upaya warga setempat untuk mencari tanah penguruk gang di dekat lokasi candi. Di lahan milik salah seorang penduduk, yang bernama Anen, mereka melihat sekerumunan semut. Para penduduk kemudian mencoba menggali tanah di sekitar lokasi kerumunan semut tersebut.

Sampai pada kedalaman setengah meter, mereka menjumpai tanah berongga yang di sekelilingnya terdapat tumpukan batu yang tertata rapi. Penggalian terus dilakukan sampai formasi batu-batu itu terlihat. Ketika mencapai kedalaman sekitar 80 cm, penggalian pun dihentikan dan temuan tersebut dilaporkan kepada yang berwajib. 

Sampai akhir tahun 2005 ini proses penggaliannya masih belum selesai, sekeliling situs yang terletak di perkampungan penduduk ini sekarang telah dikelilingi pagar. Tempat berdirinya bangunan yang saat ini sedang digali tampak menyerupai kolam yang dipenuhi air. Reruntuhan bangunan di tengahnya juga dipasangi pagar kawat berduri untuk mencegah terjadinya pengrusakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. 

Di tepi areal situs didirikan bangunan sementara yang dipergunakan sebagai tempat pencatatan, penelitian dan penyimpanan benda-benda arkeologis yang ditemukan di situs tersebut. Di dalam bangunan tampak berbagai bentuk batu reruntuhan bangunan teronggok di sudut ruangan.

Beberapa onggokan batu reruntuhan bangunan juga terlihat berjajar sepanjang sisi halaman. Di antara onggokan-onggokan tersebut terdapat juga potongan-potongan bata merah. Sebagian lagi masih dalam proses perekaan mengenai bentuk dan letaknya. 

Menurut petugas yang menjaga situs ini, ada hal-hal yang diduga mempercepat kerusakan Candi Bojongmenje, di antaranya bahwa konon lahan tersebut pernah dijadikan tentara Jepang sebagai tempat latihan perang menggunakan alat-alat berat seperti tank, panser, dsb. Selain itu, lahan tersebut juga pernah menjadi tempat pemakaman umum. 


2. Candi Cangkuang

Candi Cangkuang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang , Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Kata ‘Cangkuang’ sendiri adalah nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar makam, Embah Dalem Arief Muhammad, leluhur Kampung Pulo. Daun cangkuang dapat dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren. 

Cagar budaya Cangkuang terletak di sebuah daratan di tengah danau kecil (dalam bahasa Sunda disebut situ), sehingga untuk mencapai tempat tersebut orang harus menggunakan rakit. Selain candi, di pulau itu juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo, yang juga menjadi bagian dari kawasan cagar budaya.

Candi Cangkuang ditemukan kembali oleh Tim Sejarah Leles pada tanggal 9 Desember 1966. Tim penelitian yang disponsori oleh Bapak Idji Hatadji (CV. Haruman) ini diketuai oleh Prof. Harsoyo, Uka Tjandrasasmita (ketua penelitian sejarah Islam dan lembaga kepurbakalaan), dan mahasiswa dari IKIP Bandung.

Penelitian dilaksanakan berdasarkan tulisan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893 yang menyatakan bahwa di Desa Cangkuang terdapat makam kuno dan sebuah arca yang sudah rusak. Disebutkan bahwa temuan itu berlokasi di bukit Kampung Pulo. 

Makam dan arca Syiwa yang dimaksud memang diketemukan. Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi. Makam kuno yang dimaksud adalah makam Arief Muhammad yang dianggap penduduk setempat sebagai leluhur mereka.

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan bangunan candi dan di sampingnya terdapat sebuah makam kuno berikut sebuah arca Syiwa yang terletak di tengah reruntuhan bangunan. Dengan ditemukannya batu-batu andesit berbentuk balok, tim peneliti yang dipimpin Tjandrasamita merasa yakin bahwa di sekitar tempat tersebut semula terdapat sebuah candi. Penduduk setempat seringkali menggunakan balok-balok tersebut untuk batu nisan. 

Berdasarkan keyakinan tersebut, peneliti melakukan penggalian di lokasi tersebut. Di dekat kuburan Arief Muhammad peneliti menemukan fondasi candi berkuran 4,5 x 4,5 meter dan batu-batu candi lainnya yang berserakan.

Dengan penemuan tersebut Tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan segera melaksanakan penelitian didaerah tersebut. Hingga tahun 1968 penelitian masih terus berlangsung.

Proses pemugaran Candi dimulai pada tahun 1974-1975 dan pelaksanaan rekonstruksi dilaksanakan pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap dan patung Syiwa serta dilengkapi dengan sebuah joglo museum dengan maksud untuk dipergunakan menyimpan dan menginventarisir benda-benda bersejarah bekas peninggalan kebudayaan dari seluruh Kabupaten Garut.

Dalam pelaksanaan pemugaran pada tahun 1974 telah ditemukan kembali batu candi yang merupakan bagian-bagian dari kaki candi. Kendala utama rekonstruksi candi adalah batuan candi yang ditemukan hanya sekitar 40% dari aslinya, sehingga batu asli yang digunakan merekonstruksi bangunan candi tersebut hanya sekitar 40%. Selebihnya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi. 

Candi Cangkuang merupakan candi pertama dipugar, dan juga untuk mengisi kekosongan sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran. Para ahli menduga bahwa Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8, didasarkan pada:
1. tingkat kelapukan batuannya;
2. kesederhanaan bentuk (tidak adanya relief). 

Setelah dipugar, Candi Cangkuang mempunyai ukuran yang sesuai dengan keadaan alamnya. Tinggi bangunan sampai ke puncak atap adalah 8,5 m. Tubuh candi berdiri di atas kaki berdenah bujur sangkar berukuran 4,5 X 4,5 m. Atap candi bersusun-susun membentuk piramid. Sepanjang tepian setiap susunan dihiasi semacam mahkota-mahkota kecil, mirip yang terdapat di candi-candi Gedongsanga.

Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi terletak di sisi timur. Untuk mencapai pintu terdapat tangga selebar sekitar 75 cm setinggi sekitar 1 m. Pintu masuk tersebut diapit dinding yang membentuk bingkai pintu. Tidak terdapat hiasan pahatan pada bingkai pintu.

Saat ini di ambang pintu masuk ke ruangan tersebut telah dipasang pintu berterali besi yang terkunci.Dalam candi terdapat ruangan seluas 2,2 m2 dengan tinggi 3,38 m. Di tengah ruangan terdapat arca Syiwa setinggi 62 cm. Konon tepat di bawah patung terdapat lubang sedalam 7 m, namun hal itu tidak dapat dibuktikan karena pengunjung tidak diperkenankan masuk ke ruangan. 

Pemukiman adat Kampung Pulo

Kampung Pulo merupakan sebuah kampung kecil, terdiri dari enam buah rumah dan enam kepala keluarga. Sudah menjadi ketentuan adat bahwa jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam orang dengan susunan tiga rumah disebelah kiri dan tiga rumah disebelah kanan yang saling berhadapan ditambah satu masjid sebagai tempat ibadah. 
Oleh sebab itu kedua deretan rumah tersebut tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. 

Jika seorang anak sudah dewasa kemudian nikah maka paling lambat dua minggu setelah pernikahan harus meninggalkan rumah tempat asalnya, keluar dari lingkungan keenam rumah adat tersebut. Dia bisa kembali keasalnya bila salah satu keluarga meninggal dunia dengan syarat harus anak wanita dan ditentukan atas pemilihan keluarga setempat.

Embah Dalem Arief Muhammad

Embah Dalem Arief Muhammad serta masyarakat setempat yang telah membendung daerah ini, sehingga terbentuk sebuah danau dengan nama Situ Cangkuang.

Setelah daerah ini selesai dibendung, maka dataran yang rendah menjadi danau, dan bukit-bukit menjadi pulau-pulau. Pulau tersebut antara lain Pulau Panjang (dimana kampung pulo ada), Pulau Gede, Pulau Leutik (kecil), Pulau Wedus, Pulau Katanda, dan Pulau Masigit. Embah Dalem Arief Muhammad berasal dari Kerajaan Mataram, Jawa Timur.

Ia dan pasukannya datang dengan tujuan untuk menyerang tentara VOC di Batavia dan menyebarkan agama Islam di Desa Cangkuang.

Desa Cangkuang, khususnya Kampung Pulo, waktu itu sudah dihuni oleh penduduk yang menganut agama Hindu. Hal itu terbukti dari adanya candi Hindu yang sekarang telah dipugar. Metode dakwah yang dilakukan Arief Muhammad tidak jauh dari pola dakwah Wali Songo. Secara bijaksana Embah Dalem Arief Muhammad mengajak masyarakat setempat untuk menganut Islam.

Pedoman dakwah yang diajarkan oleh Arief Muhammad berprinsip pada ajaran Islam yang tidak mengenal kekerasan dan paksaan, melainkan dengan perdamaian dan keikhlasan hati.

Ajaran-ajaran yang disampaikan dan ditulis Arief Muhammad dalam naskah-naskah tidak berbeda dengan apa yang kita dapatkan dari para ulama sekarang ini. Dengan mengacu pada Al-Qur’an dan Hadits, beliau mengajarkan berbagai hal untuk menghadapi segala kehidupan membentuk pribadi umat menjadi muslim yang sejati dengan mentauhidkan Allah SWT, berakhlak baik, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT. 

Adapun hal-hal yang membuktikan adanya penyebaran Islam yang dilakukan pada permulaan abad XVII, antara lain :

  1. Naskah Khotbah Jum’at yang terbuat dari kulit kambing dengan memiliki ukuran 176 X 23 cm. Walaupun terlihat agak sedikit rusak, namun tulisan dalam naskah tersebut masih terbaca jelas.
  2. Kitab Suci Al Qur’an yang terbuat dari kulit kayu (saih) dengan memiliki ukuran 33 X 24 cm. Karena sudah dimakan usia, kondisi kitab ini terlihat sobek. Walau demikian kitab Al Qur’an ini masih bisa dibaca dengan jelas.
  3. Kitab Ilmu Fikih yang terbuat dari bahan kulit kayu (saih) dengan memiliki ukuran 26 X 18,5 cm.
  4. Makam Embah Dalem Arief Muhammad yang berada disebelah selatan Candi Cangkuang. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kerukunan hidup beragama di Nusantara sudah terbina sejak ratusan tahun yang lalu

Para penduduk Kampung Pulo berangsur-angsur menganut agama Islam, tapi sebagian kepercayaan lamanya masih mereka laksanakan. Sebagai contoh, hari Rabu menjadi hari besar bagi mereka, dan bukan hari Jum’at.


3. Candi Cibuaya

Candi ini terletak di Dusun Pajaten desa Cibuaya, Kecamatan Cibuaya kabupaten Karawang dan pada koordinat 06° 03′ 460″ Lintang Selatan dan 107° 21′ 575″ Bujur Timur. Letak candi berada di persawahan pada ketinggia antara 2-3 meter diatas permukaan air laut, dan hanya berjarak kira-kira 6 km dari pantai. 

Pada mulanya kedua reruntuhan bangunan purbakala itu dianggap reruntuhan benteng Belanda, namun pendapat tersebut berubah setelah ditemukan arca Wisnu di dekat situs tersebut. Lima tahun kemudian (1957) ditemukan Arca Wisnu kedua. Arca-arca tersebut saat ini disimpan di Museum Nasional di Jakarta dengan sebutan Arca Wisnu I dan Arca Wisnu II. 

Candi terdapat dua bangunan yang dinamakan Lemah Duhur Lanang, dan Lemah Duhur Wadon. Candi Lemah Duwur Lanang yang tertinggal sekarang hanya bangunan kaki candi berbentuk persegi empat dan berukuran 9 X 9,6 meter yang dilengkapi dengan anak tangga di sisi sebelah barat laut, namun kondisi tangga dalam keadaan rusak. 

Pada bagian puncak terdapat lingga berukuran 1,11 m diameter 40 cm dalam kondisi tertancap di tanah. Lingga ini dahulu ditemukan di runtuhan kaki bangunan. Bentuk lingga merupakan lingga semu yaitu hanya menampakkan bentuk bujur sangkar di bagian bawah dan bulat di bagian atas.

Bentuk lingga yang seharusnya adalah bentuk bujur sangkar bagian bawah, segi delapan di bagian tengah, dan bulat di bagian atas. Dengan ditemukannya lingga dalam satu konteks dengan runtuhan bangunan, dapat dipastikan bahwa bangunan Lemah Duhur Lanang berlatarkan Hindu.

Bangunan Lemah Duhur Wadon berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 3,5 x 3,5 m. Bangunan ini juga menggunakan bahan bata. Ketika ditemukan dalam kondisi sudah runtuh yang tersisa hanya bagian kaki. Ada indikasi yang menunjukkan bangunan ini menghadap ke arah timur.


4. Candi Situs Batujaya

Candi Situs Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sebaran candi di situs Batujaya ini diperkirakan mencapai 5 km2.

Terletak di tengah-tengah areal persawahan dan sebagian candi dekat permukiman penduduk seperti candi Serut atau Batujaya VII dan Candi Sumur atau Batujaya VIII. Situs Batujaya berada pada 6 km dari garis pantai utara Jawa Barat (Ujung Karawang). 

Saat ini, kompleks Candi Batujaya merupakan areal persawahan dan pemukiman penduduk. Sebagian besar bangunan purbakala di lokasi tersebut masih tertimbun dalam ‘unur’ atau ‘lemah duwur’ (tanah darat menyembul diantara pesawahan).

Sampai dengan pertengahan tahun 2004 ini, penggalian dan penelitian di kompleks percandian di Batujaya masih terus berlangsung di bawah pengawasan Tim Peneliti Situs Batujaya dari Universitas Indonesia.

Menurut pak Sunarto, komplek candi Batu Jaya terdapat 46 titik sebaran candi di areal 5 km, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau candi itu akan bertambah, seiring ditemukannya unur unur yang lain.

Adapun candi yang sudah dipugar dan sudah memiliki bentuk candi meski belum sempurna ada 4 buah yang dinamakan : 1. Candi Jiwa atau Batujaya I, 2. Candi Blandongan atau BatuJaya V, 3 Candi Serut atau Batujaya VII, dan 4. Candi Sumur atau Batu jaya VIII. 

Walaupun belum didapatkan data mengenai kapan dan oleh siapa candi-candi di Batujaya dibangun, namun para pakar arkeologi menduga bahwa candi-candi tersebut merupakan yang tertua di Jawa, yang dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara (Abad ke-5 sampai ke-6 M). Sampai tahun 1997 sudah 24 situs candi yang ditemukan di Batujaya dan baru 6 di antaranya, umumnya merupakan hanya sisa bangunan, yang sudah diteliti.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa masih ada lagi candi-candi lain di Batujaya yang belum ditemukan. Yang menarik, semua bangunan candi menghadap ke arah yang sama, yaitu 50 derajat dari arah utara. 

Candi Candi di Komplek Batu Jaya ini umumnya terkubur di dalam tanah sedalam antara 1 hingga 3 meter, jadi pelataran candi berada dibawah 1- 3 meter dari permukaan sawah, alhasil candi candi itu rawan tergenang.

Tetapi berkat perhatian pemerintah terhadap situs peninggalan sejarah ini sekeliling candi dibuat tembok penahan air dan didalamnya terdapat drainase untuk mengalirkan air menuju ruang pompa yang akan menarik keluar areal candi.

1. Candi Jiwa 

Situs candi jiwa merupakan sebuah gundukan tanah seperti bukit kecil yang oleh penduduk disebut unur jiwa berbentuk lonjong,dengan ketinggian 2 m dari permukaan tanah sawah dan sebagian lagi terkubur 2 meter dibawah ppermukaan sawah di sekitarnya dan luas kurang lebih 500 m2.

Candi jiwa mulai di pugar pada tahun 1996 sampai 2001 oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala,Departemen Pendidikan Nasional (sekarangt menjadi Direktorat Peninggalan Purbakala ,Dep. Kebudayaan dan Pariwisata), melalui Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) BP3 Serang .

Candi Jiwa terletak pada kedalaman 2 meter ddibawah permukaan sawah, menilik dari bentuknya candi ini relatif lebih mendekati sempurna ketimbang candi yang lain di sekitarnya.

Mulai dari penampang alas candi terdapat semacam selasar atau jalan selebar 1,5 meter yang mengelilingi candi, juga terdapat batu yang disusun rapi, menyerupai taman. Candi ini tidak memiliki anak tangga karena memang candi ini dibuat bukan untuk upacara di atasnya melainkan dibersembahyang di sekeliling candi. Jalan menuju candi sudah di beton dari perkampungan menuju posisi candi

Badan candi sempurna hingga tampak atas candi, yang berbentuk bunga padma atau bunga teratai, diduga diatas candi ini terdapat patung budha yang jika dilihat dari bangunan candi yang berukuran 19 X 19 meter, maka patung buda diatasnya seharusnya meiliki tinggi lebih dari 4 meter. 

2. Candi Blandongan 

Pada mulanya candi ini hanya berbentuk gundukan tanah merah yang ditumbuhi pohon pisang dan pohon perdu lainnya. Sekelilingnya adalah pematang sawah yang merupakan tanah produktif.

Situs ini pertama kali di surpei oleh tim arkeologi FSUI pada tahun 1984, antara tahun 1992 dan 2000 situs ini di eskapasi oleh Puslit Arkenas, dan menghasilkan penemuan sebuah reruntuhan candi

Candi ini sebagian badannya menjorok kedalam tanah atau permukaan alas candi berada di kedalamanan antara 2-3 meter lebih rendah dari permukaan sawah di sekitarnya.

Untuk keperluan penampakan candi secara keseluruhan, petugas candi membuat pelataran sekeliling candi dengan menjorok kedalam tanah sekitar dua meter dari penampang sawah di sekelilingnya, dengan demikian candi ini posisinya lebih rendah 1-3 meter dari penampang sawah sehingga rawan tergenang, beruntung pompa air sudah siap di setiap sudutnya agar pelataran candi ini tetapi kering.

Bila ukuran candi berkisar antara 25 X 25 meter, maka pelataran candi dibuat lebih besar yakni sekitar 45 X 45 Meter M2

Candi Blandongan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 25 x 25 m.di bagian atas kaki pada keempat sisi candi terdapat tangga masuk dan pagar langkan.

Candi ini seolah bertingkat karena dari 25 x 25 meter persegi di bagian tengah candi masih terdapat sebuah bangunan dengan ukuran 10 x 10 m. Antara badan candi dengan pagar langkan terdapat sebuah lantai bata dengan di lapisi beton stuko setebal 15 cm, bagian atas atau atap badan candi sudah runtuh dan tidak diketahui bentuknya.

Bagian atas badan candi ini diduga berbentuk stupa yang massif, berupa susunan bata yang kemudian dilapisi dengan beton stuko, dugaan ini didasarkan atas temuan pecahan beton stuko berbentuk lengkung seperti bulatan stupa dengan ketebalan 20 cm, pecahan beton stuko ini ditemukan tersebar dalam onggokan dilantai selasar dan sudut utara dinding langkan.

Pecahan genta stupa tersebut bagian luarnya halus dan bagian dalamnya memperlihatkan bekas-bekas bata menempel.dengan ukuran lebar diperkirakan 6 m, dan tinggi tidak dapat diketahui. 

3. Candi Serut 

Situs ini terletak dikampung gunteng pada kordinat 107008’51’’ BT dan 06003,23’’ LS. 
Pada tahun 1989 Bakosurtanal bersama Fakultas Geografi UGM dan Ditlinbinjarah mengadakan penelitian Geoarkeologi melalui penjajagan geo-listrik (geoelectric prospecting ), dari penelitian penjajagan ini diperoleh kepastian adanya sisa bangunan candi.

Melalui tiga kali eskavasi hampir seluruh kaki candi dapat dinampakan dengan ukuran 13,65 x 10,70 m, dan tinggi yang tersisa pada dinding bangunan sekitar 1,80 cm. Tinggi seluruh bangunan candi sekitar 2,30 m.

Kondisi candi ini cukup menggenaskan karena posisi miring, dari kemiringan ini membuat candi ini diduga roboh, bukti robohnya candi terdapat tumpukan batu bata disebelahnya. Dari kondisi fisik candi terdapat lubang pada dinding candi sebagai bekas balok yang diduga sebagai pilar untuk alas candi. Masih didalam candi ini juga terdapat lubang segi empat ukuran 1 x 1 meter yang kedalamanya belum diketahui, lubang ini sementara diperkirakan sebagai sumur.

Pada dinding sisi timur laut di sudut utara dan sudut timur terdapat tembok memanjang yang membentuk garis lurus dengan arah barat laut-tenggara. Candi Tlj Ia tidak memiliki tangga naik atau pintu masuk di keempat sisinya, kaki candi mempunyai bentuk konstruksi seperti sebuah “Bak” yang berdiri diatas sebuah pondasi. Situs ini mulai di pugar pada tahun 2007 sampai saat ini oleh Bp3 serang, penelitian pun masih berlanjut sampai saat ini.

Penggalian candi baru sebatas pinggiran dinding candi dan air masih menggenang, sehingga candi masih nampak terkubur sebagian, mungkin karena posisi yang miring inilah sehingga penggalian dihentikan karena khawatir akan semakin rusak oleh beban candi yang miring. Jika Candi sudah dibuatkan pelataran sesuai pada titik pondasi maka akan terlihat utuh.

Dilihat dari penampang luar candi ini mirip dengan pondasi rumah biasa yang terdapat kamar kamar didalamnya dan lengkap dengan sumur, plus lantai papan.

4. Candi Sumur (Segaran IX) 

Situs terletk ditengah sawaah disebelah barat kampung sumur pada koordinat 107009’ 04’’ BT 06003’34’’ LS pada tahun 1992 situs ini pertama di ekskavasi olehpuslit arkenas menghasil penemuan berupa bangunan bata empatpersegi panjang berukuran 7,35 x 10,55 m barat daya ketebalan dindingnya sekitar 1,70 m, sedangkan timur laut ketebalan dindingnya lebih dari 4 m.

Situs ini telah dibuatkan atap dan pagar keliling agar pengunjung bisa nyaman karena posisi situs berada di tengah sawah dan lebih rendah beberapa meter dar permukaan sawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.