Fosil Manusia Purba Jenis Homo

Fosil-manusia-purba-jenis-Homo

Prasejarah. Fosil manusia purba jenis Homo adalah yang paling mudah dibandingkan dengan manusia purba jenis lainnya. Manusi purba jenis Homo disebut juga homo erectus (manusia berjalan tegak) atau Homo sapiens (manusia cerdas/bijaksana).

Dengan cara stratigrafi dapat diketahui bahwa fosil tersebut berada pada lapisan notopuro. Berdasarkan umur lapisan tanah diperkirakan fosil Homo sangat bervariasi umurnya antara 25.000-40.000 tahun.

Ciri-ciri Homo sapiens aalah sebagai berikut:

  • Tinggi tubuh 130-210 cm, dengan berat badan 30-150 kg.
  • Otak lebih berkembang dibanding Meganthropus dan Pithecanthropus, berkisar 1.000-2.000 cc dengan rata-rata 1.350-1.450 cc.
  • Otot kunyah, gigi dan berkurang dan sudah menyusut.
  • Tonjolan kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
  • Mempunyai ciri-ciri ras Mongoloid dan Austromelanesoid.
  • Otak besar dan kecil sudah berkembang terutama kulit dan otaknya.
  • Berjalan lebih tegak.
  • Muka tidak terlalu menonjol ke depan.
  • Berkemampuan membuat peralatan dari batu dan tulang meskipun masih sederhana.

Fosil jenis homo yang ditemukan di Indonesia ada dua, yaitu sebagai berikut :

1. Homo soloensis (Manusia dari Solo)

Fosil jenis Homo soloensis ditemukan oleh Ter Haar, Oppernooth, dan Von Koenigswald pada tahun 1931-1933. Fosil tersebut ditemukan di Ngandong, Blora, di Sangiran dan Sambung Macan, Sragen, yang berasal dari lapisan pleistosen atas.
  
Homo Soloensisdiperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu. Menurut Von Koenigswald makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Pithecanthropus erectus. Diperkirakan Homo soloensis merupakan evolusi dari Pithecanthropus mojokertensis.

Menurut sebagian para ahli, Homo soloensis digolongkan dengan Homo neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo sapiens dari Asia, Eropa, dan Afrika yang berasal dari lapisan pleistosen atas.

Homo Soloensis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  • Otak kecilnya lebih besar daripada otak kecil Pithecanthropus erectus.
  • Tengkoraknya lebih besar daripada Pithecanthropus erectus, dengan volume berkisar antara 1.000 -1.300 cc.
  • Tonjolan kening agak terputus di tengah (di atas hidung).
  • Berbadan tegap dan tingginya kurang lebih 180 cm.

2. Homo Wajakenses

Fosilmanusia purba jenis Homo wajakenses ditemukan Van Rietschotten pada tahun 1889 di Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Diteliti oleh Eugene Dubois dan termasuk Homo sapiens. Manusia jenis ini sudah dapat membuat alat-alat dari batu maupun tulang.

Mereka juga telah mengenal cara mengolah makanan. Beberapa ahli arkeologi melihat bahwa Homo wajakenses memiliki kesamaan ciri dengan ras Mongoloid dan Austramelanesoid.

Homo wajakenses mempunyai tengkorak yang cukup besar dengan ukuran sekitar 130-210 cm dan berat badan berkisar antara 30-150 kg. Manusia purba ini hidup sekitar 25.000-40.000 tahun yang lalu. Pada masa ini, mereka sudah memakan makanan yang dimasak terlebih dahulu meskipun masih sangat sederhana.

Fosil Homo wajakenses memiliki kesamaan dengan fosil manusia Niah di Serawak Malaysia, manusia Tabon di Palawan, Filipina, dan fosil-fosil Austroloid dari Cina Selatan dan Australia Selatan.

 

Manusia Purba Jaman Prasejarah

Dikutip dari sejarah-negara

Manusia purba jaman prasejarah di Indonesia – Berbagai jenis manusia purba ditemukan diberbagai daerah di pulau Jawa. Selain ditemukan di Indonesia juga ditemukan di negara lain di luar Indonesia. Jenis-jenis yang ditemukan di Indonesia ini, antara lain: Pithecanthropus Erectus, Meganthropus Palaeojavanicus dan Homo. Pada artikel ini, berdasarkan dari berbagai sumber Budaya Jawaku akan membahas secara sekilas dari ketiga jenis tersebut.

1. Pithecanthropus Erectus

Nama ini berasal dari tiga kata, yaitu: pithecos yang berarti kera, anthropus yang berarti manusia, erectus yang berarti tegak Jadi, Pithecanthropus Erectus berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Nama sebutan itu didasarkan pada fosil yang ditemukan. Penemuan ini berupa tulang paha yang lebih besar dibandingkan tulang lengan. Demikian juga volume otaknya lebih besar daripada kera, tetapi lebih kecil daripada manusia.

Fosil ini ditemukan oleh seorang ahli purbakala dari negeri Belanda yang bernama Eugene Dubois. Fosil manusia purba ini ditemukan di desa Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil sejenis juga ditemukan di desa Jetis, Mojokerto, Jawa Timur di lembah Kali Brantas pada tahun 1936. Karena temuan itu berupa fosil anak-anak, oleh Weidenreich dinamakan Pithecanthropus Robustus. Dan Von Koenigswald menamakannya Pithecanthropus Mojokertensis, karena ditemukan di Mojokerto.

2. Meganthropus Palaeojavanicus

Meganthropus Palaeojavanicus berasal dari empat kata: mega yang berarti besar, anthropus yang berarti manusia, palaco yang berarti tertua, dan javanicus yang berarti Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus berarti “manusia besar tertua di Jawa”. Arti ini diambil berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tulang rahang atas dan rahang bawah jauh lebih kuat daripada Pithecanthropus Erectus.

Fosil ini ditemukan oleh Von Koenigswald di Sangiran, Surakarta, Jawa tengah pada tahun 1941. Sekarang di tempat tersebut dibangun Museum Purbakala Sangiran. Von Koenigswald menganggap fosil ini lebih tua dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus.

3. Homo

Homo berarti manusia. Fosil ini disebut homo karena menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Von Koenigswald, mahkluk ini lebih tinggi daripada Pithecanthropus Erectus. Bahkan, mahkluk homo sebanding dengan manusia biasa. Ada dua jenis fosil homo, yaitu: Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

  • Homo Soloensis berarti “manusia dari Solo”. Fosil ini ditemukan oleh Ter Haar dan Oppernoth di daerah Ngandong, lembah bengawan Solo.
  • Homo Wajakensis berarti “manusia dari wajak”. Karena ditemukan di desa Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Fosil ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889. Jenis manusia purba ini setingkat dengan Homo Soloensis. Fosil ini diperkirakan mirip dengan penduduk asli Australia.

Berdasarkan perkembangannya dikenal jenis homo yang lain, yaitu Homo Sapiens. Homo Sapiens berarti “manusia cerdas. Jadi, jenis manusia ini jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan mahkluk sebelumnya. Jenis homo inilah yang dikatakan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia yang berasal dari Yunan.

Menurut Von Koenigswald, fosil-fosil tersebut ditemukan dilapisan yang berbeda.

  • Fosil Meganthropus Palaeojavanicus ditemukan di lapisan dilluvium bawah (lapisan Jetis).
  • Fosil Pithecanthropus Erectus ditemukan di lapisan dilluvium tengah (lapisan Trinil).
  • Fosil Homo ditemukan di lapisan dilluvium atas (lapisan Ngandong.).

Berdasarkan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa Meganthropus lebih tua daripada Pithecanthropus Erectus. Namun, Pithecanthropus Erectus lebih tua dibandingkan dengan Homo.

Manusia Purba Jaman Prasejarah di luar Indonesia

Seperti telah disinggung pada artikel Manusia purba jaman prasejarah di Indonesia, bahwa manusia-manusia purba selain ditemukan di Indonesia juga ditemukan di negara lain di luar Indonesia. Antara lain: Cina, Afrika dan Eropa. Berdasarkan dari sumber buku-buku sejarah, pada artikel ini Budaya Jawaku juga akan membahas secara sekilas hal tersebut.

1. Di Cina

Di Cina disebut Homo Pekinensis. Yang berarti “manusia dari Peking” yang sekarang nama Peking berganti menjadi Beijing. Homo Pekinensis ditemukan di gua Choukoutien, sekitar 40km dari Peking. Fosil ini ditemukan oleh seorang sarjana dari Kanada, yeng bernama Davidson Black. Berdasarkan penyelidikan, kerangka jenis ini menyerupai kerangka Pithecanthropus Erectus. Oleh karena itu, para ahli menyebutnya juga dengan nama Pithecanthropus Pekinensis atau Sinanthropus Pekinensis, yang berarti “manusia kera dari Peking”.

2. Di Afrika

Di Afrika disebut Homo Africanus, yang berarti “manusia dari Afrika”. Fosilnya ditemukan oleh Raymond Dart. Fosil ini ditemukan di dekat sebuah pertambangan Taung Bostwana, pada tahun 1924. Setelah direkonstruksi ternyata membentuk kerangka seorang anak yang berusia sekitar 5 sampai 6 tahun. Fosil ini diberi nama Australopithecus Africanus, karena hampir mirip dengan penduduk asli Australia. Selanjutnya, Robert Broom menemukan fosil serupa yang berupa tengkorak orang dewasa di tempat yang sama.

3. Di Eropa

Di Eropa disebut Homo Neandherthalensis. Nama itu mengandung arti “manusia Neandhertal”. Manusia jenis ini ditemukan oleh Rudolf Virchow di lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat pada tahun 1856. Selain di Jerman, juga ditemukan di gua Spy Belgia. Di Perancis juga ditemukan yang disebut Homo Cro Magnon. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa perbedaan antara jenis Pithecanthropus Erectus dengan Homo Sapiens. Perbedaannya antara lain:

  • Ruang tengkorak Pithecanthropus lebih kecil dibandingkan Homo Sapiens, sehingga volume otaknya juga lebih kecil. Ruang tengkorak Pithecanthropus kurang dari 1000cc, sedangkan ruang tengkorak Homo Sapiens lebih dari 1000cc.
  • Tulang kening Pithecanthropus lebih menonjol ke depan.
  • Tulang rahang bawah Pithecanthropus lurus ke depan sehingga tidak berdagu, sedangkan Homo Sapiens berdagu.
  • Tulang rahang dan gigi Pithecanthropus lebih besar dan kuat daripada tulang rahang Homo Sapiens.
  • Tinggi dan berat badan Homo Sapiens lebih besar, yaitu 130-210 cm dan 30-150 kg.

Pengertian Manusia Purba

pengertian-manusia-purba

Gambar ilustrasi manusia purba dan revolusinya

Prasejarah

Manusia purba (prehistoric people) adalah jenis manusia yang hidup jauh sebelum ditemukannya tulisan. Manusia purba diyakini telah mendiami bumi sejak sekitar 4 juta tahun yang lalu.

Namun demikian, para ahli sejarah meyakini bahwa jenis manusia pertama telah ada di muka bumi ini sekitar 2 juta tahun yang lalu.

Karena lamanya waktu, sisa-sisa manusia purba sudah membatu atau berubah menjadi fosil. Oleh karena itu, manusia purba juga sering disebut manusia fosil.

Manusia purba adalah jenis manusia yang hidup pada zaman pleistosen yang mempunyai ciri-ciri yang sangat sederhana baik bentuk fisik, kecerdasan, maupun tongkat peradabannya. Baca kembali artikel Zaman Kuarter pertama

Dilihat dari ciri-cirinya, manusia purba mempunyai volume otak yang lebih kecil dari manusia modern sekarang. Untuk mengetahui kehidupan manusia purba di Indonesia ada dua cara, yaitu sebagai berikut :

  1. Dengan melalui sisa-sisa tulang manusia, hewan, tumbuhan yang telah membatu (fosil).
  2. Dengan melalui peninggalan peralatan dan perlengkapan kehidupan manusia sebagai hasil budaya manusia, seperti alat-alat rumah tangga, bangunan, perhiasan atau senjata.

Situs Penemuan Manusia Purba

Situs atau tempat penemuan manusia purba khususnya di dilakukan oleh seorang dokter berkebengsaan Belanda Eugene Dubois. Penelitian Dubois pertama kali di Sumatra Barat tidak menuai hasil. Kemudian ia merambah ke Pulau Jawa, pada tahun 1891 Dubois berhasil menemukan sebuah fosil manusia purba di sebuah desa bernama Trinil, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Penemuan fosil manusia purba tersebut ia namai Pithecanthropus Erectus, yang berarti manusia kera yang sudah berjalan tegak. Setelah Dubois, seorang bernama Weidenrich pada tahun 1936 berhasil menemukan sebuah fosil tengkorak anak manusia purba di sebuah lembah.

Mula mula ia mengadakan penelitian di Sumatera Barat namun tidak membuahkan hasil, lalu ia pindah ke Pulau Jawa . Di Pulau Jawa, ia berhasil menemukan fosil manusia purba di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil manusia purba ia beri nama pithecanthropus erectus, yang artinya manusia kera yang berjalan tegak.

Penemuan fosil selanjutnya pada tahun 1936 oleh Weidenrich. Ia menemukan fosil tengkorak anak di Lembah.

Penemuan Weidenrich selanjutnya adalah sebuah fosil yang diberi nama Pithecanthropus Robustus yang ia temukan di desa Jetis pinggiran Sungai Brantas, Mojokerto, Jawa Timur. Seorang von Koenigswald juga menemukan sebuah fosil manusia purba sejenis di Mojokerto, dan diberinya nama Pithecanthropus Mojokertensis.

Koenigswald terus melakukan penggalian sekitar tahun 1936 sampai 1941 dan berhasil menemukan fosil manusia purba tertua yang kemungkinan hidup pada 2 juta tahun lalu. Fosil manusia tertua tersebut dinamakan Meganthropus Palaeojavanicus, yang artinya manusia raksasa tertua dari Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus diyakini hidup satu zaman dengan Pithecanthropus Mojokertensis, tetapi tingkat kehidupannya masih lebih primitif.

Penggalian fosil manusia purba di Indonesia selanjutnya menemukan fosil yang diberi nama Homo Sapiens yang artinya manusia yang berfikir. Manusia jenis ini diperkirakan sudah lebih cerdas dibandingkan Pithecanthropus.

Daftar Istilah dalam Sejarah

 

Ketika anda membaca artikel tentang sejarah, mungkin ada kata-kata yang kurang bisa dimengerti, sehingga menyulitkan untuk memahami lebih jauh. Untuk itu, di bawah ini saya sertakan pengertian dari istilah-istilah yang terkadang muncul pada suatu kalimat.

Abris Sous Roche : gua sebagai tempat tinggal manusia purba.
A Cire Perdue : suatu teknik cetak hilang pada zaman prasejarah.
Akulturasi : proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan mempengaruhi.
Alluvium : zaman geologi yang paling muda dari zaman kuarter atau zaman geologi yang sekarang.
Artefak : alat-alat yang digunakan manusia purba untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Asimilasi : penyesuaian (peleburan) sifat-sifat asli yang dimiliki dengan sidat-sifat lingkungan sekitar.

Barter : perdagangan dengan saling menukar barang.
Bivalve : suatu teknik cetak ulang pada zaman prasejarah.

Candi : bangunan kuno yang dibuat dari batu (sebagai tempat pemujaan) penyimpanan abu jenazah raja-raja atau pendeta Hindu atau Budha pada zaman dahulu.
Candrasengkala : bilangan tahun berupa kalimat atau gambar.

Dewa : roh yang di angan-angankan sebagai manusia halus yang berkuasa atas alam dan manusia.
Dilluvium : suatu zaman di mana hampir seluruh permukaan bumi tertutup oleh es.
Dinasti : keturunan raja-raja yang memerintah dari satu keluarga.
Dolmen : meja batu yang digunakan untuk meletakkan sesaji masa prasejarah.

Fosil : sisa-sisa kehidupan masa lampau yang diketemukan dalam keadaan membatu di lapisan tanah.
Fosil Pandu : fosil yang dapat memberi petunjuk tentang kehidupan zaman purba.

Homo Africanus : jenis manusia purba dari Afrika.
Homo Neandherthalensis : jenis manusia purba dari lembah Neandher Jerman Barat.
Homo Pekinensis : jenis manusia purba dari Peking Cina.
Homo Sapiens : jenis manusia purba yang cerdas.

Jalan Sutera : jalan yang di tempuh para pedagang yang membawa dagangan sutera dari Cina yang akan dikirim ke Eropa melalui jalur darat Asia Tengah.

Kapak Corong : kapak perunggu berbentuk corong yang digunakan manusia prasejarah.
Kapak Genggam : alat batu yang dipangkas pada ke-2 permukaannya.
Kapak Perimbas : alat batu yang dipangkas pada salah satu permukaannya untuk memperoleh ketajaman.
Kasta : golongan (tingkat/derajat) manusia dalam masyarakat hindu.
Kebudayaan : hasil kegiatan dan penciptaan batin atau akal budi manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
Kepercayaan : anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar-benar atau nyata.
Kerajaan : bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh seorang raja.
Keraton : tempat kediaman ratu/raja.
Kjokkenmoddinger : sampah dapur masa prasejarah.
Kubur Batu : lempengan-pempengan batu yang digunakan untuk menyimpan mayat pada masa prasejarah.
Kuil : rumah (gedung) tempat memuja dewa-dewa.

Manusia Purba : manusia fosil.
Masyarakat : sejumlah manusia dalam arti yang seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.
Meganthropus Palaeojavanicus : manusia besar tertua dari Jawa.
Menhir : tugu batu besar zaman prasejarah.
Moko : genderang kecil terbuat dari perunggu pada masa prasejarah.
Musafir : orang yang bepergian meninggalkan negerinya selama 3 hari atau lebih (mengembara).

Nabi : orang yang menjadi pilihan Allah untuk menerima wahyu-Nya.
Negara Agraris : negara yang bersifat pertanian.
Negara Agromaritim : negara yang bersifat pertanian dan kepulauan.
Nekara : genderang besar terbuat dari perunggu pada masa prasejarah.
Nenek Moyang : leluhur.
Nirleka : zaman tidak ada tulisan.
Nisan : tonggak pendek dan sebagainya yang ditanam di atas kubur sebagai penanda.
Nomaden : kelompok orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, berkelana dari suatu tempat ke tempat lain.

Obelisk : tiang segi empat meruncing ke ujung dan bermahkota piramida.

Pangeran : gelar anak raja atau gelar orang besar dalam kerajaan (keluarga raja).
Pelabuhan Transito : pelabuhan yang menjadi lintasan barang-barang dagngan antara dua negara atau dua tempat.
Pelayaran : segala sesutu yang menyangkut perihal berlayar.
Pengaruh : daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.
Peradaban : kemajuan yang menyangkut kecerdasan dan kebudayaan lahir batin.
Perdagangan : urusan dagang atau perniagaan.
Perahu Bercadik : perahu yang menggunakan bambu atau kayu yang dipasang di kiri kanannya serupa sayap sebagai alat pengatur keseimbangan agar tidak mudah terbalik.
Peta : gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya untuk menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebagainya.
Piramida : bangunan dari batu yang berbentuk limasa tempat menyimpan mummi raja-raja Mesir dahulu.
Pithecanthropus Erectus : manusia kera yang berjalan tegak.
Pithecanthropus Mojokertensis : janis manusia purba yang sama artinya dengan Pithecanthropus Robustus.
Pithecanthropus Robustus : manusia sejenis Pithecanthropus erectus yang masih kanak-kanak yang ditemukan di Mojokerto.
Polis : negara kota pada zaman Yunni dan Romawi kuno.
Prasasti : piagam yang tertulis pada batu, tembaga dan sebagainya.
Proses : runtunan perubahan atau peristiwa dalam perkembangan sesuatu :
Punden Berundak : susunan batu berundak-undak pada masa prasejarah.

Raja : penguasa tertinggi pada suatu kerajaan.
Rekonstruksi : penyusunan atau penggambaran kembali.
Relief : pahatan yang menampilkan perbedaan bentuk dan gambar dari permukaan rata di sekitarnya.
Rempah-rempah : zat yang digunakan untuk memberikan bau dan rasa khusus pada makanan.

Sarkofagus : kubur batu berbentuk lesung pada masa prasejarah.
Sistem : perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas.
Sphink : patung singa berkepala manusia yang ada di Mesir Kuno.
Strategis : berhubungan dengan rencana yang cwermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Suluk : jalan ke arah kesempurnaan batin.
Sunan : penyebutan nama untuk para wali.
Ulama: orang yang ahli dalam hal pengetahuan agama Islam.
Undagi : ahli dalam ketrampilan berproduksi.
Waprakeswara :sebutan tempat suci untuk memuja Dewa Syiwa yang terdapat dalam prasasti di Kerajaan Kutai.

Wali : orang saleh (suci) penyebar agama.
Waruga : kubur batu berbentuk kubus pada masa prasejarah.
Yupa : tugu batu bertulis yang terdapat di Kerajaan Kutai.
Zaman Batu : suatu zaman di mana semua peralatan hidup manusia dibuat dari batu.
Zaman Logam : suatu zaman di mana semua peralatan hidup manusia dibuat dari logam.
Zaman Prasejarah : zaman pada saat manusia belum mengenal tulisan.
Zaman Sejarah : zaman pada saat manusia sudah mengenal tulisan.

4 Teori Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

 

Tahukah anda terdapat di daerah mana suku Alas, suku Alor, suku Ampana, suku Anak Dalam, suku Asmat, dan suku Badui? Suku Alas di Kabupaten Aceh Tenggara, Suku suku Alor di Nusa Tenggara Timur Kabupaten Alor, suku Ampana di Sulawesi Tengah, suku Anak dalam di Jambi, suku Asmat di Papua, dan suku badui di Banten.

Selain suku-suku tersebut di Indonesia memiliki banyak suku-suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki adat istiadat dan budaya sendiri yang berbeda-beda. Hal tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain. Namun, akan terjadi masalah apa bila kita tidak pandai menjaga perbedaan tersebut.

Tahukah anda asal mula kedatangan suku bangsa tersebut dan kapan suku bangsa tersebut datang ke Indonesia? Berikut akan kita bahas asal mula kedatangan suku bangsa tersebut agar kita bisa saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

Diperkirakan manusia purba ada di bumi pada kala pleistosen. Pada kala pleistosen ini keadaan alam belum stabil, lapisan es meluas, iklim berubah-ubah, air laut naik turun, dan gunung-gunung berapi meletus. Keadaan tersebut berpengaruh terhadap cara hidup makhluk yang ada di bumi, termasuk manusia.

1. Teori Nusantara

Dalam teori Nusantara dinyatakan bahwa asal mula manusia yang menghuni wilayah Nusantara ini tidak berasal dari luar, melainkan dari wilayah Nusantara itu sendiri. Mengikuti sudut pandang Multiregional Evolution Model, teori nusantara menyatakan bahwa manusia purba menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Pendukung teori Nusantara adalah Mohammad Yamin, J. Crawford, K. Himly, Sutan Takdir Alisjahbana dan Gorys Keraf.

Berikut adalah argumen yang melandasi teori Nusantara.

  1. Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. Peradaban tidak mungkin dapat dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari kebudayaan sebelumnya.
  2. Bahasa Melayu memang memiliki kesamaan dengan bahasa Champa (Kamboja), namun persamaan tersebut hanyalah suatu kebetulan saja.
  3. Adanya kemungkinan bahwa orang Melayu adalah keturunan dari Homo soloensis dan Homo Wajakensis.
  4. Adanya perbedaan bahasa antara bahasa Austronesia yang berkembang di Nusantara dengan bahasa Indo-Eropa yang berkembang di Asia Tengah.

Berdasarkan hasil penelitian Gregorius Keraf (Gorys Keraf) mengenai bahasa-bahasa Nusantara sebagai mana dipaparkan dalam bukunya yang berjudul Linguistik Bandingan Historia (1984) membuahkan teori baru mengenai asal usul bahasa dan bangsa Indonesia. Menurut teori keraf, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari wilayah Indonesia sendiri bukan dari mana-mana, bukan pulau dari Asia Tenggara Daratan atau dari Semenanjung Malaka.

Teori Keraf ini didasarkan pada tiga landasan tinjau sebagai berikut.

  1. Situasi geografis masa lampau.
  2. Pertumbuhan dan penyebaran umat manusia.
  3. Teori migrasi bahasa dan leksikostatistik.

2. Teori Yunan

Dalam teori yunan disebutkan bahwa manusia-manusia purba di Indonesia yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina bagian selatan. Beberapa ahli yang mendukung teori Yunan adalah Dr. J.H.C. Kern, Robert Barron van Heine Geldern, Prof. Dr. N.J Krom, dan Moh. Ali.

Menurut Moh. Ali bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak ke selatan oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat. Menurut pendukung teori Yunan, pendapat mereka didasari oleh dua hal berikut.

  1. Ditemukan kapak tua di wilayah Nusantara yang memiliki kemiripan dengan kapak tua yang ada di kawasan Asia Tengah.
  2. Bahasa melayu yang berkembang di Nusantara memiliki kemiripan dengan bahasa Champa yang ada di Kamboja. Hal tersebut membuka kemungkinan bahwa penduduk di Kamboja berasal dari daratan Yunan dengan menyusuri Sungai Mekong. Arus perpindahan tersebut selanjutnya diteruskan ketika sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampei ke Nusantara. Kedatangan manusia dari Yunan ke kepulauan Nusantara ini dengan melalui tiga gelombang utama (perpindahan orang Negrito, Proto-Melayu, dan Deutro Melayu).

Orang Negrito

Diperkirakan orang Negrito sudah memasuki Nusantara sejak 1000 SM. Orang Negrito ini diyakini sebagai penduduk paling awal di kepulauan Nusantara. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan arkeologi di Gua Cha, Malaysia. Dalam perkembangannya orang Negrito menurunkan orang Semang. Ciri fisik orang Negrito yaitu berkulit gelap, rambut keriting, hidung lebar, dan bibir tebal. Di Indonesia ras negrito ini sebagian besar mendiami daerah papua. Keturunan ras ini terdapat di Riau (pedalaman) yaitu suku Siak (Sakai) serta suku Papua Melanesoid yang mendiami Pulau Papua dan Pulau Melanesia.

Proto-Melayu

Diperkirakan migrasi Proto-Melayu ke kepulauan Nusantara sekitar pada 2500 SM. Sebutan Proto-Melayu adalah untuk menyebutkan orang-orang yang melakukan migrasi pada gelombang pertama ke Nusantara. Keturunan Proto-Melayu yaitu suku Toraja, Dayak, Sasak, Nias, Rejang, dan Batak. Dalam hal bercocok tanam, orang Proto-Melayu memiliki kemahiran yang lebih baik daripada orang Negrito.

Deutro Melayu

Deutro Melayu adalah sebutan untuk orang-orang yang melakukan migrasi pada gelombang kedua. Diperkirakan kedatangan Deutro Melayu ke Indonesia pada 1500 SM. Suku bangsa yang termasuk Deutro Melayu antara lain Minangkabau, Aceh, Jawa, Melayu, Betawi, dan Manado.

3. Teori Out of Taiwan

Menurut teori Out of Taiwan, bangsa yang ada di Nusantara ini berasal dari Taiwan bukan dari daratan Cina. Pendukung teori Out of Taiwan adalah Harry Truman Simanjuntak. Menurut pendekatan linguistik, bahwa dari keseluruhan bahasa yang digunakan suku-suku di Nusantara memiliki rumpun yang sama yaitu rumpun Austronesia.

Akar dari keseluruhan cabang bahasa yang digunakan leluhur yang menetap di Nusantara berasal dari rumpun Austronesia di Formosa atau dikenal dengan rumpun Taiwan, selain hal tersebut menurut riset genetika yang dilakukan pada ribuan kromosom tidak menemukan kecocokan pola genetika dengan wilayah Cina.

4. Teori Out of Afrika

Menurut teori Out of Afrika, manusia modern yang hidup sekarang ini berasal dari Afrika. Dasar teori ini adalah dukungan ilmu genetik melalui penelitian DNA mitokondria gen perempuan dengan gen laki-laki. Menurut Max Ingman (ahli genetika dari Amerika Serikat), manusia modern yang ada sekarang ini berasal dari Afrika antara kurun waktu 100-200 ribu tahun lalu.

Dari Afrika mereka menyebar ke luar Afrika. Dari hasil penelitian Max Ingman tersebut, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa gen manusia modern bercampur dengan gen spesies manusia purba.

Diperkirakan manusia Afrika melakukan migrasi ke luar Afrika melakukan migrasi ke luar Afrika sekitar 50.000-70.000 tahun silam. Tujuan migrasi tersebut menuju Asia Barat. Jalur yang ditempuh ada dua yaitu mengarah ke lembah Sungai Nil, melintas Semenanjung Sinai lalu ke utara melewati Arab Levant dan jalur kedua melewati Laut Merah.

Setelah memasuki Asia ada beberapa kelompok yang tinggal sementara di Timur Tengah, sedangkan kelompok lainnya melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pantai Semenanjung Arab menuju ke India, Asia timur, Indonesia. bahkan sampai ke barat daya Australia.

Bukti mengenai keberadaan manusia Afrika telah sampai ke Australia adalah dengan ditemukan bahwa manusia Afrika telah berimigrasi hingga ke Australia adalah dengan jejak genetika.

Dikutip dari MATERIKU

Asal-Usul dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia (Lengkap)

 

Menurut dari Sarasin bersaudara, penduduk asli Kepulauan Indonesia merupakan ras yang memiliki kulit gelap dan memiliki postur tubuh yang kecil. Mereka pada awal mulanya itu tinggal di Asia bagian tenggara.

Di zaat zaman es mencair dan air laut yang mulai naik hingga terbentuklah yang namanya Laut Cina Selatan dan Laut Jawa, yang mana mampu memisahkan pegunungan vulkanik Kepulauan Indonesia dari daratan utama.

Beberapa penduduk asli Kepulauan Indonesia pada akhirnya tersisa dan menetap di daerah pedalaman, sementara itu untuk daerah pantai itu sendiri dihuni oleh para penduduk pendatang. Penduduk asli itu disebut dengan suku bangsa Vedda oleh Sarasin.

Sementara itu, ras yang masuk ke dalam kelompok ini ialah suku bangsa Hieng yang ada di Kamboja, Miaotse, Yao-Jen di cina, serta Senoi yang ada di Semenanjung Malaya.

Masih ada juga beberapa suku bangsa lain seperti Kubu, Lubu, Talang Mamak yang mana mereka tinggal di Sumatera dan Toala yang ada di Sulawesi, merupakan penduduk tertua di Kepulauan Indonesia. Mereka sendiri bahkan memiliki hubungan yang sangat erat dengan nenek moyang Melanesia masa kini dan orang Vedda yang saat ini masih ada di Afrika, Asia Selatan dan ada di Oceania.

Vedda inilah yang menjadi manusia pertama yang datang ke pulau-pulau yang mana pulau itu sudah berpenghuni. Mereka membawa budaya perkakas batu ke tempat barunya. Kedua ras tersebut, Melanesia dan Vedda, hidup berdampingan dalam budaya mesolitik.

Pendatang yang berikutnya atau selanjutnya membawa suatu bentuk budaya baru yakni budaya neolitik. Pada pendatang baru ini bahkan datang dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dari penduduk asli.

Pendatang baru itu datang dalam sebanyak 2 tahap. Disebut oleh Sarasin ialah Proto Melayu dan Deutro Melayu. Kedatangan mereka sendiri terpisah diperkirakan lebih dari 2000 tahun silam.

Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

1. Proto Melayu

Proto Melayu ini diyakini sebagai nenek moyang orang-orang Melayu Polinesia yang mana mereka tersebar dari Madagaskar hingga pulau-pulau yang berada di paling timur pada kawasan Pasifik. Diperkirakan, orang-orang Proto Melayu ini datang dari Cina bagian selatan.

Ciri-ciri Proto Melayu:

  • Rambut yang lurus
  • Kulit berwarna kuning kecokelat-cokelatan
  • Memiliki mata yang sipit

Dari Cina bagian selatan (Yunan) mereka lantas melakukan migrasi ke Indocina dan Siam, yang selanjutnya sampailah ke Kepulauan Indonesia. Mula-mula, mereka menempati pantai di Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat. Ras Proto Melayu ini mampu membawa peradaban batu di Kepulauan Indonesia.

Saat datang imigran baru, yakni Deutero Melayu (Ras Melayu Muda), mereka berpindah masuk ke pedalaman dan selanjutnya mencari tempat yang baru ke hutan-hutan sebagai tempat hunian mereka.

Selanjutnya, ras Proto Melayu ini kemudian mendesak keberadaan dari penduduk asli. Kehidupan yang terjadi di dalam hutan ini menjadikan mereka terisolasi dari dunia luar, sehingga mampu memudarkan peradaban mereka.

Pada akhirnya, penduduk asli dan ras Proto Melayu itu selanjutnya melebur dan mereka itu selanjutnya menjadi suku bangsa Batak, Dayak, Toraja, Alas dan Gayo.

Kehidupan mereka yang terisolasi inilah yang menyebabkan ras Proto Melayu sedikit memperoleh pengaruh dari adanya kebudayaan Hindu ataupun Islam di kemudian hari. Masyarakat Proto Melayu ini kelak memperoleh pengaruh Kristen semenjak mereka mulai mengenal para penginjil yang masuk ke wilayah mereka guna memperkenalkan agama Kristen serta peradaban baru di dalam kehidupan mereka.

Persebaran suku bangsa Dayak hingga ke Filipina Selatan, Serawak dan Malaka yang menunjukkan rute perpindahan mereka dari Kepulauan Indonesia.

Sementara itu, suku bangsa Batak yang mengambil rute ke barat dengan menyusuri pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Beberapa adanya kesamaan bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Karen yang ada di Burma, begitu banyak mengandung kemiripan dengan bahasa Batak itu sendiri.

2. Deutro Melayu

Deutero Melayu merupakan ras yang datang atau berasal dari Indocina dari bagian utara. Mereka sendiri membawa kebudayaan baru yang berupa perkakas dan senjata besi di Kepulauan Indonesia atau Kebudayaan Dongson. Seringkali, mereka juga disebut dengan orang-orang Dongson.

Mereka sering disebut juga dengan orang-orang Dongson. Peradaban yang mereka miliki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ras Proto Melayu. Mereka mampu membuat berbagai macam perkakas dari perunggu. Peradaban mereka juga ditandai dengan adanya keahlian untuk mengerjakan logam dengan sempurna.

Ciri-ciri Deutero Melayu:

  • Berkulit sawo matang agak kuning
  • Tubuh yang tak terlalu tinggi
  • Memiliki rambut yang lurus

Perpindahan yang mereka lakukan ke Kepulauan Indonesia ini bisa dilihat dari rute persebaran alat-alat yang mereka tinggalkan di beberapa kepulauan yang ada di Indonesia, yakni dengan berupa kapak persegi panjang. Peradaban ini bisa dengan mudah dijumpai di Malaka, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara Timur, bahkan di Filipina sekalipun.

Dalam masalah pengolahan tanah, mereka juga memiliki kemampuan yang cukup baik dalam membuat irigasi di tanah-tanah pertanian yang berhasil mereka ciptakan, dengan cara membabat hutan terlebih dahulu.

Bahkan, ras Deutro Melayu ini juga memiliki peradaban pelayaran yang jauh lebih maju dari para pendahulunya karena memang petualangan yang mereka lakoni sebagai seorang pelaut dengan dibantu oleh penguasaan yang mereka miliki terhadap ilmu perbintangan yang sudah dipelajari dan ditanamkan.

Tidak hanya itu saja, perpindahan ras Deutero Melayu ini juga menggunakan jalur pelayaran laut. Sebagian dari ras Deutero Melayu ada yang mencapai hingga Kepulauan Jepang, bahkan kelak ada juga yang hingga mencapai Madagaskar.

Kedatangan dari ras Deutero Melayu yang ada di Kepulauan Indonesia ini kian lama kian bertambah banyak. Mereka selanjutnya berpindah untuk mencari tempat baru ke hutan-hutan sebagai salah satu tempat tinggal atau tempat hunian yang baru.

Pada akhirnya, Proto Melayu dengan Deutero Melayu saling membaur satu sama lain dan selanjutnya menjadi penduduk di Kepulauan Indonesia. Sementara itu, di masa yang akan datang, mereka berdua bahkan sangat sulit untuk bisa dibedakan.

Proto Melayu itu sendiri meliputi penduduk yang ada di Gayo dan Alas di Sumatera bagian utara, serta Toraja yang ada di Sulawesi. Sementara itu, untuk semua penduduk di Kepulauan Indonesia, terkecuali penduduk Papua yang tinggal di sekitar pulau-pulau Papua merupakan ras Deutero Melayu.

3. Melanesoid

Ras yang lain yang juga ada di Kepulauan Indonesia merupakan ras Melanesoid. Mereka itu tersebar di lautan Pasifik di pulau-pulau yang mana terletak di sebelah timur Papua dan benua Australia.

Di Kepulauan Indonesia, mereka sendiri tinggal di Papua. Bersama dengan Papua Nugini dan Bismarck, Solomon, New Caledonia dan Fiji, mereka semua itu termasuk ke dalam ras atau rumpun Melanesoid.

Ciri-ciri Melanesoid:

  • Berbadan kekar
  • Kulit yang berwarna kehitam-hitaman
  • Rambut keriting
  • Bibir tebal
  • Hidung yang mancung

Menurut dari Daldjoeni, suku bangsa Melanesoid sekitar sebanyak 70% menetap di Papua, sedangkan 30% yang lain tinggal di beberapa kepulauan yang ada di sekitar Papua dan Papua Nugini.

Pada awal mulanya, kedatangan dari bangsa Melanesoid yang ada di Papua ini berawal di saat zaman es terakhir, yakni pada tahun 70.000 SM. Di saat itu, Kepulauan Indonesia masih belum berpenghuni.

Di saat suhu turun hingga mencapai kedinginan yang maksimal, air laut menjadi membeku. Permukaan laut bahkan menjadi lebih rendah 100 meter dibandingkan dengan permukaan yang ada saat ini. Pada saat itulah muncul pulau-pulau yang baru. Adanya pulau yang muncul tersebut memudahkan makhluk hidup untuk bisa berpindah tempat dari Asia menuju ke kawasan Oceania.

Bangsa Melanesoid itu sendiri melakukan perpindahan ke timur hingga mencapai ke Papua, selanjutnya ke Benua Australia, yang sebelumnya menjadi satu kepulauan yang terhubung dengan Papua.

Pada saat itu, Bangsa Melanesoid mencapai hingga sebanyak 100 ribu jiwa dengan meliputi wilayah Papua dan Australia. Peradaban dari bangsa ini dikenal dengan nama paleolitikum.

Pada saat masa es berakhir dan air laut yang mulai naik lagi di tahun 5000 SM, kepulauan Papua dan Benua Australia menjadi terpisah seperti yang bisa kita lihat saat ini.

Asal mula bangsa Melanesia yakni Proto Melanesia yang merupakan penduduk pribumi di Jawa. Mereka itu merupakan manusia Wajak yang tersebar ke timur dan menduduki Papua, sebelum zaman es berakhir dan sebelum terjadi kenaikan permukaan laut yang ada pada saat itu.

Di Papua, manusia Wajak hidup secara berkelompok kecil di sepanjang muara sungai. Mereka hidup dengan cara menangkap ikan di sungai dan meramu tumbuh-tumbuhan serta akar-akaran, serta berburu di hutan belukar. Tempat tinggal yang dimiliki berupa perkampungan yang terbuat dari bahan-bahan ringan.

Rumah itu sebenarnya hanya berupa suatu kemah atau tadah angin yang sering didirikan menempel pada dinding gua yang besar. Kemah atau tadah angin itu hanya akan digunakan sebagai tempat untuk mereka tidur dan berlindung, sementara untuk kegiatan yang lain akan dilakukan di luar rumah.

Bangsa Proto Melanesoid itu sendiri terus terdesak oleh adanya keberadaan dari bangsa Melayu. Mereka yang belum sempat mencapai Kepulauan Papua melakukan suatu bentuk percampuran terhadah adanya ras baru tersebut.

Percampuran yang terjadi antara bangsa Melayu dengan bangsa Melanesoid ini mampu menghasilkan keturunan Melanesoid-Melayu, yang mana pada saat ini mereka menjadi penduduk di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

4. Negrito dan Weddid

Sebelum kedatangan kelompok Melayu tua dan muda, negeri kita sendiri sudah terlebih dahulu dimasuki oleh orang-orang Negrito dan Weddid.

Sebutan Negrito itu sendiri diberikan oleh orang Spanyol karena yang mereka jumpai itu orang yang memiliki kulit hitam, sangat mirip dengan jenis-jenis Negro.

Ciri-ciri Negrito:

  • Memiliki kulit yang gelap
  • Memiliki rambut keriting
  • Mata yang bundar
  • Berhidung lebar
  • Postur tubuh pendek

Sejauh mana kelompok Negrito itu memiliki tali darah dengan jenis-jenis Negro yang ada di Afrika serta kepulauan Melanesia (Pasifik), demikian halnya bagaimana sejarah perpindahan mereka, yang mana belum banyak diketahui secara pasti dan jelas.

Kelompok Weddid itu sendiri terdiri atas orang-orang yang memiliki kepala mesocephal dengan letak mata yang dalam, sehingga sangat tampak seperti berang, kulit yang berwarna cokelat tua dan tinggi rata-rata laki-lakinya adalah 155 cm.

Ciri-ciri Weddid:

  • Berkulit hitam
  • Memiliki postur tubuh sedang
  • Rambut yang keriting

Weddid itu sendiri artinya jenis Wedda yakni bangsa yang ada di pulau Ceylon (Sri Lanka). Persebaran orang-orang Weddid yang ada di Indonesia terbilang cukup luas, misal yang ada di Palembang dan Jambi (Kubu), di Siak (Sakai) dan di Sulawesi pojok tenggara (Toala, Tokea dan Tomuna).

Periode migrasi yang dilakukan berlangsung selama berabad-abad, yang mana kemungkinan mereka tersebut berasal dari 1 kelompok ras yang sama dan dengan budaya yang sama juga. Mereka itu merupakan nenek morang orang Indonesia yang ada saat ini.

Sekitar sebanyak 170 bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia merupakan bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia). Bahasa inilah yang selanjutnya dikelompokkan menjadi 2 oleh Sarasin, yaitu bahasa Aceh dan bahasa-bahasa di pedalaman Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Kelompok yang kedua merupakan bahasa Batak, Melayu standar, Jawa dan Bali. Kelompok bahasa kedua ini memiliki hubungan dengan bahasa Malagi yang ada di Madagaskar dan Tagalog yang ada di Luzon.

Persebaran geografis dari kedua bahasa ini menunjukkan jika para penggunanya merupakan para pelaut yang ada di masa dahulu yang mana telah memiliki peradaban yang jauh lebih maju. Di samping dari bahasa tersebut, juga ada bahasa Halmahera Utara dan Papua yang digunakan di pedalaman Papua dan bagian utara Pulau Halmahera.

Dikutip dari habibullahurl

Catatan sejarah datangnya manusia purba ke Indonesia

 

Prasejarah. Wilayah Indonesia telah di huni oleh manusia sejak dua juta tahun yang lalu. Hal ini dapat diketahui berdasarkan ditemukannya sejumlah fosil di wilayah Indonesia. Penghuni wilayah Indonesia pada waktu itu adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua, seperti Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, dan Homo wajakensis.

Di antara manusia purba tersebut, Homo wajakensis yang paling dominan karena lebih lebih mirip dengan manusia-manusia yang paling kini dikenal sebagai penduduk asli Australia, yaitu suku Aborigin.

Dai sini dapat diketahui bahwa penduduk asli Indonesia adalah suku bangsa Negroid, atau sering disebut sebagai Melanesoid yang berkulit hitam. Manusia purba di Indonesia membawa kebudayaan batu tua atau paleolitikum yang hidupnya masih nomaden atau berpindah-pindah dengan mata pencaharian berburu dan meramu.

Catatan-sejarah-datangnya-manusia-purba-ke-Indonesia

Wilayah nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoid yang berasal dari Teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Berbagai penelitian tentang fosil yang pernah ditemukan di tempat asalnya menunjukkan bahwa induk bangsa Melanesoid berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk tipe Veddoid-Austroloid.

Wilayah Indonesia merupakan daerah yang bebas dan tanpa pemilik sebelum didatangi bangsa-bangsa dari luar. Manusia purba yang tinggal di wilayah Indonesia tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup, karena mereka hidup berpindah-pindah.

Mereka berpindah-pindah mencari daerah yang ada sumber makanan. Biasanya mencari lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan dan kerang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil di wilayah Indonesia yang berada di lembah-lembah sungai. Mereka mulai hidup menetap pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu atau seminomaden, ketika bangsa Melanesoid mulai datang ke wilayah Indonesia.

Bangsa Melanesoid sebagai bangsa pendatang juga hidup seminomaden. Mereka tinggal atau menetap di daerah yang menghasilkan bahan makanan, padahal penduduk asli terlebih dahulu menempati daerah tersebut. Akibatnya benturan antara kebudayaan Paleolitikum dan mesolitikum tidak dapat dihindari lagi. Dari pertemuan tersebut diperkirakan penduduk asli semakin terdesak ke pedalaman dan sebagian lagi ditumpas.

Bangsa Melanesoid mempunyai kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam suatu kelompok, sudah mengenal api, meramu, dan berburu binatang. Mereka juga telah mengenal teknologi bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana. Cara bercocok tanam mereka dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah. Jika lahan yang mereka tanami sudah tidak subur lagi, maka mereka berpindah mencari tempat lain yang lebih subur. Cara hidup mereka dinamakan seminomaden. Baca : Sejarah berburu dan meramu

Perpindahan manusia dan kebudayaan ke wilayah Indonesia selalu membawa kebudayaan yang lebih tinggi dari penduduk sebelumnya. Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai menetap, bahkan telah menetap. Namun, dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan.

Ketika kehidupan mulai menetap, maka tanah yang mereka butuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka yang membutuhkan lahan yang luas untuk bercocok tanam, karena mereka belum mengenal teknologi untuk mengolah lahan secar intensif. Mereka membutuhkan perluasan dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu.

Bangsa Melanesoid akhirnya menetap di wilayah Nusantara sekitar tahun 2000 SM. Pada tahun itu pula datang bangsa yang berkebudayaan lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto-Melayu, suatu ras Mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan.

Menurut para ahli, alasan yang menyebabkan bangsa Melayu Tua meninggalkan daerah asalnya, antara lain karena desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah, adanya peperangan antarsuku dan adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai-sungai di daerah tersebut.

Bangsa Aria yang berasal dari Asia Tengah yang mendesak bangsa Melayu Tua memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan ada yang tetap tinggal bercampur dengan bangsa Aria dan bangsa Mongol.

Bangsa-bangsa ini merupakan bagian dari kebudayaan neolitikum. Hal ini dapat diketahui dari artefak-artefak yang ditemukan dari bangsa ini. Ini berarti orang Melayu Tua telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju, dan bahkan mereka sudah mengenal peternakan. Dengan demikian, mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing).

Kemampuan ini membuat mereka dapat tinggal menetap lebih lama. Pola menetap  ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis dasar-dasar kebudayaan. Mereka juga telah membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukimannya.

Pengorganisasian ini menuntut mereka untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, misalnya membuat peralatan rumah tangga dari bahan yang disediakan oleh alam. Mereka juga telah mengenal adanya sistem kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang dihubungkan dengan sistem pertanian.

Dengan masuknya bangsa pendatang, maka bangsa pembawa kebudayaan batu tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Dengan pengorganisasian yang lebih rapi dan peralatan yang lebih maju, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka bawa kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli.

Arus pendatang yang masuk ke wilayah nusantara tidak hanya datang dalam sekali saja, kelompok yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah di wilayah lain. Bangsa Melayu tua yang sudah mapan sudah mengenal bercocok tanam, beternak, dan sudah menetap juga masih ingin mencari daerah lain. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran. Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa Melanesoid harus diperjuangkan untuk mempertahankan dari bangsa Melayu Tua.

Kedatangan bangsa Melayu Tua juga memungkinkan terjadinya percampuran antara bangsa Melayu Tua dan bangsa Melanesia yang terlebih dahulu datang ke wilayah nusantara. Bangsa melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman.

Sisa-sisa keturunan bangsa Melanesia saat ini didapati pada orang-orang suku Sakai di Siak, suku Kubu, serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatra Selatan, orang Semang di pedalaman Melayu, orang Aeta di pedalaman Filipina, orang-orang Papua Melanesoid dan pulau-pulau Melanesia.

Orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria mulai datang ke wilayah nusantara sekitar tahun 2000 – 300 SM, yaitu ketika terjadi gelombang migrasi kedua dari Yunani. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutro Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Baca selengkapnya di : Peninggalan kebudayan zaman Dongson

Kebudayaan ini lebih tinggi lagi daripada kebudayaan batu muda yang telah ada, karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas rumah tangga dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa melayu Tua yang pada awalnya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai mulai terdesak ke pedalaman. Hal ini dikarenakan kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak mengalami perubahan.

Sisa-sisa keturunan bangsa Melayu Tua banyak ditemukan di daerah pedalaman di Indonesia seperti Dayak, Toraja, Nias, Batak pedalaman, Kubu, dan Sasak. Dengan menguasai tanah, bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya, bahkan menjadi penyumbang terbesar sebagai manusia awal di Indonesia.

Berbagai suku bangsa yang datang ke wilayah Nusantara dalam kurun waktu ratusan sampai ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Di antara mereka ada yang bergerak Cina Selatan, kemudian kembali ke daerah asalnya dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke wilayah Nusantara.

Dalam arus kedatangan bangsa-bangsa ke wilayah Nusantara, bangsa yang lebih dahulu datang menyerap bahasa dan kebudayaan bangsa yang datang setelahnya. Percampuran antarbangsa inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari Bangsa Mongoloid (ras kuning) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, dengan bangsa Melanesoid.

2 Versi Kesimpulan Asal Usul Bangsa Indonesia

 

Prasejarah. Berdasarkan teori-teori dari para ahli yang telah dibahas pada artikel prasejarah 11 pendapat ahli tentang asal usul bangsa Indonesia, dapat disimpulkan bahwa bangsa yang menempati daerah di Kepulauan Indonesia ini dibagi menjadi 2 versi, yaitu sebagai berikut :

1. Bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri

Kesimpulan ini menunjuk pada pendapat yang dikemukakan Moh. Yamin yang didukung dengan penemuan fosil-fosil maupun artefak-artefak tertua di wilayah Indonesia.

Dari hasil penemuan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari daerah di Indonesia sendiri yang kemudian menyebar ke daratan Asia. Selain itu, tidak banyak penemuan fosil manusia purba di daerah Asia lainnya.

Salah satu fosil yang ditemukan di daratan Cina disebut Sinanthropus pekinensis diperkirakan hidup sezaman dengan Pithecanthropus erectus dari Indonesia. Adapun daerah-daerah lain di Asia hingga saat ini belum berhasil ditemukan fosil-fosil manusia purba.

2. Bangsa Indonesia berasal dari daratan Asia

Melalui jejak-jejak sejarah yang berhasil diteliti diketahui bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan Selatan. Dari daerah Yunan inilah mereka menyebar ke arah selatan hingga sampai di daerah Kepulauan Indonesia.

Asal-Usul Bangsa Indonesia dan Penyebarannya

Dikutip dari KISAH ASAL USUL

Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia merupakan salah satu bagian unik yang tidak bisa terlepaskan dari keberadaan kita di nusantara ini. Kita sebagai manusia yang berbudi, sepatutnya tak melupakan sejarah dari mana asal mula dan sebab musababnya hingga kita berada di sini, di Indonesia. Nenek moyang yang merupakan cikal bakal keberadaan kita saat ini tentu harus kita kenali, meski hanya dari sekedar pengetahuan. Nah, berikut ini kami telah mengupas secara tuntas seputar peta persebaran asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berdasarkan pendapat terkuat dari para ahli sejarah yang telah melakukan penelitian mendalam untuk menguak rahasia besar ini. Silakan disimak.

asal usul nenek moyang bangsa Indonesia

Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Banyak pendapat yang bermunculan terkait dengan dari mana sejatinya asal usul nenek moyang bangsa Indonesia. Para ahli sejarah saling mengeluarkan argumenya disertai dalih pembenaran dari dugaannya masing-masing. Kendati begitu banyak pendapat tersebut, ada satu pendapat yang nampaknya memiliki bukit dan dasar pemikiran paling kuat. Dan pendapat tersebut berasal dari seorang sejarahwan asal Belanda, yaitu Von Heine Geldern.

Opera Snapshot_2017-10-31_064121_slideplayer.info

Migrasi Besar-besaran ke Austronesia

asal usul nenek moyang bangsa indonesia dan peta penyebarannya

Berdasarkan penelitiannya Von Heine Geldern berargumen jika asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Asia Tengah.

Diterangkan olehnya bahwa semenjak tahun 2.000 SM sampai dengan tahun 500 SM (dari zaman batu Neolithikum hingga zaman Perunggu) telah terjadi migrasi penduduk purba dari wilayah Yunan (China Selatan) ke daerah-daerah di Asia bagian Selatan termasuk daerah kepulauan Indonesia. 

Perpindahan ini terjadi secara besar-besaran diperkirakan karena adanya suatu bencana alam hebat atau adanya perang antar suku bangsa.

Daerah kepulauan di Asia bagian selatan ini oleh Geldern dinamai dengan sebutan Austronesia yang berarti pulau selatan (Austro = Selatan, Nesos = Pulau).

Austronesia sendiri mencakup wilayah yang amat luas, meliputi pulau-pulau di Malagasi atau Madagaskar (sebelah Selatan) hingga Pulau Paskah (sebelah Timur), dan dari Taiwan (sebelah Utara) hingga Selandia Baru (sebelah Selatan).

Pendapat Von Heine Geldern ini dilatarbelakangi oleh penemuan banyak peralatan manusia purba masa lampau yang berupa batu beliung berbentuk persegi di seluruh wilayah Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Peralatan manusia purba ini sama persis dengan peralatan manusia purba di wilayah Asia lainnya seperti Myanmar, Vietnam, Malaysia, dan Kamboja terutama di sekitar wilayah Yunan.

Pendapat Von Heine Geldern juga didukung oleh hasil penelitian Dr. H. Kern di tahun 1899 yang membahas seputar 113 bahasa daerah di Indonesia. Dari penelitian itu Dr. H. Kern menyimpulkan bahwa ke semua bahasa daerah tersebut awalnya bersumber pada satu rumpun bahasa, rumpun bahasa yang dinamai bahasa Austronesia.

Migrasi manusia purba dari daratan Yunan menurut Geldern bukan hanya terjadi satu kali. Ia menyebut gelombang migrasi terjadi juga di tahun 400 – 300 SM (zaman Perunggu). Orang-orang purba yang bermigrasi tersebut membawa bentuk-bentuk kebudayaan Perunggu seperti kapak sepatu dan nekara yang berasal dari dataran Dong Son.

Menyeberangi Lautan Dengan Perahu Bercadik

perahu bercadik dalam penyebaran nenek moyang bangsa Indonesia

Setelah diketahui jika asal usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah dari daratan Yunan, kini saatnya kita membahas bagaimana nenek moyang kita tadi bisa sampai di kepulauan Indonesia.

Ya, berdasarkan bukti sejarah, diketahui bahwa untuk menyeberangi lautan dari daratan Asia Tenggara seperti Malaysia dan sekitarnya, nenek moyang kita menggunakan alat transportasi berupa perahu bercadik. Perahu bercadik sendiri adalah perahun yang memiliki tangkai kayu di kedua sisinya sebagai alat penyeimbang.

Untuk ilustrasi perahu bercadiknya sendiri, Anda dapat melihat pada gambar di bawah ini. Dengan bermodalkan perahu bercadik itu, nenek moyang kita mengarungi lautan yang luas untuk sampai ke kepulauan Indonesia dan pulau-pulau lain di Austronesia.

Mereka berlayar berkelompok tanpa kenal rasa takut dengan hantaman badai dan ombak yang bisa datang kapan saja. Hal ini tentu membuktikan jika nenek moyang bangsa Indonesia adalah para pemberani dan merupakan pelaut-pelaut berjiwa ksatria.

Dan dengan perjalanan penuh rintangan itu, akhirnya nenek moyang kita sampai ke beberapa pulau di Indonesia. Mereka pun secara langsung memperoleh sebutan Melayu Indonesia.


Menurut dari Sarasin bersaudara, penduduk asli Kepulauan Indonesia merupakan ras yang memiliki kulit gelap dan memiliki postur tubuh yang kecil. Mereka pada awal mulanya itu tinggal di Asia bagian tenggara.

Di zaat zaman es mencair dan air laut yang mulai naik hingga terbentuklah yang namanya Laut Cina Selatan dan Laut Jawa, yang mana mampu memisahkan pegunungan vulkanik Kepulauan Indonesia dari daratan utama.

Beberapa penduduk asli Kepulauan Indonesia pada akhirnya tersisa dan menetap di daerah pedalaman, sementara itu untuk daerah pantai itu sendiri dihuni oleh para penduduk pendatang. Penduduk asli itu disebut dengan suku bangsa Vedda oleh Sarasin.

Sementara itu, ras yang masuk ke dalam kelompok ini ialah suku bangsa Hieng yang ada di Kamboja, Miaotse, Yao-Jen di cina, serta Senoi yang ada di Semenanjung Malaya.

Masih ada juga beberapa suku bangsa lain seperti Kubu, Lubu, Talang Mamak yang mana mereka tinggal di Sumatera dan Toala yang ada di Sulawesi, merupakan penduduk tertua di Kepulauan Indonesia. Mereka sendiri bahkan memiliki hubungan yang sangat erat dengan nenek moyang Melanesia masa kini dan orang Vedda yang saat ini masih ada di Afrika, Asia Selatan dan ada di Oceania.

Vedda inilah yang menjadi manusia pertama yang datang ke pulau-pulau yang mana pulau itu sudah berpenghuni. Mereka membawa budaya perkakas batu ke tempat barunya. Kedua ras tersebut, Melanesia dan Vedda, hidup berdampingan dalam budaya mesolitik.

Pendatang yang berikutnya atau selanjutnya membawa suatu bentuk budaya baru yakni budaya neolitik. Pada pendatang baru ini bahkan datang dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dari penduduk asli.

Pendatang baru itu datang dalam sebanyak 2 tahap.

Disebut oleh Sarasin ialah Proto Melayu dan Deutro Melayu. Kedatangan mereka sendiri terpisah diperkirakan lebih dari 2000 tahun silam.

Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Pembagian Bangsa Melayu Indonesia

Sebutan Melayu Indonesia bagi orang-orang Austronesia secara umum berlaku untuk semua dari mereka yang menetap di wilayah Nusantara.

Akan tetapi, berdasarkan waktu kedatangan, serta daerah yang pertama kali ditempati Bangsa Melayu Indonesia ini dapat dibedakan menjadi 3 sub bangsa yang antara lain

  1. Bangsa Proto Melayu,
  2. Bangsa Deutro Melayu
  3. Bangsa Melanesoid
  4. Negrito dan Weddid
  5. Bangsa Primitif

Berikut penjelasan dari masing-masing sub bangsa tersebut:

1. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua)

Bangsa proto melayu atau Melayu Tua adalah nenek moyang bangsa Indonesia yang merupakan orang-orang Austronesia yang pertama kali datang ke nusantara pada gelombang pertama (sekitar tahun 1500 SM). Bangsa porto melayu memasuki wilayah Indonesia melalui dua jalur, yaitu (1) Jalur Barat melalui Malaysia–Sumatera , (2) Jalur Utara atau Timur melalui Philipina–Sulawesi.

Bangsa Melayu Tua ini dianggap memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan manusia purba umumnya pada masa itu. Ini dibuktikan dengan penemuan bukti kebudayaan neolithikum telah berlaku dengan hampir semua peralatan mereka terbuat dari batu yang sudah dihaluskan. Hasil kebudayaan zaman neolithikum dari orang-orang Austronesia yang terkenal yaitu kapak persegi. Kapak persegi sendiri banyak ditemukan di wilayah Indonesia Barat yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali, dan Sulawesi Utara. Dan perlu diketahui bahwa suku bangsa Indonesia saat ini yang termasuk keturunan Proto Melayu ialah suku Dayak dan Toraja.

Proto Melayu ini diyakini sebagai nenek moyang orang-orang Melayu Polinesia yang mana mereka tersebar dari Madagaskar hingga pulau-pulau yang berada di paling timur pada kawasan Pasifik. Diperkirakan, orang-orang Proto Melayu ini datang dari Cina bagian selatan.

Ciri-ciri Proto Melayu :

  • Rambut yang lurus
  • Kulit berwarna kuning kecokelat-cokelatan
  • Memiliki mata yang sipit

Dari Cina bagian selatan (Yunan) mereka lantas melakukan migrasi ke Indocina dan Siam, yang selanjutnya sampailah ke Kepulauan Indonesia. Mula-mula, mereka menempati pantai di Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat. Ras Proto Melayu ini mampu membawa peradaban batu di Kepulauan Indonesia.

Saat datang imigran baru, yakni Deutero Melayu (Ras Melayu Muda), mereka berpindah masuk ke pedalaman dan selanjutnya mencari tempat yang baru ke hutan-hutan sebagai tempat hunian mereka.

Selanjutnya, ras Proto Melayu ini kemudian mendesak keberadaan dari penduduk asli. Kehidupan yang terjadi di dalam hutan ini menjadikan mereka terisolasi dari dunia luar, sehingga mampu memudarkan peradaban mereka.

Pada akhirnya, penduduk asli dan ras Proto Melayu itu selanjutnya melebur dan mereka itu selanjutnya menjadi suku bangsa Batak, Dayak, Toraja, Alas dan Gayo.

Kehidupan mereka yang terisolasi inilah yang menyebabkan ras Proto Melayu sedikit memperoleh pengaruh dari adanya kebudayaan Hindu ataupun Islam di kemudian hari. Masyarakat Proto Melayu ini kelak memperoleh pengaruh Kristen semenjak mereka mulai mengenal para penginjil yang masuk ke wilayah mereka guna memperkenalkan agama Kristen serta peradaban baru di dalam kehidupan mereka.

Persebaran suku bangsa Dayak hingga ke Filipina Selatan, Serawak dan Malaka yang menunjukkan rute perpindahan mereka dari Kepulauan Indonesia.

Sementara itu, suku bangsa Batak yang mengambil rute ke barat dengan menyusuri pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Beberapa adanya kesamaan bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Karen yang ada di Burma, begitu banyak mengandung kemiripan dengan bahasa Batak itu sendiri.

2. Bangsa Deutero Melayu (Melayu Muda)

Bangsa Deutro Melayu atau bangsa melayu muda adalah nenek moyang bangsa Indonesia yang merupakan orang-orang austronesia yang datang ke nusantara pada gelombang kedatangan kedua, yakni pada kurun waktu 400-300 SM. Bangsa melayu muda (Deutero Melayu) berhasil melakukan asimilsasi dengan para pendahulunya yang tak lain adalah bangsa melayu tua (proto melayu). Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditemukan, diketahui bahwa Bangsa Deutero Melayu masuk ke wilayah nusantara melalui jalur Barat, di mana rute yang mereka tempuh dari Yunan (Teluk Tonkin), Vietnam, Malaysia, hingga akhirnya tiba di Nusantara. Bangsa Melayu Tua juga dianggap mempunyai kebudayaan yang jauh lebih maju dibandingkan pendahulunya, bangsa Proto Melayu. Mereka sudah berhasil membuat barang-barang dari perunggu dan besi, di ana beberapa diantaranya antara lain kapak serpatu, kapak corong, dan nekara, serta menhir, dolmen, sarkopagus, kubur batu, dan punden berundak-undak. Suku bangsa Indonesia saat ini yang termasuk keturunan bangsa Melayu muda adalah suku Jawa, Melayu, dan Bugis.

Deutero Melayu merupakan ras yang datang atau berasal dari Indocina dari bagian utara. Mereka sendiri membawa kebudayaan baru yang berupa perkakas dan senjata besi di Kepulauan Indonesia atau Kebudayaan Dongson. Seringkali, mereka juga disebut dengan orang-orang Dongson.

Mereka sering disebut juga dengan orang-orang Dongson. Peradaban yang mereka miliki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ras Proto Melayu. Mereka mampu membuat berbagai macam perkakas dari perunggu. Peradaban mereka juga ditandai dengan adanya keahlian untuk mengerjakan logam dengan sempurna.

Ciri-ciri Deutero Melayu :

  • Berkulit sawo matang agak kuning
  • Tubuh yang tak terlalu tinggi
  • Memiliki rambut yang lurus

Perpindahan yang mereka lakukan ke Kepulauan Indonesia ini bisa dilihat dari rute persebaran alat-alat yang mereka tinggalkan di beberapa kepulauan yang ada di Indonesia, yakni dengan berupa kapak persegi panjang. Peradaban ini bisa dengan mudah dijumpai di Malaka, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara Timur, bahkan di Filipina sekalipun.

Dalam masalah pengolahan tanah, mereka juga memiliki kemampuan yang cukup baik dalam membuat irigasi di tanah-tanah pertanian yang berhasil mereka ciptakan, dengan cara membabat hutan terlebih dahulu.

Bahkan, ras Deutro Melayu ini juga memiliki peradaban pelayaran yang jauh lebih maju dari para pendahulunya karena memang petualangan yang mereka lakoni sebagai seorang pelaut dengan dibantu oleh penguasaan yang mereka miliki terhadap ilmu perbintangan yang sudah dipelajari dan ditanamkan.

ras kulit hitam sebagai asal usul nenek moyang bangsa Indonesia

3. Melanesoid

Ras yang lain yang juga ada di Kepulauan Indonesia merupakan ras Melanesoid. Mereka itu tersebar di lautan Pasifik di pulau-pulau yang mana terletak di sebelah timur Papua dan benua Australia.

Di Kepulauan Indonesia, mereka sendiri tinggal di Papua. Bersama dengan Papua Nugini dan Bismarck, Solomon, New Caledonia dan Fiji, mereka semua itu termasuk ke dalam ras atau rumpun Melanesoid.

Ciri-ciri Melanesoid :

  • Berbadan kekar
  • Kulit yang berwarna kehitam-hitaman
  • Rambut keriting
  • Bibir tebal
  • Hidung yang mancung

Menurut dari Daldjoeni, suku bangsa Melanesoid sekitar sebanyak 70% menetap di Papua, sedangkan 30% yang lain tinggal di beberapa kepulauan yang ada di sekitar Papua dan Papua Nugini.

Pada awal mulanya, kedatangan dari bangsa Melanesoid yang ada di Papua ini berawal di saat zaman es terakhir, yakni pada tahun 70.000 SM. Di saat itu, Kepulauan Indonesia masih belum berpenghuni.

Di saat suhu turun hingga mencapai kedinginan yang maksimal, air laut menjadi membeku. Permukaan laut bahkan menjadi lebih rendah 100 meter dibandingkan dengan permukaan yang ada saat ini. Pada saat itulah muncul pulau-pulau yang baru. Adanya pulau yang muncul tersebut memudahkan makhluk hidup untuk bisa berpindah tempat dari Asia menuju ke kawasan Oceania.

Bangsa Melanesoid itu sendiri melakukan perpindahan ke timur hingga mencapai ke Papua, selanjutnya ke Benua Australia, yang sebelumnya menjadi satu kepulauan yang terhubung dengan Papua.

Pada saat itu, Bangsa Melanesoid mencapai hingga sebanyak 100 ribu jiwa dengan meliputi wilayah Papua dan Australia. Peradaban dari bangsa ini dikenal dengan nama paleolitikum.

Pada saat masa es berakhir dan air laut yang mulai naik lagi di tahun 5000 SM, kepulauan Papua dan Benua Australia menjadi terpisah seperti yang bisa kita lihat saat ini.

Asal mula bangsa Melanesia yakni Proto Melanesia yang merupakan penduduk pribumi di Jawa. Mereka itu merupakan manusia Wajak yang tersebar ke timur dan menduduki Papua, sebelum zaman es berakhir dan sebelum terjadi kenaikan permukaan laut yang ada pada saat itu.

Di Papua, manusia Wajak hidup secara berkelompok kecil di sepanjang muara sungai. Mereka hidup dengan cara menangkap ikan di sungai dan meramu tumbuh-tumbuhan serta akar-akaran, serta berburu di hutan belukar. Tempat tinggal yang dimiliki berupa perkampungan yang terbuat dari bahan-bahan ringan.

Rumah itu sebenarnya hanya berupa suatu kemah atau tadah angin yang sering didirikan menempel pada dinding gua yang besar. Kemah atau tadah angin itu hanya akan digunakan sebagai tempat untuk mereka tidur dan berlindung, sementara untuk kegiatan yang lain akan dilakukan di luar rumah.

Bangsa Proto Melanesoid itu sendiri terus terdesak oleh adanya keberadaan dari bangsa Melayu. Mereka yang belum sempat mencapai Kepulauan Papua melakukan suatu bentuk percampuran terhadah adanya ras baru tersebut.

Percampuran yang terjadi antara bangsa Melayu dengan bangsa Melanesoid ini mampu menghasilkan keturunan Melanesoid-Melayu, yang mana pada saat ini mereka menjadi penduduk di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

4. Negrito dan Weddid

Sebelum kedatangan kelompok Melayu tua dan muda, negeri kita sendiri sudah terlebih dahulu dimasuki oleh orang-orang Negrito dan Weddid.

Sebutan Negrito itu sendiri diberikan oleh orang Spanyol karena yang mereka jumpai itu orang yang memiliki kulit hitam, sangat mirip dengan jenis-jenis Negro.

Ciri-ciri Negrito :

  • Memiliki kulit yang gelap
  • Memiliki rambut keriting
  • Mata yang bundar
  • Berhidung lebar
  • Postur tubuh pendek

Sejauh mana kelompok Negrito itu memiliki tali darah dengan jenis-jenis Negro yang ada di Afrika serta kepulauan Melanesia (Pasifik), demikian halnya bagaimana sejarah perpindahan mereka, yang mana belum banyak diketahui secara pasti dan jelas.

Kelompok Weddid itu sendiri terdiri atas orang-orang yang memiliki kepala mesocephal dengan letak mata yang dalam, sehingga sangat tampak seperti berang, kulit yang berwarna cokelat tua dan tinggi rata-rata laki-lakinya adalah 155 cm.

Ciri-ciri Weddid :

  • Berkulit hitam
  • Memiliki postur tubuh sedang
  • Rambut yang keriting

Weddid itu sendiri artinya jenis Wedda yakni bangsa yang ada di pulau Ceylon (Sri Lanka). Persebaran orang-orang Weddid yang ada di Indonesia terbilang cukup luas, misal yang ada di Palembang dan Jambi (Kubu), di Siak (Sakai) dan di Sulawesi pojok tenggara (Toala, Tokea dan Tomuna).

Periode migrasi yang dilakukan berlangsung selama berabad-abad, yang mana kemungkinan mereka tersebut berasal dari 1 kelompok ras yang sama dan dengan budaya yang sama juga. Mereka itu merupakan nenek morang orang Indonesia yang ada saat ini.

Sekitar sebanyak 170 bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia merupakan bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia). Bahasa inilah yang selanjutnya dikelompokkan menjadi 2 oleh Sarasin, yaitu bahasa Aceh dan bahasa-bahasa di pedalaman Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Kelompok yang kedua merupakan bahasa Batak, Melayu standar, Jawa dan Bali. Kelompok bahasa kedua ini memiliki hubungan dengan bahasa Malagi yang ada di Madagaskar dan Tagalog yang ada di Luzon.

Persebaran geografis dari kedua bahasa ini menunjukkan jika para penggunanya merupakan para pelaut yang ada di masa dahulu yang mana telah memiliki peradaban yang jauh lebih maju. Di samping dari bahasa tersebut, juga ada bahasa Halmahera Utara dan Papua yang digunakan di pedalaman Papua dan bagian utara Pulau Halmahera.

3. Bangsa Primitif

Sebetulnya, sebelum kelompok bangsa Austronesia masuk ke wilayah Nusantara, sudah ada beberapa kelompok manusia purba yang sudah lebih daulu menempati wilayah tersebut.

Mereka adalah bangsa-bangsa primitif dengan budaya yang sangat sederhana. Mereka di antaranya adalah manusia pleistosin, suku wedoid, dan suku negroid.

  1. Manusia Pleistosin; Kehidupan manusia purba ini selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang sangat terbatas. Demikian juga dengan kebudayaannnya sehingga corak kehidupan manusia purba ini tidak dapat diikuti lagi, kecuali beberapa aspek saja.
  2. Suku Wedoid; Sisa-sisa suku Wedoid hingga kini masih ada dan dapat kita temukan. Mereka hidup meramu dan mengumpulkan makanan dari hasil hutan dan memiliki kebudayaan yang sangat sederhana. Suku Sakai di Siak dan suku Kubu di perbatasan Jambi dan Palembang adalah dua contoh peninggalan Suku Wedoid di masa kini.
  3. Suku Negroid; Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa-sisa kehidupan suku negroid. Namun, di pedalaman Malaysia dan Philipina, keturunan suku ini rupanya masih ada Suku Semang di Semenanjung Malaysia dan Suku Negrito di Philipina merupakan bukti nyatanya.

Nah, itulah artikel tentang asal usul nenek moyang Indonesia yang kami berhasil rangkum dari beberapa sumber. Sebagai kesimpulan kami telah mengambil poin-poin penting dari pembahasan ini yang antara lain:

  1. Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa dari daratan Yunan di China Selatan.
  2. Nenek moyang bangsa Indonesia dan nenek moyang bangsa lainnya di asia selatan berasal dari satu sumber yaitu bangsa Austronesia.
  3. Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Yuan terbagi menjadi 2 gelombang, yaitu gelombang pertama atau proto Melayu yang datang pada zaman batu tua (Neolitikum) dan gelombang kedua atau Deutro Melayu yang datang pada zaman perunggu.
  4. Terdapat beberapa kelompok manusia yang sudah menempati wilayah Indonesia jauh sebelum kedatangan bangsa Austronesia. Beberapa bangsa tersebut antara lain Manusia Pleistosin, Suku Wedoid, dan Suku Negroid. Ketiga suku tersebut juga merupakan bagian dari asal usul nenek moyang bangsa Indonesia yang tak bisa disisihkan.

 

Asal Usul Bangsa Indonesia

Dikutip dari SEJARAH NEGARA

11 Pendapat Ahli tentang Asal Usul Bangsa Indonesia

Prasejarah. Kepulauan Nusantara bersatu dengan daratan Asia pada masa pleistosen. Laut dangkal yang ada di antara pulau-pulau di Nusantara bagian barat surut. Akibatnya terbentuklah Paparan Sunda yang menyatukan Indonesia dengan daratan Asia.

Begitu juga di Indonesia bagian timur, di sana juga terjadi hal yang sama. Di situ terbentuk Paparan Sahul yang menyatukan Indonesia bagian timur dengan daratan Australia. Adanya Paparan Sunda dan Paparan Sahul menyebabkan terjadinya perpindahan manusia dan hewan dari daratan Asia dan Australia ke Indonesia dan sebaliknya.

Mengenai asal-usul manusia di Kepulauan Indonesia banyak ahli yang mengemukakan teorinya. Berikut para ahli dengan masing-masing teorinya tentang asal-usul manusia Indonesia.

1. Van Heine Geldern

Bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia. Pendapatnya ini dibuktikan oleh kesamaan artefak purba yang ditemukan di Indonesia dengan artefak purba di daratan Asia. Apa itu Artefak? Baca di sini Daftar istilah dalam sejarah.

Van Heine Geldern

Opera Snapshot_2017-10-31_064121_slideplayer.info

2. Hogen

Bahwa bangsa yang mendiami pesisir Melayu berasal dari Sumatra. Bangsa Ini bercampur dengan bangsa Mongol yang kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu. Bangsa Proto Melayu menyebar di wilayah Indonesia sekitar tahun 3000 – 1500 sebelum Masehi, sedangkan bangsa Deutro Melayu menyebar di wilayah Indonesia sekitar tahun 1500 – 500 sebelum Masehi.

3. Willem Smith

Ia menyatakan dalam penelitiannya tentang asal-usul bangsa Indonesia dengan melalui penggunaan bahasa oleh bangsa Indonesia. Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang digunakan, yaitu bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria.

Kemudian bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Asutronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesisa, dan Polinesia.

4. Moh. Ali

Moh. Ali berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan. Pendapat ini diperkuat dengan adanya kesamaan ras penduduk antara penduduk Indonesia dan Asia. Selain itu, juga banyak artefak-artefak yang memiliki kesamaan baik masa kebudayaan zaman batu maupun zaman logam.

Pendapat Moh. Ali ini dipengaruhi oleh pendapat Moens yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Mongol. Dikarenakan terdesak oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat, kemudian mereka menyebar ke arah selatan sampai ke Indonesia.

Kedatangan mereka terjadi secara bergelombang. Gelombang pertama terjadi pada tahun 3000 – 1500 SM, sedangkan gelombang kedua terjadi pada tahun 1500 – 500 SM. Gelombang pertama kebudayaannya neolitikum dengan jenis perahu bercadik satu dan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik dua. Baca peninggalannya di Peninggalan kebudayaan zaman Batu Muda

5. Prof. Dr. N.J. Krom

Ia menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Cina Tengah. Mereka menyebar ke wilayah Indoesia sekitar tahun 2000 SM sampai dengan tahun 1500 SM.

6. J.L.A. Brandes

Brandes mengemukakan bahwa bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia memiliki banyak persamaan dengan bangsa-bangsa yang datang dari daerah sebelah utara Pulau Formosa, sebelah barat daerah Madagaskar, sebelah selatan Jawa dan Bali serta sebelah timur samapi ke tepi pantai barat Amerika. Brandes melakukan penelitian berdasarkan perbandingan bahasa.

7. Mayundar

Mayundar berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, kemudian menyebar ke Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Pendapat Mayundar ini didukung oleh penelitiannya berdasarkan bahasa Austria yang merupakan bahasa muda di India Timur.

8. Prof. Dr. Moh. Yamin

Moh. Yamin berpendapat bahwa asal bangsa Indonesia dari daerah Indonesia sendiri. Bahkan dimungkinkan bangsa-bangsa lain yang berada di Asia berasal dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan fosil-fosil dan artefak tertua yang lebih lengkap ditemukan di wilayah Indonesia.

Moh. Yamin menentang semua pendapat yang dikemukakan oleh para ahli. Pendapatnya ini didukung oleh suatu pernyataan tentang “Blood und Breden Unchro” yang berarti : “darah dan tanah bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri”.

10. Roger Lewin

Menurut Roger Lewin dalam sebuah jurnal ilmiah sejarah, terbitan Museum Peabody di Universitas Harvard melaporkan bahwa : Manusia pertama berasal dari Afrika, yang kemudian bermigrasi.

Laporan Roger Lewin didukung oleh tim ilmuwan geologi dan antropologi yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Cina, dan Eropa yang mengklaim bahwa manusia bermigrasi ke Asia sekitar 2 miliar tahun yang lalu.

Namun, walaupun manusia pertama berasal dari Afrika, menurut pendapat mereka Benua Asialah yang mempunyai peran penting dalam penyebaran manusia di muka bumi dan tempat evolusi dari Homo erectus menjadi Homo sapiens.

11. Dr. J.H.C. Kern

Kern berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Teorinya ini berdasarkan perbandingan bahasa. Karena bahasa-bahasa yang dipakai di kepulauan Indonesia adalah Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia, berasal dari satu akar yang sama yaitu bahasa Austronesia.

Dr. J.H.C. Kern

Menurut Kern, berdasarkan penelitian terhadap penggunaan bahasa yang dipakai di berbagai kepulauan, bangsa Indonesia berasal dari satu daerah dan menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Campa dan agak ke utara yaitu Tonkin.

Namun, sebelum sampai ke nusantara daerah Indonesia lebih dahulu ditempati oleh bangsa yang berkulit hitam dan keriting. Bangsa-bangsa tersebut sampai sekarang masih mendiami daerah Indonesia bagian timur dan daerah-daerah di Benua Australia.

Sementara itu, sekitar tahun 1500 SM, nenek moyang bangsa Indonesia yang berada di Campa terdesak oleh bangsa lain di Asia Tengah yang lebih kuat. Dikarenakan terdesak akhirnya nenek moyang bangsa Indonesia pindah ke Kamboja, kemudian melanjutkan perjalanan ke Sumatra, Kalimantan, Jawa, Minahasa dan daerah-daerah sekitarnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, berbagai bangsa yang mendiami Kepulauan Nusantara telah membentuk komunitas sendiri sehingga mendapatkan sebutan tersendiri seperti di daerah Aceh disebut suku Aceh, di Kalimantan di sebut suku Dayak, di Jawa Barat disebut suku Sunda, dan di Sulawesi disebut suku Bugis.

Selanjutnya bangsa kulit hitam bercampur dengan suku bangsa yang baru datang tersebut dan berkembang menjadi bangsa Indonesia yang sekarang ini.

Namun begitu, dari banyaknya pendapat para ahli tentang asal bangsa Indonesia di atas dapat diambil kesimpulan yang paling mendekati. Selengkapnya baca di : 2 versi asal usul bangsa Indonesia

Lalu dari kesebelas pendapat para ahli sejarah tersebut mana yang benar? Menurut saya kesemuanya benar, karena mereka berpendapat berdasarkan penelitian panjang yang membutuhkan banyak pengorbanan waktu, tenaga, beaya, fikiran dan sebagainya. Yang paling tahu kebenarannya hanyalah Yang Maha Kuasa.