Asal-Usul Bangsa Indonesia dan Penyebarannya


Dikutip dari KISAH ASAL USUL

Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia merupakan salah satu bagian unik yang tidak bisa terlepaskan dari keberadaan kita di nusantara ini. Kita sebagai manusia yang berbudi, sepatutnya tak melupakan sejarah dari mana asal mula dan sebab musababnya hingga kita berada di sini, di Indonesia. Nenek moyang yang merupakan cikal bakal keberadaan kita saat ini tentu harus kita kenali, meski hanya dari sekedar pengetahuan. Nah, berikut ini kami telah mengupas secara tuntas seputar peta persebaran asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berdasarkan pendapat terkuat dari para ahli sejarah yang telah melakukan penelitian mendalam untuk menguak rahasia besar ini. Silakan disimak.

asal usul nenek moyang bangsa Indonesia

Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Banyak pendapat yang bermunculan terkait dengan dari mana sejatinya asal usul nenek moyang bangsa Indonesia. Para ahli sejarah saling mengeluarkan argumenya disertai dalih pembenaran dari dugaannya masing-masing. Kendati begitu banyak pendapat tersebut, ada satu pendapat yang nampaknya memiliki bukit dan dasar pemikiran paling kuat. Dan pendapat tersebut berasal dari seorang sejarahwan asal Belanda, yaitu Von Heine Geldern.

Opera Snapshot_2017-10-31_064121_slideplayer.info

Migrasi Besar-besaran ke Austronesia

asal usul nenek moyang bangsa indonesia dan peta penyebarannya

Berdasarkan penelitiannya Von Heine Geldern berargumen jika asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Asia Tengah.

Diterangkan olehnya bahwa semenjak tahun 2.000 SM sampai dengan tahun 500 SM (dari zaman batu Neolithikum hingga zaman Perunggu) telah terjadi migrasi penduduk purba dari wilayah Yunan (China Selatan) ke daerah-daerah di Asia bagian Selatan termasuk daerah kepulauan Indonesia. 

Perpindahan ini terjadi secara besar-besaran diperkirakan karena adanya suatu bencana alam hebat atau adanya perang antar suku bangsa.

Daerah kepulauan di Asia bagian selatan ini oleh Geldern dinamai dengan sebutan Austronesia yang berarti pulau selatan (Austro = Selatan, Nesos = Pulau).

Austronesia sendiri mencakup wilayah yang amat luas, meliputi pulau-pulau di Malagasi atau Madagaskar (sebelah Selatan) hingga Pulau Paskah (sebelah Timur), dan dari Taiwan (sebelah Utara) hingga Selandia Baru (sebelah Selatan).

Pendapat Von Heine Geldern ini dilatarbelakangi oleh penemuan banyak peralatan manusia purba masa lampau yang berupa batu beliung berbentuk persegi di seluruh wilayah Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Peralatan manusia purba ini sama persis dengan peralatan manusia purba di wilayah Asia lainnya seperti Myanmar, Vietnam, Malaysia, dan Kamboja terutama di sekitar wilayah Yunan.

Pendapat Von Heine Geldern juga didukung oleh hasil penelitian Dr. H. Kern di tahun 1899 yang membahas seputar 113 bahasa daerah di Indonesia. Dari penelitian itu Dr. H. Kern menyimpulkan bahwa ke semua bahasa daerah tersebut awalnya bersumber pada satu rumpun bahasa, rumpun bahasa yang dinamai bahasa Austronesia.

Migrasi manusia purba dari daratan Yunan menurut Geldern bukan hanya terjadi satu kali. Ia menyebut gelombang migrasi terjadi juga di tahun 400 – 300 SM (zaman Perunggu). Orang-orang purba yang bermigrasi tersebut membawa bentuk-bentuk kebudayaan Perunggu seperti kapak sepatu dan nekara yang berasal dari dataran Dong Son.

Menyeberangi Lautan Dengan Perahu Bercadik

perahu bercadik dalam penyebaran nenek moyang bangsa Indonesia

Setelah diketahui jika asal usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah dari daratan Yunan, kini saatnya kita membahas bagaimana nenek moyang kita tadi bisa sampai di kepulauan Indonesia.

Ya, berdasarkan bukti sejarah, diketahui bahwa untuk menyeberangi lautan dari daratan Asia Tenggara seperti Malaysia dan sekitarnya, nenek moyang kita menggunakan alat transportasi berupa perahu bercadik. Perahu bercadik sendiri adalah perahun yang memiliki tangkai kayu di kedua sisinya sebagai alat penyeimbang.

Untuk ilustrasi perahu bercadiknya sendiri, Anda dapat melihat pada gambar di bawah ini. Dengan bermodalkan perahu bercadik itu, nenek moyang kita mengarungi lautan yang luas untuk sampai ke kepulauan Indonesia dan pulau-pulau lain di Austronesia.

Mereka berlayar berkelompok tanpa kenal rasa takut dengan hantaman badai dan ombak yang bisa datang kapan saja. Hal ini tentu membuktikan jika nenek moyang bangsa Indonesia adalah para pemberani dan merupakan pelaut-pelaut berjiwa ksatria.

Dan dengan perjalanan penuh rintangan itu, akhirnya nenek moyang kita sampai ke beberapa pulau di Indonesia. Mereka pun secara langsung memperoleh sebutan Melayu Indonesia.


Menurut dari Sarasin bersaudara, penduduk asli Kepulauan Indonesia merupakan ras yang memiliki kulit gelap dan memiliki postur tubuh yang kecil. Mereka pada awal mulanya itu tinggal di Asia bagian tenggara.

Di zaat zaman es mencair dan air laut yang mulai naik hingga terbentuklah yang namanya Laut Cina Selatan dan Laut Jawa, yang mana mampu memisahkan pegunungan vulkanik Kepulauan Indonesia dari daratan utama.

Beberapa penduduk asli Kepulauan Indonesia pada akhirnya tersisa dan menetap di daerah pedalaman, sementara itu untuk daerah pantai itu sendiri dihuni oleh para penduduk pendatang. Penduduk asli itu disebut dengan suku bangsa Vedda oleh Sarasin.

Sementara itu, ras yang masuk ke dalam kelompok ini ialah suku bangsa Hieng yang ada di Kamboja, Miaotse, Yao-Jen di cina, serta Senoi yang ada di Semenanjung Malaya.

Masih ada juga beberapa suku bangsa lain seperti Kubu, Lubu, Talang Mamak yang mana mereka tinggal di Sumatera dan Toala yang ada di Sulawesi, merupakan penduduk tertua di Kepulauan Indonesia. Mereka sendiri bahkan memiliki hubungan yang sangat erat dengan nenek moyang Melanesia masa kini dan orang Vedda yang saat ini masih ada di Afrika, Asia Selatan dan ada di Oceania.

Vedda inilah yang menjadi manusia pertama yang datang ke pulau-pulau yang mana pulau itu sudah berpenghuni. Mereka membawa budaya perkakas batu ke tempat barunya. Kedua ras tersebut, Melanesia dan Vedda, hidup berdampingan dalam budaya mesolitik.

Pendatang yang berikutnya atau selanjutnya membawa suatu bentuk budaya baru yakni budaya neolitik. Pada pendatang baru ini bahkan datang dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dari penduduk asli.

Pendatang baru itu datang dalam sebanyak 2 tahap.

Disebut oleh Sarasin ialah Proto Melayu dan Deutro Melayu. Kedatangan mereka sendiri terpisah diperkirakan lebih dari 2000 tahun silam.

Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Pembagian Bangsa Melayu Indonesia

Sebutan Melayu Indonesia bagi orang-orang Austronesia secara umum berlaku untuk semua dari mereka yang menetap di wilayah Nusantara.

Akan tetapi, berdasarkan waktu kedatangan, serta daerah yang pertama kali ditempati Bangsa Melayu Indonesia ini dapat dibedakan menjadi 3 sub bangsa yang antara lain

  1. Bangsa Proto Melayu,
  2. Bangsa Deutro Melayu
  3. Bangsa Melanesoid
  4. Negrito dan Weddid
  5. Bangsa Primitif

Berikut penjelasan dari masing-masing sub bangsa tersebut:

1. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua)

Bangsa proto melayu atau Melayu Tua adalah nenek moyang bangsa Indonesia yang merupakan orang-orang Austronesia yang pertama kali datang ke nusantara pada gelombang pertama (sekitar tahun 1500 SM). Bangsa porto melayu memasuki wilayah Indonesia melalui dua jalur, yaitu (1) Jalur Barat melalui Malaysia–Sumatera , (2) Jalur Utara atau Timur melalui Philipina–Sulawesi.

Bangsa Melayu Tua ini dianggap memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan manusia purba umumnya pada masa itu. Ini dibuktikan dengan penemuan bukti kebudayaan neolithikum telah berlaku dengan hampir semua peralatan mereka terbuat dari batu yang sudah dihaluskan. Hasil kebudayaan zaman neolithikum dari orang-orang Austronesia yang terkenal yaitu kapak persegi. Kapak persegi sendiri banyak ditemukan di wilayah Indonesia Barat yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali, dan Sulawesi Utara. Dan perlu diketahui bahwa suku bangsa Indonesia saat ini yang termasuk keturunan Proto Melayu ialah suku Dayak dan Toraja.

Proto Melayu ini diyakini sebagai nenek moyang orang-orang Melayu Polinesia yang mana mereka tersebar dari Madagaskar hingga pulau-pulau yang berada di paling timur pada kawasan Pasifik. Diperkirakan, orang-orang Proto Melayu ini datang dari Cina bagian selatan.

Ciri-ciri Proto Melayu :

  • Rambut yang lurus
  • Kulit berwarna kuning kecokelat-cokelatan
  • Memiliki mata yang sipit

Dari Cina bagian selatan (Yunan) mereka lantas melakukan migrasi ke Indocina dan Siam, yang selanjutnya sampailah ke Kepulauan Indonesia. Mula-mula, mereka menempati pantai di Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat. Ras Proto Melayu ini mampu membawa peradaban batu di Kepulauan Indonesia.

Saat datang imigran baru, yakni Deutero Melayu (Ras Melayu Muda), mereka berpindah masuk ke pedalaman dan selanjutnya mencari tempat yang baru ke hutan-hutan sebagai tempat hunian mereka.

Selanjutnya, ras Proto Melayu ini kemudian mendesak keberadaan dari penduduk asli. Kehidupan yang terjadi di dalam hutan ini menjadikan mereka terisolasi dari dunia luar, sehingga mampu memudarkan peradaban mereka.

Pada akhirnya, penduduk asli dan ras Proto Melayu itu selanjutnya melebur dan mereka itu selanjutnya menjadi suku bangsa Batak, Dayak, Toraja, Alas dan Gayo.

Kehidupan mereka yang terisolasi inilah yang menyebabkan ras Proto Melayu sedikit memperoleh pengaruh dari adanya kebudayaan Hindu ataupun Islam di kemudian hari. Masyarakat Proto Melayu ini kelak memperoleh pengaruh Kristen semenjak mereka mulai mengenal para penginjil yang masuk ke wilayah mereka guna memperkenalkan agama Kristen serta peradaban baru di dalam kehidupan mereka.

Persebaran suku bangsa Dayak hingga ke Filipina Selatan, Serawak dan Malaka yang menunjukkan rute perpindahan mereka dari Kepulauan Indonesia.

Sementara itu, suku bangsa Batak yang mengambil rute ke barat dengan menyusuri pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Beberapa adanya kesamaan bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Karen yang ada di Burma, begitu banyak mengandung kemiripan dengan bahasa Batak itu sendiri.

2. Bangsa Deutero Melayu (Melayu Muda)

Bangsa Deutro Melayu atau bangsa melayu muda adalah nenek moyang bangsa Indonesia yang merupakan orang-orang austronesia yang datang ke nusantara pada gelombang kedatangan kedua, yakni pada kurun waktu 400-300 SM. Bangsa melayu muda (Deutero Melayu) berhasil melakukan asimilsasi dengan para pendahulunya yang tak lain adalah bangsa melayu tua (proto melayu). Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditemukan, diketahui bahwa Bangsa Deutero Melayu masuk ke wilayah nusantara melalui jalur Barat, di mana rute yang mereka tempuh dari Yunan (Teluk Tonkin), Vietnam, Malaysia, hingga akhirnya tiba di Nusantara. Bangsa Melayu Tua juga dianggap mempunyai kebudayaan yang jauh lebih maju dibandingkan pendahulunya, bangsa Proto Melayu. Mereka sudah berhasil membuat barang-barang dari perunggu dan besi, di ana beberapa diantaranya antara lain kapak serpatu, kapak corong, dan nekara, serta menhir, dolmen, sarkopagus, kubur batu, dan punden berundak-undak. Suku bangsa Indonesia saat ini yang termasuk keturunan bangsa Melayu muda adalah suku Jawa, Melayu, dan Bugis.

Deutero Melayu merupakan ras yang datang atau berasal dari Indocina dari bagian utara. Mereka sendiri membawa kebudayaan baru yang berupa perkakas dan senjata besi di Kepulauan Indonesia atau Kebudayaan Dongson. Seringkali, mereka juga disebut dengan orang-orang Dongson.

Mereka sering disebut juga dengan orang-orang Dongson. Peradaban yang mereka miliki jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ras Proto Melayu. Mereka mampu membuat berbagai macam perkakas dari perunggu. Peradaban mereka juga ditandai dengan adanya keahlian untuk mengerjakan logam dengan sempurna.

Ciri-ciri Deutero Melayu :

  • Berkulit sawo matang agak kuning
  • Tubuh yang tak terlalu tinggi
  • Memiliki rambut yang lurus

Perpindahan yang mereka lakukan ke Kepulauan Indonesia ini bisa dilihat dari rute persebaran alat-alat yang mereka tinggalkan di beberapa kepulauan yang ada di Indonesia, yakni dengan berupa kapak persegi panjang. Peradaban ini bisa dengan mudah dijumpai di Malaka, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara Timur, bahkan di Filipina sekalipun.

Dalam masalah pengolahan tanah, mereka juga memiliki kemampuan yang cukup baik dalam membuat irigasi di tanah-tanah pertanian yang berhasil mereka ciptakan, dengan cara membabat hutan terlebih dahulu.

Bahkan, ras Deutro Melayu ini juga memiliki peradaban pelayaran yang jauh lebih maju dari para pendahulunya karena memang petualangan yang mereka lakoni sebagai seorang pelaut dengan dibantu oleh penguasaan yang mereka miliki terhadap ilmu perbintangan yang sudah dipelajari dan ditanamkan.

ras kulit hitam sebagai asal usul nenek moyang bangsa Indonesia

3. Melanesoid

Ras yang lain yang juga ada di Kepulauan Indonesia merupakan ras Melanesoid. Mereka itu tersebar di lautan Pasifik di pulau-pulau yang mana terletak di sebelah timur Papua dan benua Australia.

Di Kepulauan Indonesia, mereka sendiri tinggal di Papua. Bersama dengan Papua Nugini dan Bismarck, Solomon, New Caledonia dan Fiji, mereka semua itu termasuk ke dalam ras atau rumpun Melanesoid.

Ciri-ciri Melanesoid :

  • Berbadan kekar
  • Kulit yang berwarna kehitam-hitaman
  • Rambut keriting
  • Bibir tebal
  • Hidung yang mancung

Menurut dari Daldjoeni, suku bangsa Melanesoid sekitar sebanyak 70% menetap di Papua, sedangkan 30% yang lain tinggal di beberapa kepulauan yang ada di sekitar Papua dan Papua Nugini.

Pada awal mulanya, kedatangan dari bangsa Melanesoid yang ada di Papua ini berawal di saat zaman es terakhir, yakni pada tahun 70.000 SM. Di saat itu, Kepulauan Indonesia masih belum berpenghuni.

Di saat suhu turun hingga mencapai kedinginan yang maksimal, air laut menjadi membeku. Permukaan laut bahkan menjadi lebih rendah 100 meter dibandingkan dengan permukaan yang ada saat ini. Pada saat itulah muncul pulau-pulau yang baru. Adanya pulau yang muncul tersebut memudahkan makhluk hidup untuk bisa berpindah tempat dari Asia menuju ke kawasan Oceania.

Bangsa Melanesoid itu sendiri melakukan perpindahan ke timur hingga mencapai ke Papua, selanjutnya ke Benua Australia, yang sebelumnya menjadi satu kepulauan yang terhubung dengan Papua.

Pada saat itu, Bangsa Melanesoid mencapai hingga sebanyak 100 ribu jiwa dengan meliputi wilayah Papua dan Australia. Peradaban dari bangsa ini dikenal dengan nama paleolitikum.

Pada saat masa es berakhir dan air laut yang mulai naik lagi di tahun 5000 SM, kepulauan Papua dan Benua Australia menjadi terpisah seperti yang bisa kita lihat saat ini.

Asal mula bangsa Melanesia yakni Proto Melanesia yang merupakan penduduk pribumi di Jawa. Mereka itu merupakan manusia Wajak yang tersebar ke timur dan menduduki Papua, sebelum zaman es berakhir dan sebelum terjadi kenaikan permukaan laut yang ada pada saat itu.

Di Papua, manusia Wajak hidup secara berkelompok kecil di sepanjang muara sungai. Mereka hidup dengan cara menangkap ikan di sungai dan meramu tumbuh-tumbuhan serta akar-akaran, serta berburu di hutan belukar. Tempat tinggal yang dimiliki berupa perkampungan yang terbuat dari bahan-bahan ringan.

Rumah itu sebenarnya hanya berupa suatu kemah atau tadah angin yang sering didirikan menempel pada dinding gua yang besar. Kemah atau tadah angin itu hanya akan digunakan sebagai tempat untuk mereka tidur dan berlindung, sementara untuk kegiatan yang lain akan dilakukan di luar rumah.

Bangsa Proto Melanesoid itu sendiri terus terdesak oleh adanya keberadaan dari bangsa Melayu. Mereka yang belum sempat mencapai Kepulauan Papua melakukan suatu bentuk percampuran terhadah adanya ras baru tersebut.

Percampuran yang terjadi antara bangsa Melayu dengan bangsa Melanesoid ini mampu menghasilkan keturunan Melanesoid-Melayu, yang mana pada saat ini mereka menjadi penduduk di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

4. Negrito dan Weddid

Sebelum kedatangan kelompok Melayu tua dan muda, negeri kita sendiri sudah terlebih dahulu dimasuki oleh orang-orang Negrito dan Weddid.

Sebutan Negrito itu sendiri diberikan oleh orang Spanyol karena yang mereka jumpai itu orang yang memiliki kulit hitam, sangat mirip dengan jenis-jenis Negro.

Ciri-ciri Negrito :

  • Memiliki kulit yang gelap
  • Memiliki rambut keriting
  • Mata yang bundar
  • Berhidung lebar
  • Postur tubuh pendek

Sejauh mana kelompok Negrito itu memiliki tali darah dengan jenis-jenis Negro yang ada di Afrika serta kepulauan Melanesia (Pasifik), demikian halnya bagaimana sejarah perpindahan mereka, yang mana belum banyak diketahui secara pasti dan jelas.

Kelompok Weddid itu sendiri terdiri atas orang-orang yang memiliki kepala mesocephal dengan letak mata yang dalam, sehingga sangat tampak seperti berang, kulit yang berwarna cokelat tua dan tinggi rata-rata laki-lakinya adalah 155 cm.

Ciri-ciri Weddid :

  • Berkulit hitam
  • Memiliki postur tubuh sedang
  • Rambut yang keriting

Weddid itu sendiri artinya jenis Wedda yakni bangsa yang ada di pulau Ceylon (Sri Lanka). Persebaran orang-orang Weddid yang ada di Indonesia terbilang cukup luas, misal yang ada di Palembang dan Jambi (Kubu), di Siak (Sakai) dan di Sulawesi pojok tenggara (Toala, Tokea dan Tomuna).

Periode migrasi yang dilakukan berlangsung selama berabad-abad, yang mana kemungkinan mereka tersebut berasal dari 1 kelompok ras yang sama dan dengan budaya yang sama juga. Mereka itu merupakan nenek morang orang Indonesia yang ada saat ini.

Sekitar sebanyak 170 bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia merupakan bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia). Bahasa inilah yang selanjutnya dikelompokkan menjadi 2 oleh Sarasin, yaitu bahasa Aceh dan bahasa-bahasa di pedalaman Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Kelompok yang kedua merupakan bahasa Batak, Melayu standar, Jawa dan Bali. Kelompok bahasa kedua ini memiliki hubungan dengan bahasa Malagi yang ada di Madagaskar dan Tagalog yang ada di Luzon.

Persebaran geografis dari kedua bahasa ini menunjukkan jika para penggunanya merupakan para pelaut yang ada di masa dahulu yang mana telah memiliki peradaban yang jauh lebih maju. Di samping dari bahasa tersebut, juga ada bahasa Halmahera Utara dan Papua yang digunakan di pedalaman Papua dan bagian utara Pulau Halmahera.

3. Bangsa Primitif

Sebetulnya, sebelum kelompok bangsa Austronesia masuk ke wilayah Nusantara, sudah ada beberapa kelompok manusia purba yang sudah lebih daulu menempati wilayah tersebut.

Mereka adalah bangsa-bangsa primitif dengan budaya yang sangat sederhana. Mereka di antaranya adalah manusia pleistosin, suku wedoid, dan suku negroid.

  1. Manusia Pleistosin; Kehidupan manusia purba ini selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang sangat terbatas. Demikian juga dengan kebudayaannnya sehingga corak kehidupan manusia purba ini tidak dapat diikuti lagi, kecuali beberapa aspek saja.
  2. Suku Wedoid; Sisa-sisa suku Wedoid hingga kini masih ada dan dapat kita temukan. Mereka hidup meramu dan mengumpulkan makanan dari hasil hutan dan memiliki kebudayaan yang sangat sederhana. Suku Sakai di Siak dan suku Kubu di perbatasan Jambi dan Palembang adalah dua contoh peninggalan Suku Wedoid di masa kini.
  3. Suku Negroid; Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa-sisa kehidupan suku negroid. Namun, di pedalaman Malaysia dan Philipina, keturunan suku ini rupanya masih ada Suku Semang di Semenanjung Malaysia dan Suku Negrito di Philipina merupakan bukti nyatanya.

Nah, itulah artikel tentang asal usul nenek moyang Indonesia yang kami berhasil rangkum dari beberapa sumber. Sebagai kesimpulan kami telah mengambil poin-poin penting dari pembahasan ini yang antara lain:

  1. Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa dari daratan Yunan di China Selatan.
  2. Nenek moyang bangsa Indonesia dan nenek moyang bangsa lainnya di asia selatan berasal dari satu sumber yaitu bangsa Austronesia.
  3. Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Yuan terbagi menjadi 2 gelombang, yaitu gelombang pertama atau proto Melayu yang datang pada zaman batu tua (Neolitikum) dan gelombang kedua atau Deutro Melayu yang datang pada zaman perunggu.
  4. Terdapat beberapa kelompok manusia yang sudah menempati wilayah Indonesia jauh sebelum kedatangan bangsa Austronesia. Beberapa bangsa tersebut antara lain Manusia Pleistosin, Suku Wedoid, dan Suku Negroid. Ketiga suku tersebut juga merupakan bagian dari asal usul nenek moyang bangsa Indonesia yang tak bisa disisihkan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.