Khonghucu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Agama Khonghucu adalah istilah yang muncul sebagai akibat dari keadaan politik di Indonesia. Agama Khonghucu lazim dikaburkan makna dan hakikatnya dengan Konfusianisme sebagai filsafat.

Daftar isi
1 Sejarah
1.1 Konfusianisme sebagai agama dan filsafat
1.2 Agama Khonghucu pada zaman Orde Baru
1.3 Agama Khonghucu pada zaman Orde Reformasi
2 Hal-hal yang perlu diketahui dalam agama Khonghucu
3 Ajaran Konfusius
4 Intisari ajaran Khong Hu Cu
4.1 Falsafah Dasar
4.2 Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui)
4.3 Lima Sifat Mulia (Wu Chang)
4.4 Lima Etika (Wu Lun)
4.5 Delapan Kebajikan (Ba De)
5 Kitab suci
6 Definisi agama menurut agama Khonghucu
7 Nabi
7.1 Masa prasejarah (sebelum 2205 SM)
7.2 Zaman Dinasti Xia
7.3 Zaman Dinasti Shang
7.4 Zaman Dinasti Zhou

Sejarah


Konfusianisme sebagai agama dan filsafat

Konfusianisme muncul dalam bentuk agama di beberapa negara seperti Korea, Jepang, Taiwan, Hong Kong dan Tiongkok. Dalam bahasa Tionghoa, agama Khonghucu seringkali disebut sebagai Kongjiao (孔教) atau Rujiao (儒教).

Agama Khonghucu pada zaman Orde Baru

Di zaman Orde Baru, pemerintahan Soeharto melarang segala bentuk aktivitas berbau kebudayaaan dan tradisi Tionghoa di Indonesia. Ini menyebabkan banyak pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa menjadi tidak berstatus sebagai pemeluk salah satu dari 5 agama yang diakui. Untuk menghindari permasalahan politis (dituduh sebagai atheis dan komunis), pemeluk kepercayaan tadi kemudian diharuskan untuk memeluk salah satu agama yang diakui, mayoritas menjadi pemeluk agama Buddha, Islam, Katolik, atau Kristen. Klenteng yang merupakan tempat ibadah kepercayaan tradisional Tionghoa juga terpaksa mengubah nama dan menaungkan diri menjadi vihara yang merupakan tempat ibadah agama Buddha.

Agama Khonghucu pada zaman Orde Reformasi

Seusai Orde Baru, pemeluk kepercayaan tradisional Tionghoa mulai mendapatkan kembali pengakuan atas identitas mereka sejak masa kepemimpinan presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui UU No 1/Pn.Ps/1965 yang menyatakan bahwa agama-agama yang banyak pemeluknya di Indonesia antara lain Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Hal-hal yang perlu diketahui dalam agama Khonghucu


  • Mengangkat Konfusius sebagai salah satu nabi (先知)
  • Menetapkan Litang (Gerbang Kebajikan) sebagai tempat ibadah resmi, namun dikarenakan tidak banyak akses ke litang, masyarakat umumnya menganggap klenteng sebagai tempat ibadah umat Khonghucu.
  • Menetapkan Sishu Wujing (四書五經) sebagai kitab suci resmi
  • Menetapkan tahun baru Imlek, sebagai hari raya keagamaan resmi
  • Hari-hari raya keagamaan lainnya; Imlek, Hari lahir Khonghucu (27-8 Imlek), Hari Wafat Khonghucu (18-2-Imlek), Hari Genta Rohani (Tangce) 22 Desember, Chingming (5 April), Qing Di Gong (8/9-1 Imlek) dsb.
  • Rohaniwan; Jiao Sheng (Penyebar Agama), Wenshi (Guru Agama), Xueshi (Pendeta), Zhang Lao (Tokoh/Sesepuh).
  • Kalender Imlek terbukti dibuat oleh Nabi Khongcu (Konfusius). Nabi Khongcu mengambil sumbernya dari penangalan dinasti Xia (2200 SM) yang sudah ditata kembali oleh Nabi Khongcu.

Tahun Zaman Nabi Khongcu Tahun Baru jatuh 22 Desember. 4 February pergantian musim dingin ke musim semi. Jadi imlek bukan perayaan musim semi. Perkiraan tanggal 1 imlek, rentang waktunya 15 hari kedepan dan 15 hari kebelakang dari 4 Pebruary tersebut.Tiap 4 atau 5 tahun sekali ada bulan ke 13, untuk menggenapi agar perhitungan tersebut tidak berubah.

Ajaran Konfusius


Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau Konfusius) dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao (儒教) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan dia hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang dia sabdakan: “Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut”. Meskipun orang kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga etika manusia. Sebenarnya kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut “Ren Dao” dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah “Tian” atau “Shang Di”.

Ajaran falsafah ini diasaskan oleh Kong Hu Cu yang dilahirkan pada tahun 551 SM Chiang Tsai yang saat itu berusia 17 tahun. Seorang yang bijak sejak masih kecil dan terkenal dengan penyebaran ilmu-ilmu baru ketika berumur 32 tahun, Kong Hu Cu banyak menulis buku-buku moral, sejarah, kesusasteraan dan falsafah yang banyak diikuti oleh penganut ajaran ini. Ia meninggal dunia pada tahun 479 SM.

Konfusianisme mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi dengan baik. Penganutnya diajar supaya tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini. Ajaran ini merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajar bagaimana manusia bertingkah laku.

Konfusius tidak menghalangi orang Tionghoa menyembah keramat dan penunggu tetapi hanya yang patut disembah, bukan menyembah barang-barang keramat atau penunggu yang tidak patut disermbah, yang dipentingkan dalam ajarannya adalah bahwa setiap manusia perlu berusaha memperbaiki moral.

Ajaran ini dikembangkan oleh muridnya Mengzi ke seluruh Tiongkok dengan beberapa perubahan.

Intisari Ajaran Khong Hu Cu


Falsafah Dasar

1. Tian

Tian adalah Maha Pencipta alam semesta. Manusia tidak dapat memahami hakikat sejati Tian sehingga Ia dilambangkan dengan ciri-ciri berikut:

Yuan : yang selalu hadir.
Heng : yang selalu berhasil.
Li : yang selalu membawa berkah.
Zhen : yang selalu adil, tidak membeda-bedakan.

2. Xing

Xing adalah jati diri manusia, kodrat, yaitu perwujudan firman Tian (Tian Ming) dalam diri manusia. Xing menghubungkan Tian dengan segala ciptaannya. Manusia sulit mengenali xingnya karena tertutup oleh emosi, napsu; maka manusia harus dibimbing dengan pedoman etika. Meskipun xing setiap manusia berbeda-beda, tetapi memiliki satu persamaan yaitu Ren (perikemanusiaan).

3. Ren

Ren atau perikemanusiaan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Zhong (setia) dan Shu (solidaritas).

Zhong merupakan kependekan dari istilah zhong yi Tian (lit. setia kepada Tuhan), yaitu berserah diri ,lahir dan batin kepada Tuhan.
Shu merupakan kependekan dari istilah shu yi ren (lit. solider kepada sesama manusia atau “cinta kasih sejati”.

Terdapat dua istilah yang menerangkan arti Shu lebih lanjut.

Ji shuo bu yi wu shi yi ren, yaitu “apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan terhadap orang lain”. (Lunyu)
Ji yi li er li ren, ji yi da er da ren, yaitu “kalau ingin tegak, buatlah orang lain juga tegak; jika ingin maju, buatlah orang lain juga maju”.

Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui)

Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui) dalam agama Khonghucu:

  1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
  2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
  3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
  4. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
  5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
  6. Sepenuh Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
  7. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
  8. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)

Lima Sifat Mulia (Wu Chang)

Lima Sifat Kekekalan (Wu Chang):

1. Ren – Cinta Kasih

yaitu sifat mulia pribadi seseorang terhadap moralitas, cinta kasih, kebajikan, kebenaran, tahu-diri, halus budi pekerti, tanggang rasa, perikemanusiaan. Ini merupakan sifat manusia yang paling mulia dan luhur.

2. Yi – Kebenaran/ Keadilan/ Kewajiban

yaitu sifat mulia pribadi seseorang dalam solidaritas serta senantiasa membela kebenaran. Bila Ren sudah ditegakkan, maka Yi harus menyertai.

3. Li – Kesusilaan/ Kepantasan

yaitu sifat mulia pribadi seseorang yang bersusila, sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. Semula Li hanya dikaitkan dengan perilaku yang benara dalam upacara keagamaan, tetapi selanjutnya diperluas hingga ke adat-istiadat dan tradisi dalam masyarakat.

4. Zhi – Bijaksana

yaitu sifat mulia pribadi seseorang yang arif bijaksana dan penuh pengertian. Kong Hu Cu merangkaikan munculnya kebijaksanaan seseorang dengan selalu sabar dalam mengambil tindakan, penuh persiapan, melihat jauh ke depan, serta memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

5. Xin – Dapat dipercaya

yaitu sifat pribadi seseorang yang selalu percaya diri, dapat dipercaya orang lain, dan senantiasa menetapti janji.

Lima Etika (Wu Lun)

Lima hubungan norma etika dalam bermasyarakat merupakan bentuk dasar interaksi manusia. Dengan menjalani kehidupan yang sesuai dengan asas Wu Lun, seseorang akan menikmati keselarasan dalam kepribadiannya maupun dalam hubungannya dengan masyarakat.

  1. Hubungan antara Pimpinan dan Bawahan
  2. Hubungan antara Suami dan Isteri
  3. Hubungan antara Orang tua dan anak
  4. Hubungan antara Kakak dan Adik
  5. Hubungan antara Kawan dan Sahabat

Delapan Kebajikan (Ba De)

Delapan Kebajikan (Ba De):

  1. Xiao – Laku Bakti; yaitu berbakti kepada orangtua, leluhur, dan guru.
  2. Ti – Rendah Hati; yaitu sikap kasih sayang antar saudara, yang lebih muda menghormati yang tua dan yang tua membimbing yang muda.
  3. Zhong – Setia; yaitu kesetiaan terhadap atasan, teman, kerabat, dan negara.
  4. Xin – Dapat Dipercaya
  5. Li – Susila; yaitu sopan santun dan bersusila.
  6. Yi – Bijaksana; yaitu berpegang teguh pada kebenaran.
  7. Lian – Suci Hati; yaitu sifat hidup yang sederhana, selalu menjaga kesucian, dan tidak menyeleweng/ menyimpang.
  8. Chi – Tahu Malu; yaitu sikap mawas diri dan malu jika melanggar etika dan budi pekerti.

Kitab Suci


Kitab suci agama Khonghucu dibagi menjadi dua kelompok:

  • Wu Jing (五 經) (Kitab Suci yang Lima) yang terdiri atas:
    1. Kitab Sanjak Suci 詩經 Shi Jing
    2. Kitab Dokumen Sejarah 書經 Shu Jing
    3. Kitab Wahyu Perubahan 易經 Yi Jing
    4. Kitab Suci Kesusilaan 禮經 Li Jing
    5. Kitab Chun-qiu 春秋經 Chunqiu Jing
  • Si Shu (Kitab Yang Empat) yang terdiri atas:
    1. Kitab Ajaran Besar – 大學 Da Xue
    2. Kitab Tengah Sempurna – 中庸 Zhong Yong
    3. Kitab Sabda Suci – 論語 Lun Yu
    4. Kitab Mengzi – 孟子 Meng Zi

Selain itu masih ada satu kitab lagi: Xiao Jing (Kitab Bhakti).

Definisi agama menurut agama Khonghucu


Berdasarkan kitab Zhong Yong agama adalah bimbingan hidup karunia Tian/Tuhan Yang Maha Esa (Tian Shi) agar manusia mampu membina diri hidup di dalam Dao atau Jalan Suci, yakni “hidup menegakkan Firman Tian yang mewujud sebagai Watak Sejati, hakikat kemanusiaan”. Hidup beragama berarti hidup beriman kepada Tian dan lurus satya menegakkan firmanNya.

Nabi


Para nabi (儒教聖人) dalam Ru Jiao terbagi dalam beberapa zaman seperti yang tercantum di bawah ini.

Masa prasejarah (sebelum 2205 SM)

  • Nabi Purba Fu Xi (Hanzi:扶羲), hidup sekitar 2952 – 2836 SM.
    Dia menerima wahyu He tu (peta sungai) yang tergambar di punggung seekor hewan gaib Long ma, yang keluar dari dalam Sungai Huang Ho. Lambang wahyu tersebut kini dikenal sebagai lambang Bagua. Nabi Nu Wa (Hokkien:Lie Kwa), istri Fuxi, menciptakan Hukum Pernikahan.
  • Nabi Purba Shen Nong (Hanzi:神農), hidup sekitar 2838 – 2698 SM.
  • Nabi Purba Huang Di (Hanzi:黃帝), hidup sekitar 2698 – 2596 SM.
    Istrinya, Nabi Lei Zu adalah penemu sutra yang ditenunnya dari kepompong ulat sutra, dan bersama Huang Di menciptakan alat tenun, pakaian Hian Ik (pakaian harian) dan Hong Siang (pakaian upacara).
  • Nabi Purba (堯) Yao 2357 – 2255 SM.
    Pada zamannya dilakukan penyempurnaan perhitungan kalender dengan menambah bulan kabisat Imlek, sehingga setiap tanggal 15 selalu jatuh tepat ketika bulan sedang bulat penuh.
  • Nabi Purba (舜) Shun 2255 – 2205 SM.

Zaman Dinasti Xia

  • Nabi Purba (大 禹) Da Yu 2205 – 2197 SM.
    Sewaktu berada di tepian Sungai Luohe, dalam rangka tugasnya sebagai pengawas penanggulangan banjir, Yu melihat seekor kura-kura gaib muncul dari dalam air. Guratan-guratan di punggung kura-kura itu menyadarkan dirinya akan wahyu ilahi yang kemudian dinamakan Luo Shu (Kitab Sungai Luohe) yang menjadi cikal bakal houtian bagua. Pada masa pemerintahannya, versi pertama dari falsafah perubahan yang disebut Lian Shan Yi (Rangkaian Gunung) dan Hong Fan ditulis.

Zaman Dinasti Shang

  • Nabi Purba Shang Tang (Hanzi=商 湯), memerintah tahun 1675 – 1646 SM.
  • Nabi Wen Wang (Hanzi=文王).
    Menerima wahyu ilahi Dan Shu (Kitab Dan) sehingga ia menemukan lambang houtian bagua dan mengembangkan lebih jauh falsafah perubahan.
  • Nabi Jiang Ziya.

Zaman Dinasti Zhou

  • Nabi Wu Wang (Hanzi=武王).
    • Ia merupakan raja pertama Dinasti Zhou. Pada tahun ke-13 pemerintahannya, Wu Wang menerima persembahan kitab Hong Fan dari Jizi, bekas menteri Dinasti Shang, yang menyatakan bahwa kitab kuno tersebut merupakan warisan dari zaman Kaisar Yu yang disimpan olehnya.
  • Nabi Zhou Gong (Hanzi=周公).
    • Putera keempat Wen Wang. Ia melanjutkan karya ayahnya membenahi falsafah perubahan dengan menambahkan bagian-bagian baru (seperti komentar Xiang), sehingga versi ketiga ini dikenal sebagai Zhou Yi (falsafah perubahan Dinasti Zhou).
    • Ia juga meletakkan dasar-dasar tata-upacara pemujaan dan kesusilaan dalam ajaran Ru.
  • Nabi Besar (孔 子) Kong Zi 551 – 479 SM.

Kristen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kekristenan

Opera Snapshot_2017-11-30_213139_id.wikipedia.org

Agama Kristen atau Kristianitas adalah sebuah agama Abrahamik monoteistik berasaskan riwayat hidup dan ajaran Yesus Kristus, yang merupakan inti sari agama ini. Agama Kristen adalah agama terbesar di dunia, dengan lebih dari 2,4 miliar penganut, atau 33% dari populasi global, yang disebut Orang Kristen atau Umat Kristiani. Orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat umat manusia yang datang sebagai Mesias (Kristus) sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab Perjanjian Lama.

Teologi Kristen terangkum dalam syahadat-syahadat seperti Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nikaia. Syahadat atau pengakuan-pengakuan iman ini berisi pernyataan bahwa Yesus telah menderita sengsara, wafat, dimakamkan, turun ke alam maut, dan bangkit dari maut, untuk mengaruniakan kehidupan kekal kepada siapa saja yang percaya kepadanya dan mengandalkannya demi beroleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Syahadat-syahadat ini selanjutnya menyatakan bahwa Yesus secara jasmaniah naik ke surga, tempatnya memerintah bersama Allah Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, dan bahwa ia kelak datang kembali untuk menghakimi orang-orang hidup dan orang-orang mati serta mengaruniakan kehidupan kekal bagi para pengikutnya. Inkarnasi, karya pelayanan, penyaliban, dan kebangkitannya seringkali disebut “Injil”, yang berarti “kabar baik”. Injil juga berarti catatan-catatan riwayat hidup dan ajaran Yesus, empat di antaranya—Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes—dianggap kanonik dan dijadikan bagian dari Alkitab Kristen.

Agama Kristen adalah suatu agama Abrahamik yang bermula sebagai sebuah sekte agama Yahudi era Bait Allah kedua pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi. Sekte ini berasal dari Yudea dan menyebar pesat ke Eropa, Suriah, Mesopotamia, Asia Kecil, Transkaukasia, Mesir, Etiopia, serta India, dan pada akhir abad ke-4 telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Sesudah Zaman Penjelajahan, agama Kristen menyebar ke Benua Amerika, Australasia, Afrika sub-Sahara dan ke segenap penjuru dunia melalui karya misi dan kolonialisme. Agama Kristen telah berperan besar dalam pembentukan Peradaban Dunia Barat.

Sepanjang sejarahnya, agama Kristen telah mengalami skisma dan pertentangan teologis yang mengakibatkan munculnya bermacam-macam gereja dan denominasi. Tiga cabang agama Kristen yang terbesar di dunia adalah Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, dan bermacam-macam denominasi dari Mazhab Protestan. Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur saling memutuskan hubungan persekutuan dalam peristiwa Skisma Timur–Barat pada 1054, sementara Mazhab Protestan muncul pada era reformasi di abad ke-16 sebagai pecahan dari Gereja Katolik.

Daftar isi
1 Gambaran umum agama Kristen
1.1 Dasar-dasar Iman
1.2 Pergerakan
2 Ibadah
2.1 Liturgi
2.2 Sakramen
2.3 Kalender Liturgis
2.4 Simbol
2.5 Baptisan
2.6 Doa
3 Sejarah agama Kristen
3.1 Lahirnya Agama Kristen
3.2 Gereja perdana
3.3 Masa kegelapan
3.4 Perpecahan
4 Sejarah agama Kristen di Indonesia
4.1 Sebelum kolonialisme Belanda
4.2 Saat kolonialisme Belanda
4.3 Setelah kolonialisme Belanda
5 Cabang-cabang utama

Gambaran Umum Agama Kristen


Dasar-dasar Iman

515px-Cristo_crucificado

Crucifixion, menggambarkan kematian Yesus di kayu salib, lukisan dari D. Velázquez, pada abad ke 17.

Agama Kristen termasuk salah satu dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus dari Nazaret ke surga, sebagaimana dijelaskan dalam Perjanjian Baru, umat Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam dari Perjanjian Lama (atau Kitab suci Yahudi). Kekristenan adalah monoteisme, yang percaya akan tiga pribadi (secara teknis dalam bahasa Yunani hypostasis) Tuhan atau Tritunggal. Tritunggal dipertegas pertama kali pada Konsili Nicea Pertama (325) yang dihimpun oleh Kaisar Romawi Konstantin I.

Pemeluk agama Kristen mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat, dan memegang ajaran yang disampaikan Yesus Kristus. Dalam kepercayaan Kristen, Yesus Kristus adalah pendiri jemaat (gereja) dan kepemimpinan gereja yang abadi (Injil Matius 16: 18-19)

Umat Kristen juga percaya bahwa Yesus Kristus akan datang untuk kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim akan dunia ini. Sebagaimana agama Yahudi, mereka menjunjung ajaran moral yang tertulis dalam Sepuluh Perintah Tuhan.

Kata Kristen sendiri memiliki arti “pengikut Kristus atau “pengikut Yesus”. Murid-murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristen ketika mereka berkumpul di Antiokia (Kisah Para Rasul 11: 26b).

Pergerakan

Sepeninggal Yesus, kepemimpinan orang Kristen diteruskan berdasarkan penunjukan Petrus oleh Yesus. Setelah Petrus meninggal kepemimpinan dilanjutkan oleh para uskup yang dipimpin oleh Uskup Roma. Pengakuan iman mereka menyebutkan kepercayaan akan Allah Tritunggal yang Mahakudus, yakni Bapa, Anak (Yesus Kristus), Roh kudus, Gereja yang satu, kudus, katolik, apostolik; pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal.

Setelah itu, Gereja Kristen mengalami dua kali perpecahan yang besar: yang pertama terjadi pada tahun 1054 antara Gereja Barat yang berpusat di Roma (Gereja Katolik Roma) dengan Gereja Timur (Gereja Ortodoks Timur) yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki). Yang kedua terjadi antara Gereja Katolik dengan Gereja Protestan pada tahun 1517 ketika Martin Luther memprotes ajaran Gereja yang dianggapnya telah menyimpang dari kebenaran.

Banyak denominasi Gereja kini menyadari bahwa perpecahan itu justru menyimpang dari pesan Yesus yang mendoakan kesatuan di antara para pengikutnya.

“ “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” ”

— Injil Yohanes 17:20-21
Doa ini kemudian menjadi dasar dari gerakan ekumenisme yang dimulai pada awal abad ke-20.

Ibadah


800px-Thebible33

Contoh benda-benda yang digunakan umat Kristen dan Katolik untuk beribadah—Alkitab, sebuah Salib, and sebuah Rosario.

Liturgi

Yustinus Martir menggambarkan liturgi (tata cara urutan ibadah) Kristen di First Apology (c. 150) kepada Penguasa Antoninus Pius pada abad ke-2, dan penggambarannya masih relevan untuk menggambarkan struktur dasar dari liturgi ibadah Kristen. Yustinus menggambarkan, orang Kristen berkumpul untuk ibadah bersama pada hari Minggu, yaitu hari Yesus bangkit dari kubur. Pembacaan Firman Tuhan diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi terutama dari Injil. Pada akhir dari liturgi ibadah, diadakan Perjamuan Kudus, untuk memperingati pengorbanan Yesus.

Namun gereja pada saat ini juga ada yang mengadakan ibadah selain hari Minggu. Gereja Advent Hari Ketujuh berkumpul pada hari Sabtu. Gereja Pentakosta atau Karismatik mengikuti “tuntunan Roh Kudus” dan tidak memiliki liturgi yang tertulis, walaupun ada tata cara urutan umum kebiasaan ibadah yang biasanya dari minggu ke minggu mirip. Gereja Evangelical menggabungkan Pop dan Rock ke dalam ibadahnya, sementara beberapa Gereja yang lain melarang sama sekali penggunaan alat musik dalam ibadah, seperti Gereja Ortodoks.

Ibadah dapat divariasikan untuk acara-acara khusus, seperti baptisan, pernikahan, atau hari raya Kristen seperti Natal dan Paskah. Ada pula ibadah untuk anak-anak, yang biasanya disebut Sekolah Minggu atau Ibadah Anak.

Fractio-panis1

Sakramen Ekaristi

Sakramen

Sakramen adalah ritus Agama Kristen yang menjadi perantara (menyalurkan) rahmat ilahi. Kata ‘sakramen’ berasal dari Bahasa Latin sacramentum yang secara harfiah berarti “menjadikan suci”. Salah satu contoh penggunaan kata sacramentum adalah sebagai sebutan untuk sumpah bakti yang diikrarkan para prajurit Romawi; istilah ini kemudian digunakan oleh Gereja dalam pengertian harfiahnya dan bukan dalam pengertian sumpah tadi.

Kalender Liturgis

Gereja Katolik Roma, Gereja Timur, Anglikan, dan Gereja Protestan mengatur ibadah dalam jadwal kalender liturgis. Hal ini termasuk hari-hari suci, misalnya Hari Perenungan yang memperingati sebuah kejadian di dalam hidup Yesus Kristus, hari-hari puasa, atau perayaan-perayaan biasa seperti hari memperingati orang-orang kudus. Komunitas Kristen yang tidak mengikuti tradisi kalender liturgis biasanya masih tetap merayakan perayaan-perayaan tertentu, seperti Natal, Paskah, dan Kenaikan Yesus ke Surga. Beberapa Gereja sama sekali tidak memakai kalender liturgis.

Simbol

Salib, yang saat ini adalah simbol Kekristenan yang paling mudah dikenali di seluruh dunia, telah digunakan sebagai simbol Kristen pada zaman sangat awal. Lambang ikan juga nampaknya berada di urutan teratas lambang favorit setelah salib. Lambang ikan dipakai oleh karena kemiripan 5 huruf konsonan yang membentuk kata ikan (Ichthys), yang mana dapat dipakai sebagai singkatan untuk menggambarkan Yesus: Iesous Christos Theou Yios Soter, artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Penyelamat.

Orang Kristen awal mula suka untuk menghiasi makam-makam mereka dengan ukir-ukiran dan gambar mengenai Yesus, orang-orang kudus, kejadian dari Alkitab, dan perlambang-perlambang yang lain. Orang-orang Kristen awal tidak memiliki pemikiran negatif menganai gambar, ukiran, maupun patung. Simbol-simbol yang lain meliputi burung merpati (simbol Roh Kudus), anak domba (simbol pengorbanan Yesus), pohon anggur beserta ranting-rantingnya (simbol bahwa orang Kristen harus memiliki hubungan secara pribadi dengan Yesus) dan banyak yang lain. Semua ini diambil dari ayat-ayat Alkitab Perjanjian Baru.

Baptism-of-Christ-xx-Francesco-Alban

Lukisan The Baptism of Christ oleh Francesco Albani.

Baptisan

Baptisan merupakan sebuah ritual dan sakramen menggunakan air, yang menandakan seseorang berkomitmen menjadi seorang Kristen dan tergabung menjadi anggota Gereja. Ada gereja yang memperbolehkan baptisan dengan air yang dipercikkan (misalnya Gereja Kristen Protestan, Gereja Katolik dan Ortodoks), ada gereja yang mengharuskan baptisan dilakukan dengan diselamkan ke dalam air seperti Yesus (misalnya Gereja Pantekosta dan Karismatik).

Doa

Pengajaran Yesus tentang doa pada Khotbah di Bukit menggambarkan bahwa doa secara Kristiani hanya memakai sedikit faktor eksternal, atau tidak ada sama sekali, seperti misalnya harus menggambar simbol-simbol tertentu atau harus menyembelih hewan-hewan tertentu terlebih dahulu sebelum berdoa. Dalam doa secara Kristiani, semua perilaku-perilaku yang menekankan kepada “teknik-teknik berdoa” yang menggunakan faktor eksternal seperti yang tadi disebutkan biasanya dituduh sebagai “pagan” (paganisme, penyembahan berhala). Karena itu, dalam doa secara Kristiani, yang ditekankan adalah cukup hanya perlu percaya kepada kebaikan Tuhan ketika berdoa. Di seluruh Perjanjian Baru, penekanan terhadap kebebasan untuk datang kepada Tuhan ini pun ditekankan. Keyakinan ini harus dilihat dari sudut pandang kepercayaan Kristen terhadap hubungan yang unik antara orang percaya dengan Yesus, lewat Roh Kudus.

Dalam tradisi lanjutan, beberapa gerakan sebelum berdoa dianjurkan, seperti misalnya membuat tanda salib, berlutut, atau membungkuk. Kebiasaan melipat tangan, menyatukan kedua tangan di depan dada, atau mengangkat tangan pun terkadang sering dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi ketika berdoa dan mengekspresikan isi doa.

Sejarah agama Kristen


Lahirnya Agama Kristen

Adoration_of_the_shepherds_reni

Adoration of the Shepherds, lukisan oleh Guido Reni, pada abad ke 17.

Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4-8 SM, pada masa kekuasaan raja Herodes. Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan, Maria, yang dikandung oleh Roh Kudus. Ia dibesarkan di Nazaret secara adat Yahudi. Sejak usia tiga puluh tahun, selama tiga tahun Yesus berkhotbah dan berbuat mukjizat pada banyak orang, bersama keduabelas muridnya. Yesus yang semakin populer dibenci oleh para pemimpin orang Yahudi, yang kemudian berkomplot untuk menyalibkan Yesus. Yesus disalib pada usia 33 tahun dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga setelah kematiannya. Setelah kebangkitannya, Yesus masih tinggal di dunia selama empat puluh hari, sebelum kemudian naik ke surga.

Gereja Perdana

Inside_of_Saint_Ananias

Kapel Santo Ananias, Damaskus, Suriah, salah satu contoh terawal dari rumah ibadat agama Kristen; didirikan pada abad ke-1 M

800px-Ephesus_IchthysCrop

Sebuah lambang iktus bundar perdana, terbentuk dari huruf-huruf ΙΧΘΥΣ yang saling tumpang tindih sehingga menyerupai sebuah roda. Efesus, Asia Kecil.

1280px-Kadisha_Valley_cross

Wadi Qadisya, Lebanon, lokasi dari beberapa biara Kristen tertua di dunia.

Agama Kristen bermula sebagai sebuah sekte agama Yahudi di kawasan Levant, Timur Tengah, pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi. Selain agama Yahudi era bait Allah kedua, pengaruh-pengaruh keagamaan utama yang berdampak pada agama Kristen perdana adalah Majusi dan Gnostik.

Setelah naiknya Yesus Kristus ke surga, rasul-rasul mulai menyebarkan ajaran Yesus ke mana-mana, dan sebagai hasilnya, jemaat pertama Kristen, sejumlah sekitar tiga ribu orang, dibaptis. Namun, pada masa-masa awal berdirinya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu. Banyak pendiri gereja mula-mula yang menjadi korban kekejaman kekaisaran Romawi dengan menjadi martir, yaitu rela disiksa maupun dihukum mati demi mempertahankan imannya, salah satu contohnya adalah Ignatius dari Antiokhia yang dihukum mati dengan dijadikan makanan singa.

Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, di mana terdapat konsep ‘balas jasa langsung’. Namun dengan gencarnya para rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan agama Kristen. Maka, pada masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen. Penyebar utama agama Kristen pada masa itu adalah Rasul Paulus, yang paling gencar menyebarkan ajaran Kristen ke berbagai pelosok dunia.

Masa Kegelapan

Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284), mulai dari Kaisar Commodus hingga Kaisar Diokletianus. Pada masa inilah orang-orang masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati. Hingga akhirnya pada tahun 313, Kaisar Konstantinus I melegalkan agama Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya, Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama Kristen sebagai agama negara.

Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat. Namun Gereja juga mulai terpecah-pecah dengan munculnya berbagai aliran (bidah). Salah satu upaya untuk menekan bidaah adalah dengan diadakannya Konsili Nicea yang pertama pada tahun 325 M. Konsili Nicea mencetuskan pengakuan iman umat Kristen keseluruhan pertama kali, sebagai tanda persatuan Kristen universal yang dibedakan dari umat-umat Kristen yang bidaah. Salah satu contohnya adalah bidaah Arianisme, yang merupakan salah satu krisis bidaah terbesar saat itu yang menjadi alasan utama diadakannya Konsili Nicea yang pertama.

Ketika Kerajaan Romawi runtuh dan tercerai-berai, Gereja Kristen tetap bertahan. Pada abad ke-11 terjadilah Perang Salib, yang dianggap sebagai perang agama antara Kristen dan Islam. Dicetuskan pertama kali oleh Paus Urbanus II atas permohonan Kaisar Alexius I Komnenus dari Kekaisaran Bizantium, Perang Salib I bertujuan merebut kembali kota suci Yerusalem dari kekuasaan Islam, yang merupakan tempat penting umat Kristen sebagai tujuan ziarah saat itu.

Bagian timur dari Kerajaan Romawi, bertahan sebagai Gereja yang disebut Yunani atau Ortodoks, yang mewartakan kabar gembira di Rusia dan memisahkan diri dari belahan barat yang berada di bawah pimpinan Gereja Roma. Pemisahan ini terjadi pada tahun 1054 (lihat: Skisma Timur-Barat).

Sementara itu, pada tahun 1460 penemuan percetakan oleh Gutenberg membuat Kitab Suci terjangkau bagi semua orang. Sebelumnya, Kitab Suci dibatasi oleh Gereja kepada umat dengan tujuan untuk menekan bidaah yang merupakan salah satu krisis besar dalam tubuh Gereja saat itu. Kitab Suci hanya dibacakan di Gereja dan menjadi sumber kotbah.

Saat itu, banyak pihak-pihak tidak bertanggungjawab memanfaatkan kedudukan di dalam Gereja Barat (Katolik) sebagai sumber kekuasaan, sehingga secara tidak langsung mencoreng nama baik Gereja. Pejabat-pejabat tinggi di dalam Gereja semakin terpengaruh untuk mementingkan kepentingan duniawi sehingga semakin menyeleweng dari ajaran dasar Gereja Katolik. Banyak oknum yang menduduki posisi penting di dalam Gereja menggunakan kekuasaannya secara semena-mena sehingga merugikan banyak umat saat itu. Hal ini membuat banyak umat Kristen kecewa dan memprotes serta menuntut pembaharuan. Banyak umat yang berpikir bahwa salah satu cara mendatangkan pembaharuan di dalam Gereja ialah dengan memberikan Kitab Suci kepada semua orang.

Perpecahan

95Thesen

Pembukaan dari 95 dalil Luther.

Puncak dari penyalahgunaan ajaran Gereja diawali dengan penjualan surat indulgensi oleh gereja kepada masyarakat. Praktik ini sendiri sebenarnya bertentangan dengan ajaran iman Gereja Katolik. Martin Luther, seorang rahib, memutuskan untuk melakukan pembaharuan dengan melakukan pemberontakan terhadap Gereja Katolik dengan memakukan 95 dalil Luther di pintu Gereja Kastil di Wittenberg, Jerman, 31 Oktober 1517, dan membangun gereja tandingan baru. Sedangkan Ignatius Loyola, pendiri ordo Yesuit dalam Gereja Katolik, berusaha melakukan pembaharuan dari dalam, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan teologi Kristen yang ketat kepada para klerus, terutama dalam kepatuhan penuh pada otoritas dan ajaran Gereja, agar praktik korup dalam Gereja berkurang dan tidak menjadi-jadi. Konsili Trente merupakan konsili yang diadakan sebagai reaksi dari reformasi Martin Luther, di mana reformasi Martin Luther dianggap oleh Gereja Katolik sebagai tindakan yang memperparah kondisi kekristenan. Dalam Konsili Trente-lah ajaran iman Gereja Katolik dipertegas (termasuk penegasan kanon Alkitab Katolik) demi menekan dan mengurangi berbagai macam penyalahgunaan yang sewenang-wenang dalam tubuh Gereja.

Ketika Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci menjadi bahasa Jerman, pengikut-pengikutnya mulai memiliki pandangan yang berbeda-beda akan Kitab Suci tersebut, lalu terjadilah pertentangan penafsiran antara umat satu dengan yang lain, salah satu kasusnya adalah pertentangan antara denominasi protestan reformed-nya Zwingli dan denominasi anabaptis, reformed-nya Calvinis dengan Arminian, dan masih banyak lagi. Inilah yang membuat agama Kristen Protestan sekarang banyak terbagi-bagi lagi menjadi denominasi-denominasi lagi.

Sejarah agama Kristen di Indonesia


Perkembangan Agama Kristen di Indonesia dapat dibagi menjadi 3 zona waktu.

  1. Sebelum kolonialisme Belanda
  2. Saat kolonialisme Belanda
  3. Setelah kolonialisme Belanda

Sebelum Kolonialisme Belanda

Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ke-7 di Sumatera Utara. Kota Barus yang dahulu disebut sebagai negeri Bancluur/Fansur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia.

Saat Kolonialisme Belanda

Katedral di Jakarta

Katedral di Jakarta.

Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah, Katolik Roma pertama tiba pada tahun 1534, di kepulauan Maluku melalui orang Portugis yang dikirim untuk eksplorasi. Fransiskus Xaverius, misionaris Katolik Roma dan pendiri Ordo Yesuit bekerja di kepulauan Maluku pada tahun 1546 sampai tahun 1547. Namun ketika Belanda mengalahkan Portugis tahun 1605, Belanda mengusir para misionaris Katolik dan memperkenalkan Kristen Protestan (dari aliran Calvinist Dutch Reformed Church), sehingga terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran.

Perkembangan Kekristenan di Indonesia pada zaman itu cukup lambat. Hal ini dikarenakan ajaran Kalvinisme merupakan aliran agama Kristen yang memerlukan pendalaman Alkitab yang mendalam, sementara edisi Alkitab saat itu belum ada yang berbahasa Indonesia. Lagipula, VOC sebagai kendaraan Belanda untuk masuk dan menguasai Indonesia saat itu adalah sebuah perusahaan sekuler dan bukan perusahaan yang cukup religius, sehingga tidak mendukung penyebaran agama yang dilakukan oleh misionaris Belanda sendiri. Setelah pengaruh VOC mulai tenggelam pada tahun 1799, pemerintah Belanda mulai memperbolehkan penyebaran agama dengan lebih leluasa. Orang Kristen aliran Lutheran dari Jerman yang lebih toleran dan tidak memaksa pemeluknya untuk mempelajari agama Kristen dengan sedemikian dalam, mulai memanfaatkan perizinan tersebut untuk mulai menyebarkan agama di antara orang Batak di Sumatera pada tahun 1861, dan misionari Kristen Belanda dari aliran Rhenish juga menyebarkan agama di Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah.

Setelah Kolonialisme Belanda

Pada abad ke-20 setelah Belanda pergi dari Indonesia, agama Protestan dan Katolik mulai berkembang pesat. Hal ini dimulai oleh sebuah keadaan pada tahun 1965, ketika terjadi peralihan kekuasaan Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto. Saat itu, Komunisme (dan Atheisme) merupakan hal yang dilarang oleh pemerintah. Semua orang-orang yang tidak beragama, langsung dicap Atheis, dan dengan demikian sangat mudah untuk dituduh sebagai pengikut Komunis. Saat itu, gereja dari berbagai aliran mengalami pertumbuhan jemaat yang pesat, terutama dari orang-orang (sebagian besar beretnis Tionghoa yang berasal dari Cina, yang merupakan negara Komunis) yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan pemerintah mengenai Komunisme dan Atheisme pada saat itu.

Pada akhir abad ke 20 sampai awal abad 21, banyak misionaris dari Amerika yang menyebarkan aliran Evangelican dan Pentecostal. Aliran yang sering disebut “Karismatik” ini merupakan aliran yang dianggap “modern” karena menggabungkan antara Kristen tradisional dengan pola pikir modern pada zaman ini.

Cabang-cabang Utama


Opera Snapshot_2017-11-30_214535_id.wikipedia.org

Agama Kristen termasuk banyak tradisi agama yang bervariasi berdasarkan budaya, dan juga kepercayaan dan aliran yang jumlahnya ribuan. Selama dua milenium, Kekristenan telah berkembang menjadi tiga cabang utama:

  • Katolik (denominasi tunggal Kristen terbesar, termasuk Gereja Katolik Ritus Timur, dengan satu koma dua miliar penganut total, lebih dari setengah dari jumlah total penganut agama Kristiani)
  • Protestanisme (terdiri dari berbagai macam denominasi dan pemikir dengan berbagai macam penafsiran kitab suci, termasuk Lutheranisme, Anglikanisme, Calvinisme, Pentakostalisme, Methodis, Gereja Baptis, Karismatik, Presbyterian, Anabaptis, dsb.)
  • Ortodoks Timur (denominasi tunggal Kristen terbesar kedua, dan merupakan denominasi Kristen terbesar di Eropa timur)

Selain itu ada pula berbagai gerakan baru seperti Bala Keselamatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Mormon, Saksi-Saksi Yehuwa, serta berbagai aliran yang muncul pada akhir abad ke-19 maupun abad ke-20, dll.

Buddha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Buddha di Indonesia

Opera Snapshot_2017-11-30_195750_id.wikipedia.org Opera Snapshot_2017-11-30_195841_id.wikipedia.org

800px-Borobudur_monks_1

Biksu berdoa di Candi Borobudur, struktur Buddha terbesar di dunia yang dibangun oleh Dinasti Syailendra.

Agama Buddha di Indonesia memiliki sejarah panjang. Di Indonesia selama era administrasi Orde Baru, terdapat lima agama resmi di Indonesia, menurut ideologi negara Pancasila, salah satunya termasuk Agama Buddha. Presiden Soeharto telah menganggap agama Buddha dan Hindu sebagai agama klasik Indonesia.

Agama Buddha merupakan salah satu agama tertua yang ada di dunia. Agama buddha berasal dari India, tepatnya Nepal sejak abad ke-6 SM dan tetap bertahan hingga sekarang. Agama Buddha berkembang cukup baik di daerah Asia dan telah menjadi agama mayoritas di beberapa negara, seperti Taiwan, Thailand, Myanmar dan lainnya. Agama Buddha kemudian juga masuk ke nusantara (sekarang Indonesia) dan menjadi salah satu agama tertua yang ada di Indonesia saat ini.

Buddhisme yang menyebar di nusantara pada awalnya adalah sebuah keyakinan intelektual, dan hanya sedikit berkaitan dengan supranatural. Namun dalam prosesnya, kebutuhan politik, dan keinginan emosional pribadi untuk terlindung dari bahaya-bahaya di dunia oleh sosok dewa yang kuat, telah menyebabkan modifikasi dalam agama Buddha. Dalam banyak hal, Buddhisme adalah sangat individualistis, yaitu semua individu, baik pria maupun wanita bertanggung jawab untuk spiritualitas mereka sendiri. Siapapun bisa bermeditasi sendirian; candi tidak diperlukan, dan tidak ada pendeta yang diperlukan untuk bertindak sebagai perantara. Masyarakat menyediakan pagoda dan kuil-kuil hanya untuk menginspirasi kerangka pikiran yang tepat untuk membantu umat dalam pengabdian dan kesadaran diri mereka.

Meskipun di Indonesia berbagai aliran melakukan pendekatan pada ajaran Buddha dengan cara-cara yang berbeda, fitur utama dari agama Buddha di Indonesia adalah pengakuan dari “Empat Kebenaran Mulia” dan “Jalan Utama Berunsur Delapan”. Empat Kebenaran Mulia melibatkan pengakuan bahwa semua keberadaan dipenuhi penderitaan; asal mula penderitaan adalah keinginan untuk objek duniawi; penderitaan dihentikan pada saat keinginan berhenti; dan Jalan Utama Berunsur Delapan mengarah ke pencerahan. Jalan Utama Berunsur Delapan mendatangkan pandangan, penyelesaian, ucapan, perilaku, mata pencaharian, usaha, perhatian, dan konsentrasi yang sempurna.

Daftar isi
1 Masa Kerajaan Hindu-Buddha
1.1 Kerajaan Sriwijaya
1.2 Kerajaan Majapahit
2 Masa Indonesia modern
2.1 Masa pra dan pasca kemerdekaan Indonesia
2.2 Pasca Gerakan 30 September
2.3 Masa dimulainya Sensus Penduduk
3 Perkembangan aliran Buddha di Indonesia
3.1 Perkembangan Mahayana
3.2 Perkembangan Vajrayana
3.3 Perkembangan Theravada
4 Sastra Buddhisme di nusantara
5 Candi Borobudur
6 Faktor-faktor berkurangnya umat Buddha di Indonesia
7 Lihat pula
8 Referensi

Masa Kerajaan Hindu-Buddha


Agama Buddha pertama kali masuk ke Nusantara (sekarang Indonesia) sekitar pada abad ke-5 Masehi jika dilihat dari penginggalan prasasti-prasasti yang ada. Diduga pertama kali dibawa oleh pengelana dari China bernama Fa Hsien. Kerajaan Buddha pertama kali yang berkembang di Nusantara adalah Kerajaan Sriwijaya yang berdiri pada abad ke-7 sampai ke tahun 1377. Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi salah satu pusat pengembangan agama Buddha di Asia Tenggara. Hal ini terlihat pada catatan seorang sarjana dari China bernama I-Tsing yang melakukan perjalanan ke India dan Nusantara serta mencatat perkembangan agama Buddha disana. Biarawan Buddha lainnya yang mengunjungi Indonesia adalah Atisa, Dharmapala, seorang profesor dari Nalanda, dan Vajrabodhi, seorang penganut agama Buddha yang berasal dari India Selatan.

Di Jawa berdiri juga kerajaan Buddha yaitu Kerajaan Syailendra, tepatnya di Jawa Tengah sekarang, meskipun tidak sebesar Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini berdiri pada tahum 775-850, dan meninggalkan peninggalan berupa beberapa candi-candi Buddha yang masih berdiri hingga sekarang antara lain Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon. Setelah itu pada tahun 1292 hingga 1478, berdiri Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang ada di Indonesia. Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaannya ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dan Maha Patihnya, Gajah Mada. Namun karena terjadi perpecahan internal dan juga tidak adanya penguasa pengganti yang menyamai kejayaan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, maka Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran. Setelah keruntuhan kerajaan Majapahit, maka kerajaan Hindu-Buddha mulai tergeser oleh kerajaan-kerajaan Islam.

Dari mula masuknya agama Buddha di Nusantara terutama pada masa Kerajaan Sriwijaya, mayoritas penduduk pada daerah tersebut merupakan pemeluk agama Buddha, terutama pada daerah Nusantara bagian Jawa dan Sumatera. Namun, setelah berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, jumlah pemeluk agama Buddha semakin berkurang karena tergantikan oleh agama Islam baru yang dibawa masuk ke Nusantara oleh pedagang-pedagang yang bermukim di daerah pesisir. Jumlah umat Buddha di Indonesia juga tidak berkembang pada masa penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang. Bahkan pada masa penjajahan Portugis, umat Buddha di Indonesia semakin berkurang karena bangsa Eropa juga membawa misionaris untuk menyebarkan agama Kristen di Nusantara.

Kerajaan Sriwijaya

Srivijaya_Empire_id.svg

Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-8.

Stupa_Borobudur

Stupa Buddha di Candi Borobudur yang dibangun Dinasti Syailendra.

Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang berada di Sumatera, namun kekuasaannya mencapai Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja dan lainnya. Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta, sri adalah “bercahaya” dan vijaya adalah “kemenangan”. Kerajaan Sriwijaya mula-mula berdiri sekitar tahun 600 dan bertahan hingga tahun 1377. Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan yang sempat terlupakan, yang kemudian dikenalkan kembali oleh sarjana Perancis, bernama George Cœdès pada tahun 1920-an. George Cœdès memperkenalkan kembali sriwijaya berdasarkan penemuannya dari prasasti dan berita dari Tiongkok. Penemuan George Coedes kemudian dimuat dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia. Dan sejak saat itu kerajaan sriwijaya mulai dikenal kembali oleh masyarakat. Hilangnya kabar mengenai keberadaan Sriwijaya diakibatkan oleh sedikitnya jumlah peninggalan yang ditinggalkan oleh kerajaan sriwijaya sebelum runtuh. Beberapa penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, yaitu:

  • Serangan dari Dinasti Chola dari Koromandel, India Selatan (1017&1025)

Serangan ini berhasil menawan raja Sriwijaya dan kemudian Dinasti Chola menjadi berkuasa atas kerajaan Sriwijaya. Akibat dari serangan ini, kedudukan kerajaan Sriwijaya di nusantara mulai melemah.

  • Muncul kerajaan Melayu, Dharmasraya

Setelah melemahnya kekuasaan Dinasti Chola, kemudian muncul kerajaan Dharmasraya yang mengambil alih Semenanjung Malaya dan juga menekan keberadaan kerajaan Sriwijaya.

  • Kekalahan perang dari kerajaan lain

Alasan lain yang menyebabkan runtuhnya Sriwijaya yaitu perang dengan kerajaan lain seperti Singosari, Majapahit serta Dharmasraya. Selain sebagai penyebab runtuhnya Sriwijaya, perang ini juga menyebabkan banyak peninggalan sriwijya yang rusak atau hilang, sehingga keberadaan Kerajaan Sriwijaya terlupakan selama beberapa abad.

Perkembangan agama Buddha selama masa Sriwijaya dapat diketahui berdasarkan laporan I-Tsing. Sebelum melakukan studi ke Universitas Nalanda di India, I-Tsing melakukan kunjungan ke kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan catatan I-tsing, Sriwijaya merupakan rumah bagi sarjana Buddha, dan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Hal ini membuktikan bahwa selama masa kerajaan Sriwijaya, agama Buddhis berkembang sangat pesat. Selain itu I-tsing juga melaporkan bahwa di Sriwijaya terdapat aliran Buddha Theravada (kadang disebut Hinayana) dan Mahayana. Dan kemudian semakin lama buddhisme di Sriwijaya mendapat pengaruh dari aliran Vajrayana dari India. Pesatnya perkembangan agama Buddhis di Sriwijaya juga didukung oleh seorang Mahaguru Buddhis di Sriwijaya, yaitu Sakyakirti, nama Sakyakirti ini berasal dari I-tsing yang berkenalan saat singgah di sriwijaya. Selain Mahaguru Buddhis, I-tsing juga melaporkan ada perguruan buddhis yang memiliki hubungan baik dengan Universitas Nalanda, India, sehingga ada cukup banyak orang yang mempelajari Buddhisme di kerajaan ini. Dalam catatannya, I-tsing juga menulis ada lebih dari 1000 pendeta yang belajar buddhis di Sriwijaya.

Kerajaan Majapahit

Majapahit_Empire_id.svg

Peta wilayah kekuasaan Majapahit berdasarkan Kakawin Nagarakretagama; keakuratan wilayah kekuasaan Majapahit menurut penggambaran orang Jawa masih diperdebatkan.

Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.

Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (pertirtan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan survei ini kebanyakan bersifat agama Siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha, antara lain Candi Jago, Bhayalangu, Sanggrahan, dan Jabung yang dapat diketahui dari ciri-ciri arsitektural, arca-arca yang ditinggalkan, relief candi, dan data tekstual, misalnya Kakawin Nagarakretagama, Arjunawijaya, Sutasoma, dan sedikit berita prasasti.

Berdasarkan sumber tertulis, raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dari aliran Siwasiddhanta kecuali Tribuwanattungadewi (ibunda Hayam Wuruk) yang beragama Buddha Mahayana. Walau begitu agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama resmi kerajaan hingga akhir tahun 1447. Pejabat resmi keagamaan pada masa pemerintahan Raden Wijaya(Kertarajasa) ada dua pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan, kemudian lima pejabat Siwa di bawahnya yang disebut Dharmapapati atau Dharmadihikarana.

Pada zaman majapahit ada dua buku yang menguraikan ajaran Buddhisme Mahayana yaitu Sanghyang Kamahayanan Mantrayana yang berisi mengenai ajaran yang ditujukan kepada bhiksu yang sedang ditahbiskan, dan Sanghyang Kamahayanikan yang berisi mengenai kumpulan pengajaran bagaimana orang dapat mencapai pelepasan. Pokok ajaran dalam Sanghyang Kamahayanikan adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam-macam dari bentuk pelepasan pada dasarnya adalah sama. Nampaknya, sikap sinkretisme dari penulis Sanghyang Kamahayanikan tercermin dari pengidentifikasian Siwa dengan Buddha dan menyebutnya sebagai “Siwa-Buddha”, bukan lagi Siwa atau Buddha, tetapi Siwa-Buddha sebagai satu kesadaran tertinggi.

Pada zaman Majapahit (1292-1478), sinkretisme sudah mencapai puncaknya. Sepertinya aliran Hindu-Siwa , Hindu-Wisnu dan Agama Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai bentuk yang bermacam-macam dari suatu kebenaran yang sama. Siwa dan Wisnu dipandang sama nilainya dan mereka digambarkan sebagai “Harihara” yaitu rupang (arca) setengah Siwa setengah Wisnu. Siwa dan Buddha dipandang sama. Di dalam kitab kakawin Arjunawijaya karya Mpu Tantular misalnya diceritakan bahwa ketika Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para pandhita menerangkan bahwa para Jina dari penjuru alam yang digambarkan pada patung-patung itu adalah sama saja dengan penjelmaan Siwa. Vairocana sama dengan Sadasiwa yang menduduki posisi tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki posisi timur. Ratnasambhava sama dengan Brahma yang menduduki posisi selatan, Amitabha sama dengan Mahadewa yang menduduki posisi barat dan Amogasiddhi sama dengan Wisnu yang menduduki posisi utara. Oleh karena itu para bhikkhu tersebut mengatakan tidak ada perbedaan antara Agama Buddha dengan Siwa . Dalam kitab Kunjarakarna disebutkan bahwa tiada seorang pun, baik pengikut Siwa maupun Buddha yang bisa mendapat kelepasan jika ia memisahkan yang sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.

Pembaruan agama Siwa-Buddha pada zaman Majapahit, antara lain, terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada dua candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada raja pertama Majapahit, yaitu Kertarajasa, yang didharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan di Antahpura sebagai Buddha; atau raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayabaya yang didharmakan di Shila Ptak (red. Sila Petak) sebagai Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan di mana Kenyataan Tertinggi dalam agama Siwa maupun Buddha tidak berbeda.

Meskipun Buddhisme dan Hinduisme telah menyebar di Jawa Timur, tampaknya kepercayaan leluhur masih memerankan peranannya dalam kehidupan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan struktur candi yang di dalamnya terdapat tempat pemujaan nenek moyang, yang berwujud batu megalit, yang ditempatkan di teras tertinggi dari tempat suci itu.

Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada masa akhir pemerintahan Raja Brawijaya V (1468-1478) dan runtuh pada tahun 1478, maka berangsur-angsur Agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh agama Islam.

Masa Indonesia Modern


Masa pra dan pasca kemerdekaan Indonesia

Setelah kemerdekaan Indonesia, muncul orang-orang yang peduli dan melestarikan agama Buddha di Indonesia, dimulai dengan seorang bhikkhu dari Ceylon (sekarang Sri Lanka) bernama Narada Maha Thera. Pada tahun 1934 ia mengunjungi Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sebagai bhikkhu Theravada pertama yang datang untuk menyebarkan ajaran Buddha setelah lebih dari 450 tahun jatuhnya kerajaan Hindu-Buddha terakhir di kepulauan nusantara. Kedatangannya mulai menumbuhkan kembali minat untuk mempelajari Buddhisme di Hindia Belanda. Animo ini kemudian diperkuat oleh seorang bhikku dari Indonesia yang ditahbiskan di Birma (sekarang Myanmar) yang bernama bhikkhu Ashin Jinarakkhita, dan dimulailah kembali perkembangan agama Buddha di Indonesia, di mana perlahan-lahan agama Buddha mulai dikenal kembali.

Pasca Gerakan 30 September

Setelah terjadinya usaha kudeta Gerakan 30 September yang gagal pada tahun 1965, setiap adanya petunjuk penyimpangan dari ajaran monoteistik Pancasila dianggap sebagai pengkhianatan. Untuk mempertahankan agama Buddha di Indonesia, pendiri Perbuddhi, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, mengusulkan adanya penyesuaian dalam dogma Buddhisme di Indonesia, mengenai ketuhanan dalam agama Buddha, maka digagaslah ketuhanan dalam agama Buddha di Indonesia dengan sebutan “Sang Hyang Adi Buddha”. Ia mencari bukti dan konfirmasi untuk versi khas Buddhisme Indonesia ini dalam teks-teks Jawa kuno, dan bahkan dari bentuk kompleks candi Buddha di Borobudur di Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun-tahun yang mengikuti setelah percobaan kudeta 1965 yang gagal tersebut, ketika semua warga negara Indonesia diharuskan untuk mendaftar dengan denominasi agama tertentu atau dicurigai sebagai simpatisan komunis, jumlah umat yang terdaftar sebagai penggikut Buddhisme naik tajam, beberapa puluh Vihara Buddha baru dibangun. Pada tahun 1987 ada tujuh aliran agama Buddha yang berafiliasi dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), yaitu: Theravada, Buddhayana, Mahayana, Tridharma, Kasogatan, Maitreya, dan Nichiren.

Menurut perkiraan tahun 1987, ada sekitar 2,5 juta orang pengikut Buddha, dengan 1 juta dari jumlah tersebut berafiliasi dengan Buddhisme Theravada dan sekitar 0,5 juta dengan aliran Buddhayana yang didirikan oleh Jinarakkhita. Perkiraan lainnya menempatkan umat Buddha hanya sekitar 1 persen dari populasi Indonesia, atau kurang dari 2 juta. Buddhisme saat itu mendapatkan jumlah tersebut karena status yang tidak pasti dari agama Konfusianisme atau Konghucu. Konfusianisme resmi ditoleransi oleh pemerintah sejak jatuhnya administrasi Orde Baru, namun karena agama Konghucu dianggap hanya sebagai suatu sistem hubungan etika, bukan agama, agama ini tidak diwakili dalam Departemen Agama.

Agama Buddha di Indonesia di awal 1990-an merupakan produk labil dari pengakomodasian yang kompleks antara ideologi-ideologi agama Timur, budaya adat etnis Tionghoa, dan kebijakan politik. Secara tradisional, Taoisme Cina, Konfusianisme (“Konghucu” dalam Bahasa Indonesia) dan Buddhisme, serta agama Buddha yang lebih kepribumian Perbuddhi, semua memiliki pengikut di komunitas etnis Tionghoa.

Masa dimulainya Sensus Penduduk

Sensus penduduk yang dimulai pada tahun 1961 menunjukkan pertumbuhan penduduk Indonesia berdasarkan data kuantitatif 1961-1971= 2.1%, 1971-1980=2.32%, 1980-1990=1.97%, 1990-2000=1,48%, 2000-2010=1.3%. Berdasarkan data tersebut, kita dapat mengetahui rata-rata laju pertumbuhan penduduk tiap 10 tahun yaitu, 1.834%. Jadi, kita dapat memprediksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1100 yang merupakan mayoritas penganut agama Buddha, yaitu sekitar 24.1 juta penduduk.

Menurut sensus nasional tahun 1990, lebih dari 1% dari total penduduk Indonesia beragama Buddha, sekitar 1,8 juta orang. Kebanyakan penganut agama Buddha berada di Jakarta, walaupun ada juga di lain provinsi seperti Riau, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat. Namun, jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sebenarnya karena pada saat itu Agama Khonghucu dan Taoisme tidak dianggap sebagai agama resmi di Indonesia sehingga mereka disensuskan sebagai penganut agama Buddha. Pada tahun 2008, jumlah penganut agama Buddha sekitar 1.3 juta penduduk dari 217,346,140 penduduk Indonesia atau sekitar 0.6%. Pada tahun 2010, jumlah penganut agama Buddha sekitar 961.086 penduduk dari 240,271,522 penduduk Indonesia atau sekitar 0.4%.

Berdasarkan data tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang menganut agama Buddha bertolak belakang dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia.

Agama Buddha di Indonesia paling banyak dianut oleh masyarakat Tionghoa dan beberapa kelompok asli Indonesia, dengan persentase jumlah 1% (Buddhisme saja) sampai 2,3% (termasuk Taoisme dan Konfusianisme) penduduk Indonesia yang termasuk umat Buddha.

Perkembangan aliran Buddha di Indonesia


Berkembangnya lagi agama Buddha setelah kerajaan Majapahit dimulai pada tahun 1954 oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Dia adalah Bhikkhu pertama dari Indonesia yang ditahbiskan semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit.

Bhante Ashin Jinarakkhita banyak memberikan sumbangsih kepada perkembangan agama Buddha di Indonesia. Pada tahun 1954, untuk membantu perkembangan agama Buddha secara nasional, maka didirikanlah Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI), dirayakannya hari suci Waisak di Candi Borobudur pada tahun 1956, lalu pembentukan Perbuddhi (Perhimpunan Buddhis Indonesia) pada tahun 1958.

Pada tahun 1959, untuk pertama kali sejak berakhirnya era Kerajaan Hindu-Buddha Majapahit, diadakan acara penahbisan Bhikkhu di Indonesia, sebanyak 13 orang Bhikkhu senior dari berbagai negara datang ke Indonesia untuk menyaksikan penahbisan dua Bhikkhu yang bernama Bhikkhu Jinaputta dan Bhikkhu Jinapiya.

Pada tahun 1974, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita memimpin Sangha Agung Indonesia yang berasal dari Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia yang digabungkan. GUBSI (Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia) terbentuk pada tahun 1976 sebagai organisasi tunggal umat Buddha Indonesia yang berasal dari Perbuddhi, Buddha Dharma Indonesia, dan sebagainya.

Perkembangan Mahayana

Aliran Buddha Mahayana diduga datang di antara abad 1 SM hingga 1 M, istilah Mahayana ditemukan di Sutra Saddharma Pundarika. Aliran Mahayana baru dikenal secara jelas pada kira – kira abad ke 2 M, ketika ajaran Mahayana dijelaskan dalam tulisan – tulisan.

Perkembangan ajaran Mahayana di Indonesia pada umumnya terbagi atas dua yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Tridharma. Buddha Mahayana merupakan perpaduan sekte Zen dan sekte Sukhavati (unsur ke-Tiongkokannya masih kuat). Buddha Tridharma (Buddha Kelenteng)yang ada di Indonesia adalah perpaduan Buddha Mahayana dengan Taoisme dan Konghucu (Konfusianisme), yaitu budaya Tionghoa tradisi Dao Jiao, Run Jiao, dan budaya lokal. Di mana pengembangnya antara lain Kwee Tek Hoay, Khoe Soe Khiam, Ong Kie Tjay, dan Aggi Tje Tje.

Pada tahun 1978, Bhikkhu-bhikkhu dari aliran Mahayana membentuk Sangha Mahayana Indonesia yang diketuai oleh Bhikkhu Dharmasagaro. Sangha Mahayana Indonesia inilah yang mencetuskan ide pembangunan Pusdikiat Buddha Mahayana Indonesia. Cita-cita Sangha adalah menyebarluaskan ajaran Buddha Mahayana di Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia serta menerjemahkan kitab-kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Indonesia.

Perkembangan Vajrayana

Aliran Buddha Vajrayana atau juga disebut Tantrayana di Indonesia pertama kali dipelopori oleh Romo Giriputre Soemarsono dan Romo Dharmesvara Oke Diputhera pada tahun 1953 – 1956 dengan membentuk kelompok Tantrayana yang disebut Kasogatan. Kasogatan dibentuk karena dorongan untuk mengembalikan agama Buddha agar dapat meluas kembali seperti ketika masa zaman kerajaan Majapahit. Kasogatan memiliki arti dan sejarah penting dilihat dari segi kepribadian bangsa. Pada zaman Majapahit, kasogatan merupakan kata yang dipakai untuk menyebut ke-Buddha-an. Kasogatan berasal dari kata “sugata”, salah satu gelar maha agung Sang Buddha yang berarti “yang berbahagia”. Ajaran agama Buddha yang berkembang pada masa itu didapat pada kitab suci Sanghyang Kamahayanikan yang dianut oleh umat-umat Buddha pada saat itu.

Kelompok aliran Tantrayana kedua ialah Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia yang didirikan pada tahun 1987. Kelompok ini merupakan kelompok umat Tantrayana yang beraliran Zhanfo Zong, dipimpin oleh seorang umat Buddha bernama Harsono (kini bernama Vajracarya Harsono). Saat itu umat Tantrayana Zhenfo Zong berjumlah lebih kurang 200 umat, mereka melaksanakan puja bhakti dengan menumpang pada satu vihara ke vihara lainnya karena tidak tersedianya fasilitas yang tetap. Akhirnya dibentuklah Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia dengan pembangunan sebuah vihara di daerah Muara Karang dengan nama Vihara Vajra Bumi Jayakarta sebagai tempat ibadah Zhenfo Zong pertama di Indonesia. Pada bulan Oktober 1988, semua pemimpin Yayasan Satya Dharma Surya Indonesia dengan umat Majelis Dharma Duta Kasogatan Indonesia bertemu dan menggabung kedua yayasan ini. Penggabungan ini bermaksud untuk pembauran umat secara wajar melalui agama dan sosial budaya dan terwujudnya agama Buddha yang berorientasi kepada kepribadian dan budaya Indonesia.

Dengan bergabungnya mazhab agama Buddha menjadi sangha-sangha dan majelis-majelis Agama Buddha menjadi anggota Perwakilan Umat Buddha Indonesia, maka Majelis Dharma Duta Kasogatan Indonesia berubah nama menjadi Majelis Agama Buddha Tantrayana Kasogatan Indonesia, diresmikan pada Oktober 1994 lalu berubah menjadi Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia pada tahun 2001.

Perkembangan Theravada

Perkembangan aliran Buddha Theravada dipelopori oleh Bante Vidhurdhammabhorn (Bhante Vin). Pada saat perkembangan agama Buddha yang sedang pesatnya, Bhikkhu-bhikkhu muda ditahbiskan di Wat Bovoranives, Thailand, atas bantuan Bhante Vin. Penahbisan ini diberi izin oleh Bhante Vin sendiri, tidak melalui Bhante Ashin. Bhikkhubhikkhu yang di tahbiskan di Wat Bovoranives memiliki garis keturunan Dhammayuttika, ini berarti apabila garis keturunan berbeda, maka tidak boleh mengikuti upacara Patimokkha dari garis keturunan yang lain.

Dengan adanya perbedaan pandangan, maka pada Januari 1972, Bhikkhu – Bhikkhu yang merupakan lulusan dari Wat Bovoranives akhirnya memisahkan diri dan membentuk Sangha Indonesia, namun pada tahun 1974, Sangha Indonesia akhirnya bergabung kembali ke Maha Sangha Indonesia di bawah pimpinan Bhante Ashin. Nama Maha Sangha Indonesia diubah menjadi Sangha Agung Indonesia (SAGIN). Pada tahun 1976, Bhikkhubhikkhu lulusan Wat Bovoranives yang merupakan murid binaan Bhante Vin memutuskan keluar dari Sangha Agung Indonesia dan mendirikan Sangha Theravada Indonesia (STI).

Sastra Buddhisme di Nusantara


Dua teks Buddhis Jawa penting adalah Sang Hyang Kamahayanikan dan Kamahayanan Mantranaya.

Candi Borobudur


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Candi Borobudur

1280px-Borobudur-Nothwest-view

Candi Borobudur, monumen Dinasti Syailendra yang dibangun di Magelang, Jawa Tengah.

Sutra Lalitavistara banyak dikenal oleh para tukang batu Mantranaya dari Borobudur, lihat: Kelahiran Buddha (Lalitavistara). Istilah Mantranaya bukan kesalahan ejaan dari Mantrayana meskipun sebagian besar adalah sama. Mantranaya adalah istilah untuk tradisi esoteris mantra, turunan tertentu dari Vajrayana dan Tantra di Indonesia. Istilah dalam bahasa Sanskerta Mantranaya dengan jelas telah terbukti dalam literatur tantra Basa Jawa Kuno, khususnya yang didokumentasikan dalam teks tantra Buddha esoterik tertua di Jawa Kuno, Sang Kyang Kamahayanan Mantranaya, lihat Kazuko Ishii (1992).

Faktor-faktor berkurangnya umat Buddha di Indonesia


Faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan jumlah penduduk yang beragama Buddha di Indonesia antara lain :

  • Ajaran Buddha sendiri yang mengajarkan bahwa kita harus melakukan ehipassiko, yaitu datang, lihat dan buktikan diri sendiri. Inilah yang menyebabkan banyak orang yang tidak mengenal ajaran agama Buddha karena mereka tidak tahu kapan mereka dapat mempelajarinya.
  • Banyak yang menganggap bahwa ajaran agama Buddha identik dengan dupa, bunga, lilin, dan lain-lain yang membuat orang-orang berpikir mengenai modal cukup besar yang akan dikeluarkan.
  • Dalam agama Buddha tidak ada suatu perjanjian yang mengikat seseorang untuk tetap menganut agama Buddha, sehingga setelah menikah, cukup banyak umat buddhis berganti agama karena harus mengikuti agama pasangannya.
  • Banyak orang yang menganggap bahwa agama Buddha tidak memberikan mereka hal yang dijanjikan untuk masuk surga karena mayoritas membutuhkan suatu keamanan dan jaminan bahwa mereka akan masuk surga.
  • Kurangnya ajaran agama Buddha dalam keluarga sehingga anak-anak mereka yang bersekolah di sekolah non-buddhis akan mengikuti cara-cara dan aturan-aturan di sekolahnya yang menyebabkan mereka terpengaruh.
  • Faktor-faktor dari orang tuanya yang tidak terlalu mengerti ajaran agama Buddha sehingga ada orang tua yang hanya menjalankan tradisi orang cina dan ada juga yang hanya berstatus agama Buddha, tetapi tidak tahu apa-apa mengenai agama Buddha. Hal ini juga disebabkan oleh Kurangnya keyakinan akan agama Buddha.

Hindu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Hindu di Nusantara

Opera Snapshot_2017-11-30_192329_id.wikipedia.org

Agama Hindu di Nusantara (sekarang Indonesia) dipraktikkan oleh 3% dari total populasi Indonesia, dengan 83,46% di Bali dan 3,78% di Sulawesi Tengah menurut Sensus Penduduk Indonesia 2010. Setiap warga negara Indonesia wajib menjadi anggota terdaftar dari salah satu komunitas agama yang diakui pemerintah Indonesia (Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu atau Konghucu).

Daftar isi
1 Sejarah
2 Kedatangan agama Hindu dan Buddha di Nusantara
3 Kepercayaan dan praktik umum
4 Hindu Nusantara
4.1 Agama Hindu di Bali
4.2 Agama Hindu di Jawa
4.3 Hindu di tempat lain di Nusantara
5 Hari Raya agama Hindu di Indonesia
6 Perkembangan dan pengakuan
6.1 Konteks politik
6.1.1 Pengakuan resmi
6.1.2 Era Orde Baru
6.2 Konteks sosial
6.3 Konteks ekonomi
7 Statistika
7.1 Sensus Penduduk Indonesia 2000
7.2 Sensus Penduduk Indonesia 2010
7.3 Survei DBH 2012

Sejarah


Penduduk asli Kepulauan Nusantara mempraktikkan agama asli animisme dan dinamisme, keyakinan yang umum bagi orang-orang Austronesia. Pribumi Nusantara menghormati dan memuja roh leluhur; mereka juga meyakini bahwa sukma dapat menghuni tempat-tempat tertentu seperti pohon-pohon besar, batu, hutan, pegunungan, atau tempat suci. Entitas tak terlihat yang memiliki kekuatan supernatural ini diidentifikasi oleh suku Jawa tradisional dan suku Bali sebagai “hyang” serta oleh suku Dayak sebagai “sangiang” yang dapat berarti “ilahi” atau “leluhur”. Dalam bahasa Indonesia modern, “hyang” cenderung dikaitkan dengan Tuhan, terlebih setelah era Orde Baru.

Kedatangan agama Hindu dan Buddha di Nusantara


Prambanan_Shiva_Temple (1)

Prambanan, Candi Siwa terbesar abad ke-9 dan candi agama Hindu terbesar di Nusantara.

Pengaruh agama Hindu mencapai Kepulauan Nusantara sejak abad pertama dan diketahui berasal dari India. Ada beberapa teori tentang bagaimana Hindu mencapai Nusantara. Teori Vaishya adalah bahwa perkawinan terjadi antara pedagang Hindustan (India) dan penduduk asli Nusantara. Teori lain (Kshatriya) berpendapat bahwa para prajurit yang kalah perang dari Hindustan (India) menemukan tempat pelipur lara di Nusantara. Ketiga, teori para Brahmana mengambil sudut pandang yang lebih tradisional, bahwa misionaris menyebarkan agama Hindu ke pulau-pulau di Nusantara. Terakhir, teori oleh nasionalis (Bhumiputra) bahwa para pribumi Nusantara memilih sendiri kepercayaan tersebut setelah perjalanan ke Hindustan. Pada abad ke-4, Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, dan Kalingga di Jawa Tengah, termasuk di antara Kerajaan Hindu awal yang didirikan di wilayah Nusantara. Beberapa kerajaan Hindu kuno Nusantara yang menonjol adalah Mataram, yang terkenal karena membangun Candi Prambanan yang megah, diikuti oleh Kerajaan Kediri dan Singhasari. Sejak itu Agama Hindu bersama dengan Buddhisme menyebar di seluruh nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14. Kerajaan yang terakhir dan terbesar di antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha Jawa, Majapahit, menyebarkan pengaruhnya di seluruh kepulauan Nusantara.

Kepercayaan dan Praktik Umum


768px-Acintya_Bali

Acintya adalah Dewa Tertinggi dalam agama Hindu Bali.

Praktisi Agama Hindu Dharma di Indonesia sama-sama berbagi banyak keyakinan Hindu yang umum seperti :

  • Sebuah keyakinan dalam satu keberadaan Maha tinggi yang disebut “Ida Sang Hyang Widhi Wasa”, “Sang Hyang Tunggal”, atau “Sang Hyang Acintya”. Tuhan Yang Maha Esa dalam budaya suku Toraja dari Sulawesi Tengah dikenal sebagai “Puang Matua” di keyakinan Aluk To Dolo.
  • Sebuah keyakinan bahwa semua dewa adalah manifestasi dari keberadaan tertinggi tersebut. Kepercayaan ini sama dengan keyakinan Smartha Sampradaya, yang juga menyatakan bahwa berbagai bentuk Dewa seperti Brahma, Wisnu, Siwa adalah aspek-aspek yang berbeda dari keberadaan Maha tinggi yang sama tersebut. Dewa Siwa juga dipuja dalam bentuk lain seperti halnya “Bhatara Guru” dan “Maharaja Dewa” (Mahadewa) diidentifikasikan erat dengan Matahari dalam bentuk lokal Hindu atau Kebatinan, dan bahkan dalam dongeng jin Muslim.
  • Sebuah keyakinan tentang Trimurti, yang terdiri dari :
    • Brahma, sebagai sang pencipta
    • Vishnu atau Wisnu, sebagai sang pemelihara
    • Çiwa atau Siwa, sebagai sang pelebur (kadang pula perusak/penghancur)
  • Sebuah keyakinan tentang semua Dewa-Dewi Hindu lainnya (Hyang, Dewata dan Batara-Batari)

Kitab suci yang ditemukan di Agama Hindu Dharma adalah Weda. Kitab ini adalah dasar agama Hindu Bali. Sumber-sumber informasi keagamaan lainnya juga termasuk Purana dan Itihasa (terutama naskah Ramayana dan Mahabharata).

Salah satu perhatian yang utama tentang kepantasan dalam agama Hindu adalah konsep kemurnian ritual. Corak penting lain yang membedakan, yang secara tradisional membantu menjaga kemurnian ritual, adalah pembagian masyarakat ke dalam kelompok-kelompok pekerjaan tradisional, atau “varna” agama Hindu: Brahmana (pendeta), Kshatriya (penguasa-prajurit, “satriya” atau “Deva” dalam bahasa Indonesia) , Vaishya (pedagang-petani, “waisya” dalam bahasa Indonesia) , dan Shudra (jelata-buruh, “sudra” dalam bahasa Indonesia). Seperti Islam dan Buddha, agama Hindu di Nusantara juga telah sangat dimodifikasi karena menyesuaikan dengan masyarakat Nusantara.

Sistem kasta, meskipun hadir dalam bentuk, tidak pernah secara kaku diterapkan di Nusantara. Epos Mahabharata (Pertempuran Besar dari Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi abadi di antara umat Hindu di Nusantara, dinyatakan dalam kesenian wayang kulit dan seni tari.

Pemerintah Indonesia telah mengakui Hindu sebagai salah satu dari enam agama monoteistik resmi, bersama dengan Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu atau Konghucu). Namun pemerintah Indonesia tidak mengakui sistem kepercayaan suku adat sebagai agama resmi. Akibatnya, pengikut berbagai agama animisme asli seperti Dayak Kaharingan telah mengidentifikasikan diri mereka sebagai Hindu untuk menghindari tekanan untuk masuk Islam atau Kristen. Beberapa keyakinan suku adat asli seperti Sunda Wiwitan dari suku Sunda, Aluk To Dolo suku Toraja, dan Parmalim dari suku Batak – meskipun berbeda dari agama Hindu Bali yang dipengaruhi Hindustan – mungkin mencari afiliasi dengan agama Hindu untuk bertahan hidup, sementara di saat yang sama juga mencoba melestarikan perbedaan mereka terhadap aliran utama Hindu Indonesia yan didominasi oleh suku Bali. Selain itu, kaum nasionalis Indonesia juga telah sangat mengangkat prestasi Kerajaan Majapahit; sebuah Kerajaan Hindu yang telah membantu menarik orang-orang Indonesia modern kepada agama Hindu. Faktor-faktor ini telah menyebabkan kebangkitan Hindu yang perlahan di luar Bali.

Hindu Nusantara


Agama Hindu di Bali

682px-Bali-Ubud_0704a

Persembahan di Pura Hindu Bali.

Agama Hindu Dharma di Bali adalah agama yang sangat terjalin dengan seni dan ritual, dan lebih tidak ketat diatur oleh kitab suci, hukum, dan keyakinan. Agama Hindu Bali tidak memiliki penekanan tradisional agama Hindu pada siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, melainkan berkaitan dengan banyak sekali “hyang”, sukma leluhur. Seperti halnya kebatinan, dewa-dewi ini dianggap mampu melahirkan kebaikan atau merugikan. Masyarakat Hindu di Bali sangat menekankan ritual-ritual perdamaian yang dramatis dan estetis terhadap para “hyang”. Ritual-ritual ini dilakukan di situs-situs candi dan pura yang tersebar di seluruh desa dan di pedesaan.

Tempat bersembahyang atau kuil di agama Hindu Bali disebut Pura, dan tidak seperti mandir gaya Hindustan yang menjulang tinggi dengan ruang interior, kuil Bali dirancang sebagai tempat bersembahyang di udara terbuka dalam dinding tertutup, dihubungkan dengan serangkaian gerbang yang dihiasi secara rumit untuk mencapai bagian ruang terbukanya. Masing-masing kuil ini memiliki keanggotaan yang kurang lebih tetap; dimana setiap orang Bali adalah bagian dari sebuah kuil berdasarkan keturunan, tempat tinggal, atau wahyu mistis. Beberapa kuil juga terdapat dalam rumah keluarga (juga disebut “banjar” di Bali), yang lain terletak di sawah, dan yang lain terletak di lokasi geografis yang terkenal (tebing pantai, gunung, dsb).

Ritualisasi tindakan mengendalikan diri (atau ketiadaan) adalah corak penting dari ekspresi keagamaan di kalangan masyarakat Hindu Bali, yang karena alasan ini telah menjadi terkenal karena perilaku anggun dan sopan mereka. Misalnya salah satu upacara penting di sebuah kuil Hindu di desa memiliki penampilan spesial sendratari (seni drama-tari), pertempuran antara mitos karakter Rangda sang penyihir (mewakili adharma, seperti ketiadaan keteraturan) dan Barong sang pelindung (umumnya seperti singa, mewakili dharma), di mana para pemain mengalami kerasukan dan mencoba menusuk diri dengan senjata tajam (umumnya keris). Drama-tari ini umumnya tampak selesai tanpa akhir, tidak ada pihak yang menang, karena tujuan utamanya adalah untuk mengembalikan keseimbangan.

Ritual siklus kehidupan juga merupakan alasan penting bagi ekspresi keagamaan dan tampilan artistik di warga Hindu Bali. Upacara saat pubertas, pernikahan, dan , terutama kremasi pada saat kematian memberikan kesempatan bagi warga Hindu Bali untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka tentang masyarakat, status, dan alam baka. (Industri pariwisata tidak hanya telah mendukung adanya upacara kremasi yang spektakuler di kalangan warga Bali yang sederhana, tetapi juga telah menciptakan permintaan yang lebih besar untuk upacara tersebut.)

Seorang pendeta Hindu tidak berafiliasi dengan kuil Hindu manapun, tetapi bertindak sebagai pemimpin spiritual dan penasehat setiap keluarga di berbagai desa yang tersebar di pulau Bali. Pendeta Hindu ini dikonsultasi disaat upacara yang memerlukan air suci dilakukan. Pada kesempatan lain, juru sembuh atau pengobat tradisional dapat disewa.

Agama Hindu Bali juga meliputi keyakinan agama Tabuh Rah, sabung ayam bersifat keagamaan di mana ayam jago digunakan dalam adat keagamaan dengan memungkinkannya bertarung melawan ayam jago lain dalam sebuah upacara sabung ayam keagamaan Hindu Bali, sebuah bentuk persembahan hewan. Pertumpahan darah dalam Tabuh Rah diperlukan sebagai pemurnian untuk menenangkan roh-roh jahat bhuta dan kala, dan dan untuk memohon hasil panen yang baik. Ritual sabung ayam ini biasanya berlangsung di luar kuil Hindu dan juga mengikuti ritual yang kuno dan kompleks sebagaimana tercantum dalam naskah lontar Hindu suci.

Agama Hindu di Jawa

Pony,_Mount_Bromo_(Gunung_Bromo)_Indonesia,_East_Java

Pura Luhur Poten, Kuil Hindu Jawa suku Tengger di kaki Gunung Bromo, Kaldera Tengger, Jawa Timur.

Baik Pulau Jawa dan Sumatra telah tunduk pada pengaruh budaya yang besar dari sub benua India selama milenium pertama dan kedua era Masehi. Bukti-bukti paling awal dari pengaruh Hindu di Jawa dapat ditemukan dalam prasasti abad ke-4 Tarumanagara yang tersebar di seluruh Jakarta modern dan Bogor. Pada abad ke-6 dan abad ke-7 banyak kerajaan maritim muncul di Sumatera dan Jawa yang menguasai perairan di Selat Malaka dan berkembang dengan meningkatnya perdagangan laut antara Tiongkok dan Hindustan dan selewatnya. Selama periode ini, cendekiawan-cendekiawan dari Hindustan dan Tiongkok mengunjungi kerajaan-kerajaan maritim tersebut untuk menerjemahkan teks-teks sastra dan agama.

Dari abad ke-4 sampai abad ke-15 kerajaan Hindu bangkit dan jatuh di Jawa: Tarumanagara, Kalingga, Medang, Kerajaan Kediri, Kerajaan Sunda, Singhasari dan Majapahit. Era ini dikenal sebagai Era Klasik Jawa, di mana sastra, seni dan arsitektur Hindu-Buddha berkembang dan menjadi masuk ke dalam budaya lokal Nusantara di bawah perlindungan keraton Hindu Jawa. Selama periode ini, banyak kuil Hindu Jawa dibangun, termasuk Candi Prambanan abad ke-9 di dekat Kota Yogyakarta, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia.

Di antara kerajaan-kerajaan Hindu Jawa, yang paling dianggap penting adalah Majapahit, yang merupakan kerajaan terbesar dan kerajaan Hindu terakhir yang signifikan dalam sejarah Indonesia. Majapahit berpusat di Jawa Timur, memerintah sebagian besar dari apa yang sekarang merupakan Indonesia modern dari sana. Sisa-sisa kerajaan Majapahit bergeser ke Bali pada abad ke-16 setelah dihancurkan oleh negara-negara Islam di wilayah pesisir Jawa.

Hindu Jawa telah memiliki dampak yang signifikan dan meninggalkan jejak yang jelas dalam seni dan budaya suku Jawa. Pertunjukan wayang serta tarian Wayang Wong dan tarian klasik Jawa lainnya yang berasal dari epos Hindu Ramayana dan Mahabharata. Meskipun mayoritas orang Jawa sekarang mengidentifikasikan diri sebagai Muslim, bentuk seni Hindu Jawa tersebut masih bertahan. Hindu Jawa telah bertahan dalam berbagai tingkat dan bentuk di Jawa; dalam beberapa tahun terakhir, konversi ke agama Hindu telah meningkat, terutama di daerah yang mengelilingi sebuah situs besar agama Hindu Jawa, seperti wilayah Klaten di dekat Candi Prambanan. Kelompok etnis suku adat tertentu, seperti suku Tengger dan suku Osing, juga terkait dengan tradisi keagamaan Hindu Jawa.

Hindu di tempat lain di Nusantara

Di antara masyarakat non-Bali yang dianggap termasuk pemeluk Hindu oleh pemerintah Indonesia, misalnya adalah para penganut agama suku Dayak, Kaharingan di Kalimantan Tengah, di mana statistik pemerintah mencatat pemeluk Hindu Kaharingan sejumlah 15,8 % dari total populasi pada 1995. Secara nasional, di awal 1990-an pemeluk Hindu di Indonesia hanya mewakili sekitar 2 % dari populasi.

Banyak orang dari suku Manusela dan suku Nuaulu dari Pulau Seram memeluk kepercayaan Naurus, sinkretisme agama Hindu dengan unsur-unsur animisme dan Kristen Protestan. Demikian pula, suku Toraja di Tana Toraja, Sulawesi telah mengidentifikasikan agama animisme mereka sebagai Hindu.

Suku Batak di Sumatera telah mengidentifikasikan tradisi animisme Parmalim mereka dengan Hindu .

Warga Tamil di Sumatera dan India di Jakarta mempraktikkan bentuk Hindu mereka sendiri, yang mirip dengan Hindu India. Orang India merayakan hari raya Hindu yang lebih umum ditemukan di India, seperti Deepawali.

Kepercayaan Bodha suku Sasak di Pulau Lombok adalah non-Muslim; agama mereka merupakan perpaduan Hindu dan Buddha dengan animisme, kepercayaan ini dianggap termasuk ke dalam agama Buddha oleh pemerintah Indonesia.

Hari Raya agama Hindu di Indonesia


Bali_Omkara_Red

Simbol “Om” dalam agama Hindu Dharma Bali.

Hari Raya Galungan – Galungan terjadi setiap 210 hari dan berlangsung selama 10 hari. Hari raya ini merayakan kedatangan para dewa dan hyang (leluhur) ke bumi untuk tinggal lagi di rumah keturunan mereka. Perayaan ditandai dengan persembahan, tarian dan pakaian baru. Para hyang harus terhibur dan disambut secara layak, dan doa-doa dan persembahan harus dipersembahkan untuk mereka. Keluarga-keluarga yang para leluhurnya belum dikremasi, tetapi masih dimakamkan di pemakaman desa, harus membuat persembahan di kuburan mereka. Kuningan adalah hari terakhir liburan ini, ketika para dewa dan hyang berangkat pergi hingga hari raya Galungan berikutnya.

Hari Raya Saraswati – Saraswati adalah dewi pengetahuan, sains, dan sastra. Dia menguasai dunia intelektual dan kreatif, dan merupakan dewi pelindung perpustakaan dan sekolah. Pemeluk Hindu Bali percaya bahwa pengetahuan adalah media penting untuk mencapai tujuan hidup sebagai manusia, dan begitu menghormati Dewi Saraswati. Dia juga dirayakan karena berhasil menjinakkan pikiran yang selalu mengembara dan penuh nafsu dari kekasihnya, Brahma, yang disibukkan oleh dewi eksistensi material, Shatarupa. Pada hari tersebut, tidak ada yang diperbolehkan untuk membaca atau menulis, dan persembahan dilakukan kepada lontar (naskah lontar), buku , dan kuil-kuil.

Hari Saraswati diperingati setiap 210 hari pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung dan menandai awal tahun baru menurut kalender Pawukon Bali. Upacara dan doa-doa diadakan di kuil-kuil di halaman keluarga, desa dan tempat bisnis dari pagi sampai tengah hari . Doa-doa juga diadakan di sekolah atau kuil Hindu lainnya di sekolah. Guru dan siswa tidak mengenakan seragam biasa, namun gaun upacara cerah yang berwarna-warni, mengisi pulau Bali dengan aneka warna. Anak-anak membawa bebuahan dan kue tradisional ke sekolah sebagai persembahan di kuil Saraswati.

Hari Raya Nyepi – Nyepi adalah hari keheningan Hindu atau Tahun Baru Hindu dalam kalender Saka Bali. Perayaan terbesar diadakan di Bali maupun di masyarakat Hindu Bali di tempat lain di Indonesia. Pada malam tahun baru desa dibersihkan, berbagai masakan dimasak selama dua hari dan di malam hari sebanyak mungkin kebisingan dibuat untuk menakut-nakuti roh jahat. Pada hari berikutnya, umat Hindu Bali tidak meninggalkan rumah mereka, memasak atau melakukan kegiatan apapun. Jalan-jalan sepi, dan wisatawan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan kompleks hotel.

Hari Nyepi ditentukan dengan menggunakan kalender Bali (lihat di bawah), hari Nyepi jatuh pada malam bulan baru setiap kali terjadi sekitar bulan Maret / April setiap tahunnya. Oleh karena itu, tanggal Hari Nyepi berubah setiap tahunnya, dan tidak ada jumlah konstan perbedaan hari antara masing-masing Nyepi seperti Galungan atau Kuningan. Untuk mengetahui kapan Nyepi jatuh pada tahun tertentu, dibutuhkan informasi tentang siklus bulan dalam tahun tersebut. Setiap kali bulan baru terjadi di antara pertengahan Maret dan pertengahan April, malam tersebut akan menjadi malam kegiatan besar dan pengusiran roh jahat di seluruh pulau Bali, sedangkan hari berikutnya akan menjadi hari damai dan tenang total, di mana segala sesuatu berhenti selama sehari .

Perkembangan dan Pengakuan


Konteks Politik

Walaupun banyak orang Jawa yang mempertahankan aspek tradisi adat dan Hindu Jawa mereka melewati berabad-abad pengaruh Islam di bawah bendera “agama Kejawen” atau juga “Islam Jawa” non-ortodoks (abangan), hanya sebagian kecil dari masyarakat Jawa yang terisolasi lah yang secara konsisten menegakkan Hindu Jawa sebagai tanda utama dari identitas publik mereka. Salah satu yang termasuk dari masyarakat adat kecil ini adalah orang-orang pelosok suku Tengger yang tinggal di dataran tinggi Tengger di Provinsi Jawa Timur.

Pengakuan Resmi

Mengakui agama seseorang sebagai Hindu secara resmi tidaklah mungkin secara hukum di Indonesia hingga tahun 1962, ketika agama Hindu menjadi agama ke-5 yang diakui negara. Pengakuan ini awalnya diperjuangkan oleh organisasi-organisasi keagamaan Bali dan diberikan demi warga Bali yang mayoritasnya adalah pemeluk agama Hindu. Yang terbesar dari organisasi-organisasi ini adalah Parisada Hindu Dharma Bali, berubah nama menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pada tahun 1964, yang mencerminkan upaya-upaya selanjutnya untuk mendefinisikan Hindu tidak hanya sebagai kepentingan Bali tetapi juga nasional.

Identitas agama menjadi isu hidup dan mati bagi banyak orang Indonesia di sekitar waktu yang sama saat agama Hindu akhirnya mendapat pengakuan, ketika peristiwa pembantaian komunis 1965-1966 terjadi. Orang yang tidak mengafiliasikan diri dengan salah satu agama yang diakui negara cenderung dicurigai sebagai komunis. Meskipun mendapat banyak ketidakuntungan bila bergabung dengan agama minoritas nasional, keprihatinan yang mendalam bagi pelestarian agama leluhur tradisional mereka membuat beberapa kelompok etnis di luar pulau membuat Hindu sebagai pilihan yang lebih cocok selain Islam.

Pada awal tahun 1970-an, orang-orang suku Toraja dari Sulawesi adalah yang pertama untuk mewujudkan kesempatan tersebut dengan mencari perlindungan bagi agama nenek moyang pribumi mereka di bawah payung ‘Hindu’ Indonesia yang besar, diikuti oleh suku Karo dari Sumatera pada tahun 1977.

Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sebuah gerakan Hindu besar telah berkembang di kalangan penduduk suku Dayak pribumi setempat yang mengarah ke sebuah deklarasi massal ‘Hindu’ di pulau ini pada tahun 1980. Namun, konversi ke ‘Hindu’ tersebut mengikuti pembagian etnis yang jelas. Adat Dayak pribumi berhadapan dengan populasi migran yang sebagian besar Muslim yang disponsori pemerintah (terutama suku Madura), dan sangat tidak menyukai perampasan tanah dan sumber daya alam nenek moyang mereka. Dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di pemeluk Hindu Jawa, banyak pemimpin suku Dayak pribumi yang juga lebih prihatin terhadap upaya Parisada Hindu Dharma Bali untuk membakukan praktik ritual Hindu secara nasional, khawatir hal ini akan berimbas pada berkurangnya tradisi unik ‘Hindu Kaharingan’ mereka sendiri dan dominasi budaya asing yang semakin panjang.

Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa lambat dalam mempertimbangkan Hindu pada saat itu, tidak mempunyai organisasi jelas dalam hal agama secara etnis karena takut adanya pembalasan dari organisasi Islam Jawa yang kuat secara lokal seperti Nahdatul Ulama (NU). Sayap pemuda NU telah aktif dalam penganiayaan, tidak hanya bagi para terduga komunis tetapi juga elemen ‘Kejawen’ atau ‘anti-Islam’ dalam Partai Nasionalis Indonesia (PNI) Soekarno selama fase awal dari pembantaian komunis berdarah 1965-1966. Sehingga para praktisi tradisi mistis ‘Kejawen’ merasa terpaksa menyatakan diri mereka sebagai Muslim karena kekhawatiran terhadap keselamatan mereka.

Era Orde Baru

Pertimbangan para praktisi ‘Kejawen’ untuk meninggalkan tradisi mereka demi bertahan hidup di sebuah negara Islam segera terbukti tidak benar. Penerus Presiden Soekarno, Soeharto, mengadopsi pendekatan nonsektarian (non-agama) yang jelas dalam apa yang disebutnya era Orde Baru. Namun ketakutan lama mereka muncul kembali kala Soeharto secara resmi merangkul Islam pada 1990-an. Awalnya Soeharto adalah pembela kuat nilai-nilai tradisi ‘Kejawen’, namun Soeharto mulai membuat penawaran-penawaran pada kaum Muslim pada waktu itu, karena goyahnya dukungan publik dan militer pada pemerintahannya.

Sebuah sinyal kuat untuk hal tersebut adalah otorisasi dan dukungan pribadi dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), sebuah organisasi baru yang para anggotanya secara terbuka mempromosikan Islamisasi negara dan masyarakat Indonesia. Kekhawatiran mereka semakin tumbuh ketika ICMI menjadi faksi sipil yang dominan dalam birokrasi nasional Indonesia, dan memulai program-program pendidikan Islam dan masjid secara besar-besaran melalui Departemen Agama, sekali lagi membidik benteng-benteng tradisi ‘Kejawen’. Sekitar waktu yang sama, terjadi serangkaian pembunuhan oleh massa Muslim ekstrimis terhadap orang-orang yang diduga mempraktikkan metode penyembuhan tradisional Jawa dengan cara magis. Dalam hal afiliasi politik, kebanyakan praktisi ‘Kejawen’ kontemporer dan pemeluk-pemeluk baru agama Hindu telah menjadi anggota PNI lama, kemudian bergabung dengan partai nasionalis baru Megawati Soekarnoputri, puteri dari Soekarno.

Konteks Sosial

1280px-Pura_Parahyangan_Agung_Jagatkartta,_Candi_Siliwangi_Shrine

Kuil Hindu yang didirikan untuk menghormati Prabu Siliwangi di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Bogor, Jawa Barat.

Parisada Hindu Dharma berubah nama menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia pada tahun 1984, dipelopori oleh Gedong Bagus Oka, sebagai pengakuan atas pengaruh agama Hindu Nusantara terhadap Indonesia.

Sebuah corak yang umum di antara komunitas Hindu baru di Jawa adalah bahwa mereka cenderung terpusat di sekitar pura agama Hindu yang baru dibangun atau di sekitar situs candi arkeologi yang direklamasi sebagai tempat ibadah agama Hindu. Salah satu dari beberapa candi Hindu baru di Jawa Timur adalah Pura Mandaragiri Semeru Agung, yang terletak di lereng Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Pura ini selesai dibangun pada bulan Juli 1992, dengan bantuan dana dari dermawan-dermawan Bali, dan perlahan mengembangkan jumlah masyarakat Hindu setempat di sekitar lokasi Pura tersebut. Perkembangan serupa juga terjadi di wilayah sekitar Pura Agung Blambangan, kuil baru lain yang dibangun di atas sebuah situs arkeologi kecil yang dikaitkan dengan kerajaan Blambangan, salah satu kerajaan Hindu terakhir di Jawa. Sebuah situs penting yang lain adalah Pura Loka Moksa Jayabaya di desa Menang dekat Kediri, di mana Jayabaya, seorang suci dan juga raja diyakini telah mencapai moksa.

Sebuah perkembangan lain dalam tahap awal dapat ditemukan di sekitar Pura Pucak Raung yang baru (di wilayah Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur), yang disebutkan dalam sastra Bali sebagai tempat di mana orang suci Hindu Maharishi Markandeya mengumpulkan pengikut untuk ekspedisi ke Bali, dimana ia dikatakan telah membawa agama Hindu ke pulau Bali pada abad ke-5 Masehi.

Sebuah contoh dari kebangkitan Hindu di sekitar situs arkeologi candi Hindu kuno juga ditemukan di Trowulan dekat Mojokerto. Situs ini diyakini sebagai lokasi ibu kota kerajaan Hindu-Buddha Majapahit. Di Trowulan, sebuah gerakan Hindu lokal berupaya untuk mendapatkan bangunan candi yang baru digali untuk dipulihkan sebagai tempat persembahyangan Hindu seperti dahulu kala. Candi tersebut akan didedikasikan untuk menghormati Gajah Mada, tokoh yang dikenal telah mengubah kerajaan Hindu Majapahit yang kecil menjadi sebuah kerajaan besar di Nusantara.

Di wilayah kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Cetho abad ke-14 yang telah direnovasi di lereng Gunung Lawu telah menjadi pusat dari Hindu Jawa dan mendapat kunjungan dari keluarga kerajaan dan Hindu Bali. Sebuah candi baru sedang dibangun di bagian Timur Solo (Surakarta) Ini adalah candi Hindu yang memiliki miniatur dari 50 situs Hindu suci di seluruh dunia. Ini juga merupakan pusat meditasi yoga kundalini, mengajar tradisi Jawa meditasi matahari dan air.

Meskipun di Jawa Timur telah ada sejarah yang lebih jelas tentang perlawanan terhadap Islamisasi, masyarakat Hindu juga berkembang di Jawa Tengah, misalnya di Klaten, di dekat Candi Hindu kuno Prambanan. Hari ini Candi Prambanan menggelar berbagai upacara Hindu tahunan dan festival seperti Galungan dan Nyepi.

Di Jawa Barat, Pura Parahyangan Agung Jagatkarta dibangun di lereng Gunung Salak di dekat lokasi bersejarah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh, Pakuan Pajajaran di Bogor. Candi ini dijuluki sebagai candi Hindu Bali terbesar yang pernah dibangun di luar Bali, dimaksudkan sebagai candi utama bagi penduduk Hindu Bali di wilayah Jabodetabek. Namun, karena candi ini berdiri di tempat suku Sunda yang suci, dan juga menjadi tempat persemayaman sebuah kuil untuk menghormati raja Sunda yang terkenal, Prabu Siliwangi, situs ini telah mendapatkan popularitas di kalangan penduduk setempat yang ingin menghubungkan diri kembali dengan nenek moyang mereka.

Konteks Ekonomi

Di Bali, di samping keindahan alam, festival Hindu yang rumit, budaya yang kaya, warna-warni seni dan tarian hidup adalah atraksi utama dari pariwisata Bali. Karena hal ini, industri jasa pariwisata dan perhotelan berkembang sebagai salah satu sumber mata pencaharian yang paling penting dari pendapatan ekonomi warga Bali. Kondisi ini berbeda dengan provinsi lain di Indonesia, di mana populasi Hindu tidak signifikan atau tidak ada, yang menyimpulkan bahwa budaya Hindu Bali dan ritual agama Hindu Bali yang beraneka telah berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian Indonesia dan warga Bali.

Statistika


 

Sensus Penduduk Indonesia 2000

Menurut Sensus Penduduk Indonesia 2000, pemeluk agama Hindu Indonesia terdiri 1,79% dari total penduduk (Turun dari 1,81% pada tahun 1990) dengan 88,05% di Bali (Turun dari 93,18% tahun 1990) dan 5,89% di Kalimantan Tengah (Turun dari 15,75% pada tahun 1990). Penurunan di Bali sebagian besar disebabkan oleh angka kelahiran yang lebih rendah dan besarnya arus imigrasi Muslim dari Jawa. Sedangkan di Kalimantan Tengah dikarenakan banyaknya pemukiman transmigrasi progresif suku Madura Muslim dari Madura. Rincian diberikan di bawah ini:

Opera Snapshot_2017-11-30_194107_id.wikipedia.org

Sensus Penduduk Indonesia 2010

Menurut Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada total 4.012.116 umat Hindu di Indonesia.

Opera Snapshot_2017-11-30_194306_id.wikipedia.org

Survei DBH 2012

Organisasi agama Hindu di Indonesia, Ditjen Bimas Hindu (DBH) melakukan survei berkala melalui hubungan dekat dengan masyarakat Hindu di seluruh Indonesia. Pada tahun 2012 penelitian independen mereka menemukan bahwa terdapat 10.267.724 pemeluk Hindu di Indonesia. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) bersama dengan beberapa kelompok agama minoritas lainnya mengklaim bahwa pemerintah Indonesia mengurangi jumlah hitungan warga negara Indonesia non-Muslim dalam hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010. Sensus Penduduk Indonesia 2010 mencatat jumlah umat Hindu adalah 4.012.116, sekitar 80% dari jumlah tersebut berdomisili di Bali.

Katolik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Opera Snapshot_2017-11-30_185800_id.wikipedia.org

Kata Katolik berasal dari kata sifat bahasa Yunani, καθολικός (katholikos), artinya “universal”. Dalam konteks eklesiologi Kristen, kata Katolik memiliki sejarah yang kaya sekaligus beberapa makna. Bagi sebagian pihak, istilah “Gereja Katolik” bermakna Gereja yang berada dalam persekutuan penuh dengan Uskup Roma, terdiri atas Gereja Latin dan 23 Gereja Katolik Timur; makna inilah yang umum dipahami di banyak negara. Bagi umat Protestan, “Gereja Katolik” atau yang sering diterjemahkan menjadi “Gereja Am” bermakna segenap orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang “denominasi”.

Umat Gereja Ortodoks Timur, Gereja Anglikan, Gereja Lutheran dan beberapa Gereja Metodis percaya bahwa Gereja-Gereja mereka adalah katolik, dalam arti merupakan kesinambungan dari Gereja universal mula-mula yang didirikan oleh para rasul. Baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Ortodoks percaya bahwa Gerejanya masing-masing adalah satu-satunya Gereja yang asli dan universal. Dalam “Kekristenan Katolik” (Termasuk Komuni Anglikan), para uskup dipandang sebagai pejabat tertinggi dalam agama Kristen, sebagai gembala-gembala keesaan dalam persekutuan dengan segenap Gereja dan dalam persekutuan satu sama lain. Katolik dianggap sebagai salah satu dari Empat Ciri Gereja. Ketiga ciri lainnya adalah Satu, Kudus, dan Apostolik, sesuai Kredo Nicea tahun 381: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.”

Daftar isi
1 Riwayat penggunaan kata “katolik” dalam Gereja
1.1 Ignatius dari Antiokhia
1.2 St. Sirilus dari Yerusalem
1.3 Theodosius I
1.4 Agustinus dari Hippo
2 Sejarah singkat Gereja Katolik
3 Gereja Katolik
4 Sakramen
5 Katolik di Indonesia

Riwayat penggunaan kata “katolik” dalam Gereja


Ignatius dari Antiokhia

Sepucuk surat yang ditulis oleh Ignatius kepada umat Kristiani di Smyrna sekitar tahun 106 adalah bukti tertua yang masih ada mengenai penggunaan istilah Gereja Katolik (Surat kepada jemaat di Smyrna, 8). Gereja Katolik digunakan Ignatius untuk menyebut Gereja universal dalam persekutuan dengan Uskup Roma (Sri Paus). Kaum bidaah tertentu pada masa itu, yang menyangkal bahwa Yesus adalah insan jasmaniah yang benar-benar menderita sengsara dan wafat, dan justru berkata bahwa “dia hanya tampak seolah-olah menderita sengsara” (Surat kepada jemaat di Smyrna, 2), bukanlah umat Kristiani sejati dalam pandangan Ignatius. Istilah Gereja Katolik juga digunakan dalam Kemartiran Polikarpus pada 155, dan dalam Fragmen Muratori, sekitar 177.

St. Sirilus dari Yerusalem

St. Sirilus dari Yerusalem (sekitar 315-386) mengimbau orang-orang yang sedang menerima bimbingan iman Kristiani darinya demikian: “Jika kalian berada di dalam kota-kota, jangan hanya bertanya di manakah Rumah Tuhan (karena sekte-sekte profan lainnya juga berusaha menyebut tempat-tempat mereka sendiri Rumah-Rumah Tuhan), jangan juga hanya bertanya di manakah Gereja, tetapi bertanyalah di manakah Gereja Katolik. Karena inilah nama khusus dari Gereja yang Kudus ini, bunda kita semua, yang adalah mempelai dari Tuhan kita Yesus Kristus, Putera Tunggal Allah” (Materi-materi Katekisasi, XVIII, 26).

Theodosius I

Istilah Kristen Katolik termuat dalam undang-undang kekaisaran Romawi tatkala Theodosius I, Kaisar Romawi dari 379 sampai 395, mengkhususkan nama tersebut bagi para penganut “agama yang diajarkan kepada orang-orang Romawi oleh Rasul Petrus yang suci, karena agama itu telah terpelihara berkat tradisi yang kuat dan yang kini dianut oleh Pontif (Paus) Damasus dan oleh Petrus, Uskup Aleksandria …sedangkan bagi orang-orang lain, karena menurut penilaian kami mereka adalah orang-orang gila yang bodoh, kami nyatakan bahwa mereka harus ditandai dengan sebutan nista sebagai kaum bidaah, dan tidak boleh menyebut tempat-tempat pertemuan mereka sebagai gereja-gereja.” Undang-undang 27 Februari 380 ini termaktub dalam kitab 16 dari Kodeks Theodosianus. Undang-undang ini mengukuhkan Kristianitas Katolik sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi.

Agustinus dari Hippo

Penggunaan istilah Katolik untuk membedakan Gereja “sejati” dari kelompok-kelompok bidaah juga dilakukan oleh Augustinus yang menulis demikian:

“Dalam Gereja Katolik, ada banyak hal lain yang layak membuat saya tetap berada dalam rahimnya. Kesepahaman orang-orang dan bangsa-bangsa membuat saya bertahan dalam Gereja; begitu pula otoritasnya, dikukuhkan oleh mukjizat-mukjizat, disuburkan oleh pengharapan, diperbesar oleh kasih, dan diperkokoh oleh usia. Suksesi para imam membuat saya bertahan, mulai dari tahta Rasul Petrus sendiri, yang kepadanya Tuhan, sesudah kebangkitanNya, memberi tugas untuk menggembalakan domba-dombaNya (Jn 21:15-19), turun sampai para uskup yang ada sekarang.
“Dan begitulah, akhirnya, dengan nama Katolik, yang, bukan tanpa alasan, di tengah-tengah begitu banyak bidaah, telah dipertahankan Gereja; sehingga, sekalipun semua kaum bidaah ingin disebut umat Katolik, namun bilamana ada orang asing yang bertanya di manakah Gereja katolik berhimpun, tidak satupun bidaah yang sanggup menunjuk kapel atau rumahnya sendiri.
“Sebanyak itulah jumlah dan makna ikatan-ikatan mulia yang dimiliki nama Kristiani itu yang menahan seorang beriman agar tetap dalam Gereja Katolik, sebagaimana yang seharusnya … Dengan kamu, di mana tak ada satu pun hal-hal ini untuk memikat atau menahan saya… Tak seorangpun dapat melepaskan saya dari iman yang mengikat pikiran saya dengan ikatan-ikatan yang begitu banyak dan begitu kuat pada agama Kristiani… Di pihak saya, saya tidak percaya akan injil kecuali digerakkan oleh otoritas Gereja Katolik.”
— St. Augustinus (354–430): Melawan Epistola kaum Manikeus yang disebut Fundamental, bab 4: Bukti-bukti iman Katolik.

Sejarah singkat Gereja Katolik


Awalnya, umat Kristen berada di bawah kepemimpinan besar lima patriarkat, yaitu Yerusalem, Antiokia, Aleksandria, Konstantinopel, dan Roma. Uskup Roma dikenal oleh 5 patriarkat sebagai “yang pertama” (protos), permasalahan dengan doktrin dan prosedur banyak mengambil Roma sebagai masukan pendapat. Kursi Roma merupakan kursi dari suksesor Santo Petrus yang mendapat julukan “Pangeran Para Rasul” sebagai tanda persatuan Gereja.

Perpecahan-perpecahan besar dalam struktur Gereja sebagai lembaga tercatat sebagai berikut:

  • Perpecahan pertama pada gereja terjadi pada saat Konsili Efesus (431), yang menyatakan status Perawan Maria sebagai Theotokos (Bunda Allah). Kebanyakan yang menolak hasil keputusan ini adalah Kristen Persia, gereja yang sekarang dikenal sebagai Gereja Timur Asiria.
  • Perpecahan berikut terjadi setelah Konsili Khalsedon (451). Konsili ini menolak Monofisit. Umat Kristen yang menolak ini dikenal sebagai Komuni Oriental Ortodoks.
  • Perpecahan besar pertama dalam Gereja Katolik terjadi pada abad 11. Masalah perbedaan doktrin tentang rumusan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (lihat filioque). Gereja Katolik pun terbagi menjadi dua, yaitu “Barat” dan “Timur”. Inggris, Perancis, Roma dan negara-negara Skandinavia termasuk Gereja “Barat” (Gereja Katolik Roma). Sedangkan Yunani, Rusia, Suriah, Mesir termasuk dalam Gereja “Timur” (Gereja Ortodoks Timur). Perpecahan ini dikenal sebagai Skisma Timur-Barat.
  • Perpecahan terbesar dalam Gereja Katolik Roma terjadi pada abad ke-16 dengan adanya Reformasi Protestan yang dipicu oleh Martin Luther melalui 95 Dalilnya.
  • Perpecahan terakhir terjadi ketika Raja Henry VIII dari Inggris memisahkan seluruh gereja-gereja di kerajaannya dari persekutuan dengan Paus karena permintaannya untuk menikah kedua kalinya sementara istri pertamanya masih hidup ditolak. Kelompok gereja inilah yang dikenal sebagai Gereja Anglikan Inggris.

Seluruh grup di atas kecuali Protestan masih menyebut persekutuan mereka sebagai Katolik. Dewasa ini, semakin banyak Gereja-Gereja Timur dan Komuni Anglikan yang kembali ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik Roma, namun dengan tetap mempertahankan tata cara beribadah mereka. Kelompok ini dikenal dengan sebutan Gereja Katolik Ritus Timur atau Gereja Katolik Timur dari Gereja-gereja Timur. Selain itu ada beberapa Gereja Anglikan yang disebut Komuni Anglikan Tradisional, dipimpin oleh seorang primat yaitu uskup agung John Hepworth dari Australia, dan diawasi oleh Kongregasi Doktrin Iman Gereja Katolik yang dipimpin oleh Kardinal Levada

Gereja Katolik


Secara umum, sebutan Gereja Katolik merujuk pada Gereja Katolik Roma. Kata Roma diatributkan pada Gereja ini karena Gereja Katolik mengimani Paus yang berkedudukan di kota Roma, Italia sebagai kepala gereja yang kelihatan, wakil Yesus Kristus di bumi, yang merupakan kepala utama gereja yang tak kelihatan. Paus adalah penerus Petrus turun temurun yang tidak terputuskan. Menurut tradisi gereja, Petrus menjadi uskup Roma dan menjadi martir di sana. Gereja Katolik dengan penambahan kata Roma sendiri sebenarnya tidak pernah menjadi nama resmi yang digunakan oleh Gereja Katolik.

Sakramen


Gereja Katolik mengajarkan bahwa Yesus Kristus menginstitusikan tujuh sakramen, tidak lebih dan tidak kurang, baik menurut Kitab Suci maupun Tradisi Suci dan sejarah Gereja. Adapun sakramen yang diakui oleh Gereja Katolik Roma sebagai berikut:

  • Baptis
  • Pengakuan dosa
  • Ekaristi
  • Penguatan/Krisma
  • Imamat
  • Pernikahan
  • Pengurapan orang sakit

Dalam ajaran Katolik, sakramen adalah berkat penyelamatan khusus yang oleh Yesus Kristus diwariskan kepada gereja. Santo Agustinus menyebut sakramen sebagai “tanda kelihatan dari rahmat Allah yang tidak kelihatan”.

Katolik di Indonesia


Penyebaran agama Katolik sudah dimulai sejak kedatangan Portugis di Indonesia yang dilakukan oleh beberapa misionaris pada abad ke-16 dan abad ke-17 di bagian timur seperti di Maluku dan Flores, NTT. Agama katolik baru memasuki tanah Jawa pada masa pemerintahan Herman Willem Daendels di Batavia awal abad-19 dengan didirikan gereja pertama di sana pada tahun 1807 dan disertai dengan diakuinya oleh Vatikan. Pada tahun 2010, 6.907.873 orang (2.9%) dari total penduduk Indonesia sebanyak 237.641.326 orang, beragama Katolik.

Agama di Indonesia | Wikipedia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

1280px-Indonesia_Religion_Percentage

Peta penyebaran agama di Indonesia berdasarkan hasil sensus 2010.

Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 6,96% Protestan, 2,9% Katolik, 1,69% Hindu, 0,72% Buddha, 0,05% Kong Hu Cu, 0,13% agama lainnya, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak ditanyakan.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

Daftar isi
1 Sejarah
2 Enam agama utama di Indonesia
2.1 Islam
2.2 Kekristenan
2.2.1 Kristen Protestan
2.2.2 Kristen Katolik
2.2.2.1 Perintis: 645 – 1500
2.2.2.2 Awal mula: abad ke-14 – abad ke-18
2.2.3 Kristen Ortodoks
2.3 Hindu
2.4 Buddha
2.5 Konghucu
3 Agama dan kepercayaan lainnya
3.1 Yahudi
3.2 Baha’i
3.3 Animisme
4 Hubungan antar agama
5 Daftar kepribadian agama

Sejarah


Transasia_trade_routes_1stC_CE_gr2

Jalur Sutra, yang menghubungkan antara India dan Indonesia.

Berdasar sejarah, kelompok pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan budaya di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan budaya di Indonesia

Hindu dan Buddha telah dibawa ke Indonesia sekitar abad kedua dan abad keempat Masehi ketika pedagang dari India datang ke Sumatera, Jawa dan Sulawesi, membawa agama mereka. Hindu mulai berkembang di pulau Jawa pada abad kelima Masehi dengan kasta Brahmana yang memuja Siva. Pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha pada abad berikut lebih lanjut dan sejumlah ajaran Buddha dan Hindu telah memengaruhi kerajaan-kerajaan kaya, seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit dan Sailendra. Sebuah candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur, telah dibangun oleh Kerajaan Sailendra pada waktu yang sama, begitu pula dengan candi Hindu, Prambanan juga dibangun. Puncak kejayaan Hindu-Jawa, Kerajaan Majapahit, terjadi pada abad ke-14 M, yang juga menjadi zaman keemasan dalam sejarah Indonesia.

Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-14 melalui pedagang di Gujarat, India. Islam menyebar sampai pantai barat Sumatera dan kemudian berkembang ke timur pulau Jawa. Pada periode ini terdapat beberapa kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak, Pajang, Mataram dan Banten. Pada akhir abad ke-15 M, 20 kerajaan Islam telah dibentuk, mencerminkan dominasi Islam di Indonesia.

Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di pulau Flores dan Timor.

Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionarispun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan.

Perubahan penting terhadap agama-agama juga terjadi sepanjang era Orde Baru. Antara tahun 1964 dan 1965, ketegangan antara PKI dan pemerintah Indonesia, bersama dengan beberapa organisasi, mengakibatkan terjadinya konflik dan pembunuhan terburuk pada abad ke-20. Atas dasar peristiwa itu, pemerintahan Orde Baru mencoba untuk menindak para pendukung PKI, dengan menerapkan suatu kebijakan yang mengharuskan semua untuk memilih suatu agama, karena kebanyakan pendukung PKI adalah ateis. Sebagai hasilnya, tiap-tiap warganegara Indonesia diharuskan untuk membawa kartu identitas pribadi yang menandakan agama mereka. Kebijakan ini mengakibatkan suatu perpindahan agama secara massal, dengan sebagian besar berpindah agama ke Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Karena Konghucu bukanlah salah satu dari status pengenal agama, banyak orang Tionghoa juga berpindah ke Kristen atau Buddha.

Enam Agama Utama di Indonesia


Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, “Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius)”.

Islam

Banda_Aceh's_Grand_Mosque,_Indonesia

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, Indonesia.

Islam_Indonesia_Percentage_Sensus2010.svg

Peta persebaran umat Islam di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 87,18 % dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia (seperti di Jawa dan Sumatera) hingga wilayah pesisir Pulau Kalimantan. Sedangkan di wilayah timur Indonesia, persentase penganutnya tidak sebesar di kawasan barat. Sekitar 98% Muslim di Indonesia adalah penganut aliran Sunni. Sisanya, sekitar dua juta pengikut adalah Syiah (di atas satu persen), berada di Jawa

Sejarah Islam di Indonesia sangatlah kompleks dan mencerminkan keanekaragaman dan kesempurnaan tersebut kedalam kultur. Pada abad ke-12, sebagian besar pedagang orang Islam dari India tiba di pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Hindu yang dominan beserta kerajaan Buddha, seperti Majapahit dan Sriwijaya, mengalami kemunduran, dimana banyak pengikutnya berpindah agama ke Islam. Dalam jumlah yang lebih kecil, banyak penganut Hindu yang berpindah ke Bali, sebagian Jawa dan Sumatera. Dalam beberapa kasus, ajaran Islam di Indonesia dipraktikkan dalam bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan Islam daerah Timur Tengah.

Ada pula sekelompok pemeluk Ahmadiyah yang kehadirannya belakangan ini sering dipertanyakan. Aliran ini telah hadir di Indonesia sejak 1925. Pada 9 Juni 2008, pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah surat keputusan yang praktis melarang Ahmadiyah melakukan aktivitasnya ke luar. Dalam surat keputusan itu dinyatakan bahwa Ahmadiyah dilarang menyebarkan ajarannya.

Kekristenan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kekristenan di Indonesia

Kristen Protestan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kristen Protestan di Indonesia

Protestant_Indonesia_Percentage_Sensus2010.svg

Peta persebaran umat Kristen Protestan di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010.

600px-thumbnail

Pemakaman seorang kepala suku Kristen di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi (1971).

umah didekorasi dengan salinan lukisan Perjamuan Terakhir oleh Leonardo da Vinci.
Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat pada abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara. Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota.

Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 17% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja dan Sulawesi Utara. Sekitar 75% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. Di beberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris.

Di Indonesia, terdapat tiga provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu Papua, Sulawesi Utara, dan Papua Barat, dengan persentase berurutan 65,48%, 63,60%, dan 53,77% dari jumlah penduduk . Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Di Ambon, ajaran Protestan mengalami perkembangan yang sangat besar beriringan dengan agama Islam. Di Sulawesi Utara, kaum Minahasa, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-18. Saat ini, kebanyakan dari penduduk Suku Batak di Sumatera Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu, para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan. Saat ini, 6,69% dari jumlah penduduk Indonesia adalah penganut Kristen Protestan.

Kristen Katolik

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gereja Katolik di Indonesia

Catholic_Indonesia_Percentage_Sensus2010.svg

Peta persebaran umat Kristen Katolik di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010.

Katedral di Jakarta

Katedral di Jakarta

Bangunan Cagar Budaya di Jakarta, Cagar Budaya Katedral, Menara

Bangunan Cagar Budaya di Jakarta, Cagar Budaya Katedral, Menara

Perintis: 645 – 1500

Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku “Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya”. yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.

Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik di Indonesia seri 1,diterbitkan oleh KWI)

Awal mula: abad ke-14 – abad ke-18

Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan.

Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.

Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat.

Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol mulai memperluas pengaruhnya di Manado dan kawasan Minahasa, serta mencapai Flores dan Timor. Portugis dan Spanyol berperan menyebarkan agama Kristen Katolik, namun hal tersebut tidak bertahan lama sejak VOC berhasil mengusir Spanyol dan Portugis dari Sulawesi Utara dan Maluku. VOC pun mulai menguasai Sulawesi Utara, untuk melindungi kedudukannya di Maluku.

Selama masa VOC, banyak penyebar dan penganut agama Katolik Roma yang ditangkap. Belanda adalah negara basis Protestan, dan penganut Katolik dianggap sebagai kaki-tangan Spanyol dan Portugis, musuh politik dan ekonomi VOC. Karena alasan itulah VOC mulai menerapkan kebijakan yang membatasi dan melarang penyebaran agama Katolik. Yang paling terdampak adalah umat Katolik di Sulawesi Utara, Flores dan Timor. Di Sulawesi Utara kini mayoritas adalah penganut Protestan. Meskipun demikian umat Katolik masih bertahan menjadi mayoritas di Flores, hingga kini Katolik adalah agama mayoritas di Nusa Tenggara Timur. Diskriminasi terhadap umat Katolik berakhir ketika Belanda dikalahkan oleh Perancis dalam era perang Napoleon. Pada tahun 1806, Louis Bonaparte, adik Napoleon I yang penganut Katolik diangkat menjadi Raja Belanda, atas perintahnya agama Katolik bebas berkembang di Hindia Belanda.

Agama Katolik mulai berkembang di Jawa Tengah ketika Frans van Lith menetap di Muntilan pada 1896 dan menyebarkan iman Katolik kepada rakyat setempat. Mulanya usahanya tidak membawa hasil yang memuaskan, hingga tahun 1904 ketika empat kepala desa dari daerah Kalibawang memintanya menjelaskan mengenai Katolik. Pada 15 Desember 1904, sebanyak 178 orang Jawa dibaptis di Semagung, Muntilan, Magelang.

Pada tahun 2006, 3% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores. Selain di Flores, kantung Katolik yang cukup signifikan adalah di Jawa Tengah, yakni kawasan sekitar Muntilan, Magelang, Klaten, serta Yogyakarta. Selain masyarakat Jawa, iman Katolik juga menyebar di kalangan warga Tionghoa-Indonesia.

Di Indonesia, terdapat satu provinsi yang mayoritas penduduknya adalah penganut Katolik, yaitu Nusa Tenggara Timur dengan persentase 54,14% dari populasi penduduk provinsi tersebut.

Kristen Ortodoks

Meskipun Kristen Ortodoks sudah hadir di Indonesia pada abad ke-7. Baru pada abad ke-20 Ortodoks Timur hadir secara resmi dengan nama Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), dimana para imam Gereja Ortodoks di Indonesia berasal dari dua kewilayahan, yaitu awalnya Gereja Ortodoks Yunani Kepatriarkan Konstantinopel dan kemudian Gereja Ortodoks Rusia di Luar Rusia Kepatriarkan Moskow. Ketua umum Gereja Ortodoks Indonesia adalah Arkimandrit Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro, Ph.D. yang adalah imam Indonesia pertama Gereja Ortodoks di Indonesia. Selain itu di Indonesia ada Gereja Ortodoks Oriental, yakni kelompok Gereja Ortodoks Suryani dan Gereja Ortodoks Koptik.

Hindu

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Hindu di Indonesia

Hindu_Indonesia_Percentage_Sensus2010.svg

Peta persebaran umat Hindu di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010

UBUD_SHRINE1

Seorang perempuan Hindu Bali sedang menempatkan sesajian di tempat suci keluarganya

Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan Majapahit, semasa dinasti Sanjaya. Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai periode Hindu-Indonesia, bertahan selama 16 abad penuh.

Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak pernah menerapkan sistem kasta. Contoh lain adalah, bahwa Epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Aliran Hindu juga telah terbentuk dengan cara yang berbeda di daerah pulau Jawa, yang jadilah lebih dipengaruhi oleh versi Islam mereka sendiri, yang dikenal sebagai Islam Abangan atau Islam Kejawen.

Semua praktisi agama Hindu Dharma berbagi kepercayaan dengan banyak orang umum, kebanyakan adalah Lima Filosofi: Panca Srada. Ini meliputi kepercayaan satu Yang Maha Kuasa Tuhan, kepercayaan di dalam jiwa dan semangat, serta karma atau kepercayaan akan hukuman tindakan timbal balik. Dibanding kepercayaan atas siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, Hindu di Indonesia lebih terkait dengan banyak sekali yang berasal dari nenek moyang roh. Sebagai tambahan, agama Hindu di sini lebih memusatkan pada seni dan upacara agama dibanding kitab, hukum dan kepercayaan.

Menurut catatan, jumlah penganut Hindu di Indonesia pada tahun 2006 adalah 6,5 juta orang), sekitar 1,8% dari jumlah penduduk Indonesia, merupakan nomor empat terbesar. Namun jumlah ini diperdebatkan oleh perwakilan Hindu Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). PHDI memberi suatu perkiraan bahwa ada 18 juta orang penganut Hindu di Indonesia. Sekitar 93 % penganut Hindu berada di Bali. Selain Bali juga terdapat di Sumatera, Jawa, Lombok, dan pulau Kalimantan yang juga memiliki populasi Hindu cukup besar, yaitu di Kalimantan Tengah, sekitar 15,8 % (sebagian besarnya adalah Hindu Kaharingan, agama lokal Kalimantan yang digabungkan ke dalam agama Hindu).

Buddha

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Indonesia

1280px-Buddha_Indonesia_Percentage_Sensus2010.svg

Peta persebaran umat Buddha di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010.

800px-Borobudur_monks_1

Bhikku Buddha melaksanakan puja bakti di Borobudur

Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama. Seperti kerajaan Sailendra, Sriwijaya dan Mataram. Kedatangan agama Buddha telah dimulai dengan aktivitas perdagangan yang mulai pada awal abad pertama melalui Jalur Sutra antara India dan Indonesia. Sejumlah warisan dapat ditemukan di Indonesia, mencakup candi Borobudur di Magelang dan patung atau prasasti dari sejarah Kerajaan Buddha yang lebih awal.

Mengikuti kejatuhan Soekarno pada pertengahan tahun 1960-an, dalam Pancasila ditekankan lagi pengakuan akan satu Tuhan (monoteisme). Sebagai hasilnya, pendiri Perbuddhi (Persatuan Buddha Indonesia), Bhikku Ashin Jinarakkhita, mengusulkan bahwa ada satu dewata tertinggi, Sang Hyang Adi Buddha. Hal ini didukung dengan sejarah di belakang versi Buddha Indonesia pada masa lampau menurut teks Jawa kuno dan bentuk candi Borobudur.

Menurut sensus nasional tahun 2000, kurang lebih dari 2% dari total penduduk Indonesia beragama Buddha, sekitar 4 juta orang. Kebanyakan penganut agama Buddha berada di Jakarta, walaupun ada juga di lain provinsi seperti Riau, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat. Namun, jumlah ini mungkin terlalu tinggi, mengingat agama Konghucu (hingga th 1998) dan Taoisme tidak dianggap sebagai agama resmi di Indonesia, sehingga dalam sensus diri mereka dianggap sebagai penganut agama Buddha.

Konghucu

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Konfusianisme di Indonesia

Konghucu_Indonesia_Percentage_Sensus2010.svg

Peta persebaran umat Khonghucu di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010.

Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. Di era 1900-an, pemeluk Konghucu membentuk suatu organisasi, disebut Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Batavia (sekarang Jakarta).

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, umat Konghucu di Indonesia terikut oleh beberapa huru-hara politis dan telah digunakan untuk beberapa kepentingan politis. Pada 1965, Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu. Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKTHI), suatu organisasi Konghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Confucius adalah nabi mereka.

Tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, menandai era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Soeharto, perundang-undangan anti Tiongkok telah diberlakukan demi keuntungan dukungan politik dari orang-orang, terutama setelah kejatuhan PKI, yang diklaim telah didukung oleh Tiongkok. Soeharto mengeluarkan instruksi presiden No. 14/1967, mengenai kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta menghimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka. Bagaimanapun, Soeharto mengetahui bagaimana cara mengendalikan Tionghoa Indonesia, masyarakat yang hanya 3% dari populasi penduduk Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dominan di sektor perekonomian Indonesia. Pada tahun yang sama, Soeharto menyatakan bahwa “Konghucu berhak mendapatkan suatu tempat pantas di dalam negeri” di depan konferensi PKTHI.

Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan, menggantikan keputusan presiden tahun 1967 mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi, tidak termasuk Konghucu. Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi di Indonesia.

Karenanya, status Konghucu di Indonesia pada era Orde Baru tidak pernah jelas. De jure, berlawanan hukum, di lain pihak hukum yang lebih tinggi mengizinkan Konghucu, tetapi hukum yang lebih rendah tidak mengakuinya. De facto, Konghucu tidak diakui oleh pemerintah dan pengikutnya wajib menjadi agama lain (biasanya Kristen atau Buddha) untuk menjaga kewarganegaraan mereka. Praktik ini telah diterapkan di banyak sektor, termasuk dalam kartu tanda penduduk, pendaftaran perkawinan, dan bahkan dalam pendidikan kewarga negaraan di Indonesia yang hanya mengenalkan lima agama resmi.

Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto, Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Wahid mencabut instruksi presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia. Kultur Tionghoa dan semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktikkan. Warga Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan ajaran dan tradisi mereka. Seperti agama lainnya di Indonesia yang secara resmi diakui oleh negara, maka Tahun Baru Imlek telah menjadi hari libur keagamaan resmi.

Agama dan Kepercayaan Lainnya


Lihat pula: Agama asli Nusantara

Beberapa agama dan kepercayaan lainnya yang ada di Indonesia, yaitu: Sunda Wiwitan; Parmalim; Saminisme; Kejawen; Taoisme; Jainisme; Sikhisme; Yahudi; Baha’i; Teosofi, dll.

Yahudi

Terdapat komunitas kecil Yahudi yang tidak diakui di Jakarta dan Surabaya. Pendirian Yahudi awal di kepulauan ini berasal dari Yahudi Belanda yang datang untuk berdagang rempah. Pada tahun 1850-an, sekitar 20 keluarga Yahudi dari Belanda dan Jerman tinggal di Jakarta (waktu itu disebut Batavia). Beberapa tinggal di Semarang dan Surabaya. Beberapa Yahudi Baghdadi juga tinggal di pulau ini. Pada tahun 1945, terdapat sekitar 2.000 Yahudi Belanda di Indonesia. Pada tahun 1957, dilaporkan masih ada sekitar 450 orang Yahudi, terutama Ashkenazim di Jakarta dan Sephardim di Surabaya. Komunitas ini berkurang menjadi 50 pada tahun 1963. Pada tahun 1997, hanya terdapat 20 orang Yahudi, beberapa berada di Jakarta dan sedikit keluarga Baghdadi di Surabaya.

Yahudi di Surabaya memiliki sinagoga. Mereka hanya sedikit hubungan dengan Yahudi di luar Indonesia. Tidak ada pelayanan yang diberikan pada sinagoga. Sinagoga ini telah ditutup oleh umat Muslim yang menentang Perang Gaza 2008-2009. Satu-satunya sinagoga yang masih tersisa terletak di luar kota Manado, yang dihadiri oleh sekitar 10 orang.

Di Indonesia saat ini telah dibentuk The United Indonesian Jewish Community (UIJC) oleh komunitas Keturunan Yahudi Indonesia. Organisasi ini sudah dibentuk sejak Tahun 2009, tetapi baru diresmikan pada Bulan Oktober Tahun 2010. UIJC ini dipimpin oleh keluarga Verbrugge. Menurut sumber dari UIJC saat ini keturunan Yahudi di Indonesia yang sudah diketahui hampir mendekati 2.000-an orang. Yang sudah terdeteksi 500-an. tersebar hampir merata di seluruh Indonesia, bahkan ada di Aceh, Sumatra Utara & Sumatra Barat. Di Sulawesi Utara mempunyai potensi sampai 800-an orang, di Jakarta diperkirakan lebih dari 200-an orang dan di Surabaya mempunyai keturunan Yahudi yang juga cukup banyak jumlah-nya. Selain itu anggota UIJC juga ada yang berasal dari daerah lain, diantaranya Lampung, Tangerang, Bekasi, Cirebon, Bandung, Semarang, Solo, Cilacap, Yogyakarta, & Bali. Umumnya mereka adalah keturunan campuran antara Indonesia dengan Yahudi Belanda, Jerman, Belgia, Irak, dan Portugis. Meski demikian, bukan berarti anggota UIJC harus beragama Yahudi,karena organisasi ini hanyalah sebagai paguyuban warga keturunan Yahudi di Indonesia. Anggota UIJC perawakannya kebanyakan sudah sangat Indonesia karena telah bercampur ras dengan pribumi.

Baha’i

Di Indonesia hadir sejumlah pemeluk agama Baha’i. Berapa jumlah mereka sebenarnya tidak diketahui dengan pasti karena seringkali mereka mengalami tekanan dan penolakan dari masyarakat sekitarnya. Salah satu penganut agama Baha’i yang diketahui secara terbatas adalah belasan penganut di sebuah wilayah di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Animisme

Kepercayaan terhadap benda mati (animisme) di Indonesia sama dengan penyembah benda mati di dunia lainnya, yang mana, suatu kepercayaan terhadap objek tertentu, seperti pohon, batu atau orang-orang. Kepercayaan ini telah ada dalam sejarah Indonesia yang paling awal, di sekitar pada abad pertama, tepat sebelum Hindu tiba Indonesia. Lagipula, dua ribu tahun kemudian, dengan keberadaan Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan agama lainnya, penyembah benda mati masih tersisa di beberapa wilayah di Indonesia. Bagaimanapun, kepercayaan ini tidak diterima sebagai agama resmi di Indonesia, sebagaimana dinyatakan di dalam Pancasila bahwa kepercayaan itu pada Ketuhanan Yang Maha Esa atau monoteisme. Penyembah benda mati, pada sisi lain tidak percaya akan dewa tertentu.

Hubungan Antar Agama


Walaupun pemerintah Indonesia mengenali sejumlah agama berbeda, konflik antar agama kadang-kadang tidak terelakkan. Pada masa Orde Baru, Soeharto mengeluarkan perundang-undangan yang oleh beberapa kalangan dirasa sebagai anti Tionghoa. Presiden Soeharto mencoba membatasi apapun yang berhubungan dengan budaya Tionghoa, mencakup nama dan agama. Sebagai hasilnya, Buddha dan Khonghucu telah diasingkan.

Antara 1966 dan 1998, Soeharto berikhtiar untuk de-Islamisasi pemerintahan, dengan memberikan proporsi lebih besar terhadap orang-orang Kristen di dalam kabinet. Namun pada awal 1990-an, isu Islamisasi yang muncul, dan militer terbelah menjadi dua kelompok, nasionalis dan Islam. Golongan Islam, yang dipimpin oleh Jenderal Prabowo, berpihak pada Islamisasi, sedangkan Jenderal Wiranto dari golongan nasionalis, berpegang pada negara sekuler.

Semasa era Soeharto, program transmigrasi di Indonesia dilanjutkan, setelah diaktifkan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Maksud program ini adalah untuk memindahkan penduduk dari daerah padat seperti pulau Jawa, Bali dan Madura ke daerah yang lebih sedikit penduduknya, seperti Ambon, kepulauan Sunda dan Papua. Kebijakan ini mendapatkan banyak kritik, dianggap sebagai kolonisasi oleh orang-orang Jawa dan Madura, yang membawa agama Islam ke daerah non-Muslim. Penduduk di wilayah barat Indonesia kebanyakan adalah orang Islam dengan Kristen merupakan minoritas kecil, sedangkan daerah timur, populasi Kristen adalah sama atau bahkan lebih besar dibanding populasi orang Islam. Hal ini bahkan telah menjadi pendorong utama terjadinya konflik antar agama dan ras di wilayah timur Indonesia, seperti kasus Poso pada tahun 2005.

Pemerintah telah berniat untuk mengurangi konflik atau ketegangan tersebut dengan pengusulan kerjasama antar agama. Kementerian Luar Negeri, bersama dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang dipegang oleh Sarjana Islam Internasional, memperkenalkan ajaran Islam moderat, yang mana dipercaya akan mengurangi ketegangan tersebut. Pada 6 Desember 2004, dibuka konferensi antar agama yang bertema “Dialog Kooperasi Antar Agama: Masyarakat Yang Membangun dan Keselarasan”. Negara-negara yang hadir di dalam konferensi itu ialah negara-negara anggota ASEAN, Australia, Timor Timur, Selandia Baru dan Papua Nugini, yang dimaksudkan untuk mendiskusikan kemungkinan kerjasama antar kelompok agama berbeda di dalam meminimalkan konflik antar agama di Indonesia. Pemerintah Australia, yang diwakili oleh menteri luar negerinya, Alexander Downer, sangat mendukung konferensi tersebut.

Daftar Kepribadian Agama


Opera Snapshot_2017-11-30_175852_id.wikipedia.org

 

Harrison Ford

From Wikipedia, the free encyclopedia

Opera Snapshot_2017-11-30_170017_en.wikipedia.org

Harrison Ford (born July 13, 1942) is an American Actor and Film Producer. He gained worldwide fame for his starring roles as Han Solo in the Star Wars film series and as the title character of the Indiana Jones film series. Ford is also known for his roles as Rick Deckard in the neo-noir dystopian science fiction film Blade Runner (1982); John Book in the thriller Witness (1985), for which he was nominated for the Academy Award for Best Actor; and Jack Ryan in the action films Patriot Games (1992) and Clear and Present Danger (1994).

His career has spanned six decades and includes roles in several Hollywood blockbusters; including the epic war film Apocalypse Now (1979); the legal drama Presumed Innocent (1990); the action film The Fugitive (1993); the political action thriller Air Force One (1997); and the psychological thriller What Lies Beneath (2000). Seven of his films have been inducted into the National Film Registry: American Graffiti (1973), The Conversation (1974), Star Wars (1977), Apocalypse Now (1979), The Empire Strikes Back (1980), Raiders of the Lost Ark (1981) and Blade Runner (1982).

As of 2016, the U.S. domestic box-office grosses of Ford’s films total over US$4.7 billion, with worldwide grosses surpassing $6 billion, making Ford the second highest-grossing U.S. domestic box-office star. Ford is married to actress Calista Flockhart.

Contents
1 Early life
2 Early career
3 Milestone franchises
3.1 Star Wars
3.2 Indiana Jones
4 Other film work
4.1 1990s–2010s
5 Personal life
5.1 Marriages and family
5.2 Back injury
5.3 Ankle injury
5.4 Aviation
5.4.1 Incidents
6 Activism
6.1 Environmental causes
6.2 Political views
6.3 Archaeology
6.4 Star Wars: Force for Change
7 Selected filmography
8 Awards and honors

Early Life


Ford was born at the Swedish Covenant Hospital in Chicago, Illinois to Christopher Ford (born John William Ford), an advertising executive and former actor, and Dorothy (née Nidelman), a former radio actress. A younger brother, Terence, was born in 1945. Ford’s paternal grandparents, John Fitzgerald Ford and Florence Veronica Niehaus, were of Irish Catholic and German descent, respectively. Ford’s maternal grandparents, Harry Nidelman and Anna Lifschutz, were Jewish immigrants from Minsk, Belarus (at that time a part of the Russian Empire). When asked in which religion he and his brother were raised, Ford jokingly responded, “Democrat,” “to be liberals of every stripe”. In a television interview shown in August 2000, when asked about what influence his Irish Catholic and Russian-Jewish ancestry may have had on his life as a person and as an artist, Ford humorously stated, “As a man I’ve always felt Irish, as an actor I’ve always felt Jewish.”

Ford was active in the Boy Scouts of America, and achieved its second-highest rank, Life Scout. He worked at Napowan Adventure Base Scout camp as a counselor for the Reptile Study merit badge. Because of this, he and director Steven Spielberg later decided to depict the young Indiana Jones as a Life Scout in the film Indiana Jones and the Last Crusade.

In 1960, Ford graduated from Maine East High School in Park Ridge, Illinois. His was the first student voice broadcast on his high school’s new radio station, WMTH, and he was its first sportscaster during his senior year (1959–60). He attended Ripon College in Wisconsin, where he was a philosophy major and a member of the Sigma Nu fraternity. He took a drama class in the final quarter of his senior year to get over his shyness. Ford, a self-described “late bloomer,” became fascinated with acting.

Early Career


In 1964, after a season of summer stock with the Belfry Players in Wisconsin, Ford traveled to Los Angeles to apply for a job in radio voice-overs. He did not get it, but stayed in California and eventually signed a $150-a-week contract with Columbia Pictures’ New Talent program, playing bit roles in films. His first known role was an uncredited one as a bellhop in Dead Heat on a Merry-Go-Round (1966). There is little record of his non-speaking roles (or “extra” work) in film. Ford was at the bottom of the hiring list, having offended producer Jerry Tokovsky after he played a bellboy in the feature. He was told by Tokovsky that when actor Tony Curtis delivered a bag of groceries, he did it like a movie star; Ford felt his job was to act like a bellboy. Ford managed to secure other roles in movies, such as A Time for Killing (The Long Ride Home), starring Glenn Ford; George Hamilton; and Inger Stevens.

His speaking roles continued next with Luv (1967), though he was still uncredited. He was finally credited as “Harrison J. Ford” in the 1967 Western film, A Time for Killing, but the “J” did not stand for anything, since he has no middle name. It was added to avoid confusion with a silent film actor named Harrison Ford, who appeared in more than 80 films between 1915 and 1932, and died in 1957. Ford later said that he was unaware of the existence of the earlier Harrison Ford until he came upon a star with his own name on the Hollywood Walk of Fame. Ford soon dropped the “J” and worked for Universal Studios, playing minor roles in many television series throughout the late 1960s and early 1970s, including Gunsmoke, Ironside, The Virginian, The F.B.I., Love, American Style, and Kung Fu. He appeared in the western Journey to Shiloh (1968) and had an uncredited, non-speaking role in Michelangelo Antonioni’s 1970 film Zabriskie Point, as an arrested student protester. Not happy with the roles being offered to him, Ford became a self-taught professional carpenter to support his then-wife and two young sons. While working as a carpenter, he became a stagehand for the popular rock band The Doors. He also built a sun deck for actress Sally Kellerman and a recording studio for Brazilian band leader Sérgio Mendes.

Casting director and fledgling producer Fred Roos championed the young Ford, and secured him an audition with George Lucas for the role of Bob Falfa, which Ford went on to play in American Graffiti (1973). Ford’s relationship with Lucas would profoundly affect his career later on. After director Francis Ford Coppola’s film The Godfather was a success, he hired Ford to expand his office and gave him small roles in his next two films, The Conversation (1974) and Apocalypse Now (1979); in the latter film he played an army officer named “G. Lucas”.

Milestone Franchises


Star Wars

StarWarsMoviePoster1977

Star Wars (later retitled Star Wars: Episode IV – A New Hope) is a 1977 American epic space opera film written and directed by George Lucas

Harrison Ford’s previous work in American Graffiti eventually landed him his first starring film role, when he was hired by Lucas to read lines for actors auditioning for roles in his then-upcoming film Star Wars (1977). Lucas was eventually won over by Ford’s performance during these line reads and cast him as Han Solo. Star Wars became one of the most successful movies of all time and established Ford as a superstar. He went on to star in the similarly successful Star Wars sequels, The Empire Strikes Back (1980) and Return of the Jedi (1983), as well as the Star Wars Holiday Special (1978). Ford wanted Lucas to kill off Han Solo at the end of Return of the Jedi, saying, “That would have given the whole film a bottom,” but Lucas refused. However, in an interview in 2015, Ford admitted that “he was wrong” to want his character killed off.

Star Wars Trailer

Star Wars: The Force Awakens (also known as Star Wars: Episode VII – The Force Awakens) is a 2015 American epic space opera film co-written, co-produced and directed by J. J. Abrams

Ford reprised the role of Han Solo in the sequel Star Wars: The Force Awakens (2015). During filming on June 11, 2014, Ford suffered what was said to be a fractured ankle, when a hydraulic door fell on him. He was rushed to hospital for treatment. Ford’s son Ben released details on his father’s injury, saying that his ankle would likely need a plate and screws, and that filming could be altered slightly with the crew needing to shoot Ford from the waist up for a short time until he recovered. Ford made his return to filming in mid-August, after a two-month layoff as he recovered from his injury. Ford’s character was killed off in The Force Awakens; however, it was subsequently announced, via a casting call, that Ford would return in some capacity as Han Solo in Episode VIII. In February 2016, when the cast for Episode VIII was confirmed, it was indicated that Ford would not reprise his role in the film. When Ford was asked if his character could come back in “some form”, he replied, “Anything is possible in space.” A Han Solo spin-off movie is scheduled to be made, but Ford is not involved in the production. The Daily Mail reported that Ford was paid £16 million plus a 0.5% share of the revenue to appear in The Force Awakens. In the original 1977 film, Ford was paid $10,000.

Indiana Jones

Harrison_Ford_and_Chandran_Rutnam_in_Sri_Lanka

Ford with Chandran Rutnam on the set of Indiana Jones and the Temple of Doom which was shot in Kandy, Sri Lanka in 1983

Ford’s status as a leading actor was solidified when he starred as globe-trotting archeologist Indiana Jones in the film Raiders of the Lost Ark (1981), a collaboration between George Lucas and Steven Spielberg. Though Spielberg was interested in casting Ford from the beginning, Lucas was not, due to having already worked with the actor in American Graffiti and Star Wars, but he eventually relented after Tom Selleck was unable to accept.

Ford went on to star in the prequel Indiana Jones and the Temple of Doom (1984) and the sequel Indiana Jones and the Last Crusade (1989). He returned to the role yet again for a 1993 episode of the television series The Young Indiana Jones Chronicles, and even later for the fourth film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008). On March 15, 2016 Walt Disney Studios announced that Ford is scheduled to appear in a fifth film due for release in July 2019. However on April 25, 2017 Walt Disney Studios announced that the film will be released on 10 July, 2020.

Other Film Work


Ford has been in other films, including Heroes (1977), Force 10 from Navarone (1978), and Hanover Street (1979). Ford also co-starred alongside Gene Wilder in the buddy-Western The Frisco Kid (1979), playing a bank robber with a heart of gold. He then starred as Rick Deckard in Ridley Scott’s cult sci-fi classic Blade Runner (1982), and in a number of dramatic-action films: Peter Weir’s Witness (1985) and The Mosquito Coast (1986), and Roman Polanski’s Frantic (1988).

The 1990s brought Ford the role of Jack Ryan in Tom Clancy’s Patriot Games (1992) and Clear and Present Danger (1994); as well as leading roles in Alan Pakula’s Presumed Innocent (1990) and The Devil’s Own (1997); Andrew Davis’ The Fugitive (1993); Sydney Pollack’s remake of Sabrina (1995); and Wolfgang Petersen’s Air Force One (1997). Ford also played straight dramatic roles, including an adulterous husband in both Presumed Innocent (1990) and What Lies Beneath (2000), and a recovering amnesiac in Mike Nichols’ Regarding Henry (1991).

Many of Ford’s major film roles came to him by default through unusual circumstances: he won the role of Han Solo while reading lines for other actors, was cast as Indiana Jones because Tom Selleck was not available, he also took over the role of Jack Ryan supposedly due to Alec Baldwin’s fee demands, Baldwin had previously played the role of Ryan in The Hunt for Red October.

1990s–2010s

Harrison_Ford

Ford in 2007

Starting in the late 1990s, Ford appeared in several critically derided and commercially disappointing movies, including Six Days, Seven Nights (1998); Random Hearts (1999); K-19: The Widowmaker (2002); Hollywood Homicide (2003); Firewall (2006); and Extraordinary Measures (2010). One exception was 2000’s What Lies Beneath, which grossed over $155 million in the United States and $291 million worldwide.

In 2004, Ford declined a chance to star in the thriller Syriana, later commenting that “I didn’t feel strongly enough about the truth of the material and I think I made a mistake.” The role eventually went to George Clooney, who won an Oscar and a Golden Globe for his work. Prior to that, he had passed on a role in another Stephen Gaghan-written role, Robert Wakefield in Traffic. That role went to Michael Douglas.

In 2008, Ford enjoyed success with the release of Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull, another Lucas/Spielberg collaboration. The film received generally positive reviews and was the second highest-grossing film worldwide in 2008. He later said he would like to star in another sequel, “…if it didn’t take another 20 years to digest.”

Other 2008 work included Crossing Over, directed by Wayne Kramer. In the film, he plays an ICE / Homeland Security Investigations Special Agent, working alongside Ashley Judd and Ray Liotta. He also narrated a feature documentary film about the Dalai Lama entitled Dalai Lama Renaissance.

429px-Harrison_Ford_Cannes

Ford at the 2008 Cannes Film Festival

Ford filmed the medical drama Extraordinary Measures in 2009 in Portland, Oregon. Released January 22, 2010, the film also starred Brendan Fraser and Alan Ruck. Also in 2010, he co-starred in the film Morning Glory, along with Patrick Wilson, Rachel McAdams, and Diane Keaton.

In July 2011, Ford starred alongside Daniel Craig and Olivia Wilde in the science fiction Western film Cowboys & Aliens. To promote the film, Ford appeared at the San Diego Comic-Con International and, apparently surprised by the warm welcome, told the audience, “I just wanted to make a living as an actor. I didn’t know about this.”

In 2011, Ford starred in Japanese commercials advertising the video game Uncharted 3: Drake’s Deception for the PlayStation 3. In 2013, Ford co-starred in the corporate espionage thriller Paranoia, with Liam Hemsworth and Gary Oldman, and directed by Robert Luketic, as well as Ender’s Game, 42, and Anchorman 2: The Legend Continues.

On February 26, 2015, Alcon Entertainment announced Ford would reprise his role as Rick Deckard in Blade Runner 2049.

Personal Life


Marriages and Family

Ford is one of Hollywood’s most private actors, guarding much of his personal life. He has two sons, Benjamin (born 1966) and Willard (born 1969), with his first wife, Mary Marquardt, to whom he was married from 1964 until their divorce in 1979. With his second wife, screenwriter Melissa Mathison, whom he married in March 1983 and from whom he was separated in August 2001 and eventually divorced, he has two more children, Malcolm and Georgia (born 1990).

800px-Harrison_Ford_and_Calista_Flockhart_at_the_2009_Deauville_American_Film_Festival-02

Ford and his third wife, actress Calista Flockhart at the 2009 Deauville American Film Festival.

Ford began dating actress Calista Flockhart after meeting at the 2002 Golden Globes, and together they are parents to her adopted son, Liam (born 2001). Ford proposed to Flockhart over Valentine’s Day weekend in 2009. They married on June 15, 2010, in Santa Fe, New Mexico, where Ford was filming Cowboys & Aliens.

In her 2016 autobiography The Princess Diarist, Carrie Fisher claimed that she and Ford had a three-month affair in 1976 during the filming of Star Wars.

Ford has three grandchildren: Eliel (born 1993), Ethan (born 2000) and Waylon (born 2010). Son Benjamin, a chef and restaurateur, owns Ford’s Filling Station, a gastropub at The Marriott, L.A. Live, Los Angeles, and Ford’s Filling Station at LAX Terminal 5. Son Willard is the owner of Strong Sports Gym, and was co-owner of Ford & Ching and owner of the Ludwig Clothing company.

Back Injury

In June 1983, at age 40, during the filming of Indiana Jones and the Temple of Doom in London, he herniated a disc in his back, forcing him to fly back to Los Angeles for an operation. He returned six weeks later.

Ankle Injury

On June 11, 2014, Ford injured his ankle during filming of Star Wars: The Force Awakens. He was airlifted to John Radcliffe Hospital in Oxford, England. Ford’s wife soon traveled from the U.S. to be at his hospital bedside, as it was feared that injuries sustained on the set could be worse than previously thought. Doctors suspected that his ankle might have been broken and he might have received a pelvic injury. Producers stated that filming would continue as planned.

Aviation

Actor_Harrison_Ford_touring_the_Air_Force_Museum_in_Dayton,_Ohio_(cropped)

Ford touring the Air Force Museum in 2003

Ford is a licensed pilot of both fixed-wing aircraft and helicopters, and owns an 800 acres (320 hectares) ranch in Jackson, Wyoming, approximately half of which he has donated as a nature reserve. On several occasions, Ford has personally provided emergency helicopter services at the request of local authorities, in one instance rescuing a hiker overcome by dehydration.

Ford began flight training in the 1960s at Wild Rose Idlewild Airport in Wild Rose, Wisconsin, flying in a Piper PA-22 Tri-Pacer, but at $15 an hour (equivalent to $119 in 2016), he could not afford to continue the training. In the mid-1990s, he bought a used Gulfstream II and asked one of his pilots, Terry Bender, to give him flying lessons. They started flying a Cessna 182 out of Jackson, Wyoming, later switching to Teterboro, New Jersey, flying a Cessna 206, the aircraft he soloed in.

Ford keeps his aircraft at Santa Monica Airport, though the Bell 407 is often kept and flown in Jackson, Wyoming, and has been used by the actor in two mountain rescues during his assigned duty time with Teton County Search and Rescue. On one of the rescues, Ford recovered a hiker who had become lost and disoriented. She boarded Ford’s helicopter and promptly vomited into one of the rescuers’ caps, unaware of who the pilot was until much later; “I can’t believe I barfed in Harrison Ford’s helicopter!” she said later.

Ford flies his de Havilland Canada DHC-2 Beaver (N28S) more than any of his other aircraft, and has repeatedly said that he likes this aircraft and the sound of its Pratt & Whitney R-985 radial engine. According to Ford, it had been flown in the CIA’s Air America operations, and was riddled with bullet holes that had to be patched up.

In March 2004, Ford officially became chairman of the Young Eagles program of the Experimental Aircraft Association (EAA). Ford was asked to take the position by Greg Anderson, Senior Vice President of the EAA at the time, to replace General Charles “Chuck” Yeager, who was vacating the post that he had held for many years. Ford at first was hesitant, but later accepted the offer and has made appearances with the Young Eagles at the EAA AirVenture Oshkosh gathering at Oshkosh, Wisconsin, for two years. In July 2005, at the gathering in Oshkosh, Ford agreed to accept the position for another two years. Ford has flown over 280 children as part of the Young Eagles program, usually in his DHC-2 Beaver, which can seat the actor and five children. He is involved with the EAA chapter in Driggs, Idaho, just over the Teton Range from Jackson, Wyoming. On July 28, 2016, Ford flew the two millionth Young Eagle at the EAA AirVenture convention.

As of 2009, Ford appears in Internet advertisements for General Aviation Serves America, a campaign by the advocacy group Aircraft Owners and Pilots Association (AOPA). He has also appeared in several independent aviation documentaries, including Wings Over the Rockies (2009), Flying The Feathered Edge: The Bob Hoover Project (2014), and Living in the Age of Airplanes (2015).

Ford is an honorary board member of the humanitarian aviation organization Wings of Hope. He is also known for having made several trips to Washington, D.C. to fight for pilots’ rights.

Incidents

On October 23, 1999, Harrison Ford was involved in the crash of a Bell 206L4 LongRanger helicopter (N36R). The NTSB accident report states that Ford was piloting the aircraft over the Lake Piru riverbed near Santa Clarita, California, on a routine training flight. While making his second attempt at an autorotation with powered recovery, Ford allowed the aircraft’s altitude to drop to 150–200 feet before beginning power-up. The aircraft was unable to recover power before hitting the ground. The aircraft landed hard and began skidding forward in the loose gravel before one of its skids struck a partially embedded log, flipping the aircraft onto its side. Neither Ford nor the instructor pilot suffered any injuries, though the helicopter was seriously damaged. When asked about the incident by fellow pilot James Lipton in an interview on the TV show Inside the Actor’s Studio, Ford replied, “I broke it.”

On March 5, 2015, Ford’s plane, believed to be a Ryan PT-22 Recruit, made an emergency landing on the Penmar Golf Course in Venice, California. Ford had radioed in to report that the plane had experienced engine failure. He was taken to Ronald Reagan UCLA Medical Center, where he was reported to be in fair to moderate condition. Ford suffered a broken pelvis and broken ankle during the accident, as well as other injuries.

On February 13, 2017, Ford landed an Aviat Husky at John Wayne Airport on the taxiway left of runway 20L. A Boeing 737 was holding short of the runway on the taxiway when Ford overflew them.

Activism


Environmental Causes

Ford is vice-chair of Conservation International an American nonprofit environmental organization headquartered in Arlington, Virginia. The organization’s intent is to protect nature. The institution tries to combine the services or benefits of science, field work, and partnership to find global solutions to global problems. Three ways CI goes about solving nature-related problems are: 1) identifying and moving to protect locations that are crucial, such as those affecting water, food, and air; 2) working with large companies that are involved in energy and agriculture, to ensure the environment is being protected; and 3) working with governments to ensure they have the knowledge and the proper tools to construct policies that are environmentally friendly.

From its origins as an NGO dedicated to protecting tropical biodiversity, CI has evolved into an organization that works with governments, scientists, charitable foundations, and business. CI has been criticised for links to companies with a poor environmental record such as BP, Cargill, Chevron, Monsanto and Shell and for allegedly offering greenwashing services. CI has also been chastised for poor judgment in its expenditure of donors’ money.

In September 2013, Ford, while filming an environmental documentary in Indonesia, interviewed the Indonesian Forestry Minister, Zulkifli Hasan. After the interview the Presidential Advisor, Andi Arief, accused Ford and his crew of “harassing state institutions” and publicly threatened them with deportation. Questions within the interview concerned the Tesso Nilo National Park, Sumatra. It was alleged the Minister of Forestry was given no prior warning of questions nor the chance to explain the challenges of catching people with illegal logging. Ford was provided an audience with the Indonesian President, Susilo Bambang Yudhoyono, during which he expressed concerns regarding Indonesia’s environmental degradation and the government efforts to address climate change. In response, the President explained Indonesia’s commitment to preserving its oceans and forests.

In 1993, the arachnologist Norman Platnick named a new species of spider Calponia harrisonfordi, and in 2002, the entomologist Edward O. Wilson named a new ant species Pheidole harrisonfordi (in recognition of Harrison’s work as Vice Chairman of Conservation International).

Since 1992, Ford has lent his voice to a series of public service messages promoting environmental involvement for EarthShare, an American federation of environmental and conservation charities.

Ford has been a spokesperson for Restore Hetch Hetchy, a non-profit organization dedicated to restoring Yosemite National Park’s Hetch Hetchy Valley to its original condition.

Ford appears in the documentary series Years of Living Dangerously, which provides reports on those affected by, and seeking solutions to climate change.

Political Views

Like his parents, Ford is a lifelong Democrat.

On September 7, 1995, Ford testified before the U.S. Senate Foreign Relations Committee in support of the Dalai Lama and an independent Tibet. In 2007, he narrated the documentary Dalai Lama Renaissance.

In 2003, he publicly condemned the Iraq War and called for “regime change” in the United States. He also criticized Hollywood for making violent movies, and called for more gun control in the United States.

After Republican presidential candidate Donald Trump said his favorite role of Ford’s was Air Force One because he “stood up for America”, Ford reasoned that it was just a film and was doubtful that Trump’s presidential bid would be successful.

Archaeology

Following on his success portraying the archaeologist Indiana Jones, Ford also plays a part in supporting the work of professional archaeologists. He serves as a General Trustee on the Governing Board of the Archaeological Institute of America (AIA), North America’s oldest and largest organization devoted to the world of archaeology. Ford assists them in their mission of increasing public awareness of archaeology and preventing looting and the illegal antiquities trade.

Star Wars: Force for Change

Ford participated in a Star Wars promotion geared toward fans who donated to Star Wars: Force for Change on video call which offered them the opportunity to purchase tickets to the premiere of The Force Awakens.

Selected Filmography


Opera Snapshot_2017-11-30_164739_en.wikipedia.org

Awards and Honors


852px-HarrisonFordHWoFOct10

Ford’s star on the Hollywood Walk of Fame

Ford received an Academy Award for Best Actor nomination for Witness, for which he also received “Best Actor” BAFTA and Golden Globe nominations. He received the Cecil B. DeMille Award at the 2002 Golden Globe Awards and on June 2, 2003, was presented a star on the Hollywood Walk of Fame. Three additional Best Actor Golden Globe nominations have went to Ford, for The Mosquito Coast, The Fugitive and Sabrina.

In 2006 he was awarded the Jules Verne Award, given to an actor who has “encouraged the spirit of adventure and imagination” throughout their career. He received the first ever Hero Award at the 2007 Scream Awards for his many iconic roles, including Indiana Jones and Han Solo, and in 2008, the Spike TV’s Guy’s Choice Award for “Brass Balls”. Both roles earned him two Saturn Awards for Best Actor in 1981 and 2015, respectively.

Ford has also been honored multiple times for his involvement in general aviation, receiving the Living Legends of Aviation Award and EAA’s Freedom of Flight Award in 2009, Wright Brothers Memorial Trophy in 2010, and the Al Ueltschi Humanitarian Award in 2013. In 2013, Flying Magazine ranked him number 48 on their list of the 51 Heroes of Aviation.

Ford received the AFI Life Achievement Award in 2000.

Opera Snapshot_2017-11-30_164826_en.wikipedia.org

15 Manfaat Bengkoang Untuk Ibu Hamil

6-Manfaat-Bengkoang-untuk-Kesehatan-Tubuh-Manusia

Pada dasarnya, bengkoang yang oleh masyarakat Indonesia dikenal sebagai buah ini sebenarnya merupakan umbi tanaman yang berasal dari dataran Meksiko. Dalam bahasa Inggris, umbi buah ini dikenal dengan nama jicama atau yam bean. Bagaimana dengan manfaat bengkoang untuk ibu hamil? Berikut beberapa informasinya.

Berbagai Manfaat Bengkoang Untuk Ibu Hamil


Dalam bidang kecantikan, Anda pasti telah menjumpai banyak produk perawatan dan kecantikan seperti scrub, lotion dan sebagainya yang menggunakan bahan utama bengkoang. Hal ini, karena buah ini mengandung banyak mineral dan vitamin yang baik untuk kulit. Namun, faktanya ada banyak pula manfaat dari bengkoang yang bisa didapatkan oleh ibu hamil yang mengonsumsinya, diantaranya:

1. Mengatasi Lemas dan Lemah Selama Masa Kehamilan

Manfaat yang pertama adalah mengatasi lemas dan lemah selama masa kehamilan. Pada awal masa kehamilan, wanita umumnya akan mengalami lemas dan mudah lelah sehingga tidak heran jika terkadang ada kasus kehamilan yang baru diketahui, karena wanita tersebut pingsan. Agar selanjutnya masalah yang sama tidak terjadi kembali, bengkoang ini perlu dikonsumsi.

2. Membantu Pembentukan Jaringan Saraf Pada Janin

Selain berguna bagi calon ibu itu sendiri, bengkoang yang dikonsumsi oleh ibu hamil juga berguna untuk membantu proses pembentukan jaringan saraf pada janin yang berada dalam kandungan. Hal ini, karena salah satu nutrisi dari bengkoang, yaitu folat. Dengan asupan folat alami yang cukup untuk janin, masalah yang berkaitan dengan kelainan saraf pun bisa diminimalisir.

3. Mencegah Anemia Terutama Di Awal Kehamilan

Pada awal kehamilan, tidak sedikit ibu hamil yang terlihat pucat. Hal ini bisa dikarenakan ia memiliki anemia atau kekurangan sel darah merah. Agar anemia tidak berakibat hingga menyebabkan pingsan, ibu yang sedang hamil harus mengonsumsi makanan yang baik untuk produksi sel darah merah seperti bengkoang ini. Kandungan zat besi di dalamnya akan mengatasi masalah anemia yang dialami ibu hamil.

4. Mengatasi Masalah Kulit Pada Wanita Hamil

Satu dari sekian banyak khasiat bengkoang untuk wanita hamil adalah mengatasi masalah kulit yang biasa terjadi pada ibu hamil. Ketika hamil, kulit bagian perut biasanya akan menunjukkan stretch mark sedangkan bagian tungkak kaki akan terlihat pecah-pecah, karena beban tubuh yang semakin berat. Untuk mengatasinya, bengkoang dengan minyak zaitun dan lainnya perlu diaplikasikan ke bagian tersebut.

5. Membantu Menetralkan Asam Lambung

Apabila wanita hamil memiliki masalah pencernaan seperti mual dan asam lambung, bengkoang yang segar bisa digunakan sebagai makanan alami untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut. Dengan nutrisi yang terkandung di dalam buah ini, rasa sakit akibat masalah pencernaan tersebut bisa lebih dikurangi. Hal ini juga dianggap lebih baik dibandingkan menggunakan obat kimia yang membahayakan janin.

6. Membantu Mengontrol Kadar Kolesterol

Selain produksi darah yang terjaga selama masa kehamilan, kadar kolesterol dalam tubuh juga perlu diperhatikan. Apabila kadar kolesterol jahat meningkat padahal ia sedang hamil, masalah kesehatan yang lebih kompleks mungkin bisa terjadi. Oleh sebab itu, asupan makanan yang dapat mengikat kolesterol jahat sangat diperlukan.

7. Membantu Pembentukan Tulang dan Gigi

Salah satu manfaat bengkoang untuk ibu hamil maupun janinnya adalah untuk membantu proses pembentukan tulang dan gigi. Tulang dan gigi membutuhkan asupan kalsium agar terbentuk sempurna dan kuat. Agar penyerapan kalsium dapat optimal, mineral lain juga dibutuhkan dalam hal ini. Kalsium dan jenis mineral penting tersebut salah satunya bisa didapatkan melalui bengkoang ini.

8. Sebagai Antioksidan

Mineral maupun vitamin yang terdapat dalam bengkoang juga dapat berfungsi sebagai antioksidan penting bagi ibu maupun janin yang dikandungnya. Antioksidan tersebut akan sangat membantu memerangi bakteri, virus, maupun mikroba lainnya yang masuk ke tubuh dan dapat menyebabkan timbulnya penyakit.

9. Melindungi Tubuh Dari Infeksi yang Berbahaya Bagi Janin

Radikal bebas yang masuk bersama udara atau media lainnya ke dalam tubuh juga perlu diatasi agar tidak menyebabkan masalah kesehatan pada wanita yang hamil serta janin yang sedang dikandungnya. Nutrisi dalam bengkoang ini juga akan membantu meminimalisir timbulnya infeksi jika pada suatu kali wanita hamil tersebut terluka dan sebagainya.

10. Mengatasi Mual dan Gejala Morning Sickness Lainnya

Walaupun tidak memiliki peran aktif, manfaat bengkoang bagi ibu hamil dalam membantu mengatasi gejala morning sickness seperti mual juga penting untuk diketahui. Masalah yang biasa terjadi pada awal kehamilan tersebut akan bisa diminimalisir dengan konsumsi bengkoang yang kaya vitamin dan mineral. Buah ini juga bisa menggantikan kebutuhan energi ketika ibu hamil sedang tidak nafsu makan.

11. Mengatasi Sembelit

Pada masa-masa tertentu, wanita yang sedang hamil mungkin akan mengalami sembelit atau susah buang air besar. Oleh sebab itu, konsumsi buah dan sayur yang kaya serat perlu lebih diperhatikan. Dalam menu camilannya, Anda bisa menambahkan bengkoang yang juga mengandung serat untuk dikonsumsi. Dengan begitu, masalah sembelit akan bisa diatasi.

12. Mengoptimalkan Asupan Kalsium yang Dibutuhkan Janin

Ada kalanya asupan kalsium yang masuk ke tubuh tidak akan bisa terserap secara optimal hingga ke janin. Oleh sebab itu, wanita yang sedang hamil juga membutuhkan asupan mineral lain seperti magnesium dan fosfor untuk membantu penyerapan kalsium. Saat kalsium terserap optimal, pertumbuhan dan perkembangan janin juga akan lebih optimal.

13. Sebagai Makanan Sehat Selama Hamil

Manfaat selanjutnya adalah sebagai pendamping makanan sehat selama kehamilan. Wanita yang sedang hamil membutuhkan energi besar agar Ia dan bayinya bisa sehat dari hari ke hari. Oleh sebab itu, konsumsi makanan sehat yang diseimbangkan dengan buah seperti bengkoang hingga susu juga penting untuk diperhatikan.

Simak juga: Manfaat Buah Bit Untuk Ibu Hamil

14. Melancarkan Sistem Peredaran Darah

Selain dengan berolahraga ringan, nutrisi dari makanan seperti bengkoang juga diperlukan agar sistem peredaran darah tetap lancar. Dengan sistem peredaran darah yang lancar, metabolisme dan aktivitas dalam tubuh bisa normal. Dengan begitu, masalah atau gangguan kesehatan bisa kecil resikonya untuk terjadi.

15. Membantu Produksi Sel Darah Merah

Manfaat yang terakhir adalah membantu produksi sel darah merah. Karena kandungan zat besi dan mineral lainnya dari buah berwarna putih susu ini sangat dibutuhkan untuk membantu produksi sel darah merah, Anda bisa menjadikan bengkoang ini sebagai camilan buah yang sehat bersama buah-buahan lainnya.

Pada umumnya, bengkoang harus dikupas terlebih dahulu agar dapat dinikmati. Karena terkadang buahnya berukuran besar, akan lebih baik jika setelah dikupas, Anda mencuci dan memotongnya menjadi potongan dadu. Selain dimakan langsung, Anda juga bisa mengolah buah ini menjadi makanan atau minuman yang lezat dan menyegarkan.

.

Penulis Yulia Safitrah | Seputar Buah | Diterbitkan 3/05/2017

 

15 Manfaat Buah Leci Untuk Kesehatan dan Kecantikan

Lychee

Leci merupakan buah yang masih satu keluarga dengan buah kiwi. Buah ini memiliki 2 varian, yaitu merah dan hijau. Buah yang memiliki banyak sebutan ini memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Berikut ini ada beberapa info menarik seputar kandungan serta manfaat buah leci yang bisa Anda simak.

Kandungan Nutrisi Buah Leci


Buah yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan maupun kecantikan ini mengandung nutrisi yang berkhasiat bagi tubuh. Nutrisi yang mendominasi dalam 100 gram buah leci antara lain, yaitu:

1. Potasium

Potasium merupakan mineral penting yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh. Dalam 100 gram buah leci segar, terdapat 4% atau setara 171 mg potasium. Sementara itu, pada buah leci kering, terdapat 31% potasium atau setara dengan 1110 mg potasium.

2. Karbohidrat

Karbohidrat total dalam 100 gram leci segar adalah 7 gram. Sedangkan karbohidrat total dalam leci kering adalah 71 gram atau sekitar 23%. Karbohidrat total tersebut terdiri dari serat dan gula. Buah leci kering memiliki kandungan serat dan gula lebih banyak, yaitu 13% lebih banyak dari buah leci segar.

3. Vitamin C

Selain buah kesemek, buah yang mengandung banyak vitamin C adalah leci. Vitamin C dalam buah leci segar adalah sekitar 119%, sementara vitamin C dalam buah leci kering adalah sekitar 305% setiap 100 gramnya. Selain vitamin C, buah leci juga mengandung vitamin B-6, zat besi, magnesium dan kalsium.

Manfaat Buah Leci Untuk Kesehatan dan Kecantikan


Ada banyak manfaat buah leci yang bisa Anda dapatkan, jika Anda rutin mengonsumsi buah leci dengan porsi secukupnya. Manfaat yang bisa diperoleh dari konsumsi buah leci antara lain sebagai berikut.

1. Sebagai Sumber Alami Pencegahan Kanker

Manfaat buah leci untuk kesehatan yang pertama adalah sebagai sumber alami anti kanker. Sebuah penelitian menemukan bahwa buah ini mengandung antioksidan dan flavonoid yang berperan aktif untuk memerangi sel kanker payudara. Anda bisa rajin mengonsumsi jus atau ekstrak leci, jika tidak ingin terkena penyakit kanker.

2. Menyehatkan Jantung

Leci juga mengandung senyawa oligonol yang berkhasiat untuk memproduksi oksida nitrat. Hasil produksi tersebut berguna untuk memperluas pembuluh darah sehingga tekanan jantung bisa lebih ringan. Jantung yang bekerja secara tidak berlebihan pun bisa lebih terjaga kesehatannya.

3. Membantu Menurunkan Berat Badan

Salah satu manfaat buah leci bagi kesehatan yang penting untuk diketahui oleh mereka yang sedang obesitas adalah khasiat leci untuk membantu menurunkan berat badan. Kalori yang rendah dalam leci cukup bagus untuk dikonsumsi oleh mereka yang sedang melakukan diet rendah kalori. Daripada memakan snack roti dari tepung putih, akan lebih baik jika memakan beberapa butir buah leci yang kaya akan air dan serat ini.

4. Menghambat Tanda-Tanda Penuaan

Manfaat buah leci untuk kecantikan adalah mencegah serta menghambat tanda-tanda penuaan dini seperti keriput yang sering dirisaukan banyak wanita. Zat antioksidan yang terdapat dalam buah leci dapat mengikat radikal bebas yang berpotensi merusak kulit. Untuk mendapatkan manfaat ini, Anda dapat mengambil daging buah leci dan mencampurnya dengan pisang matang untuk dioleskan pada wajah sebagai masker.

5. Mencerahkan Kulit

Salah satu manfaat buah leci untuk kecantikan yang masih terkait dengan kulit adalah khasiat buah leci untuk mencerahkan kulit. Vitamin C yang terkandung dalam leci mampu membuat kulit Anda terlihat lebih cerah dan tidak kusam.

6. Sebagai Anti Inflamasi

Kandungan flavonoid yang terdapat dalam buah leci dapat berperan sebagai agen anti inflamasi. Anda yang sering mengonsumsi buah kaya flavonoid ini tidak akan mudah mengalami masalah peradangan akibat aktivitas tertentu seperti olahraga berat.

7. Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Cuaca yang tidak menentu membuat tubuh riskan terhadap berbagai penyakit seperti batuk, filek, flu, dan sebagainya. Anda yag tidak ingin mengambil resiko terkena penyakit musiman ini dapat memperkuat kekebalan tubuh Anda dengan mengonsumsi buah leci. Vitamin C dalam buah leci dapat memperkuat sistem imun dari gempuran penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

8. Mengatur Tekanan Darah

Manfaat buah leci yang terkait dengan tekanan darah adalah khasiat buah leci untuk menyeimbangkan kadar potasium dan natrium dalam darah sehingga tekanan darah bisa tetap normal. Potasium dalam buah ini juga sekaligus dapat merilekskan pembuluh darah.

9. Membantu Kesehatan Rambut

Ada manfaat buah leci untuk kesehatan rambut yang perlu Anda ketahui. Apabila ada sebagian diantara Anda yang mengalami masalah kerontokan rambut akibat stress maupun polusi, Anda bisa mengambil beberapa sari buah leci yang kemudian dicampur dengan aloe vera untuk dioleskan di kulit kepala. Tembaga yang terdapat dalam leci dapat merangsang folikel rambut agar rambut baru cepat tumbuh.

10. Mencegah Anemia

Konsumsi buah leci sangat direkomendasikan untuk mereka yang rentan terkena anemia. Zat tembaga yang terdapat dalam buah ini dapat membantu meningkatkan jumlah hemoglobin dalam darah orang yang mengonsumsinya.

11. Memperkuat Tulang

Senyawa penting yang terdapat dalam buah leci seperti fosfor, tembaga, zat besi, magnesium, mangan dan masih banyak lagi merupakan senyawa yang sangat diperlukan untuk kesehatan tulang. Mineral tersebut berperan aktif dalam membantu penyerapan kalsium yang berguna untuk memperkuat tulang.

12. Mengobati Gangguan Kulit Akibat Radiasi Sinar Matahari

Satu lagi manfaat buah leci untuk kecantikan adalah mengatasi gangguan kulit dari radiasi sinar matahari langsung. Wanita yang memiliki kulit kemerahan, lecet serta iritasi lainnya dapat mengembalikan kecantikan kulit mereka dengan memanfaatkan buah leci yang kaya vitamin C dengan sumber vitamin E. Leci dan kapsul vitamin E yang dioleskan pada kulit yang kemerahan memiliki efek pengobatan yang cukup efektif untuk dicoba.

13. Menyehatkan Sistem Pencernaan

Manfaat buah leci bagi kesehatan yang juga perlu Anda ketahui adalah menyehatkan sistem pencernaan sekaligus mengatasi gangguan pencernaan seperti sembelit. Sakit perut dapat diatasi dengan konsumsi leci karena kandungan air dalam leci memiliki sifat merilekskan perut. Selain itu, serat dalam leci juga dapat membantu orang yang sembelit agar sistem pencernaannya kembali lancar.

14. Mencegah Gangguan Katarak

Beberapa penelitian menemukan bahwa buah leci juga mengandung zat yang dapat menurunkan resiko penyakit katarak. Hal ini karena adanya zat fitokimia yang bersifat antineoplastik. Zat tersebut mampu mencegah pertumbuhan dan perkembangan sel-sel abnormal penyebab katarak.

15. Mengatasi Influenza

Manfaat buah leci untuk kesehatan yang terakhir dalam pembahasan ini adalah khasiat leci untuk mengatasi influenza. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat diatasi dengan buah leci. Kandungan oligonol dalam buah leci berkhasiat untuk mematikan perkembangbiakan virus influenza tersebut.

.

Penulis Yulia Safitrah | Seputar Buah | Diterbitkan 11/21/2016

 

Manfaat dan Bahaya Buah Kelengkeng Untuk Ibu Hamil

Kelengkeng longan

Kelengkeng merupakan buah tropis yang memiliki nama latin Dimocarpus longan. Buah yang juga disebut dengan nama lengkeng ini berasal dari kawasan Asia Selatan. Berikut ini ada beberapa uraian mengenai segala hal yang berkaitan dengan buah kelengkeng termasuk manfaat buah kelengkeng beserta bahayanya apabila dikonsumsi secara berlebihan oleh ibu hamil.

Kandungan Nutrisi Buah Kelengkeng


Meskipun ada beberapa hal seputar bahaya kelengkeng untuk ibu hamil yang harus diketahui, namun kandungan nutrisi yang terdapat dalam buah kelengkeng pun harus diketahui dengan baik, karena buah magis ini pun kaya akan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Berikut ini beberapa nutrisi yang terdapat dalam buah kelengkeng.

1. Energi 60 kcal per 100 gram Kelengkeng

Dalam 100 gram sajian daging buah kelengkeng, ada sekitar 60 kcal energi yang dapat menjadi asupan untuk tubuh. Energi dalam buah kelengkeng tersebut dapat menjadi suplai makanan sehat untuk diet. Inilah salah satu nutrisi yang menjadikan banyaknya manfaat buah kelengkeng bagi tubuh.

2. Vitamin C

Buah yang dalam bahasa Cina disebut dengan lóngyǎn yang artinya bola mata naga ini juga kaya akan vitamin C. Dalam sajian 100 gram buah kelengkeng, terdapat 84 mg vitamin C yang baik untuk tubuh. Delapan puluh empat milligram vitamin C tersebut sama dengan 101% dari semua nutrisi 100 gram kelengkeng.

3. Potasium

Buah yang satu keluarga dengan buah leci ini juga mengandung potasium, yaitu sejenis mineral yang berfungsi untuk meningkatkan stamina dan kesehatan organ. Dalam 100 gram kelengkeng, terdapat sekitar 266 mg mineral potasium. Akan berbahaya jika tubuh kelebihan potasium, maka Anda bisa mengonsumsi kelengkeng secukupnya, misalnya beberapa butir saja.

Manfaat Buah Kelengkeng Untuk Ibu Hamil


1. Membantu Menambah Stamina Untuk Ibu Hamil

Manfaat yang pertama adalah sebagai asupan nutrisi untuk menambah stamina atau energi. Adanya kandungan glukosa dan sukrosa dalam daging buah kelengkeng dapat menjadi asupan nutrisi untuk membantu mengembalikan stamina pada ibu hamil. Sebagaimana yang kita tahu, ibu hamil sering terlihat lemas dan tidak bersemangat. Hal ini dikarenakan adanya penurunan stamina.

2. Mengatasi Keluhan Tidur pada Ibu Hamil

Selama masa kehamilan, tidak sedikit ibu hamil yang mengeluhkan tidur mereka. Dengan mengonsumsi beberapa butir buah kelengkeng di waktu malam, ibu yang sedang hamil bisa lebih tenang saat tidur. Para wanita hamil juga bisa mengambil nutrisi buah kelengkeng dalam bentuk tonik.

3. Membantu Mengatasi Gejala Morning Sickness

Satu dari sekian banyak manfaat buah kelengkeng untuk ibu hamil adalah membantu mengatasi masalah pencernaan akibat morning sickness. Sebagian besar wanita hamil yang mengalami mual dan muntah dapat memakan beberapa butir buah kelengkeng segar atau beku. Nutrisi dalam daging buah kelengkeng seperti lemak dan protein nabati akan membantu metabolisme pencernaan yang terganggu akibat morning sickness.

4. Sebagai Asupan Vitamin Bagi Wanita Hamil

Wanita yang sedang hamil tidak hanya membutuhkan asupan nutrisi untuk dirinya, namun juga janinnya. Salah satu nutrisi penting yang diperlukan adalah vitamin. Sebagaimana yang kita tahu, buah kelengkeng kaya akan vitamin C, B1, B2 dan B3.

5. Meningkatkan Sistem Imun bagi Ibu dan Janinnya

Manfaat lainnya yang perlu juga diketahui adalah membantu menjaga sistem imun bagi ibu dan janinnya. Wanita yang sedang hamil harus sehat agar janin yang dikandungnya juga sehat. Daging buah kelengkeng bisa dikonsumsi saat pagi dan malam agar vitamin A dan C pada buah kelengkeng dapat diserap tubuh dan membantu memperkuat sistem imun.

6. Sebagai Solusi Atas Keluhan Susah Buang Air Kecil pada Ibu Hamil

Rahim yang membesar pada ibu hamil umumnya akan mendesak kandung kemih yang posisinya didekat rahim. Karenanya tidak heran jika tidak sedikit ibu hamil yang mengeluh kesulitan saat buang air kecil. Dengan konsumsi beberapa butir buah kelengkeng, rasa tidak nyaman dan kesakitan saat buang air kecil dapat dihilangkan.

7. Sebagai Solusi Alami Mengatasi Cacingan Selama Masa Kehamilan

Khasiat buah kelengkeng untuk ibu hamil yang juga penting untuk diketahui adalah sebagai solusi alami untuk mengatasi masalah cacingan selama masa kehamilan. Obat-obatan kimia umumnya dibatasi penggunaannya untuk ibu hamil, karena dapat membahayakan janin dalam rahimnya. Daging buah kekelengkeng mengandung asam tartic yang memiliki khasiat sama seperti obat cacing.

8. Melancarkan Sirkulasi Darah

Buah kekelengkeng mengandung banyak mineral yang dibutuhkan oleh calon ibu di saat-saat kehamilan. Wanita hamil yang mengalami masalah anemia atau kurang darah bisa disebabkan karena suplai mineral dalam proses sirkulasi darah kurang tercukupi.

9. Membantu Melancarkan Kerja Organ

Selain dapat mengatasi masalah insomnia, manfaat buah kelengkeng untuk wanita hamil lainnya adalah membantu kelancaran kerja organ seperti jantung dan limpa. Mineral seperti potasium yang terdapat dalam daging buah kelengkeng dapat membantu meringankan kerja jantung dan limpa sekaligus meminimalisir resiko penyakit kardio dan stroke.

10. Menenangkan Saraf yang Tegang

Wanita hamil juga sering mengalami tegang saraf, karena pikiran tertentu. Agar lebih rileks, wanita yang sedang hamil disarankan mengonsumsi kelengkeng di pagi hari atau malam hari. Hal ini karena daging buah kelengkeng mengandung zat yang dapat menenangkan dan merilekskan fungsi saraf.

11. Pendamping Diet Sehat

Nutrisi seperti karbohidrat kompleks merupakan pilihan tepat bagi wanita hamil yang ingin menjaga pola makan saat hamil. Buah yang ternyata rendah lemak ini juga baik untuk mereka yang beresiko terkena diabetes di masa kehamilan.

12. Menjaga Kesehatan Kulit

Daging buah kekelengkeng mengandung nutrisi yang baik untuk meminimalisir kerusakan seperti stretch mark pada kulit secara alami. Meski demikian, Anda juga bisa tetap melakukan perawatan luar seperti dengan mengolesi kulit menggunakan minyak zaitun, dan sebagainya.

13. Meningkatkan Nafsu Makan

Selain mengatasi masalah pencernaan, manfaat buah kelengkeng untuk ibu hamil yang tidak kalah penting adalah untuk meningkatkan nafsu makan. Banyak wanita hamil yang menjadi tidak nafsu makan, karena masalah morning sickness hingga diare.

14. Mencegah Demam dan Flu

Wanita hamil yang terkena demam atau flu juga bisa mempengaruhi kesehatan janinnya. Oleh karena itu, agar terhindar dari flu, ibu hamil disarankan mengonsumsi buah yang kaya akan vitamin C. Salah satunya adalah dari daging buah kelengkeng.

15. Meningkatkan Kesehatan Usus

Manfaat yang terakhir adalah membantu kesehatan organ pencernaan itu sendiri. Buah kelengkeng mengandung nutrisi yang dapat menyehatkan organ pencernaan pada wanita hamil seperti usus. Dengan usus yang sehat, nutrisi makanan pun bisa terserap dengan baik.

Bahayanya Kelengkeng Untuk Ibu Hamil


1. Menghambat Proses Persalinan

Bahayanya buah kelengkeng untuk ibu hamil yang pertama adalah dapat menghambat proses persalinan. Ibu hamil tidak disarankan mengonsumsi buah kelengkeng secara berlebihan, apalagi saat menginjak usia kehamilan 7-9 bulan. Hal ini karena sifat panas yang ditimbulkan dari buah kelengkeng dapat menyebabkan janin bayi bergerak aktif. Apabila posisi janin tidak sesuai dengan yang diharapkan dalam prosedur persalinan, maka hal ini akan menyulitkan.

2. Merusak Pertumbuhan Janin

Selain mengganggu persalinan, bahayanya buah kelengkeng untuk ibu hamil lainnya adalah mengganggu pertumbuhan janin. Buah kelengkeng yang tercemar bakteri radikal bebas ataupun racun pestisida dapat menyebabkan iritasi pada janin, sehingga pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu.

3. Meningkatkan Resiko Keguguran

Bahayanya buah kelengkeng untuk ibu hamil yang penting diketahui adalah meningkatnya resiko keguguran. Buah kelengkeng memiliki sifat panas yang sama dengan buah nangka dan nanas. Apabila wanita hamil yang memasuki trimester 3 bulan kehamilan mengonsumsi kelengkeng secara berlebihan, janin dalam rahim bisa luruh alias keguguran.

4. Menyebabkan Komplikasi

Bahayanya buah kelengkeng untuk ibu hamil jika dikonsumsi secara berlebihan adalah menyebabkan komplikasi baik pada ibu maupun janinnya. Komplikasi yang terjadi bisa berupa nyeri perut, flek, bercak darah dan sebagainya. Durian, kopi dan softdrink juga memiliki sifat panas yang sama dengan kelengkeng.

5. Kegemukan

Karena mengandung banyak gula dan karbohidrat kompleks, jika dikonsumsi secara berlebihan buah kelengkeng juga bisa menyebabkan kegemukan atau obesitas. Padahal, kegemukan kurang baik dampaknya pada wanita hamil karena dapat meningkatkan resiko penyakit diabetes dan penyakit serius lain. Jadi, wanita hamil direkomendasikan makan kelengkeng secukupnya saja.

.

Penulis Yulia Safitrah | Seputar Buah | Diterbitkan 11/19/2016