Kenapa Perempuan Wajib Buang Air Kecil Setelah Berhubungan Seks?


KHUSUS PASUTRI

shutterstock_246882526

Bagi kebanyakan wanita, sehabis bercinta dengan pasangan paling tepat jika dilanjutkan dengan sesi cuddling atau berpelukan mesra. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ada satu kebiasaan penting yang wajib dilakukan para wanita setelah bermain cinta bersama pasangan?

Ya, Anda harus langsung buang air kecil setelah berhubungan seks. Para ahli sepakat bahwa buang air kecil setelah seks bisa membantu mencegah infeksi saluran kencing. Namun, apa kaitan antara seks dan infeksi saluran kencing? Untuk mencari tahu jawabannya, simak terus informasi berikut ini.

Apa itu infeksi saluran kencing?

Penyakit ini muncul ketika ada infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada organ saluran kencing. Organ-organ tersebut antara lain adalah kandung kemih, uretra, dan ginjal. Namun, biasanya yang paling sering terserang infeksi saluran kencing adalah kandung kemih dan uretra.

Beberapa gejala yang muncul jika Anda mengidap infeksi saluran kencing adalah rasa perih seperti terbakar ketika buang air kecil, anyang-anyangan (ingin buang air kecil terus tapi tidak keluar atau hanya keluar sedikit sekali), nyeri di punggung bawah atau perut bawah, dan kencing berdarah.    

Apa hubungannya seks dengan infeksi saluran kencing?

Infeksi saluran kencing disebabkan oleh bakteri dari luar tubuh manusia. Bakteri bisa masuk ke dalam tubuh manusia, khususnya saluran kencing, lewat seks. Ini karena saat berhubungan seks, area vagina atau anus akan terpapar berbagai macam bakteri. Bakteri pun akan menjalar menuju uretra dan menyebabkan infeksi.

Bakteri-bakteri tersebut sumbernya bisa dari macam-macam hal. Misalnya jari dan tangan (ketika vagina dirangsang dengan jari), kondom, penis, sex toy, atau objek-objek lainnya. Dengan buang air kecil, Anda bisa mendorong bakteri-bakteri tersebut keluar dari saluran kencing. Maka, penting bagi wanita untuk buang air kecil sebelum berbagai jenis bakteri masuk ke uretra atau kandung kemih.  

Apakah cuma wanita yang harus buang air kecil setelah seks?

Keharusan untuk buang air kecil setelah bercinta memang selalu ditekankan khususnya bagi wanita. Ini karena anatomi tubuh perempuan berbeda dengan laki-laki. Pada perempuan, letak vagina dan anus dengan uretra sangat berdekatan. Jaraknya hanya sekitar 5 sentimeter. Maka, bakteri dan kuman lebih cepat menyebar dan pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya.

Sementara itu, pada laki-laki uretra dan kandung kemih lebih sulit dijangkau bakteri. Akan tetapi, bukan berarti pria tidak mungkin terserang infeksi saluran kencing. Pada kenyataannya, 20% dari kasus infeksi saluran kencing terjadi pada laki-laki. Untuk mencegah penyakit ini, setelah bercinta laki-laki sebaiknya membersihkan dan membasuh area penis.

Berapa lama bisa menunda buang air kecil setelah berhubungan seks?

Meskipun buang air kecil bisa mencegah infeksi saluran kencing, bukan berarti Anda harus langsung mengacir ke kamar mandi setelah penetrasi. Hal tersebut tentu bisa bikin mood dan suasana romantis langsung lenyap. Anda boleh kok, berbaring dan bermesraan sebentar bersama pasangan setelah berhubungan seks.

Para ahli sendiri tidak menentukan tepatnya berapa menit atau jam setelah seks wanita harus buang air kecil. Yang penting jangan sampai Anda tertidur semalaman habis bercinta tanpa buang air kecil dulu. Jika muncul desakan untuk buang air kecil, jangan ditahan-tahan. Namun, kalau sudah lewat berjam-jam tanpa rasa kebelet, cobalah untuk banyak minum air putih atau menambah asupan cairan lewat makanan.

Jangan lupa, untuk mengurangi risiko infeksi akibat jamur, bakteri, dan parasit, cuci vagina Anda dengan air hangat dan antiseptik khusus vagina. Hindari sabun vagina yang mengandung pewangi karena bisa menyebabkan iritasi, dan cukup cuci bagian luar vagina saja agar tidak mengganggu bakteri baik bagian dalam saluran vagina.

Oleh Irene Anindyaputri. Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

 

Cara Membersihkan Vagina Sehabis Berhubungan Seks


KHUSUS PASUTRI

Cara-Cara-Membersihkan-Vagina-Sehabis-Berhubungan-Seks

Bagi para wanita, hukumnya wajib membersihkan vagina setelah berhubungan seks. Tapi, membersihkannya tidak hanya sekedar mengelap atau membasuh bagian vagina dengan air, ya.

Membersihkan bagian vagina sehabis berhubungan seks bagi wanita, penting dilakukan dengan benar, karena sehabis melakukan aktivitas seks, vagina Anda rentan terkena virus, bakteri dan jamur yang bisa memicu masalah kesehatan hingga penyakit seksual menular. Apakah Anda tahu bagaimana cara membersihkan vagina yang benar?

Bagaimana cara membersihkan vagina yang benar?

Penggunaan pelumas, sex toys, atau hal lain yang masuk ke dalam vagina Anda (termasuk penis), dapat meningkatkan risiko vagina terkena jamur atau bakteri berbahaya lainnya. Berikut ini, merupakan cara membersihkan vagina yang dianjurkan menurut Dr. Sherry Ross, seperti yang dikutip dari WomensHealth:

1. Gunakan air hangat

Anda bisa membersihkan area luar vagina dengan menggunakan air hangat, dan handuk lembut untuk mengeringkannya. Dr. Ross juga memperbolehkan wanita menggunakan pembersih kewanitaan asalkan tak mengandung wewangian.

Anda bisa menggunakan antiseptik kewanitaan yang mengandung Povidone-iodine yang bisa mencegah berkembangnya bakteri, virus dan jamur penyebab infeksi vagina.

2. Bagian dalam lubang vagina tidak perlu dibersihkan, cukup luarnya saja

Saat vagina dibersihkan, Anda tidak perlu douching, memasukkan jari, air, sabun atau benda lain untuk membersihkannya. Cukup dibersihkan di bagian labia atau luar vagina saja.

Pada dasarnya, vagina bagian dalam bisa membersihkan organ mereka sendiri. Vagina memiliki kemampuan untuk membersihkan organnya sendiri, untuk menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam vagina.

3. Bersihkan saluran dalam vagina dengan buang air kecil sehabis berhubungan seks

Keharusan untuk buang air kecil setelah bercinta memang selalu ditekankan, khususnya bagi wanita. Ini karena anatomi tubuh perempuan berbeda dengan laki-laki.

Pada perempuan, letak vagina dan anus dengan uretra sangat berdekatan. Jaraknya hanya sekitar 5 sentimeter. Maka, bakteri dan kuman lebih cepat menyebar dan pindah dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya. Dan hal ini adalah sebagai salah satu upaya sederhana namun wajib dilakukan untuk menjaga kebersihan vagina

4. Makan makanan probiotik

Anda juga bisa menjaga kesehatan dan kebersihan vagina dengan rutin mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik seperti tempe, yogurt, kimchi, dan makanan fermentasi lainnya. Makanan-makanan ini perlu Anda bagus untuk dikonsumsi wanita, guna membantu membersihkan vagina dari dalam.

Mengapa demikian??

Sesuai dengan fungsinya, probiotik diperlukan untuk menggantikan dan meningkatkan jumlah bakteri baik dalam tubuh. Menurut Kelly Kasper, seorang dokter kandungan di Indiana University Health, bakteri baik yang ditemukan dalam makanan fermentasi sama dengan bakteri baik yang ditemukan di area sekitar vagina. Dengan mengonsumsi probiotik yang ditemukan dalam makanan fermentasi, Anda turut membantu diri Anda terhindar dari infeksi bakteri dan menjaga kesehatan vagina dari dalam juga.

Oleh Novita Joseph. Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Petra


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasUNESCO World Heritage Site LOGO-100-100

The_Monastery,_Petra,_Jordan8-800

Petra (dari πέτρα petra, “batu” dalam bahasa Yunani; bahasa Arab: البتراء, al-Bitrā) adalah sebuah situs arkeologikal di Ma’an, Yordania. Tempat ini terkenal dengan bangunan arsitektur yang dipahat pada bebatuan serta sistem pengairannya.

Opera Snapshot_2018-02-05_214114_id.wikipedia.org

Diperkirakan dibangun pada awal tahun 312 sebelum masehi, sebagai ibu kota dari Nabath,  yang sekarang menjadi simbol dari Yordania, dan juga menjadi tempat kunjungan favorit para turis.  Tempat ini terletak pada yang terletak di dataran rendah di antara gunung-gunung Gunung Hor  yang membentuk sayap timur Wadi Araba, lembah besar yang berawal dari Laut Matisampai Teluk Aqaba.

Situs ini tidak pernah diketemukan oleh dunia barat hingga 1812, ketika pengelana dari Swiss, Johann Ludwig Burckhardtmenemukannya untuk pertama kalinya. Situs ini digambarkan seperti “sebuah kota mawar merah yang antik” dalam salah satu puisi yang menang dalam lomba Newdigate Prize, karya dari John William Burgon. Sedangkan UNESCO menyatakannya sebagai “salah satu peninggalan kultural yang paling penting dalam peradaban manusia” dan masuk sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 6 Desember 1985.  Petra dipilih oleh majalah “Smithsonian” sebagai salah satu dari “28 tempat yang harus dikunjungi sebelum meninggal dunia”.

Geografi 


511px-Petra_location_map-fr.svg

Peta dari area tersebut

Karta_Petra

Peta dari Petra

800px-Petra_Jordan_BW_37

Reruntuhan kota Romawi dan benteng batu Petra

Petra terletak ditengah-tengah antara Teluk Aqaba dan Laut Mati pada ketinggian kurang lebih 800 hingga 1.396 meter diatas permukaan laut, di sebuah lembah dari sebuah pegunungan Edom, sebelah timur dari lembah Arabah. Saat ini ia terletak kurang lebih 200 km arah selatan dari ibu kota Yordania, Amman yang dapat ditempuh dalam waktu 3 jam dengan berkendaraan mobil.

Lokasi dari Petra, tersembunyi di antara bebatuan dan tebing bertingkat dengan pasokan air yang sangat baik, menjadikannya tempat ideal untuk sebuah kota mandiri. Tempat tersebut hanya bisa dikunjungi melalui celah sempit di pegunungan dari arah barat daya atau timur melalui sebuah canyon dengan panjang kurang lebih 1,5 kilometer dan kedalaman 200 meter, yang disebut dengan Siq, sebagai akses utama, yang merupakan celah sangat sempit, dengan lebar hanya 2 meter.

Ketersediaan air dan keamaanan yang dimilikinya menjadikan Petra sebagai tempat perhentian yang layak di perlintasan jalur-jalur kafilah penghubung Mesir dengan Suriah dan Arab Selatan dengan Mediterania, yang terutama menyalurkan barang-barang mewah (rempah-rempah dan sutra dari India, gading dari Afrika, mutiara dari Laut Merah, dan kemenyan dari Arab Selatan). Damar dari “pohon kemenyan” ( Boswellia ) sangat dihargai di seluruh dunia kuno khususnya sebagai persembahan dalam upacara-upacara keagamaan, namun juga sebagai obat.

Dunia usaha yang digerakkan oleh kafilah-kafilah dan pemungutan cukai menghasilkan keuntungan besar bagi orang-orang Nabatea. Dengan demikian kota ini menjadi sebuah pasar yang penting sejak abad ke-5 SM sampai abad ke-3 SM.

Plinius yang Tua dan para penulis lainnya, menyatakan bahwa Petra adalah ibu kota dari Nabath, dan pusat dari perdagangan dengan mempergunakan karavan. Terdiri dari dinding batu dengan sistem pengairan yang baik, Petra tidak hanya memiliki banyak keuntungan sebagai benteng, tetapi ia juga mengontrol rute perdagangan utama yang melewati Gaza di Barat, ke Bushra dan Damaskus di Utara, ke Aqaba di Laut Merah, dan sepanjang gurun hingga ke Teluk Persia.

Kota di Dinding Batu


483px-Petra_Jordan_BW_21

Al-Khazneh

Salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru adalah Petra. Penetapan tujuh keajaiban dunia itu merupakan pilihan dari 100 juta orang di seluruh dunia lewat situs internet dan pesan singkat (SMS) telepon seluler, yang diadakan oleh SwissFoundation, serta diumumkan di Lisbon, Portugal, pada 07-07-07 alias 7 Juli 2007.

Petra adalah kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding batu di Yordania. Petra berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘batu’. Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan.

Kata ini merujuk pada bangunan kotanya yang terbuat dari batu-batu di Wadi Araba, sebuah lembah bercadas di Yordania. Kota ini didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter.

Petra merupakan ibu kota Kerajaan Nabatea. Didirikan sembilan tahun sebelum Masehi sampai dengan tahun ke-40 M oleh Raja Aretas IV sebagai kota yang sulit untuk ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir.

Suku Nabatea membangun Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit. Terdapat terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, sehingga mencegah banjir mendadak. Mereka juga memiliki teknologi hidraulik untuk mengangkat air.

Terdapat juga sebuah teater yang mampu menampung 4.000 orang. Kini, Istana Makam Hellenistis yang memiliki tinggi 42 meter masih berdiri impresif di sana.

Kotanya Suku Nabatea


Petra yang bisa ditempuh sekitar 3-5 jam perjalanan darat dari kota Amman, Yordania, dulu adalah ibu kota suku Nabatea, salah satu rumpun bangsa Arab yang hidup sebelum masuknya bangsa Romawi.

Sebenarnya, asal usul suku Nabatea tak diketahui pasti. Mereka dikenal sebagai suku pengembara yang berkelana ke berbagai penjuru dengan kawanan unta dan domba.

Warga Petra awal adalah penyembah berhala. Dewa utama mereka adalah Dushara (Dzu as-Shara/Dusares), yang disembah dalam bentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan. Dushara disembah berdampingan dengan Allat, dewi Bangsa Arab kuno.

Mereka sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih.

Di akhir abad ke-4 Sebelum Masehi, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatea memberanikan diri mulai ikut dalam perdaganan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia.

Suku Nabatea akhirnya bisa menjadi para saudagar yang sukses, dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India timur.

Letak yang strategis untuk mengembangkan usaha dan hidup, serta aman untuk melindungi diri dari orang asing itulah alasan suku Nabatea memutuskan untuk menetap di wilayah batu karang Petra.

Untuk mempertahankan kemakmuran yang telah diraih, mereka memungut bea cukai dan pajak kepada para pedagang setempat atau dari luar yang masuk ke sana. Suku Nabatea akhirnya berhasil membuat kota internasional yang unik dan tak biasa.

Pada awalnya Petra dibangun untuk tujuan pertahanan. Namun belakangan, kota ini dipadati puluhan ribu warga sehingga berkembang menjadi kota perdagangan karena terletak di jalur distribusi barang antara Eropa dan Timur Tengah.

Pada tahun 106 Masehi, Romawi mencaplok Petra, sehingga peran jalur perdagangannya melemah. Sekitar tahun 700 M, sistem hidraulik dan beberapa bangunan utamanya hancur menjadi puing. Petra pun perlahan menghilang dari peta bumisaat itu dan tinggal legenda.

Barulah pada tahun 1812, petualang Swiss, Johann Burckhardt memasuki kota itu dengan menyamar sebagai seorang muslim. Legenda Petra pun meruak kembali pada zaman modern, dikenang sebagai simbol teknik dan pertahanan.

Dikelilingi Gunung


Petra di Yordania, adalah situs purbakala. Petra dikelilingi gunung. Di sini ada gunung setinggi 1.350 meter dari permukaan laut. Inilah kawasan tertinggi di areal ini yang disebut Gunung Harun (Jabal Harun) atau Gunung Hor atau El-Barra.

Gunung Harun paling sering dikunjungi orang. Para pengunjung percaya, di puncak Jabal Harun inilah, Nabi Harun meninggal dan dimakamkan oleh Nabi Musa.

Pada abad ke-14 Masehi, sebuah masjid dibangun di sini dengan kubah berwarna putih yang terlihat dari berbagai area di sekitar Petra. Harun tiba di wilayah Yordania sekarang ketika mendampingi Nabi Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dari kejaran Raja Fir’aun.

Pada abad ke-1 Sebelum Masehi, Kerajaan Nabatea yang kaya dan kuat, menjangkau wilayah Damaskus di utara dan Laut Mati di selatan. Saat itu, Petra telah didiami sekitar 30 ribu penduduk. Pada masa itulah dibangun kuil agung.

Tahun 100-an Masehi, Romawi pernah menguasai wilayah ini. Arsitektur di Petra pun terpengaruhi arsitektur Romawi.

Pada 600 Masehi di Petra dibangun gereja. Abad ke-7 Masehi, Islam hadir, dan pada abad ke-14, makam Nabi Harun di Jabal Harun menjadi tempat keramat dari umat Islam, selain kaum Yahudi dan Kristiani.

Saat berusia 10 tahun, Nabi Muhammad pernah berkunjung ke gunung ini bersama pamannya.

Setelah Perang Salib pada abad ke-12, Petra sempat menjadi ‘kota yang hilang’ selama lebih dari 500 tahun (lost city). Hanya penduduk lokal (suku Badui) di wilayah Arab yang mengenalnya.

Palenque


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasUNESCO World Heritage Site LOGO-100-100

Palenque_Ruins

Palenque (dalam bahasa Maya: Bàak’) adalah sebuah reruntuhan kota kuno Maya yang terletak di dekat sungai Usumacinta, munisipalitas Palenque, negara bagian ChiapasMeksiko. Situs ini merupakan situs berukuran sedang bila dibandingkan dengan kota-kota Maya lain seperti Tikal dan Copán. Namun, Palenque dikenal akan arsitektur dan skulpturnya.

Hingga tahun 2005, wilayah reruntuhan yang telah ditemukan kurang lebih sebesar 2,5 km², tetapi diperkirakan hanya 2% wilayah kota yang telah dijelajahi, sehingga masih ada ribuan struktur yang tertutup oleh hutan rimba. Pada tahun 1981, Palenque secara resmi dijadikan taman nasional.  UNESCO menjadikannya Situs Warisan Dunia pada tahun 1987. 

Kota ini ditinggalkan saat penaklukan Meksiko oleh Spanyol berlangsung pada abad ke-16. Orang Eropa pertama yang berkunjung ke Palenque adalah Pedro Lorenzo de la Nada pada tahun 1567. Pada saat itu wilayah ini dikenal dengan julukan “Chol como Otolum”, atau “Tanah Rumah Kuat”, yang kemudian diterjemahkan oleh De la Nada menjadi “Palenque” (dari kata dalam bahasa Katalan “palenc”), yang berarti “benteng”.

Opera Snapshot_2018-02-05_184516_id.wikipedia.org

Opera Snapshot_2018-02-05_184807_www.google.com

Heraklion


From Wikipedia, the free encyclopediaUNESCO World Heritage Site LOGO-100-100

Kreta_-_Iraklion_-_Alter_Hafen2

Heraklion (/hɪˈrækliən/; Greek: Ηράκλειο, Irákleio, pronounced [iˈraklio];  is the largest city and the administrative capital of the island of Crete. It is the fourth largest city in Greece and the third largest urban area in Greece. According to the results of the 2011 census, the population of the city proper was 140,730 inhabitants, the municipality’s was 173,993 while the Heraklion urban area has a population of 225,574[citation needed] and it extends over an area of 684.3 km2 (264.2 sq mi).

Heraklion is the capital of Heraklion regional unit.

The Bronze Age palace of Knossos, also known as the Palace of Minos, is located nearby.

Opera Snapshot_2018-02-05_141417_en.wikipedia.org

Names


The Arab raiders from al-Andalus (Iberia) who founded the Emirate of Crete moved the island’s capital from Gortyna to a new castle they called rabḍ al-ḫandaq (Arabic: ربض الخندق‎, “Castle of the Moat”) in the 820s.  This was hellenized as Χάνδαξ (Chándax) or Χάνδακας (Chándakas) and Latinized as Candia, which was taken into other European languages: in Italian and Latin as Candia, in French as Candie, in English as Candy, all of which could refer to the island of Crete as a whole as well as to the city alone; the Ottoman name was Kandiye.

After the Byzantine reconquest of Crete, the city was locally known as Megalo Kastro (Μεγάλο Κάστρο,[citation needed] ‘Big Castle’ in Greek) and its inhabitants were called Kastrinoi(Καστρινοί, “castle-dwellers”).

The ancient name Ηράκλειον was revived in the 19th century  and comes from the nearby Roman port of Heracleum (“Heracles’s city”), whose exact location is unknown. English usage formerly preferred the classicizing transliterations “Heraklion” or “Heraclion”, but the form “Iraklion” is becoming more common.

History


Θεά_των_Όφεων_6393
The snake goddess (c.1600 BC) in Heraklion Archaeological Museum

Heraklion is close to the ruins of the palace of Knossos, which in Minoan times was the largest centre of population on Crete. Though there is no archaeological evidence of it, Knossos might well have had a port at the site of Heraklion as early as 2000 BC.

Founding

Emirate of Crete 

799px-A_monk_shows_the_Cretan_Saracens_where_to_build_Chandax

A monk shows the Arabs where to build Heraklion

The present city of Heraklion was founded in 824 by the Arabs under Abu Hafs Umar who had been expelled from Al-Andalus by Emir Al-Hakam I and had taken over the island from the Eastern Roman Empire. They built a moat around the city for protection, and named the city ربض الخندق, rabḍ al-ḫandaq (“Castle of the Moat”). It became the capital of the Emirate of Crete (ca. 827–961). The Saracens allowed the port to be used as a safe haven for pirates who operated against Imperial (Byzantine) shipping and raided Imperial territory around the Aegean.

Venetian Era

In 1204, the city was bought by the Republic of Venice as part of a complicated political deal which involved, among other things, the Crusaders of the Fourth Crusade restoring the deposed Eastern Roman Emperor Isaac II Angelus to his throne. The Venetians improved on the ditch of the city by building enormous fortifications, most of which are still in place, including a giant wall, in places up to 40 m thick, with 7 bastions, and a fortress in the harbour. Chandax was renamed Candia and became the seat of the Duke of Candia, and the Venetian administrative district of Crete became known as “Regno di Candia” (Kingdom of Candia). The city retained the name of Candia for centuries and the same name was often used to refer to the whole island of Crete as well. To secure their rule, Venetians began in 1212 to settle families from Venice on Crete. The coexistence of two different cultures and the stimulus of Italian Renaissance led to a flourishing of letters and the arts in Candia and Crete in general, that is today known as the Cretan Renaissance.

Ottoman Era 

687px-Iraklion_Agios_Titos_R01
The Ottoman Vezir Mosque (1856), built on the site of the church of St Titus, and now the basilica of St Titus.

Further information: Siege of Candia
During the Cretan War (1645–1669), the Ottomans besieged the city for 21 years, from 1648 to 1669, perhaps the longest siege in history. In its final phase, which lasted for 22 months, 70,000 Turks, 38,000 Cretans and slaves and 29,088 of the city’s Christian defenders perished. The Ottoman army under an Albanian grand vizier, Köprülü Fazıl Ahmed Pasha conquered the city in 1669. Under the Ottomans, the city was known officially as Kandiye (again also applied to the whole island of Crete) but informally in Greek as Megalo Castro (Μεγάλο Κάστρο; “Big Castle”). During the Ottoman period, the harbour silted up, so most shipping shifted to Chania in the west of the island.

Modern Era

In 1898, the autonomous Cretan State was created, under Ottoman suzerainty, with Prince George of Greece as its High Commissioner and under international supervision. During the period of direct occupation of the island by the Great Powers (1898–1908), Candia was part of the British zone. At this time, the city was renamed “Heraklion”, after the Roman port of Heracleum (“Heracles’ city”), whose exact location is unknown.

In 1913, with the rest of Crete, Heraklion was incorporated into the Kingdom of Greece. Heraklion became capital of Crete in 1971, replacing Chania.

Architecture and urban sculpture 


2016-07-25_Heraklion_063-480-320

The fountain in Lions Square.

Kreta_-_Iraklion_-_Venezianische_Loggia

The Venetian loggia (1626–28).

Kreta_-_Iraklion_-_Agios_Minas_Kathedrale1

Agios Minas Cathedral in honour of Saint Menas, patron saint of the city.
At the port of the city dominate the Venetian constructions, such as the Koules Fortress (Rocca al Mare), the ramparts and the arsenal.

Around the city can be found several sculptures, statues and busts commemorating significant events and figures of the city’s and island’s history, like El Greco, Vitsentzos Kornaros, Nikos Kazantzakis and Eleftherios Venizelos.

Also, many fountains of the Venetian-era are preserved, such as the Bembo fountain, the Priuli fountain, Palmeti fountain, Sagredofountain and Morosini fountain (in Lions Square).

Municipality


The municipality Heraklion was formed at the 2011 local government reform by the merger of the following 5 former municipalities, that became municipal units:[7]

  • Gorgolainis
  • Heraklion
  • Nea Alikarnassos
  • Paliani
  • Temenos

The municipality has an area of 244.613 km2, the municipal unit 109.026 km2.

Transportation 


Port 

Heraklion is an important shipping port and ferry dock. Travellers can take ferries and boats from Heraklion to destinations including Santorini, Ios Island, Paros, Mykonos, and Rhodes. There are direct ferries to Naxos, Karpathos, Kasos, Sitia, Anafi, Chalki and Diafani . There are also several daily ferries to Piraeus, the port of Athens in mainland Greece.

800px-Crete_Iraklio1_tango7174

Panoramic view of the old harbour

Airport

Heraklion International Airport, or Nikos Kazantzakis Airport is located about 5 kilometres (3 miles) east of the city. The airport is named after Heraklion native Nikos Kazantzakis, a writer and a philosopher. It is the second busiest airport of Greece and the 67th in Europe, because of Crete being a major holiday destination with 6.742.746 travellers in 2016 List of the busiest airports in Europe.

The airfield is shared with the 126th Combat Group of the Hellenic Air Force. A project for the new airport of Heraklion in Kasteli area is starting at the end of 2017

Highway Network

European route E75 runs through the city and connects Heraklion with the three other major cities of Crete: Agios Nikolaos, Chania, and Rethymno.

Public Transit 

There are a number of buses serving the city (more information visit) and connecting it to many major destinations in Crete .

Railway

From 1922 to 1937, there was a working industrial railway, which connected the Koules in Heraklion to Xiropotamos for the construction of the harbor.

A study from the year 2000 investigated the feasibility of two tram lines in Heraklion. The first line would link the Stadium to the airport, and the second the center of Heraklion and Knossos. No approval has yet been given for this proposal.

In the summer of 2007, at the Congress of Cretan emigrants, held in Heraklion, two qualified engineers, George Nathenas (from Gonies, Malevizi Province) and Vassilis Economopoulos, recommended the development of a railway line in Crete, linking Chania, Rethymno and Heraklion, with a total journey time of 50 minutes (30 minutes between Heraklion and Rethymno, 20 minutes from Chania to Rethymno) and with provision for extensions to Kissamos, Kastelli Pediados (for the planned new airport), and Agios Nikolaos. No plans exist for implementing this idea.

Climate


Heraklion has a hot-summer-Mediterranean climate (Csa in the Köppen climate classification). Summers are warm to hot and dry with clear skies. Dry hot days are often relieved by seasonal breezes. Winters are very mild with moderate rain. Because Heraklion is further south than Athens, it has a milder climate. The maximum temperature during the summer period is usually not more than 28 – 30°C (Athens normal maximum temperature is about 6°C hotter). The minimum temperature record is +0.2 °C

A new temperature record for February was set at 27.8°C, reached on 15 February 2016.

Opera Snapshot_2018-02-05_070749_en.wikipedia.org

Colleges, Universities, Libraries, and Research Centers 


  • University of Crete
  • TEI of Crete
  • Foundation for Research & Technology – Hellas
  • Nicolas Kitsikis Library
  • Vikelaia Library www dot heraklion dot gr/en/municipality/vikelaia

Culture


640px-Musée_histoire_naturelle_de_Crète_à_Héraklion

Natural History Museum of Crete

640px-Pagkritio

Pankritio Stadium

Museums 

  • Heraklion Archaeological Museum
  • Cretaquarium
  • Historical Museum of Crete
  • Natural History Museum
  • The Battle of Crete and National Resistance Museum
  • Nikos Kazantzakis Museum
  • Lychnostatis Open Air Museum
  • Collection of Agia Aikaterini of Sinai
  • Museum of Visual Arts

Sports

The city is home to several sports clubs. Most notably, Heraklion hosts OFI and Ergotelis, two football clubs with earlier presence in the Greek Superleague, the top tier of the Greek football league system. Furthermore, the city is the headquarters of the Heraklion Football Clubs Association, which administers football in the entire region. Other notable sport clubs include Iraklio B.C. (basketball), Atsalenios (football) and Irodotos (football) in the suburbs of Atsalenio and Nea Alikarnassos respectively.

Opera Snapshot_2018-02-05_071540_en.wikipedia.org

Famous Natives

443px-Nikolaos_Kalliakis_(1645_-_1707)

Nicholas Kalliakis was a significant Renaissance humanist, scholar and philosopher from Heraklion. 

433px-El_Greco_-_Portrait_of_a_Man_-_WGA10554

El Greco (Dominikos Theotokopoulos)

Cyril-Lucaris

Cyril Lucaris

535px-Kazantzakis_Grab

Epitaph on Nikos Kazantzakis’ grave. I hope for nothing, I fear nothing, I’m free.

Heraklion has been the home town of some of Greece’s most significant spirits, including the novelist Nikos Kazantzakis (perhaps best known for his novel Zorba the Greek), the poet and Nobel Prize winner Odysseas Elytis and the world-famous painter Domenicos Theotokopoulos (El Greco).

Literature

  • Elli Alexiou (1894–1988) author
  • Minás Dimákis (1913–1980) poet
  • Odysseas Elytis (1911–1996) Nobel awarded poet
  • Tess Fragoulis, Greek-Canadian author
  • Rea Galanaki (1947–present) author
  • Giritli Ali Aziz Efendi (1749–1798), author and diplomat
  • Nikos Kazantzakis (1883–1957) author
  • Pedro de Candia, (1485–1542) author and travel writer, recorded the Spanish
  • Conquest of the Americas
  • Vitsentzos Kornaros (1553–1613) author
  • Stephanos Sahlikis (1330-after 1391) poet
  • Lili Zografou (1922–1998) author

Scientists and Scholars 

  • Nicholas Kalliakis (1645–1707) Greek Cretan scholar and philosopher 
  • Niccolò Comneno Papadopoli (1655–1740) lawyer, historian and librarian
  • Andreas Musalus (ca. 1665–1721) Greek Cretan professor of mathematics, philosopher and architectural theorist 
  • Francesco Barozzi (1537–1604) mathematician and astronomer
  • Joseph Solomon Delmedigo (1591-1655) rabbi, author, physician, mathematician and musical theorist
  • Fotis Kafatos biologist, President of the European Research Council
  • Spyros Kokotos (1933–present) architect
  • Maximos Margunios (1549–1602) scholar, theologian, poet and writer, titular bishop of Kythira
  • Marcus Musurus (Markos Mousouros) (1470–1517) scholar and philosopher
  • Peter of Candia also known as Antipope Alexander V: philosopher and scholar
  • Joseph Sifakis (1946–present) computer scientist, co-recipient of the 2007 Turing Award
  • Michael N. Katehakis (1952–present) applied mathematician and operations researcher at Rutgers University
  • Gerasimos Vlachos (1607–1685), scholar
  • Simone Stratigo (ca. 1733–1824), Greek mathematician and an Nautical science expert, whose family was from Heraklion (Candia) 

Painting and Sculpture 

  • Theophanes (ca.1500–1559) painter of icons
  • Michael Damaskinos (1530/35-1592/93) painter of icons
  • El Greco (1541–1614) mannerist painter, sculpturer and architect
  • Theodoros Poulakis (1622–1692) painter of icons
  • Andreas Ritzos (1422–1492) painter of icons
  • Emmanuel Tzanes (1610–1690) painter of icons
  • Aristidis Vlassis (1947–2015) painter
  • Konstantinos Volanakis (1837–1907) painter

Film Industry 

  • Rika Diallina (1934-), actress and model, Miss Hellas
  • Ilya Livykou (1919–2002), actress
  • Sapfo Notara (1907–1985), actress
  • Yannis Smaragdis (1946-), film director

Music 

  • Rena Kyriakou (1918–1994) pianist
  • Francisco Leontaritis (Francesco Londarit) (1518–1572) composer
  • Giannis Markopoulos (1939-) composer
  • Manolis Rasoulis (1945–2011) lyrics writer
  • Nikos Xilouris (1936–1980) composer and singer
  • Notis Sfakianakis (1959-) singer

Sports 

  • Nikos Machlas (1973-) footballer
  • Georgios Samaras (1985-) footballer
  • Greg Massialas (1956-), American fencer and fencing coach

Business 

  • Constantine Corniaktos (1517–1603) wine merchant and wealthiest man in the
  • Eastern European city of Lviv[18]
  • Gianna Angelopoulos-Daskalaki (1955-) business woman, lawyer and politician

Politics 

  • Leonidas Kyrkos (1924–2011), politician
  • Aristidis Stergiadis (1861–1950) High Commissioner of Smyrna
  • Georgios Voulgarakis (1959-) conservative politician

Law 

  • Romilos Kedikoglou (1940-) President of the Court of Cassation of Greece

Clergy 

  • Maximos Margunios (1549–1602), bishop of Cyrigo (Kythira)
  • Kyrillos Loukaris (1572–1637) theologian, Pope & Patriarch of Alexandria as Cyril III and Ecumenical Patriarch of Constantinople as Cyril I
  • Meletius Pegas, Pope & Patriarch of Alexandria
  • Theodore II (1954-) Pope & Patriarch of Alexandria and all Africa
  • Peter Phillarges (ca. 1339–1410) (also Pietro Di Candia, later Pope Alexander V)

Fashion 

  • Maria Spiridaki (1984) fashion model and television presenter

Local TV stations 

  • Channel 4
  • Creta Channel
  • Kriti TV
  • MyTV
  • Local transport services[edit]
  • KTEL Buses
  • Heraklion Crete Taxi Services

International Relations


Consulates

Opera Snapshot_2018-02-05_072937_en.wikipedia.org

Location


Opera Snapshot_2018-02-05_073224_en.wikipedia.org