4 Tips Penting untuk Menjaga Vagina Tetap Wangi dan Segar

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_232901278

Setiap wanita tentu ingin menjaga area intimnya agar tetap wangi dan segar alami. Akan tetapi, Anda tak boleh sembarangan menggunakan produk atau metode yang belum teruji klinis. Pasalnya, beberapa cara untuk menjaga vagina wangi dan segar ternyata justru berbahaya.

Lalu bagaimana caranya agar vagina bisa tetap harum dan segar? Simak jawabannya berikut ini!

Seperti apa bau vagina yang normal?

Anda mungkin sering melihat iklan produk perawatan vagina yang menjanjikan organ intim Anda akan jadi lebih wangi bak bunga-bunga segar. Pada kenyataannya, vagina manusia tidak berbau harum karena memang tidak perlu.

Vagina yang alami punya aroma yang khas dan berbeda-beda bagi setiap wanita. Bahkan dalam satu siklus menstruasi pun vagina Anda memiliki aroma yang berbeda. Ini karena wangi vagina dipengaruhi oleh berbagai hal. Misalnya kadar bakteri, keasaman vagina, keringat, serta kebersihan pada area intim Anda.

Namun, pada dasarnya vagina yang normal baunya sedikit asam. Ini karena kadar pH (keasaman) di area vagina cukup tinggi. Lingkungan yang asam dibutuhkan untuk membunuh berbagai bakteri dan organisme jahat yang bisa menyebabkan infeksi vagina.

Penyebab vagina berbau tak sedap

Meskipun vagina memang seharusnya punya bau yang khas, bukan berarti bau yang menyengat dan tak sedap itu wajar. Vagina tak seharusnya berbau busuk, amis, atau anyir. Bila Anda mencium aroma seperti ini, ada yang salah dengan vagina Anda. Berikut adalah beberapa kemungkinannya.

  • Infeksi bakteri vagina
  • Tidak mengganti pembalut atau pantyliner dalam waktu yang cukup lama
  • Penyakit kelamin
  • Tidak bersih ketika membasuh vagina

Bagaimana cara membuat vagina wangi secara alami?

Supaya vagina wangi dan segar, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

1. Jaga vagina tetap kering

Lingkungan yang terlalu lembap akan jadi sarang bagi berbagai jenis bakteri penyebab penyakit. Selain itu, berhati-hatilah saat Anda membasuh vagina setelah buang air kecil. Siram dengan air dari depan ke belakang, bukan sebaliknya. Arah ini mampu mencegah bakteri jahat pindah ke vagina dan menyebabkan bau tak sedap.

Pastikan Anda juga rutin mengganti pembalut atau pantyliner, paling tidak setiap empat jam sekali.

2. Jaga pola makan yang sehat dan seimbang

Perbanyak makan buah-buahan, sayuran hijau, dan produk probiotik seperti yogurt. Makanan-makanan tersebut mampu mencegah pertumbuhan bakteri jahat serta bisa membuat vagina wangi dan segar alami. Sebaliknya, makanan dengan bau yang menyengat seperti bawang putih bisa membuat vagina Anda berbau tak sedap.

3. Cuci vagina dengan cara yang benar

Untuk mencuci vagina dengan benar. Anda hanya membutuhkan air hangat (suam-suam kuku). Anda juga bisa menggunakan pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine. Bersihkan hanya bagian luar vagina saja. Setelah itu, keringkan dengan cara menepuk-nepuk pelan daerah vagina, jangan digosok.

Jangan lupa untuk memakai celana dalam yang cukup sejuk dan menyerap keringat. Segera ganti kalau pakaian dalam sudah terlalu lembap karena keringat atau cairan vagina berlebihan.

4. Hindari hal-hal berikut yang sebenarnya justru bisa membuat vagina berbau amis

Ingat, vagina normal wanginya memang khas, yaitu sedikit asam. Anda tak perlu menggunakan macam-macam produk supaya vagina wangi seperti bunga atau buah-buahan. Pasalnya, vagina Anda adalah area sensitif yang tidak tahan dengan bahan-bahan kimia asing.

Cara-cara di bawah ini sangat tidak dianjurkan dan bisa menyebabkan infeksi bakteri, jamur, atau ragi yang bisa membuat vagina justru berbau busuk atau anyir.

  • Mencuci bagian dalam vagina (douching vagina, ratus, atau gurah vagina)
  • Menyemprotkan parfum ke area selangkangan atau vagina
  • Menaburkan bedak di sekitar vagina

Source: Irene Anindyaputri . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

5 Penyebab Anda Mengalami Vagina Kering

KHUSUS PASUTRI

HelloSehat_Betadine_5-Penyebab-Vagina-Anda-Menjadi-Kering_image

Pernahkah Anda merasakan vagina Anda kering? Ketika mengalaminya, mungkin Anda menduga-duga berbagai alasan, bahkan cemas akan mengalami gejala awal menopause. Tetapi, masalah vagina kering yang dialami oleh perempuan muda bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Menurut Journal of Women’s Health yang dipublikasikan pada Agustus 2015, vagina kering juga menjadi masalah untuk perempuan di bawah usia 60 tahun. Ini merupakan kasus yang sangat umum dialami oleh perempuan. Penting bagi Anda untuk membuat vagina tetap lembap, sebab kelembapan tersebut dapat menjaga jaringan tetap sehat dan membantu mencegah infeksi serta penyakit menular seksual.

Apa saja gejala vagina kering?

Anda akan merasa sakit ketika berhubungan seksual. Selain itu, rasa sakit juga dialami ketika Anda duduk, berdiri, olahraga, buang air kecil dan bahkan ketika bekerja. Masalah ini dapat mengganggu aktivitas perempuan, baik dia aktif secara seksual atau tidak.

Perubahan juga terjadi pada penampilan vagina dan vulva, bibir vagina akan terlihat lebih tipis. Anda mungkin juga akan mengalami iritasi dan rasa panas.

Jika Anda mengalami rasa panas, gatal dan tak nyaman pada daerah vagina, sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter. Gejala tersebut akan diagnosis dengan pertanyaan seputar berapa lama Anda mengalami gejala tersebut, tentang pengobatan yang dijalani, atau cara Anda membersihkan vagina.

Biasanya dokter akan melakukan tes panggul, mengecek vagina untuk memastikan ada kemerahan atau tidak. Tes ini akan membantu Anda menemukan penyebabnya, atau kemungkinan infeksi seperti infeksi saluran kencing.

Apa penyebab vagina kering?

Dalam mengobati suatu penyakit, Anda harus mengetahui terlebih dahulu akar permasalahannya atau penyebabnya, begitu pun untuk mengobati vagina yang kering. Ada beberapa penyebab yang bisa Anda lihat:

1. Perubahan hormon

Berdasarkan American Congress of Obstetricians and Gynecologists, penyebab paling umum vagina kering adalah penurunan level estrogen selama menopause, pramenopause, setelah melahirkan, atau selama menyusui. Pengobatan kimia untuk kanker seperti kemoterapi dan radiasi pada panggul dapat menyebabkan penurunan estrogen dan lubrikasi vagina.

2. Obat tertentu

Obat alergi, asma, dan flu mengandung antihistamin yang memiliki efek di dalam tubuh, sehingga adanya penurunan lubrikasi vagina.

3. Kurangnya gairah

Salah satu penyebab keringnya vagina bisa jadi karena rendahnya libido atau permasalahan seksual dengan pasangan. Contohnya, masih berdasarkan Goldstein, pasangan mungkin memiliki performa seks yang kurang, melewatkan foreplay, atau mengalami ejakulasi dini.

4. Iritasi

Produk perawatan tubuh juga bisa memicu pada kering vagina, seperti sabun berbahan kimia, macam-macam produk kebersihan, dan parfum. Beberapa perempuan memiliki masalah alergi terhadap detergen dan sabun. Pun dengan pakaian, seperti celana dalam dan handuk, juga dapat membuat iritasi vagina Anda. Alergi yang timbul tersebut bisa berupa masalah pada lubrikasi atau objek; seperti bakteri yang berada di vagina Anda.

5. Kecemasan

Faktor psikologis dan emosional bisa mengganggu gairah seksual dan membuat vagina Anda menjadi kering. Menurut Goldstein, ketika perempuan cemas, akan terjadi kurangnya aliran darah, sehingga kekeringan di daerah vagina pun terjadi. Kecemasan juga akan memicu hormon kortisol, hormon ini dapat mengganggu cara kerja estrogen.

Bagaimana cara mengatasi vagina kering?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Anda harus menemukan akar penyebab untuk mengobati vagina kering. Misalnya, perempuan yang memiliki masalah dengan lubrikasi vagina karena perubahan hormon, mungkin dokter akan menyarankan terapi estrogen sebagai pengobatan.

Pengobatan vagina kering dengan hormon

Hormon estrogen yang dimasukkan ke dalam vagina untuk kasus hot flashes, vagina kering, dan perubahan warna kulit. Hormon tersebut dimasukkan dalam bentuk cincin, tablet, atau krim.

Berikut ini tiga tipe estrogen vaginal:

  • Vaginal estrogen ring (Estring): dokter akan memasukkan cincin yang lembut dan fleksibel ke dalam vagina. Di sana, estrogen ini akan dilepas langsung ke jaringan vagina. Namun, jenis ini tidak permanen, Anda harus menggantinya setiap tiga bulan
  • Vaginal estrogen tablet (Vagifem): Anda menggunakan aplikator sekali pakai untuk memasukan tablet ke dalam vagina Anda sehari sekali untuk dua minggu pertama pengobatan. Lalu, Anda akan memasukannya dua kali seminggu sampai Anda tidak lagi membutuhkannya
  • Vaginal estrogen cream (Estrace, Premarin): Anda juga akan menggunakan aplikator untuk memasukan krim ke vagina. Krim diaplikasikan untuk satu sampai dua minggu, lalu frekuensinya dikurangi satu sampai tiga kali seminggu seperti yang diarahkan oleh dokter

Namun, terapi estrogen tidak direkomendasikan untuk:

  • Penderita kanker payudara
  • Perempuan yang memiliki riwayat kanker endometrium
  • Ibu hamil dan menyusui

Pengobatan vagina kering dengan mengubah kebiasaan

Ada cara lain yang lebih nyaman, cara ini juga bisa dipakai untuk rasa kering yang sakit akibat seks, seperti:

  • Gunakan pelumas saat seks: ada sejumlah produk pelumas yang dapat membantu mengatasi kekeringan vagina. Pelumas ini berbahan dasar silikon, minyak, dan air. Biasanya pelumas lebih sering digunakan untuk membuat nyaman ketika berhubungan seks dibanding sebagai lubrikasi vagina jangka panjang.
  • Gunakan pelembap khusus vagina: Anda bisa mencari pelembab khusus vagina, sebab pelembap membantu memasukan air ke dalam jaringan vagina.
  • Hindari mencuci vagina dengan sabun. Anda harus menghindari membersihkan vagina dengan sabun banyak busa, sabun yang wangi, serta lotion. Hal ini dapat menyebabkan kekeringan semakin parah. Jika ingin mencegah infeksi vagina yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri, Anda bisa menggunakan pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine. Jika digunakan di bagian luar vagina, cairan povidone-iodine terbukti ampuh mematikan parasit penyebab infeksi, namun sekaligus menjaga keseimbangan pH vagina dan tak membuat vagina kering.

Source: Rizki Pratiwi . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

 

Perubahan yang Akan Terjadi Pada Vagina Seiring Bertambahnya Usia

KHUSUS PASUTRI


perubahan-vagina

Ketika usia kita menua, tidak hanya rambut dan kulit saja yang mengalami penuaan. Beberapa bagian tubuh lainnya juga mengalami perubahan. Apa saja? Pada perempuan, contohnya payudara yang mulai kendur. Perempuan juga pasti mengalami menopause. Tak hanya itu saja, bentuk genital pada perempuan pun dapat mengalami perubahan. Mungkin Anda tidak menyadarinya saat vagina mengalami perubahan. Ya, ternyata bentuk vagina berubah seiring dengan bertambahnya usia. Ingin tahu seperti apa?

Bagaimana perubahan vagina seiring kita bertambah tua?


Perubahan ini dimulai saat Anda tumbuh dewasa, tapi kita akan mulai membahasnya mulai dari usia 20 tahun. Berikut ini penjelasannya:

Bentuk vagina usia 20 tahun setelah pubertas

Memasuki usia 20 tahun, Anda telah selesai mengalami pubertas. Akhirnya organ tubuh Anda mencapai fase ukuran dewasa. Begitu juga dengan labia mayora (bagian luar bibir vagina), bentuknya akan menjadi lebih ramping. Pada usia ini, lemak subkutan (lemak yang letaknya di bawah permukaan kulit) mengalami penurunan, termasuk di genital Anda.

Perubahan warna vagina pada usia 30 tahun

Pada usia ini terjadi perubahan hormon akibat kehamilan dan pil KB. Penuaan dapat menyebabkan labia minora (bagian dalam bibir yang melingkari klitoris dan mulut vagina) menggelap. Penggunaan pil KB selama beberapa tahun dapat menyebabkan vagina mengering, serta terbatasnya lubrikasi vagina.

Beberapa perempuan mengalami kekeringan vulva akibat pemakaian pil KB. Penyebabnya adalah pil ini dapat menghambat hormon laki-laki yang disebut androgen, vulva inilah yang memiliki reseptor terhadap hormon androgen.

Sama halnya dengan kehamilan dan melahirkan, vulva dan vagina tetap akan terkena dampaknya. Bahkan beberapa perempuan menemukan varises di vagina akibat rahim membengkak ketika Anda hamil. Tapi tenang saja, pembesaran pembuluh darah tersebut ketika hamil adalah hal yang wajar.

Mungkin Anda khawatir bentuk vagina tidak akan kembali setelah melahirkan, faktanya adalah bentuk vagina akan kembali normal saat melahirkan. Alasannya adalah vagina kaya akan pasokan darah dan memiliki keelastisitasan yang alami. Ada beberapa perempuan yang mengalami beberapa kerusakan otot dan saraf mengingat adanya tekanan pada otot dasar panggul selama kehamilan dan kelahiran.

Efek perubahan estrogen pada usia 40 tahun

Ya, pada usia ini memang fungsi reproduksi akan sedikit menurun. Perempuan masih tetap mengalami ovulasi dan menstruasi, tapi siklus ini akan lebih pendek dari biasanya. Anda juga mulai mengalami tanda-tanda akan menopause akibat penurunan hormon estrogen. Uniknya bagi Anda yang terbiasa mencukur rambut kemaluan, Anda akan menyadari efek dari mencukur itu sendiri, yaitu perubahan pigmen kulit sekitar vagina. Penurunan hormon estrogen berpengaruh pada rambut kemaluan yang mulai menipis pada usia ini.

Perubahan vagina pada usia 50 tahun

Mungkin pada usia ini, Anda mulai mengalami awal-awal menopause. Efek dari penurunan estrogen dapat membuat vagina menjadi lebih tipis, kurang elastis, kering pada vulva, dan vagina. Anda akan memerlukan pelumas tambahan saat berhubungan seks, agar tidak sakit dan iritasi. Jika Anda sering memerhatikan perubahan pada vagina, Anda akan menemukan vagina kehilangan lemak dan kolagen, sehingga sangat mungkin ditemukan kerutan pada bagian ini. Ketika hormon estrogen berkurang, pH vagina pun akan berkurang, vagina Anda dapat terkena bakteri tertentu. Keasaman pun bisa bertambah sehingga vagina sangat rentan terhadap infeksi.

Perubahan vagina usia 60 tahun

Hot flashes dan berkeringat pada malam hari dapat terjadi selama beberapa tahun. Kering pada vagina tidak dapat dihindari, sekitar 50 hingga 60 persen perempuan mengalami masalah kering pada vagina. Anda perlu mengunjungi dokter untuk mengatasi masalah ini.

Berhubungan seks jelas akan terasa menyakitkan untuk Anda. Selain itu, Anda mungkin juga akan mengalami inkontinensia urin (kondisi di mana Anda tidak dapat menahan buang air kecil). Anda akan mengalami gejala pascamenopause. Jika Anda mengalami sensasi terbakar atau panas setelah berhubungan seks, jangan lupa untuk berkonsultasi pada dokter. Pelembap vagina juga dapat Anda gunakan untuk membantu meringankan kering pada vagina.

Source: Rizki Pratiwi . Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Apa yang Menyebabkan Seks Terasa Enak?

KHUSUS PASUTRI


mengenal-tahap-seks-terasa-enak

Sejak dimulainya peradaban manusia, berhubungan seks tak lagi dilihat hanya sebagai cara menghasilkan keturunan. Evolusi membuktikan bahwa manusia menikmati seks sebagai suatu bentuk rekreasi dan ekspresi kasih sayang, bukan sekadar reproduksi saja. Bahkan seiring berjalannya waktu, orang-orang terus berinovasi agar seks semakin terasa nikmat. Baik itu lewat beragam posisi seks baru, mainan seks (sex toys) penunjang keintiman, hingga pelumas vagina. Namun, mengapa berhubungan seks terasa enak?

Pasalnya, kenikmatan yang dirasakan ketika melakukan intim sungguh berbeda dari hal-hal lain dalam hidup. Misalnya makan makanan enak atau bermalas-malasan di tempat tidur. Lalu, apa sih yang membedakan kenikmatan seksual dari kenikmatan lainnya? Ini dia jawabannya.

Mengenal kenikmatan seksual

Seks terasa enak karena tubuh Anda bereaksi secara biologis terhadap rangsangan seksual. Perasaan tersebut juga dikenal sebagai kenikmatan seksual. Kenikmatan seksual bisa dicapai dengan berbagai hal, misalnya dengan sentuhan, ciuman, penglihatan, pendengaran, kata-kata, atau bahkan lewat imajinasi. Seluruh bagian tubuh Anda akan bekerja secara sinergis, mulai dari otak, jantung, darah, hingga organ intim. Reaksi tubuh inilah yang akan menciptakan kenikmatan.

Pada laki-laki, kenikmatan seksual biasanya ditandai dengan ereksi penis. Ini karena aliran darah dipompa menuju penis. Sementara itu, wanita biasanya akan mengalami vagina basah. Ketika merasa bergairah, vagina akan memproduksi cairan pelumas alami yang membuat daerah organ intim wanita jadi basah.

Mengenal tahap-tahap kenikmatan seksual

Ketika berhubungan seks, ada tahapan-tahapan yang bisa membawa pasangan menuju puncak kenikmatan. Fase atau tahapan tersebut ditandai dengan berbagai perubahan pada tubuh pria dan wanita. Dalam setiap tahapan, rasa enak yang muncul pun intensitasnya berbeda-beda.

Pelajari berbagai tahap kenikmatan seksual berikut ini untuk mencari tahu mengapa seks terasa enak, bahkan dari mulai pemanasan atau foreplay.

1. Tahap Bergairah

Pada tahapan awal, kedua pasangan akan memproduksi feromon, yaitu zat kimia alami dari tubuh. Feromon akan meningkatkan gairah seksual dan bertanggung jawab untuk memberikan sensasi nikmat ketika Anda menerima atau memberikan rangsangan seksual. Biasanya pada saat ini detak jantung jadi lebih cepat dan muncullah keinginan yang sangat besar untuk berhubungan seks.

2. Tahap Plateau

Gairah yang Anda rasakan semakin memuncak dan intens. Tahapan plateau atau kurva yang naik ini berlangsung lebih lama dari tahap lainnya. Biasanya pada fase ini Anda melakukan penetrasi, seks oral, atau tindakan seksual lainnya yang cukup intens. Penis akan mengalami ereksi dan membesar, sementara vagina menjadi basah. Puting susu pria dan wanita juga akan mengeras dalam tahap ini.

Menurut penelitian, bagian otak yang mengenali rasa nikmat, yaitu amigdala, hipotalamus, dan korteks sensorik menjadi sangat aktif. Otak membaca aktivitas seksual sebagai suatu hadiah atau reward bagi tubuh Anda. Akibatnya, otak pun mengirimkan sinyal bagi tubuh untuk meningkatkan sensasi nikmat tersebut.

Jika pada tahap ini Anda merasa seks tidak enak atau bahkan menyakitkan, sebaiknya ambil jeda dulu dan bicarakan pada pasangan. Ingat, seharusnya seks terasa enak. Kalau Anda tidak merasakannya, mungkin Anda berdua belum siap secara psikologis atau ada kondisi kesehatan tertentu yang memengaruhi performa seks.

3. Orgasme atau Klimaks

Setelah melalui tahap bergairah dan tahap naiknya kurva kenikmatan seksual, Anda mencapai klimaks atau puncak tertinggi kenikmatan seksual. Tahap ini adalah yang paling terasa enak. Namun, tak semua orang bisa selalu mencapai klimaks. Pasalnya, reaksi tubuh yang terjadi begitu rumit. Reaksi ini disebut sebagai orgasme.

Ketika mencapai klimaks dengan orgasme, aktivitas otak justru menurun. Tubuh Anda akan fokus pada area intim, yaitu penis dan vagina. Hormon yang diproduksi saat orgasme adalah endorfin, prolaktin, dan oksitosin. Hormon-hormon tersebut berfungsi untuk mengusir rasa sakit serta memberikan sensasi kenikmatan dan kepuasan seksual. Inilah yang membuat seks terasa enak dan berbeda dari kenikmatan lainnya.

Pada pria, orgasme ditandai dengan ejakulasi. Sementara itu pada wanita orgasme biasanya ditandai dengan kontraksi pada otot-otot di sekitar vagina dan keluarnya cairan ejakulasi wanita. Tahap klimaks ini biasanya berlangsung sebentar, tidak lebih dari satu menit. Namun, sensasi kenikmatannya bisa bertahan selama beberapa menit sesudah mencapai klimaks.

Source: Irene Anindyaputri . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Tidur Sebaiknya Pakai Bra atau Tidak?

KHUSUS PASUTRI


black-1238969_1280

Semua orang tampaknya punya pendapat yang berbeda mengenai hal ini. Beberapa orang berpendapat bahwa tidur pakai bra bisa mencegah payudara kendur, yang lainnya mengatakan bahwa bra yang dipakai selama tidur akan memblokir kerja kelenjar getah bening — dan bahkan bisa menyebabkan kanker payudara.

Tidak sedikit pula yang mengatakan tidur pakai bra bisa membuat payudara semakin kencang, tapi ada juga yang berpendapat bahwa bahan bra bisa sebabkan iritasi pada payudara.

Menurut Dr. Amber Guth, direktur Breast Cancer Surgery Multidisciplinary Fellowship di NYU Langone Medical Center, tidak ada kepastian medis baik dalam segi manfaat atau risiko kesehatan dari tidur memakai bra.

Tidur pakai bra bisa memberikan kenyamanan, tapi bukan menjadi jaminan agar payudara bisa tetap kencang. Wanita yang memiliki payudara besar cenderung untuk tidur menggunakan bra, begitu pula dengan ibu hamil, karena payudara mereka dapat membesar hingga dua kali lipat dari ukuran mereka pada normalnya dan jauh lebih berat.

Benarkah tidur pakai bra berisiko kanker payudara?

Gagasan bahwa memakai bra selama lebih dari delapan sampai 12 jam dalam satu hari akan melemahkan jaringan payudara sehingga payudara akan lebih cepat melorot adalah tidak benar. Pengenduran atau perubahan bentuk payudara diakibatkan oleh sejumlah faktor, seperti kehamilan, menyusui, penurunan berat badan, hukum gravitasi, atau tanda-tanda penuaan (berkurangnya produksi kolagen).

Deborah Axelrod, M.D, dokter bedah payudara dan rekanan profesor dari NYU Langone Medical Center, mengatakan bahwa bra berkawat atau memakai bra saat tidur tidak akan meningkatkan risiko Anda terhadap kanker payudara.

Rumor ini dimulai sekitar tahun 90-an di mana seorang penulis buku mengklaim bahwa memakai bra ketat setiap hari (terutama bra berkawat) menimbulkan risiko yang lebih tinggi terhadap kanker payudara. Ia mengklaim bahwa dengan membatasi kerja sistem limfatik (yang mengeliminasi racun dari dalam tubuh), bra bisa memerangkap racun untuk tetap tinggal dalam jaringan payudara dan menyebabkan kanker. Namun, sampai saai ini, belum ada penelitian atau bukti medis yang bisa mendukung klaim tersebut.

Jadi, tidur pakai bra boleh atau tidak?

Guth mengatakan bahwa, jika Anda tetap ingin pakai bra saat tidur, pilih bra yang tidak terlalu ketat hingga membatasi atau menghentikan sirkulasi darah. Ada beberapa hal yang perlu Anda ingat. Pertama, hindari model bra yang keras dan kaku. Kawat bra dapat menekan dada saat Anda berbaring telungkup dan menggesek kulit, menyebabkan iritasi atau mungkin kista. Pilih jenis bra berbahan halus dan lembut, seperti bra olahraga, tapi jangan pula yang terlalu melar atau longgar. Bra tidur yang baik tidak hanya memberikan Anda sokongan, namun juga tidak sampai menyesakkan Anda.

Namun begitu, jika rutinitas pakai bra Anda ternyata berkontribusi terhadap penyumbatan limpatik, Anda harus lebih jeli dalam mencermati tanda dan gejala lainnya, seperti edema (akumulasi cairan di payudara), perubahan payudara non-kanker, baik bentuk atau ukuran pada kelenjar getah bening aksila. Kelenjar ini berada di daerah ketiak dan berfungsi sebagai perlindungan pertama tubuh terhadap segala jenis infeksi, material asing, dan sel kanker.

Pakar dan peneliti saat ini masih berusaha menyelidiki segala kemungkinan yang berkaitan dengan payudara hingga detail molekular, faktor-faktor lain apakah yang bisa memprediksi atau secara permisif mengembangkan kanker payudara, namun sangat diragukan bahwa faktor eksternal seperti bra memiliki pengaruh yang signifikan.

Sejauh ini, tidak ada masalah apakah Anda memilih untuk tidur pakai bra atau tidak. Ini hanya sebatas aspek keamanan dan kenyamanan personal untuk membantu Anda supaya bisa tidur lebih baik.

Source: Ajeng Quamila . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

Serba-serbi Operasi Peremajaan Vagina

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_232901278

Bedah vagina awalnya dikembangkan sebagai prosedur rekonstruksi untuk memperbaiki cacat lahir. Beberapa kondisi tertentu (misalnya, Müllerrian agenesis atau aplasia, vaginal agenesis, adrenal hyperplasia kongenital) perlu diperbaiki atau dikoreksi agar perempuan muda bisa bertumbuh besar dengan kemampuan buang air kecil secara normal, memiliki siklus menstruasi, dan bisa terlibat dalam hubungan seksual sebagai orang dewasa.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini, prosedur bedah vagina juga digunakan sebagai tujuan kosmetik. Vaginoplasty, umum disebut sebagai peremajaan vagina, adalah prosedur yang biasanya dapat memperbaiki masalah otot vagina yang mengendur disebabkan oleh proses melahirkan atau penuaan, dan merupakan cara cepat untuk meningkatkan kehidupan seksual seseorang. Prosedur ini biasanya menguatkan otot vagina, sehingga kekuatan kontraksi yang lebih besar dan kontrol yang lebih baik untuk memungkinkan sensasi yang lebih kuat selama aktivitas seksual. Prosedur kosmetik ini sering dikombinasikan dengan labiaplasty. Labiaplasty adalah prosedur bedah plastik untuk memperindah penampilan bibir vulva, atau labia.

Semua wanita yang dinilai cukup sehat untuk menjalani prosedur bedah bisa menjalankan peremajaan vagina. Oleh sebab itu, kini semakin banyak wanita, terutama perempuan muda, memilih untuk menjalankan prosedur ini hanya untuk tujuan estetika atau untuk mencapai kehidupan seks yang lebih ideal.

Peremajaan vagina bukanlah satu-satunya solusi

Vaginoplasty tidak direkomendasikan untuk wanita hamil atau mereka yang sedang merencanakan kehamilan. Jika seorang wanita menjalankan prosedur ini sebelum melahirkan, proses persalinan akan jauh lebih sulit dan menyakitkan, belum lagi proses persalinan yang mungkin akan merusak hasil dari vaginoplasty.

Vaginoplasty dan prosedur peremajaan vagina lainnya tidak seharusnya dipandang sebagai cara bagi seseorang untuk membuat tubuhnya terlihat ‘normal’. Ukuran, bentuk, warna, dan penampilan dari setiap vulva berbeda antar satu orang dengan yang lainnya. Terlebih lagi, sangat tidak mungkin untuk bisa menentukan seperti apa tampilan vagina yang “normal”.

Selain itu, vaginoplasty tidak seharusnya dilakukan untuk hanya untuk memuaskan keinginan pasangannya. Jika seorang wanita merasa nyaman dengan tubuhnya, pasangannya pun juga harus begitu. Demikian pula, operasi tidak seharusnya dilakukan sebagai cara untuk “memperbaiki” hubungan.

Vaginoplasty adalah sebuah prosedur yang memiliki dampak personal terhadap tubuh Anda. Keputusan untuk mengubah bentuk tubuh harus dibuat sedemikian rupa secara mandiri setelah menimbang segala pro kontra.

Hingga batas tertentu, vaginoplasty dapat menjadi solusi terbaik untuk beberapa wanita. Namun, hal ini bukanlah satu-satunya pilihan. Senam kegel dan senam vagina lainnya juga bisa digunakan untuk menguatkan otot-otot dasar panggul. Beberapa krim vagina yang dijual di pasaran bertujuan untuk menyebabkan pembengkakan pada vagina untuk memberikan kesan lebih kuat dan kencang. Krim ini bisa digunakan dalam jangka waktu tertentu untuk secara bertahap meningkatkan sensasi seksual, namun tidak ada jaminan bahwa setiap penggunanya akan puas dengan hasil yang diberikan.

Namun memang, kelemahan utama dari alternatif ini adalah hasil akhirnya tidak akan secepat atau permanen dibanding dengan prosedur bedah plastik.

Hasil mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi

Jika Anda sedang mempertimbangkan vaginoplasty, pastikan bahwa Anda membaca semua risiko dan manfaat dan berat mereka terhadap satu sama lain. Jika Anda memutuskan bahwa operasi peremajaan vagina sesuai keinginan dan kebutuhan Anda, dan berkonsultasi dengan dokter spesialis khusus prosedur ini.

Risiko yang terkait dengan vaginoplasty mirip dengan banyak operasi umum lainnya, termasuk infeksi, perdarahan, bekas luka yang parah, dan pembekuan darah. Namun, risiko ini biasanya jarang selama pasien berada dalam kesehatan yang baik. Risiko lainnya termasuk kerusakan saraf, kolaps vagina, dan pelumas alami yang tidak seimbang, meskipun kasus ini terbilang langka jika Anda ditangani oleh dokter bedah yang terampil.

Beberapa bekas luka operasi normal dan akan memudar dengan sendirinya selama pasien melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam proses pemulihan. Jika Anda memutuskan melakukan vaginoplasty, dokter bedah akan membahas secara rinci risiko yang terkait dengan prosedur dan kesehatan Anda.

Risiko yang paling umum — dan yang paling penting — untuk dipertimbangkan ketika memutuskan peremajaan vagina adalah bahwa pasien mungkin akan merasa tidak puas dengan hasil akhirnya. Meski banyak wanita mengklaim bahwa vaginoplasty terbukti efektif meningkatkan kualitas kehidupan seks mereka, sebenarnya tidak ada jaminan bahwa hal yang sama berlaku bagi setiap orang.

Kadang, prosedur ini bisa mengakibatkan vagina tidak seketat yang diharapkan, atau malah sangat terasa ketat hingga mungkin Anda tidak bisa melakukan seks yang nyaman dengan pasangan Anda. Pada kasus ini, terapi tambahan atau pembedahan perbaikan akan mungkin dibutuhkan untuk meraih hasil akhir yang diinginkan.

Source: Oleh Ajeng Quamila. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

 

5 Cara Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Vagina

KHUSUS PASUTRI


cara-terbaik-menjaga-kesehatan-kewanitaan

Menjaga kesehatan vagina Anda adalah suatu hal yang gampang-gampang susah. Sebenarnya vagina Anda adalah salah satu organ tubuh yang paling cerdas karena mampu membersihkan diri dan mengatur kelembapan alaminya tanpa bantuan zat-zat kimia apa pun. Akan tetapi, kadang hal ini tak benar-benar dipahami sehingga beberapa wanita justru membahayakan vagina karena menggunakan beragam produk kewanitaan yang tak diperlukan. Lalu, sebenarnya bagaimana cara terbaik untuk menjaga kesehatan organ kewanitaan Anda? Silakan simak tips-tips jitu di bawah ini, mulai dari membersihkan vagina sampai bercinta dengan aman.

1. Membersihkan Vagina

Menjaga kesehatan vagina dimulai dari kebiasaan Anda membersihkannya. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, vagina adalah organ tubuh yang mampu membersihkan diri sendiri. Akan tetapi, rutin membersihkan vagina bisa membantu mencegah tumbuhnya bakteri dan menjaga agar daerah kewanitaan Anda tetap terasa segar. Maka, harap perhatikan hal-hal ini sebelum Anda membersihkan vagina.

Bilas dengan air hangat

Untuk membersihkan vagina setiap harinya, cukup bilas dengan air hangat (bukan air mendidih) ketika Anda mandi. Anda bisa melarutkan sedikit saja garam laut (sea salt) ke dalam air hangat untuk membantu mengatasi rasa gatal di daerah kewanitaan. Namun, jangan pakai garam mandi yang marak dijual saat ini dengan pewarna, pewangi, dan zat-zat tambahan lainnya. Garam mandi justru berisiko menimbulkan iritasi.

Tak perlu pakai pembersih kewanitaan

Membersihkan vagina dengan air hangat dan garam saja sudah cukup. Ini karena vagina memiliki cairan khusus untuk membunuh bakteri atau kuman penyebab infeksi. Sementara itu, pembersih kewanitaan mengandung berbagai bahan kimia yang terlalu keras bagi daerah kewanitaan yang sangat sensitif.

Jangan pakai sabun wangi atau antibakteri

Sama seperti pembersih kewanitaan, sabun mandi Anda juga sifatnya terlalu keras bagi vagina. Apalagi jika sabun Anda mengandung pewangi, antibakteri, pengawet, atau pewarna buatan. Sabun juga akan mengganggu pH alami vagina. Jika Anda memang ingin membersihkan vagina, pilih sabun yang tidak mengandung pewangi, pewarna, antibakteri, atau alkohol. Anda juga tidak disarankan untuk membersihkan bagian dalam vagina Anda, cukup usap sedikit saja bagian luarnya.

Mengeringkan Vagina

Setelah Anda mandi, buang air kecil, atau membersihkan vagina, hati-hati saat mengeringkannya. Gunakan handuk atau tisu yang lembut dan tepuk-tepuk pelan hingga kering. Jangan menggosok atau mengusapnya terlalu keras karena bisa menimbulkan iritasi.

2. Memilih pakaian dalam yang ramah bagi vagina

Meskipun pakaian dalam yang berbahan sutra atau renda tampak lebih manis, jangan dipakai terlalu sering. Pasalnya, vagina Anda membutuhkan sirkulasi udara yang baik supaya tidak terlalu lembap. Jadi, sebaiknya pilih pakaian dalam dengan bahan katun asli. Agar organ intim Anda bisa bernapas lega setelah seharian terperangkap dalam pakaian dalam dan celana atau rok yang ketat, tidur tanpa pakaian dalam di malam hari bisa jadi solusinya.  

3. Rutin mengganti pembalut

Untuk menjaga kesehatan vagina, sebaiknya Anda rutin mengganti pembalut, tampon, atau pantyliner. Memakai pembalut, tampon, dan pantyliner selama lebih dari empat jam berisiko menyebabkan infeksi. Ini karena organ kewanitaan Anda tak bisa bernapas melalui plastik yang melapisi pembalut dan pantyliner. Selain itu, terlalu lama memakai tampon juga rentan menimbulkan toxic shock syndrome.

4. Makanan yang baik untuk menjaga kesehatan vagina

Memiliki pola makan yang sehat adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan vagina. Maka, pastikan bahwa Anda makan makanan dengan gizi seimbang dan minum banyak air putih. Untuk mencegah infeksi ragi vagina, Anda bisa mengonsumsi yogurt yang mengandung probiotik. Selain itu, buah cranberry dan teh hijau juga baik untuk mencegah infeksi saluran kencing. Kalau organ intim Anda terasa kering dan sakit ketika bercinta, Anda bisa makan apel dan alpukat guna meningkatkan lubrikasi alami vagina.

5. Hati-hati saat bercinta

Anda juga perlu mencegah penyakit kelamin, infeksi, dan iritasi dengan mempraktekkan seks yang aman. Maka, selalu gunakan kondom tanpa rasa atau pewangi saat bercinta. Pastikan juga bahwa Anda dan pasangan tidak lanjut melakukan penetrasi vagina setelah seks anal. Hal ini berisiko memindahkan berbagai kuman dan bakteri ke daerah kewanitaan Anda. Anda juga bisa meminta pasangan Anda untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum bercinta atau melakukan fingering (menyentuh dan merangsang vagina dengan tangan).

Source: Oleh Irene Anindyaputri. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

Penyebab Vagina Kendur dan Cara Mengatasinya

KHUSUS PASUTRI


Vagina-Bau-Mungkin-Ini-Penyebabnya

Setelah melahirkan atau sudah memasuki usia menopause, banyak wanita mengkhawatirkan kondisi kesehatan reproduksinya. Salah satu keluhan yang muncul antara lain vagina mengendur.  Keluhan ini juga dikenal dengan istilah sindrom vagina kendur (vaginal relaxation syndrome).

Biasanya kondisi ini ditandai dengan hilangnya gairah bercinta, sulit mendapatkan kenikmatan seksual atau orgasme, serta dalam beberapa kasus wanita akan mengalami inkontinensia urin yaitu sulit mengendalikan laju urin.

Apabila Anda mengalami tanda-tanda tersebut, bisa jadi Anda memiliki kondisi sindrom vagina kendur. Sindrom ini bisa disembuhkan dan pada kebanyakan kasus tidak membahayakan. Untuk mencari tahu lebih lanjut soal sindrom vagina kendur, baca terus informasi berikut.

Apa itu sindrom vagina kendur?

Sindrom vagina kendur adalah kondisi di mana dinding, otot, serta jaringan vagina melemah. Vagina jadi tidak bisa berkontraksi seperti biasanya. Inilah yang membuat vagina terasa tidak rapat, jadi lebih longgar. Sindrom ini bukan penyakit, melainkan kondisi medis.

Bagaimana vagina bisa mengendur?

Pada kebanyakan kasus, kondisi ini terjadi karena dinding vagina meregang terlalu lebar akibat proses persalinan normal. Akan tetapi, biasanya perlahan-lahan vagina akan kembali lagi pada bentuk awalnya. Sindrom vagina kendur juga bisa dialami wanita yang sudah lanjut usia atau memasuki usia menopause. Pada wanita menopause atau lanjut usia, dinding vagina menipis karena kurangnya kadar kolagen dan hormon estrogen. Akibatnya, dinding vagina yang seharusnya tetap kencang dan elastis jadi mengendur. Biasanya jika diakibatkan oleh proses penuaan ini, vagina juga akan terasa lebih kering.

Meski sangat jarang, biasanya sindrom vagina kendur juga bisa menjadi salah satu gejala berbagai penyakit. Penyakit yang biasanya ditandai dengan vagina mengendur adalah penyakit prolaps organ panggul. Gejala lain yang mungkin menandakan penyakit ini adalah adanya rasa tertekan pada panggul atau vagina, sakit ketika berhubungan seks, benjolan pada bukaan vagina, serta sulit buang air besar.

Siapa saja yang berisiko terkena sindrom vagina kendur?

Sindrom ini bisa dialami oleh siapa pun, terlepas dari usia seorang wanita. Akan tetapi, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan Anda mengalami sindrom vagina kendur. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:

  • Sudah pernah menjalani proses persalinan normal (lewat vagina) selama berkali-kali
  • Usia di atas 48 tahun
  • Kelainan hormon turunan (genetik)
  • Penuaan dini
  • Sudah pernah menjalani operasi panggul
  • Perubahan berat badan yang drastis

Pengobatan apa yang bisa dijalani untuk memperbaiki vagina kendur?

Untuk mengetahui apakah Anda benar-benar mengalami sindrom vagina kendur, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Setelah didiagnosis dengan sindrom tersebut, ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa Anda pilih. Pengobatan yang Anda jalani biasanya bisa dipertimbangkan sesuai dengan keseriusan kondisi Anda dan berbagai alasan pribadi. Simak berbagai pengobatannya berikut ini.

1. Laser

Kondisi vagina yang mengendur bisa dipulihkan dengan prosedur peremajaan vagina. Dalam prosedur ini, laser yang diarahkan pada vagina akan memicu pertumbuhan dan perbaikan kolagen. Vagina pun akan jadi lebih rapat.

2. Terapi Hormon

Apabila sindrom yang dialami disebabkan oleh kelainan atau perubahan hormon, Anda mungkin akan dianjurkan untuk menjalani terapi hormon. Biasanya terapi ini ditujukan pada pasien yang sedang dalam masa menopause atau sudah berusia lanjut.

3. Senam Kegel

Senam ini ditujukan untuk melatih otot-otot panggul. Dengan mengencangkan otot panggul, area vagina pun jadi lebih kencang. Wanita yang habis bersalin normal dianjurkan untuk menjalani senam Kegel untuk mengembalikan keremajaan vagina. Senam ini dilakukan dengan cara menahan kontraksi otot panggul (otot yang dipakai untuk menahan laju urin) selama beberapa detik.

Source: Oleh Irene Anindyaputri, Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.