Carlos Ferrandiz, menemukan cinta di Hu’u

Inspirasional People – Carlos Ferrandiz dari Barcelona, Spanyol.


harapan-project---sumbawa-indonesia_owler_20160302_030724_original


1502182055_carlos-ferrandiz-hl_1502181675

Profesinya sebagai pengacara bergaji besar tak lantas membuatnya bahagia. Ia justru memilih jalur kemanusiaan, dengan mendirikan Harapan Project.


Pantai Lakey, di selatan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi tujuan utama Carlos Ferrandiz beberapa tahun lalu. Pantai ini kerap menjadi tujuan para wisatawan mancanegara karena keindahan pantainya.

Banyak peselancar juga menantang dirinya untuk menaklukkan ombak Pantai Lakey yang terbilang unik karena bergerak dari arah kiri. Karena itu, banyak yang menyebutnya pantai dengan ombak kidal.

Keindahan dan keunikan itu berbaur dengan kehidupan masyarakat sekitarnya. Carlos melihat banyak warga yang membuka lapak dagangan di pinggir pantai. Anak-anak kecil tampak berbaur dengan para turis asing.

Ia lalu tergerak untuk pergi ke Desa Hu’u yang dekat dengan Pantai Lakey. Di sana, Carlos berkunjung ke tiga dusun: Ncangga, Hu’u, dan Nangadaro. Kemiskinan menjadi pemandangan umum di tiga dusun itu.

Di Ncangga terdapat banyak rumah kumuh dan hanya terdapat dua toilet umum. Di Hu’u pemukiman warga lebih renggang dibanding dusun lainnya. Sementara, di Nangadoro, berada di ujung selatan Kabupaten Dompu, penduduknya lebih padat.

Peristiwa pada 2005 lalu itu masih tertanam dalam ingatan Carlos. Banyak anak di sana tidak sekolah. Fasilitas kesehatan dan pendidikan pun minim. Kondisi itu bagai bumi dan langit dengan pulau pertama yang ia kunjungi saat datang ke Indonesia, yaitu Bali.

“Saya kaget melihat perbedaan dua pulau itu,” tulis Carlos dalam surat elektronik yang ia kirimkan ke Beritagar.id pada Senin (31/07/2017).

Tapi uniknya, menurut dia, anak-anak tampak bahagia dengan kondisi serba terbatas itu. Ada yang tak punya pakaian, apalagi mainan. Kalau sakit, mereka tak punya biaya untuk ke dokter. “Tak peduli bagaimana pun hidupnya, mereka selalu tersenyum,” kata pria lajang berusia 37 tahun ini.

Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan di negara asalnya, Spanyol. Banyak anak di selatan Benua Eropa itu punya mainan dan baju terbaik. Mereka punya akses pendidikan dan kesehatan gratis. Tapi nyatanya, mereka tak merasa bahagia, malah kurang senyum.

Dari rasa prihatin melihat kemiskinan di Hu’u, Carlos akhirnya memutuskan mengabdikan dirinya untuk mengubah kondisi masyarakat di sana melalui pendidikan dan kesehatan. “Saya memutuskan hidup saya harus bisa mengubah orang-orang ini. Begitulah Harapan Project lahir,” ujarnya.

2366x1577_493da74997c0c40d4da0cfcb46e19455caa5a07b-600

Anak-anak di Desa Hu’u, Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat sedang bermain bola.© Harapan Project /Harapan Project

Mengajar dengan gembira

Beritagar.id pada akhir bulan lalu berkunjung ke tiga dusun, tempat Carlos mengabdikan dirinya. Kami kemudian mendatangi kamar nomor tujuh Hotel Balumba yang menjadi Kantor Harapan Project.

Di kamar seluas lima kali enam meter itu, Carlos menjalankan aktivitasnya dalam membantu warga Desa Hu’u di bidang kesehatan dan pendidikan. Di kamar itu pula Carlos kadang mengajak anak-anak desa untuk belajar.

Namun, karena takut para tamu merasa terganggu, Carlos tak lagi menggunakan kamar itu untuk belajar. Ia memutuskan menggunakan fasilitas sekolah di sekitar Desa Hu’u. Setiap jam 14.00 WITA, Carlos menjemput anak-anak ke sekolahnya memakai mobil yang ia beli di Bali. Jam belajar ini akan berakhir pada 18.00 WITA.

Awalnya, ia hanya mengajarkan bahasa Inggris. Anak-anak yang datang tampak antusias mengikuti pelajaran. Mereka bahkan mengajak orang-orang di Desa Hu’u. “Dari anak-anak sampai orang tua akhirnya ikut belajar,” kata Carlos.

Saking senangnya belajar, Carlos sampai harus melerai anak-anaknya yang kerap berkelahi untuk dapat duduk paling depan. Kepala Dusun Nangandoro, Samsul, mengatakan hal serupa. “Anak-anak merasa senang dengan Carlos. Kalau ia datang, mereka langsung mengerubunginya dan bermain bersama,” ujar Samsul.

Carlos pun tergerak untuk mengajarkan anak-anak itu hal lainnya. Mata pelajarannya bertambah. Matematika, geografi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni juga ia ajarkan kepada muridnya. Setelah pelajaran, ia mengajak anak-anak bermain voli, sepak bola, berselancar, dan bulu tangkis.

Namun, apa yang ia lakukan saat ini bukanlah tanpa tantangan. Menurut Carlos, anak-anak di Hu’u tak terbiasa dididik. Mereka mudah hilang konsentrasi dan merasa lelah ketika belajar. Di rumah, anak-anak juga tak pernah membuka buku. Perkembangan pendidikan mereka pun cenderung lambat.

Selain tantangan dari diri anak-anak, para orang tua pun tak menciptakan kondisi belajar-mengajar yang kondusif. Mereka lebih senang melihat anaknya bekerja di ladang pada sore hari. Mereka juga berpikir tak akan mampu membiayai anaknya sampai kuliah, jadi lebih baik mengajarkan soal menanam jagung dan budidaya rumput laut.

“Saya sangat mengerti ketidakpercayaan mereka terhadap pendidikan, karena orang tuanya pasti tidak mampu membiayai pendidikan anaknya,” ujar Carlos.

Dari tantangan yang dihadapi di lapangan, Carlos berinisiatif akan memulai program baru di bidang pertanian. Hal tersebut rencannya dilakukan untuk mengajar masyarakat lokal cara mengembangkan produksi pertaniannya.

“Saya ingin mengajarkan warga lokal bagaimana caranya mengambil susu dari hewan dan menghasilkan keju dan yogurt,” katanya.

1366x456_bc44ebaab3f8eae921a7a908b013dcf4f6b584e3 (1)-600

Carlos Ferrandiz saat mengajar di kelas (foto kiri) dan berolah raga dengan anak-anak di Desa Hu’u, Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (foto tengah) beberapa waktu lalu. Arian Ahmad (18) menunjukkan bekas operasi di lengan kirinya (foto kanan).© Harapan Project (foto kiri dan tengah), Junaidin (foto kanan) /Harapan Project, Beritagar-id

Membantu kesehatan 1.400 anak

Selain di bidang pendidikan, Carlos juga mengabdikan diri di bidang kesehatan. Saat kami tiba di Dusun Ncungi, Ramlah (32) menyambut kami dengan semangat sembari menceritakan aktivitas Carlos dalam membantu pengobatan anak-anak dan ibu-ibu yang melahirkan.

Tak lama setelah itu, Ramlah memanggil seorang anak bernama Arian Ahmad (18). Ia menceritakan, bahwa Arian Ahmad pernah dibawa ke rumah sakit Sanglah Bali oleh Carlos.

Pada saat itu tangan Arian patah akibat jatuh dari pohon. Arian pun dioperasi. Selama proses pengobatan selama beberapa minggu, keluarga Arian tak menguarkan biaya apa pun.

“Saya menolong semua anak sakit di wilayah Huu, saat ini berjumlah sekitar 1.400 orang,” kata Carlos. Jika rumah sakit di Dompu tidak bisa menangani, Carlos akan membawa anak-anak yang sakit ke Bali.

Selama delapan tahun tinggal di Indonesia, ia mengaku sudah membayar lebih dari 120 operasi. Jumlah tersebut di luar dari warga yang penyakitnya ringan. “Saya juga menangani kampanye kesehatan, seperti program malaria dan isu kebersihan,” ujarnya..

2366x1614_3920f828af6b79cd741ff1fe06aabac94b579f1f-600

Carlos Ferrandiz (kanan) saat mengajar murid-murid di Desa Hu’u. Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu.© Harapan Project /Harapan Project


Saya hanya mengembalikan apa yang saya terima dari orang Indonesia.

Carlos Ferrandiz


Ia mengakui sampai hari ini belum bisa mengumpulkan dana yang cukup untuk membiayai semua program Harapan Project. Jumlah rata-rata yang ia keluarkan untuk menjalankan keseluruhan program per tahun tidak kurang dari Rp300 juta, belum termasuk anak-anak yang membutuhkan operasi medis.

Carlos biasanya mencari uang ketika kembali ke Spanyol pada Juli sampai Desember. Namun, itu pun tak mudah karena ia seorang diri mengerjakan semuanya.

Hanya cinta yang bisa membawa Anda kepada kebahagiaan. Dan inilah yang saya temukan di Hu’u,” katanya.

190118817_640

Bermula dari keluarga

Orang tua Carlos mendidiknya untuk selalu menolong orang lain. Sejak berumur enam tahun, ia punya kegiatan rutin mengunjungi orang-orang yang terkena gangguan mental dan psikis.

Didikan orang tua yang selalu ia ingat adalah untuk selalu mengapresiasi hidup dengan cara membantu orang yang membutuhkan. Karena itu, ia tergerak untuk menggagas misi kemanusiaan.

Padahal, kehidupan Carlos di Spanyol cukup mapan. Ia bekerja sebagai pengacara di kantor akuntan publik yang bergengsi, PriceWaterHouse Coopers. Gajinya besar. Tapi itu tak memuaskan hidupnya. Ia malah merasa tak memiliki apa-apa.

“Saya hanya membantu orang kaya menyelesaikan pekerjaan mereka,” begitu ia menggambarkan profesinya.

Dari perjalanan hidup itu, Carlos memutuskan ke Bali hingga berjalan-jalan di Sumbawa. Sejak itu, ia merasa Indonesia adalah negara terindah di dunia. Ia merasa nyaman dan bahagia bersama orang-orang di sini.

“Mungkin ada negara yang lebih indah, tapi saya berbicara tentang warganya. Orang Indonesia luar biasa, saya selalu senang diajak ke rumah mereka dan diberi sepiring makanan,” ujar Carlos.

Menurutnya, orang Indonesia tidak peduli seberapa miskin dirinya, tapi selalu senang berbagi apa pun yang mereka miliki. Ia merasa dicintai oleh warga. Baginya, tidak ada gaji di dunia yang bisa membayar itu.

“Saya selalu mengatakan bahwa saya hanya mengembalikan apa yang saya terima dari orang Indonesia,” katanya.

Source: Britagar

Carlos Ferrandiz Mengabdikan Diri untuk Indonesia

Inspirasional People – Carlos Ferrandiz dari Barcelona, Spanyol.


Sabtu, 9 December 2017 06:29 WIB

harapan-project---sumbawa-indonesia_owler_20160302_030724_original

INDONESIA bagian timur menjadi salah satu wilayah yang sangat membutuhkan perhatian. Tingkat kemiskinan dan kualitas hidup masyarakatnya cukup tertinggal jauh jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Kehidupan berat masyarakat Desa Huu, Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, telah mengetuk hati seorang pria. Pada awalnya hanya datang sebagai turis, pria asal Spanyol tersebut rela mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat Desa Huu. Carlos Ferrandiz, demikian nama pria tersebut, pertama datang ke Indonesia pada 2005.

dr.jpg2

“Semua mulai 2005, saat saya masuk ke Indonesia untuk berlibur selama satu bulan. Suatu hari ada anak 9 tahun yang mau bicara dengan saya. Saya bilang dia harus belajar bahasa Inggris untuk dapat bekerja di hotel. Keesokan harinya dia membawa 150 orang bukan hanya anak-anak tapi ibu, kakek nenek, untuk belajar,” kata Carlos. Kejadian itu seolah menjadi titik balik dalam hidup Carlos. Ia melihat betapa warga Desa Huu teramat membutuhkan bantuan untuk bisa mengubah nasib. Selain itu pula, masyarakat memang memiliki tekad besar untuk maju.

Kondisi itu membuat Carlos rela meninggalkan kehidupannya yang nyaman dan pekerjaan dengan gaji tinggi di negara asalnya. Ia memilih untuk memberikan harapan kepada masyarakat di Desa Huu dengan menggagas Harapan Project, sebuah proyek sosial untuk membantu masyarakat Huu demi kehidupan yang lebih baik. Delapan tahun ia mengabdi untuk masyarakat Huu, banyak hal yang telah dilakukan. Carlos rutin mengumpulkan anak-anak pada sore hari untuk belajar. Ia tidak hanya mengajar bahasa Inggris ataupun ilmu akademik lainnya.

Carlos yang kemudian mahir berbahasa Indonesia juga membagi kemampuannya itu untuk anak-anak yang terbiasa menggunakan bahasa daerah. Bahkan di beberapa waktu, dibantu seorang peselancar profesional, ia membuat pelatihan selancar gratis bagi Desa Huu.

Program Kesehatan

Kesehatan masyarakat Huu juga menjadi perhatian Carlos. Layaknya pelayan kesehatan keliling, ia membantu masyarakat yang sakit untuk berobat ke kota. Kondisi rumah sakit yang tidak mendukung terkadang mengharuskan Carlos untuk merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih baik, bahkan hingga ke Bali. Sudah ratusan orang ia bantu untuk operasi, mulai anak-anak hingga orang tua. Dengan penuh kesabaran, ia selalu mendampingi siapa pun untuk mendapat layanan kesehatan yang baik seperti halnya yang ia berikan kepada Debi, anak kecil penderita tumor besar di kakinya.

Kakinya terkena tumor 8 kilogram, ia (Debi) belum pernah keluar rumah, orangtuanya pun malu jika masyarakat melihatnya. Saya bawa Debi ke beberapa rumah sakit agar mendapatkan solusi. Beberapa dokter bilang harus mengamputasi kakinya, tapi saya tidak mau mendengarnya,” kata Carlos. Untungnya Carlos menemukan dokter yang mau membantu, 9 jam operasi dan sukses. Sekarang Debi telah sembuh dari tumornya dan bisa berjalan. Carlos ibarat menjadi pelita bagi harapan masyarakat Huu untuk maju. Perbedaan latar belakang, bahkan Tanah Air, tidak membuatnya berat untuk berbuat dan berbagi kebaikan.

d98a71b6-0f51-45ad-a697-60b35893621e_profile

Baginya, kehidupan adalah sebuah ujian untuk menjadi manusia yang baik dan lebih baik lagi.

Harapan Project . Sumbawa

Inspirasional People – Carlos Ferrandiz dari Barcelona, Spanyol.


Read also:


harapan-project---sumbawa-indonesia_owler_20160302_030724_original

Ini adalah kisah Harapan Project:

Sejak kecil, orang tua saya telah menanamkan dalam diri saya pentingnya membantu orang lain, mengajak saya sejak saya berusia 6 tahun untuk membantu pekerjaan kemanusiaan, terutama di dapur umum dan rumah-rumah dari cacat fisik dan mental.

Oleh karena itu, saya berpikir bahwa saya berhutang misi kemanusiaan ini sebagian besar untuk orang tua saya, Carlos dan Maria Jose, dan adikku Laura, karena mereka telah mengajari saya sejak saya masih anak-anak untuk menghargai apa yang benar-benar penting dalam hidup, kesehatan, cinta, persahabatan, kebahagiaan, dan selalu menghargai apa yang saya miliki, mengambil keuntungan dari mengetahui masa-masa sulit dan berurusan dengan mereka melalui senyum besar.

Harapa Project 600

Pada tahun 2007 saya melakukan perjalanan pertama saya ke Indonesia, termasuk pulau Bali, tertarik dengan budaya dan ombak yang indah dari negeri ini.

Dalam perjalanan ini, saya memutuskan bersama teman-teman saya dari La Salvaje (Sopelana)  untuk melakukan perjalanan surfing selama beberapa minggu di pulau Sumbawa, yang terletak sejauh tiga pulau dari Bali.

Pulau Sumbawa sangat berbeda dari Bali. Bali adalah sebuah pulau yang luar biasa perkembangannya, baik secara ekonomi dan pariwisata, di mana ribuan wisatawan dari seluruh dunia tiba di bandara setiap hari. Namun Sumbawa, meskipun jauh lebih besar dari Bali (Bali: 5.700 km2, Sumbawa: 15.448 km2), hanya ada beberapa wisatawan yang datang dalam seminggu.

Selain itu, orang-orang dari Sumbawa tidak tahu bagaimana cara untuk mengeksploitasi, memanfaatkan, dan mengembangkan pariwisata yang ada disana, yang sebenarnya dapat membantu mereka dari pergi dari kemiskinan yang parah di tempat tinggal mereka

Secara bersamaan dampak dan perasaan yang saya terima selama perjalanan pertama ke Sumbawa adalah luar biasa.

Dalam perjalanan ini kami menetap di Lakey Peak/Puncak Lakey,  sebuak kompleks hotel yang dirancang khusus untuk para peselancar dengan beberapa ombak yang paling terkenal Sumbawa (Lakey Peak Lakey Pipe, periskop, Nangas …).

Beberapa kilometer dari Puncak Lakey adalah wilayah Hu’u, sebuah masyarakat terbentuk dari 6 kelompok desa-desa kecil, dibangun di atas lahan seluas 30 kilometer dan dihuni sekitar 8.050 orang, 30% di antaranya adalah usia anak sekolah.

Populasi ini hidup dalam kemiskinan parah dan kekurangan disebabkan oleh kemunduran sosial yang jelas dan keanehan dalam infrastruktur apapun.

Suatu hari, saat saya selesai melakukan surfing, saya didekati oleh seorang anak yang ingin berkomunikasi dengan saya, tapi berbicara dalam bahasa Indonesia dan saya tidak mengerti sama sekali.

Saya bertanya apakah dia bisa berbicara dalam bahasa Inggris, dan ia mengatakan tidak, ia hanya berbicara beberapa kata. 

Ini sangat mengejutkan saya karena bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa yang mereka ketahui untuk berkomunikasi dengan para wisatawan yang ada di pulau itu, dan karena itu mengambil keuntungan dari sumber daya ekonomi yang pariwisata bisa.

Jadi saya memberitahu kepadanya hari berikutnya saya akan mengajarinya bahasa Inggris, dan dia harus memberitahu ke teman-temannya untuk datang ke kelas saya. Keesokan harinya saya pergi ke tempat pertemuan saya telah saya atur dengan anak itu, dengan papan tulis yang saya pinjam dari salah satu hotel yang ada di daerah dan buku saya untuk belajar bahasa Indonesia dari bahasa Inggris (saya berencana untuk menggunakan buku-buku secara berlawanan).

Saya terkejut yang saya dapati seluruh penduduk desa terdekat telah muncul dan ikut, sekitar 150 orang di antaranya adalah anak-anak, orang tua dan bahkan ada kakek-nenek.

Terpesona dari keinginan orang-orang untuk belajar, saya memutuskan bahwa hidup saya harus berubah untuk membantu orang-orang ini. Pada saat itu Harapan Proyek lahir.

Selama saya tinggal di Sumbawa, saya terus melanjutkan kelas bahasa Inggris saya setiap malam. Itu sangat menakjubkan dimana setiap hari semakin banyak orang yang datang kepada mereka, gembira bahwa akhirnya ada seseorang yang telah memutuskan untuk membantu.

Saya harus mengatakan bahwa pendidikan sekolah di Indonesia memiliki kualitas yang sangat rendah, dengan guru-guru yang sebagian besar tidak memiliki gelar sarjana atau tidak memiliki pengalaman mengajar.

Sistem mengajar Indonesia juga tidak memiliki konten teknis atau profesional, sehingga keberhasilan anak-anak didalam peluang profesional benar-benar tidak ada.

Dampak dari semua diatas adalah ketidakpercayaan penduduk lokal terhadap sekolah, yang mengakibatkan kegagalan besar dalam sekolah dan putus sekolah, serta kesenjangan yang signifikan dalam pendidikan dan pelatihan masyarakat u Hu ‘.

Ketidakpercayaan terhadap pendidikan ini disebabkan bahwa banyak anak-anak usia sekolah tidak bersekolah secara teratur, terutama anak-anak yang tinggal di daerah yang lebih terpencil, masyarakat pedesaan.

Selain itu, banyak anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah karena mereka melakukan tugas-tugas yang tidak pantas dilakukan untuk usia mereka: pertanian,  perdagangan, membersihkan sepatu, dll.

Akses ke sekolah itu juga tidak mudah karena kurangnya sarana transportasi sekolah dan komunikasi yang buruk, yang akhirnya menghalangi anak-anak dari desa-desa yang jauh dari sekolah untuk sampai ke sekolah setiap hari.

Menurut guru-guru, banyak orang tua yang memperlihatkan sedikit minat sekolah pada anak-anak merekauntuk bersekolah , orangtua lebih suka mereka untuk membantu dengan tugas-tugas , dalam kasus ini adalah anak perempuan, atau bekerja sama dalam tugas-tugas lapangan dan dalam kasus anak laki-laki .

Selain itu, kami mengidentifikasi cukup banyak pengusaha kecil yang menggunakan tenaga anak-anak untuk tugas-tugas tambahan, mengambil keuntungan dari upah rendahatas pekerjaan mereka.

Anak-anak sangat membutuhkan sekolah untuk memberikan mereka pendidikan yang baik untuk menjauhkan dari kemiskinan ekstrim di mana mereka hidup, dan itu jelas adalah peran saya.

Setelah kembali ke Barcelona, ​​saya melanjutkan pekerjaan saya sebagai pengacara tapi tidak untuk kedua kalinya aku lupa orang-orang yang indah ini, yang walaupun didalam kerasnya kehidupan mereka, mereka tetap selalu memasang senyum lebar di wajah mereka. 

Lalu Saya memulai Harapan Project, dan berencana untuk membangun sebuah sekolah di desa Hu’u (Sumbawa) dan bertemu spesialis di bidang kerjasama, yang membantu saya menemukan dokumentasi yang saya perlukan untuk mempersiapkannya dan langkah-langkah apa yang harus saya ikuti untuk merealisasikan ini semua.

Semua ini kombinasi dengan kesibukan saya sebagai pengacara, yang baru saja memungkinkan saya untuk mencurahkan beberapa jam untuk proyek, dan beberapa hari bahkan tidak.

Selama tahun-tahun berikutnya, aku tinggal 1 atau 2 bulan setiap tahun di pulau Sumbawa, mengembangkan kursus bahasa dan kegiatan olahraga untuk anak-anak Hu’u, selain sumbangan tahunan sekolah, pendidikan, olahraga dan peralatan kesehatan medis.

Saya juga berkunjung ke pulau untuk mengumpulkan semua dokumentasi yang diperlukan untuk proyek (perjanjian dengan pemerintah Indonesia, dengan komunitas agama, dengan sekolah-sekolah lokal, dengan penduduk lokal, dengan rumah sakit terdekat, membangun anggaran, pencarian tanah untuk membangun sekolah …).

Jika saya ingin melaksanakan Proyek Harapan, saya perlu memiliki segalanya dekat dan semua lembaga harus puas dengan itu.

Sejauh ini, itu masih hanya inisiatif pribadi, tapi saya perlu untuk membentuk sebuah LSM dan memiliki seluruh proyek yang siap dengan semua dokumentasi yang diperlukan untuk eksekusi.

Pada tahun 2010, setelah saya kembali dari Indonesia, saya bertemu beberapa kerabat saya yang terlibat dalam pekerjaan pengembangan kemanusiaan di Afrika selama bertahun-tahun, berfokus pada bidang medis dan kesehatan.

Setelah membicarakan hal-hal di atas untuk waktu yang lama, kami memutuskan untuk membentuk sebuah LSM dan memprofesionalkan usaha kemanusiaan kita.

Ini juga akan menjadi kesempatan yang baik untuk menyatukan kegiatan medis dan pendidikan kita dan, jadi, pendekatan proyek jauh lebih ambisius. Setelah melakukan banyak pekerjaan, akhirnya kami mendirikan LSM.

Semuanya sudah siap untuk pindah dan hidup di Indonesia, meskipun saya tidak memiliki hal dasar untuk memulai melaksanakan proyek dan konstruksi sekolah, pendanaan.

Saya di Barcelona bertemu dengan konsultan untuk bisnis di Indonesia yang bersikeras bahwa, jika saya ingin mencari dana, saya harus berbicara dengan pemerintah Indonesia, menurut dia salah satu pemerintah terkaya di dunia, karena ada biaya publik sangat sedikit di dalam negeri (tidak ada pendidikan umum atau kesehatan masyarakat, dll) dan pendapatan pemerintah sangat besar (ekspor, pariwisata, dll) saya harus pindah ke Indonesia, di mana saya tinggal sekarang, untuk membuat kontak yang baik di pemerintahan.

Saya selalu percaya mimpi-mimpi itu adalah untuk membuat mereka menjadi nyata, dan impian saya adalah untuk membangun sekolah ini di Hu’u dan saya yakin bahwa meskipun saya akan membutuhkan banyak biaya dan waktu serta usaha-suatu hari nanti aku akan membuatnya benar-benar terealisasikan.

  • Informasi Umum Indonesia
  • Indonesia merupakan negara yang telah terkena dampak serius ekonomi dan sosial selama beberapa tahun terakhir dengan banyaknya bencana alam yang membuat menderita (gempa bumi, tsunami, gunung berapi, angin topan, dll) Sebagai contoh sederhana, selama Oktober lalu gunung berapi Merapi, terletak di pulau Jawa, memiliki 3 wabah; mereka juga memiliki tsunami mengerikan yang benar-benar menghancurkan kepulauan Mentawai. Bencana alam adalah konstan dalam sejarah Indonesia dan kehidupan masyarakat setempat.
  • Juga, krisis ekonomi negara itu telah mempengaruhi jutaan pekerja dengan konsekuensi bahwa ribuan anak-anak telah dipaksa untuk meninggalkan sekolah untuk pergi bekerja. Pekerja anak merupakan masalah besar di Indonesia, setidaknya 2,3 juta anak usia 10 sampai 14 tahun dan 3,8 juta berusia 15 sampai 18 tahun bekerja untuk membantu keluarga mereka.
  • Informasi dari Hu’u (Pulau Sumbawa).
  • Sumbawa milik Republik Indonesia dan terletak sejauh tiga pulau dari pulau Bali. Pulau Sumbawa sangat berbeda dari Bali. Bali adalah sebuah pulau yang luar biasa dikembangkan, baik secara dalam hal ekonomi dan pariwisata, di mana ribuan wisatawan dari seluruh dunia tiba di bandara setiap hari. Namun Sumbawa, meskipun jauh lebih besar dari Bali (Bali: 5.700 km2, Sumbawa: 15.448 km2), hanya menerima beberapa wisatawan dalam seminggu. Selain itu, orang-orang dari Sumbawa tidak tahu bagaimana cara untuk mengeksploitasi pariwisata, yang dapat membantu mereka meninggalkan kemiskinan ekstrim di mana tinggaal mereka.

 

Slank

From Wikipedia, the free encyclopedia


Slank is the biggest Indonesian rock band. It was founded in 1983 by teenagers in an alley street in Jakarta called Gang Potlot.

Profile-Slank

Clockwise below left: Ridho, Bimbim, Kaka, Abdee, Ivanka

Opera Snapshot_2018-03-01_073658_en.wikipedia.org

History 


Early years

Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim) created Cikini Stone Complex in the early 1980s. The band only covered Rolling Stonessongs. In 1983 the band broke up. 

Accompanied by his colleagues Denny and Erwan, Bimbim created the band Red Devil. For the guitarist Bimbim brought in Bongky. In December 1983 they changed their band name to Slank because they looked “selengean” (“rebellious” or “unruly”). 

The group’s initial lineup consisted of Kaka (vocals), Pay (guitars), Bongky (bass), Indra Qadarsih (keyboards), and Bimbim (drums). Their first album, Suit suit…hehehe, was not released till 1990. From there, more albums, most of them commercially successful, followed, but Slank was plagued by a number of defections, some involving personal issues, others having to do with internal tensions based around creative decisions. The negativity was overcome, and over the next 20 years, Slank was able to increase their profile, tour the world and maintain commercial success. In 2007, Slank released their 20th album, Slow But Sure. 

Suit suit…hehehe (1991) was an enormous hit. Their subsequent success inspired the formation of other bands, such as Dewa.

Their first three albums, awarded by BASF Indonesia for Best Selling Albums on BASF tapes and the fourth album Generasi Biru went multi-platinum, with several songs making in into Indonesia’s top charts.

Slank became the first MTV Indonesia icon in 2005. 

Various Changes 

Since its inception, Slank’s band members have changed frequently. Reasons have ranged from drug use and woman to money and differences in musical styles. The best line up of the band were Kaka (vocals), Bimbim (drums), Pay (guitar), Bongky (bass) and Indra (keyboards). In 2007, Slank released the new album, Slow But Sure; the album’s first single “Slalu Begitu” was played heavily on Indonesian radio stations.

In 2008 Slank toured the U.S. and Europe. They have also played in various Asian countries, such as Thailand, the Philippines, Japan, and South Korea.

Having more than fifteen albums sold and occasionally causing political controversy in Indonesia, Slank decided to travel to the USA to record their first English-language album, Anthem for the Broken-Hearted. Blues Saraceno was chosen to be the producer of the album. They recorded and mixed the album in only twenty-two days. 

“If you want the world to see what you want to say, you better go to the highest mountain. And for music, the highest mountain now is in the U.S.A.”, says Abdee Negara. 

Java Jazz Festival 2009 

In 2009, surprisingly, Slank was invited to take part in the well known Java Jazz Festival.

Their invitation to a jazz festival by Peter F. Gontha was meant as a challenge to see if they had what it took to perform in a jazz music setting. Their show, attended by thousands, successfully transformed their songs into jazz. In the spirit of reaching a greater jazz audience by combining genres, this show featured Michael Paulo, Ron King and Tony Monaco. It later was described as a “once in a lifetime experience”. 

Slankers 


For more than two decades, Slank has managed a healthy attitude towards their music career, which in turn has helped them throughout the years. Slank has also gained somewhat of a cult status in Indonesia, Slank fans are known as ‘Slankers’, and they have a reputation for devotion. They wave their Slank flags, which consist of the word ‘Slank’ shaped into a graffiti-style butterfly. They sing along with several punk rock songs and perform a stadium-worthy call-and-response routine. According to one of the guitarists Ridho, ‘Slankers’ span all ages from children to adults.

Biopic 


In 2009 Slank took part in a movie called Generasi Biru that depicts their life and journey. The movie was directed by Indonesian film director Garin Nugroho. For this film Slank made a single, “Slank Dance”, which contains a unique dance style created by their fans, the Slankers.

Band Members


Current members

  • Akhadi Wira Satriaji (Kaka) — vocals
  • Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim) — drums
  • Abdee Negara (Abdee) — guitar
  • Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho) — guitar
  • Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka) — bass guitar

Discography


Studio Albums 

  1. Suit suit…hehehe (1990)
  2. Kampungan (1991)
  3. Piss (1993)
  4. Generasi Biru (1994)
  5. Minoritas (1996)
  6. Lagi Sedih (1997)
  7. Tujuh (1998)
  8. Mata Hati Reformasi (1998)
  9. 999 + 09, Vol. 1 (1999) (double album)
  10. 999 + 09, Vol. 2 (1999)
  11. Virus (2001)
  12. Satu Satu (2003)
  13. Road To Peace (2004)
  14. PLUR (2004)
  15. Slankissme (2005)
  16. Slow But Sure (2007)
  17. The Big Hip (2008)
  18. Anthem For The Broken Hearted (2009)
  19. Jurus Tandur No.18 (2010)
  20. I Slank U The Album (2012)
  21. Slank Nggak Ada Matinya (2013)
  22. Restart Hati (2015)
  23. Palalopeyank (2017)

Live Albums

  1. Konser Piss 30 Kota (1998)
  2. Virus Road Show (2002)
  3. Slank Bajakan (2003)
  4. Reborn Republic Slank (2005)

Movie Soundtracks

  1. O.S.T. “Get Married” (2007)
    riginal Soundtrack “Generasi Biru” The Movie (2009)
    .S.T. “Get Married 2” (2009)

International Albums

  1. Since 1983 – Malaysian Edition (2006)
  2. Slank feat. Big Hip – Japan Edition (2008)
  3. Anthem For The Broken Hearted – USA Edition (2008)

Opera Snapshot_2018-03-01_080324_www.allmusic.com

Artist Biography by Chris True


Although constant roster changes and internal tensions pestered the band, Indonesia’s Slank was able to face the adversity head on, and record and release 20-plus albums in a career that was to last for more than 25 years. Formed in Jakarta in 1983, Slank — the group’s initial lineup was Kaka (vocals), Pay (guitars), Bongky Marcel (bass), Indra Qadarsih (keyboards), and Bimbim (drums) — would ply their trade for a number of years before finally landing a deal and releasing their first album, Suit Suit…Hehehe, in 1991. From there, more albums, most of them commercially successful, followed, but Slank was plagued by a number of defections, some involving personal issues, others having to do with internal tensions based around creative decisions. The negativity was overcome, and over the next 20 years, Slank was able to increase their profile, touring the world and maintaining a high commercial value. In 2007, Slank released album number 20, Slow But Sure.

Profil Slank


Cikal bakal lahirnya Slank adalah sebuah grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) bentukan Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada awal tahun 80an. Band ini hanya memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan tak mau memainkan lagu dari band lain, alhasil mereka akhirnya jenuh dan menjelang akhir tahun 1983 grup ini dibubarkan. 

Semangat bermusik Bimbim yang masih membara membawanya kembali membentuk band baru bernama Setan Merah bareng dua saudaranya, Denny dan Erwan. Untuk menambah amunisi, Bimbim lantas mengajak Bongky untuk mengisi posisi gitaris. Pada bulan Desember 1983 mereka ganti nama menjadi Slank, sebuah nama yang diambil begitu saja dari cemoohan orang yang sering menyebut mereka cowok selengean.

Formasi Slank ketika pertama kali didirikan adalah Erwan (Vokal), Bongky (Gitar), Denny (Bass), Kiki (Keyboard) dan Bimbim (Drum). Mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri sebelum Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank.

Tak lama kemudian Parlin Burman (Pay) dan Akhadi Wira Satriaji (Kaka) bergabung dengan Slank, disusul dengan masuknya Indra Chandra Setiadi (Indra) beberapa tahun kemudian. Dengan formasi Bimbim (Drum), Bongky (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal) dan Indra (Keyboard) mereka mulai membuat demo untuk ditawarkan ke perusahaan rekaman. 

Setelah berulang kali ditolak, akhirnya tahun 1990 demonya diterima dan mulai rekaman debut album Suit-Suit… He He He (Gadis Sexy). Album yang menampilkan hit Memang dan Maafkan itu meledak dipasaran sehingga mereka pun diganjar BASF Award untuk kategori pendatang baru terbaik. Album kedua mereka, Kampungan pun meraih sukses yang sama. 

Keterlibatan para personelnya dengan narkoba sempat melahirkan keretakan di tubuh band yang bermarkas di jalan Potlot ini. Pada saat menggarap album keenam (Lagi Sedih), Bimbim selaku leader akhirnya memutuskan untuk memecat Bongky, Pay dan Indra.

Sebagai gantinya mereka merekrut Ivanka (Bass), Mohamad Ridho Hafiedz (Ridho) dan Abdee Negara (Abdee). Formasi ini bertahan hingga saat ini dan mereka terus melahirkan karya-karya yang menegaskan eksistensi mereka di dunia musik Indonesia. 

The Future of Music


Indonesia’s most popular band shows how American musicians can support themselves.

By Ray Huling,  January 25, 2009

Indonesia’s biggest rock band, Slank, revealed the future of music a couple months ago at a small, dark bar in Boston, where their long-haired front man, Kaka, kicked off the gig. Grinning broadly, his body chiseled and bare-chested, he addressed the audience in Bahasa, the dominant language in Indonesia, and the kids went crazy. Slank fans are known as ‘Slankers’, and they have a reputation for devotion. They waved their Slank flags, which consist of the word ‘Slank’ shaped into a graffiti-style butterfly. They sang along with several punk-rock songs and performed a stadium-worthy call-and-response routine. One fan even held up a New Hampshire license plate with SLANK imprinted right below “Live Free or Die”. 

“Welcome, college boys!” cried Kaka in English. “Boston University!” he said, to wild cheers. “Stanford!” he said, to confused looks and laughter. “Where are we?” he asked. 

He was kidding, of course. Sitting on their tour bus before the show, knocking back Heinekens, you’d find Slank to consist entirely of thoughtful, well-spoken, good-humored guys, all of whom have paid very close attention to the U.S. for a long time. After selling millions of records and causing the occasional political controversy in Indonesia, they’re now touring the States to promote their first English-language album, Anthem for the Broken-Hearted. “If you want the world to see what you want to say,” says Abdee, one of the guitarists, “you better go to the highest mountain. And for music, the highest mountain now is in the U.S.A.” 

It’s true. The United States remains today’s music capital. But tomorrow? Anyone curious about where the music business is headed should look to Slank and their compatriots. The music industry in their native Indonesia suffers from piracy rates somewhere above ninety percent. Major record labels there, even more than here, have lost millions in record sales over the past ten years, and continue taking a huge cut of performers’ revenues from song sales. Indonesian musicians have to diversify their means of income in order to make a living—and that includes doing wide-ranging tours in small venues, like Bill’s Bar in Boston. 

Slank is a curious blend of old and new. To listen to Slank is to hear the rock of yore, but to watch them live is to see where Western stars may eventually end up. Imagine Lil’Wayne playing Charmaine’s Bar in Jakarta—not for the kicks, but for the money. Economic and technological trends seem to be taking us in this direction. So let’s investigate a little further into how music works in Indonesia, and what it portends for American recording artists. 

Indonesia is the world’s largest Muslim country, one whose inhabitants sometimes riot over perceived affronts to Islam, but that discrete fact paints an incomplete portrait. The country, which divides along ethnic, linguistic, religious, and geographic lines, is quite unlike certain other Islamic nations. Indonesian kids, especially middle-class ones, smoke and drink. They take pictures of themselves smoking and drinking and post them on the Internet. Sure, people still get married at twenty, but husbands and wives can now enjoy matching tattoos—and post pictures of them on-line. These are not possibilities in Saudi Arabia. 

The Indonesian affection for rock music is also something of an anomaly. In most of the world, hip-hop gives voice to youthful rebellion. Indeed, the Mediterranean triangle of France, Morocco, and Algeria now produces the world’s best rap. Indonesian rebels remain apart, firmly in the camp of guitars, harmonies, and sung lyrics. Thus Slank has an archaic sound to American ears—classically pure rock’n’roll. This purity is significant. 

Slank explains this predilection by suggesting that Indonesians identify with the U.S. of the sixties, rather than the nineties. The country experienced a long period of economic growth under Suharto’s dictatorship, along with intense oppression. Since the Indonesian Revolution ousted Suharto a decade ago, a fairly well-educated populace has endured economic stagnation, religious conflict, and massive governmental corruption. “It’s like everybody wanted to scream for freedom since 1998,” says Abdee. 

This scream carries the timbre of political rock. As did the Anglo-American music of the sixties, Indonesia’s rock contributes to social movements. Slank uses its cultural and economic capital to criticize and sway politicians. “Before we came,” says Abdee, who’s wearing a Who t-shirt and has a hairstyle reminiscent of Ronnie Wood’s, “we had a song that made the Indonesian Parliament…what do you call it?…freak out!” 

In April of last year, the band performed “Gossip Jalanan” (Street Gossip) at an anti-corruption rally. The song—first released in 2004, but amplified by the occasion of the rally—refers to a slew of Indonesia’s problems: corruption, prostitutes, gangsters, drug dealers, gamblers. The lyrics even include a common acronymic pun. In Bahasa, the Indonesian Constitution is “Undang-Undang Dasar” or ‘UUD’. Indonesians joke that ‘UUD’ really stands for “Ujung-Ujungnya Duit” or “All about the money.” Despite a popular fondness for such jokes, Indonesian legislators looked unkindly on Slank. The Parliament’s House Disciplinary Council threatened to sue the group. 

“They want to put us in jail,” says BimBim, Slank’s drummer and founder, a browner and handsomer version of Joey Ramone. “Then the TV news had a vote: who do you believe? The legislature or Slank? 99% believed Slank.” 

Calls for prosecuting Slank faded when, a couple of days after the scandal broke, Al Amin Nur Nasution, a member of the Parliament’s lower House and husband of a famous traditional singer, found himself arrested for corruption. In the presence of an alleged prostitute. 

Scandal is not Slank’s preferred method, however. They are primarily a Message Band—again, with all of the sincerity and straightforwardness of a sixties icon. They’ve articulated a creed for themselves: Peace, Love, Unity, and Respect, which, in Indonesian fashion, they compress into an acronym, PLUR. Consider it a modern, Indonesian brand of ‘bagism’, only without any irony. Slank instantiates their world-view in their music by addressing certain themes in every record. “We always have four elements,” explains Kaka. “We talk about youth; we talk about love, romance; we talk about social politics; we talk about nature. Always these four things.” 

“Sometimes…five,” interjects Abdee. 

BimBim nods vigorously: “Party!” 

As viewed from the audience, Slank is fun. They deliver that good ol’ rock’n’roll experience. At one point in their performance at Bill’s Bar, Kaka offered a copy of their new record to any girl who would come onstage and give Ridho, the band’s second lead guitarist, a kiss, which a young, Indonesian girl proceeded to do, shyly, on Ridho’s cheek. (The band has also suffered numerous break-ups and personnel changes because of drug problems—it balances social responsibility with traditional rocker indulgence.) 

Opera Snapshot_2018-03-01_081734_jazzuality.com

Slank Performance at Java Jazz Festival 2009


By  Riandy Kurniawan – Mar 8, 2009

This is one of the big headlines. For the first time, the Indonesian phenomenon with millions of fans, Slank, rocked this year’s Java Jazz Festival 2009! Who could predicted that Slankwould have their moment at the biggest jazz event in the world. But yes, it happened tonight. Just like Kaka the vocalist, told us that their performance was meant to be a task from Peter F.Gontha to see how they deserved being in a jazz festival, the whole show that attends by thousands succesfully transformed their songs into jazz. In the spirit of reaching greater jazz audience by combining genres, this show which featured Michael Paulo,Ron King and Tony Monaco was really a feels like a lifetime experience.