Huawei WIFI HG8245A

It is recommened to have minimum of 10 MBPS Speedy Line so that more clients can share the Internet Connection without loosing speed.

Overview

Quick Details

Place of Origin: Guangdong, China (Mainland)
Brand Name: Huawei
Model Number: Huawei ONU
Product name: Huawei ONU
Color: White
XPON: GPON
Condition: Brand New
Power supply: EU, US, UK, AU
Software: English
Pots: 2POTS+4FE+Wi-Fi+1USB
Product Keywords: epon wifi router,epon terminal ont,epon splitter

Product Detail

Product name Huawei ONU
Color White
XPON EPON
Condition Brand New
Power supply EU, US, UK, AU
software English
pots 4GE+2voice
Product Keywords Epon wifi router,gpon terminal ont,gpon splitter

Application and Advantage :

HUAWEI HG8245A WIFI GPON ONU with 4 FE + 2 POTS ports , is a high-end home gateway in Huawei FTTH solution.

By using the EPON technology, ultra-broadband access is provided for home and SOHO users.

The HG8245 provides two POTS ports, four FE ports and one WiFi antenna.

The HG8245 A features high-performance forwarding capabilities to ensure excellent experience with VoIP, Internet and HD video services.

Features:

  • Port: 2POTS+4GE+1USB+WiFi.
  • Plug-and-play (PnP): Internet, IPTV and VoIP services can be deployed by one click on the NMS and on-site configuration is not required.
  • Remote diagnosis: Remote fault locating is implemented by the loop-line test of POTS ports, call emulation and PPPoE dialup emulation initiated by the NMS.
  • High speed forwarding: GE line rate forwarding in the bridge scenario and 900 Mbit/s forwarding in the NAT scenario.
  • Green energy-saving: 25% power consumption is saved with highly integrated system on chipset (SOC) solution, in which, a single chip integrates with PON, voice, gateway and LSW modules.

MRT Jakarta Resmi Beroperasi 25 Maret 2019

MRT Jakarta

Foto: Stasiun MRT Bunderan HI (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

MRT Jakarta resmi beroperasi hari ini setelah sehari sebelumnya dioperasikan oleh Presiden Joko Widodo. Sekarang masyarakat dapat menikmati MRT Jakarta fase 1 rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia (HI) secara gratis.

Dalam sambutannya pada saat peresmian yang dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja, Jokowi meminta kepada masyarakat untuk beradaptasi dengan moda transportasi pertama di Indonesia ini.

Ia ingin masyarakat ikut serta dalam menjaga dan memelihara MRT. Kepala negara tak mau lagi mendengar masyarakat masih menerapkan budaya lama dalam menggunakan transportasi publik.

“Jaga agar tetap bersih, stasiun dan MRT-nya tidak kotor. Jangan buang sampah sembarangan. Budaya antre dan disiplin waktu,” kata Jokowi di lokasi peresmian.

Mimpi Indonesia memiliki sebuah kereta rel listrik cepat ini memang sudah lama. Rencana pembangunan MRT di Jakarta sesungguhnya sudah dirintis sejak 1985.

Penggagas MRT Jakarta

Namun, berdasarkan penelusuran CNBC Indonesia yang dirangkum dari keterangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, desain proyek MRT baru dibuat pada medio 1995.

Pada sat itu, mantan Presiden RI ketiga BJ Habibie yang merancang dan menyusun sendiri dasar proyek MRT untuk rute Blok M. Pada saat itu, Habibie masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.

Meskipun di tahun yang sama, Ali Sadikin – Gubernur DKI Jakarta waktu itu – sudah membentuk unit manajemen khusus, pembangunan tak dieksekusi hingga di 1998. Rencana ini dilanjutkan kembali oleh Gubernur Sutiyoso.

Beberapa tahun tak ada progres perkembangan signifikkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2005 menetapkan MRT sebagai proyek nasional. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah pun mulai bergerak menindaklanjuti arahan presiden.

Foto: Stasiun MRT Lebak Bulus (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Di masa kepemimpinan Fauzi Bowo, pemerintah provinsi DKI Jakarta meneken naskah perjanjian penerusan hibah proyek MRT dari pemerintah pusat. Langkah tersebut, kembali ditindaklanjuti di 2011 oleh era kepemimpinan Jokowi sebagai gubernur Jakarta.

Di era Jokowi, lelang fisik MRT fase I dilakukan, komposisi pinjaman pun berubah. Tongkat estafet beralih ke Basuki Tjahaja Purnama, dan tanda-tanda proyek tersebut hadir di ibu kota makin terlihat jelas.

Di zaman Basuki yang akrab disapa Ahok itu, pembebasan lahan dilakukan dengan memberikan insentif kepada pemilik lahan demi proyek MRT di sepanjang jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kemudian di 2017, Djarot Saiful Hidayat menekan aturan mengenai PT MRT Jakarta sebagai operator utama pengelola kawasan TOD koridor Utara – Selatan Fase 1 MRT.

Akhirnya di era Anies Baswedan, masyarakat Jakarta bisa melihat MRT terwujud. Sebuah transportasi masal yang diharapkan menjadi jawaban tingginya mobilitas pekerja di ibu kota.

MRT akan mulai beroperasi hari ini Senin (25/3/2019) dan dapat dinikmati gratis dengan cara mengisi data di pintu. Baru kemudian MRT Jakarta beroperasi secara komersial pada 1 April 2019. Untuk kisaran tarifnya sendiri baru akan diumumkan pekan depan.

Source: Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia 25 March 2019 09:34

MRT Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

MRT Jakarta, singkatan dari Mass Rapid Transit Jakarta, Moda Raya Terpadu atau Angkutan Cepat Terpadu Jakarta (bahasa Inggris: Jakarta Mass Rapid Transit) adalah sebuah sistem transportasi transit cepat menggunakan kereta rel listrik di Jakarta. Proses pembangunan telah dimulai pada tanggal 10 Oktober 2013 dan diresmikan pada 24 Maret 2019.

Layanan MRT ini diberi nama “Ratangga”. Kata ratangga merupakan kata bahasa Jawa Kuno yang berarti “kendaraan beroda” atau “kereta”. Operator layanan ini, PT MRT Jakarta, merupakan badan usaha milik daerah yang modalnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sejarah

Latar belakang

Jakarta adalah ibu kota Indonesia dengan penduduk sebanyak 9 juta jiwa. Diperkirakan bahwa lebih dari empat juta penduduk di daerah sekitar Jabodetabek menempuh perjalanan ke dan dari kota setiap hari kerja. Masalah transportasi semakin mulai menarik perhatian politik dan telah diprediksikan bahwa tanpa terobosan transportasi utama, kemacetan akan membanjiri kota dan akan menjadi kemacetan lalu lintas yang sangat parah sehingga kendaraan tidak bisa bergerak bahkan pada saat baru keluar dari garasi rumah pada tahun 2020.

Sejak tahun 1980 lebih dari dua puluh lima studi subjek umum dan khusus telah dilakukan terkait dengan kemungkinan sistem Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta. Salah satu alasan utama yang menunda penanggulangan masalah ini adalah krisis ekonomi dan politik 1997-1999. Sebelum krisis, sebuah Build-Operate-Transfer (BOT) yang dianggap sebagai bagian dari MRT baru melibatan sektor swasta. Setelah krisis, rencana mengandalkan BOT untuk menyediakan pembiayaan terbukti tidak layak dan proyek MRT kembali diusulkan sebagai skema yang didanai pemerintah.

Transportasi umum di Jakarta saat ini hanya melayani 56% perjalanan yang dilakukan oleh komuter sehari-hari. Angka ini perlu ditingkatkan mengingat Jakarta adalah kota dengan tingkat rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor sebesar 9,5% per tahunnya yang jauh melebihi panjang jalan dengan kenaikan hanya sebesar 0,01% antara tahun 2005 dan 2010 .

Pembangunan MRT di daerah Bundaran HI

Transportasi umum di Jakarta saat ini terdiri dari berbagai jenis bus, mulai dari bemo yang sangat kecil, mikrolet yang sedikit lebih besar, hingga mikrobus seperti MetroMini dan Kopaja. Selain bus kota ukuran penuh serta sistem angkutan cepat bus Transjakarta. Terdapat juga taksi dengan roda dua (ojek) dan empat serta sistem Kereta Commuter Jabodetabek.

Pendanaan

Tahap 1 (Lebak Bulus–Bundaran HI) didanai pinjaman lunak dari JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) dengan tenor pinjaman 30 tahun dan masa tenggang 10 tahun dimana pembayaran pertama dilakukan 10 tahun setelah penandatanganan perjanjian pinjaman sampai 30 tahun setelahnya. Tingkat bunga yang dikenakan sebesar 0.25% per tahun.

Tahap 2 (Bundaran HI–Kota) didanai dengan skema serupa namun tenor 40 tahun dan juga dengan masa tenggang 10 tahun. Pencairan pertama pinjaman dikenakan bunga 0,1% per tahun. Pendanaan tahap 2 ini memuat sebagian kecil dari kekurangan anggaran tahap 1, yang disebabkan antara lain dengan adanya pemutakhiran peraturan pemerintah mengenai pencegahan dampak gempa bumi.

Pembangunan

Kemajuan tahap pertama didanai melalui pinjaman oleh Bank Jepang untuk Kerjasama Internasional (Japan Bank for International Cooperation, JBIC), sekarang bergabung ke Japan International Cooperation Agency (JICA). Jumlah pinjaman IP adalah 536 (ditandatangani November 2006) untuk jasa rekayasa. Pinjaman jasa rekayasa adalah pinjaman pra-konstruksi untuk mempersiapkan tahap konstruksi. Terdiri dari:

  • Paket desain dasar, dikelola oleh Ditjenka (Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Departemen Perhubungan)
  • Manajemen dan paket Operasi, dikelola oleh Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jakarta)
  • Bantuan pembangunan dalam tender, dikelola oleh PT MRT Jakarta

Pada tanggal 31 Maret 2009, Perjanjian Kredit 2 (LA2) dengan jumlah 48,150 miliar Yen untuk membangun Sistem MRT Jakarta telah ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia (diwakili oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang) dan JICA di Tokyo, Jepang. Pinjaman ini akan diteruskan dari Pemerintah Nasional untuk Administrasi DKI Jakarta sebagai hibah (perjanjian penerusan hibah). Setelah penandatanganan perjanjian pemberian untuk LA2, Pemprov DKI akan mengusulkan dua perjanjian pinjaman lain untuk LA3 dan LA4 ke pemerintah pusat. Proposal ini akan menjadi kesepakatan pinjaman untuk pemerintah daerah. Jumlah total LA3 dan LA4 ditujukan sebagai pinjaman oleh pemerintah daerah adalah sekitar ¥ 71 Miliar. Jumlah ini didasarkan pada kemajuan, hasil dan serapan LA2. Paket pinjaman total dari JICA untuk pengembangan sistem MRT Jakarta bernilai total ¥ 120 miliar.

Mulut terowongan MRT Jakarta di bawah Patung Pemuda Senayan

Pengerjaan pada desain dasar untuk tahap pertama dari proyek ini dimulai pada akhir 2010. Proses tender berlangsung pada akhir 2012. Proyek ini terdaftar sebagai salah satu proyek prioritas dalam anggaran kota Jakarta untuk 2013. Pada bulan September 2012, DMRC Delhi Metro mengumumkan bahwa mereka telah diberikan pekerjaan ‘Manajemen Jasa Konsultasi’ dari sistem MRT Jakarta oleh pemerintah Indonesia. Ini akan menjadi proyek pertama DMRC di luar India. DMRC akan bekerja sebagai bagian dari usaha patungan dengan 8 perusahaan internasional lainnya termasuk Padeco dan Konsultan Oriental, PT Ernst and Young Advisory Services, PT Indotek Teknik Jaya, PT Pamintori Cipia, Manajemen Lambaga dan PT Public Private Partnership dari Indonesia dan Seneca Group DMRC telah menyatakan bahwa tanggung jawab utama dalam JV akan menjadi “finalisasi struktur organisasi Metro Jakarta, perekrutan personil, pembangunan sarana pelatihan dan pelatihan. karyawan untuk berbagai kategori diperlukan untuk memulai operasi “. Konstruksi fisik diharapkan dimulai pada tahun 2013 dan jalur MRT diharapkan akan beroperasi pada 2017.

Pada tanggal 1 Juni 2013, 3 kontrak sipil pertama untuk bagian bawah tanah sepanjang 9,2 km ditandatangani. 3 kontrak dimenangkan oleh 2 konsorsium yang terpisah dari perusahaan Jepang dan Indonesia. 3 kontrak pekerjaan sipil untuk bagian jalur layang diharapkan akan ditandatangani pada kuartal ke-3 tahun 2013. Pengerjaan diharapkan akan dimulai pada Oktober 2013.

Lintas

Jalur MRT Jakarta rencananya akan membentang kurang lebih ±110,8 km, yang terdiri dari Koridor Selatan–Utara (Koridor Lebak Bulus–Kampung Bandan) sepanjang ±23,8 km dan Koridor Timur – Barat sepanjang ±87 km.

Jalur Utara–Selatan

Jalur Selatan–Utara merupakan jalur yang pertama dibangun. Jalur ini akan menghubungkan Lebak Bulus, Jakarta Selatan dengan Kampung Bandan, Jakarta Utara. Pengerjaan jalur ini dibagi menjadi 2 tahap pembangunan.

Tahap I (Lebak Bulus–Bundaran HI)

Tahap I yang dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus, Jakarta Selatan sampai dengan Bundaran HI, Jakarta Pusat sepanjang 15.7 km dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah). Proses pembangunannya sudah dimulai sejak 10 Oktober 2013[1] dan rencananya akan dioperasikan secara penuh pada 1 Maret 2019.

Stasiun pemberhentian

Tahap II (Bundaran HI–Kota)

Tahap II akan melanjutkan jalur Selatan–Utara dari Bundaran HI sampai dengan Kota sepanjang 8.1 km. Tahap II akan mulai dibangun ketika tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2020. Studi kelayakan untuk tahap ini sudah selesai.

Konstruksi terowongan MRT Jakarta rute Utara–Selatan
Penumpang MRT Jakarta menunggu di Stasiun Lebak Bulus

Jalur Barat–Timur

Jalur Barat–Timur saat ini sedang dalam tahap studi kelayakan. Jalur ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024–2027.

Armada

MRT Jakarta menggunakan kereta rel listrik produksi Sumitomo Corporation, Jepang, bekerjasama dengan Nippon Sharyo. Kontrak antara PT MRT Jakarta dan Sumitomo Corporation telah ditandatangani pada tanggal 3 Maret 2015. KRL yang akan dioperasikan MRT Jakarta rencananya akan menggunakan sistem pengoperasian kereta api otomatis.

KRL pertama MRT Jakarta diturunkan dari kapal.
KRL MRT Jakarta di depot Lebak Bulus

Tiket Elektronik dan Tarif

Kartu Jelajah

Dalam rangka memenuhi kebutuhan e-ticketing pada 1 Maret 2019 nanti, PT MRT Jakarta telah merilis e-ticketing yang diberi nama “Kartu Jelajah”. “Kartu Jelajah” ini dirilis dalam bentuk 2 jenis kartu yaitu kartu untuk perjalanan tunggal (single-trip) dan prabayar untuk perjalanan berkali-kali (multi-trip). Untuk kartu single-trip hanya bisa digunakan untuk sekali perjalanan dan diwajibkan untuk isi ulang (top-up) dengan rentang waktu maksimal 7 hari setelah pembelian. Sementara untuk kartu multi-trip dapat digunakan berkali-kali selama saldo di dalam kartu masih mencukupi. Sampai saat ini PT MRT Jakarta terhitung telah memproduksi 954.000 tiket dengan jenis single-trip dan multi-trip. Untuk implementasi kartu jelajah sebagai alat transaksi pembayaran, PT MRT Jakarta masih menunggu perizinan dari pihak Bank Indonesia.

Jak Lingko

Untuk mengoptimalkan angkutan antarmoda, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengintegrasikan MRT dengan moda transportasi lain yang diatur oleh Pemerintah Provinsi melalui kartu Jak Lingko: LRT Jakarta, Transjakarta, serta KRL Commuter Line.

Related Posts:

Mengenal Silvia Halim, Sosok Wanita Hebat di Balik Proyek Besar MRT Jakarta

Biography Silvia Halim

313 hari lagi!

Begitulah tampilan angka di depan laman PT MRT Jakarta saat saya menulis thread ini.

Bukan dibuat tanpa maksud, jumlah hari yang terpampang tersebut adalah perhitungan waktu mundur sebelum akhirnya target mass rapid transit ( MRT ) Jakarta dioperasikan pada Maret 2019 mendatang. Sebuah momen yang diharap dan dinanti-nanti khususnya bagi warga Jakarta yang mulai penat dengan kemacetan ibukota.

Bila membicarakan soal pembangunan MRT, taukah kamu Gan bahwa dibalik proyek besar tersebut ada salah satu sosok perempuan yang punya peranan cukup penting dalam pembangunan ini?

Seorang sosok yang menurut saya punya pandangan dan prinsip yang juga bisa jadi cerminan dari semangat Kartini modern masa kini.

Dialah Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta yang menjadi satu-satunya wanita dalam jajaran direksi PT MRT Jakarta tersebut.

Perempuan kelahiran 18 Juni 1982 ini telah ditunjuk sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta sejak 31 Agustus 2016 silam. Jangan ragukan kemampuannya di bidang pembangunan infrastruktur ya Gan! Sebelum di PT MRT Jakarta, Silvia sudah memiliki pengalaman 12 tahun berkarir di Land Transport Authority (LTA) Singapura sebagai Project Manager untuk beberapa proyek insfrastruktur di sana.

Kini, sebagai Direktur Konstruksi, Silvia mengemban tugas utama untuk menjaga dan mengawal pekerjaan di MRT dari segi progress, kualitas dan safety yang ada di lapangan agar sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan sejak awal.

Beberapa waktu lalu saya pun berkesempatan untuk berbincang langsung dengan sosoknya di kantor PT MRT Jakarta yang terletak di kawasan Thamrin. Dan dari perbincangan tersebut ada banyak hal yang semakin membuat saya kagum terhadap sosoknya. Mulai dari ceritanya dalam berkarir hingga soal pandangan terhadap kartini dan wanita masa kini.

Tak pernah membatasi diri hanya karena dia perempuan

Saat kuliah, Silvia mengambil jurusan Teknik Sipil di Nanyang Technologycal University dan pada akhirnya berkarir di sektor konstruksi di mana keduanya kerap di cap sebagai sesuatu yang “lebih laki” oleh beberapa orang. Meski demikian , Silvia tak pernah membiarkan hal itu mempengaruhinya dalam menentukan masa depan yang ia pilih dan jalani.

Quote:

“Nggak. It didn’t really cross my mind at that point of time when i make those decision. Bahwa beberapa hal lebih cocok untuk pria dan bahwa saya perempuan lebih cocok apa. That never really became a factor for me.”

Pilihannya untuk berkuliah di Singapura dan mengambil jurusan teknik sipil, jurusan yang mungkin bagi banyak orang masih terlihat sebagai jurusan yang diminati pria tersebut bisa dibilang terjadi begitu saja. Saat itu ia mendapat kesempatan untuk bersekolah di Nanyang Techonologycal University. Kesempatan itu pun langsung ia ambil karena baginya bersekolah di Singapura saat itu adalah salah satu caranya belajar hidup mandiri, mengurus diri sendiri.

Begitu pula ketika memasuki dunia kerja, Silvia yang baru lulus saat itu langsung dihadapkan dengan mayoritas rekan kerja yang kebanyakan adalah bapak-bapak yang sangat berpengalaman di bidang konstruksi. Meski begitu Silvia tak pernah canggung ataupun merasa kecil hati karena menjadi minoritas di antara dominasi karyawan pria. Baginya, ketimpangan perbandingan jumlah wanita dan pria saat itu bukan jadi masalah yang menghambatnya untuk bekerja secara maksimal.

Quote:

“I have bigger problem.Bukan gender, tapi masalah showing that i am capable. Saya bisa walaupun saya masih muda di posisi itu sebagai seorang Project Engineer. Jadi my focus is more on how to demonstrate that I capable to do that job that I was given. Dan nggak ada cara lain saat itu kecuali saya harus mau merendah untuk bisa belajar dengan bapak-bapak ini yang lebih berpengalaman, namun di saat yang bersamaan juga bisa menunjukkan kalau saya berani mengambil keputusan dan berkolaboratif dengan mereka dalam mengerjakan proyek.”

Pernah mengalami diskriminasi tapi tidak pernah membuatnya ingin berhenti

Meski Silvia sendiri tidak pernah menganggap gender sebagai penghalang untuk seseorang bisa berkarya di tempat kerja, namun Silvia pernah mengalami kejadian tak menyenangkan yang akhirnya membuatnya sadar bahwa dalam realitanya masih ada ketidakadilan bagi perempuan di dunia kerja.

Itu ia alami saat bekerja di Singapura. Saat itu ia dan salah satu rekannya yang pria sama sama memiliki perfomance yang bagus. Meski begitu, Silvia harus rela ketika hanya rekan kerjanya saja yang dipromosikan. Alasan atasannya saat itu adalah meski perfomance keduanya sama-sama bagus dan memulai kerja di saat yang sama , tapi tetap secara record rekannya lebih senior. Ini dikarenakan ketika seorang pria Singapura sudah menjalankan wamil, maka masa service dia selama wamil akan dihitung sebagai kerja secara tidak langsung. Hal tersebut membuat Silvia sadar bahwa adanya sistem tersebut membuat perempuan harus bekerja dua kali lebih berat dibanding pria.

Quote:

“Awalnya saya ngerasa oh fine. Tapi sesudah itu saya berpikir. It was not because i was performing less than him. Its just because the system and the situation made did such that laki laki singaporean itu akan lebih maju karirnya dibanding sama saya walau kita masuknya bareng dan performancenya sama. Itu by sistem. Itu membuat saya sadar kalau saya mau lebih maju berarti saya harus kerja double. I has to show that saya better than that person baru saya bisa mendapat pengakuan yang sama. Itu sih the first reality check yang saya pernah alami bahwa dunia itu tidak as fair and square as you hope to be. Saya merasa i have to work extra hard kalau begitu.”

Beruntungnya Silvia, saat pindah ke Indonesia ia langsung masuk ke posisi yang cukup tinggi sehingga mungkin memberikannya sedikit keuntungan untuk tidak merasakan perjuangan dari bawah untuk ke atas dan tidak mengalami diskriminasi. Meski demikian, untuk konteks selama ia bekerja di PT MRT Jakarta dan kesehariannya di pemprov ia merasa perkembangannya sudah cukup baik. Bahwasanya gender bukan menjadi sesuatu yang dipermasalahkan di PT MRT Jakarta.

Meski ia menjadi satu-satunya direksi perempuan, namun dalam hal seperti memberikan pendapat menurutnya sudah cukup seimbang antara kesempatan yang ia punya dengan jajaran direksi lainnya. Tak hanya itu, ia juga merasa posisi dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan di tempatnya bekerja kini sudah cukup seimbang. Hal ini bisa dilihat lewat diberikannya ruang bagi perempuan untuk duduk di posisi-posisi yang cukup strategis seperti kepala divisi dan department di MRT Jakarta.

Quote:

“Kepala divisi operasi yang akan mengoperasikan seluruh MRT onwards itu perempuan. Kepala divisi business development yang juga berperan penting dalam keberlangsungan perusahan ini kedepannya, supaya kita bisa terus mandiri dan tidak bergantung terus kepada subsidi atau PSO dari pemerintah itu perempuan. Kepala department engineering kita yang mendesain dan melihat desain tunnel dan stasiun, itu juga perempuan. Sampai level bawah nanti seperti masinis pun ada masinis perempuan. The first in indonesia. It was quite a deliberate decision dari PT MRT Jakarta bahwa oke buat masinis lets open it even to the female. Bukan hanya laki gitu. Jadi so far my own experience has been positive. Bahwa untuk kesempatan perempuan dalam pekerjaan saya di Indonesia sekarang sudah cukup baik. “

Ingin berkontribusi dan membawa perubahan kepada masyarakat

The sense of being able to contribute in making a difference to the society. Itu adalah alasan yang menurut Silvia membuatnya senang sekaligus terus bertahan di jalur pekerjaannya sekarang.

Samahalnya dengan pekerjaannya dulu di Singapore, kini Silvia masih terlibat dalam pengerjaan proyek untuk publik yang menjadikannya tak hanya sebatas civil engineer namun juga berada dalam posisinya sebagai seorang public servant. Posisi yang menurutnya paling sedikit diapresasi.

Kalau ada yang sukses its taken for granted. Harus beres. Tapi kalau ada sesuatu yang gak beres atau sesuatu yang salah aja dikit aja, its really unforgiving. Publik akan komplain di surat, di sosial media bahkan ketika itu hanya kecil.

Namun hal ini tidak jadi masalah bagi Silvia karena ketika proyek tersebut selesai, ia bisa melihat bagaimana itu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Quote:

“That is the job satisfaction. That knowing that we can do that for the peopleitu yang membuat saya bertahan di pekerjaan dan bidang ini walau suka dukanya kerja kok kayak gak diappreciate. Tapi kita tau bahwa itu bisa membawa perubahan di keseharian. Jadi itu yang jadi kepuasan bekerja di sini.”

Konsep “Perempuan Ideal” yang salah kaprah dan tantangan bagi perempuan Indonesia masa kini

Menurut Silvia, tantangan menjadi seorang perempuan Indonesia masa kini ada pada masih kuatnya persepsi soal standar menjadi perempuan ideal. Misalnya harus sukses di karir, di keluarga, dalam mengurus anak, dan sebagainya. Standar-standar dan persepsi yang menurut Silvia justru membuat perempuan seakan berada dalam sebuah box yang mengikat.

Itu yang bagi silvia adalah tantangan yang harus dipatahkan oleh perempuan Indonesia masa kini. Menurutnya tidak perlu ada definisi perempuan ideal itu tadi. Karena perempuan harus bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus merasa bersalah atau kurang karena tidak melakukan hal-hal tertentu sesuai standar yang dipersepsi orang banyak.

Quote:

“Kenapa kita tidak bisa secara bebas mengejar kehidupan kita sendiri? Mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga pun tidak masalah bila itu dilakukan secara bebas tanpa tekanan budaya atau sosial. Itu sebabnya menurut saya tidak ada definisi perempuan ideal. There is no such thing. Apa sih ideal itu? Nggak ada menurut saya. The thing is that woman should be able to be whoever they want to be and whatever it is tanpa harus merasa bersalah atau merasa kurang karena mereka tidak melakukan hal tertentu berdasarkan standar tertentu. Harusnya everybody can be whoever they want to be.”

Berani dan kerja keras jadi kunci

Sama halnya seperti Kartini yang berani bersuara dan melawan persepsi terhadap wanita di zaman itu, Silvia juga selalu memegang prinsip untuk selalu berani. Khususnya berani untuk mengejar mimpi. Salah satunya caranya ya dengan tidak membatasi diri hanya karena gendermu perempuan dan tetap bekerja keras demi tunjukan bahwa kita mampu dan layak berada di posisi yang kita inginkan.

Quote:

“Saya selalu bilang dan pegang apa namanya jangan takut untuk mengejar mimpimu. Dan itu bisa kamu mulai dengan berhenti membuat keputusan tertentu hanya karena kamu perempuan. Misalnya, saya nggak bisa ngomong seperti ini karena saya perempuan. Atau justru saya harus bertindak seperti ini karena perempuan. No! You can do certain things for other reason but not because you are a woman. Dan kedua adalah kerja keras.We have to work hard and to show with result and action that you deserve to be where you are or to do what you are to do.”

Jadi untuk perempuan Indosia yang masih ragu untuk mengejar mimpi, jangan lupa semangat dan pesan dari Silvia Halim ya Sis!Jangan

Source: Kaskus

Pendekar Wanita Infrastruktur

Biography Silvia Halim

Silvia Halim, Pendekar Wanita Infrastruktur

Jejeran stiker bergambar peta jalur-jalur transportasi di Jakarta terpasang rapih di setiap kaca-kaca ruangan kantor di lantai 21 Wisma Nusantara, Jakarta. Siang itu, Jumat 2 Maret 2018, sejumlah karyawan PT MRT Jakarta terlihat bersiap rapat.

Kantor tersebut terlihat modern dan langsung berhadapan dengan proyek Mass Rapid Transit (MRT) fase I antara Lebak Bulus-Bundaran HI, yang sedang dalam tahap pengerjaan.

Dari kantor tersebut sejumlah persiapan pekerjaan MRT Jakarta dimulai. Bahkan hingga 25 Februari 2018 kemarin perkembangan proyek itu telah mencapai 91,86 persen, atau sudah memasuki tahap akhir untuk bisa segera beroperasi tahun 2019.

Di antara ruangan kantor tersebut terdapat papan tanda tangan komitmen karyawan PT MRT Jakarta untuk menyelesaikan tahap konstruksi, #MenujuMaret2019. Di ruangan itu pula muncul seorang perempuan muda berparas cantik menyapa ramah.

Dia adalah Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta. Lahir di Jakarta 35 tahun silam, Silvia bergabung dengan MRT Jakarta sejak September 2016 setelah berkiprah di luar negeri.

“Jadi sebenarnya belum lama saya bergabung, yaitu sekitar satu tahun setengah, bersamaan dengan sejumlah direktur yang lain juga,” ujar Silvia, Jumat 2 Maret 2018.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim (kanan) bersama dengan Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta Jakarta William P Sabandar (tengah) dan Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Agung Wicaksono (kiri) saat meninjau perkembangan pembangunan proyek MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Ia mengungkapkan bisa masuk ke MRT Jakarta setelah melamarkan diri. Namun, dia saat itu tidak tahu level apa yang ditawarkan . Yang ia tahu, PT MRT Jakarta butuh tenaga-tenaga profesional di bidang konstruksi dari luar negeri untuk pulang ke Tanah Air.

“Saya coba ajukan [lamaran kerja], diskusi beberapa kali dan ada tahapan interviewnya juga. Akhirnya dipercaya untuk posisi Direktur Konstruksi MRT Jakarta,” katanya kepada VIVA.

Silvia mengakui, keberanian untuk melamar ke PT MRT Jakarta lantaran dia telah memiliki beberapa pengalaman bidang konstruksi di Singapura. Terlebih, sejak lulus kuliah hingga bekerja, Silvia memang fokus di sektor konstruksi.

Lulusan teknik sipil dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura ini telah banyak berkecimpung dalam project management infrastruktur di Kota Singa itu. Maka Silvia pun sangat familiar dengan konsep railway yang akan diterapkan di Indonesia saat ini.

Belajar dari Singapura

Silvia sangat paham akan proyek infrastruktur transportasi, sehingga dia mengaku tak terlalu sulit untuk mengerjakan proyek MRT Jakarta. Dia sudah berpengalaman dalam pembuatan infrastruktur bawah tanah maupun tumpang tindih.

Ia menceritakan, sebelum bergabung dengan MRT Jakarta, sejumlah proyek yang sama saat itu sedang ia kerjakan di Singapura. Silvia fokus pada land transport system, di mana proyek terbesar dikerjakannya adalah road tunnel dan bukan underpass.

“Saya terakhir kerjakan terbesar adalah road tunnel. Ini bukan yang 100 meter, tapi tiga road tunnel di interchange, di junction paling complicated Singapura. Di bawah road tunnel ada MRT yang beroperasi, jadi technical challengenya tinggi,” jelasnya.

Dari sejumlah proyek itu, Silvia menanganinya sejak dari perencanaan proyek, desain, konstruksinya seperti apa, hingga sampai pada operasi. Sehingga, saat mengerjakan proyek MRT di Jakarta dirinya tak terlalu banyak menemukan hambatan teknis.

“Kalau secara teknis (tantangan) ya di Singapura, karena kondisi urbannya sudah lebih komplek. Di sana kehati-hatiannya sangat tinggi, sedangkan di Jakarta tidak sebanyak Singapura infrastrukturnya sehingga pada dasarnya seperti bangun underpass, jadi masih lebih mudah lah,” ujarnya.

Satu hambatan yang masih terbersit di pikirannya saat menangani MRT Jakarta saat ini, lanjut Silvia, adalah terkait birokrasi yang sanga rumit. Dirinya pun harus menyiapkan empat konsep jika ternyata terhambat sejumlah aturan yang bervariasi di Indonesia.

Maka, perempuan berusia 35 tahun ini berharap ilmu yang dimiliki dapat membantu selesainya konstruksi MRT di Jakarta tepat waktu. Ia juga memiliki cita-cita untuk bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat dari konstruksi yang diciptakan.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim (tengah) saat meninjau proyek pembangunan di Jakarta. (Dok. PT Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta)

Tak hanya itu, di luar kontruksi MRT yang ia siapkan, ada juga infrastruktur penunjang untuk memudahkan masyarakat. Salah satunya kata Silvia adalah fasilitas pedistrian yang dirancang lebih baik agar penggunakan transportasi MRT lebih nyaman.

“Kita juga mikirin, bukan cuma struktur stasiun, tapi yang di atas nih, di jalanannya bagaimana. fasilitas pedestriannya menunjang enggak? karena kan ekspektasi kita orang akan berjalan, atau turun di sekitar stasiun, berjalan masuk ke stasiun kita,” tambahnya.

Sejak dimulai pada 2013, hingga 25 Februari 2018, secara keseluruhan proyek fisik MRT telah mencapai 91,86 persen. Terdiri dari 87,99 persen konstruksi eleveted dan 95,76 persen konstruksi underground.

Selain itu, untuk konstruksi stasiun sudah terlihat di Stasiun Sisingamangaraja yang memasuki tahap pemasangan rangka atap. Sehingga, saat rangka atap dipasang, bentuk dari stasiun layang sudah mulai terlihat.

Tak Canggung

Bekerja di bidang yang didominasi laki-laki, Silvia mengaku sebelumnya tak pernah berpikir akan berkarier di sektor konstruksi. Bahkan, tak terpikir sedikit pun bahwa konstruksi adalah pekerjaan laki-laki.

“Tidak pernah terbersit di kepala saya waktu saya mulai berkarier. Never in my mind saya merasa seperti itu. Jadi saat saya mulai kerja ga pernah terpikir ini pekerjaan cowok, jadi engga cocok buat saya. Ya saya buat simple engineering itu general,” jelasnya.

Silvia menceritakan, selama bekerja di sektor konstruksi, dia tidak menemui ada pembedaan antara perempuan dan Laki-laki. Hanya saja ada beberapa kebijakan yang membuatnya harus mengakui bahwa sebuah kesenioran menjadi pertimbangan perusahaan.

Hal itu Silvia alami saat bekerja di Singapura. Walau bersama rekan sekerjanya memiliki performace yang sama-sama bagus, namun karena dia dipandang lebih senior maka mendapatkan promosi lebih dahulu.

Maka, dia memiliki sebuah keinginan yang harus tertular kepada seluruh perempuan di Indonesia. “Perempuan harus memiliki keunggulan dari laki-laki dengan terus bekerja keras,” ujarnya.

Direktur Konstruksi Silvia Halim (kiri) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) saat meninjau pedestrian di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Silvia menyadari ada beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menentukan sebuah kebijakan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Hal itu pernah dia temukan saat menyelesaikan pekerjaannya di Singapura.

Di sana, setiap keputusan yang diambil laki-laki dan perempuan berbeda dari kualitas outputnya. Salah satunya cara berkomunikasi. Gaya komunikasi dengan laki-laki lebih kepada perintah atasan yang harus diterapkan sesuai 1,2,3 dan seterusnya.

Sedangkan cara komunikasi dengan perempuan adalah sifatnya lebih kepada mendengarkan pendapat dan menerima masukan. Cara seperti ini membuat kontraktor akan setuju caranya dan bekerja dengan lebih baik.

“Saya ingat, bos laki-laki selalu bilang ,’Sudah, perintah aja siapa kontraktornya, keluarin surat segala macam.’ Sedangkan saya tidak, karena ingin mencari win-win agar kontraktor setuju dan senang hati mengerjakannya sehingga pekerjaa lebih baik,” paparnya.

Dipuji Anak Buah

Silvia, yang bergabung dengan PT MRT Jakarta di pertengahan proyek yang sedang berjalan, mengaku tak banyak hambatan yang ditemui bersama anak buahnya. Terlebih latar belakang yang dimilikinya sama-sama berilmu teknil sipil, sehingga langsung bisa menyatu dengan yang lainnya.

Ia mengakui, tim di bawahnya sudah cukup matang karena sudah menjalankan sejak MRT di mulai pada 2013 hingga 2016. Tim yang diketuainya pun telah mengerti apa yang terjadi di lapangan sehingga membutuhkan sedikit arahan dan usulan dari apa yang sudah dirinya pelajari sehingga semakin kuat.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim (tengah) saat meninjau proyek pembangunan di Jakarta. (Dok. PT Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta)

Dari saat masuk, Silvia pun tak merasa memiliki hambatan secara teknik dengan tim yang diketuainya. Hanya saja, satu hambatan yang belum terselesaikan hingga saat ini adalah menyelesaikan masalah birokrasi yang rumit di Indonesia.

Hal tersebut pun diakui oleh bawahannya, Heru Nugroho Adhy Prasetyo, Project Manager Eleveted Section PT MRT Jakarta. Menurutnya, Silvia adalah direktur konstruksi yang luar biasa dan sangat menguasai bidangnya.

Ia memandang, sangat tepat jabatan itu diemban Silvia karena memiliki pengalaman, background yang sama saat bekerja di Singapura. Pekerjaan sejenis yang dikerjakannya saat ini membuat dia sangat pandai dalam memimpin sebuah proyek.

“Dia tidak saja memiliki pengetahuan, tapi juga seseorang yang pandai. Justru karena beliau adalah perempuan di sini lah kelebihannya. Dia sangat detail, dan sesuatu yang barangkali secara umum dibandingkan Laki-laki,” jelasnya kepada VIVA.

Heru mengungkapkan, di bawah kepemimpinan Silvia tim bekerja dengan sangat baik, terlebih dia selalu menempatkan diri secara setara dalam setiap diskusi, rapat rutin dan pembicaraan dalam nyelesaikan masalah.

Dari situ, Silvia mengajarkan semua orang untuk bisa mengeluarkan pendapatnya dan menghargai semua usul yang disampaikan. Selain itu, lanjut Heru, Silvia juga selalu memberikan motivasi agar apa yang dikerjakan bisa dilakukan dengan baik.

Silvia orang yang tepat di MRT, saat dibutuhkan kecepatan kerja, ketelitian serta komunikasi yang baik di perusahaan. Adanya Silvia membuat banyak orang termotivasi dan pekerjaan tertata dengan baik,” ujar Heru. (ren)

Source: Viva

Silvia Halim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Silvia Halim (lahir di Jakarta, 18 Juni 1982; umur 36 tahun) adalah perempuan satu-satunya di jajaran direksi PT Mass Rapid Transit Indonesia yang ditugaskan untuk memimpin proyek konstruksi MRT Jakarta. Ia membawahi 60 orang pekerja yang mayoritas adalah laki-laki.

Selama masa pengerjaan proyek MRT, Silvia ditugaskan untuk memantau, mengelola, dan melalukan observasi di lapangan terkait perkembangan proyek MRT. Surat kabar Kompas mencatat, Silvia mampu dapat menyatukan semua aspirasi untuk pembangunan proyek MRT. Ia melakukan pendekatan komunikasi terbuka baik di lapangan mapun dengan pemerintah sehingga setiap masalah atau kendala yang di lapangan akan didiskusikan terlebih dahulu dengan cara meeting kerja antara semua jajaran yang terkait proyek.

Related Posts:

Menkominfo targetkan Palapa Ring akan terintegrasi seluruhnya pada Juni tahun ini

Pemerintah menargetkan pertengan tahun 2019 konstruksi Palapa Ring Timur akan diselesaikan. Dengan demikian, maka keseluruhan dari Palapa Ring sudah akan mencapai 100%.

“Insyaallah pertengahan tahun ini kita bisa integrasikan keseluruhannya dari proyek Palapa Ring ini. Karena statusnya 94% konstruksinya untuk Palapa Ring Timur, paling lama bulan Juni 2019 sudah diintegrasikan semuanya yang mencakup Barat, Tengah dan Timur,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, dikutip dari laman setkab.go.id, Rabu (20/3).

Pemerintah, berkomitmen untuk melakukan apapun demi kemaslahatan masyarakat, dan tidak akan menyerah melakukan sesuatu hal yang telah menjadi keharusan. Salah satunya melalui Proyek Palapa Ring.

“Memang berat, tapi tentunya kami tidak menyerah karena keharusan adalah keharusan, mengkoneksikan semua kabupaten dan kota madya di seluruh Indonesia dengan jaringan internet kecepatan tinggi,” jelas Menkominfo.

Menteri Rudiantara mengakui ada kesulitan yang dihadapi para pekerja khususnya di sebagian wilayah Papua dan Papua Barat. Pasalnya mereka harus melewati pegunungan tinggi untuk membangun tower.

“Karena di Papua itu ada gunung yang kita harus pasang tower, dan disana tidak ada jalan, satu-satunya jalan adalah menggunakan helikopter,” ungkap Rudiantara.

Lebih lanjut, Rudiantara berkomitmen dalam proses penyelesaian proyek Palapa Ring ini akan menjadi bagian dari upaya pemerintah di era Presiden Jokowi, untuk menghubungkan seluruh kepulauan di Indonesia melalui internet kecepatan tinggi.

Sementara itu Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latif mengatakan, proses pelaksanaan proyek Palapa Ring rupanya bukanlah perkara enteng. Lebih dari satu dasawarsa, Kementerian Komunikasi dan Informatika bahu membahu merampungkan proyek ini.

Source: Kemeninfo. Reporter: Handoyo | Editor: Yoyok

Mengenal Bansos Rastra (2018)

Mari Mengenal Bansos Rastra (2018) : Bantuan Sosial Dari Pemerintah Untuk Mengurangi Beban Masyarakat Kurang Mampu

Dalam postingan saya kali ini, akan saya berikan ringkasan secara umum mengenai Bantuan Sosial Beras Sejahtera (Bansos Rastra) dari pemerintah melalui Kementerian Sosial RI yang diteruskan sampai kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Ringkasan saya ini bertujuan agar kita mengetahui tentang Bansos Rastra dan ikut mengawal proses pelaksaannya nanti.

a. Apa itu Bansos Rastra

Bantuan Sosial Beras Sejahtera (Bansos Rastra) adalah bantuan pangan dalam bentuk beras (natura) yang diberikan oleh pemerintah untuk disalurkan setiap bulannya kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tanpa dikenakan biaya tebus/ harga. Beras yang disalurkan adalah beras berkualitas medium sejumlah 10 Kg.

Bansos Rastra pada awal mulanya adalah bantuan Raskin/ Rastra yang disalurkan kepada penerima manfaat sebesar 15 Kg per keluarga dengan biaya tebus Rp 1.600,-/kg kemudian bertransformasi menjadi bansos rastra dan berubah fungsi dari pola bantuan bersubsidi menjadi bantuan sosial.

b. Tujuan

Bansos Rastra mempunyai tujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Keluarga Penerima Manfaat melalui pemberian beras kualitas medium dengan jumlah 10 Kg setiap bulannya tanpa dikenakan biaya tebus.

c. Manfaat

Peningkatan ketahanan pangan bagi keluarga penerima manfaat

  • Peningkatan akses pangan baik secara fisik (natura/ beras) dan ekonomi (tanpa biaya tebus);
  • Sebagai pasar bagi hasil pertanian padi;
  • Upaya menstabilkan harga beras di pasaran;
  • Pengendalian inflasi dan menjaga stok pangan nasional dan
  • Membantu tumbuhnya perekonomian di daerah.

d. Penerima Manfaat

Penerima manfaat bansos rastra adalah keluarga dengan kondisi sosial ekonomi nya 25 % terendah di daerah pelaksaannya. Kemudian disebutkan sebagai keluarga penerima manfaat (KPM) Bansos Rastra, yang nama dan alamatnya terdapat dalam data yang ditetapkan oleh Menteri Sosial.

Data KPM Bansos Rastra adalah Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin atau yang disebut DT-PPFM. Data ini merupakan hasil Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) di tahun 2015. Penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) termasuk dalam penerima Bansos Rastra.

e. Kesimpulan

Bansos rastra merupakan hak masyarakat kurang mampu melalui pemberian beras kualitas medium sejumlah 10 Kg/ KPM setiap bulannya tanpa dikenakan biaya tebus. Dengan pemberian bantuan ini diharapkan keluarga penerima manfaat dapat hidup lebih sejahtera.
Apabila teradi pelanggaran dalam pelaksaannya, maka pihak yang melakukannya akan diproses sesuai perundang-undangan dan hukum yang berlaku.

Demikianlah ringkasan dari saya tentang Bansos Rastra. Penting bagi saya untuk berbagi informasi ini karena saya sebagai Pendamping Sosial PKH juga akan terlibat langsung dalam proses pelaksanaannya. Dimulai dari tahap sosialisai yang telah kami lakukan di kecamatan kami yaitu Gandapura, Bireuen, Aceh, sampai pada tahap pendistribusian nanti. Selain itu juga sebagai informasi buat teman-teman yang membaca dan belum mengetahui tentang program ini, agar ikut aktif mengawasi pendistribusiannya nanti.

Menurut saya, mengambil, memotong dan menghilangkan hak masyarakat kurang mampu/ miskin itu adalah “PERBUATAN KEJI”.

Source: steemit

Menteri Sosial Ubah Nama Raskin Jadi Rastra

ALOR, KOMPAS.com – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan penggantian nama beras bantuan bagi masyarakat miskin atau beras miskin (raskin) menjadi beras sejahtera atau rastra.

Pemikiran untuk mengubah nama beras yang disubsidi oleh pemerintah ini muncul ketika Khofifah mengunjungi Gudang Bulog Divre Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia lalu mengumumkannya ketika melakukan peninjauan pembagian dana Program Keluarga Harapan (PKH) di Kantor Pos Alor.

“Hari ini saya ingin sampaikan pergantian nama dari Raskin menjadi Rastra, beras sejahtera,” kata Menteri Sosial usai meninjau pembagian uang bantuan Program Keluarga Harapan di Kantor Pos Alor, NTT, Jumat (28/8/2015).

Menurut Khofifah, penggantian nama ini untuk mengubah pemikiran yang sebelumnya beras ini untuk menbantu masyarakat miskin, agar kini beras yang disubsidi pemerintah untuk mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera.

Raskin atau sekarang disebut rastra adalah beras yang disubsidi pemerintah untuk masyarakat berekonomi lemah. Beras ini dijual pada harga yang relatif murah dan mendapat subsidi sebesar Rp 5.000 per kilogram.

Source: Kompas- 28/08/2015

Program Keluarga Harapan

Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disebut PKH adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH. Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan PKH. Program Perlindungan Sosial yang juga dikenal di dunia internasional dengan istilah Conditional Cash Transfers (CCT) ini terbukti cukup berhasil dalam menanggulangi kemiskinan yang dihadapi negara-negara tersebut, terutama masalah kemiskinan kronis.

Sebagai sebuah program bantuan sosial bersyarat, PKH membuka akses keluarga miskin terutama ibu hamil dan anak untuk memanfaatkanberbagai fasilitas layanan kesehatan (faskes) dan fasilitas layanan pendidikan (fasdik) yang tersedia di sekitar mereka. Manfaat PKH juga mulai didorong untuk mencakup penyandang disabilitas dan lanjut usia dengan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya sesuai dengan amanat konstitusi dan Nawacita Presiden RI.

Melalui PKH, KPM didorong untuk memiliki akses dan memanfaatkan pelayanan sosial dasar kesehatan, pendidikan, pangan dan gizi, perawatan, dan pendampingan, termasuk akses terhadap berbagai program perlindungan sosial lainnya yang merupakan program komplementer secara berkelanjutan. PKH diarahkan untuk menjadi tulang punggung penanggulangan kemiskinan yang mensinergikan berbagai program perlindungan dan pemberdayaan sosial nasional.

Program prioritas nasional ini oleh Bank Dunia dinilai sebagai program dengan biaya paling efektif untuk mengurangi kemiskinan dan menurunkan kesenjangan antar kelompok miskin, juga merupakan program yang memiliki tingkat efektivitas paling tinggi terhadap penurunan koefisien gini. Berbagai penelitian lain menunjukkan bahwa PKH mampu mengangkat penerima manfaat keluar dari kemiskinan, meningkatkan konsumsi keluarga, bahkan pada skala yang lebih luas mampu mendorong para pemangku kepentingan di Pusat dan Daerah untuk melakukan perbaikan infrastruktur kesehatan dan pendidikan.

Penguatan PKH dilakukan dengan melakukan penyempurnaan proses bisnis, perluasan target, dan penguatan program komplementer. Harus dipastikan bahwa keluarga penerima manfaat (KPM) PKH mendapatkan subsidi BPNT, jaminan sosial KIS, KIP, bantuan Rutilahu, pemberdayaan melalui KUBE termasuk berbagai program perlindungan dan pemberdayaan sosial lainnya, agar keluarga miskin segera keluar dari kungkungan kemiskinan dan lebih sejahtera.

Misi besar PKH dalam menurunkan kemiskinan terlihat nyata semakin mengemuka mengingat jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2017 terjadi penurunan kemiskinan dari 10,64% pada bulan meret 2017 menjadi 10,12% pada bulan September 2017 dari total penduduk atau 27.771.220 jiwa penduduk pada bulan Maret menjadi 26.582.990 jiwa penduduk pada bulan September dengan total penuruan penduduk miskin sebanyak 1.188.230 atau penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0.58% (BPS,2017).

Sasaran PKH merupakan keluarga miskin dan rentan yang terdaftar dalam Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin yang memiliki komponen kesehatan dengan kriteria ibu hamil/menyusui, anak berusia nol samapai dengan enam tahun. Komponen pendidikan dengan kriteria anak SD/MI atau sederajat, anak SMA/MTs atau sederjat, anak SMA /MA atau sederajat, dan anak usia enam sampai 21 tahun yang belum menyelesaikan wajib belajar 12 tahun. Sejak tahun 2016 terdapat penambahan komponen kesejahteran sosial dengan kriteria lanjut usia diutamakan mulai dari 60 (enam puluh) tahun, dan penyandang disabilitas diutamakan penyandang disabilitas berat.

KPM PKH harus terdaftar dan hadir pada fasilitas kesehatan dan pendidikan terdekat. Kewajiban KPM PKH di bidang kesehatan meliputi pemeriksaan kandungan bagi ibu hamil, pemberian asupan gizi dan imunisasi serta timbang badan anak balita dan anak prasekolah. Sedangkan kewajiban di bidang pendidikan adalah mendaftarkan dan memastikan kehadiran anggota keluarga PKH ke satuan pendidikan sesuai jenjang sekolah dasar dan menengah. KPM yang memiliki komponen kesejahteraan social berkewajiban memberikan makanan bergizi dengan memanfaatkan pangan lokal, dan perawatan kesehatan minimal satu kali dalam satu tahun terhadap anggota keluarga lanjut usia mulai dari 70 (tujuh puluh) tahun, dan meminta tenaga kesehatan yang ada untuk memeriksa kesehatan, merawat kebersihan, mengupayakan makanan dengan makanan lokal bagi penyandang disabilitas berat.

Penyaluran bantuan sosial PKH diberikan kepada KPM yang ditetapkan oleh Direktorat Jaminan Sosial Keluarga. Penyaluran bantuan diberikan empat tahap dalam satu tahun, bantuan PKH diberikan dengan ketentuan sebagai berikut:
Nilai bantuan merujuk Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Nomor 26/LJS/12/2016 tanggal 27 Desember 2016 tentang Indeks dan Komponen Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan Tahun 2017. Komponen bantuan dan indeks bantuan PKH pada tahun 2017, sebagai berikut:
a. Bantuan Sosial PKH Rp. 1.890.000
b. Bantuan Lanjut Usia Rp. 2.000.000
c. Bantuan Penyandang Disabilitas Rp. 2.000.000
d. Bantuan Wilayah Papua dan Papua Barat Rp. 2.000.000

Source: Kementerian Sosial RI