Mengenal Definisi Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya

Revolusi industri telah terjadi sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda di tanah air. Kala itu, pekerjaan yang dilakukan secara manual mulai digantikan oleh kehadiran mesin. Seiring dengan perkembangan teknologi, revolusi industri pun turut berulang dalam kurun waktu tertentu. Sejak tahun 2018, istilah revolusi industri 4.0 mulai gencar diperkenalkan.

Definisi Revolusi Industri 4.0

Menurut penuturan Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartanto, revolusi industri 4.0 mulai dipopulerkan oleh Jerman. Fenomena tersebut bisa didefinisikan sebagai perubahan besar-besaran di bidang industri yang mulai melibatkan digitalisasi dalam setiap aspek. Presiden RI, Joko Widodo, ingin Indonesia mulai berbenah diri untuk menghadapi revolusi tersebut. Sehingga butuh road map dan langkah-langkah konkret lainnya untuk turut bersaing secara global.

Hal-Hal yang Terjadi Saat Revolusi Industri Terbaru

Sumber : Tactix

Revolusi Industri 4.0 membuat pemanfaatan teknologi menjadi semakin populer di ranah industri. Sebagian pekerja bahkan bisa digantikan oleh kehadiran mesin-mesin canggih berkonsep digital. Sebenarnya, Anda tak perlu khawatir dengan revolusi industri. Karena fenomena tersebut tetap membutuhkan dukungan dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil menggunakan teknologi. Proses pengoperasian sistem berbasis teknologi harus dilakukan oleh para SDM yang sudah expert. Sehingga prinsip efisiensi dan efektivitas bisa diwujudkan sesuai tujuan bisnis.

Revolusi Industri Turut Mempengaruhi Dunia Pendidikan

Sumber : Serc Carleton

Bukan hanya dunia kerja dan bisnis yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0. Dunia pendidikan pun turut mendapatkan pengaruh besar. Generasi muda di tanah air harus dididik secara tepat agar siap menghadapi revolusi industri. Selain dibekali dengan ilmu-ilmu konvensional, konsep implementasi teknologi juga harus diajarkan sejak dini. Generasi muda mesti memiliki rasa keingintahuan yang besar dan kemauan untuk berinovasi. Agar kecanggihan teknologi yang lebih sempurna dan bermanfaat bisa diwujudkan di masa mendatang.

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dianggap potensial sebagai ladang investasi global. Banyak kesempatan kerja dan bisnis yang terbuka lebar di masa mendatang. Mendapatkan suntikan dana pun bukan hal yang sulit bagi sejumlah bidang bisnis. Jadi, Anda pun harus mempersiapkan diri untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Kalau tak ingin menjadi pekerja yang diabaikan karena keterbatasan kemampuan, jangan malas mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan teknologi.

Source: Magazine-Job-Like

Menyiapkan diri menyambut Industri 4.0

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu. Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi untuk menghadapi Era Industri 4.0 ini.

1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”

Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”

Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Tapi disisi lain industri 4.0 telah melahirkan para pelaku StartUp yang menjadi ujung tombak inklusif ekonomi, banyak
StartUp berbasis P2P lending yang telah berhasil menopang sisi finansial UMKM yang selama ini mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas pembiayaan dari perbankan, dengan semakin mudahnya akses keuangan yang difasilitasi oleh P2P Lending tersebut diharapkan UMKM bisa terus meningkatkan bisnisnya. Munculnya market place barang barang khusus telah berhasil mengangkat derajat industri kreatif,
StartUp Qlapa, Du’anyam dan masih banyak lainnya telah mempu mengingkatkan added value produk yang dihasilkan oleh masyarakat bawah (UMKM) khususnya kerajinan tangan. Start up bidang pertanian telah berhasil memutus mata rantai distribusi sehingga tercipta perdagangan yang lebih fair dari produsen ( petani) ke konsumen.

3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”

Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.

  • Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
  • Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
  • Driverless Car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
  • Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
  • Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Tapi kita tidak perlu khawatir berlebihan, dulu ketika transportasi online hadir di tengah tengah kita, banyak yang berpikir bahwa akan banyak supir yang menjadi pengangguran, tapi apakah hal itu terjadi ? jawabannya adalah tidak, justru dengan adanya transportasi berbasis online mampu menyerap lebih banyak driver, dan meningkatkan bisnis UKM khususnya makanan melalui hadirnya Go Food. Ingat Henry Ford ? berapa banyak orang yang awalnya ketakutan ketika Ford memproduksi mobil, yang terbayang dalam benak mereka dalah para supir delman akan menganggur ? tapi justru dengan dibukanya pabrik mobil oleh Ford, banyak orang yang kemudian diserap dalam proses produksi mobil.

Prerequisite: “Agile Government”

Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “Agile Government”.

Agile Government menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

So mari kita berkolaborasi untuk mengahadapi peralihan industri 4.0 ini, agar visi mulia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pelan tapi pasti akan menjadi kenyataan.

Materi inti diambil dari tulisan Pak Siwo ( Yuswohadydotcom) dengan judul ”Tantangan Revolusi Industri 4.0″ , yang kemudian disertai beberapa argumen pribadi saya.

Source: kawanpendi

The Fourth Industrial Revolution (IR 4.0) and what it means for students like you

From self-driving cars to drone-delivered online shopping, the Fourth Industrial Revolution is changing how we live, work, and communicate. But with more and more jobs being taken over by artificial intelligence, what do students today need to do to stay relevant for future job markets?

The Fourth Industrial Revolution (IR 4.0) is expected to change how we live, work, and communicate; it is also likely to change the things we value and the way we value them in the future. Presently, we can already see changing business models and employment trends.

According to The World Economic Forum, an estimated 65% of kids enrolling in primary education today will end up working in jobs that haven’t been created yet.

Automation and artificial intelligence are change agents in 4IR that will make certain groups of employees redundant, replacing them with new workers with the needed skills or with machines that do the job cheaper. Gone are the days where students go to college or university to study for a degree that will set them up with a job for life.

With technological advances, jobs with these three qualities are most likely to be automated:

  • repetitive
  • based on rules
  • involve limited or well-defined physicality

According to the US Bureau of Labor Statistics, these are some jobs that have a 95% or higher probability of being automated:

  • Cashiers
  • Office clerks, general
  • Secretaries and administrative assistants
  • Bookkeeping, accounting and auditing clerks
  • Cooks, restaurants
  • Team assemblers
  • Receptionists and information clerks
  • Landscaping and groundskeeping workers
  • Shipping, receiving and traffic clerks
  • Inspectors, testers, sorters, samplers, and weighers
  • Counter attendants, cafeteria/food concession
  • Tellers
  • Billing and posting clerks
  • Counter and rental clerks
  • Driver/Sales workers
  • Foodservice hosts and hostesses
  • Packaging/Filling machine operators
  • Operating engineers and equipment operators
  • Bill and account collectors
  • Loan officers
  • Insurance claims and policy processing clerks
  • Claims adjusters, examiners and investigators
  • Parts salespersons
  • Electrical and electronic equipment assemblers
  • Telemarketers
  • Dispatchers
  • Data entry keyers
  • Legal secretaries
  • Order clerks
  • Payroll and timekeeping clerks
  • Molding/Coremaking/Casting machine operators
  • Ushers, lobby attendants, and ticket takers
  • Library assistants and technicians
  • Switchboard operators

A 2013 research by Oxford University showed that out of around 700 occupations, 12 were found to have a 99 per cent chance of being automated in the future:

  • Data entry keyers
  • Library technicians
  • New accounts clerks
  • Photographic process workers and processing machine operators
  • Tax preparers
  • Cargo and freight agents
  • Watch repairers
  • Insurance underwriters
  • Mathematical technicians
  • Sewers, hand
  • Title examiners, abstractors, and searchers
  • Telemarketers

Do you see the trend here? So if jobs that are repetitive and which involve limited physicality are most likely to be taken over by robots, which type of jobs will continue to be in demand in the world of 4IR? According to Graham Brown-Martin, there are three key areas where humans beat machines that are key to future job creation:

  • Creative Endeavours—everything from scientific discovery to creative writing and entrepreneurship
  • Social Interaction—robots just don’t have the kind of emotional intelligence that humans do
  • Physical Dexterity and Mobility—millennia of hiking mountains, swimming lakes and dancing practice gives humans extraordinary agility and physical dexterity

The same study by Oxford University lists eight occupations that are least likely to be computerised based on current technology:

  • Recreational therapists
  • First-line supervisors of mechanics, installers, and repairers
  • Emergency management directors
  • Mental health and substance abuse social workers
  • Audiologists
  • Occupational therapists
  • Orthotists and prosthetists
  • Healthcare social workers
  • First-line supervisors of fire-fighting and prevention workers
  • Oral and maxillofacial surgeons
  • Lodging managers
  • Dietitians and nutritionists
  • Choreographers
  • Sales engineers
  • Instructional coordinators
  • Physicians and surgeons
  • Psychologists
  • Elementary school teachers, except special education
  • General dentists
  • First-line supervisors of police and detectives

In a nutshell, 46.4% of jobs in manufacturing, 32.3% in finance and 44% in wholesale and retail are forecast to be lost by the early 2030s. Less affected will be human health and social work, which are expected to affect less than a fifth of jobs.

Source: StudyMalaysia on May 2, 2018 | Top Stories, Career Guide

Peranan Mahasiswa Dalam Pendidikan Digital

Ramai yang sedia maklum bahawa sukatan pelajaran di sekolah rendah dan sekolah menengah sudah mula memperkenalkan subjek baru iaitu Sains Komputer. Walau bagaimanapun, ramai ibu bapak dan orang awam yang masih belum faham tujuan pengenalan subjek ini. Sememangnya tidak dinafikan sukatan pelajaran subjek-subjek sedia ada sudah cukup membebankan.

Tapi, usaha untuk memperkenalkan subjek ini juga ada sebab yang releven dan signifikan. Rata-rata dalam kalangan rakyat Malaysia masih belum sedar tentang Revolusi Industri 4.0. Gelombang ekonomi baru ini akan menyebabkan banyak pekerjaan yg tersedia terhapus. Sebagai contohnya, dengan pengenalan App Uber dan Grab saja sudah mengancam pendapatan pemandu teksi. Dalam masa yang sama, pekerjaan baru juga terwujud. Misalnya, pengurus media sosial yang bertanggungjawab menguruskan page Facebook dan akun Instagram syarikat untuk tujuan pemasaran(marketing) dan khdimat pelanggan (customer care).

Apa itu Revolusi Industri 4.0?

Berdasarkan rajah di atas, sudah tentu anda dapat gambaran serba sedikit apa yang dimaksudkan dengan Revolusi Industri ke-4. Teknologi yang semakin berkembang telah menyebabkan banyak pekerjaan digantikan dengan mesin. Perkara ini bukanlah baru kerana sebelum ini sudah wujud 3 gelombang sedemikian. Cuma, teknologi yang berkembang semakin pesat sehingga masyarakat perlu mengejar dengan lebih pantas dan menyebabkan mereka lebih panik berbanding revolusi industri sebelumnya yang mengambil masa lebih lama untuk mereka beradaptasi dan biasa dengan teknologi tersebut.

Revolusi Industri ke-4 akan lebih dahsyat lagi kerana mesin akan mengambil alih kerja manusia yang memerlukan deria manusia. Misalnya, mesin tidak dapat membezakan telur yang retak dengan telur yang calar. Jadi, buat masa sekarang, kilang telur masih menggunakan tenaga manusia untuk mengasingkan telur yang retak dengan telur yang calar. Sekiranya masalah ini sudah boleh diatasi oleh mesin, pekerja kilang telur akan digantikan dengan mesin. Itu baru satu contoh yang mengancam pekerjaan manusia biasa. Bagaimana pula dengan teknologi Artifical Intelligence yang lain?

Rajah di bawah menerangkan beberapa bidang yang akan dan sedang mendominasi dunia teknologi sekarang.

Kalau anda perhatikan kesemua bidang yang dipaparkan berkait rapat dengan Sains Komputer dan Kejuruteraan. Jadi, tidak hairanlah, Malaysia juga agak panik dalam menghadapi cabaran teknologi dan ekonomi ini. Kita agak ketinggalan dalam melaksanakan pengajaran Coding/Programming di sekolah. Pekerjaan baru yang akan menggantikan pekerjaan lama memerlukan kepakaran dalam bidang digital seperti ini.

Masalah dalam Pelaksanaan Pengajaran Coding

  1. Usaha ini memerlukan kos yang tinggi. Untuk mengambil guru-guru baru dari bidang Sains Komputer akan memakan bajet yang besar. Jadi, guru-guru sedia ada dihantar berkursus di IPTA selama beberapa bulan untuk belajar Coding.
  2. Guru yang sedia ada tidak cekap dalam bidang ini. Mereka juga bukan dari latar belakang bidang yang berkaitan. Dan mereka tidak mampu menarik perhatian pelajar dalam subjek ini kerana mereka sendiri tidak meminatinya.
  3. Sains Komputer lebih baik dijadikan Kelab Kokurikulum, bukan subjek dalam sesi Pengajaran & Pembelajaran rasmi.

Langkah Penyelesaian : Peranan Mahasiswa

Kita sedia maklum, setiap IPTA di Malaysia ada fakulti Sains Komputer. Dan fakulti ini bukan fakulti yang tak ramai pelajar! Jadi, mahasiswa turun padang, melalui kelab fakulti, pergi ke sekolah-sekolah dan ajar coding.

Mengapa Mahasiswa? Kerana mereka sudah ada skil dalam bidang ini. Selain itu, mereka lebih bersemangat, dan jarak umur antara pelajar sekolah dengan pelajar university lebih dekat dan rasa empati dalam diri mereka lebih tinggi. Kita memerlukan orang yang tepat dalam mengajar sesuatu perkara.

Dan, kerjasama antara Kelab Sains Komputer di university dengan Kelab Komputer di sekolah akan lebih menjimatkan kos. Pertama, kos ‘training’. Kedua, kos upah. Walaubagaimanapun, sekiranya ada pihak penaja, pelaksanaan ini akan jadi lebih mudah kerana dapat meringankan sedikit kewangan dalam pelaksanaan pendedahan sains computer kepada pelajar sekolah.

Semoga dengan membaca artikel ini, kalian dapat memahami cabaran zaman sekarang. Kita perlukan ramai ‘maker, bukan ‘user’ saja. Pendidikan adalah untuk masa depan dan jangka panjang. Jadi, janganlah terlalu skeptik. Kita masih ada jalan keluar, Cuma memerlukan kesedaran dan kerjasama untuk menjayakan tujuan kita ini.

Source: Maisarah Mohamed Pauzi – pbmahasiswa

Revolusi Industri Keempat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Revolusi Industri Keempat adalah sebuah kondisi pada abad ke-21, ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi. Revolusi ini ditandai dengan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang, khususnya kecerdasan buatan, robot, blockchain, teknologi nano, komputer kuantum, bioteknologi, Internet of Things, percetakan 3D, dan kendaraan tanpa awak.

Sebagaimana revolusi terdahulu, revolusi industri keempat berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia. Namun, kemajuan di bidang otomatisasi dan kecerdasan buatan telah menimbulkan kekhawatiran bahwa mesin-mesin suatu hari akan mengambil alih pekerjaan manusia. Selain itu, revolusi-revolusi sebelumnya masih dapat menghasilkan lapangan kerja baru untuk menggantikan pekerjaan yang diambilalih oleh mesin, sementara kali ini kemajuan kecerdasan buatan dan otomatisasi dapat menggantikan tenaga kerja manusia secara keseluruhan yang digantikan oleh teknologi dan robotik.