International Mathematical Olympiad Hongkong 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Pelajar MI Blitar Raih Emas Olimpiade Matematika Internasional Hong Kong

Foto: Erliana Riady

Pelajar kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Perwanida Kota Blitar, ini memiliki prestasi membanggakan. Pelajar bernama Zufar Hanasta Ilmi ini, meraih medali emas di ajang Hong Kong International Mathematic Olympiade (HKIMO).

Pelajar berusia 9 tahun ini, berhasil menyisihkan ratusan peserta olimpiade matematika tingkat Asia yang digelar 31 Agustus-2 September 2018 lalu.

Putra kedua pasangan M Ibnu Mukti dan Dwi Harsusi Susilowati ini, rupanya memiliki banyak prestasi serupa sejak kelas 1 MI. Baik yang berskala nasional maupun internasional.

Seperti Kompetisi Mathematic Nalaria Realistik (KMNR) Tingkat Nasional tahun 2017 meraih medali emas. KMNR tahun 2018 juga meraih emas. Dan meraih emas juga dalamHidayatull Mathematic and Science Olimpiad (HIMSO) tahun 2018.

Ditemui di sekolahnya pagi ini, bagi Zufar, mengerjakan soal matematika tak ubahnya seperti bermain bola.

“Saya suka sama matematika. Gak susah kok ngerjainnya. Malah seneng pengen cepet selesai. Kalau selesai itu seperti main bola terus bisa memasukkan gol,” ucapnya dengan lancar, Selasa (11/9/2018).

Kemampuan otak kiri Zufar memang bisa dibilang di atas rata-rata. Soal matematika yang sering dikerjakan dalam berbagai event lomba, merupakan soal matematika tingkat kelas 2 SMA. Namun bocah yang gemar olah raga bulu tangkis ini tak pernah sekalipun mengeluh.

“Tidak capek kok. Malah saya selalu pengen dikasi soal tiap hari. Tidak pernah sulit kok. Kalau mau lomba malah gak belajar, cuma main ngerjain soal. Nanti kalau saya duluan selesai ngerjain soal, saya pasti minta soal yang baru lagi,” imbuhnya.

Soal hitungan yang rumit, bagi Zufar matematika hanya permainan saja. Orang tuanya yang menyadari kelebihan kemampuan anaknya ini, lalu memasukkan dalam lembaga bimbingan belajar khusus berhitung. Jadwal padat dilakukan Zufar sejak kelas 1 MI

“Pulang sekolah jam 3 sore. Langsung les matematika sampai jam 5 sore. Itu dari Senin sampai Kamis. Sampai rumah mandi, makan, terus tidur sampai pagi
Saya suka dan gak capek kok,” ucapnya sambil tersenyum.

Ketika ditanya apakah bisa jauh dari mama untuk dikarantina, seperti umumnya peserta olimpiade sciense lainnya. Zufar menjawab begini.

“Sudah sering. Biasanya 10 hari. Mama gak menemani. Itu saya harus bangun jam 6 pagi. Mandi lalu sarapan. Terus latihan mengerjakan soal sampai makan siang sebentar. Habis itu mengerjakan soal lagi sampai jam 10 malam. Tapi saya ya merasa capek kok. Malah senang bisa kumpul banyak teman,” ujarnya.

Kabid Kesiswaan MI Perwanida Ratna Khusna menyatakan, prestasi yang didulang siswa didiknya ini kuncinya hanya komunikasi.

“Kunci utamanya, komunikasi. Antara pihak sekolah, anak dan orang tua. Jangan ada keinginan dari satu pihak saja. Jangan sampai orang tua memaksakan kehendaknya pada anak. Seperti Zufar ini. Kami sampaikan potensinya yang terlihat sejak kelas 1. Lalu orang tua memfasilitasi, sekolah sebagai media. Karena jer basuki mowo beyo,” pungkas Ratna.

Source: detikNews | 11 September 2018

International Mathematics and Science Olympiad China 2018: Indonesia Raih 23 Medali

RI BOYONG 23 MEDALI DI OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT SD DI CHINA

Ini 23 siswa SD Indonesia yang berhasil meraih medali pada Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Internasional di China. (Istimewa)

Sebanyak 23 siswa sekolah dasar ( SD) asal Indonesia sukses memboyong 2 emas, 13 perak, dan 8 perunggu dalam perhelatan International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) 2018. Ajang Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Internasional yang diikuti 22 negara itu diselenggarakan di Xejhiang, China, pada 27 September hingga 4 Oktober 2018. “Alhamdulillah, tahun ini lebih banyak daripada tahun kemarin, kali ini kita bawa pulang 23 medali. Semoga ini memberikan motivasi kepada anak-anak kita untuk menyukai matematika dan sains,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad dalam siaran pers, Jumat (5/10/2018).

Hamid beserta pejabat Kemendikbud, Kamis (4/10/2018) kemarin, menjemput anak-anak berprestasi itu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Berikut daftar siswa peraih medali :

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “RI Boyong 23 Medali di Olimpiade Matematika Tingkat SD di China”, https://nasional.kompas.com/read/2018/10/05/14122811/ri-boyong-23-medali-di-olimpiade-matematika-tingkat-sd-di-china?page=all.
Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Krisiandi

Medali Emas

  1. Muhammad Fikri Aufa (SD Islam Terpadu Cahaya Insani, Temanggung),
  2. Steven Darren Wijaya (SD Cahaya Nur, Kabupaten Kudus).

Medali Perak

  1. Stevenson C. Hudiono (SDS Kristen II Penabur, Jakarta Pusat)
  2. Elbert Tristan Lie (SDS Pelita Bangsa, Bandar Lampung)
  3. Fakhri Musyaffaa Ariyanto (SD Nasional KPS Balikpapan)
  4. Novin Raushan (SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta)
  5. Jack Howard Wijaya (SD Darma Yudha, Pekanbaru)
  6. Harltbert Mayer Hsia (SD Darma Yudha, Pekanbaru)
  7. Ahmad Boutros Fathir (SDUT Bumi Kartini, Jepara)
  8. Naistra F Wirdiyan (SD Alfurqan, Jember)
  9. Jesreel HT Sigalinging (SDS Kristen Penabur 4, Jakarta Timur)
  10. Clairine Aurel A (SD Tunas Indonesia Sejati, Jakarta Utara
  11. Ben Robinson (SD Kristen Petra 10, Surabaya)
  12. Adeline Fedora C (SDS Fransiskus 2 Rawalaut, Bandar Lampung)
  13. Moch. Rakha Aryaputra (SDN Pedurungan Tengah 02, Semarang).

Medali Perunggu

  1. Wilbert Angkasa (SDS Pah Tsung, Jakarta Barat)
  2. Pradipto Pandu M (SDN Rawajati 08 Pg, Jakarta Selatan
  3. Ni Luh Gita Gayatri ( SDN Tegalkalong, Sumedang)
  4. Bilqis Sofia QA (SD Unggulan Sulawesi Permata Bangsa, Palu)
  5. Kelven Nathanael (SDK Santa Theresia, Surabaya)
  6. Dzaki Aulia Fadhil (SD Muhammadiyah 2 Kauman, Surakarta)
  7. Leonardo Valerian (SDS Darma Yudha, Pekanbaru)
  8. Franklin Filbert Irwan (SDS Darma Yudha, Pekanbaru).

Hamid menyampaikan bahwa pencapaian itu menjadi pembelajaran untuk mendorong peserta didik dalam mencapai level tertinggi. “Sebenarnya ini menjadi pembelajaran bagi semua daerah. Kalau pembelajaran literasi dasar, baca masalah, bahasa, IPA (ilmu pengetahuan alam), dan matematika itu kita siapkan dengan baik, fasilitas belajarnya baik, gurunya kita latih dengan benar, kegiatan pembelajarannya menyenangkan, pasti anak-anak kita itu meraih level tertinggi,” kata Hamid.

Steven Darren Wijaya, siswa kelas VI SD Cahaya Nur, Kudus, merasa sangat senang dapat meraih emas dalam kompetisi internasional tersebut. Ia menyebut, prrestasi ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan antusiasmenya mempelajari matematika. “Setiap Minggu aku sering pulang pergi ke Semarang, hanya untuk les,” ujar Steven.

Source: Kompas | Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Editor : Krisiandi

International Mathematical Olympiad Romania 2018: Indonesia Raih 6 Medali

Logo Olimpiade Matematika Internasional.

Tim Indonesia Raih 1 Emas dan 5 Perak di Olimpiade Matematika Internasional

Tim pelajar Indonesia yang meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung di rumania.(Dok. Gian Sanjaya)

Tim Indonesia meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung pada 9-10 Juli 2018 di Kota Cluj-Napoca, Romania. Tim Indonesia beranggotakan

  • Gian Cordana Sanjaya (18)
  • Valentino Dante Tjowasi (16)
  • Farras Mohammad Hibban Faddila (17)
  • Kinantan Arya Bagaspati (17)
  • Alfian Edgar Tjandra (17)
  • Otto Alexander Sutianto (18)

Medali emas diraih oleh Gian, sementara 5 medali perak diraih oleh Valentino, Farras, Kinantan, dan Otto Alexander.

Informasi prestasi para pelajar Indonesia ini dipublikasi oleh akun resmi Twitter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, @Kemendikbud_RI.

Setiap tahunnya, Indonesia selalu mengikutsertakan pelajar yang menjadi perwakilan negara dalam olimpiade ini. Setiap negara berhak mengirimkan enam orang pelajar SMA sebagai peserta. Keenam orang tersebut terpilih berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh Tim Pembinaan Indonesia. Tahun ini, ada 106 negara yang berpartisipasi. Saat dihubungi Kompas.com, Gian, pelajar yang meraih emas, masih berada di Romania. Ia mengatakan, lawan yang mereka hadapi cukup tangguh. “Kami melawan banyak negara. Namun, beberapa negara yang susah dikalahkan adalah Amerika, China, Rusia, Jepang, Korea, dan Inggris,” ujar Gian, siswa SMA Kristen Petra 1, Surabaya, Jumat (13/7/2018).

Gian mengatakan, dalam kompetisi ini diberlakukan sistem nilai. Untuk mendapatkan medali emas, peserta harus mendapatkan nilai minimal 31. Adapun, untuk medali perak nilai minimumnya 25, dan untuk medali perunggu nilai minimum 16. Gian mengaku, ia mendapatkan skor 31 dan berhasil memboyong medali emas. Sementara itu, Alfian, Kinantan, dan Farras masing-masing mendapatkan nilai 29, Valentino mendapatkan nilai 28, dan Otto mendapatkan nilai 25. Total nilai yang didapatkan oleh Tim Indonesia yaitu 171.

Source: Kompas | Penulis : Retia Kartika Dewi | Editor : Inggried Dwi Wedhaswary