International Mathematical Olympiad Timeline

The logo of the International Mathematical Olympiad.

International Mathematical Olympiad Timeline

Source: Wikipedia

Notable Achievements

The following nations have achieved the highest team score in the respective competition:

  • China, 20 times (from the first participation in 1985 until 2014): in every year from 1989 to 2014 except 1991, 1994, 1996, 1998, 2003, 2007, 2012, as well as in 2019 (joint with USA);
  • Soviet Union, 14 times: in 1963, 1964, 1965, 1966, 1967, 1972, 1973, 1974, 1976, 1979, 1984, 1986, 1988, 1991;
  • United States, 8 times: in 1977, 1981, 1986, 1994, 2015, 2016, 2018, 2019 (joint with China);
  • Hungary, 6 times: in 1961, 1962, 1969, 1970, 1971, 1975;
  • Romania, 5 times: in 1959, 1978, 1985, 1987, 1996;
  • West Germany, twice: in 1982 and 1983;
  • Russia, twice: in 1999 and 2007;
  • South Korea, twice: in 2012 and 2017;
  • Bulgaria, once: in 2003;
  • Iran, once: in 1998;
  • East Germany, once: in 1968.

The following nations have achieved an all-members-gold IMO with a full team:

  • China, 12 times: in 1992, 1993, 1997, 2000, 2001, 2002, 2004, 2006, 2009, 2010, 2011, and 2019.
  • United States, 4 times: in 1994, 2011, 2016, and 2019.
  • South Korea, 3 times: in 2012, 2017, and 2019.
  • Russia, 2 times: in 2002 and 2008.
  • Bulgaria, once: in 2003.

Also noteworthy is that the United States was a single point away from achieving all gold medals in 2012, 2014, and 2015 and was just two points away in 2018, in each of these years obtaining 5 gold medals and 1 silver medal.

The only countries to have their entire team score perfectly in the IMO were the United States in 1994 (they were coached by Paul Zeitz); and Luxembourg, whose 1-member team had a perfect score in 1981. The US’s success earned a mention in TIME Magazine. Hungary won IMO 1975 in an unorthodox way when none of the eight team members received a gold medal (five silver, three bronze). Second place team East Germany also did not have a single gold medal winner (four silver, four bronze).

Several individuals have consistently scored highly and/or earned medals on the IMO: As of July 2015 Zhuo Qun Song (Canada) is the most successful participant[64] with five gold medals (including one perfect score in 2015) and one bronze medal. Reid Barton (United States) was the first participant to win a gold medal four times (1998-2001). Barton is also one of only eight four-time Putnam Fellows (2001–04). Christian Reiher (Germany), Lisa Sauermann (Germany), Teodor von Burg (Serbia), and Nipun Pitimanaaree (Thailand) are the only other participants to have won four gold medals (2000–03, 2008–11, 2009–12, 2010–13, and 2011–14 respectively); Reiher also received a bronze medal (1999), Sauermann a silver medal (2007), von Burg a silver medal (2008) and a bronze medal (2007), and Pitimanaaree a silver medal (2009). Wolfgang Burmeister (East Germany), Martin Härterich (West Germany), Iurie Boreico (Moldova), and Lim Jeck (Singapore) are the only other participants besides Reiher, Sauermann, von Burg, and Pitimanaaree to win five medals with at least three of them gold. Ciprian Manolescu (Romania) managed to write a perfect paper (42 points) for gold medal more times than anybody else in the history of the competition, doing it all three times he participated in the IMO (1995, 1996, 1997). Manolescu is also a three-time Putnam Fellow (1997, 1998, 2000). Eugenia Malinnikova (Soviet Union) is the highest-scoring female contestant in IMO history. She has 3 gold medals in IMO 1989 (41 points), IMO 1990 (42) and IMO 1991 (42), missing only 1 point in 1989 to precede Manolescu’s achievement.

Terence Tao (Australia) participated in IMO 1986, 1987 and 1988, winning bronze, silver and gold medals respectively. He won a gold medal when he just turned thirteen in IMO 1988, becoming the youngest person at that time to receive a gold medal (Zhuo Qun Song of Canada also won a gold meal at age 13, in 2011, though he was older than Tao). Tao also holds the distinction of being the youngest medalist with his 1986 bronze medal, followed by 2009 bronze medalist Raúl Chávez Sarmiento (Peru), at the age of 10 and 11 respectively. Representing the United States, Noam Elkies won a gold medal with a perfect paper at the age of 14 in 1981. Note that both Elkies and Tao could have participated in the IMO multiple times following their success, but entered university and therefore became ineligible.

The current ten countries with the best all-time results are as follows:

Source: imo-official dot org | IMO Official

Gender of some contestants is not known. Please send relevant information to the webmaster: webmaster @ imo-official dot org

International Mathematical Olympiad Thailand 2019: Indonesia Raih 1 Medali

Siswa Madrasah Ini Raih Gold Award Thailand International Mathematical Olympiad 2019.

Muhammad Adi Brata Tata Negara Saputra, Siswa kelas 7B MTsN 2 Kota Kediri meraih Gold Award dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 di Bangkok.

“Adi bersaing dengan ratusan peserta dari 21 negara, dia berhasil meraih Gold Award dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019,” kata Kepala MTsN 2 Kota Kediri, Hadi Suseno.

Untuk diketahui, Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 diselenggarakan di Head Star International School Thailand dan berlangsung dari 5 sampai 8 April 2019. Ajang ini diikuti para siswa dasar dan menengah (MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA), negeri dan swasta, yang telah bergabung dalam Head Round Indonesia pada instansi pendidikan yang telah bekerja sama dengan TIMO.

“Siswa yang lolos Head Round Indonesia dan mendapat medal gold silver bronze, bisa lanjut final TIMO di Thailand,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan dengan meraih Grade Gold Arward Timo di Thailand, maka Adi mendapatkan tiket untuk ikut kompetisisi selanjutnya yang diselenggarakan oleh Jepang, yakni World International Mathematics Olympiad (WIMO). Kompetisi ini akan diselenggarakan pada Desember 2019 di Tokyo Jepang.

Sebelum mendapat emas di ajang TIMO 2019 ini, Adi juga pernah mendapat medali emas tingkat provinsi Jawa Timur dalam kompetisi Hidayatullah Mathematics and Science Olympiad (HIMPSO) 2019. Prestasi lainnya adalah juara umum kompetisi olimpiade Matematika tingkat Jawa Timur-Jawa Tengah 2019, Bronze Medal tingkat Internasional dalam event Word International Mathematics Olympiad (WIMO) 2018, Silver Medal tingkat Intenasional dalam event American Mathematics Olympiad (AMO) 2018, Peraih Medal Perak tingkat Internasional 2018 dalam event International Challenge for Future Mathematic 2018, serta peraih Perunggu tingkat Internasional dalam event International Mathematic Olympiad 2018. (nov/kemenag)

Gian Cordana Sanjaya

Mengenal Sosok Gian Sanjaya, Peraih Emas Olimpiade Matematika Internasional 17 Juli 2018.

Gian Cordana Sanjaya, siswa SMAK Petra 1 Surabaya

Kemendikbud — Indonesia menempati peringkat ke-10 dalam Olimpiade Internasional Matematika atau International Mathematical Olympiad (IMO) 2018 yang diikuti lebih dari 100 negara dan 600 peserta. Pelajar Indonesia berhasil meraih satu emas dan lima perak dalam IMO 2018 yang diselenggarakan di ClujNapoca, Rumania, pada tanggal 4-14 Juli 2018. Satu-satunya emas untuk Indonesia disumbangkan oleh Gian Cordana Sanjaya, siswa SMAK Petra 1 Surabaya, yang sudah langganan meraih berbagai medali dalam kompetisi sains.

Gian mengaku tidak menyangka dengan prestasi yang dicapai. “Target saat berangkat, maunya semua menang emas, tapi setelah pengumuman sampai sekarang, rasanya luar biasa. Saya nggak bisa berkata apa-apa. Kami berjuang sampai detik terakhir melawan negara-negara besar yang cukup diandalkan, dan akhirnya kami berhasil. Teman-teman yang lain meskipun dapat perak, tapi secara skor, tipis perbedaanya,” ucap Gian yang baru saja lulus SMA.

Pelajar berkacamata ini berencana akan melanjutkan studi di Kanada, jurusan Science of Mathematics. Gian mengaku sangat tertarik dengan matematika sejak masih di TK (Taman Kanak-Kanak). Dia menganggap matematika adalah sains yang indah.

Ayah Gian, Budi Sanjaya, ikut menceritakan kisah Gian yang tertarik dengan matematika sejak kecil. “Waktu Gian kecil, kalau saya bacakan dongeng dia maunya dibacakan yang angka-angka. Dia selalu menantang saya untuk memberikan pertanyaan berhitung. Sampai saya kewalahan harus mengambil kalkulator. Gian juga sangat inisiatif, dia mencari sendiri setiap ada lowongan kompetisi. Saya dan istri akan mencoba mengikuti selama tidak mengganggu kegiatan sekolah dan masa remajanya. Syukurlah, dia bisa mengatur semua itu,” ucap sang ayah yang langsung datang dari Jembrana, Bali, untuk menyambut putra kebanggaannya di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Banten, Minggu (15/7/2018).

Gian juga menjadi siswa yang dikirim ke ajang IMO selama tiga tahun berturut-turut, yakni tahun 2016, 2017, dan 2018, dan selalu kembali ke Tanah Air dengan membawa medali. Sungguh motivasi dan semangat luar biasa yang diperlihatkan Gian bagi negaranya. Tiga kali mewakili Indonesia di ajang IMO dengan grafik prestasi yang terus meningkat: 2016 (perunggu), 2017 (perak), dan dipuncaki dengan emas di IMO 2018 yang membawa Indonesia masuk dalam 10 besar kekuatan Matematika dunia.

Berbagai macam Olimpiade yang Gian ikuti antara lain :

  • Indonesia International Mathematics Competition 2011/EMIC/SD/Sanur, Bali, Indonesia / Medali Emas
  • IMC Contest 2011/SD/Singapura/Medali Emas. Sponsor by KPM Bogor
  • WIZMID 2012/SD/India/Medali Emas
  • APPMOS 2012/SD/Singapura /Medali Emas
  • The Clock Tower School 2012 /SD/Rumania /Medali Emas
  • International Mathematics Competition 2012/SD/Taiwan/Medali Perak
  • Bulgaria International Mathematics Competition 2013 /IWYMC/SMP/Bulgaria /Medali Emas
  • International Junior Science Olimpiade/Sciens /SMP/ Argentina / Medali Perunggu
  • International Mathematics Olimpiade (IMO) 2016/SMA/Medali Perunggu
  • IMO 2017/SMA/Brazil/Medali Perak
  • RMM 2018 /SMA/Romania/Medali Perunggu
  • IMO 2018/SMA/Romania/Medali Emas

Gian mengakui bahwa lawan yang dihadapi Tim Olimpiade Matematika Indonesia cukup tangguh. Namun, sejak keberangkatan, dirinya menyatakan yakin bakal meraih emas, setelah tahun lalu di Brazil berhasil menyumbangkan medali perak. “Amerika, China, Rusia, Jepang, Korea, dan Inggris, termasuk yang kuat,” ujar Gian.

Selama persiapan Olimpiade, Gian dan kawan-kawan harus mengikuti pembekalan dari sejak awal tahun 2018. Setiap hari mereka belajar bahkan harus melewatkan momen natal maupun lebaran. Namun Gian tak pernah merasa kehilangan masa remajanya. Gian mengaku masih sering becanda dengan teman-teman dan menonton film komedi di sela-sela rutinitasnya.

Saat anak-anak lain akan menjawab secara spesifik, menjadi dokter, pilot, profesor atau tentara sebagai cita-citanya, Gian mengatakan hanya ingin memajukan Indonesia, dari sisi manapun ia akan melakukannya. “Saya hanya ingin Indonesia makin maju setiap harinya,” tutur Gian yang akan bertolak ke Kanada pada Agustus ini. (Syarifah/Desliana Maulipaksi)