Nadiem Makarim

From Wikipedia, the free encyclopedia

Nadiem Makarim (born 1984) is an Indonesian entrepreneur and minister of education and culture. He founded Go-Jek in 2010, a transportation network company and logistic startup company that became Indonesia’s first decacorn company. He was appointed as Minister of Education and Culture by President Joko Widodo on his second term’s cabinet and subsequently resigned from his post at Gojek.

Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir: Para calon menteri muda di kabinet Jokowi yang diharap membawa perubahan. Source: Antara & BBC

Personal Life

Nadiem was born in Singapore on 4 April 1984, to Nono Anwar Makarim and Atika Algadri. His father is an activist, lawyer and is of Minangkabau-Arabian descent. His sister, Rayya Makarim, is a filmmaker. He married Franka Franklin and they have one daughter.

Education

Nadiem attended high school in Jakarta and United World College of Southeast Asia (UWC SEA), Singapore, then went to Brown University for a BA in International Relations. He did his MBA at Harvard University.

Career and Business

Makarim started his career at McKinsey & Company as management consultant in Jakarta. He left to co-found Zalora, an online fashion shop, then left Zalora to become Chief Innovation Officer at Kartuku, a payments service provider.

McKinsey & Company (2006 – 2009)

After graduating from Harvard University with an MBA, Nadiem decided to come back home to Indonesia and got a job in McKinsey & Co. Nadiem worked as a Mckinsey consultant for 3 years.

Zalora Indonesia (2011 – 2012)

Nadiem became Co-Founder and Managing Director for Zalora Indonesia in 2011. In 2012, Nadiem made the decision to leave Zalora to focus on building his own startup, including Gojek which at that time had 15 employees and 450 drivers. He claims to have learned enough from Zalora, which was his main goal in accepting the position in the first place. In Zalora, Nadiem had the chance to build a mega startup and work with some of the best talent across the region.

Kartuku (2013 – 2014)

After leaving Zalora and while developing Gojek, Nadiem also worked as a Chief Innovation Officer of Kartuku. In the early days, Kartuku didn’t have any competition in cashless payment solutions in Indonesia. Kartuku was then acquired by Gojek to strengthen GoPay.

Gojek (2010 – Present)

In 2010 Nadiem created Gojek, which is today a decacorn company with valuation over USD 10 billion. Gojek was first established as a call centre, offering only courier delivery and two-wheeled ride-hailing services. Today, Gojek has transformed into a super app, providing more than 20 services, ranging from transportation, food delivery, groceries, massage, house cleaning, logistics to a cashless digital payment platform called GoPay.

Makarim often uses a motorcyle taxi, known in Indonesia as an Ojek. He saw this as a business opportunity and developed it into Go-Jek, founded in 2010.

Go-Jek was well received, and eventually received US$ 1,3 billion funding from investors, in a 2018 round led by Alphabet Inc’s Google, JD.com Inc and Tencent Holdings. It thereby became the first Indonesian Unicorn. By 2019, the firm was worth up to US$ 10 billion.

Awards

  • In 2016, Nadiem received the The Straits Times Asian of the Year award, and was the first Indonesian to receive the award since it was first established in 2012. The Asian of the Year award is given to an individual or group that has significantly contributed to increasing the welfare of people in their countries or Asia at large. Some previous recipients include the founder of Singapore, Lee Kuan Yew, Indian Prime Minister Narendra Modi, Japanese Prime Minister Shinzo Abe, Chinese President Xi Jinping and Myanmar President Thein Sein. The award came as the company focuses on increasing the welfare of the informal sector. At the same time, it can help provide a livelihood for Indonesians by changing the traditional business market and model.
  • In 2018, Nadiem made it to Bloomberg 50 annual list of innovators. Bloomberg assessed that there was no other technology platform (app) that changed the lives of Indonesian as fast and as integrated as Gojek. Gojek app was launched in 2015 with a focus on two-wheel ride-hailing, and developed into a platform to pay bills, order food, and book cleaning services. “The Bloomberg 50” includes prominent figures in the business, entertainment, finance, politics, science and technology world. Nadiem’s track record of expanding Gojek to the Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam led him to be included in the Bloomberg 50 list alongside Mexican President Andres Manuel Lopez Obrador, Spotify Founder Daniel Ek, pop star Taylor Swift and K-Pop idol group BTS.
  • In May 2019, Nadiem was the youngest figure from Asia to receive the 24th Nikkei Asia Prize for economic and business innovation. Nadiem doubled the prize to Rp 860 million and donated the amount as education scholarship for Gojek drivers’ children. The Nikkei Asia Prize is given to individuals or organisations that contribute to the development of Asia. This award was given to Nadiem due to Gojek’s contributions to the economy, easing customer’s daily life, and increasing the income of their partners. Gojek contributed Rp 55 trillion (US$ 3.85 Billion) towards the Indonesian economy, with the average income of GoRide and GoCar partners increasing by 45% and 42% after joining Gojek, and culinary SMEs transaction volume increasing 55% after becoming GoFood merchant.
  • In 2017, Gojek made it to Fortune’s Top 50 Companies That Changed The World, ranking 17th world wide. In 2019 Gojek once again made it to Fortune’s Top 50 Companies That Changed The World, and was the only Southeast Asian company to have been included twice in the list – this year leaping to number 11 out of 52 global companies.

International Organizations

With Melinda Gates and the Minister of Finance of Indonesia, Sri Mulyani, Nadiem served as one of the commissioners of Pathways for Prosperity for Technology and Inclusive Development that focuses on helping developing countries to adapt with various new digital innovations that change the working culture.

Headlines

Jadi Menteri, Nadiem Makarim Mundur dari CEO Gojek dan Siap Bawa Inovasi ke Kabinet Kerja Jilid 2

Senin, 21 Oktober 2019 12:05

Nadiem Makarim dan Keluarga

CEO sekaligus founder startup Gojek, Nadiem Makarim, menyatakan mundur dari jabatannya sebagai CEO Gojek.

Hal tersebut ia utarakan di Istanan Negara seusai bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Menurut Nadiem, dirinya akan masuk ke dalam jajaran kabinet yang ditentukan oleh Presiden Joko Widodo masa pemerintahan 2019 – 2020.

Kendati demikian Nadiem tidak menyebut secara rinci pada posisi apa dan kementerian mana ia akan bergabung. “Posisi saya di Gojek sudah mundur dan tidak ada kewenangan sama sekali. Tidak ada kekuasaan apapun di dalam Gojek,” ungkap Nadiem. Ia mengatakan hal tersebut adalah sebuah kehormatan untuknya.

Ia pun meminta publik agar menunggu pengumuman langsung dari Presiden Joko Widodo terkait posisi yang akan ia tempati. “Saya sangat senang. Kehormatan buat saya bisa bergabung dengan kabinet. Mengenai posisinya nanti diumumkan sendiri oleh Pak Presiden,” ungkapnya.

Kendati demikian ia tak menyebutkan kapan akan menyatakan mundur secara resmi dari perusahaan yang ia dirikan tersebut. Namun, Pendiri Go-Jek Nadiem Makarim mengaku siap berinovasi di kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Hal itu disampaikan Nadiem usai bertemu Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10/2019). Nadiem mengakui dalam pertemuan itu ia diminta masuk ke kabinet.

“Saya merasa ini kehormatan saya diminta bergabung ke kabinet dan saya menerima,” kata Nadiem. Nadiem mengaku sudah diberitahu akan menjadi menteri apa. Namun, ia enggan membocorkan ke wartawan. Ia hanya menegaskan bahwa dirinya siap membawa banyak inovasi di kabinet nanti.

“Sudah pasti dan banyak sekali inovasi yang ingin saya lakukan untuk negara ini. Saya enggak bisa sebut sekarang,” kata dia. Nadiem pun mengaku ia sudah mundur dari Go-Jek, bisnis start up yang ia bangun. “Pasti di Go-Jek sudah mundur. Tidak ada posisi dan kewenangan apapun di Gojek,” ujarnya.

Nadiem sendiri pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB muncul dari gerbang utama mengenakan kemeja putih menarik perhatian wartawan yang sedang meliput di lokasi. Hal ini memunculkan dugaan Nadiem akan masuk ke dalam jajaran kabinet Presiden Jokowi jilid 2.

Ia hanya membalas senyum kepada sejumlah awak media yang gencar melontarkan pertanyaan. Ada yang menyebut dia akan menjadi menteri digital dan ekonomi kreatif. Ada pula yang mengatakan Nadiem bakal bergabung ke Kementerian Pendidikan.

Hingga kini masih belum ada kepastian jabatan apa yang akan disandang Nadiem, kalaupun dia benar masuk kabinet. Presiden Joko Widodo kemungkinan baru akan mengumumkan jajaran kabinetnya menjelang siang ini.

Pria 35 tahun lulusan Universitas Harvard kabarnya akan masuk dalam jajaran pemerintahan sebagai salah satu menteri. Ada yang menyebut dia akan menjadi menteri digital dan ekonomi kreatif.

Ada pula yang mengatakan Nadiem bakal begabung ke Kementerian Pendidikan. Hingga kini masih belum ada kepastian jabatan apa yang akan disandang Nadiem, kalaupun dia benar masuk kabinet.

Pengamat Politik dari Charta Politika, Yunarto menyampaikan bahwa Ngadiem Makarim adalah calon menteri yang cocok dengan bocoran presiden selama ini. “Selama ini presiden manyampaikan bahwa ada menteri yang milenials, dan tentun Ngadiem adalah orang yang cocok untuk itu,” ujarnya.

Sejauh ini Ngadiem Makarim memang dikabarkan akan menjadi menteri yang akan duduk di bidang pendidikan dan koperasi. Yunarto pun menjelaskan bahwa jika Ngadiem nanti menjadi menteri tentu banyak masalah yang akan dihadapinya, karena tidak akan sama iklimnya saat memimpin Gojek dan kementerian.

“Akan susah dia nantinya mendobrak budaya-budaya di Kementerian. Kalau di Gojek kan, dia yang bangun dan bertumbuh bersama. Ini dia datang ke tempat yang sudah bertahun-tahun establish,” ujarnya.

Lantas, bagaimana profil CEO Go-Jek tersebut?

Berikut profil Nadiem Makarim, dirangkum Tribunnews dari berbagai sumber :

Kehidupan Pribadi

  • Nadiem Makarim memiliki nama lengkap Nadiem Anwar Makarim.
  • Ia merupakan pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984.
  • Pria 35 tahun itu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
  • Ia lahir dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri.
  • Ayahnya merupakan seorang aktivis dan pengacara.
  • Sedangkan, ibunya berprofesi sebagai penulis lepas.
  • Sang ibu merupakan putri dari salah seorang sosok perintis kemerdekaan Indonesia, Hamid Algadri.
  • Sementara itu, ia menikah dengan sang istri Franka Franklin sejak 2014 lalu.

Nadiem dan Franka telah dikaruniai anak perempuan bernama Solara Franklin Makarim.

Riwayat Pendidikan

  • Nadiem Makarim mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Jakarta.
  • Ia kemudian melanjutkan pendidikan SMA-nya di Singapura.
  • Lulus SMA, Nadiem pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat.
  • Ia mengenyam pendidikan di Brown University dari tahun 2002 hingga 2006.
  • Tiga tahun kemudian, ia pun melanjutkan pendidikan pasca-sarjana di Harvard Business School dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA).

Awal Karir

  • Dilansir TribunStyle, Nadiem Makarim memutuskan untuk bergabung di Mckinsey & Company yang berbasis di Jakarta pada 2006.
  • Ia direkrut perusahaan itu menjadi konsultan manajemen.
  • Ia bekerja di perusahaan tersebut selama 3 tahun.
  • Nadiem juga bekerja di Zalora Indonesia sebagai Co-Founder serta Managing Editor.
  • Ia kemudian memutuskan keluar dari Zalora dan bekerja di Kartuku sebagai Chief Innovation Officer.
  • Di tahun 2011, Nadiem Makarim mulai merintis perusahaannya yang kemudian dikenal dengan Go-Jek.
  • Go-Jek merupakan aplikasi pesan ojek online yang telah berkembang besar di Indonesia.
  • Perusahaan itu disebut memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau setara dengan Rp 7,2 triliun pada 2016 lalu.
  • Go-Jek pun tak hanya menyediakan jasa pesan ojek online saja, namun juga jasa antar barang (Go-Send), makanan (Go-Food), kebersihan, massage, dan lain-lain.
  • Kini, aplikasi Go-Jek bahkan telah beroperasi di 50 kota di negara-negara Asia Tenggara.
  • Yang sebelumnya menjadi startup unicorn, Go-Jek kini menjadi perusahaan decacorn.

Jadi Juragan Ojek

  • CEO Gojek, Nadiem Makarim bersalaman dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Dok)
  • Awal mula Nadiem Makarim menjadi juragan ojek adalah dari kebiasaannya menggunakan ojek untuk pergi ke kantor.
  • Dilansir Kompas.com, ia mendapat ide untuk mengawinkan jasa ojek dan teknologi.
  • Dari situ, lahirlah PT Go-Jek Indonesia.
  • Nadiem bercerita, kebiasaan menggunakan ojek sudah menjadi rutinitas harian.
  • Saat itu, ia masih bekerja sebagai Co-Founder dan Managing Editor Zalora Indonesia dan Chief Innovation Officer Kartuku.
  • Setiap berangkat ke kantor, ia selalu menggunakan ojek.
  • Bukan berarti ia tidak memiliki kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor.
  • Ia lebih memilih menggunakan ojek saat pulang atau pergi ke kantor karena merasa lebih aman.
  • Menurut dia, tingkat kecelakaan pada pengguna ojek sangat kecil.
  • Selama menggunakan jasa ojek, ia tidak pernah mengalami kecelakaan.
  • Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem pun sering ngobrol dengan para tukang ojek langganannya.
  • Dari hasil obrolan dan pengamatannya, ia mengetahui bahwa sebagian besar waktu tukang ojek banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.
  • Di tempat mangkal, biasanya mereka giliran dengan tukang ojek lainnya. Sudah giliran, kadang penumpang sepi.
  • Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, keamanan dan kenyamanan ojek belum terjamin 100 persen.
  • Menjawab semua persoalan itu, ia akhirnya mendapatkan ide membuat inovasi bagaimana orang bisa dengan mudah memesan ojek melalui ponsel tanpa harus repot ke pangkalan ojek.
  • Terlebih lagi, tidak semua orang lokasinya dekat dengan pangkalan ojek.
  • Tukang ojek sendiri tidak harus mangkal.
  • Bagi penumpang, menggunakan ojek juga lebih aman karena jelas dan terdaftar.
  • Nadiem mengaku, idenya ini juga sejalan dengan salah satu tugas kuliah ketika mengambil master di Harvard Business School.
  • Saat awal merintis bisnis, ia hanya memiliki 10 karyawan dan 20 tukang ojek.
  • Bagi Nadiem, awal mendirikan Go-Jek merupakan masa yang penuh dengan tantangan.
  • Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya merekrut para pengojek untuk bergabung.
  • Maklumlah, saat itu karena brand Go-Jek belum banyak dikenal seperti sekarang ini.
  • Saat itu, Nadiem pun terjun langsung merekrut tukang ojek.
  • Ia kerap turun ke jalan, tempat para tukang ojek mangkal.
  • Ia lalu banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga membelikan mereka kopi dan rokok.

Menyabet Asian of The Year 2018

  • Dilansir Kompas.com, Nadiem Makarim menjadi orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan “Asian of The Year” dari The Strait Times.
  • Ia menyabet penghargaan bergengsi tersebut pada 2012.
  • Nadiem menyatakan, penghargaan tersebut diperoleh seiring dengan fokus Go-Jek untuk meningkatkan kesejahteraan sektor informal.
  • Di saat yang sama, langkah mereka bisa membantu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dengan mengubah pasar dan model bisnis yang selama ini berlaku.
  • Penghargaan “Asian of the Year” diberikan kepada individu atau sekelompok individu yang berkontribusi secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negaranya atau di Asia.
  • Sejumlah nama besar yang pernah menerima Asian of the Year adalah Lee Kuan Yew, pendiri Singapura (2015); Narendra Modi, Perdana Menteri India (2014); Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang dan Xi Jinping, Presiden China (2013); serta Thein Sein, Presiden Myanmar (2012).

Penasihat Kwarnas Pramuka

  • Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Dewan Penasihat Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023.
  • Dilansir Kompas.com, dia dilantik oleh Jokowi pada 27 Desember 2018 silam.
  • Ada tiga mantan Presiden yang menjadi Anggota Dewan Penasihat, yakni Presiden ketiga BJ Habibie, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri, dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
  • Ada juga mantan Wapres Try Sutrisno.
  • Selain itu, pengusaha lain yang ditunjuk antara lain CEO Net TV Wishnutama dan pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo.
  • Tak hanya itu, ada juga nama besar lain seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X, Soekarwo, Mustofa Bisri, Syafi’i Maarif, Siti Hartati Murdaya, Frans Magnis Suseno, Jaya Suprana, Slamet Raharjo, dan Eka Cipta Wijaya.
  • Diharapkan, Dewan Penasihat di bidang bisnis dapat mengajari anak-anak gerakan Pramuka bagaimana mengelola bisnis.

Masuk dalam 50 Sosok Menginspirasi di Dunia versi Bloomberg 2018

  • Nadiem Makarim masuk ke daftar sosok paling menginspirasi dalam 2018 Bloomberg 50.
  • Daftar tersebut terdiri dari orang-orang yang terlibat dalam dunia bisnis dan keuangan, entertainment, politik hingga teknologi dan ilmu pengetahuan di mana sosoknya bisa membawa perubahan besar di tahun 2018.
  • Dilansir Kompas.com, rilis penghargaan itu menyebut, Go-Jek yang dibangun oleh Nadiem telah mengubah kehidupan masyarakat Indonesia dalam waktu yang cepat.
  • “Tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat seperti Go-Jek. Kemudian tahun 2015 yang berkembang fokusnya tidak hanya pada pemesanan sepeda motor (ojek), tetapi juga menjadi cara untuk membayar tagihan, memesan makan, atau menjadwalkan pembersihan rumah,” tulis laporan itu.
  • Dalam keterangannya, 2018 Bloomberg 50 mengatakan bahwa layanan “berbagi aplikasi” Go-Jek yang berbasis di Indonesia juga bisa mendobrak untuk ekspansi ke luar negeri.
  • Dalam daftar nama tersebut, nama Nadiem masuk bersama para direktur The Fed Jerome Powell, Richard Clarida, John Williams, Randal Quarles dan Lael Brainard.
  • Peraih nobel bidang fisika Donna Strickland hingga artis Taylor Swift juga masuk ke dalam daftar ini.

Harta Kekayaan

  • Dilansir Tribun Style, nama Nadiem Makarim masuk dalam daftar 5 miliarder terkaya Indonesia dengan usia kisaran angka 30 tahun.
  • Dirilis dari Globe Asia tahun 2018, kekayaan Nadiem Makarim ditaksir mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun.
  • Secara dunia, peringkat Nadiem Makarim dalam daftar tersebut adalah di urutan ke-150.

Source: aceh.tribunnews