7 JENIS KOPI LOKAL ASLI INDONESIA YANG SUKSES MENDUNIA


Sorce: Coffindo . 21 Desember 2018

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbaik, bahkan produksi tahunan yang mencapai 600 ribu ton mampu menyuplai tujuh persen kebutuhan kopi dunia. Menurut data Kementerian Pertanian RI (Kementan RI), Indonesia merupakan produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brasil dan Kolombia.

Pemerintah menyatakan setidaknya ada 16 jenis kopi yang diminati pasar internasional. Namun, tujuh di antaranya di bawah ini adalah yang paling favorit.

  • 1 | Kopi Arabika Gayo, Sumatera
  • 2 | Arabika Kintamani, Bali
  • 3 | Kopi Arabika Toraja
  • 4 | Kopi Arabika Java Ijen Raung
  • 5 | Kopi Liberika Rangsang Meranti, Riau
  • 6 | Kopi Arabika Flores Bajawa
  • 7 | Kopi Robusta Temanggung
1 | Kopi Arabika Gayo, Sumatera

Kopi asal Aceh ini teksturnya lebih encer alias tak terlalu pekat dengan tingkat keasaman seimbang. Cocok untuk kamu yang bukan penyuka kopi asam. Masyarakat Aceh punya cara penyajian tardisional yang khas. Bukan diseduh, tapi kopi dan air direbus dalam panci hingga mendidih, lalu dituang ke dalam gelas berisi susu dan gula.

11 Jenis Kopi Sumatera yang Kaya akan Cita Rasa

Spesies Kopi Sumatera terbagi dua, yaitu kopi Arabika (kopi yang variasi rasanya lebih beragam) dan Robusta (kopi yang rasanya lebih netral). Tapi, berbeda daerah, beda pula rasa kopi yang dihasilkan. Seperti jenis kopi di 11 daerah Sumatera berikut ini.

  1. KOPI SIDIKALANG
    Sidikalang merupakan adalah kecamatan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Di sanalah Kopi Sidikalang berasal. Soalnya, Sidikalang adalah produsen Kopi Arabika yang memiliki rasa paling enak dan harganya tinggi! Kopi ini sangat lezat karena memang memiliki kandungan kafein yang kuat. Rasa Kopi Sidikalang sangat khas karena kopi ini dihasilkan dari hawa dingin dan jenis tanah di kawasan pegunungan dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.
  2. KOPI ACEH
    Di Aceh terdapat Kopi Arabika dan Robusta. Jenis kopi Arabika yang terkenal di Aceh adalah Kopi Gayo. Kopi tersebut dibudidayakan di wilayah daratan tinggi Tanah Gayo, Gayo Luew, dan Aceh Tenggara. Sedangkan, jenis kopi Robusta yang terkenal di Aceh adalah Kopi Ulee Kareng yang dibudidayakan di Kabupaten Pidie dan Aceh Barat. Citarasa unik kedua kopi tersebut mampu menarik pasar luar negeri, sehingga Aceh rutin mengekspor kopi.
  3. KOPI LAMPUNG
    Jenis kopi di Lampung adalah kopi Robusta yang ditanam di perkebunan rakyat daerah Lampung Tengah, Lampung Barat, dan Tanggamus. Sebagian besar masyarakat Lampung mencari nafkah dengan memproduksi kopi. Terbukti dari luas perkebunan kopi di Kabupaten Barat yang mencapai hampir 60 ha dengan produksi biji kopi kering yang mencampai hampir 30 ribu per ton setiap tahunnya. Tahun 2009, kopi di Lampung Barat mendapat gelar juara satu nasional dengan kategori mutu biji kopi terbaik. Rasa kopi Robusta di Lampung lebih pahit dan agak asam. Kadar kafeinnya juga tinggi.
  4. KOPI MANDAILING NATAL
    Kopi Arabika Mandailing dibawa oleh Belanda ke Indonesia pada tahun 1699. Ketika itu, jenis kopi Arabika ditanam pertama kali di daerah Mandailing Natal, Kapubaten Pakantan, Sumatera Utara. Kemudian kopi Arabika mulai ditanam di daerah Tapanuli Utara (Lintong Nihuta dan wilayah di sekitar Danau Toba) dan Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah). Kopi Mandailing Arabika telah dikenal dunia sejak 1878. Kopi ini tumbuh baik di ketinggian 1.200 kaki di atas permukaan laut. Saat ini, Kopi Mandailing Arabika hanya ditemukan di dataran Mandailing. Kopi ini memiliki citarasa dan aroma yang kuat. Ada juga sih kopi Robusta yang ditanam di sana, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang kopi Arabika.
  5. KOPI LAHAT
    Kota Lahat merupakan kota tertua di Sumatera dengan usia lebih dari 100 tahun. Sejak zaman penjajahan Belanda, budaya minum kopi di Lahat sudah digalakkan. Di kabupaten Lahat terdapat banyak terdapat kebun kopi. Sayangnya, pemasaran kopi dikuasai tengkulak, sehingga harga beli kopi dari petani sering dipermainkan. Kualitas Kopi Lahat nggak perlu diragukan lagi. Karena, proses produknya cukup rumit. Mereka harus menentukan kualiras kopi dari kadar kering bijinya. Pengeringan kopinya aja memakan waktu empat sampai enam hari.
  6. KOPI TAKENGON
    Daerah Takengon yang memiliki letak geografis di salah satu rangkaian bukit barisan juga menjadi produsen kopi nikmat. Apalagi, letaknya juga berada di ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut. Tanahnya yang subur dan curah hujannya yang tinggi juga membuat daerah ini cocok untuk menanam kopi, terutama jenis Arabika. Hampir semua penduduk di Takengon memiliki kebun kopi. Saking nikmatnya Kopi Takengon, kopi ini sudah merambah ke Eropa Timur dan Amerika Serikat, lho!
  7. KOPI LIWA (LUWAK)
    Liwa adalah daerah pegunungan yang berada di Lampung Barat dan menghubungkan tiga provinsi, yaitu Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Selatan. Perkebunan kopi di Liwa tidak jauh dari Danau Ranau. Kopi ini lebih akrab dengan sebutan Kopi Luwak. Soalnya, setelah kopi disortir dan dipilih yang terbaik (yang tenggelam ketika direndam air), kopi diberikan kepada hewan luwak untuk dimakan. Kotoran yang dikeluarkan berwujud biji kopi lalu dikumpulkan dan dipisahkan agar tidak lagi berbentuk gumpalan. Kemudian dijemur hingga kering. Biji yang sudah bersih dan kering dibawa ke biji pabrik pengolahan kopi. Karena proses yang cukup ribet itulah, harga Kopi Luwak menjadi sangat mahal, berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Meskipun mahal, tapi Kopi Luwak sangat terkenal di kalangan mancanegara.
  8. KOPI BESEMAH
    Kopi Basemah adalah kopi yang berasal dari Sumatera Selatan. Dengan rasa dan aromanya yang gurih, Kopi Basemah menjadi kopi favorit di Sumatera Selatan. Jenis kopi yang ditanam adalah kopi Robusta. Kopi tersebut ditanam di dataran tinggi di sekitar perbukitan atau pegunungan daerah Pagaralam. Kini, di Pagalaram sudah banyak pengusaha kopi, tapi proses penggorengan biji kopi menentukan rasa dan aroma kopi. Di Kawah Dempi, biji kopi digoreng dengan kayu bakar dan bakaran apinya selalu diawasi agar nggak terlalu besar dan nggak terlalu kecil. Dengar-dengar, Kopi Basemah juga menjadi favorit Ratu Yuliana (Ratu Belanda).
  9. KOPI PAGARALAM
    Selain Kopi Basemah, daerah Pagaralam juga menghasikan Kopi Pagaralam. Nggak heran jika kawasan Pagaralam mampi menghasikan biji kopi yang baik, soalnya letaknya berada di atas permukaan laut dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter. Selain jadi pusat perkebunan kopi dan teh. di kiri jalannya juga ada sawah yang luas. Biasanya, para petani di sana menyimpan buah kopi dengan kondisi masih terbungkus kulit agar lebih awet dan tak mudah menyusut. Ketika harga kopi sedang tidak bagus, mereka menyimpan buah kopi di dalam karung-karung besar. Ketika harga kopi membaik, barulah buah kopi tersebut diolah menjadi kopi.
  10. KOPI EMPAT LAWANG
    Hampir di semua tempat di kawasan Empat Lawang memiliki kebun kopi, sehingga kota ini memiliki ikon biji kopi yang patut dibanggakan. Kopi yang dihasilkan juga khas karena merupakan campuran kopi Arabika dan Robusta. Penampilannya seperti kopi Robusta, namun memiliki aroma Arabika. Keunikan tersebut membuat Kopi Empat Lawang terkenal di banyak kota. Sayangnya, ketika sudah dikirim ke kota lain, cap kopinya sering diganti dan diaku daerah lain sebagai hak milik.
  11. KOPI CURUP-KEPAHIANG
    Curup dan Kepahiang adalah daerah penghasil kopi di Bengkulu, sehingga kopinya akrab dengan sebutan Kopi Bengkulu. Jenis kopi yang dihasilkan adalah kopi Robusta dan kerap diolah dengan cara tradisional. Selain kopi, di kiri dan kanan Curup-Kepahiang juga kaya akan tanaman durian!
2 | Kopi Arabika Kintamani, Bali

Kopi Kintamani menjadi salah satu kopi yang populer di Jepang, Eropa, dan beberapa negara Arab. Tujuan ekspor utama kopi Kintamani memang di tiga negara tersebut. Rasanya unik karena dominasi asam citrus segar dan aroma wangi bunga, dengan tingkat keasaman dan kekentalan sedang.

Kopi Kintamani Rasa Khas Kopi Bali

Kopi Kintamani Bali

Dilarang Panen Kopi Jika Belum Berwarna Merah

Kopi Bali Kintamani dihasilkan dari tanaman kopi arabika yang ditanam didataran tinggi Kintamani, tepatnya di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, dengan ketinggian diatas 900 mdpl. Kawasan Kintamani berada dilereng gunung berapi batur. Dengan jenis tanah Entisel dan Inceptisol (Regusol). Kawasan ini memiliki udara yang dingin dan kering dengan curah hujan yang banyak selama 6-7 bulan musim hujan. Tanaman-tanaman kopi arabika terbentuk dari varietas-varietas terseleksi. Pohon kopi ditanam dibawah pohon penaung dan dikombinasikan dengan tanaman lain dan dikelola serta diberi pupuk organic. Kopi ini memiliki citarasa yang khas yakni aroma citrus dengan tingkat keasaman yang rendah, sehingga banyak diminati oleh konsumen Internasional.

Hasil kopi ini adalah yang diandalkan. Bahkan menjadi salah satu dari tiga kopi Indonesia yang mendapat sertifikat Indikasi Geografis Unik, lebih dikenal dengan nama Indikasi Geografis. Bukan cuma itu, Kopi Kintamani memiliki Sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual dengan Indikasi Geografis. Artinya Kopi Kintamani adalah yang pertama mendapatkan sertifikat HAKI dengan Indikasi Geografis.

Kopi jenis arabika yang tumbuh di kawasan wisata Kintamani, memiliki keunggulan yang diakui konsumennya mancanegara, di antaranya citarasa yang khas, tahan hama penyakit, berbuah lebat serta produktivitas tinggi. Gelondong merah dipetik secara manual dan dipilih dengan cara seksama dengan persentase gelondong merahnya 95%. Kopi gelondong merah selanjutnya diolah secara basah, Dengan fermentasi selama 12 jam atau 36 jam serta dikeringkan secara alami dengan cara menjemur. Teknik olah yang dikembangkan oleh petani Kintamani bisa mewujudkan potensi mutu kawasan Kintamani.

Karakteristik Kopi Kintamani Bali (biji kopi dan citarasa) telah diteliti secara mendalam sejak 2003. Pada tahun 2003-2004 dan 2006 telah diambil ratusan sample yang dianalisis oleh para ahli kopi di-PPKKI (jember) dan cirad (montpelllier, prancis). Penelitian ini menghasilkan data-data yang konsisten berkenaan dengan ukuran biji kopi dan citrarasanya. Pengambilan sampel kopi telah dilakukan pada tahun 2003 (100 sample), tahun 2004 (66 sample),dan tahun 2006 (38 sample). Pada derajat sangrai sedang (medium roast) Kopi Kintamani menunjukkan hasil sangrai yang homogeny, serta aroma kopi kopi yang terkesan manis dan ada sedikit aroma rempah-rempah.

Hasil analisis sensorial menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun ini rasa Kopi Kintamani memiliki tingkat keasaman reguler yang mencukupi, mutu dan intensitas aroma yang kuat, dengan aroma family buah jeruk (rasa jeruk dan jeruk nipis). dan kekentalan sedang. Ini berarti kopi arabika bali kintamani memiliki potensi cita rasa yang tinggi. Kopi arabika Bali Kintamani biasanya dapat dikatakan tidak terlalu pahit (bitter) dan tidak sepat (astringent). ini disebabkan karena para petani Bali Kintamani memiliki kepedulian yang tinggi tentang tata cara petik pilih (gelondong merah saja) selama panen. pada umumnya, tidak terdapat cacat rasa yang signifikan dari rasa Kopi Kintamani ini. Salah satu alasanya bahwa para petani Kintamani telah mempraktekkan prinsip-prinsip “praktek pengolahan yang baik”(good manufacturing practices, GMP).

Bali baru memperdagangkan tiga jenis hasil perkebunan ke pasaran ekspor selain kopi juga kakao dan ini merupakan mata dagangan jenis baru dari Pulau Dewata dan sudah memasuki pasar mancanegara. Selain kopi arabika Kintamani untuk Bali, ada tanaman teh, kakao, karet, kelapa sawit, kelapa serta komoditas lainnya. Mengenai luas wilayah khusus untuk kopi arabika Kintamani Bali meliputi 64 wilayah subak abian. Peran Subak dan mengembangkan dan menjaga keaslian Kopi Kintamani ini yang cukup besar. Mereka selain mengatur sistem tanam subak, juga memberikan kesejahtraan kepada para petaninya dengan mengatur harga pasar.

Tidak itu saja dalam subak melekat juga aturan adat yaitu petani memiliki kesepakatan, bahwa anggotanya harus bertani secara organik. Tak boleh ada anggota yang menggunakan bahan kimia. Pupuk dan pestisidanya juga organik. Selain untuk memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produksi, juga agar memenuhi standar produk organik. Aturan lainnya adalah anggota dilarang panen kopi jika belum berwarna merah. Tujuannya agar kualitas kopi tetap bagus. Jika ada anggota yang melanggar, maka dia akan mendapat sanksi adat.

Ketatnya aturan adat itu sebagai hukum moral yang sudah diwariskan secara turun-temurun, sehingga tidak ada petani yang berani melanggarnya. Bahkan hasil kopi arabika hasil panenan petani di Kecamatan Kintamani ini juga diproses dengan baik menghasilkan kopi kualitas ekspor dan mampu menembus sejumlah pasar mancanegara. Dengan adanya pengembangan kawasan komoditas unggulan ini, diharapkan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia maupun penggunaan aset alat mesin, termasuk pendayagunaan sumber daya tanaman diharapkan akan terkelola lebih baik.

Kopi ini dapat ditemukan di banyak pusat oleh-oleh khas Bali. Namun jika ingin membeli dan melihat langsung proses pengolahan kopi secara tradisional, silakan datang ke kawasan Kintamani, Bali.

ksmtour

3 | Kopi Arabika Toraja

Beberapa negara yang menjadi tujuan utama ekspor kopi Toraja adalah Jepang dan Amerika, karena karakteristiknya unik, sesuai dengan kebiasaan minum kopi di sana. Kopi Toraja biasanya tidak menyisakan after taste pahit yang bagi sebagian orang terasa mengganggu.

Sensasi pahit yang ditimbulkan biji kopinya hanya ada di awal dan hilang dalam sekali teguk. Kopi Toraja dan mayoritas kopi lainnya yang tumbuh di Sulawesi cenderung punya rasa earthy,seperti rasa tanah atau hutan dengan kandungan asam rendah.

Di setiap kopi nikmat, ada beragam variabel yang membuatnya istimewa: lokasi, variasi, metode pengolahan, ketinggian, dan lainnya. Toraja adalah daerah pegunungan yang dihuni oleh kelompok etnis Toraja. Seperti kebanyakan di Indonesia, ini adalah lokasi yang basah dan lembab. Wilayah yang terletak di Sulawesi selatan ini mempunyai letak geografis area pegunungan yang sangat cocok untuk pengembangan budidaya kopi dengan kualitas yang sangat prima. Hal tersebut sudah diketahui sejak penjajahan Belanda ratusan tahun silam. Wilayah Toraja juga dikenal sebagai wilayah yang mempunyai budaya dengan pesona indah yang tidak ditemukan di wilayah Indonesia lainnya. Disamping itu daerah ini sangat dikenal sebagai penghasil kopi dengan aroma wangi yang memikat selera para penikmat kopi dengan selera tinggi. Bagi anda yang berkunjung ke Tana Toraja khususnya di Rantepao tidak lengkap rasanya jika kunjungan tersebut tidak disempurnakan dengan menikmati Kopi Arabica asli Toraja.

Toraja merupakan salah satu kota penghasil kopi arabika di Indonesia, berlokasi di bagian selatan dari Pulau Sulawesi yang didominasi dengan kontur dataran tinggi berupa pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.200 mdpl dan berjenis tanah endapan liat/marine memberikan satu keunggulan yang mampu membuat kualitas kopi dari Tana Toraja memiliki keunikan dari segi karakteristik rasa dan aroma.

Ada beberapa Negara yang sangat menggemari kopi Torja terutama Jepang, makanya tidak heran kalo kopi Toraja kini sudah dipatenkan Jepang oleh perusahaan bernama Key Coffe pada tahun 2005. Di Jepang kopi Toraja di anggap sebagai barang mewah, sekitar 40 persen kopi yang beredar di Jepang adalah kopi Toraja. Penikmat kopi Toraja dinegara matahari terbit ini berasal dari kalangan menengah keatas karena untuk mendapatkan secangkir kopi Toraja mereka harus membayarnya dengan harga cukup tinggi.

Karakter kopi “Toraja” Sulawesi

Kopi Sulawesi rasanya bersih, mereka secara umum menampilkan ciri karakter rempah-rempah atau kacang-kacangan, seperti kayu manis atau cardamom (sejenis jahe). Karakter lada hitam kadang-kadang juga ditemukan. Rasa manis mereka, seperti halnya kebanyakan kopi-kopi Indonesia, berhubungan erat dengan kekentalan kopi. After taste-nya akan menyelubungi langit-langit mulut di akhir minum kopi, halus dan lembut. Kebanyakan kopi Sulawesi dibudidayakan oleh perkebunan kecil, dengan sekitar 5% berasal dari tujuh perusahaan yang lebih besar Petani-petani Sulawesi menggunakan suatu proses yang unik disebut “giling basah”.

Kopi toraja kalosi sendiri memiliki aroma kopi spesial ini khas dengan tingkat keasaman yang rendah, halus, lembut, citarasa floral dan fruity. Sensasi rasa kopinya kuat, menembus lidah. Juga ada rasa kecut. Pahitnya muncul di ujung lidah tak lama setelah diteguk. Penampilan kopinya tampak lebih bening setelah dituang ke dalam cangkir, mirip teh pekat

“Kopi Toraja adalah jenis kopi Arabica yang disebut “queen of coffe”. Cirinya adalah kopi ini memiliki aroma khas seperti aroma tanah. Rasa pahitnya menonjol, namun dengan kadar asam yang rendah, tidak bikin mual ketika meminumnya.”

Coffeeland Indonesia menyediakan beberapa Kopi Arabica Specialty Singgle Orgin dari beberapa daerah Indonesia yang sudah dikenal baik di dalam maupun di luar negri. Ada beberapa jenis kemasan Kopi Arabica Specialty Singgle Orgin untuk anda coba, agar anda bisa menemukan karakter rasa kopi apa yang cocok untuk memanjakan lidah anda. Kemasan yang tersedia mulai dari 125gr, 250gr, 500gr hingga 1Kg.

Adapun Kopi Arabica Specialty Singgle Orgin yang tersedia di Coffeeland yaitu : Kopi Arabica Aceh Gayo Specialty, Kopi Arabica Toraja Specialty, Kopi Arabica Flores Specialty, Kopi Arabica Bali Specialty, Kopi Arabica Java Specialty, Kopi Arabica Malabar Specialty, Kopi Arabica Mandheling Specialty, Kopi Arabica Wamena Specialty, dan Kopi Arabica Blue Korintji Specialty. Message +62 878-2595-8155 on WhatsApp

4 | Kopi Arabika Java Ijen Raung

Satu kontainer kopi Java Ijen Raung khas Bondowoso pertama kali diekspor pada 2011, tapi popularitasnya di luar negeri kian meroket. Hingga 2016, Indonesia berhasil mengekspor 43 kontainer atau setara dengan 858,91 ton kopi. Kopi Java Ijen Raung punya ciri khas unik yakni rasa sedikit pedas dengan aroma bunga hutan. Tingkat asamnya sedang, tapi cenderung ke asam Jawa daripada citrus.

Kopi Arabika Ijen Raung BLUE MOUNTAIN

Dipublish pada 15 August 2018 | ijencoffee_dot_com

Arabika Ijen Raung varietas Blue Mountain atau yang biasa disebut dengan nama “Java Blue Mountain” menjadi perbincangan hangat pada tahun 2018. Hal ini disebabkan kopi ini menjadi primadona para penikmat kopi di Indonesia sehingga cafe dan roastery banyak yang bertanya kepada penulis, “Mas, apakah punya Arabika Ijen Blue Mountain?”, ada juga yang bertanya “Mas, Java Blue Mountain nya perkg berapa untuk Green Bean?” dan masih banyak pertanyaan lainnya. Baik melalui media sosial atau telefon secara langsung.

Apakah yang membuat kopi Arabika IJEN RAUNG Varietas BLUE MOUNTAIN menjadi sangat istimewa?

Hal ini bisa dikarenakan 2 hal :

  • Varietas langka, hanya sedikit petani yang menanam kopi Arabika Ijen Raung varietas Blue Mountain. Hal ini disebabkan karena produktivitas yang kurang begitu baik, hanya berkisar antara 50 s/d 60% jika dibandingkan jenis varietas USDA, Cobra, Catimor. Lini S dan lainnya. Sehingga petani merasa kurang menguntungkan menanam varietas ini, karena petani menjual dalam bentuk Cerry Red (glondong merah).
  • Cita Rasa yang unik, Beberapa teman Barista dan Roastery memberikan testimoni yang hampir sama yaitu Kopi Arabika Ijen Raung varietas Blue Mountain memiliki wangi melati yang kuat, sweet like sugar cane dan juicy body menjadi daya tarik tersendiri atas kopi ini.

Sejarah kopi Arabika Ijen Raung Blue Mountain.

Sebenarnya terdapat beberapa versi tentang asal usul dan sejarah kopi arabika Ijen Raung Blue Mountain. Namun yang paling masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (menurut penulis) bahwa bibit kopi ini berasal dari Jamaica daerah pegunungan “Blue Mountain” yang dibawa oleh Belanda ke Indonesia pada masa penjajahan dahulu. Oleh Belanda kopi ini dicoba ditanam dibeberapa daerah di Nusantara, salah satunya di pulau jawa khususnya di lereng Ijen Raung. Di lereng Ijen Raung kopi ini coba dibibitkan dan ditanam di suatu daerah yang bernama “Gunung Blau”, apakah nama “Gunung Blau” ini sudah ada sejak dahulu atau dinamakan begitu karena ditanami kopi Arabika Blue Mountain? Penulis sampai sekarang belum menemukan referensi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan dilereng Ijen Raung sendiri pada mulanya penduduk disekitar hutan atau kebun milik PTPN dilarang menanam kopi Arabika dan hanya boleh menanam kopi Robusta. untuk alasannya pun juga tidak jelas. tetapi ada beberapa penduduk yang nekat menanam kopi arabika ditengah hutan dengan mengambil bibit kopi dibawah tegakan kopi milik PTPN, salah satunya dibawah pohon kopi di “Gunung Blau”.

Sedangkan pada sekitar tahun 1980 an, sudah banyak petani yang menanam kopi arabika, sehingga kopi arabika Varietas Blue Mountain juga ikut menyebar. Walaupun tidak banyak petani yang menanam karena alasan produktivitas.

Karena keterbatasan produksi dan rasa yang unik itulah, harga kopi Arabika Ijen Raung Blue Mountain lebih mahal jika dibanding kopi Ijen Raung Varietas lainnya.

Apabila anda penasaran, dapat menghubungi penulis yang juga Petani Kopi Ijen Raung di nomor WA : 082 330 731 642

5 | Kopi Liberika Rangsang Meranti, Riau

Berdasarkan situs disperin_dot_riau _dot_ go _dot_ id, kopi Liberika dari Kepulauan Meranti telah menyabet sertifikasi Indikator Gegrafis (IG), dan dinyatakan sebagai salah satu hasil pertanian terbaik oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Nasional RI. Kopi ini sangat populer di Malaysia dan Singapura sebagai dua negara tujuan ekspor terbesar.

Kopi Liberika Meranti, Inovasi Desa Kedaburapat di Lahan Gambut

TRIBUNNEWS, RIAU – Siapa yang tak tahu dan tak menyukai kopi? Minuman yang identik dengan warna hitam itu sudah pasti dikenal banyak orang di penjuru dunia. Di Indonesia, kopi melimpah ruah dan setiap daerah memiliki karakternya masing-masing.

Di tanah Sumatera, kopi yang kita kenal mungkin Kopi Gayo dan Kopi Lampung.Namun, di salah satu desa di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, terdapat kopi unik yang tak kalah dari dua contoh kopi di atas.

Liberika Meranti demikian nama kopi unik yang ada di Desa Kedaburapat, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Disebut unik karena Kopi Liberika Meranti memiliki beberapa ciri khas khusus seperti buah kopinya memiliki ukuran yang lebih besar daripada buah kopi arabika maupun robusta. Hal ini karena kulit buah kopinya sangat tebal, sehingga tidak dapat diproses secara manual.

Ketebalan kulit kopi ini membuat kopi liberika tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Kopi liberika juga memiliki kandungan kafein yang lebih rendah daripada jenis kopi lainnya serta aman untuk lambung.

Satu keunikan kopi yang hampir tidak ada di jenis kopi lain adalah kemampuannya tumbuh di tanah gambut yang sangat sulit ditanami.

Dalam sekali panen, bisa mencapai 100 kg, dengan kisaran harga jual kopi besarannya Rp2.500/kg. Setiap petani bisa mendapat Rp 250 ribu per 20 hari. (dok. Kompas.com)

Namun, justru di Desa Kedaburapat yang tanahnya ber gambut itulah, kopi unik tersebut berhasil dibudidayakan. Tak salah kalau kemudian Pemerintah Desa dan Masyarakat Desa Kedaburapat terus berinovasi untuk mengembangkan penanaman kopi Liberika Meranti ini.

Al-Hakim, salah satu petani kopi Liberika Meranti, mengatakan kopi tersebut berbeda dengan kopi arabika atau robusta, yang notabenenya tumbuh di dataran tinggi.

“Biji kopi Liberika Meranti ini dapat tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian hanya 1 meter di atas permukaan laut. Padahal tanah gambut ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi, namun kopi Liberika justru tumbuh dan sukses ditanam di lahan ini” kata Hakim saat ditemui di Desa Kedabu Rapat, Riau, Rabu (9/4/2019).

Dengan kemampuannya tumbuh di tanah gambut menurut Hakim membuat Kopi liberika kini menjadi produk unggulan Desa Kedaburapat, selain juga ada pinang dan kelapa.

Hakim bahkan sudah mematenkannya ke tingkat pusat lewat Kementerian Pertanian dan Kementerian Hukum dan HAM dengan nama kopi Liberika Meranti. Bicara soal bibit, Hakim mengatakan jika ia memiliki 222 batang induk pohon kopi liberika dan sudah mempunyai varietas unggul nasional.

Meski tumbuh di tanah gambut namun ada perlakuan unik pada tanah untuk proses penanaman Kopi Liberika Meranti. Sebelum penanaman, tanah gambut dipadatkan terlebih dahulu selama 3-4 tahun. Sembari menunggu tanah padat, warga menyiapkan bibit kopi yang sudah disemai di dalam polybag.

Setelah tanah memadat, gambut tersebut kembali dibersihkan dengan membuat pancang lobang dengan kedalaman 40 x 40 cm dan didiamkan selama setengah bulan.

Kemudian membuat parit-parit kecil sebagai jalannya air yang dihasilkan oleh gambut tersebut.Sementara untuk pemupukan sebaiknya diberikan 3-4 kali selama setahun dengan pupuk organik saja.

Menurut Hakim tanaman kopi Liberika Meranti dipanen setiap 20 hari sekali.Dalam sekali panen, bisa mencapai 100 kg, dengan kisaran harga jual kopi besarannya Rp2.500/kg.Setiap petani bisa mendapat Rp 250 ribu per 20 hari.Hasil panen kopi Liberika tersebut, dikatakan Hakim, diekspor ke berbagai negara tetangga, terutama ke Malaysia.

“Selain untuk konsumsi diminum, kami juga tengah mengembangkan inovasi lain untuk produk kopi Liberika, yakni untuk pengharum ruangan dan mobil. Kami berharap dengan inovasi-inovasi ini produk kopi Liberika Meranti menjadi lebih unggul dan dapat mengharumkan nama desa dan nama Indonesia,” jelas Hakim.

Adapun inovasi desa dan hasil positif tersebut tak lepas dari peran pemerintah pusat, melalui Kementerian Desa PDTT. Lewat Dana Desa yang digulirkan pemerintah pusat dan dikawal penggunaannya oleh Kementerian Desa, desa didorong untuk berinovasi agar menjadi semakin mandiri dan meningkatkan kesejahteraan seluruh warganya.

Kepala Desa Kedaburapat, Mahadi mengatakan, untuk menunjang aktivitas ekonomi petani kopi Liberika Meranti, dana desa yang diterima Desa Kedaburapat dimanfaatkan untuk memperbaiki jalan usaha tani.

Dengan perbaikan jalan usaha tani, petani kopi yang sebelumnya hanya dapat mengangkut hasil panen kopi sebanyak 50 kilogram dengan menggunakan sepeda kayuh, kini, petani kopi dapat mengangkut hasil panen kopi sebanyak 200 kilogram dengan menggunakan gerobak yang ditarik sepeda motor.

Perlu diketahui letak desa Kedaburapat berada di gugusan pulau terluar di Selat Malaka, memiliki tantangan yang tak mudah.

Selain menghadapi ancaman intrusi air laut masuk ke pemukiman warga, tanah di desa ini tidak stabil karena seluruhnya adalah tanah gambut yang tidak padat.

Tidak ada kendaraan roda empat yang bisa melintas di desa ini, karena jalan desa hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur jalan menjadi sangat mendesak dan penting di desa ini, terutama untuk membantu aktivitas ekonomi warga desa serta membantu akses kesehatan warga.

“Dana desa kami alokasikan terutama untuk menunjang aktivitas ekonomi warga melalui pembangunan infrastruktur jalan, khususnya perbaikan jalan usaha tani bagi para petani desa, atau JUT (Jalan Usaha Tani).Dari tahun 2015 sampai 2018, jalan usaha tani yang dibangun dan diperbaiki total sepanjang 4.000 meter,” kata Mahadi.

Ternyata kondisi geografis yang sulit dan letak yang terpencil, tidak menjadi penghalang bagi warga desa Kedaburapat untuk melakukan inovasi desa.

Bagaimana dengan desamu? Apa potensi dan produk unggulan desamu yang bisa dikembangkan? Yuk mulai dari desa, berinovasi mulai dari desa, agar desa semakin maju dan mandiri.

6 | Kopi Arabika Flores Bajawa

Kekentalan cukup pekat, tapi tingkat keasamannya rendah. Berbeda dengan kebanyakan kopi di Indonesia, kopi Arabika dari kawasan Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur, punya rasa dominan cokelat dan vanili dengan after taste yang sedikit nutty. Amerika adalah negara tujuan sebagian besar ekspor kosmoditas kopi Flores Bajawa.

Cita Rasa Unik Kopi Flores Bajawa yang Organik

Karakter kopi flores bajawa yang khas adalah perpaduan aroma nutty dan tembakaunya. Body-nya tebal dengan acidity yang seimbang menciptakan kenikmatan tersendiri. Keunikan cita rasa ini juga dipengaruhi oleh cara budidaya yang organik dan ditanam di tanah yang mengandung abu gunung berapi.

Pulau Flores berada di provinsi Nusa Tenggara Timur dan termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat. Namanya berasal dari bahasa Portugis, cabo de flores yang berarti bunga.

Selayaknya bunga, keindahan Pulau Flores memang tidak bisa ditawar lagi. Pulau ini memiliki segudang kekayaan alam yang tidak hanya bisa memanjakan mata, tapi juga membuat takjub akan kebesaran Tuhan. Selain itu, Flores juga terkenal dengan kopinya yang khas dan menjadi primadona dunia.

Pulau indah ini mengandung tanah dari abu gunung berapi (andosol) yang sangat ideal untuk ditanami kopi organik. Ini pula yang menjadi ciri khas kopi-kopi di daerah ini, pembudidayaannya dilakukan menggunakan pupuk alami dan tanpa pestisida. Cara organik yang demikian membuat cita rasa kopinya unik dan mengandung aroma-aroma yang alami.

Setidaknya ada dua nama yang dikenal sebagai penghasil kopi flores terbaik, yaitu Bajawa dan Manggarai. Namun, artikel ini hanya membahas seputar karakter kopi flores bajawa. Pembahasan karakter kopi flores manggarai mungkin bisa diulas pada kesempatan berikutnya.

Bajawa adalah sebuah kota di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Daerah ini terkenal dengan perkebunan kopinya yang mendunia. Jenis kopi yang ditanam di perkebunan tersebut adalah arabika.

Karakter kopi flores bajawa ini tidak sama dengan kopi-kopi nusantara lainnya. Keunikannya adalah terdapat aroma nutty atau kacang-kacangan serta semerbak tembakau pada aftertaste-nya.

Body-nya tebal sehingga teksturnya cenderung kental, sedangkan tingkat keasamaan atau acidity-nya sedang. Tidak begitu mengganggu bagi orang yang punya masalah pada lambung.

Jika Anda tinggal di Pulau Jawa dan ingin beli kopi bajawa, tidak usah jauh-jauh pergi ke NTT. Banyak kedai-kedai atau produk-produk specialty coffee menyediakan kopi flores bajawa.

Beberapa menggunakannya sebagai racikan house blend untuk memadukan rasa kopi flores bajawa dengan origin lain. Sebagai contoh, Sasame Coffee juga menggunakan flores bajawa dalam racikan house blend-nya. Untuk membuktikan kenikmatannya, Anda perlu mencobanya.

Jangan lupa kunjungi pula Kopipedia untuk mendapatkan info-info menarik lainnya. Selamat ngopi!

7 | Kopi Robusta Temanggung

Aroma cukup unik, yakni aroma tembakau dengan rasa pahit pekat dan mendominasi. Namun itulah yang membuat kopi khas Temanggung, Jawa Tengah, ini sangat autentik dan digemari. Bahkan pasar ekspornya sudah mencapai negara-negara Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika Latin.

Mengenal Jenis dan Karakter Kopi Temanggung Asli

Jenis dan Karakter Kopi Temanggung – Kopi merupakan komoditas perkebunan yang paling akrab dengan masyarakat, mulai dari kalangan ekonomi atas sampai bawah. Hingga saat ini, selain kelapa sawit, karet, dan kakao, kopi masih menduduki komoditas andalan ekspor hasil perkebunan Indonesia. Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang diharapkan mampu meningkatkan nilai devisa ekspor Indonesia . Berdasarkan data statistik Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah tahun 2014, kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang cukup berpotensi terutama jika dilihat dari proporsi luas lahan tanaman kopi, khususnya kopi jenis robusta seluas 8.158,55 hektar dengan produksi 7.388,79 ton.

Sentra Kopi Terbesar di Jawa Tengah, Ada di Temanggung

Kabupaten Temanggung dikenal sebagai salah satu produsen tanaman kopi terbesar di Jawa Tengah. Daerah sentra kopi tersebar di beberapa kecamatan, diantaranya Kandangan, Bejen, Candiroto, Wonoboyo, Pringsurat dan Jumo. Karena kualitasnya yang baik, kopi produksi Temanggung tidak hanya menjadi konsumsi lokal dan pabrikan. Namun telah menembus pasar ekspor. Sayangnya, mayoritas kopi Temanggung masih dijual oleh petani dalam bentuk biji. Jenis tanaman perkebunan rakyat yang sangat menonjol adalah tanaman kopi arabika, kopi robusta dan tembakau. Produksi tanaman perkebuann rakyat yang mengalami peningkatan pada tahun 2013 adalah tanaman kopi arabika dan tebu sedangkan yang lainnya mengalami penurunan. Sebagian besar (94%) perkebunan kopi diusahakan oleh rakyat, sedangkan sisanya oleh perkebuman milik negara atau swasta.

Komoditas kopi baik yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat maupun perkebunan besar, selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk memasok pabrik seperti Tugu Luwak, Nescaffe, Java Coffe, Torabika, dan lain-lain. Pada umumnya perkebunan kopi rakyat belum dikelola secara baik seperti pada perkebunan besar sehingga berbagai masalah muncul salah satunya yaitu masalah produktivitas. Produktivitas yang tinggi akan dicapai apabila semua faktor produksi dialokasikan secara optimal.

Karakter Kopi Temanggung

Kopi robusta maupun arabica Kabupaten Temanggung memiliki ciri dan karakter khas tersendiri. Robusta memiliki aroma lebih harum dibanding kopi robusta daerah lain. Begitu pula kopi arabica memiliki cita rasa khas, yaitu asam yang tertinggal lama di mulut. Cita rasa kopi ini tidak ditemukan pada cita rasa kopi daerah lain.

Ada dua jenis kopi yang dihasilkan petani di kabupaten Temanggung ini. Robusta yang dihasilkan dari kecamatan Pringsurat, Kranggan, Kaloran, Kandangan, Jumo, Gemawang, Candiroto, Bejen, dan Wonoboyo. Sedangkan kopi jenis Arabika berada di dataran tinggi Temanggung. Hanya saja populasi jenis Arabika ini tidak sebanyak kopi jenis Robusta. Karena pada dataran tinggi tersebut banyak ditanami tanaman tembakau, dan tanaman kopi Arabika hanya menjadi sebagai sekat pembatas antar tanaman.

Meskipun populasi Arabika masih tergolong kecil, namun minat petani untuk menanam sudah menunjukkan perkembangan. Kopi Arabika tumbuh pada dataran 800 mpdl keatas. Sedangkan kopi jenis Robusta tumbuh di bawahnya. Pergerakan petani kopi di Temanggung tergolong sangat dinamis. Mereka tidak hanya menjual biji kopi dalam bentuk green bean saja, namun mereka juga mengolah dan memasarkannya sebagai bubuk kopi. Cita rasa yang dihasilkan pun beragam tergantung jenis kopi masing-masing. Ada Arabika, Robusta dan ada pula campuran dari keduanya.

Pengolahan Kopi Temanggung

Pengolahan biji kopi ini sudah dilakukan sejak tahun 1980-an. Pada saat itu pun mereka sudah memulai memasarkan produk olahannya ke warung-warung terdekat di sekitar rumah mereka. Mereka memasarkan kopi dalam bentuk kemasan plastik tanpa merek. Hingga sekitar tahun 2000-an munculah ide kreatif untuk memasarkan kopi kemasan berlogo.

Pengolahan kopi-kopi kemasan tersebut masih dibilang sangat sederhana. Dari biji kopi yang dicuci, dijemur, disangrai lalu digiling. Setiap merek yang tersedia menjual keunggulan berupa kenikmatan asli kopi. Baik kopi Robusta maupun Arabika kabupaten Temanggung ini memiliki ciri dan karakter yang khas. Kopi Robusta memiliki aroma yang lebih wangi dibandingkan kopi Robusta yang lain. Begitu pula kopi Arabika yang mempunyai ciri khas asam yang tertinggal di mulut.

Sejak tahun 2008 kopi Temanggung ini telah berhasil menembus pasar ekspor. Pada tahun tersebut volume kopi yang di ekspor dapat mencapai 6.000 ton beras kopi dengan nilai ekspor Rp 63 milyar. Dari data tersebut maka dapat diketahui bahwa penikmat kopi asal Temanggung tidak hanya berasal dari masyarakat local saja, melainkan dari mancanega. Saat ini kopi Temanggung pun sudah mulai marak di perbincangkan di dunia perkopian nusantara.

Supplier Kopi Temanggung

Minat ingin mencicipi kopi temanggung asli? Kami menyediakan berbagai jenis dan karakter kopi temanggung baik biji kopi maupun kopi kemasan siap saji. Kami menjual berbagai macam KOPI TEMANGGUNG, antara lain Kopi Robusta Temanggung, Kopi Arabica Temanggung dengan berbagai macam jenis.

Kopi yang kami sediakan antara lain :

  • Kopi Robusta
  • Kopi Excelsa
  • Kopi Liberica
  • Kopi Arabica
  • Green Coffe ( Kopi Hijau) untuk Diet
  • Yellow Coffe ( Kopi Kuning)
  • Kopi Arabica Winy
  • Kopi Arabica Honey
  • Kopi Arabica Natural

Hubungi : SMS/WA 0813 2707 6559

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.