Category Archives: Silaban

Mengenal Arsitek Kesayangan Bung Karno – Silaban

Arsitek Legendaris

Ars- F- Silaban 550 Arsitek_Silaban_dan_Bung_Karno

Kita tidak akan menemukan jalan Silaban atau nama wisma Silaban di Kota Bogor, padahal beliau adalah seorang arsitek yang terkenal dengan karya-karyanya yang hingga kini masih berdiri kokoh, baik di Kota Bogor dan juga di Jakarta. Bangunan hasil karya Silaban yang hingga kini masih berdiri kokoh antara lain Rumah Dinas Walikota Bogor, dan Masjid Istiqlal Jakarta.

Ide dan Karya F Silaban sebagian muncul antara Tahun 1950 – 1960. Pada kurun waktu tersebut Kondisi Sosial Politik Luar Negeri maupun Dalam Negeri dalam keadaan labil. Keadaan Sosial Politik Luar Negeri dalam pembenahan setelah Perang Dunia II

Sedangkan keadaan Sosial Politik Dalam Negeri dalam taraf renovasi untuk menentukan bentuk Negara Republik Indonesia Kondisi yang sangat menonjol saat itu adalah adanya Kultur Individu terhadap seorang Pemimin, yaitu Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno. Pada saat itu Pribadi F Silaban sangat dekat dengan sosok Soekarno, bahkan sering mendukung ide–ide yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno termasuk ide-ide tentang arsitektur dan produknya..Hal ini dapat dilihat pada saat Presiden Soekarno mencetuskan ide adanya Nation Building, adalah Paham tentang bangunan yang mampu mencerminkan dan membangkitkan kebanggan Nasional, sehingga bangunan–bangunan yang tercetus berskala raksasa, megah dah heroik.

Hal inilah sempat memberikan warna terhadap ide dan karya F Silaban, pada waktu itu sering mendapat pesanan langsung dari Presiden Soekarno. Sang Arsitek kesayangan Bung Karno ini seorang Bapak yang dekat dengan anak–anaknya dan sahabat–sahabatnya,dan beliaulah perancang Mesjid Istiqlal yang memiliki Skala Gigantik.

Mengamati riwayat hidupnya dapat diketahui dengan jelas bahwa waktu yang dijalani sepanjang hidup dan karier sebagai arstiek adalah di Bogor dan Jakarta. Masa kecil di Tapanuli dilalui hanya sebentar setamat HIS (Holland Inlandsche School, Sekolah Dasar Belanda dahulu) di Narumonda tahun 1927. Melanjutkan pendidikan pada Koninginlijke Wilhelmina School, KWS, yaitu Sekolah Tehnik jaman Belanda tahun 1931 di Batavia: setelah tamat dari KWS, langsung bekerja di Batavia sebagai juru gambar (Bouwkundig Tekenaar Stadsgemeente ) pada kantor Kota Praja Batavia. Bagi F. Silaban, putera kelima keluarga Djonas Silaban, pekerjaan itu dipandang sebagai suatu rahmat.

Ketika lulus dari KWS di Batavia tahun 1931 ia langsung bekerja sebagai Bouw Kundig Tekenar Stads gemeente mulai Mei–Juni 1931 dan langsung setelah itu menjabat Opzichter Geniedienst di Jakarta sampai tahun 1937. Selanjutnya tahunitu pula ia diangkat sebagai Geniedief Pontianak untuk daerah Kalimantan Barat. Jabatan itu diembannya hingga tahun 1939.

Kepindahannya ke Bogor sebagai Opzichter Tekenaar Stadsgemeente Bogor mengawali babak baru di dalam riwayat hidupnya, baik sebagai warga Bogor maupun sebagai Arsitek yang selanjutnya ia bolak – balik Jakarta – Bogor.

Mengingat proyek–proyek yang ditanganinya kebanyakan berlokasi di Jakarta dari tahun 1939 – 1949, Silaban tidak pernah lepas dari tugas dan jabatan yang berkaitan dengan lingkup pekerjaan umum, Berturut – turut tahun 1942 – 1947 menjabat Kepala PU dan Direktur PU Kota Bogor .

Tahun 1950, Silaban sempat menjabat sebagai Kepala PU Kota Bogor, Bahkan, selama lima tahun dipercaya menjadi Ketua Panitia Keindahan Kota DKI Jakarta. Dari sejumlah Karya tercatat beberapa hasil rancangannya antara lain:

  • Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor,
  • Kantor Perikanan Darat Sempur, Kota Bogor,
  • Rumah Dinas Walikota Bogor,
  • Bank Indonesia, Jalan Thamrin Jakarta, Bank Indonesia,
  • Masjid Istiqlal Jakarta,
  • Gedung Bank Negara Indonesia 46 di Surabaya,
  • Gedung Bank Indonesia di Surabaya,
  • Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) Pancoran Jakarta, (1962)
  • Gedung Pola Jakarta Hotel Banteng (1962) yang kemudian menjadi Hotel Borobudur.
  • Gedung Universitas Nommensen – Medan (1982)
  • Stadion utama senayan – Jakarta (1962)
  • Rumah Lie A. Hong – Bogor (1968)
  • Gedung BNI 1946 – Medan (1962)
  • Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960)
  • Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960)
  • Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958)
  • Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958)

Sedangkan beberapa karya lainnya rumah tinggal dan monumen–monumen, antara lain :

  • Monumen Nasional Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng Jakarta,
  • Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960)
  • Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)
  • Tugu Selamat Datang Bunderan HI Jakarta,
  • Taman Makam Pahlawan Kalibata (peresmian 10 Nopember 1954,
  • Makam Raden Saleh Bondongan Bogor.
  • Silaban sempat dikukuhkan sebagai Anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas)

Akhirnya bulan Mei tahun 1965, sang arsitek F Silaban pensiun dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Madya Bogor. Masa bebas tugas itu bukan berarti Silaban duduk berpangku tangan. Dari tahun 1967 hingga ahir hayatnya Silaban tercatat sebagai Wakil Kepala Proyek Masjid Istiqlal Jakarta (1954). Sedengkan diluar profesi arsitek, F Silaban menjabat dosen luar biasa.

senayan

Perjalanan seorang Silaban

TAPANULI, 1927. Seorang pemuda, yada suatu hari membaca iklan tentang penerimaan siswa baru STM (d/h Koningin Wilhelmina School) di Batavia. Syaratnya: mengikuti testing berhitung dan menggambar. Lulus testing di kantor Residen Sibolga, ia berangkat ke Batavia mengikuti tes lisan, dengan bekal 100 goelden. Cukup banyak. “Dengan uang itu, kamu masih bisa pulang kalau tidak lulus”, kata orang tuanya

Sialnya, di kapal, uang itu hilang. la menangis. Bagi pemuda yang baru berusia 15 tahun itu, Batavia terasa begitu jauh dari kampung dan amat asing. Sementara menyesali diri karena kurang berhati-hati, seorang orang Arab berjanggut datang menghampirinya.

Di geladag kapal itu, diceritakannya nasib malang yang menimpanya. Terharu mendengar kisah sedih itu, tanpa komentar Arab berjanggut itu memasukkan sejumlah uang ke kantong si pemuda. “Dua genggam penuh tanpa dihitung”, Sampai di Batavia, uang dihitung: 75 goelden. Lumayan. “Tuhan kasih pengalaman pada saya supaya berhati-hati”, ujarnya.

Sejak itu, katanya, ia tak pernah lagi kehilangan, “walaupun saya berkali-kali ke luar negeri”.

Silaban, juga dikenal sebagai arsitek yang amat dekat dengan almarhum Bung Karno. Di zaman Jepang, Silaban bekerja di Kotapraja Bogor. Ia sering berkunjung ke rumah sahabatnya, Ernest Dezentje. indo Belanda-Sunda, pelukis tenar saat itu. Bung Karno juga pengagum Dezentje. Maka di rumah pelukis itulah mereka bertemu. Seminggu 3 kali Jum’at, Sabtu dm Minggu Bung Karno selalu di Istana Bogor. Dan pada hari-hari itulah Bung Karno sering memanggilnya.
Silaban mengagumi 2 arsitek dunia: Frank Lloyd Wright (AS) dan Le Corbusier (Perancis). Itulah sebabnya, baginya “kita tak perlu terikat pada arsitektur tradisionil, asal daiam membangun kita tetap setia pada kondisi alam tropis”. Dan karena itulah disain Monas bikinan Silaban begitu megah. Saking megahnya, malah tak dipakai. Tingginya saja sampai 100 meter, dengan mimbar yang mampu menarllpung 20 000 orang.

maket monas

“Bung Karno tak setuju, alasannya kurang bersifat Indonesia”, kata Silabam Akhirnya disain yang dipakai ciptaan arsitek istana, Sudarsono, dengan Bung Karno sendiri sebagai supervisi. “Cuma lihat saja sekarang. Monas jadi kalah dengan gedungnya Bang Ali: Balai Kota. Padahal disain itu saya buat sesuai dengan gagasan Bung Karno untuk mengecilkan Borobudur”, tambahnya. Waktu itu Bung Karno bilang, “harus kita bikin Borobudur jadi kecil”.

Monas

Maksudnya, barangkali, ingin membuat sebuah monumen yang benar-benar megah melebihi Borobudur, satu dari sejumlah kebanggaan dunia itu. Setelah disainnya tak terpakai, Silaban baru sadar. “Bung Karno biasa bersikap begitu karena memang suka bakar semangat. Dan sesudah itu ia mundur teratur” ujar Silaban.

Tentang Istiqlal, meskipun disain sudah siap tahun 1954, pekerjaan persiapan baru mulai tahun 1961, sedang peletakan batu pertama 3 tahun kemudian oleh Bung Karno. Pembangunan itu hanya sampai sekarang sudah 16 tahun. Ketika itu sampai-saunpai gambar orisinilnya sempat hilang. “Untung saya masih punya kopinya”, katanya.

Silaban menilai, naluri Bung Karno dalam melihat yang indah dan tak indah sangat tajam. Ada sebuah proyek mercusuar yang tak jadi dibangun, Menara Bung Karno, yang dulu direncanakan di Ancol dekat Pasar Ikan. “Menara itu direncanakan mirip Donou Turm di Wina. Gambar-gambarnya, sekarang masih disimpan Bang Ali”, ujar Silaban yang untuk persiapan pembuatan disainnya me rasa perlu 2 minggu tinggal di Wina.

Arsitek kesayangan Bung Karno

Silaban sudah mengenal dengan Bung Karno sejak zaman Jepang. ketika itu Silaban mengaku “masih saja dalam politik, bahkan agak naik”. Suatu hari ia bertanya pada Bung Karno, “me ngapa bapak jadi begitu pro Jepang?” Sukarno hanya tertawa saja. Dan pada saat pidato di bioskop Maxim Bogor, antara lain Bung Karno melontarkan kata-kata, “saya tahu di sini ada mata-mata musuh”.

pag04e

Kemudian pemimpin itu, yang didampingi oleh Suzuki, orang Jepang, berbicara tentang kekuatan Jepang dan Amerika. “Secara tatabahasa, pidato itu kalau ditafsirkan bisa berarti Jepang yang kuat”, kata Silaban. “Tapi karena orang Jepang yang mendampinginya tak tahu nuansa bahasa kita, ia tak tahu sebenarnya Bung Karno menjelaskan bahwa Jepang bakal kalah perang. Sejak itu saya yakin bahwa Bung Karno sebenarnya tidak pro Jepang”, tutur Silaban. Ketika hal itu ia ceritakan kepada Bung Karno, yang bersangkutan cuma tersenyum.

Mau Dibunuh

Sejak zaman Jepang (1942) sampai penyerahan kedaulatan (1949) merupakan masa-masa sedin dan gembira. Pernah ditahan Jepang, di masa revolusi pun pernah pula ditahan pemuda peluang – dituduh pro Belanda. Di tahan Jepang di Cipanas, ia dibebaskan oleh tentara Inggeris lalu dibawa ke Sukabumi. Di Sukabumi pernah mau dibunuh oleh tentara pejuang, Silaban dipindah ke kamp Kedunghalang, kawasan elit di Bogor.

Een brug bij een dorp  1948

Di Kedunghalang itu pulalah ia kawin dengan Letty Kievits, gadis Sunda-Belanda, yang kini dianugerahi 10 anak. Sebelum penyerahan kedaulatan, Silaban dan keluarga cuti ke Negeri Belanda. “Tepat pada hari penyerahan kedaulatan itu, 29 Desember 1949, saya berada di kapal”, ujarnya Di Amsterdam, Silaban belajar lagi di Academie van Bouwkunst selama 1 tahun.

Pulang dari Negeri Belanda ia kembali ke Bogor menduduki jabatannya yang lama, Kepala DPU Kotapraja Bogor. Jabatan ini terus dipegangnya sampai ia pensiun tahun 1965. Begitu lama menja bat kepala DPU, katanya, “saya ini nggak pernah naik pangkat”. Arsitek bllkan tamatan perguruan tinggi yang lebih banyak belajar sendiri ini, oleh Bung Karno pernah dijuluki sebagai arsitek “by the race of God “.

Sejak Orde Lama diganyang, Silaban yang begitu dekat dengan Bung Karno selama 3 tahun nganggur. Tapi ia tidak mengalami pemeriksaan seperti halnya orang-orang yang digolongkan sebaga orla. Begitu akrab hingga saya tak l ernah bicara dalam bahasa Indonesia de ngan Bung Karno”, kata Silaban.

Dalam setiap pertemuan, juga dalam sidang Dewan Perancang Nasional (Silaban salah seorang anggotanya), di mana hadir Mr. Moh. Yamin, ir. Rooseno Prof. Priyono, Bung Karno selalu berbahasa Belanda dengan Silaban. Suatu saat Bung Karno minta maaf kepada hadirin, “maaf saudara-saudara, jangan gusar. Kita, Silaban dan saya, lebih memahami jiwa masing-masing kalau bicara dalam bahasa Belanda”.

Punya 2 cucu dari 2 anaknya yang sudah berumah-tangga, di rumahnya jalan Gedung Sawah II (belakang hotel Salak Bogor), Silaban sekeluarga tampak hidup berbahagia. Rumahnya bagus dengan arsitektur menarik, dengan beberapa pohon rindang depan rumahnya.

Di sana nongkrong sebuah mobil Chrysler yang otomatik penuh. “Mobil ini pernah dipakai berkeliling istana oleh Bung Karno”, katanya bangga. Dan sebagai kenang-kenangan, sang mobil kini tak lagi dipakainya. Tapi di hari-hari tertentu “dipanasi” agar mesinnya tetap terpelihara.

Meski dulu suka bekerja keras, kini Silaban harus lebih banyak menjaga kesehatannya. Selama tak bekerja 3 bulan (sejak pengganyangan Orde Lama dulu), ia kejangkitan penyakit kencing manis. “Dulu saya biasa bekerja 14 jam sehari. Dan seperti kebanyakan orang Batak saya juga banyak makan. Rakus”, katanya tertawa. Mungkin itulah sebabnya ia kena diabetes. Dan karenanya ia tak lagi makan atau minum yang manis-manis.

Sumber :
Silaban dot net
Radio Sipatahunan
Bogornews
Majalah Tempo, Edisi. 11/IIIIIII/14 – 20 Mei 1977

Frederich Silaban (1912-1984)

Arsitek Legendaris

Arsitek Pengukir Sejarah Toleransi  – Arsitek Masjid Istiqlal

Dia arsitek pengukir sejarah toleransi beragama di negeri ini. Bung Karno menjulukinya sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal. Friedrich Silaban, seorang penganut Kristen Protestan yang taat kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, wafat dalam usia 72 tahun pada hari Senin, 14 Mei 1984 RSPAD Gatot Subroto Jakarta, karena komplikasi beberapa penyakit yang dideritanya.

Ars- F- Silaban 550

Toleransi beragama yang tinggi sedari dulu telah ditunjukkan oleh umat beragama di Indonesia, baik yang Muslim, Nasrani maupun yang lainnya. Apabila satu pemeluk agama tertentu suatu ketika membangun tempat ibadah, tidak jarang kemudian dibantu oleh umat agama lain. Demikian halnya dalam pembangunan Mesjid Agung Istiqlal. Mesjid yang di awal abad 21 merupakan mesjid terbesar di Asia Tenggara itu, dalam proses pembangunannya telah menyimpan satu sejarah toleransi beragama yang sangat tinggi.

Disebutkan demikian, karena sang arsitek dari mesjid tersebut adalah seorang penganut Kristen Protestan yang taat. Tidak ada yang dibuat-buat sehingga menjadi demikian, namun begitulah memang gambaran toleransi beragama antara umat di negeri ini sejak dulu. Kebesaran jiwa dari umat Islam sangat jelas terlihat disini. Mereka mau menerima pemikiran atau desain tempat ibadah mereka dari seorang yang non muslim. Demikian juga dengan Friedrich Silaban, sang arsitek, telah menunjukkan kebesaran jiwanya dengan terbukanya hati dan pikirannya untuk mengerjakan mesjid yang sangat monumental tersebut.

Pekerjaan karya besar demikian, memang hanya mungkin dilakukan Silaban dengan jiwa besarnya tadi. Sebab dengan perbedaan latar belakang kepercayaan tersebut, maka ia harus terlebih dahulu mampu menjawab pertanyaan yang timbul dalam hati nuraninya sendiri. Pertanyaan dimaksud adalah pantaskah ia sebagai seorang pemeluk Agama Kristen Protestan membuat desain sebuah mesjid?

Sedangkan mesjid dalam hal ini bukanlah sekedar bangunan yang terdiri dari atap genting, dengan dinding batu bata semata. Melainkan merupakan bangunan yang disucikan sebagai tempat umat Islam beribadah dan melakukan kegiatan religius dan sosial lainnya. Apalagi mesjid disini adalah Mesjid Agung Istiqlal (Istiqlal artinya merdeka).

Mesjid yang diniatkan untuk melambangkan kejayaan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mesjid yang merupakan suatu bangunan monumental kebanggaan seluruh umat Islam di Indonesia, dan akan tercatat sebagai mesjid terbesar di Asia Tenggara dijamannya. Karenanya, bangunan ini akan ‘berbicara’ tidak hanya puluhan tahun tapi sampai ratusan tahun kelak.

Pencetus ide pembangunan mesjid ini sendiri adalah KH Wahid Hasyim yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama RI pertama. Selanjutnya, pada 1950 ayah KH Abdurrahman Wahid (Presiden RI keempat) ini bersama-sama dengan H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, Ir Sofwan dan sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman melembagakannya dengan membentuk Yayasan Mesjid Istiqlal.

Lembaga ini kemudian dikukuhkan di hadapan notaris Elisa Pondang pada tanggal 7 Desember 1954. Yayasan Mesjid Istiqlal mengharapkan adanya mesjid yang kelak dapat menjadi identitas bagi mayoritas umat Islam di Indonesia. Gagasan dimaksud, juga mendapat dukungan dari Ir. Soekarno, Presiden RI ketika itu. Bahkan, presiden bersedia membantu pembangunan mesjid.

Demi mendapatkan hasil terbaik, desain mesjid sengaja diperlombakan. Untuk itu dibentuklah tim juri yang beranggotakan Prof. Ir. Rooseno, Ir. H Djuanda, Prof. Ir. Suwardi. Hamka, H. AbubakarAceh dan Oemar Husein Amin yang diketuai langsung oleh Ir. Soekarno.

Setelah melalui beberapa kali pertemuan di Istana Negara dan Istana Bogor, maka pada 5 Juli 1955 tim juri memutuskan desain kreasi Silaban yang berjudul ‘Ketuhanan’ jadi pemenangnya. Dia menciptakan karya besar untuk saudaranya sebangsa yang beragama Islam, tanpa mengorbankan keyakinannya pada agama yang dianutnya.

Sedangkan lokasinya diputuskan di Wilhelmina Park, bekas benteng kolonial Belanda. Karena lokasi yang terletak di depan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat itu tergolong sepi, gelap, dan tembok-tembok bekas bangunan benteng telah ditumbuhi lumut dan ilalang menyemak di mana-mana, maka masyarakat, alim ulama sampai ABRI turun bahu-membahu bekerja bakti membersihkan lokasi tersebut pada tahun 1960. Dan setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 1961, pemancangan batu pertamapun dilaksanakan oleh Ir. Soekarno.

Pembangunan mesjid ini memakan waktu kurang lebih sepuluh tahun. Panjangnya waktu ini karena pembangunannya memang sempat tersendat oleh krisis ekonomi dan iklim politik yang memanas. Disamping itu, kebetulan pula pembangunan mesjid ini berbarengan dengan pembangunan monumen lainnya, seperti Gelora Senayan (sekarang Gelora Bung Karno) dan Monas.

Bahkan meletusnya peristiwa pemberontakan G 30 S PKI pada 1965, mengakibatkan pembangunannya sempat berhenti total. Dan baru dimulai kembali setelah Menteri Agama KH. M. Dahlan mengupayakan penggalangan dana. Kepengurusanpun diganti dan ditangani langsung oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai koordinator.

Mesjid dengan arsitektur bergaya modern yang memiliki luas bangunan sekitar empat hektar dengan luas tanah mencapai sembilan setengah hektar dan terbagi atas beberapa bagian, yakni gedung induk dan qubah, gedung pendahuluan dan emper penghubung, teras raksasa dan emper keliling, menara, halaman, taman, air mancur, serta ruang wudhu itu akhirnya terselesaikan juga. Penggunaannya kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978.

Di Mesjid ini, beragam kegiatan diselenggarakan, diantaranya kuliah zuhur, taklim magrib, pengajian kaum ibu, pengajian bulanan, bimbingan qiro atul Qur’an, pengajian tinggi Istiqlal, pusat perpustakaan Islam Indonesia, TK Islam, dan lain-lain.

Pergulatan Hati Silaban

Menjawab pertanyaan hati nuraninya mengenai pantas tidaknya dirinya membangun sebuah mesjid, maka sebelum Silaban mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal tersebut, ia minta nasehat dari Monsigneur Geisse, seorang uskup dari Bogor. Dan terutama memohon petunjuk dari Tuhan Allahnya sendiri.

“Oh, Tuhan! Kalau di MataMu itu benar, saya sebagai pengikut Yesus turut dalam sayembara pembuatan Mesjid Besar buat Indonesia di Jakarta. Tolonglah saya! Tunjukkan semua jalan-jalannya dan ide-idenya, supaya saya sukses. Akan tetapi Tuhan! kalau di MataMu itu tidak benar, tidak suka Tuhan saya turut maka gagalkanlah semua usaha saya. Bikin saya sakit atau macam-macam hingga saya tak dapat turut dalam sayembara”, begitu doa Silaban minta petunjuk Tuhan.

Ternyata Arsitek kelahiran Bonandolok (sebelah barat Danau Toba), Sumatera Utara, 16 Desember 1912 ini tidak mengalami hambatan apa-apa ketika hendak mengikuti sayembara. Dengan demikian ia berkesimpulan bahwa Tuhan mengijinkannya, maka iapun mengikuti. Begitulah akhirnya hingga ia dipilih sebagai pemenang pertama.

Desainnya yang menerapkan prinsip minimalis pada Mesjid Istiqlal tersebut serta penataan ruangan-ruangannya yang terbuka di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang lebar diantaranya sehingga memudahkan sirkulasi udara dan penerangan yang alami kedalamnya, membuat desain Silaban ini sangat cocok untuk mesjid yang berdaya tampung 100.000-an tersebut.

Kisah dengan Bung Karno

Arsitektur yang satu ini memang seorang yang selalu kuat mempertahankan apa yang sudah diyakininya benar. Sifatnya yang demikian, telah juga menggoreskan kenangan manis dalam perjalanan hidupnya. Sifat pendirian yang konsisten itu telah membuat hubungannya dengan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama, menjadi agak menarik dan unik. Cerita dimaksud diungkapkannya pada Solichin Salam dalam satu wawancara pada bulan Pebruari 1978.

Secara jujur dikatakannya, bahwa arsitekturlah yang membuat hubungannya dengan Bung Karno menjadi unik. Menurutnya, selama 24 tahun dia sering berselisih pendapat dengan Bung Karno. Namun dalam perselisihan pendapat itu, katanya, tidak jarang Bung Karno mengakui terus terang bahwa beliau yang salah dan Silabanlah yang benar.

Bagi Anak kelima dari Jonas Silaban (ayah) dan Noria boru Simamora (ibu), ini pengalaman-pengalaman dengan Presiden Soekarno itu menjadi kenangannya sampai mati. “Saya sudah bekerja 47 tahun terus menerus sampai sekarang, tetapi belum pernah ada pemimpin yang mengaku salah pendapat terhadap saya, selain dari Bung Karno. Contoh untuk ini saya sebutkan antara lain masalah kompleks Bangunan Olah Raga (sebelumnya Asian Games-red) Senayan”, kata Silaban saat itu.

“Karena adalah suatu kekeliruan untuk membuat suatu ‘sport complex’ yang berkaliber internasional atau dua bidang tanah yang terpisah oleh sebuah jalan raya yang nanti akan menjadi jalan raya yang tersibuk di Asia Tenggara. Ditilik dari sudut manajemen dan organisasi, ini akan menyulitkan secara terus menerus dan berganda. Betul saya lihat di sini (gambar) direncanakan sebuah tunnel raksasa, di bawah jalan Jenderal Sudirman, tetapi itu terlalu ‘onna tuurijk’.

Di samping itu ‘tunnel’ demikian akan terus kebanjiran, sehingga membutuhkan pompa raksasa untuk menjamin kekeringannya. Tenaga listrik untuk itu dan untuk penerangan ‘tunnel’ demikian besarnya, sehingga cukup untuk sebuah kota menengah. Tetapi bukan itu saja keberatan saya. Keberatan terbesar adalah masalah lalu-1intas. Duku Atas terlalu dekat kepada bundaran Jalan Thamrin seperti tadi saya telah katakan, maka jalan Sudirman akan menjadi jalan raya tersibuk di seluruh Asia Tenggara. Sukar dapat dibayangkan, betapa macetnya lalu lintas apabila ada ‘sport festival’di ‘Asian Games Complex’ itu” katanya.

Suami dari Letty Kievits, ini lebih lanjut mengatakan, untuk menonton pertandingan pada pukul 17.00 (sore), rakyat sudah harus berkumpul di Stadion sejak pukul 13.00 (siang) kalau tidak, mereka tidak akan kebagian tempat. Sementara kalau presiden mau jalan, selalu didahului ‘voorrijders’ dengan sirenenya, sehingga tidak pernah mengalami apa yang harus dihadapi oleh rakyat.

“Jadi kalau tokh Pemerintah mempertahankan Duku Atas sebagai tempat untuk Asian Games itu, maka sudah dapat diramalkan bahwa lalu lintas pada hari-hari ada acara sport di Asian Games Complex, di jalan itu akan macet total. Kalau Presiden tokh mempertahankan tanah Duku Atas itu dengan rencana Rusia yang pada hari ini saya lihat, maka saya khawatir, bahwa kelak anak-anak Guntur akan nyeletuk: Kok kakek kami bodoh amat membuat kompleks stadion begitu”, begitu kritik Silaban dengan jujur kepada Bung Karno ketika itu.

Menurutnya, ketika itu Bung Karno berkomentar, “Ya, Presiden Soekarno yang salah dan Silaban yang benar”. Itulah kenangan yang tak pernah dilupakannya sampai akhir hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan formal di H.I.S. Narumonda, Tapanuli tahun 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S.) di Jakarta pada tahun 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda pada tahun 1950, Ia kemudian bekerja menjadi pegawai Kotapraja Batavia, Opster Zeni AD Belanda, Kepala Zenie di Pontianak Kalimantan Barat (1937) dan sebagai Kepala DPU Kotapraja Bogor hingga 1965.

Di zaman kolonial, ayah dari 10 orang anak dan kakek 5 orang cucu, ini sudah menunjukkan prestasi-prestasi yang gemi1ang, seperti misalnya ia berhasil memenangkan sayembara perencanaan rumah Walikota Bogor (1935) dan beberapa hotel. Dalam sayembara-sayembara tersebut, hanya dialah satu-satunya arsitek pribumi. Karyanya dalam membuat monumen mengenang orang-orang Belanda yang gugur melawan Nazi Jerman di masa Perang Dunia II, membuatnya mendapat pujian dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. Telah banyak karyanya yang sungguh mengagumkan, diantaranya adalah Mesjid Istqlal, Monumen Nasional, Gelora Senayan dan lain-lain.

Karya-karyanya itu jualah yang menobatkannya menjadi orang yang dianggap pantas mendapat penghargaan-penghargaan, baik dari bangsanya sendiri maupun dari luar bangsanya. Penghargaan dimaksud antara lain berupa tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan yang disematkan oleh Presiden Sukarno pada tahun1962. Penghargaan Honorary Citizen (warga negara kehormatan) dari New Orleans, Amerika Serikat. Di samping itu Qubah Mesjid Istiqlal telah diakui Universitas Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak ciptanya, sehingga disebut sebagai “Si1aban Dom”, atau qubah Si1aban.

Tokoh yang dijuluki Bung Karno sebagai “by the grace of God” karena kemenangannya mengikuti sayembara desain Mesjid Istiqlal, ini akhirnya tutup usia di RSP AD Gatot Subroto Jakarta, pada hari Senin, 14 Mei 1984, karena komplikasi beberapa penyakit yang dideritanya.

Ia pergi dengan hati bangga, karena hasil karya besarnya telah menjadi kenyataan. Silaban yang sampai akhir hayatnya masih tetap menjabat sebagai Wakil Kepala Proyek Pembangunan Mesjid Istiqlal Jakarta itu akan tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai arsitek dari Mesjid Istiqlal. Sebuah mesjid yang termegah di Asia Tenggara pada jamannya.

Dia pergi setelah mengukir sejarah, suatu sejarah yang lebih tinggi dari karya sebuah hasil seni atau teknologi. Tapi adalah sejarah kemanusiaan, kebersamaan, toleransi. Namanya akan dikenang sepanjang zaman.

Source: Silaban Brotherhood

Read also:

.

Frederich Silaban Arsitek Masjid Istqlal Jakarta

Arsitek Legendaris

Tidak afdol agaknya jika umat muslim datang ke Jakarta tetapi tidak menyempatkan diri salat di Masjid Istiqlal. Karena itu tidak heran jika pada musim liburan sekolah banyak warga di luar Jakarta menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal. Masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Ars- F- Silaban 550

Namun di balik kemegahan masjid ini, terbesit simbol kerukunan antarumat beragama di negeri ini. Masjid Istiqlal letaknya berhadapan dengan Gereja Katedral; hanya dipisahkan jalan raya yang lebarnya tidak sampai 100 meter.

Bahkan, berdirinya Masjid Istiqlal memiliki sejarah tersendiri tentang bukti nyata kerukunan umat beragama. Adalah Frederich Silaban, arsitek yang membuat desain Masjid Istiqlal. Ia beragama Kristen Protestan kelahiran Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912.

Ia adalah anak dari pasangan suami istri Jonas Silaban Nariaboru. Frederich adalah salah satu lulusan terbaik dari Academie van Bouwkunst Amsterdam tahun 1950.

Ide untuk mendirikan Masjid Istiqlal bermula pada 1953 dari beberapa ulama. Mereka mencetuskan ide untuk mendirikan masjid megah yang akan menjadi kebanggaan warga Jakarta sebagai Ibu Kota dan juga rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Mereka adalah KH Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama, yang melontarkan ide pembangunan masjid itu bersama H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan beserta sekitar 200-an orang tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman. Ide itu kemudian diwujudkan dengan membentuk Yayasan Masjid Istiqlal.

Pada 7 Desember 1954, didirikan Yayasan Masjid Istiqlal yang diketuai H Tjokroaminoto untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut. Gedung Deca Park di Lapangan Merdeka (kini Jalan Medan Merdeka Utara di Taman Museum Nasional) menjadi saksi bisu atas dibentuknya Yayasan Masjid Istiqlal.

Nama Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘merdeka’ sebagai simbol dari rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SAW. Presiden pertama RI Soekarno menyambut baik ide tersebut dan mendukung berdirinya Yayasan Masjid Istiqlal, lalu membentuk Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI).

Penentuan lokasi masjid sempat menimbulkan perdebatan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Bung Karno mengusulkan lokasi di atas bekas benteng Belanda Frederick Hendrik dengan Taman Wilhelmina yang dibangun oleh Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 1834 yang terletak di antara Jalan Perwira, Jalan Lapangan Banteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sementara itu, Bung Hatta mengusulkan lokasi pembangunan masjid terletak di tengah-tengah umatnya, yaitu di Jalan MH Thamrin yang pada saat itu di sekitarnya banyak dikelilingi kampung. Selain itu, ia juga menganggap pembongkaran benteng Belanda tersebut akan memakan dana yang tidak sedikit.

Namun akhirnya Soekarno memutuskan untuk membangun di lahan bekas benteng Belanda karena di seberangnya telah berdiri Gereja Katedral untuk memperlihatkan kerukunan dan keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Setahun sebelumnya, Soekarno menyanggupi untuk membantu pembangunan masjid, bahkan memimpin sendiri penjurian sayembara desain maket masjid.

Setelah melalui beberapa kali sidang, di Istana Negara dan Istana Bogor, dewan juri yang terdiri dari Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Pada 1955, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara rancangan gambar atau arsitektur Masjid Istiqlal yang jurinya diketuai oleh Presiden Soekarno dengan hadiah berupa uang sebesar Rp 75.000 serta emas murni seberat 75 gram. Sebanyak 27 peserta mengikuti sayembara tersebut.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya dewan juri memutuskan lima peserta sebagai pemenangnya. Mereka adalah Frederich Silaban dengan desain yang berjudul “Ketuhanan”, R Utoyo dengan desain berjudul “Istigfar”, Hans Gronewegen dengan desain berjudul “Salam”, tim mahasiswa ITB dengan desain berjudul “Ilham”, tim mahasiswa ITB lainnya yang berjudul “Katulistiwa”, serta dari NV Associatie yang bertemakan “Lima Arab”.

Selain Masjid Istiqlal, hasil karyanya yang lain, diantaranya Gedung Universitas Nommensen – Medan (1982), Gelora Bung Karno – Jakarta (1962), Rumah Lie A. Hong/Indriawaty Tanusukma (1968) di Jl. Gunung Gede No. 33 Bogor, Monumen Pembebasan Irian Barat – Jakarta (1963), Markas TNI Angkatan Udara – Jakarta (1962), Gedung Pola – Jakarta (1962), Gedung BNI 1946 – Medan (1962), Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun), Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960), Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960), Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960), Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958), dan Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958).

Seputar Frederich Silaban Arsitek Legenda Indonesia

 

Frederich Silaban

Frederich Silaban . Biography


Read also:

Frederich Silaban telah menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas prestasinya dalam merancang pembangunan Mesjid Istiqlal.

Frederich Silaban juga merupakan salah satu penandatangan Konsepsi Kebudayaan yang dimuat di Lentera dan lembaran kebudayaan harian Bintang Timur mulai tanggal 16 Maret 1962 yakni sebuah konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional termasuk musik yang diprakarsai oleh Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat, onderbouw Partai Komunis Indonesia) dan didukung oleh Lembaga Kebudayaan Nasional (onderbouw Partai Nasional Indonesia) dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi) milik Pesindo.

Arsitek_Silaban_dan_Bung_KarnoSelain itu, Frederich Silaban juga berperan besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Pada April 1959, Ir. Soehartono Soesilo yang mewakili biro arsitektur PT Budaya dan Ars. F. Silaban merasa tidak puas atas hasil yang dicapai pada Konperensi Nasional di Jakarta, yakni pembentukan Gabungan Perusahaan Perencanaan dan Pelaksanaan Nasional (GAPERNAS) dimana keduanya berpendapat bahwa kedudukan “perencana dan perancangan” tidaklah sama dan tidak juga setara dengan “pelaksana”. Mereka berpendapat pekerjaan perencanaan-perancangan berada di dalam lingkup kegiatan profesional (konsultan), yang mencakupi tanggung jawab moral dan kehormatan perorangan yang terlibat, karena itu tidak semata-mata berorientasi sebagai usaha yang mengejar laba (profit oriented). Sebaliknya pekerjaan pelaksanaan (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial, yang keberhasilannya diukur dengan besarnya laba dan tanggung jawabnya secara yuridis/formal bersifat kelembagaan atau badan hukum, bukan perorangan serta terbatas pada sisi finansial. Akhir kerja keras dua pelopor ini bermuara pada pertemuan besar pertama para arsitek dua generasi di Bandung pada tanggal 16 dan 17 September 1959. pertemuan ini dihadiri 21 orang, tiga orang arsitek senior, yaitu: Ars. Frederich Silaban, Ars. Mohammad Soesilo, Ars. Lim Bwan Tjie dan 18 orang arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 1958 dan 1959. Dalam pertemuan tersebut dirumuskan tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang tertuang dalam dokumen pendiriannya, “Menuju dunia Arsitektur Indonesia yang sehat”. Pada malam yang bersejarah itu resmi berdiri satu-satunya lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur profesional Indonesia dengan nama Ikatan Arsitek Indonesia disingkat IAI.

Hasil Karya

  • Gedung Universitas HKBP Nommensen – Medan (1982)
  • Gelora Bung Karno – Jakarta (1962)
  • Rumah A Lie Hong – Bogor (1968)
  • Monumen Pembebasan Irian Barat – Jakarta (1963)
  • Markas TNI Angkatan Udara – Jakarta (1962)
  • Gedung Pola – Jakarta (1962)
  • Gedung BNI 1946 – Medan (1962)
  • Menara Bung Karno – Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)
  • Monumen Nasional / Tugu Monas – Jakarta (1960)
  • Gedung BNI 1946 – Jakarta (1960)
  • Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih – Jakarta (1960)
  • Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin – Jakarta (1958)
  • Rumah Pribadi Friderich Silaban – Bogor (1958)
  • Masjid Istiqlal – Jakarta (1954)
Frederich Silaban memenangkan sayembara pembuatan gambar maket Masjid dengan motto (sandi) “Ketuhanan” yang kemudian bertugas membuat desain Istiqlal secara keseluruhan. Istiqlal ini juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara pada tahun 1970-an
  • Gedung Bentol – Jawa Barat (1954)
Gedung ini merupakan bagian dari Istana Kepresidenan Cipanas yang terletak di jalur jalan raya puncak, Jawa Barat dan berlokasi tepat di belakang gedung induk dan berdiri di dataran yang lebih dari bangunan-bangunan lain. Gedung yang sering disebut sebagai tempat Soekarno mencari inspirasi dinamakan Gedung Bentol karena seluruh dindingnya ditempel batu alam yang membuat kesan bentol-bentol.
  • Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata – Jakarta (1953)
  • Kampus Cibalagung, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP)/Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) – Bogor (1953)
Sekolah pertanian ini telah melahirkan sejumlah tokoh kawakan di berbagai bidang. Beberapa di antaranya bahkan pernah menjabat sebagai menteri. Padahal sekolah yang kini berumur seabad ini sejatinya “kawah candradimuka” bagi penyuluh dan teknisi di bidang pertanian.
  • Rumah Dinas Walikota – Bogor (1952)
  • Kantor Dinas Perikanan – Bogor (1951)
  • Tugu KhatulistiwaPontianak (1938)
Tugu ini dibangun pertama kali pada 1928 oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Pada 1938 dibangun kembali dan disempurnakan oleh Frederich Silaban. Pada 1990 dibangun duplikatnya dengan ukuran 5 kali lebih besar untuk melindungi tugu khatulistiwa yang asli. Pembangunan yang terakhir diresmikan pada 21 September 1991.

Source: Wikipedia