Category Archives: Education

Allegra Jade Isdar Juara Tournament of Champions

Allegra Jade Isdar dengan Medali dan Piala hasil lomba Tournament of Champions di Yale University yang ia terima pada tanggal 13 November 2019 di Wolsey Hall New Haven

Luar Biasa, Putri Asal Makassar Juara Dunia di Amerika Serikat

Putra Putri Indonesia kembali membawa nama harum bangsa dan negaranya. Kali ini dia adalah cicit Yasin Limpo, Allegra Jade Isdar.

Siswi kelas 9 dari Mentari Intercultural School Jakarta ini berhasil menjadi juara 1 lomba debat dalam World Scholars Cup, sebuah kompetisi Tournament of Champions di Yale University, New Haven Amerika Serikat.

Pemberian medali dan piala berlangsung dini hari 13 November 2019 dari Wolsey Hall New Haven.

Pada Turnamen para juara ini, putri sulung Isdar ini menyisihkan ribuan pesaing lainnya dalam World Scholars Cup yang kompetisinya berjenjang. Mulai dari lokal turnamen di setiap negara, Ronde Global (Global Round) yang berlangsung di beberapa negara dan kemudian akan lolos ke turnamen para juara di Yale.

” Cucu Mammi Tenri Olle Yasin Limpo ( TYL) inipun berhasil keluar juara 1 lomba debat ketika berlangsung di Jakarta bulan Mei 2019 lalu. Ia pun menjadi salah satu debater yang paling top ketika Ronde Global berlangsung di Sydney Australia bulan Agustus 2019 lalu

“Mammi TYL mengatakan kedepan dirinya berharap prestasi yang membanggakan ini akan terus berlanjut dan sekiranya menginspirasi jutaan anak Indonesia lainnya untuk berprestasi di tingkat dunia,” harap Politisi Nasdem ini

Diketahui jika Isdar ayah Allegra, adalah anak dari Ibu Tenri Olle Yasin Limpo, yang juga saudari kandung Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL)

International Olympiad in Informatics 2019 Azerbaijan: Indonesia Raih 4 Medali

Dirgahayu Indonesia 74 Tahun

Tim Olimpiade Komputer Indonesia Raih 1 Emas, 2 Perak, 1 Perunggu di International Olympiad in Informatics 2019.

Tim Olimpiade Komputer Indonesia bersama pembimbing

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74, empat siswa SMA ini berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang International Olympiad in Informatics (IOI) 2019.

Dalam ajang yang digelar di Baku, Azerbaijan, mulai tanggal 4 sampai dengan 11 Agustus 2019 tim Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 2 medali perak dan 1 medali perunggu.

Keempat delegasi adalah: Abdul Malik Nurrokhman (Amnu), SMA Semesta BBS Semarang; Vincent Ling, SMA Pribadi Bandung; Fausta Anugerah Dianparama, SMA Negeri 1 Yogyakarta; dan Moses Mayer, SMA Jakarta Intercultural School.

IOI merupakan olimpiade sains di bidang informatika (khususnya pemrograman) yang diselenggarakan setiap tahun. Ajang bergengsi ini pada tahun 2019 memasuki tahun ke-31.

Bersaing dengan 323 peserta lain dari 87 negara, tim Indonesia berhasil meraih 1 medali emas dari Amnu, 2 medali perak dari Fausta dan Vincent, dan 1 medali perunggu dari Moses Mayer.

Perolehan ini menempatkan Indonesia pada posisi ranking juara ke-10, mengalahkan puluhan negara lain, seperti Singapura, Kanada, atau Australia.

Empat siswa anggota Tim Olimpiade Komputer Indonesia patut merasa bangga. Untuk mempersiapkan diri mengikuti IOI, tim ini telah mengikuti pembinaan selama berbulan-bulan, yang dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan UI, ITB, IPB, ITS, UGM dan Binus University.

Peran para alumni TOKI sangat besar pada proses persiapan dan pelatihan. Keempat siswa juga harus menjalani karantina dan pembinaan intensif untuk memperbanyak latihan soal, diskusi dan pelatihan kesiapan mental bertanding.

Materi pembinaan, selain diisi oleh para dosen dari berbagai universitas, juga diisi oleh para alumni TOKI dalam bentuk diskusi dan sparring partner. Para siswa juga diikutsertakan dalam beberapa kegiatan latih tanding. Strategi ini terbukti meningkatkan prestasi tim Indonesia dari tahun ke tahun.

“Sejak terpilih menjadi TOKI, saya berkomitmen untuk memberikan yang terbaik. Tujuan pribadi saya adalah membuktikan kalau Indonesia tidak kalah dari negara lain dalam hal teknologi dan informatika. Walaupun dalam proses pelatihan sempat merasa lelah dan kangen keluarga, tapi sekarang saya sudah lega karena bisa memberikan kado untuk ulang tahun Indonesia, dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga,” kata Amnu yang sudah dua kali menyumbangkan medali di ajang IOI, yaitu medali perak pada IOI 2018, dan emas pada IOI 2019 kali ini.

Tantangan terbesar yang dihadapi TOKI adalah rasa gugup karena menghadapi negara-negara lebih maju yang sering dipandang lebih ahli. Tidak mau kalah sebelum bertanding, Amnu, Vincent, Fausta, dan Moses berusaha untuk membulatkan tekad dan memupuk rasa percaya diri.

Mereka pun tampil lepas dan tanpa beban. Panduan dan dukungan yang diberikan oleh tim delegasi juga membuat mereka selalu bersemangat untuk mengikuti tahapan kompetisi dari hari ke hari. Selain meraih medali, mereka juga sempat memperkenalkan budaya Indonesia dengan bermain angklung pada acara Malam Budaya IOI.

“Dengan pencapaian yang diraih dalam kompetisi IOI kali ini, kita patut memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk semangat, perjuangan dan juga pengorbanan yang telah dilakukan oleh para siswa, Pembina, Alumni dan Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang telah bekerja keras dalam mengupayakan hasil yang maksimal demi mengharumkan nama baik bangsa dan negara,” kata Adi Mulyanto, M.T, dosen STEI ITB dan Pembina TOKI sebagai ketua delegasi

Secara khusus, Adi juga mengapresiasi bantuan moral dan pelatihan yang diberikan oleh Ikatan Alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia (IA-TOKI). Beberapa alumni TOKI kini telah mencetak prestasi masing-masing, seperti Brian Marshal yang mendirikan start-up SIRCLO dan Derianto Kusuma yang mendirikan unicorn Traveloka.

“Mereka telah membangun ikatan alumni yang solid, suportif, dan saling membantu. Secara kompak, mereka mencurahkan waktu,
tenaga, perhatian, dan pengalaman, untuk membimbing ‘adik kelas’ mereka,” tambahnya.

Source: Tribunnews | 13 Agustus 2019 06:22 WIB

International Mathematical Competition Singapore 2017

INTERNATIONAL MATHEMATICAL COMPETITION SINGAPORE 2017: INDONESIA RAIH 90 MEDALI DAN 34 MERIT AWARD

Tim Indonesia meraih prestasi gemilang dalam kompetisi matematika International Mathematics Contest (IMCS) di Singapura. Sebanyak 129 pelajar Indonesia yang terdiri dari pelajar kelas 3 SD sampai kelas 11 SMA IMCS pada 4-7 Agustus 2017.

Hasil yang diperoleh dari IMCS tahun 2017 adalah 14 emas, 26 perak, 50 perunggu dan 38 merit. Hal yang sangat membanggakan di tahun ini adalah seorang siswa Indonesia memperoleh penghargaan Grand Champion.

Peraih Grand Champion asal Indonesia atas nama Irfan Urane Azis yang merupakan siswa kelas 10 SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah. Gelar ini sangat sulit diperoleh karena tidak semua peraih medali emas bisa memperoleh gelar ini dan tidak semua negara bisa memperoleh gelar ini.

Irfan Urane Azis Peraih Grand Champion mengatakan dirinya tidak menyangka dan sangat bersyukur bisa menjadi Grand Champion. IMCS tahun ini soalnya lumayan menantang dan perlu berpikir cepat untuk bisa menyelesaikannya karena waktunya sangat terbatas, sehingga dirinya tidak berpikir sama sekali untuk mendapatkan grand champion di kompetisi ini.

“Untuk persiapan lomba IMCS selain mengikuti karantina, saya banyak melakukan latihan soal secara mandiri di asrama di Sekolah Taruna Nusantara. Saya sering mencari soal-soal yang mirip dengan IMCS yang ada di internet sebagai bahan latihan. Hal yang penting untuk sukses dalam matematika adalah usaha dan doa,” kata Irfan.

Total peserta pada lomba ini adalah 1178 peserta yang berasal dari 11 negara yaitu Cina, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Filipina, Indonesia, Korea, Thailand, Iran, Vietnam dan Australia. Para peserta IMCS dari Indonesia merupakan hasil seleksi dari sekitar 250 ribu siswa yang mengikuti Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) dan para siswa pilihan yang mengikut Math In House Training (MIHT). Lomba IMCS tahun 2017 merupakan tahun ke-10 yang diikuti oleh Indonesia.

Sebelum berangkat ke Singapura, para siswa dibina terlebih dahulu selama 1 minggu di Bogor dan para pembinanya dari Tim Klinik Pendidikan MIPA. Pada pembinaan ini para siswa tidak hanya belajar matematika tetapi belajar Bahasa Inggris serta mendapat pembinaan Jasmani dan Rohani. Bagi peserta yang beragama Islam dirutinkan untuk selalu melaksanakan sholat secara berjamaah, sholat tahajud, sholat dhuha dan tadarus Alquran.

Ridwan Hasan Saputra sebagai Team Leader Indonesia mengatakan bahwa prestasi tahun ini sangat membanggakan karena perolehan medali. Tim Indonesia melebihi standart yang ditetapkan panitia khususnya untuk raihan medali emas. Apalagi di tahun ini ada siswa Indonesia yang meraih Grand Champion, hal ini merupakan anugerah yang harus di syukuri.

Ridwan yang juga Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA mengatakan lomba matematika di luar negeri tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman dan wawasan kepada anak-anak agar mereka bisa melihat dunia.

“Banyak anak lain yang lebih pintar dan negara yang lebih maju. Namun tetap rendah hati dan saling menghargai. Sehingga mereka akan lebih semangat lagi belajar supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar. Lomba IMCS ini jadi momentum untuk meningkatkan ibadah para peserta karena selama karantina mereka semakin rajin beribadah. Medali hanyalah Bonus,” kata Ridwan.(Usdo/Yudi)

Source iglobalnews

International Mathematical Olympiad Timeline

The logo of the International Mathematical Olympiad.

International Mathematical Olympiad Timeline

Source: Wikipedia

Notable Achievements

The following nations have achieved the highest team score in the respective competition:

  • China, 20 times (from the first participation in 1985 until 2014): in every year from 1989 to 2014 except 1991, 1994, 1996, 1998, 2003, 2007, 2012, as well as in 2019 (joint with USA);
  • Soviet Union, 14 times: in 1963, 1964, 1965, 1966, 1967, 1972, 1973, 1974, 1976, 1979, 1984, 1986, 1988, 1991;
  • United States, 8 times: in 1977, 1981, 1986, 1994, 2015, 2016, 2018, 2019 (joint with China);
  • Hungary, 6 times: in 1961, 1962, 1969, 1970, 1971, 1975;
  • Romania, 5 times: in 1959, 1978, 1985, 1987, 1996;
  • West Germany, twice: in 1982 and 1983;
  • Russia, twice: in 1999 and 2007;
  • South Korea, twice: in 2012 and 2017;
  • Bulgaria, once: in 2003;
  • Iran, once: in 1998;
  • East Germany, once: in 1968.

The following nations have achieved an all-members-gold IMO with a full team:

  • China, 12 times: in 1992, 1993, 1997, 2000, 2001, 2002, 2004, 2006, 2009, 2010, 2011, and 2019.
  • United States, 4 times: in 1994, 2011, 2016, and 2019.
  • South Korea, 3 times: in 2012, 2017, and 2019.
  • Russia, 2 times: in 2002 and 2008.
  • Bulgaria, once: in 2003.

Also noteworthy is that the United States was a single point away from achieving all gold medals in 2012, 2014, and 2015 and was just two points away in 2018, in each of these years obtaining 5 gold medals and 1 silver medal.

The only countries to have their entire team score perfectly in the IMO were the United States in 1994 (they were coached by Paul Zeitz); and Luxembourg, whose 1-member team had a perfect score in 1981. The US’s success earned a mention in TIME Magazine. Hungary won IMO 1975 in an unorthodox way when none of the eight team members received a gold medal (five silver, three bronze). Second place team East Germany also did not have a single gold medal winner (four silver, four bronze).

Several individuals have consistently scored highly and/or earned medals on the IMO: As of July 2015 Zhuo Qun Song (Canada) is the most successful participant[64] with five gold medals (including one perfect score in 2015) and one bronze medal. Reid Barton (United States) was the first participant to win a gold medal four times (1998-2001). Barton is also one of only eight four-time Putnam Fellows (2001–04). Christian Reiher (Germany), Lisa Sauermann (Germany), Teodor von Burg (Serbia), and Nipun Pitimanaaree (Thailand) are the only other participants to have won four gold medals (2000–03, 2008–11, 2009–12, 2010–13, and 2011–14 respectively); Reiher also received a bronze medal (1999), Sauermann a silver medal (2007), von Burg a silver medal (2008) and a bronze medal (2007), and Pitimanaaree a silver medal (2009). Wolfgang Burmeister (East Germany), Martin Härterich (West Germany), Iurie Boreico (Moldova), and Lim Jeck (Singapore) are the only other participants besides Reiher, Sauermann, von Burg, and Pitimanaaree to win five medals with at least three of them gold. Ciprian Manolescu (Romania) managed to write a perfect paper (42 points) for gold medal more times than anybody else in the history of the competition, doing it all three times he participated in the IMO (1995, 1996, 1997). Manolescu is also a three-time Putnam Fellow (1997, 1998, 2000). Eugenia Malinnikova (Soviet Union) is the highest-scoring female contestant in IMO history. She has 3 gold medals in IMO 1989 (41 points), IMO 1990 (42) and IMO 1991 (42), missing only 1 point in 1989 to precede Manolescu’s achievement.

Terence Tao (Australia) participated in IMO 1986, 1987 and 1988, winning bronze, silver and gold medals respectively. He won a gold medal when he just turned thirteen in IMO 1988, becoming the youngest person at that time to receive a gold medal (Zhuo Qun Song of Canada also won a gold meal at age 13, in 2011, though he was older than Tao). Tao also holds the distinction of being the youngest medalist with his 1986 bronze medal, followed by 2009 bronze medalist Raúl Chávez Sarmiento (Peru), at the age of 10 and 11 respectively. Representing the United States, Noam Elkies won a gold medal with a perfect paper at the age of 14 in 1981. Note that both Elkies and Tao could have participated in the IMO multiple times following their success, but entered university and therefore became ineligible.

The current ten countries with the best all-time results are as follows:

Source: imo-official dot org | IMO Official

Gender of some contestants is not known. Please send relevant information to the webmaster: webmaster @ imo-official dot org

International Mathematical Olympiad Thailand 2019: Indonesia Raih 1 Medali

Siswa Madrasah Ini Raih Gold Award Thailand International Mathematical Olympiad 2019.

Muhammad Adi Brata Tata Negara Saputra, Siswa kelas 7B MTsN 2 Kota Kediri meraih Gold Award dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 di Bangkok.

“Adi bersaing dengan ratusan peserta dari 21 negara, dia berhasil meraih Gold Award dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019,” kata Kepala MTsN 2 Kota Kediri, Hadi Suseno.

Untuk diketahui, Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 diselenggarakan di Head Star International School Thailand dan berlangsung dari 5 sampai 8 April 2019. Ajang ini diikuti para siswa dasar dan menengah (MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA), negeri dan swasta, yang telah bergabung dalam Head Round Indonesia pada instansi pendidikan yang telah bekerja sama dengan TIMO.

“Siswa yang lolos Head Round Indonesia dan mendapat medal gold silver bronze, bisa lanjut final TIMO di Thailand,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan dengan meraih Grade Gold Arward Timo di Thailand, maka Adi mendapatkan tiket untuk ikut kompetisisi selanjutnya yang diselenggarakan oleh Jepang, yakni World International Mathematics Olympiad (WIMO). Kompetisi ini akan diselenggarakan pada Desember 2019 di Tokyo Jepang.

Sebelum mendapat emas di ajang TIMO 2019 ini, Adi juga pernah mendapat medali emas tingkat provinsi Jawa Timur dalam kompetisi Hidayatullah Mathematics and Science Olympiad (HIMPSO) 2019. Prestasi lainnya adalah juara umum kompetisi olimpiade Matematika tingkat Jawa Timur-Jawa Tengah 2019, Bronze Medal tingkat Internasional dalam event Word International Mathematics Olympiad (WIMO) 2018, Silver Medal tingkat Intenasional dalam event American Mathematics Olympiad (AMO) 2018, Peraih Medal Perak tingkat Internasional 2018 dalam event International Challenge for Future Mathematic 2018, serta peraih Perunggu tingkat Internasional dalam event International Mathematic Olympiad 2018. (nov/kemenag)

Herayati Sawitri

Foto: Herayati Sawitri kini lulus S2 dengan predikat cum laude di ITB (M Iqbal/detikcom)

Herayati Sawitri (24), anak seorang pengayuh becak asal Cilegon, lulus cum laude dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2018 lalu. Kini, dia menyelesaikan sekolah magister di kampus yang sama dengan IPK 3,88.

Hera lulus S2 dengan predikat cum laude dalam waktu 10 bulan. Dia mengambil jurusan yang sama seperti S1 yakni Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA). Dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 melalui jalur fast track.

“Sebenarnya nggak 10 bulan banget. Jadi memang saya ngambil fast track waktu S1 beberapa mata kuliah S2 sudah diambil, jadi pas S2 tinggal meneruskan saja begitu,” kata Herayati saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/7/2019).

Dalam perjalanan kuliah S2 di ITB, Hera mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Thailand selama 4 bulan.

Hera melakoni kuliah mulai dari S1 hingga S2 dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Beberapa penghargaan didapat atas prestasinya yang sejak jenjang pendidikan sarjana sudah mendapat predikat cum laude.

“Hari Sabtu kemarin wisuda, alhamdulillah sekarang sudah lega, sudah lulus S2,” ujarnya.

Dengan kondisi ekonomi terbatas, Hera mampu menyelesaikan studi S2 dan prestasinya di kampus cukup cemerlang. Kondisi ekonomi yang terbatas, lanjut Hera, tak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi asal ada itikad kuat.

Source: detik. 25 Juli 2019

International Mathematical Olympiad England 2019: Indonesia Raih 6 Medali

Pelajar Indonesia yang berhasil meraih enam medali pada Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) 2019 di Inggris.(Dok. Kemendikbud)

Merah Putih Berkibar, Indonesia Raih Medali Olimpiade Matematika di Inggris

Bendera Indonesia kembali berkibar pada ajang di bidang pendidikan berskala internasional. Kali ini dalam Olimpiade Matematika Internasional atau “International Mathematical Olympiad (IMO) 2019”, pelajar Indonesia meraih prestasi membanggakan.

Sebanyak enam medali yang terdiri dari satu Medali Emas, empat Medali Perak, dan satu Perunggu berhasil dibawa pulang dan membuat tim Indonesia berada di posisi ke-14 dari 110 negara peserta. Perolehan medali itu dilakukan setelah bersaing dengan lebih dari 600 peserta dari berbagai negara.

Pelajar yang meraih medali emas pada IMO 2019 yaitu

  • Kinantan Arya Bagaspati dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Kemudian, pelajar yang mendapatkan empat medali perak masing-masing adalah

  • Jonathan Christian Nitisastro (SMAK Petra 2, Surabaya),
  • Alfian Edgar Tjandra (SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan),
  • Aaron Alvarado Kristanto (SMAK Petra 1, Surabaya), dan
  • Valentino Dante Tjowasi (SMAK Petra 2, Surabaya).

Adapun satu perunggu diraih oleh

  • Farrel Dwireswara Salim dari SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan.

Tingkat kesulitan tinggi

Aleams Barra selaku Koordinator Tim Indonesia untuk IMO 2019 menuturkan, prestasi Indonesia lebih baik dibanding sejumlah negara lain, seperti Australia, Inggris, Kanada, Jerman, dan Belanda.

“Perolehan medali emas kali ini merupakan yang ketiga kalinya yang pernah kita dapatkan setelah sebelumnya kita juga pernah mendapatkan emas pada tahun 2013 dan 2018,” ujar Aleams dalam keterangan di laman resmi Kemendikbud, Kamis (25/7/2019). Dia menuturkan, para peserta dalam IMO 2019 dituntut mengerjakan enam soal Matematika dalam waktu 4,5 jam.

Soal-soal itu terdiri dari empat bidang, yaitu aljabar, kombinatorika, geometri, dan teori bilangan. Soal-soal tersebut merupakan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dan untuk mengerjakannya pun dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental, dan kreativitas yang tinggi.

“Jadi tidak sedikit dari para peserta yang memang kesulitan mengerjakannya. Bahkan setingkat matematikawan profesional pun akan kesulitan untuk mengerjakan soal-soal IMO dalam rentang waktu yang singkat seperti itu,” ucap Aleams.

Kontribusi kemajuan Indonesia

Dia mengungkapkan bahwa timnya sudah cukup siap mengikuti kompetisi tersebut karena pelatihan dan pembinaan yang maksimal. Persiapan yang dilakukan baik dari segi fisik maupun mental, serta tanggung jawab. Sementara itu, Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto, mengutarakan kebanggaannya atas prestasi tim Indonesia sebagai peserta IMO yang terus meningkat sejak tahun 2013.

Dia mengharapkan Tim Olimpiade Matematika Indonesia bisa meraih medali emas secara konsisten dan terus meningkat lebih baik lagi. “Mereka sangat luar biasa, dan saya bangga tim IMO bisa mempertahankan tradisi emas ini.

Mereka layak mendapat apresiasi tertinggi dari negara dan menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di Indonesia. Ke depan juga diharapkan akan menjadi para ilmuwan, matematikawan, insinyur, dan ekonom yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu dan teknologi Indonesia,” tutur Purwadi.

Source: ERWIN HUTAPEA Kompas . com – 26/07/2019

International Mathematical Olympiad UK

  • Year: 2019
  • Country: United Kingdom
  • City: Bath
  • Date: 11.7.2019 – 22.7.2019
  • Countries Participated: 112
  • Total Contestants : 621 – Male: 556 – Female: 65

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Bocah Asal Jember Jadi Juara International Mathematics Competition

Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh alias Fafa ketika menema medali perunggu dari panitia olimpiade matematika di Bulgaria pertengahan Juli lalu. (JawaPos/Radar Jember/Ari Kurniawan)

Lain Lalu Muhammad Zohri, lain Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh. Bocah 13 tahun asal Jember ini juga menorehkan prestasi tingkat internasional di bidang matematika. Fafa, panggilan akrab Mafazi berhasil meraih juara tiga olimpiade sains internasional bidang matematika (IMC), di Bulgares, Bulgaria, pekan lalu.

Pantauan JawaPos, penampilan bocah itu sederhana, pendiam, ceria, tetapi penuh potensi. Fafa mampu bersaing dengan 28 finalis dari berbagai negara dalam IMC (International Mathematics Competition) yang berlangsung seminggu di negara Eropa Timur itu.

Bersama 12 peserta lainnya dari Indonesia, Fafa termasuk bagian dari sedikit anak bangsa yang mampu berkompetisi di bidang sains hingga ke tingkat internasional. Juga merupakan sedikit dari pelajar muslim yang siap bersaing dengan peserta umumnya didominasi nonmuslim.

Termasuk dari Indonesia sendiri. Bayangkan saja, dari 12 finalis Indonesia yang mengikuti event internasional tersebut, hanya tiga siswa saja yang berasal dari keluarga muslim. “Kami patut bangga dan bersyukur atas keberhasilan ini,” ujar Ari Kurniawan, pembina siswa berprestasi lembaga pendidikan Alfurqon Jember.

Memang, kemenangan Fafa dalam kejuaraan internasional tersebut bukan kali pertama diikuti SD maupun SMP Alfurqon Jember. Sejak diselenggarakan olimpiade sains tingkat dunia tujuh tahun lalu, sekolah ini sudah enam kali berhasil mengirimkan delegasinya. Antara lain di Bulgaria (dua kali), Singapura, Korea, Thailand, Taiwan, dan China.

Itu berarti, setiap tahun digelarnya olimpiade, Alfurqon selalu lolos seleksi tingkat nasional, dan berlanjut ke jenjang internasional. Itu baru satu-satunya sekolah yang terus-menerus mengikuti ajang internasional tersebut. “Sekolah lain biasanya cuma sekali atau maksimal dua kali,” imbuh Ari Kurniawan.

Untuk mengikuti lomba bergengsi itu, kata Ari, diakui memang tidak mudah. Seleksinya dimulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Sebelum maju ke tingkat internasional, para finalis biasanya digembleng (dikarantina) secara khusus, dengan jadwal yang amat ketat dan selektif.

Para pembinanya biasanya diambil dari akademisi perguruan tinggi terkenal, termasuk UI, ITB, Trisakti, dan lain-lain. Mereka digembleng berhari-hari mulai pagi hingga sore, untuk mengerjakan beragam soal dengan waktu yang amat ketat.

Demikian pula dengan Fafa, kata Ari, yang juga ayahnya itu, anak satu-satunya itu tergolong pendiam dan penurut. Dia hampir tak pernah menolak tugas mengerjakan soal-soal yang diprogramkan.

“Tetapi, yang namanya anak-anak, duduk setengah jam saja sudah bosan, gelisah, dan ingin jalan-jalan saja. Untungnya dia sabar dan mengikuti arahan pembinanya,” jelas, Ari. Padahal, sebagai anak tunggal, lanjut Ari, biasanya sering manja dan selalu ingin didampingi orangtuanya.

Source: Liputan6

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 2 Medali dan 1 Penghargaan

Mahasiswa UGM Berprestasi di Olimpiade Matematika Internasional (Foto: UGM)

Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta berhasil menorehkan prestasi di kancah International yaitu International Mathematics Competition (IMC) 2018 yang dihelat di Kota Blagoevard, Bulgaria pada 22-28 Juli 2018 dengan sukses membawa pulang dua medali perunggu dan 1 penghargaan honorable mention.

Mahasiswa tersebut di antaranya adalah Alzimna Badril Uman dan Adryan Wiradinata yang menyumbangkan medali perak. Lalu, Resita Sri Wahyuni yang berhasil meraih penghargaan honorable mention. Ketiga mahasiswa UGM ini terpilih menjadi perwakilan Indonesia di IMC 2018 bersama enam mahasiswa dari perguruan tinggi Indonesia lainnya.

Alzimna mengatakan, keikutsertaannya dalam IMC ini merupakan yang pertama kali. Dia pun mengaku bangga ketika bisa membawa pulang medali dari kompetisi dunia ini.

“Bangga bisa meraih predikat third prize dan mengharumkan nama UGM serta Indonesia di tingkat dunia,” jelasnya, dalam website UGM, Jumat (10/8).

Kendati demikian, perasaan kecewa sempat menghinggapi Alzimna. Sebab, perolehan nilai yang didapatnya hanya terpaut tiga poin untuk menyabet predikat juara dua.

“Sempat ada rasa kecewa karena tidak bisa memenuhi target saya untuk meraih second prize karena hanya mendapat 30 poin dari 33 poin cut off second prize. Namun begitu, saya tetap bersyukur sudah meraih predikat ini serta mendapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru,” urainya.

Keberhasilan yang diraih Alzimna dan dua rekannya tidak lepas dari usaha dan kerja keras mereka dalam berlatih dan belajar menghadapi IMC. Selain itu, juga dukungan dari dosen pembina UGM dan alumni IMC UGM yang telah menorehkan prestasi dalam kompetisi tahun-tahun sebelumnya serta pembinaan intensif dari Kemenristekdikti.

“Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan dukungan semua pihak. Semoga dalam IMC mendatang Indonesia bisa semakin berjaya,” pungkas Alzimma.

Source: okezone | Vanni Firdaus Yuliandi 10 Agustus 2018

International Mathematical Olympiad Hongkong 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Pelajar MI Blitar Raih Emas Olimpiade Matematika Internasional Hong Kong

Foto: Erliana Riady

Pelajar kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Perwanida Kota Blitar, ini memiliki prestasi membanggakan. Pelajar bernama Zufar Hanasta Ilmi ini, meraih medali emas di ajang Hong Kong International Mathematic Olympiade (HKIMO).

Pelajar berusia 9 tahun ini, berhasil menyisihkan ratusan peserta olimpiade matematika tingkat Asia yang digelar 31 Agustus-2 September 2018 lalu.

Putra kedua pasangan M Ibnu Mukti dan Dwi Harsusi Susilowati ini, rupanya memiliki banyak prestasi serupa sejak kelas 1 MI. Baik yang berskala nasional maupun internasional.

Seperti Kompetisi Mathematic Nalaria Realistik (KMNR) Tingkat Nasional tahun 2017 meraih medali emas. KMNR tahun 2018 juga meraih emas. Dan meraih emas juga dalamHidayatull Mathematic and Science Olimpiad (HIMSO) tahun 2018.

Ditemui di sekolahnya pagi ini, bagi Zufar, mengerjakan soal matematika tak ubahnya seperti bermain bola.

“Saya suka sama matematika. Gak susah kok ngerjainnya. Malah seneng pengen cepet selesai. Kalau selesai itu seperti main bola terus bisa memasukkan gol,” ucapnya dengan lancar, Selasa (11/9/2018).

Kemampuan otak kiri Zufar memang bisa dibilang di atas rata-rata. Soal matematika yang sering dikerjakan dalam berbagai event lomba, merupakan soal matematika tingkat kelas 2 SMA. Namun bocah yang gemar olah raga bulu tangkis ini tak pernah sekalipun mengeluh.

“Tidak capek kok. Malah saya selalu pengen dikasi soal tiap hari. Tidak pernah sulit kok. Kalau mau lomba malah gak belajar, cuma main ngerjain soal. Nanti kalau saya duluan selesai ngerjain soal, saya pasti minta soal yang baru lagi,” imbuhnya.

Soal hitungan yang rumit, bagi Zufar matematika hanya permainan saja. Orang tuanya yang menyadari kelebihan kemampuan anaknya ini, lalu memasukkan dalam lembaga bimbingan belajar khusus berhitung. Jadwal padat dilakukan Zufar sejak kelas 1 MI

“Pulang sekolah jam 3 sore. Langsung les matematika sampai jam 5 sore. Itu dari Senin sampai Kamis. Sampai rumah mandi, makan, terus tidur sampai pagi
Saya suka dan gak capek kok,” ucapnya sambil tersenyum.

Ketika ditanya apakah bisa jauh dari mama untuk dikarantina, seperti umumnya peserta olimpiade sciense lainnya. Zufar menjawab begini.

“Sudah sering. Biasanya 10 hari. Mama gak menemani. Itu saya harus bangun jam 6 pagi. Mandi lalu sarapan. Terus latihan mengerjakan soal sampai makan siang sebentar. Habis itu mengerjakan soal lagi sampai jam 10 malam. Tapi saya ya merasa capek kok. Malah senang bisa kumpul banyak teman,” ujarnya.

Kabid Kesiswaan MI Perwanida Ratna Khusna menyatakan, prestasi yang didulang siswa didiknya ini kuncinya hanya komunikasi.

“Kunci utamanya, komunikasi. Antara pihak sekolah, anak dan orang tua. Jangan ada keinginan dari satu pihak saja. Jangan sampai orang tua memaksakan kehendaknya pada anak. Seperti Zufar ini. Kami sampaikan potensinya yang terlihat sejak kelas 1. Lalu orang tua memfasilitasi, sekolah sebagai media. Karena jer basuki mowo beyo,” pungkas Ratna.

Source: detikNews | 11 September 2018