Category Archives: Cumlaude

Herayati Sawitri

Foto: Herayati Sawitri kini lulus S2 dengan predikat cum laude di ITB (M Iqbal/detikcom)

Herayati Sawitri (24), anak seorang pengayuh becak asal Cilegon, lulus cum laude dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2018 lalu. Kini, dia menyelesaikan sekolah magister di kampus yang sama dengan IPK 3,88.

Hera lulus S2 dengan predikat cum laude dalam waktu 10 bulan. Dia mengambil jurusan yang sama seperti S1 yakni Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA). Dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 melalui jalur fast track.

“Sebenarnya nggak 10 bulan banget. Jadi memang saya ngambil fast track waktu S1 beberapa mata kuliah S2 sudah diambil, jadi pas S2 tinggal meneruskan saja begitu,” kata Herayati saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/7/2019).

Dalam perjalanan kuliah S2 di ITB, Hera mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Thailand selama 4 bulan.

Hera melakoni kuliah mulai dari S1 hingga S2 dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Beberapa penghargaan didapat atas prestasinya yang sejak jenjang pendidikan sarjana sudah mendapat predikat cum laude.

“Hari Sabtu kemarin wisuda, alhamdulillah sekarang sudah lega, sudah lulus S2,” ujarnya.

Dengan kondisi ekonomi terbatas, Hera mampu menyelesaikan studi S2 dan prestasinya di kampus cukup cemerlang. Kondisi ekonomi yang terbatas, lanjut Hera, tak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi asal ada itikad kuat.

Source: detik. 25 Juli 2019

Audrey

Related Posts:

“Anak Ajaib” asal Surabaya


TERNYATA INDONESIA (PERNAH) PUNYA “ANAK AJAIB” ASAL SURABAYA

audrey_20180129_085743

Anak ajaib itu bernama Audrey.

Prestasi Pendidikan Audrey:

  • Audrey selesaikan SD 5 tahun
  • SMP 1 tahun, dan SMA 11 bulan
  • Dia lulus SMA di umur yg sangat muda, 13 tahun!
  • Masalah terjadi karena tidak ada kampus di Indonesia yang mau terima anak umur 13 tahun jadi mahasiswa
  • Jadi dia kuliah di luar negeri, di University of Virginia
  • Kalian tau jurusan apa? FISIKA! Dia selesaikan studinya dlm tahun
  • Di umur 16 tahun dia jadi Sarjana Fisika dgn predikat Summa Laude! Sempurna!

Gak cuma itu,

  • umur 10 tahun skor TOEFL nya 573, memecahkan rekor MURI dgn nilai TOEFL tertinggi di usia termuda.
  • Umur 11 tahun hafal luar kepala kamus Indonesia–Inggris setebal 650 halaman.
  • Umur 14 tahun skor TOEFL 670!!
  • Skrg Audrey se-kurang²nya bisa menguasai 6 bahasa asing:
    • Inggris
    • Prancis
    • Jerman
    • Mandarin
    • Rusia
    • Latin

Tapi karena keajaibannya itu membuat dia terkucilkan. Kalangan dewasa anggap dia tdk normal. Teman sebaya anggap dia aneh sendiri, Harus dijauhi, tak bisa diajak berteman, hrs dikucilkan.

Kondisi lingkungan seperti itu membuatnya menderita. Di rumah, dia selalu dimarahi. Di sekolah selalu di-bully. Di pergaulan ibunya selalu jadi bahan gunjingan.

Banyak orang luar negeri menyayangkan karena kondisinya di Indonesia yg demikian itu membuat kemampuan Audrey di masa remajanya ter sia²kan. Tapi di balik semua perlakuan itu ternyata Audrey adalah orang yg begitu bangga dengan Indonesia. Banyak buku yg dia tulis yang menggambarkan kecintaannya terhadap negeri ini.

Tahun 2017 kemarin dia dinobatkan menjadi salah satu dari 72 ikon prestasi Indonesia.

Berikut ini ulasan dari Pak Dahlan Iskan:

SULITNYA (PUNYA) ANAK SUPER PANDAI

  • UMUR Audrey baru 4 thn saat itu. tapi pertanyaannya setinggi filsuf: Kemana perginya rasa bahagia? Atau: Apa arti kehidupan?
  • Pertanyaan seperti itu membuat orangtuanya kewalahan. Begitu sering dia tanyakan. Dan tidak ada jawaban. Gurunya belingsatan. Lingkungannya jengkel.
  • Di mata mereka , Audrey-cilik tetap dianggap bocah ingusan, tak pantas bertanya ­seperti itu. Bahkan, ada yg menganggapnya mengidap kelainan jiwa.
  • Padahal dia merasa normal. Semua pelajaran bisa dia ikuti dengan baik. Sangat baik. Bahkan istimewa. Semua bisa dia jawab. Bahkan yang belum ditanyakan sekalipun. Ta[i dia merasa terasing. Di rumahnya, di sekolahnya, di pergaulannya, dan jg di gerejanya.
  • Orangtuanya, terutama ibunya, kian jengkel. Yakni saat Audrey melanjutkan pertanyaan ”arti kehidupan” itu dgn pertanyaan yg lebih sulit dijawab: Mengapa ada org miskin & miskin sekali sampai hrs jadi pemulung atau gelandangan? 
  • Anak kecil yg tambah menjengkelkan.

Ketika sudah di SD dia ngotot mau ke tempat sampah. Mencari pemulung. Ingin membantu. Ingin melakukan spt yg disebut dalam Pancasila. Khususnya sila kelima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia tidak hanya hafal Pancasila. Tapi merasuk sekali dalam jiwanya. Saking merasuknya, sampai dia selalu mempersoalkan ini:

Mengapa yg tertulis & diajarkan di Pancasila tidak sesuai dgn kenyataan? Dalam kehidupan se-hari² di masyarakat. Seperti yang dia lihat. Dan yg dia alami sendiri. Sebagai pribadi, sebagai anak, bahkan sebagai anak keluarga Tionghoa.

Dia ngotot ingin selalu ke tempat pemulung, ingin tau arti kehidupan. Tentu ibunya melarang, bahkan memarahinya. Semua ibu mgkn akan seperti itu.

Lain waktu, Audrey bikin kejutan lagi. Cita²nya ingin jadi tentara. Agar bisa jadi pejuang. Seperti pahlawan. Yg fotonya dipajang di dinding kelasnya. Heroik. Seperti kisah pahlawan dari guru² nya.

Ibunya tentu marah lagi.

Waktu ibunya menikah dulu, bukan anak seperti itu yang dia impikan. Begitu lama sang ibu mendambakan segera punya anak. Tidak kunjung hamil. Tiga tahun. Empat tahun. Lima tahun. Lama sekali menanti. Setelah itu barulah hamil.

Begitu besar harapan pada anak itu. Apalagi, Audrey tidak kunjung punya adik. Audrey menjadi satu²nya anaknya. Terlalu banyak keinginan sang ibu pada masa depan Audrey kecilnya. Sang ibu mampu untuk menyiapkan apa saja. Dia insinyur kimia. Suaminya Insinyur Mesin. Kedudukan suaminya sangat tinggi di sebuah perusahaan raksasa. Di luar itu masih punya usaha. Bahkan beberapa . Pokoknya, dia cukup  kaya. Kurang apa.

Harapan pada  anaknya tentu seperti umumnya harapan orangtua. Apalagi anak tunggal. Yg untuk menanti kehadirannya begitu lama. Anaknya harus pandai, cantik, dan kelak bisa jadi orang sukses. Terkemuka. Kaya. Lebih sukses dari orang tuanya. Kemudian bisa mendapat suami yg setara.

Tapi ternyata anaknya telah membuatnya repot. Malu. Marah. Teman² sang ibu menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa. Begitu banyak yang menyarankan langkah itu. Begitu sering diucapkan. Secara nyata maupun isyarat. Kadang ia dengar sendiri saran ke dokter jiwa itu.

Ada yg mengucapkannya terang²an. Di depan si anak. mungkin mengira toh anak ini tidak akan paham apa yg diucapkan orang dewasa. Ternyata Audrey lebih dari sekadar paham. Baru mendengar saran itu saja, Audrey sudah kian merasa disakiti hatinya. Apalagi setelah benar² dibawa ke dokter jiwa.

Dasar anak cerdas, dia tau apa yg harus diperbuat di dokter jiwa. Jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia bisa menilai dokternya. Berkualitas atau tidak. Krn tidak ”sembuh”, Audrey dibawa ke dokter yang lain lagi. Yang berikutnya lagi. Bahkan, Audrey pun bisa membandingkan. Mana dokter yang kurang paham dan mana yang lebih kurang paham. Ketika ada dokter jiwa yang kemudian memberinya obat, Audrey pun kian merasa betapa sulit orang lain memahami dirinya. Bahkan dokter jiwa sekalipun.

Ketika kelas tiga SD, Audrey bikin kejutan lagi. Gak mau sekolah. Terlalu mudah. Orangtuanya mencarikan jalan keluar. Pindah sekolah. Memang dia bisa menjawab pertanyaan² untuk kelas enam sekalipun. Audrey akhirnya bisa mendapat percepatan. Umur 12 tahun sudah kelas tiga SMA. Kesulitan muncul. Tidak ada universitas yg bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 tahun.

Dicarilah berbagai informasi. Di dalam negeri. Di luar negeri. Ketemu. Di Amerika Serikat. Di Negara Bagian Virginia. Di Kota Williamburg. Termasuk kota pertama dalam sejarah AS yang didarati bangsa Eropa.

Audrey tentu harus dites. Lulus. Dalam tes bhs Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa bahasa Prancis, Rusia. Di William and Marry University ini, Audrey ambil mata kuliah yang  wow: Fisika Murni. Dia pun lulus S-1 Fisika Murni hanya dlm waktu dua tahun. Dgn tingkat kelulusan summa cum laude pula.

Orangtuanya tentu gembira. Tapi sekaligus sedih. Marah. Sulit. Audrey tetap ingin masuk tentara. Jadi pejuang negara. Seperti pahlawan yang dikenalnya di foto² di dinding taman kanak-kanaknya.

Nasihat orangtuanya tidak pernah dia terima. Misalnya, nasihat untuk menyadari bahwa dirinya itu keluarga Tionghoa. Minoritas. Belum tentu bisa diterima baik oleh lingkungan yg luas. Kok mau masuk tentara. Jadi pejuang bangsa.

Sejak kecil Audrey terus dinasihati tentang sulitnya jadi minoritas. Tentang bahayanya menjadi golongan Tionghoa. Risiko bermata sipit. Berkulit kuning. Tentang risiko² pergaulan. Kekerasan. Apalagi dia seorang wanita. Begitu protektif si ibu sampai² saat ada tukang di rumahnya, Audrey tidak boleh keluar kamar.

Begitu ketatnya aturan yang harus dijalani seorang anak kecil bermata sipit membuat Audrey memberontak. Diam² Dia ­pendam dalam hati. Dia berusaha menghitamkan kulitnya. Tapi tiap becermin dia mengakui matanya masih sipit. Dia bertekad tidak mau berbahasa Mandarin. Dia berhenti kursus Mandarin. Bahkan, dia bertekad tidak akan mau menikah dengan pemuda Tionghoa.

Dia tidak percaya soal perbedaan ras tidak bisa diatasi. Dia percaya pada Pancasila. Yg ajarannya mulia. Tidak mem-beda² kan warga negara. Dia tahu dlm kenyataan bhw pembedaan itu ada. Justru itu hrs diperjuangkan. Agar Pancasila bisa dilaksanakan.

Dia tidak mau kaya raya. Tidak mau jadi pengusaha. Dia juga masih melihat banyak golongan Tionghoa yg tidak melaksanakan Pancasila. Di tengah bangsa yang masih  begini miskinnya. Tapi dia juga kecewa bahwa golongan Tionghoa masih  diperlakukan tidak adil & beradab oleh golongan lainnya. Dia kecewa dalam hal ini Pancasila baru di bibir saja.

Mengapa saat berumur empat tahun Audrey sudah mempertanyakan arti kehidupan dan kemana perginya rasa bahagia?

Hari itu Audrey mendadak diajak ke Tulungagung. Kakeknya meninggal. Kakek yang dia sayangi. Kakek yang periang & penyayang. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung, dia mendengar pembicaraan orangtuanya. Terutama tentang penyebab meninggalnya. Yakni, meninggal karena sedih. Ditinggal mati istrinya. Sang istri meninggal setelah menderita lama: korban tabrak lari.

Audrey kecil sangat sayang oma & opanya. Audrey memanggilnya Ama & Akong. Pagi itu jam 4 pagi, Ama bersepeda sehat ke arah alun² Tulungagung. Sebuah mobil menabraknya. Tidak pernah diketahui siapa penabraknya.

Dari situlah Audrey terus berpikir. Mengapa orang  yang begitu menyenangkan harus meninggal. Bahagia itu ternyata bisa datang & pergi. Banyak sekali yang dia renungkan. Padahal, kalau ada orang dewasa bicara, Audrey itu hanya diam. Begitulah kata ibunya. Kami-kami ini tidak tahu bahwa dalam diamnya itu ternyata dia terus berpikir. Padahal, orang mengira dia diam karena tidak peduli dengan pembicaraan orang dewasa.

Kata Audrey, umur itu ternyata pendek. Sejak saat itu, Audrey bertekad untuk mengisi umur yang pendek itu dengan sebanyak mungkin arti kehidupan. Audrey jadi anak genius. Audrey bukan tidak bisa berubah.

Dia terkejut saat ke dokter gigi. Orangtuanya membawa Audrey ke dokter gigi di Singapura. Di sana dia mendapat kesan betapa orang² Singapura sangat bangga akan negaranya. Padahal, dia melihat orang² itu memiliki nama China. Kesimpulannya: untuk bangga pada negara, untuk  membela negara, ternyata tidak harus dgn cara mengubah identitas. Denagn nama tetap China, dengan kulit tetap kuning, dengan mata tetap sipit, ternyata orang² itu begitu fanatik pada ke-Singapura-annya. Pada negaranya.

Audrey mulai mau belajar lagi bahasa Mandarin. Denagn cepat. Bahasa apa pun bisa dia kuasai dengan mudah. Bahkan, Audrey sudah menerbitkan beberap buku pelajaran bahasa Mandarin utk anak Indonesia. Audrey juga mulai ingin punya nama Tionghoa.

Dia ke pengadilan. Mengubah namanya. Menjadi: Audrey Yu Jia Hui. Dia ingin membuktikan bahwa untuk cinta negara tidak harus mengubah atau menyembunyikan identitas suku atau rasnya. Seperti di Singapura. Dan sebetulnya juga di Amerika.

Hanya, dia tetap masih membujang. Umurnya sudah 30 tahun saat ini. Mengajar bahasa Inggris untuk level tertinggi di Shanghai. Sambil terus menyusun konsep penerapan Pancasila yang baik. Saya sudah dikirimi draft konsep pemasyarakatan Pancasila menurut dia. Saya sudah membaca dan ikut merenungkannya.

Ibunya juga sudah mulai berubah. Audrey sudah bisa pulang tahun depan dengan suasana baru.

”Saya baru tahu dari bukunya kalau perasaannya kepada saya seperti itu,” kata sang ibu kepada saya. ”Saya menyesal,” tambahnya. ”Saya sudah berubah. Saya mau berubah,” kata sang ibu.

Source: Rudy Kurniawan

Retno Puji Astuti

 

Kisah Gigih Bidan yang Terlahir dari Ayah-Ibu Tunanetra, Kuliah Cari Beasiswa, dan Lulus Cumlaude


Yogyakarta, 30 Agustus 2017

RETNO

TRIBUNNEWS, YOGYA – Ketekunan dan Kemandirian menjadi langkah sukses bagi Retno Puji Astuti.

Terlahir dari kedua orangtua yang tunanetra, Retno sukses membiayai hidup keluarganya, mendapat beasiswa kuliah, dan membanggakan orang tua dengan lulus cumlaude sebagai calon bidan.

Ditemui usai pelepasan wisudawati, Retno baru saja disematkan sebagai lulus cumlaude dengan IPK 3.72.

Lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta (Akbidyo) mengaku bahagia bisa lulus tepat waktu.

Terlebih Retno adalah penerima beasiswa Yayasan sehingga tak mengeluarkan sepersen pun untuk kuliah.

Retno menceritakan, dirinya lulus SMA pada tahun 2011.

Memegang tabungan beasiswa sejak SD kelas 5, Retno pun melanjutkan kuliah entrepreneur selama satu tahun sebagai modal kerja.

“Sejak kecil memang sudah nyari uang sendiri untuk biaya sekolah, dulu pas SD juga dapat uang beasiswa, itu saya tabung buat biaya kuliah,” ujar Retno pada Rabu (30/8/2017).

Usai kuliah, Retno pun mencari kerja di Jakarta selama satu tahun.

Setelahnya, Retno kembali ke Yogyakarta untuk mencari pekerjaan lainnya.

 

Angga Dwi Tuti Lestari

Angga Dwi Tuti Lestari Anak Petani Asli Solo Lulus dengan IPK 3,98


Angga Dwi Tuti Lestari Peraih IPK 3,98 Solo

Angga Dwi Tuti Lestari Peraih IPK 3,98 Solo. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo

Setelah Raeni dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), kini ada satu mahasiswi asal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berprestasi, Angga Dwituti Lestari.

IPK Angga Dwi Tuti Lestari bahkan mampu mengalahkan IPK yang diperoleh Raeni yang sebesar 3,96. Perempuan kelahiran Sleman 21 Februari 1992 ini lulus dengan IPK 3,98. Yang lebih mencengangkan, Eng -demikian dia biasa dipanggil- merupakan putri dari seorang petani.

Raut wajah gembira terlihat saat Okezone menghampiri anak kedua dari dua bersaudara pasangan Supriyanto dan Sugiyanti yang tinggal di Cibuk Lor I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta ini di ruang Humas Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Selasa (17/6/2014).

Kegembiraan tersebut dikarenakan Eng mampu mewujudkan impian orangtuanya untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Eng merupakan mahasiswi Fakultas MIPA. Eng merupakan mahasiswi program studi Biologi Fakultas MIPA UNS angkatan 2010 yang diterima, dan mendapatkan beasiswa bidikmisi.

“Ayah saya seorang petani. Ibu saya lulus SD saja tidak. Terus terang pada mulanya saya bingung kalau mau melanjutkan sekolah uang dari mana. Untungnya saya dapat bidikmisi,” papar Eng mengawali ceritanya kepada Okezone, di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah.

Meskipun Eng mendapatkan bidikmisi, dirinya mengaku tak bisa hanya berdiam diri saja. Untuk menghidupi biaya sehari-hari selama berkuliah di Kota Solo, pada awal semester, Eng bekerja sebagai guru les. Namun pekerjaan tersebut hanya dia lakukan pada semester awal saja, sebab beasiswa bidikmisi yang didapatkannya sudah cukup membantu.

Eng pun akhirnya memutuskan untuk merintis usaha kecil-kecilan. Begitu dia mendapat beasiswa Bidikmisi, beasiswa tersebut dia gunakan untuk merintis usaha jus organik. Pelan namun pasti, usaha jus organik yang dirintis di kampung halamannya, yaitu di Yogya berjalan cukup sukses.

“Setiap bulan saya menabung Rp100 ribu. Setelah terkumpul Rp1 juta saya gunakan untuk buka usaha itu. Bahkan saya mampu menyewa tempat kecil-kecilan di depan SMP 1 Godean,” ujar perempuan lulusan SMA 1 yogyakarta ini.

Meskipun kepadatan kuliah, ditambah usaha jus organik yang dijalaninya, tak mengganggu waktunya untuk berkuliah. Selama kuliah di UNS, Eng selalu mendapatkan IPK 4,0 di setiap semesternya. Hingga akhirnya, Eng mendapatkan kepercayaan penuh mewakili Indonesia dalam pertemuan World Student Environment Summit yang diikuti 34 negara di Jerman pada 2013 lalu.

Sebenarnya Eng sudah di wisuda pada Februari lalu. Namun karena dirinya mengalami kecelakaan sepeda motor saat bersama saudaranya, maka Eng memutuskan menunda wisudanya. Baru pada Maret, Eng resmi diwisuda.

“Untungnya waktu kecelakaan itu saya tidak apa-apa. Hanya saudara saya yang luka. Karena itulah saya menunda wisuda saya. Tidak enak lihat saudara sakit, masak saya nekat untuk wisuda,” paparnya.

Angga Dwituti Lestari Peraih IPK 3,98 Mendapatkan Beasiswa di Belanda

Angga-Dwituti-Lestari.-320x240Angga Dwituti Lestari bersiap melanjutkan kuliahnya di Leiden University, Belanda lepas dirinya diwisuda. Eng, begitu dia biasa disapa, merupakan mahasiswi asal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berprestasi dengan IPK tertinggi sebesar 3,98.

Selama kuliah di Belanda, wisudawan terbaik UNS ini mengambil tema skripsi tentang karakter fisilogis dan biokimia buah alpukat dengan perlakuan suhu dan kitosan (cangkang udang) untuk menghambat proses pemasakan selama penyimpanan. Eng nantinya berencana mengambil jurusan Plant Biology and Natural product.

Alhamdulilah saya dapat beasiswa lagi melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Afirmasi. Kenapa saya pilih Belanda, kebetulan, dosen saya ada yang kuliah S3 di Belanda. Sayangnya di Jerman tidak ada jurusan yang saya ambil. kalau Inggris ada, tapi saya tidak punya kenalan,” jelasnya, kepada Okezone.

Karena kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan itulah, ayahnya tak pernah memberikan dirinya hadiah. Meskipun sejak duduk di bangku sekolah dasar, Eng yang semula bercita-cita ingin menjadi seorang dokter ini selalu mendapatkan peringkat terbaik. Kalau pun ada, ayah dan ibunya selalu mengajaknya makan mi ayam bersama.

Sekadar informasi, Eng merupakan mahasiswi program studi Biologi Fakultas MIPA UNS angkatan 2010 yang diterima, dan mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

“Ayah saya seorang petani. Ibu saya lulus SD saja tidak. Terus terang pada mulanya saya bingung kalau mau melanjutkan sekolah uang dari mana. Untungnya saya dapat bidikmisi,” papar Eng.

Meskipun Eng mendapatkan bidikmisi, dirinya mengaku tak bisa hanya berdiam diri saja. Untuk menghidupi biaya sehari-hari selama berkuliah di Kota Solo, pada awal semester, Eng bekerja sebagai guru les. Namun pekerjaan tersebut hanya dia lakukan pada semester awal saja, sebab beasiswa bidikmisi yang didapatkannya sudah cukup membantu.

Raeni Helmi

Prestasi Gemilang Seorang Anak Tukang Becak – Raeni Raih IPK 3,96 di UNNES


Raeni-Naik-Becak

Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Raeni untuk menambatkan cita-citanya setinggi langit dengan menyelesaikan pendidikan di Unnes Semarang.

Meski orangtuanya pengemudi becak, ia menunjukkan, biaya bukan penghalang masuk perguruan tinggi. Bukan hanya selesai lulus dan wisuda biasa, namun Raeni kelahiran 13 Januari 1993 (21) menjadi wisudawan terbaik pada upacara wisuda periode kedua 2014 Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Uniknya, lulusan Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unnes ini berangkat menuju ke tempat wisuda, Auditorium Unnes, Selasa, menumpang becak yang digenjot Mugiyono (55), ayahandanya.

Tanpa memperlihatkan rasa canggung, anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Mugiyono dan Sujamah itu naik becak mulai dari tempat indekosnya, sekitar kampus Unnes, menuju lokasi wisuda.

Demikian pula, ketika usai wisuda, peraih beasiswa Bidik Misi itu kembali menumpang becak yang digenjot ayahnya. Bahkan Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman pun ikut menumpang menuju rektorat.

Raeni mengaku bangga bisa menamatkan kuliah di Unnes dengan prestasi yang membanggakan dan menyandang predikat lulusan terbaik meski dirinya berasal dari kalangan keluarga yang tidak mampu.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Inginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.

Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.

Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.

Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.

Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!

Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. “Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.

“Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” kata Fathur.

Ubah Minder Jadi Prestasi

Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.

“Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga,” katanya.

Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.

Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” ungkap Raeni.

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.

Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.

Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.

Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.

Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara,” tuturnya.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.

Ditawari Beasiswa ke Inggris

Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.

Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. “Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya.

Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.

“Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat,” tandasnya.

– See more at: http://news.liputan6.com/read/2062384/kisah-raeni-si-anak-tukang-becak-kejar-ilmu-hingga-inggris#sthash.hdzDLR27.dpuf

Anies: Raeni Lolos Tes Indonesia Mengajar Tahap Pertama

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan
Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan

Kepopuleran Raeni, anak tukang becak yang berhasil meraih IPK hampir sempurna saat kelulusannya di Universitas Negeri Semarang (Unnes) rupanya telah sampai ke telinga Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan. Keberhasilan Raeni membuat Anies tertarik untuk berkomunikasi secara langsung.

“Saya sudah bicara via telepon tadi,” ujar Anies saat ditemui di Hotel Mulia, Senyan, Jakarta, Kamis (12/6/2014).

Saat berkomunikasi, Anies akhirnya mengetahui bahwa gadis 21 tahun tersebut telah mengikuti ujian masuk Indonesia Mengajar dan telah lolos tahapan pertama.

“Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assesment atau wawancara,” jelas Anies.

Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, Anies menegaskan seleksi Indonesia Mengajar pada Raeni tetap berlangsung objektif. “Bisa masuk Indonesia Mengajar setelah lulus dulu, kami objektif,” ungkap Anies.

Indonesia Mengajar adalah program yang digagas Anies Baswedan yang merekrut, melatih dan mendidik anak-anak muda berprestasi menjadi guru di sekolah-sekolah pelosok Indonesia.

Raeni sendiri lewat beasiswa Bidikmisi, dapat melalui masa-masa kuliah dengan belajar dan berprestasi. Berkali-kali menjuarai lomba di kampusnya, Raeni akhirnya dapat membuktikan kesungguhannya menuntut ilmu dengan menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,96.

Wamendikbud Imbau Raeni Lanjutkan S2 ke Luar Negeri, Janjikan Beasiswa

Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim
Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim

Raeni, wisudawati dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang mendapatkan predikat lulusan terbaik mendapat perhatian dari Wakil Menteri Pendidikan, Musliar Kasim. Dia memberikan apresiasi dengan memberikan beasiswa unggulan apabila gadis tersebut masih berambisi untuk melanjutkan pendidikannya.

“Ada program beasiswa unggulan. Itu semua tergantung Raeni. Kalau dia diangkat jadi calon dosen bisa ambil beasiswa di Dikti, jika tidak ya bisa juga ambil beasiswa unggulan,” ujar Musliar di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (12/6/2014).

Menurut Musliar, program Bidik Misi selalu memiliki anggaran yang cukup. Oleh karena itu, dia menantikan generasi-generasi muda yang memiliki nasib yang sama seperti Raeni untuk memanfaatkan program tersebut.

“Bidik Misi selalu ada anggaran. Bidik Misi sudah berjalan dengan baik, nah sekarang tinggal program beasiswa S2 dan S3 yang agak kesulitan. Dana yang tersedia tidak pernah terserap semua,” jelasnya.

Musliar menyarankan, supaya Raeni mengambil program beasiswa dan belajar di universitas luar negeri. Saran tersebut bukan berarti universitas pasca sarjana di Indonesia kurang baik, melainkan dengan belajar di negeri asing, dapat menambah pengetahuan dan pengalaman hidup di negeri orang.

“Kita mengharapkan banyak keluar, bukan berarti S2 dan S3 kita kurang baik. Kita sudah pikirkan semua standar living cost-nya. Paling 1000 Euro dalam satu bulan,” tutur Musliar.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4.

Prestasi itu dipertahankan hingga dia lulus, sehingga ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Selepas wisuda, ambisi Raeni untuk kembali melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Maunya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata Raeni.

Setelah Sukses di Unnes, Raeni Putri Tukang Becak ini Punya Mimpi ke Inggris

Raeni (21) telah melalui masa-masa perkuliahan di Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dia sukses membuat bangga ayahnya Mugiyono yang hanya tukang becak di Kendal, Jateng dengan penghasilan Rp 10-50 ribu per/hari.

Lewat beasiswa Bidikmisi, Raeni melalui masa-masa kuliah dengan belajar dan berprestasi. Saat ditemui di kosnya di Jl Kalimasada 24, Semarang, Rabu (11/6/2014), Raeni yang diwisuda akhir pekan lalu sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,96 ini menuturkan mimpi-mimpi yang ingin digapainya.

“Saya ingin kuliah di Inggris, semoga bisa dapat beasiswa,” terang dia.

Inggris tak sembarang dipilih. Dia melihat dosennya yang berkuliah di negeri asal pesepakbola David Beckham itu.

“Kenapa di Inggris? Karena dosen saya ada yang kuliah di sana. Saya asisten dosen, kami cerita-cerita dan berawal dari mimpi itulah semoga terwujud,” tandas Reni yang mengenakan hijab warna biru dongker itu.

Kabarnya sudah ada yang menawarkan beasiswa kepadanya, tapi apakah untuk berkuliah di Inggris? Kita tunggu saja kabar gembira selanjutnya dari Raeni.

Raeni dan Ayahnya yang Tukang Becak Bertemu SBY di Halim

Raeni dan Ayah nya saat bertemu pak SBY dan Istri
Raeni dan Ayah nya saat bertemu pak SBY dan Istri

Raeni (21) dan ayahnya Mugiyono yang tukang becak becak di Kendal, Jateng bertemu Presiden SBY dan Ibu Ani. Presiden memberi ucapan selamat kepada Raeni dalam pertemuan di Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

Dalam akun resmi presiden @SBYudhoyono, Jumat (13/6/2014) ditampilkan foto pertemuan itu. Raeni dan ayahnya tampak terharu bertemu presiden dan ibu negara.

Sang ayah yang mengayuh becak demi masa depan Raeni agar bisa kuliah, tampak mengusap air matanya. Raeni merupakan lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK 3,96.

Raeni berkuliah dengan beasiswa Bidikmisi dari Kemdikbud, hingga tamat dari jurusan akutansi fakultas ekonomi Unnes. Raeni juga menjadi asisten dosen dan memiliki sejumlah prestasi.

Sehari-hari untuk menambah uang saku dia mengajar les pelajar SMA. Dia juga mengajar ngaji anak-anak di mushola.

Sang ayah berhenti dari pekerjaan sebagai karyawan di pabrik kayu agar uang pesangon bisa dipakai untuk masuk dan biaya kuliah. Setelah berhenti menjadi karyawan, ayahnya membecak dan menjadi penjaga malam di sekolah.

“Presiden SBY: Raeni, Saya ucapkan selamat atas prestasi yg sangat membanggakan kita semua. Keterbatasan ekonomi tdk halangi utk berprestasi,” tulis akun @SBYudhoyono.

Cerita Ibu Kos Soal Raeni yang Jaga Amanah karena Beasiswa dari Pemerintah

Pendidikan moral yang diberikan orang tua Raeni (21) menjadikannya sosok yang disiplin dan sopan dimanapun ia tinggal. Di tempat kosnya di Jalan Kalimasada nomor 24 Semarang ia bahkan memperlakukan ibu kos layaknya ibu kandung dan teman-teman kosnya layaknya saudara.

Pemilik kos tersebut, Koyimah sangat terkesan dengan Raeni karena selalu taat beribadah dan sopan. Sesekali Raeni juga curhat kepadanya tetang nilai-nilai yang diperoleh di kampus.

“Paling berkesan masalah ibadahnya. Kalau ke luar kos ya cium tangan. Kalau mau lomba juga minta doa ke saya. Saya itu dianggap wakil orang tuanya,” kata Koyimah saat ditemui detikcom.

Koyimah juga terkesan dengan tekad Raeni yang selalu ingin memperoleh nilai sempurna tiap semesternya. Nilai 3,9 bahkan dianggap kurang oleh Raeni sampai-sampai ia menangis.

“Dia dapat IPK 4.00 itu sering, kalau kurang dari itu dia menangis ke saya,” kenangnya.

Menurut Koyimah tekad Raeni itu karena rasa tanggungjawab terhadap beasiswa bidikmisi yang diperolehnya di Unnes dan rasa ingin membanggakan orang tuanya yang hanya bekerja sebagai pengayuh becak.

“Betul-betul mengemban amanah, dengan biaya pemerintah ia semangat ingin sukses. Dia juga tauladan bagi saya dan anak-anak kos saya,” pungkas Koyimah.

Selain itu, Raeni sama sekali tidak pernah meminta uang kepada orangtuanya, bahkan ia justru menyisihkan uang beasiswa, kerja sambilan, dan hadiah lomba untuk orang tuanya. “Dia itu enggak minta sangu ke orang tuanya, tapi malah ngasih. Uang beasiswa masih sisa pasti dikasihkan. Tidak pernah terlambat bayar uang kos,” ujarnya.

Koyimah merasa bangga ada penghuni kosnya yang memiliki pribadi dan prestasi seprti Raeni. “Anak-anak kos kadang minta doa ke saya agar bisa menjadi seperti Raeni,” tutup Koyimah.

Raeni menjadi sorotan karena putri dari pengayuh becak ini menjadi lulusan terbaik pada upacara wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK 3,96. Ia masih memiliki mimpi untuk meneruskan pendidikannya ke Inggris.

Kata Raeni Anak Tukang Becak Lulusan Terbaik Unnes: Semua Mimpi Bisa Diraih

Raeni (21) tak menyangka bisa berkuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan diwisuda sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,96. Ayahnya Mugiyono hanya seorang tukang becak dengan penghasilan seadanya. Dibantu beasiswa Bidikmisi Kemdikbud, dia bisa meraih mimpinya.

Raeni berkuliah di jurusan pendidikan akutansi Fakultas Ekonomi Unnes. 3 Tahun 6 bulan 10 hari, Raeni yang menambah uang saku dengan menjadi asisten dosen dan ikut berbagai lomba. Dahulu awal masuk kuliah dia sempat berhutang untuk beli laptop, yang dilunasi ayahnya dengan pesangon dari perusahaan pabrik kayu.

Sejak itu, ayahnya alih profesi menjadi tukang becak yang penghasilannya Rp 10-50 ribu sehari ditambah menjadi penjaga malam di sekolah di Kendal, Jateng dengan gaji Rp 450 ribu/bulan.

“Setelah lulus saya ingin sekali melanjutkan kuliah di Inggirs,” kata Raeni bercerita kepada detikcom, Kamis (12/6/2014).

Raeni dikenal cerdas dan disiplin belajar. Dia juga aktif di kegiatan kemahasiswaan, dia tak minder walau ayahnya seorang tukang becak.

“Kata pihak humas sudah ada yang menawarkan beasiswa ke Inggris, tapi saya belum tahu pastinya dari mana,” tutur Raeni.

Inggris dipilihnya karena dosen dia di akutansi menamatkan master di negeri Ratu Elizabeth itu. Raeni kerap mendengar cerita soal pendidikan di sana.

Kisah Raeni ini mungkin satu dari kisah-kisah lainnya, anak dari kalangan bawah menembus bangku kuliah dan suatu hari nanti bisa mengangkat ekonomi keluarganya.

Raeni juga memberikan pesan bagi teman-teman dan siapapun yang punya mimpi berkuliah tapi dari kalangan bawah.

“Kalau misalnya punya kemapuan terus berusaha, insya Allah bisa berhasil. Semua memang dari mimpi, tapi karena dikejar dengan ridho Allah dan dengan semangat dan tekad kuat pasti bisa berhasil,” tutup Raeni yang tengah diajak sebuah stasiun TV ke Jakarta dan diwawancara ini.

Soal Laptop yang Ngutang dan Jadi Guru Ngaji di Kendal

Raeni (21), masa kuliah benar-benar penuh perjuangan. Selama 3 tahun 6 bulan 10 hari, Raeni menempuh pendidikan di Jurusan Akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes). Akhir pekan lalu dia diwisuda dan menjadi lulusan terbaik dengan IPK 3,96.

Yang cukup menarik, kala diwisuda sang ayah Mugiyono datang dari Kendal ke Semarang dengan mengayuh becak. Sang ayah mengantarkan Raeni dengan becak dari tempat kosnya ke kampus Unnes. Mugiyono sehari-hari memang pengayuh becak dengan penghasilan Rp 10-50 ribu/hari dan kala malam menjadi penjaga sekolah dengan gaji Rp 450 ribu/bulan.

“Dulu pas beli laptop ngutang, karena bapak nggak punya uang,” terang Raeni saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/6/2014).

Raeni mengenang, hingga akhirnya sang ayah pensiun dini dari perusahaan kayu tempatnya bekerja. Uang pensiun itu yang digunakan untuk membayar utang laptop. Raeni berkuliah dengan biaya beasiswa dari Bidikmisi Kemdikbud.

“Uang pensiun bapak buat bayar lunasin utang laptop,” imbuhnya.

Sejak berhenti bekerja pada 2010, sang ayah pun menjadi pengayuh becak di Kendal. Raeni membalas kepercayaan ayahnya itu dengan rajin belajar dan prestasi.

“Saya juga jadi asisten lab dan ikut berbagai lomba, buat nambah uang saku,” jelas Raeni yang tak ingin membebani orangtuanya.

Raeni juga kerap mengisi waktu dengan mengajari anak-anak mengaji di mushola dekat rumahnya. Dia menularkan ilmu yang dimilikinya ke anak-anak di sekitar rumah.

“Kalau pulang ke Kendal saya juga mengajar di TPQ di mushala depan rumah,” tutur Raeni yang kini tengah berada di Jakarta karena diundang sebuah stasiun TV.

Raeni bersyukur bisa membanggakan orangtuanya dengan prestasi. Dia masih punya mimpi melanjutkan jenjang S2 ke Inggris. Semoga saja Raeni bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pengajar.

Sempat Dicibir Tetangga Anak Tukang Becak ini Tetap Semangat Kuliah di Unnes

Raeni (21) mengaku tidak mudah bagi orang sepertinya dari kalangan bawah untuk menimba ilmu di bangku kuliah. Satu hal, banyak tetangganya di Kendal, Jawa Tengah yang bersuara sumbang. Alasannya dia membebani orangtuanya Mugiyono yang hanya tukang becak.

“Ada tetangga bilang, orang nggak mampu ngapain kuliah, ngerepotin orangtua,” terang Raeni saat berbincang dengan detikcom, Kamis (12/6/2014).

Walau sempat bersedih, Raeni tetap memantapkan hati untuk terus berkuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) jurusan pendidikan akutansi Fakultas Ekonomi. Dia memperoleh beasiswa Bidikmisi

“Bapak dan ibu sayang sama saya, mereka tetap saya mau terus kuliah,” ujar Raeni yang hari ini berada di Jakarta karena sebuah stasiun TV mengundangnya untuk wawancara.

Raeni ingin mengubah nasib keluarganya. Sang ayah hanya tukang becak dengan penghasilan Rp 10-50 ribu perhari dan kala malam menjadi penjaga sekolah dengan bayaran Rp 450 ribu/bulan. Raeni percaya hanya dengan pendidikan dia bisa mengubah hidupnya dan keluarganya.

Jujur, Sederhana, dan Disiplin Kunci Sukses Raeni Jadi Lulusan Terbaik Unnes

Prestasi Raeni (21) seorang putri dari pengayuh becak asal Desa Langenharjo, Kabupaten Kendal yang menjadi lulusan terbaik wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang (Unnes) diperoleh berkat kebiasaan disiplin yang diajarkan orang tuanya. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.

Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes. Raeni mengaku dengan mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.

“Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti,” kata Raeni kepada detikcom saat ditemui di kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang, Rabu (11/6/2014).

Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. “Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga,” imbuhnya.

Penerima beasiswa bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos.

Dara kelahiran 13 Januari 1993 itu juga tidak pernah merepotkan orang tuanya, bahkan ia sering menyisihkan uang beasiswa dan uang menang lomba untuk diberikan kepada orang tuanya ketika pulang ke Kendal. Selain itu, sejak semester tiga kuliah, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.

“Awalnya satu murid, terus jadi enam murid, dan Alhamdulillah semuanya lulus ujian,” tandas Raeni. Raeni menegaskan sifat yang ada di dalam dirinya itu merupakan bentukan dari cara mendidik orang tuanya. Sejak kecil ia dibiasakan disiplin, mengakui kesalahan, dan hidup sederhana.

“Bapak orangnya tegas, ketika saya salah ya harus mengaku salah. Bapak selalu mengarahkan supaya hidup sederhana,” ujarnya.

Setelah lulus ini, Raeni bercita-cita melanjutkan kuliah di luar negeri terutama Inggris. Berkat prestasinya, sejumlah tawaran mulai mengalir untuk memberikan beasiswa kepada Raeni agar bisa kuliah di luar negeri.

“Kenapa di Inggris? Karena dosen saya ada yang kuliah di sana. Saya asisten dosen, kami cerita-cerita dan berawal dari mimpi itulah semoga terwujud,” katanya.

Bahkan ketika sedang berbincang dengan detikcom, ada telepon dari pihak yang menawarkan beasiswa ke Inggris lewat telepon seluler Kepala Humas Unnes, Sucipto Hadi Purnomo yang juga sedang berkunjung ke kos Raeni.

Sucipto mengatakan, tawaran beasiswa dan pekerjaan dari perusahaan-perusahaan terus mengalir. Selain itu pihak Unnes juga ingin mendorong Raeni menjadi tenaga pengajar atau dosen di Unnes.

“Unnes akan berupaya mendorong menjadi dosen Unnes, kita upayakan, tapi tergantung pilihannya dia sendiri,” kata Sucipto.

Nelson Tansu

Nelson Tansu Profesor Termuda asal Indonesia 


Nelson Tansu

Membaca namanya, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa ia adalah orang Indonesia. Tapi jika membaca biografinya, barulah orang akan percaya bahwa sosok bernama Nelson Tansu tersebut adalah 100% Indonesia. Nelson Tansu adalah putra bangsa kelahiran Medan, 20 Oktober 1977 dengan segudang prestasi yang membanggakan dan sudah diakui dunia internasional. Bayangkan saja, pria Medan ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Selain itu, di usia yang belum menginjak 30 tahun, ia sudah meraih gelar profesor bidang electrical engineering di Amerika Serikat.

Dalam perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengakui mendapat dukungan yang besar dari keluarga terutama kedua orang tua dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ketika Nelson masih SD, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya.

Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Nelson muda merupakan lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Kecerdasannya juga mengantarkannya menjadi finalis dari Indonesia dalam sebuah olimpiade fisika internasional. Ia meraih gelar sarjana dari Wisconsin University yang ditempuhnya dalam 2 tahun 9 bulan dengan predikat Summa Cum Laude. Gelar PhD pun diraihnya dalam usia 26 tahun di universitas yang sama.

Nelson mengaku, orang tuanya hanya membiayai pendidikannya hingga sarjana. Selebihnya, karena otaknya yang encer, ia menjadi rebutan tawaran beasiswa. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi profesor di Lehigh University, tempatnya bekerja sekarang. Tesis doktoralnya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 tesis doktoral lainnya.

Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC.

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS dan luar AS seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.

Biarpun sudah lama berada di Amerika Serikat, Nelson tetap memegang paspor hijaunya, dan tidak mengganti kewarganegaraannya. Di setiap kali memulai mengajar, Nelson selalu berujar “I am Nelson Tansu, and I am an Indonesian”.

Nelson Tansu 2Nama lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.

Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu.

Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.

Inilah kisah selanjutnya dari Nelson Tansu:

Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.

Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC .

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.

Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks(buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.

Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya.

“Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya, serius. Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras,” kata Nelson menjawab koran ini.

Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orangtua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).

Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. “Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics,” jelasnya.

Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.

Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon.

Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.

Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

“Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah,” ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.

September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. “Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini,” jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Menteri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.

Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orangtuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orangtua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras.

Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia “kembali” mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang.Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. “Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia.

Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,”jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang “Tansu”, sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. “Saya suka dengan nama Tansu, kok,” kata Nelson dengan nada bangga.

Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.

Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. “Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas,” katanya.

Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS.

Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.

Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS.

Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.

Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. “Sejak SD kelas III atau kelas IV di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil,” ujarnya dengan mimik serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. “Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu,” jelas Nelson penuh kagum.

Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. “Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu,” ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? “Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he-he-he,” katanya, menyelipkan senyum.

Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi incaran dan malah “rebutan” kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandan g sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.

Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.

“Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices.

Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset.

The University Center on the campus of Lehigh University.
The University Center on the campus of Lehigh University.

Summary


Lehigh University is a private institution that was founded in 1865. It has a total undergraduate enrollment of 4,883, its setting is urban, and the campus size is 1,600 acres. It utilizes a semester-based academic calendar. Lehigh University’s ranking in the 2014 edition of Best Colleges is National Universities, 41. Its tuition and fees are $43,520 (2013-14).

best-colleges-badge-124x112Lehigh University is located in Bethlehem, Pa., 50 miles north of Philadelphia and 75 miles west of New York City. The Lehigh Mountain Hawks are members of the Patriot League, and compete in 25 NCAA Division I sports. Their biggest athletic rivalry is Lafayette College, located less than 20 miles away. A third of the student body is involved in fraternities and sororities. All freshmen are required to live on campus, and sophomores are also required to live on campus in a residence hall or Greek housing. Lehigh’s main campus is located on the wooded slope of South Mountain, and half of the campus is preserved as open space.

Lehigh University has four colleges, with numerous undergraduate and graduate majors. Its well-regarded graduate programs include the College of Education and the P.C. Rossin College of Engineering and Applied Science. The Jeanne Clery Disclosure of Campus Security Policy and Campus Crime Statistics Act originated at Lehigh, requiring colleges to reveal crimes on campus. Lehigh folklore says the school colors of brown and white originated when a woman wearing brown and white stockings passed by a group of men discussing school colors, and the rest is history. Notable alumni include Jesse W. Reno, the inventor of the escalator; and Howard McClintic and Charles Marshall, whose construction company helped build the Golden Gate Bridge, the George Washington Bridge, the Panama Canal and New York’s Waldorf-Astoria Hotel.

A view of the Linderman Library Rotunda at Lehigh University.
A view of the Linderman Library Rotunda at Lehigh University.

Students gather outside University Center at Lehigh University.
Students gather outside University Center at Lehigh University.

Students gather for an activity outside University Center at Lehigh University.
Students gather for an activity outside University Center at Lehigh University.

Biodata


Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri ini, misalnya aja Prof. Nelson Tansu, Ph.D. beliau adalah Profesor termuda di Amerika yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. ketika usianya 25 tahun, ia menjadi asisten profesor di bidang electrical and computer engineering, Lehigh University. Lehigh University merupakan sebuah universitas papan atas di bidang teknik dan fisika di kawasan East Coast, Amerika Serikat. Sudah lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya telah dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional.

 

Profeor Nelson Tansu lahir di Medan, Sumatera Utara, 20 Oktober 1977, merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Almarhum) Iskandar Tansu dan ibu (Almarhum) Auw Lie Min. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).  Ia adalah lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan pada tahun 1995 dan juga menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).

 

Pendidikan :


  • Ph.D. in Electrical Engineering (Applied Physics), September 1998 – Mei 2003, Universitas Wisconsin – Madison, Madison, Amerika Serikat
  • B.S. in Applied Mathematics, (Electrical) Engineering, and Physics (AMEP), September 1995 – Mei 1998, Universitas Wisconsin – Madison, Madison, Amerika Serikat
  • SMA Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1992 – Mei 1995)
  • SMP Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1989 – Mei 1992)
  • SD Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1983 – Mei 1989)
  • TK Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1981 – Mei 1983)

Karier :


  • Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, Juli 2003 – April 2007
  • Peter C. Rossin (Term Chair) Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, April 2007-April 2009
  • Associate Professor (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2009-April 2010.
  • Class of 1961 (Chair) Associate Professor (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2010-present.
  • Genius Youngest Porfessor.

Hasil Karya Riset :


  • Lebih dari 220 publikasi jurnal dan konferensi ilmiah internasional (February 2011) tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika, dan nanoteknologi. Terutama bidang riset mencakup fisika dan teknologi dari semikonduktor nanostruktur untuk laser, diode pemancar cahaya, sel surya, komunikasi, energi, dan lainnya.
  • Journal citations: > 1281 citations, dan H-index = 22 (Self citation > 50%, Februari 2011, ISI Web of Knowledge)
  • Delapan paten dalam bidang nanoteknologi dan optoelektronika dari kantor paten Amerika Serikat

Keberhasilan bukanlah berasal dari tingkat kepintaran,

Kunci dari keberhasilan adalah kerja keras dan fokus yang luar biasa

[Nelson Tansu]

#Beasiswa Indonesia

. End of Page