Category Archives: Audrey

Audrey

Related Posts:

“Anak Ajaib” asal Surabaya


TERNYATA INDONESIA (PERNAH) PUNYA “ANAK AJAIB” ASAL SURABAYA

audrey_20180129_085743

Anak ajaib itu bernama Audrey.

Prestasi Pendidikan Audrey:

  • Audrey selesaikan SD 5 tahun
  • SMP 1 tahun, dan SMA 11 bulan
  • Dia lulus SMA di umur yg sangat muda, 13 tahun!
  • Masalah terjadi karena tidak ada kampus di Indonesia yang mau terima anak umur 13 tahun jadi mahasiswa
  • Jadi dia kuliah di luar negeri, di University of Virginia
  • Kalian tau jurusan apa? FISIKA! Dia selesaikan studinya dlm tahun
  • Di umur 16 tahun dia jadi Sarjana Fisika dgn predikat Summa Laude! Sempurna!

Gak cuma itu,

  • umur 10 tahun skor TOEFL nya 573, memecahkan rekor MURI dgn nilai TOEFL tertinggi di usia termuda.
  • Umur 11 tahun hafal luar kepala kamus Indonesia–Inggris setebal 650 halaman.
  • Umur 14 tahun skor TOEFL 670!!
  • Skrg Audrey se-kurang²nya bisa menguasai 6 bahasa asing:
    • Inggris
    • Prancis
    • Jerman
    • Mandarin
    • Rusia
    • Latin

Tapi karena keajaibannya itu membuat dia terkucilkan. Kalangan dewasa anggap dia tdk normal. Teman sebaya anggap dia aneh sendiri, Harus dijauhi, tak bisa diajak berteman, hrs dikucilkan.

Kondisi lingkungan seperti itu membuatnya menderita. Di rumah, dia selalu dimarahi. Di sekolah selalu di-bully. Di pergaulan ibunya selalu jadi bahan gunjingan.

Banyak orang luar negeri menyayangkan karena kondisinya di Indonesia yg demikian itu membuat kemampuan Audrey di masa remajanya ter sia²kan. Tapi di balik semua perlakuan itu ternyata Audrey adalah orang yg begitu bangga dengan Indonesia. Banyak buku yg dia tulis yang menggambarkan kecintaannya terhadap negeri ini.

Tahun 2017 kemarin dia dinobatkan menjadi salah satu dari 72 ikon prestasi Indonesia.

Berikut ini ulasan dari Pak Dahlan Iskan:

SULITNYA (PUNYA) ANAK SUPER PANDAI

  • UMUR Audrey baru 4 thn saat itu. tapi pertanyaannya setinggi filsuf: Kemana perginya rasa bahagia? Atau: Apa arti kehidupan?
  • Pertanyaan seperti itu membuat orangtuanya kewalahan. Begitu sering dia tanyakan. Dan tidak ada jawaban. Gurunya belingsatan. Lingkungannya jengkel.
  • Di mata mereka , Audrey-cilik tetap dianggap bocah ingusan, tak pantas bertanya ­seperti itu. Bahkan, ada yg menganggapnya mengidap kelainan jiwa.
  • Padahal dia merasa normal. Semua pelajaran bisa dia ikuti dengan baik. Sangat baik. Bahkan istimewa. Semua bisa dia jawab. Bahkan yang belum ditanyakan sekalipun. Ta[i dia merasa terasing. Di rumahnya, di sekolahnya, di pergaulannya, dan jg di gerejanya.
  • Orangtuanya, terutama ibunya, kian jengkel. Yakni saat Audrey melanjutkan pertanyaan ”arti kehidupan” itu dgn pertanyaan yg lebih sulit dijawab: Mengapa ada org miskin & miskin sekali sampai hrs jadi pemulung atau gelandangan? 
  • Anak kecil yg tambah menjengkelkan.

Ketika sudah di SD dia ngotot mau ke tempat sampah. Mencari pemulung. Ingin membantu. Ingin melakukan spt yg disebut dalam Pancasila. Khususnya sila kelima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia tidak hanya hafal Pancasila. Tapi merasuk sekali dalam jiwanya. Saking merasuknya, sampai dia selalu mempersoalkan ini:

Mengapa yg tertulis & diajarkan di Pancasila tidak sesuai dgn kenyataan? Dalam kehidupan se-hari² di masyarakat. Seperti yang dia lihat. Dan yg dia alami sendiri. Sebagai pribadi, sebagai anak, bahkan sebagai anak keluarga Tionghoa.

Dia ngotot ingin selalu ke tempat pemulung, ingin tau arti kehidupan. Tentu ibunya melarang, bahkan memarahinya. Semua ibu mgkn akan seperti itu.

Lain waktu, Audrey bikin kejutan lagi. Cita²nya ingin jadi tentara. Agar bisa jadi pejuang. Seperti pahlawan. Yg fotonya dipajang di dinding kelasnya. Heroik. Seperti kisah pahlawan dari guru² nya.

Ibunya tentu marah lagi.

Waktu ibunya menikah dulu, bukan anak seperti itu yang dia impikan. Begitu lama sang ibu mendambakan segera punya anak. Tidak kunjung hamil. Tiga tahun. Empat tahun. Lima tahun. Lama sekali menanti. Setelah itu barulah hamil.

Begitu besar harapan pada anak itu. Apalagi, Audrey tidak kunjung punya adik. Audrey menjadi satu²nya anaknya. Terlalu banyak keinginan sang ibu pada masa depan Audrey kecilnya. Sang ibu mampu untuk menyiapkan apa saja. Dia insinyur kimia. Suaminya Insinyur Mesin. Kedudukan suaminya sangat tinggi di sebuah perusahaan raksasa. Di luar itu masih punya usaha. Bahkan beberapa . Pokoknya, dia cukup  kaya. Kurang apa.

Harapan pada  anaknya tentu seperti umumnya harapan orangtua. Apalagi anak tunggal. Yg untuk menanti kehadirannya begitu lama. Anaknya harus pandai, cantik, dan kelak bisa jadi orang sukses. Terkemuka. Kaya. Lebih sukses dari orang tuanya. Kemudian bisa mendapat suami yg setara.

Tapi ternyata anaknya telah membuatnya repot. Malu. Marah. Teman² sang ibu menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa. Begitu banyak yang menyarankan langkah itu. Begitu sering diucapkan. Secara nyata maupun isyarat. Kadang ia dengar sendiri saran ke dokter jiwa itu.

Ada yg mengucapkannya terang²an. Di depan si anak. mungkin mengira toh anak ini tidak akan paham apa yg diucapkan orang dewasa. Ternyata Audrey lebih dari sekadar paham. Baru mendengar saran itu saja, Audrey sudah kian merasa disakiti hatinya. Apalagi setelah benar² dibawa ke dokter jiwa.

Dasar anak cerdas, dia tau apa yg harus diperbuat di dokter jiwa. Jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia bisa menilai dokternya. Berkualitas atau tidak. Krn tidak ”sembuh”, Audrey dibawa ke dokter yang lain lagi. Yang berikutnya lagi. Bahkan, Audrey pun bisa membandingkan. Mana dokter yang kurang paham dan mana yang lebih kurang paham. Ketika ada dokter jiwa yang kemudian memberinya obat, Audrey pun kian merasa betapa sulit orang lain memahami dirinya. Bahkan dokter jiwa sekalipun.

Ketika kelas tiga SD, Audrey bikin kejutan lagi. Gak mau sekolah. Terlalu mudah. Orangtuanya mencarikan jalan keluar. Pindah sekolah. Memang dia bisa menjawab pertanyaan² untuk kelas enam sekalipun. Audrey akhirnya bisa mendapat percepatan. Umur 12 tahun sudah kelas tiga SMA. Kesulitan muncul. Tidak ada universitas yg bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 tahun.

Dicarilah berbagai informasi. Di dalam negeri. Di luar negeri. Ketemu. Di Amerika Serikat. Di Negara Bagian Virginia. Di Kota Williamburg. Termasuk kota pertama dalam sejarah AS yang didarati bangsa Eropa.

Audrey tentu harus dites. Lulus. Dalam tes bhs Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa bahasa Prancis, Rusia. Di William and Marry University ini, Audrey ambil mata kuliah yang  wow: Fisika Murni. Dia pun lulus S-1 Fisika Murni hanya dlm waktu dua tahun. Dgn tingkat kelulusan summa cum laude pula.

Orangtuanya tentu gembira. Tapi sekaligus sedih. Marah. Sulit. Audrey tetap ingin masuk tentara. Jadi pejuang negara. Seperti pahlawan yang dikenalnya di foto² di dinding taman kanak-kanaknya.

Nasihat orangtuanya tidak pernah dia terima. Misalnya, nasihat untuk menyadari bahwa dirinya itu keluarga Tionghoa. Minoritas. Belum tentu bisa diterima baik oleh lingkungan yg luas. Kok mau masuk tentara. Jadi pejuang bangsa.

Sejak kecil Audrey terus dinasihati tentang sulitnya jadi minoritas. Tentang bahayanya menjadi golongan Tionghoa. Risiko bermata sipit. Berkulit kuning. Tentang risiko² pergaulan. Kekerasan. Apalagi dia seorang wanita. Begitu protektif si ibu sampai² saat ada tukang di rumahnya, Audrey tidak boleh keluar kamar.

Begitu ketatnya aturan yang harus dijalani seorang anak kecil bermata sipit membuat Audrey memberontak. Diam² Dia ­pendam dalam hati. Dia berusaha menghitamkan kulitnya. Tapi tiap becermin dia mengakui matanya masih sipit. Dia bertekad tidak mau berbahasa Mandarin. Dia berhenti kursus Mandarin. Bahkan, dia bertekad tidak akan mau menikah dengan pemuda Tionghoa.

Dia tidak percaya soal perbedaan ras tidak bisa diatasi. Dia percaya pada Pancasila. Yg ajarannya mulia. Tidak mem-beda² kan warga negara. Dia tahu dlm kenyataan bhw pembedaan itu ada. Justru itu hrs diperjuangkan. Agar Pancasila bisa dilaksanakan.

Dia tidak mau kaya raya. Tidak mau jadi pengusaha. Dia juga masih melihat banyak golongan Tionghoa yg tidak melaksanakan Pancasila. Di tengah bangsa yang masih  begini miskinnya. Tapi dia juga kecewa bahwa golongan Tionghoa masih  diperlakukan tidak adil & beradab oleh golongan lainnya. Dia kecewa dalam hal ini Pancasila baru di bibir saja.

Mengapa saat berumur empat tahun Audrey sudah mempertanyakan arti kehidupan dan kemana perginya rasa bahagia?

Hari itu Audrey mendadak diajak ke Tulungagung. Kakeknya meninggal. Kakek yang dia sayangi. Kakek yang periang & penyayang. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung, dia mendengar pembicaraan orangtuanya. Terutama tentang penyebab meninggalnya. Yakni, meninggal karena sedih. Ditinggal mati istrinya. Sang istri meninggal setelah menderita lama: korban tabrak lari.

Audrey kecil sangat sayang oma & opanya. Audrey memanggilnya Ama & Akong. Pagi itu jam 4 pagi, Ama bersepeda sehat ke arah alun² Tulungagung. Sebuah mobil menabraknya. Tidak pernah diketahui siapa penabraknya.

Dari situlah Audrey terus berpikir. Mengapa orang  yang begitu menyenangkan harus meninggal. Bahagia itu ternyata bisa datang & pergi. Banyak sekali yang dia renungkan. Padahal, kalau ada orang dewasa bicara, Audrey itu hanya diam. Begitulah kata ibunya. Kami-kami ini tidak tahu bahwa dalam diamnya itu ternyata dia terus berpikir. Padahal, orang mengira dia diam karena tidak peduli dengan pembicaraan orang dewasa.

Kata Audrey, umur itu ternyata pendek. Sejak saat itu, Audrey bertekad untuk mengisi umur yang pendek itu dengan sebanyak mungkin arti kehidupan. Audrey jadi anak genius. Audrey bukan tidak bisa berubah.

Dia terkejut saat ke dokter gigi. Orangtuanya membawa Audrey ke dokter gigi di Singapura. Di sana dia mendapat kesan betapa orang² Singapura sangat bangga akan negaranya. Padahal, dia melihat orang² itu memiliki nama China. Kesimpulannya: untuk bangga pada negara, untuk  membela negara, ternyata tidak harus dgn cara mengubah identitas. Denagn nama tetap China, dengan kulit tetap kuning, dengan mata tetap sipit, ternyata orang² itu begitu fanatik pada ke-Singapura-annya. Pada negaranya.

Audrey mulai mau belajar lagi bahasa Mandarin. Denagn cepat. Bahasa apa pun bisa dia kuasai dengan mudah. Bahkan, Audrey sudah menerbitkan beberap buku pelajaran bahasa Mandarin utk anak Indonesia. Audrey juga mulai ingin punya nama Tionghoa.

Dia ke pengadilan. Mengubah namanya. Menjadi: Audrey Yu Jia Hui. Dia ingin membuktikan bahwa untuk cinta negara tidak harus mengubah atau menyembunyikan identitas suku atau rasnya. Seperti di Singapura. Dan sebetulnya juga di Amerika.

Hanya, dia tetap masih membujang. Umurnya sudah 30 tahun saat ini. Mengajar bahasa Inggris untuk level tertinggi di Shanghai. Sambil terus menyusun konsep penerapan Pancasila yang baik. Saya sudah dikirimi draft konsep pemasyarakatan Pancasila menurut dia. Saya sudah membaca dan ikut merenungkannya.

Ibunya juga sudah mulai berubah. Audrey sudah bisa pulang tahun depan dengan suasana baru.

”Saya baru tahu dari bukunya kalau perasaannya kepada saya seperti itu,” kata sang ibu kepada saya. ”Saya menyesal,” tambahnya. ”Saya sudah berubah. Saya mau berubah,” kata sang ibu.

Source: Rudy Kurniawan