Category Archives: International Mathematics Competition

International Mathematical Competition Singapore 2017

INTERNATIONAL MATHEMATICAL COMPETITION SINGAPORE 2017: INDONESIA RAIH 90 MEDALI DAN 34 MERIT AWARD

Tim Indonesia meraih prestasi gemilang dalam kompetisi matematika International Mathematics Contest (IMCS) di Singapura. Sebanyak 129 pelajar Indonesia yang terdiri dari pelajar kelas 3 SD sampai kelas 11 SMA IMCS pada 4-7 Agustus 2017.

Hasil yang diperoleh dari IMCS tahun 2017 adalah 14 emas, 26 perak, 50 perunggu dan 38 merit. Hal yang sangat membanggakan di tahun ini adalah seorang siswa Indonesia memperoleh penghargaan Grand Champion.

Peraih Grand Champion asal Indonesia atas nama Irfan Urane Azis yang merupakan siswa kelas 10 SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah. Gelar ini sangat sulit diperoleh karena tidak semua peraih medali emas bisa memperoleh gelar ini dan tidak semua negara bisa memperoleh gelar ini.

Irfan Urane Azis Peraih Grand Champion mengatakan dirinya tidak menyangka dan sangat bersyukur bisa menjadi Grand Champion. IMCS tahun ini soalnya lumayan menantang dan perlu berpikir cepat untuk bisa menyelesaikannya karena waktunya sangat terbatas, sehingga dirinya tidak berpikir sama sekali untuk mendapatkan grand champion di kompetisi ini.

“Untuk persiapan lomba IMCS selain mengikuti karantina, saya banyak melakukan latihan soal secara mandiri di asrama di Sekolah Taruna Nusantara. Saya sering mencari soal-soal yang mirip dengan IMCS yang ada di internet sebagai bahan latihan. Hal yang penting untuk sukses dalam matematika adalah usaha dan doa,” kata Irfan.

Total peserta pada lomba ini adalah 1178 peserta yang berasal dari 11 negara yaitu Cina, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Filipina, Indonesia, Korea, Thailand, Iran, Vietnam dan Australia. Para peserta IMCS dari Indonesia merupakan hasil seleksi dari sekitar 250 ribu siswa yang mengikuti Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) dan para siswa pilihan yang mengikut Math In House Training (MIHT). Lomba IMCS tahun 2017 merupakan tahun ke-10 yang diikuti oleh Indonesia.

Sebelum berangkat ke Singapura, para siswa dibina terlebih dahulu selama 1 minggu di Bogor dan para pembinanya dari Tim Klinik Pendidikan MIPA. Pada pembinaan ini para siswa tidak hanya belajar matematika tetapi belajar Bahasa Inggris serta mendapat pembinaan Jasmani dan Rohani. Bagi peserta yang beragama Islam dirutinkan untuk selalu melaksanakan sholat secara berjamaah, sholat tahajud, sholat dhuha dan tadarus Alquran.

Ridwan Hasan Saputra sebagai Team Leader Indonesia mengatakan bahwa prestasi tahun ini sangat membanggakan karena perolehan medali. Tim Indonesia melebihi standart yang ditetapkan panitia khususnya untuk raihan medali emas. Apalagi di tahun ini ada siswa Indonesia yang meraih Grand Champion, hal ini merupakan anugerah yang harus di syukuri.

Ridwan yang juga Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA mengatakan lomba matematika di luar negeri tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman dan wawasan kepada anak-anak agar mereka bisa melihat dunia.

“Banyak anak lain yang lebih pintar dan negara yang lebih maju. Namun tetap rendah hati dan saling menghargai. Sehingga mereka akan lebih semangat lagi belajar supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar. Lomba IMCS ini jadi momentum untuk meningkatkan ibadah para peserta karena selama karantina mereka semakin rajin beribadah. Medali hanyalah Bonus,” kata Ridwan.(Usdo/Yudi)

Source iglobalnews

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Bocah Asal Jember Jadi Juara International Mathematics Competition

Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh alias Fafa ketika menema medali perunggu dari panitia olimpiade matematika di Bulgaria pertengahan Juli lalu. (JawaPos/Radar Jember/Ari Kurniawan)

Lain Lalu Muhammad Zohri, lain Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh. Bocah 13 tahun asal Jember ini juga menorehkan prestasi tingkat internasional di bidang matematika. Fafa, panggilan akrab Mafazi berhasil meraih juara tiga olimpiade sains internasional bidang matematika (IMC), di Bulgares, Bulgaria, pekan lalu.

Pantauan JawaPos, penampilan bocah itu sederhana, pendiam, ceria, tetapi penuh potensi. Fafa mampu bersaing dengan 28 finalis dari berbagai negara dalam IMC (International Mathematics Competition) yang berlangsung seminggu di negara Eropa Timur itu.

Bersama 12 peserta lainnya dari Indonesia, Fafa termasuk bagian dari sedikit anak bangsa yang mampu berkompetisi di bidang sains hingga ke tingkat internasional. Juga merupakan sedikit dari pelajar muslim yang siap bersaing dengan peserta umumnya didominasi nonmuslim.

Termasuk dari Indonesia sendiri. Bayangkan saja, dari 12 finalis Indonesia yang mengikuti event internasional tersebut, hanya tiga siswa saja yang berasal dari keluarga muslim. “Kami patut bangga dan bersyukur atas keberhasilan ini,” ujar Ari Kurniawan, pembina siswa berprestasi lembaga pendidikan Alfurqon Jember.

Memang, kemenangan Fafa dalam kejuaraan internasional tersebut bukan kali pertama diikuti SD maupun SMP Alfurqon Jember. Sejak diselenggarakan olimpiade sains tingkat dunia tujuh tahun lalu, sekolah ini sudah enam kali berhasil mengirimkan delegasinya. Antara lain di Bulgaria (dua kali), Singapura, Korea, Thailand, Taiwan, dan China.

Itu berarti, setiap tahun digelarnya olimpiade, Alfurqon selalu lolos seleksi tingkat nasional, dan berlanjut ke jenjang internasional. Itu baru satu-satunya sekolah yang terus-menerus mengikuti ajang internasional tersebut. “Sekolah lain biasanya cuma sekali atau maksimal dua kali,” imbuh Ari Kurniawan.

Untuk mengikuti lomba bergengsi itu, kata Ari, diakui memang tidak mudah. Seleksinya dimulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Sebelum maju ke tingkat internasional, para finalis biasanya digembleng (dikarantina) secara khusus, dengan jadwal yang amat ketat dan selektif.

Para pembinanya biasanya diambil dari akademisi perguruan tinggi terkenal, termasuk UI, ITB, Trisakti, dan lain-lain. Mereka digembleng berhari-hari mulai pagi hingga sore, untuk mengerjakan beragam soal dengan waktu yang amat ketat.

Demikian pula dengan Fafa, kata Ari, yang juga ayahnya itu, anak satu-satunya itu tergolong pendiam dan penurut. Dia hampir tak pernah menolak tugas mengerjakan soal-soal yang diprogramkan.

“Tetapi, yang namanya anak-anak, duduk setengah jam saja sudah bosan, gelisah, dan ingin jalan-jalan saja. Untungnya dia sabar dan mengikuti arahan pembinanya,” jelas, Ari. Padahal, sebagai anak tunggal, lanjut Ari, biasanya sering manja dan selalu ingin didampingi orangtuanya.

Source: Liputan6

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 2 Medali dan 1 Penghargaan

Mahasiswa UGM Berprestasi di Olimpiade Matematika Internasional (Foto: UGM)

Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta berhasil menorehkan prestasi di kancah International yaitu International Mathematics Competition (IMC) 2018 yang dihelat di Kota Blagoevard, Bulgaria pada 22-28 Juli 2018 dengan sukses membawa pulang dua medali perunggu dan 1 penghargaan honorable mention.

Mahasiswa tersebut di antaranya adalah Alzimna Badril Uman dan Adryan Wiradinata yang menyumbangkan medali perak. Lalu, Resita Sri Wahyuni yang berhasil meraih penghargaan honorable mention. Ketiga mahasiswa UGM ini terpilih menjadi perwakilan Indonesia di IMC 2018 bersama enam mahasiswa dari perguruan tinggi Indonesia lainnya.

Alzimna mengatakan, keikutsertaannya dalam IMC ini merupakan yang pertama kali. Dia pun mengaku bangga ketika bisa membawa pulang medali dari kompetisi dunia ini.

“Bangga bisa meraih predikat third prize dan mengharumkan nama UGM serta Indonesia di tingkat dunia,” jelasnya, dalam website UGM, Jumat (10/8).

Kendati demikian, perasaan kecewa sempat menghinggapi Alzimna. Sebab, perolehan nilai yang didapatnya hanya terpaut tiga poin untuk menyabet predikat juara dua.

“Sempat ada rasa kecewa karena tidak bisa memenuhi target saya untuk meraih second prize karena hanya mendapat 30 poin dari 33 poin cut off second prize. Namun begitu, saya tetap bersyukur sudah meraih predikat ini serta mendapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru,” urainya.

Keberhasilan yang diraih Alzimna dan dua rekannya tidak lepas dari usaha dan kerja keras mereka dalam berlatih dan belajar menghadapi IMC. Selain itu, juga dukungan dari dosen pembina UGM dan alumni IMC UGM yang telah menorehkan prestasi dalam kompetisi tahun-tahun sebelumnya serta pembinaan intensif dari Kemenristekdikti.

“Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan dukungan semua pihak. Semoga dalam IMC mendatang Indonesia bisa semakin berjaya,” pungkas Alzimma.

Source: okezone | Vanni Firdaus Yuliandi 10 Agustus 2018

INTERNATIONAL MATHEMATICS COMPETITION INDIA 2017

BY LARASATI RAHMIA . 31 JULI 2017

INTERNATIONAL MATHEMATICS COMPETITION INDIA 2017: INDONESIA RAIH 18 MEDALI DAN 7 MERIT AWARD

olimpiade-700x375

Pelajar Indonesia tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, berhasil membawa pulang

  • 1 medali emas
  • 13 medali perak
  • 4 medali perunggu serta
  • 7 penghargaan Meritt

pada ajang olimpiade matematika Internasional yang berlangsung pada tanggal 25 hingga 31 Juli 017 , di Kota Lukton , India.

Sedangkan kategori beregu. Pelajar SMP menjadi juara dengan mengalahkan ratusan pelajar perwakilan dari 27 negara.

16 pelajar Indonesia berprestasi, yang terbagi menjadi tiga tim tingkat SMP dan satu tim tingkat SD, tiba di terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin siang ini .

Kategori perorangan, pelajar Indonesia mampu membawa pulang

  • 1 medali emas,
  • 13 medali perak,  
  • 4 medali perunggu, serta
  • 7 penghargaan merit.

Sedangkan khusus bagi pelajar SMP, keluar sebagai juara untuk kategori beregu.

Dengan persiapan yang matang dan mendapatkan tambahan materi dari klinik pendidikan MIPA, prestasi yang ditorehkan pelajar Indonesia pada ajang olimpiade Matematika Internasional tahun 2017 cukup gemilang, karena mampu bersaing dengan ratusan pelajar perwakilan dari 27 negara.

Peraih satu satunya medali emas kategori peorangan, Axel Giovanni Hartanto mengaku dirinya mengerjakan 15 soal essai dengan materi soal geometri, bilangan dan aljabar.

Sedangkan ketua tim kategori beregu, Farrel Dwireswara Salim mengakui sempat menemui kesulitan saat mengerjakan materi soal, yakni terbentur keterbatasan waktu. Akan tetapi dirinya bersama rekan satu tim berusaha tidak gugup dalam menjawab seluruh soal.

Sementara itu, pembina klinik pendidikan MIPA, Ridwan Hasan Saputra angkat jempol atas prestasi pelajar Sekolah Menengah Pertama karena mampu mengalahkan pelajar negara lain yang memiliki pengalaman dalam ajang olimpiade matematika.

Namun demikian, dirinya akan melakukan evaluasi terkait materi soal pertidak samaan untuk pelajar SMP, dan teori bilangan untuk SD, dikarenakan pelajar indonesia mengalami kesulitan, meski menguasai materi geometri.

Selanjutnya, seluruh pelajar berprestasi perwakilan dari sekolah seluruh indonesia ini akan kembali ditempa melalui pembinaan, untuk kembali mengikuti ajang yang sama, dengan target prestasi lebih baik dari prestasi saat ini.

INTERNATIONAL MATHEMATICS COMPETITION India 2017

INTERNATIONAL MATHEMATICS COMPETITION INDIA 2017: INDONESIA RAIH 13 MEDALI DAN 8 MERIT AWARD

53502_620

Selasa, 01 Agustus 2017 | 22:42 WIB

Pelajar Indonesia berhasil menyabet prestasi yang membanggakan dalam ajang kompetisi dunia, Olimpiade Matematika Internasional. Mereka berhasil meraih satu medali emas, tiga medali perak, dua medali perunggu, dan empat penghargaan Merit, dalam ajang India International Mathematical Competition (InIMC), yang diselenggarakan di City Montessori School, RDSO Campus, Lucknow, India, yang berlangsung sejak 24 hingga 31 Juli 2017.
   
“Tim Indonesia pada ajang InIMC tahun ini memperoleh prestasi yang luar biasa dan lebih baik dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang diselenggarakan di Thailand yang mendapatkan dua medali perunggu. Rasa bangga dan apresiasi patut diberikan kepada para peraih juara,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad, dalam pesan tertulisnya, Selasa, 1 Agustus 2017.

Delegasi Indonesia terdiri dari 12 siswa yang terbagi menjadi tim A, B, dan C yang masing tim terdiri dari empat orang.

Dari 12 siswa tersebut, enam diantaranya meraih medali, yakni Jeanice Eliana Setyono dari tim B meraih medali Emas. Selanjutnya disusul oleh Hendy Sutono dari tim B, Darren Darwis Tanuwijaya dari tim A, dan Galih Nur Rizky dari Tim A meraih medali Perak. Sedangkan medali perunggu diraih oleh Maulana Satya Adigama dari tim B, dan Reynard Suhada dari tim C.
 
Selain peraih medali tersebut, empat peserta meraih penghargaan Merit, yakni Alifa Batrisya Nariswari dari tim A, David Shane Goh dari tim A, Nisrina Fathiyya Nugraha dari tim C, dan Gregory Edward Suryawan dari tim C. Adapun prestasi yang dicapai delegasi Indonesia pada kategori Team Contest adalah tim B mendapatkan First Runner up, sedangkan tim A meraih Second Runner Up.  
 
InIMC 2017 diikuti oleh 26 negara, terdiri dari 72 tim untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), dengan jenis tes yang diujikan dalam kompetisi ini terdiri dari kontes Individual dan kontes secara tim. Pelajar Indonesai yang mengikuti kompetisi ini mendapatkan pembinaan selama dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada tanggal 15 – 21 Juni 2017 dan tahap kedua pada tanggal 19 – 24 Juli 2017, kedua tahapan tersebut diselenggarakan di Jakarta.

Sumber: Tempo