Category Archives: Indonesia

Jembatan Youtefa

JEMBATAN YOUTEFA

Jembatan Youtefa (sebelumnya bernama Jembatan Holtekamp) adalah jembatan di atas Teluk Youtefa, Provinsi Papua yang menghubungkan Holtekamp dengan Hamadi sepanjang 732 meter dengan lebar 21 meter. Jembatan ini merupakan jembatan tipe Pelengkung Baja yang dapat memperpendek jarak dan waktu tempuh dari Kota Jayapura ke Distrik Muara Tami dan ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw daerah perbatasan Indonesia – Papua Nugini. Sebelum jembatan ini dibangun, perjalanan dari kawasan pemerintahan menuju Distrik Muara Tami menempuh jarak sejauh 35 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Namun, bila melewati Jembatan Youtefa maka jaraknya menjadi sekitar 12 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Pembangunan Jembatan Youtefa merupakan kolaborasi antara Pemerintah Pusat Kementerian PUPR, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kota Jayapura dengan pembagian sebagai berikut:

Pembangunan jembatan ini dilakukan oleh konsorsium kontraktor PT Pembangunan Perumahan, Tbk, PT Hutama Karya (persero), dan PT Nindya Karya (persero) dengan total biaya pembangunan sebesar Rp 1,87 Triliun dengan sokongan dana khusus APBN dari Kementerian PUPR senilai Rp 1,3 triliun.[3] Jembatan ini mulai dibangun bulan Mei 2015. Perakitan bentang utama Jembatan Youtefa yang merupakan tipe Box Baja Pelengkung tidak dilakukan di lokasi jembatan, namun di PT PAL Indonesia Surabaya. Produksi jembatan di Surabaya bertujuan meningkatkan aspek keselamatan kerja, meningkatkan kualitas pengelasan, dan mempercepat waktu pelaksanaan hingga 3 bulan.

Ini kali pertama, pembangunan jembatan dimana jembatan pelengkungnya dibuat utuh di tempat lain kemudian dibawa ke lokasi. Dari Surabaya bentang jembatan seberat 2000 ton dan panjang 112,5 m ini dikirim menggunakan kapal laut dengan menempuh perjalanan sejauh 3.200 kilometer dalam waktu 19 hari. Pemasangan bentang pertama dilakukan pada 21 Februari 2018 sedangkan bentang kedua dipasang pada 15 Maret 2018 dengan waktu pemasangan kurang lebih 6 jam.

Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan 2 rekor pada proyek pembangunan Jembatan Youtefa yakni rekor pengiriman jembatan rangka baja utuh dengan jarak terjauh, dan rekor pemasangan jembatan rangka baja utuh terpanjang.

Jembatan Youtefa diresmikan Presiden Joko Widodo pada 28 Oktober 2019.

Headlines

Resmikan Jembatan Youtefa, Presiden Jokowi: Jadikan sebagai Momentum Papua Bangkit Maju

Data dari KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Senin, 28 Oktober 2019

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Presiden Joko Widodo meresmikan Jembatan Youtefa yang terletak di Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada Senin, 28 Oktober 2019. Presiden Jokowi berharap Jembatan Youtefa bisa menjadi tonggak sejarah di Tanah Papua, bukan hanya simbol persatuan bangsa, tetapi juga simbol pentingnya sebuah kemajuan untuk membangun Tanah Papua.

“Tanah Papua harus maju, seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Itu adalah hal yang saya lihat setiap kali berkunjung ke Tanah Papua. Kalau tidak keliru hitung, saya sudah 13 kali hadir di Tanah Papua,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya.

Presiden Jokowi memandang bahwa merawat dan memajukan Papua adalah tugas bersama kita sebagai bangsa Indonesia. Itulah mengapa Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja pertama ke Papua dan Papua Barat usai dilantik pada 20 Oktober 2019 lalu.

“Semua itu saya lakukan untuk memastikan sendiri, untuk memastikan sendiri bahwa Tanah Papua dibangun dan tidak dilupakan dalam kemajuan Indonesia yang kita cintai ini,” kata Presiden.

Selama periode pertama pemerintahannya, Presiden Jokowi telah berkeliling Indonesia, sampai ke pedalaman-pedalaman di wilayah Indonesia bagian timur. Dari situlah Presiden Jokowi melihat adanya ketimpangan infrastruktur antara wilayah bagian barat, tengah, dan timur Indonesia.

“Ini kalau kita biarkan akan menyulitkan kita untuk bersatu sebagai sebuah bangsa besar. Karena itu saya selalu mendorong pembangunan infrastruktur khususnya di wilayah Indonesia bagian timur untuk dipercepat. Dan tentu saja nanti pararel dengan pembangunan sumber daya manusia yang juga ingin kita kerjakan,” kata Presiden, sebagaimana dilansir dari siaran pers Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Erlin Suastini.

Pembangungan infrastruktur tersebut, kata Presiden, selain menghadirkan manfaat secara nyata bagi rakyat, juga bertujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia, membangun konektivitas, membangun hubungan antarpulau, provinsi, kota dan kabupaten.

Menurutnya, semua infrastruktur perhubungan, termasuk jembatan, akan membuat pergerakan barang dan pergerakan manusia menjadi lebih cepat dan lebih lancar, sehingga rakyat akan mendapatkan harga-harga barang dan harga-harga jasa yang jauh lebih murah. Ujungnya, mempersatukan masyarakat karena ada interaksi dan komunikasi yang lancar antarmasyarakat kita.

“Begitu juga halnya dengan Jembatan Youtefa yang akan kita resmikan sekarang ini. Jembatan yang telah dibangun selama empat tahun dan menghabiskan anggaran biaya Rp1,8 triliun. Ini kalau dimiliarkan, Rp1.800 miliar, silahkan kalau mau ngitung,” kata Presiden.

Jembatan Youtefa sendiri terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama merupakan jalan akses sepanjang 9.950 meter, bagian kedua adalah jalan pendekat sepanjang 320 meter, dan bagian ketiga berupa jembatan pendekat sisi Holtekamp sepanjang 900 meter, dengan bentang utama jembatan sepanjang 433 meter.

Presiden menjelaskan, Jembatan Youtefa ini hadir sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan kepadatan penduduk di Kota Jayapura sehingga kawasan Kota Jayapura dapat dikembangkan ke arah perbatasan di Skouw. Selain itu, jembatan ini juga mempersingkat waktu tempuh sekitar 70 menit dari Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami dan pos lintas batas negara di Skouw.

“Saya juga mendapat laporan bahwa Jembatan Youtefa ini telah menjadi landmark, telah menjadi ikon baru Papua yang akan menjadi sarana pendukung dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di tahun 2020 yang akan diselenggarakan di Papua, seperti cabang olah raga dayung dan ski air. Ini menunjukkan bahwa sebuah jembatan memiliki banyak fungsi bagi masyarakat dan mempunyai multiplier effect yang menguntungkan masyarakat,” kata Presiden.

Kepala Negara berharap masyarakat Jayapura bersama-sama dengan pemerintah daerah bersungguh-sungguh menjaga Jembatan Youtefa ini, baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ia juga berharap jembatan ini bisa ditata dan dipercantik dengan lampu-lampu dan taman-taman yang menarik.

“Karena sekarang Jembatan Youtefa sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Jayapura, tidak bisa terpisahkan dari masyarakat Papua,” kata Presiden.

Di pengujung sambutannya, Presiden juga meminta agar pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah Kota Jayapura memanfaatkan dengan baik keberadaan Jembatan Youtefa ini untuk mengembangkan potensi wisata bahari yang ada di Teluk Youtefa. Imbasnya, diharapkan akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Tanah Papua.

“Jadikan Jembatan Youtefa ini sebagai momentum untuk Papua bangkit maju yang melahirkan kemajuan-kemajuan, melahirkan pemuda-pemuda Papua yang berprestasi dan memiliki daya saing di kancah global,” kata Presiden.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam acara peresmian Jembatan Youtefa antara lain Ibu Negara Iriana, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Selain itu turut hadir pula Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Plt. Kapolri Komjen Ari Dono, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Hinsa Siburian, Gubernur Papua Lukas Enembe, dan Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano. (Humas Kemensetneg)

Jembatan Holtekamp Berganti Nama Jadi Youtefa

Source: okezone

Jembatan Holtekamp Jayapura, Papua. (Foto: Okezone.com/Dok. Kementerian PUPR)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya meresmikan Jembatan Youtefa di Papua, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Sebelumnya, jembatan ini dikenal sebagai Jembatan Holtekamp yang menjadi ikon baru di Papua.

Beberapa bulan lalu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan alasan dari perubahan nama jembatan tersebut. Dia mengatakan alasan utamanya adalah karena daerah dari Jembatan Youtefa sendiri yang berada di Teluk Youtefa.

“Jadi karena ini memang di daerah Teluk Youtefa. Jadi sangat relevan sekali usulan nama itu. Saya akan sampaikan kepada bapak Presiden (Jokowi) kalau ini namanya diusulkan sebagai Jembatan Youtefa,” ujarnya saat meninjau Jembatan Holtekamp, Jayapura, Papua.

Sebelumnya, Jembatan Youtefa di Papua akhirnya diresmikan hari ini. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, jembatan ini diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dulu, jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Holtekamp. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui akun resmi Instagramnya.

“#KabarPUPR – Empat tahun dibangun, akhirnya Jembatan Youtefa di Papua diresmikan Presiden @jokowi hari ini, Senin (28/10) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Jembatan yang dulu sering dikenal dengan nama Jembatan Holtekamp ini menghubungkan daerah Hamadi menuju Holtekamp,” tulis @kemenpupr di Instagram, Senin (28/10/2019).

Jembatan Youtefa memiliki panjang kurang lebih 1.800 meter dan lebar 17 meter. Pasalnya, jembatan ini menghubungkan daerah Hamadi menuju Holtekamp.

Dengan adanya jembatan ini, maka waktu tempuh dari Kota Jayapura menuju PLBN Skouw bisa terpangkas. Dari 1,5-2 jam perjalanan, akan terpangkas hingga 30-45 menit.

Perlu diketahui, Jembatan Youtefa juga mendorong pengembangan Kota Jayapura ke arah Skouw, menunjang wisata bahari di Teluk Youtefa, dan akan mendukung pelaksanaan PON XX Papua Tahun 2020. Ini merupakan salah satu bukti komitmen Presiden Jokowi di wilayah Timur Indonesia.

Adapun total keseluruhan biaya pembangunan mencapai Rp1,8 triliun. Jembatan ini juga terdiri dari dua bentang utama dengan pelengkung baja. Masing-masing panjang bentang utama 150 meter, tinggi 20 meter dan berat 2.000 ton.

Awalnya, Jembatan Youtefa ditargetkan akan rampung pada Juli 2019. Namun, molor hingga baru bisa diresmikan pada akhir Oktober 2019.

(fbn)

Source: Wikpedia, Times Indonesia, Okezone

Habiskan Rp 1,8 Triliun, Ini Progres Pembangunan Jembatan Holtekamp di Papua

Berita Kompas – 23/05/2019, 09:35 WIB. Penulis Kontributor Jayapura, Dhias Suwandi | Editor Robertus Belarminus

Sejak dimulai pada 9 Mei 2015, kini pembangunan Jembatan Holtekamp di Kota Jayapura, Papua, sudah mendekati 100 persen dan dijadwalkan pada Juli 2019 bisa diresmikan. Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) XVIII Papua, Osman Marbun, di Kota Jayapura, kamis (23/05/2019), mengatakana, progres pembangunan Jembatan Holtekamp tinggal menyelesaikan pembangunan akses jalan pendekat dari arah Holtekamp. “Jalan akses Holtekamp yang panjanganya 7,5 Km kini sudah selesai 5 Km, kemudian jalan akses di Pantai Hamadi sedang kami lebarkan dan dibangun trotoarnya supaya lebih rapih,” ujar Osman.

Selain itu, pemerintah juga tengah membangunkan akses jalan untuk masyarakat Kampung Enggros yang letaknya paling dekat dengan jembatan dan keberadaannya ada di pulau. “Kan masyarakat harus kami fasilitasi juga, masa kita bangun jembatan sebesar ini tapi masyarakat tidak bisa keluar masuk menggunakan jembatan ini dan tetap memakai perahu, kan lucu,” tutur dia.

Hingga kini, total pembiayaan yang telah dikeluarkan mencapai Rp 1,8 triliun. Rp 1,3 triliun berasal dari APBN dan sisanya dikucurkan APBD Provinsi papua dan Kota Jayapura. Osman berharap, Presiden Joko Widodo bisa meresmikan Jembatan Holtekamp karena peletakan batu pertamnya pun dilakukan oleh presiden. “Secara keseluruhan untuk jembatannya sudah tuntas 100 persen, jadi kami tinggal serahkan ke Pak Presiden, menteri dan pemerintah daerah tentang kapan peresmiannya karena semua sudah siap,” tutur dia. Jembatan Holtekamp jadi obyek wisata Keberadaan Jembatan Holtekamp diyakini bisa mendongkrak dunia pariwisata di Kota Jayapura.

Bahkan, meski belum dibuka untuk umum, animo masyarakat untuk berswafoto di lokasi tersebut sangat tinggi, terutama pada akhir pekan. Karenanya, BBPJN XVIII telah memiliki rencana untuk melengkapi Jembatan Holtekamp dengan fasilitas umum. “Ini sebagai daerah tujuan wisata sudah pasti akan membangkitkan ekonomi masyarakat. Nanti ini akan dipercantik, akan ada fasilitas umum, kemudian pengembangan berikutnya bisa saja ada penginapan, lalu kios-kios penjual cindera mata,” ucap Osman.

Hal tersebut pun diamini oleh Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi Papua, Iwanta Parangin-Angin. Dia mengatakan, Kota Jayapura kekurangan obyek wisata dan keberadaan Jembatan Holtekamp bisa menutupi hal tersebut. Tidak hanya fisik jembatannya yang akan menjadi objek wisata, Iwanta menyebut, keberadaan infrastruktur tersebut dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang ingin berkunjung ke pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang merupakan titik perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini.

“Kalau Jembatan Holtekam sudah beroperasi itu otomatis membuat jarak tempuh lebih dekat dan kami menjual paketnya lebih enak. Selain itu, juga bisa menjadi obyek wisata,” tutur dia. Iwanta menyebut, kini keberadaan PLBN Skouw yang merupakan perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini sudah bisa menarik minat wisatawan domestik, tetapi belum wisatawan mancanegara. Ia menegaskan, untuk rute perbatasan, diperlukan fasiltas penunjang lainnya karena jarak tempuhnya yang cukup jauh, bahkan kini waktu perjalanannya mencapai dua jam.

Hal tersebut bisa diatasi dengan adanya Jembatan Holtekam yang bisa memangkas jarak tempuh dari wilayah Kota Jayapura menuju PLBN Skouw. “Dengan keberadaan Jembatan Holtekam, untuk menuju ke perbatasan Skouw dari sebelumnya memerlukan waktu sekitar dua jam, maka waktunya akan menjadi sekitar 45 menit saja,” ucap dia. Sebagai informasi, panjang Jembatan Holtekamp mencapai 732 meter dengan bentang utamanya adalah 433 meter dan lebar jalan di jembatan 21 meter.

Liliyana Natsir

Liliyana Natsir (born 9 September 1985) is a retired Indonesian badminton player who specialized in doubles. With one gold and silver from the Olympic Games, and four gold medals at the BWF World Championships, she is regarded as one of the greatest mixed doubles players of all-time. Natsir was the second Indonesian woman Olympic gold medalist, after Susi Susanti won gold in 1992. She gained huge success by partnering with two different players. Her current partner is Tontowi Ahmad since 2010, after being separated from her previous partner, Nova Widianto. She also won three titles in a row from 2012–2014 at All England Badminton Championships, one of the most prestigious and oldest tournament in the sport. Been entering the top level since 18 years old, her tactical awareness, game vision, and dominance at the front court are considered as one of the best in the tour. In 2016, she and Tontowi Ahmad became the first Indonesian mixed doubles pair to win gold medal at the Olympic Games by beating Chan Peng Soon and Goh Liu Ying of Malaysia.

Personal Life

Natsir is a daughter of Beno Natsir (father) and Olly Maramis (mother).

Early Life

Natsir had dreamed of being a badminton athlete since childhood. She started playing badminton at the age of nine at her local badminton club in Manado. Three years later, she decided to move to Jakarta and entered her youth club, Tangkas Alfamart. She joined the national badminton team of Indonesia in 2002 together with Natalia Poluakan, her longtime friend from Manado. When she and Poluakan won the women’s doubles title in Pekan Olahraga Nasional (National Games), Richard Mainaky noticed her game and invited her to play in mixed doubles with Nova Widianto.

Career

In 2006, Natsir and Widianto won the Asian Championships in mixed doubles and four World Grand Prix titles. They won the BWF World Championships in both 2005 and 2007. While Natsir had previously focused on mixed doubles with partner Nova Widianto, in 2007 she began playing women’s doubles with Vita Marissa. In the 2007 Southeast Asian Games in Thailand, Natsir and Marissa won the gold medal in women’s doubles, defeating their Indonesian teammates Jo Novita and Greysia Polii in straight sets. They also helped the Indonesian women’s team win the team gold medal at the games. In the beginning of 2009 Marissa resigned from national team. When this decision came out, Marissa and Natsir had to split up and each focus on their own career. One year later, in September 2010, the badminton world was surprised by the sudden split of world number #1 mixed-doubles pair Widianto and Natsir. In total, Nova and Liliyana had clinched two World Championship gold medals and 14 titles all together, and were still at world #1 when the decision was announced. Since then Lilyana has paired with the younger player Tontowi Ahmad in mixed doubles.

Awards

  • Indonesia Sports Awards 2018 for Favorite Mixed Pair
  • iNews Maker Awards 2017
  • Golden Award SIWO PWI 2017
  • Golden Shuttle Awards 2016
  • Indonesia Kids Choice Awards 2014
  • Anugerah Seputar Indonesia 2014
  • People of the Year 2013 by Sindo newspaper

Achievements

Olympic Games

She has made three Olympics appearance in her playing career where she got a gold medal in 2016 Rio Olympic Games, reached the semifinals of the 2012 London Olympics and the final of the 2008 Beijing Olympics in the mixed doubles, and lost in the first round of the 2008 Beijing Olympics for the women’s doubles.

  • 2016 Summer Olympics at the Riocentro – Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brazil

Natsir competed in badminton at the 2016 Summer Olympics – Mixed doubles with partner Tontowi Ahmad and won the gold medal in the end.

Natsir and Ahmad at 2012 Summer Olympics
  • 2012 Summer Olympics at the Wembley Arena, London, United Kingdom

Natsir competed in badminton at the 2012 Summer Olympics – Mixed doubles with partner Tontowi Ahmad and finished fourth at the end.

  • 2008 Summer Olympics at the Beijing University of Technology Gymnasium, Beijing, China

Natsir competed in badminton at the 2008 Summer Olympics in mixed doubles with partner Nova Widianto and earned a silver medal. They were defeated in the final by the gold medalists Lee Yong-dae and Lee Hyo-jung of South Korea in straight sets 21–11 and 21–17.
She also competed in the women’s doubles event with Vita Marissa but lost to Zhang Jiewen and Yang Wei of China in the first round.

BWF World Championships

  • 2017 BWF World Championships at the Emirates Arena in Glasgow, Scotland
  • 2015 BWF World Championships at the Istora Senayan in Jakarta, Indonesia
  • 2013 BWF World Championships at the Tianhe Sports Center in Guangzhou, China
  • 2011 BWF World Championships at the Wembley Arena in London, England
  • 2009 BWF World Championships at the Gachibowli Indoor Stadium in Hyderabad, India
  • 2007 BWF World Championships at the Putra Indoor Stadium in Kuala Lumpur, Malaysia
  • 2005 BWF World Championships at the Arrowhead Pond in Anaheim, California, United States

World Cup

Mixed doubles

Asian Games

Mixed doubles

Asian Championships

Mixed doubles

Women’s doubles

Southeast Asian Games

Mixed doubles

Women’s doubles

World Junior Championships

Girls’ doubles

Mixed doubles

Asian Junior Championships

Mixed doubles

BWF World Tour (1 title, 3 runners-up)

The BWF World Tour, announced on 19 March 2017 and implemented in 2018, is a series of elite badminton tournaments, sanctioned by Badminton World Federation (BWF). The BWF World Tour are divided into six levels, namely World Tour Finals, Super 1000, Super 750, Super 500, Super 300 (part of the HSBC World Tour), and the BWF Tour Super 100.

Mixed doubles

BWF Superseries (23 titles, 19 runners-up)

Lilyana Natsir and Tantowi Ahmad at the 2013 French Open Superseries

The BWF Superseries, launched on 14 December 2006 and implemented in 2007, is a series of elite badminton tournaments, sanctioned by Badminton World Federation (BWF). BWF Superseries has two levels: Superseries and Superseries Premier. A season of Superseries features twelve tournaments around the world, which introduced since 2011, with successful players invited to the Superseries Finals held at the year end. Liliyana has got many superseries titles with some partners such as Nova Widianto, Vita Marissa, and Tontowi Ahmad.

Mixed doubles

Women’s doubles

BWF Grand Prix (10 titles, 4 runners-up)

The BWF Grand Prix has two level such as BWF Grand Prix and Grand Prix Gold. It is a series of badminton tournaments, sanctioned by Badminton World Federation (BWF) since 2007.

Mixed doubles

Women’s doubles

IBF World Grand Prix (5 Titles and 4 Runners-up)

Nova Widianto & Lilyana Natsir

The World Badminton Grand Prix sanctioned by International Badminton Federation (IBF) since 1983.

Mixed doubles

Participation on Indonesian Team

  • 5 times at Sudirman Cup (2003, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013)
  • 3 times at Uber Cup (2004, 2008, 2010)

Performance timeline

Indonesian team

Individual competitions

Career Statistics

Women’s and mixed doubles titles

Melati Daeva Oktavianti

Wikipedia

Melati Daeva Oktaviani (lahir di Serang, Banten, 26 Oktober 1994; umur 24 tahun) merupakan pemain bulutangkis asal Indonesia. Atlet kelahiran Serang, 26 Oktober 1994 ini merupakan pemain asal klub PB Djarum. Ia merupakan peraih medali emas Kejuaraan Dunia Junior BWF 2012 bersama Edi Subaktiar. Ia saat ini dipasangkan dengan Ronald Alexander di nomor ganda campuran.

Prestasi

Kejuaraan Dunia Junior BWF

Ganda Campuran

BWF Grand Prix

BWF Grand Prix terdiri dari dua tingkatan, seperti Grand Prix Gold dan Grand Prix. Ini adalah rangkaian turnamen bulutangkis yang diselenggarakan oleh Badminton World Federation (BWF) sejak 2007.

Ganda Putri

International Challenge/Series

Ganda Putri

Ganda Putri

Prestasi Lainnya

  • Semifinalis Pertamina Open 2013 (Ganda Dewasa Putri)
  • Runner-up Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2013 (Ganda Dewasa Putri)
  • Juara Walikota Surabaya Cup 2013 (Ganda Dewasa Putri)
  • Juara Kejuaraan Nasional 2012 (Ganda Taruna Putri)
  • Juara Kejuaraan Nasional 2012 (Ganda Campuran Taruna)
  • Medali Perak PON XVIII Riau 2012 (Beregu Putri)
  • Juara Tangkas Specs Junior Challenge Open Badminton Championship 2012
  • Juara Djarum Sirnas Jawa Barat 2012
  • Juara Sirnas DKI Jakarta Open 2012
  • Juara Walikota Surabaya Cup 2012 (Ganda Putri)
  • Juara German Junior 2012 (Ganda Putri)
  • Juara Dutch Junior 2012 (Ganda Campuran)
  • Semifinal BNI Astec Open 2011 (Ganda Putri)
  • Runner Up Kejurnas Pekan Baru 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Djarum Sirnas Bandung 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Djarum Sirnas Bandung 2011 (Ganda Campuran)
  • Runner-up Djarum Sirnas Jakarta 2011 (Ganda Putri)
  • Semifinal Piala Walikota Surabaya 2011 (Ganda Campuran)
  • Perempat final Piala Walikota Surabaya 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirnas Bengkulu 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirnas Palangkaraya 2011
  • Juara II Astec Open 2010 (Ganda Campuran)
  • Perempat final Astec Open 2010 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirkuit Nasional Medan 2010 (Ganda Putri)
  • Juara II Kejurprov Jateng 2010 ( Ganda Putri )
  • Semifinal Sirkuit Nasional Surabaya 2010 (Ganda Putri)
  • Perempat final Sirnas Bali 2010 (Ganda Campuran)
  • Semifinal Sirkuit Nasional Tegal 2010 (Ganda Campuran & Ganda Putri)
  • Perempat final Tangkas Alfamart Junior Challenge Open 2010 (Ganda Putri)
  • Perempat final Sirkuit Nasional Jawa Barat 2010 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirkuit Nasional Jakarta 2010
  • Juara II Walikota Surabaya Cup (Ganda Campuran)
  • Semifinal Djarum Arena Cirebon 2010
  • Juara III Kejurda Jateng 2009 (Ganda Campuran)
  • Juara III Astec Open Jakarta 2009
  • Juara III Astec Open Jakarta 2009 (Ganda Campuran)
  • Juara III Sirnas DKI Jakarta 2009
  • Juara III Tetrapark Open 2007
  • Juara II Porseni SMP 2007
  • 8 Besar Sirkuit Bali 2007
  • 8 Besar JPGG Surabaya 2007

DANISA DENMARK OPEN 2019 | 15 – 20 OCTOBER ODENSE SPORTSPARK, ODENSE V, DENMARK

YONEX FRENCH OPEN 2019 | 22 – 27 OCTOBER STADE PIERRE DE COUBERTIN, PARIS, FRANCE

Gallery

Melati Daeva OKTAVIANTI _ DANISA DENMARK OPEN 2019
Melati Daeva OKTAVIANTI _ YONEX ALL ENGLAND OPEN BADMINTON CHAMPIONSHIPS 2019
Melati Daeva OKTAVIANTI _ YONEX-SUNRISE INDIA OPEN 2019

Susi Susanti

From Wikipedia, the free encyclopedia

Legenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti (kanan) membawa api obor dari India dan mantan atlet tenis Yustedjo Tarik (kiri) membawa api obor dari Mrapen yang akan disatukan di kaldron saat Asian Games 2018 Torch Relay Concert di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (18/7). Penyatuan kedua api obor tersebut menandai dimulainya perjalanan api obor Asian Games 2018 yang akan dibawa berlari mengelilingi 18 provinsi. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/nz/18.

Lucia Francisca Susy Susanti (Hanzi: 王蓮香, Pinyin: Wang Lian-xiang, Hokkien: Ong Lien Hiang, born 11 February 1971 in Tasikmalaya, West Java) is a retired Indonesian badminton player. Relatively small of stature, she combined quick and graceful movement with elegant shotmaking technique, and regarded by many as one of the greatest women’s singles player of all time. Sometimes her name is also spelled Susi Susanti. She is the first Indonesian Olympic gold medalist and the only Indonesian woman until Lilyana Natsir won gold in 2016.

Career

She won the women’s singles gold medal at the 1992 Olympic Games in Barcelona, Spain and the bronze medal at the 1996 Olympic Games in Atlanta, United States. She retired from the world badminton circuit not long after her marriage to Alan Budikusuma (who had also won a badminton singles gold medal at the 1992 Summer Olympics) in February 1997.

Susanti was the most dominant women’s singles player in the first half of the 1990s, winning the All-England in 1990, 1991, 1993 and 1994, the World Badminton Grand Prix finale five times consecutively from 1990 to 1994 as well as in 1996, and the IBF World Championships in 1993.

She is the only female player to hold the Olympic, World Championship, and All-England singles titles simultaneously. She won the Japan Open three times and the Indonesian Open five times. She also won numerous Badminton Grand Prix Series events and five Badminton World Cups. She led the Indonesian team to victory over perennial champion China in the 1994 and 1996 Uber Cup (women’s world team) competitions.

All of this came during a relatively strong period in women’s international badminton. Her chief competitors early in her prime years were the Chinese players Tang Jiuhong and Huang Hua, and, later, China’s Ye Zhaoying and the Korean Bang Soo-hyun.

Susanti was inducted into the International Badminton Federation (IBF, currently BWF) Hall of Fame in May 2004, and received the Herbert Scheele Trophy in 2002.

Playing Style

Susanti was an extremely durable defensive player who like to instigate long rallies to wear out opponent’s stamina and forcing unforced errors. The style was in contrast to most of the top female players of her contemporaries like, Bang Soo Hyun, Tang Jiuhong, Huang Hua, Ye Zhaoying, who at the time deployed more aggressive style.

Bulks of her points came from opponent’s bad strikes. Susanti’s matches were characteristically slow and long, especially in the era of 15 points system in a player could only get a point whenever she or he held the serve. Susanti’s relied on deep lob to the backline, effectively nullified the chance of engaging in fast pace exchange, and combined it with occasional drop shots near the net which forced her opponent to cover the entire court. Susanti’s frequently covered her backhand side with overhead forehand, many with heavy back-arching overhead forehands. She often stretched her legs very wide and low to take shots at the corners or away from her position. Being a small girl with limited court coverage in her development years had pushed her to develop the wide leg-stretching manoeuvre, a pose that became her signature move and sometimes ended with a full leg split. In later years of her career, Susanti incorporated a little smash in her repertoire, just enough to put her opponent off-balance since most of her opponents barely expected any attacking strikes from her.

Personal Life

She is married to Alan Budikusuma (Chinese: 魏仁芳), a men’s badminton Olympic gold medalist (also in 1992) and one of the top men’s players in the history of the sport, a former Chinese Indonesian badminton player who excelled at the world level from the late 1980s to the mid-1990s. Together they have three children Laurencia Averina, born 1999.

Achievements

Olympic Games

1992 Summer Olympics in Barcelona, Spain

1996 Summer Olympics in Atlanta, United States of America

World Championships

Women’s Singles

  • 1995 IBF World Championships at the Malley Sports Centre in Lausanne, Switzerland
  • 1993 IBF World Championships at the National Indoor Arena in Birmingham, England
  • 1991 IBF World Championships at the Brøndbyhallen in Copenhagen, Denmark

World Cup

Women’s singles

World Badminton Grand Prix Finals

Women’s singles

Asian Games

Women’s singles

Asia Championships

Women’s singles

Southeast Asian Games

Women’s singles

IBF World Grand Prix

The World Badminton Grand Prix sanctioned by International Badminton Federation (IBF) since 1983.

Women’s singles

Women’s doubles

International Series

Women’s singles

Women’s doubles

Mixed doubles

Liem Swie King

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

6885723868_8463744756

Liem Swie King (Hanzi: 林水鏡; Pinyin: Lín Shuǐjìng ; lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956; umur 61 tahun) adalah seorang pemain bulu tangkis yang dulu selalu menjadi buah bibir sejak dia mampu menantang Rudy Hartono di final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Kemudian Swie King menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan paling bergengsi saat itu dengan tiga kali menjadi juara ditambah empat kali menjadi finalis. Bila ditambah dengan turnamen “grand prix” yang lain, gelar kemenangan Swie King menjadi puluhan kali. Swie King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas. Tiga di antaranya Indonesia menjadi juara.

Liem Swie King Biodata

Liem Swie King

Mulai bermain bulu tangkis sejak kecil atas dorongan orangtuanya di kota kelahiran Kudus, Swie King yang lahir 28 Februari 1956 akhirnya masuk ke dalam klub PB Djarum yang banyak melahirkan para pemain nasional.

Usai menang di Pekan Olahraga Nasional saat berusia 17 tahun, akhir 1973, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Setelah 15 tahun berkiprah, Swie King merasa telah cukup dan mengundurkan diri pada tahun 1988. Saat aktif sebagai pemain, Liem terkenal dengan pukulan smash andalannya, berupa jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.

Perjalanan Hidup


Liem Swie King lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. Ia terkenal dengan pukulan jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.

Sejak kecil Swie King sudah bermain bulu tangkis atas dorongan orangtuanya di Kudus, kota kelahirannya. Kepiawaiannya bermain bulu tangkis makin terasah ketika ia masuk ke dalam klub PB Djarum yang telah banyak melahirkan para pemain nasional.

Dalam catatan Pusat Data Tokoh Indonesia, Liem Swie King meraih berbagai prestasi selama 15 tahun berkiprah di bulu tangkis. Pertama kali, Swie King meraih Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972). Pada usia 17 tahun (1973), ia menjuarai (II) Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Ia pun meraih Juara Kejurnas 1974 dan 1975.

Kemudian berkiprah di kejuaraan internasional, meraih Juara II All England (1976 & 1977). Kemudian tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, 1981), kejuaraan paling bergengsi kala itu. Selain itu, puluhan medali grand prix lainya, medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan tiga medali emas Piala Thomas (1976, 1979, 1984) dari enam kali membela tim Piala Thomas.

Demi Masa Depan


Demi menjamin masa depan, ia pun mengundurkan diri sebagai pemain nasional bulu tangkis tahun 1988. Kendati ia tidak langsung bisa menemukan kegiaatan usaha untuk mencapai cita-citanya. Setahun setelah berhenti itu, King nyaris dapat dikatakan menganggur. Sebab keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis.

Kemudian ia mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Kini usahanya telah mempekerjakan lebih dari 400 karyawan. Berkantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan.

Bagaimana King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan? Rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus.

Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang. Dalam mengelola usahanya, ia pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya.

Hasilnya, selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta, banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.

Menurut informasi dari kerabat dekatnya, Liem Swie King sebenarnya dari marga Oei bukan marga Liem. Pergantian marga seperti ini pada masa dahulu zaman Hindia Belanda biasa terjadi, pada masa itu seorang anak dibawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yg menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada “orang tua” yg lain, “orang tua” ini bisa saja bermarga sama atau lain dari aslinya.

Pebulu tangkis yang pernah terjun ke dunia film sebagai bintang film Sakura dalam Pelukan, ini kini hidup bahagia bersama isteri dan tiga orang anaknya Alexander King, Stevani King dan Michele King. Ternyata, anak-anaknya tidak tahu bahwa King seorang pahlawan bulu tangkis Indonesia.

Belakangan, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, mernjadikan kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulu tangkis Indonesia sebagai inspirasi untuk membuat film tentang bulu tangkis. Film itu memang bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King. ►Tian Son Lang

Kiprah di luar bulu tangkis


  • Bintang film Sakura dalam Pelukan
  • Pengusaha hotel (pekerjaan kini)
  • Kisahnya dibuat film pada tahun 2009, yaitu King
  • Bintang Iklan Indomie bersama Sherina Munaf pada tahun 2012

Pendidikan


  • SD, Kudus (1968)
  • SMP, Kudus (1971)
  • SMA, Kudus (1974)

Karier


  • Pebulu tangkis Indonesia
  • Pengusaha Hotel dan Spa

Nasional


  • Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972)
  • Juara II PON 1973
  • Juara Kejurnas 1974, 1975

International


Tunggal

  • 1974: Semi Finalis Asian Games Tehran
  • 1976: Finalis All England Open, Finalis Kejuaraan Asia
  • 1977: Finalis All England Open, Juara Denmark Open, Juara Swedia Open, Juara
  • SEA Games
  • 1978: Juara All England Open, Juara Asian Games Bangkok
  • 1979: Juara All England Open
  • 1980: Finalis Kejuaraan Dunia, Finalis All England
  • 1981: Juara All England Open, Semi Finalis World Games St.Clara, Juara SEA Games
  • 1982: Finalis Asian Games New Dehli, Juara Piala Dunia
  • 1983: Finalis Kejuaraan Dunia, Juara Indonesia Open, Juara Malaysia Open
  • 1984: Finalis All England Open, Finalis World Badminton Grand Prix
  • 1985: Semi Finalis All England Open

Ganda


  • 1983: Finalis SEA Games (bersama Hadibowo)
  • 1984: Juara Piala Dunia (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1985: Juara Piala Dunia, Juara Indonesia Open, Semi Finalis Kejuaraan Dunia , Finalis SEA Games (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1986: Juara Piala Dunia, Semi Finalis Asian Games Seoul (bersama Bobby Ertanto); Juara Indonesia Open (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1987: Juara Asia (bersama Bobby Ertanto); Juara SEA Games, Juara Japan Open, Juara Indonesia Open, Juara Taiwan Open, Finalis Thailand Open (bersama Eddy Hartono)

Beregu


  • 1976: Juara Piala Thomas
  • 1977: Juara SEA Games
  • 1978: Juara Asian Games
  • 1979: Juara Piala Thomas, Juara SEA Games
  • 1981: Finalis SEA Games
  • 1982: Finalis Piala Thomas, Finalis Asian Games
  • 1983: Juara SEA Games
  • 1984: Juara Piala Thomas
  • 1985: Juara SEA Games
  • 1986: Finalis Piala Thomas, Semi Finalis Asian Games
  • 1987: Juara SEA Games

Baca Juga: Badminton


King Jadi Raja (Juara Asian Games 1978)

September 5, 2011

liem-rudy

Tempo, 23 Desember 1978. Dalam final perorangan, King sekali lagi menjatuhkan juara RRC, Han Tsien. Penampilannya mantap. Sejak ronde pertama, ia tak pernah kehilangan satu set pun. Juga dalam menghadapi Luan Chin, juara dunia versi Federasi Bulu tangkis Dunia (WBF) di semi final, King menang bersih. Pertarungan antara kedua finalis yang berbeda kiblat ini tampak berjalan alot. (Indonesia adalah anggota Federasi Bulutangkis Internasional — IBF). Tak ada bola dari King yang dilepas begitu saja oleh Han Tsien.

Set pertama dimenangkan King, 15-7, dengan 18 menit. Dalam set lanjutan, Han Tsien sempat memburu King 5-6, setelah ketinggalan 1-6. Tapi Han Tsien tak lama bertahan. Setelah bola berpindah tangan, ia kelihatan tak kuasa menahan tekanan. Dan King melaju dengan 7 angka tambahan. Sampai di situ, Han Tsien memperkecil ketinggalan lagi menjadi 11-13. “Agak gugup juga saya dibuat Han Tsien,” ujar King kemudian. Set ini diakhiri King 15-11 dalam 13 menit.

Melihat penampilan yang memukau itu, koran Bangkok Post, 20 Desember, tak ayal menurunkan judul menyolok: “Liem Swie King is shuttle king. ” Betulkah King raja bulutankis? Juara All England 1959, Hendra Kertanegara pernah memuji King, juara All England 1978. “Ia punya pukulan tak terlihat yang menyesatkan ala Finn Kobero dan Svend Pri,” kata Kertanegara. “Tipe permainan yang kurang kita punyai di sini.” Kobero dan Pri adalah pemain andalan Denmark. Hou Chia Chang, bintang RRC yang kini bermain ganda bersama Yu Yao Tung berpendapat lain. “King pemain baik,” kata Chang kepada Lukman Setiawan dari TEMPO. Tapi, “dalam soal pukulan (dia) masih kurang.” Pukulan King kurang keras? “Tidak. Bukan itu,” lanjutnya. “Fisiknya kuat, kakinya kuat, pukulannya keras. Cuma bila diajak bermain rally, pukulannya itu-itu saja. Tak banyak variasi.”

King, lahir di Kudus, 28 Pebruari 1956, memang agak kurang memberikan variasi pukulan bila diajak rally. Ia beberapa kali keteter sewaktu dibawa Han Tsien atau Luan Chin dalam beradu ulet. Ketika King pertama kali mengorbit di tahun 1974, pelatihnya, Agus Susanto, tampak sudah menyadari kekurangan anak asuhannya. “Lawan main jelek, ia juga jelek,” kata Susanto. Di AG VIII, King beruntung berkat pengalaman. Keteter dalam rally, diimbanginya dengan permainan cepat. “King memang unggul dalam kecepatan,” komentar pelatih RRC, Wang Wen Chiao. “Itu dimungkinkan karena staminanya bagus.”

Penampilan bulutangkis Indonesia, umumnya tidak mengecewakan. Di AG VII, Teheran 1974, mereka cuma membawa pulang 2 medali emas atas nama pasangan Tjuntjun/Johan Wahyudi dan ganda campuran Christian/Regina Masli. Sekarang mereka memboyong 4 dari 7 medali emas yang diperebutkan – 1 dari beregu putera dan 3 melalui nomor perorangan. Pemenang 3 nomor yang disebut terakhir ini adalah Liem Swie King (tunggal), Christian/Ade Chandra (ganda putera), dan Verawaty/Imelda Wiguna (ganda puteri).

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online


Rudy Hartono, Liem Swie King, dan Misteri Final All England 1976

Pertandingan final tunggal putra All England pada 1976 masih menyimpan misteri besar untuk masyarakat Indonesia. Menyuguhkan All Indonesian Final yang mempertemukan Rudy Hartono dengan Liem Swie King, pencinta bulutangkis Tanah Air dibuat bertanya-tanya. King yang sedang dalam performa bagus di luar dugaan kalah dengan mudah dari Rudy dengan skor 7-15 dan 5-15.

Kontroversi tentang partai tersebut juga mendapat porsi istimewa di buku “Panggil Aku King” yang ditulis Robert Adhi KSP. Pada cover belakang buku itu tercantum pertanyaan tentang final itu.

Dalam final All England 1976, Liem Swie King “kalah” dari Rudy Hartono. Rudy menjadi juara ke delapan kali. Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah Liem Swie King diminta mengalah? Mengapa pemilik PB Djarum, Budi Hartono, kecewa pada penampilan King waktu itu?

Liem Swie King diyakini diminta untuk mengalah kepada Rudy Hartono yang merupakan seniornya di pelatnas. Apalagi kemenangan di final bakal mengantar Rudy mengukir sejarah baru, sebagai pemain yang paling banyak mengoleksi gelar juara All England di nomor tunggal putra, tepatnya sebanyak delapan kali. Yang menjadi pertanyaan, jika analisis itu benar, siapa pihak yang meminta King mengalah? Salah satu kecurigaan mengarah pada Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Tapi, hingga sekarang tak ada bukti yang membenarkan dugaan tersebut.

Kecurigaan ada pengaturan hasil pertandingan final itu muncul bukan tanpa alasan. Pada All England 1976, King sedang pada performa terbaik, sehingga melaju mulus tanpa hambatan dan bahkan mampu mengalahkan pemain-pemain kuat, Sture Johnson di semifinal dan Svend Pri di perempat final. Kedua pertandingan tersebut dilalui King tanpa hambatan berarti.

Keadaan terbalik justru dialami Rudy yang harus menguras keringat saat berhadapan dengan pebulutangkis asal Denmark, Flemening Delfs, di babak semifinal. Rudy pun tampil di final dalam kondisi kalah bugar dibanding sang junior di partai puncak. Di atas kertas, King sangat diunggulkan untuk bisa menjadi juara All England dengan mengalahkan Rudy di partai final.

Namun, performa King yang impresif di babak perempat final dan semifinal tidak terlihat ketika berhadapan dengan Rudy di partai puncak. Dia dianggap bermain setengah hati sehingga Rudy bisa menang dengan relatif mudah.

Pada buku “Panggil Aku King”, Liem Swie King mengaku diomeli habis-habisan oleh pemilik Djarum, Budi Hartono, saat tiba di Indonesia.

“Pak Budi merasa heran mengapa pertandingan selesai begitu cepat dan aku terlihat tidak bersemangat melawan Rudy Hartono. Budi mengatakan bahwa dia melatihku susah payah selama ini agar aku menjadi juara, bukan bertanding dengan tanpa semangat seperti terjadi di final All England 1976. Pak Budi menganggap aku bisa bertarung habis-habisan melawan Rudy Hartono, tetapi aku tidak melakukan itu,” urai King tentang memori final All England 1976.

King mengakui ditanya banyak orang tentang final kontroversial itu. Tak sedikit yang bertanya apakah King sengaja mengalah demi Rudy. Banyak fansnya yang tak percaya dengan hasil di final All England, apalagi setelah turnamen prestisius tersebut Liem Swie King tampil gemilang membekuk para rival-rivalnya.

Namun, di buku tersebut King tak memberikan jawaban gamblang atas misteri final All England 1976. Dia hanya mengaku menyesal gagal memenangi pertandingan puncak tersebut. Tak ada pengakuan maupun bantahan bahwa dia sengaja diminta mengalah demi Rudy Hartono.

“Aku memang sangat menyesal aku tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit. Aku menunjukkan bahwa aku mampu ketika uji coba menjelang Piala Thomas, aku mengalahkan semua pemain, baik Rudy Hartono, Iie Sumirat, maupun Tjun Tjun. Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan sampai ‘berdarah-darah’ dalam partai final All England itu,” ujar Liem Swie King menutup ceritanya tentang rahasia final All England 1976.

Kemenangan atas King mengukuhkan Rudy sebagai peraih gelar juara All England terbanyak di nomor tinggal dengan delapan kemenangan. Yang istimewa, tujuh gelar di antaranya diraih Rudy secara beruntun pada pada periode 1968-1974. Gelar juara sempat lepas dari tangan Rudy setelah kalah dari pemain Denmark, Svend Pri, pada 1975.

Gelar juara pada 1976 menjadi prestasi Rudy yang terakhir di ajang All England. Prestasi Rudy di nomor tunggal putra All England belum berhasil disamai pemain manapun hingga kini.

Erland Korps dari Denmark pernah meraih tujuh gelar All England, tetapi prestasi itu diraih dalam kurun waktu 10 tahun.

Lalu, setelah sekian dekade berlalu, apakah misteri final All England 1976 berhasil dipecahkan? Jawabannya tidak. Hingga kini, Liem Swie King maupun Rudy Hartono tetap bungkam soal rahasia di balik partai final kontroversial tersebut.

Satu hal yang pasti, keduanya adalah pebulutangkis hebat yang menjadi legenda dan pernah dimiliki Indonesia. Bisa jadi pertandingan bukan hanya soal menang atau kalah buat para legenda seperti mereka. Mungkin faktor itu yang membuat Rudy Hartono dan Liem Swie King yang tetap menyimpan jawaban seputar pertanyaan di final All England 1976. Entah sampai kapan.


King Sanggup Kalahkan Lin Dan atau Chong Wei

Kompas – 21/03/2012

Legenda bulu tangkis Indonesia, Liem Swie King meminta para pemain bulu tangkis Indonesia tidak perlu takut menghadapi pemain-pemain utama dunia.

Kalau kita selalu menjaga kondisi dan konsistensi dalam pertandingan, kita akan selalu siap menghadapi pemain dengan kemampuan apa pun,” kata Liem Swie King di Jakarta, Rabu (21/3).

Liem Swie King merupakan pemain legendaris Indonesia pada dekade 1970-1980-an. Di masa jayanya, pemain kelahiran Kudus ini pernah tiga kali menjadi juara tunggal putera All England (1978, 1979 dan 1981). King juga dikenal piawai bermain ganda putera bersama Christian Hadinata, Kartono Hariatmanto atau pun Bobby Ertanto. Ia mengundurkan diri di usia 32 pada 1988.

King muncul setelah surutnya era kegemilangan maestro bulu tangkis Rudy Hartono. Berbeda dengan gaya permainan Rudy yang mengandalkan strokes, permainan Liem Swie King pada awal karirnya sangat mengandalkan tenaga dan kecepatan yang dikenal dengan gaya permainan “speed and power game.” King juga yang memopulerkan smash dengan loncatan yang dikenal dengan istilah, “King’s smash.”

King juga dianggap sebagai pemain dengan stamina yang luar biasa. Ia mampu bermain rangkap tunggal dan ganda pada saat permainan bulu tangkis masih menggunakan sistem service over dengan angka maksmial 18.

Menurut King yang telah berusia 56 tahun, perkembangan gaya permainan di tunggal saat ini jauh berbeda dengan ganda putera. “Di nomor ganda permainan sekarang sangat cepat dan membutuhkan defense yang sangat bagus. Sementara untuk tunggal masih ada reli mau pun drive yang tidak jauh berbeda dengan jaman saya,” kata King.

Menurutnya, mandeknya perkembangan teknik di nomor tunggal putera diperlihatkan dengan masih eksisnya pemain-pemain lama sepertri Lee Chong Wei, Lin Dan, Peter Gade bahkan Taufik Hidayat. “Teknik dan stroke mereka memang bagus dan sistem poin sekarang membantu mereka masih mampu bersaing dengan pemain muda,” kata King.

Karena itulah, final Olimpiade London Juli mendatang menurut King keumungkinan besar akan mempertemukan Lee Chong Wei dan Lin Dan. “Memang secara motivasi, Lee Chong Wei lebih tinggi karena belum pernah juara. Tetapi kalau menurut saya, Lin Dan akan meraih lagi medali emas olimpiade.”

Membandingkan permainan pemain sekarang dengan pada masa jayanya, King mengatakan ia sanggup mengalahkan Lin Dan atau pun Lee Chong Wei. “Tetapi dengan kondisi saya pada usia 20-an ya. Jangan membayangkan saya pada masa menjelang pensiun. Saya kira kalau seusia, saya masih bisa. Setidaknya permainan akan berlangsung seru…”