Category Archives: Kabinet Indonesia Maju

Kabinet Indonesia Maju

Source: Wikipedia

Related Posts:

Kabinet Indonesia Maju adalah kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Susunan kabinet ini berasal dari kalangan profesional, usulan partai politik pengusung pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019 yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja ditambah Partai Gerindra yang bergabung setelahnya, serta tim sukses pasangan Jokowi-Amin pada Pilpres 2019. Susunan kabinet diumumkan oleh Presiden Jokowi pada 23 Oktober 2019 dan resmi dilantik pada hari yang sama. Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin membacakan susunan kabinetnya di pelataran tangga Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Jokowi menghadirkan para menterinya yang mengenakan kemeja batik. Kabinet Indonesia Maju terdiri dari 4 menteri koordinator dan 30 menteri.

Latar Belakang


Sebelum pengumuman kabinet tersebut, Jokowi menyatakan bahwa kabinet tersebut terdiri dari 45% kalangan partai politik dan 55% dari kalangan profesional; memiliki menteri “yang usianya 25, di bawah 30, dan di bawah 35 tahun”; yang mengisi jabatan kementerian lama; dan tak berasal dari partai politik; serta jaksa agung yang dipilih dari luar partai politik. Jokowi juga menyatakan bahwa kabinet tersebut terdiri dari seorang kepala daerah serta menteri-menteri lama yang dipertahankan, bertukar posisi dan dilepastugaskan.

Menteri baru dari partai politik mencapai 17 orang

Ketua partai dan mantan presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selaku partai pemenang pemilihan umum legislatif Indonesia 2019 sekaligus partai asal Jokowi meminta kursi menteri terbanyak dan kursi ketua DPR untuk para kader PDIP. Jokowi mengakui bahwa ia mempertimbangkan faktor daerah, agama, gender, latar belakang organisasi kemasyarakatan, serta usia dalam menentukan calon menteri.

Jokowi kemudian menyatakan bahwa parpol-parpol koalisi non-parlemen seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Indonesia (Perindo) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) akan diberi opsi jabatan wakil menteri.

Pada pelantikan Kabinet Indonesia Maju, Jokowi berpesan kepada menteri terpilih, salah satunya adalah menekankan untuk tidak korupsi.

Pimpinan Kabinet


Anggota Kabinet


Menteri

Berikut ini adalah menteri Kabinet Indonesia Maju.

Proporsi Partai
Keterangan: Pejabat setingkat menteri dan kepala lembaga non kementerian tidak dimasukkan dalam daftar ini.
Pejabat Setingkat Menteri

Berikut adalah pejabat setingkat menteri pada Kabinet Indonesia Maju:

Pejabat lain terkait Kabinet


Kepala Lembaga Pemerintah Nonkementerian

Berikut adalah kepala Lembaga Pemerintah Nonkementerian yang diberikan hak keuangan, administrasi, dan fasilitas setingkat Menteri:

Kepala Lembaga Nonstruktural

Berikut adalah kepala Lembaga Nonstruktural yang diberikan hak keuangan, administrasi, dan fasilitas setingkat Menteri:

Wakil Menteri

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008, presiden dapat mengangkat wakil menteri pada kementerian tertentu. Wakil menteri merupakan pejabat karier dan bukan merupakan anggota kabinet. Berikut adalah wakil menteri yang mendampingi beberapa menteri pada Kabinet Indonesia Maju.

Proporsi Partai

Untuk jabatan wakil menteri, komposisi partai politik dibanding non partai politik adalah 5 berbanding 7, dengan rincian sebagai berikut.

Nadiem Makarim

From Wikipedia, the free encyclopedia

Nadiem Makarim (born 1984) is an Indonesian entrepreneur and minister of education and culture. He founded Go-Jek in 2010, a transportation network company and logistic startup company that became Indonesia’s first decacorn company. He was appointed as Minister of Education and Culture by President Joko Widodo on his second term’s cabinet and subsequently resigned from his post at Gojek.

Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir: Para calon menteri muda di kabinet Jokowi yang diharap membawa perubahan. Source: Antara & BBC

Personal Life

Nadiem was born in Singapore on 4 April 1984, to Nono Anwar Makarim and Atika Algadri. His father is an activist, lawyer and is of Minangkabau-Arabian descent. His sister, Rayya Makarim, is a filmmaker. He married Franka Franklin and they have one daughter.

Education

Nadiem attended high school in Jakarta and United World College of Southeast Asia (UWC SEA), Singapore, then went to Brown University for a BA in International Relations. He did his MBA at Harvard University.

Career and Business

Makarim started his career at McKinsey & Company as management consultant in Jakarta. He left to co-found Zalora, an online fashion shop, then left Zalora to become Chief Innovation Officer at Kartuku, a payments service provider.

McKinsey & Company (2006 – 2009)

After graduating from Harvard University with an MBA, Nadiem decided to come back home to Indonesia and got a job in McKinsey & Co. Nadiem worked as a Mckinsey consultant for 3 years.

Zalora Indonesia (2011 – 2012)

Nadiem became Co-Founder and Managing Director for Zalora Indonesia in 2011. In 2012, Nadiem made the decision to leave Zalora to focus on building his own startup, including Gojek which at that time had 15 employees and 450 drivers. He claims to have learned enough from Zalora, which was his main goal in accepting the position in the first place. In Zalora, Nadiem had the chance to build a mega startup and work with some of the best talent across the region.

Kartuku (2013 – 2014)

After leaving Zalora and while developing Gojek, Nadiem also worked as a Chief Innovation Officer of Kartuku. In the early days, Kartuku didn’t have any competition in cashless payment solutions in Indonesia. Kartuku was then acquired by Gojek to strengthen GoPay.

Gojek (2010 – Present)

In 2010 Nadiem created Gojek, which is today a decacorn company with valuation over USD 10 billion. Gojek was first established as a call centre, offering only courier delivery and two-wheeled ride-hailing services. Today, Gojek has transformed into a super app, providing more than 20 services, ranging from transportation, food delivery, groceries, massage, house cleaning, logistics to a cashless digital payment platform called GoPay.

Makarim often uses a motorcyle taxi, known in Indonesia as an Ojek. He saw this as a business opportunity and developed it into Go-Jek, founded in 2010.

Go-Jek was well received, and eventually received US$ 1,3 billion funding from investors, in a 2018 round led by Alphabet Inc’s Google, JD.com Inc and Tencent Holdings. It thereby became the first Indonesian Unicorn. By 2019, the firm was worth up to US$ 10 billion.

Awards

  • In 2016, Nadiem received the The Straits Times Asian of the Year award, and was the first Indonesian to receive the award since it was first established in 2012. The Asian of the Year award is given to an individual or group that has significantly contributed to increasing the welfare of people in their countries or Asia at large. Some previous recipients include the founder of Singapore, Lee Kuan Yew, Indian Prime Minister Narendra Modi, Japanese Prime Minister Shinzo Abe, Chinese President Xi Jinping and Myanmar President Thein Sein. The award came as the company focuses on increasing the welfare of the informal sector. At the same time, it can help provide a livelihood for Indonesians by changing the traditional business market and model.
  • In 2018, Nadiem made it to Bloomberg 50 annual list of innovators. Bloomberg assessed that there was no other technology platform (app) that changed the lives of Indonesian as fast and as integrated as Gojek. Gojek app was launched in 2015 with a focus on two-wheel ride-hailing, and developed into a platform to pay bills, order food, and book cleaning services. “The Bloomberg 50” includes prominent figures in the business, entertainment, finance, politics, science and technology world. Nadiem’s track record of expanding Gojek to the Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam led him to be included in the Bloomberg 50 list alongside Mexican President Andres Manuel Lopez Obrador, Spotify Founder Daniel Ek, pop star Taylor Swift and K-Pop idol group BTS.
  • In May 2019, Nadiem was the youngest figure from Asia to receive the 24th Nikkei Asia Prize for economic and business innovation. Nadiem doubled the prize to Rp 860 million and donated the amount as education scholarship for Gojek drivers’ children. The Nikkei Asia Prize is given to individuals or organisations that contribute to the development of Asia. This award was given to Nadiem due to Gojek’s contributions to the economy, easing customer’s daily life, and increasing the income of their partners. Gojek contributed Rp 55 trillion (US$ 3.85 Billion) towards the Indonesian economy, with the average income of GoRide and GoCar partners increasing by 45% and 42% after joining Gojek, and culinary SMEs transaction volume increasing 55% after becoming GoFood merchant.
  • In 2017, Gojek made it to Fortune’s Top 50 Companies That Changed The World, ranking 17th world wide. In 2019 Gojek once again made it to Fortune’s Top 50 Companies That Changed The World, and was the only Southeast Asian company to have been included twice in the list – this year leaping to number 11 out of 52 global companies.

International Organizations

With Melinda Gates and the Minister of Finance of Indonesia, Sri Mulyani, Nadiem served as one of the commissioners of Pathways for Prosperity for Technology and Inclusive Development that focuses on helping developing countries to adapt with various new digital innovations that change the working culture.

Headlines

Jadi Menteri, Nadiem Makarim Mundur dari CEO Gojek dan Siap Bawa Inovasi ke Kabinet Kerja Jilid 2

Senin, 21 Oktober 2019 12:05

Nadiem Makarim dan Keluarga

CEO sekaligus founder startup Gojek, Nadiem Makarim, menyatakan mundur dari jabatannya sebagai CEO Gojek.

Hal tersebut ia utarakan di Istanan Negara seusai bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Menurut Nadiem, dirinya akan masuk ke dalam jajaran kabinet yang ditentukan oleh Presiden Joko Widodo masa pemerintahan 2019 – 2020.

Kendati demikian Nadiem tidak menyebut secara rinci pada posisi apa dan kementerian mana ia akan bergabung. “Posisi saya di Gojek sudah mundur dan tidak ada kewenangan sama sekali. Tidak ada kekuasaan apapun di dalam Gojek,” ungkap Nadiem. Ia mengatakan hal tersebut adalah sebuah kehormatan untuknya.

Ia pun meminta publik agar menunggu pengumuman langsung dari Presiden Joko Widodo terkait posisi yang akan ia tempati. “Saya sangat senang. Kehormatan buat saya bisa bergabung dengan kabinet. Mengenai posisinya nanti diumumkan sendiri oleh Pak Presiden,” ungkapnya.

Kendati demikian ia tak menyebutkan kapan akan menyatakan mundur secara resmi dari perusahaan yang ia dirikan tersebut. Namun, Pendiri Go-Jek Nadiem Makarim mengaku siap berinovasi di kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Hal itu disampaikan Nadiem usai bertemu Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10/2019). Nadiem mengakui dalam pertemuan itu ia diminta masuk ke kabinet.

“Saya merasa ini kehormatan saya diminta bergabung ke kabinet dan saya menerima,” kata Nadiem. Nadiem mengaku sudah diberitahu akan menjadi menteri apa. Namun, ia enggan membocorkan ke wartawan. Ia hanya menegaskan bahwa dirinya siap membawa banyak inovasi di kabinet nanti.

“Sudah pasti dan banyak sekali inovasi yang ingin saya lakukan untuk negara ini. Saya enggak bisa sebut sekarang,” kata dia. Nadiem pun mengaku ia sudah mundur dari Go-Jek, bisnis start up yang ia bangun. “Pasti di Go-Jek sudah mundur. Tidak ada posisi dan kewenangan apapun di Gojek,” ujarnya.

Nadiem sendiri pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB muncul dari gerbang utama mengenakan kemeja putih menarik perhatian wartawan yang sedang meliput di lokasi. Hal ini memunculkan dugaan Nadiem akan masuk ke dalam jajaran kabinet Presiden Jokowi jilid 2.

Ia hanya membalas senyum kepada sejumlah awak media yang gencar melontarkan pertanyaan. Ada yang menyebut dia akan menjadi menteri digital dan ekonomi kreatif. Ada pula yang mengatakan Nadiem bakal bergabung ke Kementerian Pendidikan.

Hingga kini masih belum ada kepastian jabatan apa yang akan disandang Nadiem, kalaupun dia benar masuk kabinet. Presiden Joko Widodo kemungkinan baru akan mengumumkan jajaran kabinetnya menjelang siang ini.

Pria 35 tahun lulusan Universitas Harvard kabarnya akan masuk dalam jajaran pemerintahan sebagai salah satu menteri. Ada yang menyebut dia akan menjadi menteri digital dan ekonomi kreatif.

Ada pula yang mengatakan Nadiem bakal begabung ke Kementerian Pendidikan. Hingga kini masih belum ada kepastian jabatan apa yang akan disandang Nadiem, kalaupun dia benar masuk kabinet.

Pengamat Politik dari Charta Politika, Yunarto menyampaikan bahwa Ngadiem Makarim adalah calon menteri yang cocok dengan bocoran presiden selama ini. “Selama ini presiden manyampaikan bahwa ada menteri yang milenials, dan tentun Ngadiem adalah orang yang cocok untuk itu,” ujarnya.

Sejauh ini Ngadiem Makarim memang dikabarkan akan menjadi menteri yang akan duduk di bidang pendidikan dan koperasi. Yunarto pun menjelaskan bahwa jika Ngadiem nanti menjadi menteri tentu banyak masalah yang akan dihadapinya, karena tidak akan sama iklimnya saat memimpin Gojek dan kementerian.

“Akan susah dia nantinya mendobrak budaya-budaya di Kementerian. Kalau di Gojek kan, dia yang bangun dan bertumbuh bersama. Ini dia datang ke tempat yang sudah bertahun-tahun establish,” ujarnya.

Lantas, bagaimana profil CEO Go-Jek tersebut?

Berikut profil Nadiem Makarim, dirangkum Tribunnews dari berbagai sumber :

Kehidupan Pribadi

  • Nadiem Makarim memiliki nama lengkap Nadiem Anwar Makarim.
  • Ia merupakan pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984.
  • Pria 35 tahun itu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
  • Ia lahir dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri.
  • Ayahnya merupakan seorang aktivis dan pengacara.
  • Sedangkan, ibunya berprofesi sebagai penulis lepas.
  • Sang ibu merupakan putri dari salah seorang sosok perintis kemerdekaan Indonesia, Hamid Algadri.
  • Sementara itu, ia menikah dengan sang istri Franka Franklin sejak 2014 lalu.

Nadiem dan Franka telah dikaruniai anak perempuan bernama Solara Franklin Makarim.

Riwayat Pendidikan

  • Nadiem Makarim mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Jakarta.
  • Ia kemudian melanjutkan pendidikan SMA-nya di Singapura.
  • Lulus SMA, Nadiem pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat.
  • Ia mengenyam pendidikan di Brown University dari tahun 2002 hingga 2006.
  • Tiga tahun kemudian, ia pun melanjutkan pendidikan pasca-sarjana di Harvard Business School dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA).

Awal Karir

  • Dilansir TribunStyle, Nadiem Makarim memutuskan untuk bergabung di Mckinsey & Company yang berbasis di Jakarta pada 2006.
  • Ia direkrut perusahaan itu menjadi konsultan manajemen.
  • Ia bekerja di perusahaan tersebut selama 3 tahun.
  • Nadiem juga bekerja di Zalora Indonesia sebagai Co-Founder serta Managing Editor.
  • Ia kemudian memutuskan keluar dari Zalora dan bekerja di Kartuku sebagai Chief Innovation Officer.
  • Di tahun 2011, Nadiem Makarim mulai merintis perusahaannya yang kemudian dikenal dengan Go-Jek.
  • Go-Jek merupakan aplikasi pesan ojek online yang telah berkembang besar di Indonesia.
  • Perusahaan itu disebut memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau setara dengan Rp 7,2 triliun pada 2016 lalu.
  • Go-Jek pun tak hanya menyediakan jasa pesan ojek online saja, namun juga jasa antar barang (Go-Send), makanan (Go-Food), kebersihan, massage, dan lain-lain.
  • Kini, aplikasi Go-Jek bahkan telah beroperasi di 50 kota di negara-negara Asia Tenggara.
  • Yang sebelumnya menjadi startup unicorn, Go-Jek kini menjadi perusahaan decacorn.

Jadi Juragan Ojek

  • CEO Gojek, Nadiem Makarim bersalaman dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Dok)
  • Awal mula Nadiem Makarim menjadi juragan ojek adalah dari kebiasaannya menggunakan ojek untuk pergi ke kantor.
  • Dilansir Kompas.com, ia mendapat ide untuk mengawinkan jasa ojek dan teknologi.
  • Dari situ, lahirlah PT Go-Jek Indonesia.
  • Nadiem bercerita, kebiasaan menggunakan ojek sudah menjadi rutinitas harian.
  • Saat itu, ia masih bekerja sebagai Co-Founder dan Managing Editor Zalora Indonesia dan Chief Innovation Officer Kartuku.
  • Setiap berangkat ke kantor, ia selalu menggunakan ojek.
  • Bukan berarti ia tidak memiliki kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor.
  • Ia lebih memilih menggunakan ojek saat pulang atau pergi ke kantor karena merasa lebih aman.
  • Menurut dia, tingkat kecelakaan pada pengguna ojek sangat kecil.
  • Selama menggunakan jasa ojek, ia tidak pernah mengalami kecelakaan.
  • Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem pun sering ngobrol dengan para tukang ojek langganannya.
  • Dari hasil obrolan dan pengamatannya, ia mengetahui bahwa sebagian besar waktu tukang ojek banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.
  • Di tempat mangkal, biasanya mereka giliran dengan tukang ojek lainnya. Sudah giliran, kadang penumpang sepi.
  • Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, keamanan dan kenyamanan ojek belum terjamin 100 persen.
  • Menjawab semua persoalan itu, ia akhirnya mendapatkan ide membuat inovasi bagaimana orang bisa dengan mudah memesan ojek melalui ponsel tanpa harus repot ke pangkalan ojek.
  • Terlebih lagi, tidak semua orang lokasinya dekat dengan pangkalan ojek.
  • Tukang ojek sendiri tidak harus mangkal.
  • Bagi penumpang, menggunakan ojek juga lebih aman karena jelas dan terdaftar.
  • Nadiem mengaku, idenya ini juga sejalan dengan salah satu tugas kuliah ketika mengambil master di Harvard Business School.
  • Saat awal merintis bisnis, ia hanya memiliki 10 karyawan dan 20 tukang ojek.
  • Bagi Nadiem, awal mendirikan Go-Jek merupakan masa yang penuh dengan tantangan.
  • Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya merekrut para pengojek untuk bergabung.
  • Maklumlah, saat itu karena brand Go-Jek belum banyak dikenal seperti sekarang ini.
  • Saat itu, Nadiem pun terjun langsung merekrut tukang ojek.
  • Ia kerap turun ke jalan, tempat para tukang ojek mangkal.
  • Ia lalu banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga membelikan mereka kopi dan rokok.

Menyabet Asian of The Year 2018

  • Dilansir Kompas.com, Nadiem Makarim menjadi orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan “Asian of The Year” dari The Strait Times.
  • Ia menyabet penghargaan bergengsi tersebut pada 2012.
  • Nadiem menyatakan, penghargaan tersebut diperoleh seiring dengan fokus Go-Jek untuk meningkatkan kesejahteraan sektor informal.
  • Di saat yang sama, langkah mereka bisa membantu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dengan mengubah pasar dan model bisnis yang selama ini berlaku.
  • Penghargaan “Asian of the Year” diberikan kepada individu atau sekelompok individu yang berkontribusi secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negaranya atau di Asia.
  • Sejumlah nama besar yang pernah menerima Asian of the Year adalah Lee Kuan Yew, pendiri Singapura (2015); Narendra Modi, Perdana Menteri India (2014); Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang dan Xi Jinping, Presiden China (2013); serta Thein Sein, Presiden Myanmar (2012).

Penasihat Kwarnas Pramuka

  • Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Dewan Penasihat Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023.
  • Dilansir Kompas.com, dia dilantik oleh Jokowi pada 27 Desember 2018 silam.
  • Ada tiga mantan Presiden yang menjadi Anggota Dewan Penasihat, yakni Presiden ketiga BJ Habibie, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri, dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
  • Ada juga mantan Wapres Try Sutrisno.
  • Selain itu, pengusaha lain yang ditunjuk antara lain CEO Net TV Wishnutama dan pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo.
  • Tak hanya itu, ada juga nama besar lain seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X, Soekarwo, Mustofa Bisri, Syafi’i Maarif, Siti Hartati Murdaya, Frans Magnis Suseno, Jaya Suprana, Slamet Raharjo, dan Eka Cipta Wijaya.
  • Diharapkan, Dewan Penasihat di bidang bisnis dapat mengajari anak-anak gerakan Pramuka bagaimana mengelola bisnis.

Masuk dalam 50 Sosok Menginspirasi di Dunia versi Bloomberg 2018

  • Nadiem Makarim masuk ke daftar sosok paling menginspirasi dalam 2018 Bloomberg 50.
  • Daftar tersebut terdiri dari orang-orang yang terlibat dalam dunia bisnis dan keuangan, entertainment, politik hingga teknologi dan ilmu pengetahuan di mana sosoknya bisa membawa perubahan besar di tahun 2018.
  • Dilansir Kompas.com, rilis penghargaan itu menyebut, Go-Jek yang dibangun oleh Nadiem telah mengubah kehidupan masyarakat Indonesia dalam waktu yang cepat.
  • “Tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat seperti Go-Jek. Kemudian tahun 2015 yang berkembang fokusnya tidak hanya pada pemesanan sepeda motor (ojek), tetapi juga menjadi cara untuk membayar tagihan, memesan makan, atau menjadwalkan pembersihan rumah,” tulis laporan itu.
  • Dalam keterangannya, 2018 Bloomberg 50 mengatakan bahwa layanan “berbagi aplikasi” Go-Jek yang berbasis di Indonesia juga bisa mendobrak untuk ekspansi ke luar negeri.
  • Dalam daftar nama tersebut, nama Nadiem masuk bersama para direktur The Fed Jerome Powell, Richard Clarida, John Williams, Randal Quarles dan Lael Brainard.
  • Peraih nobel bidang fisika Donna Strickland hingga artis Taylor Swift juga masuk ke dalam daftar ini.

Harta Kekayaan

  • Dilansir Tribun Style, nama Nadiem Makarim masuk dalam daftar 5 miliarder terkaya Indonesia dengan usia kisaran angka 30 tahun.
  • Dirilis dari Globe Asia tahun 2018, kekayaan Nadiem Makarim ditaksir mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun.
  • Secara dunia, peringkat Nadiem Makarim dalam daftar tersebut adalah di urutan ke-150.

Source: aceh.tribunnews

Sri Mulyani

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D (lahir di Bandar Lampung, Lampung, 26 Agustus 1962; umur 56 tahun) adalah wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini diembannya mulai 1 Juni 2010 hingga dia dipanggil kembali oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro, dia mulai menjabat lagi sejak 27 Juli 2016. Sebelumnya, dia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. Ketika ia menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia maka ia pun meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan saat itu. Sebelum menjadi menteri keuangan, dia menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. Sri Mulyani sebelumnya dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi di Indonesia. Ia menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Ia dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Ia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.

Daftar isi
1 Kehidupan awal
2 Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Bersatu (2005–2010)
3 Pindah ke Bank Dunia
4 Menteri Keuangan pada Kabinet Kerja (2016–sekarang)
5 Pendidikan
6 Spesialisasi penelitian
7 Pengalaman kerja
8 Kegiatan penelitian
9 Publikasi
10 Catatan kaki
11 Pranala luar
11.1 Kuotasi

Kehidupan awal

Sri Mulyani lahir di Tanjung Karang (sekarang Bandar Lampung), Provinsi Lampung, tanggal 26 Agustus 1962. Dia adalah anak ketujuh dari seorang dosen universitas, Prof. Satmoko dan Retno Sriningsih. Namanya bercorak bahasa Jawa dan berhuruf Sansekerta. Sri berarti sinar atau cahaya yang bersinar, yang merupakan nama yang umum bagi perempuan Jawa. Mulyani berasal dari kata mulya, juga berarti berharga. Indrawati berasal dari kata Indra and akhiran feminin -wati.

Sri Mulyani mendapatkan gelar dari Universitas Indonesia pada 1986. Ia kemudian memperoleh gelar Master dan Doctor di bidang ekonomi dari University Illinois at Urbana-Champaign pada 1992. Tahun 2001, ia pergi ke Atlanta, Georgia, untuk bekerja sebagai konsultan untuk USAID (US Agency for International Development) demi tugas untuk memperkuat otonomi di Indonesia. Ia juga mengajar dalam ekonomi Indonesia sebagai professor di Andrew Young School of Policy Studies di Georgia State University. Dari tahun 2002 sampai 2004 ia menjabat sebagai direktur eksekutif IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara.

Ia menikah dengan Tony Sumartono yang juga seorang ekonom dan kemudian mempunyai tiga anak. Ia tidak pernah mempunyai hubungan dengan partai politik manapun.

Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Bersatu (2005–2010)

Sri Mulyani ditunjuk untuk menjadi menteri keuangan pada tahun 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Salah satu kebijakan pertamanya sebagai menteri keuangan ialah memecat petugas korup di lingkungan depertemen keuangan. Ia berhasil meminimalisir korupsi dan memprakarsai reformasi dalam sistem pajak dan keuangan Indonesia, dan mendapat reputasi sebagai menteri yang berintegritas. Dia berhasil meningkatkan investasi langsung luar negeri di Indonesia. Pada tahun 2004 disaat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai menjabat, Indonesia mendapat $4,6 miliar dari investasi langsung luar negeri. Tahun berikutnya berhasil meningkat menjadi $8,9 miliar.

Tahun 2006, hanya satu tahun setelah menjabat menteri, ia disebut sebagai Euromoney Finance Minister of the Year oleh majalah Euromoney.

Selama masa jabatannya pada tahun 2007, Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6.6%, tertinggi sejak krisis finansial di Asia tahun 1997. Namun pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi menurun menjadi 6,% akibat perlambatan dalam ekonomi global. Pada Juli 2008, Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Ekonomi, menggantikan Boediono, yang akan mengambil jabatan di Bank Indonesia.

Pada Agustus 2008, Sri Mulyani disebut majalah Forbes sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia,[18] yang juga sekaligus wanita paling berpengaruh di Indonesia. Saat ia menjabat sebagai Menteri Keuangan, cadangan valuta asing negara mencapai nilai tertinggi sebesar $50 miliar. Ia mengatur pengurangan utang negara hampir 30% dari GDP dari 60%, membuat penjualan utang negara ke institusi asing semakin mudah. Ia mengubah struktur pegawai pemerintah di lingkup pemerintahannya dan menaikkan gaji petugas pajak untuk mengurangi sogokan di departemen keuangan.

Tahun 2007 dan 2008, majalah Emerging Markets memilih Sri Mulyani sebagai Asia’s Finance Minister of The Year.

Setelah Susilo Bambang Yudhoyono dipilih kembali menjadi presiden tahun 2009, ia kembali ditunjukmenjadi Menteri Keuangan. Tahun 2009 ekonomi Indonesian tumbuh 4.5% disaat banyak negara-negara di dunia mengalami kemunduran. Indonesia adalah satu dari tiga negara dengan pertumbuhan ekonomi diatas 4% pada tahun 2009 disamping China dan India. Dibawah pengawasannya pemerintah berencana meningkatkan angka pembayar pajak penghasilan dari 4,35 juta orang hingga sebesar 16 juta di lima tahun terakhir. Penerimaan pajak tumbuh dari sekitar 20% setiap tahun hingga lebih dari Rp 600 trilliun pada tahun 2010.

Pada November 2013, surat kabar Inggris The Guardian merilis artikel disertai laporan berisi bocoran dari Edward Snowden, seorang karyawan CIA, yang menunjukkan bahwa intelijen Australia diduga keras meretas telepon genggam beberapa petinggi politik Indonesia pada tahun 2009. Termasuk Sri Mulyani yang menjabat sebagai menteri saat itu. Perdana Menteri Australia Tony Abbot membela dengan mengatakan bahwa aktivitas yang dilakukan tersebut bukanlah mata-mata melainkan akan digunakan untuk “penelitian” dan ia bermaksud hanya akan menggunakan setiap bentuk informasi untuk hal baik.

Pindah ke Bank Dunia

Pada tanggal 5 Mei 2010, Sri Mulyani ditunjuk menjadi salah satu dari tiga Direktur Pelaksana Bank Dunia. Ia menggantikan Juan Jose Daboub, yang menyelesaikan empat tahun masa jabatannya pada 30 Juni, mengatur dan bertugas diatas 74 negara di Amerika Selatan, Karibia, Asia Timur dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Pengunduran dirinya berdampak negatif pada situasi ekonomi di Indonesia seperti stock exchange yang menurun sebesar 3,8%. Nilai rupiah turun hampir 1% dibandingkan dollar. Merupakan penurunan saham Indonesia yang paling tajam dalam 17 bulan. Kejadian ini disebut sebagai “Indonesia’s loss, and the World’s gain (Kerugian Indonesia, dan keuntungan dunia)”.

Beredar isu bahwa pengunduran dirinya saat itu disebabkan oleh tekanan dari pihak lain, terutama dari pengusaha dan ketua Partai Golongan Karya, Aburizal Bakrie. Aburizal Bakrie diduga mempunyai ketidaksukaan terhadap Sri Mulyani akibat penyelidikan oleh Sri Mulyani terhadap penggelapan pajak dalam jumlah besar pada Bakrie Group, penolakan Sri Mulyani untuk mendukung kepentingan Bakrie terkait batu bara dengan menggunakan dana negara, dan penolakan Sri Mulyani untuk menyatakan bahwa semburan lumpur Sidoarjo, yang secara luas dipercaya disebabkan dari pengeboran oleh perusahaan Bakrie, adalah bencana alam.

Pada 20 Mei, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan penggatinya yaitu Agus Martowardojo, CEO dari Bank Mandiri.

Pada tahun 2014, ia disebut oleh majalah Forbes sebagai wanita paling berpengaruh di dunia urutan ke-38.

Menteri Keuangan pada Kabinet Kerja (2016–sekarang)

Pada 27 Juli 2016, Sri Mulyani dipulangkan oleh Presiden Joko Widodo untuk kembali menjadi Menteri Keuangan. Kembalinya Sri Mulyani merupakan kejutan bagi banyak pihak dan dianggap sebagai salah satu langkah terbaik yang pernah diambil oleh Joko Widodo selama dia menjabat. Belum setahun menjabat, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se-Asia 2017 oleh majalah Finance Asia yang berkedudukan di Hong Kong. Pemberian penghargaan tersebut dinilai karena keberhasilannya mengurangi target defisit fiskal dari yang dikhawatirkan menembus angka 3 persen menjadi 2,5 persen dari PDB. Ia juga dianggap mampu memperbaiki sistem perpajakan Indonesia lewat program pengampunan pajak (tax amnesty) yang mana realisasi pembayaran tebusannya jauh melebihi proyeksi Bank Indonesia.

Di era Sri Mulyani, Pemerintah Pusat untuk pertama kalinya dalam sejarah memperoleh opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun Anggaran 2016 dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sri Mulyani juga menjadi sorotan dengan berhasil menagihkan pajak perusahaan raksasa Google dan Facebook. Pada tanggal 11 Februari 2018 dalam acara World Government Summit di Uni Arab Emirates, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Dunia (Best Minister Award). Penghargaan diserahkan oleh Sheikh Mohammed bin Rashid yang merupakan Wakil Presiden UAE, Perdana Menteri dan Penguasa Dubai.

Pendidikan

  • SMP Negeri 2 Bandar Lampung (1975-1978)
  • SMA Negeri 3 Semarang (1978-1981)
  • Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia. (1981 – 1986)
  • Master of Science of Policy Economics di University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A. (1988 – 1990)
  • Ph.D. of Economics di University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A. (1990 – 1992)

Spesialisasi penelitian

  • Ekonomi Moneter dan Perbankan
  • Ekonomi Tenaga Kerja

Pengalaman kerja

  • Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI), Juni 1998 – Sekarang
  • Narasumber Sub Tim Perubahan UU Perbankan, Tim Reformasi Hukum – Departemen Kehakiman RI, Agustus 1998 s/d Maret 1999.
  • Tim Penyelenggara Konsultan Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional Tahun 1999 – 2000, Kelompok Kerja Bidang Hukum Bisnis, Menteri Kehakiman Republik Indonesia, 15 Mei 1999 – Sekarang
  • Anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI, Juni 1998 s/d sekarang.
  • Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI-TVRI XXXI, Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial, Kebudayaan dan Kemanusiaan, terhitung 1 April 1999 – Sekarang
  • Redaktur Ahli Majalah bulanan Manajemen Usahawan Indonesia, Agustus 1998 – Sekarang
  • Anggota Komisi Pembimbing mahasiswa S3 atas nama Sdr. Andrianto Widjaya NRP. 95507 Program Doktor (S3) Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Institute Pertanian Bogor, Juni 1998
  • Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), 1996 – 2000
  • Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik-UI, 1996-Maret 1999
  • Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI, Mei 1995 – Juni 1998
  • Wakil Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan LPEM FEUI, 1993 – Mei 1995
  • Research Associate, LPEM FEUI, 1992 – Sekarang
  • Pengajar Program S1 & Program Extension FEUI, S2, S3, Magister Manajemen Universitas Indonesia, 1986 – Sekarang
  • Anggota Kelompok Kerja – GATS Departemen Keuangan, RI 1995
  • Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan – BKKBN, 1995
  • Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk, Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN, Mei – Desember 1995
  • Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS, 1994 – 1995
  • Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA, 1990 – 1992
  • Asisten Pengajar Fakultas Ekonomi – Universitas Indonesia, 1985 – 1986

Kegiatan penelitian

  • Research Demand for Housing, World Bank Project, 1986
  • Kompetisi Perbankan di Jakarta/Indonesia, BNI 1946, 1987
  • Study on Effects on Long-term Overseas Training on Indonesia Participant Trainees. OTO Bappenas – LPEM FEUI, 1998
  • Penyusunan Study Dampak Ekonomi Sosial Kehutanan Indonesia . Departemen Kehutanan – LPEM FEUI, 1992
  • Survei Pemasaran Pelumas Otomotif Indonesia. Pertamina – LPEM FEUI, 1993
  • The Prospect of Automotive Market and Factors Affecting Consumer Behavior on Purchasing Car. PT. Toyota Astra – LPEM FEUI, 1994
  • Inflasi di Indonesia : Fenomena Sisi Penawaran atau Permintaan atau keduanya. Kantor Menko Ekuwasbang – Bulog – LPEM FEUI, 1994
  • Restrukturisasi Anggaran Daerah. Departemen Dalam Negeri – LPEM FEUI, 1995
  • The Evaluation of Degree and non degree training – OTO Bappenas, 1995
  • Fiscal Reform in Indonesia : History and Perspective, 1995
  • Potensi Tabungan Pelajar DKI Jakarta. Bank Indonesia – LPEM FEUI, 1995
  • Studi Rencana Kerja untuk Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional, Departemen Pariwisata, Pos & Telekomunikasi – LPEM FEUI, 1996
  • Interregional Input-Output (JICA Stage III), 1996
  • Studi Kesiapan Industri Dalam Negeri Memasuki Era Perdagangan Bebas, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, LPEM FEUI, 1997
  • Penyusunan Rancangan Repelita VII. Departemen Perindustrian dan Perdagangan , 1997
  • Indonesia Economic Outlook 1998/1999. Indonesia Forum 1998
  • Country Economic Review for Indonesia. Asian Development Bank, 1999

Publikasi

  • Teori Moneter, Lembaga Penerbitan UI, 1986
  • Measuring the Labour Supply effect of Income Taxation Using a Life Cycle Labour Supply Model : A Case of Indonesia (Disertasi), 1992
  • A Dynamic Labour Supply Model for Developing Country : Consequences for Tax Policy (co author : Jane Leuthold) BEBR – University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A., 1992
  • ” Ekonom dan Masalah Lingkungan “, Kompas, 4 Desember 1992
  • ” Prospek dan Masalah Ekspor Indonesia”, Suara Pembaharuan, April 1993
  • The Cohort Approach of a life Cycle Labour Supply, EKI, Desember 1993
  • ” Tantangan Ekspor non Migas Indonesia “, DPE 1994
  • “Perkembangan Ekonomi Sumber Daya Manusia – Proceding ” Seminar LP3Y – Jogya, Dalam Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan, 1995
  • “Dilema Hutang Luar Negeri dan PMA”, Warta Ekonomi 26, 1995
  • “Prospek Ekonomi”, Gramedia, 1995
  • Tantangan Transpormasi Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Era Globalisasi” (co dengan Dr. Ninasapti Triaswati) dalam : Alumni FEUI dan Tantangan Masa Depan, Gramedia, 1995.
  • “Liberalisasi dan Pemeratan dalam Liberalisasi Ekonomi, Pemerataan dan Kemiskinan, Tiara Wacana, 1995
  • Tinjauan Triwulan Perekonomian (Sri Mulyani dan Thia Jasmania), Ekonomi Keuangan Indonesia, Januari – April 1995
  • Performace of Indonesia State owned Enterprises, Seminar World Bank, April 1995
  • “Ability to Pay minimum wage and Workers Condition in Indonesia”, Seminar World Bank Seminar, April 1995.
  • Workers in an integrating World, Discuss Panel World Development Report, 1995
  • Mungkinkah Ekonomi Rakyat ? Diskusi Series Bali – Post – Ekonomi Rakyat, 25 November 1995
  • “Tumbuh Tinggi dengan Uang Ketat”, Warta Ekonomi , 5 Februari 1996
  • Inpres 2/1996 dan Pembangunan Industri Nasional, Dialog Pembangunan CIDES, 28 Maret 1996″Kijang Tetap Jadi Pilihan”, Jawa Pos, 29 Maret 1996
  • “Sumber – sumber institusional dalam mewujudkan Demokrasi Ekonomi”, Seminar Persadi, 18 Januari 1996
  • “Indonesia: Sustaining Manufactured Export Growth”, Seminar Bappenas – ADB, 11 April 1996
  • Consistent Macroeconomic Development and its Limitation (Sri Mulyani dan Ari Kuncoro), Indonesia Economy Toward The Twenty First Century – IDE 1996
  • “Menggantung Harapan pada Tax Holiday”, Majalah SWA, 16 Agustus 1996
  • “Globalisasi dan Kemandirian Ekonomi”, Simposium Nasional Cendikiawan Indonesia Ke III, Jakarta 28 Agustus 1996
  • “Kesiapan Jawa Timur dalam mendukung pembangunan Industri Nasional”, Seminar Kajian Industri : Tantangan Internasional dan Respon Industri di Jawa Timur Refreksi dan Prospektif, 2 November 1996
  • “Strategi Pembangunan Pasar Dalam Negeri dan Luar Negeri – Usaha Kecil Menengah dan Koperasi” Seminar Yayasan Dana Bakti Astra, Jakarta 12 Maret 1997
  • “Kebijakan Harga dan Ketahanan Pangan Nasional”, memperingati HUT Bulog, April 1997
  • “Pemerintah Versus Pasar”, memperingati 70 Tahun, Prof. Widjojo Nitrisastro, Mei 1997
  • “Liberalisasi Challenges”, Seminar ASEAN/ISI-Keijai Koho Center, Tokyo, 8 Juli 1997
  • “Isu Mobnas Dalam Dinamika Kebijakan Industri Nasional : Sebuah Tinjauan Ekonomi Politik”, 21 Visi, 1997
  • “Tantangan Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Millenium Baru : Mempertahankan Pertumbuhan Dan Meletakkan Fundamental Yang Kokoh”, Disampaikan Dalam Orasi Ilmiah Pada Acara Wisuda Lulusan STAN Dan PRODIP Keuangan, Plenary Hall – Jakarta Hilton Convention Center, 2 September 1997.
  • “Implikasi Bagi Dunia Bisnis Dari Gejolak Mata Uang”, Diskusi BBD, 10 September 1997
  • “Economic Profile and Performance of ASEAN Countries” Konfrensi Federation of ASEAN Economic Association, Denpasar – Bali, 24-25 Oktober 1997
  • “Indonesia Economic Outlook 1998 (Challenger & Oportunities)” One Day seminar Radison Hotel, 27 November 1997
  • “Analisis Krisis Nilai Tukar dan Prospek Perekonomian Indonesia ke Depan”, Seminar KBRI Singapura, 4 Desember 1997
  • “Small Industry Profiles and Policies”, Two Day Seminar USAID-LPEM, Aryaduta Hotel, 17-18 Desember 1997
  • “Kesehatan Bank dan Lingkungan Makro Ekonomi”, Dialog Bank Umum Nasional, 16 Januari 1998
  • “Evaluasi Ekonomi 1997 dan Tantangan Ekonomi 1998”, Seminar LIPI, 20 Januari 1998
  • “Revisi RAPBN”, Gatra, 24 Januari 1998
  • “Krisis Ekonomi Indonesia dan Langkah Reformasi”, Orasi Ilmiah Universitas Indonesia, Balairung UI, 7 February 1998.
  • “APBN 1998/1999 dimasa Resesi dan Dimensi Revisi RAPBN 1998/1999”, Diskusi HUT FKP DPR RI, 12 Februari 1998
  • Forget CBS, Get Serious About Reform, Indonesia Business, April 1998