Category Archives: Manusia Purba

Fosil Manusia Purba Jenis Homo

Fosil-manusia-purba-jenis-Homo

Prasejarah. Fosil manusia purba jenis Homo adalah yang paling mudah dibandingkan dengan manusia purba jenis lainnya. Manusi purba jenis Homo disebut juga homo erectus (manusia berjalan tegak) atau Homo sapiens (manusia cerdas/bijaksana).

Dengan cara stratigrafi dapat diketahui bahwa fosil tersebut berada pada lapisan notopuro. Berdasarkan umur lapisan tanah diperkirakan fosil Homo sangat bervariasi umurnya antara 25.000-40.000 tahun.

Ciri-ciri Homo sapiens aalah sebagai berikut:

  • Tinggi tubuh 130-210 cm, dengan berat badan 30-150 kg.
  • Otak lebih berkembang dibanding Meganthropus dan Pithecanthropus, berkisar 1.000-2.000 cc dengan rata-rata 1.350-1.450 cc.
  • Otot kunyah, gigi dan berkurang dan sudah menyusut.
  • Tonjolan kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
  • Mempunyai ciri-ciri ras Mongoloid dan Austromelanesoid.
  • Otak besar dan kecil sudah berkembang terutama kulit dan otaknya.
  • Berjalan lebih tegak.
  • Muka tidak terlalu menonjol ke depan.
  • Berkemampuan membuat peralatan dari batu dan tulang meskipun masih sederhana.

Fosil jenis homo yang ditemukan di Indonesia ada dua, yaitu sebagai berikut :

1. Homo soloensis (Manusia dari Solo)

Fosil jenis Homo soloensis ditemukan oleh Ter Haar, Oppernooth, dan Von Koenigswald pada tahun 1931-1933. Fosil tersebut ditemukan di Ngandong, Blora, di Sangiran dan Sambung Macan, Sragen, yang berasal dari lapisan pleistosen atas.
  
Homo Soloensisdiperkirakan hidup sekitar 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu. Menurut Von Koenigswald makhluk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Pithecanthropus erectus. Diperkirakan Homo soloensis merupakan evolusi dari Pithecanthropus mojokertensis.

Menurut sebagian para ahli, Homo soloensis digolongkan dengan Homo neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo sapiens dari Asia, Eropa, dan Afrika yang berasal dari lapisan pleistosen atas.

Homo Soloensis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  • Otak kecilnya lebih besar daripada otak kecil Pithecanthropus erectus.
  • Tengkoraknya lebih besar daripada Pithecanthropus erectus, dengan volume berkisar antara 1.000 -1.300 cc.
  • Tonjolan kening agak terputus di tengah (di atas hidung).
  • Berbadan tegap dan tingginya kurang lebih 180 cm.

2. Homo Wajakenses

Fosilmanusia purba jenis Homo wajakenses ditemukan Van Rietschotten pada tahun 1889 di Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Diteliti oleh Eugene Dubois dan termasuk Homo sapiens. Manusia jenis ini sudah dapat membuat alat-alat dari batu maupun tulang.

Mereka juga telah mengenal cara mengolah makanan. Beberapa ahli arkeologi melihat bahwa Homo wajakenses memiliki kesamaan ciri dengan ras Mongoloid dan Austramelanesoid.

Homo wajakenses mempunyai tengkorak yang cukup besar dengan ukuran sekitar 130-210 cm dan berat badan berkisar antara 30-150 kg. Manusia purba ini hidup sekitar 25.000-40.000 tahun yang lalu. Pada masa ini, mereka sudah memakan makanan yang dimasak terlebih dahulu meskipun masih sangat sederhana.

Fosil Homo wajakenses memiliki kesamaan dengan fosil manusia Niah di Serawak Malaysia, manusia Tabon di Palawan, Filipina, dan fosil-fosil Austroloid dari Cina Selatan dan Australia Selatan.

 

Manusia Purba Jaman Prasejarah

Dikutip dari sejarah-negara

Manusia purba jaman prasejarah di Indonesia – Berbagai jenis manusia purba ditemukan diberbagai daerah di pulau Jawa. Selain ditemukan di Indonesia juga ditemukan di negara lain di luar Indonesia. Jenis-jenis yang ditemukan di Indonesia ini, antara lain: Pithecanthropus Erectus, Meganthropus Palaeojavanicus dan Homo. Pada artikel ini, berdasarkan dari berbagai sumber Budaya Jawaku akan membahas secara sekilas dari ketiga jenis tersebut.

1. Pithecanthropus Erectus

Nama ini berasal dari tiga kata, yaitu: pithecos yang berarti kera, anthropus yang berarti manusia, erectus yang berarti tegak Jadi, Pithecanthropus Erectus berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Nama sebutan itu didasarkan pada fosil yang ditemukan. Penemuan ini berupa tulang paha yang lebih besar dibandingkan tulang lengan. Demikian juga volume otaknya lebih besar daripada kera, tetapi lebih kecil daripada manusia.

Fosil ini ditemukan oleh seorang ahli purbakala dari negeri Belanda yang bernama Eugene Dubois. Fosil manusia purba ini ditemukan di desa Trinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil sejenis juga ditemukan di desa Jetis, Mojokerto, Jawa Timur di lembah Kali Brantas pada tahun 1936. Karena temuan itu berupa fosil anak-anak, oleh Weidenreich dinamakan Pithecanthropus Robustus. Dan Von Koenigswald menamakannya Pithecanthropus Mojokertensis, karena ditemukan di Mojokerto.

2. Meganthropus Palaeojavanicus

Meganthropus Palaeojavanicus berasal dari empat kata: mega yang berarti besar, anthropus yang berarti manusia, palaco yang berarti tertua, dan javanicus yang berarti Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus berarti “manusia besar tertua di Jawa”. Arti ini diambil berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tulang rahang atas dan rahang bawah jauh lebih kuat daripada Pithecanthropus Erectus.

Fosil ini ditemukan oleh Von Koenigswald di Sangiran, Surakarta, Jawa tengah pada tahun 1941. Sekarang di tempat tersebut dibangun Museum Purbakala Sangiran. Von Koenigswald menganggap fosil ini lebih tua dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus.

3. Homo

Homo berarti manusia. Fosil ini disebut homo karena menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Von Koenigswald, mahkluk ini lebih tinggi daripada Pithecanthropus Erectus. Bahkan, mahkluk homo sebanding dengan manusia biasa. Ada dua jenis fosil homo, yaitu: Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

  • Homo Soloensis berarti “manusia dari Solo”. Fosil ini ditemukan oleh Ter Haar dan Oppernoth di daerah Ngandong, lembah bengawan Solo.
  • Homo Wajakensis berarti “manusia dari wajak”. Karena ditemukan di desa Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Fosil ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889. Jenis manusia purba ini setingkat dengan Homo Soloensis. Fosil ini diperkirakan mirip dengan penduduk asli Australia.

Berdasarkan perkembangannya dikenal jenis homo yang lain, yaitu Homo Sapiens. Homo Sapiens berarti “manusia cerdas. Jadi, jenis manusia ini jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan mahkluk sebelumnya. Jenis homo inilah yang dikatakan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia yang berasal dari Yunan.

Menurut Von Koenigswald, fosil-fosil tersebut ditemukan dilapisan yang berbeda.

  • Fosil Meganthropus Palaeojavanicus ditemukan di lapisan dilluvium bawah (lapisan Jetis).
  • Fosil Pithecanthropus Erectus ditemukan di lapisan dilluvium tengah (lapisan Trinil).
  • Fosil Homo ditemukan di lapisan dilluvium atas (lapisan Ngandong.).

Berdasarkan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa Meganthropus lebih tua daripada Pithecanthropus Erectus. Namun, Pithecanthropus Erectus lebih tua dibandingkan dengan Homo.

Manusia Purba Jaman Prasejarah di luar Indonesia

Seperti telah disinggung pada artikel Manusia purba jaman prasejarah di Indonesia, bahwa manusia-manusia purba selain ditemukan di Indonesia juga ditemukan di negara lain di luar Indonesia. Antara lain: Cina, Afrika dan Eropa. Berdasarkan dari sumber buku-buku sejarah, pada artikel ini Budaya Jawaku juga akan membahas secara sekilas hal tersebut.

1. Di Cina

Di Cina disebut Homo Pekinensis. Yang berarti “manusia dari Peking” yang sekarang nama Peking berganti menjadi Beijing. Homo Pekinensis ditemukan di gua Choukoutien, sekitar 40km dari Peking. Fosil ini ditemukan oleh seorang sarjana dari Kanada, yeng bernama Davidson Black. Berdasarkan penyelidikan, kerangka jenis ini menyerupai kerangka Pithecanthropus Erectus. Oleh karena itu, para ahli menyebutnya juga dengan nama Pithecanthropus Pekinensis atau Sinanthropus Pekinensis, yang berarti “manusia kera dari Peking”.

2. Di Afrika

Di Afrika disebut Homo Africanus, yang berarti “manusia dari Afrika”. Fosilnya ditemukan oleh Raymond Dart. Fosil ini ditemukan di dekat sebuah pertambangan Taung Bostwana, pada tahun 1924. Setelah direkonstruksi ternyata membentuk kerangka seorang anak yang berusia sekitar 5 sampai 6 tahun. Fosil ini diberi nama Australopithecus Africanus, karena hampir mirip dengan penduduk asli Australia. Selanjutnya, Robert Broom menemukan fosil serupa yang berupa tengkorak orang dewasa di tempat yang sama.

3. Di Eropa

Di Eropa disebut Homo Neandherthalensis. Nama itu mengandung arti “manusia Neandhertal”. Manusia jenis ini ditemukan oleh Rudolf Virchow di lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat pada tahun 1856. Selain di Jerman, juga ditemukan di gua Spy Belgia. Di Perancis juga ditemukan yang disebut Homo Cro Magnon. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa perbedaan antara jenis Pithecanthropus Erectus dengan Homo Sapiens. Perbedaannya antara lain:

  • Ruang tengkorak Pithecanthropus lebih kecil dibandingkan Homo Sapiens, sehingga volume otaknya juga lebih kecil. Ruang tengkorak Pithecanthropus kurang dari 1000cc, sedangkan ruang tengkorak Homo Sapiens lebih dari 1000cc.
  • Tulang kening Pithecanthropus lebih menonjol ke depan.
  • Tulang rahang bawah Pithecanthropus lurus ke depan sehingga tidak berdagu, sedangkan Homo Sapiens berdagu.
  • Tulang rahang dan gigi Pithecanthropus lebih besar dan kuat daripada tulang rahang Homo Sapiens.
  • Tinggi dan berat badan Homo Sapiens lebih besar, yaitu 130-210 cm dan 30-150 kg.

Pengertian Manusia Purba

pengertian-manusia-purba

Gambar ilustrasi manusia purba dan revolusinya

Prasejarah

Manusia purba (prehistoric people) adalah jenis manusia yang hidup jauh sebelum ditemukannya tulisan. Manusia purba diyakini telah mendiami bumi sejak sekitar 4 juta tahun yang lalu.

Namun demikian, para ahli sejarah meyakini bahwa jenis manusia pertama telah ada di muka bumi ini sekitar 2 juta tahun yang lalu.

Karena lamanya waktu, sisa-sisa manusia purba sudah membatu atau berubah menjadi fosil. Oleh karena itu, manusia purba juga sering disebut manusia fosil.

Manusia purba adalah jenis manusia yang hidup pada zaman pleistosen yang mempunyai ciri-ciri yang sangat sederhana baik bentuk fisik, kecerdasan, maupun tongkat peradabannya. Baca kembali artikel Zaman Kuarter pertama

Dilihat dari ciri-cirinya, manusia purba mempunyai volume otak yang lebih kecil dari manusia modern sekarang. Untuk mengetahui kehidupan manusia purba di Indonesia ada dua cara, yaitu sebagai berikut :

  1. Dengan melalui sisa-sisa tulang manusia, hewan, tumbuhan yang telah membatu (fosil).
  2. Dengan melalui peninggalan peralatan dan perlengkapan kehidupan manusia sebagai hasil budaya manusia, seperti alat-alat rumah tangga, bangunan, perhiasan atau senjata.

Situs Penemuan Manusia Purba

Situs atau tempat penemuan manusia purba khususnya di dilakukan oleh seorang dokter berkebengsaan Belanda Eugene Dubois. Penelitian Dubois pertama kali di Sumatra Barat tidak menuai hasil. Kemudian ia merambah ke Pulau Jawa, pada tahun 1891 Dubois berhasil menemukan sebuah fosil manusia purba di sebuah desa bernama Trinil, di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Penemuan fosil manusia purba tersebut ia namai Pithecanthropus Erectus, yang berarti manusia kera yang sudah berjalan tegak. Setelah Dubois, seorang bernama Weidenrich pada tahun 1936 berhasil menemukan sebuah fosil tengkorak anak manusia purba di sebuah lembah.

Mula mula ia mengadakan penelitian di Sumatera Barat namun tidak membuahkan hasil, lalu ia pindah ke Pulau Jawa . Di Pulau Jawa, ia berhasil menemukan fosil manusia purba di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891. Fosil manusia purba ia beri nama pithecanthropus erectus, yang artinya manusia kera yang berjalan tegak.

Penemuan fosil selanjutnya pada tahun 1936 oleh Weidenrich. Ia menemukan fosil tengkorak anak di Lembah.

Penemuan Weidenrich selanjutnya adalah sebuah fosil yang diberi nama Pithecanthropus Robustus yang ia temukan di desa Jetis pinggiran Sungai Brantas, Mojokerto, Jawa Timur. Seorang von Koenigswald juga menemukan sebuah fosil manusia purba sejenis di Mojokerto, dan diberinya nama Pithecanthropus Mojokertensis.

Koenigswald terus melakukan penggalian sekitar tahun 1936 sampai 1941 dan berhasil menemukan fosil manusia purba tertua yang kemungkinan hidup pada 2 juta tahun lalu. Fosil manusia tertua tersebut dinamakan Meganthropus Palaeojavanicus, yang artinya manusia raksasa tertua dari Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus diyakini hidup satu zaman dengan Pithecanthropus Mojokertensis, tetapi tingkat kehidupannya masih lebih primitif.

Penggalian fosil manusia purba di Indonesia selanjutnya menemukan fosil yang diberi nama Homo Sapiens yang artinya manusia yang berfikir. Manusia jenis ini diperkirakan sudah lebih cerdas dibandingkan Pithecanthropus.

Catatan sejarah datangnya manusia purba ke Indonesia

 

Prasejarah. Wilayah Indonesia telah di huni oleh manusia sejak dua juta tahun yang lalu. Hal ini dapat diketahui berdasarkan ditemukannya sejumlah fosil di wilayah Indonesia. Penghuni wilayah Indonesia pada waktu itu adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua, seperti Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, dan Homo wajakensis.

Di antara manusia purba tersebut, Homo wajakensis yang paling dominan karena lebih lebih mirip dengan manusia-manusia yang paling kini dikenal sebagai penduduk asli Australia, yaitu suku Aborigin.

Dai sini dapat diketahui bahwa penduduk asli Indonesia adalah suku bangsa Negroid, atau sering disebut sebagai Melanesoid yang berkulit hitam. Manusia purba di Indonesia membawa kebudayaan batu tua atau paleolitikum yang hidupnya masih nomaden atau berpindah-pindah dengan mata pencaharian berburu dan meramu.

Catatan-sejarah-datangnya-manusia-purba-ke-Indonesia

Wilayah nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoid yang berasal dari Teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Berbagai penelitian tentang fosil yang pernah ditemukan di tempat asalnya menunjukkan bahwa induk bangsa Melanesoid berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk tipe Veddoid-Austroloid.

Wilayah Indonesia merupakan daerah yang bebas dan tanpa pemilik sebelum didatangi bangsa-bangsa dari luar. Manusia purba yang tinggal di wilayah Indonesia tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup, karena mereka hidup berpindah-pindah.

Mereka berpindah-pindah mencari daerah yang ada sumber makanan. Biasanya mencari lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan dan kerang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil di wilayah Indonesia yang berada di lembah-lembah sungai. Mereka mulai hidup menetap pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu atau seminomaden, ketika bangsa Melanesoid mulai datang ke wilayah Indonesia.

Bangsa Melanesoid sebagai bangsa pendatang juga hidup seminomaden. Mereka tinggal atau menetap di daerah yang menghasilkan bahan makanan, padahal penduduk asli terlebih dahulu menempati daerah tersebut. Akibatnya benturan antara kebudayaan Paleolitikum dan mesolitikum tidak dapat dihindari lagi. Dari pertemuan tersebut diperkirakan penduduk asli semakin terdesak ke pedalaman dan sebagian lagi ditumpas.

Bangsa Melanesoid mempunyai kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam suatu kelompok, sudah mengenal api, meramu, dan berburu binatang. Mereka juga telah mengenal teknologi bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana. Cara bercocok tanam mereka dengan sistem perladangan yang berpindah-pindah. Jika lahan yang mereka tanami sudah tidak subur lagi, maka mereka berpindah mencari tempat lain yang lebih subur. Cara hidup mereka dinamakan seminomaden. Baca : Sejarah berburu dan meramu

Perpindahan manusia dan kebudayaan ke wilayah Indonesia selalu membawa kebudayaan yang lebih tinggi dari penduduk sebelumnya. Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai menetap, bahkan telah menetap. Namun, dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan.

Ketika kehidupan mulai menetap, maka tanah yang mereka butuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka yang membutuhkan lahan yang luas untuk bercocok tanam, karena mereka belum mengenal teknologi untuk mengolah lahan secar intensif. Mereka membutuhkan perluasan dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu.

Bangsa Melanesoid akhirnya menetap di wilayah Nusantara sekitar tahun 2000 SM. Pada tahun itu pula datang bangsa yang berkebudayaan lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto-Melayu, suatu ras Mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze di Cina Selatan.

Menurut para ahli, alasan yang menyebabkan bangsa Melayu Tua meninggalkan daerah asalnya, antara lain karena desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah, adanya peperangan antarsuku dan adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai-sungai di daerah tersebut.

Bangsa Aria yang berasal dari Asia Tengah yang mendesak bangsa Melayu Tua memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan ada yang tetap tinggal bercampur dengan bangsa Aria dan bangsa Mongol.

Bangsa-bangsa ini merupakan bagian dari kebudayaan neolitikum. Hal ini dapat diketahui dari artefak-artefak yang ditemukan dari bangsa ini. Ini berarti orang Melayu Tua telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju, dan bahkan mereka sudah mengenal peternakan. Dengan demikian, mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing).

Kemampuan ini membuat mereka dapat tinggal menetap lebih lama. Pola menetap  ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis dasar-dasar kebudayaan. Mereka juga telah membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukimannya.

Pengorganisasian ini menuntut mereka untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, misalnya membuat peralatan rumah tangga dari bahan yang disediakan oleh alam. Mereka juga telah mengenal adanya sistem kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang dihubungkan dengan sistem pertanian.

Dengan masuknya bangsa pendatang, maka bangsa pembawa kebudayaan batu tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Dengan pengorganisasian yang lebih rapi dan peralatan yang lebih maju, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka bawa kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli.

Arus pendatang yang masuk ke wilayah nusantara tidak hanya datang dalam sekali saja, kelompok yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah di wilayah lain. Bangsa Melayu tua yang sudah mapan sudah mengenal bercocok tanam, beternak, dan sudah menetap juga masih ingin mencari daerah lain. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran. Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa Melanesoid harus diperjuangkan untuk mempertahankan dari bangsa Melayu Tua.

Kedatangan bangsa Melayu Tua juga memungkinkan terjadinya percampuran antara bangsa Melayu Tua dan bangsa Melanesia yang terlebih dahulu datang ke wilayah nusantara. Bangsa melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman.

Sisa-sisa keturunan bangsa Melanesia saat ini didapati pada orang-orang suku Sakai di Siak, suku Kubu, serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatra Selatan, orang Semang di pedalaman Melayu, orang Aeta di pedalaman Filipina, orang-orang Papua Melanesoid dan pulau-pulau Melanesia.

Orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria mulai datang ke wilayah nusantara sekitar tahun 2000 – 300 SM, yaitu ketika terjadi gelombang migrasi kedua dari Yunani. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutro Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Baca selengkapnya di : Peninggalan kebudayan zaman Dongson

Kebudayaan ini lebih tinggi lagi daripada kebudayaan batu muda yang telah ada, karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas rumah tangga dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa melayu Tua yang pada awalnya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai mulai terdesak ke pedalaman. Hal ini dikarenakan kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak mengalami perubahan.

Sisa-sisa keturunan bangsa Melayu Tua banyak ditemukan di daerah pedalaman di Indonesia seperti Dayak, Toraja, Nias, Batak pedalaman, Kubu, dan Sasak. Dengan menguasai tanah, bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya, bahkan menjadi penyumbang terbesar sebagai manusia awal di Indonesia.

Berbagai suku bangsa yang datang ke wilayah Nusantara dalam kurun waktu ratusan sampai ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Di antara mereka ada yang bergerak Cina Selatan, kemudian kembali ke daerah asalnya dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke wilayah Nusantara.

Dalam arus kedatangan bangsa-bangsa ke wilayah Nusantara, bangsa yang lebih dahulu datang menyerap bahasa dan kebudayaan bangsa yang datang setelahnya. Percampuran antarbangsa inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari Bangsa Mongoloid (ras kuning) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, dengan bangsa Melanesoid.