Category Archives: Startup

Unikorn [Unicorn]

From Wikipedia

Related Posts

Unikorn (bahasa Inggris: Unicorn) adalah perusahaan rintisan milik swasta yang nilai kapitalisasinya lebih dari $1 miliar. Istilah ini diciptakan pada tahun 2013 oleh Aileen Lee, seorang pemodal usaha. Ia memilih hewan mitos ini karena perusahaan yang sukses seperti ini tergolong langka. Dekakorn (decacorn) adalah sebutan untuk perusahaan yang nilainya lebih dari $10 miliar, sedangkan Hektokorn (Hectocorn) untuk perusahaan yang nilainya lebih dari $100 miliar. Mennurut TechCrunch, ada 279 unikorn hingga Maret 2018. Ant Financial, Didi Chuxing, Uber, Xiaomi, Airbnb, Palantir, dan Pinterest masuk jajaran unikorn terbesar di dunia. Dropbox adalah dekakorn terbaru yang menjadi perusahaan terbuka pada 23 Maret 2018.

Bill Gurley, rekanan pemodal usaha di Benchmark memprediksi pada Maret 2015 dan sebelumnya bahwa kenaikan jumlah unikorn adalah pertanda bahwa “dunia mulai spekulatif dan tidak berkelanjutan” sehingga akan memicu gelombang “unikorn mati”. Ia juga mengatakan bahwa alasan utama tingginya nilai unikorn adalah “banyak sekali uang” yang dapat digelontorkan ke perusahaan mereka. Penelitian Universitas Stanford menunjukkan bahwa nilai rata-rata unikorn 48% lebih tinggi daripada semestinya.

Sejarah


Pada tahun 2013, ketika Aileen Lee menciptakan istilah “unicorn”, baru 39 perusahaan yang tergolong unikorn. Menurut penelitian Harvard Business Review, perusahaan rintisan yang didirikan antara 2012 dan 2015 nilainya bertambah dua kali lebih cepat daripada perusahaan rintisan yang didirikan antara 2000 dan 2013.

Pemicu pertumbuhan cepat
Strategi tumbuh cepat

Investor dan badan pemodal usaha menggunakan strategi Get big fast (GBF) untuk menghadapi perusahaan rintisan. Menurut GBF, sebuah perusahaan rintisan mencoba ekspansi cepat melalui serangkaian putaran pendanaan besar dan pemotongan harga supaya pangsa pasarnya unggul dan pesaingnya cepat tersingkir.Keuntungan yang meningkat pesat yang dijanjikan oleh strategi ini menarik perhatian semua pihak. Namun, mereka selalu mempertimbangkan meletusnya gelembung dot-com tahun 2000 dan tidak adanya keberlanjutan nilai perusahaan era Internet dalam jangka panjang.

Akuisisi perusahaan

Banyak unikorn terbentuk melalui akuisisi oleh perusahaan terbuka besar. Apabila tingkat bunga sedang rendah dan pertumbuhan melambat, banyak perusahaan seperti Apple, Facebook, dan Google mengutamakan akuisisi alih-alih penanaman modal dan pengembangan proyek investasi internal. Beberapa perusahaan besar memilih memperluas operasinya dengan mengakuisisi perusahaan dengan teknologi dan model bisnis yang mapan daripada membuat sendiri.

Modal swasta

Usia rata-rata perusahaan teknologi sebelum melantai ke bursa efek saat ini adalah 11 tahun, lebih lama daripada usia rata-rata empat tahun pada 1999. Dinamika baru ini berkembang berkat banyaknya modal swasta yang bisa diperoleh unikorn serta disahkannya Jumpstart our Business Startups (JOBS) Act di Amerika Serikat pada tahun 2012. Undang-undang ini mengizinkan perusahaan menambah jumlah pemegang sahamnya empat kali lipat sebelum diwajibkan membuka laporan keuangannya. Jumlah modal swasta yang ditanam di perusahaan perangkat lunak naik tiga kali lipat sejak 2013 sampai 2015.

Mencegah IPO

Melalui banyak putaran pendanaan, perusahaan tidak perlu melewati proses penawaran umum perdana (IPO/Initial Public Offering) untuk mendapat modal atau nilai yang lebih tinggi; mereka tinggal meminta modal tambahan dari investor yang sama. IPO juga berpeluang menurunkan nilai perusahaan apabila pasar menganggap nilai perusahaan tidak setinggi itu. Penurunan pasca-IPO dialami oleh Square, platform pembayaran daring dan jasa keuangan, dan Trivago, mesin pencari hotel asal Jerman. Harga saham kedua perusahaan ini lebih rendah daripada harga penawaran perdana. Ini disebabkan oleh terlalu tingginya nilai perusahaan di pasar swasta yang didongkrak oleh investor dan badan pemodal usaha. Pasar tidak setuju dengan nilai perusahaan sehingga menjatuhkan harga setiap lembar saham dari harga sebelumnya (penawaran perdana).

Investor dan perusahaan rintisan juga malas melantai ke bursa efek karena peraturannya banyak. Undang-Undang Sarbanes–Oxley menerapkan aturan yang lebih ketat setelah banyak perusahaan bangkrut di Amerika Serikat. Karena itu, perusahaan rintisan menghindari kebangkrutan dengan tidak menawarkan sahamnya ke publik.

Kemajuan teknologi

Perusahaan rintisan memanfaatkan teknologi-teknologi baru yang muncul dalam sepuluh tahun terakhir untuk mendongkrak nilai perusahaan. Seiring populernya media sosial dan akses ke jutaan pengguna teknologi ini, perusahaan rintisan bisa memperbesar bisnisnya dengan sangat cepat. Inovasi teknologi baru seperti telepon pintar, platform P2P, dan komputasi awan ditambah aplikasi media sosial turut membantu pertumbuhan unikorn.

Nilai


Perkembangan nilai yang membuat perusahaan rintisan menjadi unikorn dan dekakorn berbeda daripada nilai perusahaan yang sudah mapan. Nilai perusahaan mapan dihitung dari kinerja tahun-tahun sebelumnya, sedangkan nilai perusahaan rintisan dihitung dari potensi pertumbuhan dan prediksi perkembangan jangka panjang di pasarnya. Nilai unikorn biasanya berasal dari putaran pendanaan dari badan-badan pemodal usaha besar yang menanamkan modal di perusahaan rintisan. Nilai perusahaan rintisan juga bisa terdongkrak ketika perusahaan yang lebih besar mengakuisisi sebuah perusahaan dengan nilai unikorn. Contohnya, ketika Unilever membeli Dollar Shave Club dan Facebook membeli Instagram dengan nilai $1 miliar, kedua perusahaan ini (Dollar Shave Club dan Instagram) otomatis menjadi unikorn.

Tren


Ekonomi berbagi

Ekonomi berbagi, juga disebut “konsumsi kolaboratif” atau “ekonomi sesuai permintaan”, berlandaskan konsep berbagi sumber daya pribadi. Tren berbagi sumber daya ini mengubah tiga dari lima unikorn terbesar (Uber, Didi Chuxing, dan Airbnb) menjadi perusahaan rintisan paling bernilai di dunia. Resesi ekonomi mendorong konsumen untuk mengetatkan anggaran belanja. Ekonomi berbagi memungkinkan konsumen yang sedang berhemat tetap berbelanja.

Perdagangan elektronik

Perdagangan elektronik dan inovasi pasar daring perlahan membuat toko fisik tidak diperlukan lagi. Salah satu buktinya adalah jatuhnya pamor mal atau pusat perbelanjaan di Amerika Serikat. Angka penjualan di mal-mal Amerika Serikat turun dari $87,46 miliar tahun 2005 menjadi $60,65 miliar tahun 2015. Munculnya perusahaan-perusahaan perdagangan elektronik seperti Amazon dan Alibaba (dua-duanya unikorn sebelum melepas saham ke publik) meniadakan kebutuhan kehadiran secara fisik. Banyak perusahaan besar yang mengamati dan mencoba beradaptasi dengan tren perdagangan elektronik. Walmart mengakuisisi Jet.com, perusahaan perdagangan elektronik Amerika Serikat, dengan nilai $3,3 miliar untuk mencoba beradaptasi dengan preferensi pelanggan.

Model bisnis inovatif

Dalam ekonomi berbagi, berbagai unikorn dan perusahaan rintisan besar telah membangun model operasi yang disebut “orkestrator jaringan”. Menurut model bisnis ini, ada jaringan sejawat yang menciptakan nilai melalui interaksi dan saling berbagi. Orkestrator jaringan bisa menjual produk/jasa, berkolaborasi, berbagi ulasan, dan membina hubungan melalui bisnis mereka. Contoh orkestrator jaringan adalah semua perusahaan ekonomi berbagi (i.e. Uber, Airbnb), perusahaan yang mengizinkan pelanggan berbagi informasi (i.e. TripAdvisor, Yelp), dan situs jual-beli individu-ke-individu atau perusahaan-ke-individu (i.e. Amazon, Alibaba).

Data


Berikut adalah data unikorn per 13 Maret 2018:

  • Jumlah unikorn: 279
  • Nilai total semua unikorn: $1 triliun
  • Jumlah total modal yang diberikan: $205,8 miliar
  • Jumlah unikorn teknologi baru tahun 2016: 25 (turun 68% per tahun)
  • Jumlah total unikorn baru tahun 2016: 51
Unikorn terbesar

Tiga dari lima unikorn bernilai tertinggi terletak di Tiongkok. Dua lainnya bermarkas di San Francisco, California.

Uber
  • Nilai saat ini: $69 miliar (Desember 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $10,7 miliar
  • Uber, sebelumnya bernama UberCab, adalah perusahaan jaringan transportasi yang memungkinkan pengguna memesan mobil untuk mengangkut mereka ke tempat lain (seperti taksi) menggunakan aplikasi telepon genggam. Uber beroperasi di 81 negara dan 581 kota.[30]
  • Tahun berdiri: 2009
  • Pendiri: Garrett Camp, Oscar Salazar, Travis Kalanick
  • Sektor industri: Transportasi
  • Kantor pusat: San Francisco, California
ANT Financial
  • Nilai saat ini: $60 miliar (Februari 2018)
  • Total modal yang ditanamkan: $4,5 miliar
  • ANT Financial, sebelumnya bernama Alipay, adalah perusahaan pembayaran yang mengoperasikan platform pembayaran Alibaba.
  • Tahun berdiri: 2014
  • Pendiri: Jack Ma
  • Sektor industri: Jasa keuangan
  • Kantor pusat: Xihu District, Hangzhou, Tiongkok
Didi Chuxing
  • Nilai saat ini: $56 miliar (Desember 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $17 Billion
  • Didi Chuxing, sebelumnya bernama Didi Kuaidi, adalah perusahaan jaringan transportasi yang memungkinkan pengguna memesan mobil untuk mengangkut mereka ke tempat lain (seperti Uber) menggunakan aplikasi telepon genggam. Didi Chuxing beroperasi di 400 kota dengan 400 juta pengguna di Tiongkok.
  • Tahun berdiri: 2012
  • Pendiri: Cheng Wei, Wu Rui, Zhang Bo
  • Sektor industri: Transportasi
  • Kantor pusat: Distrik Haidian, Beijing, Tiongkok
Xiaomi
  • Nilai saat ini: $45 miliar (Juli 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $1.1 miliar
  • Xiaomi adalah perusahaan elektronika Tiongkok sekaligus produsen telepon pintar terbesar kelima di dunia.
  • Tahun berdiri: 2010
  • Pendiri: Chuan Wang, Hong Feng, Huang Jiangji, Jiangji Wong, Lei Jun, Li Wanqiang, Lin Bin, Liu De, Wang Chuan, Zhou Guangping
  • Sektor industri: Perangkat keras
  • Kantor pusat: Distrik Haidian, Beijing, Tiongkok
Airbnb
  • Nilai saat ini: $31 miliar (Desember 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $3.4 miliar
  • Airbnb, adalah perusahaan pasar berbagi properti daring yang memungkinkan pengguna menginap di berbagai vila, apartemen, hostel, atau hotel. Airbnb memiliki 3 juta tempat penginapan di 65.000 kota di 191 negara.
  • Tahun berdiri: 2008
  • Pendiri: Brian Chesky, Joe Gebbia, Nathan Blecharczyk
  • Sektor industri: Penginapan & perjalanan
  • Kantor pusat: San Francisco, California

Latar Belakang Pendidikan Para Founder Startup Sukses Indonesia

Read also:

Oleh Marikxon | maxmanroe

Perkembangan teknologi digital di Indonesia telah berhasil ‘menelurkan’ beberapa perusahaan Startup yang sukses di Indonesia. Sebut saja beberapa diantaranya; Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Kudo, Urbanindo, Go-jek, dan lain sebagainya. Beberapa dari startup tersebut telah berkembang pesat dan berada di urutan teratas daftar startup terbaik di Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu iPrice Group bekerja sama dengan Ventura, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang investasi di Indonesia, untuk membandingkan lebih dari 50 perusahaan rintisan (startup) dan lebih dari 100 founder untuk menganalisa latar belakang pendidikan mereka.

Parameter ‘sukses’ yang digunakan oleh kedua perusahaan tersebut adalah pendiri startups yang minimal sudah mendapatkan pendanaan seri-A. Dari penelitian tersebut ditemukan 3 hal menarik tentang latar belakang pendidikan para founder startup sukses di Indonesia.

Berikut ringkasannya:

  1. ITB Pencetak Founder Startup Sukses Terbanyak

1. Dari 100 orang lebih founder yang dianalisa, ada 14 orang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Para pendiri Bukalapak, seperti Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Muhamad Fajrin Rasyid sama-sama berasal dari Institut Teknologi Bandung. Selain itu ada juga COO dari Kudo yang telah diakuisisi Grab Agung Nugroho, CEO Snapcart Raynazran Royono, Co-Founder Fabelio Marshal Tegar Utoyo dan masih banyak lagi.

2. Kampus Bina Nusantara dan Harvard sama-sama berada di posisi ke dua. Kedua universitas ini mencetak 8 pendiri startup sukses. Beberapa orang yang berasal dari Bina Nusantara adalah pendiri dan juga CEO dari Tokopedia William Tanuwijaya, CEO dari Qlapa Benny Fajarai, CEO dari Tripvisto Benardus Sumartok. Sedangkan dari Harvard ada CEO Gojek Nadiem Makarim, CEO Traveloka Ferry Unardi, para co-founders Modalku, Raynold Wijaya dan Kelvin Teo dan masih ada yang lainnya.

3. Menempati posisi ke tiga ada Universitas Purdue yang berhasil mencetak 7 pendiri sukses. Beberapa diantaranya adalah CEO dari Ruang Guru Adamas Syah Devara yang juga pernah mengenyam pendidikan di Harvard, CEO Berrybenka Jason Lamuda dan juga CEO Sribu Ryan Gondokusumo.

4. Diposisi ke empat ada Stanford yang sukses mencetak 5 orang pendiri sukses seperti, CTO Traveloka Derianto Kusuma dan Co-Founder Cermati Oby Sumampouw.

5. Di posisi terakhir ada Universitas Indonesia yang berhasil mencetak 4 orang founder startup sukses. Beberapa diantaranya adalah CTO Tiket.com Natali Ardianto, Chief of Product Ruang Guru Iman Usman dan juga CEO Hijup Diajeng Lestari.

Selain 6 universitas diatas, ada juga beberapa universitas di Indonesia lain yang berhasil mencetak pendiri sukses seperti Universitas Taruma Negara tiga orang dan juga Universitas Harapan 2 orang.

Dari data-data ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa dari segi sumber daya manusia yang dihasilkan, universitas yang ada di Indonesia tidak kalah dengan universitas-universitas yang ada di luar. Terbukti bahwa ITB berhasil mencetak lebih banyak pendiri sukses dibandingkan Harvard, Purdue dan juga Stanford.

2. Ada 58% dari Pendiri Sukses Mengambil Jurusan Non-Teknologi

Dari 102 orang founder startup yang sukses, ada 59 orang mengambil jurusan non-teknologi dan sisanya 43 orang lagi mengambil jurusan Teknologi. Dari 59 orang tersebut, jurusan yang paling banyak diambil adalah

  • Finance (8)
  • Teknik Industri (6)
  • Ekonomi (6)
  • Marketing (5)
  • Akuntansi (4)
  • dan masih ada banyak lagi

Beberapa pendiri yang mengambil jurusan finance adalah salah satu Co-Founder dari GoJek Michaelangelo Moran yang saat ini menjabat sebagai brand director, Co-Founder Sociolla John Rasjid.

Beberapa pendiri yang mengambil jurusan Teknik Industri adalah CEO Snapcart Reynazran Royono dan CEO Moka Haryanto Tanjo.

Di jurusan Ekonomi ada CEO dari Bhinneka Hendrik Tio, CEO HaloDoc Jonathan Sudharta dan board director Qraved Adrian Li.

Pada 43 orang yang ada di jurusan teknologi, 20 orang pendiri mengambil ilmu komputer, 6 orang informasi teknologi, 4 orang sistem informasi dan teknik komputer dan masih banyak lagi.

Beberapa founder startup yang mengambil jurusan ilmu komputer adalah CEO Bukalapak Achmad Zaky, CEO Printerous Kevin Osmond, CEO Agate Arief Widhiyasa, CEO Kudo Albert Lucius, Chief Communication Officer Tiket.com Mikhael Gaery Undarsa dan masih banyak lagi.

Rata-rata orang beranggapan bahwa untuk merintis perusahaan yang berbasis teknologi, mereka harus mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknologi. Pada kenyataannya kebanyakan dari para founder startup sukses tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknologi.

3. Mayoritas Founder Meneruskan Pendidikannya ke Luar Negeri

Pada level Sarjana (S1) dari total 102 pendiri, 58 orang belajar di luar Indonesia dan 44 orang belajar di Indonesia. Sedangkan di level pascasarjana (S2) hanya 4 orang yang belajar di Indonesia, sisanya 32 orang memutuskan untuk belajar di luar Indonesia. Pada level MBA, hanya 2 orang yang belajar di Indonesia, 16 pendiri lain belajar di luar Indonesia.

Berdasarkan data ini bisa kita tahu bahwa pada level sarjana (S1), universitas lokal hampir dapat menyaingi universitas internasional, hanya berbanding 14 orang. Namun pada level pasca sarjana (S2), kebanyakan founder startup memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Sebagai contoh:

  • CEO Fabelio Marshall Tegar Utoyo, ia mengambil S1 di ITB dan melanjutkan S2 di University of Sydney.
  • CEO Investree Adrian A. Gunadi, mengambil S1 di UI dan melanjutkan S2 di Rotterdam School of Management, Erasmus University.
  • Chief of Product Ruang Guru Iman Usman yang mengambil S1 di UI dan S2 di Teachers College of Columbia University.

Pada level Master of Business Administration, mayoritas pendiri belajar di luar Indonesia. Hanya dua orang yang mengambil gelar MBA di Indonesia. Mendapat gelar Master of Business Administration (MBA) adalah sebuah kebanggaan tersendiri, dan syarat yang ditentukan tidak semudah ketika mengambil pascasarjana. Ini salah satu alasan mengapa kebanyakan founder startup mengambil gelar MBA nya di universitas yang ternama.

Data ini menunjukkan bahwa pada level sarjana (S1), universitas lokal tidak kalah jauh dengan universitas internasional dalam hal jumlah pendiri sukses yang dicetak. Namun memang perlu ada peningkatan kualitas pada level pendidikan yang lebih tinggi agar semakin banyak pendiri-pendiri sukses yang berasal dari universitas lokal.

Apa Itu Startup

Oleh Marikxon | maxmanroe

Related Posts

Pengertian dan Perkembangan Bisnis Startup di Indonesia
Pengertian Startup

Sebenarnya, apa itu Startup? Mungkin masih banyak orang yang belum memahami istilah ini. Kata Startup sendiri merupakan serapan dari Bahasa Inggris yang berarti tindakan atau proses memulai sebuah organisasi baru atau usaha bisnis.

Menurut Wikipedia, arti startup adalah merujuk pada perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Pengertian startup di atas mungkin lebih pada terminologinya, namun menurut saya akan lebih mudah jika istilah Startup diartikan sebagai perusahaan baru yang sedang dikembangkan. Mulai berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000, nyatanya istilah Startup banyak ‘dikawinkan’ dengan segala yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut.

Kenapa itu bisa terjadi?

Sejarah Singkat Bisnis Startup

Kembali melihat ke belakang, ternyata penggunaan istilah startup pada hal-hal yang berhubungan dengan teknologi, website, internet, dan lainnya, terjadi dikarenakan istilah Startup sendiri mulai popular secara internasional pada masa buble dot-com.

Lalu apa lagi buble dot-com itu? Fenomena buble dot-com adalah ketika pada periode tersebut (1998-2000) banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan. Pada masa itu sedang gencar-gencarnya perusahaan membuka website pribadinya.

Semakin banyak orang yang mengenal internet sebagai ladang baru untuk memulai bisnisnya. Dan waktu itu pula lah, Startup lahir dan berkembang.

Namun menurut Ronald Widha dari TemanMacet_dot_com, Startup tidak hanya perusahaan baru yang bersentuhan dengan teknologi, dunia maya, aplikasi atau produk tetapi bisa juga mengenai jasa dan gerakan ekonomi rakyat akar rumput yang bisa mandiri tanpa bantuan korporasi-korporasi yang lebih besar dan mapan.

Setelah berputar-putar mencari informasi tentang Startup lewat bantuan mbah Google, ada informasi mengenai karakteristik dari sebuah perusahaan yang dapat di golongkan sebuah stratup. Beberapa karakteristik perusahaan Startup tersebut diantaranya:

  • Usia perusahaan kurang dari 3 tahun
  • Jumlah pegawai kurang dari 20 orang
  • Pendapatan kurang dari $ 100.000/tahun
  • Masih dalam tahap berkembang
  • Umumnya beroperasi dalam bidang teknologi
  • Produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital
  • Biasanya beroperasi melalui website

Dari karakteristik tersebut mungkin nampak bahwa stratup lebih condong ke perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan web. Namun faktanya memang seperti itu, kini perkembangan perusahaan yang lazim dilabeli nama Stratup adalah perusahaan yang berkenaan dengan bidang teknologi dan online.

Perkembangan Bisnis Startup di Indonesia

Perkembangan bisnis Startup di Indonesia bisa dikatakan cukup pesat dan menggembirakan. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak founder (pemilik) Startup baru bermunculan. Menurut dailysocial.net, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1500 Startup lokal yang ada di Indonesia. Potensi pengguna internet Indonesia yang semakin naik dari tahun ke tahun tentunya merupakan suatu lahan basah untuk mendirikan sebuah Startup.

Berdasarkan beberapa riset, pada tahun 2013 saja diperkirakan pengguna internet di Indonesia mencapai 70 juta orang, bisa dibayangkan berapa jumlah user internet Indonesia beberapa tahun kedepan. Selain itu daya beli masyarakat yang meningkat seiring dengan naiknya pendapatan perkapita masyarakat negeri ini ikut mempengaruhi perkembangan industri digital.

Menurut Rama Mamuaya, CEO dailysocial_dot_net, Startup di Indonesia digolongkan dalam tiga kelompok yaitu:

  1. Startup pencipta game
  2. Startup aplikasi edukasi
  3. Startup perdagangan seperti e-commerce dan informasi

Menurutnya Startup game dan aplikasi edukasi punya pasar yang potensial dan terbuka di Indonesia. Hal ini dikarenakan proses pembuatan game dan aplikasi edukasi relatif mudah.

Dengan berkembangnya media sosial dan smartphone, pasar untuk mobile game dan social game semakin besar. Sementara itu untuk aplikasi atau website yang bergerak di bidang e-commerce dan informasi, Rama menilai tantangan e-commerce di Indonesia masih cukup besar dikarenakan masih minimnya penggunaan kartu kredit. Namun untuk yang berbau informasi atau berita berbagai tema, perkembangannya justru jauh lebih pesat lagi.

Di Indonesia sekarang ini telah banyak berdiri komunitas founder-founder Startup, diantaranya adalah:

  1. Bandung Digital Valley (bandungdigitalvalley_dot_com)
  2. Jogja Digital Valley (jogjadigitalvalley _dot_com)
  3. Ikitas (www.ikitas _dot_com) Inkubator Bisnis di Semarang
  4. Stasion (stasion _dot_org) wadah bagi Startup lokal kota Malang
  5. Dan masih banyak lagi yang lainnya

Dengan adanya komunitas ini tentunya akan memudahkan para founder untuk saling sharing, membimbing bahkan untuk menjaring investor. Para founder dapat pula mengikuti kompetisi yang diadakan oleh beberapa perusahaan seperti Telkom untuk menjadi investor mereka.

Hal yang paling utama untuk mendirikan Startup adalah tim yang solid, karena dengan adanya tim yang solid bisa memunculkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif. Dengan ide dan eksekusi yang tepat, tentunya para founder tidak akan kesulitan menarik minat masyarakat maupun mencari investor.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh wartawan Warta Ekonomi kepada Molly Nagler (Startup Mentor di Silicon Valley), Molly mengatakan bahwa hampir semua Startup gagal, namun kegagalan itu tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif karena masih banyak sisi positif didalamnya. Maksudnya adalah jika founder Startup gagal saat melakukan eksekusi maka ia berkesempatan untuk belajar sesuatu yang baru dan ilmu baru, seperti konsep trial and error pada umumnya.

Startup-Startup lokal yang kini sudah mencetak sukses di dunia maya diantaranya Kaskus dan Urbanesia. Semoga Startup lokal Indonesia bisa terus bertambah dan berkembang sehingga bisa merambah pengguna internet internasional seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain.