5 Negara Paling Bersih di Dunia

By Travelizt. By. Robit Mikrojul Huda-11/08/2017

Kebersihan adalah salah satu hal penting. Di dunia ini, ada negara yang menghargai kebersihan, ada pula yang acuh akan kebersihan lingkungan wisata. Kebersihan mungkin bisa terkait dengan agama dan tentunya hukum negara. Menjaga kebersihan seharusnya diupayakan demi meminimalkan jumlah sampah di suatu negara.

Bagi wisatawan, mengunjungi dan melihat negara bersih itu sangat mengesankan. Negara yang bersih menunjukkan bahwa negara tersebut menghargai sumber daya alam dan lingkungannya. Bukan itu saja, negara yang bersih tentu menggambarkan kedisiplinan warga negara yang tinggal di dalamnya.

Dilansir dari The Mesh News, berikut 5 negara paling bersih di dunia.

Islandia

Islandia-696x464

Negara Islandia merupakan negara dengan suhu udara yang dingin. Jumlah penduduk di Islandia hingga 2016 hanya sebesar 332 ribu jiwa. Maka dari itu, Islandia sangat fokus menjaga kebersihan lingkungannya. Tak hanya itu, lho, Islandia juga mendapatkan penghargaan sebagai negara paling aman di dunia.

Swedia

Swedia

Jumlah penduduk di negara Swedia pada 2016 mencapai 9,9 juta jiwa. Artinya, jumlah populasi di Swedia hampir sama dengan jumlah penduduk di Jakarta yang kurang lebih 10 juta jiwa. Penduduk di negara ini mayoritas atheis. Meskipun mereka memiliki pandangan lain soal agama, pandangan mereka mengenai kebersihan sama dan menjadi hal utama yang sangat mereka perhatikan. Tahun lalu, indeks kebersihan di Swedia mencapai 89,1. Hal ini menjadikan Swedia sebagai negara paling bersih di dunia tahun 2016.

Swiss

Swiss-min

Swiss menjadi negara tujuan wisata paling favorit di antara pelancong dunia, juga menjadi negara paling terkenal akan wisata alamnya yang menakjubkan. Di negara ini, ada banyak sekali tempat memesona, seperti sungai, pegunungan, hutan, danau maupun tempat-tempat lain. Jumlah penduduknya yang hanya 8 juta jiwa membuat negara ini bisa berfokus dalam menjaga lingkungan dan kebersihannya. Indeks kebersihan di Swiss mendapatkan nilai yang sama dengan negara Swedia.

Norwegia

Norwegia

Daftar selanjutnya adalah Norwegia. Negara ini dikenal sebagai negara yang memiliki banyak pemandangan natural. Ditambah lagi, Norwegia merupakan negara penghasil gas dan minyak. Belum cukup dengan itu, Norwegia juga terkenal akan kebersihannya. Dengan jumlah penduduk hanya 5,2 juta jiwa, pemerintah Norwegia sangat konsen terhadap kebersihan. Negara ini juga dikenal dengan negara yang damai.

Jerman

Jerman

Siapa yang tak kenal dengan Jerman? Negara ini merupakan salah satu negara paling maju di dunia. Jerman menorehkan angka indeks kebersihan mencapai 80,47. Hal ini membuat Negeri Nazi ini masuk dalam daftar negara terbersih di dunia. Hal menarik lainnya, Jerman memiliki pemandangan natural dan pertumbuhan ekonomi yang baik. Pemerintah Jerman memberlakukan aturan yang ketat berkaitan dengan kebersihan di negaranya.

Itulah lima negara paling bersih di dunia. Dari ulasan tadi terlihat kalau mayoritas negara terbersih di dunia berada di wilayah Skandinavia. Lantas, di mana posisi negara-negara di Asia? Ternyata, negara-negara di Asia masih kalah jauh soal menjaga kebersihan. Satu-satunya negara di Asia yang kebersihan negaranya diakui dunia hanya Singapura. Negeri Singa ini berhasil menempati urutan sembilan dunia dalam hal kebersihan.

Sekarang, bagaimana dengan negara kita, Indonesia?

Berada di urutan ke berapa sih Indonesia soal kebersihan? Ternyata, Indonesia berada di urutan 134 dunia.

Ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan bahwa masyarakatnya masih acuh terhadap kebersihan, masih senang membuang sampah sembarangan, dan masih banyak pula masyarakat yang memiliki pola hidup kurang sehat.

Jadi, apa yang harus dilakukan?

Yuk, kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Biasakan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan tempat tinggal dan lingkungan sekitar. Selanjutnya, ajaklah orang-orang terdekat untuk melakukan hal yang sama. Dengan cara ini diharapkan semua orang yang tinggal di negara Indonesia memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan.

Advertisements

10 Tempat wisata di Nusa Tenggara Timur

10 Tempat wisata di Nusa Tenggara Timur yang baiknya kamu kunjungi minimal seumur hidup sekali. Original Post by kitamuda 

pulau-padar-1-768x402

Beragam lokasi eksotis dapat ditemukan saat kamu berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, walau memang sejumlah tempat belum mendapat pengelolaan yang baik dan belum begitu banyak terjamah, tempat ini sangat layak kamu kunjungi sebelum kamu usia mu semakin senja.

Daerah Timur Indonesia memang sedang ramai-ramainya dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara karena pesona alamnya yang sangat indah. Diantaranya adalah Kepulauan Komodo yang termasuk dalam New Seven Wonder World, ada juga Pulau Alor yang sangat mempesona dan tak ketinggalan ada Danau Kelimutu yang mistis namun eksotis.

#1 Pulau Komodo

pulau-komodo

Pulau ini merupakan habitat asli binatang komodo, sejenis kadal raksasa pemakan daging. Di Pulau Komodo terdapat lebih dari 2.000 ekor komodo yang hidup di alam bebas. Anda bisa melihat komodo yang sedang mengincar mangsanya di banyak lokasi di tempat ini. Sangat penting untuk berkeliling bersama pemandu untuk alasan keselamatan selama berada di sini. Pulau Komodo di tetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1986.

#2 Pulau Kanawa

pulau-kanawa

Sebelum masuk ke kawasan ini, kamu mesti bisa bedain dulu antara Kenawa dan Kanawa ya, karena Kenawa terletak di Lombok. Terletak 15 kilometer dari Labuan Bajo dan memiliki luas sekitar 32 hektar. Pulau Kanawa memiliki pasir putih dengan perpaduan airnya sangat jernih sehingga kamu dapat melihat keindahan karang bawah lautnya. Selain itu jika kamu ingin menyelam, akan menemukan beberapa hewan laut yang menakjubkan seperti manta, hiu, paus dan hewan menakjubkan lainnya.

#3 Pulau Padar

pulau-padar-1-768x402

Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Di sekitar pulau ini terdapat pula tiga atau empat pulau kecil. Pulau ini memiliki pesona yang sangat eksotis. Di sini banyak orang biasa melakukan foto slfie atau bisa juga hanya sekedar menikmati pemandangan alamnya yang sangat menkjubkan. Pokoknya kalau ke Flores, kamu harus banget ke tempat ini!

#4 Gili Laba

gili-laba

Tidak jauh dari Pulau Padar, kamu bisa berkunjung ke Gili Laba yang menjadi salah satu pulau di gugusan kepulauan di Komodo, Nusa Tenggara Timur.  Untuk menuju Gili Laba kamu dapat menyewa kapal dari Labuan Bajo, Flores, NTT atau menikmati sailing dari Lombok menuju Komodo dengan rute yang melewati Gili Laba. Disini kamu akan disuguhkan dengan pemandangan alamnya yang sangat eksotis, Hamparan padang savana nan luas dihiasi dengan birunya laut yang mempesona, akan membuat siapa saja yang berkunjung kemari pastinya akan betah. Pulau ini di bagi menjadi dua, yaitu Gili Laba dalam dan Gili Laba luar. Di pisahkan oleh selat kecil yang menghubungkan keduanya, seringkali biasa disebut dengan pintu surga, karena pemandangan disini memang sangat indah.

#5 Labuan Bajo

labuan-bajo

Labuan Bajo merupakan kota nelayan yang terletak di ujung barat Flores di wilayah Nusa Tenggara. Selain sebagai kota nelayan kecil, Labuan Bajo saat ini juga telah menjadi salah satu pusat pariwisata teramai di Flores. Kota ini adalah titik singgah bagi kamu yang ingin melakukan perjalanan ke Pulau Komodo. Yang sangat menarik dari Labuan Bajo adalah saat sunset mulai mengubah warna langit menjadi jingga. Pokoknya, sunset dari sini terbilang keren untuk kamu nikmati.

#6 Goa Batu Cermin

goa-batu-cermin

Selain komodo dan pantai pink-nya yang indah, sebenarnya Labuan Bajo juga memiliki obyek wisata yang juga tak kalah menarik untuk kamu datangi. Namanya Goa Batu Cermin. Bukan berarti didalam Goa ada cerminnya lho ya. Berjarak sekitar 4 kilometer dari Labuan Bajo, kamu akan sampai di obyek wisata yang akhir-akhir ini diramaikan para traveler.

Penemu goa ini adalah Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda yang juga seorang arkeolog, pada 1951. Obyek wisata seluas 19 hektar dengan tinggi goa sekitar 75 meter ini dipastikan ramai di siang hari. Verhoven menyimpulkan goa ini dulunya berada di bawah laut berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding goa.

#7 Desa Wae Rebo

desa-wae-rebo

Ingin berkunjung ke Desa diatas awan? Berkunjunglah ke Desa Wae rebo, sebuah kampung tradisional yang letaknya di kecamatan Satarmese Barat Kabupaten Manggarai. kampung ini sangat terpencil dan berada di puncak gunung. Dengan rumah berbentuk kerucut yang merupakan rumah asli orang manggarai yang masih ada sampai sekarang. Kampung wae rebo juga merupakan kampung bersejarah di manggarai itu terbukti dari adanya mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat dan wae rebo juga merupakan situs warisan budaya dunia yg di tetapkan UNESCO. Pemandangan alam berupa gunung-gunung berpadu dengan rumah adat berbentuk kerucut akan memberi kesan tersendiri bagi setiap pengunjung yang pernah datang ke Desa Wae Rebo.

#8 Danau Kelimutu

danau-kelimutu

Layaknya pelangi, namun berbeda warna. Danau Kelimutu menjadi salah satu keajaiban alam yang memiliki tiga warna berbeda, danau-danau unik ini merupakan bagian dari Gunung Kelimutu yang berketinggian sekitar 1.639 meter dari permukaan laut. Terletak di kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, danau unik ini dapat berubah warna dengan sendirinya tanpa dapat diprediksi, adapun beberapa warna yang pernah muncul dari ketiga danau warna warni tersebut antara lain ialah warna putih, merah, biru, hijau, coklat tua dan beberapa wana lainnya. Danau Kelimutu masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu. Menurut legenda danau kelimutu ini merupakan simbol tempat berkumpulnya jiwa jiwa orang yang sudah meninggal. Untuk mencapai Danau ini, kamu harus mendaki 2600 anak tangga.

#9 Pulau Alor

pulau-alor

Menjelajah Pulau Alor di NTT membuat ketagihan. Sajian pesona alam yang indah dan keramahan warga lokalnya membuat siapapun yang berkunjung ingin terus kembali kesini. Alor merupakan sebuah pulau yang terletak di ujung timur Nusa Tenggara. Pulau yang dibatasi dengan laut Flores dan laut Banda di sebelah utara. Pulau Alor juga dikenal sebagai salah satu pulau dari 92 pulau terluar di Indonesia, hal ini dikarenakan Pulau Alor berbatasan langsung dengan Timor Leste yang ada di sebelah selatan.

#10 Air Terjun Tujuh Tingkat Oehala

air-terjun-tujuh-tingkat-oehala

Air Terjun Oehala di SoE memberikan kesejukan diantara gersangnya daerah Nusa Tenggara Timur. Di pulau yang sebagian besar daerahnya ini berupa tanah dan karang ternyata banyak mengalir sumber mata air alam. Air terjun ini memiliki 4 tingkat yang harus dilalui oleh air sebelum bisa mencapai dasar air terjun. Karena ada beberapa tingkat air terjun, maka kamu bisa naik ke atas tingkat air terjun tersebut. Untuk menaikinya, kamu perlu berhati-hati dalam memanjat ya! Karena permukaan batuan yang menjadi lantai pada setiap tingkat air terjun Oehala bisa menjadi snagat licin untuk dipijak.

Nah, Itulah informasi mengenai tempat-tempat wisata di Nusa Tenggara Timur yang wajib kamu kunjungi, sebetulnya masih ada banyak lagi lho surga-surga terpendam di Timur Indonesia. Bila kamu punya pengalaman ke Nusa Tenggara Timur, jangan lupa untuk ceritakan pengalamanmu pada kolom komentar di bawah ya!

5 Tempat Wisata Di Dieng Wonosobo

5 Tempat Wisata Di Dieng Wonosobo yang Wajib Dikunjungi. Original Post by anekatempatwisata 24 May 2015

bukit-sikunir

Dieng adalah salah satu dataran tinggi yang memiliki tempat wisata menarik di Jawa Tengah. Berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, kurang lebih 30 km dari kota Wonosobo. Dataran tinggi Dieng terletak di barat komplek Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Menurut sejarah, dataran tinggi Dieng disebut sebagai tempat para dewa dewi tinggal. Nama Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi: “di” yang artinya tempat atau gunung dan “Hyang” yang artinya dewa. Sehingga Dieng berarti daerah pegunungan tempat dewa dewi bersemayam.

Sedangkan sejarah lain ada yang mengatakan jika nama Dieng berasal dari bahasa Sunda “di hyang”, karena diperkirakan pada abad ke-7 Masehi daerah ini berada dalam wilayah politik kerajaan Galuh.
Selain karena keindahan tempat wisatanya, Dieng juga terkenal sebagai tempat yang kental akan spiritual karena di sini terdapat candi-candi kuno bercorak Hindu dengan arsitektur yang unik.

Berada di ketinggian 2.093 mdpl, dataran tinggi Dieng Wonosobo memiliki udara yang sejuk lengkap dengan kabut saat matahari tidak muncul di langit. Dengan kisaran suhu 15 sampai 20 derajat Celcius, Dieng Wonosobo memiliki beberapa tempat wisata yang sayang untuk Anda lewatkan.

1. Telaga Warna

telaga-warna

Telaga warna adalah salah satu landmark dari wisata Dieng Wonosobo. Nama Telaga Warna diambil karena telaga ini memiliki warna yang berbeda-beda. Telaga Warna ini memiliki legenda tersendiri.

Menurut legenda warga sekitar, warna yang muncul di permukaan telaga tersebut karena zaman dahulu kala ada cincin milik bangsawan yang jatuh ke dalam telaga tersebut. Secara ilmiah, warna yang berbeda dari telaga tersebut karena adanya pembiasan cahaya pada endapan belerang di dasar telaga.

Dominasi warna dari telaga ini adalah hijau, biru laut dan putih kekuningan. Jika ingin melihat keindahan warna dari telaga, Anda dapat mendaki ke puncak bukit yang mengelilingi telaga tersebut. Di daerah tepian telaga, terdapat balkon yang dapat digunakan untuk duduk bersantai menikmati keindahan telaga ini.

2. Bukit Sikunir

bukit-sikunir

Ingin melihat sunrise? Anda bisa datang ke Bukit Sikunir. Bukit ini adalah bukit yang terkenal di kalangan wisatawan sebagai tempat berburu sunrise. Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Jawa Tengah.

Bukit Sikunir berada pada ketinggian 2.200 mdpl. Dinamakan bukit Sikunir karena bukit ini banyak membuat wisatawan ketagihan berburu sunrise. Warna sinar matahari yang kekuningan seperti kunir membuat masyarakat setempat menamainya sikunir. Kunir adalah bahasa Jawa dari kunyit.

3. Sumur Jalatunda

sumur-jalatunda

 

Sumur Jalatunda berlokasi di Desa Pekasiran, Kecamatan Bantur, Kabupaten Banjarnegara, kurang lebih sekitar 12 km di sebelah barat lokasi utama wisata Dieng.

Sumur Jalatunda ini dulunya adalah sebuah ceruk rekahan kawah yang kemudian digenangi oleh air dengan diameter 90 meter dan kedalaman lebih dari 200 meter. Karena air yang menggenang ini ceruk tersebut tampak seperti sumur.

Mencapai Sumur Jalatunda ini, Anda harus menyiapkan fisik untuk menaikai 257 anak tangga. Pada anak tangga terakhir, Anda akan menemukan tumpukan kerikil beralaskan karung beras, Menurut mitos masyarakat setempat, barang siapa yang dapat melempar kerikil dari seberang sumur ke seberang yang berlawanan, maka harapannya bisa terkabul.

Oleh karena itu, ketika Anda mengunjungi sumur ini, Anda akan menemukan para penjual batu kerikil. Harga yang dipatok untuk batu kerikil tersebut sebesar 500 rupiah. Banyak wisatawan yang mencoba peruntungannya dengan melempar batu kerikil ini.

4. Kawah di Dieng

kawah-sikidang

Dataran tinggi Dieng Wonosobo memiliki beberapakawah yang indah, yaitu Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, dan Kawah Sileri yang masih aktif.

Kawah Sikidang adalah salah satu kawah yang dijadikan andalan tempat wisata di Dieng dan berlokasi di wilayah Dieng timur. Pemandangan di sekitar kawah ini sangat indah, perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar tanah kawah.

Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter.

Kawah Sileri merupakan salah satu kawah terbesar di dataran tinggi Dieng dengan luas sekitar 4 hektar. Anda dapat mencapai kawah ini dengan perjalanan sejauh 7 km dari kawasan wisata utama Dieng.

Kawah Sileri masih masih mengeluarkan asap putih. Diberi nama Sileri karena warna air kawah ini putih dan aromanya seperti air bekas mencuci beras (dalam bahasa Jawa disebut leri).

Sedangkan Kawah Candradimuka adalah kawah yang terkenal di dalam cerita legenda pewayangan. Dalam legenda diceritakan, kawah ini adalah tempat di mana Gatotkaca dijedi (dimandikan dalam bahasa Jawa) sehingga memiliki kesaktian yang luar biasa. Letak kawah ini kurang lebih 6 km dari pusat wisata Dieng.

5. Candi Dieng

komplek-candi-arjuna

Candi adalah sebuah simbol kepariwisataan di Dieng. Candi jugalah yang membuat Dieng menjadi tempat yang sakral. Di sini terdapat banyak Candi Hindu yang tersebar di berbagai lokasi.

Candi-candi yang terdapat di Dieng diberi nama sesuai dengan tokoh Mahabarata. Ada Candi Bima, Arjuna, Gatot Kaca, Srikandi, dan lain-lain. Model bangunan candi di sini mengikuti bentuk candi di India dengan ciri khas arca dan relief yang menghiasi bangunan candi.

10 Tempat Wisata di Malang

10 Tempat Wisata di Malang yang Wajib Dikunjungi. Original Post by anekatempatwisata 28 September 2014.

pulau-sempu

Apa yang terpikirkan oleh Anda saat mendengar kata Malang? Sejuk? Benar. Malang berada di daerah pegunungan, sehingga membuat udaranya relatif sejuk dan menjadikannya salah satu tempat tujuan wisata terfavorit di Jawa Timur. Apel? Benar. Buah ini telah menjadi ikon kabupaten ini. Apel bisa dengan mudah Anda temui di sini, mulai dari pekarangan pribadi milik warga setempat, sampai dengan perkebunan dan agrowisata besar.

Apa lagi yang menarik dari Malang? Agar tak mengenal Malang hanya dari sejuk dan apelnya, berikut ini rangkuman 10 tempat wisata di Malang yang sayang sekali jika dilewatkan:

1. Jatim Park I

jatim-park-i

Jawa Timur Park I atau yang lebih dikenal dengan Jatim Park I ini merupakan tempat wisata di Malang yang menjadi favorit banyak pengunjung lokal dan luar kota. Dengan konsep taman rekreasi dan edukasi, Jatim Park I menawarkan puluhan wahana yang siap menghibur Anda dan keluarga. Yang menjadi ciri khas dari tempat wisata ini tentu saja kolam renang dengan latar relief wajah Ken Arok. Kolam renang ini bisa digunakan oleh orang dewasa dan anak-anak sesuai dengan kedalaman yang telah disesuaikan. Selain itu, kolam renang ini juga dilengkapi dengan bermacam papan seluncur air.

Untuk wahana edukasi, ada Science Stadium yang merupakan laboratorium outdoor dan indoor yang berisi informasi dan peragaan mulai dari fisika, biologi, kimia sampai matematika. Wahana ini didukung oleh PLN, Telkom dan beberapa universitas di Jawa Timur. Ada juga Papua and East Java Ethnic Gallery yang menampilkan koleksi miniatur rumah adat Jawa Timur dan Papua, wayang dan juga banyak kerajinan khas lainnya.

Masih kurang? Tenang, tempat wisata di Malang ini masih punya banyak sekali wahana permainan lain seperti Flying Tornado, Mini Jet, Gokart, Spinning Coaster, Midi Skater, Drop Zone dan Bioskop 3D. Fasilitas pendukung lainnya adalah kafetaria, mushola, gazebo dan masih banyak lagi.

Tempat wisata dengan luas 11 hektar ini berada di kawasan Batu atau sekitar 20 km dari pusat kota Malang. Buka setiap hari mulai pukul 08:00 sampai 14:00. Untuk masuk, Anda dikenakan biaya sebesar 55.000 Rupiah pada hari Senin – Kamis, dan 75.000 Rupiah pada hari Jumat – Minggu.

2. Jatim Park II

jatim-park-ii

Jika Jatim Park I menawarkan tempat wisata terpaduuntuk rekreasi dan edukasi, Jatim Park II memiliki konsep wisata alam. Jatim Park II yang berada di Jalan Oro-oro Ombo, Batu, ini menawarkan dua zona wisata utama yaitu Batu Secret Zoo dan Museum Satwa.

Di Museum Satwa, Anda bisa melihat binatang dari berbagai benua yang diawetkan dan diletakkan di lokasi yang dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya. Anda tak perlu khawatir, binatang-binatang yang diawetkan ini bukanlah hasil buruan, namun binatang yang sudah mati secara alami dan kemudian diawetkan. Ada juga replika kerangka raksasa dinosaurus yang menjadi salah satu objek foto favorit wisatawan. Selain itu, Anda juga bisa melihat beragam jenis serangga yang diawetkan di insectarium, mulai dari kumbang, belalang, laba-laba sampai kupu-kupu berbagai warna.

Puas melihat binatang yang telah diawetkan, saatnya melihat binatang yang masih hidup di Batu Secret Zoo. Kebun binatang ini adalah satu-satunya kebun binatang berkonsep modern di Indonesia. Ada banyak tempat yang bisa Anda bisa Anda jelajahi mulai dari akuarium, Tiger Land, kolam kuda nil sampai padang rumput. Ada juga sungai arus buatan yang bisa Anda arungi dengan perahu yang telah disediakan.

Jika belum puas menjelajahi tempat wisata di Malang ini dalam sehari, Anda bisa menginap di Hotel Pohon Inn yang merupakan penginapan resmi di Jatim Park II. Hotel ini memiliki konsep yang sangat unik, bangunannya dibuat menyerupai sebuah batang pohon raksasa dan dikelilingi oleh pegunungan.

Tertarik untuk mengunjungi Jatim Park II? Siapkan uang tiket masuk sebesar 60.000 Rupiah pada hari Senin – Kamis dan 75.000 Rupiah untuk hari Jumat – Minggu, maka Anda bisa menikmati tempat wisata ini sepuasnya.

3. Eco Green Park

eco-green-park

Tempat wisata di Malang ini sangat tepat dikunjungi bersama anak-anak untuk mengenalkan mereka tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Eco Green Park menawarkan taman rekreasi edukasi yang berisi kebun binatang mini dan informasi mengenai pemeliharaan lingkungan.

Memasuki kawasan wisata ini, Anda akan disambut dengan sebuah patung gajah besar yang terbuat dari televisi bekas. Tempat wisata ini memiliki banyak wahana yang tersebar, untuk berkeliling Anda bisa menyewa E-Bike dengan harga 100.000 Rupiah untuk 3 jam.

Jungle Adventure adalah salah satu wahana yang menarik. Anda akan berkeliling hutan buatan dengan menggunakan kereta terbuka. Hanya begitu saja? Tenang. Tak hanya berkeliling, Anda juga diajak menangkap pemburu binatang liar di dalam hutan. Dengan senapan mainan, Anda harus menembak setiap pemburu yang Anda lihat. Kejelian melihat dan kecepatan menembak sangat dibutuhkan di sini karena Anda harus menembak dari kereta yang sedang berjalan. Hmm, seru ya?

Rumah terbalik tak kalah menarik. Bangunan rumah terbalik dengan atap di bawah dan lantai di atas. Tak hanya terbalik di luarnya saja, namun segala perabotan di dalamnya juga terbalik. Anda seolah berjalan di atapnya seperti spiderman karena segala perabot mulai dari meja, kursi dan lampu dalam posisi terjungkir. Jika Anda cukup pusing berada di Rumah Terbalik ini, segera keluar dan carilah wahana lainnya.

Eco Green Park masih memiliki banyak wahana lain seperti Geology Science Center, Walking Bird, Animal Farm, Duck Kingdom, World Parrots, Dome Multimedia, Eco Science Center, Pasar Burung dan Insectarium. Ssstt, di sini juga Anda bisa mendengarkan musik yang dihasilkan oleh air di wahana Music Plaza.

Untuk masuk ke tempat wisata di Malang ini, Anda hanya perlu membayar sebesar 40.000 Rupiah pada hari Senin- Kamis dan 60.000 Rupiah untuk hari Jumat – Minggu.

4. Museum Angkut

museum-angkut

Siapa bilang museum adalah tempat yang membosankan? Di Museum Angkut, Anda bisa mendapat informasi mengenai sejarah dan perkembangan transportasi di dunia dengan cara yang menyenangkan. Di tempat wisata ini, ada banyak koleksi jenis transportasi mulai dari sepeda onthel, delman, mobil listrik sampai mobil balap F1.

Ada 10 zona yang bisa Anda jelajahi di tempat wisata seluas 3,7 hektar ini, antara lain Zona Edukasi, Italia, Inggris, Perancis, Las Vegas, Jerman, Hollywood, Jepang, Gangster & Broadway dan tentu saja Batavia. Setiap zona dibuat semirip mungkin dengan aslinya, mulai dari jalanan sampai landmark khasnya. Hal ini membuat zona-zona ini menjadi tempat favorit untuk berfoto. Puas berkeliling, jangan lupa menikmati kuliner di Pasar Apung yang menyajikan aneka hidangan lezat.

Untuk menikmati tempat wisata di Malang yang unik ini, Anda perlu membayar sebesar 50.000 Rupiah unuk hari Senin – Kamis, dan 75.000 Rupiah pada hari Jumat – Minggu.

5. Batu Night Spectacular

batu-night-spectacular

Berwisata di siang hari terlalu biasa buat Anda? Cobalah datang ke Batu Night Spectacular atau yang biasa disingkat dengan BNS. Tempat wisata di Malang ini buka mulai pukul 15:00 sampai 24:00. Di sini, Anda seperti kembali ke masa kecil karena suasananya mirip dengan pasar malam apalagi dengan adanya komedi putar dengan kuda-kuda buatan yang bisa Anda naiki.

Ingin yang lebih menarik? Mendekatlah ke air mancur yang bisa menari dan berubah warna sesuai dengan musik yang sedang dialunkan. Lampion Garden tak kalah menarik. Di sini, Anda bisa melihat lampion dengan berbagai warna dan bentuk yang sangat cantik untuk dijadikan latar foto Anda. Beberapa wahana yang tak boleh Anda lewatkan antara lain Rumah Hantu, Baby Wheel, Mouse Coaster, Art Trick, Gravitron dan Avatar.

6. Pulau Sempu

pulau-sempu

Pulau Sempu disebut sebagai salah satu surga dunia. Pulau yang terletak sekitar 75 km dari pusat kota Malang ini memiliki keindahan yang sangat luar biasa. Tempat wisata alam ini merupakan kawasan cagar alam yang dikelolah oleh pemerintah kota. Vegetasi di sini cukup beragam mulai dari hutan pantai, hutan tropis sampai hutan bakau. Hanya itu saja yang dimiliki Pulau Sempu? Tunggu. Yang paling menarik di sini adalah Segara Anakan yang merupakan sebuahdanau di tengah pulau dengan luas 4 hektar.

Segara Anakan menjadi daya tarik utama tempat wisata di Malang ini. Air dari telaga berasal dari ombak laut selatan yang masuk melalui lubang tebing di sisi danau ini. Air di danau dingin dan sangat jernih sampai Anda bisa melihat dasar danau dengan mudah. Di sini, Anda bebas berenang, memancing atau bermain di pasir putihnya yang landai.

Untuk menuju ke pulau ini memang tidak mudah. Anda terlebih dahulu harus naik perahu motor dari Pantai Sendang Biru. Jangan lupa menyimpan nomor telepon nelayan pemilik perahu untuk dijemput lagi saat Anda akan pulang. Begitu turun dari perahu, perjalanan Anda masih belum selesai. Anda harus trekking cukup panjang melewati hutan konservasi. Kelelahan akan terbayar lunas saat Anda melihat keindahan Segara Anakan yang masih sangat alami. Pulau ini memang tidak berpenghuni, sehingga jika ingin menginap, satu-satunya cara adalah dengan berkemah.

7. Pantai Balekambang

pantai-balekambang

Pantai ini memiliki pura di atas pulau karang sama seperti Tanah Lot di Bali. Bedanya, pura di sini berukuran lebih kecil dan memang sengaja dibangun pada tahun 1985 oleh bupati Malang mengikuti desain Pura Tanah Lot. Mengikuti tempat wisata di Bali tersebut bukan berarti pantai ini tak menarik. Pura yang dihubungkan dengan jembatan beton sepanjang 100 meter ini terlihat cantik terutama pada saat senja.

Tak hanya pura yang menjadi daya tarik tempat wisata di Malang ini. Pantai Baleambang sendiri tak kalah cantik. Hamparan pasir dan ombak kecilnya pun menjadi pemandangan menarik. Anda bisa berenang atau sekadar bermain air di sini. Jika tak ingin basah, Anda bisa bersantai di pendopo, menyantap kuliner di warung atau berburu suvenir di toko sekitar pantai.

8. Wendit Water Park

wendit-water-park

Wendit Water Park awalnya dikenal dengan Taman Pemandian Wendit. Tempat wisata yang terletak di Kecamatan Pakis ini menawarkan dua macampemandian yaitu telaga alami dan kolam renang buatan.

Telaga alami memiliki kedalaman 2 meter dan suhu airnya antara 18-25 derajat Celcius. Menurut kepercayaan warga setempat, air di telaga ini bisa membuat awet muda dan panjang umur, loh. Selain telaga ini, ada juga kolam renang buatan yang biasa disebut dengan water park. Water park ini relatif lebih menarik terutama untuk anak-anak karena terdapat bermacam papan seluncur air dan ember tumpah raksasa yang menggantung di tengah kolam.

Selain kedua pemandian tersebut, tempat wisata di Malang ini juga memiliki danau buatan yang bisa dikelilingi dengan menggunakan perahu dan sepeda air. Ada juga kolam untuk memancing juga wahana permainan seperti worm coaster dan flying fox.

9. Coban Pelangi

coban-pelangi

Apakah pelangi hanya muncul setelah hujan? Ternyata tidak. Datanglah ke Coban Pelangi di Kecamatan Tumpang atau sekitar 132 km dari pusat kota Malang. Jika beruntung, Anda bisa melihat pelangi di antara aliran air terjun setinggi 30 meter ini. Selagi menunggu munculnya pelangi, Anda bisa bermain air di tepi air terjun, menikmati kuliner di warung atau duduk-duduk di pendopo yang ada. Tempat wisata di malang ini berada di ketinggian 1.299 meter di atas permukaan laut, sehingga udaranya sangat sejuk dan nyaman untuk bersantai.

Untuk mencapai lokasi, Anda harus melewati hutan pinus, bukit-bukit dan menyeberangi sungai. Meskipun terkesan melelahkan dan lama, namun pemandangan yang indah di sekitar selama perjalanan akan membuat waktu terasa singkat.

10. Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo

sentra-kerajinan-keramik-dinoyo

Oleh-oleh berupa camilan sudah biasa? Cobalah datang ke Jalan MT Haryono XI, Anda bisa menemukan keramik-keramik unik untuk dijadikan oleh-oleh. Di sepanjang jalan ini, sedikitnya terdapat 30 toko kerajinan yang menjual berbagai jenis keramik mulai dari mug, vas bunga, piring, guci, asbak sampai hiasan meja dan dinding. Ciri khas dari keramik Dinoyo ini adalah motifnya yang berupa flora dan fauna. Selain membeli sebagai oleh-oleh, Anda juga bisa memesan dalam jumlah banyak untuk suvenir pernikahan atau acara-acara lainnya.

 

12 Tempat Bekas Penambangan di Indonesia

12 Tempat Bekas Penambangan di Indonesia yang Menjadi Destinasi Wisata. by Hilal Guswati.kesiniaja.

tebing-breksi-kesiniaja-768x432

Meningkatnya kegiatan eksploitasi alam akibat ulah tangan manusia meninggalkan banyak bekas yang terlihat jelas melukai alam dan merusak ekosistem. Namun seriring dengan berjalannya waktu, luka yang dihasilkan dari eksploitasi alam itu menjadi tempat wisata unik yang mengundang banyak wisatawan. Keindahan dari sisi lain tersebut membuat beberapa tempat di Indonesia menjadi incaran para wisatawan. Efek dari penambangan tersebut membuat tempat ini begitu unik dan ‘instagenic’ untuk diabadikan. Berikut adalah 12 bekas area tambang yang telah berganti wajah menjadi destinasi wisata.

1. Inilah kembaran Grand Canyon yang ada di Semarang

brown-canyon-768x576

Grand Canyon yang megah di Amerika memang sebuah pahatan alam super memukau tentu membuat siapa saja ingin melihatnya lebih dekat. Namun, bukan tak mungkin kalian bisa menjajal foto berlatar belakang Grand Canyon di Indonesia.

Brown Canyon, merupakan tempat yang menjadi lokasi penambangan aktif ini bukanlah tempat wisata atau bentukan alam, melainkan kegiatan penambanganlah yang menjadikan spot unik yang berada di perbatasan Semarang-Demak ini menjadi terbentuk bak Grand Canyon. Para anak muda banyak yang mengunjungi Brown Canyon yang tepatnya berada di Rowosari, Tembang, Semarang ini. Bukan hanya menarik untuk dipandang, akan tetapi lokasi inipun sangat instagenic dan cocok untuk mereka yang hobi berfoto.

2. Kolam renang alam yang unik dilahirkan oleh aktivitas penambangan batu kapur di Bukit Jaddih, Bangkalan Madura.

bukit-jaddah-bangkalan-madura-768x564

Tak disangka-sangka, ada mata air di bawah lokasi penggalian batu kapur di Bukit Jaddih, Socah, Bangkalan Madura. Hal ini menyebabkan kubangan bekas galian tersebut kini terisi air dan dijadikan kolam renang alam seluas 10×6 meter di tengah penambangan kapur. Selain dibukanya wisata kolam renang untuk umum, di sini juga terdapat spot berfoto yang unik dengan berlatarkan pemandangan Bukit Jaddih.

3. Uniknya berfoto ala dunia Mario Bross di Bukit Jamur, Gresik.

343ee460e85db4b9865365815206880f-768x484

Berada di dunia Mario Bross dengan deretan jamurnya? Pasti seru, ya! Tapi jamur yang ini super raksasa, loh! Temukan keindahan uniknya di Bukit Kaliwot, Bungah, Gresik, Jawa Timur. Lokasi yang sering digunakan untuk pre-wedding ini memang terbentuk dari galian tambang yang dulu beroperasi di tahun 1992. Dengan ditutupnya kegiatan penambangan di tahun 2008 ini menjadikan Bukit Jamur sebagai lokasi berwisata yang dibuka untuk umum sejak tahun 2010. Bentuk jamur yang terbentuk karena kerukan vertikal ini memiliki tinggi 2 meter, sampai ada yang 7 meter!

4. Rasakan sensasi menjadi seorang penambang batubara di Lubang Tambang Mbah Suro, Sawahlunto, Sumatera Barat

terowongan-mbah-suro-sawahlunto

Berwisata ke perut bumi? Rasanya mungkin sedikit menyeramkan. Namun, bisa jadi ini merupakan pengalaman menarik untuk dijelajahi. Terdapat terowongan sepanjang 185 meter di Sawahunto, Sumatera Barat yang akan membuat kalian menjadi seorang penambang batubara ataupun kalian bisa mendapatkan ide foto menarik di sana. Tertarik untuk menelusurinya?

5. Keindahan Bukit dan Danau Kaolin yang merupakan ‘hadiah’ dari eksploitasi Kaolin di Belitung.

danau-kaolin-kesiniaja-810x608

Keindahan negeri Laskar Pelangi ternyata tidak hanya terletak pada pantainya. Danau nan elok dengan air berwarna biru toska ini merupakan bekas tambang Kaolin di Perawas, Tanjungpandan, Belitung. Danau Kaolin menampakkan sebuah keindahannya untuk menutupi ‘luka’ akibat eksploitasi. Para wisatawan banyak yang berkunjung ke danau ini untuk berburu foto, terutama pada momen matahari terbit dan tenggelam.

6. Tebing Breksi, spot foto yanginstagenic anak kekinian di Jogja.

tebing-breksi-kesiniaja-768x432

Tebing indah yang berada di Sambirejo, Prambanan, Sleman, Jogjakarta ini ternyata merupakan bentukan dari lava dari Gunung Api Purba yang menggumpal dengan melewati proses jutaan tahun lamanya. Lokasi yang dulunya merupakan area penambangan itu kini sudah disulap menjadi spot nongkrong anak muda Jogja dan menjadi Geoheritage Candi Ijo yang perlu dilindungi dan dilestarikan.

Selain dijadikan tempat wisata, Tebing Breksi pun biasa dipilih para pemburu sunset sebagai spot menikmati senja. Tak heran, karena dari atas tebing kita bisa menyaksikan suguhan Candi Prambanan, Candi Sowijan dan Candi Barong dengan latar Gunung Merapi. Asyik ya?!

7. Cantiknya warna toska Danau Blingoh yang ternyata bekas penambangan kapur

danau-blingoh

Jepara memang sangat terkenal dengan Karimun Jawanya, namun ada satu spot wisata lain yang juga bisa kalian kunjungi. Danau berwarna hijau toska nan cantik ini disebut Danau Blingoh yang terletak di Kecamatan Donorejo, Jepara. Danau ini juga menawarkan keindahan panorama berupa tebing tinggi bekas galian serta pepohonan yang rimbun. Keunikan spot yang ternyata bekas penambangan kapur ini memang menarik dan instagenic untuk dijadikan latar belakang foto.

8. Telaga Biru Cigaru, bekas lokasi penambangan di Tangerang yang menyimpan kisah mistis

telaga-biru-cigaru-768x576

Bekas penambangan di Tangerang ini rasanya lain daripada yang lain. Sebab, terselip kisah dibalik indahnya warna air di Telaga Biru Cigaru ini. Mitosnya, danau ini dihuni oleh Ratu Pelangi yang menjadikan warna danau menjadi sedemikian rupa. Namun hal tersebut tidak menjadikan Telaga Cigaru sepi pengunjung. Mereka yang penasaran nyatanya tetap berwisata kemari. Bagaimana dengan kalian? Penasaran kisah lengkapnya? Cek di sini.

9. Danau hits-nya anak muda Bogor, nih! Danau Quarry!

danau-quarry-768x513

Bogor memang salah satu kota yang punya banyak spot wisata ciamik. Ternyata Bogor pun memiliki bekas galian tambang yang membentuk sebuah objek wisata nan indah, Danau Quarry. Tak heran, banyak anak muda khususnya yang tinggal di Bogor penasaran lantas mengunjungi panorama danau hijau di daerah Rumpin, Kabupaten Bogor ini. Bahkan, danau ini pun sangat instagenic! Cocok untuk kalian yang hobi berfoto.

10. Segarnya Telaga Ngipik yang berada di tengah Kota Gresik

telaga-ngipik

Jika kalian berkunjung ke Gresik, terdapat dua lokasi penambangan yang kini menjadi tempat wisata. Uniknya Bukit Jamur mungkin menjadi daya tarik bagi warga Gresik, tapi selain itu masih ada bekas penambangan semen Gresik yang letaknya di tengah kota. Telaga Ngipik, lokasi bisa menjadi pilihan lain jika kalian ingin santai sambil memancing ataupun berfoto-foto.

11. Perpaduan indah antara bukit dan danau Puthuk Krebet, Tulungagung

phutuk-krebet

Telaga Tiga Warna, ini adalah sebutan lain dari danau Puthuk Krebet yang terletak di Desa Panggunguni, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung ini. Memang lokasi bekas galian pertambangan tembaga ini sudah berubah menjadi lubang-lubang yang tergenangi air masing-masing berwarna hijau toska, hijau lumut dan coklat kehitaman.

Jika ingin kemari ikutilah petunjuk ke Blitar dengan rute yang cukup rumit hingga melewati Bukit Luk Songo hingga Pasar Puser. Setelah itu, arahkan kendaraan mengikuti rute ke Pantai Molang hingga 300 meter. Jangan sungkan untuk menanyakan rute jalan kepada warga sekitar.

12. Bercermin di jernihnya air Danau Biru Loa Bakung, Samarinda

danau-loa-bakung1

Danau Cermin, begitulah masyarakat sekitar menamai Danau Biru Loa Bakung di Samarinda ini. Memang, disebut Danau Cermin karena danau tersebut begitu bening dan berwarna biru terang serta dapat memantulkan objek bak sebuah cermin. Danau indah ini juga dulu merupakan salah satu bekas penambangan, yakni penambangan batu bara.

Eksploitasi alam secara berlebihan memang tak sepatutnya dilakukan oleh manusia, terlebih mereka tentunya masih menggantungkan hidup pada alam. So, tetaplah menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungan ya, guys! Ber-traveling ria dan senantiasa menjaga alam tetap lestari.

12 Tempat Wisata Di Bandung Yang Keren

Original Post by kesiniaja. Written by Astri Erlina.  12 Tempat Wisata Di Bandung Yang Keren, Anti Mainstream Dan Jarang Dikunjungi. 

hammockan-di-gunung-hawu-768x576

Mendengar kata Bandung, apa yang ada di pikiran kamu? Jika tidak Gedung Sate, Tangkuban Perahu, ya Trans Studio. Selain tiga hal di atas, tujuan orang ke Bandung pasti untuk belanja baju atau wisata kuliner. Padahal Bandung tak hanya berisi itu-itu aja lho. Banyak objek wisata di Bandung yang terkenal indah, namun jarang sekali dikunjungi. Miris banget kan? Bahkan lebih banyak orang Bandung yang pergi ke luar negeri daripada mengeksplorasi tanahnya sendiri.

Jika kamu ke Bandung, coba datang ke 11 tempat wisata ini. Meski masih sepi (pernah ramai juga dahulu), tempat ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Bahkan tak kalah dengan Tangkuban Perahu atau kawah putih lho, yuk kita simak!

1. Memacu Adrenalin Kamu Di Trek Palintang

trek-palintang-bandung-768x576

Suka off road dengan sepeda? wajib banget cobain trek Palintang! Palintang sebenarnya adalah nama sebuah kampung di Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Bandung Timur. Kampung yang terletak sekitar 8 km di utara Ujungberung ini adalah tempat favorit bagi para penyuka sepeda gunung uphill dan offroad. Memang dikalangan pencinta olahraga sepeda off road dan uphil trek yang satu ini sudah terkenal.

Sepanjang Trek Palintang akan dikelilingi daerah perbukitan, dan pemandangan cantik yang merupakan ciri khas Bandung. Sedangkan akses jalan menuju ke Palintang yang paling mudah dari alun-alun Ujungberung via Kampung Tanjakan Panjang – Palalangon. Kondisi jalan pedesaan yang setengah rusak dan terus menanjak bahkan kadang menukik menjadi kenikmatan tersendiri pagi penggemar MTB uphill.

2. Meresapi Hari Dengan Tenang Di Situ Cileunca

situ-cileunca-bandung

Situ Cileunca, yang sepi tapi menarik bagi para pecinta alam. Bandung nggak hanya dikenal sebagai kota yang menyenangkan dengan sajian kuliner dan factory outletnya. Kota ini mempunyai banyak destinasi alam yang menyenangkan, yang juga banyak diincar para traveler yang ingin menghabiskan hari liburnya di Bandung. Salah satu wisata alam yang bisa dinikmati di dekat Bandung adalah Situ Cileunca. Destinasi yang berupa danau ini berlokasi di Kecamatan Pengalengan, Sebuah area yang berudara sejuk nan segar.

Situ Cileunca yang merupakan salah satu tempat liburan anti mainstream Bandung berada di Pengalengan. Dan bisa dicapai dengan kendaraan umum jurusan Bandung – Pengalengan dengan waktu tempuh kira – kira sekitar 2-3 jam. Atau bisa juga dengan menggunakan kendaraan sendiri dan sewaan dari kota bandung. Tiket masuk menuju Situ Cileunca sendiri sangat murah, hanya IDR 2500 untuk destinasi wisata yang begitu menyenangkan ini.

3. Berendam Air Panas Alami Di Taman Wisata Alam Maribaya

wisata-alam-maribaya-bandung-768x509

Taman Wisata Maribaya sebenarnya masih bagian dari Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Lokasi hanya berjarak 8 km dari pusat kota Bandung. Jika kamu kebetulan sedang ke Bandung, berkunjunglah ke tempat ini. Suasana alam yang masih alami, dipadu dengan pemandangan yang sangat indah akan membuat kamu bakal betah lama-lama di tempat yang memiliki air terjun setinggi 25 meter ini.

Tak berhenti di sama pesona dari Maribaya. Kmau bisa berendam dengan air panas yang keluar alami dari pusat bumi. Air panas yang mengalir deras ini dipercaya mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Jika kamu datang ke Maribaya, berendamlah dan nikmati sensasi alam yang jauh berbeda dengan pusat bandung yang sangat ramai! Tak perlu mahal-mahal jika ingin menikmati segala kenikmatan Maribaya, tiket masuk tempat ini hanya sekitar Rp. 10.000 aja kok.

4. Yuk Liburan Seru Anti Mainstream di Tebing Gunung Hawu

hammockan-di-gunung-hawu-768x576

Buat kamu para anak gunung atau mungkin anggota komunitas Wall Climbing, yang selalu ingin memacu adrenalin di ketinggian, yuk coba manjat tebing Gunung Hawu. Gunung Hawu terletak di kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Padalarang memang dikenal sebagai tempat dengan gunung batu kapur yang menjulang, salah satu yang populer dikalangan anak gunung adalah Tebing Gunung Hawu.

Tebing Gunung Hawu ini berada di balik tebing Citatah 125 atau biasa disebut dengan Gunung Kapur Singgalang. Untuk mencapainya, kamu harus berjalan kaki sekitar 30 menit dari tebing Citatah.

5. Sanghyang Heuleut. Laguna Cantik Tempat Mandi Para Bidadari

sanghyang-heuleut-bandung

Tempat ini dulu sempat dikeramatkan oleh warga sekitar. Tidak ada yang berani datang ke sana kecuali pada hari-hari tertentu. Mitos yang beredar, tempat ini dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari ketika turun ke Bumi. Tepat ini juga dipercaya sebagai tempat Dayang Sumbi untuk mencuci pakaian dan membersihkan diri.

Namun, kini ketakutan itu sudah tidak ada lagi. Lagipula, tempat sekeren ini terlalu sayang untuk ditakuti. Sanghyang Heuleut merupakan sebuah kolam alami yang berada di aliran sungai yang berasal dari Danau Citarum Purba. Kolamnya dikelilingi oleh batu-batu alam berukuran besar dan sangat indah.

Sanghyang Heuleut bukanlah satu-satunya kolam yang ada di sekitar sana. Di kawasan tersebut juga ada Sanghyang Poek dan Sanghyang Tikoro. Lokasinya berada jauh dari desa dan untuk kesana kita harus trekking selama sekitar 1,5 jam. Jarak tempuhnya kira-kira 3 km. Dalam perjalanan menuju ke sana kita akan melewati batu-batu besar. Keberadaan Sanghyang Heuleut sendiri berada di balik salah satu batu besar tersebut.

6. Menengok Gua Bersejarah Di Bandung, Gua Pawon

goa-pawon-768x513

Gua Pawon yang unik, tapi agak seram. “Pawon” dalam bahasa Jawa artinya adalah dapur, namun di Bandung Pawon ini adalah nama destinasi wisata lho. Iya, di Bandung ada destinasi berupa Gua yang dikenal dengan nama Pawon. Meski belum begitu terkenal, Gua Pawon yang terletak di Desa Masigit ini pernah menggemparkan.

Karena didalamnya ditemukan lebih dari 20.000 buah tulang manusia. Diperkirakan tulang belulang tadi adalah milik manusia purba, pendahulu suku sunda. Buat yang nggak percaya mungkin bisa menengok langsung Gua bersejarah ini. Siapkan saja IDR 5.500 yang akan dibayarkan sebagai tiket masuk. Murah kan?

7. Menyatu Di Kanopi Alam Ala Tahura Ir H Juanda

tahura-768x960

Taman Hutan Raya Djuanda adalah tempat yang sejuk dan segar untuk trekking ringan. Di Kota Bandung tepatnya berada di daerah Dago Pakar ada sebuah tempat untuk berlibur sambil trekking. Disini tidak hanya bisa membuat tubuh kamu sehat, tetapi juga bisa menjadi tempat refreshing penghilang rasa penat.

Tempat ini adalah sebuah taman seluas sekitar 590 hektar. Disini kamu bisa menikmati udara sejuk sambil menikmati 2.500 jenis tanaman yang tumbuh subur. Oh iya, selain bisa menikmati pemandangan alamnya ada objek wisata Gua Jepang, Gua Belanda, Curug dan Penangkaran Rusa yang bisa dikunjungi ketika berkunjung ke taman tersebut ya. Tahura atau Taman Hutan Raya ini adalah tempat liburan di Bandung yang juga cocok untuk kesehatan kamu.

8. Melihat Batuan Purbakala Di Stone Garden

ston-garden-bandung-768x430

Batuan purba Stone Garden yang dulunya berada di bawah laut. Stone Garden ini sebenarnya adalah situs purbakala. Kalau diperhatikan dengan jelas dan seksama, batu – batuan yang ada di tempat ini terlihat mirip sekali dengan batu karang di dasar lautan. Bahkan ketika berkeliling di tempat ini, jika kamu beruntung, kamu akan menemukan batuan unik seperti kerang laut, atau bahkan fosil tumbuhan laut. Mungking dahulu, jutaan tahun yang lalu tempat ini adalah dasar lautan. Namun karena keadaan alam mulai berubah, dasar laut ini pun terangkat dan menjadikannya sebuah pegunungan yang indah seperti saat ini.

9. Menyusuri Hutan Pinus Batu Kuda

hutan-pinus-batu-kuda-bandung

Batunya memang besar, tapi enggak berbentuk kuda sama sekali deh sepertinya. Situs Batu Kuda ini adalah sebuah objek wisata yang berada di Gunung Manglayang Bandung Timur. Dikenal dengan nama Batu Kuda karena mitosnya pernah ada sekor kuda yang bisa terbang dari arah selatan, yaitu Kuda Sembrani. Nah, ketika sedang terbang melewati Gunung Manglayang, si kuda tadi jatuh dan terjebak hingga tempat dia jatuh menjadi kubangan. Sekarang kuda ini terlihat dalam wujud batu yang mirip kuda.

Namun daya tarik tempat ini bukan hanya mitosnya atau batu berbentuk kuda saja, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di destinasi wisata Batu Kuda ini. Mulai dari camping, trekking, hingga bersepeda. Ada banyak pohon pinus cantik disini. Udaranya pun segar sekali loh. Asiknya lagi, kamu bisa mengunjungi Batu Kuda hanya dengan membayar tiket IDR 3000 per/orang dan IDR 5000 jika ingin camping disini.

10. Nikmati Segarnya Udara Dan Cantiknya Niagara Mini Di Dekat Bandung, Curug Malela!

curug-malela-bandung-768x512

Curug Malela, tempat liburan antimainstream di Bandung
Yak, Niagara nggak cuma amerika saja yang punya, di dekat Bandung ada Curug Malela yang lumayan mirip dengan air terjun Niagara. Lokasinya nggak jauh dari Waduk Saguling, waduk buatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat pada ketinggian 643 m di atas permukaan laut.

Curug Malela adalah tipe air terjun yang luas dan lebar, karena itu bisa dibilang mirip air terjun Niagara. Nah, kalau kalian sudah bosan dengan tempat liburan yang ada di dalam Kota Bandung, bisa deh kabur dan berlibur ke Curug Malela.

Tempat wisata Curut Malela yang ada di bandung barat ini bisa dicapai kurang lebih dengan 3 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Rute yang bisa ditempuh untuk menuju Curug Malela Adalah Cimahi – Batujajar – Cihampelas – Cililin – Sindang Kerta – Gunung Halu – Buni Jaya – Curug Malela.

11. Cari yang Geulis-Geulis? Ya di Sendang Geulis Kahuripan

sindang-geulis-810x607

Ada yang menyebutnya dengan Talaga Cikahuripan, Sendang Geulis Kahuripan bahkan Sirah Cai Kahuripan. Namun, nama yang sering digunakan oleh warga lokal adalah Talaga Cikahuripan. Lokasi tempat ini berada di Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalong Wetan.

Suasana alam ala pedesaan di mata air Sendang Geulis Kahuripan ini benar-benar syahdu. Mata airnya sudah jelas bersih dan jernih. Apalagi airnya tidak berbau karena terus mengalir ke sungai. Bahkan sudah tersedia kolam renang yang sumber airnya langsung berasal dari mata air Sendang Gelulis Kahuripan.

Kamu tidak perlu repot mencari makan atau berganti pakaian. Karena di lokasi sudah tersedia tempat bilas, tempat berganti pakaian dan warung-warung yang menyediakan makanan. Pasti kalian butuh energi setelah melepas penat dan lelah di mata air Sendang Geulis Kahuripan. Meskipun tempat ini sudah di kelola dengan baik, tidak banyak orang tau tempat wisata ini.

12. Bersantai di Hutan Pinus The Lodge Maribaya, Ga Kalah Seru dibanding Kalibirunya Jogja.

the-lodge-maribaya-lembang-3-768x400

Bonus! Salah satu wisata yang sedang trend saat ini adalah The Lodge Maribaya Lembang. Kawasan ini dikelilingi hutan pinus yang lebat. The Lodge Maribaya memiliki keindahan alam seperti Tebing Keraton dan Wisata Kalibiru Yogyakarta. The Lodge Maribaya beralamat di Jalan Maribaya Timur Km. 6  Kampung Kosambi, Cibodas, Maribaya Lembang, Bandung Barat.  Memiliki tagline escape to nature, The Lodge Maribaya menawarkan berbagai aktifitas menarik untuk wisatawan.

Salah satu keunikan yang sulit untuk didapatkan ditempat lain, kalian bisa menikmati secangkir kopi sambil melihat jejeran hutan pinus yang berbaris rapi di meja-meja teras The Lodge. Sensasi inilah yang tidak bisa kalian dapatkan saat berada di Tebing Keraton Bandung.

Nah itu dia 11 Tempat wisata Bandung yang Jarang diketahui orang-orang sehingga masih sepi pengunjung tapi bakal kasih kamu suasana baru dan gak liburan ditempat itu-itu aja di Bandung, so kalo ke Bandung cobain dateng ke 11 tempat yang anti mainstream ini? yuk siapkan ranselmu sekarang!

Pura Besakih

From Wikipedia, the free encyclopedia

mdh-1429008477

Pura Besakih is a temple complex in the village of Besakih on the slopes of Mount Agung in eastern Bali, Indonesia. It is the most important, the largest and holiest temple of Hindu religion in Bali, and one of a series of Balinese temples. Perched nearly 1000 meters up the side of Gunung Agung, it is an extensive complex of 23 separate but related temples with the largest and most important being Pura Penataran Agung. The temple is built on six levels, terraced up the slope. The entrance is formed by a Candi Bentar (split gateway), and beyond it the Kori Agung is the gateway to the second courtyard.

History

The precise origins of the temple are not clear but it almost certainly dates from prehistoric times. The stone bases of Pura Penataran Agung and several other temples resemble megalithic stepped pyramids, which date back at least 2000 years. It was certainly used as a Hindu place of worship from 1284 when the first Javanese conquerors settled in Bali. By the 15th century, Besakih had become a state temple of the Gelgel dynasty.

Location

It was built on the south slopes of Mount Agung, the principal volcano of Bali.

Architecture

Pura Besakih is a complex made up of twenty-three temples that sit on parallel ridges. It has stepped terraces and flights of stairs which ascend to a number of courtyards and brick gateways that in turn lead up to the main spire or Meru structure, which is called Pura Penataran Agung. All this is aligned along a single axis and designed to lead the spiritual person upward and closer to the mountain which is considered sacred.

The main sanctuary of the complex is the Pura Penataran Agung. The symbolic center of the main sanctuary is the lotus throne orpadmasana, which is therefore the ritual focus of the entire complex. It dates to around the seventeenth century.

A series of eruptions of Mount Agung in 1963, which killed approximately 1,700 people also threatened Pura Besakih. The lava flows missed the temple complex by mere meters. The saving of the temple is regarded by the Balinese people as miraculous, and a signal from the gods that they wished to demonstrate their power but not destroy the monument the Balinese faithful had erected.

Festivals

Each year there are at least seventy festivals held at the complex, since almost every shrine celebrates a yearly anniversary. This cycle is based on the 210-day Balinese Pawukon calendar year.

It had been nominated as a World Heritage Site as early as 1995, but remains unvested.

Visitors to this temple should exercise caution as there is a syndicate operating in and around the premise of this temple. They target tourists by offering a compulsory “tour guide” at exorbitant charges. They also perform “prayers” and request for tips at the end of the “tour”. Visitors who decline their “services” are dealt with rather aggressively.,

Visitors

In 2013, foreign visitors count is 84,368 persons (77.2 percent), while domestic visitors is 24,853 persons (22.8 percent).

Gallery

mother_temple_of_besakih

The main temple of Besakih

pura_besakih

Pura Besakih

besakih01

Pura Besakih

besakih02

Pura Besakih

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

A prayer ceremony at Besakih Temple

panorama_of_bali_from_besakih_-_mother_temple

Bali view from Besakih/Mother temple’s main gate

maxresdefault

besakih-temple

15 Tempat Wisata di Bali yang Wajib Dikunjungi

Original Post by anekatempatwisata

Terletak di sebelah timur Pulau Jawa, Bali adalah primadona pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di seluruh dunia. Selain terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pantainya, Bali juga terkenal dengan kesenian dan budayanya yang unik dan menarik.

Bali sebagai tempat tujuan wisata yang lengkap dan terpadu memiliki banyak sekali tempat wisata menarik, apa saja tempat wisata di Bali yang wajib dikunjungi?

1. Pantai Kuta

pantai-kuta

Pantai Kuta adalah tempat wisata di Bali yang paling terkenal dan paling banyak dikunjungi wisatawan karena lokasinya yang dekat dengan bandara, pantainya yang indah, biaya yang murah, dan ombaknya yang cocok untuk peselancar pemula. Pantai Kuta juga terkenal dengan panorama matahari tenggelamnya yang sangat indah. Fakta unik dari Pantai Kuta adalah sebelum Pantai Kuta menjadi sebuah tempat wisata di Bali yang wajib dikunjungi seperti sekarang ini, Pantai Kuta merupakan sebuah pelabuhan besar, pusat perdagangan di Bali. Dengan pasir putih dan laut birunya, dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang sangat lengkap, Pantai Kuta adalah primadona wisata Bali.

2. Pura Tanah Lot

Related Posts:

pura-tanah-lot

Pura Tanah Lot adalah salah satu tempat wisata di Bali yang terkenal dengan keindahannya, terutama pada saat matahari terbenam. Pura Tanah Lot yang terdiri dari 2 buah pura merupakan pura tempat memuja dewa laut. Keunikan dari Pura Tanah Lot adalah pura ini berada di atas sebuah batu karang besar di pinggir laut. Pada saat air laut pasang, anda tidak dapat mendekat ke Pura Tanah Lot karena di sekitar batu karang penyangga Pura Tanah Lot akan digenangi air laut. Pada saat air surut anda dapat melihat beberapa ular laut jinak yang menurut penduduk setempat merupakan penjaga Pura Tanah Lot. Selain itu, di lokasi ini anda juga dapat memegang ular suci yang jinak dan tidak berbahaya.

3. Pantai Padang Padang

Pantai-Padang-Padang.jpg

Pantai Padang Padang mungkin kurang begitu terkenal bila dibandingkan dengan Pantai Kuta, namun Pantai Padang Padang adalah pantai yang sangat indah dan unik. Pada saat saya pertama datang ke Pantai Padang Padang juga saya mengira bahwa pantai ini adalah pantai yang tidak menarik karena kurang terkenal, namun ternyata saya salah. Pantai Padang Padang adalah pantai kecil yang tersembunyi dibalik sebuah tebing di kawasan Pecatu, dekat Uluwatu. Untuk dapat mencapai Pantai Padang Padang, anda harus melewati sebuah tangga yang membelah tebing. Pantai Padang Padang tidak besar dan luas, namun sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Sebagian besar pengunjung Pantai Padang Padang adalah wisatawan asing karena Pantai Padang Padang kurang terkenal dikalangan wisatawan dalam negeri.

4. Danau Beratan Bedugul

danau-beratan-bedugul

Danau Beratan Bedugul adalah sebuah danau yang berlokasi di daerah pegunungan dengan suasana alam yang asri. Keunikan dari Danau Beratan Bedugul adalah keberadaan pura yang bernama Pura Ulun Danu. Pura Ulun Danu terletak di pinggir Danau Beratan Bedugul dan merupakan salah satu daya tarik utama Danau Beratan Bedugul. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati permainan air dan menyewa perahu di Danau Beratan Bedugul.

5. Garuda Wisnu Kencana (GWK)

garuda-wisnu-kencana

Garuda Wisnu Kencana atau biasa disingkat GWK adalah sebuah taman wisata budaya yang berlokasi di Bali Selatan. Garuda Wisnu Kencana adalah sebuah patung yang sangat besar karya I Nyoman Nuarta. Saat ini, patung Garuda Wisnu Kencana belum sepenuhnya selesai dibuat, hanya sebagian saja yang telah selesai, namun walau begitu anda tetap dapat menikmati kemegahan Garuda Wisnu Kencana. Selain patung, anda juga dapat melihat keindahan bukit kapur yang di potong menjadi balok-balok kapur besar. Balok-balok kapur ini nantinya akan penuh dengan pahatan. Selain itu di kawasan Garuda Wisnu Kencana juga terdapat teater seni, anda dapat menikmati berbagai jenis tari dan kesenian Bali di teater ini setiap harinya.

6. Pantai Lovina

pantai-lovina

Pantai Lovina mungkin tidak terlalu sering terdengar di kalangan wisatawan. Pantai Lovina adalah salah satu tempat wisata di Bali yang paling saya sukai karena di Pantai Lovina kita dapat melihat lumba-lumba berenang dan meloncat di habitat aslinya. Terletak di Bali Utara dekat dengan Kota Singaraja, anda akan pergi ke tengah laut dan melihat lumba-lumba dengan menggunakan perahu nelayan. Lumba-lumba Pantai Lovina bermain di tepi pantai pada pagi hari, oleh karena itu biasanya wisatawan berangkat dari pinggir pantai mulai dari jam 6 pagi.

7. Pura Besakih

pura-besakih

Pura Besakih adalah sebuah pura yang berlokasi di kaki Gunung Agung, dan merupakan pura terbesar di Bali. Di Pura Besakih sering diadakan acara keagamaan Hindu karena Pura Besakih dipercaya sebagai tempat suci dan merupakan induk dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura Besakih dibangun dengan konsep keseimbangan Tuhan, manusia, dan alam atau sering disebut dengan sebutan Tri Hita Karana. Untuk dapat memasuki area Pura Besakih, anda harus menggunakan sarung yang dapat dipinjam di sekitar lokasi Pura Besakih.

8. Pura Uluwatu

pura-uluwatu

Pura Uluwatu adalah salah satu tempat wisata di Bali yang berada di atas sebuah tebing yang menjorok ke laut. Pura Uluwatu tidak hanya menawarkan suasana religius khas Bali, namun juga menawarkan keindahan panoramanya, terutama keindahan matahari tenggelamnya yang sudah sangat terkenal. Di Pura Uluwatu anda akan berjumpa dengan sejumlah kera yang dipercaya berfungsi menjaga kesucian Pura Uluwatu. Untuk memasuki area Pura Uluwatu, anda harus menggunakan sarung dan selendang yang merupakan simbol hormat kepada kesucian Pura Uluwatu.

9. Pantai Jimbaran

pantai-jimbaran

Pantai Jimbaran adalah salah satu tempat wisata di Bali yang paling terkenal. Pada saat anda datang ke Pantai Jimbaran, yang pertama kali akan anda lihat adalah deretan meja dan kursi makan di atas pasir putih yang indah. Pantai Jimbaran terkenal dengan kuliner pinggir pantainya, terutama hidangan lautnya. Pantai Jimbaran untuk anda yang ingin berwisata ke pantai sekaligus menikmati wisata kuliner khas Bali. Tidak perlu kuatir menyantap makanan di Pantai Jimbaran karena ombak di Pantai Jimbaran sangatlah tenang, tidak membahayakan anda yang sedang makan di pinggir pantai.

10. Monkey Forest

sangeh

Monkey Forest adalah tempat wisata di Bali yang akan membawa anda menyatu dengan alam. Terletak di Ubud, Bali, Monkey Forest adalah sebuah hutan yang dihuni oleh banyak kera liar. Kera-kera ini dianggap keramat oleh penduduk setempat sehingga tidak boleh diganggu dan dibiarkan hidup di hutan. Kera di Monkey Forest sangat menyukai makanan, mereka akan berusaha mendapatkan makanan yang anda bawa, walaupun makanan tersebut ada di dalam tas anda. Di tempat ini anda akan menyaksikan kehidupan ratusan kera yang unik dan menarik.

11. Tanjung Benoa

tanjung-benoa

Tanjung Benoa yang berbatasan dengan Nusa Dua, Bali adalah pusat dari kegiatan olahraga dan permainan air di Bali. Karakteristik Pantai Tanjung Benoa sangatlah tenang, sehingga sangat cocok untuk berbagai jenis permainan air yang seru. Jenis permainan air yang dapat anda mainkan di sini yaitu snorkel, sea walker, banana boat, parasailing, wakeboard, waterski, jetski, scuba diving, donut boat, flying fish, dan lain-lain. Selain itu anda juga dapat pergi melihat penyu raksasa di pulau penyu dengan menaiki perahu dari Tanjung Benoa.

12. Danau Batur Kintamani

danau-batur-kintamani

Danau Batur Kintamani merupakan salah satu pesona alam yang dimiliki Bali. Terletak di gunung tertinggi ke 2 di Bali, Danau Batur Kintamani mempunyai hawa yang sejuk dan pemandangan yang sangat mempesona. Danau Batur Kintamani adalah danau terbesar di Bali yang banyak dikunjungi wisatawan karena menawarkan pemandangan yang tiada duanya di Bali.

13. Tari Kecak Uluwatu

tari-kecak-uluwatu

Tari Kecak adalah tari khas Bali yang paling terkenal dan paling menarik untuk dilihat. Dari banyak tempat yang mempertontonkan tarik kecak, menurut saya yang paling menarik adalah Tari Kecak Uluwatu yang berada di Pura Uluwatu. Tari Kecak Uluwatu mempertunjukan tari kecak khas Bali dengan latar belakang matahari tenggelam di Uluwatu yang sangat indah. Tari Kecak Uluwatu sangat populer dan ramai oleh karena itu apabila anda ingin menonton pertunjukan Tari Kecak Uluwatu, saya sarankan untuk pesan dari jauh hari.

14. Arung Jeram Sungai Telaga Waja

arung-jeram-sungai-telaga-waja

Arung Jeram Sungai Telaga Waja sangatlah cocok bagi anda yang suka kegiatan yang seru dan menantang. Sungai Telaga Waja memiliki air yang jernih dan bersih dan jeram yang menantang. Di akhir pengarungan anda akan meloncati sebuah pintu air, sangat seru. Setelah selesai menikmati Arung Jeram Sungai Telaga Waja, anda akan mendapatkan bonus berupa trekking naik gunung, oleh karena itu siapkan diri anda dan beristirahatlah yang cukup karena Arung Jeram Sungai Telaga Waja akan menguras tenaga anda.

15. Arung Jeram Sungai Ayung

arung-jeram-sungai-ayung

Arung Jeram Sungai Ayung mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Arung Jeram Sungai Telaga Waja. Apabila Arung Jeram Sungai Telaga Waja menawarkan tantangan, maka Arung Jeram Sungai Ayung menawarkan keindahan. Panorama sepanjang Sungai Ayung sangatlah indah, ditambah dengan pahatan di tebing sungai, dan hijaunya pepohonan di sekitar sungai melengkapi keindahan Arung Jeram Sungai Ayung.

Lombok

From Wikipedia, the free encyclopedia

Related Posts:

lombok1Lombok is an island in West Nusa Tenggara Province, Indonesia. It forms part of the chain of the Lesser Sunda Islands, with the Lombok Strait separating it from Bali to the west and the Alas Strait between it and Sumbawa to the east. It is roughly circular, with a “tail” (Sekotong Peninsula) to the southwest, about 70 km across and a total area of about 4,514 km² (1,825 sq mi). The provincial capital and largest city on the island is Mataram. It is somewhat similar in size and density with neighboringBali and shares some cultural heritage, but is administratively part of Nusa Tenggara Barat along with sparsely populatedSumbawa. It is surrounded by a number of smaller islands locally called Gili.

The island was home to some 3.17 million Indonesians as recorded in the decennial 2010 census; the latest estimate (for January 2014) gives the population as 3,311,044.

Lombok Gallery

south_lombok

Aan Beach

1024px-lombok_wedding_party_1998

Sasaknese Wedding

camping_above_the_clouds_at_rinjani

Camping over the top of Mount Rinjani

padang_bai_banner

The Padang-bai Harbor with its ferries, tourist boats and fishing boats

senggigi_beach_by_pura_batubolong

Senggigi Beach

senaru_waterfall

Senaru Waterfall

Various cuisine from Lombok such as:

1024px-ayam_bakar_khas_taliwang_2

Taliwang Grilled Chicken

1024px-sup_kikil_lombok

Lomboknese Kikil Soup

sate_suranadi

Bulayak Satay

Administration

lombok2Lombok is under the administration of the Governor of the province of West Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Barat). The province is administered from the provincial capital of Mataram in West Lombok.

The island is administratively divided into four kabupaten (regencies) and one kota (city). They are as follows, with their areas and populations at the 2010 Census and according to the latest (January 2014) official estimates:

population

rinjani_volcano_satellite_rotated

Lombok Island, Indonesia

History

Little is known about the Lombok before the seventeenth century. Before this time it was made up of numerous competing and feuding petty states each of which were presided over by a Sasak ‘prince’. This disunity was taken advantage of by the neighbouring Balinese who took control of western Lombok in the early seventeenth century.

hoofden_van_lombok_1870-1890

The Sasak chiefs of Lombok that allied with the Dutch to resist Balinese occupation.

The Makassarese meanwhile invaded eastern Lombok from their colonies in neighbouring Sumbawa. The Dutch had first visited Lombok in 1674 and the Dutch East India Companyconcluded its first treaty with the Sasak Princess of Lombok. The Balinese had managed to take over the whole island by 1750, but Balinese infighting resulted in the island being split into four feuding Balinese kingdoms. In 1838, the Mataram kingdom brought its rivals under control.

Relations between the Sasak and Balinese in western Lombok were largely harmonious and intermarriage was common. In the island’s east, however, relations were less cordial and the Balinese maintained control from garrisoned forts. While Sasak village government remained in place, the village head became little more than a tax collector for the Balinese. Villagers became a kind ofserf and Sasak aristocracy lost much of its power and land holdings.

bali-lombok-map

During one of the many Sasak peasant rebellions against the Balinese, Sasak chiefs sent envoys to the Dutch in Bali and invited them to rule Lombok. In June 1894, the governor general of the Dutch East Indies, Van der Wijck, signed a treaty with Sasak rebels in eastern Lombok. He sent a large army to Lombok and the Balinese raja capitulated to Dutch demands.(see Dutch intervention in Lombok) The younger princes however overruled the raja and attacked and routed the Dutch. The Dutch counterattacked overrunning Mataram and the raja surrendered. The entire island was annexed to the Netherlands East Indies in 1895. The Dutch ruled over Lombok’s 500,000 people with a force of no more than 250 by cultivating the support of the Balinese and Sasak aristocracy. The Dutch are remembered in Lombok as liberators from Balinese hegemony.

During World War II a Japanese invasion force comprising elements of the 2nd Southern Expeditionary Fleet invaded and occupied the Lesser Sunda Islands, including the island of Lombok. They sailed from Soerabaja harbour at 09:00 hrs on 8 March 1942 and proceeded towards Lombok Island. On 9 May 1942 at 17:00 hrs the fleet sailed into port of Ampenan on Lombok Island. The Dutch defenders were soon defeated and the island occupied.[6]

Following the cessation of hostilities the Japanese forces occupying Indonesia were withdrawn and Lombok returned temporarily to Dutch control. Following the subsequent Indonesian independence from the Dutch, the Balinese and Sasak aristocracy continued to dominate Lombok. In 1958, the island was incorporated into the province of West Nusa Tenggara with Mataram becoming the provincial capital. Mass killings of communists occurred across the island following the abortive coup attempt in Jakarta and Central Java. DuringPresident Suharto’s New Order administration, Lombok experienced a degree of stability and development but not to the extent of the boom and wealth in Java and Bali. Crop failures led to famine in 1966 and food shortages in 1973. The national government’s transmigrasiprogram moved a lot of people out of Lombok. The 1980s saw external developers and speculators instigate a nascent tourism boom although local’s share of earnings was limited. Indonesia’s political and economic crises of the late 1990s hit Lombok hard. In January 2000, riots broke out across Mataram with Christians and ethnic Chinese the main victims, with alleged agents provocateur from outside Lombok. Tourism slumped, but in recent years has seen a renewed growth.

Geography

640px-lombok_1894_j-_hoynck_van_papendrecht_1858_1933

Dutch intervention in Lombok and Karangasem against the Balinese in 1894.

The Lombok Strait lies to the immediate west of the island, marking the passage of the biogeographical division between the prolific fauna of the Indomalayan ecozone and the distinctly different, but similarly prolific, fauna of Australasia—this distinction is known as the “Wallace Line” (or “Wallace’s Line”) and is named after Alfred Russel Wallace. Wallace was the first person to comment on the division between the two regions, as well as the abrupt boundary between the two biomes.

To the east of Lombok lies the Alas Strait, a narrow body of water separating the island of Lombok from the nearby island of Sumbawa to the east.

75_ct_diamond_lombok_treasure_museum_volkenkunde_leiden

A 75 carat diamond on exhibit at the Museum Volkenkunde, Leiden. It was taken, together with 230 kg (507 lb) of gold, 7,000 kg (15,432 lb) of silver and three chests of jewels and precious stones from the royal palace of Lombok after a Dutch invasion in 1894. Only part of the treasure was handed back to Indonesia in 1977

The island’s topography is dominated by the centrally-located stratovolcano Mount Rinjani, the second highest volcano in Indonesia which rises to 3,726 m (12,224 ft). The most recent eruption of Rinjani was in September 2016 at Gunung Barujari. In a 2010 eruption, ash was reported as rising 2 km into the atmosphere from the Barujari cone in Rinjani’s caldera lake of Segara Anak. Lava flowed into the caldera lake raising its temperature while crops on the slopes of Rinjani were damaged by ash fall. The volcano, and its crater lake, ‘Segara Anak’ (child of the sea), are protected by the Gunung Rinjani National Park established in 1997. Recent evidence indicates an ancient volcano, Mount Samalas, of which now only a caldera remains, was the source of one of the largest volcanic eruptions in recorded history, causing worldwide changes in weather.

gunung_rinjani_from_gili_air_1

Mount Rinjani seen from Gili Air

The highlands of Lombok are forest clad and mostly undeveloped. The lowlands are highly cultivated. Rice, soybeans, coffee, tobacco,cotton, cinnamon, cacao, cloves, cassava, corn, coconuts, copra, bananas and vanilla are the major crops grown in the fertile soils of the island. The southern part of the island is fertile but drier, especially toward the southern coastline.

mt_rinjani_and_segara_anak_lake

Lake Segara Anak on top of Mt. Rinjani

The water supply in Lombok is stressed and this places strain upon both the water supply of the provincial capital, Mataram, and the island in general. The southern and central areas are reported to be the most critically affected. West Nusa Tenggara province in general is threatened with a water crisis caused by increasing forest and water table damage and degradation. 160 thousand hectares of a total of 1960 thousand hectares are thought to have been affected. The Head of Built Environment and Security Forest Service Forest West Nusa Tenggara Andi Pramari stated in Mataram on Wednesday, May 6, 2009 that, “If this situation is not addressed it can be expected that within five years it may be difficult for people to obtain water in this part of NTB (West Nusa Tenggara). Not only that, the productivity of agriculture in value added will fall, and the residents are experiencing water deficiency in their wells”. High cases of timber theft in the region of NTB are contributing to this problem.

In September 2010, Central Lombok some villagers were reported to be walking for several hours to fetch a single pail of water. Nieleando, a small coastal village about 50 kilometers from the provincial capital, Mataram, has seen dry wells for years. It has been reported that occasionally the problem escalates sufficiently for disputes and fighting between villagers to occur. The problems have been reported to be most pronounced in the districts of Jonggat, Janapria, Praya Timur, Praya Barat, Praya Barat Daya and Pujut. In 2010 all six districts were declared drought areas by provincial authorities. Sumbawa, the other main island of the province, also experienced severe drought in 2010, making it a province-wide issue.

List of islands

Lombok is surrounded by many islets, of which are:

Northwest: colloquially the Gili Islands (North Lombok Regency)

  • Gili Trawangan
  • Gili Meno
  • Gili Air

Northeast (East Lombok Regency)

  • Gili Lawang
  • Gili Sulat
  • Gili Petagan
  • Gili Bidara (Pasaran)
  • Gili Lampu
  • Gili Puyu
  • Gili Kondo

East Coast of Nusa Tenggara

  • Gili Puyuh
  • Gili Sulat

Southeast (East Lombok Regency)

  • Gili Indah
  • Gili Merengke
  • Gili Belek
  • Gili Ular

South Coast (West Lombok Regency)

  • Gili Solet
  • Gili Sarang Burung
  • Gili Kawu
  • Gili Puyuh
  • Gili Nanggu

Southwest (Sekotong Peninsula, West Lombok Regency)

  • Gili Nanggu
  • Gili Sudak
  • Gili Tangkong
  • Gili Kedis
  • Gili Poh
  • Gili Genting
  • Gili Lontar
  • Gili Layar
  • Gili Amben
  • Gili Gede
  • Gili Anyaran
  • Gili Layar
  • Gili Asahan

Demographics

The island’s inhabitants are 85% Sasak whose origins are thought to have migrated from Java in the first millennium BC. Other residents include an estimated 10–15% Balinese, with the small remainder being Tionghoa-peranakan, Javanese, Sumbawanese and Arab Indonesians.

The Sasak population are culturally and linguistically closely related to the Balinese, but unlike the Hindu Balinese, the majority are Muslim and the landscape is punctuated with mosques and minarets. Islamic traditions and holidays influence the Island’s daily activities.

In 2008 the Island of Lombok had 866,838 households and an average of 3.635 persons per household.

The 2010 census recorded a population of 4,496,855 people[4] in the province of NTB, of which 70.42% reside on Lombok, giving it a population of 3,166,789 at that date.

Religion

800px-traditional_sasak_village_sade_houses

Traditional Sasak houses

The island’s indigenous Sasak people are predominantly Muslim however before the arrival of Islam Lombok experienced a long period of Hindu and Buddhist influence that reached the island through Java. A minority Balinese Hindu culture remains in Lombok. Islam may have first been brought to Lombok by traders arriving from Sumbawa in the 17th century who then established a following in eastern Lombok. Other accounts describe the first influences arriving in the first half of the sixteenth century.

lombokbayan

The oldest mosque dating from 1634 in Bayan

According to the palm leaf manuscript Babad Lombok which contains the history of Lombok describes how Sunan Prapen was sent by his father The Susuhunan Ratu of Giri on a military expedition to Lombok and Sumbawa in order to convert the population and propagate the new religion. However, the new religion took on a highly syncretistic character, frequently mixing animist and Hindu-Buddhist beliefs and practices with Islam.

pura_meru

Pura Meru in Mataram, a Hindu temple built in 1720.

A more orthodox version of Islam increased in popularity in the early twentieth century. The Indonesian government agamaization programs (acquiring of a religion) in Lombok during 1967 and 1968 led to a period of some considerable confusion in religious allegiances and practices. These agamaization programs later led to the emergence of more conformity in religious practices in Lombok. The Hindu minority religion is still practised in Lombok alongside the majority Muslim religion.

Hinduism is followed by ethnic Balinese and by a minority of the indigenous Sasak. All the main Hindu religious ceremonies are celebrated in Lombok and there are many villages throughout Lombok that have a Hindu majority population. According to local legends two of the oldest villages on the island, Bayan and Sembalun, were founded by a prince of Majapahit.

According to the 2010 population census declared adherents of Hinduism numbered 101,000 people with the highest concentration in the Mataram Regency where they accounted for 14% of the population.

The Ditjen Bimas Hindu (DBH)/ Hindu Religious Affairs Directorate’s own analysis conducted in close association with Hindu communities throughout the country found that the number of Hindus in the population are much higher than counted in the government census. The survey carried out in 2012 found the Hindu population of Lombok to be 445,933. This figure is more in line with the commonly stated view that 10-15% of the Islands population is Hindu.

tanjungbuddhtemple

Budhist Temple near Tamjung on the north coast

The Nagarakertagama, the 14th century palm leaf poem that was found on Lombok, places the island as one of the vassals of the Majapahit empire. This manuscript contained detailed descriptions of the Majapahit Kingdom and also affirmed the importance of Hindu-Buddhism in the Majapahit empire by describing temple, palaces and several ceremonial observances.

Christianity is practised by a small minority including some ethnic Chinese and immigrants from Bali and East Nusa Tenggara. There are Roman Catholic churches and parishes in Ampenan, Mataram, Praya and Tanjung. There is a catholic hospital in Mataram as well. Two Buddhist temples can be visited in and around Tanjung where about 800 Buddhists live.

The history of a small Arab community in Lombok has history dating back to early settlement by traders from Yemen. The community is still evident mainly in Ampenan, the old Port of Mataram. Due to the siting of a UNHCR refugee centre in Lombok some refugees from middle eastern countries have intermarried with Lombok people.

459px-collectie_tropenmuseum_lombokkers_in_feesttenue_voeren_een_traditionele_krijgsdans_uit-_tmnr_60004285

Indigenous Sasak dancers performing traditional Lombok wardance c. 1880

A non-orthodox Islamic group found only on Lombok are the Wektu Telu (“Three times”), who pray three times daily, instead of the five times stipulated in the Quran. Waktu Telu beliefs are entwined with animism, and is influenced not only by Islam, but also Hinduism and pantheistic beliefs. There are also remnants of Boda who maintain Pagan Sasak beliefs and could be representative of an original Sasak culture, undiluted by later Islamic innovations.

789px-sasak1

Local Sasak children (c. 1997)

Many influences of animist belief prevail within the Sasak people, most of whom believe in the existence of spirits or ghosts. They regard both food and prayer as indispensable whenever they seek to communicate with spirits, including the dead and ritualistic traditional practices endure.

Traditional magic is practised to ward off evil and illness and to seek solutions to disputations and antipathy. Magic may be practised by an individual alone but normally a person experienced in such things is sought out to render a service. Normally money or gifts are made to this person and the most powerful practitioners are treated with considerable respect.

Economy and Politics

Many of the visitors to Lombok and much of the islands goods come across the Lombok Strait by sea or air links from Bali. Only 40 kilometres (25 mi) separate the two islands. Lombok is often marketed as “an unspoiled Bali,” or “Bali’s sister island.” Currently with support of the central government Lombok and Sumbawa are being developed as Indonesia 2nd destination for international and domestic tourism.

Lombok has retained a more natural, uncrowded and undeveloped environment, which attract travelers who come to enjoy its relaxed pace and the opportunity to explore the island’s unspoiled, spectacular natural beauty. The more contemporary marketing campaigns for Lombok/Sumbawa seek to differentiate from Bali and promote the island of Lombok as a standalone destination. The opening of the Lombok International Airport on 1 October 2011 assisted in this endeavour.

Nusa Tenggara Barat and Lombok may be considered economically depressed by First World standards and a large majority of the population live in poverty. Still, the island is fertile, has sufficient rainfall in most areas for agriculture, and possesses a variety of climate zones.

Consequently, food in abundant quantity and variety is available inexpensively at local farmer’s markets, though locals still suffer from famine due to drought and subsistence farming. A family of 4 can eat rice, vegetables, and fruit for as little as US$0.50. Even though a family’s income may be as small as US$1.00 per day from fishing or farming, many families are able to live a contented and productive life on such astonishingly small incomes.

However, the people of Lombok are coming under increasing pressure from rising food and fuel prices. Access to housing, education and health services remains difficult for many of the island’s indigenous population.

The percentage of the population living in poverty in urban areas of Nusa Tenggara Barat in 2008 was 29.47% and in 2009 it was 28.84%. For those living in rural areas in 2008 it was 19.73% and in 2009 it reduced marginally to 18.40% For combined urban and village the figures were 23.81% and in 2009 it fell slightly to 22.78%.

In Mataram in 2008 the percentage of the population that was unmarried was 40.74%, married 52.01%, divorced 2.51% and widowed 4.75%.

Tourism

Tourism is an important source of income on Lombok. The most developed tourism area of the island is on the west coast of the island and is centered about the township of Senggigi. The immediate surrounds of the township contain the most developed tourism facilities. The west coast coastal tourism strip is spread along a 30 km strip following the coastal road north from Mataram and the old airport at Ampenan.

400px-lombok_traditional_hand_weaving

One of the unique traditional crafts from Lombok

The principal tourism area extends to Tanjung in the northwest at the foot of Mount Rinjani and includes the Sire and Medana Peninsulas and the highly popular Gili Islands lying immediately offshore. These three small islands are most commonly accessed by boat from Bangsal near Pemenang, Teluk Nare a little to the south, or from further south at Senggigi and Mangsit beach.

442px-gili_islands__gunung_rinjiani_lombok_indonesia

The Gili Islands

Many hotels and resorts offer accommodations ranging from budget to luxurious. Recently direct fast boat services have been running from Bali making a direct connection to the Gili islands. Although rapidly changing in character, the Gili islands still provide both a lay-back backpacker’s retreat and a high class resort destination.

Exif_JPEG_PICTURE

Manta ray Biorock reef in Gili Islands

Other tourist destinations include Mount Rinjani, Gili Bidara, Gili Lawang, Narmada Park and Mayura Park and Kuta (distinctly different from Kuta, Bali). Sekotong, in southwest Lombok, is popular for its numerous and diverse scuba diving locations.

The Kuta area is also famous for its beautiful, largely deserted, white sand beaches. The Small town is rapidly developing since the opening of the International airport in Praya. Increasing amounts of surfers from around the globe come here seeking out perfect surf and the slow and rustic feel Lombok.

South Lombok surfing is considered some of the best in the world. Large polar lows push up through theIndian Ocean directing long range, high period swell from as far south as Heard Island from late March through to September or later. This conicides with the dry season and South-East trade winds that blow like clock work. Lombok is famous for its diversity of breaks, which includes world-renowned Desert Point at Banko Banko in the southwest of the island.

The northern west coast near Tanjung has many new upmarket hotel and villa developments centreed about the Sire and Medana peninsular nearby to the Gili islands and a new boating marina at Medana bay. These new developments complement the already existing 5 star resorts and a large golf course already established there.

Pre-2000

Tourist development started in the mid-1980s, when Lombok attracted attention as an ‘unspoiled’ alternative to Bali. Initially, low budget bungalows proliferated at places like the Gili islands and Kuta, Lombok on the South Coast. These tourist accommodations were largely owned by and operated by local business entrepreneurs. Areas in proximity to the airport, places like Sengiggi, experienced rampant land speculation for prime beachfront land by big businesses from outside Lombok.

800px-kuta_lombok_mawun_beach

Mawun Beach

In the 1990s the national government in Jakarta began to take an active role in planning for and promoting Lombok’s tourism. Private organizations like the Bali Tourism Development Corporation (BTDC) and the Lombok Tourism Development Corporation (LTDC) were formed. LTDC prepared detailed land use plans with maps and areas zoned for tourist facilities. Large hotels provide primary employment for the local population. Ancillary business, ranging from restaurants to art shops have been started by local businessmen. These businesses provide secondary employment for local residents.

1997 to 2007

The 1997 Asian Financial Crisis and the fall of Suharto regime in 1998 marked the beginning a decade of setbacks for tourism. Spurred by rapid devaluation of the currency and the transition to true democracy caused all of Indonesia to experience a period of domestic unrest. Many of Indonesian Provinces struggled with elements of the population desiring autonomy or independence from the Republic of Indonesia. At the same time fanatical Islamic terrorism in Indonesia further aggravated domestic unrest across the archipelago.

In Jan 2000, radical Islamic agitators from the newly formed Jemaah Islamiyah provoked religious and ethnic violence in the Ampenan area of Mataram and the southern area of Senggigi. Many foreign expatriates and tourists were temporarily evacuated to Bali. Numerous foreign embassies issued Travel Warnings advising of the potential danger of traveling to Indonesia.

Subsequently, the 2002 Bali bombings, the 2005 Bali bombings and the Progress of the SARS outbreak in Asia all dramatically impacted tourism activities in Lombok. Tourism was slow to return to Lombok, provoked in part by a worldwide reluctance to travel because of global tensions. Only since 2007–2008, when most developed countries lifted their Travel Warnings has tourism recovered to the pre-2000 levels.

2008 to the present

The years leading up to 2010 has seen a rapid revival and promotion of tourism recovery in the tourism industry. The number of visitors has far surpassed the pre-2000 levels. All signs indicate the long-term trend will see a steady increase in the number of visitor arrivals.

labuhanlombokharbour

Harbour of Labuhan Lombok

Both the local government and many residents recognise that tourism and services related to tourism will continue to be a major source of income for the island. The island’s natural beauty and the customary hospitality of its residents make it an obvious tourist destination.

Lombok retains the allure of an undeveloped and natural environment. Tourism visits to this tropical island are increasing again as both international and local tourists are re-discovering the charms of Lombok. With this new interest comes the development of a number of boutique resorts on the island providing quality accommodation, food and drinks in near proximity to relatively unspoiled countryside.

The Indonesian government is actively promoting both Lombok and neighboring Sumbawa as Indonesia’s number two tourism destination after Bali. The President of Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, the Ministry of Cultural and Tourism and the regional Governor have made public statements supporting the development of Lombok as a tourism destination and setting a goal of 1 million visitors annually by the year 2012 for the combined destination of Lombok and Sumbawa.  

This has seen infrastructure improvements to the island including road upgrades and the construction of a much delayed new International airport in the islands south. Despite this, Sumbawa retains a very rustic feel compared to Lombok.

Lombok International Airport (Bandara Internasional Lombok) (IATA: LOP, ICAO: WADL) is south west of the small regional city of Prayain South central Lombok. It commenced operations on 1 October 2011. It replaced Selaparang airport near Ampenan. It is the only operational international airport within the province of West Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Barat).

Selaparang Airport in Ampenan was closed for operations on the evening of 30 September 2011. It previously provided facilities for domestic services to Java, Bali, and Sumbawa and international services to Singapore to Kuala Lumpur via Surabaya and Jakarta. It was the island’s original airport and is situated on Jalan Adi Sucipto on the north western outskirts of Mataram. The terminals and basic airport infrastructure remain intact but it is closed to all civil airline traffic.

Lembar Harbor seaport in the southwest has shipping facilities and a ferry for road vehicles and passenger services. In 2013, the gross tonnage is 4.3 million Gross Tonnages or increase by 72 percent from 2012 data means in Lombok and West Nusa Tenggara the economy progress significantly. Labuhan Lombok ferry port on the east coast provides a ferry for road vehicles and passenger services to Poto Tano on Sumbawa.

Pelni Shipping Line provides a national network of passenger ship services throughout the Indonesian archipelago. Pelni have offices in Ampenan.

Transport between Bali and Lombok

Flights from Ngurah Rai International Airport (IATA: DPS) to Lombok International Airport (IATA: LOP) take about 40 minutes. Lombok international airport is located in southwest Lombok, 1.5 hours drive to Senggigi main tourist areas in the west Lombok, 2 hours drive to the jetty of Teluk Nara before you cross to Gili Islands and about 30 minutes drive to Kuta south Lombok.

800px-lombok_international_airport

Lombok International Airport

Public Ferries depart from Padang Bai (Southeast Bali) and Lembar (Southwest Lombok) every hour, taking a minimum of 4–5 hours make the crossing in either direction.

Fastboat services are available from various departure points on Bali and principally serve the Gili Islands, with some significant onward traffic to the Lombok mainland. Arrival points on Lombok are dependent upon the operator, at either Teluk Nare/Teluk Kodek, Bangsal harbour or the township of Senggigi, all on the northwest coast. Operating standards vary widely.

Water Resources

Areas in southern Lombok Island were classified as arid and prone to water shortages due to low rainfall and lack of water sources. On May 2011, grounbreaking ceremony has done to initial the Pandanduri dam construction which will span about 430 hectares and cost estimated Rp.800 billion ($92.8 million) to accommodate about 25.7 million cubic meters of water and be able to irrigate 10,350 hectares of farmland. The project would be finished by the next five years.

 

 

 

Surakarta

Pasangan wali kota dan wakil wali kota, yang sering disebut sebagai Jokowi-Rudy, pertama kali terpilih sebagai wali kota Surakarta untuk masa bakti 2005-2010

balaikota_solo_by_bennylin_04-01

surakarta-1-vertKota Surakarta (Hanacaraka: ꦑꦸꦛꦯꦸꦫꦏꦂꦠ), juga disebut Solo atau Sala (ꦱꦭ), adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Kota ini juga merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang menurut jumlah penduduk. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.

Nama

“Sala” adalah satu dari tiga dusun yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II atas saran dari Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, ketika akan mendirikan istana baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura.

Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih merujuk kepada penyebutan umum yang dilatarbelakangi oleh aspek kultural. Kata sura dalam Bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti “makmur”, sebagai sebuah harapan kepada Yang Maha Kuasa. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura. Kata sala, nama yang dipakai untuk desa tempat istana baru dibangun, adalah nama pohon suci asal India, yaitu pohon sala (Couroupita guianensis atau Shorea robusta).

Ketika Indonesia masih menganut Ejaan van Ophuysen, nama kota ini ditulis Soerakarta. Dalam aksara Jawa modern, ditulis ꦱꦸꦫꦏꦂꦠ atauꦯꦸꦫꦑꦂꦡ. Nama “Surakarta” diberikan sebagai nama “wisuda” bagi pusat pemerintahan baru Mataram. Namun, sejumlah catatan lama menyebut, bentuk antara “Salakarta”.

Sejarah

Masa Pra-kemerdekaan

Eksistensi kota ini dimulai di saat Sunan Pakubuwana II, raja Kesultanan Mataram, memindahkan kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala, sebuah desa yang tidak jauh dari tepi Bengawan Solo, karena istana Kartasura hancur akibat serbuan pemberontak. Sunan Pakubuwana II membeli tanah dari lurah Desa Sala, yaitu Kyai Sala, sebesar 10.000 ringgit (gulden Belanda) untuk membangun istana Mataram yang baru.

Secara resmi, istana Mataram yang baru dinamakan Keraton Surakarta Hadiningrat dan mulai di tempati tanggal 17 Februari 1745. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surakarta. Perjanjian Giyanti yang ditanda-tangani oleh Sunan Pakubuwana III, Belanda, dan Pangeran Mangkubumi pada 13 Februari 1755 membagi wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Selanjutnya wilayah Kasunanan Surakarta semakin berkurang, karena Perjanjian Salatiga yang diadakan pada 17 Maret 1757 menyebabkan Raden Mas Said diakui sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaan berstatus kadipaten, yang disebut dengan namaPraja Mangkunegaran. Sebagai penguasa Mangkunegaran, Raden Mas Said bergelar Adipati Mangkunegara I.

Masa Kemerdekaan

Daerah Istimewa Surakarta

Kekuasaan politik kedua kerajaan ini dilikuidasi setelah berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama 10 bulan, Surakarta berstatus sebagai daerah istimewa setingkat provinsi, yang dikenal sebagai Daerah Istimewa Surakarta.

Karesidenan Surakarta

Selanjutnya, karena berkembang gerakan antimonarki di Surakarta serta kerusuhan, penculikan, dan pembunuhan pejabat-pejabat DIS, pada tanggal 16 Juni 1946 pemerintah membubarkan DIS dan menghilangkan kekuasaan raja-raja

Kasunanan dan Mangkunegaran. Status Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaran menjadi rakyat biasa di masyarakat dan keraton diubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Kemudian Surakarta ditetapkan menjadi tempat kedudukan dari residen, yang memimpin Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) dengan luas daerah 5.677 km². Karesidenan Surakarta terdiri dari daerah-daerah Kota Praja Surakarta

  • Kabupaten Karanganyar
  • Kabupaten Sragen
  • Kabupaten Wonogiri
  • Kabupaten Sukoharjo
  • Kabupaten Klaten
  • Kabupaten Boyolali

Tanggal 16 Juni 1946 diperingati sebagai hari jadi Pemerintah Kota Surakarta era modern.

Kota Surakarta

Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.

Geografi dan Administrasi

20120814181201peta_solo

Hidrogeologi

Surakarta terletak di dataran rendah di ketinggian 105 m dpl dan di pusat kota 95 m dpl, dengan luas 44,1 km2 (0,14 % luas Jawa Tengah). Surakarta berada sekitar 65 km timur laut Yogyakarta, 100 km tenggara Semarang dan 260 km barat daya Surabaya serta dikelilingi oleh Gunung Merbabu (tinggi 3145 m) dan Merapi (tinggi 2930 m) di bagian barat, dan Gunung Lawu (tinggi 3265 m) di bagian timur. Agak jauh di selatan terbentang Pegunungan Sewu. Tanah di sekitar kota ini subur karena dikelilingi oleh Bengawan Solo, sungai terpanjang di Jawa, serta dilewati oleh Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Jenes.

bengawan_solo_topography_map

Aliran sungai Bengawan Solo

Mata air bersumber dari lereng gunung Merapi, yang keseluruhannya berjumlah 19 lokasi, dengan kapasitas 3.404 l/detik. Ketinggian rata-rata mata air adalah 800-1.200 m dpl. Pada tahun 1890 – 1827 hanya ada 12 sumur di Surakarta. Saat ini pengambilan air bawah tanah berkisar sekitar 45 l/detik yang berlokasi di 23 titik. Pengambilan air tanah dilakukan oleh industri dan masyarakat, umumnya ilegal dan tidak terkontrol.

Sampai dengan Maret 2006, PDAM Surakarta memiliki kapasitas produksi sebesar 865,02 liter/detik. Air baku berasal dari sumber mata air Cokrotulung, Klaten(387 liter/detik) yang terletak 27 km dari kota Solo dengan elevasi 210,5 di atas permukaan laut dan yang berasal dari 26 buah sumur dalam, antara lain di Banjarsari, dengan total kapasitas 478,02 liter/detik. Selain itu total kapasitas resevoir adalah sebesar 9.140 m3.Dengan kapasitas yang ada, PDAM Surakarta mampu melayani 55,22% masyarakat Surakarta termasuk kawasan hinterland dengan pemakaian rata-rata 22,42 m3/bulan.

Tanah di Solo bersifat pasiran dengan komposisi mineral muda yang tinggi sebagai akibat aktivitas vulkanik Merapi dan Lawu. Komposisi ini, ditambah dengan ketersediaan air yang cukup melimpah, menyebabkan dataran rendah ini sangat baik untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan industri, seperti tembakau dan tebu.

Namun, sejak 20 tahun terakhir industri manufaktur dan pariwisata berkembang pesat sehingga banyak terjadi perubahan peruntukan lahan untuk kegiatan industri dan perumahan penduduk.

Iklim dan Topografi

Menurut klasifikasi iklim Koppen, Surakarta memiliki iklim muson tropis. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, musim hujan di Solo dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September.

Rata-rata curah hujan di Solo adalah 2.200 mm, dan bulan paling tinggi curah hujannya adalah Desember, Januari, dan Februari. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius.

Suhu udara tertinggi adalah 32,5 derajat Celsius, sedangkan terenda adalah 21,0 derajat Celsius. Rata-rata tekanan udara adalah 1010,9 MBS dengan kelembaban udara 75%. Kecepatan angin 4 Knot dengan arah angin 240 derajat.

data-iklim-surakarta

Batas-batas Administrasi

surakarta_day_view-1

Kota Surakarta terletak di antara 110 45` 15″ – 110 45` 35″ Bujur Timur dan 70` 36″ – 70` 56″ Lintang Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.

Di masing-masing batas kota terdapat Gapura Kasunanan yang didirikan sekitar tahun 1931–1932 pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana X di Kasunanan Surakarta. Gapura Kasunanan didirikan sebagai pembatas sekaligus pintu gerbang masuk ibu kota kerajaan (Kota Surakarta) dengan wilayah sekitar. Gapura Kasunanan tidak hanya didirikan di jalan penghubung, namun juga didirikan di pinggir sungai Bengawan Solo yang pada waktu itu menjadi dermaga dan tempat penyeberangan (di Mojo/Silir).

Ukuran Gapura Kasunanan terdiri dari dua ukuran yaitu berukuran besar dan kecil. Gapura Kasunanan ukuran besar didirikan di jalan besar. Gapura Kasunanan ukuran besar bisa dilihat di Grogol (selatan), Jajar (barat), dan Jurug (timur). Sedangkan Gapura Kasunanan ukuran kecil bisa dilihat di daerah RS Kandang Sapi (utara), jalan arah Baki di Solo Baru (selatan), Makamhaji (barat), dan di Mojo/Silir. Gapura Kasunanan besar juga memiliki prasasti waktu pendirian gapura.

Pembagian Administratif

Kota Surakarta dan kabupaten-kabupaten di sekelilingnya, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, secara kolektif masih sering disebut sebagai eks-Karesidenan Surakarta. Surakarta dibagi menjadi 5 kecamatan yang masing-masing dipimpin oleh seorang camat dan 51 kelurahan yang masing-masing dipimpin oleh seorang lurah. Kelima kecamatan di Surakarta adalah:

  • Kecamatan Pasar Kliwon (57110): 9 kelurahan
  • Kecamatan Jebres (57120): 11 kelurahan
  • Kecamatan Banjarsari (57130): 13 kelurahan
  • Kecamatan Lawiyan (disebut juga Laweyan, 57140): 11 kelurahan
  • Kecamatan Serengan (57150): 7 kelurahan

balaikota_solo_by_bennylin_04-01

Balai kota Surakarta

Kota Satelit

Surakarta dan kota-kota satelitnya (Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki, Ngemplak) adalah kawasan yang saling berintegrasi satu sama lain. Kawasan Solo Raya ini unik karena dengan luas kota Surakarta sendiri yang hanya 44 km persegi dan dikelilingi kota-kota penyangganya yang masing-masing luasnya kurang lebih setengah dari luas kota Surakarta dan berbatasan langsung membentuk satu kesatuan kawasan kota besar yang terpusat.

Solo Baru (Soba) merupakan kawasan yang dimekarkan dari kota Solo. Solo baru selain sebagai salah satu kota satelit dari Kota Surakarta juga merupakan kawasan permukiman bagi para pekerja atau pelaku kegiatan ekonomi di kawasan Kota Surakarta.

Di Solo Baru banyak terdapat perumahan sedang dan mewah, maka dari itu Solo Baru juga merupakan kawasan permukiman elit. Di Solo Baru juga terdapat pasar swalayan Carrefour. Pandawa waterboom yang merupakan waterboom terbesar di Jawa Tengah dan Yogyakarta terdapat di kawasan ini.

Meskipun termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukoharjo tetapi secara ekonomi dan politis Solo Baru lebih dekat ke Kota Surakarta, karena letak wilayah kotanya yang langsung berbatasan dengan Kota Surakarta, bahkan pernah ada wacana tentang penggabungan wilayah wilayah kota satelit di sekitar Surakarta termasuk Solo Baru untuk dimasukkan ke dalam wilayahnya. Luas wilayah Kota Surakarta beserta wilayah-wilayah kota penyangganya saat ini sekitar 150 km² dengan jumlah penduduknya sekitar 1 juta jiwa.

Pemerintahan

Surakarta terletak di Provinsi Jawa Tengah. Sebelum bergabung dengan Indonesia, Surakarta diperintah oleh Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaran. Semasa dikuasai oleh Belanda, Surakarta dikenal sebagai sebuah Vorstenland atau wilayah kerajaan. Penguasa Kasunanan Surakarta saat ini adalah Sunan Pakubuwana XIII, dan penguasa Praja Mangkunegaran saat ini adalah Adipati Mangkunegara IX. Kedua penguasa monarki seremonial ini tidak memiliki kekuasaan politik di Surakarta.

Secara yuridis Kota Surakarta terbentuk berdasarkan Penetapan Pemerintah tahun 1946 Nomor 16/SD, yang diumumkan pada tanggal 15 Juli. Dengan berbagai pertimbangan faktor-faktor historis sebelumnya, tanggal 16 Juni 1946 ditetapkan sebagai hari jadi Pemerintah Daerah Kota Surakarta.

Wali Kota

Wali kota Surakarta sejak Juli 2015 dijabat oleh pejabat sementara, merangkap sebagai Sekretaris Daerah, Boeddy Soeharto. Sebelumnya jabatan ini dijabat oleh F.X. Hadi Rudyatmo yang menggantikan Ir. Joko Widodo yang dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta tanggal 15 Oktober 2012.

Pasangan wali kota dan wakil wali kota, yang sering disebut sebagai Jokowi-Rudy, pertama kali terpilih sebagai wali kota Surakarta untuk masa bakti 2005-2010. Kemudian pasangan dari PDI-P ini terpilih lagi untuk masa bakti kedua dengan perolehan suara lebih dari 90% untuk masa jabatan 2010-2015.

Di bawah kepemimpinan Jokowi dan Rudy, Surakarta mengalami perubahan yang pesat. Para pedagang barang bekas di Taman Banjarsari dapat direlokasi hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka.

Investor diberi syarat untuk mau memikirkan kepentingan publik. Komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) diadakan secara rutin dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang telantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman.

Sebagai tindak lanjut branding, Jokowi mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Sejak 1 Oktober 2012 Wali Kota Surakarta Ir. Joko Widodo mengundurkan diri dari jabatan wali kota setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012 – 2017.

Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008”.

Pada tanggal 17 April 2013, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo resmi melantik Dr. H. Achmad Purnomo sebagai wakil wali kota Surakarta menggantikan F.X. Hadi Rudyatmo yang menjadi wali kota Surakarta.

Julukan dan Semboyan

solo-spirit-of-javaSurakarta memiliki semboyan “Berseri”, akronim dari “Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah”, sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Surakarta mengambil slogan pariwisata Solo, The Spirit of Java (Jiwanya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Slogan Solo The Spirit of Java diperoleh dari hasil sayembara yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surakarta pada 4 Oktober sampai 14 November 2005 yang dimenangkan oleh Dwi Endang Setyorini (warga Giriroto, Ngemplak, Boyolali). Logonya, dikerjakan oleh perusahaan periklanan pemenang pitching (tender), yaitu Freshblood Indonesia (Surakarta) dan didampingi oleh tim konsultan desain Optimaxi (Jakarta) di bawah pengawasan GTZ dalam rangkaian program Regional Economic Development (RED) atau GTZ-RED.

Perancangan logo berlangsung sekitar enam bulan di Surakarta. Selama masa itu diselenggarakan sesi konsultasi dengan Badan Koordinasi Antar Daerah (BKAD) dan tokoh masyarakat, yang puncak sosialisasinya digelar di Ballroom Hotel Quality (The Sunan Hotel saat ini), dihadiri beragam kalangan sebagai representasi wilayah Solo Raya.

Tim perancang bekerja dengan bekal slogan hasil sayembara dan dituntut menjabarkan konsep Spirit of Java dalam wujud visual. Identitas visual yang berupa tulisan ”Solo” beserta slogan di bawahnya dengan aksen huruf ”O” berbentuk relung diperoleh dari ekstraksi konsep visual yang merefleksikan kesan Jawa dalam tampilannya. Relung dalam logo bisa saja mengingatkan orang pada ornamen keris, batik, atau mebel yang merujuk pada wilayah (Jawa).

Selain itu Kota Surakarta juga memiliki beberapa julukan, antara lain Kota Batik, Kota Budaya, Kota Liwet. Penduduk Surakarta disebut sebagai wong Solo, dan istilah putri Solo juga banyak digunakan untuk menyebut wanita yang memiliki karakteristik mirip wanita dari Surakarta.

Kependudukan

Salah satu sensus paling awal yang dilakukan di wilayah Karesidenan Surakarta (Residentie Soerakarta) pada tahun 1885 mencatat terdapat 1.053.985 penduduk, termasuk 2.694 orang Eropa dan 7.543 orang Tionghoa. Wilayah seluas 5.677 km² tersebut memiliki kepadatan 186 penduduk/km². Ibukota karesidenan tersebut sendiri pada tahun 1880 memiliki 124.041 penduduk.

abdi_dalem_keraton_surakarta

Abdi dalem Keraton Surakarta mengenakan busana Jawi Jangkep Sowan Keraton. Suku Jawa merupakan etnis mayoritas di Kota Surakarta, dan Surakarta merupakan kota pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa.

Jumlah penduduk kota Surakarta pada tahun 2010 adalah 503.421 jiwa[1], terdiri dari 270.721 laki-laki dan 281.821 wanita, yang tersebar di lima kecamatan yang meliputi 51 kelurahan dengan daerah seluas 44,1 km2. Perbandingan kelaminnya 96,06% yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 96 orang laki-laki. Angka ketergantungan penduduknya sebesar 66%. Catatan dari tahun 1880 [18] memberikan cacah penduduk 124.041 jiwa. Pertumbuhan penduduk dalam kurung 10 tahun terakhir berkisar 0,565 % per tahun.[19] Tingkat kepadatan penduduk di Surakarta adalah 11.370 jiwa/km2, yang merupakan kepadatan tertinggi di Jawa Tengah (kepadatan Jawa Tengah hanya 992 jiwa/km2).[20]

Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah[1] dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.

Daftar kecamatan di Surakarta

DAFTAR KECAMATAN SURAKARTA.png

Kecamatan terpadat di Surakarta adalah Pasar Kliwon, yang luasnya hanya sepersepuluh luas keseluruhan Surakarta, sedangkan Laweyan merupakan kecamatan dengan kepadatan terendah. Laju pertumbuhan penduduk Surakarta selama 2000-2010 adalah 0,25%, jauh di bawah laju pertumbuhan penduduk Jawa Tengah sebesar 0,46%.

Jika wilayah penyangga Surakarta juga digabungkan secara keseluruhan (Solo Raya: Surakarta, Kartasura, Colomadu, Ngemplak, Baki, Grogol, Palur), maka luasnya adalah 130 km². Penduduknya lebih dari 800.000 jiwa.

Pendidikan

Menurut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 68.153 siswa dan 869 sekolah di Surakarta, dengan perincian: 308 TK/RA, 292 SD/MI, 97 SMP/MTs, 56 SMA/MA, 46 SMK, 54 PT, dan 16 sekolah lain.

Di Surakarta terdapat dua universitas besar, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS),keduanya memiliki lebih dari 0 mahasiswa aktif dan termasuk katagori 50 universitas terbaik di Indonesia. Demikian pula terdapat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

universitas-sebelas-maret

Universitas Sebelas Maret, salah satu perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia

Selain itu terdapat 52 universitas swasta lainnya seperti Unisri ( Universitas Slamet Riyadi ), Universitas Tunas Pembangunan, Universitas Setia Budi, STIKES Muhammadiyah, Universitas Islam Batik, dll. Surakarta juga kini menjadi tempat tujuan studi para lulusan SMA dari seluruh Indonesia.

Perekonomian dan Perdagangan

Industri batik menjadi salah satu industri khas Surakarta. Sentra kerajinan batik dan perdagangan batik antara lain di Laweyan dan Kauman. Pasar Klewer serta beberapa pasar batik tradisional lain menjadi salah satu pusat perdagangan batik di Indonesia. Perdagangan di Surakarta berada di bawah naungan Dinas Industri dan Perdagangan.

pusat_grosir_solo

Pusat perdagangan batik di Pusat Grosir Solo

Selain Pasar Klewer, Surakarta juga memiliki banyak pasar tradisional, di antaranya Pasar Gedhe (Pasar Besar), Pasar Legi, dan Pasar Kembang. Pasar-pasar tradisional yang lain menggunakan nama-nama dalam bahasa Jawa, antara lain nama pasaran (hari) dalam Bahasa Jawa: Pasar Pon, Pasar Legi, sementara Pasar Kliwon saat ini menjadi nama kecamatan dan nama pasarnya sendiri berubah menjadi Pasar Sangkrah. Selain itu ada pula pasar barang antik yang menjadi tujuan wisata, yaitu Pasar Triwindu/Windu Jenar (setiap Sabtu malam diubah menjadi Pasar Ngarsopuro) serta Pasar Keris dan Cinderamata Alun-Alun Utara Keraton Surakarta.

Pusat bisnis kota Surakarta terletak di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini, termasuk Graha Soloraya, Loji Gandrung (rumah dinas wali kota). Pada hari minggu pagi, jalanan Slamet Riyadi khusus ditutup bagi kendaraan bermotor, untuk digunakan sebagai ajang Solo Car Free Day, sebagai bagian dari tekad pemda untuk mengurangi polusi. Beberapa mal modern di Surakarta antara lain Solo Square, Solo Grand Mall (SGM), Solo Paragon, Solo Center Point (SCP), Singosaren Plaza, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), Hartono Mall Solo Baru, Pusat Perbelanjaan Luwes (Ratu Luwes, Sami Luwes, Luwes Sangkrah, Luwes Gading, Luwes Nusukan, Luwes Mojosongo, Luwes Palur), dan Palur Plaza.

Sebagai salah satu kota yang maju, tentu saja di Surakarta juga telah berdiri usaha penginapan dari mulai homestay, losmen, bintang kelas melati hingga hotel berbintang 4 (empat) dan 5 (lima) diantaranya adalah Red Planet (hotel bintang 2, Mangkubumen), Amarelo Hotel (hotel bintang 3, Kemlayan), Grand Amira Hotel (hotel bintang 2, Pasar Kliwon), Amaris Hotel (hotel bintang 2, Sriwedari), Grand Orchid Hotel (hotel bintang 3, Timuran), The Sunan Hotel (hotel bintang 4, Kerten), Hotel Sahid Jaya (hotel bintang 5, Timuran), Simple In Solo (hotel bintang 1, Manahan), Novotel (hotel bintang 4, Timuran)

Surakarta memiliki beberapa pabrik yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang besar antara lain Sritex, Konimex, dan Jamu Air Mancur. Selain itu masih ada banyak pabrik-pabrik lain di zona industri Palur. Industri batik juga menjadi salah satu industri khas Surakarta.

Keberagaman

Bangunan ibadah bersejarah di Surakarta beragam, yang mencerminkan keberagaman kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Surakarta, mulai dari masjid terbesar dan paling sakral yang terletak di bagian barat Alun-alun Utara Keraton Kasunanan, Surakarta, yaitu Masjid Agung Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1763 atas prakarsa dari Sunan Pakubuwana III, Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di Surakarta, Gereja St. Petrus di Jl. Slamet Riyadi, Gereja St. Antonius Purbayan, hingga Tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie, ViharaAm Po Kian, dan Sahasra Adhi Pura.

great_mosque_of_solo

Masjid Agung Surakarta

Selain dihuni oleh Suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Surakarta. Walaupun tidak ada data pasti berapa jumlah masing-masing kepercayaan maupun etnis penduduk dalam sensus terakhir (2010), namun mereka banyak membaur di tengah-tengah warga Surakarta pada umumnya.

798px-tien_kok_sie

Klenteng Tien Kok Sie

Perkampungan Arab menempati tiga wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu di Kecamatan Pasar Kliwon. Penempatan kampung Arab secara berkelompok tersebut sudah diatur sejak zaman dulu untuk mempermudah pengurusan bagi etnis asing di Surakarta dan demi terwujudnya ketertiban dan keamanan. Etnis Arab mulai datang di Pasar Kliwon diperkirakan sejak abad ke-19. Terbentuknya perkampungan di Pasar Kliwon, selain disebabkan oleh adanya politik permukiman pada masa kerajaan, juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial.

Warto dalam penelitiannya menyebutkan pada tahun 1984, jumlah keturunan Arab adalah 1.877 jiwa, sementara jumlah warga Tionghoa adalah 103 jiwa. Berdasarkan data monografi kelurahan Pasar Kliwon tahun 2005, menyebutkan bahwa jumlah keturunan Arab adalah 1.775 jiwa, sedangkan keturunan Tionghoa adalah 135 jiwa.

Dari data tersebut dapat dilihat adanya penurunan jumlah penduduk keturunan Arab di Pasar Kliwon. Hal ini disebabkan karena lahan di kelurahan Pasar Kliwon semakin sempit sehingga terjadi perpindahan di daerah lain.

Sementara itu perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah, seperti Kelenteng Tien Kok Sie.

Layanan Publik

pedestrian_di_sepanjang_jalan_slamet_riyadiBeberapa rumah sakit bersejarah antara lain RS Kadipolo dan Rumah Sakit Panti Kosala (Kandang Sapi). Sementara rumah sakit lain dengan fasilitasUGD 24 jam antara lain RSUD Moewardi, RS PKU Muhammadiyah, RS Islam Surakarta (Yarsis), RS Kustati, RS Kasih Ibu, RS Panti Waluyo, RS Brayat Minulyo, dan RS Dr. Oen Solo Baru. RS Ortopedi Dr. Soeharso adalah salah satu pusat ortopedi terkemuka di Indonesia yang pernah menjadi pusat rujukan tulang nasional.

Surakarta juga memiliki beberapa taman, antara lain Taman Balekambang, Taman Tirtonadi, Taman Sekartaji, Taman Sriwedari, yang juga merangkap sebagai tempat hiburan, tempat pagelaran musik dangdut dan wayang orang, tepatnya di Gedung Wayang Orang Sriwedari.

Tempat ini menyajikan seni pertunjukan daerah wayang orang yang menyajikan cerita wayang berdasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata. Pada kesempatan tertentu juga digelar cerita-cerita wayang orang gabungan antara wayang orang sriwedari dengan wayang orang RRI Surakarta dan bahkan dengan seniman-seniman wayang orang Jakarta, Semarang, ataupun Surabaya.

Tempat hiburan umum lainnya adalah Kebun Binatang Jurug (Taman Satwataru Jurug), yaitu salah satu dari kebun binatang terbesar dan tertua di Indonesia.

Tempat pemakaman umum di Surakarta antara lain adalah TPU Purwoloyo, TPU Utoroloyo, TMP Kusuma Bakti, TPU Pucang Sawit, dan pemakaman Tionghoa yang terletak di kecamatan Jebres, TPU Bonoloyo, Astana Utara Nayu, dan Astana Bibis Luhur yang terletak di kecamatan Banjarsari, TPU Pracimoloyo maupun TPU Daksinoloyo di perbatasan Kabupaten Sukoharjo.

Karena jumlah lahannya yang terbatas, saat ini banyak anggota masyarakat yang memilih untuk menguburkan orang yang sudah meninggal di pemakaman-pemakaman yang terletak di luar batas kota Surakarta, misalnya pemakaman Kristen di Jeruksawit, Karanganyar, kompleks pemakaman Delingan di Karanganyar, dll.

Khusus bagi raja-raja keraton Surakarta, bagi raja yang meninggal akan dimakamkan di pemakaman hereditas di Makam Imogiri di puncak sebuah bukit 12 km di sebelah selatan Yogjakarta.

Kode area untuk kota Surakarta adalah 0271 (+6271). Telepon umum koin/kartu jarang dijumpai, sebagai gantinya, beberapa wartel tersebar di berbagai sudut kota. Selain itu mereka juga biasanya menjual pulsa prabayar. Warnet juga banyak dijumpai di berbagai tempat, sedangkan beberapa tempat sudah mulai menyediakan fasilitas Wi-Fi untuk para pengunjungnya.

Kesehatan

Rumah sakit

Kota Surakarta dan wilayah sekitarnya mempunyai beberapa rumah sakit, di antaranya:

  • Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi (Rumah Sakit Jebres)
  • Rumah Sakit Islam Kustati
  • Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta
  • Rumah Sakit Dr. Oen Surakarta (Kandang Sapi)
  • Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso
  • Rumah Sakit Panti Waluyo
  • Rumah Sakit Slamet Riyadi (DKT)
  • Rumah Sakit AURI Adi Sumarmo
  • Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
  • Rumah Sakit Kasih Ibu
  • Rumah Sakit Brayat Minulyo
  • Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru
  • Rumah Sakit Jiwa Surakarta
  • Rumah Sakit Jiwa Panti Rapih
  • Rumah Sakit Bersalin Triharsi
  • Rumah sakit Kadipolo
  • Rumah Sakit Jiwa Surakarta
  • Rumah Sakit Jiwa Syaraf Puri Waluyo
  • Rumah Sakit Jiwa Dewantoro

Puskesmas

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di Surakarta antara lain:

  • Puskesmas Pajang
  • Puskesmas Penumping
  • Puskesmas Purwosari
  • Puskesmas Jayengan
  • Puskesmas Kratonan
  • Puskesmas Gajahan
  • Puskesmas Sangkrah
  • Puskesmas Purwodiningratan
  • Puskesmas Ngoresan
  • Puskesmas Sibela
  • Puskesmas Pucangsawit
  • Puskesmas Nusukan
  • Puskesmas Manahan
  • Puskesmas Gilingan
  • Puskesmas Banyuanyar
  • Puskesmas Setabelan
  • Puskesmas Gambirsari

Olahraga

Kota Surakarta memiliki sejarah olahraga yang cukup lama. Tahun 1923 di Surakarta telah terbentuk klub sepak bola, salah satu klub yang pertama di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda, yang bernama Persis Solo.

Persis Solo adalah raksasa sepak bola di Hindia Belanda yang masih eksis hingga saat ini, Persis pernah menjuarai kompetisi Perserikatan sebanyak 7 kali dan saat ini bermain di Divisi Utama Liga Indonesia.

Selain Persis Solo, tercatat beberapa klub sepak bola lain pernah hadir di Surakarta, antara lain Arseto Solo, Pelita Solo,Persijatim Solo FC, dan terakhir adalah kontestan Liga Primer Indonesia, Solo FC yang baru terbentuk pada tahun 2010.

Kedua tim sepak bola yang masih eksis saat ini, yaitu Persis Solo dan Solo FC, bermarkas di Stadion Manahan, sebuah stadion tipe Stadion Madya Olimpiade kategori B+ dan salah satu stadion terbaik di Jawa Tengah yang pernah beberapa kali menjadi tempat penyelenggaraan even olahraga tingkat nasional dan internasional.

Di stadion yang memiliki kapasitas 25.000 penonton ini antara lain pernah menjadi tempat pertandingan Liga Champions AFC 2007karena Persik tidak punya stadion kandang memadai, final Piala Indonesia 2010, pembukaan Liga Primer Indonesia musim pertama pada 15 Januari 2011, dan menjadi penyelenggara ASEAN Paragames 2011.

Jika awalnya Manahan merupakan tanah lapang tempat olahragamemanah, stadion ini beberapa kali berubah fungsinya, mulai dari tempat balapan kuda (dengan kandang-kandang kuda di kampung Kestalan dan Setabelan, serta di kompleks keraton), hingga saat ini difungsikan sebagai lapangan sepak bola dan ketika malam hari dan hari Minggu berubah menjadi kawasan sosial bagi warga kota Surakarta. Kebudayaan serta olahraga memanah dan pacuan kuda sendiri saat ini sudah sangat jarang ditemukan di kota Surakarta.

Pada tahun 1948, Surakarta juga dipercaya untuk menyelenggarakan pertama, yang tanggal pembukaannya masih diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional. Pada kejuaraan itu, Surakarta yang berlaga mewakili Karesidenan Surakarta berhasil merebut gelar juara umum.

Sedangkan hingga tahun 2009, Surakarta juga memiliki satu-satunya klub basket profesional di Jawa Tengah, yaitu Bhinneka Solo. Beberapa gelanggang olahraga di kota Surakarta antara lainStadion Manahan dan Stadion Sriwedari untuk olahraga sepak bola dan GOR Bhinneka, yang kini berganti nama menjadi Stadion Sritex.

Transportasi

Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang-Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini. Saat ini sebuah jalan tol – Jalan Tol Semarang-Solo – yang menghubungkan ke Semarang sedang dalam proses pembangunan. Surakarta juga merupakan kota yang terkurung daratan, sehingga tidak memiliki moda transportasi air.

Angkutan darat[sunting | sunting sumber]
Taksi adalah salah satu moda transportasi yang sering dijumpai. Dari bandara, turis dapat memesan tiket dengan menyebutkan tujuannya dan membayar ongkos taksi di muka. Beberapa jasa pelayanan taksi antara lain Aravia (636468), Solo Central Taksi (728728), Kosti (664504,856300), Mahkota Ratu (655666). Sementara itu beberapa persewaan mobil juga dapat ditemu di bandara.

Jasa transportasi tradisional yang terkenal lainnya adalah becak, yang dikayuh dengan tenaga manusia. Angkutan umum dalam kota yang lain mencakup bus kota, angkot, dan andong.

Bus

Terminal bus besar kota ini bernama Terminal Tirtonadi yang beroperasi 24 jam karena merupakan jalur antara yang menghubungkan angkutan bus dari Jawa Timur(terutama Surabaya dan Banyuwangi) dan Jawa Barat (Bandung). Selain Tirtonadi, terdapat pula dua terminal untuk angkutan lokal: Terminal Harjodaksino di sisi selatan kota (dulu merupakan terminal bus antarkota) dan Terminal Tipes di sisi barat kota. Selain itu, dua terminal penunjang terdapat pula di sekitar kota namun berada di luar pengelolaan pemerintah kota, yaitu Terminal Kartasura di barat, yang terhubung ke Jakarta dan Surabaya, dan Terminal Palur di timur kota.

Selain itu pada tahun 2010 diluncurkan angkutan umum massal bus Batik Solo Trans. Saat ini bus rapid transit Batik Solo Trans telah memiliki dua koridor.

Kereta Api

Stasiun kereta api utama bernama Stasiun Solo Balapan yang merupakan salah satu stasiun besar tertua di Indonesia (dibangun 1873) yang menghubungkanYogyakarta (barat), Semarang (utara), dan Surabaya (timur), dan terletak berdekatan dengan terminal bus Tirtonadi, suatu hal yang jarang dijumpai di Indonesia.

Hubungan perjalanan dari setasiun ini cukup baik, mencakup semua kota besar di Jawa secara langsung dan hampir dalam semua kelas. Di Kota Surakarta juga terdapat tiga stasiun kereta api lain. Stasiun Solo Jebres dipakai sebagai stasiun perhentian untuk kereta-kereta api kelas ekonomi atau kereta api relasiSemarang-Madiun. Stasiun Solo-Kota (Sangkrah) merupakan stasiun perhentian untuk jalur KA Purwosari-Wonogiri.

Stasiun Purwosari di tepi barat kota merupakan stasiun cabang menuju Wonogiri (selatan). Dulu Purwosari juga merupakan stasiun pemberhentian untuk jurusan Boyolali (barat). Kereta api ekspres ke Jakarta memakan waktu tempuh 10 jam, sementara kereta api ekspres ke Surabaya memakan waktu tempuh 5 jam. Kereta api ekspres yang melalui Surakarta antara lain: Argo Lawu, Argo Dwipangga, Bima dan Gajayana (dari/ke Jakarta, dengan AC), Argo Wilis dan Lodaya (dari/ke Bandung), Argo Wilis danSancaka (dari/ke Surabaya). Kereta bisnis malam Senja Utama Solo juga melayani transportasi dari/ke Jakarta.

Selain itu transportasi Surakarta juga memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki rel kereta api yang paralel dengan jalan raya, tepatnya di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi. Di jalur ini terdapat rel Railbus Batara Kresna dan juga difungsikan sebagai jalur kereta api wisata Sepur Kluthuk Jaladara yang berhenti di Loji Gandrung (kantor wali kota Surakarta) dan Kampung Batik Kauman.

Pesawat Terbang

Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo (kode SOC, dulu bernama “Panasan”) terletak 14 kilometer di sebelah utara kota Surakarta. Secara administratif banda udara ini terletak di luar batas kota Surakarta, tepatnya di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali. Bandara ini terhubung ke Jakarta (8-penerbangan sehari), Kuala Lumpur, Singapura & Bandar Seri Begawan, serta Arab Saudi (pada musim haji).

Waktu tempuh perjalanan udara dengan Jakarta berlangsung sekitar satu jam. Beberapa operator penerbangan yang melayani rute dari/ke kota Surakarta antara lain Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air, Malaysia Airlines, Singapore Airlines & Royal Brunei Airlines. Bandara Adi Sumarmo juga menjadi pusat pemberangkatan dan penerimaan haji dari Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Pariwisata

Surakarta juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta juga akan singgah di Surakarta, atau sebaliknya. Tujuan wisata utama kota Surakarta adalah Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan kampung-kampung batik serta pasar-pasar tradisionalnya.

Di Surakarta terdapat beberapa citywalk yang ditujukan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda, antara lain di koridor Ngarsopuro, di sepanjang Jalan Slamet Riyadi (sepanjang 6–7 km dan selebar 3 m), dan di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan. Tempat-tempat yang ditunjuk sebagaicitywalk tidak boleh dilalui oleh kendaraan bermotor.

Wisata Alam

Wisata-wisata alam di sekitar Surakarta antara lain Kawasan Wisata Tawangmangu (berada di Kabupaten Karanganyar), Kawasan Wisata Selo (berada di Kabupaten Boyolali), Agrowisata Kebun Teh Kemuning, Air Terjun Jumog, Air Terjun Parang Ijo, Air Terjun Segoro Gunung, Grojogan Sewu, dan lain-lain. Selain itu di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu, terdapat beberapa candi peninggalan kebudayaan Hindu-Buddha, seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Monyet, dan lain-lain.

Festival dan Perayaan

Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

Kirab Pusaka Malam 1 Sura

Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada malam hari menjelang tanggal 1 Sura. Acara ini ditujukan untuk merayakan Tahun Baru Jawa 1 Sura. Rute yang ditempuh oleh kirab yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta kurang lebih sejauh 3 km yaitu Keraton Surakarta – Alun-Alun Utara – Gladag – Jl. Mayor Kusmanto – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi – Gladag kemudian kembali ke Keraton Surakarta lagi. Pusaka-pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Peserta kirab yang berada di barisan paling depan adalah sekelompok kerbau albino (kebo bule) bernama keturunan kerbau pusaka Kyai Slamet, sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.

Sekaten

Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-Alun Utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir sekaten, diadakan kembali acara grebeg di Alun-Alun Utara. Upacara sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

Grebeg Sudiro

Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di Kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Surakarta.[40]

Grebeg Mulud

Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana Jawi Jangkep Sowan Keraton mengarak gunungan (pareden) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama keraton), satu buah gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.

Tinggalandalem Jumenengan

Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan Sri Susuhunan Surakarta. Dalam acara ini sang raja duduk di atasdampar (singgasana) di Pendapa Agung Sasana Sewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem dan bangsawan sambil menyaksikan tari sakral, Tari Bedhaya Ketawang, yang ditarikan oleh sembilan remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalem, sentanadalem, dan kerabat raja lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.

Grebeg Pasa

Grebeg ini diadakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan Salat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.

Syawalan

Syawalan mulai diadakan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwataru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu “Larung Gethek Jaka Tingkir” diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

Grebeg Besar

Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.

Solo Batik Carnival

Karnaval Batik Solo atau Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

Solo Batik Fashion

Demikian pula Solo Batik Fashion adalah sebuah peragaan busana batik tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah di tempat-tempat terbuka supaya dapat dinikmati oleh segenap warga Surakarta. Peragaan batik ini diadakan setiap tahun pada bulan Juli sejak tahun 2009.

Wisata Kuliner

Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional. Beberapa makanan khas Surakarta antara lain: sate kambing, nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg dan gudeg cakar, pecel desa, cabuk rambak, bestik solo, selat Solo, bakso solo, serabi solo, intip, tengkleng, roti mandarin, sosis solo, kambing guling, sate buntel, sate kere, dll.

Beberapa minuman khas Surakarta antara lain: wedang asle yaitu minuman hangat dengan nasi ketan, wedang dawet gempol pleret (gempolterbuat dari sejenis tepung beras, sedangkan pleret terbuat dari ketan dan gula merah), jamu beras kencur, yaitu jamu kesehatan yang berbeda dari jamu yang lain karena rasanya yang manis, dll. Sementara itu, koridor Gladag setiap malam diubah menjadi pusat jajanan terbesar di Kota Surakarta dengan nama Galabo (Gladang Langen Bogan)

Arsitektur dan Peninggalan Sejarah

Karena sejarahnya, terdapat banyak bangunan bersejarah di Surakarta, mulai dari bangunan ibadah, bangunan umum, keraton, hingga bangunan militer. Selain Keraton Surakarta (dibangun 1745) dan Pura Mangkunagaran (dibangun 1757), terdapat pula Benteng Vastenburg peninggalan Belanda, dan Loji Gandrung yang saat ini digunakan sebagai kediaman Wali Kota Surakarta.

Sebelumnya, bangunan peninggalan Kolonial yang sampai saat ini masih utuh kondisinya ini selain digunakan sebagi tempat kediaman pejabat pemerintah Belanda, juga sering digunakan untuk dansa-dansi gaya Eropa dan bangsawan Jawa, sehingga disebut sebagai “Gandrung”.

Pada tahun 1997 telah didata 70 peninggalan sejarah di Surakarta yang meliputi tempat bersejarah, rumah tradisional, bangunan kolonial, tempat ibadah, pintu gerbang, monumen, furnitur jalan, dan taman kota.

Lansekap kota Surakarta juga dikenal tidak memiliki bangunan pencakar langit. Namun sejak 2010, di Surakarta terdapat sebuah apartemen pencakar langit, yaitu Solo Paragon.

Museum dan Perpustakaan

Museum batik yang terlengkap di Indonesia, yaitu House of Danar Hadi, dan museum tertua di Indonesia, yaitu Museum Radya Pustaka, terletak di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta.

Museum Radya Pustaka yang dibangun pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh KRA. Sosrodiningrat IV, pepatih dalem pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwana IX dan Sunan Pakubuwana X, museum ini memiliki artefak-artefak kuno kebudayaan Jawa dan bertempat di kompleks Taman Wisata Budaya Sriwedari.

Selain itu ada pula Museum Keraton Surakarta (termasuk perpustakaan Sasana Pustaka), Museum Pura Mangkunegaran (termasuk perpustakaan Reksa Pustaka), Museum Pers, Museum Sangiran (terletak di Kabupaten Sragen), dan Museum Lukis Dullah.

Selain museum, terdapat pula sebuah situs budaya bernama Balai Sudjatmoko. Bangunan ini adalah rumah Sudjatmoko yang di dalamnya masih bisa dilihat karya-karya dan peninggalan Sudjatmoko baik dalam bentuk buku, kaca mata, toga, dan foto-foto asli dokumenter koleksi pribadi keluarga Sudjatmoko.

Balai Sudjatmoko difungsikan oleh pengelolanya sebagai pusat apresiasi baik pementasan, pertunjukan, pameran, bedah buku dan sarasehan. Para seniman juga diberi kesempatan luas untuk memanfaatkan Balai Sudjatmoko untuk melakukan apresiasi seni dalam bentuk pameran baik pameran lukisan, patung, kriya sampai dengan pameran pendidikan. Di samping itu, Balai ini juga dapat dijadikan sebagai alternatif wahana pembelajaran bagi orang non seni.

Budaya

Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya “persaingan” kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai “Gaya Surakarta” dan “Gaya Yogyakarta” di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

Bahasa

Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah Bahasa Jawa Dialek Mataraman dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman juga dituturkan di daerahYogyakarta, Semarang, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai “varian halus” karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain.

Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar Bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata “inggih” (“ya” bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya “injih” (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.

Walaupun dalam kesehariannya masyarakat Surakarta menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, namun sejak kepemimpinan wali kota Joko Widodomaka Bahasa Jawa mulai digalakkan kembali penggunaannya di tempat-tempat umum, termasuk pada plang nama-nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan dan bisnis swasta.

Surakarta juga berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia. Pada tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Keputusan tersebut, antara lain:

  • mengganti Ejaan van Ophuysen,
  • mendirikan Institut Bahasa Indonesia, dan
  • menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.

Pernikahan Adat

Pernikahan adat Surakarta juga memiliki ciri-ciri yang khusus, mulai dari lamaran, persiapan pernikahan, hingga upacara siraman dan midodaren.

Tarian 

Surakarta memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa. Tarian seperti Bedhaya Ketawang misalnya, secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Surakarta sebagai pemimpin Kota Surakarta.

Batik

Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Surakarta memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.

Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara untuk kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik.

Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapatKampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546.[52] Kampun batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.

Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktikkan kegiatan membatik.

Batik Surakarta memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogyakarta yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman.

Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap tahunnya Surakarta juga mengadakanKarnaval Batik Solo dan mulai tahun 2010 pemerintah kota Surakarta mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans.

Surakarta dalam Budaya Populer

Sungai Bengawan Solo menjadi inspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940-an. Lagu ini menjadi populer di negara-negara di Asia. Selain itu, sungai ini pun telah menjadi judul tiga film, yaitu dua film berjudul “Bengawan Solo” tahun 1949 dan 1971, serta satu film berjudul Di Tepi Bengawan Solo (1951). Film-film lain yang mengambil tema Surakarta antara lain adalah: Putri Solo (1953) dan Bermalam di Solo (1962).

Media

Ada beberapa surat kabar yang beroperasi di daerah Surakarta, antara lain Solo Pos, Radar Solo (grup Jawapos), dan Joglosemar (surat kabar Jogja, Solo, Semarang). Selain itu ada pula puluhanstasiun radio di Surakarta dan sebuah televisi lokal yang beroperasi di Surakarta, yaitu TA TV (Terang Abadi Televisi).

Tokoh-tokoh dari Surakarta

Tokoh-tokoh dari Surakarta meliputi raja-raja Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, antara lain Mangkunegara I (Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa), Mangkunegara IV, yang pada masa pemerintahannya membawa Mangkunegaran menuju puncak kejayaan, Mangkunegara VII, sertaPakubuwana VI, yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, dan Pakubuwana X, yang mendukung pergerakan Sarekat Islam dan Budi Utomo.

Pahlawan dari Surakarta antara lain: Albertus Soegijopranoto, Uskup Agung Semarang, Dr. Muwardi, Kiai Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam, R. Maladi, Menteri Penerangan, Menteri Pemuda dan Olahraga, dan Ketua PSSI, Jenderal GPH. Djatikusumo, Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949), Muljadi Djojomartono, Menteri Sosial dan tokoh Muhammadiyah, Achmad Baiquni, ahli atom indonesia, Dr. Suharso, ahli ortopedi, lalu Dr.Supomo, Menteri Hukum dan HAM dan salah satu arsitek UUD 1945, Ir. Sedyatmo, pencipta struktur cakar ayam, Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum dan insinyur gedung DPR/MPR, dan Slamet Riyadi, dan dalam pemerintahan, Presiden Joko Widodo juga berasal dari Surakarta.

Dari bidang politik terdapat antara lain mantan ketua MPR Amien Rais dan Wiranto, sedangkan dari bidang seni dan sastra ada sederet tokoh, antara lainBasuki Abdullah, Gesang, Luluk Purwanto, Radjiman Wedyodiningrat, Rangga Warsita, Rendra, Teguh Srimulat, Waljinah, Wahjoe Sardono, Nunung,Yasadipura I, Yasadipura II, Didi Kempot, Setiawan Djodi, dan Mamiek Prakoso. Dari bidang olahraga terdapat petenis Wynne Prakusya, pelari tercepat di Asia Tenggara, Suryo Agung, pembalap Formula 1 Rio Haryanto, grandmaster Edhi Handoko, serta pebulutangkis Icuk Sugiarto, Rudy Gunawan, dan Bambang Suprianto.

Source: Wikipedia