Barack Obama: Kongres Diaspora Indonesia ke-4

Jakarta, 2 Juli 2017

Pidato Barack Hussein Obama “Warga Jakarta Jangan Pernah Lupakan Pak Ahok Karena Jakarta Bisa Maju Berkat Kerja Keras Pak Ahok , Dan “Generasi muda harus melawan intoleransi!”

Screenshot_320

Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Hussein Obama memberikan pidato di Kongres Diaspora Indonesia keempat. Obama berbicara banyak hal di dalam pidatonya, salah satunya adalah kemajuan kota Jakarta saat ini. Obama membandingkan Jakarta dahulu kala yang masih banyak rawa-rawa dan persawahan di masa kecilnya, dengan Jakarta saat ini.

Dahulu kala saat Obama tinggal di Menteng Dalam, ia masih teringat dengan becak dan bemo, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Kemajuan teknologi dan transportasi menjadi sebuah hal yang tentu menyingkirkan alat transportasi konvensional yang ada di Jakarta, dan beralih kepada alat transportasi massal yang modern dan bebas polusi.

Obama pun mengenang bagaimana dirinya harus mengeringkan lantai rumahnya ketika hujan karena rembesan atap. Obama mengakui bahwa Jakarta saat ini banyak perubahan. Obama sempat tinggal di Jakarta pada tahun 1967 hingga 1971, kira-kira 4 tahun. Obama lahir pada tahun 1961.

Jadi kira-kira Obama sempat menetap di Jakarta pada usianya yang ke 6 hingga 10. Tentu masih teringat kenangan manis Obama di Jakarta. Dengan setiap apa yang menjadi kehidupannya pada masa lalu, tentu ia memiliki kedekatan tersendiri dengan negara Indonesia, khususnya di Jakarta. Suasana Jakarta yang sudah berubah, membuatnya tentu  harus terbiasa lagi dengan hal tersebut.

Kenangan akan suasana Jakarta sebenarnya sudah pernah ditulis oleh Obama di bukunya ‘The Audacity of Hope’ pada tahun 2007. Obama menjelaskan dan mendeskripsikan bagaimana jumlah becak pada saat itu lebih banyak dari pada mobil yang ada di Jakarta. Gubernur Jakarta pada saat itu adalah Ali Sadikin.

Ali Sadikin dikenal sebagai gubernur Jakarta yang cukup nyentrik. Bahkan konon katanya, ia pernah menampar perwira TNI di hadapan umum ketika mengetahui bahwa ada anggota TNI melanggar lalu lintas. Ketegasan Ali Sadikin sampai sekarang dikenang. Ia memimpin Jakarta pada tahun 1966 sampai 1977.

Sebelas tahun ia memimpin Jakarta, berhasil mengontrol dan menyejahterakan para penghuni lingkungan kumuh di Jakarta. Kebijakan dan aturan yang diterapkan Bang Ali, membuat Jakarta berubah. Mungkin Obama yang pada saat itu masih kecil, tidak merasakan bagaimana kinerja sosok Ali Sadikin di Jakarta, berhubung pada saat itu, Ali Sadikin juga baru menjabat beberapa tahun di Jakarta.

Kesal dengan perilaku sang sopir truk yang ugal-ugalan, Bang Ali, yang saat itu tengah dalam perjalanan usai mengunjungi kawasan Menteng Wadas memerintahkan sopirnya untuk mengejar truk tersebut. Akhirnya truk mau berhenti dan setelah beberapa kalimat interogasi, supir Angkatan Laut Republik Indonesia pun tidak mau mengalah, sehingga tamparan keras mendarat telak di pipinya. Inilah kenangan-kenangan yang dimiliki oleh Jakarta dengan pemimpin yang tegas.

Tamparan pertama…

Wonderful to be back in Jakarta” – Obama.

Baru saja kita kehilangan sosok gubernur yang tegas dan bertanggung jawab terhadap rakyat, Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok yang saat ini sedang mendekam di sel rumah tahanan Mako Brimob pun menjadi seseorang yang pernah memajukan Jakarta dan membahagiakan warganya, jauh sebelum Anies bicara tentang hal ini.

Kemajuan Jakarta saat ini pun dirasakan bukan hanya oleh warga Jakarta, melainkan mantan Presiden ke-44 Amerika, Barack Obama pun memuji kinerjanya dengan pengakuannya, langsung telak di muka Anies.

Kongres Diaspora Indonesia IV yang diisi oleh pembicara mantan Presiden AS Barack Hussein Obama, dihadiri oleh beberapa tokoh seperti Zon, Anies, dan bahkan Gloria Natapradja Hamel yang merupakan anggota Paskibraka 2016. Selain mereka bertiga, sejumlah tokoh hadir.

Ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menlu Retno LP Marsudi, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Menhub Budi Karya Sumadi, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil), dan lain sebagainya.

Tamparan kedua…

Bhinneka Tunggal Ika” – Obama.

Bukan hanya memuji perubahan Jakarta, Obama pun menceritakan perjalanan liburannya kemarin di Candi Borobudur. Obama memuji dan mengapresiasi kebinekaan yang ada di Indonesia. Tentu lagi-lagi ini merupakan tamparan keras kepada Anies Baswedan yang didukung oleh ormas radikal nan intoleran, FPI dengan imam kecilnya, si tersangka Rizieq Shihab. Hahaha.

“Kalau Anda lihat Borobudur, candinya umat Buddha, Candi Prambanan umat Hindu, dia ada di negara mayoritas muslim… Semangatnya toleransi. Ini terabadikan dalam konstitusinya. Saling menghargai dalam semangat harmoni…” kata Obama dalam bahasa Inggris di Kongres Diaspora Indonesia keempat, Sabtu (1/7/2017).

Obama pun mendukung terus aksi-aksi perlawanan terhadap intoleransi. Aduh sampai sini, entah muka Anies mau ditaruh di mana. Sulit bagi Anies untuk tetap memandang wajah Obama yang setiap kalimatnya, mengoyak-ngoyak idealisme dan ‘menampar-nampar’ muka Anies.

Tamparan ketiga, tamparan pamungkas!

Generasi muda harus melawan intoleransi!” –  Obama

Mungkin di dalam ketiga ‘tamparan’ Obama yang sangat keras, Anies dan Fadli Zon yang merupakan tamu istimewa, gelisah dan berkeringat karena apa yang dikatakan Obama, menghantam telak mereka, yang dengan jelas didukung oleh ormas radikal nan intoleran, FPI.

Terima kasih Obama, sudah mewakili Ahok dan Jokowi di dalam menumpas habis intoleransi dan mendukung habis ideologi Pancasila yang sampai saat ini menjadi pengisi dan pemberi makna hidup bagi rakyat Indonesia. Semoga Pak Obama sehat selalu. Sebagai mantan presiden Amerika, Pak Obama tidak baper dan tidak prihatin. Semoga Anda menjadi orang yang berkontribusi bagi negara Anda dan bahkan Indonesia, sampai ke seluruh dunia.

Jangan sampai kebinekaan di Indonesia dikoyak-koyak oleh kaum muslim minoritas seperti FPI. Jangan pikir FPI itu mayoritas. Mereka adalah minoritas, yang bukan mewakili Islam Nusantara. Kita percaya bahwa Islam di Indonesia tidak seperti yang dikerjakan oleh Rizieq CS. Bayangkan agama macam apa yang dianut mereka, sehingga berani-beraninya si tersangka Rizieq lari dari tanggung jawab.

Obama sukses mempermalukan FPI, Gerindra, PKS dan ormas-ormas lainnya yang mendukung atau pun didukung oleh aksi intoleransi di Indonesia.

Entah apa yang Jokowi katakan kepada Obama di Bogor kemarin, sehingga Obama bisa ‘menampar’ telak orang-orang yang mendukung atau didukung oleh aksi maupun ormas intoleransi. Pidato yang dilakukan oleh Obama sangat kontekstual, khususnya di dalam membahas tentang ‘kemajuan Jakarta‘, ‘mengecam aksi intoleransi‘, dan ‘mendukung kebinekaan‘. Obama tahu betul gerakan catur Pak Dhe, sehingga kode tersebut tersampaikan dengan tepat.

Terima kasih Jokowi. Terima kasih Ahok. Terima kasih Obama. Salam Bhinneka Tunggal Ika!

Betul kan yang saya katakan?

Dikutip dari Blogspot exfostshare

Advertisements

“The New York Times” Mengulas Dan Puji Kehebatan Ahok

Media Terbesar Amerika Serikat “The New York Times” Mengulas Dan Puji Kehebatan Ahok. Source: BacaKabar

See also: Governor of Jakarta Bucks Indonesia’s Party Politics

fb_img_1465097118611

nyt-logoSepertinya Ahok bukan hanya media Darling di Indonesia saat ini. Namun media no 2 terbesar di Amerika pun turut membahas dan menurunkan berita seputar Ahok. Harian The New York Times edisi 5 Juni 2016 mengulas sosok Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Harian dengan oplah nomor dua terbesar di Amerika Serikat (AS) itu menyebut Ahok sebagai sosok yang mengguncang sistem perpolitikan Indonesia yang dikendalikan oleh kaum elite partai.

Sistem perpolitikan yang terguncang itu, kata harian tersebut, adalah sistem yang dikuasai keluarga dinasti politik, para mantan jenderal, atau para pebisnis kaya.

Dikatakan bahwa politisi di daerah “disandera” oleh kepentingan politisi nasional. Dalam sistem semacam itu, walau unggul dalam survei, para calon kepala daerah kadang-kadang tidak dapat berbuat banyak. Partai politik umumnya meminta “mahar” untuk pencalonan dan mensyaratkan untuk membiayai sendiri kampanye politik.

New York Times menyebut Ahok sebagai sosok political outsider karena latar belakangnya sebagai minoritas dari sisi etnis dan keyakinan agamanya. Status outsider itu semakin kuat dengan keputusannya berpolitik melalui jalur independen.

Sejak menjabat November 2014, Ahok disebut tidak menunggu lama untuk “menyikat” birokrat yang tidak kompeten dan memberantas korupsi yang merajalela. Harian itu menulis, target baru mantan Bupati Belitung Timur itu adalah mengguncang sistem politik nasional yang dikuasai kelompok oligarki.

06tholidaycover-originalNew York Times kemudian mengutip Charlotte Setijadi, periset di program Ilmu Indonesia di Institut Studi Asia Tenggara-Yusof Ishak yang berbasis di Singapura. Charlotte mengatakan, “Basuki (Ahok) menampilkan dirinya sebagai sosok alternatif melawan sistem politik yang memuakkan banyak rakyat Indonesia.

“Keberaniannya itu akan menolong dia meraup suara pada Pilkada DKI,” lanjut Charlotte.

ahok-gitu-lho

Laporan itu menyatakan, Ahok memilih jalur independen demi menghindari bernasib sama seperti Presiden Joko Widodo yang terkadang mendapatkan kesulitan dari partai politik pendukungnya sendiri, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ahok disebut menolak tawaran dukungan dari PDI-P untuk maju sebagai calon gubernur Jakarta.

Laporan itu juga mengutip bakal calon gubernur DKI dari Partai Gerindra, Sandiaga Uno, yang mengatakan keputusan Ahok maju melalui jalur independen seharusnya membangunkan elite politik.

teman-ahok___rachman-11-9h74xf

“Jika parpol tidak mendapatkan kandidat yang tepat yang didukung rakyat, parpol akan menghadapi calon independen yang didukung rakyat. Parpol perlu mempersiapkan strategi untuk menarik calon dengan kemampuan terbaik,” tutur Sandiaga dalam laporan itu.

images-4

Fenomena “Teman Ahok” juga tak luput dari laporan New York Times. Gerakan itu dinilai telah sangat banyak membantu Ahok untuk memerangi sistem politik yang telah berakar urat.

13495159_1786696791548412_4293829310144425358_n

Teman Ahok dilaporkan menjual t-shirt, merchandise, dan stiker untuk menjalankan biaya operasionalnya. The New York Times menambahkan, baik Ahok maupun Teman Ahok telah menyatakan secara terpisah bahwa mereka tidak berkolaborasi dan baru bertemu secara pribadi sebanyak tiga kali.

497174_620

ini-baru-mandiri-teman-ahok-jual-barang-tak-mau-terima-uang-1

Harian itu melanjutkan, walau tidak sedikit yang menentang, gaya kepemimpinan Ahok yang sangat blakblakan memenangkan hati banyak warga Jakarta, terutama para pemilih muda dan kaum kelas menengah ke bawah.

Golongan masyarakat ini terpikat dengan sejumlah kebijakan-kebijakan Ahok, seperti percepatan pembangunan infrastruktur seperti MRT dan program Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat yang menolong banyak masyarakat miskin.

indonesia

monumen-nasional-monas

Pada Pilkada DKI 2012, etnisitas dan agama Ahok menjadi salah satu isu yang digunakan lawan politiknya. Kali ini dengan mengutip sebuah survei, The New York Times menulis bahwa hampir dua pertiga warga Jakarta tidak merasa isu SARA akan diangkat pada Pilkada 15 Februari 2017.

AHOK memang menyita perhatian masyarakat Indonesia

535166_782671555176181_7878337802096332267_n

13932752_209347312801107_2276308933494800187_n

993860_783032338473436_5670405159529791855_n

Kagumi Keberhasilan Ahok soal Kemiskinan dan Perumahan, Malaysia Kirim Rombongan untuk Belajar!

quote-ahok

Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede telah menerima kunjungan kerja dari Deputi Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat Malaysia, Hj Azizah Datuk Seri Panglima H Mohd Dun di Ruang Pola Kantor Wali Kota Jakpus.

Sejumlah peserta rombongan yang jumlahnya mencapai 20 orang itu melakukan kunjungan kerja dari Kementerian Malaysia.

Kedatangan mereka tujuannya adalah untuk bisa belajar dari Jakarta di bawah pimpinan Gubernur Ahok soal keberhasilannya dalam menangani masalah kemiskinan dan perumahan.

Keberhasilan Jakarta Tekan Angka Kemiskinan dan Masalah Perumahan

Pejabat Ahli Dewan Negara Malaysia, Hj Mesriany menuturkan bahwa kunjungan kerja yang saat ini dipimpin oleh Hj Azizah Datuk Seri Panglima H Mohd Dun itu ingin mengetahui tentang bagaimana cara dari Ahok bisa menangani permasalahan perumahan untuk warga yang tak mampu. 

Karena saya lihat walikota Jakpus cukup berhasil dalam menangani hal tersebut,” tegas Hj Mesriany.

Peran Jokowi untuk Masalah Perumahan

Menanggapi pujian tersebut, Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede menyatakan bahwa untuk penyediaan perumahan untuk para warga yang tak mampu dilaksanakan secara nasional.

rumah-murah-jokowi

Pemerintah pusat lewat Kementerian Perumahan menyediakan rumah murah untuk para warga yang tak mampu dengan sistem kredit jangka panjang.

Penyediaan Rusun

Khusus untuk wilayah Jakarta Pusat, bekerja sama dengan pemprov DKI Jakarta yang dipimpin oleh Ahok, dibangun sejumlah rusun hingga 24 lantai.

mengubah-pola-hidup-dari-bantaran-kali-ke-rusun-d2f

Hanya ini tidak diperjualbelikan, tetapi disewakan dengan harga yang sangat murah karena disubsidi pemerintah dan diperuntukan bagi warga yang tinggal di tempat yang tidak layak,” tukas Mangara.

Peningkatan Taraf Hidup

warga-korban-banjir-muara-baru-penjaringan-di-_130129151454-723

Mulai Tempati Rusun Warga korban banjir Muara Baru, Penjaringan melakukan aktifitas di Rusun Marunda, Jakarta Utara, Selasa (29/1). Sebanyak 467 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 1.800 jiwa telah menjadi penghuni baru Rusun Marunda dari rencana 7.000 KK atau 17.000 jiwa yang akan direlokasi Pemprov DKI Jakarta dari bantaran Waduk Pluit.

Mengenai peningkatan taraf hidup untuk warga Jakarta yang tinggal di rusun itu, telah dilengkapi juga berupa listrik, air dan gas.

Jadi begitu rumah mereka dibongkar, begitu masuk ke rusun warga tersebut tinggal masuk saja, tidak usah memikirkan apa-apa,” terang Mangara.

Berantas Kemiskinan

jelang-setahun-pimpin-dki-jokowi-klaim-kjs-dan-kjs-berhasil

Sedangkan untuk penanganan kemiskinan di Jakarta yang ditanyakan oleh Datuk Raja Ropiah Raja Abdulan, Mangara menjelaskan kalau penanganan kemiskinan, Ahok juga telah memberikan perhatian khusus yaitu dengan mengeluarkan program Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat.

Untuk orangtua yang tak mampu menyekolahkan anaknya, diberikan KJP oleh pemerintah, tetapi untuk pemberian KJP itu telah diteliti betul-betul, jangan sampai salah sasaran.

KJP diberikan kepada orang yang betul-betul yang tidak mampu, dan ini semua gratis. Begitu juga dengan kesehatan semua warga diberikan haknya melalui BPJS dan KJS,” ucap Mangara.

Penulis: Irmansyah

Basuki Tjahaja Purnama – Wakil Gubernur DKI 2012-2017

BIOGRAPHY-NEW

Basuki Tjahaja Purnama

Wakil_Gubernur_DKI_Basuki_TP
Wakil Gubernur DKI Jakarta
Petahana
Mulai menjabat
15 Oktober 2012
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Gubernur Joko Widodo
Didahului oleh Prijanto
Anggota DPR-RI Fraksi Golkar
Masa jabatan
1 Oktober 2009 – 26 April 2012
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Bupati Belitung Timur ke-3
Masa jabatan
3 Agustus 2005 – 22 Desember 2006
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Gubernur Hudarni Rani
Wakil Khairul Efendi
Didahului oleh Usman Saleh
Digantikan oleh Khairul Efendi

Anggota DPRD Belitung Timur Fraksi PPIB

Masa jabatan
2004–2005
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Gubernur Hudarni Rani

Informasi Pribadi

Lahir 29 Juni 1966 (umur 47)
Bendera Indonesia Manggar, Belitung Timur
Kebangsaan Indonesia
Partai politik PPIB (2004-2008)
Golongan Karya (2008-2012)
Gerindra (2012-sekarang)
Suami/istri Veronica Tan, S.T.
Anak Nicholas (1998)
Nathania (2001)
Daud Albeenner (2006)
Alma mater Universitas Trisakti
Agama Kristen Protestan
Situs web ahokorg

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM (EYD: Basuki Cahaya Purnama, nama Tionghoa: Zhōng Wànxié / 钟万勰) (lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966; umur 47 tahun), atau paling dikenal dengan panggilan Hakka Ahok, adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta dari 15 Oktober 2012 yang mendampingi Gubernur Joko Widodo.

Sebelumnya Ahok merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012. Dia pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur, yang populer sebutan masyarakat setempat dengan singkatan Kabupaten Beltim.

Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari dr. Basuri Tjahaja Purnama, M.Gizi.Sp.GK., Bupati Kabupaten Belitung Timur (Beltim) periode 2010-2015.

Dalam pemilihan gubernur Jakarta 2012, mereka memenangkan pemilu dengan presentase 53,82% suara. Pasangan ini dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Masa Kecil

Basuki adalah putra pertama dari Alm. Indra Tjahaja Purnama (Zhong Kim Nam) dan Buniarti Ningsing (Bun Nen Caw). Ia memiliki tiga orang adik, yaitu dr. Basuri Tjahaja Purnama, M.Gizi.Sp.GK. (dokter PNS dan Bupati di Kabupaten Belitung Timur), Fifi Lety, S.H., L.L.M. (praktisi hukum), Harry Basuki, M.B.A. (praktisi dan konsultan bidang pariwisata dan perhotelan). Keluarganya adalah keturunan Tionghoa-Indonesia dari suku Hakka (Kejia).

Masa kecil Basuki lebih banyak dihabiskan di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, hingga selesai menamatkan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama. Setamat dari sekolah menengah pertama, ia melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Sekalipun demikian, ia selalu berlibur ke kampung halaman.

Pendidikan dan Dunia Bisnis

Basuki melanjutkan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi di Jakarta dengan memilih Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti. Setelah menamatkan pendidikannya dan mendapat gelar Insinyur Geologi pada tahun 1989, Basuki pulang kampung dan menetap di Belitung serta mendirikan perusahaan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Dua tahun kemudian, Basuki memutuskan kuliah S-2 dan mengambil bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta. Gelar Magister Manajemen (M.M.) diraihnya, dan kemudian ia bekerja di PT Simaxindo Primadaya di Jakarta. Perusahaan ini bergerak di bidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik. Ia menjabat sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek.

Pada 1992 Basuki mendirikan PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 1995. Pada tahun 1995, Basuki memutuskan berhenti bekerja di PT Simaxindo Primadaya. Ia kemudian mendirikan pabrik di Dusun Burung Mandi, Desa Mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur. Pabrik pengolahan pasir kuarsa tersebut adalah yang pertama dibangun di Pulau Belitung, dan memanfaatkan teknologi Amerika dan Jerman. Lokasi pembangunan pabrik ini adalah cikal bakal tumbuhnya kawasan industri dan pelabuhan samudra, dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).

Pada akhir tahun 2004, seorang investor Korea berhasil diyakinkan untuk membangun Tin Smelter (peleburan bijih timah) di KIAK. Investor asing tersebut tertarik dengan konsep yang disepakati untuk menyediakan fasilitas komplek pabrik maupun pergudangan lengkap dengan pelabuhan bertaraf internasional di KIAK.

Karier, Sosial dan Politik

Poster kampanye Jokowi dan Basuki

Poster kampanye Jokowi dan Basuki

Pada tahun 2004 Basuki terjun ke dunia politik dan bergabung di bawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) sebagai ketua DPC Partai PIB Kabupaten Belitung Timur. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Partai PIB adalah partai politik yang didirikan oleh Alm. Sjahrir.

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Belitung Timur Tahun 2005, Basuki berpasangan dengan Khairul Effendi, B.Sc. dari Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) ikut sebagai calon Bupati-Wakil Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Dengan mengantongi suara 37,13 persen pasangan ini terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belitung Timur definitif pertama. Pasangan Basuki-Khairul ini unggul di Kabupaten Belitung Timur yang menjadi lumbung suara Partai Bulan Bintang (PBB) pada pemilu legislatif tahun 2004 lalu. Basuki kemudian mengajukan pengunduran dirinya pada 11 Desember 2006 untuk maju dalam Pilgub Bangka Belitung 2007. Pada 22 Desember 2006, ia resmi menyerahkan jabatannya kepada wakilnya, Khairul Effendi.

Di pilkada Gubernur Babel tahun 2007, Basuki mengambil bagian menjadi kandidat calon Gubernur. Mantan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendukung Basuki untuk menjadi Gubernur Bangka Belitung dan ikut berkampanye untuknya. Gus Dur menyatakan bahwa “Ahok sudah melaksanakan program terbaik ketika memimpin Kabupaten Belitung Timur dengan membebaskan biaya kesehatan kepada seluruh warganya”. Namun dalam pemilihan tersebut ia dikalahkan oleh Eko Maulana Ali.

Pada 2008, ia menulis buku biografi berjudul “Merubah Indonesia“.

Pada tahun 2012, Basuki mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Joko Widodo.

Penghargaan

Basuki memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara negara dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia, KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, pada tanggal 1 Februari 2007. Ia dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah, antara lain dengan tindakannya mengalihkan tunjangan bagi pejabat pemerintah untuk kepentingan rakyat, yaitu untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Belitung Timur.

Ia juga terpilih menjadi salah seorang dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia, yang dipilih oleh Tempo.

Anugerah Seputar Indonesia (ASI) 2013 memberikan beliau gelar Tokoh Kontroversial.

Keluarga

Basuki menikah dengan Veronica, S.T. kelahiran Medan, Sumatera Utara, dan dikaruniai 3 orang putra-putri bernama Nicholas, Nathania, dan Daud Albeenner.