Tag Archives: All England Champion

Kevin Sanjaya Sukamuljo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

The ‘Minions’ (featured image) continued to scorch the circuit for the second year running, chalking up an incredible eight World Tour titles besides the Asian Games gold. They were beaten in only one final – at the French Open. Given that they are the defending champions at the season finale, few would bet against them adding a ninth World Tour title to their collection this year.

Kevin Sanjaya Sukamuljo (lahir di Banyuwangi, 2 Agustus 1995; umur 23 tahun) adalah salah satu pemain bulu tangkis ganda putra dan campuran Indonesia. Atlet ini merupakan pemain asal klub Djarum di Kudus, Jawa Tengah dan bergabung sejak tahun 2007. Bersama dengan rekan-rekan pemain beregu putra lainnya ia berhasil menyumbangkan medali emas pada Pesta Olahraga Asia Tenggara 2015.Ia saat ini dipasangkan dengan Marcus Fernaldi Gideon di nomor ganda putra.

Prestasi

BWF World Tour

BWF World Tour yang diumumkan pada tanggal 19 Maret 2017, dan mulai dilaksanakan pada tahun 2018 adalah serangkaian turnamen bulutangkis elit, yang disetujui oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). BWF World Tour dibagi menjadi enam tingkatan, yaitu World Tour Finals, Super 1000, Super 750, Super 500, Super 300 (bagian dari HSBC World Tour), dan BWF Tour Super 100.

BWF Superseries

BWF Superseries, diluncurkan pertama pada 14 Desember 2006 dan diimplementasikan pada tahun 2007 merupakan serangkaian turnamen bulu tangkis level atas yang diadakan oleh Badminton World Federation (BWF). Satu musim Superseries terdiri dari 12 turnamen di seluruh dunia, termasuk lima Superseries Premier yang diperkenalkan sejak 2011, di mana para pemenang akan diundang untuk bermain di Final Superseries pada akhir tahun.

BWF Grand Prix

BWF Grand Prix terdiri dari dua tingkatan, seperti Grand Prix Gold dan Grand Prix. Ini adalah rangkaian turnamen bulu tangkis yang diselenggarakan oleh Badminton World Federation (BWF) sejak 2007.

BWF International Challenge/Series

Gelar Juara 2017 . The Minions Kevin-Marcus

  1. Gelar-1 2017-03-12 Yonex  All England 2017
  2. Gelar-2 2017-04-02 India Open 2017
  3. Gelar-3 2017-04-09 Malaysia open 2017
  4. Gelar-4 2017-09-24 Japan Open 2017
  5. Gelar-5 2017-09-19 China Open 2017
  6. Gelar-6 2017-11-26 Hong Kong Open 2017
  7. Gelar-7 2017-12-17 World Superseries Finals 2017

Gelar Runner Up 2017 .The Minions Kevin-Marcus

  • Korea Open 2017
  • Denmark Open 2017

Gelar Juara 2018 . The Minions Kevin-Marcus

  1. Gelar-1 2018-01-23.28 Daihatsu Indonesia Master 2018
  2. Gelar-2 2018-01-30.04 Yonex Sunise India Open 2018
  3. Gelar-3 2018-03-14.18 Yonex All England 2018
  4. Gelar-4 2018-07-03.08 Blibli Indonesia Open 2018
  5. Gelar-5 2018-08-19.22 Asian Games Jakarta-Palembang 2018
  6. Gelar-6 2018-09-11.16 Daihatsu Yonex Japan Open 2018
  7. Gelar-7 2018-10-16.21 Danisa Denmark Open 2018
  8. Gelar-1 2018-11-06.11 Fuzhou China Open 2018
  9. Gelar-1 2018-11-13.18 Yonex Sunise Hong Kong Open 2018
BWF Player Profile 2018 . Kevin Sanjaya Sukamuljo
BWF Player Profile 2018 . Marcus Fernaldi GIDEON

Gelar Runner Up 2018 .The Minions Kevin-Marcus

  1. 2018-10-23.28-YONEX French Open 2018 

Gallery

YONEX-SUNRISE HONG KONG OPEN 2018. A record eighth HSBC BWF World Tour title by Marcus Fernaldi Gideon and Kevin Sanjaya Sukamuljo highlighted the finals of the YONEX-SUNRISE Hong Kong Open 2018 today. Bringing the curtains down on another riveting day of action at the Hong Kong Coliseum, the livewire Indonesians crushed archrivals, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, in anticlimactic straight games to surpass their haul of seven titles in a season achieved last year and equalled last week when they conquered the Men’s Doubles field in the Fuzhou China Open 2018. In humbling the No.4 seeds, 21-13 21-12, the world No.1 pair thwarted Japan’s quest to become the first nation to win four titles at any World Tour event. “I’m very happy with our performance. We played really well today and put the opponent under pressure. It was a very good match for us,” declared 27-year-old Gideon. Meanwhile, Sukamuljo said he never thought about establishing a new season record regarding the number of tournaments won. He just tried his best in every event. “Today we never lost focus and kept pushing them,” he noted. 

Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon, memberi undangan pernikahan ke Presiden Joko Widodo saat diundang ke Istana Merdeka, Senin 02/04/2018.

Marcus bersama pasangannya, Kevin Sanjaya, diundang ke Presiden Jokowi ke Istana Merdeka. Pemenang All England 2018 itu datang ke Istana Merdeka didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Dalam pertemuan singkat sekitar 15 menit itu Marcus sempat memberikan undangan pernikahan bersama Agnes Amelinda kepada Presiden Jokowi.

Dalam pertemuan dengan Kevin dan Marcus, Presiden Jokowi memberi selamat kepada pasangan berjuluk Minions itu karena bisa mempertahankan gelar juara All England. Kevin/Marcus juga diharapkan Presiden Jokowi bisa menyumbang medali emas dalam Asian Games 2018.

“Pak Presiden memberikan selamat dan berpesan terus mempertahankan prestasi,” ucap Marcus.

Gelar-3-Yonex All England 2018
Gelar-3-Yonex All England 2018
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Gold Medal
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Gold Medal
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, The Minions in action before the Final

Marcus Fernaldi Gideon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

The ‘Minions’ (featured image) continued to scorch the circuit for the second year running, chalking up an incredible eight World Tour titles besides the Asian Games gold. They were beaten in only one final – at the French Open. Given that they are the defending champions at the season finale, few would bet against them adding a ninth World Tour title to their collection this year.

Marcus Fernaldi Gideon (lahir di Jakarta, 9 Maret 1991; umur 27 tahun) adalah salah satu pemain bulu tangkis Ganda Putra Indonesia berpasangan dengan Markis Kido diganda putra dan ganda campuran bersama Rizki Amelia Pradipta. Pada tahun 2015, ia berpasangan dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo di ganda putra. Penghujung tahun 2017 ini, Marcus Fernaldi Gideon bersama Kevin Sanjaya Sukamuljo berhasil mencatatkan sejarah baru di ganda putra yaitu juara 7 turnamen dalam 1 tahun setelah pada hari minggu 17 Desember 2017 menjadi kampiun di turnamen SS Final Dubai dengan menaklukan pasangan Tiongkok Zhang Nan-Liu Cheng 21-16, 21-15.

Prestasi

Pesta Olahraga Asia Tenggara

BWF Superseries

BWF Superseries, diluncurkan pertama pada 14 Desember 2006 dan diimplementasikan pada tahun 2007 merupakan serangkaian turnamen bulu tangkis level atas yang diadakan oleh Badminton World Federation (BWF). Satu musim Superseries terdiri dari 12 turnamen di seluruh dunia, termasuk lima Superseries Premier yang diperkenalkan sejak 2011, di mana para pemenang akan diundang untuk bermain di Final Superseries pada akhir tahun.

BWF Grand Prix

BWF Grand Prix terdiri dari dua tingkatan, seperti Grand Prix Gold dan Grand Prix. Ini adalah rangkaian turnamen bulu tangkis yang diselenggarakan oleh Badminton World Federation (BWF) sejak 2007.

BWFInternational Challenge/Series

Gelar Juara 2017 . The Minions Kevin-Marcus

  1. Gelar-1 2017-03-12 Yonex  All England 2017
  2. Gelar-2 2017-04-02 India Open 2017
  3. Gelar-3 2017-04-09 Malaysia open 2017
  4. Gelar-4 2017-09-24 Japan Open 2017
  5. Gelar-5 2017-09-19 China Open 2017
  6. Gelar-6 2017-11-26 Hong Kong Open 2017
  7. Gelar-7 2017-12-17 World Superseries Finals 2017

Gelar Runner Up 2017 .The Minions Kevin-Marcus

  1. Korea Open 2017
  2. Denmark Open 2017

Gelar Juara 2018 . The Minions Kevin-Marcus

  1. Gelar-1 2018-01-23.28 Daihatsu Indonesia Master 2018
  2. Gelar-2 2018-01-30.04 Yonex Sunise India Open 2018
  3. Gelar-3 2018-03-14.18 Yonex All England 2018
  4. Gelar-4 2018-07-03.08 Blibli Indonesia Open 2018
  5. Gelar-5 2018-08-19.22 Asian Games Jakarta-Palembang 2018
  6. Gelar-6 2018-09-11.16 Daihatsu Yonex Japan Open 2018
  7. Gelar-7 2018-10-16.21 Danisa Denmark Open 2018
  8. Gelar-1 2018-11-06.11 Fuzhou China Open 2018
  9. Gelar-1 2018-11-13.18 Yonex Sunise Hong Kong Open 2018

BWF Player Profile 2018 . Marcus Fernaldi GIDEON
BWF Player Profile 2018 . Kevin Sanjaya Sukamuljo

Gelar Runner Up 2018 .The Minions Kevin-Marcus

  • 2018-10-23.28-YONEX French Open 2018

Gallery

YONEX-SUNRISE HONG KONG OPEN 2018. A record eighth HSBC BWF World Tour title by Marcus Fernaldi Gideon and Kevin Sanjaya Sukamuljo highlighted the finals of the YONEX-SUNRISE Hong Kong Open 2018 today. Bringing the curtains down on another riveting day of action at the Hong Kong Coliseum, the livewire Indonesians crushed archrivals, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, in anticlimactic straight games to surpass their haul of seven titles in a season achieved last year and equalled last week when they conquered the Men’s Doubles field in the Fuzhou China Open 2018. In humbling the No.4 seeds, 21-13 21-12, the world No.1 pair thwarted Japan’s quest to become the first nation to win four titles at any World Tour event. “I’m very happy with our performance. We played really well today and put the opponent under pressure. It was a very good match for us,” declared 27-year-old Gideon. Meanwhile, Sukamuljo said he never thought about establishing a new season record regarding the number of tournaments won. He just tried his best in every event. “Today we never lost focus and kept pushing them,” he noted.

Pebulutangkis ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon, memberi undangan pernikahan ke Presiden Joko Widodo saat diundang ke Istana Merdeka, Senin 02/04/2018.

Marcus bersama pasangannya, Kevin Sanjaya, diundang ke Presiden Jokowi ke Istana Merdeka. Pemenang All England 2018 itu datang ke Istana Merdeka didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Dalam pertemuan singkat sekitar 15 menit itu Marcus sempat memberikan undangan pernikahan bersama Agnes Amelinda kepada Presiden Jokowi.

Dalam pertemuan dengan Kevin dan Marcus, Presiden Jokowi memberi selamat kepada pasangan berjuluk Minions itu karena bisa mempertahankan gelar juara All England. Kevin/Marcus juga diharapkan Presiden Jokowi bisa menyumbang medali emas dalam Asian Games 2018.

“Pak Presiden memberikan selamat dan berpesan terus mempertahankan prestasi,” ucap Marcus.

Gelar-3-Yonex All England 2018
Gelar-3-Yonex All England 2018
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Gold Medal
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Gold Medal
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, The Minions in action before the Final
Pesta pernikahan di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Sabtu malam, 14 April 2018

Liem Swie King

BIOGRAPHY-NEW

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

6885723868_8463744756

Liem Swie King (Hanzi: 林水鏡; Pinyin: Lín Shuǐjìng ; lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956; umur 61 tahun) adalah seorang pemain bulu tangkis yang dulu selalu menjadi buah bibir sejak dia mampu menantang Rudy Hartono di final All England tahun 1976 dalam usianya yang ke-20. Kemudian Swie King menjadi pewaris kejayaan Rudy di kejuaraan paling bergengsi saat itu dengan tiga kali menjadi juara ditambah empat kali menjadi finalis. Bila ditambah dengan turnamen “grand prix” yang lain, gelar kemenangan Swie King menjadi puluhan kali. Swie King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas. Tiga di antaranya Indonesia menjadi juara.

Liem Swie King Biodata

Liem Swie King

Mulai bermain bulu tangkis sejak kecil atas dorongan orangtuanya di kota kelahiran Kudus, Swie King yang lahir 28 Februari 1956 akhirnya masuk ke dalam klub PB Djarum yang banyak melahirkan para pemain nasional.

Usai menang di Pekan Olahraga Nasional saat berusia 17 tahun, akhir 1973, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Setelah 15 tahun berkiprah, Swie King merasa telah cukup dan mengundurkan diri pada tahun 1988. Saat aktif sebagai pemain, Liem terkenal dengan pukulan smash andalannya, berupa jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.

Perjalanan Hidup


Liem Swie King lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. Ia terkenal dengan pukulan jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.

Sejak kecil Swie King sudah bermain bulu tangkis atas dorongan orangtuanya di Kudus, kota kelahirannya. Kepiawaiannya bermain bulu tangkis makin terasah ketika ia masuk ke dalam klub PB Djarum yang telah banyak melahirkan para pemain nasional.

Dalam catatan Pusat Data Tokoh Indonesia, Liem Swie King meraih berbagai prestasi selama 15 tahun berkiprah di bulu tangkis. Pertama kali, Swie King meraih Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972). Pada usia 17 tahun (1973), ia menjuarai (II) Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Ia pun meraih Juara Kejurnas 1974 dan 1975.

Kemudian berkiprah di kejuaraan internasional, meraih Juara II All England (1976 & 1977). Kemudian tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, 1981), kejuaraan paling bergengsi kala itu. Selain itu, puluhan medali grand prix lainya, medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan tiga medali emas Piala Thomas (1976, 1979, 1984) dari enam kali membela tim Piala Thomas.

Demi Masa Depan


Demi menjamin masa depan, ia pun mengundurkan diri sebagai pemain nasional bulu tangkis tahun 1988. Kendati ia tidak langsung bisa menemukan kegiaatan usaha untuk mencapai cita-citanya. Setahun setelah berhenti itu, King nyaris dapat dikatakan menganggur. Sebab keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis.

Kemudian ia mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Kini usahanya telah mempekerjakan lebih dari 400 karyawan. Berkantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan.

Bagaimana King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan? Rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus.

Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang. Dalam mengelola usahanya, ia pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya.

Hasilnya, selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta, banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.

Menurut informasi dari kerabat dekatnya, Liem Swie King sebenarnya dari marga Oei bukan marga Liem. Pergantian marga seperti ini pada masa dahulu zaman Hindia Belanda biasa terjadi, pada masa itu seorang anak dibawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yg menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada “orang tua” yg lain, “orang tua” ini bisa saja bermarga sama atau lain dari aslinya.

Pebulu tangkis yang pernah terjun ke dunia film sebagai bintang film Sakura dalam Pelukan, ini kini hidup bahagia bersama isteri dan tiga orang anaknya Alexander King, Stevani King dan Michele King. Ternyata, anak-anaknya tidak tahu bahwa King seorang pahlawan bulu tangkis Indonesia.

Belakangan, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, mernjadikan kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulu tangkis Indonesia sebagai inspirasi untuk membuat film tentang bulu tangkis. Film itu memang bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King. ►Tian Son Lang

Kiprah di luar bulu tangkis


  • Bintang film Sakura dalam Pelukan
  • Pengusaha hotel (pekerjaan kini)
  • Kisahnya dibuat film pada tahun 2009, yaitu King
  • Bintang Iklan Indomie bersama Sherina Munaf pada tahun 2012

Pendidikan


  • SD, Kudus (1968)
  • SMP, Kudus (1971)
  • SMA, Kudus (1974)

Karier


  • Pebulu tangkis Indonesia
  • Pengusaha Hotel dan Spa

Nasional


  • Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972)
  • Juara II PON 1973
  • Juara Kejurnas 1974, 1975

International


Tunggal

  • 1974: Semi Finalis Asian Games Tehran
  • 1976: Finalis All England Open, Finalis Kejuaraan Asia
  • 1977: Finalis All England Open, Juara Denmark Open, Juara Swedia Open, Juara
  • SEA Games
  • 1978: Juara All England Open, Juara Asian Games Bangkok
  • 1979: Juara All England Open
  • 1980: Finalis Kejuaraan Dunia, Finalis All England
  • 1981: Juara All England Open, Semi Finalis World Games St.Clara, Juara SEA Games
  • 1982: Finalis Asian Games New Dehli, Juara Piala Dunia
  • 1983: Finalis Kejuaraan Dunia, Juara Indonesia Open, Juara Malaysia Open
  • 1984: Finalis All England Open, Finalis World Badminton Grand Prix
  • 1985: Semi Finalis All England Open

Ganda


  • 1983: Finalis SEA Games (bersama Hadibowo)
  • 1984: Juara Piala Dunia (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1985: Juara Piala Dunia, Juara Indonesia Open, Semi Finalis Kejuaraan Dunia , Finalis SEA Games (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1986: Juara Piala Dunia, Semi Finalis Asian Games Seoul (bersama Bobby Ertanto); Juara Indonesia Open (bersama Kartono Hariamanto)
  • 1987: Juara Asia (bersama Bobby Ertanto); Juara SEA Games, Juara Japan Open, Juara Indonesia Open, Juara Taiwan Open, Finalis Thailand Open (bersama Eddy Hartono)

Beregu


  • 1976: Juara Piala Thomas
  • 1977: Juara SEA Games
  • 1978: Juara Asian Games
  • 1979: Juara Piala Thomas, Juara SEA Games
  • 1981: Finalis SEA Games
  • 1982: Finalis Piala Thomas, Finalis Asian Games
  • 1983: Juara SEA Games
  • 1984: Juara Piala Thomas
  • 1985: Juara SEA Games
  • 1986: Finalis Piala Thomas, Semi Finalis Asian Games
  • 1987: Juara SEA Games

Baca Juga: Badminton


King Jadi Raja (Juara Asian Games 1978)

September 5, 2011

liem-rudy

Tempo, 23 Desember 1978. Dalam final perorangan, King sekali lagi menjatuhkan juara RRC, Han Tsien. Penampilannya mantap. Sejak ronde pertama, ia tak pernah kehilangan satu set pun. Juga dalam menghadapi Luan Chin, juara dunia versi Federasi Bulu tangkis Dunia (WBF) di semi final, King menang bersih. Pertarungan antara kedua finalis yang berbeda kiblat ini tampak berjalan alot. (Indonesia adalah anggota Federasi Bulutangkis Internasional — IBF). Tak ada bola dari King yang dilepas begitu saja oleh Han Tsien.

Set pertama dimenangkan King, 15-7, dengan 18 menit. Dalam set lanjutan, Han Tsien sempat memburu King 5-6, setelah ketinggalan 1-6. Tapi Han Tsien tak lama bertahan. Setelah bola berpindah tangan, ia kelihatan tak kuasa menahan tekanan. Dan King melaju dengan 7 angka tambahan. Sampai di situ, Han Tsien memperkecil ketinggalan lagi menjadi 11-13. “Agak gugup juga saya dibuat Han Tsien,” ujar King kemudian. Set ini diakhiri King 15-11 dalam 13 menit.

Melihat penampilan yang memukau itu, koran Bangkok Post, 20 Desember, tak ayal menurunkan judul menyolok: “Liem Swie King is shuttle king. ” Betulkah King raja bulutankis? Juara All England 1959, Hendra Kertanegara pernah memuji King, juara All England 1978. “Ia punya pukulan tak terlihat yang menyesatkan ala Finn Kobero dan Svend Pri,” kata Kertanegara. “Tipe permainan yang kurang kita punyai di sini.” Kobero dan Pri adalah pemain andalan Denmark. Hou Chia Chang, bintang RRC yang kini bermain ganda bersama Yu Yao Tung berpendapat lain. “King pemain baik,” kata Chang kepada Lukman Setiawan dari TEMPO. Tapi, “dalam soal pukulan (dia) masih kurang.” Pukulan King kurang keras? “Tidak. Bukan itu,” lanjutnya. “Fisiknya kuat, kakinya kuat, pukulannya keras. Cuma bila diajak bermain rally, pukulannya itu-itu saja. Tak banyak variasi.”

King, lahir di Kudus, 28 Pebruari 1956, memang agak kurang memberikan variasi pukulan bila diajak rally. Ia beberapa kali keteter sewaktu dibawa Han Tsien atau Luan Chin dalam beradu ulet. Ketika King pertama kali mengorbit di tahun 1974, pelatihnya, Agus Susanto, tampak sudah menyadari kekurangan anak asuhannya. “Lawan main jelek, ia juga jelek,” kata Susanto. Di AG VIII, King beruntung berkat pengalaman. Keteter dalam rally, diimbanginya dengan permainan cepat. “King memang unggul dalam kecepatan,” komentar pelatih RRC, Wang Wen Chiao. “Itu dimungkinkan karena staminanya bagus.”

Penampilan bulutangkis Indonesia, umumnya tidak mengecewakan. Di AG VII, Teheran 1974, mereka cuma membawa pulang 2 medali emas atas nama pasangan Tjuntjun/Johan Wahyudi dan ganda campuran Christian/Regina Masli. Sekarang mereka memboyong 4 dari 7 medali emas yang diperebutkan – 1 dari beregu putera dan 3 melalui nomor perorangan. Pemenang 3 nomor yang disebut terakhir ini adalah Liem Swie King (tunggal), Christian/Ade Chandra (ganda putera), dan Verawaty/Imelda Wiguna (ganda puteri).

Sumber : Arsip Majalah Tempo Online


Rudy Hartono, Liem Swie King, dan Misteri Final All England 1976

Pertandingan final tunggal putra All England pada 1976 masih menyimpan misteri besar untuk masyarakat Indonesia. Menyuguhkan All Indonesian Final yang mempertemukan Rudy Hartono dengan Liem Swie King, pencinta bulutangkis Tanah Air dibuat bertanya-tanya. King yang sedang dalam performa bagus di luar dugaan kalah dengan mudah dari Rudy dengan skor 7-15 dan 5-15.

Kontroversi tentang partai tersebut juga mendapat porsi istimewa di buku “Panggil Aku King” yang ditulis Robert Adhi KSP. Pada cover belakang buku itu tercantum pertanyaan tentang final itu.

Dalam final All England 1976, Liem Swie King “kalah” dari Rudy Hartono. Rudy menjadi juara ke delapan kali. Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah Liem Swie King diminta mengalah? Mengapa pemilik PB Djarum, Budi Hartono, kecewa pada penampilan King waktu itu?

Liem Swie King diyakini diminta untuk mengalah kepada Rudy Hartono yang merupakan seniornya di pelatnas. Apalagi kemenangan di final bakal mengantar Rudy mengukir sejarah baru, sebagai pemain yang paling banyak mengoleksi gelar juara All England di nomor tunggal putra, tepatnya sebanyak delapan kali. Yang menjadi pertanyaan, jika analisis itu benar, siapa pihak yang meminta King mengalah? Salah satu kecurigaan mengarah pada Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Tapi, hingga sekarang tak ada bukti yang membenarkan dugaan tersebut.

Kecurigaan ada pengaturan hasil pertandingan final itu muncul bukan tanpa alasan. Pada All England 1976, King sedang pada performa terbaik, sehingga melaju mulus tanpa hambatan dan bahkan mampu mengalahkan pemain-pemain kuat, Sture Johnson di semifinal dan Svend Pri di perempat final. Kedua pertandingan tersebut dilalui King tanpa hambatan berarti.

Keadaan terbalik justru dialami Rudy yang harus menguras keringat saat berhadapan dengan pebulutangkis asal Denmark, Flemening Delfs, di babak semifinal. Rudy pun tampil di final dalam kondisi kalah bugar dibanding sang junior di partai puncak. Di atas kertas, King sangat diunggulkan untuk bisa menjadi juara All England dengan mengalahkan Rudy di partai final.

Namun, performa King yang impresif di babak perempat final dan semifinal tidak terlihat ketika berhadapan dengan Rudy di partai puncak. Dia dianggap bermain setengah hati sehingga Rudy bisa menang dengan relatif mudah.

Pada buku “Panggil Aku King”, Liem Swie King mengaku diomeli habis-habisan oleh pemilik Djarum, Budi Hartono, saat tiba di Indonesia.

“Pak Budi merasa heran mengapa pertandingan selesai begitu cepat dan aku terlihat tidak bersemangat melawan Rudy Hartono. Budi mengatakan bahwa dia melatihku susah payah selama ini agar aku menjadi juara, bukan bertanding dengan tanpa semangat seperti terjadi di final All England 1976. Pak Budi menganggap aku bisa bertarung habis-habisan melawan Rudy Hartono, tetapi aku tidak melakukan itu,” urai King tentang memori final All England 1976.

King mengakui ditanya banyak orang tentang final kontroversial itu. Tak sedikit yang bertanya apakah King sengaja mengalah demi Rudy. Banyak fansnya yang tak percaya dengan hasil di final All England, apalagi setelah turnamen prestisius tersebut Liem Swie King tampil gemilang membekuk para rival-rivalnya.

Namun, di buku tersebut King tak memberikan jawaban gamblang atas misteri final All England 1976. Dia hanya mengaku menyesal gagal memenangi pertandingan puncak tersebut. Tak ada pengakuan maupun bantahan bahwa dia sengaja diminta mengalah demi Rudy Hartono.

“Aku memang sangat menyesal aku tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit. Aku menunjukkan bahwa aku mampu ketika uji coba menjelang Piala Thomas, aku mengalahkan semua pemain, baik Rudy Hartono, Iie Sumirat, maupun Tjun Tjun. Aku sungguh menyesal tidak bermain habis-habisan sampai ‘berdarah-darah’ dalam partai final All England itu,” ujar Liem Swie King menutup ceritanya tentang rahasia final All England 1976.

Kemenangan atas King mengukuhkan Rudy sebagai peraih gelar juara All England terbanyak di nomor tinggal dengan delapan kemenangan. Yang istimewa, tujuh gelar di antaranya diraih Rudy secara beruntun pada pada periode 1968-1974. Gelar juara sempat lepas dari tangan Rudy setelah kalah dari pemain Denmark, Svend Pri, pada 1975.

Gelar juara pada 1976 menjadi prestasi Rudy yang terakhir di ajang All England. Prestasi Rudy di nomor tunggal putra All England belum berhasil disamai pemain manapun hingga kini.

Erland Korps dari Denmark pernah meraih tujuh gelar All England, tetapi prestasi itu diraih dalam kurun waktu 10 tahun.

Lalu, setelah sekian dekade berlalu, apakah misteri final All England 1976 berhasil dipecahkan? Jawabannya tidak. Hingga kini, Liem Swie King maupun Rudy Hartono tetap bungkam soal rahasia di balik partai final kontroversial tersebut.

Satu hal yang pasti, keduanya adalah pebulutangkis hebat yang menjadi legenda dan pernah dimiliki Indonesia. Bisa jadi pertandingan bukan hanya soal menang atau kalah buat para legenda seperti mereka. Mungkin faktor itu yang membuat Rudy Hartono dan Liem Swie King yang tetap menyimpan jawaban seputar pertanyaan di final All England 1976. Entah sampai kapan.


King Sanggup Kalahkan Lin Dan atau Chong Wei

Kompas – 21/03/2012

Legenda bulu tangkis Indonesia, Liem Swie King meminta para pemain bulu tangkis Indonesia tidak perlu takut menghadapi pemain-pemain utama dunia.

Kalau kita selalu menjaga kondisi dan konsistensi dalam pertandingan, kita akan selalu siap menghadapi pemain dengan kemampuan apa pun,” kata Liem Swie King di Jakarta, Rabu (21/3).

Liem Swie King merupakan pemain legendaris Indonesia pada dekade 1970-1980-an. Di masa jayanya, pemain kelahiran Kudus ini pernah tiga kali menjadi juara tunggal putera All England (1978, 1979 dan 1981). King juga dikenal piawai bermain ganda putera bersama Christian Hadinata, Kartono Hariatmanto atau pun Bobby Ertanto. Ia mengundurkan diri di usia 32 pada 1988.

King muncul setelah surutnya era kegemilangan maestro bulu tangkis Rudy Hartono. Berbeda dengan gaya permainan Rudy yang mengandalkan strokes, permainan Liem Swie King pada awal karirnya sangat mengandalkan tenaga dan kecepatan yang dikenal dengan gaya permainan “speed and power game.” King juga yang memopulerkan smash dengan loncatan yang dikenal dengan istilah, “King’s smash.”

King juga dianggap sebagai pemain dengan stamina yang luar biasa. Ia mampu bermain rangkap tunggal dan ganda pada saat permainan bulu tangkis masih menggunakan sistem service over dengan angka maksmial 18.

Menurut King yang telah berusia 56 tahun, perkembangan gaya permainan di tunggal saat ini jauh berbeda dengan ganda putera. “Di nomor ganda permainan sekarang sangat cepat dan membutuhkan defense yang sangat bagus. Sementara untuk tunggal masih ada reli mau pun drive yang tidak jauh berbeda dengan jaman saya,” kata King.

Menurutnya, mandeknya perkembangan teknik di nomor tunggal putera diperlihatkan dengan masih eksisnya pemain-pemain lama sepertri Lee Chong Wei, Lin Dan, Peter Gade bahkan Taufik Hidayat. “Teknik dan stroke mereka memang bagus dan sistem poin sekarang membantu mereka masih mampu bersaing dengan pemain muda,” kata King.

Karena itulah, final Olimpiade London Juli mendatang menurut King keumungkinan besar akan mempertemukan Lee Chong Wei dan Lin Dan. “Memang secara motivasi, Lee Chong Wei lebih tinggi karena belum pernah juara. Tetapi kalau menurut saya, Lin Dan akan meraih lagi medali emas olimpiade.”

Membandingkan permainan pemain sekarang dengan pada masa jayanya, King mengatakan ia sanggup mengalahkan Lin Dan atau pun Lee Chong Wei. “Tetapi dengan kondisi saya pada usia 20-an ya. Jangan membayangkan saya pada masa menjelang pensiun. Saya kira kalau seusia, saya masih bisa. Setidaknya permainan akan berlangsung seru…”


 

 

 

Rudy Hartono Kurniawan

BIOGRAPHY-NEW

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

rudi hartono 2013-06-09

Rudy Hartono Kurniawan

6885723868_8463744756

Rudy Hartono Kurniawan (Hanzi: 梁海量, Nio Hap Liang; translasi fonetik nama Indonesianya ke bahasa Tionghoa: 哈托诺 Hatuonuo; lahir di Surabaya, Jawa Timur, 18 Agustus 1949; umur 68 tahun) adalah seorang mantan pemain bulu tangkis Indonesia. Ia pernah memenangkan kejuaraan dunia pada tahun 1980, dan Kejuaraan All England selama 8 kali pada tahun 1960-an dan 1970-an.

rudy-hartono-kurniawan

Rudy Hartono Kurniawan Biodata

Sejarah


Masa kecil

Rudy Hartono adalah anak ketiga dari 9 bersaudara yang lahir dari pasangan Zulkarnain Kurniawan. Orang tua Rudy tinggal di Jalan Kaliasin 49 (sekarang Jalan Basuki Rahmat), Surabaya, Jawa Timur dan bekerja sebagai penjahit pakaian pria. Selain itu orang tua Rudy juga mempunyai usaha pemrosesan susu sapi di Wonokromo, Jawa Timur.

Seperti anak-anak seumuran lainnya, Rudy kecil juga tertarik dengan berbagai macam olahraga sejak SD, terutama atletik dan renang. Pada masa SMP dia juga berkecimpung di olahraga bola voli dan pada masa SMA dia juga adalah pemain sepak bola yang handal. Tapi dari semua olahraga yang dia ikuti, keinginan terbesarnya akhirnya hanya jatuh pada permainan bulu tangkis. Pada usia 9 tahun, Rudy kecil sudah menunjukkan bakatnya di bulu tangkis. Tetapi ayahnya baru menyadarinya ketika Rudi sudah berumur 11 tahun. Sebelum itu Rudy hanya berlatih di jalan raya aspal di depan kantor PLN di Surabaya, yang sebelumnya dikenal dengan Jalan Gemblongan — ditulis oleh Rudy Hartono dalam bukunya Rajawali dengan Jurus Padi (1986). Rudy berlatih hanya pada hari Minggu, dari pagi hari hingga pukul 10 malam. Setelah merasa cukup, Rudy memutuskan utuk mengikuti kompetisi-kompetisi kecil yang ada di sekitar Surabaya yang pada masa itu biasanya hanya diterangi oleh sinar lampu petromax.

Setelah ayahnya menyadari bakat anaknya, maka Rudy kecil mulai dilatih secara sistematik pada Asosiasi Bulu Tangkis Oke dengan pola latihan yang telah ditentukan oleh ayahnya. Sekedar informasi, ayah Rudy juga pernah menjadi pemain bulu tangkis pada masa mudanya. Zulkarnain pernah bermain di kompetisi kelas utama di Surabaya. Zulkarnain pertama kalinya bermain untuk Asosiasi Bulu Tangkis Oke yang dia dirikan sendiri pada tahun 1951. Di asosiasi ini ayah Rudy juga melatih para pemain muda. Program kepelatihannya ditekankan pada empat hal utama yaitu: kecepatan, pengaturan napas yang baik, konsistensi permainan dan sifat agresif dalam menjemput target. Tidak mengherankan banyak program kepelatihannya lebih menekankan pada sisi atletik, seperti lari jarak panjang dan pendek dan juga latihan melompat (high jump).

Ketika Rudy mulai berlatih di Asosiasi yang dimiliki ayah pada saat itulah Rudy merasakan latihan profesional yang sesungguhnya. Pada saat itu asosiasi tempat ayah Rudy melatih hanya mempunyai ruangan latihan di gudang gerbong kereta api di PJKA Karangmenjangan. Dengan kondisi seperti itu Rudy tetap berlatih dengan bersemangat bahkan dia merasa bahwa tempat latihan ayahnya jauh lebih baik dari tempat latihan sebelumnya karena ruangan gedung telah memakai cahaya lampu listrik sehingga dia bisa tetap berlatih dengan maksimal sampai malam hari. Selain itu lapangan yang disediakan juga lebih baik dibanding sebelumnya dan juga ada kantin yang berada di samping gedung latihan.

PNG-hot_thread_fbekas8d12n4

Awal Karier

Setelah beberapa lama bergabung dengan grup ayahnya, akhirnya Rudy memutuskan untuk pindah ke grup bulu tangkis yang lebih besar yaitu Grup Rajawali, grup yang telah melahirkan banyak pemain bulu tangkis dunia. Pada awal dia bergabung dengan grup ini, Rudy merasa sudah menemukan grup terbaik untuk mengembangkan bakat bulu tangkisnya. Akan tetapi setelah berdiskusi dengan ayahnya, Rudy mengakui bahwa jika dia ingin kariernya di bulu tangkis meningkat maka dia harus pindah ke tempat latihan yang lebih baik, oleh sebab itu Rudy memutuskan untuk pindah pada Pusat Pelatihan Thomas Cup pada akhir tahun 1965. Tak lama setelah itu, penampilan Rudy semakin membaik. Bahkan dia turut ambil bagian dalam memenangkan Thomas Cup untuk Indonesia pada tahun 1967. Pada umur 18 tahun, untuk pertama kalinya Rudy memenangkan titel Juara All England dengan mengalahkan Tan Aik Huang dari Malaysia dengan hasil akhir 15-12 dan 15-9. Setelah itu dia terus memenangkan titel ini sampai dengan tahun 1974.

Perolehan Medali

Perolehan medal

Statistik Karier


Final Turnamen BWF/IBF

Tunggal – Menang

Final turnamen BWF

Final Turnamen Internasional

Tunggal – Menang

Final turnamen internasional-Menang

Tunggal – Juara II

Final turnamen internasional-Juara 2

Ganda – Juara II

Final turnamen internasional-Juara 2-Ganda

Daftar prestasi pada kejuaraan All England

  • 1968: Menang – mengalahkan Tan Aik Huang, (Malaysia)
  • 1969: Menang – mengalahkan Darmadi (Indonesia)
  • 1970: Menang – mengalahkan Svend Pri (Denmark)
  • 1971: Menang – mengalahkan Muljadi (Indonesia)
  • 1972: Menang – mengalahkan Svend Pri (Denmark)
  • 1973: Menang – mengalahkan Christian Hadinata (Indonesia)
  • 1974: Menang – mengalahkan Punch Gunalan (Malaysia)
  • 1975: Kalah – dikalahkan Svend Pri (Denmark)
  • 1976: Menang – mengalahkan Liem Swie King (Indonesia)
  • 1977: – Tidak ikut
  • 1978: Kalah – dikalahkan Liem Swie King (Indonesia)

Penghargaan


Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama

Kegiatan di luar bulu tangkis


  • Pengusaha oli merek Top 1
  • Pemain film “Matinya Seorang Bidadari” (1971) bersama Poppy Dharsono

Tan Joe Hok: Rekor Rudy Hartono Abadi

CNN Indonesia Minggu, 22/03/2015 08:55 WIB

2ef96278-becb-4fc0-b43f-bc9842d7c07b_169

Menurut salah satu legenda bulutangkis Indonesia, Tan Joe Hok, pencapaian legenda bulutangkis tanah air lainnya, Rudy Hartono, di kompetisi tertua dunia bulutangkis All England tak akan pernah bisa dilampaui oleh pemain lain.

Dalam periode tahun 1968 hingga 1974, nama Rudy memang terus-menerus terukir pada trofi All England selama tujuh kali berturut-turut.

Bahkan pada 1976, Rudy menjadi atlet bulutangkis terbanyak yang mampu meraih gelar All England, setelah mengalahkan sesama pebulutangkis Indonesia, Liem Swie King di partai puncak. Hingga kini pun, rekor delapan kali juara All England tersebut tak tersentuh oleh pebulutangkis lainnya.

Saya rasa pencapaian Rudy di All England tidak akan pernah mampu disamai oleh pemain-pemain lain,” ujar Tan Joe Hok ketika dihubungi CNN Indonesia, Selasa (17/3).

Saingan terdekat Rudy, Erland Kops, hanya berhenti di gelar ketujuh dan mengingat pebulutangkis asal Denmark tersebut telah menggantung raketnya, rekor Rudy ini tampaknya masih akan bertahan selama satu abad mendatang.

Pebulutangkis asal Tiongkok yang saat ini masih aktif di dunia bulutangkis, Lin Dan, juga hanya berhenti gelar kelima, serta gagal menambah koleksi gelarnya saat terhenti di semifinal All England tahun ini.

Usaha pebulutangkis masa kini untuk menumbangkan rekor Rudy juga dianggap Tan Joe Hok terbentur kepada jumlah turnamen bulutangkis yang kian meningkat dewasa ini.

Jika dibandingkan pada masanya, yang hanya ada turnamen besar seperti Glasgow, Amerika Serikat, Kanada, dan All England, atlet bulutangkis masa kini seringkali telah ‘kehabisan tenaga’ di turnamen-turnamen lain, sehingga gagal tampil maksimal di All England.

Pemain Langka

Sosok Rudy di dunia bulutangkis Indonesia sendiri dianggap Tan Joe Hok sebagai sosok yang langka.

Terlebih lagi determinasi dan kemauannya untuk bekerja keras dianggap oleh Tan Joe Hok tersebut sebagai sesuatu yang sulit ditemukan dalam diri pemain lain.

“Dari awal saya sudah berpikir dia akan menjadi pemain hebat,” ujar Tan Joe Hok melanjutkan. “Saat latihan benar-benar fokus, tidak mau kalah, dan tidak mau menyerah.”

Barang langka, sulit untuk mencari orang seperti dia.”

Selain itu, Tan Joe Hok juga menilai Rudy merupakan tipe atlet yang akan selalu berusaha untuk mengejar kemenangan, bukan hanya sekedar bermain ‘cantik’ untuk menghibur suporter di lapangan.

Di dunia bulutangkis ada dua jenis pemain, ujar Tan Joe Hok.

  • “Yang pertama adalah pemain yang memiliki pukulan hebat, bermain cantik, tetapi tidak selalu menang.”
  • “Sedangkan satu lagi merupakan tipe pemain yang pukulannya mungkin tidak terlalu hebat, tetapi selalu meraih kemenangan. Itulah Rudy. Permainan dia itu istilahnya tak mementingkan style.”

Kini kedua legenda bulutangkis ini telah sama-sama menggantung raketnya, namun prestasi mereka tak akan hilang ditelan zaman. Terlebih pencapaian mereka telah menjadi kebanggaan bersama bangsa Indonesia, serta meletakkan fondasi kuat di dunia bulutangkis tanah air yang kita kenal saat ini.


Rudy Hartono: Sang Maestro Bulutangkis Indonesia

Oleh: Suharyani. November 27, 2014

mf20110629042

Rudy Hartono Kurniawan lahir pada 18 Agustus 1949 di Surabya, Jawa Timur. Nama Rudy dalam bahasa China: Nio Hap Liang. Dia merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan Zulkarnain dan Endang Suryaningsih. Dia memiliki dua orang kakak yang bernama Freddy Harsono dan Diana Veronica, serta memiliki enam orang adik. Rudy menganut agama Kristen Protestan. Orang tuanya tinggal di Jalan Kaliasi 49 (sekarang Jalan Basuki Rahmat), Surabaya, Jawa Timur dan bekerja sebagai penjahit pakaian pria dan mempunyai usaha pemrosesan susu sapi di Wonokromo, Jawa Timur.

Seperti anak-anak seumuran lainnya, Rudy kecil juga tertarik dengan berbagai macam olahraga. Sejak SD, terutama atletik dan renang. Pada masa SMP dia juga berkecimpung di olahraga bola voli dan pada masa SMA dia adalah pemain sepak bola yang handal. Tapi dari semua olahraga yang diikutinya, keinginan terbesarnya akhirnya hanya jatuh pada permainan bulutangkis. Pada usia 9 tahun, dia sudah menunjukkan bakatnya di bulutangkis. Tetapi, ayahnya baru menyadarinya ketika dia sudah berumur 11 tahun.

Sebelum itu, Rudy hanya berlatih di Jalan raya di depan kantor PLN di Surabaya yang sebelumnya dikenal dengan jalan Gemblongan. Dia berlatih hanya pada hari Minggu dari pagi hingga pukul 10 malam. Setelah merasa cukup, dia memutuskan untuk mengikuti kompetisi-kompetisi kecil di sekitar Surabaya yang pada masa itu hanya diterangi oleh lampu petromax. Setelah ayahnya menyadari bakat anaknya, maka Rudy kecil mulai dilatih secara sistematik pada Asoiasi Bulutangkis Oke dengan pola latihan yang ditentukan ayahnya. Program kepelatihannya di tekankan pada empat hal utama yaitu: kecepatan, pengaturan napas, konsistensi permainan dan sifat agresif dalam menjemput target. Pada saat itu asosiasi tempat ayah Rudy melatih hanya mempunyai latihan di gudang gerbang kereta api di PJKA Karangmenjangan. Dia merasa bahwa tempat latihan ayahnya jauh lebih baik dari tempat latihan sebelumnya karena ruangan gedung telah memakai cahaya lampu listrik sehingga dia tetap bisa berlatih dengan maksimal.

Setelah beberapa lama bergabung dengan grup ayahnya, akhirnya Rudy memutuskan untuk pindah ke grup bulutangkis yang lebih besar yaitu Rajawali Group yang telah banyak menghasilkan pemain bulutangkis dunia. Namun, setelah mendapat masukan ayahnya. Ia mengakui bahwa jika ingin kemampuan dan kariernya di bulutangkis meningkat maka dia harus pindah ke tempat latihan yang lebih baik. Oleh karena itu, Rudy lantas bergabung dengan Pusat Pelatihan Nasional untuk Thomas Cup di akhir 1965. Setelah bergabung dengan Pusat Pelatihan Nasional untuk Thomas Cup, kemampuannya meningkat pesat.

Rudy telah menjadi bagian dari Thomas Cup yang menang pada 1967. Setahun kemudian, di usia 18 tahun dia meraih juara pertama di Kejuaraan All England mengalahkan pemain Malaysia, Tan Aik Huang dengan skor 15-12 dan 15-9. Dia kemudian menjadi juara di tahun-tahun berikutnya hingga 1974. Namun, nampaknya kedigdayaannya tidak berlangsung lama. Pada 1975, dia kalah dari Svend Pri. Tetapi, gelar juara All England dia rebut kembali pada 1976. Pada tahun yang sama, tanggal 28 Agustus setelah memperoleh gelar juaranya ke 8 dalam kompetisi All England Rudy Hartono menikahi Jane Anwar dan di karuniai dua orang anak yaitu Christoper Hartono dan Chistine Hartini Kurniawan. Bersama tim Indonesia, Rudy menjuarai Thomas Cup pada 1970, 1973, dan 1976. Setelah absen selama dua tahun, dia tampil kembali pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis II di Jakarta pada tahun 1980. Semula dimaksudkan sebagai pendamping, ternyata secara mengagumkan Rudy keluar sebagai juara. Berhadapan dengan Liem Swing King di final, pada usia 31 tahun dia membuktikan dirinya sebagai maestro tangguh. Dia dijuluki sebagai ‘Wonder Boy’, karena sampai saat ini belum ada satu pun atlet bulutangkis dunia yang mengalahkan rekor prestasinya dengan 8 kali menjuarai kompetisi bulutangkis tertua di dunia yaitu All England.

Berikut ini adalah daftar perstasi Rudy Hartono: Juara tunggal putra All England 8 kali (1968, 1969, 1070, 1971, 1972, 1973, 1974, dan 1976), Runner Up All England disektor ganda putra tahun 1971, Runner Up All England (1975,1978), Juara bersama Tim Thomas Cup Indonesia 4 kali (1970, 1973, 1976, 1979), Runner Up bersama Tim Thomas 2 kali (1967,1982), Juara dunia Cup Championship 1980, Juara Denmark open 3 kali (1971, 1972, 1974), Juara Canadian open 2 kali (1969, 1971), Juara US Open 1969, Juara Japan open 1981, Juara cabang olahraga percobaan pada olimpiade 1972 di Munich. Selain itu, Rudy juga memperoleh banyak penghargaan dari dalam maupun luar negeri seperti Asian Heroes, Time Magazine tahun 2006, Tercatat dalam Guiness Book Of World Records tahun 1982, Olahragawan terbaik SIWO/PWI pada tahun 1969 dan 1974, IBF Distinguished Service Awards 1985, IBF Herbert Scheele Trophy 1986, Honorary Diploma tahun 1987 dari The International Committee’s “Fair Play” Award, dan Tanda Kehormatan Republik Indonesia Jasa Utama.

Pada tahun 1971, Rudy Hartono pernah mencoba dunia akting dengan bermain di layar lebar bersama Poppy Dharsono dalam film yang berjudul “Matinya Seorang Bidadari”. Dan kemudian di tahun 1986, dia menerbitkan bukunya yang berjudul “Rajawali Dengan Jurus Padi” dalam bukunya tersebut Rudy menuliskan kisah perjalanan hidupnya.

Dan pada tahun 1982, Rudy Hartono menggantungkan raketnya sekaligus menutup masa keatletannya. Bahkan, pada tahun 1988 dia sudah tidak bisa lagi bermain bulutangkis walaupun hanya latihan ringan saja, dikarenakan operasi jantung yang telah dia jalani di Australia. Meskipun itu, Rudy tetap terlibat dalam olahraga yang dia tekuni semenjak kecil ini, walau hanya dari pinggir lapangan. Olahragawan terbaik SIWO/PWI tahun 1969 dan 1974 ini menjadi Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI dalam kurun waktu 1981-1985 dibawah kepengurusan Ferry Sonneville. Selain itu, dengan materi yang dimilikinya, ditunjang oleh hubungan yang luas dengan banyak pengusaha, dan hasil kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta dia mengembangkan bisnis. Peternakan sapi perah di Sukabumi adalah awal mulanya dia bergerak dalam bisnis susu. Dia juga bergerak dalam bisnis alat olahraga dengan mengageni merk Mikasa, Ascot, dan Yonex. Kemudian melalui Havilah Citra Foootwear yang didirikan pada tahun 1996, dia mengimpor berbagai macam pakaian olahraga. Selain itu, Rudy pun pernah menjadi pengusaha di merek Top 1. Dan berkat nama besarnya di dunia bulutangkis, United Nations Development (UNDP) menunjuk dirinya sebagai duta bangsa untuk Indonesia.

Rudy Hartono adalah salah satu orang yang sangat berkontribusi besar dalam mengharumkan nama Indonesia dimata dunia Internasional lewat permainan bulutangkisnya. Puluhan gelar telah dia dapatkan, bahkan belum ada atlet yang mampu menandinginya. Berbagai penghargaan dari Internasional juga pernah dia dapatkan. Rudy Hartono juga sukses mencetak pemain-pemain muda berbakat lainnya, seperti Alan Budi Kusuma yang sukses meraih gelar juara di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Meskipun Rudy Hartono adalah seorang pembulutangkis yang hebat, dia tetap rendah hati dan tidak pernah bersikap sombong.


Percaya Diri, Sakit Gigi, Juara All England Delapan Kali

Sabtu, 21/03/2015

Rudy Hartono, Juara All England tujuh kali beruntun dan delapan kemenangan secara keseluruhan.

Dalam deret kalimat itu, ada kehebatan, ketekunan, kerja keras, konsistensi, dan ada pula keberuntungan.

Rudy pertama kali memesona publik saat tampil di Piala Thomas 1967. Meskipun Indonesia kalah di partai final, namun Rudy sukses menyumbang dua poin di babak final dengan mengalahkan dua tunggal Malaysia, Tan Aik Huang dan Yew Cheng Hoe.

“Saat itu saya sudah disebut-sebut sebagai calon bintang bulu tangkis masa depan Indonesia. Karena saat itu saya baru berusia 17 tahun,” ujar Rudy mengenang.

Kemunculan Rudy pun seolah menjadi jawaban atas pergantian generasi bulu tangkis Indonesia setelah pada dekade sebelumnya nama Ferry Sonneville dan Tan Joe Hok menjadi ujung tombak nomor tunggal Indonesia.

“Saat itu saya langsung menjadi pebulu tangkis nomor satu di Indonesia. Meski demikian tetap saja keraguan mengalir perihal keberangkatan ke All England,” ucap Rudy.

“Padahal saya punya dasar keyakinan. Tan Aik Huang yang saya kalahkan di final Piala Thomas saja pernah jadi juara All England karena itulah saya pun yakin bahwa saya punya kemampuan untuk itu,” kata Rudy melanjutkan.

Selain hal itu, keyakinan Rudy juga lantaran persiapan yang ia lakukan begitu panjang dan intens jelang All England tersebut.

“Saya berlatih selama lima bulan, tanpa pelatih, sehingga saya harus menyusun program sendiri. Saya begitu fokus dalam latihan setiap harinya karena saya ingin menjadi juara di Inggris,” tutur Rudy.

Latihan keras Rudy pun terbayar di lapangan. Dalam perjalanan ke babak final, Rudy hanya kehilangan satu game, yaitu saat menang rubber game atas Sven Andersen, 15-9, 12-15, 15-9.

Di babak final, Rudy ternyata bertemu Tan Aik Huang. Rudy sukses menuntaskan perjalanan debutnya di All England dengan gelar juara usai menang 15-12, 15-9.

“Saya gembira begitupun rakyat Indonesia apalagi saat itu kita mendapat dua gelar (Indonesia juga juara di nomor ganda putri lewat Minarni Soedaryanto/Retno Koestijah). Di nomor tunggal putra, setelah hampir satu dekade, akhirnya ada lagi juara All England dari Indonesia.”

Sakit Gigi di London

Banyak yang bertanya seperti apa kondisi fisik Rudy di tiap tahunnya, sehingga ia bisa menjuarai All England selama tujuh tahun beruntun dan delapan kali secara keseluruhan.

Kondisi fisik prima jelas menjadi salah satu syarat mutlak untuk terciptanya performa yang konsisten selama tujuh tahun beruntun itu.

“Ya, skill dan fisik yang prima itu pasti bisa diciptakan lewat latihan dan persiapan yang baik. Saya rata-rata melakukan persiapan selama tiga bulan jelang All England,” ucap Rudy.

“Namun tak dimungkiri juga pasti ada masalah soal kebugaran tubuh saya ketika itu.”

Rudy pun kemudian mengenang saat dirinya sakit gigi di tahun 1970.

“Sebelum berangkat saya sehat-sehat saja. Namun begitu sampai di sana gigi saya sakit sekali rasanya padahal esoknya sudah mau bertanding. Karena itu mau tak mau saya harus segera cari dokter dan cabut gigi saya,” tutur pria kelahiran Surabaya ini.

“Beruntung esoknya sudah tidak terasa lagi sakitnya. Saya pun bisa bertanding tanpa gangguan.”

Selain sakit gigi, Rudy pun mengaku bahwa ia juga sempat mengalami beberapa kendala pada tubuhnya selama perjuangannya meraih titel demi titel All England tiap tahunnya.

“Jika cedera-cedera ringan saya juga mengalaminya. Namun untuk cedera berat, saya tidak pernah mendapatkannya selama tujuh tahun dominasi saya di All England,” kata Rudy.

“Di situlah keberuntungan juga sepertinya berperan sehingga saya bisa hampir selalu berada dalam kondisi fit setiap All England digelar,” ucapnya menambahkan.

Erland Kops Si Pemicu

Menjadi juara All England tujuh kali beruntun, selain skill dan kondisi yang prima, fokus dan konsentrasi juga memegang peranan penting.

Setelah menjadi juara dari tahun ke tahun, tak dimungkiri kadang perasaan jenuh bisa menghampiri seorang atlet. Hal itu bisa jadi akan membuat mereka kehilangan fokus, motivasi atau bahkan meremehkan lawan-lawan yang ada.

“Saat saya sudah jadi juara untuk ketiga kalinya memang saya sempat bertanya,’kok saya bisa juara All England lagi, berturut-turut, padahal saingannya juga banyak.’ Begitu yang saya pikirikan,” tutur Rudy.

“Namun saya tidak pernah mengalami apa yang disebut kehilangan motivasi. Pasalnya, di atas saya sudah ada yang pernah menjadi juara All England empat kali beruntun yaitu Erland Kops. Maka dari itu saya terpacu ingin mengalahkan rekornya,” ujar pria kelahiran 18 Agustus ini menambahkan.

Karena terpacu oleh rekor Kops itulah, Rudy tidak pernah menganggap remeh lawan-lawan dalam keikutsertaannya pada turnamen All England.

“Setelah saya menumbangkan rekor kemenangan beruntun, saya pun terpacu untuk mengalahkan rekor kemenangan terbanyak di All England, juga atas nama Kops, sebanyak tujuh gelar juara,” ucap Rudy.

“Hal itulah yang akhirnya membawa saya terus memacu diri hingga akhirnya berhasil memenangkan All England sebanyak delapan kali.”


8 Piala All England Tersimpan dengan Baik di Rumah Rudy Hartono

044169eb-a017-40da-b1c6-6e999bee4bf0_169

Rekor Rudy Hartono di All England belum terpecahkan. Delapan piala sebagai juara ajang bulutangkis tertua disimpan dengan baik di kediamannya. 

Sejak memutuskan untuk menjadi pemain profesional bulutangkis, Rudy, 57 tahun, langsung memasang target untuk menjadi juara All England. Ajang itu menjadi kejuaraan paling bergengsi. Federasi bulutangkis dunia baru mulai menggelar Kejuaraan Dunia 1977 dan bulutangkis baru dihelat di Olimpiade pada 1992. 

Bahkan sampai saat ini, All England masih dianggap sebagai kejuaraan prestisius bagi para pemain bulutangkis dunia. Ajang itu dianggap se-level Grand Slam Wimbledon pada tenis. Sebagai kejuaraan klasik dengan aura magis, setiap pemain ingin mencatatkan diri sebagai juara. 

“All England itu kejuaraan yang bergengsi, seperti Wimbledon pada tenis. Kalau sudah jadi juara maka seorang petenis akan mengincar juara sesering mungkin,” kata Rudy dalam obrolan dengan detikSport, Jumat (10/3/2017).

Dengan motivasi itu, Rudy berhasil menjadi juara sejak penampilan pertamanya di All England pada 1968. Rudy sekaligus mencatatkan diri sebagai juara All England Termuda kala itu, umur 18 tahun dan tujuh bulan

Namun Rudy tak mau berhenti di sana. Dia melanjutkan sukses tersebut sampai enam tahun beruntun. Rudy pun tercatat sebagai pemilik Juara All England Tujuh Kali Beruntun (1968-1974). Saat tampil dalam All England ke delapan pada 1975, gelar juara lepas dari tangan Rudy. Dia dikalahkan pemain Denmark, Svend Pri di final.

“Kenapa saat itu saya kalah di final? Sulit untuk mempertahankan juara tujuh kali beruntun. Sudah tujuh kali juara itu sulit untuk mempertahankannya pada tahun ke delapan. Bahkan sampai saat ini belum ada lagi kan yang mampu menyamai rekor saya?” tutur Rudy. 

Setahun kemudian, Rudy sukses meraih gelar juara lagi. Dalam edisi tersebut tercipta All Indonesian Final. Rudy mengalahkan Liem Swie King di partai final. 

“Di antara semua gelar juara itu, yang pertama dan yang ketujuh sebagai momen paling mengesankan. Piala-piala itu saya simpan di rumah. Saya juga menyimpan harapan ada juara lagi dari nomor tunggal, mau putra ataupun putri, dari Indonesia,” ungkap Rudy yang kini menjadi ketua umum PB Jaya Raya Jakarta itu. 

Indonesia memang sudah cukup lama tak menjadi juara di nomor tunggal. Juara tunggal putra terakhir dicatatkan Haryanto Arbi pada 1994 atau 23 tahun lalu. Penantian dengan durasi yang sama juga terjadi pada nomor tunggal putri. Belum muncul lagi juara sejak Susy Susanti menjadi kampiun pada 1994

Rudy harus menunggu lebih lama lagi untuk mewujudkan harapan itu. Wakil Indonesia di nomor tunggal sudah habis sejak All England 2017 sampai di babak kedua. 


Rudy Hartono resmikan sekolah bulu tangkis untuk SD

Jumat, 28 November 2014

20111209RudyHartono-002

“Setahun akan kelihatan, siapa yang berbakat, 20 anak yang berbakat akan dimasukkan ke klub”

Legenda bulu tangkis Tanah Air Rudy Hartono meresmikan program sekolah bulu tangkis untuk tiga sekolah dasar (SD) yakni SDN Lawanggintung 2 Bogor, SDN Lawanggintung 1 Bogor, dan SDN Semeru di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

“Ketika saya meraih juara All England pada 1972, kemudian saya menorehkan sejarah delapan kali juara All England, saya ingat bahwa saya harus membina calon atlet bulu tangkis sejak muda,” ujar Rudy didampingi oleh Wali Kota Bogor, Bima Arya.

Rudy Hartono berlatih bulu tangkis sejak berumur delapan tahun. Ayahnya yang berjasa membawa Rudy menjadi atlet dengan prestasi dunia. 

“Sekolah ini sebenarnya keinginan saya sejak lama, yang baru tercapai pada hari ini,” tambah dia yang juga Ketua Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) itu.

Dalam pelaksanaan program itu, pelatih-pelatih bulu tangkis dari YOI akan melatih sebanyak 250 murid SD. Mereka akan mendapat latihan satu kali dalam seminggu.

Dari latihan itu, diharapkan akan muncul bibit unggul atlet bulu tangkis Tanah Air.

“Setahun akan kelihatan, siapa yang berbakat, 20 anak yang berbakat akan dimasukkan ke klub,” jelas dia.

Rudy mengaku prihatin dengan menurunnya prestasi bulu tangkis di Tanah Air yang berimbas pada turunnya animo masyarakat akan aktivitas bulu tangkis.

“Program ini upaya konkret untuk mengakrabkan kembali bulu tangkis pada masyarakat,” katanya.

Wali Kota Bogor, Bima Arya, mengaku sangat antusias dengan program yang digagas oleh YOI itu.

“Memupuk semangat olahraga tidak bisa dikerjakan sendiri, tapi bersama-sama dengan pemerintah,” kata Bima.

Pemkot Bogor akan mendorong turnamen olahraga yang diikuti siswa. Bima mengharapkan dalam kurun waktu 10 tahun, akan ada atlet asal Bogor yang berprestasi tingkat dunia.

Editor: Fitri Supratiwi


Ciptakan Juara Dunia

Sabtu, 29 November 2014 – 14:40 WIB

ciptakan-juara-dunia-anl

BOGOR – Pencarian bibit-bibit muda bulu tangkis Indonesia bisa dibilang masih belum berkembang. Karena itu, mantan juara dunia Rudy Hartono membuat program menciptakan talenta muda kepada siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) untuk menjadi juara dunia di masa depan. 

Rudy ingin mewujudkan itu karena prestasi bulu tangkis Indonesia menurun saat ini. Padahal, saat era 1970- an hingga 1990-an, prestasi atlet bulu tangkis Indonesia begitu disegani di dunia. Bahkan, gairah masyarakat terhadap bulu tangkis ikut melesat. Sayang, kondisi positif itu tak bisa dipertahankan. 

Pebulu tangkis Merah Putihterbukti selalu kandas menggapai gelar juara atau paling tidak menjadi finalis. Di Piala Thomas dan Uber 2012, misalnya. Indonesia terlempar dari posisi 4 besar. Karena itu, Rudy ingin kembali mengakrabkan masyarakat Indonesia dengan bulu tangkis. 

Bekerja sama dengan Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI), mereka mencanangkan program sekolah bulu tangkis untuk siswa SD. “Harus ada penerusnya. Jadi, harus ada pembinaan sejak usia dini. Keinginan saya baru terkabul kali ini, bulu tangkis masuk ke sekolah dasar. Saya percaya 10 tahun kemudian sudah ada yang menjadi pemain kelas dunia,” ucap Rudy, dalam acara peresmian Rudy Hartono Badminton School di SDN Lawanggintung 2, Bogor, Jawa Barat, kemarin. /Raikhul amar