Tag Archives: Bronze Medal

International Olympiad in Informatics 2019 Azerbaijan: Indonesia Raih 4 Medali

Dirgahayu Indonesia 74 Tahun

Tim Olimpiade Komputer Indonesia Raih 1 Emas, 2 Perak, 1 Perunggu di International Olympiad in Informatics 2019.

Tim Olimpiade Komputer Indonesia bersama pembimbing

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74, empat siswa SMA ini berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang International Olympiad in Informatics (IOI) 2019.

Dalam ajang yang digelar di Baku, Azerbaijan, mulai tanggal 4 sampai dengan 11 Agustus 2019 tim Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 2 medali perak dan 1 medali perunggu.

Keempat delegasi adalah: Abdul Malik Nurrokhman (Amnu), SMA Semesta BBS Semarang; Vincent Ling, SMA Pribadi Bandung; Fausta Anugerah Dianparama, SMA Negeri 1 Yogyakarta; dan Moses Mayer, SMA Jakarta Intercultural School.

IOI merupakan olimpiade sains di bidang informatika (khususnya pemrograman) yang diselenggarakan setiap tahun. Ajang bergengsi ini pada tahun 2019 memasuki tahun ke-31.

Bersaing dengan 323 peserta lain dari 87 negara, tim Indonesia berhasil meraih 1 medali emas dari Amnu, 2 medali perak dari Fausta dan Vincent, dan 1 medali perunggu dari Moses Mayer.

Perolehan ini menempatkan Indonesia pada posisi ranking juara ke-10, mengalahkan puluhan negara lain, seperti Singapura, Kanada, atau Australia.

Empat siswa anggota Tim Olimpiade Komputer Indonesia patut merasa bangga. Untuk mempersiapkan diri mengikuti IOI, tim ini telah mengikuti pembinaan selama berbulan-bulan, yang dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan UI, ITB, IPB, ITS, UGM dan Binus University.

Peran para alumni TOKI sangat besar pada proses persiapan dan pelatihan. Keempat siswa juga harus menjalani karantina dan pembinaan intensif untuk memperbanyak latihan soal, diskusi dan pelatihan kesiapan mental bertanding.

Materi pembinaan, selain diisi oleh para dosen dari berbagai universitas, juga diisi oleh para alumni TOKI dalam bentuk diskusi dan sparring partner. Para siswa juga diikutsertakan dalam beberapa kegiatan latih tanding. Strategi ini terbukti meningkatkan prestasi tim Indonesia dari tahun ke tahun.

“Sejak terpilih menjadi TOKI, saya berkomitmen untuk memberikan yang terbaik. Tujuan pribadi saya adalah membuktikan kalau Indonesia tidak kalah dari negara lain dalam hal teknologi dan informatika. Walaupun dalam proses pelatihan sempat merasa lelah dan kangen keluarga, tapi sekarang saya sudah lega karena bisa memberikan kado untuk ulang tahun Indonesia, dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga,” kata Amnu yang sudah dua kali menyumbangkan medali di ajang IOI, yaitu medali perak pada IOI 2018, dan emas pada IOI 2019 kali ini.

Tantangan terbesar yang dihadapi TOKI adalah rasa gugup karena menghadapi negara-negara lebih maju yang sering dipandang lebih ahli. Tidak mau kalah sebelum bertanding, Amnu, Vincent, Fausta, dan Moses berusaha untuk membulatkan tekad dan memupuk rasa percaya diri.

Mereka pun tampil lepas dan tanpa beban. Panduan dan dukungan yang diberikan oleh tim delegasi juga membuat mereka selalu bersemangat untuk mengikuti tahapan kompetisi dari hari ke hari. Selain meraih medali, mereka juga sempat memperkenalkan budaya Indonesia dengan bermain angklung pada acara Malam Budaya IOI.

“Dengan pencapaian yang diraih dalam kompetisi IOI kali ini, kita patut memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk semangat, perjuangan dan juga pengorbanan yang telah dilakukan oleh para siswa, Pembina, Alumni dan Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang telah bekerja keras dalam mengupayakan hasil yang maksimal demi mengharumkan nama baik bangsa dan negara,” kata Adi Mulyanto, M.T, dosen STEI ITB dan Pembina TOKI sebagai ketua delegasi

Secara khusus, Adi juga mengapresiasi bantuan moral dan pelatihan yang diberikan oleh Ikatan Alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia (IA-TOKI). Beberapa alumni TOKI kini telah mencetak prestasi masing-masing, seperti Brian Marshal yang mendirikan start-up SIRCLO dan Derianto Kusuma yang mendirikan unicorn Traveloka.

“Mereka telah membangun ikatan alumni yang solid, suportif, dan saling membantu. Secara kompak, mereka mencurahkan waktu,
tenaga, perhatian, dan pengalaman, untuk membimbing ‘adik kelas’ mereka,” tambahnya.

Source: Tribunnews | 13 Agustus 2019 06:22 WIB

International Mathematical Olympiad England 2019: Indonesia Raih 6 Medali

Pelajar Indonesia yang berhasil meraih enam medali pada Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) 2019 di Inggris.(Dok. Kemendikbud)

Merah Putih Berkibar, Indonesia Raih Medali Olimpiade Matematika di Inggris

Bendera Indonesia kembali berkibar pada ajang di bidang pendidikan berskala internasional. Kali ini dalam Olimpiade Matematika Internasional atau “International Mathematical Olympiad (IMO) 2019”, pelajar Indonesia meraih prestasi membanggakan.

Sebanyak enam medali yang terdiri dari satu Medali Emas, empat Medali Perak, dan satu Perunggu berhasil dibawa pulang dan membuat tim Indonesia berada di posisi ke-14 dari 110 negara peserta. Perolehan medali itu dilakukan setelah bersaing dengan lebih dari 600 peserta dari berbagai negara.

Pelajar yang meraih medali emas pada IMO 2019 yaitu

  • Kinantan Arya Bagaspati dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Kemudian, pelajar yang mendapatkan empat medali perak masing-masing adalah

  • Jonathan Christian Nitisastro (SMAK Petra 2, Surabaya),
  • Alfian Edgar Tjandra (SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan),
  • Aaron Alvarado Kristanto (SMAK Petra 1, Surabaya), dan
  • Valentino Dante Tjowasi (SMAK Petra 2, Surabaya).

Adapun satu perunggu diraih oleh

  • Farrel Dwireswara Salim dari SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan.

Tingkat kesulitan tinggi

Aleams Barra selaku Koordinator Tim Indonesia untuk IMO 2019 menuturkan, prestasi Indonesia lebih baik dibanding sejumlah negara lain, seperti Australia, Inggris, Kanada, Jerman, dan Belanda.

“Perolehan medali emas kali ini merupakan yang ketiga kalinya yang pernah kita dapatkan setelah sebelumnya kita juga pernah mendapatkan emas pada tahun 2013 dan 2018,” ujar Aleams dalam keterangan di laman resmi Kemendikbud, Kamis (25/7/2019). Dia menuturkan, para peserta dalam IMO 2019 dituntut mengerjakan enam soal Matematika dalam waktu 4,5 jam.

Soal-soal itu terdiri dari empat bidang, yaitu aljabar, kombinatorika, geometri, dan teori bilangan. Soal-soal tersebut merupakan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dan untuk mengerjakannya pun dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental, dan kreativitas yang tinggi.

“Jadi tidak sedikit dari para peserta yang memang kesulitan mengerjakannya. Bahkan setingkat matematikawan profesional pun akan kesulitan untuk mengerjakan soal-soal IMO dalam rentang waktu yang singkat seperti itu,” ucap Aleams.

Kontribusi kemajuan Indonesia

Dia mengungkapkan bahwa timnya sudah cukup siap mengikuti kompetisi tersebut karena pelatihan dan pembinaan yang maksimal. Persiapan yang dilakukan baik dari segi fisik maupun mental, serta tanggung jawab. Sementara itu, Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto, mengutarakan kebanggaannya atas prestasi tim Indonesia sebagai peserta IMO yang terus meningkat sejak tahun 2013.

Dia mengharapkan Tim Olimpiade Matematika Indonesia bisa meraih medali emas secara konsisten dan terus meningkat lebih baik lagi. “Mereka sangat luar biasa, dan saya bangga tim IMO bisa mempertahankan tradisi emas ini.

Mereka layak mendapat apresiasi tertinggi dari negara dan menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di Indonesia. Ke depan juga diharapkan akan menjadi para ilmuwan, matematikawan, insinyur, dan ekonom yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu dan teknologi Indonesia,” tutur Purwadi.

Source: ERWIN HUTAPEA Kompas . com – 26/07/2019

International Mathematical Olympiad UK

  • Year: 2019
  • Country: United Kingdom
  • City: Bath
  • Date: 11.7.2019 – 22.7.2019
  • Countries Participated: 112
  • Total Contestants : 621 – Male: 556 – Female: 65

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Bocah Asal Jember Jadi Juara International Mathematics Competition

Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh alias Fafa ketika menema medali perunggu dari panitia olimpiade matematika di Bulgaria pertengahan Juli lalu. (JawaPos/Radar Jember/Ari Kurniawan)

Lain Lalu Muhammad Zohri, lain Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh. Bocah 13 tahun asal Jember ini juga menorehkan prestasi tingkat internasional di bidang matematika. Fafa, panggilan akrab Mafazi berhasil meraih juara tiga olimpiade sains internasional bidang matematika (IMC), di Bulgares, Bulgaria, pekan lalu.

Pantauan JawaPos, penampilan bocah itu sederhana, pendiam, ceria, tetapi penuh potensi. Fafa mampu bersaing dengan 28 finalis dari berbagai negara dalam IMC (International Mathematics Competition) yang berlangsung seminggu di negara Eropa Timur itu.

Bersama 12 peserta lainnya dari Indonesia, Fafa termasuk bagian dari sedikit anak bangsa yang mampu berkompetisi di bidang sains hingga ke tingkat internasional. Juga merupakan sedikit dari pelajar muslim yang siap bersaing dengan peserta umumnya didominasi nonmuslim.

Termasuk dari Indonesia sendiri. Bayangkan saja, dari 12 finalis Indonesia yang mengikuti event internasional tersebut, hanya tiga siswa saja yang berasal dari keluarga muslim. “Kami patut bangga dan bersyukur atas keberhasilan ini,” ujar Ari Kurniawan, pembina siswa berprestasi lembaga pendidikan Alfurqon Jember.

Memang, kemenangan Fafa dalam kejuaraan internasional tersebut bukan kali pertama diikuti SD maupun SMP Alfurqon Jember. Sejak diselenggarakan olimpiade sains tingkat dunia tujuh tahun lalu, sekolah ini sudah enam kali berhasil mengirimkan delegasinya. Antara lain di Bulgaria (dua kali), Singapura, Korea, Thailand, Taiwan, dan China.

Itu berarti, setiap tahun digelarnya olimpiade, Alfurqon selalu lolos seleksi tingkat nasional, dan berlanjut ke jenjang internasional. Itu baru satu-satunya sekolah yang terus-menerus mengikuti ajang internasional tersebut. “Sekolah lain biasanya cuma sekali atau maksimal dua kali,” imbuh Ari Kurniawan.

Untuk mengikuti lomba bergengsi itu, kata Ari, diakui memang tidak mudah. Seleksinya dimulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Sebelum maju ke tingkat internasional, para finalis biasanya digembleng (dikarantina) secara khusus, dengan jadwal yang amat ketat dan selektif.

Para pembinanya biasanya diambil dari akademisi perguruan tinggi terkenal, termasuk UI, ITB, Trisakti, dan lain-lain. Mereka digembleng berhari-hari mulai pagi hingga sore, untuk mengerjakan beragam soal dengan waktu yang amat ketat.

Demikian pula dengan Fafa, kata Ari, yang juga ayahnya itu, anak satu-satunya itu tergolong pendiam dan penurut. Dia hampir tak pernah menolak tugas mengerjakan soal-soal yang diprogramkan.

“Tetapi, yang namanya anak-anak, duduk setengah jam saja sudah bosan, gelisah, dan ingin jalan-jalan saja. Untungnya dia sabar dan mengikuti arahan pembinanya,” jelas, Ari. Padahal, sebagai anak tunggal, lanjut Ari, biasanya sering manja dan selalu ingin didampingi orangtuanya.

Source: Liputan6

International Mathematical Olympiad Romania 2018: Indonesia Raih 6 Medali

Logo Olimpiade Matematika Internasional.

Tim Indonesia Raih 1 Emas dan 5 Perak di Olimpiade Matematika Internasional

Tim pelajar Indonesia yang meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung di rumania.(Dok. Gian Sanjaya)

Tim Indonesia meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung pada 9-10 Juli 2018 di Kota Cluj-Napoca, Romania. Tim Indonesia beranggotakan

  • Gian Cordana Sanjaya (18)
  • Valentino Dante Tjowasi (16)
  • Farras Mohammad Hibban Faddila (17)
  • Kinantan Arya Bagaspati (17)
  • Alfian Edgar Tjandra (17)
  • Otto Alexander Sutianto (18)

Medali emas diraih oleh Gian, sementara 5 medali perak diraih oleh Valentino, Farras, Kinantan, dan Otto Alexander.

Informasi prestasi para pelajar Indonesia ini dipublikasi oleh akun resmi Twitter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, @Kemendikbud_RI.

Setiap tahunnya, Indonesia selalu mengikutsertakan pelajar yang menjadi perwakilan negara dalam olimpiade ini. Setiap negara berhak mengirimkan enam orang pelajar SMA sebagai peserta. Keenam orang tersebut terpilih berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh Tim Pembinaan Indonesia. Tahun ini, ada 106 negara yang berpartisipasi. Saat dihubungi Kompas.com, Gian, pelajar yang meraih emas, masih berada di Romania. Ia mengatakan, lawan yang mereka hadapi cukup tangguh. “Kami melawan banyak negara. Namun, beberapa negara yang susah dikalahkan adalah Amerika, China, Rusia, Jepang, Korea, dan Inggris,” ujar Gian, siswa SMA Kristen Petra 1, Surabaya, Jumat (13/7/2018).

Gian mengatakan, dalam kompetisi ini diberlakukan sistem nilai. Untuk mendapatkan medali emas, peserta harus mendapatkan nilai minimal 31. Adapun, untuk medali perak nilai minimumnya 25, dan untuk medali perunggu nilai minimum 16. Gian mengaku, ia mendapatkan skor 31 dan berhasil memboyong medali emas. Sementara itu, Alfian, Kinantan, dan Farras masing-masing mendapatkan nilai 29, Valentino mendapatkan nilai 28, dan Otto mendapatkan nilai 25. Total nilai yang didapatkan oleh Tim Indonesia yaitu 171.

Source: Kompas | Penulis : Retia Kartika Dewi | Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

INTERNATIONAL MATHEMATICS COMPETITION INDIA 2017: INDONESIA RAIH 18 MEDALI DAN 7 MERIT AWARD

BY LARASATI RAHMIA . 31 JULI 2017

olimpiade-700x375

Pelajar Indonesia tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, berhasil membawa pulang

  • 1 medali emas
  • 13 medali perak
  • 4 medali perunggu serta
  • 7 penghargaan Meritt

pada ajang olimpiade matematika Internasional yang berlangsung pada tanggal 25 hingga 31 Juli 017 , di Kota Lukton , India.

Sedangkan kategori beregu. Pelajar SMP menjadi juara dengan mengalahkan ratusan pelajar perwakilan dari 27 negara.

16 pelajar Indonesia berprestasi, yang terbagi menjadi tiga tim tingkat SMP dan satu tim tingkat SD, tiba di terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin siang ini .

Kategori perorangan, pelajar Indonesia mampu membawa pulang

  • 1 medali emas,
  • 13 medali perak,  
  • 4 medali perunggu, serta
  • 7 penghargaan merit.

Sedangkan khusus bagi pelajar SMP, keluar sebagai juara untuk kategori beregu.

Dengan persiapan yang matang dan mendapatkan tambahan materi dari klinik pendidikan MIPA, prestasi yang ditorehkan pelajar Indonesia pada ajang olimpiade Matematika Internasional tahun 2017 cukup gemilang, karena mampu bersaing dengan ratusan pelajar perwakilan dari 27 negara.

Peraih satu satunya medali emas kategori peorangan, Axel Giovanni Hartanto mengaku dirinya mengerjakan 15 soal essai dengan materi soal geometri, bilangan dan aljabar.

Sedangkan ketua tim kategori beregu, Farrel Dwireswara Salim mengakui sempat menemui kesulitan saat mengerjakan materi soal, yakni terbentur keterbatasan waktu. Akan tetapi dirinya bersama rekan satu tim berusaha tidak gugup dalam menjawab seluruh soal.

Sementara itu, pembina klinik pendidikan MIPA, Ridwan Hasan Saputra angkat jempol atas prestasi pelajar Sekolah Menengah Pertama karena mampu mengalahkan pelajar negara lain yang memiliki pengalaman dalam ajang olimpiade matematika.

Namun demikian, dirinya akan melakukan evaluasi terkait materi soal pertidak samaan untuk pelajar SMP, dan teori bilangan untuk SD, dikarenakan pelajar indonesia mengalami kesulitan, meski menguasai materi geometri.

Selanjutnya, seluruh pelajar berprestasi perwakilan dari sekolah seluruh indonesia ini akan kembali ditempa melalui pembinaan, untuk kembali mengikuti ajang yang sama, dengan target prestasi lebih baik dari prestasi saat ini.

International Mathematical Olympiad Brazil 2017: Indonesia Raih 5 Medali dan 1 Penghargaan

Rabu, 26 July 2017 16:29 WIB

mate

TIM pelajar Indonesia berhasil menyabet lima medali pada kompetisi International Mathematical Olympiad (IMO) ke-58 di Rio de Janeiro, Brasil, yang digelar pada 12-23 Juli 2017.

Melalui keterangan tertulis yang diterima, Rabu (26/7), tim pelajar Indonesia secara rinci meraih dua medali perak, tiga perunggu, dan satu predikat honorable mention.

Kepala Sub Direktorat Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Suharlan, yang menyambut kedatangan delegasi IMO di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, menjelasakan, IMO merupakan ajang bergengsi kompetisi matematika yang telah berusia lebih dari setengah abad. IMO ke-58 ini diikuti 615 siswa yang berasal dari 111 negara.

Suharlan mengemukakan, pada ajang IMO ini para siswa peserta diminta mengerjakan enam soal matematika, masing-masing 3 soal per hari yang harus dikerjakan dalam waktu 4,5 jam. Adapun soal-soal yang diberikan merupakan soal-soal yang orisinal dan belum pernah muncul sebelumnya.

Untuk dapat mengerjakannya, lanjut dia, peserta dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental, serta kreativitas yang tinggi. Menurut Suharlan, Tim Indonesia mendapatkan nilai total 108 dan menempati peringkat ke-31 dari 111 negara.

“Kendati hasil ini sedikit menurun dari tahun sebelumnya yang mana kita berhasil mendapatkan tiga medali perak, pencapaian peringkat ke-31 pada IMO tahun ini masih lebih balk dari beberapa negara yang memiliki tradisi matematika yang kuat seperti Israel, Jerman, dan Brasil,” ujarnya.

Tim Indonesia didampingi Dr AIeams Barra (ketua delegasi), Dr Herv Susanto (wakil ketua delegasi), Dr Budi Surodjo, dan Drs Sutrianto. Adapun tim IMO pelajar Indonesia terdiri atas enam siswa Indonesia, yakni Gian Cordana Sanjaya dari SMAK Petra 1, Surabaya, yang meraih medali perak, Bimo Adityarahman Wiraputra, dari SMAN 3 Bandung, meraih medali perak, dan tiga perunggu yang diraih Kinantan Arya Bagaspati, SMA Taruna Nusantara, Timothy Jacob Wahyudi, SMA Santa Laurensia, Otto Alexander Sutianto, SMAK Penabur Gading Serpong.

Sedangkan Farras Mohammad Hibban Faddila dari SMA Kharisma Bangsa meraih Honorable Mention Award. (RO/OL-2)

Primary Mathematics World Contest Hongkong 2017: Indonesia Raih 4 Medali

Kamis, 20 Juli 2017 | 17:25 WIB

625121_620

Tim pelajar sekolah dasar Indonesia meraih juara ketiga atau second runner-uppada lomba Po Leung Kuk 20th Primary Mathematics World Contest (PMWC).

Sementara untuk kategori individu Tim Pelajar SD Indonesia memperoleh 2 medali perunggu atas nama Axel Giovanni Hartanto dan Luthfi Bima Putra.

“Hasil ini menunjukkan kualitas pelajar Indonesia  tidak kalah dengan pelajar dari negara lain, termasuk dari negara maju,” kata Ketua Tim Indonesia Raden Ridwan Hasan Saputra pada Kamis, 20 Juli 2017.

Ridwan optimistis jika tim Indonesia dipersiapkan dengan waktu yang cukup panjang dapat meraih medali emas pada lomba matematika internasional lainnya. Pihaknya hanya melatih selama dua tahap dengan masing-masing satu minggu.

Po Leung Kuk 20TH Primary Mathematics World Contest (PMWC) diadakan di Hongkong pada 16-20 Juli 2017.  Lomba matematika internasional yang sangat bergengsi untuk tingkat sekolah dasar (SD) ini diikuti tim dari Amerika Serikat, Bulgaria, Australia, Afrika Selatan, Cina, Malaysia, Vietnam, Mongolia, Thailand, Philipina, Taiwan, Hongkong, Macau, dan Indonesia.

Indonesia diwakili tim dari Klinik Pendidikan MIPA (KPM) yang pusatnya di Kota Bogor. Lembaga pendidikan ini didirikan dan dipimpin Ridwan Hasan Saputra.

Tim pelajar Indonesia adalah Luthfi Bima Putra (pelajar MIN 09 Petukangan, Jakarta), Aditya Ilham Khairullah Seger (SDI Al Azhar 13 Rawamangun, Jakarta), Haidar Prayata Wirasana (SDI Al Azhar 12 Cikarang ) dan Axel Giovanni Hartanto (SD Pangudi Luhur Santo Timotius, Surakarta).

Ridwan menjelaskan kualitas soal di lomba PMWC sangat sulit. Sebab soal-soalnya disiapkan untuk para juara olimpiade matematika dari negara-negara yang menjadi peserta.

Dalam setahun,  KPM selalu mengirimkan anak didiknya di tingkat SD dan SMP untuk mengikuti beberapa lomba matematika internasional. Biaya untuk mengikuti lomba itu berasal dari orang tua dan untuk yang kurang mampu dari KPM.

Ridwan menilai kualitas pelajar kita tidak kalah dengan luar negeri. Kelemahannya, katanya, pada waktu pembinaan atau kurang bergaul dengan berbagai macam soal dan kultur pendidikan.

Dari studi banding ke banyak negara, Ridwan melihat Kementrian Pendidikan negara tersebut melakukan pembinaan khusus bagi pelajarnya yang akan mengikuti lomba atau kompetisi.

“Bahkan ada negara yang punya sekolah khusus untuk anak-anak.yang berbakat matematika dan hanya fokus belajar matematika,” katanya.

Ridwan menyayangkan aturan baru yang dibuat Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.  Yakni larangan bagi pelajar yang pernah ikut lomba internasional untuk mengikuti  Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Padahal lomba-lomba internasional yang ada saat ini tidak semuanya untuk bertanding uji kepintaran. Tetapi, ujarnya,  ada juga lomba internasional yang sekedar uji coba atau latihan bagi para pesertanya.

Menurut Ridwan, peraturan itu  sangat tidak bijaksana karena akan menghambat semangat anak-anak pintar untuk lebih mengembangkan diri di bidang matematika.

KPM mengirimkan anak didiknya ke berbagai lomba matematika di luar negeri dengan tujuan membuka wawasan dan meningkatkan percaya diri untuk bersaing dengan pelajar lainnya.

“Harapannya semangat belajar dan prestasi anak-anak menjadi lebih baik,” kata Ridwan yang memadukan pendidikan sains dan agama di KPM.

Sumber: Tempo