Rumah Sakit Apung, Melayani Pasien Di Atas Perahu

Dokter Legendaris

Salah satu program yang digalakkan oleh doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) adalah pelayanan medis Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan.

Rumah sakit ini berkonsep menjemput pasien dengan cara berlayar menggunakan perahu.

Rumah sakit yang berdiri sejak 26 Maret 2009 ini melakukan pelayanan medis di Pulau Kei Maluku Tenggara yang dilaksanakan di dua titik, Kei Kecil dan Kei Besar pada 25-30 September 2013 . DoctorSHARE kali ini mengusung tema Merajut Mimpi Indonesia Timur dalam Kasih dan Kebersamaan.

rumah-sakit-apung

Dalam program tersebut, doctorSHARE menurunkan dokter spesialis bedah, 10 dokter umum, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran, seorang penata anestesi, dan 4 sukarelawan nonmedis. Jenis pelayanan medis meliputi bedah mayor dan bedah minor yang dilakukan di RSA dr. Lie Dharmawan, pengobatan umum, dan penyuluhan kesehatan.

DoctorSHARE telah menangani 13 pasien bedah (mayor dan minor) serta 277 pasien pengobatan umum di Pulau Kei Kecil pada 25-26 September dan 30 September 2013. Pengobatan umum dilaksanakan di SD Nasional Katolik, Kelanit dengan jenis penyakit terbanyak yaitu ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), gangguan saluran cerna, hipertensi (darah tinggi), myalgia (nyeri otot), dan dermatitis (penyakit kulit).

rsa_dr-_lie_dharmawan

Sedangkan di Pulau Kei Besar, terdapat 38 pasien bedah (mayor dan minor) dan 112 pasien pengobatan umum. Pengobatan umum di Kei Besar berlokasi di Pelabuhan Kei Besar pada 27-28 September 2013. Jenis penyakit terbanyak meliputi ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), penyakit kulit (limpetigo, tinea, dan dermatitis), gastritis (lambung), dan hipertensi (darah tinggi).

Pelayanan bedah yang mencapai 51 pasien di Pulau Kei Besar dan Kei Kecil merupakan rekor terbesar sejak pelayanan medis RSA dr. Lie Dharmawan pada 6 Maret 2013 silam.

Jenis bedah mayor yang dilakukan adalah hernia varicocele, appendisitis kronis eksaserbasi akut, fistel mamme, dan kompartemen sindrom. Adapun jenis bedah minor yaitu lipoma, kista aterom, skin tag, ganglion, kista dermatoid, papiloma, fibroma, dan basalioma.

“Pelayanan medis di Pulau Kei sukses menjangkau antusiasme masyarakat. Banyaknya kasus yang kami tangani menunjukkan bahwa usaha doctorSHARE membantu pemerintah benar-benar mengenai sasaran,” ujar pendiri doctorSHARE, dr. Lie A. Dharmawan, Ph.d, FICS, Sp.B, Sp.BTKV pada press release yang diterima Bisnis hari ini (4/10/2013)

Sebelumnya, doctorSHARE dengan RSA dr. Lie Dharmawan-nya telah melakukan pelayanan medis ke berbagai penjuru Indonesia yaitu Pulau Panggang (Kepulauan Seribu) pada 16–17 Maret 2013, Belitung Timur pada 2–4 April 2013, Ketapang (Kalimantan Barat) pada 12–14 April 2013, Pontianak (Kalimantan Barat) pada 11-13 Juni 2013, Bangka Tengah pada 17–19 Juni 2013, Bali pada 3–7 September 2013, dan Nusa Tenggara Timur pada 9–15 September 2013.

dr-lie-a-dermawan

KM RSA dr. Lie Dharmawan berukuran panjang 25,13 meter dan lebar 6,82 meter. RSA yang diresmikan pada 6 Juni 2013 ini memiliki fasilitas rumah sakit seperti kamar bedah, kamar EKG, USG & rontgen, laboratorium, ruang rawat pasien, ruang resusitasi, kamar dokter.

Advertisements

dr. Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia

Dokter Legendaris

dr-lie-a-dermawan

Kepedulian terhadap warga miskin dan sulit mendapat layanan kesehatan mendorong dr Lie Dharmawan membangun rumah sakit apung. Setelah menghabiskan waktu 4 tahun, kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit ini siap mengarungi samudra menyambangi masyarakat yang membutuhkan.

“Ini adalah rumah sakit apung pertama milik swasta di Indonesia. Saya yakin ini adalah rumah sakit apung pertama dan akan diikuti banyak-banyak lagi rumah sakit lainnya yang pasti akan membawakan keuntungan dan kebahagian bagi bangsa dan negara kita,” tegas dr Lie kepada detikHealth seperti ditulis Senin (18/3/2013).

Gagasan pembuatan rumah sakit apung ini sebenarnya sudah ada di benak dr Lie sejak tahun 2008, namun baru bisa direalisasikan tahun 2013. Lamanya proses ini disebabkan karena adanya pro dan kontra, apalagi referensi mengenai rumah sakit apung di Indonesia belum ada.

Sebenarnya konsep rumah sakit apung di Indonesia sudah ada, namun milik tentara dan hanya digunakan ketika perang, sedangkan yang dimiliki swasta tidak ada. Maka lewat yayasan doctorSHARE yang ia dirikan, dr Lie berupaya menggalang bantuan, baik moriil dan materiil untuk mewujudkan idenya.

Selama 4 tahun menyelesaikan proyek rumah sakit apung ini, tim doctorSHARE awalnya sulit menemukan jenis kapal yang sesuai. Beberapa jenis kapal dipertimbangkan untuk dicoba, termasuk kapal tongkang, namun dianggap tidak layak karena badannya terlalu lebar.

Dari segi bahan juga demikian. Sempat diusulkan menggunakan kapal berbahan fiber, namun urung karena mudah pecah ketika menabrak. Akhirnya diputuskan menggunakan perahu nelayan yang sederhana karena dianggap lebih memadai. Setelah jadi, kapal itupun berganti nama menjadi ‘Floating Hospital’.

“Kapal ini memang secara fisik kecil, ini adalah floating hosiptal yang terkecil di dunia. Tapi sebagai lawannya, sebagai kebailkannya, semangat yang menggebu-gebu, semangat yang membara tidak pernah putus asa selama 4 tahun merancang kapal ini dan bekerja untuk keberhasilan kapal ini,” terang dr Lie.

Disebut kecil karena Floating Hospital ini sejatinya adalah kapal berukuran panjang 23,5 meter, lebar 6,55 meter dan bobot mati 114 ton. Kapal ini terbagi menjadi tiga dek. Dek atas untuk nahkoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi ruangan steril dan ruang operasi, dek bawah adalah laboratorium.

Pembangunan rumah sakit ini menghabiskan dana Rp 3 miliar dari rencana semula Rp 6 miliar. Dana tersebut sepenuhnya diperoleh dari sponsor. Menurut dr Lie, ada sponsor yang menyumbang dengan cara memberikan diskon untuk peralatan dan perlengkapan yang diperlukan, jadi bisa menghemat biaya sekian banyak.

Sebagai pilot project, kapal ini melakukan pelayaran perdananya pada 16 – 17 Maret lalu di pulau Panggang, kepulauan Seribu. Pelayanan kesehatan yang diberikan berupa penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, bedah minor dan bedah mayor. Sebanyak 25 dokter dan 25 orang relawan disiapkan untuk melayani pasien.

Yang istimewa, Floating Hospital ini dibangun untuk memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma. Dr Lie tergerak hatinya karena melihat kenyataan banyak masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis, tapi belum mendapat kesempatan karena berbagai faktor, terutama faktor demografis dan faktor finansial.

“Kami akan berusaha mendapatkan dana dari donatur. Kami akan membuka sebuah klinik di Jakarta dan penghasilannya digunakan untuk membiayai kelangsungan hidup doctorSHARE. Kami belum tahu apa lagi yang dapat kami lakukan untuk mendapatkan dana bagi kelangsungan pelayanan yang terus kami kerjakan. Tapi satu yang menjadi concern kami, masyarakat tidak akan kami bebani dengan pembayaran,” ungkap dr Lie.

Dalam sehari, dr Lie berhasil melakukan 3 operasi di atas kapal. Walau kapal sesekali bergoyang karena ombak, dokter yang kesehariannya bertugas sebagai kepala dokter bedah di RS Husada ini bisa melakukan operasi dengan baik. Direncanakan akan ada 15 pasien yang menjalani operasi bedah di atas kapal, sedangkan penyuluhan kesehatan dilakukan di Balai Karang Taruna.

Ada beberapa kendala yang ditemui dalam pelayaran pertama Floating Hospital ini, salah satunya adalah kecepatan kapal yang hanya 6 – 7 knot. Jika dikonversikan, kecepatannya adalah sekitar 11 – 13 km/jam, cukup lambat jika dibandingkan speed boat. Kendala lain adalah beberapa peralatan yang belum bisa dioperasikan, misalnya alat rontgen.

“Sesudah pulang dari Kepulauan Seribu, kami akan mereview apa yang menjadi kekurangan kami, misalnya kapal ini terlalu pelan jalannya. Kalau memungkinkan, dari segi finansial kami bisa mendapatkan dana, lalu secara teknis mesinnya bisa diganti, kami akan mengganti dengan mesin yang lebih baik dan besar agar kapal ini bisa lebih cepat jalannya,” terang dr Lie.

Masalah mesin tentu menjadi permasalahan yang cukup serius karena kapal ini direncanakan menjelajah daerah-daerah terpencil, lebih terpencil dari kepulauan seribu yang masih masuk dalam wilayah DKI Jakarta. Jadi bisa dibayangkan, sarana dan prasarananya tentu jauh lebih minim.

Karena tidak memungut biaya dari pasien, dr Lie berharap bisa menjalin kerjasama dengan aparat-aparat setempat. Misalnya jika di suatu tempat sudah ada puskesmas, dokter setempat diharapkan bisa menjadi ujung tombak mencari pasien yang butuh pelayanan. Hal itu akan mempersingkat waktu singgah sehingga tim bisa melanjutkan ke tempat lain.

“Kami merencanakan tujuan kami berikutnya bulan April ini Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Sesudah itu kami akan ke Bali, Sumba, Flores, Timor Barat dan kepulauan Kei karena kami sudah punya home base di sana. Kami punya 2 panti di sana, Therapeutic Feeding Center KAI. Ada 2 pulau Kei besar dan Kei kecil,” terang dr Lie.

Profil

  • Nama : Dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV (Li De Mei)
  • Tempat, tanggal lahir : Padang, 16 April 1946
  • Orang tua : Lie Goan Hoey dan Pek Leng Kiau (Julita Diana)
  • Isteri : Tan Lie Tjhoen (Listijani Gunawan)

Anak

  • Lie Mei Phing (29 April 1978)
  • Lie Ching Ming (9 November 1980)
  • Lie Mei Sing (16 September 1992)

Pendidikan

  • SD Ying Shi, Padang
  • SMP Katolik Pius, Padang
  • SMA Don Bosco, Padang
  • S1 Free University, Jerman
  • S2 University Hospital, Cologne
  • S3 Free University Berlin, Jerman

Pekerjaan/Kiprah Organisasi

  • Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971)
  • Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984)
  • Aktivis gereja Katolik, Jakarta (1985-sekarang)
  • Kepala bagian bedah RS Husada, Jakarta (2000-sekarang)
  • Kepala Serikat Karyawan RS Husada (2000-2006)
  • Kepala Komite Medik RS Husada (2006-2009)
  • Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta (2000-sekarang)
  • Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang)
  • Pendiri Yayasan Dokter Peduli/doctorSHARE (2008-sekarang)

Sumber: Putro Agus Harnowo – detikHealth

Sejarah Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan

Dokter Legendaris

rumah-sakit-apung

26 Maret 2009, doctorSHARE melakukan pelayanan medis cuma-cuma di Langgur, Kei Kecil – Maluku Tenggara. Saat melangsungkan bedah, di luar rencana datang seorang ibu membawa anak perempuannya yang berusia 9 tahun dalam keadaan usus terjepit. Mereka telah berlayar selama tiga hari dua malam mengarungi lautan. Menurut teori medis, seseorang dengan usus terjepit harus sudah dioperasi dalam 6-8 jam. Anak perempuan tersebut dioperasi dan akhirnya sembuh.

dr-lie-a-dermawan

Peristiwa ini sangat menggugah hati pendiri doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli), dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, FICS, Sp.B, Sp.BTKV. Bayangan anak perempuan tersebut selalu melintas dalam benaknya. Beliau pun terpanggil melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak mendapatkan pelayanan medis sebagaimana mestinya karena kendala geografis dan kondisi finansial. Ide utamanya adalah “menjemput bola” melalui Rumah Sakit Bergerak atau Rumah Sakit Terapung di atas sebuah kapal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga masih harus melakukan banyak hal untuk memberikan pelayanan medis sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Banyak warga pra sejahtera belum mendapatkan pelayanan medis memadai.

Penelitian mulai dilakukan. Diketahui bahwa jenis kapal untuk Rumah Sakit Apung yang sesuai dengan kondisi Indonesia bukanlah kapal besar yang sulit merapat ke pulau-pulau kecil. Di samping itu, jenis kapal berbahan fiber juga terlalu ringan dan akan segera bocor ketika menabrak karang.

Di Seattle, Amerika Serikat – dr. Lie A. Dharmawan mengunjungi museum kapal laut dan melihat kapal laut berbahan kayu berusia seratusan tahun dalam kondisi yang masih sangat baik. Dari perpustakaan di sana, terdapat sebuah artikel yang menulis bahwa jenis kayu terbaik bagi kapal adalah kayu ulin yang tumbuh di Indonesia dan Filipina.

Pulang ke Indonesia, dr. Lie mulai mencari kapal kayu dan akhirnya menemukan sebuah kapal barang di Palembang. Kapal berjenis pinisi tersebut akhirnya dibeli tahun 2012. Kapal dapat memuat barang hingga 250 ton dan mampu berlayar dari Palembang menuju Riau, Batam, dan sebagainya. Dengan kualifikasi tersebut, Rumah Sakit Apung dapat berdiri di atas kapal ini.

Draft kapal sangat tinggi yaitu 4,4 meter. Kamar-kamar pun mulai didirikan di dalam lambung kapal. Kondisi ini sangat menguntungkan karena guncangan saat melangsungkan tindakan bedah (operasi) di dalam lambung kapal jauh berkurang dibandingkan jika harus melakukannya di atas geladak.

Melalui perombakan, lahirlah Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan yang terdiri dari dua tingkat. Bagian dasar digunakan sebagai ruang Rontgen, EKG, USG, serta laboratorium. Di tingkat atas terdapat Kamar Bedah, Ruang Resusitasi, Ruang Dokter, dan sebagainya.

Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan milik doctorSHARE berlayar untuk uji coba pelayanan medis perdananya pada 16 Maret 2013 ke Kepulauan Seribu dan diresmikan pada 6 Juni 2013.

Profil Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan

Nama Kapal: KLM RSA DR. LIE DHARMAWAN
Nama Panggilan Kapal: YC-7342
Jenis Kapal: Pinisi

Bendera Kebangsaan: INDONESIA
Tanda Selar                      : GT.173 No.6786/Bc

Tonase Kotor (GT): 173 GT
Tonase Bersih (NT): 52 NT

Mesin Induk: MITSUBISHI 8DC11 – 340 PK
Tahun Pembangunan: 2002
Penggerak Utama: Motor
Bahan Utama Kapal: Kayu

Jumlah Geladak: Satu
Jumlah Baling-Baling: Satu

Panjang Kapal: 25,13 meter
Lebar Kapal: 6,82 meter
Draft Kapal: 4,00 meter

Kecepatan Maksimum: 10 KNOTS
Kecepatan Normal: 8 KNOTS
Kecepatan Ekonomis: 6 KNOTS

Kapasitas Tangki
a.     Tangki utama: 5.000 liter
b.     Tangki cadangan: 2.200 liter
Bahan Bakar: SOLAR/HSD

Biografi Lie A. Dharmawan

BIOGRAPHY-NEW

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
dr-lie-a-dermawan-biodatadr. Lie Agustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV, yang bernama Tionghoa Lie Tek Bie (lahir di Padang, Sumatera Barat, 16 April 1946; umur 69 tahun) adalah seorang ahli kesehatan atau dokter ahli bedah Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri rumah sakit apung (floating hospital) swasta yang pertama di Indonesia. Dibawah Yayasan doctorSHARE, Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat di daerah miskin dan terpencil di Indonesia yang tidak terjangkau oleh pelayanan kesehatan secara reguler.

Riwayat

Kehidupan Pribadi

Lie A. Dharmawan yang bernama Tionghoa Lie Tek Bie lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 16 April 1946. Ia merupakan putra dari pasangan Lie Goan Hoey (ayah) dan Pek Leng Kiau (Julita Diana) (ibu). Ia menikah dengan perempuan bernama Tan Lie Tjhoen (Listijani Gunawan) dan telah dikaruniai tiga orang anak, yaitu Lie Mei Phing, Lie Ching Ming, dan Lie Mei Sing.

Pendidikan

Ia menamatkan pendidikan dasar di SD Ying Shi, Padang, sedangkan pendidikan menengah ia selesaikan di SMP Katolik Pius dan SMA Don Bosco, juga di kota Padang. Setelah itu Lie melanjutkan pendidikan tinggi di Jerman. Gelar S1 berhasil diraihnya di Free University, S2 dari University Hospital, Cologne, serta S3 dari Free University Berlin, yang semuanya berada di Jerman.

Aktivitas dan Organisasi

Dibawah Yayasan doctorSHARE, ia dengan Rumah Sakit Apung (RSA) dr. Lie Dharmawan memberikan pelayanan medis diatas kapal motor (KM) yang berukuran panjang 25,13 meter dan lebar 6,82 meter. dr. Lie telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjurunusantara, seperti di Kepulauan Kei (Maluku), Pulau Panggang (Kepulauan Seribu), Bangka Tengah,Belitung Timur (Bangka Belitung), Ketapang dan Pontianak (Kalimantan Barat), Bali, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai wilayah lainnya.

Beberapa Kegiatan dr. Lie A. Dharmawan:

  • Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971)
  • Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984)
  • Aktivis gereja Katolik, Jakarta (1985-sekarang)
  • Kepala bagian bedah RS Husada, Jakarta (2000-sekarang)
  • Kepala Serikat Karyawan RS Husada (2000-2006)
  • Kepala Komite Medik RS Husada (2006-2009)
  • Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta (2000-sekarang)
  • Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang)
  • Pendiri Yayasan Dokter Peduli/doctorSHARE (2008-sekarang)

Related Articles: