Tag Archives: Education

International Olympiad in Informatics 2019 Azerbaijan: Indonesia Raih 4 Medali

Dirgahayu Indonesia 74 Tahun

Tim Olimpiade Komputer Indonesia Raih 1 Emas, 2 Perak, 1 Perunggu di International Olympiad in Informatics 2019.

Tim Olimpiade Komputer Indonesia bersama pembimbing

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74, empat siswa SMA ini berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang International Olympiad in Informatics (IOI) 2019.

Dalam ajang yang digelar di Baku, Azerbaijan, mulai tanggal 4 sampai dengan 11 Agustus 2019 tim Indonesia berhasil meraih 1 medali emas, 2 medali perak dan 1 medali perunggu.

Keempat delegasi adalah: Abdul Malik Nurrokhman (Amnu), SMA Semesta BBS Semarang; Vincent Ling, SMA Pribadi Bandung; Fausta Anugerah Dianparama, SMA Negeri 1 Yogyakarta; dan Moses Mayer, SMA Jakarta Intercultural School.

IOI merupakan olimpiade sains di bidang informatika (khususnya pemrograman) yang diselenggarakan setiap tahun. Ajang bergengsi ini pada tahun 2019 memasuki tahun ke-31.

Bersaing dengan 323 peserta lain dari 87 negara, tim Indonesia berhasil meraih 1 medali emas dari Amnu, 2 medali perak dari Fausta dan Vincent, dan 1 medali perunggu dari Moses Mayer.

Perolehan ini menempatkan Indonesia pada posisi ranking juara ke-10, mengalahkan puluhan negara lain, seperti Singapura, Kanada, atau Australia.

Empat siswa anggota Tim Olimpiade Komputer Indonesia patut merasa bangga. Untuk mempersiapkan diri mengikuti IOI, tim ini telah mengikuti pembinaan selama berbulan-bulan, yang dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan UI, ITB, IPB, ITS, UGM dan Binus University.

Peran para alumni TOKI sangat besar pada proses persiapan dan pelatihan. Keempat siswa juga harus menjalani karantina dan pembinaan intensif untuk memperbanyak latihan soal, diskusi dan pelatihan kesiapan mental bertanding.

Materi pembinaan, selain diisi oleh para dosen dari berbagai universitas, juga diisi oleh para alumni TOKI dalam bentuk diskusi dan sparring partner. Para siswa juga diikutsertakan dalam beberapa kegiatan latih tanding. Strategi ini terbukti meningkatkan prestasi tim Indonesia dari tahun ke tahun.

“Sejak terpilih menjadi TOKI, saya berkomitmen untuk memberikan yang terbaik. Tujuan pribadi saya adalah membuktikan kalau Indonesia tidak kalah dari negara lain dalam hal teknologi dan informatika. Walaupun dalam proses pelatihan sempat merasa lelah dan kangen keluarga, tapi sekarang saya sudah lega karena bisa memberikan kado untuk ulang tahun Indonesia, dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga,” kata Amnu yang sudah dua kali menyumbangkan medali di ajang IOI, yaitu medali perak pada IOI 2018, dan emas pada IOI 2019 kali ini.

Tantangan terbesar yang dihadapi TOKI adalah rasa gugup karena menghadapi negara-negara lebih maju yang sering dipandang lebih ahli. Tidak mau kalah sebelum bertanding, Amnu, Vincent, Fausta, dan Moses berusaha untuk membulatkan tekad dan memupuk rasa percaya diri.

Mereka pun tampil lepas dan tanpa beban. Panduan dan dukungan yang diberikan oleh tim delegasi juga membuat mereka selalu bersemangat untuk mengikuti tahapan kompetisi dari hari ke hari. Selain meraih medali, mereka juga sempat memperkenalkan budaya Indonesia dengan bermain angklung pada acara Malam Budaya IOI.

“Dengan pencapaian yang diraih dalam kompetisi IOI kali ini, kita patut memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk semangat, perjuangan dan juga pengorbanan yang telah dilakukan oleh para siswa, Pembina, Alumni dan Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang telah bekerja keras dalam mengupayakan hasil yang maksimal demi mengharumkan nama baik bangsa dan negara,” kata Adi Mulyanto, M.T, dosen STEI ITB dan Pembina TOKI sebagai ketua delegasi

Secara khusus, Adi juga mengapresiasi bantuan moral dan pelatihan yang diberikan oleh Ikatan Alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia (IA-TOKI). Beberapa alumni TOKI kini telah mencetak prestasi masing-masing, seperti Brian Marshal yang mendirikan start-up SIRCLO dan Derianto Kusuma yang mendirikan unicorn Traveloka.

“Mereka telah membangun ikatan alumni yang solid, suportif, dan saling membantu. Secara kompak, mereka mencurahkan waktu,
tenaga, perhatian, dan pengalaman, untuk membimbing ‘adik kelas’ mereka,” tambahnya.

Source: Tribunnews | 13 Agustus 2019 06:22 WIB

International Mathematical Competition Singapore 2017: Indonesia Raih 90 Medali dan 34 Merit Award

Tim Indonesia meraih prestasi gemilang dalam kompetisi matematika International Mathematics Contest (IMCS) di Singapura. Sebanyak 129 pelajar Indonesia yang terdiri dari pelajar kelas 3 SD sampai kelas 11 SMA IMCS pada 4-7 Agustus 2017.

Hasil yang diperoleh dari IMCS tahun 2017 adalah 14 emas, 26 perak, 50 perunggu dan 38 merit. Hal yang sangat membanggakan di tahun ini adalah seorang siswa Indonesia memperoleh penghargaan Grand Champion.

Peraih Grand Champion asal Indonesia atas nama Irfan Urane Azis yang merupakan siswa kelas 10 SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah. Gelar ini sangat sulit diperoleh karena tidak semua peraih medali emas bisa memperoleh gelar ini dan tidak semua negara bisa memperoleh gelar ini.

Irfan Urane Azis Peraih Grand Champion mengatakan dirinya tidak menyangka dan sangat bersyukur bisa menjadi Grand Champion. IMCS tahun ini soalnya lumayan menantang dan perlu berpikir cepat untuk bisa menyelesaikannya karena waktunya sangat terbatas, sehingga dirinya tidak berpikir sama sekali untuk mendapatkan grand champion di kompetisi ini.

“Untuk persiapan lomba IMCS selain mengikuti karantina, saya banyak melakukan latihan soal secara mandiri di asrama di Sekolah Taruna Nusantara. Saya sering mencari soal-soal yang mirip dengan IMCS yang ada di internet sebagai bahan latihan. Hal yang penting untuk sukses dalam matematika adalah usaha dan doa,” kata Irfan.

Total peserta pada lomba ini adalah 1178 peserta yang berasal dari 11 negara yaitu Cina, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Filipina, Indonesia, Korea, Thailand, Iran, Vietnam dan Australia. Para peserta IMCS dari Indonesia merupakan hasil seleksi dari sekitar 250 ribu siswa yang mengikuti Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) dan para siswa pilihan yang mengikut Math In House Training (MIHT). Lomba IMCS tahun 2017 merupakan tahun ke-10 yang diikuti oleh Indonesia.

Sebelum berangkat ke Singapura, para siswa dibina terlebih dahulu selama 1 minggu di Bogor dan para pembinanya dari Tim Klinik Pendidikan MIPA. Pada pembinaan ini para siswa tidak hanya belajar matematika tetapi belajar Bahasa Inggris serta mendapat pembinaan Jasmani dan Rohani. Bagi peserta yang beragama Islam dirutinkan untuk selalu melaksanakan sholat secara berjamaah, sholat tahajud, sholat dhuha dan tadarus Alquran.

Ridwan Hasan Saputra sebagai Team Leader Indonesia mengatakan bahwa prestasi tahun ini sangat membanggakan karena perolehan medali. Tim Indonesia melebihi standart yang ditetapkan panitia khususnya untuk raihan medali emas. Apalagi di tahun ini ada siswa Indonesia yang meraih Grand Champion, hal ini merupakan anugerah yang harus di syukuri.

Ridwan yang juga Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA mengatakan lomba matematika di luar negeri tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman dan wawasan kepada anak-anak agar mereka bisa melihat dunia.

“Banyak anak lain yang lebih pintar dan negara yang lebih maju. Namun tetap rendah hati dan saling menghargai. Sehingga mereka akan lebih semangat lagi belajar supaya Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar. Lomba IMCS ini jadi momentum untuk meningkatkan ibadah para peserta karena selama karantina mereka semakin rajin beribadah. Medali hanyalah Bonus,” kata Ridwan.(Usdo/Yudi)

Source iglobalnews

International Mathematical Olympiad Timeline

The logo of the International Mathematical Olympiad.

International Mathematical Olympiad Timeline

Source: Wikipedia

Notable Achievements

The following nations have achieved the highest team score in the respective competition:

  • China, 20 times (from the first participation in 1985 until 2014): in every year from 1989 to 2014 except 1991, 1994, 1996, 1998, 2003, 2007, 2012, as well as in 2019 (joint with USA);
  • Soviet Union, 14 times: in 1963, 1964, 1965, 1966, 1967, 1972, 1973, 1974, 1976, 1979, 1984, 1986, 1988, 1991;
  • United States, 8 times: in 1977, 1981, 1986, 1994, 2015, 2016, 2018, 2019 (joint with China);
  • Hungary, 6 times: in 1961, 1962, 1969, 1970, 1971, 1975;
  • Romania, 5 times: in 1959, 1978, 1985, 1987, 1996;
  • West Germany, twice: in 1982 and 1983;
  • Russia, twice: in 1999 and 2007;
  • South Korea, twice: in 2012 and 2017;
  • Bulgaria, once: in 2003;
  • Iran, once: in 1998;
  • East Germany, once: in 1968.

The following nations have achieved an all-members-gold IMO with a full team:

  • China, 12 times: in 1992, 1993, 1997, 2000, 2001, 2002, 2004, 2006, 2009, 2010, 2011, and 2019.
  • United States, 4 times: in 1994, 2011, 2016, and 2019.
  • South Korea, 3 times: in 2012, 2017, and 2019.
  • Russia, 2 times: in 2002 and 2008.
  • Bulgaria, once: in 2003.

Also noteworthy is that the United States was a single point away from achieving all gold medals in 2012, 2014, and 2015 and was just two points away in 2018, in each of these years obtaining 5 gold medals and 1 silver medal.

The only countries to have their entire team score perfectly in the IMO were the United States in 1994 (they were coached by Paul Zeitz); and Luxembourg, whose 1-member team had a perfect score in 1981. The US’s success earned a mention in TIME Magazine. Hungary won IMO 1975 in an unorthodox way when none of the eight team members received a gold medal (five silver, three bronze). Second place team East Germany also did not have a single gold medal winner (four silver, four bronze).

Several individuals have consistently scored highly and/or earned medals on the IMO: As of July 2015 Zhuo Qun Song (Canada) is the most successful participant[64] with five gold medals (including one perfect score in 2015) and one bronze medal. Reid Barton (United States) was the first participant to win a gold medal four times (1998-2001). Barton is also one of only eight four-time Putnam Fellows (2001–04). Christian Reiher (Germany), Lisa Sauermann (Germany), Teodor von Burg (Serbia), and Nipun Pitimanaaree (Thailand) are the only other participants to have won four gold medals (2000–03, 2008–11, 2009–12, 2010–13, and 2011–14 respectively); Reiher also received a bronze medal (1999), Sauermann a silver medal (2007), von Burg a silver medal (2008) and a bronze medal (2007), and Pitimanaaree a silver medal (2009). Wolfgang Burmeister (East Germany), Martin Härterich (West Germany), Iurie Boreico (Moldova), and Lim Jeck (Singapore) are the only other participants besides Reiher, Sauermann, von Burg, and Pitimanaaree to win five medals with at least three of them gold. Ciprian Manolescu (Romania) managed to write a perfect paper (42 points) for gold medal more times than anybody else in the history of the competition, doing it all three times he participated in the IMO (1995, 1996, 1997). Manolescu is also a three-time Putnam Fellow (1997, 1998, 2000). Eugenia Malinnikova (Soviet Union) is the highest-scoring female contestant in IMO history. She has 3 gold medals in IMO 1989 (41 points), IMO 1990 (42) and IMO 1991 (42), missing only 1 point in 1989 to precede Manolescu’s achievement.

Terence Tao (Australia) participated in IMO 1986, 1987 and 1988, winning bronze, silver and gold medals respectively. He won a gold medal when he just turned thirteen in IMO 1988, becoming the youngest person at that time to receive a gold medal (Zhuo Qun Song of Canada also won a gold meal at age 13, in 2011, though he was older than Tao). Tao also holds the distinction of being the youngest medalist with his 1986 bronze medal, followed by 2009 bronze medalist Raúl Chávez Sarmiento (Peru), at the age of 10 and 11 respectively. Representing the United States, Noam Elkies won a gold medal with a perfect paper at the age of 14 in 1981. Note that both Elkies and Tao could have participated in the IMO multiple times following their success, but entered university and therefore became ineligible.

The current ten countries with the best all-time results are as follows:

Source: imo-official dot org | IMO Official

Gender of some contestants is not known. Please send relevant information to the webmaster: webmaster @ imo-official dot org

Herayati Sawitri

Foto: Herayati Sawitri kini lulus S2 dengan predikat cum laude di ITB (M Iqbal/detikcom)

Herayati Sawitri (24), anak seorang pengayuh becak asal Cilegon, lulus cum laude dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2018 lalu. Kini, dia menyelesaikan sekolah magister di kampus yang sama dengan IPK 3,88.

Hera lulus S2 dengan predikat cum laude dalam waktu 10 bulan. Dia mengambil jurusan yang sama seperti S1 yakni Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA). Dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 melalui jalur fast track.

“Sebenarnya nggak 10 bulan banget. Jadi memang saya ngambil fast track waktu S1 beberapa mata kuliah S2 sudah diambil, jadi pas S2 tinggal meneruskan saja begitu,” kata Herayati saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/7/2019).

Dalam perjalanan kuliah S2 di ITB, Hera mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Thailand selama 4 bulan.

Hera melakoni kuliah mulai dari S1 hingga S2 dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Beberapa penghargaan didapat atas prestasinya yang sejak jenjang pendidikan sarjana sudah mendapat predikat cum laude.

“Hari Sabtu kemarin wisuda, alhamdulillah sekarang sudah lega, sudah lulus S2,” ujarnya.

Dengan kondisi ekonomi terbatas, Hera mampu menyelesaikan studi S2 dan prestasinya di kampus cukup cemerlang. Kondisi ekonomi yang terbatas, lanjut Hera, tak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi asal ada itikad kuat.

Source: detik. 25 Juli 2019

International Mathematical Olympiad England 2019: Indonesia Raih 6 Medali

Pelajar Indonesia yang berhasil meraih enam medali pada Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) 2019 di Inggris.(Dok. Kemendikbud)

Merah Putih Berkibar, Indonesia Raih Medali Olimpiade Matematika di Inggris

Bendera Indonesia kembali berkibar pada ajang di bidang pendidikan berskala internasional. Kali ini dalam Olimpiade Matematika Internasional atau “International Mathematical Olympiad (IMO) 2019”, pelajar Indonesia meraih prestasi membanggakan.

Sebanyak enam medali yang terdiri dari satu Medali Emas, empat Medali Perak, dan satu Perunggu berhasil dibawa pulang dan membuat tim Indonesia berada di posisi ke-14 dari 110 negara peserta. Perolehan medali itu dilakukan setelah bersaing dengan lebih dari 600 peserta dari berbagai negara.

Pelajar yang meraih medali emas pada IMO 2019 yaitu

  • Kinantan Arya Bagaspati dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Kemudian, pelajar yang mendapatkan empat medali perak masing-masing adalah

  • Jonathan Christian Nitisastro (SMAK Petra 2, Surabaya),
  • Alfian Edgar Tjandra (SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan),
  • Aaron Alvarado Kristanto (SMAK Petra 1, Surabaya), dan
  • Valentino Dante Tjowasi (SMAK Petra 2, Surabaya).

Adapun satu perunggu diraih oleh

  • Farrel Dwireswara Salim dari SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan.

Tingkat kesulitan tinggi

Aleams Barra selaku Koordinator Tim Indonesia untuk IMO 2019 menuturkan, prestasi Indonesia lebih baik dibanding sejumlah negara lain, seperti Australia, Inggris, Kanada, Jerman, dan Belanda.

“Perolehan medali emas kali ini merupakan yang ketiga kalinya yang pernah kita dapatkan setelah sebelumnya kita juga pernah mendapatkan emas pada tahun 2013 dan 2018,” ujar Aleams dalam keterangan di laman resmi Kemendikbud, Kamis (25/7/2019). Dia menuturkan, para peserta dalam IMO 2019 dituntut mengerjakan enam soal Matematika dalam waktu 4,5 jam.

Soal-soal itu terdiri dari empat bidang, yaitu aljabar, kombinatorika, geometri, dan teori bilangan. Soal-soal tersebut merupakan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dan untuk mengerjakannya pun dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental, dan kreativitas yang tinggi.

“Jadi tidak sedikit dari para peserta yang memang kesulitan mengerjakannya. Bahkan setingkat matematikawan profesional pun akan kesulitan untuk mengerjakan soal-soal IMO dalam rentang waktu yang singkat seperti itu,” ucap Aleams.

Kontribusi kemajuan Indonesia

Dia mengungkapkan bahwa timnya sudah cukup siap mengikuti kompetisi tersebut karena pelatihan dan pembinaan yang maksimal. Persiapan yang dilakukan baik dari segi fisik maupun mental, serta tanggung jawab. Sementara itu, Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto, mengutarakan kebanggaannya atas prestasi tim Indonesia sebagai peserta IMO yang terus meningkat sejak tahun 2013.

Dia mengharapkan Tim Olimpiade Matematika Indonesia bisa meraih medali emas secara konsisten dan terus meningkat lebih baik lagi. “Mereka sangat luar biasa, dan saya bangga tim IMO bisa mempertahankan tradisi emas ini.

Mereka layak mendapat apresiasi tertinggi dari negara dan menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di Indonesia. Ke depan juga diharapkan akan menjadi para ilmuwan, matematikawan, insinyur, dan ekonom yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu dan teknologi Indonesia,” tutur Purwadi.

Source: ERWIN HUTAPEA Kompas . com – 26/07/2019

International Mathematical Olympiad UK

  • Year: 2019
  • Country: United Kingdom
  • City: Bath
  • Date: 11.7.2019 – 22.7.2019
  • Countries Participated: 112
  • Total Contestants : 621 – Male: 556 – Female: 65

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 2 Medali dan 1 Penghargaan

Mahasiswa UGM Berprestasi di Olimpiade Matematika Internasional (Foto: UGM)

Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta berhasil menorehkan prestasi di kancah International yaitu International Mathematics Competition (IMC) 2018 yang dihelat di Kota Blagoevard, Bulgaria pada 22-28 Juli 2018 dengan sukses membawa pulang dua medali perunggu dan 1 penghargaan honorable mention.

Mahasiswa tersebut di antaranya adalah Alzimna Badril Uman dan Adryan Wiradinata yang menyumbangkan medali perak. Lalu, Resita Sri Wahyuni yang berhasil meraih penghargaan honorable mention. Ketiga mahasiswa UGM ini terpilih menjadi perwakilan Indonesia di IMC 2018 bersama enam mahasiswa dari perguruan tinggi Indonesia lainnya.

Alzimna mengatakan, keikutsertaannya dalam IMC ini merupakan yang pertama kali. Dia pun mengaku bangga ketika bisa membawa pulang medali dari kompetisi dunia ini.

“Bangga bisa meraih predikat third prize dan mengharumkan nama UGM serta Indonesia di tingkat dunia,” jelasnya, dalam website UGM, Jumat (10/8).

Kendati demikian, perasaan kecewa sempat menghinggapi Alzimna. Sebab, perolehan nilai yang didapatnya hanya terpaut tiga poin untuk menyabet predikat juara dua.

“Sempat ada rasa kecewa karena tidak bisa memenuhi target saya untuk meraih second prize karena hanya mendapat 30 poin dari 33 poin cut off second prize. Namun begitu, saya tetap bersyukur sudah meraih predikat ini serta mendapat banyak sekali ilmu dan pengalaman baru,” urainya.

Keberhasilan yang diraih Alzimna dan dua rekannya tidak lepas dari usaha dan kerja keras mereka dalam berlatih dan belajar menghadapi IMC. Selain itu, juga dukungan dari dosen pembina UGM dan alumni IMC UGM yang telah menorehkan prestasi dalam kompetisi tahun-tahun sebelumnya serta pembinaan intensif dari Kemenristekdikti.

“Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan dukungan semua pihak. Semoga dalam IMC mendatang Indonesia bisa semakin berjaya,” pungkas Alzimma.

Source: okezone | Vanni Firdaus Yuliandi 10 Agustus 2018

International Mathematical Olympiad Hongkong 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Pelajar MI Blitar Raih Emas Olimpiade Matematika Internasional Hong Kong

Foto: Erliana Riady

Pelajar kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Perwanida Kota Blitar, ini memiliki prestasi membanggakan. Pelajar bernama Zufar Hanasta Ilmi ini, meraih medali emas di ajang Hong Kong International Mathematic Olympiade (HKIMO).

Pelajar berusia 9 tahun ini, berhasil menyisihkan ratusan peserta olimpiade matematika tingkat Asia yang digelar 31 Agustus-2 September 2018 lalu.

Putra kedua pasangan M Ibnu Mukti dan Dwi Harsusi Susilowati ini, rupanya memiliki banyak prestasi serupa sejak kelas 1 MI. Baik yang berskala nasional maupun internasional.

Seperti Kompetisi Mathematic Nalaria Realistik (KMNR) Tingkat Nasional tahun 2017 meraih medali emas. KMNR tahun 2018 juga meraih emas. Dan meraih emas juga dalamHidayatull Mathematic and Science Olimpiad (HIMSO) tahun 2018.

Ditemui di sekolahnya pagi ini, bagi Zufar, mengerjakan soal matematika tak ubahnya seperti bermain bola.

“Saya suka sama matematika. Gak susah kok ngerjainnya. Malah seneng pengen cepet selesai. Kalau selesai itu seperti main bola terus bisa memasukkan gol,” ucapnya dengan lancar, Selasa (11/9/2018).

Kemampuan otak kiri Zufar memang bisa dibilang di atas rata-rata. Soal matematika yang sering dikerjakan dalam berbagai event lomba, merupakan soal matematika tingkat kelas 2 SMA. Namun bocah yang gemar olah raga bulu tangkis ini tak pernah sekalipun mengeluh.

“Tidak capek kok. Malah saya selalu pengen dikasi soal tiap hari. Tidak pernah sulit kok. Kalau mau lomba malah gak belajar, cuma main ngerjain soal. Nanti kalau saya duluan selesai ngerjain soal, saya pasti minta soal yang baru lagi,” imbuhnya.

Soal hitungan yang rumit, bagi Zufar matematika hanya permainan saja. Orang tuanya yang menyadari kelebihan kemampuan anaknya ini, lalu memasukkan dalam lembaga bimbingan belajar khusus berhitung. Jadwal padat dilakukan Zufar sejak kelas 1 MI

“Pulang sekolah jam 3 sore. Langsung les matematika sampai jam 5 sore. Itu dari Senin sampai Kamis. Sampai rumah mandi, makan, terus tidur sampai pagi
Saya suka dan gak capek kok,” ucapnya sambil tersenyum.

Ketika ditanya apakah bisa jauh dari mama untuk dikarantina, seperti umumnya peserta olimpiade sciense lainnya. Zufar menjawab begini.

“Sudah sering. Biasanya 10 hari. Mama gak menemani. Itu saya harus bangun jam 6 pagi. Mandi lalu sarapan. Terus latihan mengerjakan soal sampai makan siang sebentar. Habis itu mengerjakan soal lagi sampai jam 10 malam. Tapi saya ya merasa capek kok. Malah senang bisa kumpul banyak teman,” ujarnya.

Kabid Kesiswaan MI Perwanida Ratna Khusna menyatakan, prestasi yang didulang siswa didiknya ini kuncinya hanya komunikasi.

“Kunci utamanya, komunikasi. Antara pihak sekolah, anak dan orang tua. Jangan ada keinginan dari satu pihak saja. Jangan sampai orang tua memaksakan kehendaknya pada anak. Seperti Zufar ini. Kami sampaikan potensinya yang terlihat sejak kelas 1. Lalu orang tua memfasilitasi, sekolah sebagai media. Karena jer basuki mowo beyo,” pungkas Ratna.

Source: detikNews | 11 September 2018

International Mathematics and Science Olympiad China 2018: Indonesia Raih 23 Medali

RI BOYONG 23 MEDALI DI OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT SD DI CHINA

Ini 23 siswa SD Indonesia yang berhasil meraih medali pada Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Internasional di China. (Istimewa)

Sebanyak 23 siswa sekolah dasar ( SD) asal Indonesia sukses memboyong 2 emas, 13 perak, dan 8 perunggu dalam perhelatan International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) 2018. Ajang Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Internasional yang diikuti 22 negara itu diselenggarakan di Xejhiang, China, pada 27 September hingga 4 Oktober 2018. “Alhamdulillah, tahun ini lebih banyak daripada tahun kemarin, kali ini kita bawa pulang 23 medali. Semoga ini memberikan motivasi kepada anak-anak kita untuk menyukai matematika dan sains,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad dalam siaran pers, Jumat (5/10/2018).

Hamid beserta pejabat Kemendikbud, Kamis (4/10/2018) kemarin, menjemput anak-anak berprestasi itu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Berikut daftar siswa peraih medali :

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “RI Boyong 23 Medali di Olimpiade Matematika Tingkat SD di China”, https://nasional.kompas.com/read/2018/10/05/14122811/ri-boyong-23-medali-di-olimpiade-matematika-tingkat-sd-di-china?page=all.
Penulis : Fabian Januarius Kuwado
Editor : Krisiandi

Medali Emas

  1. Muhammad Fikri Aufa (SD Islam Terpadu Cahaya Insani, Temanggung),
  2. Steven Darren Wijaya (SD Cahaya Nur, Kabupaten Kudus).

Medali Perak

  1. Stevenson C. Hudiono (SDS Kristen II Penabur, Jakarta Pusat)
  2. Elbert Tristan Lie (SDS Pelita Bangsa, Bandar Lampung)
  3. Fakhri Musyaffaa Ariyanto (SD Nasional KPS Balikpapan)
  4. Novin Raushan (SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta)
  5. Jack Howard Wijaya (SD Darma Yudha, Pekanbaru)
  6. Harltbert Mayer Hsia (SD Darma Yudha, Pekanbaru)
  7. Ahmad Boutros Fathir (SDUT Bumi Kartini, Jepara)
  8. Naistra F Wirdiyan (SD Alfurqan, Jember)
  9. Jesreel HT Sigalinging (SDS Kristen Penabur 4, Jakarta Timur)
  10. Clairine Aurel A (SD Tunas Indonesia Sejati, Jakarta Utara
  11. Ben Robinson (SD Kristen Petra 10, Surabaya)
  12. Adeline Fedora C (SDS Fransiskus 2 Rawalaut, Bandar Lampung)
  13. Moch. Rakha Aryaputra (SDN Pedurungan Tengah 02, Semarang).

Medali Perunggu

  1. Wilbert Angkasa (SDS Pah Tsung, Jakarta Barat)
  2. Pradipto Pandu M (SDN Rawajati 08 Pg, Jakarta Selatan
  3. Ni Luh Gita Gayatri ( SDN Tegalkalong, Sumedang)
  4. Bilqis Sofia QA (SD Unggulan Sulawesi Permata Bangsa, Palu)
  5. Kelven Nathanael (SDK Santa Theresia, Surabaya)
  6. Dzaki Aulia Fadhil (SD Muhammadiyah 2 Kauman, Surakarta)
  7. Leonardo Valerian (SDS Darma Yudha, Pekanbaru)
  8. Franklin Filbert Irwan (SDS Darma Yudha, Pekanbaru).

Hamid menyampaikan bahwa pencapaian itu menjadi pembelajaran untuk mendorong peserta didik dalam mencapai level tertinggi. “Sebenarnya ini menjadi pembelajaran bagi semua daerah. Kalau pembelajaran literasi dasar, baca masalah, bahasa, IPA (ilmu pengetahuan alam), dan matematika itu kita siapkan dengan baik, fasilitas belajarnya baik, gurunya kita latih dengan benar, kegiatan pembelajarannya menyenangkan, pasti anak-anak kita itu meraih level tertinggi,” kata Hamid.

Steven Darren Wijaya, siswa kelas VI SD Cahaya Nur, Kudus, merasa sangat senang dapat meraih emas dalam kompetisi internasional tersebut. Ia menyebut, prrestasi ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan antusiasmenya mempelajari matematika. “Setiap Minggu aku sering pulang pergi ke Semarang, hanya untuk les,” ujar Steven.

Source: Kompas | Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Editor : Krisiandi

International Mathematical Olympiad Romania 2018: Indonesia Raih 6 Medali

Logo Olimpiade Matematika Internasional.

Tim Indonesia Raih 1 Emas dan 5 Perak di Olimpiade Matematika Internasional

Tim pelajar Indonesia yang meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung di rumania.(Dok. Gian Sanjaya)

Tim Indonesia meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung pada 9-10 Juli 2018 di Kota Cluj-Napoca, Romania. Tim Indonesia beranggotakan

  • Gian Cordana Sanjaya (18)
  • Valentino Dante Tjowasi (16)
  • Farras Mohammad Hibban Faddila (17)
  • Kinantan Arya Bagaspati (17)
  • Alfian Edgar Tjandra (17)
  • Otto Alexander Sutianto (18)

Medali emas diraih oleh Gian, sementara 5 medali perak diraih oleh Valentino, Farras, Kinantan, dan Otto Alexander.

Informasi prestasi para pelajar Indonesia ini dipublikasi oleh akun resmi Twitter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, @Kemendikbud_RI.

Setiap tahunnya, Indonesia selalu mengikutsertakan pelajar yang menjadi perwakilan negara dalam olimpiade ini. Setiap negara berhak mengirimkan enam orang pelajar SMA sebagai peserta. Keenam orang tersebut terpilih berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh Tim Pembinaan Indonesia. Tahun ini, ada 106 negara yang berpartisipasi. Saat dihubungi Kompas.com, Gian, pelajar yang meraih emas, masih berada di Romania. Ia mengatakan, lawan yang mereka hadapi cukup tangguh. “Kami melawan banyak negara. Namun, beberapa negara yang susah dikalahkan adalah Amerika, China, Rusia, Jepang, Korea, dan Inggris,” ujar Gian, siswa SMA Kristen Petra 1, Surabaya, Jumat (13/7/2018).

Gian mengatakan, dalam kompetisi ini diberlakukan sistem nilai. Untuk mendapatkan medali emas, peserta harus mendapatkan nilai minimal 31. Adapun, untuk medali perak nilai minimumnya 25, dan untuk medali perunggu nilai minimum 16. Gian mengaku, ia mendapatkan skor 31 dan berhasil memboyong medali emas. Sementara itu, Alfian, Kinantan, dan Farras masing-masing mendapatkan nilai 29, Valentino mendapatkan nilai 28, dan Otto mendapatkan nilai 25. Total nilai yang didapatkan oleh Tim Indonesia yaitu 171.

Source: Kompas | Penulis : Retia Kartika Dewi | Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Audrey

Related Posts:

“Anak Ajaib” asal Surabaya


TERNYATA INDONESIA (PERNAH) PUNYA “ANAK AJAIB” ASAL SURABAYA

audrey_20180129_085743

Anak ajaib itu bernama Audrey.

Prestasi Pendidikan Audrey:

  • Audrey selesaikan SD 5 tahun
  • SMP 1 tahun, dan SMA 11 bulan
  • Dia lulus SMA di umur yg sangat muda, 13 tahun!
  • Masalah terjadi karena tidak ada kampus di Indonesia yang mau terima anak umur 13 tahun jadi mahasiswa
  • Jadi dia kuliah di luar negeri, di University of Virginia
  • Kalian tau jurusan apa? FISIKA! Dia selesaikan studinya dlm tahun
  • Di umur 16 tahun dia jadi Sarjana Fisika dgn predikat Summa Laude! Sempurna!

Gak cuma itu,

  • umur 10 tahun skor TOEFL nya 573, memecahkan rekor MURI dgn nilai TOEFL tertinggi di usia termuda.
  • Umur 11 tahun hafal luar kepala kamus Indonesia–Inggris setebal 650 halaman.
  • Umur 14 tahun skor TOEFL 670!!
  • Skrg Audrey se-kurang²nya bisa menguasai 6 bahasa asing:
    • Inggris
    • Prancis
    • Jerman
    • Mandarin
    • Rusia
    • Latin

Tapi karena keajaibannya itu membuat dia terkucilkan. Kalangan dewasa anggap dia tdk normal. Teman sebaya anggap dia aneh sendiri, Harus dijauhi, tak bisa diajak berteman, hrs dikucilkan.

Kondisi lingkungan seperti itu membuatnya menderita. Di rumah, dia selalu dimarahi. Di sekolah selalu di-bully. Di pergaulan ibunya selalu jadi bahan gunjingan.

Banyak orang luar negeri menyayangkan karena kondisinya di Indonesia yg demikian itu membuat kemampuan Audrey di masa remajanya ter sia²kan. Tapi di balik semua perlakuan itu ternyata Audrey adalah orang yg begitu bangga dengan Indonesia. Banyak buku yg dia tulis yang menggambarkan kecintaannya terhadap negeri ini.

Tahun 2017 kemarin dia dinobatkan menjadi salah satu dari 72 ikon prestasi Indonesia.

Berikut ini ulasan dari Pak Dahlan Iskan:

SULITNYA (PUNYA) ANAK SUPER PANDAI

  • UMUR Audrey baru 4 thn saat itu. tapi pertanyaannya setinggi filsuf: Kemana perginya rasa bahagia? Atau: Apa arti kehidupan?
  • Pertanyaan seperti itu membuat orangtuanya kewalahan. Begitu sering dia tanyakan. Dan tidak ada jawaban. Gurunya belingsatan. Lingkungannya jengkel.
  • Di mata mereka , Audrey-cilik tetap dianggap bocah ingusan, tak pantas bertanya ­seperti itu. Bahkan, ada yg menganggapnya mengidap kelainan jiwa.
  • Padahal dia merasa normal. Semua pelajaran bisa dia ikuti dengan baik. Sangat baik. Bahkan istimewa. Semua bisa dia jawab. Bahkan yang belum ditanyakan sekalipun. Ta[i dia merasa terasing. Di rumahnya, di sekolahnya, di pergaulannya, dan jg di gerejanya.
  • Orangtuanya, terutama ibunya, kian jengkel. Yakni saat Audrey melanjutkan pertanyaan ”arti kehidupan” itu dgn pertanyaan yg lebih sulit dijawab: Mengapa ada org miskin & miskin sekali sampai hrs jadi pemulung atau gelandangan? 
  • Anak kecil yg tambah menjengkelkan.

Ketika sudah di SD dia ngotot mau ke tempat sampah. Mencari pemulung. Ingin membantu. Ingin melakukan spt yg disebut dalam Pancasila. Khususnya sila kelima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia tidak hanya hafal Pancasila. Tapi merasuk sekali dalam jiwanya. Saking merasuknya, sampai dia selalu mempersoalkan ini:

Mengapa yg tertulis & diajarkan di Pancasila tidak sesuai dgn kenyataan? Dalam kehidupan se-hari² di masyarakat. Seperti yang dia lihat. Dan yg dia alami sendiri. Sebagai pribadi, sebagai anak, bahkan sebagai anak keluarga Tionghoa.

Dia ngotot ingin selalu ke tempat pemulung, ingin tau arti kehidupan. Tentu ibunya melarang, bahkan memarahinya. Semua ibu mgkn akan seperti itu.

Lain waktu, Audrey bikin kejutan lagi. Cita²nya ingin jadi tentara. Agar bisa jadi pejuang. Seperti pahlawan. Yg fotonya dipajang di dinding kelasnya. Heroik. Seperti kisah pahlawan dari guru² nya.

Ibunya tentu marah lagi.

Waktu ibunya menikah dulu, bukan anak seperti itu yang dia impikan. Begitu lama sang ibu mendambakan segera punya anak. Tidak kunjung hamil. Tiga tahun. Empat tahun. Lima tahun. Lama sekali menanti. Setelah itu barulah hamil.

Begitu besar harapan pada anak itu. Apalagi, Audrey tidak kunjung punya adik. Audrey menjadi satu²nya anaknya. Terlalu banyak keinginan sang ibu pada masa depan Audrey kecilnya. Sang ibu mampu untuk menyiapkan apa saja. Dia insinyur kimia. Suaminya Insinyur Mesin. Kedudukan suaminya sangat tinggi di sebuah perusahaan raksasa. Di luar itu masih punya usaha. Bahkan beberapa . Pokoknya, dia cukup  kaya. Kurang apa.

Harapan pada  anaknya tentu seperti umumnya harapan orangtua. Apalagi anak tunggal. Yg untuk menanti kehadirannya begitu lama. Anaknya harus pandai, cantik, dan kelak bisa jadi orang sukses. Terkemuka. Kaya. Lebih sukses dari orang tuanya. Kemudian bisa mendapat suami yg setara.

Tapi ternyata anaknya telah membuatnya repot. Malu. Marah. Teman² sang ibu menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa. Begitu banyak yang menyarankan langkah itu. Begitu sering diucapkan. Secara nyata maupun isyarat. Kadang ia dengar sendiri saran ke dokter jiwa itu.

Ada yg mengucapkannya terang²an. Di depan si anak. mungkin mengira toh anak ini tidak akan paham apa yg diucapkan orang dewasa. Ternyata Audrey lebih dari sekadar paham. Baru mendengar saran itu saja, Audrey sudah kian merasa disakiti hatinya. Apalagi setelah benar² dibawa ke dokter jiwa.

Dasar anak cerdas, dia tau apa yg harus diperbuat di dokter jiwa. Jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia bisa menilai dokternya. Berkualitas atau tidak. Krn tidak ”sembuh”, Audrey dibawa ke dokter yang lain lagi. Yang berikutnya lagi. Bahkan, Audrey pun bisa membandingkan. Mana dokter yang kurang paham dan mana yang lebih kurang paham. Ketika ada dokter jiwa yang kemudian memberinya obat, Audrey pun kian merasa betapa sulit orang lain memahami dirinya. Bahkan dokter jiwa sekalipun.

Ketika kelas tiga SD, Audrey bikin kejutan lagi. Gak mau sekolah. Terlalu mudah. Orangtuanya mencarikan jalan keluar. Pindah sekolah. Memang dia bisa menjawab pertanyaan² untuk kelas enam sekalipun. Audrey akhirnya bisa mendapat percepatan. Umur 12 tahun sudah kelas tiga SMA. Kesulitan muncul. Tidak ada universitas yg bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 tahun.

Dicarilah berbagai informasi. Di dalam negeri. Di luar negeri. Ketemu. Di Amerika Serikat. Di Negara Bagian Virginia. Di Kota Williamburg. Termasuk kota pertama dalam sejarah AS yang didarati bangsa Eropa.

Audrey tentu harus dites. Lulus. Dalam tes bhs Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa bahasa Prancis, Rusia. Di William and Marry University ini, Audrey ambil mata kuliah yang  wow: Fisika Murni. Dia pun lulus S-1 Fisika Murni hanya dlm waktu dua tahun. Dgn tingkat kelulusan summa cum laude pula.

Orangtuanya tentu gembira. Tapi sekaligus sedih. Marah. Sulit. Audrey tetap ingin masuk tentara. Jadi pejuang negara. Seperti pahlawan yang dikenalnya di foto² di dinding taman kanak-kanaknya.

Nasihat orangtuanya tidak pernah dia terima. Misalnya, nasihat untuk menyadari bahwa dirinya itu keluarga Tionghoa. Minoritas. Belum tentu bisa diterima baik oleh lingkungan yg luas. Kok mau masuk tentara. Jadi pejuang bangsa.

Sejak kecil Audrey terus dinasihati tentang sulitnya jadi minoritas. Tentang bahayanya menjadi golongan Tionghoa. Risiko bermata sipit. Berkulit kuning. Tentang risiko² pergaulan. Kekerasan. Apalagi dia seorang wanita. Begitu protektif si ibu sampai² saat ada tukang di rumahnya, Audrey tidak boleh keluar kamar.

Begitu ketatnya aturan yang harus dijalani seorang anak kecil bermata sipit membuat Audrey memberontak. Diam² Dia ­pendam dalam hati. Dia berusaha menghitamkan kulitnya. Tapi tiap becermin dia mengakui matanya masih sipit. Dia bertekad tidak mau berbahasa Mandarin. Dia berhenti kursus Mandarin. Bahkan, dia bertekad tidak akan mau menikah dengan pemuda Tionghoa.

Dia tidak percaya soal perbedaan ras tidak bisa diatasi. Dia percaya pada Pancasila. Yg ajarannya mulia. Tidak mem-beda² kan warga negara. Dia tahu dlm kenyataan bhw pembedaan itu ada. Justru itu hrs diperjuangkan. Agar Pancasila bisa dilaksanakan.

Dia tidak mau kaya raya. Tidak mau jadi pengusaha. Dia juga masih melihat banyak golongan Tionghoa yg tidak melaksanakan Pancasila. Di tengah bangsa yang masih  begini miskinnya. Tapi dia juga kecewa bahwa golongan Tionghoa masih  diperlakukan tidak adil & beradab oleh golongan lainnya. Dia kecewa dalam hal ini Pancasila baru di bibir saja.

Mengapa saat berumur empat tahun Audrey sudah mempertanyakan arti kehidupan dan kemana perginya rasa bahagia?

Hari itu Audrey mendadak diajak ke Tulungagung. Kakeknya meninggal. Kakek yang dia sayangi. Kakek yang periang & penyayang. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung, dia mendengar pembicaraan orangtuanya. Terutama tentang penyebab meninggalnya. Yakni, meninggal karena sedih. Ditinggal mati istrinya. Sang istri meninggal setelah menderita lama: korban tabrak lari.

Audrey kecil sangat sayang oma & opanya. Audrey memanggilnya Ama & Akong. Pagi itu jam 4 pagi, Ama bersepeda sehat ke arah alun² Tulungagung. Sebuah mobil menabraknya. Tidak pernah diketahui siapa penabraknya.

Dari situlah Audrey terus berpikir. Mengapa orang  yang begitu menyenangkan harus meninggal. Bahagia itu ternyata bisa datang & pergi. Banyak sekali yang dia renungkan. Padahal, kalau ada orang dewasa bicara, Audrey itu hanya diam. Begitulah kata ibunya. Kami-kami ini tidak tahu bahwa dalam diamnya itu ternyata dia terus berpikir. Padahal, orang mengira dia diam karena tidak peduli dengan pembicaraan orang dewasa.

Kata Audrey, umur itu ternyata pendek. Sejak saat itu, Audrey bertekad untuk mengisi umur yang pendek itu dengan sebanyak mungkin arti kehidupan. Audrey jadi anak genius. Audrey bukan tidak bisa berubah.

Dia terkejut saat ke dokter gigi. Orangtuanya membawa Audrey ke dokter gigi di Singapura. Di sana dia mendapat kesan betapa orang² Singapura sangat bangga akan negaranya. Padahal, dia melihat orang² itu memiliki nama China. Kesimpulannya: untuk bangga pada negara, untuk  membela negara, ternyata tidak harus dgn cara mengubah identitas. Denagn nama tetap China, dengan kulit tetap kuning, dengan mata tetap sipit, ternyata orang² itu begitu fanatik pada ke-Singapura-annya. Pada negaranya.

Audrey mulai mau belajar lagi bahasa Mandarin. Denagn cepat. Bahasa apa pun bisa dia kuasai dengan mudah. Bahkan, Audrey sudah menerbitkan beberap buku pelajaran bahasa Mandarin utk anak Indonesia. Audrey juga mulai ingin punya nama Tionghoa.

Dia ke pengadilan. Mengubah namanya. Menjadi: Audrey Yu Jia Hui. Dia ingin membuktikan bahwa untuk cinta negara tidak harus mengubah atau menyembunyikan identitas suku atau rasnya. Seperti di Singapura. Dan sebetulnya juga di Amerika.

Hanya, dia tetap masih membujang. Umurnya sudah 30 tahun saat ini. Mengajar bahasa Inggris untuk level tertinggi di Shanghai. Sambil terus menyusun konsep penerapan Pancasila yang baik. Saya sudah dikirimi draft konsep pemasyarakatan Pancasila menurut dia. Saya sudah membaca dan ikut merenungkannya.

Ibunya juga sudah mulai berubah. Audrey sudah bisa pulang tahun depan dengan suasana baru.

”Saya baru tahu dari bukunya kalau perasaannya kepada saya seperti itu,” kata sang ibu kepada saya. ”Saya menyesal,” tambahnya. ”Saya sudah berubah. Saya mau berubah,” kata sang ibu.

Source: Rudy Kurniawan