Tag Archives: First Aid

20 Cara Mengatasi Anak Panas Tinggi dan Kejang dengan Cepat

Source: DemamPanas


1643391-anak-sakit-780x390

Anak yang mengalami kejang dan demam tinggi adalah momen yang menakutkan bagi orangtua, apalagi jika hal ini terjadi untuk yang pertama kalinya.  Kejang pada anak dapat terjadi saat anak mengalami panas atau demam tinggi. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hal ini banyak terjadi saat anak berusia antara 6 bulan hingga 5 tahun.

Anak dikatakan kejang apabila ia mengalami hal-hal seperti kakunya tangan dan kaki, mata mendelik (kadang berkedip-kedip), kehilangan kesadaran, tidak merespon saat disentuh maupun dipanggil, dan terkadang disertai kelojotan pada seluruh tubuh anak.

Ada hal-hal yang dapat dilakukan orangtua saat suhu tubuh anak meninggi dan mengalami kejang. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Cara Mengatasi Anak Panas Tinggi dan Kejang


1. Tetap bersikap tenang

Meskipun kejang dapat membuat orangtua merasa takut dan panik, sebisa mungkin usahakan agar tetap tenang agar bisa berpikir jernih dan memutuskan langkah apa yang harus dilakukan. Kepanikan orangtua dapat menyebabkan bahaya bagi anak yang sedang mengalami kejang. Tenang adalah salah satu hal yang harus di utamakan dan merupakan Cara Mengatasi Anak Panas Tinggi dan Kejang paling efektif.

2. Longgarkan pakaian anak

Saat terjadi panas tinggi dan kejang, pakaian anak harus dilonggarkan terutama di bagian leher agar anak tidak tercekik dan mengalami panas berlebih.

3. Pastikan anak berada di permukaan yang aman

Untuk menghindari resiko terjatuh atau menghantam sesuatu yang keras, orangtua harus memastikan anak berada pada permukaan yang aman, seperti di atas karpet.

4. Singkirkan benda-benda berbahaya di sekitar anak

Benda-benda berbahaya seperti kaca, meja, kursi, bahkan mainan anak dapat menjadi hal yang membahayakan saat anak mengalami kejang. Saat kejang, anak kehilangan kontrol dan kesadaran atas dirinya. Maka, benda-benda tersebut harus disingkirkan dari tempat anak berbaring.

5. Baringkan anak menghadap ke satu sisi

Agar anak terhindar dari resiko tersedak pada saat kejang, orangtua membaringkan anak menghadap ke salah satu sisi (kanan atau kiri), terutama jika ia mengeluarkan banyak air ludah dari mulutnya.

6. Cek pernapasan anak

Cara Mengatasi Anak Panas Tinggi dan Kejang dengan cara segera cek  hembusan napas dan pergerakan naik turunnya dada dan perut anak untuk memastikan apakah anak dapat bernapas seperti biasanya. Segera bawa ke instalasi gawat darurat ke klinik terdekat apabila anak terlihat tidak bernapas atau wajahnya terlihat membiru.

7. Jangan meletakkan benda apapun di mulut anak

Jangan pernah meletakkan benda apapun di mulut anak untuk membuat mulutnya tetap terbuka, karena dapat berbahaya baik bagi anak maupun  bagi orangtua. Memasukkan benda-benda seperti jari orangtua, kayu, sendok, kain, maupun benda-benda lainnya ke dalam mulut anak memiliki resiko sumbatan jalan napas hingga luka pada anak.

8. Temani anak hingga ia benar-benar sadar

Orangtua perlu bekerjasama dengan anggota keluarga yang lain untuk memberikan pertolongan pertama pada anak yang kejang. Ayah atau Ibu harus menemani anak dan tidak meninggalkannya meskipun hanya sebentar agar dapat terus mengawasi kondisi anak, sementara salah satunya membantu mengambilkan kompres, obat, hingga menghubungi klinik/rumah sakit terdekat apabila diperlukan.

Selain itu, orangtua yang berada di samping anak dapat memastikan agar ia lebih tenang. Perhatikan juga hal-hal yang terjadi selama anak mengalami kejang agar dapat memberikan informasi lebih lengkap saat anak dibawa ke dokter.

9. Pertolongan pertama saat anak berhenti bernapas

Apabila orangtua memahami metode pernapasan bantuan mulut ke mulut (CPR), segera berikan saat anak tidak bernapas dalam waktu satu menit setelah kejang. Orangtua juga bisa menghubungi klinik atau rumah sakit terdekat agar dikirimkan ambulan. Tidak perlu ke rumah sakit yang bagus namun jaraknya jauh, karena dapat beresiko terjadinya keterlambatan pertolongan pertama pada anak.

10. Berikan obat secara rektal

Anak dapat diberikan paracetamol secara rektal (melalui anus) sesuai dosis yang tepat. Ada baiknya orangtua sudah mempelajari cara memberikan obat secara rektal dari dokter anak. Anak yang memiliki riwayat kejang sebelumnya biasanya diberi obat kejang dari dokter. Pelajari cara penggunaannya dan berikan dosis yang tepat.

11. Jangan memberikan apapun untuk dikonsumsi anak

Jangan coba-coba memberikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut kepada anak yang baru saja selesai mengalami kejang. Anak harus dipastikan sadar sepenuhnya dari kejang, agar ia tidak tersedak. Orangtua harus menunggu hingga kesadaran anak pulih sepenuhnya pasca kejang sebelum memberikan apapun untuk dikonsumsi oleh anak.

12. Jika anak muntah saat kejang

Segera bersihkan mulut anak dan miringkan badannya agar ia tidak tersedak muntahnya sendiri. Agar lebih amannya, bawa anak ke rumah sakit atau klinik terdekat agar ia tidak mengalami dehidrasi setelah muntah.

13. Jangan menahan paksa tubuh anak

Saat anak kejang, orangtua bisa khawatir karena melihat gerakannya yang tidak terkontrol dan tidak wajar. Namun, jangan menahan tubuh anak atau menahan gerakannya secara paksa karena beresiko patah tulang, memar pada otot, atau cedera pada kulit.

14. Jangan memasukkan obat apapun ke mulut anak

Anak yang mengalami kejang kehilangan kontrol dan kesadaran dirinya sendiri. Maka, orangtua dilarang memasukkan obat apapun (termasuk obat penurun panas) ke dalam mulut anak saat anak kejang. Jika ada potongan makanan atau benda lainnya di mulut anak, segera keluarkan agar jalan napasnya tidak tersumbat.

15. Hitung berapa lama anak mengalami kejang demam

Segera lihat jam dinding atau penunjuk waktu lainnya saat anak mulai mengalami kejang. Jika kejang demam berlangsung lebih dari 10 menit, segera larikan anak ke instalasi gawat darurat di klinik/rumah sakit terdekat, atau panggil ambulan.

16. Jangan menyelimuti anak dengan selimut tebal atau pakaian berlapis

Cara Mengatasi Anak Panas Tinggi dan Kejang dengan memberikan Selimut yang tebal dan pakaian berlapis dapat menghalangi penguapan dan meningkatkan suhu tubuh anak. Saat anak kejang, suhu tubuhnya di ambang batas normal. Maka, hindari penggunaan selimut dan pakaian yang membuat panasnya makin tinggi.

17. Kompres dengan air hangat

Untuk menurunkan suhu tubuh anak, kompres di bagian dahi, ketiak, dan lipatan siku. Hindari mengompres anak dengan air dingin karena hal itu justru akan mengirimkan sinyal ke hipotalamus bahwa suhu anak sedang rendah. akibatnya, suhu tubuh anak dapat menjadi lebih tinggi lagi

18. Beri minum yang banyak

Saat anak sudah sadar sepenuhnya dari kejang, bujuk ia agar mau banyak minum sehingga cairan tubuhnya yang hilang dapat segera terganti. Orangtua bisa memberikan air mineral ataupun susu untuk anak.

19. Penanganan medis

Segera panggil ambulan atau bawa ke klinik/rumah sakit terdekat jika terjadi salah satu gejala:

  • kejang anak tidak terkontrol
  • gemetar dengan cepat
  • wajah anak membiru
  • kepala terbentur sebelum atau saat kejang
  • tidak sadar setelah 10 menit,
  • tidak dapat bernapas normal,
  • terlihat dehidrasi
  • tidak kembali ke kebiasaan normalnya dalam kurun waktu satu jam atau lebih setelah kejang
  • kejang hanya terjadi pada salah satu bagian badan (bukan keseluruhan badan)

20. Anak dengan epilepsi (riwayat kejang)

Pencegahan bahaya lebih lanjut untuk anak dengan epilepsi atau riwayat kejang dapat dilakukan dengan memindahkan benda-benda keras dan berbahaya di sekitarnya. Jika seorang anak dengan riwayat epilepsi berada di atas kapal atau dekat dengan perairan, awasi dan tahan anak untuk mencegah terjadinya tenggelam.

Penyebab Panas Tinggi dan Kejang pada Anak


Panas tinggi dan kejang yang biasa dikenal dengan kejang demam dapat terjadi secara mendadak. Seperti halnya demam biasa pada anak, kejang demam terjadi karena adanya infeksi yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Suhu tubuh anak yang normal adalah 36,3°C hingga 37,7ºC. Sedangkan, pada bayi adalah 36,1ºC-37,7ºC.  Di atas suhu normal, anak mengalami panas tinggi atau demam.

Setiap anak memiliki suhu ambang kejang yang berbeda-beda. Ada anak yang sudah mengalami kejang saat suhu tubuhnya mencapai 38ºC, ada juga yang “baru” mengalami kejang saat suhu tubuhnya mencapai 40ºC. Namun, tidak dapat diketahui secara pasti, mengapa ada anak yang mengalami kejang saat panas tinggi dan ada anak yang tidak mengalami kejang. Jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat kejang, faktor genetik diduga turut mempengaruhi. Normalnya, kejang akan berhenti sendiri setelah lima menit dan tidak akan terulang dalam kurun waktu 24 jam.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), panas tinggi hingga kejang tidak berbahaya dan tidak merusak otak hingga mengganggu kecerdasan anak seperti pada banyak info yang beredar. Pada umumnya panas tinggi dan kejang akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usia anak.

Tidak semua kejang yang disertai panas tinggi adalah kejang demam. Namun, orangtua perlu khawatir dan waspada jika hal ini berlangsung di luar rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun. Apabila setelah kejang anak tidak segera sadar, tidak mengadakan kontak dengan baik, lebih banyak tidur, maka dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mencari penyebab lainnya, terutama meningitis (radang selaput otak) atau radang otak (ensefalitis). Selain itu, orangtua juga perlu mewaspadai apabila anak pernah mengalami kejang tanpa disertai panas tinggi atau demam.

Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam.

 

4 Cara Mengobati Anak Muntah Karena Masuk Angin Secara Alami

KESEHATAN

 

Saat anak sakit memang sudah menjadi kepanikan tersedniri oleh para orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anak yang sehat. Penyebab anak sakit memiliki beberapa faktor, salah satunya adalah pergantian cuaca.

Pergantian cuaca biasanya akan menyebabkan flu pada anak. Namun hal ini tak hanya dialami anak saja, bahkan ibu hamil juga rentan terkena flu karena pergantian cuaca.

Masuk angin pada anak tidak harus buru-buru untuk dibawa ke dokter. Sebaiknya gunakan cara tradisional terlebih dahulu agar lebih aman.

Anak yang masuk angin memang hal yang wajar karena sistem imun yang menurun dan pergantian cuaca, Untuk itu penanganannya juga harus tepat, seperti memakai cara tradisional terlebih dahulu.

Masuk angin anak biasanya disertai dengan muntah. Muntah terjadi karena perut kembung yang tidak ditangani dengan cepat.

Beberapa orang tua yang terlanjur panik biasanya akan langsung memberikan antobiotik pada anak. Namun mereka tidak sadar jika pemberian antibiotik pada penyakit ringan justru memiliki dampak yang buruk.

Mengatasi anak yang muntah karena masuk angin tidak melulu harus dengan antibiotik.

Para orang tua tentunya jangan terlalu panik karena hanya akan membuat situasi semakin memburuk.

Muntah saat anak mengalami masuk angin sebenarnya dapat membantu meredakannya karena perut menjadi semakin berkurang rasa kembungnya.

Perut kembung memang seringkali membuat anak rewel karena ingin muntah tetapi sulit. Untuk itu, para orang tua harus tau cara tepat untuk menanganinya.

1. Memperhatikan Pola Makan Anak

Nutrisi untuk anak memang harus diperhatikan dengan baik. Khususnya bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah. Seorang anak memang terlahir dengan daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Beberapa anak mudah sakit, khususunya saat pergantian cuaca. Ini memang sering terjaid pada anak, salah satunya adalah masuk angin yang akan membuatnya muntah. Salah satu penyebab muntah pada anak adalah pola makan yang salah dan akhirnya membuat pencernaan bermasalah. Untuk itu, memperhatikan pola makan sangatlah penting untuk kesehatan pencernaannya.

2. Mengoleskan Minyak Kayu Putih

Perut kembung memang menjadi salah satu penyebab anak menjadi rewel. Anak yang rewel setingkali membuat orang tua tidak tenang. Hal ini memang wajar karena anak rewel memang sedang merasakan sakit yang menyiksa yang tidak dapat dikatakan kepada orang tua, salah satunya saat masuk angin. Masuk angina kadang membuat anak muntah karena merasakan pusing dan rasa perut yang tidak enak. Beberapa anak memang bisa dengan muntah. Tapi agar tidak muntah terlalu banyak, sebaiknya oleskan minyak kayu putih pada bagian perut. Dengan mengoleskan minyak kayu putih atau minyak telon lainnya akan membuat anak lebih enakaan dan mengurangi rasa sakit yang menyebabkan ia ingin muntah. Oleskan minyak kayu putih pada tenggorokan, perut dan punggung anak. Ini akan membuatnya lebih baik dan tidak akan muntah.

3. Memberi Air Putih Hangat

Pertolongan paling mudah saat bayi mengalami mntah adalah dengan meneyediakan air hangat. Air hangat mampu menyegarkan tenggoroka sehingga dapat mengurangi rasa mual yang akan menyebabkan muntah. Tak hanya untuk diminum, air hanga yang dimasukkan kedalam botol dan diletakkan di bagian perut juga akan membuatnya lebih baik. Jangan panik jika anak masuk angin dan muntah, sebaiknya sediakan air hangat. Untuk mengantsipasi agar anak tehindar dari masuk angin, biasakan agar anak selalu mengonsumsi air putih agar kebutuhan nutrisinya seimbang.

4. Memakaikan Pakaian Hangat Untuk Anak

Agar anak terhindar dari masuk angin akibat pergantian cuaca ataupun alergi dingin, sebaiknya buatlah agar anak selalu merasa hangat. Misalnya dengan memakaikan syall atau penutup leher dan kaos kaki saat tidur. Memakai kaos kaki saat tidur memiliki efek yang bagus, salah satunya agar bisa tidur lebih nyenyak. Ini sangat cocok dipakai untuk anak-anak yang mudah sekali sakit saat pergantian musim. Cara seperti ini akan membuat anak terasa nyaman sehingga tidak mudah muntah saat masuk angin. Memakai pakaian hangat juga akan membuatnya tetap hangat saat cuaca dingin, khususnya untuk anak yang sensitif terhadap cuaca dingin.

Masuk angin merupakan hal yang sering dialami, tak hanya anak kecil namun juga orang dewasa dan wanita saat sedang hamil.

Untuk menjaga agar tetap sehat, maka harus selalu memperhatikan makanan yang dimakan karena ini sangat mempengaruhi.

Untuk ibu hamil agar tidak mudah masuk angin juga harus memperhatikan kesehatannya, khususnya untuk ibu hamil yang sensitif terhadap cuaca dingin.

Jangan terlalu bergantung pada obat, karena saat hamil juga tidak baik jika terlalu banyak mengonsumsi obat. Kecuali atas petunjuk dokter.

Kesehatan anak memang sangat penting karena masih awal perkembangannya, jadi harus diperhatikan dengan baik.

Daya tahan tubuh setiap orang tidak sama sehingga beberapa orang tua harus membantu anaknya agar tidak mudah terkena penyakit.

Anak kecil memang lebih rawan untuk mengalami muntah saat masuk angin, untuk itu orang harus bisa mengantisipasi hal ini.

Untuk menanganinya jangan terlalu panik, tapi lakukan cara seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Cara yang sederhana bisa dipakai untuk mengatasi anak muntah. Tapi ingat, jangan sembarangan memberikan antibiotik karena masuk angina bukanlah penyakit yang berbahaya dan tergolong penyakit musiman.

Jadi penanganannya juga harus tepat tanpa harus memberinya obat yang kadang malah membuat sang anak overdosis.

 

Penyebab Anak Muntah-muntah, Bukan Sekadar “Masuk Angin”

KESEHATAN

 

6854-penyebab-anak-muntah-muntah-bukan-sekadar-masuk-angin

Mama, minggu-minggu ini sering ada kejadian anak muntah. Barangkali anak Mama sendiri, atau ibu-ibu di sekolah si kecil yang saling bercerita bahwa anak mereka mengalami muntah-muntah, dan ada juga yang diare.

Menurut sebagian dari mereka, muntah yang terjadi kali ini sedikit berbeda dari muntah yang disebabkan masuk angin. Jika muntahnya hanya sesekali mungkin Mama masih bisa tenang. Tetapi bagaimana jika muntahnya terjadi berulangkali dalam sehari?

Arka muntah-muntah dari jam 02.30, dan sudah delapan kali muntah sampai pagi ini. Alhasil badannya langsung panas. Sekarang sudah di rumah sakit. Ramai sekali di sini,” ujar Citra Adinda, mama dari Arka (4).

Kira-kira, apa penyebab muntah-muntah pada anak?

Penyebabnya ini yang perlu Mama kenali dengan segera, dan mengatasi secepat mungkin sebelum menjadi lebih parah.

Sebenarnya muntah sesekali pada anak adalah hal yang lumrah jika terjadi tidak lebih dari dua hari.

Namun beda cerita jika kondisi itu terjadi selama berhari-hari. Kemungkinan ini adalah tanda dari sebuah masalah yang yang serius dan memerlukan pertolongan medis secepat mungkin.

Mual dan muntah juga bukan penyakit, melainkan sebuah gejala.

Pahami penyebab umum muntah pada anak berikut ini:

  • Gastroenteritis atau infeksi mikroorganisme yang terjadi pada sistem pencernaan, juga dikenal dengan istilah stomach flu. Tanda-tanda yang muncul biasanya berupa diare, demam, dan sakit perut.
  • Anak tidak sengaja menelan substansi beracun, seperti obat, bahan kimia, atau makanan atau minuman yang terkontaminasi.
  • Alergi makanan. Selain muntah, gejala yang muncul bisa disertai kulit merah dan gatal (biduran). Selain itu bisa muncul bengkak pada bagian wajah, sekitar mata, bibir, lidah, atau langit-langit mulut.
  • Apendisitis atau radang usus buntu yang menyebabkan rasa sakit perut tidak tertahankan yang makin parah seiring waktu.

Selain itu, muntah-muntah pada anak juga bisa disebabkan oleh infeksi saluran kemih, meningitis, infeksi telinga, stres atau cemas.

Pertolongan pertama saat muntah dan diare adalah memberikan cairan untuk menghindari dehidrasi.

Berikan cairan (bisa air putih, air teh, susu) perlahan dengan porsi sedikit demi sedikit. Jika masih saja muntah, beri jeda waktu sampai 20-30 menit lalu beri cairan lagi.

Teh chamomile, peppermint, atau jahe hangat bisa disajikan sebagai pereda rasa mual dan muntah pada anak.

Asupan lain yang bisa diberi adalah

  • sup kaldu atau
  • es batu berukuran kecil yang diberikan setiap 15 menit untuk membantu mencegah dehidrasi.

Hindari jus buah dan minuman bersoda sampai si kecil merasa lebih baik.

(Dini/Alodokter)


 

Cara Melakukan CPR pada Anak

FIRST AID 15

2 Bagian:

  1. Mengevaluasi Situasi
  2. Melakukan RJP

Idealnya, CPR/RJP (resusitasi jantung paru) harus dilakukan oleh orang yang pernah mengikuti pelatihan P3K bersertifikat. Namun, dalam situasi krisis ketika seorang anak mengalami serangan jantung, bantuan yang diberikan orang yang kebetulan berada di sana bisa ikut menentukan kelangsungan hidup anak tersebut.

Saat menangani anak usia di bawah satu tahun, ikuti protokol RJP untuk bayi dan saat menangani orang dewasa ikuti protokol untuk orang dewasa. RJP dasar meliputi tahapan berikut: melakukan kompresi dada, membuka jalur pernapasan dan memberi bantuan napas.

Jika Anda tidak pernah mengikuti pelatihan RJP secara formal, sebaiknya Anda melakukan kompresi dada saja. 


Bagian 1

Mengevaluasi Situasi

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-1_jpg

1. Lakukan pemeriksaan TKP untuk mendeteksi bahaya. 

Jika Anda menemukan seseorang yang tidak sadarkan diri, pastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada bahaya yang akan mengancam diri Anda jika memang bermaksud membantunya. Apakah ada knalpot yang mengeluarkan asap? Kompor gas? Apakah ada api? Apakah ada kabel listrik yang jatuh? Jika ada sesuatu yang dapat membahayakan diri Anda atau korban, cari tahu apakah Anda bisa mengatasinya.

Bukalah jendela, matikan kompor, atau padam api jika memungkinkan.

  • Namun, jika tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi bahaya tersebut, pindahkan korban. Cara terbaik untuk memindahkan korban adalah menaruh selimut atau jaket di bawah punggungnya, kemudian tariklah jaket atau selimut itu.
  • Jika ada kemungkinan korban mengalami cedera tulang belakang, diperlukan dua orang untuk memindahkannya agar tidak terjadi kesalahan dengan memutar kepala atau lehernya.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-2_jpg

2. Periksalah apakah korban tidak sadarkan diri. 

Guncang atau tepuk bahunya dan katakan dengan suara keras dan jernih, “Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak apa-apa?” Jika ia merespons, berarti ia dalam keadaan sadar. Ia mungkin hanya tertidur, atau ia tadi tidak sadarkan diri. Jika kondisinya terlihat masih kritis, misalnya korban kesulitan bernapas atau dalam keadaan antara sadar dan tidak sadarkan diri, mintalah bantuan dan mulailah P3K dasar dan lakukan langkah-langkah untuk mencegah atau menangani kondisi renjatan (shock).

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-3_jpg

 

3. Periksalah denyut nadi korban. 

Jika anak tidak responsif, hal pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa denyut nadi. Jika anak tidak merespons, Anda harus segera memulai RJP. Jangan memeriksa denyut nadi lebih dari 10 detik. Jika Anda tidak bisa merasakan denyut nadi korban berarti jantungnya tidak berdetak dan Anda harus melakukan kompresi dada.

  • Untuk memeriksa denyut nadi leher (karotid), rabalah denyut nadi di bagian samping leher korban yang paling dekat dengan menempatkan ujung dua jari pertama di samping jakun. (Ketahui bahwa jakun biasanya tidak terlihat pada wanita, dan bahkan tidak begitu terlihat pada anak lelaki yang belum melewati masa pubertas).
  • Untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan (radial), letakkan ujung dua jari pertama di pergelangan tangan di sisi yang sejajar dengan ibu jari.
  • Lokasi denyut nadi lainnya ada di pangkal paha dan pergelangan kaki. Untuk memeriksa denyut nadi di pangkal paha (femoral), tekankan dua jari pertama ke tengah-tengah pangkal paha. Untuk memeriksa denyut nadi di pergelangan kaki (tibialis posterior), tempatkan dua jari pertama di bagian dalam pergelangan kaki.

4. Pahami bahwa Anda harus bertindak cepat. 

Jika Anda melihat seseorang dengan jantung berhenti berdetak atau berhenti bernapas, bertindak cepat dan memberi bantuan napas dan RJP dapat menyelamatkan hidupnya. Jika seseorang melakukan RJP sebelum ambulans datang, pasien memiliki kesempatan jauh lebih besar untuk selamat. Kemampuan bertindak cepat dengan melakukan RJP, yang dapat membantu darah beroksigen kembali mengalir ke otak sangat penting.

  • Jika Anda bisa merasakan denyut nadi korban, tetapi tidak melihatnya bernapas, berikan bantuan napas saja, tidak perlu melakukan kompresi dada.
  • Otak manusia biasanya bisa bertahan sekitar empat menit tanpa oksigen sebelum mengalami kerusakan otak permanen.
  • Jika otak tidak mendapatkan oksigen antara empat sampai enam menit, kemungkinan terjadinya kerusakan otak akan meningkat.
  • Jika otak kekurangan oksigen selama enam sampai delapan menit, kerusakan otak kemungkinan akan terjadi.
  • Jika otak tidak mendapatkan oksigen selama lebih dari 10 menit, kematian otak akan terjadi.

Bagian 2

Melakukan RJP

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-4_jpg

1. Lakukan RJP selama 2 menit. 

Setelah mengevaluasi situasi dengan cepat dan memeriksa kesadaran dan sistem sirkulasi korban, Anda harus bertindak dengan sangat cepat. Jika tidak ada denyut nadi Anda harus memulai RJP segera, dan melanjutkannya selama dua menit (setara dengan 5 siklus RJP) dan kemudian menelepon Layanan Darurat Medis (119).

  • Jika Anda sendirian, penting untuk memulai RJP sebelum menelepon bantuan.Jika ada orang lain bersama Anda, mintalah ia untuk mencari bantuan. Jika Anda sendirian, jangan menelepon sampai Anda telah menyelesaikan RJP selama dua menit.
  • Hubungi nomor darurat lokal. Hubungi 119.
  • Jika memungkinkan, mintalah seseorang mengambil defibrillator eksternal otomatis (AED) apabila perangkat tersebut tersedia di dalam gedung atau sekitarnya.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-5_jpg

2. Ingatlah CAB. CAB adalah proses dasar RJP.

CAB adalah singkatan dari Chest Compression (Kompresi dada), Airway (jalur penapasan), Breathing (batuan napas). Tahun 2010, urutan yang direkomendasikan diubah dengan menempatkan kompresi dada sebelum membuka jalur pernapasan dan memberi bantuan napas. Kompresi dada dianggap lebih kritis untuk memperbaiki irama jantung yang tidak normal (fibrilasi ventrikel atau takikardi ventrikel pulseless), dan karena satu siklus dari 30 kompresi dada hanya membutuhkan 18 detik, membuka jalur pernapasan dan memberi bantuan napas tidak akan tertunda secara signifikan.

  • Kompresi dada, atau RJP dengan tangan saja sangat disarankan jika Anda belum terlatih atau khawatir jika harus melakukan resusitasi mulut ke mulut pada orang asing. 

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-6_jpg

3. Posisikan tangan untuk melakukan kompresi. 

Saat melakukan RJP pada anak, posisi tangan sangat penting karena anak lebih rapuh dibanding orang dewasa. Carilah lokasi tulang dada anak dengan menggerakkan dua jari ke bagian bawah sangkar tulang rusuk. Temukan letak bagian bawah tulang rusuk yang saling bertemu di tengah dan tempatkan pangkal telapak tangan yang lain di atas jari-jari Anda. Hanya gunakan pangkal telapak tangan untuk melakukan kompresi.

4. Lakukan 30 kali kompresi. 

Lakukan kompresi dada, sementara posisi siku terkunci, dengan menekan lurus ke bawah sekitar 5,1 cm ke dalam. Ukuran tubuh anak yang lebih kecil membutuhkan tekanan lebih sedikit dibanding tubuh orang dewasa. Jika Anda mulai mendengar atau merasakan suara berderak, itu mungkin menunjukkan bahwa Anda menekan terlalu keras. Lanjutkan, tetapi kurangi tekanan yang Anda terapkan saat melakukan kompresi.Lakukan 30 kali kompresi, dan lakukan dengan kecepatan setidaknya 100 kompresi per menit jika Anda satu-satunya orang yang bisa menolong.

  • Biarkan dada mengembang kembali sepenuhnya setelah setiap kompresi.
  • Minimalkan jeda saat melakukan kompresi dada ketika Anda hendak mengalihkannya kepada orang lain atau bersiap menghadapi renjatan. Usahakan untuk membatasi interupsi agar kurang dari 10 detik.
  • Jika ada dua penolong, masing-masing harus menyelesaikan satu putaran sebanyak 15 kompresi.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-7_jpg

5. Pastikan jalur pernapasan terbuka. 

Letakkan tangan di kening korban dan dua jari di dagunya. Angkat dagu perlahan dengan dua jari sambil mendorong kening secara hati-hati dengan tangan yang lain. Jika Anda mencurigai korban mengalami cedera leher, tariklah rahang dengan hati-hati ke arah atas, alih-alih mengangkat dagunya. Setelah melakukan hal ini, Anda harus mengamati, mendengarkan, dan merasakan napasnya.

  • Dekatkan telinga Anda ke mulut dan hidung korban dan dengarkan dengan hati-hati adanya tanda-tanda kehidupan.
  • Perhatikan gerakan dada dan rasakan embusan napas di pipi Anda.
  • Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan, tempatkan penghalang pernapasan (jika ada) menutupi mulut korban.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-9_jpg

6. Berikan dua kali bantuan napas. 

Sambil menjaga jalur penapasan tetap terbuka, angkat jari yang Anda letakkan di kening dan jepitlah hidung korban. Rapatkan mulut Anda di atas mulut korban dan embuskan napas selama satu detik. Pastikan Anda bernapas perlahan karena ini akan memastikan udara masuk ke paru-paru bukan ke perut. Pastikan Anda memperhatikan dada korban.

  • Jika napas masuk ke paru-paru, Anda akan melihat dada sedikit terangkat dan juga merasakan dada mengempis kembali. Jika napas masuk, berikan bantuan napas kedua. Jika napas tidak masuk, perbaiki posisi kepala dan coba lagi.
  • Jika napas tetap tidak bisa masuk, korban mungkin tersedak. Jika itu yang terjadi, Anda harus melakukan kompresi dada lagi. Ingatlah bahwa dorongan (ke atas) pada perut atau manuver Heimlich hanya boleh dilakukan pada seseorang yang dalam kondisi sadar.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-10_jpg

7. Ulangi siklus kompresi dada sebanyak 30 kali dan dua bantuan napas. 

Anda harus melakukan RJP selama dua menit (5 siklus kompresi ditambah bantuan napas) sebelum memeriksa tanda-tanda kehidupan, seperti denyut nadi atau pernapasan. Lanjutkan RJP sampai seseorang menggantikan Anda, atau sampai personel layanan darurat datang, atau sampai Anda terlalu lelah untuk melanjutkannya, atau sampai AED dipasang, diisi, dan orang yang mengoperasikannya meminta Anda untuk menjauhi tubuh korban, atau sampai denyut nadi dan napas korban telah kembali.

  • Jangan lupa untuk menelepon layanan darurat setelah melakukan RJP selama dua menit.
  • Setelah menghubungi mereka, lanjutkan melakukan RJP sampai mereka tiba.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Child-Step-11_jpg

8. Gunakan AED. 

Jika AED bisa didapatkan, nyalakanlah, dan tempatkan bantalan sesuai instruksi (satu di dada kanan dan yang lain di dada kiri). biarkan AED menganalisis irama jantung, dan berikan satu kejutan jika disarankan, setelah memerintahkan semua orang menjauhi pasien (teriakkan “CLEAR!” terlebih dahulu). Lanjutkan kompresi dada segera setelah setiap kejutan dan lakukan 5 siklus lagi sebelum mengevaluasi pasien kembali.

  • Jika korban mulai bernapas, dengan hati-hati bantulah ia beralih ke posisi pemulihan.

Tips

  • Hubungi selalu Layanan Darurat Medis.
  • Anda dapat memperoleh panduan RJP yang benar dari operator layanan darurat jika diperlukan.
  • Jika Anda harus memindahkan korban, usahakan untuk meminimalkan guncangan pada tubuhnya.
  • Ikuti pelatihan yang benar dari organisasi resmi di wilayah Anda. Mendapatkan pelatihan dari instruktur berpengalaman adalah cara terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan darurat.
  • Jika Anda tidak bisa atau tidak bersedia memberikan bantuan napas, lakukan RJP kompresi dada saja pada korban. Tindakan ini tetap dapat membantunya pulih dari henti jantung.
  • Jangan lupa untuk menempatkan tangan di tengah-tengah tulang rusuk, kurang lebih sejajar dengan puting.

Peringatan

  • Jangan memindahkan pasien, kecuali ia berada dalam bahaya atau berada di tempat yang mengancam jiwa.
  • Ingatlah bahwa ada protokol RJP berbeda untuk orang dewasa, anak-anak dan bayi. RJP pada artikel ini dimaksudkan untuk diberikan kepada anak.
  • Selalu kenakan sarung tangan dan gunakan penghalang pernapasan jika memungkinkan untuk meminimalkan kemungkinan penularan penyakit.
  • Pastikan untuk memeriksa keadaan sekitar untuk mendeteksi bahaya jika Anda mencoba melakukan RJP.
  • Jika korban bernapas dengan normal, batuk, atau bergerak, disarankan untuk tidak melakukan kompresi dada. Jika Anda melakukannya, hal itu dapat menyebabkan jantung berhenti berdetak.

Cara Memberikan CPR pada Bayi

by wikiHow

2 Metode:

  • Mendiagnosis Situasi
  • Melakukan CPR

Walaupun CPR (CardioPulmonary Resuscitation) seharusnya diberikan oleh orang yang terlatih dan memiliki sertifikat kursus pertolongan pertama, siapa saja bisa melakukannya asalkan mengikuti pedoman dari American Health Association tahun 2010. Hal ini akan berdampak signifikan bagi bayi yang mengalami gagal jantung. Untuk anak yang umurnya di atas 1 tahun, ikuti protokol CPR untuk anak-anak, dan protokol CPR dewasa untuk korban dewasa.


Metode 1

Mendiagnosis Situasi

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-1_jpg

1. Cek apakah bayi masih sadarkan diri. 

Coba jentik kaki bayi. Jika tidak ada respons, minta seseorang menelepon ambulans selagi Anda melanjutkan ke langkah berikutnya. Jika Anda sendirian, lakukan langkah 2 terlebih dahulu sebelum menelepon ambulans.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-2_jpg

2 Jika bayi sadar namun tercekik, lakukan pertolongan pertama sebelum memberikan CPR. 

Bisa tidaknya bayi bernapas menentukan langkah selanjutnya:

  • Jika bayi terbatuk atau mau muntah, biarkan bayi melanjutkan batuk atau mengeluarkan muntahannya, karena artinya saluran udara hanya terhalang sebagian.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-2Bullet1_jpg

  • Jika bayi tidak batuk, Anda perlu bersiap untuk mendorong punggung dan/atau menekan dadanya untuk mengeluarkan benda yang menghalangi aliran udara.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-2Bullet2_jpg

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-3_jpg

3 Periksa denyut nadi bayi. 

Cek kembali napas bayi. Kali ini, letakkan jari telunjuk dan tengah Anda ke dalam tangan bayi, di antara siku dan bahu.

  • Jika bayi bernapas dan nadinya berdenyut, letakkan bayi pada posisi pemulihan. Lihat artikel ini untuk informasi lebih lanjut.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-3Bullet1_jpg

  • Jika denyut nadi atau napas bayi tidak terasa, lanjutkan ke langkah berikutnya untuk melakukan CPR yang merupakan gabungan tekanan dan pernapasan.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-3Bullet2_jpg


Metode 2

Melakukan CPR

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-4_jpg

1. Buka jalan napas bayi. 

Angkat belakang kepala dan dagu bayi secara perlahan untuk membuka jalan napasnya. Namun, karena ukuran salurannya kecil, bayi masih belum keluar dari bahaya. Periksa napas bayi kembali namun jangan lebih dari 10 detik.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-5_jpg

2. Berikan bayi dua napas pertolongan. 

Jika ada, letakkan pelindung wajah pada bayi untuk mencegah pertukaran cairan tubuh. Cubit hidungnya hingga tertutup, miringkan belakang kepalanya, dorong dagunya ke atas, dan berikan dua napas, masing-masing selama satu detik. Embuskan napas dengan lembut sampai dadanya menggembung. Jangan terlalu kuat, atau bayi akan cedera.

  • Ingat, beri jeda di antara napas untuk membiarkan udara keluar.
  • Jika napas tidak dapat masuk (dadanya tidak tampak menggembung sama sekali), artinya jalan napas bayi terhambat dan ia sedang tersedak. Informasi terkait anak yang tersedak ada di Melakukan Pertolongan Pertama pada Bayi Tersedak.

v4-728px-332313-6_jpg

3. Cek denyut nadi setelah dua napas pertama. 

Jika masih tidak terasa, mulai CPR pada bayi.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-7_jpg

4. Tekan dada bayi sebanyak 30 kali dengan beberapa jari. 

Rapatkan dua atau tiga jari dan letakkan pada dada bayi tepat di bawah puting. Tekan dada bayi 30 kali dengan lembut dan halus.

  • Jika jari-jari Anda terasa lelah, gunakan tangan kedua untuk membantu menekan seperti ini. Namun kalau tidak, tangan kedua Anda terus menahan kepala bayi.
  • Usahakan untuk memberikan tekanan sebanyak 100 dalam 1 menit.[4] Tampaknya mungkin sangat banyak, namun sebenarnya hanya sedikit lebih banyak dari satu tekanan per detik. Usahakan untuk memberikan tekanan dengan lembut.
  • Tekan pada kedalaman 1/3 sampai 1/2 dada bayi. Biasanya sekitar 1,2 dan 2,5 cm.

5. Lakukan rangkaian dua napas dan 30 tekanan yang sama sampai ada reaksi atau tanda-tanda kehidupan. 

Dalam dua menit kira-kira Anda dapat melakukan lima siklus pernapasan dan tekanan. Jangan berhenti sejak CPR dimulai, kecuali:

  • Muncul tanda-tanda kehidupan (bayi bergerak, batuk, bernapas atau bersuara). Muntah bukanlah tanda kehidupan.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-8Bullet1_jpg

  • Orang yang lebih terlatih mengambil alih.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-8Bullet2_jpg

  • Defibrillator siap digunakan.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-8Bullet3_jpg

  • Lokasi mendadak tidak aman.

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-8Bullet4_jpg

v4-728px-Do-CPR-on-a-Baby-Step-9_jpg

6. Untuk mengingat tahapan CPR, ingatlah “ABC.”

Ingat-ingat mnemonic ini untuk menghafal; proses pemberian CPR.

  • A untuk airway (jalan napas). Buka atau periksa apakah jalan napasnya terbuka.
  • B untuk bernapas. Cubit hidung bayi, miringkan kepala dan berikan dua napas pertolongan.
  • C untuk circulation (sirkulasi). Periksa denyut nadi bayi. Jika tidak terasa, beri tekanan sebanyak 30 kali di dadanya.

Tips

  • Ketahui bahwa panduan ini disusun berdasarkan standar lama American Heart Association (AHA). Pedoman AHA baru (2010) menyarankan langkah “CAB” dan bukan “ABC.” Pedoman baru merekomendasikan untuk memeriksa kesadaran (menjentik kaki) dan denyut nadi terlebih dahulu sebelum memulai menekan dada. Tekan dada 30 kali diikuti 2 napas x 5 siklus. (orang yang tidak terlatih boleh menggunakan CPR hanya dengan tangan dan melewatkan pemberian napas). Jika bayi tidak pulih selama 2 menit pertama CPR, Anda harus segera meminta bantuan Unit Gawat Darurat (UGD).

Peringatan

  • Berikan napas yang dalamnya cukup untuk mengangkat dada bayi. Jangan terlalu keras atau paru-paru bayi bisa rusak.
  • Jangan tekan dada bayi terlalu keras. Organ dalamnya bisa rusak.

Pengertian Pertolongan Pertama

FIRST AID 15
Pengertian Pertolongan Pertama adalah : Pemberian Pertolongan segera kepada korban sakit atau cedera / kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar.
Adapun pengertian Medis Dasar adalah Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awan yang terlatih secara khusus. Batasannya adalah sesuai dengan sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama.
Siapakah Pelaku Pertolongan Pertama : Pelaku Pertolongan Pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar (seperti paramedik, para pelaku Pertolongan Pertama Palang Merah Indonesia dan lain-lain).
Tujuan Pertolongan Pertama:
  1. Menyelamatkan jiwa korban
  2. Mencegah cacat
  3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan