34 Provinsi di Indonesia

 

Seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya (baca pada artikel Pemekaran provinsi di Indonesia sejak merdeka), bahwa provinsi di Indonesia sampai saya menuliskan artikel sejarah ini berjumlah 34.

Nah, selanjutnya di sini akan saya sertakan 34 provinsi di Indonesia tersebut beserta nama ibu kotanya. Dengan begitu diharapkan anda akan lebih detail mengenal setiap provinsi yang ada di negeri ini.

Coba perhatikan gambar pulau di bawah ini, anda dapat melihat pulau dan mencocokkan dengan tabel provinsi yang ada, sehingga di mana letak provinsi akan terlihat.

Berikut daftar nama provinsi di Indonesia dan nama Ibu kotanya :

No

Nama Provinsi

Ibu Kota

1

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Banda Aceh

2

Provinsi Sumatra Utara

Medan

3

Provinsi Sumatra Barat

Padang

4

Provinsi Riau

Pekanbaru

5

Provinsi Kepulauan Riau

Tanjung Pinang

6

Provinsi Jambi

Jambi

7

Provinsi Sumatra Selatan

Palembang

8

Provinsi Bengkulu

Bengkulu

9

Provinsi Lampung

Bandar Lampung

10

Provinsi Bangka Belitung

Pangkal Pinang

11

Provinsi DKI Jakarta

Jakarta

12

Provinsi Jawa Barat

Bandung

13

Provinsi Banten

Serang

14

Provinsi Jawa Tengah

Semarang

15

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY)

Yogyakarta

16

Provinsi Jawa Timur

Surabaya

17

Provinsi Bali

Denpasar

18

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Mataram

19

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kupang

20

Provinsi Kalimantan Barat

Pontianak

21

Provinsi Kalimantan Tengah

Palangkaraya

22

Provinsi Kalimantan Selatan

Banjarmasin

23

Provinsi Kalimantan Timur

Samarinda

24

Provinsi Kalimantan Utara

Tanjung Selor

25

Provinsi Sulawesi Utara

Manado

26

Provinsi Gorontalo

Gorontalo

27

Provinsi Sulawesi Tengah

Palu

28

Provinsi Sulawesi Selatan

Makassar

29

Provinsi Sulawesi Barat

Mamuju

30

Provinsi Sulawesi Tenggara

Kendari

31

Provinsi Maluku

Ambon

32

Provinsi Maluku utara

Ternate

33

Provinsi Papua

Jayapura

34

Provinsi Papua Barat

Manukwari

Peta 34 Provinsi di Indonesia

Tabel-34-provinsi-di-indonesia (1)

Peta-34-Provinsi-Indonesia-sesuai-nomor-urut

_

Advertisements

Indonesa in Depth

 7 Juli 2013

Republik Indonesia
Bendera Lambang
MottoBhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: “Berbeda-beda tetapi tetap Satu”)
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaanIndonesia Raya
Ibu kota
(dan kota terbesar)
Jakarta
6.00°10.5′LU 106°49.7′BT
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik presidensial
 – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
 – Wakil Presiden Boediono
 – Ketua MPR Taufiq Kiemas
 – Ketua DPR Marzuki Alie
 – Ketua DPD Irman Gusman
Legislatif Majelis Permusyawaratan Rakyat
 – Majelis Tinggi Dewan Perwakilan Daerah
 – Majelis Rendah Dewan Perwakilan Rakyat
Kemerdekaan dari Belanda
 – Diproklamasikan 17 Agustus 1945
 – Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
 – Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
 – Total 1,904,569 km2
 – Air (%) 4,85%
Penduduk
 – Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833
 – Sensus 2010 237.556.363
 – Kepadatan 124/km2
PDB (KKB) Perkiraan 2011
 – Total Rp. 10,706 triliun
(AS$ 1,121 miliar)
 – Per kapita Rp. 44,885 juta
(AS$ $4.700)
PDB (nominal) Perkiraan 2011
 – Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 846 miliar)
 – Per kapita Rp. 36,261 juta
(AS$ 3.797
IPM (2006) 0.734  (MENENGAH)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Ranah Internet .id
Kode telepon +62

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi gariskhatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik danSamudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara. Dengan populasi sebesar 237 juta jiwa pada tahun 2010, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpendudukMuslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah danPresiden yang dipilih langsung.

CLICK IMAGE TO VIEW FULL SIZE

Ibu kota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembangmenjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu danBuddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempahMaluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat itu bernama Hindia-Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.

Peta Indonesia berdasarkan Provinsi dari Sabang sampai Merauke

peta indonesia elektrikDari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda.Suku Jawa adalah suku terbesar dengan populasi mencapai 41,7% dari seluruh penduduk Indonesia. Semboyan nasional Indonesia, Bhinneka tunggal ika (“Berbeda-beda tetapi tetap satu”), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.

Indonesia juga anggota dari PBB dan satu-satunya anggota yang pernah keluar dari PBB, yaitu pada tanggal 7 Januari 1965, dan bergabung kembali pada tanggal 28 September 1966 dan Indonesia tetap dinyatakan sebagai anggota yang ke-60, keanggotaan yang sama sejak bergabungnya Indonesia pada tanggal 28 September 1950. Selain PBB, Indonesia juga merupakan anggota dari ASEAN, APEC, OKI,G-20 dan akan menjadi anggota dari OECD.

Etimologi

Kata “Indonesia” berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti “Hindia” dan kata dalambahasa Yunaninesos yang berarti “pulau”. Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat. Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk “Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu”. Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India. Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia-Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).

Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik. Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau pada tahun 1913.

Sejarah

Sejarah Awal

Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki “Manusia Jawa“, menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu. Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan. Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padisetidaknya sejak abad ke-8 SM, menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad. Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.

Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.

Di bawah pengaruh agama Hindu danBuddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulauKalimantan, Sumatera, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam,Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijayamengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan. Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut “Zaman Keemasan” dalam sejarah Indonesia.

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agamaIslam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15. Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Kolonialisme

Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel.

Indonesia juga merupakan negara yang dijajah oleh banyak negara Eropadan juga Asia, itu disebabkan Indonesia sejak zaman dahulu merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya yang melimpah, hingga membuat negara-negara Eropa tergiur untuk menjajah dan bermaksud menguasai sumber daya alamnya untuk pemasukan bagi negaranya, Negara-negara yang pernah menjajah diantaranya adalah;

  • Portugis pada tahun 1509, hanya Maluku, lalu berhasil diusir pada pada tahun 1595
  • Spanyol pada tahun 1521, hanya Sulawesi Utara, tetapi berhasil diusir pada tahun 1692.
  • Belanda pada tahun 1602, seluruh wilayah Indonesia.
  • Perancis secara tidak langsung menguasai Jawa pada periode 1806-1811 karena Kerajaan Belanda takluk kepada kekuatan Perancis. Ketika Louis Bonaparte adikNapoleon Bonaparte naik takhta Belanda pada tahun 1806, maka secara otomatis jajahan Belanda jatuh ke tangan Perancis. Periode ini berlangsung pada pemerintahan Gubernur JenderalHerman Willem Daendels pada tahun 1808-1811. Berakhir pada tahun 1811 ketika Inggris mengalahkan kekuatan Belanda-Perancis di pulau Jawa.
  • Inggris pada tahun 1811, sejak ditandatanganinya Kapitulasi Tungtang yang salah satunya berisi penyerahan Pulau Jawa dari Belanda kepada Inggris, Pada tahun 1814 dilakukanlah KonvensiLondon yang isinya pemerintah Belanda berkuasa kembali atas wilayah jajahan Inggris di Indonesia. Lalu baru pada tahun 1816, pemerintahan Inggris di Indonesia secara resmi berakhir..
  • Jepang pada tahun 1942, hanya 3,5 tahun, dan berakhir pada tahun 1945, sejak kekalahanJepang kepada sekutu.

Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasaiMaluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkanBritania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka,Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel. Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.

Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika, yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.

Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan.Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan olehKaisar Jepang pada tahun 1943.

Indonesia merdeka

Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hattamemproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus1945 yang pada saat itu sedang bulan Ramadhan. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.

Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai ‘aksi kepolisian’ (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer. Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi IntegralNatsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia (“Konfrontasi“), dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinyaOrde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialiskomunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.

Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.

Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil “Mafia Berkeley“. Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik Korupsi, Kolusi, dan Nnepotismeyang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.

Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie,Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004pemilu satu hari terbesar di dunia diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua.Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.

Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantamPantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.

Politik dan Pemerintahan

Gedung MPR-DPR

Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.

MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameralyang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen. Anggota DPR dan DPD dipilih melaluipemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongandan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufiq Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.

Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalahKabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politikuntuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).

Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan olehMahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.

Pembagian Administratif

PETA INDONESIA 1Indonesia saat ini terdiri dari 34 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi 403 kabupaten dan 98 kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan wali kota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.

Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[29]Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[30]Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[31]DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[32]

Provinsi di Indonesia dan ibukotanya

Sumatera

  • Aceh – Banda Aceh
  • Sumatera Utara – Medan
  • Sumatera Barat – Padang
  • Riau – Pekanbaru
  • Kepulauan Riau – Tanjungpinang
  • Jambi – Jambi
  • Sumatera Selatan – Palembang
  • Kepulauan Bangka Belitung – Pangkal Pinang
  • Bengkulu – Bengkulu
  • Lampung – Bandar Lampung

Jawa

  • Daerah Khusus Ibukota Jakarta
  • Banten – Serang
  • Jawa Barat – Bandung
  • Jawa Tengah – Semarang
  • Daerah Istimewa Yogyakarta – Yogyakarta
  • Jawa Timur – Surabaya

Kepulauan Nusa Tenggara

  • Bali – Denpasar
  • Nusa Tenggara Barat – Mataram
  • Nusa Tenggara Timur – Kupang

Kalimantan

  • Kalimantan Barat – Pontianak
  • Kalimantan Tengah – Palangka Raya
  • Kalimantan Selatan – Banjarmasin
  • Kalimantan Timur – Samarinda
  • Kalimantan Utara – Tanjung Selor

Sulawesi

  • Sulawesi Utara – Manado
  • Gorontalo – Gorontalo
  • Sulawesi Tengah – Palu
  • Sulawesi Barat – Mamuju
  • Sulawesi Selatan – Makassar
  • Sulawesi Tenggara – Kendari

Kepulauan Maluku

  • Maluku – Ambon
  • Maluku Utara – Sofifi

Papua

  • Papua Barat – Manokwari
  • Papua – Jayapura

Daftar ibu kota provinsi di Indonesia

 

Yurisdiksi Ibu kota Populasi Gambar
Indonesia Jakarta 9.607.787
Sumatera
Aceh Banda Aceh 223.446
Sumatera Utara Medan 2.097.610
Sumatera Barat Padang 833.562
Riau Pekanbaru 897.767
Jambi Jambi 531.857
Sumatera Selatan Palembang 1.455.284
Bengkulu Bengkulu 308.544
Lampung Bandar Lampung 881.801
Kepulauan Bangka Belitung Pangkal Pinang 174.000
Kepulauan Riau Tanjung Pinang 192.493
Jawa
Jakarta Jakarta 8.839.247
Yogyakarta Yogyakarta 511.744
Jawa Barat Bandung 2.288.570
Jawa Tengah Semarang 1.352.869
Jawa Timur Surabaya 2.611.506
Banten Serang 501.562
Sunda Kecil
Bali Denpasar 491,500
Nusa Tenggara Timur Kupang 269,680
Nusa Tenggara Barat Mataram 356.141
Kalimantan
Kalimantan Barat Pontianak 516.737
Kalimantan Tengah Palangka Raya 168.449
Kalimantan Selatan Banjarmasin 693.566
Kalimantan Timur Samarinda 727.500
Kalimantan Utara Tanjung Selor 622.350
Sulawesi
Sulawesi Utara Manado 417.586
Sulawesi Tengah Palu 268.664
Sulawesi Selatan Makassar 1.168.258
Sulawesi Tenggara Kendari 226.056
Sulawesi Barat Mamuju
Gorontalo Gorontalo 138.354
Maluku
Maluku Ambon 428.585
Maluku Utara Sofifi 163.467
Papua
Papua Jayapura 197,396
Papua Barat Manokwari

Geografi

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki 13.487 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[34], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU – 11°08′LS dan dari 95°’BT – 141°45’BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantandengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut, searah penjuru mata angin, yaitu:

Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km, Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km, Timor Leste, dan Samudra Pasifik

Sumber daya alam

Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km

Pendidikan

Sesuai dengan konstitusi yang berlaku, yaitu berdasarkan UUD 1945 pasal 31 ayat 4 dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah mesti mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN danAPBD diluar gaji pendidik dan biaya kedinasan. Namun pada tahun 2007 alokasi yang disediakan tersebut baru sekitar 17.2 %, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia, Thailand dan Filipina yang telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan lebih dari 28 %.

Ekonomi

800px-PDRB_per_kapita_Indonesia_2008.svgSistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.

Indonesian Rupiah (IDR) banknotes 2009

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.

Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing. Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981. Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali, selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997 Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-anakibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[40] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut. Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam memengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%. Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet. Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%. Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.

Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.

Peringkat internasional

Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122

Demografi

Kepadatan_2010Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta, dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta. 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada. Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.

Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas di antaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.

Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%),Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.

Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.607.787 Indonesia
Indonesia
7 Depok Jawa Barat 1.738.570
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.487 8 Palembang Sumatera Selatan 1.648.292
3 Bandung Jawa Barat 2.394.873 9 Semarang Jawa Tengah 1.555.984
4 Bekasi Jawa Barat 2.334.871 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.338.663
5 Medan Sumatera Utara 2.097.610 11 Tangerang Selatan Banten 1.290.322
6 Tangerang Banten 1.798.601 12 Batam Kepulauan Riau 1.137.894

Kebudayaan

Pertunjukan

Wayang kulit warisan budaya Jawa.

Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.

Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.

Busana

Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.

Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[60] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatera Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.

Arsitektur

Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.

Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.

Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.

Olahraga

Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008.

Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.

Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas, dan Chris John.

Seni Musik

Seperangkat gamelan

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hinggaMerauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta, yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.

Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia ‘dicuri’ oleh negara lain[65]untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:

  • Angklung
  • Bende
  • Calung
  • Dermenan
  • Gamelan
  • Gandang Tabuik
  • Gendang Bali
  • Gondang Batak
  • Gong Kemada
  • Gong Lambus
  • Jidor
  • Kecapi Suling
  • Kulcapi Batak
  • Kendang Jawa
  • Kenong
  • Kulintang
  • Rebab
  • Rebana
  • Saluang
  • Saron
  • Sasando
  • Serunai
  • Seurune Kale
  • Suling Lembang
  • Sulim Batak
  • Suling Sunda
  • Talempong
  • Tanggetong
  • Tifa, dan sebagainya

Boga

Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis

Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya. Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.

Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India,Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.

Sambal, sate, bakso, soto, dan nasi goreng merupakan beberapa contoh makanan yang biasa dimakan masyarakat Indonesia setiap hari. Selain disajikan di warung atau restoran, terdapat pula aneka makanan khas Indonesia yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau pikulan. Pedagang ini menyajikan bubur ayam, mie ayam, mi bakso, mi goreng, nasi goreng, aneka macam soto, siomay, sate, nasi uduk, dan lain-lain.

Rumah makan Padang yang menyajikan nasi Padang, yaitu nasi disajikan bersama aneka lauk-pauk Masakan Padang, mudah ditemui di berbagai kota di Indonesia. Selain itu Warung Tegal yang menyajikan masakan Jawa khas Tegal dengan harga yang terjangkau juga tersebar luas. Nasi ramesatau nasi campur yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di warung nasi di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran kecil dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima. Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu.

Perfilman

Poster film Tjoet Nja' Dhien (1988), film tentang pahlawan nasional Indonesia asal Aceh.

Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin danHamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[70] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[71] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[72] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[73] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.

Bahasa

Indonesia hanya memiliki satu bahasa nasional atau bahasa negara, yakni Bahasa Indonesia.Campur tangan negara terhadap bahasa nasional diselenggarakan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Indonesia memiliki lebih dari 721 bahasa daerah. Di antara ratusan bahasa daerah tersebut, yang paling banyak sebarannya adalah di Papua dan Kalimantan, sedangkan yang paling sedikit adalah di pulau Jawa. Menurut jumlah penuturnya, bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia berturut-turut adalah: Jawa (80 juta penutur), Melayu-Indonesia, Sunda, Madura, Batak, Minangkabau, Bugis, Aceh, Bali, Banjar.

Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia kepada para pelajar mulai jenjang pendidikan dasar. Meski demikian, dengan berbagai alasan terdapat upaya untuk menghapus pelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.

Bagi penganut agama Islam yang menjadi kaum mayoritas di Indonesia, bahasa Arab adalah bahasa asing yang memiliki kedudukan khusus, karena harus dipraktikkan dalam ibadah harian tertentu, misalnya salat. Meskipun demikian, bahasa Arab tidak menjadi bahasa pergaulan umum sejak periode awal keberadaannya di Indonesia.

Lingkungan Hidup

Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara.

Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah “Mega biodiversity” atau “keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi”[83][84] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo.[85]

Rafflesia arnoldii bunga terbesar di dunia, diameternya mencapai 1,3 meter.

Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[86] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.

Jalan Toll

Daftar Jalan Toll di Indonesia yang sudah beroperasi
Island Province Toll Road name Operator
Sumatra North Sumatra Belmera Jasa Marga
Java Banten Jakarta-Serpong Toll Road Jasa Marga
Jakarta-Tangerang Toll Road Jasa Marga
Tangerang-Merak Toll Road Marga Mandala Sakti
Prof. Dr. Sedyatmo Toll Road (Soekarno-Hatta International Airport Toll Road) Jasa Marga
Jakarta Jakarta Inner Ring Road Jasa Marga & Citra Marga Nusaphala Persada
Jakarta Outer Ring Road Jasa Marga, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, Jalan Lingkar Barat & Bintaro Serpong Damai / Nusantara Infrastructure
Jakarta-Cikampek Toll Road Jasa Marga
Jagorawi Toll Road Jasa Marga
Jakarta-Tangerang Toll Road Jasa Marga
Jakarta-Serpong Toll Road Bintaro Serpong Damai / Nusantara Infrastructure
Prof. Dr. Sedyatmo Toll Road (Soekarno-Hatta International Airport Toll Road) Jasa Marga
West Java Jakarta-Cikampek Toll Road Jasa Marga
Cipularang Toll Road Jasa Marga
Padaleunyi Toll Road Jasa Marga
Jagorawi Toll Road Jasa Marga
Bogor Ring Road
Palimanan-Kanci Toll Road Jasa Marga
Kanci-Pejagan Toll Road Bakrie Toll Road
Central Java Semarang Section A,B,C Toll Road Jasa Marga
Semarang Ungaran toll road Jasa Marga
East Java Surabaya-Gresik Toll Road Jasa Marga
Surabaya-Gempol Toll Road Jasa Marga
Surabaya/Waru-Juanda International Airport Toll Road Citra Marga Nusaphala Persada
Surabaya-Madura Bridge Toll Road Jasa Marga
Bali Bali Bali Mandara Toll Road Jasa Marga
Sulawesi Makassar Makassar Airport Toll Road Jalan Tol Seksi Empat / Nusantara Infrastructure
Makassar Seaport – Tallo Bosowa Marga Nusantara / Nusantara Infrastructure

Related Post:


June 10, 2014 by the BBC World News

Indonesia Profile

Overview

_55373014_indonesiaSpread across a chain of thousands of islands between Asia and Australia, Indonesia has the world’s largest Muslim population and Southeast Asia’s biggest economy.

Ethnically it is highly diverse, with more than 300 local languages. The people range from rural hunter-gatherers to a modern urban elite.

Sophisticated kingdoms existed before the arrival of the Dutch, who consolidated their hold over two centuries, eventually uniting the archipelago in around 1900.

After Japan’s wartime occupation ended, independence was proclaimed in 1945 by Sukarno, the independence movement’s leader.

The Dutch transferred sovereignty in 1949 after an armed struggle.

Economic Growth

Long-term leader General Suharto came to power in the wake of an abortive coup in 1965. He imposed authoritarian rule while allowing technocrats to run the economy with considerable success.

But his policy of allowing army involvement in all levels of government, down to village level, fostered corruption. His “transmigration” programmes – which moved large numbers of landless farmers from Java to other parts of the country – fanned ethnic conflict.

Suharto fell from power after riots in 1998 and escaped efforts to bring him to justice for decades of dictatorship.

Post-Suharto Indonesia has made the transition to democracy. Power has been devolved away from the central government and the first direct presidential elections were held in 2004.

Indonesia has undergone a resurgence since the 1997 Asian financial crisis, becoming one of the world’s major emerging economies.


At a Glance

  • Politics: Democracy followed the end of Suharto’s three decades of dictatorial rule in 1998
  • Economics: Indonesia is the regions biggest economy and a member of the G20 group of the world’s richest nations

Investors are attracted by a large consumer base, rich natural resources and political stability.

Traditional markets and modern high rises co-exist in the region's biggest economy

Secessionists

The country faces demands for independence in several provinces, where secessionists have been encouraged by East Timor’s 1999 success in breaking away after a traumatic 25 years of occupation.

Militant Islamic groups have flexed their muscles over the past few years. Some have been accused of having links with al-Qaeda, including the group blamed for the 2002 Bali bombings, which killed 202 people.

Lying near the intersection of shifting tectonic plates, Indonesia is prone to earthquakes and volcanic eruptions. A powerful undersea quake in late 2004 sent massive waves crashing into coastal areas of Sumatra, and into coastal communities across south and east Asia. The disaster left more than 220,000 Indonesians dead or missing.

Indonesia is vulnerable to volcanic eruptions, such as this one on the island of Sumatra

Facts of Indonesia

  • Full name: Republic of Indonesia
  • Population: 242.8 million (UN, 2012)
  • Capital: Jakarta
  • Area: 1.9 million sq km (742,308 sq miles)
  • Major languages: Indonesian, 300 regional languages
  • Major religion: Islam
  • Life expectancy: 68 years (men), 72 years (women) (UN)
  • Monetary unit: 1 rupiah (Rp)
  • Main exports: Oil and gas, plywood, textiles, rubber, palm oil
  • GNI per capita: US $2,940 (World Bank, 2011)
  • Internet domain:.id
  • International dialling code: +62

Leader

Outgoing president: Susilo Bambang Yudhoyono

Former army general Susilo Bambang Yudhoyono won Indonesia’s first-ever direct presidential elections in September 2004, in what was hailed as the first peaceful transition of power in Indonesia’s history.

He was re-elected in July 2009 in a landslide victory on the back of improved security and strong growth in Southeast Asia’s biggest economy.

He is to be replaced in mid-2014 after the presidential election.

Mr Yudhoyono has cultivated an image as a tough corruption fighter with high moral integrity; pledges to crack down even harder on corruption were one of the main planks of his 2009 election campaign.

But the sentencing in 2012 of a former Democratic Party treasurer on corruption charges caused embarrassment for the president’s ruling party.

Mr Yudhoyono is credited with having ushered in an era of financial stability. The global financial crisis of 2008-9 did not hit Indonesia as badly as some of its neighbours, though millions of Indonesian citizens still live under the poverty line.

He has identified the fight against terrorism as a key challenge, and has warned that Indonesia’s reputation for pluralism is threatened by a growing trend of religious extremism.

The first year of Mr Yudhoyono’s first term brought perhaps his biggest challenge, the 2004 Asian tsunami disaster. His administration also won international plaudits for signing a peace deal in 2005 with separatist rebels in Aceh province.

Mr Yudhoyono, a fluent English speaker, studied for his master’s degree in the US. Rising through the ranks under former President Suharto, he led Indonesia’s peacekeeping contingent in Bosnia in the 1990s.

Mr Yudhoyono also completed several tours of duty in the Indonesian-occupied East Timor.

Married with two sons, the president has released several albums featuring his own love songs, some of them now covered by Indonesian boy bands.

Indonesia Timeline

A chronology of Key Events:

1670-1900 – Dutch colonists bring the whole of Indonesia under one government as the Dutch East Indies.

1928 – A youth conference pledges to work for “one nation, one language, one people” for Indonesia.

1942 – Japan invades Dutch East Indies.

1945 – The Japanese help independence leader Sukarno return from internal exile and declare independence.

1949 – The Dutch recognise Indonesian independence after four years of guerrilla warfare.

1950s – Maluku (Moluccas) declares independence from Indonesia and fights an unsuccessful separatist war

1962 – Western New Guinea, or West Papua, held by the Netherlands, is placed under UN administration and subsequently occupied by Indonesian forces. Opposition to Indonesian rule erupts.

Sukarno: Indonesia's Founding Father

Suharto Comes to Power

1965 – Failed coup: In the aftermath, hundreds of thousands of suspected Communists are killed in a purge of leftists which descends into vigilantism.

1966 – Sukarno hands over emergency powers to General Suharto, who becomes president in March 1967.

1969 – West Papua formally incorporated into Indonesia, becoming Irian Jaya Province.

1975 – Portugal grants East Timor independence.

1976 – Indonesia invades East Timor and incorporates it as a province.

1997 – Asian economic crisis: Indonesian rupiah plummets in value.

1998 – Protests and rioting topple Suharto; B J Habibie becomes president.

East Timor Independence Vote

1999 – Ethnic violence breaks out in Maluku. Free elections are held in Indonesia.

East Timor votes for independence in UN-sponsored referendum, after which anti-independence militia go on the rampage. East Timor comes under UN administration. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) becomes president.

2000 – Two financial scandals dog the Wahid administration: Buloggate (embezzled funds from the state logistics agency), and Bruneigate (missing humanitarian aid funds from the Sultan of Brunei). The corruption case against former President Suharto collapses.

Irian Jaya separatists become more vocal in demanding a referendum.

2001 – Ethnic violence in Kalimantan as indigenous Dayaks force out Madurese transmigrants. Mass political demonstrations by Wahid’s supporters and opponents. IMF stops further loans citing lack of progress in tackling corruption.

Megawati Sworn In

2001 July – Parliament dismisses President Wahid over allegations of corruption and incompetence. Vice President Megawati Sukarnoputri is sworn in as his replacement, even as Wahid refuses to leave the presidential palace.

2002 January – Indonesia inaugurates human rights court which is expected to test government’s willingness to hold the military accountable for atrocities in East Timor after the 1999 independence vote.

Irian Jaya province granted greater autonomy by Jakarta, allowed to adopt locally-preferred name of Papua.

2002 May – East Timor becomes independent.

2002 August – Constitutional changes are seen as a step towards democracy. For the first time, voters will be able to elect a president and vice president.

Bali Attacks

2002 October – Bomb attack on the Kuta Beach nightclub district on Bali kills 202 people, most of them tourists.

Muslim Cleric Abu Bakar Ba’asyir is arrested shortly after the bombings. He is accused of plotting to overthrow the government as the alleged spiritual leader of Jemaah Islamiah (JI), the group thought to be behind the Bali bombing.

2002 December – Government and separatist Free Aceh Movement (Gam) sign peace deal in Geneva, aimed at ending 26 years of violence. The accord provides for autonomy and free elections in the Muslim oil-rich province of Aceh; in return the Gam must disarm.

2003 May – Peace talks between government and Gam separatists break down; government mounts military offensive against Gam rebels. Martial law is imposed.

2003 August – Car bomb explodes outside the Marriott Hotel in Jakarta, killing 14 people.

2003 August-October – Three Bali bombing suspects are found guilty and sentenced to death for their roles in the 2002 attacks. A fourth suspect is given life imprisonment.

Abu Bakar Ba’asyir is cleared of treason but jailed for subversion and immigration offences. The subversion charge is later overturned.

2004 April – Parliamentary and local elections: Golkar party of former President Suharto wins greatest share of vote, with Megawati Sukarnoputri’s PDI-P coming second.

2004 July – First-ever direct presidential elections; first round narrows field to Susilo Bambang Yudhoyono and incumbent Megawati Sukarnoputri.

2004 September – Car bomb attack outside Australian embassy in Jakarta kills nine, injures more than 180.

Former general Susilo Bambang Yudhoyono wins second round of presidential elections, unseating incumbent Megawati Sukarnoputri.

2004 November – End of two-year process under which 18 people were tried by Indonesian court for human rights abuses in East Timor during 1999 crisis. Only one conviction – that of militia leader Eurico Guterres – is left standing.

Tsunami; Aceh Deal

2004 December – More than 220,000 people are dead or missing in Indonesia alone after a powerful undersea earthquake off Sumatra generates massive tidal waves. The waves devastate Indian Ocean communities as far afield as Thailand, India, Sri Lanka and Somalia.

2005 March – Court finds Muslim cleric Abu Bakar Ba’asyir guilty of conspiracy over 2002 Bali bombings, sentences him to two-and-a-half years in jail. He is freed in June 2006.

A powerful earthquake off Sumatra kills at least 1,000 people, many of them on the island of Nias. The quake triggers tsunami alerts around the Indian Ocean.

2005 August – Government and Free Aceh Movement separatists sign a peace deal providing for rebel disarmament and the withdrawal of government soldiers from the province. Rebels begin handing in weapons in September; government completes troop pull-out in December.

2005 September – Airliner crashes on take-off from Sumatran city of Medan, killing more than 100 passengers and around 50 people on the ground.

2005 October – Three suicide bombings on the resort island of Bali kill 23 people, including the bombers

2006 January – East Timorese report accuses Indonesia of widespread atrocities during its 24-year occupation, holding it responsible for the deaths of more than 100,000 people.

2006 February-March – Deadly protests at a major US-owned gold and copper mine in Papua province follow attempts to remove illegal prospectors from the site.

2006 May – A powerful earthquake kills thousands of people on Java.

2006 July – A tsunami, triggered by a large undersea earthquake, kills more than 500 people on Java.

Aceh Elections

2006 December – First direct elections held in Aceh province, consolidating the August 2005 peace accord. Former separatist rebel leader Irwandi Yusuf elected governor.

2007 June – Police capture the alleged head of the militant group Jemaah Islamiah (JI), Zarkasih, and the leader of the group’s military wing, Abu Dujana.

2007 December – Alleged JI leader Zarkasih goes on trial in Jakarta.

2008 January – Former President Suharto dies.

Former President Suharto died in 2008. He led Indonesia for 32 years until 1998

2008 July – Final report by joint Indonesian-East Timorese Truth Commission blames Indonesia for the human rights violations in the run-up to East Timor’s independence in 1999 and urges it to apologise. President Yudhoyono expresses “deep regret” but stops short of an apology.

2008 November – Three Islamic militants convicted of carrying out the 2002 Bali bombings are executed.

2009 July – President Susilo Bambang Yudhoyono wins re-election.

Twin suicide bomb attacks on the JW Marriott and Ritz-Carlton hotels in Jakarta kill nine people and injure scores of others.

Pressure Mounts on Militants

2009 September – Police shoot dead Indonesia’s most-wanted Islamist militant Noordin Mohammad Top, thought to be responsible for a series of deadly attacks across the archipelago.

2010 February-March – Several suspected militants are arrested in series of raids on alleged training camps of groups thought to be linked to Jemaah Islamiah (JI) in Aceh province. Fourteen men are charged with plotting to launch terrorist attacks.

2010 March – Police shoot dead Dulmatin – an alleged leading member of JI and the last main suspect in the 2002 Bali bombings still at large – during a raid on a Jakarta internet cafe.

2010 October – Indonesia admits that men seen torturing Papuan villagers in a video are members of the military.

President Yudhoyono calls off a state visit to the Netherlands because of a threatened bid by separatists to have him arrested.

2010 November – US President Barack Obama visits, hailing Indonesia as an example of how a developing nation can embrace democracy and diversity.

2011 February – Two churches are set alight in central Java during a protest by hundreds of Muslims about blasphemy.

Three members of the Ahmadiyah sect, a minority Muslim group, are bludgeoned to death in a mob attack in West Java.

2011 June – Radical cleric Abu Bakar Ba’asyir gets 15-year jail sentence for backing an Islamist militant training camp.

2011 December – Pay deal ends acrimonious three-month strike by 8,000 workers at copper and gold mine owned by US company Freeport-McMoran in the restive eastern province of Papua.

Dutch government apologises for massacre of at least 150 people in the village of Rawagede, on the island of Java, in 1947, during Indonesia’s war of independence.

2012 March – Court sentences Islamist militant Pepi Fernando to 18 years in prison for a parcel-bombing campaign targeting Muslim leaders and police.

2012 June – Jakarta court sentences bombmaker Umar Patek to 20 years in prison for his role in the 2002 Bali attacks. He was extradited from Pakistan in 2011. The sentencing brings to an end the 10-year investigation into the bombings.

2013 February – Eight soldiers are shot dead in two separate attacks by armed men in Papua province.

2013 June – Parliament approves a major petrol and diesel price hike to cut the ballooning fuel subsidy, sparking violent protests.

2013 September – Via its ambassador in Jakarta, the Netherlands publicly apologises for summary executions carried out by the Dutch army in the 1940s.

2013 November – Major diplomatic row with Australia over allegations that Australia spied on the president.

2014 April – Preparations for 9 April parliamentary polls.

Related Posts:

Bali & Yogya Attraction

TRAVEL YUK 150x23

Bali Attractions

Bali Jet Set Dive and Marine Sports (Tanjung Benoa)

Category: Sports Complexes

Owner description: Bali Jet Set Dive and Marine Sports is Bali’s newest and most exclusive water sports centre. Located on the white sandy beach in the south of Bali, our mission is to provide outstanding five-star scuba diving and water sports facilities, services and equipment to our guests within a safe and eco-friendly environment. We offer both motorised and non-motorised water sports. We are an authorized PADI 5 Star Dive Centre. All of our tours, activities and courses are strictly private, we do not mix groups. Come join us for a fantastic day of water sports activities!

Baruna Dive Center (Tulamben)Mayong Village Tracking Experience

Category: Sports Complexes

Owner description: Baruna Tulamben is the second office of Baruna dive center. Baruna is located in Tulamben, on the beautiful north east coast of Bali, only 2 hours drive from the airport. This area is famous for it’s relaxed charm and natural beauty.

The diving in this area is truly world class. The incredible biodiversity and richness of the marine life draws divers from all over the globe. The dive sites are very varied, from deep walls with pelagics to some of the best muck diving in the world, not to mention the famous U.S.S Liberty wreck.

Drawing on years of experience in this area we offer you world class diving with brand new equipment with personalized service provided by a team that has a deep love for what they do.We offer:

  • Safari diving to the best places in Bali.
  • Dive courses PADI and SSI in French, English and Spanish.
  • Specialty courses.
  • Drift dive.-Shore dive.
  • Night dive.
  • Wreck dive ( in the U.S.A.T Liberty in Tulamben).
  • Boat dive.
  • Muck diving ( the best spot of Bali for macro).
  • Snorkeling tours.
  • Rental diving and snorkeling equipment.
  • Divemaster internship.

We want to offer our divers more than just dive business as usual. We are the opposite of factory diving, a small operation offering personalized service with no intention of expansion. We love what we do and we want to keep it that way.

Munduk Wilderness – Day Tours (Denpasar)

Waterbom Bali (Kuta)

Category: Water Parks

Did you know that once you have purchased your tickets, if you go into the souviner shop you can purchase another ticket for 5 Australian dollars. The ticket is valid for 7 days after purchase to get entry back into the park, they may not accept prebooked tickets from home, it is usually the same price or less when you get there anyway.

If you have children this is a must do in Bali. The Waterbom waterpark is a great day’s entertainment for all ages. It is very cheap by western standards and if you are in Bali long enough, buy a multi day pass because the extra days are very cheap. Towels and lockers are available for hire.

There are plenty of pool chairs as well as family cabanas for rent.It has a huge food area, with every conceivable type of food at realistic prices (unlike most adventure parks).It is very busy at lunch but if you have a cabana they will deliver your food to you.

Chef Dean Cooking Class (Seminyak)

Owner description: An exciting combination/selection of Mediterranean and Balinese cooking class demo and tours to fishing village, traditional market, organic and cacao plantation, and other interesting places, tasting traditional foods and finally having Chef Dean’s signature luncheon.

Bali Adventure Tours – Day Tours (Denpasar)USS Liberty Shipwreck (Tulamben)

Category: Tours

Owner description: Bali Adventure Tours is a long established and most awarded Adventure Tour operator with world-class activities ranging from premium white water rafting, jungle trekking, river kayaking and mountain cycling. It is well known for its top-notch facilities, such as the Elephant Safari Park & Lodge, where you can touch, feed and ride an elephant through the tropical jungle of Bali. Bali Adventure Tours specializes in both family oriented experiences and off-the-beaten-path adventures and has been established for more than 25 years.

Bali Diving Academy Pemuteran (Pemuteran)

Category: Sports Camps/ Clinics

Owner description: Bali Diving Academy Pemuteran. Diving Courses and Fun Dives for everyone. Since 1991. Part of Bali Diving Academy group- Day trips. With 4 Dedicated Diving Academies and Partner properties in Lembongan, Tulamben, Pemuteran and Gili Trawangan, providing professional diving services supported by unmatched human resources and infrastructure on site at all Bali’s top dive locations.

Tanah Lot Temple (Tabanan)

Tanah Lot Temple is located in coastal side of Beraban countryside, Kediri sub district and Tabanan Regency. It is situated in 30 Km in west side of Denpasar town and about 11 Km in south side of Tabanan town.

The temple is built on the rock with 3 acre size and reachable in a few minute by walk, because it is just 20 meters from the coastal lip. This temple is very famous among tourist destinations in Bali with spectacular view of sunset.

At some nooks of coral reef around Tanah Lot Temple there are holy tame snake in black and white color where according to the local society believe that it as a deity property and as the guard of the temple from the bad influence.

Nirwana Bali Golf Club (Tabanan)

Category: Golf Courses

Owner description: Start your dramatic swing to a haven with the jewel of the Indian Ocean at Greg Norman championship golf course, Nirwana Bali Golf Club.Nirwana Bali Golf Club at Pan Pacific Nirwana Bali Resort is an award-winning course designed by legendary golfer, Greg Norman.

Overlooking the Tanah Lot temple and beautifully set amongst manicured gardens and rice paddies, the diverse and meticulously maintained course provides resort golfers and seasoned professionals an unparalleled golfing experience with its five ocean-side holes, three cliff-to-cliff tee shots and eight holes sculpted into the terraced rice fields.

The signature hole of Par 3, 7th is the most photographed with the iconic Sunset Island temple of Tanah Lot as the backdrop.

Nirwana Bali Golf Club is the only golf resort in Indonesia to be ranked in the influential US magazine, Golf Digest Top 100 Golf Courses outside the United States and was also ranked by Golf Digest as the number one golf course in Indonesia, Asia’s 10 Most Elite Golf Courses by FORBES Travel Guide and Indonesia’s Leading Golf Resort by World Travel Awards (2010, 2011, and 2012).

Nirwana Bali Golf Club at Pan Pacific Nirwana Bali Resort with a long history of association with IMG Golf Course Management has involved at Nirwana Bali Golf Club since 1994 during the pre-opening, through the official opening in 1997 and in a consulting management relationship that continues until today.

IMG Golf Course Management is recognized for providing high quality services to an elite portfolio of 18 clubs around the world. Partnering with IMG ensures delivery of meticulous standards of operation and an unrivalled experience for members and guests.Discover a lush 103-hectare hideaway built atop a sheer cliff with breathtaking views of the Indian Ocean and Tanah Lot.

This secluded luxury golf resort, set in the tranquil village of Tabanan, West Bali, enjoys a magnificent setting along a sweeping coastline. Nirwana Bali Golf Club is 22km away from Ngurah Rai International Airport and is part of the stunning Pan Pacific Nirwana Bali Resort.Greg Norman has truly created a masterpiece.

Bali Bubbles Dive Center (Candi Dasa)

Sekumpul Waterfalls (Singaraja)

Category: Water sports; Educational Sites

Owner description: Leading full service dive center and Instructor Training Center (SSI, PADI, DAN) Bali Bubbles is situated in East Bali, in the center of the best dive sites of Bali, operating under European management.

Bali Bubbles offers dive courses from introduction level until professional (instructor) level, daily dive trips and packages from 3 days up. Our very experienced team of instructors and dive leaders are patient, friendly and relaxed. Our Instructors (English, German and Dutch speaking) will teach you all the skills to dive safely and independent in a relaxed setting.

The goal of our dive leaders is to show you the most beautiful places of the underwater life in Bali. Diving in Bali with Bali Bubbles Dive Center makes your diving experience a fun-filled one to remember.

  • Menjangan Island (Pemuteran)
  • Biorock Pemuteran bali (Pemuteran)
  • Gunung Kawi (Tampaksiring)
  • Tirta Gangga (Karangasem)
  • Agung Rai Museum of Art (ARMA) (Ubud)
  • Caraway Cooking Class (Sanur)
  • Desa Seni Yoga (Canggu)
  • Devil’s Tears (Nusa Lembongan)
  • Jukung Dive (Amed)
  • and many MORE. Total of 1,942 sites to visit.

Bali Gallery

800px-Bali-West-Bali-Region-Map-150-100 Bali Adventure Tours - Day Tours (Denpasar)-150-100 bali-sunset-150-100 bali-beach-image-best-HD-wallpaper-2014-150-100 bali-sunset-wallpaper-hd-150-100 Bali-010-150-100

Yogyakarta Attractions

Prambanan Temples (Sleman)

Category: Ancient Ruins; Architectural Buildings; Ballets; Historic Sites; Religious Sites

These ancient masterpieces of Hindu architecture are adorned with bas-reliefs depicting the famous Ramayana story.

 Ullen Sentalu

Category: History Museums

Javanese Heritage museum

Plaosan Temple

Category: Ancient Ruins; Landmarks/ Points of Interest; Religious Sites

Yogyakarta Gallery

Merapi_Volcano-Yogyakarta_1-150-100 Borobudur-Nothwest-view-150-100Borobudur_1920x1200-150-100 palace-Yogyakarta-is-the-cultural-palace-where-the-kings-residence-Java-and-Yogyakarta-150-100 Indonesia - Java - Yogyakarta - Kraton (Kraton Ngayogyakarta Had java-indonesia-prambanan-temples-yogyakarta-1680x1050-150-100 Prambanan-Temple-Yogyakarta-Indonesia-150-100 Wediombo_Beach,_Yogyakarta,_Indonesia_Wallpaper_v7mug-150-100 SUNDAK BEACH YOYGAKARTA-150-100

Borobudur_Map-1-1280-JPGBorobudur_route_map

Bhineka Tunggal Ika – Pemersatu Bangsa Indonesia –

Lambang Bhinneka Tunggal IkaGaruda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Click Image to Enlarge

Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti “satu”. Kata ika berarti “itu”. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.

Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

Sajak Penuh

Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini:

  • Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
  • Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
  • Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
  • Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

  • Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
  • Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
  • Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
  • Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalamselintas pandang? Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda, namun hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa).

Terjemahan ini didasarkan, dengan adaptasi kecil, pada edisi teks kritis oleh Dr Soewito Santoso.

 

Nelson Tansu Profesor Termuda asal Indonesia

PRESTASI PENDIDIKAN 20

Nelson Tansu

Membaca namanya, orang mungkin tidak akan menyangka bahwa ia adalah orang Indonesia. Tapi jika membaca biografinya, barulah orang akan percaya bahwa sosok bernama Nelson Tansu tersebut adalah 100% Indonesia. Nelson Tansu adalah putra bangsa kelahiran Medan, 20 Oktober 1977 dengan segudang prestasi yang membanggakan dan sudah diakui dunia internasional. Bayangkan saja, pria Medan ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Selain itu, di usia yang belum menginjak 30 tahun, ia sudah meraih gelar profesor bidang electrical engineering di Amerika Serikat.

Dalam perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengakui mendapat dukungan yang besar dari keluarga terutama kedua orang tua dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ketika Nelson masih SD, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya.

Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Nelson muda merupakan lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Kecerdasannya juga mengantarkannya menjadi finalis dari Indonesia dalam sebuah olimpiade fisika internasional. Ia meraih gelar sarjana dari Wisconsin University yang ditempuhnya dalam 2 tahun 9 bulan dengan predikat Summa Cum Laude. Gelar PhD pun diraihnya dalam usia 26 tahun di universitas yang sama.

Nelson mengaku, orang tuanya hanya membiayai pendidikannya hingga sarjana. Selebihnya, karena otaknya yang encer, ia menjadi rebutan tawaran beasiswa. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi profesor di Lehigh University, tempatnya bekerja sekarang. Tesis doktoralnya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 tesis doktoral lainnya.

Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC.

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS dan luar AS seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.

Biarpun sudah lama berada di Amerika Serikat, Nelson tetap memegang paspor hijaunya, dan tidak mengganti kewarganegaraannya. Di setiap kali memulai mengajar, Nelson selalu berujar “I am Nelson Tansu, and I am an Indonesian”.

Nelson Tansu 2Nama lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD.Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.

Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri Paman Sam, itu.

Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.

Inilah kisah selanjutnya dari Nelson Tansu:

Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional.

Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC .

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.

Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan. Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks(buku wajib pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam.

Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah kelahirannya.

“Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia,” katanya, serius. Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras,” kata Nelson menjawab koran ini.

Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orangtua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).

Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. “Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya l ebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics,” jelasnya.

Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.

Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah dan pantalon.

Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus.

Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

“Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah,” ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.

September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. “Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini,” jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada imigrannya, yakni Menteri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi menteri selama sejarah AS.

Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. “Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali,” ujarnya.

Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orangtuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. “Jadi, terima kasih buat kedua orangtua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu,” ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. “Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras.

Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu,” jelasnya.

Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya Kemal Ataturk.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia “kembali” mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang.Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. “Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia.

Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,”jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang “Tansu”, sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. “Saya suka dengan nama Tansu, kok,” kata Nelson dengan nada bangga.

Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.

Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. “Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas,” katanya.

Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS.

Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.

Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson yang dipatenkan di AS.

Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah.

Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan terperanjat. Cukup fenomenal. “Sejak SD kelas III atau kelas IV di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil,” ujarnya dengan mimik serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. “Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu,” jelas Nelson penuh kagum.

Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume (CV)-nya juga hebat-hebat. “Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu,” ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? “Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he-he-he,” katanya, menyelipkan senyum.

Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi incaran dan malah “rebutan” kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandan g sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.

Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.

“Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices.

Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset.

The University Center on the campus of Lehigh University.

The University Center on the campus of Lehigh University.

Summary


Lehigh University is a private institution that was founded in 1865. It has a total undergraduate enrollment of 4,883, its setting is urban, and the campus size is 1,600 acres. It utilizes a semester-based academic calendar. Lehigh University’s ranking in the 2014 edition of Best Colleges is National Universities, 41. Its tuition and fees are $43,520 (2013-14).

best-colleges-badge-124x112Lehigh University is located in Bethlehem, Pa., 50 miles north of Philadelphia and 75 miles west of New York City. The Lehigh Mountain Hawks are members of the Patriot League, and compete in 25 NCAA Division I sports. Their biggest athletic rivalry is Lafayette College, located less than 20 miles away. A third of the student body is involved in fraternities and sororities. All freshmen are required to live on campus, and sophomores are also required to live on campus in a residence hall or Greek housing. Lehigh’s main campus is located on the wooded slope of South Mountain, and half of the campus is preserved as open space.

Lehigh University has four colleges, with numerous undergraduate and graduate majors. Its well-regarded graduate programs include the College of Education and the P.C. Rossin College of Engineering and Applied Science. The Jeanne Clery Disclosure of Campus Security Policy and Campus Crime Statistics Act originated at Lehigh, requiring colleges to reveal crimes on campus. Lehigh folklore says the school colors of brown and white originated when a woman wearing brown and white stockings passed by a group of men discussing school colors, and the rest is history. Notable alumni include Jesse W. Reno, the inventor of the escalator; and Howard McClintic and Charles Marshall, whose construction company helped build the Golden Gate Bridge, the George Washington Bridge, the Panama Canal and New York’s Waldorf-Astoria Hotel.

A view of the Linderman Library Rotunda at Lehigh University.

A view of the Linderman Library Rotunda at Lehigh University.

Students gather outside University Center at Lehigh University.

Students gather outside University Center at Lehigh University.

Students gather for an activity outside University Center at Lehigh University.

Students gather for an activity outside University Center at Lehigh University.

Biodata


Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di negeri ini, misalnya aja Prof. Nelson Tansu, Ph.D. beliau adalah Profesor termuda di Amerika yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. ketika usianya 25 tahun, ia menjadi asisten profesor di bidang electrical and computer engineering, Lehigh University. Lehigh University merupakan sebuah universitas papan atas di bidang teknik dan fisika di kawasan East Coast, Amerika Serikat. Sudah lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya telah dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional.

 

Profeor Nelson Tansu lahir di Medan, Sumatera Utara, 20 Oktober 1977, merupakan putra kedua dari pasangan ayah (Almarhum) Iskandar Tansu dan ibu (Almarhum) Auw Lie Min. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).  Ia adalah lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan pada tahun 1995 dan juga menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).

 

Pendidikan :


  • Ph.D. in Electrical Engineering (Applied Physics), September 1998 – Mei 2003, Universitas Wisconsin – Madison, Madison, Amerika Serikat
  • B.S. in Applied Mathematics, (Electrical) Engineering, and Physics (AMEP), September 1995 – Mei 1998, Universitas Wisconsin – Madison, Madison, Amerika Serikat
  • SMA Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1992 – Mei 1995)
  • SMP Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1989 – Mei 1992)
  • SD Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1983 – Mei 1989)
  • TK Sutomo 1, Medan, Sumatera Utara, Indonesia (Juli 1981 – Mei 1983)

Karier :


  • Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, Juli 2003 – April 2007
  • Peter C. Rossin (Term Chair) Assistant Professor, Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, April 2007-April 2009
  • Associate Professor (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2009-April 2010.
  • Class of 1961 (Chair) Associate Professor (with tenure), Department of Electrical and Computer Engineering, Center for Optical Technologies, P. C. Rossin College of Engineering and Applied Science, Lehigh University, May 2010-present.
  • Genius Youngest Porfessor.

Hasil Karya Riset :


  • Lebih dari 220 publikasi jurnal dan konferensi ilmiah internasional (February 2011) tentang semikonduktor, optoelektronika, fotonika, dan nanoteknologi. Terutama bidang riset mencakup fisika dan teknologi dari semikonduktor nanostruktur untuk laser, diode pemancar cahaya, sel surya, komunikasi, energi, dan lainnya.
  • Journal citations: > 1281 citations, dan H-index = 22 (Self citation > 50%, Februari 2011, ISI Web of Knowledge)
  • Delapan paten dalam bidang nanoteknologi dan optoelektronika dari kantor paten Amerika Serikat

Keberhasilan bukanlah berasal dari tingkat kepintaran,

Kunci dari keberhasilan adalah kerja keras dan fokus yang luar biasa

[Nelson Tansu]

#Beasiswa Indonesia

. End of Page

Bali

From Wikipedia, the free Encyclopedia

Read also:

Bali is an island and province of Indonesia, and includes a few smaller neighbouring islands, notably Nusa Penida. It is located at the westernmost end of the Lesser Sunda Islands, between Java to the west and Lombok to the east, and has its capital of Denpasar at the southern part of the island.

With a population of 3,890,757 in the 2010 census, and currently 4.22 million, the island is home to most of Indonesia’s Hindu minority. According to the 2010 Census, 84.5% of Bali’s population adhered to Balinese Hinduism, 12% to Islam, and most of the remainder followed Christianity. Bali is also the largest tourist destination in the country and is renowned for its highly developed arts, including traditional and modern dance, sculpture, painting, leather, metalworking, and music. A tourist haven for decades, the province has seen a further surge in tourist numbers in recent years.

Bali is part of the Coral Triangle, the area with the highest biodiversity of marine species. In this area alone over 500 reef building coral species can be found. For comparison, this is about 7 times as many as in the entire Caribbean. There is a wide range of dive sites with high quality reefs, all with their own specific attractions. Many sites can have strong currents and swell, so diving without a knowledgeable guide is unadvisable. Bali is the host of 2011 ASEAN Summit, 2013 APEC and Miss World 2013.800px-Pura_Tanah_LotTanah Lot Temple located in Tabana Bali. The most famous tourism site in Bali, the most photographed site in Bali Island.

Flag

Flag of Bali

Flag of Bali

Seal

Seal of Bali

Seal of Bali

Nickname(s): Island of Peace, Morning of The World, Island of Gods, Island of Hinduism, Island of Love.

Motto: Bali Dwipa Jaya (Kawi) (Glorious Bali Island)

Map of Bali

IndonesiaBali-vertCoordinates: 8°39′S 115°13′E

Country:  Indonesia

Capital:  Denpasar

Government

  • Governor: Made Mangku Pastika

Area

  • Total: 5,780.06 km2 | 2,231.69 sq mi)

Population (2012)

  • Total: 4,220,000
  • Density: 730/km2 (1,900/sq mi)

Demographics

  • Ethnic Groups
    • Balinese (89%)
    • Javanese (7%)
    • Baliaga (1%)
    • Madurese (1%)
  • Religion
    • Hindu (84.5%)
    • Muslim (13.3%)
    • Christian (1.7%)
    • Buddhist (0.5%)
  • Languages
    • Indonesian (official)
    • Balinese
    • English
  • Time Zone: WITA (UTC+08)

History


At religious festivals on Bali the sculptures get dressed up and umbrellas are placed by the temples.

At religious festivals on Bali the sculptures get dressed up and umbrellas are placed by the temples.Bali was inhabited around 2000 BC by Austronesian people who migrated originally from Southeast Asia and Oceania through Maritime Southeast Asia. Culturally and linguistically, the Balinese are thus closely related to the people of the Indonesian archipelago, Malaysia, the Philippines, and Oceania. Stone tools dating from this time have been found near the village of Cekik in the island’s west.

In ancient Bali, nine Hindu sects existed, namely Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora and Ganapatya. Each sect revered a specific deity as its personal Godhead.

Balinese culture was strongly influenced by Indian, Chinese, and particularly Hindu culture, beginning around the 1st century AD. The name Bali dwipa (“Bali island”) has been discovered from various inscriptions, including the Blanjong pillar inscription written by Sri Kesari Warmadewa in 914 AD and mentioning “Walidwipa”. It was during this time that the complex irrigation system subak was developed to grow rice. Some religious and cultural traditions still in existence today can be traced back to this period. The Hindu Majapahit Empire (1293–1520 AD) on eastern Java founded a Balinese colony in 1343. When the empire declined, there was an exodus of intellectuals, artists, priests, and musicians from Java to Bali in the 15th century.

The first European contact with Bali is thought to have been made in 1585 when a Portuguese ship foundered off the Bukit Peninsula and left a few Portuguese in the service of Dewa Agung. In 1597 the Dutch explorer Cornelis de Houtman arrived at Bali and, with the establishment of the Dutch East India Company in 1602, the stage was set for colonial control two and a half centuries later when Dutch control expanded across the Indonesian archipelago throughout the second half of the 19th century (see Dutch East Indies). Dutch political and economic control over Bali began in the 1840s on the island’s north coast, when the Dutch pitted various distrustful Balinese realms against each other.[15] In the late 1890s, struggles between Balinese kingdoms in the island’s south were exploited by the Dutch to increase their control.

In June 1860 the famous Welsh naturalist Alfred Russel Wallace travelled to Bali from Singapore landing at Bileling on the northcoast of the island. Wallace’s trip to Bali was instrumental in helping him devise his Wallace Line theory. The Wallace Line is a faunal boundary that run through the strait between Bali and Lombok, which, though a short distance, is a boundary between species of Asiatic origin in the east and a mixture of Australian and Asian species to the west. In his travel memoir The Malay Archipelago Wallace writes of his experience in Bali:

I was both astonished and delighted; for as my visit to Java was some years later, I had never beheld so beautiful and well-cultivated a district out of Europe. A slightly undulating plain extends from the seacoast about ten or twelve miles inland, where it is bounded by a fine range of wooded and cultivated hills. Houses and villages, marked out by dense clumps of coconut palms, tamarind and other fruit trees, are dotted about in every direction; while between them extend luxurious rice-grounds, watered by an elaborate system of irrigation that would be the pride of the best cultivated parts of Europe.

The Dutch mounted large naval and ground assaults at the Sanur region in 1906 and were met by the thousands of members of the royal family and their followers who fought against the superior Dutch force in a suicidal puputan defensive assault rather than face the humiliation of surrender. Despite Dutch demands for surrender, an estimated 200 Balinese marched to their death against the invaders. In the Dutch intervention in Bali, a similar massacre occurred in the face of a Dutch assault in Klungkung. Afterwards the Dutch governors were able to exercise administrative control over the island, but local control over religion and culture generally remained intact. Dutch rule over Bali came later and was never as well established as in other parts of Indonesia such as Java and Maluku.

In the 1930s, anthropologists Margaret Mead and Gregory Bateson, and artists Miguel Covarrubias and Walter Spies, and musicologist Colin McPhee created a western image of Bali as “an enchanted land of aesthetes at peace with themselves and nature”, and western tourism first developed on the island.

403px-Balinese_dancers

Balinese dancers show for tourists, in Ubud.

Imperial Japan occupied Bali during World War II. Bali Island was not originally a target in their Netherlands East Indies Campaign, but as the airfields on Borneo were inoperative due to heavy rains the Imperial Japanese Army decided to occupy Bali, which did not suffer from comparable weather. The island had no regular Royal Netherlands East Indies Army (KNIL) troops. There was only a Native Auxiliary Corps Prajoda (Korps Prajoda) consisting of about 600 native soldiers and several Dutch KNIL officers under command of KNIL Lieutenant Colonel W.P. Roodenburg. On 19 February 1942 the Japanese forces landed near the town of Senoer [Senur]. The island was quickly captured.

During the Japanese occupation a Balinese military officer, Gusti Ngurah Rai, formed a Balinese ‘freedom army’. The lack of institutional changes from the time of Dutch rule however, and the harshness of war requisitions made Japanese rule worse than the Dutch one. Following Japan’s Pacific surrender in August 1945, the Dutch promptly returned to Indonesia, including Bali, immediately to reinstate their pre-war colonial administration. This was resisted by the Balinese rebels now using Japanese weapons. On 20 November 1946, the Battle of Marga was fought in Tabanan in central Bali. Colonel I Gusti Ngurah Rai, by then 29 years old, finally rallied his forces in east Bali at Marga Rana, where they made a suicide attack on the heavily armed Dutch. The Balinese battalion was entirely wiped out, breaking the last thread of Balinese military resistance. In 1946 the Dutch constituted Bali as one of the 13 administrative districts of the newly proclaimed State of East Indonesia, a rival state to the Republic of Indonesia which was proclaimed and headed by Sukarno and Hatta. Bali was included in the “Republic of the United States of Indonesia” when the Netherlands recognised Indonesian independence on 29 December 1949.

The 1963 eruption of Mount Agung killed thousands, created economic havoc and forced many displaced Balinese to be transmigrated to other parts of Indonesia. Mirroring the widening of social divisions across Indonesia in the 1950s and early 1960s, Bali saw conflict between supporters of the traditional caste system, and those rejecting these traditional values. Politically, the opposition was represented by supporters of the Indonesian Communist Party (PKI) and the Indonesian Nationalist Party (PNI), with tensions and ill-feeling further increased by the PKI’s land reform programs. An attempted coup in Jakarta was put down by forces led by General Suharto. The army became the dominant power as it instigated a violent anti-communist purge, in which the army blamed the PKI for the coup. Most estimates suggest that at least 500,000 people were killed across Indonesia, with an estimated 80,000 killed in Bali, equivalent to 5% of the island’s population. With no Islamic forces involved as in Java and Sumatra, upper-caste PNI landlords led the extermination of PKI members.

As a result of the 1965/66 upheavals, Suharto was able to manoeuvre Sukarno out of the presidency, and his “New Order” government reestablished relations with western countries. The pre-War Bali as “paradise” was revived in a modern form, and the resulting large growth in tourism has led to a dramatic increase in Balinese standards of living and significant foreign exchange earned for the country. A bombing in 2002 by militant Islamists in the tourist area of Kuta killed 202 people, mostly foreigners. This attack, and another in 2005, severely affected tourism, bringing much economic hardship to the island.

Geography


The island of Bali lies 3.2 km (2 mi) east of Java, and is approximately 8 degrees south of the equator. Bali and Java are separated by the Bali Strait. East to west, the island is approximately 153 km (95 mi) wide and spans approximately 112 km (69 mi) north to south; administratively it covers 5,780 km2, or 5,577 km2 without Nusa Penida District, its population density is roughly 750 people/km2.

Bali’s central mountains include several peaks over 3,000 metres in elevation. The highest is Mount Agung (3,031 m), known as the “mother mountain” which is an active volcano. Mountains range from centre to the eastern side, with Mount Agung the easternmost peak. Bali’s volcanic nature has contributed to its exceptional fertility and its tall mountain ranges provide the high rainfall that supports the highly productive agriculture sector. South of the mountains is a broad, steadily descending area where most of Bali’s large rice crop is grown. The northern side of the mountains slopes more steeply to the sea and is the main coffee producing area of the island, along with rice, vegetables and cattle. The longest river, Ayung River, flows approximately 75 km.

Topography of the island

Topography of the island

The island is surrounded by coral reefs. Beaches in the south tend to have white sand while those in the north and west have black sand. Bali has no major waterways, although the Ho River is navigable by small sampan boats. Black sand beaches between Pasut and Klatingdukuh are being developed for tourism, but apart from the seaside temple of Tanah Lot, they are not yet used for significant tourism.

800px-1_Tegalalang_rice_terrace_ubud_bali

Subak irrigation system

The largest city is the provincial capital, Denpasar, near the southern coast. Its population is around 491,500 (2002). Bali’s second-largest city is the old colonial capital, Singaraja, which is located on the north coast and is home to around 100,000 people. Other important cities include the beach resort, Kuta, which is practically part of Denpasar’s urban area, and Ubud, situated at the north of Denpasar, is the island’s cultural centre.

Three small islands lie to the immediate south east and all are administratively part of the Klungkung regency of Bali: Nusa Penida, Nusa Lembongan and Nusa Ceningan. These islands are separated from Bali by the Badung Strait.

To the east, the Lombok Strait separates Bali from Lombok and marks the biogeographical division between the fauna of the Indomalayan ecozone and the distinctly different fauna of Australasia. The transition is known as the Wallace Line, named after Alfred Russel Wallace, who first proposed a transition zone between these two major biomes. When sea levels dropped during the Pleistocene ice age, Bali was connected to Java and Sumatra and to the mainland of Asia and shared the Asian fauna, but the deep water of the Lombok Strait continued to keep Lombok Island and the Lesser Sunda archipelago isolated.

Ecology


The Bali Starling is found only on Bali and is critically endangered.

The Bali Starling is found only on Bali and is critically endangered.

Bali lies just to the west of the Wallace Line, and thus has a fauna that is Asian in character, with very little Australasian influence, and has more in common with Java than with Lombok. An exception is the Yellow-crested Cockatoo, a member of a primarily Australasian family. There are around 280 species of birds, including the critically endangered Bali Starling, which is endemic. Others Include Barn Swallow, Black-naped Oriole, Black Racket-tailed Treepie, Crested Serpent-eagle, Crested Treeswift, Dollarbird, Java Sparrow, Lesser Adjutant, Long-tailed Shrike, Milky Stork, Pacific Swallow, Red-rumped Swallow, Sacred Kingfisher, Sea Eagle, Woodswallow, Savanna Nightjar, Stork-billed Kingfisher, Yellow-vented Bulbul, White Heron, Great Egret.

Until the early 20th century, Bali was home to several large mammals: the wild Banteng, leopard and the endemic Bali tiger. The Banteng still occurs in its domestic form, whereas leopards are found only in neighbouring Java, and the Bali tiger is extinct. The last definite record of a tiger on Bali dates from 1937, when one was shot, though the subspecies may have survived until the 1940s or 1950s. The relatively small size of the island, conflict with humans, poaching and habitat reduction drove the Bali tiger to extinction. This was the smallest and rarest of all tiger subspecies and was never caught on film or displayed in zoos, whereas few skins or bones remain in museums around the world. Today, the largest mammals are the Javan Rusa deer and the Wild Boar. A second, smaller species of deer, the Indian Muntjac, also occurs. Saltwater crocodiles were once present on the island, but became locally extinct sometime during the last century.

Monkey at Ulu Watu Temple

Monkey at Ulu Watu Temple

Squirrels are quite commonly encountered, less often is the Asian Palm Civet, which is also kept in coffee farms to produce Kopi Luwak. Bats are well represented, perhaps the most famous place to encounter them remaining the Goa Lawah (Temple of the Bats) where they are worshipped by the locals and also constitute a tourist attraction. They also occur in other cave temples, for instance at Gangga Beach. Two species of monkey occur. The Crab-eating Macaque, known locally as “kera”, is quite common around human settlements and temples, where it becomes accustomed to being fed by humans, particularly in any of the three “monkey forest” temples, such as the popular one in the Ubud area. They are also quite often kept as pets by locals. The second monkey, endemic to Java and some surrounding islands such as Bali, is far rarer and more elusive is the Javan Langur, locally known as “lutung”. They occur in few places apart from the Bali Barat National Park. They are born an orange colour, though by their first year they would have already changed to a more blackish colouration. In Java however, there is more of a tendency for this species to retain its juvenile orange colour into adulthood, and so you can see a mixture of black and orange monkeys together as a family. Other rarer mammals include the Leopard Cat, Sunda Pangolin and Black Giant Squirrel.

Snakes include the King Cobra and Reticulated Python. The Water Monitor can grow to at least 1.5 m (4.9 ft) in length and 50 kg (110 lb) and can move quickly.

The rich coral reefs around the coast, particularly around popular diving spots such as Tulamben, Amed, Menjangan or neighbouring Nusa Penida, host a wide range of marine life, for instance Hawksbill Turtle, Giant Sunfish, Giant Manta Ray, Giant Moray Eel, Bumphead Parrotfish, Hammerhead Shark, Reef Shark, barracuda, and sea snakes. Dolphins are commonly encountered on the north coast near Singaraja and Lovina.

A team of scientists conducted a survey from 29 April 2011 to 11 May 2011 at 33 sea sites around Bali. They discovered 952 species of reef fish of which 8 were new discoveries at Pemuteran, Gilimanuk, Nusa Dua, Tulamben and Candidasa, and 393 coral species, including two new ones at Padangbai and between Padangbai and Amed. The average coverage level of healthy coral was 36% (better than in Raja Ampat and Halmahera by 29% or in Fakfak and Kaimana by 25%) with the highest coverage found in Gili Selang and Gili Mimpang in Candidasa, Karangasem regency.

Many plants have been introduced by humans within the last centuries, particularly since the 20th century, making it sometimes hard to distinguish what plants are really native. Among the larger trees the most common are: Banyan trees, Jackfruit, coconuts, bamboo species, acacia trees and also endless rows of coconuts and banana species. Numerous flowers can be seen: hibiscus, frangipani, bougainvillea, poinsettia, oleander, jasmine, water lily, lotus, roses, begonias, orchids and hydrangeas exist. On higher grounds that receive more moisture, for instance around Kintamani, certain species of fern trees, mushrooms and even pine trees thrive well. Rice comes in many varieties. Other plants with agricultural value include: salak, mangosteen, corn, Kintamani orange, coffee and water spinach.

Environment


Some of the worst erosion has occurred in Lebih Beach, where up to 7 metres of land is lost every year. Decades ago, this beach was used for holy pilgrimages with more than 10,000 people, but they have now moved to Masceti Beach.

Rice terraces in Bali

Rice terraces in Bali

From ranked third in previous review, in 2010 Bali got score 99.65 of Indonesia’s environmental quality index and the highest of all the 33 provinces. The score measured 3 water quality parameters: the level of total suspended solids (TSS), dissolved oxygen (DO) and chemical oxygen demand (COD).

Because of over-exploitation by the tourist industry which covers a massive land area, 200 out of 400 rivers on the island have dried up and based on research, the southern part of Bali would face a water shortage up to 2,500 litres of clean water per second by 2015. To ease the shortage, the central government plans to build a water catchment and processing facility at Petanu River in Gianyar. The 300 litres capacity of water per second will be channelled to Denpasar, Badung and Gianyar in 2013.

Administrative Divisions


The province is divided into 8 regencies (kabupaten) and 1 city (kota). These are:

Administrative divisionsEconomy


Three decades ago, the Balinese economy was largely agriculture-based in terms of both output and employment. Tourism is now the largest single industry in terms of income, and as a result, Bali is one of Indonesia’s wealthiest regions. About 80% of Bali’s economy depends on tourism; Note: non-referenced % in the article: in fact a great number of the population still lives thanks to agriculture although this situation is changing rapidly. By end of June 2011, non-performing loan of all banks in Bali were 2.23%, lower than the average of Indonesian banking industry non-performing loan (about 5%). The economy, however, suffered significantly as a result of the terrorist bombings 2002 and 2005. The tourism industry has since recovered from these events.

Agriculture

Although tourism produces the GDP’s largest output, agriculture is still the island’s biggest employer; most notably rice cultivation. Crops grown in smaller amounts include fruit, vegetables, Coffea arabica and other cash and subsistence crops. Fishing also provides a significant number of jobs. Bali is also famous for its artisans who produce a vast array of handicrafts, including batik and ikat cloth and clothing, wooden carvings, stone carvings, painted art and silverware. Notably, individual villages typically adopt a single product, such as wind chimes or wooden furniture.

The Arabica coffee production region is the highland region of Kintamani near Mount Batur. Generally, Balinese coffee is processed using the wet method. This results in a sweet, soft coffee with good consistency. Typical flavours include lemon and other citrus notes. Many coffee farmers in Kintamani are members of a traditional farming system called Subak Abian, which is based on the Hindu philosophy of “Tri Hita Karana”. According to this philosophy, the three causes of happiness are good relations with God, other people and the environment. The Subak Abian system is ideally suited to the production of fair trade and organic coffee production. Arabica coffee from Kintamani is the first product in Indonesia to request a Geographical Indication.

Tourism

Canyoning in Gitgit Waterfall, Bali, Indonesia

Canyoning in Gitgit Waterfall, Bali, Indonesia

The tourism industry is primarily focused in the south, while significant in the other parts of the island as well. The main tourist locations are the town of Kuta (with its beach), and its outer suburbs of Legian and Seminyak (which were once independent townships), the east coast town of Sanur (once the only tourist hub), in the center of the island Ubud, to the south of the Ngurah Rai International Airport, Jimbaran, and the newer development of Nusa Dua and Pecatu.

The American government lifted its travel warnings in 2008. The Australian government last issued an advice on Friday, 4 May 2012. The overall level of the advice was lowered to ‘Exercise a high degree of caution’. The Swedish government issued a new warning on Sunday, 10 June 2012 because of one more tourist who has been killed by methanol poisoning.

An offshoot of tourism is the growing real estate industry. Bali real estate has been rapidly developing in the main tourist areas of Kuta, Legian, Seminyak and Oberoi. Most recently, high-end 5 star projects are under development on the Bukit peninsula, on the south side of the island. Million dollar villas are being developed along the cliff sides of south Bali, commanding panoramic ocean views. Foreign and domestic (many Jakarta individuals and companies are fairly active) investment into other areas of the island also continues to grow. Land prices, despite the worldwide economic crisis, have remained stable.

The Tirtha Empul Temple draws tourists who seek its holy waters

The Tirtha Empul Temple draws tourists who seek its holy waters

In the last half of 2008, Indonesia’s currency had dropped approximately 30% against the US dollar, providing many overseas visitors value for their currencies. Visitor arrivals for 2009 were forecast to drop 8% (which would be higher than 2007 levels), due to the worldwide economic crisis which has also affected the global tourist industry, but not due to any travel warnings.

Bali’s tourism economy survived the terrorist bombings of 2002 and 2005, and the tourism industry has in fact slowly recovered and surpassed its pre-terrorist bombing levels; the longterm trend has been a steady increase of visitor arrivals. In 2010, Bali received 2.57 million foreign tourists, which surpassed the target of 2.0–2.3 million tourists. The average occupancy of starred hotels achieved 65%, so the island is still able to accommodate tourists for some years without any addition of new rooms/hotels, although at the peak season some of them are fully booked.

Pura Taman Ayun, another temple which is a popular tourist destination

Pura Taman Ayun, another temple which is a popular tourist destination

Bali received the Best Island award from Travel and Leisure in 2010. The island of Bali won because of its attractive surroundings (both mountain and coastal areas), diverse tourist attractions, excellent international and local restaurants, and the friendliness of the local people. According to BBC Travel released in 2011, Bali is one of the World’s Best Islands, rank in second after Greece.

In August 2010, the film version of Eat, Pray, Love (EPL) was released in theatres. The movie was based on Elizabeth Gilbert’s best-selling memoir of the same name. It took place at Ubud and Padang-Padang Beach at Bali. The 2006 book, which spent 57 weeks at the No. 1 spot on the New York Times paperback nonfiction best-seller list, had already fuelled a boom in EPL tourism in Ubud, the hill town and cultural and tourist center that was the focus of Gilbert’s quest for balance through traditional spirituality and healing that leads to love.

A statue of Arjuna on a street in Bali

A statue of Arjuna on a street in Bali

Since 2011, China has displaced Japan as the second-largest supplier of tourists to Bali, while Australia still tops the list. Chinese tourists increased by 17% from last year due to the impact of ACFTA and new direct flights to Bali. In January 2012, Chinese tourists year on year (yoy) increased by 222.18% compared to January 2011, while Japanese tourists declined by 23.54% yoy.

Bali reported that it has 2.88 million foreign tourists and 5 million domestic tourists in 2012, marginally surpassing the expectations of 2.8 million foreign tourists. Forecasts for 2013 are at 3.1 million.

Based on Bank Indonesia survey in May 2013, 34.39 percent of tourists are upper-middle class with spending between $1,286 to $5,592 and dominated by Australia, France, China, Germany and the US with some China tourists move from low spending before to higher spending currently. While 30.26 percent are middle class with spending between $662 to $1,285.

Kuta Beach is a popular tourist spot in Bali

Kuta Beach is a popular tourist spot in Bali

Transportation


The Ngurah Rai International Airport is located near Jimbaran, on the isthmus at the southernmost part of the island. Lt.Col. Wisnu Airfield is found in north-west Bali.

A major form of transport in Bali is the Moped

A major form of transport in Bali is the Moped

A coastal road circles the island, and three major two-lane arteries cross the central mountains at passes reaching to 1,750m in height (at Penelokan). The Ngurah Rai Bypass is a four-lane expressway that partly encircles Denpasar and enables cars to travel quickly in the heavily populated south. Bali has no railway lines yet.

December 2010: the Government of Indonesia has invited investors to build Tanah Ampo Cruise Terminal at Karangasem, Bali amounted $30 million. In 17 July 2011 the first cruise ship (Sun Princess) anchored about 400 meters away from the wharf of Tanah Ampo harbour. The current pier is only 154 meters and will eventually be 300 to 350 meters to accommodate international cruise ships. The harbour would be safer than Benoa and has a scenic backdrop of a panoramic view of mountainous area with green rice fields. By December 2011 the auction process will be settled and Tanah Ampo is predicted to become the main hub for cruise ships in Indonesia by 2013.

A Memorandum of Understanding has been signed by two ministers, Bali’s Governor and Indonesian Train Company to build 565 kilometres of railway along the coast around the island. It should be operating by 2015.

On 16 March 2011 (Tanjung) Benoa port received the “Best Port Welcome 2010” award from London’s “Dream World Cruise Destination” magazine. Government plans to expand the role of Benoa port as export-import port to boost Bali’s trade and industry sector. The Tourism and Creative Economy Ministry has confirmed that 306 cruise liners are heading for Indonesia in 2013 – an increase of 43 percent compared to the previous year.

On May 2011, an integrated Areal Traffic Control System (ATCS) was implemented to reduce traffic jams at four crossing points: Ngurah Rai statue, Dewa Ruci Kuta crossing, Jimbaran crossing and Sanur crossing. ATCS is an integrated system connecting all traffic lights, CCTVs and other traffic signals with a monitoring office at the police headquarters. It has successfully been implemented in other ASEAN countries and will be implemented at other crossings in Bali.

On 21 December 2011 construction started on the Nusa Dua-Benoa-Ngurah Rai International Airport toll road which will also provide a special lane for motorcycles. This has been done by seven state-owned enterprises led by PT Jasa Marga with 60% of shares. PT Jasa Marga Bali Tol will construct the 9.91 kilometres toll road (totally 12.7 kilometres with access road). The construction is estimated to cost Rp.2.49 trillion ($273.9 million). The project goes through 2 kilometres of mangrove forest and through 2.3 kilometres of beach, both within 5.4 hectares area. The elevated toll road is built over the mangrove forest on 18,000 concrete pillars which occupied 2 hectares of mangroves forest. It compensated by new planting of 300,000 mangrove trees along the road. On 21 December 2011 the Dewa Ruci 450 meters underpass has also started on the busy Dewa Ruci junction near Bali Kuta Galeria with an estimated cost of Rp136 billion ($14.9 million) from the state budget. On 23 September 2013, the Bali Mandara Toll Road is opened and the Dewa Ruci Junction (Simpang Siur) underpass is opened before. Both are ease the heavy traffic congestion.

To solve chronic traffic problems, the province will also build a toll road connecting Serangan with Tohpati, a toll road connecting Kuta, Denpasar and Tohpati and a flyover connecting Kuta and Ngurah Rai Airport.

Demographics


The population of Bali was 3,890,757 as of the 2010 Census. There are an estimated 30,000 expatriates living in Bali.

HISTORICAL POPULATIONEthnic Origins

A DNA study in 2005 by Karafet et al. found that 12% of Balinese Y-chromosomes are of likely Indian origin, while 84% are of likely Austronesian origin, and 2% of likely Melanesian origin. The study does not correlate the DNA samples to the Balinese caste system.

RELIGION IN BALI 2012Caste System

Main article: Balinese caste system

Bali has a caste system based on the Indian Hindu model, with four castes:

  • Sudra – peasants constituting close to 93% of Bali’s population.
  • Wesia (Vaishyas) – the caste of merchants and administrative officials
  • Ksatrias (Kshatriyas) – the kingly and warrior caste
  • Brachmana – holy men and priests

Religion

Unlike most of Muslim-majority Indonesia, about 83.5% of Bali’s population adheres to Balinese Hinduism, formed as a combination of existing local beliefs and Hindu influences from mainland Southeast Asia and South Asia. Minority religions include Islam (13.3%), Christianity (1.7%), and Buddhism (0.5%). These figures do not include immigrants from other parts of Indonesia.

The Mother Temple of Besakih, one of Bali's most significant Hindu temples.

The Mother Temple of Besakih, one of Bali’s most significant Hindu temples.

When Islam surpassed Hinduism in Java (16th century), Bali became a refuge for many Hindus. Balinese Hinduism is an amalgam in which gods and demigods are worshipped together with Buddhist heroes, the spirits of ancestors, indigenous agricultural deities and sacred places. Religion as it is practised in Bali is a composite belief system that embraces not only theology, philosophy, and mythology, but ancestor worship, animism and magic. It pervades nearly every aspect of traditional life. Caste is observed, though less strictly than in India. With an estimated 20,000 puras (temples) and shrines, Bali is known as the “Island of a Thousand Puras”, or “Island of the Gods”.

A religious procession

A religious procession

Balinese Hinduism has roots in Indian Hinduism and in Buddhism, and adopted the animistic traditions of the indigenous people. This influence strengthened the belief that the gods and goddesses are present in all things. Every element of nature, therefore, possesses its own power, which reflects the power of the gods. A rock, tree, dagger, or woven cloth is a potential home for spirits whose energy can be directed for good or evil. Balinese Hinduism is deeply interwoven with art and ritual. Ritualizing states of self-control are a notable feature of religious expression among the people, who for this reason have become famous for their graceful and decorous behaviour.

Apart from the majority of Balinese Hindus, there also exist Chinese immigrants whose traditions have melded with that of the locals. As a result, these Sino-Balinese not only embrace their original religion, which is a mixture of Buddhism, Christianity, Taoism and Confucianism, but also find a way to harmonise it with the local traditions. Hence, it is not uncommon to find local Sino-Balinese during the local temple’s odalan. Moreover, Balinese Hindu priests are invited to perform rites alongside a Chinese priest in the event of the death of a Sino-Balinese. Nevertheless, the Sino-Balinese claim to embrace Buddhism for administrative purposes, such as their Identity Cards.

Language

Balinese and Indonesian are the most widely spoken languages in Bali, and the vast majority of Balinese people are bilingual or trilingual. The most common spoken language around the tourist areas is Indonesian, as many people in the tourist sector are not solely Balinese, but migrants from Java, Lombok, Sumatra, and other parts of Indonesia. There are several indigenous Balinese languages, but most Balinese can also use the most widely spoken option: modern common Balinese. The usage of different Balinese languages was traditionally determined by the Balinese caste system and by clan membership, but this tradition is diminishing. Kawi and Sanskrit are also commonly used by some Hindu priests in Bali, for Hinduism literature was mostly written in Sanskrit.

English is a common third language (and the primary foreign language) of many Balinese, owing to the requirements of the tourism industry. Other foreign languages, such as Chinese, Japanese, Korean, French or German are often used in multilingual signs for foreign tourists.

Culture


Bali is renowned for its diverse and sophisticated art forms, such as painting, sculpture, woodcarving, handcrafts, and performing arts. Balinese cuisine is also distinctive. Balinese percussion orchestra music, known as gamelan, is highly developed and varied. Balinese performing arts often portray stories from Hindu epics such as the Ramayana but with heavy Balinese influence. Famous Balinese dances include pendet, legong, baris, topeng, barong, gong keybar, and kecak (the monkey dance). Bali boasts one of the most diverse and innovative performing arts cultures in the world, with paid performances at thousands of temple festivals, private ceremonies, or public shows.

A Kecak dance being performed at Uluwatu, in Bali

A Kecak dance being performed at Uluwatu, in Bali

The Hindu New Year, Nyepi, is celebrated in the spring by a day of silence. On this day everyone stays at home and tourists are encouraged to remain in their hotels. On the day before New Year, large and colourful sculptures of ogoh-ogoh monsters are paraded and finally burned in the evening to drive away evil spirits. Other festivals throughout the year are specified by the Balinese pawukon calendrical system.

Celebrations are held for many occasions such as a tooth-filing (coming-of-age ritual), cremation or odalan (temple festival). One of the most important concepts that Balinese ceremonies have in common is that of désa kala patra, which refers to how ritual performances must be appropriate in both the specific and general social context. Many of the ceremonial art forms such as wayang kulit and topeng are highly improvisatory, providing flexibility for the performer to adapt the performance to the current situation. Many celebrations call for a loud, boisterous atmosphere with lots of activity and the resulting aesthetic, ramé, is distinctively Balinese. Often two or more gamelan ensembles will be performing well within earshot, and sometimes compete with each other to be heard. Likewise, the audience members talk amongst themselves, get up and walk around, or even cheer on the performance, which adds to the many layers of activity and the liveliness typical of ramé.

Cremation in Ubud

Cremation in Ubud

Kaja and kelod are the Balinese equivalents of North and South, which refer to ones orientation between the island’s largest mountain Gunung Agung (kaja), and the sea (kelod). In addition to spatial orientation, kaja and kelod have the connotation of good and evil; gods and ancestors are believed to live on the mountain whereas demons live in the sea. Buildings such as temples and residential homes are spatially oriented by having the most sacred spaces closest to the mountain and the unclean places nearest to the sea.

Most temples have an inner courtyard and an outer courtyard which are arranged with the inner courtyard furthest kaja. These spaces serve as performance venues since most Balinese rituals are accompanied by any combination of music, dance and drama. The performances that take place in the inner courtyard are classified as wali, the most sacred rituals which are offerings exclusively for the gods, while the outer courtyard is where bebali ceremonies are held, which are intended for gods and people. Lastly, performances meant solely for the entertainment of humans take place outside the walls of the temple and are called bali-balihan. This three-tiered system of classification was standardised in 1971 by a committee of Balinese officials and artists to better protect the sanctity of the oldest and most sacred Balinese rituals from being performed for a paying audience.

Tourism, Bali’s chief industry, has provided the island with a foreign audience that is eager to pay for entertainment, thus creating new performance opportunities and more demand for performers. The impact of tourism is controversial since before it became integrated into the economy, the Balinese performing arts did not exist as a capitalist venture, and were not performed for entertainment outside of their respective ritual context. Since the 1930s sacred rituals such as the barong dance have been performed both in their original contexts, as well as exclusively for paying tourists. This has led to new versions of many of these performances which have developed according to the preferences of foreign audiences; some villages have a barong mask specifically for non-ritual performances as well as an older mask which is only used for sacred performances.

Balinese society continues to revolve around each family’s ancestral village, to which the cycle of life and religion is closely tied.[74] Coercive aspects of traditional society, such as customary law sanctions imposed by traditional authorities such as village councils (including “kasepekang”, or shunning) have risen in importance as a consequence of the democratisation and decentralisation of Indonesia since 1998.

Peta-Uluwatu-horz

Bali Gallery

Maps of Bali in Various Versions

BALI-MAP-002-150-100 BALI-MAP-003-150-100 BALI-MAP--001-150-100 BALI-MAP-ACTIVITIES-150-100 BALI-MAP-ACTIVITIES-2-150-100 BALI-MAP-CITIES IN BALI-150-100 BALI-MAP-DISTANCE-150-100 BALI-MAP--LOW-HILS-MOUNTAINS-150-100 BALI-MAP-PROVINCE-150-100 BALI-MAP-REGENCES IN BALI-150-00 BALI-MAP-TAMAN NASIONAL-150-100 BALI-MAP-TEMPLES IN BALI-150-100

Map of City Streets in Bali

BALI-MAP-CANDIDASA-150-100 BALI-MAP-JIMBARAN-150-100 BALI-MAP-KLUNGKUNG-150-100 BALI-MAP-KUTA-2-150-100 BALI-MAP-KUTA-150-100 BALI-MAP-KUTA LEGIAN-150-100 BALI-MAP-NUSA DUA-150-100 BALI-MAP-NUSA DUA-2-150-100 BALI-MAP-SANUR-150-100 BALI-MAP-SANUR-2-150-100 BALI-MAP-SANUR-3-150-100 BALI-MAP-SEMARA-PURA-150-100 BALI-MAP-SEMINYAK-150-100 BALI-MAP-TABANAN-150-100 BALI-MAP-TANJUNG BENOA-150-100 BALI-MAP-ULUWATU-150-100

Indonesia

7 Juli 2013

indonesia-72-2017

Related Post:

Republik Indonesia
Bendera Lambang
Motto: Bhinneka Tunggal Ika
(Bahasa Jawa Kuno: “Berbeda-beda tetapi tetap Satu”)
Ideologi nasional: Pancasila
Lagu kebangsaan Indonesia Raya
Ibu kota
(dan kota terbesar)
Jakarta
6.00°10.5′LU 106°49.7′BT
Bahasa resmi Bahasa Indonesia
Pemerintahan Republik Presidensial (Periode 2014 – 2019)
 – Presiden Joko Wododo
 – Wakil Presiden Jusuf Kalla
 – Ketua MPR Zulkifli Hasan
 – Ketua DPR Setya Novanto
 – Ketua DPD H. Irman Gusman S.E., MBA.
Legislatif Majelis Permusyawaratan Rakyat
 – Majelis Tinggi Dewan Perwakilan Daerah
 – Majelis Rendah Dewan Perwakilan Rakyat
Kemerdekaan dari Belanda
 – Diproklamasikan 17 Agustus 1945
 – Diakui (sebagai RIS) 27 Desember 1949
 – Kembali ke RI 17 Agustus 1950
Luas
 – Total 1,904,569 km2
 – Air (%) 4,85%
Penduduk
 – Perkiraan 19 Juni 2009 230.472.833
 – Sensus 2010 237.556.363
 – Kepadatan 124/km2
PDB (KKB) Perkiraan 2011
 – Total Rp. 10,706 triliun
(AS$ 1,121 miliar)
 – Per kapita Rp. 44,885 juta
(AS$ $4.700)
PDB (nominal) Perkiraan 2011
 – Total Rp. 4,821 triliun
(AS$ 846 miliar)
 – Per kapita Rp. 36,261 juta
(AS$ 3.797
IPM (2006) 0.734  (MENENGAH)
Mata uang Rupiah (Rp) (IDR)
Zona waktu WIB (+7), WITA (+8), WIT (+9)
Lajur kemudi Kiri
Ranah Internet .id
Kode telepon +62

Updates:

Jumlah penduduk Indonesia per 1 Juli 2015 : 255,461,700 (3.44% dari jumlah penduduk dunia). Data dari Wikipedia

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara. Dengan populasi sebesar 237 juta jiwa pada tahun 2010, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung.

Dengan jumlah total populasi sekitar 250 juta penduduk, Indonesia adalah negara berpenduduk terpadat nomor empat di dunia. Komposisi etnis di Indonesia amat bervariasi karena negeri ini memiliki ratusan ragam suku dan budaya. Meskipun demikian, lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh dua suku terbesar.

Dua suku terbesar ini adalah Jawa (41 persen dari total populasi) dan suku Sunda (15 persen dari total populasi). Kedua suku ini berasal dari pulau Jawa, pulau dengan penduduk terbanyak di Indonesia yang mencakup sekitar enam puluh persen dari total populasi Indonesia. Jika digabungkan dengan pulau Sumatra, jumlahnya menjadi 80 persen total populasi. Ini adalah indikasi bahwa konsentrasi populasi terpenting berada di wilayah barat Indonesia. Propinsi paling padat adalah Jawa Barat (lebih dari 43 juta penduduk), sementara populasi paling lengang adalah propinsi Papua Barat di wilayah Indonesia Timur (dengan populasi hanya sekitar 761,000 jiwa).

CLICK IMAGE TO VIEW FULL SIZE

CLICK IMAGE TO VIEW FULL SIZE

Ibu kota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat itu bernama Hindia-Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.

Peta Indonesia berdasarkan Provinsi dari Sabang sampai Merauke

peta indonesia elektrik

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah suku terbesar dengan populasi mencapai 41,7% dari seluruh penduduk Indonesia. Semboyan nasional Indonesia, Bhinneka tunggal ika (“Berbeda-beda tetapi tetap satu”), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.

Indonesia juga anggota dari PBB dan satu-satunya anggota yang pernah keluar dari PBB, yaitu pada tanggal 7 Januari 1965, dan bergabung kembali pada tanggal 28 September 1966 dan Indonesia tetap dinyatakan sebagai anggota yang ke-60, keanggotaan yang sama sejak bergabungnya Indonesia pada tanggal 28 September 1950. Selain PBB, Indonesia juga merupakan anggota dari ASEAN, APEC, OKI, G-20 dan akan menjadi anggota dari OECD.

Etimologi

Kata “Indonesia” berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti “Hindia” dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti “pulau”. Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat. Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk “Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu”. Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India. Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia-Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).

Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik. Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau pada tahun 1913.

Sejarah

Sejarah Awal

Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki “Manusia Jawa“, menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu. Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan. Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM, menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad. Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.

Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.

Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.

Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan. Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut “Zaman Keemasan” dalam sejarah Indonesia.

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15. Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Kolonialisme

Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel.

Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel.

Indonesia juga merupakan negara yang dijajah oleh banyak negara Eropa dan juga Asia, itu disebabkan Indonesia sejak zaman dahulu merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya yang melimpah, hingga membuat negara-negara Eropa tergiur untuk menjajah dan bermaksud menguasai sumber daya alamnya untuk pemasukan bagi negaranya, Negara-negara yang pernah menjajah diantaranya adalah;

  • Portugis pada tahun 1509, hanya Maluku, lalu berhasil diusir pada pada tahun 1595
  • Spanyol pada tahun 1521, hanya Sulawesi Utara, tetapi berhasil diusir pada tahun 1692.
  • Belanda pada tahun 1602, seluruh wilayah Indonesia.
  • Perancis secara tidak langsung menguasai Jawa pada periode 1806-1811 karena Kerajaan Belanda takluk kepada kekuatan Perancis. Ketika Louis Bonaparte adik Napoleon Bonaparte naik takhta Belanda pada tahun 1806, maka secara otomatis jajahan Belanda jatuh ke tangan Perancis. Periode ini berlangsung pada pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808-1811. Berakhir pada tahun 1811 ketika Inggris mengalahkan kekuatan Belanda-Perancis di pulau Jawa.
  • Inggris pada tahun 1811, sejak ditandatanganinya Kapitulasi Tungtang yang salah satunya berisi penyerahan Pulau Jawa dari Belanda kepada Inggris, Pada tahun 1814 dilakukanlah Konvensi London yang isinya pemerintah Belanda berkuasa kembali atas wilayah jajahan Inggris di Indonesia. Lalu baru pada tahun 1816, pemerintahan Inggris di Indonesia secara resmi berakhir.
  • Jepang pada tahun 1942, hanya 3,5 tahun, dan berakhir pada tahun 1945, sejak kekalahan Jepang kepada sekutu.
Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel. Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.

Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika, yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.

Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.

Indonesia merdeka

Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia.

Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang pada saat itu sedang bulan Ramadhan. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.

Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai ‘aksi kepolisian’ (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer. Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia (“Konfrontasi“), dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialiskomunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.

Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.

Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil “Mafia Berkeley“. Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik Korupsi, Kolusi, dan Nnepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.

Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.

Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.

Politik dan Pemerintahan

Gedung MPR-DPR

Gedung MPR-DPR

Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.

Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.

MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen. Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufiq Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.

Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).

Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.

Pimpinan DPD RI periode 2014-2019

DAFTAR PIMPINAN DPD RI, DPR RI DAN MPR RI PERIODE 2014-2019
October 12, 2014

Pimpinan DPD RI periode 2014-2015
Ketua  :

H. Irman Gusman S.E., MBA. (Sumatera Barat)

Wakil Ketua :

Prof. DR. Farouk Muhammad (Nusa Tenggara Barat)
Gusti Kanjeng Ratu Hemas (DIY)

Pimpinan DPR RI periode 2014-2019

Ketua :

Ade Komarudin (Golkar)

Wakil Ketua :

Fadli Zon (Gerindra)
Fahri Hamzah (PKS)
Taufik Kurniawan (PAN)
Agus Hermanto (Demokrat)

Pimpinan MPR RI periode 2014-2019

Ketua :

Zulkifli Hasan (PAN)

Wakil Ketua :

Mahyudin (Golkar)
EE Mangindaan (Demokrat)
Hidayat Nur Wahid (PKS)
Oesman Sapta (DPD)

Pembagian Administratif

PETA INDONESIA 1

Indonesia saat ini terdiri dari

  • 34 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda.
  • Provinsi dibagi menjadi 403 kabupaten dan 98 kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
  • Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan wali kota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.

Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[29] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[30] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[31] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[32]

Provinsi di Indonesia dan ibukotanya

Sumatera

  • Aceh – Banda Aceh
  • Sumatera Utara – Medan
  • Sumatera Barat – Padang
  • Riau – Pekanbaru
  • Kepulauan Riau – Tanjungpinang
  • Jambi – Jambi
  • Sumatera Selatan – Palembang
  • Kepulauan Bangka Belitung – Pangkal Pinang
  • Bengkulu – Bengkulu
  • Lampung – Bandar Lampung

Jawa

  • Daerah Khusus Ibukota Jakarta
  • Banten – Serang
  • Jawa Barat – Bandung
  • Jawa Tengah – Semarang
  • Daerah Istimewa Yogyakarta – Yogyakarta
  • Jawa Timur – Surabaya

Kepulauan Nusa Tenggara

  • Bali – Denpasar
  • Nusa Tenggara Barat – Mataram
  • Nusa Tenggara Timur – Kupang

Kalimantan

  • Kalimantan Barat – Pontianak
  • Kalimantan Tengah – Palangka Raya
  • Kalimantan Selatan – Banjarmasin
  • Kalimantan Timur – Samarinda
  • Kalimantan Utara – Tanjung Selor

Sulawesi

  • Sulawesi Utara – Manado
  • Gorontalo – Gorontalo
  • Sulawesi Tengah – Palu
  • Sulawesi Barat – Mamuju
  • Sulawesi Selatan – Makassar
  • Sulawesi Tenggara – Kendari

Kepulauan Maluku

  • Maluku – Ambon
  • Maluku Utara – Sofifi

Papua

  • Papua Barat – Manokwari
  • Papua – Jayapura

Daftar ibu kota provinsi di Indonesia

 

Yurisdiksi Ibu kota Populasi Gambar
Indonesia Jakarta 9.607.787  
Sumatera
Aceh Banda Aceh 223.446  
Sumatera Utara Medan 2.097.610
Sumatera Barat Padang 833.562
Riau Pekanbaru 897.767  
Jambi Jambi 531.857    
Sumatera Selatan Palembang 1.455.284
Bengkulu Bengkulu 308.544  
Lampung Bandar Lampung 881.801
Kepulauan Bangka Belitung Pangkal Pinang 174.000
Kepulauan Riau Tanjung Pinang 192.493
Jawa
Jakarta Jakarta 8.839.247
Yogyakarta Yogyakarta 511.744
Jawa Barat Bandung 2.288.570
Jawa Tengah Semarang 1.352.869
Jawa Timur Surabaya 2.611.506
Banten Serang 501.562
Sunda Kecil
Bali Denpasar 491,500
Nusa Tenggara Timur Kupang 269,680
Nusa Tenggara Barat Mataram 356.141
Kalimantan
Kalimantan Barat Pontianak 516.737
Kalimantan Tengah Palangka Raya 168.449  
Kalimantan Selatan Banjarmasin 693.566
Kalimantan Timur Samarinda 727.500
Kalimantan Utara Tanjung Selor 622.350
Sulawesi
Sulawesi Utara Manado 417.586  
Sulawesi Tengah Palu 268.664  
Sulawesi Selatan Makassar 1.168.258
Sulawesi Tenggara Kendari 226.056  
Sulawesi Barat Mamuju    
Gorontalo Gorontalo 138.354  
Maluku
Maluku Ambon 428.585  
Maluku Utara Sofifi 163.467  
Papua
Papua Jayapura 197,396
Papua Barat Manokwari    

Geografi

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki 13.487 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[34], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU – 11°08′LS dan dari 95°’BT – 141°45’BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut, searah penjuru mata angin, yaitu:

Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km, Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km, Timor Leste, dan Samudra Pasifik

Sumber daya alam

Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km

Pendidikan

Sesuai dengan konstitusi yang berlaku, yaitu berdasarkan UUD 1945 pasal 31 ayat 4 dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah mesti mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD diluar gaji pendidik dan biaya kedinasan. Namun pada tahun 2007 alokasi yang disediakan tersebut baru sekitar 17.2 %, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia, Thailand dan Filipina yang telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan lebih dari 28 %.

Ekonomi

800px-PDRB_per_kapita_Indonesia_2008.svgSistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.

677px-Indonesian_Rupiah_(IDR)_banknotes2009

Indonesian Rupiah (IDR) banknotes 2009

Indonesian_Rupiah_(IDR)_banknotes

Indonesian Rupiah (IDR) banknotes 2016

2016 Indonesian Rupiah

2016 Indonesian Rupiah “National Heroes” Series

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.

Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing. Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981. Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali, selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997 Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[40] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut. Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam memengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%. Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet. Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%. Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.

Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.

Peringkat internasional

Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122

Demografi

Kepadatan_2010

Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta, dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta. 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada. Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.

Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas di antaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa. Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.

Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.

Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

Kota-kota besar di Indonesia
  Kota Provinsi Populasi     Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.607.787 Indonesia
Indonesia
7 Depok Jawa Barat 1.738.570
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.487 8 Palembang Sumatera Selatan 1.648.292
3 Bandung Jawa Barat 2.394.873 9 Semarang Jawa Tengah 1.555.984
4 Bekasi Jawa Barat 2.334.871 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.338.663
5 Medan Sumatera Utara 2.097.610 11 Tangerang Selatan Banten 1.290.322
6 Tangerang Banten 1.798.601 12 Batam Kepulauan Riau 1.137.894

Kebudayaan

Pertunjukan

Wayang kulit warisan budaya Jawa.

Wayang kulit warisan budaya Jawa.

Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.

Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.

Busana

Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.

Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.

Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[60] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatera Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.

Arsitektur

Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.

Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.

Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.

Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.

Olahraga

Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008.

Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008.

Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.

Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas, dan Chris John.

Seni Musik

Seperangkat gamelan

Seperangkat gamelan

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta, yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.

Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia ‘dicuri’ oleh negara lain[65] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:

  • Angklung
  • Bende
  • Calung
  • Dermenan
  • Gamelan
  • Gandang Tabuik
  • Gendang Bali
  • Gondang Batak
  • Gong Kemada
  • Gong Lambus
  • Jidor
  • Kecapi Suling
  • Kulcapi Batak
  • Kendang Jawa
  • Kenong
  • Kulintang
  • Rebab
  • Rebana
  • Saluang
  • Saron
  • Sasando
  • Serunai
  • Seurune Kale
  • Suling Lembang
  • Sulim Batak
  • Suling Sunda
  • Talempong
  • Tanggetong
  • Tifa, dan sebagainya

Boga

Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis

Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis

Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya. Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.

Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.

Sambal, sate, bakso, soto, dan nasi goreng merupakan beberapa contoh makanan yang biasa dimakan masyarakat Indonesia setiap hari. Selain disajikan di warung atau restoran, terdapat pula aneka makanan khas Indonesia yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau pikulan. Pedagang ini menyajikan bubur ayam, mie ayam, mi bakso, mi goreng, nasi goreng, aneka macam soto, siomay, sate, nasi uduk, dan lain-lain.

Rumah makan Padang yang menyajikan nasi Padang, yaitu nasi disajikan bersama aneka lauk-pauk Masakan Padang, mudah ditemui di berbagai kota di Indonesia. Selain itu Warung Tegal yang menyajikan masakan Jawa khas Tegal dengan harga yang terjangkau juga tersebar luas. Nasi rames atau nasi campur yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di warung nasi di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran kecil dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima. Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu.

Perfilman

Poster film Tjoet Nja' Dhien (1988), film tentang pahlawan nasional Indonesia asal Aceh.

Poster film Tjoet Nja’ Dhien (1988), film tentang pahlawan nasional Indonesia asal Aceh.

Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[70] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[71] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[72] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[73] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.

Bahasa

Indonesia hanya memiliki satu bahasa nasional atau bahasa negara, yakni Bahasa Indonesia.Campur tangan negara terhadap bahasa nasional diselenggarakan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Indonesia memiliki lebih dari 721 bahasa daerah. Di antara ratusan bahasa daerah tersebut, yang paling banyak sebarannya adalah di Papua dan Kalimantan, sedangkan yang paling sedikit adalah di pulau Jawa. Menurut jumlah penuturnya, bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia berturut-turut adalah: Jawa (80 juta penutur), Melayu-Indonesia, Sunda, Madura, Batak, Minangkabau, Bugis, Aceh, Bali, Banjar.

Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah diperkenalkan oleh pemerintah Indonesia kepada para pelajar mulai jenjang pendidikan dasar. Meski demikian, dengan berbagai alasan terdapat upaya untuk menghapus pelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.

Bagi penganut agama Islam yang menjadi kaum mayoritas di Indonesia, bahasa Arab adalah bahasa asing yang memiliki kedudukan khusus, karena harus dipraktikkan dalam ibadah harian tertentu, misalnya salat. Meskipun demikian, bahasa Arab tidak menjadi bahasa pergaulan umum sejak periode awal keberadaannya di Indonesia.

Lingkungan Hidup

Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara.

Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara.

Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah “Mega biodiversity” atau “keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi”[83][84] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [85]

Rafflesia arnoldii bunga terbesar di dunia, diameternya mencapai 1,3 meter.

Rafflesia arnoldii bunga terbesar di dunia, diameternya mencapai 1,3 meter.

Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[86] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.

Jalan Toll

Daftar Jalan Toll di Indonesia yang sudah beroperasi
Island Province Toll Road name Operator
Sumatra North Sumatra Belmera Jasa Marga
Java Banten Jakarta-Serpong Toll Road Jasa Marga
Jakarta-Tangerang Toll Road Jasa Marga
Tangerang-Merak Toll Road Marga Mandala Sakti
Prof. Dr. Sedyatmo Toll Road (Soekarno-Hatta International Airport Toll Road) Jasa Marga
Jakarta Jakarta Inner Ring Road Jasa Marga & Citra Marga Nusaphala Persada
Jakarta Outer Ring Road Jasa Marga, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, Jalan Lingkar Barat & Bintaro Serpong Damai / Nusantara Infrastructure
Jakarta-Cikampek Toll Road Jasa Marga
Jagorawi Toll Road Jasa Marga
Jakarta-Tangerang Toll Road Jasa Marga
Jakarta-Serpong Toll Road Bintaro Serpong Damai / Nusantara Infrastructure
Prof. Dr. Sedyatmo Toll Road (Soekarno-Hatta International Airport Toll Road) Jasa Marga
West Java Jakarta-Cikampek Toll Road Jasa Marga
Cipularang Toll Road Jasa Marga
Padaleunyi Toll Road Jasa Marga
Jagorawi Toll Road Jasa Marga
Bogor Ring Road  
Palimanan-Kanci Toll Road Jasa Marga
Kanci-Pejagan Toll Road Bakrie Toll Road
Central Java Semarang Section A,B,C Toll Road Jasa Marga
Semarang Ungaran toll road Jasa Marga
East Java Surabaya-Gresik Toll Road Jasa Marga
Surabaya-Gempol Toll Road Jasa Marga
Surabaya/Waru-Juanda International Airport Toll Road Citra Marga Nusaphala Persada
Surabaya-Madura Bridge Toll Road Jasa Marga
Bali Bali Bali Mandara Toll Road Jasa Marga
Sulawesi Makassar Makassar Airport Toll Road Jalan Tol Seksi Empat / Nusantara Infrastructure
Makassar Seaport – Tallo Bosowa Marga Nusantara / Nusantara Infrastructure

June 10, 2014 by the BBC World News

Indonesia Profile

Overview

_55373014_indonesiaSpread across a chain of thousands of islands between Asia and Australia, Indonesia has the world’s largest Muslim population and Southeast Asia’s biggest economy.

Ethnically it is highly diverse, with more than 300 local languages. The people range from rural hunter-gatherers to a modern urban elite.

Sophisticated kingdoms existed before the arrival of the Dutch, who consolidated their hold over two centuries, eventually uniting the archipelago in around 1900.

After Japan’s wartime occupation ended, independence was proclaimed in 1945 by Sukarno, the independence movement’s leader.

The Dutch transferred sovereignty in 1949 after an armed struggle.

Economic Growth

Long-term leader General Suharto came to power in the wake of an abortive coup in 1965. He imposed authoritarian rule while allowing technocrats to run the economy with considerable success.

But his policy of allowing army involvement in all levels of government, down to village level, fostered corruption. His “transmigration” programmes – which moved large numbers of landless farmers from Java to other parts of the country – fanned ethnic conflict.

Suharto fell from power after riots in 1998 and escaped efforts to bring him to justice for decades of dictatorship.

Post-Suharto Indonesia has made the transition to democracy. Power has been devolved away from the central government and the first direct presidential elections were held in 2004.

Indonesia has undergone a resurgence since the 1997 Asian financial crisis, becoming one of the world’s major emerging economies.


At a Glance

  • Politics: Democracy followed the end of Suharto’s three decades of dictatorial rule in 1998
  • Economics: Indonesia is the regions biggest economy and a member of the G20 group of the world’s richest nations

Investors are attracted by a large consumer base, rich natural resources and political stability.

Traditional markets and modern high rises co-exist in the region's biggest economy

Traditional markets and modern high rises co-exist in the region’s biggest economy

Secessionists

The country faces demands for independence in several provinces, where secessionists have been encouraged by East Timor’s 1999 success in breaking away after a traumatic 25 years of occupation.

Militant Islamic groups have flexed their muscles over the past few years. Some have been accused of having links with al-Qaeda, including the group blamed for the 2002 Bali bombings, which killed 202 people.

Lying near the intersection of shifting tectonic plates, Indonesia is prone to earthquakes and volcanic eruptions. A powerful undersea quake in late 2004 sent massive waves crashing into coastal areas of Sumatra, and into coastal communities across south and east Asia. The disaster left more than 220,000 Indonesians dead or missing.

Indonesia is vulnerable to volcanic eruptions, such as this one on the island of Sumatra

Indonesia is vulnerable to volcanic eruptions, such as this one on the island of Sumatra

Facts of Indonesia

  • Full name: Republic of Indonesia
  • Population: 242.8 million (UN, 2012)
  • Capital: Jakarta
  • Area: 1.9 million sq km (742,308 sq miles)
  • Major languages: Indonesian, 300 regional languages
  • Major religion: Islam
  • Life expectancy: 68 years (men), 72 years (women) (UN)
  • Monetary unit: 1 rupiah (Rp)
  • Main exports: Oil and gas, plywood, textiles, rubber, palm oil
  • GNI per capita: US $2,940 (World Bank, 2011)
  • Internet domain:.id
  • International dialling code: +62

Leader

Outgoing president: Susilo Bambang Yudhoyono

Former army general Susilo Bambang Yudhoyono won Indonesia’s first-ever direct presidential elections in September 2004, in what was hailed as the first peaceful transition of power in Indonesia’s history.

He was re-elected in July 2009 in a landslide victory on the back of improved security and strong growth in Southeast Asia’s biggest economy.

He is to be replaced in mid-2014 after the presidential election.

Mr Yudhoyono has cultivated an image as a tough corruption fighter with high moral integrity; pledges to crack down even harder on corruption were one of the main planks of his 2009 election campaign.

But the sentencing in 2012 of a former Democratic Party treasurer on corruption charges caused embarrassment for the president’s ruling party.

Mr Yudhoyono is credited with having ushered in an era of financial stability. The global financial crisis of 2008-9 did not hit Indonesia as badly as some of its neighbours, though millions of Indonesian citizens still live under the poverty line.

He has identified the fight against terrorism as a key challenge, and has warned that Indonesia’s reputation for pluralism is threatened by a growing trend of religious extremism.

The first year of Mr Yudhoyono’s first term brought perhaps his biggest challenge, the 2004 Asian tsunami disaster. His administration also won international plaudits for signing a peace deal in 2005 with separatist rebels in Aceh province.

Mr Yudhoyono, a fluent English speaker, studied for his master’s degree in the US. Rising through the ranks under former President Suharto, he led Indonesia’s peacekeeping contingent in Bosnia in the 1990s.

Mr Yudhoyono also completed several tours of duty in the Indonesian-occupied East Timor.

Married with two sons, the president has released several albums featuring his own love songs, some of them now covered by Indonesian boy bands.

Indonesia Timeline

 A chronology of Key Events:

  • 1670-1900 – Dutch colonists bring the whole of Indonesia under one government as the Dutch East Indies.
  • 1928 – A youth conference pledges to work for “one nation, one language, one people” for Indonesia.
  • 1942 – Japan invades Dutch East Indies.
  • 1945 – The Japanese help independence leader Sukarno return from internal exile and declare independence.
  • 1949 – The Dutch recognise Indonesian independence after four years of guerrilla warfare.
  • 1950s – Maluku (Moluccas) declares independence from Indonesia and fights an unsuccessful separatist war
  • 1962 – Western New Guinea, or West Papua, held by the Netherlands, is placed under UN administration and subsequently occupied by Indonesian forces. Opposition to Indonesian rule erupts.
Sukarno: Indonesia's Founding Father

Sukarno: Indonesia’s Founding Father

Suharto Comes to Power

  • 1965 – Failed coup: In the aftermath, hundreds of thousands of suspected Communists are killed in a purge of leftists which descends into vigilantism.
  • 1966 – Sukarno hands over emergency powers to General Suharto, who becomes president in March 1967.
  • 1969 – West Papua formally incorporated into Indonesia, becoming Irian Jaya Province.
  • 1975 – Portugal grants East Timor independence.
  • 1976 – Indonesia invades East Timor and incorporates it as a province.
  • 1997 – Asian economic crisis: Indonesian rupiah plummets in value.
  • 1998 – Protests and rioting topple Suharto; B J Habibie becomes president.

East Timor Independence Vote

  • 1999 – Ethnic violence breaks out in Maluku. Free elections are held in Indonesia. East Timor votes for independence in UN-sponsored referendum, after which anti-independence militia go on the rampage. East Timor comes under UN administration. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) becomes president.
  •  2000 – Two financial scandals dog the Wahid administration: Buloggate (embezzled funds from the state logistics agency), and Bruneigate (missing humanitarian aid funds from the Sultan of Brunei). The corruption case against former President Suharto collapses. Irian Jaya separatists become more vocal in demanding a referendum.
  • 2001 – Ethnic violence in Kalimantan as indigenous Dayaks force out Madurese transmigrants. Mass political demonstrations by Wahid’s supporters and opponents. IMF stops further loans citing lack of progress in tackling corruption.

Megawati Sworn In

  • 2001 July – Parliament dismisses President Wahid over allegations of corruption and incompetence. Vice President Megawati Sukarnoputri is sworn in as his replacement, even as Wahid refuses to leave the presidential palace.
  • 2002 January – Indonesia inaugurates human rights court which is expected to test government’s willingness to hold the military accountable for atrocities in East Timor after the 1999 independence vote. Irian Jaya province granted greater autonomy by Jakarta, allowed to adopt locally-preferred name of Papua.
  • 2002 May – East Timor becomes independent.
  • 2002 August – Constitutional changes are seen as a step towards democracy. For the first time, voters will be able to elect a president and vice president.

Bali Attacks

  • 2002 October – Bomb attack on the Kuta Beach nightclub district on Bali kills 202 people, most of them tourists. 
    • Muslim Cleric Abu Bakar Ba’asyir is arrested shortly after the bombings. He is accused of plotting to overthrow the government as the alleged spiritual leader of Jemaah Islamiah (JI), the group thought to be behind the Bali bombing.
  • 2002 December – Government and separatist Free Aceh Movement (Gam) sign peace deal in Geneva, aimed at ending 26 years of violence.
    • The accord provides for autonomy and free elections in the Muslim oil-rich province of Aceh; in return the Gam must disarm.
  • 2003 May – Peace talks between government and Gam separatists break down; government mounts military offensive against Gam rebels.
    • Martial law is imposed.
  • 2003 August – Car bomb explodes outside the Marriott Hotel in Jakarta, killing 14 people.
  • 2003 August-October – Three Bali bombing suspects are found guilty and sentenced to death for their roles in the 2002 attacks.
    • A fourth suspect is given life imprisonment. bu Bakar Ba’asyir is cleared of treason but jailed for subversion and immigration offences. The subversion charge is later overturned.
  • 2004 April – Parliamentary and local elections: Golkar party of former President Suharto wins greatest share of vote, with Megawati Sukarnoputri’s PDI-P coming second.
  • 2004 July – First-ever direct presidential elections; first round narrows field to Susilo Bambang Yudhoyono and incumbent Megawati Sukarnoputri.
  • 2004 September – Car bomb attack outside Australian embassy in Jakarta kills nine, injures more than 180. 
    • Former general Susilo Bambang Yudhoyono wins second round of presidential elections, unseating incumbent Megawati Sukarnoputri.
  • 2004 November – End of two-year process under which 18 people were tried by Indonesian court for human rights abuses in East Timor during 1999 crisis. Only one conviction – that of militia leader Eurico Guterres – is left standing.

Tsunami; Aceh Deal

  • 2004 December – More than 220,000 people are dead or missing in Indonesia alone after a powerful undersea earthquake off Sumatra generates massive tidal waves. The waves devastate Indian Ocean communities as far afield as Thailand, India, Sri Lanka and Somalia.
  • 2005 March – Court finds Muslim cleric Abu Bakar Ba’asyir guilty of conspiracy over 2002 Bali bombings, sentences him to two-and-a-half years in jail. He is freed in June 2006. 
    • A powerful earthquake off Sumatra kills at least 1,000 people, many of them on the island of Nias. The quake triggers tsunami alerts around the Indian Ocean.
  • 2005 August – Government and Free Aceh Movement separatists sign a peace deal providing for rebel disarmament and the withdrawal of government soldiers from the province. Rebels begin handing in weapons in September; government completes troop pull-out in December.
  • 2005 September – Airliner crashes on take-off from Sumatran city of Medan, killing more than 100 passengers and around 50 people on the ground.
  • 2005 October – Three suicide bombings on the resort island of Bali kill 23 people, including the bombers
  • 2006 January – East Timorese report accuses Indonesia of widespread atrocities during its 24-year occupation, holding it responsible for the deaths of more than 100,000 people.
  • 2006 February-March – Deadly protests at a major US-owned gold and copper mine in Papua province follow attempts to remove illegal prospectors from the site.
  • 2006 May – A powerful earthquake kills thousands of people on Java.
  • 2006 July – A tsunami, triggered by a large undersea earthquake, kills more than 500 people on Java.

Aceh Elections

  • 2006 December – First direct elections held in Aceh province, consolidating the August 2005 peace accord. Former separatist rebel leader Irwandi Yusuf elected governor.
  • 2007 June – Police capture the alleged head of the militant group Jemaah Islamiah (JI), Zarkasih, and the leader of the group’s military wing, Abu Dujana.
  • 2007 December – Alleged JI leader Zarkasih goes on trial in Jakarta.
  • 2008 January – Former President Suharto dies.
Former President Suharto died in 2008. He led Indonesia for 32 years until 1998

Former President Suharto died in 2008. He led Indonesia for 32 years until 1998

  • 2008 July – Final report by joint Indonesian-East Timorese Truth Commission blames Indonesia for the human rights violations in the run-up to East Timor’s independence in 1999 and urges it to apologise. President Yudhoyono expresses “deep regret” but stops short of an apology.
  • 2008 November – Three Islamic militants convicted of carrying out the 2002 Bali bombings are executed.
  • 2009 July – President Susilo Bambang Yudhoyono wins re-election. 
    • Twin suicide bomb attacks on the JW Marriott and Ritz-Carlton hotels in Jakarta kill nine people and injure scores of others.

Pressure Mounts on Militants

  • 2009 September – Police shoot dead Indonesia’s most-wanted Islamist militant Noordin Mohammad Top, thought to be responsible for a series of deadly attacks across the archipelago.
  • 2010 February-March – Several suspected militants are arrested in series of raids on alleged training camps of groups thought to be linked to Jemaah Islamiah (JI) in Aceh province. Fourteen men are charged with plotting to launch terrorist attacks.
  • 2010 March – Police shoot dead Dulmatin – an alleged leading member of JI and the last main suspect in the 2002 Bali bombings still at large – during a raid on a Jakarta internet cafe.
  • 2010 October – Indonesia admits that men seen torturing Papuan villagers in a video are members of the military.
    • President Yudhoyono calls off a state visit to the Netherlands because of a threatened bid by separatists to have him arrested.
  • 2010 November – US President Barack Obama visits, hailing Indonesia as an example of how a developing nation can embrace democracy and diversity.
  • 2011 February – Two churches are set alight in central Java during a protest by hundreds of Muslims about blasphemy.
    • Three members of the Ahmadiyah sect, a minority Muslim group, are bludgeoned to death in a mob attack in West Java.
  • 2011 June – Radical cleric Abu Bakar Ba’asyir gets 15-year jail sentence for backing an Islamist militant training camp.
  • 2011 December – Pay deal ends acrimonious three-month strike by 8,000 workers at copper and gold mine owned by US company Freeport-McMoran in the restive eastern province of Papua.
    • Dutch government apologises for massacre of at least 150 people in the village of Rawagede, on the island of Java, in 1947, during Indonesia’s war of independence.
  • 2012 March – Court sentences Islamist militant Pepi Fernando to 18 years in prison for a parcel-bombing campaign targeting Muslim leaders and police.
  • 2012 June – Jakarta court sentences bombmaker Umar Patek to 20 years in prison for his role in the 2002 Bali attacks. He was extradited from Pakistan in 2011. The sentencing brings to an end the 10-year investigation into the bombings.
  • 2013 February – Eight soldiers are shot dead in two separate attacks by armed men in Papua province.
  • 2013 June – Parliament approves a major petrol and diesel price hike to cut the ballooning fuel subsidy, sparking violent protests.
  • 2013 September – Via its ambassador in Jakarta, the Netherlands publicly apologises for summary executions carried out by the Dutch army in the 1940s.
  • 2013 November – Major diplomatic row with Australia over allegations that Australia spied on the president.
  • 2014 April – Preparations for 9 April parliamentary polls.