Tag Archives: Indonesia

Jembatan Youtefa

JEMBATAN YOUTEFA

Jembatan Youtefa (sebelumnya bernama Jembatan Holtekamp) adalah jembatan di atas Teluk Youtefa, Provinsi Papua yang menghubungkan Holtekamp dengan Hamadi sepanjang 732 meter dengan lebar 21 meter. Jembatan ini merupakan jembatan tipe Pelengkung Baja yang dapat memperpendek jarak dan waktu tempuh dari Kota Jayapura ke Distrik Muara Tami dan ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw daerah perbatasan Indonesia – Papua Nugini. Sebelum jembatan ini dibangun, perjalanan dari kawasan pemerintahan menuju Distrik Muara Tami menempuh jarak sejauh 35 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Namun, bila melewati Jembatan Youtefa maka jaraknya menjadi sekitar 12 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Pembangunan Jembatan Youtefa merupakan kolaborasi antara Pemerintah Pusat Kementerian PUPR, Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kota Jayapura dengan pembagian sebagai berikut:

Pembangunan jembatan ini dilakukan oleh konsorsium kontraktor PT Pembangunan Perumahan, Tbk, PT Hutama Karya (persero), dan PT Nindya Karya (persero) dengan total biaya pembangunan sebesar Rp 1,87 Triliun dengan sokongan dana khusus APBN dari Kementerian PUPR senilai Rp 1,3 triliun.[3] Jembatan ini mulai dibangun bulan Mei 2015. Perakitan bentang utama Jembatan Youtefa yang merupakan tipe Box Baja Pelengkung tidak dilakukan di lokasi jembatan, namun di PT PAL Indonesia Surabaya. Produksi jembatan di Surabaya bertujuan meningkatkan aspek keselamatan kerja, meningkatkan kualitas pengelasan, dan mempercepat waktu pelaksanaan hingga 3 bulan.

Ini kali pertama, pembangunan jembatan dimana jembatan pelengkungnya dibuat utuh di tempat lain kemudian dibawa ke lokasi. Dari Surabaya bentang jembatan seberat 2000 ton dan panjang 112,5 m ini dikirim menggunakan kapal laut dengan menempuh perjalanan sejauh 3.200 kilometer dalam waktu 19 hari. Pemasangan bentang pertama dilakukan pada 21 Februari 2018 sedangkan bentang kedua dipasang pada 15 Maret 2018 dengan waktu pemasangan kurang lebih 6 jam.

Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan 2 rekor pada proyek pembangunan Jembatan Youtefa yakni rekor pengiriman jembatan rangka baja utuh dengan jarak terjauh, dan rekor pemasangan jembatan rangka baja utuh terpanjang.

Jembatan Youtefa diresmikan Presiden Joko Widodo pada 28 Oktober 2019.

Headlines

Resmikan Jembatan Youtefa, Presiden Jokowi: Jadikan sebagai Momentum Papua Bangkit Maju

Data dari KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Senin, 28 Oktober 2019

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Presiden Joko Widodo meresmikan Jembatan Youtefa yang terletak di Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada Senin, 28 Oktober 2019. Presiden Jokowi berharap Jembatan Youtefa bisa menjadi tonggak sejarah di Tanah Papua, bukan hanya simbol persatuan bangsa, tetapi juga simbol pentingnya sebuah kemajuan untuk membangun Tanah Papua.

“Tanah Papua harus maju, seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi. Itu adalah hal yang saya lihat setiap kali berkunjung ke Tanah Papua. Kalau tidak keliru hitung, saya sudah 13 kali hadir di Tanah Papua,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya.

Presiden Jokowi memandang bahwa merawat dan memajukan Papua adalah tugas bersama kita sebagai bangsa Indonesia. Itulah mengapa Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja pertama ke Papua dan Papua Barat usai dilantik pada 20 Oktober 2019 lalu.

“Semua itu saya lakukan untuk memastikan sendiri, untuk memastikan sendiri bahwa Tanah Papua dibangun dan tidak dilupakan dalam kemajuan Indonesia yang kita cintai ini,” kata Presiden.

Selama periode pertama pemerintahannya, Presiden Jokowi telah berkeliling Indonesia, sampai ke pedalaman-pedalaman di wilayah Indonesia bagian timur. Dari situlah Presiden Jokowi melihat adanya ketimpangan infrastruktur antara wilayah bagian barat, tengah, dan timur Indonesia.

“Ini kalau kita biarkan akan menyulitkan kita untuk bersatu sebagai sebuah bangsa besar. Karena itu saya selalu mendorong pembangunan infrastruktur khususnya di wilayah Indonesia bagian timur untuk dipercepat. Dan tentu saja nanti pararel dengan pembangunan sumber daya manusia yang juga ingin kita kerjakan,” kata Presiden, sebagaimana dilansir dari siaran pers Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Erlin Suastini.

Pembangungan infrastruktur tersebut, kata Presiden, selain menghadirkan manfaat secara nyata bagi rakyat, juga bertujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia, membangun konektivitas, membangun hubungan antarpulau, provinsi, kota dan kabupaten.

Menurutnya, semua infrastruktur perhubungan, termasuk jembatan, akan membuat pergerakan barang dan pergerakan manusia menjadi lebih cepat dan lebih lancar, sehingga rakyat akan mendapatkan harga-harga barang dan harga-harga jasa yang jauh lebih murah. Ujungnya, mempersatukan masyarakat karena ada interaksi dan komunikasi yang lancar antarmasyarakat kita.

“Begitu juga halnya dengan Jembatan Youtefa yang akan kita resmikan sekarang ini. Jembatan yang telah dibangun selama empat tahun dan menghabiskan anggaran biaya Rp1,8 triliun. Ini kalau dimiliarkan, Rp1.800 miliar, silahkan kalau mau ngitung,” kata Presiden.

Jembatan Youtefa sendiri terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama merupakan jalan akses sepanjang 9.950 meter, bagian kedua adalah jalan pendekat sepanjang 320 meter, dan bagian ketiga berupa jembatan pendekat sisi Holtekamp sepanjang 900 meter, dengan bentang utama jembatan sepanjang 433 meter.

Presiden menjelaskan, Jembatan Youtefa ini hadir sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan kepadatan penduduk di Kota Jayapura sehingga kawasan Kota Jayapura dapat dikembangkan ke arah perbatasan di Skouw. Selain itu, jembatan ini juga mempersingkat waktu tempuh sekitar 70 menit dari Kota Jayapura menuju Distrik Muara Tami dan pos lintas batas negara di Skouw.

“Saya juga mendapat laporan bahwa Jembatan Youtefa ini telah menjadi landmark, telah menjadi ikon baru Papua yang akan menjadi sarana pendukung dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) di tahun 2020 yang akan diselenggarakan di Papua, seperti cabang olah raga dayung dan ski air. Ini menunjukkan bahwa sebuah jembatan memiliki banyak fungsi bagi masyarakat dan mempunyai multiplier effect yang menguntungkan masyarakat,” kata Presiden.

Kepala Negara berharap masyarakat Jayapura bersama-sama dengan pemerintah daerah bersungguh-sungguh menjaga Jembatan Youtefa ini, baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ia juga berharap jembatan ini bisa ditata dan dipercantik dengan lampu-lampu dan taman-taman yang menarik.

“Karena sekarang Jembatan Youtefa sudah jadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Jayapura, tidak bisa terpisahkan dari masyarakat Papua,” kata Presiden.

Di pengujung sambutannya, Presiden juga meminta agar pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah Kota Jayapura memanfaatkan dengan baik keberadaan Jembatan Youtefa ini untuk mengembangkan potensi wisata bahari yang ada di Teluk Youtefa. Imbasnya, diharapkan akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Tanah Papua.

“Jadikan Jembatan Youtefa ini sebagai momentum untuk Papua bangkit maju yang melahirkan kemajuan-kemajuan, melahirkan pemuda-pemuda Papua yang berprestasi dan memiliki daya saing di kancah global,” kata Presiden.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam acara peresmian Jembatan Youtefa antara lain Ibu Negara Iriana, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Selain itu turut hadir pula Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Plt. Kapolri Komjen Ari Dono, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Hinsa Siburian, Gubernur Papua Lukas Enembe, dan Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano. (Humas Kemensetneg)

Jembatan Holtekamp Berganti Nama Jadi Youtefa

Source: okezone

Jembatan Holtekamp Jayapura, Papua. (Foto: Okezone.com/Dok. Kementerian PUPR)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya meresmikan Jembatan Youtefa di Papua, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Sebelumnya, jembatan ini dikenal sebagai Jembatan Holtekamp yang menjadi ikon baru di Papua.

Beberapa bulan lalu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan alasan dari perubahan nama jembatan tersebut. Dia mengatakan alasan utamanya adalah karena daerah dari Jembatan Youtefa sendiri yang berada di Teluk Youtefa.

“Jadi karena ini memang di daerah Teluk Youtefa. Jadi sangat relevan sekali usulan nama itu. Saya akan sampaikan kepada bapak Presiden (Jokowi) kalau ini namanya diusulkan sebagai Jembatan Youtefa,” ujarnya saat meninjau Jembatan Holtekamp, Jayapura, Papua.

Sebelumnya, Jembatan Youtefa di Papua akhirnya diresmikan hari ini. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, jembatan ini diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dulu, jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Holtekamp. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui akun resmi Instagramnya.

“#KabarPUPR – Empat tahun dibangun, akhirnya Jembatan Youtefa di Papua diresmikan Presiden @jokowi hari ini, Senin (28/10) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Jembatan yang dulu sering dikenal dengan nama Jembatan Holtekamp ini menghubungkan daerah Hamadi menuju Holtekamp,” tulis @kemenpupr di Instagram, Senin (28/10/2019).

Jembatan Youtefa memiliki panjang kurang lebih 1.800 meter dan lebar 17 meter. Pasalnya, jembatan ini menghubungkan daerah Hamadi menuju Holtekamp.

Dengan adanya jembatan ini, maka waktu tempuh dari Kota Jayapura menuju PLBN Skouw bisa terpangkas. Dari 1,5-2 jam perjalanan, akan terpangkas hingga 30-45 menit.

Perlu diketahui, Jembatan Youtefa juga mendorong pengembangan Kota Jayapura ke arah Skouw, menunjang wisata bahari di Teluk Youtefa, dan akan mendukung pelaksanaan PON XX Papua Tahun 2020. Ini merupakan salah satu bukti komitmen Presiden Jokowi di wilayah Timur Indonesia.

Adapun total keseluruhan biaya pembangunan mencapai Rp1,8 triliun. Jembatan ini juga terdiri dari dua bentang utama dengan pelengkung baja. Masing-masing panjang bentang utama 150 meter, tinggi 20 meter dan berat 2.000 ton.

Awalnya, Jembatan Youtefa ditargetkan akan rampung pada Juli 2019. Namun, molor hingga baru bisa diresmikan pada akhir Oktober 2019.

(fbn)

Source: Wikpedia, Times Indonesia, Okezone

Habiskan Rp 1,8 Triliun, Ini Progres Pembangunan Jembatan Holtekamp di Papua

Berita Kompas – 23/05/2019, 09:35 WIB. Penulis Kontributor Jayapura, Dhias Suwandi | Editor Robertus Belarminus

Sejak dimulai pada 9 Mei 2015, kini pembangunan Jembatan Holtekamp di Kota Jayapura, Papua, sudah mendekati 100 persen dan dijadwalkan pada Juli 2019 bisa diresmikan. Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) XVIII Papua, Osman Marbun, di Kota Jayapura, kamis (23/05/2019), mengatakana, progres pembangunan Jembatan Holtekamp tinggal menyelesaikan pembangunan akses jalan pendekat dari arah Holtekamp. “Jalan akses Holtekamp yang panjanganya 7,5 Km kini sudah selesai 5 Km, kemudian jalan akses di Pantai Hamadi sedang kami lebarkan dan dibangun trotoarnya supaya lebih rapih,” ujar Osman.

Selain itu, pemerintah juga tengah membangunkan akses jalan untuk masyarakat Kampung Enggros yang letaknya paling dekat dengan jembatan dan keberadaannya ada di pulau. “Kan masyarakat harus kami fasilitasi juga, masa kita bangun jembatan sebesar ini tapi masyarakat tidak bisa keluar masuk menggunakan jembatan ini dan tetap memakai perahu, kan lucu,” tutur dia.

Hingga kini, total pembiayaan yang telah dikeluarkan mencapai Rp 1,8 triliun. Rp 1,3 triliun berasal dari APBN dan sisanya dikucurkan APBD Provinsi papua dan Kota Jayapura. Osman berharap, Presiden Joko Widodo bisa meresmikan Jembatan Holtekamp karena peletakan batu pertamnya pun dilakukan oleh presiden. “Secara keseluruhan untuk jembatannya sudah tuntas 100 persen, jadi kami tinggal serahkan ke Pak Presiden, menteri dan pemerintah daerah tentang kapan peresmiannya karena semua sudah siap,” tutur dia. Jembatan Holtekamp jadi obyek wisata Keberadaan Jembatan Holtekamp diyakini bisa mendongkrak dunia pariwisata di Kota Jayapura.

Bahkan, meski belum dibuka untuk umum, animo masyarakat untuk berswafoto di lokasi tersebut sangat tinggi, terutama pada akhir pekan. Karenanya, BBPJN XVIII telah memiliki rencana untuk melengkapi Jembatan Holtekamp dengan fasilitas umum. “Ini sebagai daerah tujuan wisata sudah pasti akan membangkitkan ekonomi masyarakat. Nanti ini akan dipercantik, akan ada fasilitas umum, kemudian pengembangan berikutnya bisa saja ada penginapan, lalu kios-kios penjual cindera mata,” ucap Osman.

Hal tersebut pun diamini oleh Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi Papua, Iwanta Parangin-Angin. Dia mengatakan, Kota Jayapura kekurangan obyek wisata dan keberadaan Jembatan Holtekamp bisa menutupi hal tersebut. Tidak hanya fisik jembatannya yang akan menjadi objek wisata, Iwanta menyebut, keberadaan infrastruktur tersebut dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang ingin berkunjung ke pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang merupakan titik perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini.

“Kalau Jembatan Holtekam sudah beroperasi itu otomatis membuat jarak tempuh lebih dekat dan kami menjual paketnya lebih enak. Selain itu, juga bisa menjadi obyek wisata,” tutur dia. Iwanta menyebut, kini keberadaan PLBN Skouw yang merupakan perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini sudah bisa menarik minat wisatawan domestik, tetapi belum wisatawan mancanegara. Ia menegaskan, untuk rute perbatasan, diperlukan fasiltas penunjang lainnya karena jarak tempuhnya yang cukup jauh, bahkan kini waktu perjalanannya mencapai dua jam.

Hal tersebut bisa diatasi dengan adanya Jembatan Holtekam yang bisa memangkas jarak tempuh dari wilayah Kota Jayapura menuju PLBN Skouw. “Dengan keberadaan Jembatan Holtekam, untuk menuju ke perbatasan Skouw dari sebelumnya memerlukan waktu sekitar dua jam, maka waktunya akan menjadi sekitar 45 menit saja,” ucap dia. Sebagai informasi, panjang Jembatan Holtekamp mencapai 732 meter dengan bentang utamanya adalah 433 meter dan lebar jalan di jembatan 21 meter.

Liliyana Natsir

Liliyana Natsir (born 9 September 1985) is a retired Indonesian badminton player who specialized in doubles. With one gold and silver from the Olympic Games, and four gold medals at the BWF World Championships, she is regarded as one of the greatest mixed doubles players of all-time. Natsir was the second Indonesian woman Olympic gold medalist, after Susi Susanti won gold in 1992. She gained huge success by partnering with two different players. Her current partner is Tontowi Ahmad since 2010, after being separated from her previous partner, Nova Widianto. She also won three titles in a row from 2012–2014 at All England Badminton Championships, one of the most prestigious and oldest tournament in the sport. Been entering the top level since 18 years old, her tactical awareness, game vision, and dominance at the front court are considered as one of the best in the tour. In 2016, she and Tontowi Ahmad became the first Indonesian mixed doubles pair to win gold medal at the Olympic Games by beating Chan Peng Soon and Goh Liu Ying of Malaysia.

Personal Life

Natsir is a daughter of Beno Natsir (father) and Olly Maramis (mother).

Early Life

Natsir had dreamed of being a badminton athlete since childhood. She started playing badminton at the age of nine at her local badminton club in Manado. Three years later, she decided to move to Jakarta and entered her youth club, Tangkas Alfamart. She joined the national badminton team of Indonesia in 2002 together with Natalia Poluakan, her longtime friend from Manado. When she and Poluakan won the women’s doubles title in Pekan Olahraga Nasional (National Games), Richard Mainaky noticed her game and invited her to play in mixed doubles with Nova Widianto.

Career

In 2006, Natsir and Widianto won the Asian Championships in mixed doubles and four World Grand Prix titles. They won the BWF World Championships in both 2005 and 2007. While Natsir had previously focused on mixed doubles with partner Nova Widianto, in 2007 she began playing women’s doubles with Vita Marissa. In the 2007 Southeast Asian Games in Thailand, Natsir and Marissa won the gold medal in women’s doubles, defeating their Indonesian teammates Jo Novita and Greysia Polii in straight sets. They also helped the Indonesian women’s team win the team gold medal at the games. In the beginning of 2009 Marissa resigned from national team. When this decision came out, Marissa and Natsir had to split up and each focus on their own career. One year later, in September 2010, the badminton world was surprised by the sudden split of world number #1 mixed-doubles pair Widianto and Natsir. In total, Nova and Liliyana had clinched two World Championship gold medals and 14 titles all together, and were still at world #1 when the decision was announced. Since then Lilyana has paired with the younger player Tontowi Ahmad in mixed doubles.

Awards

  • Indonesia Sports Awards 2018 for Favorite Mixed Pair
  • iNews Maker Awards 2017
  • Golden Award SIWO PWI 2017
  • Golden Shuttle Awards 2016
  • Indonesia Kids Choice Awards 2014
  • Anugerah Seputar Indonesia 2014
  • People of the Year 2013 by Sindo newspaper

Achievements

Olympic Games

She has made three Olympics appearance in her playing career where she got a gold medal in 2016 Rio Olympic Games, reached the semifinals of the 2012 London Olympics and the final of the 2008 Beijing Olympics in the mixed doubles, and lost in the first round of the 2008 Beijing Olympics for the women’s doubles.

  • 2016 Summer Olympics at the Riocentro – Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brazil

Natsir competed in badminton at the 2016 Summer Olympics – Mixed doubles with partner Tontowi Ahmad and won the gold medal in the end.

Natsir and Ahmad at 2012 Summer Olympics
  • 2012 Summer Olympics at the Wembley Arena, London, United Kingdom

Natsir competed in badminton at the 2012 Summer Olympics – Mixed doubles with partner Tontowi Ahmad and finished fourth at the end.

  • 2008 Summer Olympics at the Beijing University of Technology Gymnasium, Beijing, China

Natsir competed in badminton at the 2008 Summer Olympics in mixed doubles with partner Nova Widianto and earned a silver medal. They were defeated in the final by the gold medalists Lee Yong-dae and Lee Hyo-jung of South Korea in straight sets 21–11 and 21–17.
She also competed in the women’s doubles event with Vita Marissa but lost to Zhang Jiewen and Yang Wei of China in the first round.

BWF World Championships

  • 2017 BWF World Championships at the Emirates Arena in Glasgow, Scotland
  • 2015 BWF World Championships at the Istora Senayan in Jakarta, Indonesia
  • 2013 BWF World Championships at the Tianhe Sports Center in Guangzhou, China
  • 2011 BWF World Championships at the Wembley Arena in London, England
  • 2009 BWF World Championships at the Gachibowli Indoor Stadium in Hyderabad, India
  • 2007 BWF World Championships at the Putra Indoor Stadium in Kuala Lumpur, Malaysia
  • 2005 BWF World Championships at the Arrowhead Pond in Anaheim, California, United States

World Cup

Mixed doubles

Asian Games

Mixed doubles

Asian Championships

Mixed doubles

Women’s doubles

Southeast Asian Games

Mixed doubles

Women’s doubles

World Junior Championships

Girls’ doubles

Mixed doubles

Asian Junior Championships

Mixed doubles

BWF World Tour (1 title, 3 runners-up)

The BWF World Tour, announced on 19 March 2017 and implemented in 2018, is a series of elite badminton tournaments, sanctioned by Badminton World Federation (BWF). The BWF World Tour are divided into six levels, namely World Tour Finals, Super 1000, Super 750, Super 500, Super 300 (part of the HSBC World Tour), and the BWF Tour Super 100.

Mixed doubles

BWF Superseries (23 titles, 19 runners-up)

Lilyana Natsir and Tantowi Ahmad at the 2013 French Open Superseries

The BWF Superseries, launched on 14 December 2006 and implemented in 2007, is a series of elite badminton tournaments, sanctioned by Badminton World Federation (BWF). BWF Superseries has two levels: Superseries and Superseries Premier. A season of Superseries features twelve tournaments around the world, which introduced since 2011, with successful players invited to the Superseries Finals held at the year end. Liliyana has got many superseries titles with some partners such as Nova Widianto, Vita Marissa, and Tontowi Ahmad.

Mixed doubles

Women’s doubles

BWF Grand Prix (10 titles, 4 runners-up)

The BWF Grand Prix has two level such as BWF Grand Prix and Grand Prix Gold. It is a series of badminton tournaments, sanctioned by Badminton World Federation (BWF) since 2007.

Mixed doubles

Women’s doubles

IBF World Grand Prix (5 Titles and 4 Runners-up)

Nova Widianto & Lilyana Natsir

The World Badminton Grand Prix sanctioned by International Badminton Federation (IBF) since 1983.

Mixed doubles

Participation on Indonesian Team

  • 5 times at Sudirman Cup (2003, 2005, 2007, 2009, 2011, 2013)
  • 3 times at Uber Cup (2004, 2008, 2010)

Performance timeline

Indonesian team

Individual competitions

Career Statistics

Women’s and mixed doubles titles

Melati Daeva Oktavianti

Wikipedia

Melati Daeva Oktaviani (lahir di Serang, Banten, 26 Oktober 1994; umur 24 tahun) merupakan pemain bulutangkis asal Indonesia. Atlet kelahiran Serang, 26 Oktober 1994 ini merupakan pemain asal klub PB Djarum. Ia merupakan peraih medali emas Kejuaraan Dunia Junior BWF 2012 bersama Edi Subaktiar. Ia saat ini dipasangkan dengan Ronald Alexander di nomor ganda campuran.

Prestasi

Kejuaraan Dunia Junior BWF

Ganda Campuran

BWF Grand Prix

BWF Grand Prix terdiri dari dua tingkatan, seperti Grand Prix Gold dan Grand Prix. Ini adalah rangkaian turnamen bulutangkis yang diselenggarakan oleh Badminton World Federation (BWF) sejak 2007.

Ganda Putri

International Challenge/Series

Ganda Putri

Ganda Putri

Prestasi Lainnya

  • Semifinalis Pertamina Open 2013 (Ganda Dewasa Putri)
  • Runner-up Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2013 (Ganda Dewasa Putri)
  • Juara Walikota Surabaya Cup 2013 (Ganda Dewasa Putri)
  • Juara Kejuaraan Nasional 2012 (Ganda Taruna Putri)
  • Juara Kejuaraan Nasional 2012 (Ganda Campuran Taruna)
  • Medali Perak PON XVIII Riau 2012 (Beregu Putri)
  • Juara Tangkas Specs Junior Challenge Open Badminton Championship 2012
  • Juara Djarum Sirnas Jawa Barat 2012
  • Juara Sirnas DKI Jakarta Open 2012
  • Juara Walikota Surabaya Cup 2012 (Ganda Putri)
  • Juara German Junior 2012 (Ganda Putri)
  • Juara Dutch Junior 2012 (Ganda Campuran)
  • Semifinal BNI Astec Open 2011 (Ganda Putri)
  • Runner Up Kejurnas Pekan Baru 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Djarum Sirnas Bandung 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Djarum Sirnas Bandung 2011 (Ganda Campuran)
  • Runner-up Djarum Sirnas Jakarta 2011 (Ganda Putri)
  • Semifinal Piala Walikota Surabaya 2011 (Ganda Campuran)
  • Perempat final Piala Walikota Surabaya 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirnas Bengkulu 2011 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirnas Palangkaraya 2011
  • Juara II Astec Open 2010 (Ganda Campuran)
  • Perempat final Astec Open 2010 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirkuit Nasional Medan 2010 (Ganda Putri)
  • Juara II Kejurprov Jateng 2010 ( Ganda Putri )
  • Semifinal Sirkuit Nasional Surabaya 2010 (Ganda Putri)
  • Perempat final Sirnas Bali 2010 (Ganda Campuran)
  • Semifinal Sirkuit Nasional Tegal 2010 (Ganda Campuran & Ganda Putri)
  • Perempat final Tangkas Alfamart Junior Challenge Open 2010 (Ganda Putri)
  • Perempat final Sirkuit Nasional Jawa Barat 2010 (Ganda Putri)
  • Juara I Sirkuit Nasional Jakarta 2010
  • Juara II Walikota Surabaya Cup (Ganda Campuran)
  • Semifinal Djarum Arena Cirebon 2010
  • Juara III Kejurda Jateng 2009 (Ganda Campuran)
  • Juara III Astec Open Jakarta 2009
  • Juara III Astec Open Jakarta 2009 (Ganda Campuran)
  • Juara III Sirnas DKI Jakarta 2009
  • Juara III Tetrapark Open 2007
  • Juara II Porseni SMP 2007
  • 8 Besar Sirkuit Bali 2007
  • 8 Besar JPGG Surabaya 2007

DANISA DENMARK OPEN 2019 | 15 – 20 OCTOBER ODENSE SPORTSPARK, ODENSE V, DENMARK

YONEX FRENCH OPEN 2019 | 22 – 27 OCTOBER STADE PIERRE DE COUBERTIN, PARIS, FRANCE

Gallery

Melati Daeva OKTAVIANTI _ DANISA DENMARK OPEN 2019
Melati Daeva OKTAVIANTI _ YONEX ALL ENGLAND OPEN BADMINTON CHAMPIONSHIPS 2019
Melati Daeva OKTAVIANTI _ YONEX-SUNRISE INDIA OPEN 2019

Susi Susanti

From Wikipedia, the free encyclopedia

Legenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti (kanan) membawa api obor dari India dan mantan atlet tenis Yustedjo Tarik (kiri) membawa api obor dari Mrapen yang akan disatukan di kaldron saat Asian Games 2018 Torch Relay Concert di Kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (18/7). Penyatuan kedua api obor tersebut menandai dimulainya perjalanan api obor Asian Games 2018 yang akan dibawa berlari mengelilingi 18 provinsi. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki/nz/18.

Lucia Francisca Susy Susanti (Hanzi: 王蓮香, Pinyin: Wang Lian-xiang, Hokkien: Ong Lien Hiang, born 11 February 1971 in Tasikmalaya, West Java) is a retired Indonesian badminton player. Relatively small of stature, she combined quick and graceful movement with elegant shotmaking technique, and regarded by many as one of the greatest women’s singles player of all time. Sometimes her name is also spelled Susi Susanti. She is the first Indonesian Olympic gold medalist and the only Indonesian woman until Lilyana Natsir won gold in 2016.

Career

She won the women’s singles gold medal at the 1992 Olympic Games in Barcelona, Spain and the bronze medal at the 1996 Olympic Games in Atlanta, United States. She retired from the world badminton circuit not long after her marriage to Alan Budikusuma (who had also won a badminton singles gold medal at the 1992 Summer Olympics) in February 1997.

Susanti was the most dominant women’s singles player in the first half of the 1990s, winning the All-England in 1990, 1991, 1993 and 1994, the World Badminton Grand Prix finale five times consecutively from 1990 to 1994 as well as in 1996, and the IBF World Championships in 1993.

She is the only female player to hold the Olympic, World Championship, and All-England singles titles simultaneously. She won the Japan Open three times and the Indonesian Open five times. She also won numerous Badminton Grand Prix Series events and five Badminton World Cups. She led the Indonesian team to victory over perennial champion China in the 1994 and 1996 Uber Cup (women’s world team) competitions.

All of this came during a relatively strong period in women’s international badminton. Her chief competitors early in her prime years were the Chinese players Tang Jiuhong and Huang Hua, and, later, China’s Ye Zhaoying and the Korean Bang Soo-hyun.

Susanti was inducted into the International Badminton Federation (IBF, currently BWF) Hall of Fame in May 2004, and received the Herbert Scheele Trophy in 2002.

Playing Style

Susanti was an extremely durable defensive player who like to instigate long rallies to wear out opponent’s stamina and forcing unforced errors. The style was in contrast to most of the top female players of her contemporaries like, Bang Soo Hyun, Tang Jiuhong, Huang Hua, Ye Zhaoying, who at the time deployed more aggressive style.

Bulks of her points came from opponent’s bad strikes. Susanti’s matches were characteristically slow and long, especially in the era of 15 points system in a player could only get a point whenever she or he held the serve. Susanti’s relied on deep lob to the backline, effectively nullified the chance of engaging in fast pace exchange, and combined it with occasional drop shots near the net which forced her opponent to cover the entire court. Susanti’s frequently covered her backhand side with overhead forehand, many with heavy back-arching overhead forehands. She often stretched her legs very wide and low to take shots at the corners or away from her position. Being a small girl with limited court coverage in her development years had pushed her to develop the wide leg-stretching manoeuvre, a pose that became her signature move and sometimes ended with a full leg split. In later years of her career, Susanti incorporated a little smash in her repertoire, just enough to put her opponent off-balance since most of her opponents barely expected any attacking strikes from her.

Personal Life

She is married to Alan Budikusuma (Chinese: 魏仁芳), a men’s badminton Olympic gold medalist (also in 1992) and one of the top men’s players in the history of the sport, a former Chinese Indonesian badminton player who excelled at the world level from the late 1980s to the mid-1990s. Together they have three children Laurencia Averina, born 1999.

Achievements

Olympic Games

1992 Summer Olympics in Barcelona, Spain

1996 Summer Olympics in Atlanta, United States of America

World Championships

Women’s Singles

  • 1995 IBF World Championships at the Malley Sports Centre in Lausanne, Switzerland
  • 1993 IBF World Championships at the National Indoor Arena in Birmingham, England
  • 1991 IBF World Championships at the Brøndbyhallen in Copenhagen, Denmark

World Cup

Women’s singles

World Badminton Grand Prix Finals

Women’s singles

Asian Games

Women’s singles

Asia Championships

Women’s singles

Southeast Asian Games

Women’s singles

IBF World Grand Prix

The World Badminton Grand Prix sanctioned by International Badminton Federation (IBF) since 1983.

Women’s singles

Women’s doubles

International Series

Women’s singles

Women’s doubles

Mixed doubles

Fakta Audrey Yu yang Ditawari Posisi Spesial Jokowi, Sempat Kerja di NASA

Read Also: AUDREY

Source: suryamalang. Penulis: Frida Anjani . Editor: Dyan Rekohadi

9 Fakta Audrey Yu Gadis Jenius Surabaya yang Ditawari Posisi Spesial Jokowi

Sosok dan kisah hidup gadis jenius asal Surabaya Audrey Yu Jia Hui sempat membuat kagum banyak orang beberapa waktu lalu.

Memiliki anak yang cerdas dan jenius sudah menjadi impian setiap orang tua tak terkecuali orang tua Audrey Yu Jia Hui.

Namun, siapa sangka kecerdasan Audrey Yu Jia Hui sempat membuat orang tuanya kewalahan dan harus menghadapkan gadis yang berhasil lulus SMA di usia 13 tahun itu dengan dokter jiwa.

9 Fakta Audrey Yu Gadis Jenius Surabaya yang Ditawari Posisi Spesial Jokowi, Sempat Kerja di NASA (Istimewa)

Audrey Yu Jia Hui sendiri lahir dengan nama Maria Audrey Lukito di Surabaya, Indonesia, pada 1 Mei 1988.

Dikutip dari Intisari, Audrey sendiri, pada tahun 2018 telah berusia 30 tahun. Pada tahun 2017 lalu, ia dinobatkan sebagai salah satu dari 71 ikon Prestasi Indonesia.

Meski mendapat berkat akan kecerdasan yang ia terima, Audrey Yu Jia Hui sendiri malah mendapatkan kesusuahan dalam kehidupan sosialnya.

Banyak orang-orang disekitar Audrey Yu yang menganggap dirinya aneh dan membuat perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu bahkan pernah dibawa ke dokter jiwa karena dianggap tidak normal.

1 | Anak Ajaib

Audrey adalah satu dari sekian banyak permata Indonesia. Hal ini seperti dikutip dari akun Facebook Rudi Kurniawan menuliskan kisah Audrey. Dari cerita yang ditulis Rudi, Audrey benar-benar anak ajaib.

Audrey berhasil menyelesaikan sekolah dasarnya hanya 5 tahun, SMP 1 tahun, SMA 11 bulan—persis di usianya yang masih 13 tahun.

Audrey Yu, sosok jenius asal Surabaya (Istimewa)

Persoalan terjadi ketika ia hendak masuk ke perguruan tinggi. Saat itu tidak ada satu pun kampus di Indonesia yang mau menerima bocah usia 13 tahun sebagai mahasiswanya.

Namun Audrey tidak mundur, ia akhirnya memutuskan pergi ke luar negeri, persisnya ke University of Virginia, mengambil jurusan fisika.

Ia hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk merampungkan studinya dengan gelar ‘Sempurna!”

Kepandaian Audrey tak hanya sampai situ. Ketika masih berusia 10 tahun, skor TOEFL-nya sudah 573, yang memecahkan rekor MURI untuk sekor TOEFL tertinggi di usia termuda.

Saat usianya 11 tahun, ia telah hafal di luar kepala kamus Indonesia-Inggris yang tebalnya 650 halaman.

2 | Dikucilkan Karena Kecerdasannya

Kepintaran dan kecerdasan Audrey justru membuatnya terkucilkan. Orang-orang dewasa di sekitarnya menganggapnya tidak normal.

Teman sebayanya menyebutnya aneh, harus dijauhi, dan tidak bisa diajak berteman. Intinya, ia dikucilkan teman-temannya.

Belum lagi, ibunya selalu memarahinya, terutama setelah Audrey mengatakan bercita-cita ingin jadi tentara dan ia ingin menjadi pahlawan.

3 | Sempat Dibawa ke Dokter Jiwa

Ia juga pernah dibawa ke dokter jiwa lantaran dianggap tidak normal.

Namun, sejatinya ada beberapa orang yang yang menaruh perhatian terhadap kecerdasan Audrey. Salah satunya adalah Dahlan Iskan.

Secara khusus, mantan menteri BUMN Dahlan Iskan, menuangkan kekagumannya terhadap Audrey dalam sebuah tulisan.

“Umur Audrey baru 14 tahun, tapi pertanyaannya setinggi filsuf,” tulis akun Rudy Kurniawan yang mengutip penjelasan Dahlan Iskan.

Audrey Yu Jia Hui, perempuan jenius asal Surabaya (Facebook Rudy Kurniawan)

Melihat Audrey yang ‘berbeda’, teman-teman sang ibu menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa.

Dasar anak cerdas, dia tau jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia justru memberitahu apa yang harus diperbuat oleh dokter jiwa.

4 | Sulit Mencari Tempat Kuliah

Saat berumur 12 tahun, Audrey sudah kelas tiga SMA. Setelah itu, kesulitan mulai muncul dalam pendidikannya.

Tidak ada universitas di Indonesia yang bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 tahun.

Kemudian dicarilah berbagai informasi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Akhirnya ketemu universitas di Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat. Universitas ini berada di Kota Williamburg, kota pertama dalam sejarah AS yang didarati bangsa Eropa.

Kelewat cerdas, Audrey Yu sempat ditolak masuk universitas di Indonesia (Istimewa)

Audrey tentu harus dites. Dia lulus. Dalam tes bahasa Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa berbahasa Prancis dan Rusia.

Di William and Marry University ini, Audrey mengambil mata kuliah fisika murni. Dia pun lulus S-1 fisika murni hanya dlm waktu dua tahun. “Dengan tingkat kelulusan summa cum laude pula,” lanjut akun Rudy Kurniawan.

“Saya lulus Summa cum Laude dan Phi Beta Kappa pada usia 16 dari salah satu universitas terbaik dan tertua di Amerika, College of William and Mary di Virginia,” tulis Audrey dalam blog pribadinya.

5 | Mengajar di Shanghai

Audrey kini mengajar bahasa Inggris untuk level tertinggi di Shanghai.

Wanita cantik yang kini berusia 30 tahun itu tak hanya mengajar, tapi juga disibukkan menyusun konsep penerapan Pancasila yang baik.

Banyak orang luar negeri menyayangkan kondisi pendidikan di Indonesia membuat kemampuan Audrey di masa remajanya tersia-siakan.

Tapi di balik semua perlakuan yang kurang menyenangkan itu, ternyata Audrey adalah orang yang begitu bangga dengan Indonesia. Banyak buku yang dia tulis yang menggambarkan kecintaannya terhadap negeri ini

6 | Ingin Menjadi TNI

Usai lulus kuliah Audrey berniat mendaftar jadi anggota TNI yang saat itu masih bernama ABRI.

“Setelah lulus, saya ingin mendaftar di militer Indonesia (ABRI), yang belum pernah dilakukan gadis Cina sebelumnya,” tulis Audrey Yu.

“Yang mengejutkan saya, saya menjadi beban cemoohan dan mendapat ancaman dari semua pihak (bahkan dari keluarga saya sendiri), serta pelecehan ras yang tak ada habisnya,” lanjutnya.

Belakangan diketahui, Audrey ditolak masuk jadi anggota TNI karena usianya saat itu masih 17 tahun.

Karena gagal masuk jadi anggota TNI, Audrey memutuskan menempuh S-3 di Paris, mengambil jurusan Fisika dan Bahasa.

Audrey lulus S-3 di usia kurang dari 25 tahun.

7 | Sempat Bekerja di NASA/Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat

Lulus S-3, Audrey langsung diterima bekerja di Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA.

Tak tanggung, tanggung, Audrey dikabarkan menerima gaji sekitar Rp 200 juta per bulan.

8 | Ditawari Posisi Spesial Jokowi

Sejatinya ada beberapa orang yang yang menaruh perhatian terhadap kecerdasan Audrey.

Salah satunya Presiden Indonesia, Jokowi.

Hal ini seperti dikutip dari akun Twitter @nithasist yang mengunggah sebuah postingan pada 7 Juli 2019.

Dalam cuitannya, akun @nithasist menyebut Jokowi memberi tawaran spesial untuk Audrey.

Jokowi disebut menawarkan Audrey bekerja di lembaga pemerintah.

Audrey Yu mendapatkan tawaran posisi spesial dari Presiden Joko Widodo (Twitter)

“Dia lansung diterima kerja di Badan Antariksa Amerika (NASA) dgn gaji 200 jt/bln. Setelah ketemu Jokowi di KTT G-20 di Jepang kmrn, ditawari msk ke BPPT dan dgn antusias dia terima tanpa mikir brp gajinya. Dia hanya bilang Indonesia Love You. Aku datang u/ mengabdi padamu ….. Terharu,” tulis akun @nithasist.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah Lembaga Pemerintah Non-Kementerian yang berada dibawah koordinasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi.

Namun demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah perihal tawaran spesial yang diberikan Jokowi pada Audrey Yu tersebut.

Audrey Yu, Gadis Ajaib Surabaya Disebut Bakal Jadi Menteri Termuda Jokowi

Read Also: AUDREY

Audrey Yu Jian Hui [Festival Prestasi Indonesia] – Maria Audrey Lukito

“Kecerdasannya luar biasa. SD ditempuh 5 tahun, SMP 1 tahun dan SMA 11 bulan. Lulus SMA di usia 13 tahun. Tak ada universitas di Indonesia yang mau menerimanya.”

Ide Presiden Jokowi yang mau menggaet kaum milenial sebagai menterinya dalam periode kedua kepemimpinannya, 2019-2024, mendapat respons positif dari warganet.

Bahkan, warganet memunyai sejumlah sosok milenial yang dinilai cocok menjadi menteri dalam kabinet Jokowi, salah satunya adalah Audrey Yu Jian Hui.

Audrey adalah warga Surabaya, Jawa Timur. Ia menjadi salah satu dari 64 Ikon Berprestasi Indonesia yang dinobatkan dalam Festival Prestasi Indonesia.

Ajang Festival Prestasi Indonesia itu digelar oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Sejak saat itu, perempuan bernama lahir Maria Audrey Lukito tersebut beken di mata masyarakat Indonesia.

“Audrey, calon menteri termuda yang cinta mati kepada Indonesia,” kata akun Twitter Aditya Wisnu, mengusung Audrey sebagai nominasi menteri milenial Jokowi seperti dikutip Suara.com, Minggu (7/7/2019).

Akun itu menjelaskan, Audrey Yu Jian Hui adalah warga asli Surabaya yang memunyai kecerdasan otak luar biasa.

“Kecerdasannya luar biasa. SD ditempuh 5 tahun, SMP 1 tahun dan SMA 11 bulan. Lulus SMA di usia 13 tahun, tidak ada Universitas di Indonesia yang menerima karena usianya terlalu muda,” jelasnya.

Kekinian, Audrey disebut akun tersebut bekerja di NASA, badan antariksa Amerika Serikat.

Sementara akun Facebook Wahyu Sutono juga menominasikan Audrey sebagai menteri termuda Jokowi.

“Kandidat ketiga menteri termuda. Si jenius yang cinta mati kepada Pancasila. Dia adalah Audrey Yu Jia Hui, seorang patriot muda keturunan Tionghoa yang dikenal jenius, berbakat, dan penulis buku yang sangat mencintai tanah kelahirannya meski kini harus berkarier di luar negeri,” tulisnya.

Untuk diketahui, sejak Jokowi melontarkan pernyataan ingin menggaet kaum milenial sebagai menterinya, sejumlah nama pemuda-pemudi Indonesia bermunculan sebagai nominator.

Selain Audrey, ada nama mantan Ketua Umum PB HMI Arief Rosyid Hasan, eks Ketua Umum GMKI Sahat Martin P Sinurat, dan Twedy Noviady Ginting mantan Ketua Presidium GMNI.

Sementara ini daftar lengkap 72 Ikon Prestasi Indonesia, termasuk Audrey:

Kategori Sains dan Inovator:

  1. Yogi Ahmad Erlangga
  2. Michael Gilbert
  3. Syahrozad Zalfa Nadia/Ocha
  4. Luthfi Boima Putra
  5. Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) cq Profesor Syamsul Arifin dan Profesor H Fauzan
  6. Tim PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya)
  7. Profesor Dr Khairol Anwar
  8. Dr Ir Yudi Utomo Imardjoko
  9. Profesor Dr Eng Eniya Listiani Dewi
  10. Dr. Herawati Supolo Sudoyo
  11. Profesor Dr Taruna Ikrar
  12. Profesor Dr Riri Fitri Sari
  13. Wuri Wuryani
  14. Audrey Yu Jia Hui
  15. Septianus George Saa

Kategori Olahraga:

  1. Susi Susanti
  2. Alan Budi Kusuma
  3. Rudi Hartono
  4. Liem Swie King
  5. Taufik Hidayat
  6. Lilyana Natsir dan Tantowi Ahmad
  7. Woli Hamsah
  8. Sabar Gorky
  9. Sri Wahyuni
  10. Eko Yuli Irawan
  11. Lisa Rumbewas
  12. Tim Paralayang cp Wahyu Yuda
  13. Komang Sastrawana (Lolak)

Kategori Seni Budaya:

  1. Muhammad Winesqi Nibras
  2. Zaenal Beta
  3. Franky Raden
  4. Eko Supriyanto
  5. I Gusti Kompyang Raka
  6. Garin Nugroho
  7. Eka Kurniawan
  8. Muammar ZA
  9. Heri Dono
  10. Wregas Banutedja
  11. Nyoman Nuarte
  12. Putu Wijaya
  13. Nano Riantiarno
  14. Oka Rusmini
  15. Profesor Dr Rahayu Supanggah
  16. Joy Alexander
  17. Bayu Santosa
  18. Lintang Pandu Pratiwi

Kategori Pegiat Sosial:

  1. Suraiya Kamaruzzaman
  2. Nisya Saadah Wargadipura dan Kiai Ibang Lukman Nurdin
  3. Farha Ciciek dan Suporahardjo
  4. Lia Putrinda Anggana Mukti
  5. Handi Mulyana
  6. A’ak Abdullah al Kudus
  7. Ahmad Arif
  8. Tiara Savitri
  9. Muhammad Gunawan/Ogun
  10. Ahmad Bachruddin
  11. Masril Koto
  12. Suryono
  13. Dra Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
  14. Romo Carolus
  15. Bambang Ismawan
  16. Herwin Hamid
  17. Romo Kirjito
  18. Baihajar Tualeka
  19. Lynna Chandra
  20. TGH Hasanain Narmada
  21. Brigadir Muhammad Saleh
  22. Dr Lie Dharmawan
  23. Ir H Bambang Irianto
  24. Bonifasius Mau Taek
  25. Hj. Suraidah
  26. Dr Chandra Sembiring

Audrey Yu Jia Hui – Cinta Mati dengan Pancasila

Read Also: AUDREY

Audrey Yu Jia Hui, Gadis Keturunan Tionghoa yang Cinta Mati dengan Pancasila tapi ‘Tak Dianggap’ Negara

Audrey Yu Jia Hui, Gadis Keturunan Tionghoa yang Cinta Mati dengan Pancasila.

Indonesia seolah tiada habisnya melahirkan generasi – generasi emas yang mempunyai berbagai kelebihan, khususnya di bidang akademis. Namun sayang, hanya karena bermotif latar belakang yang dianggap “bukan pribumi”, tak jarang sosok bertalenta tersebut akhirnya memilih hengkang dan berkarir di luar Indonesia. Meski begitu, kecintaan mereka pada tanah air yang telah “membuang” mereka, tidak lekang terhapus meski harus jauh berpisah.

Kisah semacam ini telah dialami oleh seorang patriot bangsa yang bernama Audrey Yu Jia Hui, gadis asli Indonesia keturunan Tionghoa yang dikenal sangat cerdas dan berbakat. Sempat “tidak dianggap” oleh negara, gadis yang juga seorang penulis buku tersebut tetap mencintai tanah kelahirannya meski dirinya kini berkarir di luar negeri. Seperti apa sosok dirinya dulu dan saat ini? Simak pada ulasan di bawah ini.

Sempat dianggap anak yang aneh dan mempunyai kelainan

Sosok yang lahir pada 1 Mei 1988 tersebut, sedari kecil telah memperlihatkan sejumlah tanda-tanda kecerdasan yang tidak lazim pada anak seusianya. Memasuki usia tiga tahun, dirinya sangat kesulitan mendapatkan teman lantaran “pemikiran aneh” yang ada dalam benaknya. Saat itu, “benih-benih” pola pikir jenius tersebut, dianggap tidak sesuai dan jauh dari hal normal anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun.

Tak ayal, di usia yang masih belia, dirinya pun harus merasakan susahnya depresi ala orang dewasa dan stress yang berkepanjangan. Sebagai pelipur ras fustasinya tersebut, ia pun mencurahkan perhatiannya pada buku-buku sastra dan kamus yang sering dibacanya. Dirinya juga teringat akan pesan gurunya semasa SD, bahwa setiap cita-cita, pasti akan tercapai jika diiringi dengan sikap giat belajar dan bersungguh. Berbekal petuah ini, diapun berhasil lulus kuliah pada usia yang masih cukup belia, 16 tahun!

Sosok Jenius melebihi anak seumurannya

Gadis jenius yang juga mengagumi tokoh kemerdekaan India, Mahatma Ghandi tersebut, berhasil lulus sekolah dengan cara “melompati” jenjang pendidikan formal yang berlaku di Inodonesia. Tercatat, dirinya berhasil menamatkan pendidikan SMP yang hanya ditempuh satu tahun saja. Bahkan pendidikan SMA-nya hanya ditempuh dalam waktu sebelas bulan.

Tak heran jika pada usianya yang menginjak 16 tahun, dirinya berhasil lulus kuliah secara Cumlaude pada jenjang S1 di The College of Wiliam and Mary, Virginia, Amerika Serikat jurusan Fisika. Yang unik, dirinya bahkan tidak memerlukan bimbingan seorang guru ketika dirinya menghadapi beragam tes dan segala bentuk ujian akademik. Atas sederet prestasinya tersebut, dirinya kini menjadi seorang guru di Shanghai, Tiongkok. Disana, ia mengajar bahasa Inggris dan mendampingi siswa yang akan masuk ujian SAT.

Berniat menjadi anggota TNI

Karena keinginannya untuk mempunyai teman yang banyak masih menggebu, dirinya pun berencana ingin masuk sebagai anggota TNI. Cita-cita ini terinspirasi dari banyaknya siswa Indonesia yang pernah belajar di Amerika Serikat, memilih masuk militer ketika pulang ke tanah air. Dalam benaknya, lingkungan militer yang mengusung prinsip egaliter atau “semua sama rata” tersebut, dinilai sebagai jalan yang mulus baginya untuk mendapatkan teman atau bahkan kekasih.

Namun sayangnya, rencana tersebut pupus seiring datangnya berbagai penolakan terhadap dirinya. Selain ingin mendapatkan teman, keinginan untuk berkarir di militer karena didasari oleh sikap patriotiknya dalam membela dan mencintai Indonesia. Bahkan, meski nantinya diterima di kemiliteran, ia tidak ingin menjadi pasukan perang yang membunuh banyak musuh di medan laga. Hati kecilnya menyuruh agar ia bisa mengabdi sebagai tentara yang mengurus di bagian logistik, administrasi maupun perbekalan.

Terkena stigma negatif dan diskriminasi di masyarakat

Dalam perjalanannya menggapai impian menjadi seorang tentara, dirinya mengakui ada banyak halangan dan penolakan yang harus dihadapinya. Tak hanya itu, dirinya bahkan harus menerima kenyataan pahit, menjadi bulan-bulanan kebencian oleh orang-orang di sekitarnya, Yang miris, dirinya bahkan ditinggalkan dan rencanaya tersebut dianggap sebagai main-main belaka.

Sikap diskriminatif tersebut ternyata pernah dialami oleh Audrey semenjak kecil. Pada saat orde baru ditumbangkan oleh gerakan reformasi, dirinya yang merupakan keturunan Tionghoa, mengaku mengalami peristiwa yang cukup sulit kala itu. Anggapan tidak nasionalis dan bukan pribumi asli, sering dialaminya. Walau ia mengaku bahwa dirinya merupakan sosok yang pancasilais, tak ada yang mau menggubrisnya pada saat itu.

Berkarya sebagai penulis yang menjadi ikon berprestasi Pancasila

Gagal berdinas di kemiliteran, dirinya pun merubah haluan hidupnya menjadi seorang penulis. Tercatat, ada beberapa buku yang telah ditulisnya hingga saat ini. Salah satu yang menarik perhatian adalah bukunya yang berjudul Mencari Sila Kelima atau tong bao dalam bahasa Tiongkok. Dalam buku tersebut, dirinya menekankan bahwa pentingnya nilai-nilai Pancasila untuk diamalkan, bukan sekedar menjadi teori ideologi belaka.

Masih dalam buku yang sama, dirinya seolah ingin membuka cakrawala pemikiran orang indonesia pada tataran lingkup yang lebih luas. Indonesia yang disatukan oleh prinsip yang bernama pancasila, menurut seorang Audrey, harus menampakan esensi dari nilai-nilai ideologi itu sendiri. Tak salah jika dirinya kemudian terpilih sebagai salah satu dari 72 ikon berprestasi Indonesia. Ia terpilih langsung oleh komite Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi-Pancasila (UKP-P), selaku penggagas acara Festival Prestasi Indonesia tersebut.

Meski sempat mengalami penolakan oleh bangsanya sendiri, toh hal tersebut tidak membuat seorang Audery Yu Jia Hui lantas membenci Indonesia. Berbekal kejeniusan dan semangatnya akan nilai luhur pancasila, dirinya berusaha bangkit dan menepis segala tuduhan yang menyudutkan dirinya. Bahkan, melalui karya tulisnya, dirinya mampu menjadi contoh nyata yang membuka mata hati pribumi Indonesia, tentang bagaimana menghayati Pancasila tanpa harus membenci latar belakang etnis tertentu.

Source: Boombastis

Bangkit dari Kegagalan, Belajar dari Jokowi dan Jack Ma

Jokowi dan Jack Ma


Opera Snapshot_2018-09-02_230741_www.facebook.com

Dua orang yang berjalan bersisihan ini punya masa lalu yang mirip. Masa lalunya sama-sama pahit. Jokowi kecil mengalami digusur sampai tiga kali. Jack Ma tidak. 

Tapi jalan hidup Jack Ma tak kalah pahit. Pernah melamar kerja, dari semua pelamar yang mendaftar, cuma dia yang ditolak. Pernah mengajukan beasiswa sampai sepuluh kali, tidak pernah berhasil.

Pada suatu titik, mereka memiliki jalannya sendiri-sendiri. Tapi dalam pilihan yang berbeda itu, mereka menimba pelajaran yang sama. Mereka sama-sama mengolah kepahitan-kepahitan hidup yang dialami, dan memproyeksikannya dalam suatu ruang hidup yang berdialektika. Jatuh bangun lagi. Gagal coba lagi.

Jokowi belajar dari orang tuanya yang menjual bambu dan kayu menjadi pengusaha kayu sampai punya Rakabu. Sementara Jack Ma mendirikan Alibaba.

Dua orang itu, juga punya kemampuan berbahasa Inggris standar dengan dialek medhoknya masing-masing. Jokowi mengasah kemampuan berbahasa Inggrisnya dari para pembeli asing mebel-mebelnya dari dari pameran dagang di luar negeri yang diikutinya. Jack Ma, malah belajar bahasa Inggris dari turis asing asal Australia yang datang ke negerinya, yang kemudian mengangkatnya menjadi anak angkat.

Dua orang itu, kemudian menemukan jalannya sendiri-sendiri. Jalan hidup Jokowi bergeser, dari bisnis ke politik. Jack Ma, sampai hari ini, tetap setia dengan bisnisnya. Tapi jangan ditanya pengaruh politiknya. Bahkan dalam skala sebesar negeri Tiongkok, pengaruh Jack Ma sangat luar biasa.

Buktinya? Jika Jokowi memimpin Indonesia menyelenggarakan Asian Games untuk kali kedua, Jack Ma meminta pemimpin negerinya untuk menjadikan kota pusat Alibaba sebagai kota penyelenggara Asian Games setelah Jakarta dan Palembang. Hang Zhou namanya. Di kota inilah imperium bisnis Jack Ma dikendalikan dan menguasai bisnis digital, bukan hanya di daratan Cina melainkan buana.

Memang menarik belaka jalan hidup mereka berdua. Tak heran jika bukan pertama kali ini mereka bertemu dan berbicara satu sama lainnya. Di forum yang berbeda, mereka saling bicara, mungkin tanpa sekalipun bicara soal masa lalu mereka yang sama-sama pahit.

Jika menelusuri obrolan mereka yang merembes ke berbagai media, mereka memilih bicara tentang masa depan. Jack Ma belajar dari Jokowi menjadi tuan rumah yang sukses dalam Asian Games. Jokowi belajar dan menimba ilmu, bagaimana mengembangkan bisnis digital di masa depan buat Indonesia.

2018 Asian Games (18th Asian Games)

18th Asian Games 2018 | Jakarta – Palembang Indonesia


From Wikipedia, the free encyclopedia

2018_Asian_Games_logo.svg

w644

Presiden Jokowi memang selalu menjadi sorotan, bukan hanya aksi tak biasanya dalam berbagai momen, tapi juga soal gaya dan penampilannya yang santai dan kasual.

defia-persembahkan-emas-pertama-indonesia-605299-1

EMAS PERTAMA: (kiri ke kanan) Peraih medali perak Marjan Salahshouri dari Iran, peraih Medali Emas Defia Rosmaniar dari Indonesia dan peraih medali perunggu Khim Wen Yap dari Malaysia dan Yun Jihye dari Korea Selatan diabadikan dengan Presiden Joko Widodo saat upacara penghormatan pemenang cabor Taekwondo nomor poomsae tunggal putri, Asian Games 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (19/8). Defia merupakan atlet Indonesia peraih medali emas pertama Asian Games 2018.

750xauto-terungkap-ini-produsen-jaket-anak-motor-dipakai-jokowi-di-asian-games-180820b-rev1

417e8c7f-f5cb-4aa7-869a-acaf1adadd90_169

012891500_1534745760-Lindswell-Kwok5

Presiden Joko Widodo menyebut atlet Wushu Indonesia, Lindswell Kwok, sebagai Ratu Wushu Asia setelah berhasil mempersembahkan Medali Emas kedua kepada Indonesia dalam ajang Asian Games 2018.

038153800_1534734081-20180820VYT_Wushu_Indonesia_Lindswell_04

080540000_1534735069-20180820VYT_Wushu_Indonesia_Lindswell_08

Atlet wushu Indonesia, Lindswell Kwok, saat beraksi pada Asian Games di JIExpo, Jakarta, Senin, (20/8/2018). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Opera Snapshot_2018-09-01_224354_en.asiangames2018.id

Medal Table as of 1-09-2018

6324c7a1-5469-4cc6-9686-acf78bc4a918_169

Opening Ceremony 18th Asian Games at Gelora Bung Karno Complex

Opera Snapshot_2018-08-19_134153_www.channelnewsasia.com

Fireworks explode over the Gelora Bung Karno main stadium during the opening ceremony of the 2018 Asian Games in Jakarta on August 18, 2018. (Photo: AFP / BAY ISMOYO)

gbk-5b78483843322f05ad5904c2

39453449_944519495733022_542713974488039424_n

The 2018 Asian Games, officially known as the 18th Asian Games and also known as Jakarta Palembang 2018, is a pan-Asian multi-sport event scheduled to be held from 18 August to 2 September 2018 in the Indonesian cities of Jakarta and Palembang.

Opera Snapshot_2018-08-18_235615_en.wikipedia.org

For the first time, the Asian Games are being co-hosted in two cities; the Indonesian Capital of Jakarta (which is hosting the Games for the first time since 1962), and Palembang, the Capital of the South Sumatra Province. Events will be held in and around the two cities, including venues in Bandung and province of West Java and Banten. The opening and closing ceremonies of the Games will be held at Gelora Bung Karno Main Stadium in Jakarta.

Also for the first time, eSports and canoe polo will be contested as demonstration sports. eSports is expected to be a medal event at the 2022 Asian Games.

mascots--desktop

vhwyc4regsy9ipewsdua

Bhin Bhin is a bird of paradise (Paradisaea Apoda) that represent strategy.

i6lf4km4yhzyjjqhk6rx

Atung is a Bawean deer (Hyelaphus Kuhlii) that represents speed​.

uggcvdgexnywnoap9hx4

Kaka is a single-horned rhinoceros (Rhinoceros Sondaicus) that represents strength.

Contents


1 | Bidding process
    1.1 Hanoi
    1.2 Appointment of Jakarta and Palembang
2 | Development and preparations
    2.1 Costs
    2.2 Marketing
          2.2.1 Official songs
    2.3 Promotion
    2.4 Torch relay
3 | Venues and infrastructures
    3.1 Jakarta
          3.1.1 Gelora Bung Karno Sport Complex
          3.1.2 Other venues in Jakarta
   3.2 Palembang
   3.3 West Java and Banten
   3.4 Athletes’ Village
   3.5 Transport
4 | The Games
    4.1 Ceremonies
    4.2 Sports
    4.3 Participating National Olympic Committees
          4.3.1 Number of athletes by National Olympic Committees (by highest to lowest)
    4.4 Calendar
5 | Concerns and Controversies
6 | See also
7 | Gallery
8 | External links

1 | Bidding process


1.1 | Hanoi

Hanoi, Vietnam was originally selected to be the host after they won the bid against two other candidates, Surabaya and Dubai. They were awarded the winning bid on 8 November 2012, with 29 votes against Surabaya’s 14 votes  Dubai pulled out at the last minute, instead announcing their intention to focus on future bids. The UAE’s National Olympic Committee’s vice-president denied any pullout and claimed that Dubai “did not apply for hosting 2019 Asian Games” and had “only considered” doing so.

However, in March 2014, there were some concerns about Vietnam’s ability to host. These included concerns over whether the anticipated budget of US$150 million was realistic. There were claims that the government would eventually spend over US$300 million. In addition, critics were concerned that several stadiums built in conjunction with 2003 Southeast Asian Games had not been utilized since.  Former chairman of the Vietnam Olympic Committee Ha Quang Du also claimed that hosting the Asian Games would not boost tourism in Vietnam. 

On 17 April 2014, the Vietnamese Prime Minister Nguyễn Tấn Dũng officially announced Hanoi’s withdrawal from hosting. He cited unpreparedness and economic recession as the main reasons for the withdrawal, saying they have left the country unable to afford the construction of facilities and venues. Many Vietnamese people supported the decision to withdraw. No penalty was imposed for the withdrawal.

1.2 | Appointment of Jakarta and Palembang

After Hanoi’s withdrawal, the Olympic Council of Asia (OCA) said that Indonesia, China, and the United Arab Emirates were major candidates under consideration to host. Indonesia was widely regarded as a favourite, since Surabaya was the runner-up of the previous bid, and willing to do so if selected.  The Philippines  and India expressed their interest about hosting the Games, but India failed to submit a late bid because it was unable to get an audience with Prime Minister Narendra Modi after being given an extended deadline by the OCA.

On 5 May 2014, the OCA visited some Indonesian cities including Jakarta, Surabaya, Bandung, and Palembang. At this time Surabaya decided to drop their bid to host the Games and instead focus on hosting the already scheduled 2021 Asian Youth Games. On 25 July 2014, during a meeting in Kuwait City, the OCA appointed Jakarta as the host of the Games with Palembang as the supporting host. Jakarta was chosen because of its well-equipped sport facilities, adequate transportation networks, and other facilities such as hotels and lodgings for guests. On 20 September 2014, Indonesia signed the host city contract, and during the closing ceremony of 2014 Asian Games in Incheon, Indonesia was appointed symbolically by the OCA to host the next Games.

The OCA originally planned to hold these Games in 2019 rather than 2018, so that Asian Games would be held in the year immediately prior to the next Summer Olympics, rather than two years before. After they were awarded to Indonesia, the OCA backtracked on these plans and kept the Games in 2018, so that they will not interfere with the 2019 Indonesian general elections.

2 | Development and preparations


2.1 | Costs

Total cost for the games is estimated as $3.2 billion. By 2015, the central government had allocated a budget of IDR 3 trillion (USD 224 million) to prepare for the Games, with regional administrations also expected to supply some part of the funding. However, by July 2018, the budget allocation for the Games had been reported to be IDR 6.6 trillion including IDR 869 billion from sponsorships.

2.2 | Marketing

916px-2018_Asian_Games_Mascot.svg

The Games’ mascots (name from left): Bhin Bhin, Kaka, and Atung.

The emblem for the 2018 Asian Games was first unveiled on 9 September 2015, in celebration of the country’s National Sports Day. The emblem featured a stylised depiction of a cenderawasih, a rare species of a bird in Indonesia.

Organizers withdrew the design in January 2016, after it was widely-criticized for its outdated appearance. Its accompanying mascot, Drawa, was also criticized for having little connection to Indonesian culture and history (with some Indonesians joking that Drawa looked more like a chicken than a cenderawasih). An open call for a new design was held, resulting in 60 submissions. The final design was unveiled on 28 July 2016; titled Energy of Asia, the emblem is modelled upon Gelora Bung Karno Stadium, and is intended to symbolize unity among Asian countries.

The same day the logo was unveiled, three new mascots were also unveiled, replacing the previous cenderawasih mascot, which are Bhin Bhin—a greater bird-of-paradise, Atung—a Bawean deer, and Kaka—a Javan rhinoceros. They represents the Eastern, Central, and Western regions of Indonesia and also strategy, speed and strength respectively. Each mascots also wear different clothes: Bhin Bhin wears a vest with Asmat pattern details, Atung wears a sarong with Jakarta’s batik’s tumpal pattern, and Kaka wears Palembang’s traditional attire with flower pattern.

In July 2018, Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC) released the medal design to public, featuring the Asian Games logo and the batik style of all Indonesian regions, reflects the cultural diversity of Indonesia and their unity. In addition to cultural diversity, batik motifs also reflect the diversity of ethnic, religious, and racial Asian communities who participated in the 18th Asian Games.

Official songs

On 13 July 2018, the Indonesian Asian Games Organizing Committee (INASGOC) released an official music album of the 2018 Asian Games titled Asian Games 2018: Energy of Asia. The album consists of 13 songs involves several cross-genre musical artists.

2.3 | Promotion

On 18 August 2017, simultaneous events were held at Jakarta’s National Monument and Palembang’s Benteng Kuto Besak to mark the one-year milestone prior to the Games. The event in Jakarta was attended by president Joko Widodo, and featured performances by Taeyeon and Kim Hyo-yeon of K-pop group Girls’ Generation. Countdown clocks were unveiled at the Selamat Datang Monument and in front of Gelora Sriwijaya Stadium.

Several fun run events had been held in some Asian countries since December 2017, with Lahore, Pakistan as the first city to organize the fun run event.

On May 2018, an event marking 100-day milestone prior to the Games was held, featuring the introduction of Asian Games torch. The torch design is inspired by traditional weapons named golok from Jakarta and skin from Palembang, South Sumatra.

2.4 | Torch relay

The torch relay began at the Major Dhyan Chand National Stadium in New Delhi, host of the 1st Asian Games, on 15 July 2018. The flame will be generated from a parabolic mirror directed straight at the sun. On 18 July 2018, a ceremony took place in Brahma field by the 9th century Hindu temple of Prambanan near Yogyakarta, where the torch’s flame from India were fused together with an Indonesian natural eternal flame taken from Mrapen, Central Java. Subsequently, the Torch Relay Concert were performed marking the start of torch relay throughout the country.

The relay then continue to travel through 54 cities, 18 provinces in Indonesia, including host cities. The relay will finish on 17 August, the 73rd anniversary of the Proclamation of Indonesian Independence in the National Monument, Jakarta before being carried into the opening ceremony at Gelora Bung Karno Stadium the next day.

3 | Venues and infrastructures


For the games, some venues will be built, renovated, and prepared across four provinces in Indonesia: Jakarta, South Sumatra, Banten, and West Java. The facilities for the Asian Games 2018 are located in the capital city of Jakarta and Palembang (South Sumatra), in four different sports clusters (three in Jakarta and one in Palembang). However, 15 arenas for matches and 11 training arenas in West Java and Banten which shares border with Jakarta, will be used to support implementation of the 2018 Asian Games. There will be total 80 venues for competitions and training. The organisation hopes to keep the cost down by using the existing sports facilities and infrastructure, including those venues built for the 2011 Southeast Asian Games, and after the test event of the 2018 Asian Games in February, Inasgoc moved several sports that will be held in Jakarta International Expo to Jakarta Convention Center.

3.1 | Jakarta

Gelora Bung Karno Sports Complex in Jakarta will alone host 13 sports after renovation. The 55-year-old Main Stadium’s capacity is being reduced from 88,000 spectators to 76,127. A facial recognition system will also install at the stadium in anticipation of terror threats. A Velodrome is being built at Rawamangun in East Jakarta, at a cost of US$ 40 million for cycling, badminton, futsal, basketball, and wrestling. An equestrian facility is being built at Pulomas with a cost of US$ 30.8 million, which could host up to 1,000 spectators. It was set to be equipped with 100 stables, athletes lodging, an animal hospital, training places, and a parking area on a 35-hectare plot of land.

Opera Snapshot_2018-08-18_234149_en.wikipedia.org

3.1.1 | Gelora Bung Karno Sport Complex

1280px-GBK_Main_Stadium_West_Plaza

Gelora Bung Karno Main Stadium will host the ceremonies and athletics.

3.1.2 | Other venues in Jakarta

Opera Snapshot_2018-08-18_234311_en.wikipedia.org

3.2 | Palembang

Stadion-gelora-sriwijaya-palembang

Gelora Sriwijaya Stadium will host the final of women’s football.

Jakabaring Sport City complex at Palembang will host for other sports events. Several plans has been raised to add and improves the facilities in the complex, including a capacity upgrade of Gelora Sriwijaya Stadium from 36,000 to 60,000 seats which was cancelled, instead the capacity was decreased to 27,000 after installing individual seats to whole stadium tribunes along with pitch and other facilities improvements in the stadium. The new venue in Jakabaring Sport City is a 40-lane bowling alley which was completed in late May 2018. Eight additional tennis courts was built in the complex for the Games. The length of canoeing and rowing venue in Jakabaring Lake was extended to 2,300 metres along with rowing facilities and a tribune which was built on the lake shore. Other existing venues which will be used for Asian Games were also had been renovated, including Ranau Sport Hall as sepak takraw venue.

Opera Snapshot_2018-08-18_234408_en.wikipedia.org

3.3 | West Java and Banten

Opera Snapshot_2018-08-19_000048_en.wikipedia.org

3.4 | Athletes’ Village

Athletes village in Jakarta is built at Kemayoran at an area of 10 hectares land, which has 7,424 apartments in 10 towers. Total accommodation capacity of 22,272 at the village exceeds International Olympic Committee standards, which require Olympics hosts to provide rooms for 14,000 athletes. The Athletes’ Village inside the Jakabaring Sport City at Palembang will house 3,000 athletes and officials.

Opera Snapshot_2018-08-18_235925_www.google.com

screenshot_78

Kemayoran Athlete & Media Village

3.5 | Transport

1024px-LRT_Palembang_Ampera_Station

Ampera LRT Station, one of 13 stations of Palembang LRT which will be used to upgrade the city transportation capabilities ahead for Asian Games.

As part of the Games preparation, the construction of the Jakarta MRT and Jakarta LRT will be accelerated. A line of Jakarta LRT will connect athlets village at Kemayoran in Central Jakarta to the Velodrome at Rawamangun in East Jakarta. City bus operator TransJakarta added 416 buses to serve the officials, and also provide free rides on selected days during the Games.

Palembang upgraded their transportation facilities ahead for the Games by building 25 kilometres of the Palembang Light Rail Transit from Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport to Jakabaring Sport City which will be expected to be opened for public use by late July 2018. Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport is expanding its existing arrival and departure terminals to increase its capacity and also connecting the airport with the light rail transit (LRT) terminal by building a skybridge. Other transportation facilities such as toll roads, flyovers, and bridges will be also built in and around the city.

4 | The Games


4.1 | Ceremonies

The OCA determined that Jakarta would host both the opening and closing ceremonies, although an earlier sports minister said Palembang would host the closing ceremony.

4.2 | Sports

In March 2017, the Olympic Council of Asia initially announced that the Games would feature 484 events in 42 sports, including the 28 permanent Olympic sports contested at the 2016 Summer Olympics, the five additional sports that will be contested at the 2020 Summer Olympics in Tokyo, as well as events in other non-Olympic sports. In April 2017, the OCA approved reductions in the programme in response to cost concerns; belt wrestling, cricket, kurash, skateboarding, sambo, and surfing were dropped from the programme, and there was to be a reduced number of competitions in bridge, jet ski, ju jitsu, paragliding, sport climbing, taekwondo (in particular, all non-Olympic weight classes), and wushu. These changes reduced the total number of events to 431.

The final programme was unveiled in September 2017, increasing it to 462 events in 40 disciplines as the second-largest programme in Asian Games history. Additional disciplines being introduced at the 2020 Summer Olympics were also added, including 3×3 basketball and BMX freestyle.

For the first time in Asian Games history, eSports and canoe polo will be contested as a demonstration sport in the Games. Six video game titles will be featured in the event.

Opera Snapshot_2018-08-18_234917_en.wikipedia.org

Demonstration Sport

  • eSports
  • Canoe polo

4.3 | Participating National Olympic Committees

All 45 members of the Olympic Council of Asia are scheduled to participate in the games.

It has been agreed that North Korea and South Korea will compete as a unified team in some events under the title “Korea” (COR), as they did at the 2018 Winter Olympics. Both nations will also march together under a unified flag during the opening and closing ceremonies.

Originally set to compete as Independent Asian Athletes, the Kuwaitis are allowed to compete under their own flags just two days before the opening ceremony.

Below is a list of all the participating NOCs.; the number of competitors per delegation is indicated in brackets.

Opera Snapshot_2018-08-18_235135_en.wikipedia.org

4.3.1 | Number of athletes by National Olympic Committees (by highest to lowest)

Opera Snapshot_2018-08-18_235253_en.wikipedia.org

4.4 | Calendar

Opera Snapshot_2018-08-18_235426_en.wikipedia.org

5 | Concerns and controversies


Prior to the Games, several concerns have been raised over the preparation of the Games. Authorities in Indonesia confident both host cities will be ready for the Games although have had only four years to prepare rather than the usual six after stepping in to fill the gap when Vietnam, whose city of Hanoi was originally chosen to host these Games by the Olympic Council of Asia, dropped out in 2014 citing concerns over costs. On top of that, work in both host cities was delayed throughout 2015 because government funding was not immediately available.

Jakarta, consistently ranked as having one of the world’s worst traffic congestion, is building a subway. However, it will not be ready until 2019, so organizers have proposed closing schools during the event to curb traffic from millions of commuting pupils. Authorities also proposed to set aside toll roads and bus lanes for special official and athlete use during the Games. Jakarta has also instated an odd-even licence plate system to limit congestion.

Security is another concern, with the Games taking place just a few months after a series of terror attacks, which killed dozens of people and provoked fear over Islamist militants. Some 100,000 security staff including bomb squad and sniper teams will be deployed in Jakarta, Palembang, and West Java, where the majority of events are hosted. Local police said they have been taking part in a pre-Asian Games crackdown on terror suspects and petty street criminals. Before, the Olympic Council of Malaysia (OCM) also raised concerns over Malaysian athletes’ security issues due to the recent provocations by Indonesian fans at venues and on social media.

Air pollution also becomes a concern on both cities. Jakarta has long struggled to boost air quality, regularly rated as unsafe by the World Health Organization (WHO) as Jakarta’s average score on the Air Quality Index (AQI) had exceeded 100 during early July 2018, once reaching the “unhealthy” range at 171 on 11 AM, Tuesday, 17 July 2018. Palembang also had been constantly under risk of haze caused by peatland fire during dry season which coincides with the Games. Authorities are looking into the possibility of cloud seeding to combat the fire hotspots by triggering rainfall in dry areas with flares of salt shot into suitable clouds. Authorities has been covered a polluted, foul-smelling river near the Asian Games athletes’ village in Jakarta with black nylon mesh over fears it will be an eyesore at the showpiece event.

On 21 July 2018, less than one month from the Games, women football venue of Gelora Sriwijaya Stadium in Palembang had been partially damaged in a riot during local football match. At least 335 seats had been destroyed by the mob.

Officials had held Asian Games’ men football tournament drawing three times due to protest from UAE and Palestine which were incidentally not included in the first drawing. Later, Iraq withdrew from tournament which forced officials to rebalance the groups by determining which of Palestine or UAE would be moved to Group C to replace Iraq.

6 | See also


7 | Gallery


 

8 | Medal table


China led the medal table for the tenth consecutive time. Korea claimed their first gold medal at the Games in the canoeing women’s traditional boat race 500 m event.[119] A total of 37 NOCs won at least one medal, 29 NOCs won at least one gold medal and 9 NOCs failed to win any medal at the Games.

The top ten ranked NOCs at these Games are listed below.

* Host nation (Indonesia) 

Opera Snapshot_2018-10-26_060719_en.wikipedia.org

Complete Medals Table

Opera Snapshot_2018-09-01_224653_en.asiangames2018.id

 

34 Provinsi di Indonesia

 

Seperti telah dibahas pada artikel sebelumnya (baca pada artikel Pemekaran provinsi di Indonesia sejak merdeka), bahwa provinsi di Indonesia sampai saya menuliskan artikel sejarah ini berjumlah 34.

Nah, selanjutnya di sini akan saya sertakan 34 provinsi di Indonesia tersebut beserta nama ibu kotanya. Dengan begitu diharapkan anda akan lebih detail mengenal setiap provinsi yang ada di negeri ini.

Coba perhatikan gambar pulau di bawah ini, anda dapat melihat pulau dan mencocokkan dengan tabel provinsi yang ada, sehingga di mana letak provinsi akan terlihat.

Berikut daftar nama provinsi di Indonesia dan nama Ibu kotanya :

No

Nama Provinsi

Ibu Kota

1

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Banda Aceh

2

Provinsi Sumatra Utara

Medan

3

Provinsi Sumatra Barat

Padang

4

Provinsi Riau

Pekanbaru

5

Provinsi Kepulauan Riau

Tanjung Pinang

6

Provinsi Jambi

Jambi

7

Provinsi Sumatra Selatan

Palembang

8

Provinsi Bengkulu

Bengkulu

9

Provinsi Lampung

Bandar Lampung

10

Provinsi Bangka Belitung

Pangkal Pinang

11

Provinsi DKI Jakarta

Jakarta

12

Provinsi Jawa Barat

Bandung

13

Provinsi Banten

Serang

14

Provinsi Jawa Tengah

Semarang

15

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY)

Yogyakarta

16

Provinsi Jawa Timur

Surabaya

17

Provinsi Bali

Denpasar

18

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Mataram

19

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kupang

20

Provinsi Kalimantan Barat

Pontianak

21

Provinsi Kalimantan Tengah

Palangkaraya

22

Provinsi Kalimantan Selatan

Banjarmasin

23

Provinsi Kalimantan Timur

Samarinda

24

Provinsi Kalimantan Utara

Tanjung Selor

25

Provinsi Sulawesi Utara

Manado

26

Provinsi Gorontalo

Gorontalo

27

Provinsi Sulawesi Tengah

Palu

28

Provinsi Sulawesi Selatan

Makassar

29

Provinsi Sulawesi Barat

Mamuju

30

Provinsi Sulawesi Tenggara

Kendari

31

Provinsi Maluku

Ambon

32

Provinsi Maluku utara

Ternate

33

Provinsi Papua

Jayapura

34

Provinsi Papua Barat

Manukwari

Peta 34 Provinsi di Indonesia

Tabel-34-provinsi-di-indonesia (1)

Peta-34-Provinsi-Indonesia-sesuai-nomor-urut

_