Tag Archives: Industri 4.0

Internet of Things (IoT) dalam Revolusi Industri 4.0

Bagaimana Internet of Things berperan dalam Revolusi Industri 4.0

Seperti yang sudah kita ketahui, revolusi industri pertama berbicara tentang terciptanya mesin uap, lalu pada revolusi industri kedua ditandai terjadinya perbaikan proses produksi yang membuat manusia dapat memproduksi barang secara massal (mass production) pada abad ke-19. Setelah itu muncul automasi produksi menggunakan robot dan penggunaan teknologi informasi.
Masuk kepada revolusi industri keempat, menekankan kepada integrasi antar alat menggunakan internet dan pemanfaatan big data.

Apa itu Internet of Things? (IoT)

Sederhananya, Internet of Things adalah alat yang terhubung dengan internet dan saling terintegrasi. Semisal, lampu ruangan yang terkoneksi dengan internet dan bisa terintegrasi dengan smartphone sebagai pengaturnya.

Apa pengaruhnya dalam Revolusi Industri 4.0?

Internet of things sangat erat hubungannya dengan Revolusi Industri 4.0 karena IoT adalah unsur utama dalam revolusi industri 4.0

IoT berpengaruh dalam berbagai macam industri seperti manufaktur, logistik, kesehatan, tata kota, rumah, pertanian, bahkan industri otomotif.

Fungsi utama IoT pada dasarnya sebagai data miner. IoT bekerja mencari dan mengumpulkan berbagai data dari lapangan yang nantinya akan diolah menjadi data yang lebih bermanfaat.

Manufaktur

Pada industri manufaktur, Internet of Things dapat digunakan sebagai penghubung antar mesin produksi agar berjalan dengan efisisen, selain itu sebagai pemantauan alur produksi agar memiliki manajemen yang lebih baik.

Inventaris barang pun tidak luput dari disrupsi IoT, hal ini dapat memberikan keterbukaan informasi serta efisiensi alur barang.

Tata Kota (Smart Cities)

Tata kota tidak luput dari disrupsi internet of things, penggunaannya sangatlah beragam. Internet of things dapat digunakan untuk memantau fasilitas publik, energi, bahkan pengelolaan sampah di kota.

Dengan keberadaan internet of things, pemerintah dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Pertanian

Dimasa depan, petani tidak ndeso lagi. Internet of things membantu kegiatan pertanian, seperti memantau keadaan tanaman, tanah, cuaca, hingga traktor pintar yang siap memanen hanya melalui smartphone.

Industri Otomotif

Dengan adanya internet of things, saat ini mobil bisa mempunyai kemampuan autonomous driving. Tidak menutup kemungkinan dimasa depan terjadi pertukaran informasi antar mobil.

Tantangan yang dihadapi

Internet of things tentu saja hadir bukan tanpa tantangan, berbagai tantangan muncul dikarenakan hadirnya maupun implementasi dari teknologi tersebut.

  • Manusia tergantikan oleh mesin

Dengan hadirnya internet of things, robot akan semakin powerful dan memiliki kemungkinan untuk mengganti peran manusia. Hal ini akan menimbulkan kesenjangan pada masyarakat.

  • Keamanan data

Seperti dalam artikel 2050: Our Future, data merupakan aset yang sangat penting dalam bisnis. Data dapat diolah yang akan memberikan informasi bermanfaat kepada manusia maupun mesin itu sendiri.

Tentu saja, hal ini mengundang orang-orang untuk berusaha meretas data. Oleh sebab itu, keamanan data menjadi tantagan yang sangat berat di era revolusi industri 4.0

  • Privasi dan Etika

Data mining yang berlebihan akan menimbulkan permasalahan privasi dan etika yang serius. Terutama pada internet of things yang digunakan memonitor lingkup personal.

Semisal, smart home yang menggunakan teknologi IoT. Fitur voice recognition secara terus menerus merekam percakapan yang ada di dalam ruangan, tentu saja tidak semua orang akan nyaman dengan hal tersebut.

  • Mahal

Untuk implementasi teknologi IoT perlu diakui masih mahal. Hal ini dibuktikan dengan kasus Tesla yang proses produksinya terlalu kompleks dikarenakan otomatisasi robot terlalu canggih. Hal ini berakibat biaya yang dikeluarkan Tesla sangatlah besar.

Peluang?

Kecerdasan buatan (Artificial intelligence) menggunakan banyak data untuk melakukan machine learning.

Dengan bantuan internet of things, data yang masuk akan lebih banyak dan akan berakibat kepada proses bisnis yang lebih efisien.

  • Optimalisasi Kecepatan

Proses bisnis akan semakin cepat dan efektif, tidak perlu proses yang panjang.

Optimalisasi Adaptabilitas

Lambat laun Internet of things akan semudah untuk diadaptasi, harganya semakin murah namun performanya semakin tinggi.

Optimalisasi Reliabilitas

Internet of things akan semakin akurat dalam memberikan data. Dengan begitu raw data akan semakin akurat berakhir kepada kecerdasan buatan yang semakin cerdas.

Kesimpulan

Tentu saja, saat ini kita sudah masuk kepada revolusi industri 4.0 yang jauh berbeda dari revolusi industri lainnya dan Internet of things berperan sebagai data miner dalam revolusi industri 4.0, hal ini menjadi unsur yang sangat penting disamping data processing.

Perbedaan utama dibandingkan ketiga revolusi industri sebelumnya adalah penggunaan teknologi yang sangat terkini (cutting-edge tech)
Teknologi tersebut merubah berbagai industri secara masif. Membuat semua industri menjadi data-driven atau berdasar dengan data.

Semua perkembangan teknologi ini menghadirkan tantangan-tantangan baru yang harus siap dihadapi oleh industri.
Peluang IoT sebagai optimalisasi industri pun juga siap untuk dinikmati oleh industri.

Tanpa adanya Internet of things, revolusi industri 4.0 tidak akan terjadi.

Source: medium. Muhammad Fathi Rauf

Infrastruktur Digital Topang Percepatan Masuki Industri 4.0

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (tengah) berbincang dengan Rektor ITB Kadarsah Suryadi (kanan) dan Director and Chief Innovation and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Arief Musta’in (kiri) seusai meresmikan IoT Innovation & Future Digital Economy Lab di ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/3/2019). – (antarafoto)

Bandung, Kominfo – Industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi. Revolusi tersebut merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sepenuhnya tidak hanya dalam proses produksi, tetapi juga di seluruh rantai nilai guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya untuk melahirkan model bisnis yang baru dan berbasis digital.

“Untuk melangkah ke sana, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era Industri 4.0 dan tentunya konektivitas menjadi backbone digital infrastruktur seperti Palapa Ring yang telah memberikan penguatan konektivitas digital khususnya jaringan 4G,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartartosaat meresmikan Future Digital Lab di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Senin (18/03/2019).

Making Indonesia 4.0 mendorong Indonesia untuk mencapai 10 besar ekonomi di tahun 2030, mengembalikan net export ke kisaran 10 persen, meningkatkan produktivitas kerja dua kali lipat, dan alokasi 2% dari PDB untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi. Upaya ini berpeluang meningkatkan 1-2 persen pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tambahan lebih dari 10 juta tenaga kerja serta peningkatan kontribusi industri manufaktur pada perekonomian.

“Di era Industri 4.0, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja melek digital, dengan komposisi 30 persen di industri manufaktur dan 70 persen di industri penunjang yang nantinya akan mendorong tambahan ekonomi sebesar USD150 Miliar,” imbuhnya.

Langkah awal pelibatan teknologi dalam ekonomi Indonesia telah melahirkan empat Unicorn, atau perusahaan startup dengan nilai valuasi mencapai USD1 Miliar, yaitu GoJek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak.

“Indonesia adalah negara dengan jumlah Unicorn terbanyak di ASEAN. Unicorn ini tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi yang makin luas namun juga mengangkat perekonomian masyarakat dengan memudahkan para pelaku ekonomi mikro mendapat akses pasar,” jelasnya.

Terapkan IoT

Kementerian Perindustrian terus mendorong inovasi sebagai elemen penting dari Revolusi Industri 4.0. Upaya tersebut merupakan implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0 sehingga Indonesia siap menapaki industri digital baik dari segi infrastruktur maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

“Salah satu prioritas peta jalan Making Indonesia 4.0 adalah peningkatan alokasi anggaran untuk aktivitas research and development (R&D) teknologi dan inovasi. Ini adalah lompatan besar dan kerja keras yang perlu didukung segenap pemangku kepentingan,” ujar Airlangga.

Lab pengembangan ekonomi digital ‘IoT Innovation & Future Digital Economy Lab’ tersebut diprakarsai Indosat Ooredoo Business. Future Digital Economy Lab diharapkan mampu menghasilkan ide inovasi, referensi desain produk dan solusi guna menjawab kasus-kasus IoT yang dapat dikembangkan dalam skala industri untuk beragam kebutuhan baik itu pengembangan produk, layanan, manufaktur, marketing, dan lain-lain.

“Dahulu di era globalisasi yang menjadi kunci adalah bahasa Inggris, sekarang di era digitalisasi kuncinya adalah koding dan statistik data. Kalau menerapkan itu apapun jurusan sekolahnya, maka kita akan siap di era digital,” ucapnya.

Future Digital Economy Lab merupakan lab inovasi pertama didirikan dalam program yang diprakarsai Indosat Ooredo. Selanjutnya, Indosat Ooredoo juga akan bekerja sama dengan institusi pendidikan lainnya seperti Universitas Bina Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, UNIKA Atma Jaya, Universitas Trilogi, dan STIE PERBANAS.

Selanjutnya, President University, Universitas Prasetiya Mulya, Institut Teknologi Sepuluh November, serta Universitas Udayana. Sinergi ini untuk menyediakan sarana pembelajaran dan pengembangan talenta digital berbasis awareness dengan cara learning by doing.

“Kami harap, dengan Future Digital Lab ini, ITB menjadi powerhouse dalam kebangkitan digital ekonomi Indonesia dan mencapai target masuk 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030,” ungkapnya.

Menperin mengatakan, setidaknya sudah ada tiga laboratorium IoT yang diresmikan dan dikunjungi dalam satu tahun terakhir. “Ini adalah langkah emas bagi Indonesia untuk menguasai inovasi dan teknologi,” ungkapnya.

Airlangga menyampaikan, industri 4.0 sangat erat kaitannya dengan penyediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi seperti Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding. Sehingga, hal tersebut akan jadi tantangan besar bagi Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan dinamika Industri 4.0.

Director & Chief Innovation and Regulatory Officer Indosat Ooredoo, Arief Musta’in menambahkan, tren dan percepatan teknologi akan memberikan perubahan pada kebutuhan, mulai dari sosial hingga perubahan cara pemerintah melayani masyarakat. Karena itu kata dia, Indosat Ooredoo memposisiskan sebagai mitra digital yang terpercaya, bagi perusahaan, pemerintah dan transformasi digital di posisinya masing-masing.

“Kami juga berpartisipasi dalam inisiatif Making Indonesia 4.0 yang dijalankan pemerintah dengan mengambil peran sebagai hub dan kolaborasi dalam menguatkan sistem yang menjadi fondasi dari Industri 4.0,” imbuhnya.

Selain itu menurut Arief, Indosat Ooredoo Business menyediakan infrastruktur digital, yang salah satu komponen terpentingnya adalah Internet of Things. Komponen ini merupakan bagian besar dari bisnis masa depan dan mengubah interaksi masayarakat dan sosial.

“Internet of Things adalah bagian dari industri 4,0 yang merupakan proses besar yang membutuhkan keahilian khusus, karena itu kami menyadari IoT erat dengan tumbuhnya ide dan inovasi yang akan kita kembangkan bersama,” tegasnya.

Director and Chief Innovation and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Arief Musta’in (kiri) bersama Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo Ismail (ketiga kiri) dan Guru Besar STEI ITB Suhono H. Supangkat (tengah) meninjau IoT Innovation & Future Digital Economy Lab seusai peresmian di ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/3/2019). Indosat Ooredoo Business dan ITB menghadirkan Future Digital Economy Lab yang bertujuan untuk menjadi wadah dalam mengembangkan inovasi penguatan sumber daya serta menghasilkan beragam ‘use case’ berbasis IoT yang dapat diproduksi di dalam negeri guna meningkatkan perekonomian bangsa dan menciptakan peluang usaha di berbagai industri. (antarafoto)

Source: Keminfo Site Resmi

Progres Palapa Ring Hampir 100 Persen, Indonesia Bakal Nikmati Internet Cepat

JAKARTA – Proyek pembangunan fiber optik kabel atau Palapa Ring hampir 100 persen selesai. Lengkapnya, Palapa Ring Barat telah selesai 100 persen dengan panjang fiber optik 2.995 Km.

Sementara itu, Palapa Ring tengah mencapai 99 persen dengan 2.995 Km. Untuk pembangunan fiber optik di Timur sendiri sedikit tertinggal dengan capaian 80 persen atau 6.878 Km

Disebutkan oleh Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi, Anang Latif, molornya pembangunan di daerah timur karena kondisi geografis yang ekstrem, khususnya di Papua.

“Palapa Ring internet bagian tengah 1 persen lagi dan rencananya selesai pada Desember 2018. Lalu, di Timur ini yang masih berjuang ya. Kesulitannya itu medannya yang susah,” kata Anang kepada Okezone, di Gedung Merdeka, Kamis (29/11/2018).

Lebih lanjut, dalam mewujudkan Indonesia Merdeka Sinyal pada 2020. Pemerintah melalui BAKTI, tak hanya membangun proyek Palapa Ring, namun juga mendirikan base transceiver station (BTS) di daerah pelosok Indonesia. Meskipun demikian, sama halnya dengan Palapa Ring, pembangunan BTS di sejumlah daerah juga terhalang medan yang berat.

“Mendesain jaringan tidak mudah, sinyal itu ibarat lampu ketika di sini dia akan mencoba menyinari semua, tapi tidak semua titik tersinari. Ini karena terhalang oleh alam contohnya saja salah satu sinyal terhalang bangunan dan gunung. Satu desa memang satu BTS, namun faktanya di lapangan itu macam-macam. Ada bukit ada bangunan, makanya kita korbankan itu untuk mencari sinyal harus keluar sedikit untuk jalan solusinya, di kota pun seperti itu,” jelas Anang.

Untuk informasi, pembangunan Palapa Ring dan BTS merupakan wujud pemerintah untuk membangun daerah pinggiran dan menghilangkan kesenjangan digital. Proyek Palapa Ring menyediakan kabel fiber optik yang memungkinkan penyediaan akses internet yang menjangkau Indonesia wilayah bagian Barat, Tengah dan Timur.

Proyek tersebut telah didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui BP3TI yang kini dinamakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (BAKTI). Ditargetkan proyek ini rampung tahun depan, di mana kecepatan internet yang cukup tinggi dengan 10 Mbps di wilayah pedesaan dan 20 Mbps di perkotaan.

Sumber berita: http://www.okezone.com (29/11/2018)

Source: Keminfo Site Resmi

Bakti Rilis Tarif Palapa Ring Barat

Jakarta – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi merilis harga sewa infrastruktur jaringan tulang punggung Palapa Ring Barat dengan tarif termurah Rp 20 juta per bulan.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informan (Bakti), Anang Lathif mengatakan pihaknya menetapkan tarif berbeda untuk tiap proyek karena mempertimbangkan nilai investasi, harga pasar, dan hunian pengguna.

Dalam Keputusan Direktur Utama BAKTI, terdapat dua layanan yang diterapkan yakni layanan penyediaan kapasitas pita lebar (bandwidth) dan layanan penyediaan serat optik pasif atau dark fiber.

Perinciannya, untuk tarif layanan penyediaan kapasitas pita lebar, terdapat empat kategori berdasarkan besarnya investasi.

Pengguna infrastruktur Ralapa Ring Barat harus membangun jaringan lagi untuk bisa terhubung ke jaringan tulang punggung tersebut. Kendati demikian, jaringan tulang punggung ini membantu menurunkan investasi yang harus dikeluarkan penyedia layanan telekomunikasi.

“Setidaknya bagian termahal di jaringan backbone-nya sudah dibangun oleh pemerintah,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (28/9).

Selain itu, agar bisa menarik pemanfaatan infrastruktur, pihaknya pun menawarkan potongan harga. Kalau terdapat satu peminat, peminat tersebut berhak mendapat potongan harga 50% dari tarif yang telah ditetapkan. Kemudian, bila terdapat dua peminat, potongan harga menjadi 33% dan 25% untuk tiga peminat.

“Khusus untuk kapasitas, kalau hanya ada satu peminat di segmen tertentu, akan mendapatkan diskon.”

Anang berujar dengan tarif tersebut telah terdapat 10 perusahaan berminat dengan 6 perusahaan di antaranya merupakan operator seluler. “[Seluruhnya) 10 operator, termasuk semua operator seluler,” kata Anang.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur CEO Indosat Ooredoo Joy Wahjudi mengatakan pada prinsipnya pihaknya akan menggunakan infrastruktur Palapa Ring sesuai dengan kebutuhan.

“Prinsipnya sih selama memang kami butuhkan, pasti akan kami gunakan,” katanya.

Sebelumnya, dia menyebut jaringan transmisi merupakan hal yang diperlukan untuk memperluas cakupan jaringan di luar Jawa. Di sisi lain, investasi yang dikeluarkan untukjaringan tulang punggung terlalu besar bila harus ditanggung perusahaan.

“Saya butuhlah untuk fixed line, untuk luar Jawa mau enggak mau. Isu terbesar untuk luar Jawa itu transmisi, our biggest problem,” kata Joy.

Presiden Direktur CEO PT XL Axiata Tbk. Dian Siswarini mengatakan ketertarikan perusahaan terhadap pemanfaatan infrastruktur tersebut didasarkan pada kebutuhan.

“Kalau sesuai dengan kebutuhan, tentu kami tertarik,” katanya.

Palapa Ring Barat menyediakan tulang punggung jaringan serat optik sepanjang 2.275 km dengan 1.730 km terbentang di laut dan 545 km di darat.

Pada proyek Palapa Ring Barat, infrastruktur mencakup lima wilayah yang akan merasakan koneksi internet cepat yaitu Ranai, Kepulauan Riau; Tebing Tinggi, Sumatra Utara; Kepulauan Meranti, Kepulauan Riau; Bengkalis, Riau; Lingga, Kepulauan Riau dan Tarempa, Kepulauan Anambas.

Kelima kota dan kabupaten ini bisa merasakan jaringan internet 4G dengan kecepatan sekira 30 Mbps. Tercatat, setidaknya terdapat 94.000 penduduk di lima wilayah tersebut.

Pemerintah telah mengumumkan tarif pemanfaatan Palapa Ring Barat, infrastruktur tulang punggung (backbone) serat optik sepanjang 2.275 km yang terbentang 1.730 km di area laut dan 545 km di area darat.

Harga acuan berlaku berlaku universal baik untuk operator seluler maupun penyedia internet kabel. Harga yang ditawarkan, belum mencakup diskon yang merujuk pada jumlah peminat

Tarif Palapa Ring Barat

Layanan Penyediaan Kapasitas Pita Lebar (Bandwidth) per Bulan

Layanan Penyediaan Serat Optik Pasif (Dark Fibre) per Km per Tahun

Jalur Darat Rp12.00Q.000 Jalur Laut Rp16.000.000

Sumber berita : Bisnis Indonesia (01/10/2018)

Source: Keminfo Site Resmi

Simak perkembangan terkini Palapa Ring

Konsorsium Moratel bersiap membangun jaringan kabel dalam proyek Palapa Ring paket Barat. PT Moratelindo

KONTAN.CO.ID – Pemerintah menargetkan proyek Palapa Ring paket Barat dan Tengah beroperasi di tahun 2018. Sedangkan, proyek Palapa Ring paket Timur ditargetkan beroperasi pada 2019. Dengan demikian, dua tahun mendatang, semua Palapa Ring sudah aktif beroperasi.

Palapa Ring sendiri merupakan proyek prioritas pemerintah yang nantinya bakal menghubungkan seluruh ibu kota kabupatan/ kota dengan kabel optik, terutama untuk daerah yang saat ini belum dijamah fasilitas internet berkecepatan tinggi.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Mekominfo) Rudiantara menyampaikan, saat ini proses pengerjaan Palapa Ring paket Barat telah mencapai 74%, Palapa Ring paket Tengah mencapai 26% dan Palapa Ring paket Timur sudah 17% pengerjaan.

Pada awal Agustus lalu, penggelaran kabel serat optik laut batch 1 di Palapa Ring paket Barat telah dilakulan, dengan total panjang kabel kurang lebih 1.242 kilometer (km). Proyek tersebut meliputi segmen Tanjung Bembam Batam-Tarempa (sepanjang 369 km), Tarempa-Ranai (322 km), Ranai-Singkawang (352 km) dan segmen Sekanah Daik Lingga-UQJ Bintan Tanjung Bembam (199 km).

Awal September 2017, penggelaran kabel serat optik laut batch 2 di Palapa Ring paket Barat bakal mulai dikerjakan. Segmen yang akan dikerjakan meliputi Batam- Karimun- Tebing Tinggi- Bengkalis- Siak serta segmen Daik Lingga- KualaTungkal.

“Palapa Ring Barat itu targetnya Februari 2018. Tapi kami upayakan maju beberapa bulan. Jadi akhir 2017 semoga sudah bisa beroperasi,” kata Rudiantara saat rapat bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di kawasan parlemen, Senin (28/8).

Ia mengakui pengerjaan Palapa Ring paket Barat memang lebih cepat dibandingkan paket Tengah dan Timur. Pasalnya, lelang tender Palapa Ring Barat lebih dulu dibanding Palapa Ring Tengah dan Timur. Di samping itu, kendala yang dihadapi relatif mudah dibandingkan Palapa Ring paket Timur.

“Di bagian Timur, kami terkendala infrastruktur dan pembebasan tanah adat. Apalagi di Papua dan Papua Barat. Dua wilayah itu yang tersulit,” ungkapnya. Sama halnya dengan kendala di wilayah perbatasan dan perbukitan.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Rudiantara menjelaskan, saat ini pihak pengadaan proyek bisa menggarap penggelaran kabel serat optik lewat proyek infrastruktur yang sudah jadi. Rencananya kabel serat optik tersebut akan digelar di jalan paralel perbatasan.

“Istilahnya, dimana Pak Basuki bangun jalan, di situ kami nebeng menanam kabel serat optik, agar efisien,” terangnya.

Ia pun menuturkan, proyek Palapa Ring selama ini berusaha menyasar titik-titik yang dekat dengan pantai agar tidak terkendala oleh perijinan lahan dan sebagainya. Wilayah pantai dinilai relatif mudah untuk menggarap penggelaran kabel serat optik.

Soal pendanaan proyek Palapa Ring, Rudiantara menjelaskan, 20% pendanaan didapatkan dari APBN dan 80% dari loan perbankan. “Saat ini yang memegang konsorsium terbesar ada di BNI, sekitar 60%, selebihnya di ICBC sekitar 25%, Bank Papua dan beberapa bank lain,” ujarnya.

Pembiayaan proyek menggunakan skema availibility payment (AP) dengan kontrak proyek 15 tahun. Proyek Palapa Ring paket Barat diperkiran menelan dana AP sebesar Rp 3,48 triliun, sedangkan Palapa Ring Tengah sebanyak Rp 3,5 triliun dan Palapa Ring Timur sebanyak Rp 14,06 triliun.

Anggota Komisi I DPR RI asal Fraksi PDI-P, Andreas Pareira mengapresiasi upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan proyek Palapa Ring ini. Ia berharap pada tahun 2019, Indonesia sudah bisa terkoneksi internet secara luas.

“Yang penting pemerintah harus keep on the track saja. Sesuai dengan perencanaan awal dan fokus. Yang paling penting, dalam pendanaan via loan, peran bank lokal harus diprioritaskan. Jangan sampai porsi bank asing lebih banyak,” tukasnya.

Source: Site Kominfo Resmi

Satelit Nusantara Satu Bantu Kurangi Kesenjangan Akses Internet

Jakarta, Kominfo – Satelit Nusantara Satu secara resmi diluncurkan secara langsung dari Stasiun Angkatan Udara Cape Caneveral, Florida, Amerika Serikat. Berdasarkan hasil pantauan melalui live streaming, peluncuran satelit Nusantara Satu sesuai target, yakni pada hari Jum’at, (22/02/2019) atau pada hari Kamis sekitar pukul 8.45 waktu setempat.

Direktur Utama PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso mengatakan, satelit Nusantara Satu ini akan mulai beroperasi pada bulan April 2019 mendatang. Adi berharap, satelit ini sebagai upaya dalam mengurangi kesenjangan jaringan komunikasi internet cepat di Tanah Air.

“Kebutuhan internet atau broadband sangat tinggi, kami memperkirakan ada 25 ribu desa yang tidak memiliki koneksi komunikasi internet memadai. Jadi, target kami untuk membantu mencakup mereka,” kata Adi sebelum proses peluncuran dilakukan.

Satelit Nusantara Satu ini akan disewa oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Hal ini sesuai dengan target BAKTI untuk memberikan fasilitas dan kebutuhan internet di wilayah yang tidak terjangkau kabel serat optik. BAKTI akan menggunakan layanan satelit PSN ini selama lima tahun kedepan sambil menunggu diselesaikannya Satelit Multifungsi Pemerintah yang ditargetkan selesai pada tahun 2023.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latif menuturkan, penyediaan kapasitas satelit telekomunikasi merupakan upaya menyediakan kapasitas satelit lebih awal sembari menunggu konstruksi Proyek KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) Satelit Multifungsi

“Sembari menunggu penyelesaian Satria (Satelit Indonesia Raya) yang ditargetkan selesai 2020, kita menyediakan akses internet cepat untuk kebutuhan layanan pendidikan, kesehatan dan pertahanan keamanan dengan kerja sama ini,” ungkap Anang Latif dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penyediaan Kapasitas Satelit Telekomunikasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/01/2019).

Penyediaan Kapasitas Satelit Telekomunikasi tersebut, tambah Anang, dimanfaatkan untuk mendukung program Layanan Akses Internet (BAKTI Aksi) dan layanan backhaul BTS (BAKTI Sinyal).

Menurut Dirut BAKTI, setiap pemenang lelang akan menyediakan kapasitas satelit sebesar 21 Gbps (Gigabytes per second). Bahkan dengan penyediaan kapasitas itu, Anang Latif optimistis target merdeka sinyal akan bisa terwujud dengan cepat.

Nusantara Satu merupakan satelit Indonesia pertama yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) berkapasitas hingga 15 Gbps. Teknologi ini, diyakini mampu memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia.

Pada akhir tahun 2018, BAKTI telah menggelar lelang penyediaan kapasitas satelit telekomunikasi (transponder) berbasis HTS. PT. Pasifik Satelit Nusantara merupakan salah satu pemenang tender tersebut. Adapun perusahaan lainnya yang lolos evaluasi yakni, PT Indo Pratama Teleglobal, PT. APlikanusa Lintasarta dan Telkom.

BAKTI juga rencananya akan menggunakan 60 persen kapasitas Ku-band satelit Nusantara Satu yang akan memulai operasinya pada bulan April mendatang. Saat ini, sebanyak 70 persen total kapasitas Nusantara Satu sudah terpakai.

Satelit Nusantara Satu memiliki kapasitas 26 transponder C-band dan 12 transponder Extended C-band. Selain itu, juga terdapat 8 spot beam Ku-band dengan total kapasitas bandwidth mencapai 13,6 Gbps. Area cakupan dari satelit ini mencapai seluruh wilayah di Tanah Air.

Palapa Ring Untuk Pemerataan Akses Broadband

Jakarta, Kominfo – Proyek Palapa Ring akan menyediakan koneksi dari barat hingga timur Indonesia. Proses pembangunan untuk di area barat dan tengah sudah dimulai, sementara financial closing pembangunan area timur akan dilakukan awal 2017 nanti, dan seluruhnya ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2019. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, ketika menyampaikan keynote speech di acara launching Foxconn Luna di Ritz-Carlton Mega Kuningan, Senin (7/11/2016) siang sambil memperlihatkan peta rencana koneksi Palapa Ring kepada audiens.

Lebih lanjut Rudiantara menjelaskan baru 400 dari 514 kabupaten kota di Indonesia yang memiliki akses broadband. Sehingga masih ada 114 titik yang harus diselesaikan dengan bekerja sama dengan operator. Dari 114 titik ada 57 titik yang akan ditangani oleh pemerintah, misalnya Natuna yang merupakan titik strategis Indonesia dengan Laut Cina selatan, serta daerah timur lainnya.

“Di Papua itu harus bayar lebih mahal karena infrastruktur yang harus dibangun oleh operator itu lebih mahal. Kalau begitu pemerintah yang akan step in untuk membangun area yang tidak dibangun oleh operator,” tuturnya.

Selain 57 kabupaten, ada 28 titik yang juga turut akan dibangun sebagai penyambung dengan titik yang sudah ada. Hal ini dilakukan agar seluruh rakyat Indonesia dapat menikmati akses internet cepat. Saat ini, rata-rata kecepatan internet di Jakarta adalah 7 megabyte persecond. Namun, saudara-saudara kita yang ada di Papua hanya bisa menikmati internet dengan kecepatan sekitar 300 kilobyte per second saja.

“Kalau kita tidak bangun daerah timur, mereka akan terus menggunakan 2G dan menggunakan satelit sehingga biayanya makin mahal.”

Hal ini merupakan langkah yang diambil pemerintah untuk membentuk ekosistem yang baik bagi transisi internet 2G ke 4G di Indonesia. (DPS/TF)

Source: Site Kominfo Resmi

Manfaatkan Palapa Ring untuk Dukung Ekonomi Digital

Pulau Morotai, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan jaringan tulang punggung kabel serat optik Palapa Ring akan dimanfaatkan untuk mendukung ekonomi digital Indonesia.

“Ini kita manfaatkan untuk mendukung ekonomi digital Indonesia. Jangan lupa tahun 2020 proyeksi dari ekonomi digital Indonesia akan mencapai USD130 Miliar atau kurang lebih mencapai 11-12% dari ekonomi Indonesia, suatu angka yang sangat besar dan merupakan paling besar di kawasan regional,” jelasnya dalam kunjungan di Pulau Morotai, Maluku Utara, Rabu (02/01/2019)

Menurut Menteri Kominfo, Palapa Ring Tengah telah terintegrasi dengan Palapa Ring Barat yang sudah mulai beroperasi sejak April 2018. “Kabupaten Morotai bagian dari pembangunan dari Palapa Ring bagian Tengah terintegrasi dengan Bagian Barat. Kita tinggal menunggu penyelesaian Palapa Ring Bagian Timur,” jelasnya

Palapa Ring Timur sendiri menurut Rudiantara ditargetkan bisa selesai dan terintegrasi pertengahan tahun 2019. “Bagian Timur mencakup Papua, Papua Barat, NTB, NTT, kemudian juga sebagian dari Maluku yang konstruksinya hampir 90% dan mudah-mudahan bisa kita integerasikan ke semuanya pada pertengajan tahun 2019 ini,” tambahnya.

Dengan terintegrasinya Palapa Ring Barat, Tengah dan Timur, pada pertengahan tahun 2019 akan terhubung 514 kabupaten dan kota. “Sudah terhubung dengan jaringan tulang punggung internet kecepatan tinggi Broadband melalui Palapa Ring maupun melalui jaringan yang dibangun oleh teman-teman operator lainnya,” jelas Rudiantara.

Menteri Rudiantara mengajak semua pihak untuk memanfaatkan Palapa Ring untuk komunikasi yang baik. ” Ayo kita manfaatkan terus Palapa Ring ini untuk komunikasi yang lebih baik di Indonesia khususnya untuk mendukung ekonomi digital Indonesia. Akhir kata, saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2019 dari Morotai,” ungkapnya.

Kunjungan Menteri Rudiantara selama dua hari di Pulau Morotai ditujukan untuk melihat penyelesaian pembangunan terminal Station Fiber Optic Morotai. Terminal itu menampung perangkat aktif transmisi backbone fiber optic jaringan Palapa Ring Paket Tengah.

Kunjungan kerja tersebut juga menjadi momentum uji coba pemanfaatan backbone fiber optic Palapa Ring. Jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan Manado ke Melonguane Kabupaten Talaud, kemudian dari Melonguane ke Morotai, Maluku Utara.

Source: Site Kominfo Resmi

Sekilas Tentang Palapa Ring

Latar Belakang

Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku) dan satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.

Sasaran dan Strategi

Pembangunan jaringan serat optik nasional, yang akan menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Proyek Palapa Ring ini akan mengintegrasikan jaringan yang sudah ada (existing network) dengan jaringan baru (new network) pada wilayah timur Indonesia (Palapa Ring-Timur). Palapa Ring-Timur akan dibangun sejauh 4.450 KM yang terdiri dari sub marine cable sejauh 3.850 km dan land cable sepanjang 600 KM dengan landing point sejumlah lima belas titik pada 21 kota/kabupaten.

Jaringan tersebut berkapasitas 100 GB (Upgradeable 160 GB) dengan mengusung konsep ring, dua pair (empat core). Strategi pembangunan proyek Palapa Ring ini adalah dengan membentuk suatu konsorsium dimana anggota konsorsium terdiri dari penyelenggara telekomunikasi di tanah air.

Hasil yang diharapkan

Jaringan ini akan menjadi tumpuan semua penyelenggara telekomunikasi dan pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia dan terintegrasi dengan jaringan yang telah ada milik penyelenggara telekomunikasi.

“Sovereignty/Kedaulatan Negara” dan “Ketahanan Nasional” melalui ketersediaan infrastruktur telekomunikasi yang terintegrasi.

Akselerasi pertumbuhan dan pemerataan pembangunan sosial ekonomi melalui ketersediaan infrastruktur jaringan telekomunikasi berkapasitas besar yang terpadu bisa memberikan jaminan kualitas internet dan komunikasi yang berkualitas tinggi, aman, dan murah.

Perkembangan Palapa Ring

Saat ini sedang dibangun untuk wilayah Indonesia bagian Timur tahap1 untuk jalur Mataram-Kupang, sepanjang 1.800km.

Source: Site Kominfo Resmi

Mengenal Definisi Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya

Revolusi industri telah terjadi sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda di tanah air. Kala itu, pekerjaan yang dilakukan secara manual mulai digantikan oleh kehadiran mesin. Seiring dengan perkembangan teknologi, revolusi industri pun turut berulang dalam kurun waktu tertentu. Sejak tahun 2018, istilah revolusi industri 4.0 mulai gencar diperkenalkan.

Definisi Revolusi Industri 4.0

Menurut penuturan Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartanto, revolusi industri 4.0 mulai dipopulerkan oleh Jerman. Fenomena tersebut bisa didefinisikan sebagai perubahan besar-besaran di bidang industri yang mulai melibatkan digitalisasi dalam setiap aspek. Presiden RI, Joko Widodo, ingin Indonesia mulai berbenah diri untuk menghadapi revolusi tersebut. Sehingga butuh road map dan langkah-langkah konkret lainnya untuk turut bersaing secara global.

Hal-Hal yang Terjadi Saat Revolusi Industri Terbaru

Sumber : Tactix

Revolusi Industri 4.0 membuat pemanfaatan teknologi menjadi semakin populer di ranah industri. Sebagian pekerja bahkan bisa digantikan oleh kehadiran mesin-mesin canggih berkonsep digital. Sebenarnya, Anda tak perlu khawatir dengan revolusi industri. Karena fenomena tersebut tetap membutuhkan dukungan dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil menggunakan teknologi. Proses pengoperasian sistem berbasis teknologi harus dilakukan oleh para SDM yang sudah expert. Sehingga prinsip efisiensi dan efektivitas bisa diwujudkan sesuai tujuan bisnis.

Revolusi Industri Turut Mempengaruhi Dunia Pendidikan

Sumber : Serc Carleton

Bukan hanya dunia kerja dan bisnis yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0. Dunia pendidikan pun turut mendapatkan pengaruh besar. Generasi muda di tanah air harus dididik secara tepat agar siap menghadapi revolusi industri. Selain dibekali dengan ilmu-ilmu konvensional, konsep implementasi teknologi juga harus diajarkan sejak dini. Generasi muda mesti memiliki rasa keingintahuan yang besar dan kemauan untuk berinovasi. Agar kecanggihan teknologi yang lebih sempurna dan bermanfaat bisa diwujudkan di masa mendatang.

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dianggap potensial sebagai ladang investasi global. Banyak kesempatan kerja dan bisnis yang terbuka lebar di masa mendatang. Mendapatkan suntikan dana pun bukan hal yang sulit bagi sejumlah bidang bisnis. Jadi, Anda pun harus mempersiapkan diri untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Kalau tak ingin menjadi pekerja yang diabaikan karena keterbatasan kemampuan, jangan malas mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan teknologi.

Source: Magazine-Job-Like