Tag Archives: International Mathematical Olympiad

International Mathematical Olympiad Timeline

The logo of the International Mathematical Olympiad.

International Mathematical Olympiad Timeline

Source: Wikipedia

Notable Achievements

The following nations have achieved the highest team score in the respective competition:

  • China, 20 times (from the first participation in 1985 until 2014): in every year from 1989 to 2014 except 1991, 1994, 1996, 1998, 2003, 2007, 2012, as well as in 2019 (joint with USA);
  • Soviet Union, 14 times: in 1963, 1964, 1965, 1966, 1967, 1972, 1973, 1974, 1976, 1979, 1984, 1986, 1988, 1991;
  • United States, 8 times: in 1977, 1981, 1986, 1994, 2015, 2016, 2018, 2019 (joint with China);
  • Hungary, 6 times: in 1961, 1962, 1969, 1970, 1971, 1975;
  • Romania, 5 times: in 1959, 1978, 1985, 1987, 1996;
  • West Germany, twice: in 1982 and 1983;
  • Russia, twice: in 1999 and 2007;
  • South Korea, twice: in 2012 and 2017;
  • Bulgaria, once: in 2003;
  • Iran, once: in 1998;
  • East Germany, once: in 1968.

The following nations have achieved an all-members-gold IMO with a full team:

  • China, 12 times: in 1992, 1993, 1997, 2000, 2001, 2002, 2004, 2006, 2009, 2010, 2011, and 2019.
  • United States, 4 times: in 1994, 2011, 2016, and 2019.
  • South Korea, 3 times: in 2012, 2017, and 2019.
  • Russia, 2 times: in 2002 and 2008.
  • Bulgaria, once: in 2003.

Also noteworthy is that the United States was a single point away from achieving all gold medals in 2012, 2014, and 2015 and was just two points away in 2018, in each of these years obtaining 5 gold medals and 1 silver medal.

The only countries to have their entire team score perfectly in the IMO were the United States in 1994 (they were coached by Paul Zeitz); and Luxembourg, whose 1-member team had a perfect score in 1981. The US’s success earned a mention in TIME Magazine. Hungary won IMO 1975 in an unorthodox way when none of the eight team members received a gold medal (five silver, three bronze). Second place team East Germany also did not have a single gold medal winner (four silver, four bronze).

Several individuals have consistently scored highly and/or earned medals on the IMO: As of July 2015 Zhuo Qun Song (Canada) is the most successful participant[64] with five gold medals (including one perfect score in 2015) and one bronze medal. Reid Barton (United States) was the first participant to win a gold medal four times (1998-2001). Barton is also one of only eight four-time Putnam Fellows (2001–04). Christian Reiher (Germany), Lisa Sauermann (Germany), Teodor von Burg (Serbia), and Nipun Pitimanaaree (Thailand) are the only other participants to have won four gold medals (2000–03, 2008–11, 2009–12, 2010–13, and 2011–14 respectively); Reiher also received a bronze medal (1999), Sauermann a silver medal (2007), von Burg a silver medal (2008) and a bronze medal (2007), and Pitimanaaree a silver medal (2009). Wolfgang Burmeister (East Germany), Martin Härterich (West Germany), Iurie Boreico (Moldova), and Lim Jeck (Singapore) are the only other participants besides Reiher, Sauermann, von Burg, and Pitimanaaree to win five medals with at least three of them gold. Ciprian Manolescu (Romania) managed to write a perfect paper (42 points) for gold medal more times than anybody else in the history of the competition, doing it all three times he participated in the IMO (1995, 1996, 1997). Manolescu is also a three-time Putnam Fellow (1997, 1998, 2000). Eugenia Malinnikova (Soviet Union) is the highest-scoring female contestant in IMO history. She has 3 gold medals in IMO 1989 (41 points), IMO 1990 (42) and IMO 1991 (42), missing only 1 point in 1989 to precede Manolescu’s achievement.

Terence Tao (Australia) participated in IMO 1986, 1987 and 1988, winning bronze, silver and gold medals respectively. He won a gold medal when he just turned thirteen in IMO 1988, becoming the youngest person at that time to receive a gold medal (Zhuo Qun Song of Canada also won a gold meal at age 13, in 2011, though he was older than Tao). Tao also holds the distinction of being the youngest medalist with his 1986 bronze medal, followed by 2009 bronze medalist Raúl Chávez Sarmiento (Peru), at the age of 10 and 11 respectively. Representing the United States, Noam Elkies won a gold medal with a perfect paper at the age of 14 in 1981. Note that both Elkies and Tao could have participated in the IMO multiple times following their success, but entered university and therefore became ineligible.

The current ten countries with the best all-time results are as follows:

Source: imo-official dot org | IMO Official

Gender of some contestants is not known. Please send relevant information to the webmaster: webmaster @ imo-official dot org

International Mathematical Olympiad Thailand 2019: Indonesia Raih 1 Medali

Siswa Madrasah Ini Raih Gold Award Thailand International Mathematical Olympiad 2019.

Muhammad Adi Brata Tata Negara Saputra, Siswa kelas 7B MTsN 2 Kota Kediri meraih Gold Award dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 di Bangkok.

“Adi bersaing dengan ratusan peserta dari 21 negara, dia berhasil meraih Gold Award dalam ajang Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019,” kata Kepala MTsN 2 Kota Kediri, Hadi Suseno.

Untuk diketahui, Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 diselenggarakan di Head Star International School Thailand dan berlangsung dari 5 sampai 8 April 2019. Ajang ini diikuti para siswa dasar dan menengah (MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA), negeri dan swasta, yang telah bergabung dalam Head Round Indonesia pada instansi pendidikan yang telah bekerja sama dengan TIMO.

“Siswa yang lolos Head Round Indonesia dan mendapat medal gold silver bronze, bisa lanjut final TIMO di Thailand,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan dengan meraih Grade Gold Arward Timo di Thailand, maka Adi mendapatkan tiket untuk ikut kompetisisi selanjutnya yang diselenggarakan oleh Jepang, yakni World International Mathematics Olympiad (WIMO). Kompetisi ini akan diselenggarakan pada Desember 2019 di Tokyo Jepang.

Sebelum mendapat emas di ajang TIMO 2019 ini, Adi juga pernah mendapat medali emas tingkat provinsi Jawa Timur dalam kompetisi Hidayatullah Mathematics and Science Olympiad (HIMPSO) 2019. Prestasi lainnya adalah juara umum kompetisi olimpiade Matematika tingkat Jawa Timur-Jawa Tengah 2019, Bronze Medal tingkat Internasional dalam event Word International Mathematics Olympiad (WIMO) 2018, Silver Medal tingkat Intenasional dalam event American Mathematics Olympiad (AMO) 2018, Peraih Medal Perak tingkat Internasional 2018 dalam event International Challenge for Future Mathematic 2018, serta peraih Perunggu tingkat Internasional dalam event International Mathematic Olympiad 2018. (nov/kemenag)

International Mathematical Olympiad England 2019: Indonesia Raih 6 Medali

Pelajar Indonesia yang berhasil meraih enam medali pada Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) 2019 di Inggris.(Dok. Kemendikbud)

Merah Putih Berkibar, Indonesia Raih Medali Olimpiade Matematika di Inggris

Bendera Indonesia kembali berkibar pada ajang di bidang pendidikan berskala internasional. Kali ini dalam Olimpiade Matematika Internasional atau “International Mathematical Olympiad (IMO) 2019”, pelajar Indonesia meraih prestasi membanggakan.

Sebanyak enam medali yang terdiri dari satu Medali Emas, empat Medali Perak, dan satu Perunggu berhasil dibawa pulang dan membuat tim Indonesia berada di posisi ke-14 dari 110 negara peserta. Perolehan medali itu dilakukan setelah bersaing dengan lebih dari 600 peserta dari berbagai negara.

Pelajar yang meraih medali emas pada IMO 2019 yaitu

  • Kinantan Arya Bagaspati dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah.

Kemudian, pelajar yang mendapatkan empat medali perak masing-masing adalah

  • Jonathan Christian Nitisastro (SMAK Petra 2, Surabaya),
  • Alfian Edgar Tjandra (SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan),
  • Aaron Alvarado Kristanto (SMAK Petra 1, Surabaya), dan
  • Valentino Dante Tjowasi (SMAK Petra 2, Surabaya).

Adapun satu perunggu diraih oleh

  • Farrel Dwireswara Salim dari SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan.

Tingkat kesulitan tinggi

Aleams Barra selaku Koordinator Tim Indonesia untuk IMO 2019 menuturkan, prestasi Indonesia lebih baik dibanding sejumlah negara lain, seperti Australia, Inggris, Kanada, Jerman, dan Belanda.

“Perolehan medali emas kali ini merupakan yang ketiga kalinya yang pernah kita dapatkan setelah sebelumnya kita juga pernah mendapatkan emas pada tahun 2013 dan 2018,” ujar Aleams dalam keterangan di laman resmi Kemendikbud, Kamis (25/7/2019). Dia menuturkan, para peserta dalam IMO 2019 dituntut mengerjakan enam soal Matematika dalam waktu 4,5 jam.

Soal-soal itu terdiri dari empat bidang, yaitu aljabar, kombinatorika, geometri, dan teori bilangan. Soal-soal tersebut merupakan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dan untuk mengerjakannya pun dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental, dan kreativitas yang tinggi.

“Jadi tidak sedikit dari para peserta yang memang kesulitan mengerjakannya. Bahkan setingkat matematikawan profesional pun akan kesulitan untuk mengerjakan soal-soal IMO dalam rentang waktu yang singkat seperti itu,” ucap Aleams.

Kontribusi kemajuan Indonesia

Dia mengungkapkan bahwa timnya sudah cukup siap mengikuti kompetisi tersebut karena pelatihan dan pembinaan yang maksimal. Persiapan yang dilakukan baik dari segi fisik maupun mental, serta tanggung jawab. Sementara itu, Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto, mengutarakan kebanggaannya atas prestasi tim Indonesia sebagai peserta IMO yang terus meningkat sejak tahun 2013.

Dia mengharapkan Tim Olimpiade Matematika Indonesia bisa meraih medali emas secara konsisten dan terus meningkat lebih baik lagi. “Mereka sangat luar biasa, dan saya bangga tim IMO bisa mempertahankan tradisi emas ini.

Mereka layak mendapat apresiasi tertinggi dari negara dan menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di Indonesia. Ke depan juga diharapkan akan menjadi para ilmuwan, matematikawan, insinyur, dan ekonom yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan ilmu dan teknologi Indonesia,” tutur Purwadi.

Source: ERWIN HUTAPEA Kompas . com – 26/07/2019

International Mathematical Olympiad UK

  • Year: 2019
  • Country: United Kingdom
  • City: Bath
  • Date: 11.7.2019 – 22.7.2019
  • Countries Participated: 112
  • Total Contestants : 621 – Male: 556 – Female: 65

International Mathematics Competition Bulgaria 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Bocah Asal Jember Jadi Juara International Mathematics Competition

Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh alias Fafa ketika menema medali perunggu dari panitia olimpiade matematika di Bulgaria pertengahan Juli lalu. (JawaPos/Radar Jember/Ari Kurniawan)

Lain Lalu Muhammad Zohri, lain Mafazi Ikhwan Dhandy Hibatulloh. Bocah 13 tahun asal Jember ini juga menorehkan prestasi tingkat internasional di bidang matematika. Fafa, panggilan akrab Mafazi berhasil meraih juara tiga olimpiade sains internasional bidang matematika (IMC), di Bulgares, Bulgaria, pekan lalu.

Pantauan JawaPos, penampilan bocah itu sederhana, pendiam, ceria, tetapi penuh potensi. Fafa mampu bersaing dengan 28 finalis dari berbagai negara dalam IMC (International Mathematics Competition) yang berlangsung seminggu di negara Eropa Timur itu.

Bersama 12 peserta lainnya dari Indonesia, Fafa termasuk bagian dari sedikit anak bangsa yang mampu berkompetisi di bidang sains hingga ke tingkat internasional. Juga merupakan sedikit dari pelajar muslim yang siap bersaing dengan peserta umumnya didominasi nonmuslim.

Termasuk dari Indonesia sendiri. Bayangkan saja, dari 12 finalis Indonesia yang mengikuti event internasional tersebut, hanya tiga siswa saja yang berasal dari keluarga muslim. “Kami patut bangga dan bersyukur atas keberhasilan ini,” ujar Ari Kurniawan, pembina siswa berprestasi lembaga pendidikan Alfurqon Jember.

Memang, kemenangan Fafa dalam kejuaraan internasional tersebut bukan kali pertama diikuti SD maupun SMP Alfurqon Jember. Sejak diselenggarakan olimpiade sains tingkat dunia tujuh tahun lalu, sekolah ini sudah enam kali berhasil mengirimkan delegasinya. Antara lain di Bulgaria (dua kali), Singapura, Korea, Thailand, Taiwan, dan China.

Itu berarti, setiap tahun digelarnya olimpiade, Alfurqon selalu lolos seleksi tingkat nasional, dan berlanjut ke jenjang internasional. Itu baru satu-satunya sekolah yang terus-menerus mengikuti ajang internasional tersebut. “Sekolah lain biasanya cuma sekali atau maksimal dua kali,” imbuh Ari Kurniawan.

Untuk mengikuti lomba bergengsi itu, kata Ari, diakui memang tidak mudah. Seleksinya dimulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Sebelum maju ke tingkat internasional, para finalis biasanya digembleng (dikarantina) secara khusus, dengan jadwal yang amat ketat dan selektif.

Para pembinanya biasanya diambil dari akademisi perguruan tinggi terkenal, termasuk UI, ITB, Trisakti, dan lain-lain. Mereka digembleng berhari-hari mulai pagi hingga sore, untuk mengerjakan beragam soal dengan waktu yang amat ketat.

Demikian pula dengan Fafa, kata Ari, yang juga ayahnya itu, anak satu-satunya itu tergolong pendiam dan penurut. Dia hampir tak pernah menolak tugas mengerjakan soal-soal yang diprogramkan.

“Tetapi, yang namanya anak-anak, duduk setengah jam saja sudah bosan, gelisah, dan ingin jalan-jalan saja. Untungnya dia sabar dan mengikuti arahan pembinanya,” jelas, Ari. Padahal, sebagai anak tunggal, lanjut Ari, biasanya sering manja dan selalu ingin didampingi orangtuanya.

Source: Liputan6

International Mathematical Olympiad Hongkong 2018: Indonesia Raih 1 Medali

Pelajar MI Blitar Raih Emas Olimpiade Matematika Internasional Hong Kong

Foto: Erliana Riady

Pelajar kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Perwanida Kota Blitar, ini memiliki prestasi membanggakan. Pelajar bernama Zufar Hanasta Ilmi ini, meraih medali emas di ajang Hong Kong International Mathematic Olympiade (HKIMO).

Pelajar berusia 9 tahun ini, berhasil menyisihkan ratusan peserta olimpiade matematika tingkat Asia yang digelar 31 Agustus-2 September 2018 lalu.

Putra kedua pasangan M Ibnu Mukti dan Dwi Harsusi Susilowati ini, rupanya memiliki banyak prestasi serupa sejak kelas 1 MI. Baik yang berskala nasional maupun internasional.

Seperti Kompetisi Mathematic Nalaria Realistik (KMNR) Tingkat Nasional tahun 2017 meraih medali emas. KMNR tahun 2018 juga meraih emas. Dan meraih emas juga dalamHidayatull Mathematic and Science Olimpiad (HIMSO) tahun 2018.

Ditemui di sekolahnya pagi ini, bagi Zufar, mengerjakan soal matematika tak ubahnya seperti bermain bola.

“Saya suka sama matematika. Gak susah kok ngerjainnya. Malah seneng pengen cepet selesai. Kalau selesai itu seperti main bola terus bisa memasukkan gol,” ucapnya dengan lancar, Selasa (11/9/2018).

Kemampuan otak kiri Zufar memang bisa dibilang di atas rata-rata. Soal matematika yang sering dikerjakan dalam berbagai event lomba, merupakan soal matematika tingkat kelas 2 SMA. Namun bocah yang gemar olah raga bulu tangkis ini tak pernah sekalipun mengeluh.

“Tidak capek kok. Malah saya selalu pengen dikasi soal tiap hari. Tidak pernah sulit kok. Kalau mau lomba malah gak belajar, cuma main ngerjain soal. Nanti kalau saya duluan selesai ngerjain soal, saya pasti minta soal yang baru lagi,” imbuhnya.

Soal hitungan yang rumit, bagi Zufar matematika hanya permainan saja. Orang tuanya yang menyadari kelebihan kemampuan anaknya ini, lalu memasukkan dalam lembaga bimbingan belajar khusus berhitung. Jadwal padat dilakukan Zufar sejak kelas 1 MI

“Pulang sekolah jam 3 sore. Langsung les matematika sampai jam 5 sore. Itu dari Senin sampai Kamis. Sampai rumah mandi, makan, terus tidur sampai pagi
Saya suka dan gak capek kok,” ucapnya sambil tersenyum.

Ketika ditanya apakah bisa jauh dari mama untuk dikarantina, seperti umumnya peserta olimpiade sciense lainnya. Zufar menjawab begini.

“Sudah sering. Biasanya 10 hari. Mama gak menemani. Itu saya harus bangun jam 6 pagi. Mandi lalu sarapan. Terus latihan mengerjakan soal sampai makan siang sebentar. Habis itu mengerjakan soal lagi sampai jam 10 malam. Tapi saya ya merasa capek kok. Malah senang bisa kumpul banyak teman,” ujarnya.

Kabid Kesiswaan MI Perwanida Ratna Khusna menyatakan, prestasi yang didulang siswa didiknya ini kuncinya hanya komunikasi.

“Kunci utamanya, komunikasi. Antara pihak sekolah, anak dan orang tua. Jangan ada keinginan dari satu pihak saja. Jangan sampai orang tua memaksakan kehendaknya pada anak. Seperti Zufar ini. Kami sampaikan potensinya yang terlihat sejak kelas 1. Lalu orang tua memfasilitasi, sekolah sebagai media. Karena jer basuki mowo beyo,” pungkas Ratna.

Source: detikNews | 11 September 2018

International Mathematical Olympiad Romania 2018: Indonesia Raih 6 Medali

Logo Olimpiade Matematika Internasional.

Tim Indonesia Raih 1 Emas dan 5 Perak di Olimpiade Matematika Internasional

Tim pelajar Indonesia yang meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung di rumania.(Dok. Gian Sanjaya)

Tim Indonesia meraih 1 emas dan 5 perak dalam International Mathematical Olympiad (IMO) yang berlangsung pada 9-10 Juli 2018 di Kota Cluj-Napoca, Romania. Tim Indonesia beranggotakan

  • Gian Cordana Sanjaya (18)
  • Valentino Dante Tjowasi (16)
  • Farras Mohammad Hibban Faddila (17)
  • Kinantan Arya Bagaspati (17)
  • Alfian Edgar Tjandra (17)
  • Otto Alexander Sutianto (18)

Medali emas diraih oleh Gian, sementara 5 medali perak diraih oleh Valentino, Farras, Kinantan, dan Otto Alexander.

Informasi prestasi para pelajar Indonesia ini dipublikasi oleh akun resmi Twitter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, @Kemendikbud_RI.

Setiap tahunnya, Indonesia selalu mengikutsertakan pelajar yang menjadi perwakilan negara dalam olimpiade ini. Setiap negara berhak mengirimkan enam orang pelajar SMA sebagai peserta. Keenam orang tersebut terpilih berdasarkan seleksi yang dilakukan oleh Tim Pembinaan Indonesia. Tahun ini, ada 106 negara yang berpartisipasi. Saat dihubungi Kompas.com, Gian, pelajar yang meraih emas, masih berada di Romania. Ia mengatakan, lawan yang mereka hadapi cukup tangguh. “Kami melawan banyak negara. Namun, beberapa negara yang susah dikalahkan adalah Amerika, China, Rusia, Jepang, Korea, dan Inggris,” ujar Gian, siswa SMA Kristen Petra 1, Surabaya, Jumat (13/7/2018).

Gian mengatakan, dalam kompetisi ini diberlakukan sistem nilai. Untuk mendapatkan medali emas, peserta harus mendapatkan nilai minimal 31. Adapun, untuk medali perak nilai minimumnya 25, dan untuk medali perunggu nilai minimum 16. Gian mengaku, ia mendapatkan skor 31 dan berhasil memboyong medali emas. Sementara itu, Alfian, Kinantan, dan Farras masing-masing mendapatkan nilai 29, Valentino mendapatkan nilai 28, dan Otto mendapatkan nilai 25. Total nilai yang didapatkan oleh Tim Indonesia yaitu 171.

Source: Kompas | Penulis : Retia Kartika Dewi | Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

INTERNATIONAL MATHEMATICAL OLYMPIAD Singapore 2017: INDONESIA RAIH 6 MEDALI

Singapore International Math Olympiad Challenge (SIMOC)-Singapura-14-19 Juli 2017

Agregasi Antara, Jurnalis · Kamis, 20 Juli 2017 – 14:19 WIB

tepuk-tangan-pelajar-indonesia-raih-5-medali-di-olimpiade-matematika-di-singapura-UfNdmBstj8

Siswa asal Provinsi Lampung berhasil meraih lima medali yang didapatkan dari ajang internasional Singapore International Math Olympiad Challenge (SIMOC) 2017 di Singapura.

Informasi diperoleh dari Dinas Pendidikan Provinsi Lampung dan pendamping siswa itu, saat dihubungi dari Bandarlampung, Kamis (20/7/2017), pelaksanaan SIMOC di Singapura berlangsung pada 14-19 Juli 2017.

Para pelajar utusan Provinsi Lampung yang meraih medali itu adalah Nabila Aurelia Fatimah siswi SD Islam Az Zahra Bandarlampung, Jasmine Callista Aurelia siswi SMP IT Fitrah Insani Bandarlampung, Denzel Elden Wijaya siswa SMP Xaverius Telukbetung, dan Savero Lukianto Chandra siswa SMP Xaverius Telukbetung.

Semuanya mendapatkan silver medal atau medali perak yang diraih masing-masing.

Namun untuk Jasmine mendapatkan 2 medali sekaligus, yaitu 1 silver medal (medali perak) untuk math olympiad dan 1 bronze medal (medali perunggu) untuk kategori math warriors.

Mereka semua adalah siswa Lampung yang mewakili Indonesia pada ajang internasional tersebut bersaing dengan 5.000 lebih peserta yang berasal dari 17 negara. (sus)

International Mathematical Olympiad Brazil 2017: Indonesia Raih 5 Medali dan 1 Penghargaan

Rabu, 26 July 2017 16:29 WIB

mate

TIM pelajar Indonesia berhasil menyabet lima medali pada kompetisi International Mathematical Olympiad (IMO) ke-58 di Rio de Janeiro, Brasil, yang digelar pada 12-23 Juli 2017.

Melalui keterangan tertulis yang diterima, Rabu (26/7), tim pelajar Indonesia secara rinci meraih dua medali perak, tiga perunggu, dan satu predikat honorable mention.

Kepala Sub Direktorat Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Suharlan, yang menyambut kedatangan delegasi IMO di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, menjelasakan, IMO merupakan ajang bergengsi kompetisi matematika yang telah berusia lebih dari setengah abad. IMO ke-58 ini diikuti 615 siswa yang berasal dari 111 negara.

Suharlan mengemukakan, pada ajang IMO ini para siswa peserta diminta mengerjakan enam soal matematika, masing-masing 3 soal per hari yang harus dikerjakan dalam waktu 4,5 jam. Adapun soal-soal yang diberikan merupakan soal-soal yang orisinal dan belum pernah muncul sebelumnya.

Untuk dapat mengerjakannya, lanjut dia, peserta dituntut kecepatan berpikir, ketenangan mental, serta kreativitas yang tinggi. Menurut Suharlan, Tim Indonesia mendapatkan nilai total 108 dan menempati peringkat ke-31 dari 111 negara.

“Kendati hasil ini sedikit menurun dari tahun sebelumnya yang mana kita berhasil mendapatkan tiga medali perak, pencapaian peringkat ke-31 pada IMO tahun ini masih lebih balk dari beberapa negara yang memiliki tradisi matematika yang kuat seperti Israel, Jerman, dan Brasil,” ujarnya.

Tim Indonesia didampingi Dr AIeams Barra (ketua delegasi), Dr Herv Susanto (wakil ketua delegasi), Dr Budi Surodjo, dan Drs Sutrianto. Adapun tim IMO pelajar Indonesia terdiri atas enam siswa Indonesia, yakni Gian Cordana Sanjaya dari SMAK Petra 1, Surabaya, yang meraih medali perak, Bimo Adityarahman Wiraputra, dari SMAN 3 Bandung, meraih medali perak, dan tiga perunggu yang diraih Kinantan Arya Bagaspati, SMA Taruna Nusantara, Timothy Jacob Wahyudi, SMA Santa Laurensia, Otto Alexander Sutianto, SMAK Penabur Gading Serpong.

Sedangkan Farras Mohammad Hibban Faddila dari SMA Kharisma Bangsa meraih Honorable Mention Award. (RO/OL-2)