Tag Archives: Menyusui

Keuntungan Menyusui Bagi Penderita Kanker Payudara

KANKER PAYUDARA 20

Sebagai seorang ibu, pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat. Salah satunya yaitu dengan memberikan ASI eksklusif pada buah hati.

Namun bagaimana jika keadaan sang Ibu menderita penyakit kanker payudara.

Bisa dan bolehkah Ia tetap menyusui?

Pakar laktasi, dr. Utami Roesli, SpA menyatakan bahwa ibu dengan kanker payudara bisa saja menyusui. Pasalnya, kanker mungkin berada bukan pada sel-sel pembuat ASI. Hanya saja, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

  1. Pertama, tidak dalam pengobatan dengan obat kimiawi, karena obat yang dikonsumsi akan dialirkan dalam darah dan bisa terlarut dalam ASI. Sehingga pemberian ASI pada bayi akan membawa efek dari obat.
  2. Kedua, keadaan fisik setiap penderita kanker payudara berbeda-beda. Untuk itu, ada baiknya sang ibu berkonsultasi dengan dokter yang memeriksanya. Jika sel kanker ternyata mempengaruhi produktifitas ASI, maka bisa disiasati dengan memberikan ASI dari payudara yang tidak terkena kanker.

Namun, meskipun produktifitas ASI menurun pada payudara yang terkena kanker, tetaplah menyusui.

Hal tersebut dikarenakan, menurut studi dalam Journal of National Cancer Institute memperlihatkan penurunan resiko berulangnya kanker payudara. Karena biasanya, kanker payudara akan kembali lagi meskipun paska operasi.

Pasien kanker payudara yang menyusui akan mengalami penurunan resiko kembali berulangnya kanker hingga 30%.

  • Kesimpulan tersebut didapat setelah melakukan peninjauan catatan medis pada 1.636 wanita dengan kaker payudara dan riwayat menyusui mereka.
  • Sebanyak 383 perempuan kembali menderita kanker payudara, sedangkan 290 lainnya meninggal.

Menyusui dapat mengubah atau mengatur lingkungan molekul yang membuat tumor lebih responsif terhadap terapi anti-estrogen dan membuatnya kurang agresif.

Meskipun belum jelas apa yang melatar belangkangi, mengapa wanita yang menyusui membuat tumor kurang agresif.

Diketahui bahwa menyusui juga menurunkan risiko terjadinya kanker payudara.

Hal ini diduga karena adanya perubahan struktural di jaringan payudara saat menyusui dan penekanan jumlah estrogen yang diproduksi tubuh oleh laktasi.

Penekanan estrogen ini juga diperkirakan terkait dengan penurunan risiko kanker ovarium.


utami-dalam

dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM adalah seorang dokter Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang aktivis yang gigih memperjuangkan hak-hak bayi untuk mendapatkan ASI yang baik. 

Wikipedia

Lahir: 17 September 1945 (71 tahun), Semarang, Indonesia
Orang Tua: Roeshan Roesli
Kakek / Nenek: Marah Roesli
Kakek Buyut: Sultan Abu Bakar

Bolehkan Penderita Kanker Payudara Menyusui?

KANKER PAYUDARA 20

11 Juli 2013

Kanker-payudara-2-horz

Seorang ibu yang sudah sadar manfaat menyusui tentu sangat ingin memberikan ASI pada bayinya. Namun bila keadaan ibu sakit kronis seperti kanker payudara, masih bisakah ia menyusui?

Menurut dr. Utami Roesli, SpA, pakar laktasi, ibu dengan kanker payudara bisa saja menyusui anaknya. Pasalnya kanker mungkin berada bukan pada sel-sel pembuat ASI. Hanya saja, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pertama, ibu tidak dalam pengobatan dengan obat-obatan. Utami mengatakan, obat-obatan mengalir dalam darah yang bisa terlarut juga dalam ASI. Sehingga pemberian ASI ke bayi mungkin akan memberikan efek obat.

“Jika pengobatan bersifat radiasi, asalkan tidak saat mendapat terapi, ibu boleh saja menyusui,” tuturnya.

Selain terapi radiasi, pengobatan yang bisa dilakukan untuk kanker payudara adalah lumpektomi. Karena pengobatan ini sifatnya yang tidak terlalu ekstensif sehingga tidak mempengaruhi kemampuan untuk menyusui.

Namun keadaan fisik ibu yang memiliki kanker payudara berbeda-beda sehingga membutuhkan konsultasi secara khusus pada dokter yang memeriksa. Apabila sel kanker mempengaruhi produksi ASI, maka diperlukan cara lain agar anak tetap mendapat ASI.

Sebagai alternatif, ibu dapat memberikan ASI dari payudara yang tidak terkena kanker. Dikhawatirkan produksi ASI lebih sedikit di payudara yang terkena kanker.

Utami mengatakan, ASI dapat memberikan kekebalan alami bagi bayi. Sehingga bayi dapat terhindar dari penyakit-panyakit, termasuk kanker di kemudian hari. Maka kanker yang diderita ibu, tidak akan menurun ke anak.

“Bahkan apabila ibu terkena infeksi ringan seperti influenza, ibu tidak akan menularkan bayi yang disusuinya berkat kekebalan alami yang dimiliki ASInya,” imbuhnya.

Kanker merupakan penyakit yang menakutkan bagi banyak orang. Ada banyak jenis kanker yang dapat menyerang orang-orang, baik laki-laki juga perempuan. Kanker juga tidak memandang umur, siapa saja dapat terkena penyakit kanker, baik anak-anak ataupun orang dewasa. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang ditakuti oleh perempuan. Berdasarkan penelitian, jumlah penderita kanker payudara pada perempuan lebih tinggi dibanding kanker serviks.

Hubungan Antara Kanker Payudara Dan Menyusui

Kanker adalah terjadinya mutasi gen yang abnormal. Kita ketahui bahwa kanker payudara menyerang perempuan, namun ternyata ada juga laki-laki yang terkena kanker payudara meskipun persentasenya kecil. Namun, bagaimana hubungan antara kanker payudara dan menyusui?

Menyusui 1-horz

Seseorang dapat terkena kanker payudara karena ada beberapa faktor, antara lain

  • faktor genetik,
  • faktor pola hidup,
  • faktor usia,
  • faktor periode menstruasi,
  • faktor tidak menyusui,
  • faktor kegemukan,
  • faktor kontrasepsi oral (pil KB),
  • faktor kurang olahraga,
  • faktor hormon tubuh,
  • faktor riwayat keluarga, dan
  • faktor lainnya.

Semua faktor tersebut dapat memicu timbulnya kanker payudara, sehingga setiap perempuan yang telah mengalami menstruasi harus memperhatikan faktor-faktor tersebut.

Kemudian, berdasarkan penelitian hubungan antara kanker payudara dan menyusui adalah perempuan yang memberikan ASI bagi bayinya, memiliki faktor resiko lebih rendah dibanding perempuan yang tidak memberikan ASI bagi bayinya. Namun, ada juga perempuan yang menyusui bayinya terkena kanker payudara. Hal tersebut dapat terjadi karena penyakit kanker merupakan penyakit yang sulit diprediksi.

Selain itu, ada banyak faktor resiko yang dapat memicu terjadinya kanker payudara.

Sebagai perempuan sebaiknya melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin.

Bila merasa terjadi

  • perubahan bentuk,
  • ada benjolan pada payudara,
  • bengkak pada payudara sebagian atau seluruhnya,
  • ada rasa nyeri pada payudara atau puting, 
  • puting payudara mengalami retraksi atau masuk ke dalam,
  • keluarnya nanah atau darah dari payudara, dan
  • kelenjar getah bening yang membengkak,

itu merupakan tanda-tanda gejala kanker payudara.

Bila ibu menyusui merasa ada benjolan yang aneh pada payudara, sebaiknya ibu memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu. Dan untuk sementara bayi jangan diberi ASI, sampai hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ASI ibu aman untuk bayinya.

Hal-hal Yang Perlu Diketahui Tentang Kanker Payudara Dan Menyusui

Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, bahwa resiko berkurang sampai 59% bagi perempuan yang menyusui, meskipun keluarganya memiliki riwayat kanker payudara.

Menyusui dapat mencegah peradangan pada payudara ibu, berdasarkan jurnal ilmiah Archieves of Internal Medicine.

Ini adalah salah satu penelitian hubungan antara kanker payudara dan menyusui.

Selain itu, pada jurnal Obstetri dan Ginekologi, resiko penyakit lainnya seperti penyakit jantung berkurang 10%, bila ibu menyusui bayinya lebih dari 12 bulan.

Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Center for Research on Health Care, University of Pittsburgh Menyusui merupakan kewajiban seorang ibu dan merupakan hak bagi bayi.

Berdasarkan penelitian tersebut, menyusui tidak hanya baik bagi bayi, namun baik pula bagi ibu.

Baca JugaKeuntungan Menyusui Bagi Penderita Kanker Payudara

Benjolan pada Payudara, Berbahayakah?

Penyebab benjolan payudara pada wanita bervariasi. Beberapa penyebab tidak berbahaya dan benjolan hilang secara alami atau dengan beberapa metode sederhana pengobatan sementara beberapa mungkin sangat berbahaya dan mengakibatkan kanker payudara.

kanker-payudara-horzAda beberapa pertumbuhan non-kanker yang menyebabkan benjolan payudara seperti :

1. Benjolan payudara karena infeksi

Infeksi dapat menyebabkan benjolan payudara pada wanita menyusui, suatu kondisi yang dikenal sebagai mastitis. Selama menyusui kulit pada puting dan daerah sekitarnya akan retak atau terluka sehingga menyediakan ruang masuknya bakteri yang menyebabkan infeksi. Kadang-kadang saluran susu tersumbat dan mengarah ke pengerasan payudara dan membentuk benjolan yang menyakitkan.Ini dapat diobati dengan mudah dengan antibiotik kecuali infeksi berakar mendalam.

2. Benjolan payudara karena cedera

Benjolan payudara juga bisa disebabkan karena shock fisik pada payudara,gumpalan pembuluh darah kecil pecah didaerah tertentu. Shock berat dapat merusak jaringan lemak dari nekrosis payudara menyebabkan dan membentuk benjolan jinak atau tidak besifat kanker.

3. Kista payudara

Kista payudara adalah kantung kecil yang berisi cairan di dalam payudara yang menyebabkan benjolan jinak yang tidak besifat kanker. Kista payudara ini sangat umum di atas usia 35 dan wanita yang sudah mendekati menopause. Selama periode siklus menstruasi ukuran kista sering berubah dan mereda saat periode berakhir. Ketidakseimbangan hormon mengakibatkan pembentukan kista payudara

4. Perubahan Fibrokistik

Perubahan fibrokistik terjadi dengan pembentukan benjolan banyak dengan ukuran merata. Hal ini ditandai dengan payudara yang nyaris kasar, kental dan dengan banyak penyimpangan. Perempuan mungkin menderita rasa sakit atau benjolan selama perubahan fibrokistik.

5. Fibroadenoma

Fibroadenoma sangat umum di kalangan wanita berusia antara 30-35 tahun. Jenis benjolan payudara biasanya tumbuh selama kehamilan. Benjolan ini terbentuk akibat pertumbuhan berlebihan jaringan kelenjar dan jaringan ikat pada payudara. Mereka umumnya mereda sendiri atau dihapus oleh operasi bedah.

Deteksi Mandiri Gejala Kanker Payudara Sejak Dini

Gejala kanker payudara seringkali tidak muncul hingga bertahun-tahun. Resiko menderita kanker payudara semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Benjolan tanpa rasa sakit di sekitar payudara dan di bawah ketiak segera setelah siklus menstruasi menjadi pertanda adanya gejala kanker payudara. Namun, tidak semua benjolan menjadi indikasi adanya pertumbuhan sel kanker.

Di sisi lain, sel kanker tumbuh dan tidak mampu teraba hingga bertahun-tahun kemudian. Oleh karena itulah mamogram diperlukan untuk deteksi pertumbuhan sel kanker sejak dini bahkan ketika benjolan belum terbentuk. Gejala lainnya adalah pembengkakan di daerah ketiak.

Deteksi Mandiri Gejala Kanker

Payudara Deteksi mandiri juga dianjurkan selain mamogram berkala untuk mendeteksi gejala kanker payudara. Hal ini dapat dilakukan dengan meraba dan mengamati perubahan warna kulit di area payudara hingga ketiak. Selain benjolan, indikasi kanker payudara juga ditandai dengan adanya lekukan di area payudara. Perubahan warna kulit di sekitar payudara menjadi kemerahan, oranye, atau area dengan bentuk menyerupai pualam dan mengeras di bawah kulit menjadi indikasi selanjutnya.

Gejala-Kanker-Payudara-1-580x386

Perubahan di sekitar area payudara juga mencakup ukuran, temperatur, tekstur, dan kontur dari payudara itu sendiri. Berikutnya amati perubahan yang terjadi pada puting susu, apakah ada ruam, rasa gatal, terbakar, atau luka. Amati jika ada area di sekitar payudara yang bentuk dan warnanya berbeda dari area lainnya. Jika menemukan satu atau lebih dari gejala di atas segera temui dokter atau lakukan tes mammogram.

Faktor Timbulnya Gejala Kanker Payudara

Penyebab kanker payudara terdiri dari beberapa faktor. Genetis menjadi faktor pertama yang menyebabkan seseorang memiliki kemungkinan menderita payudara, terutama yang memiliki hubungan kekerabatan dekat. Faktor hormonal juga menjadi salah satu penyebab kanker payudara.

Perempuan yang mendapat siklus menstruasi lebih cepat, sekitar umur 12 tahun dan menopause pada umur yang lebih tua, sekitar 55 tahun memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker payudara dibandingkan perempuan yang mendapat siklus menstruasi pertama lebih lambat, namun menopause lebih cepat.

Wanita yang melahirkan, terutama sebelum umur 30 memiliki resiko lebih rendah terhadap wanita yang tidak memiliki anak. Terapi hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang memasuki masa menopause juga memiliki resiko tersendiri terhadap kanker payudara. Selain itu, gaya hidup juga menjadi faktor. Obesitas dan konsumsi lima jenis minuman beralkohol atau lebih per hari dapat meningkatkan resiko adanya gejala kanker payudara.

Disusun dari berbagai sumber