Mengapa Wanita “Basah” Saat Bergairah?

Khusus Pasutri


vagina-basah-saat-bergairah

Ketika wanita terangsang secara seksual atau bergairah, tubuhnya melewati berbagai macam perubahan untuk membantunya bersiap menyambut seks — bahkan jika rangsangan tidak benar-benar berlanjut ke tahap seks. Sebagai bagian dari perubahan tubuh ini, vagina mulai melumasi dirinya sendiri, yang umum digambarkan banyak orang dengan “vagina basah”.

Kebanyakan wanita tahu dan bisa merasakan kapan mereka basah, tapi tak sedikit juga yang tidak tahu banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana. Jika Anda pernah bertanya-tanya, “Mengapa saya basah saat bergairah?”, maka ini saatnya untuk cari tahu lebih dekat.

Mengapa vagina basah saat bergairah?

Vagina basah mengacu pada proses yang terjadi dalam waktu 10-30 detik seorang wanita pertama kali mengalami rangsangan seksual, di mana pembengkakan pembuluh darah dari jaringan yang terletak di bawah dinding vagina, disebut kelenjar Bartholin, menghasilkan cairan vagina pada dinding dalam vagina. Pelumasan vagina ini adalah proses persiapan selama aktivitas seksual yang berperan besar untuk memfasilitasi hubungan seksual dengan memungkinkan pergerakan yang lebih luwes saat upaya penetrasi menciptakan gesekan. Pelumasan vagina ini dapat terjadi akibat stimulasi fisik, seperti selama foreplay seksual, atau dari sekadar memikirkan aktivitas seksual.

Pelumasan vagina terjadi ketika Anda terangsang. Itu yang pasti. Tapi yang penting adalah bahwa pelumasan terkait dengan seberapa sering dan berapa lama Anda terangsang. Jadi jika Anda mudah bergairah, atau sering memikirkan seks hingga ke titik menjadi sedikit bergairah, Anda mungkin akan mengalami vagina yang lebih basah. Jika Anda tidak sering atau mudah mengalami gairah seksual, Anda mungkin hanya perlu menghabiskan sedikit lebih banyak waktu dalam tahap foreplay untuk sampai ke tahap itu.

Estrogen juga terkait dengan produksi cairan vagina saat terangsang, sehingga perempuan yang secara alami memiliki kadar estrogen tinggi, seperti wanita usia dewasa muda, cenderung untuk bisa basah lebih mudah dan dalam volume yang lebih besar daripada wanita yang memiliki tingkat estrogen yang lebih rendah. Wanita yang sedang menyusui atau yang sedang mengkonsumsi pil KB estrogen mungkin mengalami lebih banyak kesulitan dengan pelumasan vagina, seperti yang juga dialami banyak wanita usia menopause.

Terbuat dari apa cairan vagina ini?

Cairan yang keluar saat vagina basah berbeda dari keputihan biasa — lebih licin, cair, berwarna transparan, dan menyebar lebih mudah. Tidak seperti lendir leher rahim, cairan yang keluar saat Anda terangsang biasanya akan mengering dengan cepat dan menguap dalam waktu kurang lebih satu jam.

Sepanjang siklus menstruasi wanita, lendir vagina selalu berubah menanggapi produksi hormon tubuh. Selama gairah seksual, aliran darah ke vagina, vulva, dan klitoris, meningkat dan menyebabkan pembengkakan pembuluh darah di area genitalia. Pada saat ini, respon mirip berkeringat terjadi, melumasi dinding vagina. Kombinasi lendir vagina dan pelumasan ini menghasilkan sekresi seksual perempuan, yang bisa mengandung karbohidrat, asam amino, protein, dan asam lainnya yang dihasilkan oleh bakteri lactobacillus.

Seberapa banyak cairan yang keluar saat vagina basah?

Kualitas cairan sangat bervariasi untuk setiap wanita, dan pada setiap orang, banyak volume akan bergantung berdasarkan hormon, emosi, mood, metode, frekuensi, dan intensitas rangsangan seksual yang dialami, hingga tingkat ketertarikan seksual wanita pada pasangan seks mereka.

Faktanya, tidak ada batasan mana ‘normal’ dan tidak ketika membicarakan cairan sekresi seksual wanita. Beberapa wanita tidak pernah menghasilkan banyak pelumas alami dan harus dibantu dengan pelumas sintetik, sementara yang lain mengalami bisa basah begitu dashyatnya sehingga mengurangi sensasi saat berhubungan seks. Kisaran “sedikit” dan “banyak” sangatlah ambigu dan terlalu luas, jadi di kategori mana pun Anda berada, semua tergolong normal.

Jika secara alami vagina Anda cenderung lebih kering, Anda dapat mencoba perpanjang dan menambah intensitas foreplay seksual, terutama pada klitoris. Klitoris, banyak pakar berpendapat, adalah “sarang” di mana ujung-ujung saraf berkumpul yang akan lebih banyak menarik aliran darah dari jantung saat terangsang. Dan lagi pula, Anda bisa menggunakan bala bantuan dari pelumas sintetik. Ada banyak jenis pelumas sintetik, jadi beranikan diri untuk bereksperimen dengan pasangan dan cari tahu apa yang bekerja efektif untuk Anda. Anda juga dapat menggunakan pelembap vagina, yang populer digunakan oleh wanita usia menopause, karena perubahan hormon saat menopause sering menyebabkan kekeringan dalam vagina. Walaupun begitu, kurangnya produksi pelumas vagina yang tidak terkait usia mungkin dapat menandakan masalah emosional atau fisik lainnya yang membutuhkan intervensi profesional.

Jika Anda berada di kategori yang lebih mudah ‘basah’, mungkin Anda menyadari gaya gesek yang lebih dangkal (tidak sebanyak yang Anda inginkan), dan Anda merasakan lebih sedikit sensasi. Tidak perlu khawatir — coba untuk gunakan kondom non-pelumas untuk mendapatkan kembali sedikit-banyak gesekan. Satu tips yang juga mungkin membantu: atur posisi si dia saat berhubungan seks sedemikian rupa agar ada lebih sedikit kemungkinan untuk penisnya tergelincir keluar dan merusak momentum.

Mengapa cairan vagina penting untuk wanita?

Sangat penting bagi pasangan seksual untuk memahami peran pelumas dalam hubungan seks yang nyaman. Masing-masing pihak dalam hubungan seksual mungkin perlu untuk secara terbuka mendiskusikan cara terbaik untuk menjamin pelumasan. Kadang, waktu foreplay yang lebih lama adalah satu-satunya yang dibutuhkan wanita untuk dapat terlumasi dengan baik. Kali lainnya, pelumas sintetik mungkin perlu diterapkan selama aktivitas seksual.

Untuk wanita, vagina basah adalah tahapan penting dalam gairah seksual. Pelumasan alami ini menyiapkan vagina terhadap potensi penetrasi, sehingga memudahkan penis (juga jari atau mainan seks) untuk masuk dan mengurangi gaya gesek dan iritasi yang menyertainya dengan mengurangi tekanan pada alat kelamin. Nyeri selama hubungan seksual sering disebabkan oleh pelumasan yang tidak memadai.

Source: Ajeng Quamila . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri . HelloSehat

 

Advertisements

Ukuran dan Letak Klitoris Wanita Ternyata Bisa Memengaruhi Orgasme

Khusus Pasutri


letak-klitoris-wanita

Klitoris disebut-sebut sebagai pusat kenikmatan wanita. Namun, ada beberapa hal yang memengaruhi kenikmatan seksual dari rangsangan klitoris. Berbagai penelitian menemukan fakta bahwa ukuran dan letak klitoris wanita dapat memengaruhi kemampuannya untuk mencapai orgasme. Lebih jelasnya, simak ulasan berikut ini.

Kenapa ukuran dan letak klitoris wanita memengaruhi orgasme?

Menurut Debra Herbenick Ph.D., dosen kesehatan seksual di The Kinsey Institute menyatakan bahwa klitoris merupakan bagian dari vulva yang memiliki paling banyak saraf di dalamnya. Kelenjar di klitoris mengandung sekitar 8.000 ujung saraf yang berarti dua kali lebih banyak dari ujung saraf di penis. Bahkan, tonjolan kecil ini mampu memengaruhi 15.000 saraf lain di panggul saat dirangsang. Karena itulah klitoris dianggap sebagai titik kenikmatan seksual pada wanita.

Namun, tidak semua klitoris mudah terangsang. Penelitian membuktikan fakta bahwa ukuran dan letak klitoris wanita dapat memengaruhi kemampuan wanita untuk dapat mencapai orgasme. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine menyatakan banyak wanita yang jarang, bahkan tidak pernah, mengalami orgasme saat ukuran klitorisnya terlalu kecil dan letaknya berjauhan dengan lubang vagina.

BwxKdnDCQAEIaDH

Letak klitoris (sumber: Mayo Clinic)

Penelitian menemukan fakta bahwa wanita yang memiliki jarak klitoris dengan vagina lebih jauh umumnya juga memiliki klitoris yang lebih kecil. Kondisi ini biasanya berkembang sejak organ tubuh janin mulai terbentuk di dalam kandungan. Paparan hormon laki-laki (androgen) di dalam rahim membuat tunas klitoris berpindah terlalu jauh dari tempat yang seharusnya.

Dr. Susan Oakley, seorang dokter kandungan di Ohio menyatakan bahwa klitoris yang lebih besar akan lebih mudah orgasme karena memiliki lebih banyak ujung saraf. Selain itu, klitoris yang lebih besar umumnya lebih mudah dirangsang dan disentuh sehingga peluang wanita untuk mencapai orgasme pun lebih besar.

Selain ukuran, letak klitoris wanita juga dapat memengaruhi orgasme. Jika klitoris dan vagina lebih dekat, maka saat penis merangsang vagina, klitoris akan ikut tersentuh. Semakin banyak rangsangan yang dirasa, maka semakin mudah pula seseorang untuk mencapai orgasme.

Elizabeth Lloyd, seorang peneliti yang bekerja sama dengan the Kinsey institute for Research in Sex, Gender and Reproduction di Indiana University-Bloomington, menyatakan bahwa jarak “ideal” antara klitoris dan vagina yakni sekitar 2,5 cm. Sehingga, jika jaraknya lebih lebar maka seorang wanita akan sulit mencapai orgasme. Pasalnya, seks yang biasa dilakukan tidak memberikan rangsangan yang cukup pada klitoris. Rangsangan biasanya hanya dilakukan di sekitar lubang vagina tanpa tahu dimana letak titik rangsang utamanya, yakni klitoris.

Bagaimana cara mencapai orgasme jika ukuran klitoris kecil dan jaraknya terlalu lebar?

5-Mitos-Seks-yang-Beredar-di-Masyarakat-Padahal-Tidak-Selalu-Benar-700x467

Memiliki klitoris dengan ukuran yang kecil dan jarak yang terlalu lebar bukan berarti Anda tidak bisa orgasme. Masih ada banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mencapai orgasme. Kemampuan pasangan untuk merangsang, jenis kegiatan seksual, dan juga posisi seks tertentu bisa membuat wanita tetap orgasme. Ini tergantung pada selera dan pilihan masing-masing wanita.

Selain itu, Anda juga bisa mempraktikkan senam Kegel untuk membantu memperkuat otot-otot vagina, panggul, kandung kemih, dan juga anus yang juga digunakan saat orgasme. Selain itu, cobalah posisi seks yang menawarkan stimulasi klitoris lebih banyak seperti wanita di atas.

Source: Widya Citra Andini . Data medis direview oleh dr. Damar Upahita . HelloSehat

Cara Aman Mengobati Luka dan Lecet di Vagina

Khusus Pasutri


Penyebab-dan-Cara-Mengobati-Luka-di-Vagina

Luka di vagina, walaupun hanya setitik kecil dan terlihat tidak berbahaya, akan mengakibatkan rasa sakit yang tidak nyaman. Apa saja penyebab vagina wanita mengalami luka dan lecet di daerah intim? Adakah cara untuk mengobati luka di vagina?

Penyebab luka di vagina

Bagi wanita yangaktif  secara seksual, mungkin Anda pernah mengalami lecet dan luka di vagina. Memang, luka pada bagian intim tersebut tidak terkesan serius, bagaikan lecet biasa. Namun, ketidaknyamanan yang dihasilkan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari Anda. Contohnya sekadar berjalan, duduk, hingga berhubungan seks dengan pasangan pun akan berkurang kenikmatannya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya luka di vagina, berikut adalah contohnya:

1. Menopause dan kurangnya rangsangan

Saat Anda berada di masa menopause, hormon estrogen dalam tubuh akan mulai menurun sehingga cairan vagina yang keluar pun berkurang. Dinding vagina yang kering, dapat menimbulkan luka dan lecet saat terkena gesekan penis berulang kali.  

Sedangkan ketika kondisi wanita cukup terangsang, vagina secara alami akan menghasilkan cairan yang melumasi rongganya selama melakukan hubungan seksual. Maka cairan vagina dapat mengurangi gesekan yang dapat mengganggu atau merobek dinding vagina

2. Posisi seks yang berisiko

Beberapa posisi hubungan seksual, cenderung berisiko menyebabkan luka di vagina. Disarankan bagi para wanita, ketika berhubungan seks melakukan posisi yang bisa mengontrol sejauh mana kedalaman penis masuk. Misalnya, dengan posisi woman on top, risiko luka di vagina lebih kecil, karena wanita bisa lebih mudah mengontrol gesekan penis yang masuk.

3. Vagina gatal atau infeksi jamur

Saat terasa gatal di daerah kemaluan, banyak wanita yang tidak sadar menggaruk demi menghilangkan rasa gatal di vagina. Sayangnya, menggaruk sangat tidak dianjurkan karena akan menyebabkan luka dan lecet di sekitarnya. Rasa gatal tersebut biasanya disebabkan adanya infeksi, bisa karena adanya jamur atau bakteri. Sebaiknya gatal karena infeksinya segera disembuhkan agar tidak semakin menyebar ke area kulit yang lainnya.

Bagaimana cara menyembuhkan luka di vagina?

1. Jangan melakukan douche vagina

Melakukan douche pada vagina (menyemprotkan cairan pembersih ke area kelamin), bisa mengganggu keseimbangan bakteri alami yang berguna melindungi selaput lendir dan menjaga kesehatan vagina Anda.

Tiap vagina wanita pada dasarnya punya cara sendiri untuk membersihkan dirinya. Jadi, Anda tidak perlu melakukan douche untuk membuat vagina bersih. Cukup dengan membasuh atau membilas dengan air saja sambil dikeringkan. Lagi pula, douching tidak bisa menghilangkan infeksi ata bakteri gatal yang menyebabkan luka di vagina.

2. Hindari berhubungan seks selama vagina masih lecet

Sangat tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan seks pada saat kondisi vagina Anda terluka. Dikhawatirkan, gesekan penis dan vagina akan membuat luka vagina semakin terbuka dan melebar.

3. Jangan menggaruk atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina

Menggaruk vagina dapat membuat rongga vulva atau vagina Anda semakin terasa perih. Memang menggaruk bisa menghilangkan rasa gatal, tapi hal tersebut hanya bertahan sementara. Hindari juga menggunakan tamponatau menstrual cup, di mana kedua produk wanita tersebut posisinya harus dimasukkan ke dalam vagina. Lebih baik gunakan pembalut untuk sementara waktu sampai luka di vagina membaik.

4. Bersihkan vagina

Bukan berarti dengan adanya vagina yang bisa membersihkan diri sendiri, lantas Anda tidak menjaga kebersihan vagina. Kebersihan vagina yang dianjurkan di sini adalah dengan membasuh vagina dengan air, dan memastikan untuk mengeringkannya sebelum memakain pakaian dalam.

Jika ingin menggunakan sabun, gunakan sabun yang mengandung bahan hypoallergenic, khusus untuk vagina. Ingat, bersihkan bagian luar vagina saja, tidak perlu dibersihkan sampai ke dalam lubang vagina.

5. Ambil penanganan medis dan periksakan ke dokter

Luka setitik di bagain kulit tubuh saja, kadang menimbulkan rasa nyeri yang tidak nyaman. Apalagi luka di bagian vagina, kadang Anda akan merasakan nyeri yang berlebih. Untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut, Anda bisa meminum obat label analgetik, atau pereda nyeri seperti paracetamol.

Jika Anda merasa luka di vagina Anda semakin parah dan tidak kunjung membaik. Segera lakukan pengecekan dan konsultasikan ke dokter, guna mendapatkan diagoosis dan penanganan medis yang tepat sesegera mungkin.

Source: Novita Joseph . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri . HelloSehat

Benarkan Ukuran Vagina Menentukan Seberapa Hebatnya Orgasme Wanita?

Khusus Pasutri


337533824-hello-sehat-700x467

 

Katanya, vagina yang sudah melar bisa membuat seks tidak lagi terasa enak bagi laki-laki dan perempuan itu sendiri. Itu sebabnya banyak perempuan yang mencari berbagai macam cara untuk kembali merapatkan vagina demi mendapatkan kepuasan seksual yang diidamkan.

Benarkan besar kecilnya bentuk vagina seorang wanita bisa memengaruhi kepuasan seksual semua orang yang terlibat dalam hubungan seks tersebut?

Bentuk vagina menentukan kepuasan seksual, benar atau tidak?

Banyak yang percaya kalau bentuk vagina itu pada awalnya sangat ketat, dan ketika sudah berhubungan seks lama-lama vagina akan melar karena sudah dimasuki penis. Anggapan ini salah besar. Yang perlu lebih dulu dipahami adalah, sebenarnya ukuran dan bentuk vagina setiap wanita bisa berbeda-beda.

Para ahli menemukan bahwa kedalaman liang vagina rata-rata adalah sekitar 10 cm, dengan lebar liang vagina rata-rata bisa sekitar 2.1-3.5 cm. Lebar liang vagina yang terlalu sempit (hanya sekitar 2 cm) memang dapat menyebabkan wanita merasa nyeri saat berhubungan seks, sehingga mungkin memengaruhi kepuasan seksualnya. Vagina yang terlalu rapat bahkan bisa menjadi pertanda Anda mengalami vaginismus.

Bagaimana dengan vagina yang sudah kendur?

Tidak ada patokan yang dibuat dalam dunia medis untuk menentukan seberapa ketat atau kendurnya vagina perempuan. Jangan salah. Pasalnya, meski memang vagina kendur lebih sering dialami oleh perempuan yang sudah pernah melahirkan, vagina perempuan yang masih “perawan” pun juga bisa mengendur. Mengendurnya vagina adalah respon alami tubuh tanda bahwa seorang wanita sebenarnya telah terangsang dengan baik, sehingga penetrasi akan lebih mudah dilakukan dan tidak terasa sakit.

Sampai saat ini masih sedikit penelitian medis yang dapat membuktikan bahwa ukuran dan bentuk vagina wanita berpengaruh pada kemampuannya untuk mencapai orgasme.

Bahkan sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal International Urogynecology tahun 2011 menunjukan bahwa ukuran vagina sama sekali tidak memengaruhi gairah dan aktivitas seksual perempuan.

Terlebih, ada banyak faktor lainnya yang bisa memengaruhi kepuasan seksual perempuan agar bisa mencapai orgasme. Mulai dari rasa percaya dan keintiman dengan pasangan, seberapa jauh ia sudah terangsang, rangsangan apa saja yang ia terima, dan berbagai masalah psikologis lainnya.

Tidak semua orgasme wanita bisa dicapai lewat penetrasi vagina

Selama ini kita menganggap bahwa orgasme wanita hanya bisa dicapai lewat penetrasi penis ke dalam vagina.

Padahal berdasarkan sebuah penelitian yang dikutip oleh Medical Daily, hanya ada kurang dari 25% perempuan yang mengaku mengalami orgasme lewat seks penetratif penis.

Ketimbang pusing memikiran ukuran dan bentuk vagina Anda, mengapa tidak melihatnya dari sudut pandang baru.

Ada banyak cara bagi perempuan untuk meraih orgasme. Salah satunya adalah dengan rangsangan klitoris, sebuah tombol seks yang sedikit tersembunyi di dekat lubang vagina. malah, ada lebih banyak wanita yang merasa lebih mudah berorgasme lewat stimulasi klitoris.

Ya, klitoris adalah titik rangsangan yang bisa memicu adanya orgasme. Pasalnya ada sekitar delapan ribu titik saraf yang bermukim di klitoris wanita. Meski masih pro dan kontra, orgasme memang dapat dicapai dengan merangsang klitoris, baik secara tidak langsung lewat posisi seks tertentu saat penetrasi penis menyenggol klitoris, atau dengan rangsangan langsung misalnya dengan permainan tangan atau seks oral.

Jangan terlalu pusing mengkhawatirkan ukuran vagina Anda

Dilansir dalam laman WebMD, Christoper Tarnay, MD seorang direktur divisi Female Pelvis Medicine and Reconstructive Surgary dari UCLA Medical Center mengatakan, terkadang wanita terlalu takut akan kondisi vaginanya. 

Padahal, setiap wanita memiliki karakteristik vagina nya masing-masing.

Selama tidak ada masalah kesehatan yang timbul, tidak masalah seperti apa bentuk vagina Anda. Namun jika ada yang Anda khawatirkan dengan rasa sakit, ketidaknyamanan atau perdarahan saat berhubungan seks, segera temui dokter Anda.

Pada dasarnya untuk Anda bisa mendapatkan kepuasan seksual yang hakiki, hubungan seks yang ideal haruslah didukung dengan ikatan emosional yang kuat dengan pasangan, suasana yang nyaman, dan tidak melupakan foreplay (pemanasan).

Source: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji | Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Benarkah Miss V Melar & Longgar Karena Sering Bercinta?

KHUSUS PASUTRI


Benarkah Miss V Melar & Longgar Karena Sering Bercinta? Ini Jawaban Dokter

benarkah-miss-v-melar-longgar-karena-sering-bercinta-ini-jawaban-dokter

Mungkin kamu pernah mendengar banyak orang bilang kalau vagina bisa melar karena sering berhubungan seksual. Sebagian mereka mungkin mengatakannya dengan nada bercanda, tapi kamu pasti penasaran kebenarannya kan? Jadi benar nggak sih miss V melar karena sering bercinta?

Ini kata dokter kandungan Michelle Metz, M.D., dalam Women’s Health Magazine. “Vagina pada sadarnya adalah otot yang seperti karet, bisa melar saat melakukan hubungan seksual dan kembali ke bentuk dan ukuran semula.

Ia mengungkapkan bahwa bercinta untuk pertama kalinya bagi wanita memang akan membuat rongga vagina mengalami perubahan. Akan ada lapisan jaringan yang akan rusak bernama hymen atau selaput dara, yang mana akan menimbulkan sedikit berdarah saat bercinta, dan saat itulah vagina terbuka dan menyesuaikan diri untuk melar.

Vagina akan melar menyesuaikan diri jika misalnya berganti pasangan dengan ukuran Mr.P berbeda. Tapi itu tak kemudian membuat miss V melar karena otot vagina akan kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah seks selesai.

simpel2

“Hampir tidak mungkin jika vagina bisa melar secara permanen,” tambahnya. Pada beberapa kasus, miss V mungkin bisa mengalami perobekan saat melahirkan, tapi dokter akan menjahit dan mengembalikan miss V ke ukuran normal.

Jadi, sudah jelas kan ladies? Entah seberapa besar atau panjang Mr. P suami dan berapa sering kalian bercinta, saat bercinta miss V memang akan melar secukupnya, dan akan kembali ke bentuk semula. Tidak akan melar atau longgar seperti yang kamu bayangkan hingga tak nyaman lagi saat bercinta. (vem/feb)

Source:  vemale. Penulis: Febi Anindyakirana. 20 November 2017

4 Tips Penting untuk Menjaga Vagina Tetap Wangi dan Segar

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_232901278

Setiap wanita tentu ingin menjaga area intimnya agar tetap wangi dan segar alami. Akan tetapi, Anda tak boleh sembarangan menggunakan produk atau metode yang belum teruji klinis. Pasalnya, beberapa cara untuk menjaga vagina wangi dan segar ternyata justru berbahaya.

Lalu bagaimana caranya agar vagina bisa tetap harum dan segar? Simak jawabannya berikut ini!

Seperti apa bau vagina yang normal?

Anda mungkin sering melihat iklan produk perawatan vagina yang menjanjikan organ intim Anda akan jadi lebih wangi bak bunga-bunga segar. Pada kenyataannya, vagina manusia tidak berbau harum karena memang tidak perlu.

Vagina yang alami punya aroma yang khas dan berbeda-beda bagi setiap wanita. Bahkan dalam satu siklus menstruasi pun vagina Anda memiliki aroma yang berbeda. Ini karena wangi vagina dipengaruhi oleh berbagai hal. Misalnya kadar bakteri, keasaman vagina, keringat, serta kebersihan pada area intim Anda.

Namun, pada dasarnya vagina yang normal baunya sedikit asam. Ini karena kadar pH (keasaman) di area vagina cukup tinggi. Lingkungan yang asam dibutuhkan untuk membunuh berbagai bakteri dan organisme jahat yang bisa menyebabkan infeksi vagina.

Penyebab vagina berbau tak sedap

Meskipun vagina memang seharusnya punya bau yang khas, bukan berarti bau yang menyengat dan tak sedap itu wajar. Vagina tak seharusnya berbau busuk, amis, atau anyir. Bila Anda mencium aroma seperti ini, ada yang salah dengan vagina Anda. Berikut adalah beberapa kemungkinannya.

  • Infeksi bakteri vagina
  • Tidak mengganti pembalut atau pantyliner dalam waktu yang cukup lama
  • Penyakit kelamin
  • Tidak bersih ketika membasuh vagina

Bagaimana cara membuat vagina wangi secara alami?

Supaya vagina wangi dan segar, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

1. Jaga vagina tetap kering

Lingkungan yang terlalu lembap akan jadi sarang bagi berbagai jenis bakteri penyebab penyakit. Selain itu, berhati-hatilah saat Anda membasuh vagina setelah buang air kecil. Siram dengan air dari depan ke belakang, bukan sebaliknya. Arah ini mampu mencegah bakteri jahat pindah ke vagina dan menyebabkan bau tak sedap.

Pastikan Anda juga rutin mengganti pembalut atau pantyliner, paling tidak setiap empat jam sekali.

2. Jaga pola makan yang sehat dan seimbang

Perbanyak makan buah-buahan, sayuran hijau, dan produk probiotik seperti yogurt. Makanan-makanan tersebut mampu mencegah pertumbuhan bakteri jahat serta bisa membuat vagina wangi dan segar alami. Sebaliknya, makanan dengan bau yang menyengat seperti bawang putih bisa membuat vagina Anda berbau tak sedap.

3. Cuci vagina dengan cara yang benar

Untuk mencuci vagina dengan benar. Anda hanya membutuhkan air hangat (suam-suam kuku). Anda juga bisa menggunakan pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine. Bersihkan hanya bagian luar vagina saja. Setelah itu, keringkan dengan cara menepuk-nepuk pelan daerah vagina, jangan digosok.

Jangan lupa untuk memakai celana dalam yang cukup sejuk dan menyerap keringat. Segera ganti kalau pakaian dalam sudah terlalu lembap karena keringat atau cairan vagina berlebihan.

4. Hindari hal-hal berikut yang sebenarnya justru bisa membuat vagina berbau amis

Ingat, vagina normal wanginya memang khas, yaitu sedikit asam. Anda tak perlu menggunakan macam-macam produk supaya vagina wangi seperti bunga atau buah-buahan. Pasalnya, vagina Anda adalah area sensitif yang tidak tahan dengan bahan-bahan kimia asing.

Cara-cara di bawah ini sangat tidak dianjurkan dan bisa menyebabkan infeksi bakteri, jamur, atau ragi yang bisa membuat vagina justru berbau busuk atau anyir.

  • Mencuci bagian dalam vagina (douching vagina, ratus, atau gurah vagina)
  • Menyemprotkan parfum ke area selangkangan atau vagina
  • Menaburkan bedak di sekitar vagina

Source: Irene Anindyaputri . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

5 Penyebab Anda Mengalami Vagina Kering

KHUSUS PASUTRI

HelloSehat_Betadine_5-Penyebab-Vagina-Anda-Menjadi-Kering_image

Pernahkah Anda merasakan vagina Anda kering? Ketika mengalaminya, mungkin Anda menduga-duga berbagai alasan, bahkan cemas akan mengalami gejala awal menopause. Tetapi, masalah vagina kering yang dialami oleh perempuan muda bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Menurut Journal of Women’s Health yang dipublikasikan pada Agustus 2015, vagina kering juga menjadi masalah untuk perempuan di bawah usia 60 tahun. Ini merupakan kasus yang sangat umum dialami oleh perempuan. Penting bagi Anda untuk membuat vagina tetap lembap, sebab kelembapan tersebut dapat menjaga jaringan tetap sehat dan membantu mencegah infeksi serta penyakit menular seksual.

Apa saja gejala vagina kering?

Anda akan merasa sakit ketika berhubungan seksual. Selain itu, rasa sakit juga dialami ketika Anda duduk, berdiri, olahraga, buang air kecil dan bahkan ketika bekerja. Masalah ini dapat mengganggu aktivitas perempuan, baik dia aktif secara seksual atau tidak.

Perubahan juga terjadi pada penampilan vagina dan vulva, bibir vagina akan terlihat lebih tipis. Anda mungkin juga akan mengalami iritasi dan rasa panas.

Jika Anda mengalami rasa panas, gatal dan tak nyaman pada daerah vagina, sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter. Gejala tersebut akan diagnosis dengan pertanyaan seputar berapa lama Anda mengalami gejala tersebut, tentang pengobatan yang dijalani, atau cara Anda membersihkan vagina.

Biasanya dokter akan melakukan tes panggul, mengecek vagina untuk memastikan ada kemerahan atau tidak. Tes ini akan membantu Anda menemukan penyebabnya, atau kemungkinan infeksi seperti infeksi saluran kencing.

Apa penyebab vagina kering?

Dalam mengobati suatu penyakit, Anda harus mengetahui terlebih dahulu akar permasalahannya atau penyebabnya, begitu pun untuk mengobati vagina yang kering. Ada beberapa penyebab yang bisa Anda lihat:

1. Perubahan hormon

Berdasarkan American Congress of Obstetricians and Gynecologists, penyebab paling umum vagina kering adalah penurunan level estrogen selama menopause, pramenopause, setelah melahirkan, atau selama menyusui. Pengobatan kimia untuk kanker seperti kemoterapi dan radiasi pada panggul dapat menyebabkan penurunan estrogen dan lubrikasi vagina.

2. Obat tertentu

Obat alergi, asma, dan flu mengandung antihistamin yang memiliki efek di dalam tubuh, sehingga adanya penurunan lubrikasi vagina.

3. Kurangnya gairah

Salah satu penyebab keringnya vagina bisa jadi karena rendahnya libido atau permasalahan seksual dengan pasangan. Contohnya, masih berdasarkan Goldstein, pasangan mungkin memiliki performa seks yang kurang, melewatkan foreplay, atau mengalami ejakulasi dini.

4. Iritasi

Produk perawatan tubuh juga bisa memicu pada kering vagina, seperti sabun berbahan kimia, macam-macam produk kebersihan, dan parfum. Beberapa perempuan memiliki masalah alergi terhadap detergen dan sabun. Pun dengan pakaian, seperti celana dalam dan handuk, juga dapat membuat iritasi vagina Anda. Alergi yang timbul tersebut bisa berupa masalah pada lubrikasi atau objek; seperti bakteri yang berada di vagina Anda.

5. Kecemasan

Faktor psikologis dan emosional bisa mengganggu gairah seksual dan membuat vagina Anda menjadi kering. Menurut Goldstein, ketika perempuan cemas, akan terjadi kurangnya aliran darah, sehingga kekeringan di daerah vagina pun terjadi. Kecemasan juga akan memicu hormon kortisol, hormon ini dapat mengganggu cara kerja estrogen.

Bagaimana cara mengatasi vagina kering?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Anda harus menemukan akar penyebab untuk mengobati vagina kering. Misalnya, perempuan yang memiliki masalah dengan lubrikasi vagina karena perubahan hormon, mungkin dokter akan menyarankan terapi estrogen sebagai pengobatan.

Pengobatan vagina kering dengan hormon

Hormon estrogen yang dimasukkan ke dalam vagina untuk kasus hot flashes, vagina kering, dan perubahan warna kulit. Hormon tersebut dimasukkan dalam bentuk cincin, tablet, atau krim.

Berikut ini tiga tipe estrogen vaginal:

  • Vaginal estrogen ring (Estring): dokter akan memasukkan cincin yang lembut dan fleksibel ke dalam vagina. Di sana, estrogen ini akan dilepas langsung ke jaringan vagina. Namun, jenis ini tidak permanen, Anda harus menggantinya setiap tiga bulan
  • Vaginal estrogen tablet (Vagifem): Anda menggunakan aplikator sekali pakai untuk memasukan tablet ke dalam vagina Anda sehari sekali untuk dua minggu pertama pengobatan. Lalu, Anda akan memasukannya dua kali seminggu sampai Anda tidak lagi membutuhkannya
  • Vaginal estrogen cream (Estrace, Premarin): Anda juga akan menggunakan aplikator untuk memasukan krim ke vagina. Krim diaplikasikan untuk satu sampai dua minggu, lalu frekuensinya dikurangi satu sampai tiga kali seminggu seperti yang diarahkan oleh dokter

Namun, terapi estrogen tidak direkomendasikan untuk:

  • Penderita kanker payudara
  • Perempuan yang memiliki riwayat kanker endometrium
  • Ibu hamil dan menyusui

Pengobatan vagina kering dengan mengubah kebiasaan

Ada cara lain yang lebih nyaman, cara ini juga bisa dipakai untuk rasa kering yang sakit akibat seks, seperti:

  • Gunakan pelumas saat seks: ada sejumlah produk pelumas yang dapat membantu mengatasi kekeringan vagina. Pelumas ini berbahan dasar silikon, minyak, dan air. Biasanya pelumas lebih sering digunakan untuk membuat nyaman ketika berhubungan seks dibanding sebagai lubrikasi vagina jangka panjang.
  • Gunakan pelembap khusus vagina: Anda bisa mencari pelembab khusus vagina, sebab pelembap membantu memasukan air ke dalam jaringan vagina.
  • Hindari mencuci vagina dengan sabun. Anda harus menghindari membersihkan vagina dengan sabun banyak busa, sabun yang wangi, serta lotion. Hal ini dapat menyebabkan kekeringan semakin parah. Jika ingin mencegah infeksi vagina yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri, Anda bisa menggunakan pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine. Jika digunakan di bagian luar vagina, cairan povidone-iodine terbukti ampuh mematikan parasit penyebab infeksi, namun sekaligus menjaga keseimbangan pH vagina dan tak membuat vagina kering.

Source: Rizki Pratiwi . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

 

Perubahan yang Akan Terjadi Pada Vagina Seiring Bertambahnya Usia

KHUSUS PASUTRI


perubahan-vagina

Ketika usia kita menua, tidak hanya rambut dan kulit saja yang mengalami penuaan. Beberapa bagian tubuh lainnya juga mengalami perubahan. Apa saja? Pada perempuan, contohnya payudara yang mulai kendur. Perempuan juga pasti mengalami menopause. Tak hanya itu saja, bentuk genital pada perempuan pun dapat mengalami perubahan. Mungkin Anda tidak menyadarinya saat vagina mengalami perubahan. Ya, ternyata bentuk vagina berubah seiring dengan bertambahnya usia. Ingin tahu seperti apa?

Bagaimana perubahan vagina seiring kita bertambah tua?


Perubahan ini dimulai saat Anda tumbuh dewasa, tapi kita akan mulai membahasnya mulai dari usia 20 tahun. Berikut ini penjelasannya:

Bentuk vagina usia 20 tahun setelah pubertas

Memasuki usia 20 tahun, Anda telah selesai mengalami pubertas. Akhirnya organ tubuh Anda mencapai fase ukuran dewasa. Begitu juga dengan labia mayora (bagian luar bibir vagina), bentuknya akan menjadi lebih ramping. Pada usia ini, lemak subkutan (lemak yang letaknya di bawah permukaan kulit) mengalami penurunan, termasuk di genital Anda.

Perubahan warna vagina pada usia 30 tahun

Pada usia ini terjadi perubahan hormon akibat kehamilan dan pil KB. Penuaan dapat menyebabkan labia minora (bagian dalam bibir yang melingkari klitoris dan mulut vagina) menggelap. Penggunaan pil KB selama beberapa tahun dapat menyebabkan vagina mengering, serta terbatasnya lubrikasi vagina.

Beberapa perempuan mengalami kekeringan vulva akibat pemakaian pil KB. Penyebabnya adalah pil ini dapat menghambat hormon laki-laki yang disebut androgen, vulva inilah yang memiliki reseptor terhadap hormon androgen.

Sama halnya dengan kehamilan dan melahirkan, vulva dan vagina tetap akan terkena dampaknya. Bahkan beberapa perempuan menemukan varises di vagina akibat rahim membengkak ketika Anda hamil. Tapi tenang saja, pembesaran pembuluh darah tersebut ketika hamil adalah hal yang wajar.

Mungkin Anda khawatir bentuk vagina tidak akan kembali setelah melahirkan, faktanya adalah bentuk vagina akan kembali normal saat melahirkan. Alasannya adalah vagina kaya akan pasokan darah dan memiliki keelastisitasan yang alami. Ada beberapa perempuan yang mengalami beberapa kerusakan otot dan saraf mengingat adanya tekanan pada otot dasar panggul selama kehamilan dan kelahiran.

Efek perubahan estrogen pada usia 40 tahun

Ya, pada usia ini memang fungsi reproduksi akan sedikit menurun. Perempuan masih tetap mengalami ovulasi dan menstruasi, tapi siklus ini akan lebih pendek dari biasanya. Anda juga mulai mengalami tanda-tanda akan menopause akibat penurunan hormon estrogen. Uniknya bagi Anda yang terbiasa mencukur rambut kemaluan, Anda akan menyadari efek dari mencukur itu sendiri, yaitu perubahan pigmen kulit sekitar vagina. Penurunan hormon estrogen berpengaruh pada rambut kemaluan yang mulai menipis pada usia ini.

Perubahan vagina pada usia 50 tahun

Mungkin pada usia ini, Anda mulai mengalami awal-awal menopause. Efek dari penurunan estrogen dapat membuat vagina menjadi lebih tipis, kurang elastis, kering pada vulva, dan vagina. Anda akan memerlukan pelumas tambahan saat berhubungan seks, agar tidak sakit dan iritasi. Jika Anda sering memerhatikan perubahan pada vagina, Anda akan menemukan vagina kehilangan lemak dan kolagen, sehingga sangat mungkin ditemukan kerutan pada bagian ini. Ketika hormon estrogen berkurang, pH vagina pun akan berkurang, vagina Anda dapat terkena bakteri tertentu. Keasaman pun bisa bertambah sehingga vagina sangat rentan terhadap infeksi.

Perubahan vagina usia 60 tahun

Hot flashes dan berkeringat pada malam hari dapat terjadi selama beberapa tahun. Kering pada vagina tidak dapat dihindari, sekitar 50 hingga 60 persen perempuan mengalami masalah kering pada vagina. Anda perlu mengunjungi dokter untuk mengatasi masalah ini.

Berhubungan seks jelas akan terasa menyakitkan untuk Anda. Selain itu, Anda mungkin juga akan mengalami inkontinensia urin (kondisi di mana Anda tidak dapat menahan buang air kecil). Anda akan mengalami gejala pascamenopause. Jika Anda mengalami sensasi terbakar atau panas setelah berhubungan seks, jangan lupa untuk berkonsultasi pada dokter. Pelembap vagina juga dapat Anda gunakan untuk membantu meringankan kering pada vagina.

Source: Rizki Pratiwi . Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Serba-serbi Operasi Peremajaan Vagina

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_232901278

Bedah vagina awalnya dikembangkan sebagai prosedur rekonstruksi untuk memperbaiki cacat lahir. Beberapa kondisi tertentu (misalnya, Müllerrian agenesis atau aplasia, vaginal agenesis, adrenal hyperplasia kongenital) perlu diperbaiki atau dikoreksi agar perempuan muda bisa bertumbuh besar dengan kemampuan buang air kecil secara normal, memiliki siklus menstruasi, dan bisa terlibat dalam hubungan seksual sebagai orang dewasa.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini, prosedur bedah vagina juga digunakan sebagai tujuan kosmetik. Vaginoplasty, umum disebut sebagai peremajaan vagina, adalah prosedur yang biasanya dapat memperbaiki masalah otot vagina yang mengendur disebabkan oleh proses melahirkan atau penuaan, dan merupakan cara cepat untuk meningkatkan kehidupan seksual seseorang. Prosedur ini biasanya menguatkan otot vagina, sehingga kekuatan kontraksi yang lebih besar dan kontrol yang lebih baik untuk memungkinkan sensasi yang lebih kuat selama aktivitas seksual. Prosedur kosmetik ini sering dikombinasikan dengan labiaplasty. Labiaplasty adalah prosedur bedah plastik untuk memperindah penampilan bibir vulva, atau labia.

Semua wanita yang dinilai cukup sehat untuk menjalani prosedur bedah bisa menjalankan peremajaan vagina. Oleh sebab itu, kini semakin banyak wanita, terutama perempuan muda, memilih untuk menjalankan prosedur ini hanya untuk tujuan estetika atau untuk mencapai kehidupan seks yang lebih ideal.

Peremajaan vagina bukanlah satu-satunya solusi

Vaginoplasty tidak direkomendasikan untuk wanita hamil atau mereka yang sedang merencanakan kehamilan. Jika seorang wanita menjalankan prosedur ini sebelum melahirkan, proses persalinan akan jauh lebih sulit dan menyakitkan, belum lagi proses persalinan yang mungkin akan merusak hasil dari vaginoplasty.

Vaginoplasty dan prosedur peremajaan vagina lainnya tidak seharusnya dipandang sebagai cara bagi seseorang untuk membuat tubuhnya terlihat ‘normal’. Ukuran, bentuk, warna, dan penampilan dari setiap vulva berbeda antar satu orang dengan yang lainnya. Terlebih lagi, sangat tidak mungkin untuk bisa menentukan seperti apa tampilan vagina yang “normal”.

Selain itu, vaginoplasty tidak seharusnya dilakukan untuk hanya untuk memuaskan keinginan pasangannya. Jika seorang wanita merasa nyaman dengan tubuhnya, pasangannya pun juga harus begitu. Demikian pula, operasi tidak seharusnya dilakukan sebagai cara untuk “memperbaiki” hubungan.

Vaginoplasty adalah sebuah prosedur yang memiliki dampak personal terhadap tubuh Anda. Keputusan untuk mengubah bentuk tubuh harus dibuat sedemikian rupa secara mandiri setelah menimbang segala pro kontra.

Hingga batas tertentu, vaginoplasty dapat menjadi solusi terbaik untuk beberapa wanita. Namun, hal ini bukanlah satu-satunya pilihan. Senam kegel dan senam vagina lainnya juga bisa digunakan untuk menguatkan otot-otot dasar panggul. Beberapa krim vagina yang dijual di pasaran bertujuan untuk menyebabkan pembengkakan pada vagina untuk memberikan kesan lebih kuat dan kencang. Krim ini bisa digunakan dalam jangka waktu tertentu untuk secara bertahap meningkatkan sensasi seksual, namun tidak ada jaminan bahwa setiap penggunanya akan puas dengan hasil yang diberikan.

Namun memang, kelemahan utama dari alternatif ini adalah hasil akhirnya tidak akan secepat atau permanen dibanding dengan prosedur bedah plastik.

Hasil mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi

Jika Anda sedang mempertimbangkan vaginoplasty, pastikan bahwa Anda membaca semua risiko dan manfaat dan berat mereka terhadap satu sama lain. Jika Anda memutuskan bahwa operasi peremajaan vagina sesuai keinginan dan kebutuhan Anda, dan berkonsultasi dengan dokter spesialis khusus prosedur ini.

Risiko yang terkait dengan vaginoplasty mirip dengan banyak operasi umum lainnya, termasuk infeksi, perdarahan, bekas luka yang parah, dan pembekuan darah. Namun, risiko ini biasanya jarang selama pasien berada dalam kesehatan yang baik. Risiko lainnya termasuk kerusakan saraf, kolaps vagina, dan pelumas alami yang tidak seimbang, meskipun kasus ini terbilang langka jika Anda ditangani oleh dokter bedah yang terampil.

Beberapa bekas luka operasi normal dan akan memudar dengan sendirinya selama pasien melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam proses pemulihan. Jika Anda memutuskan melakukan vaginoplasty, dokter bedah akan membahas secara rinci risiko yang terkait dengan prosedur dan kesehatan Anda.

Risiko yang paling umum — dan yang paling penting — untuk dipertimbangkan ketika memutuskan peremajaan vagina adalah bahwa pasien mungkin akan merasa tidak puas dengan hasil akhirnya. Meski banyak wanita mengklaim bahwa vaginoplasty terbukti efektif meningkatkan kualitas kehidupan seks mereka, sebenarnya tidak ada jaminan bahwa hal yang sama berlaku bagi setiap orang.

Kadang, prosedur ini bisa mengakibatkan vagina tidak seketat yang diharapkan, atau malah sangat terasa ketat hingga mungkin Anda tidak bisa melakukan seks yang nyaman dengan pasangan Anda. Pada kasus ini, terapi tambahan atau pembedahan perbaikan akan mungkin dibutuhkan untuk meraih hasil akhir yang diinginkan.

Source: Oleh Ajeng Quamila. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

 

5 Cara Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Vagina

KHUSUS PASUTRI


cara-terbaik-menjaga-kesehatan-kewanitaan

Menjaga kesehatan vagina Anda adalah suatu hal yang gampang-gampang susah. Sebenarnya vagina Anda adalah salah satu organ tubuh yang paling cerdas karena mampu membersihkan diri dan mengatur kelembapan alaminya tanpa bantuan zat-zat kimia apa pun. Akan tetapi, kadang hal ini tak benar-benar dipahami sehingga beberapa wanita justru membahayakan vagina karena menggunakan beragam produk kewanitaan yang tak diperlukan. Lalu, sebenarnya bagaimana cara terbaik untuk menjaga kesehatan organ kewanitaan Anda? Silakan simak tips-tips jitu di bawah ini, mulai dari membersihkan vagina sampai bercinta dengan aman.

1. Membersihkan Vagina

Menjaga kesehatan vagina dimulai dari kebiasaan Anda membersihkannya. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, vagina adalah organ tubuh yang mampu membersihkan diri sendiri. Akan tetapi, rutin membersihkan vagina bisa membantu mencegah tumbuhnya bakteri dan menjaga agar daerah kewanitaan Anda tetap terasa segar. Maka, harap perhatikan hal-hal ini sebelum Anda membersihkan vagina.

Bilas dengan air hangat

Untuk membersihkan vagina setiap harinya, cukup bilas dengan air hangat (bukan air mendidih) ketika Anda mandi. Anda bisa melarutkan sedikit saja garam laut (sea salt) ke dalam air hangat untuk membantu mengatasi rasa gatal di daerah kewanitaan. Namun, jangan pakai garam mandi yang marak dijual saat ini dengan pewarna, pewangi, dan zat-zat tambahan lainnya. Garam mandi justru berisiko menimbulkan iritasi.

Tak perlu pakai pembersih kewanitaan

Membersihkan vagina dengan air hangat dan garam saja sudah cukup. Ini karena vagina memiliki cairan khusus untuk membunuh bakteri atau kuman penyebab infeksi. Sementara itu, pembersih kewanitaan mengandung berbagai bahan kimia yang terlalu keras bagi daerah kewanitaan yang sangat sensitif.

Jangan pakai sabun wangi atau antibakteri

Sama seperti pembersih kewanitaan, sabun mandi Anda juga sifatnya terlalu keras bagi vagina. Apalagi jika sabun Anda mengandung pewangi, antibakteri, pengawet, atau pewarna buatan. Sabun juga akan mengganggu pH alami vagina. Jika Anda memang ingin membersihkan vagina, pilih sabun yang tidak mengandung pewangi, pewarna, antibakteri, atau alkohol. Anda juga tidak disarankan untuk membersihkan bagian dalam vagina Anda, cukup usap sedikit saja bagian luarnya.

Mengeringkan Vagina

Setelah Anda mandi, buang air kecil, atau membersihkan vagina, hati-hati saat mengeringkannya. Gunakan handuk atau tisu yang lembut dan tepuk-tepuk pelan hingga kering. Jangan menggosok atau mengusapnya terlalu keras karena bisa menimbulkan iritasi.

2. Memilih pakaian dalam yang ramah bagi vagina

Meskipun pakaian dalam yang berbahan sutra atau renda tampak lebih manis, jangan dipakai terlalu sering. Pasalnya, vagina Anda membutuhkan sirkulasi udara yang baik supaya tidak terlalu lembap. Jadi, sebaiknya pilih pakaian dalam dengan bahan katun asli. Agar organ intim Anda bisa bernapas lega setelah seharian terperangkap dalam pakaian dalam dan celana atau rok yang ketat, tidur tanpa pakaian dalam di malam hari bisa jadi solusinya.  

3. Rutin mengganti pembalut

Untuk menjaga kesehatan vagina, sebaiknya Anda rutin mengganti pembalut, tampon, atau pantyliner. Memakai pembalut, tampon, dan pantyliner selama lebih dari empat jam berisiko menyebabkan infeksi. Ini karena organ kewanitaan Anda tak bisa bernapas melalui plastik yang melapisi pembalut dan pantyliner. Selain itu, terlalu lama memakai tampon juga rentan menimbulkan toxic shock syndrome.

4. Makanan yang baik untuk menjaga kesehatan vagina

Memiliki pola makan yang sehat adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan vagina. Maka, pastikan bahwa Anda makan makanan dengan gizi seimbang dan minum banyak air putih. Untuk mencegah infeksi ragi vagina, Anda bisa mengonsumsi yogurt yang mengandung probiotik. Selain itu, buah cranberry dan teh hijau juga baik untuk mencegah infeksi saluran kencing. Kalau organ intim Anda terasa kering dan sakit ketika bercinta, Anda bisa makan apel dan alpukat guna meningkatkan lubrikasi alami vagina.

5. Hati-hati saat bercinta

Anda juga perlu mencegah penyakit kelamin, infeksi, dan iritasi dengan mempraktekkan seks yang aman. Maka, selalu gunakan kondom tanpa rasa atau pewangi saat bercinta. Pastikan juga bahwa Anda dan pasangan tidak lanjut melakukan penetrasi vagina setelah seks anal. Hal ini berisiko memindahkan berbagai kuman dan bakteri ke daerah kewanitaan Anda. Anda juga bisa meminta pasangan Anda untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum bercinta atau melakukan fingering (menyentuh dan merangsang vagina dengan tangan).

Source: Oleh Irene Anindyaputri. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.