Benarkah Miss V Melar & Longgar Karena Sering Bercinta?

KHUSUS PASUTRI


Benarkah Miss V Melar & Longgar Karena Sering Bercinta? Ini Jawaban Dokter

benarkah-miss-v-melar-longgar-karena-sering-bercinta-ini-jawaban-dokter

Mungkin kamu pernah mendengar banyak orang bilang kalau vagina bisa melar karena sering berhubungan seksual. Sebagian mereka mungkin mengatakannya dengan nada bercanda, tapi kamu pasti penasaran kebenarannya kan? Jadi benar nggak sih miss V melar karena sering bercinta?

Ini kata dokter kandungan Michelle Metz, M.D., dalam Women’s Health Magazine. “Vagina pada sadarnya adalah otot yang seperti karet, bisa melar saat melakukan hubungan seksual dan kembali ke bentuk dan ukuran semula.

Ia mengungkapkan bahwa bercinta untuk pertama kalinya bagi wanita memang akan membuat rongga vagina mengalami perubahan. Akan ada lapisan jaringan yang akan rusak bernama hymen atau selaput dara, yang mana akan menimbulkan sedikit berdarah saat bercinta, dan saat itulah vagina terbuka dan menyesuaikan diri untuk melar.

Vagina akan melar menyesuaikan diri jika misalnya berganti pasangan dengan ukuran Mr.P berbeda. Tapi itu tak kemudian membuat miss V melar karena otot vagina akan kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah seks selesai.

simpel2

“Hampir tidak mungkin jika vagina bisa melar secara permanen,” tambahnya. Pada beberapa kasus, miss V mungkin bisa mengalami perobekan saat melahirkan, tapi dokter akan menjahit dan mengembalikan miss V ke ukuran normal.

Jadi, sudah jelas kan ladies? Entah seberapa besar atau panjang Mr. P suami dan berapa sering kalian bercinta, saat bercinta miss V memang akan melar secukupnya, dan akan kembali ke bentuk semula. Tidak akan melar atau longgar seperti yang kamu bayangkan hingga tak nyaman lagi saat bercinta. (vem/feb)

Source:  vemale. Penulis: Febi Anindyakirana. 20 November 2017

Advertisements

4 Tips Penting untuk Menjaga Vagina Tetap Wangi dan Segar

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_232901278

Setiap wanita tentu ingin menjaga area intimnya agar tetap wangi dan segar alami. Akan tetapi, Anda tak boleh sembarangan menggunakan produk atau metode yang belum teruji klinis. Pasalnya, beberapa cara untuk menjaga vagina wangi dan segar ternyata justru berbahaya.

Lalu bagaimana caranya agar vagina bisa tetap harum dan segar? Simak jawabannya berikut ini!

Seperti apa bau vagina yang normal?

Anda mungkin sering melihat iklan produk perawatan vagina yang menjanjikan organ intim Anda akan jadi lebih wangi bak bunga-bunga segar. Pada kenyataannya, vagina manusia tidak berbau harum karena memang tidak perlu.

Vagina yang alami punya aroma yang khas dan berbeda-beda bagi setiap wanita. Bahkan dalam satu siklus menstruasi pun vagina Anda memiliki aroma yang berbeda. Ini karena wangi vagina dipengaruhi oleh berbagai hal. Misalnya kadar bakteri, keasaman vagina, keringat, serta kebersihan pada area intim Anda.

Namun, pada dasarnya vagina yang normal baunya sedikit asam. Ini karena kadar pH (keasaman) di area vagina cukup tinggi. Lingkungan yang asam dibutuhkan untuk membunuh berbagai bakteri dan organisme jahat yang bisa menyebabkan infeksi vagina.

Penyebab vagina berbau tak sedap

Meskipun vagina memang seharusnya punya bau yang khas, bukan berarti bau yang menyengat dan tak sedap itu wajar. Vagina tak seharusnya berbau busuk, amis, atau anyir. Bila Anda mencium aroma seperti ini, ada yang salah dengan vagina Anda. Berikut adalah beberapa kemungkinannya.

  • Infeksi bakteri vagina
  • Tidak mengganti pembalut atau pantyliner dalam waktu yang cukup lama
  • Penyakit kelamin
  • Tidak bersih ketika membasuh vagina

Bagaimana cara membuat vagina wangi secara alami?

Supaya vagina wangi dan segar, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

1. Jaga vagina tetap kering

Lingkungan yang terlalu lembap akan jadi sarang bagi berbagai jenis bakteri penyebab penyakit. Selain itu, berhati-hatilah saat Anda membasuh vagina setelah buang air kecil. Siram dengan air dari depan ke belakang, bukan sebaliknya. Arah ini mampu mencegah bakteri jahat pindah ke vagina dan menyebabkan bau tak sedap.

Pastikan Anda juga rutin mengganti pembalut atau pantyliner, paling tidak setiap empat jam sekali.

2. Jaga pola makan yang sehat dan seimbang

Perbanyak makan buah-buahan, sayuran hijau, dan produk probiotik seperti yogurt. Makanan-makanan tersebut mampu mencegah pertumbuhan bakteri jahat serta bisa membuat vagina wangi dan segar alami. Sebaliknya, makanan dengan bau yang menyengat seperti bawang putih bisa membuat vagina Anda berbau tak sedap.

3. Cuci vagina dengan cara yang benar

Untuk mencuci vagina dengan benar. Anda hanya membutuhkan air hangat (suam-suam kuku). Anda juga bisa menggunakan pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine. Bersihkan hanya bagian luar vagina saja. Setelah itu, keringkan dengan cara menepuk-nepuk pelan daerah vagina, jangan digosok.

Jangan lupa untuk memakai celana dalam yang cukup sejuk dan menyerap keringat. Segera ganti kalau pakaian dalam sudah terlalu lembap karena keringat atau cairan vagina berlebihan.

4. Hindari hal-hal berikut yang sebenarnya justru bisa membuat vagina berbau amis

Ingat, vagina normal wanginya memang khas, yaitu sedikit asam. Anda tak perlu menggunakan macam-macam produk supaya vagina wangi seperti bunga atau buah-buahan. Pasalnya, vagina Anda adalah area sensitif yang tidak tahan dengan bahan-bahan kimia asing.

Cara-cara di bawah ini sangat tidak dianjurkan dan bisa menyebabkan infeksi bakteri, jamur, atau ragi yang bisa membuat vagina justru berbau busuk atau anyir.

  • Mencuci bagian dalam vagina (douching vagina, ratus, atau gurah vagina)
  • Menyemprotkan parfum ke area selangkangan atau vagina
  • Menaburkan bedak di sekitar vagina

Source: Irene Anindyaputri . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

5 Penyebab Anda Mengalami Vagina Kering

KHUSUS PASUTRI

HelloSehat_Betadine_5-Penyebab-Vagina-Anda-Menjadi-Kering_image

Pernahkah Anda merasakan vagina Anda kering? Ketika mengalaminya, mungkin Anda menduga-duga berbagai alasan, bahkan cemas akan mengalami gejala awal menopause. Tetapi, masalah vagina kering yang dialami oleh perempuan muda bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Menurut Journal of Women’s Health yang dipublikasikan pada Agustus 2015, vagina kering juga menjadi masalah untuk perempuan di bawah usia 60 tahun. Ini merupakan kasus yang sangat umum dialami oleh perempuan. Penting bagi Anda untuk membuat vagina tetap lembap, sebab kelembapan tersebut dapat menjaga jaringan tetap sehat dan membantu mencegah infeksi serta penyakit menular seksual.

Apa saja gejala vagina kering?

Anda akan merasa sakit ketika berhubungan seksual. Selain itu, rasa sakit juga dialami ketika Anda duduk, berdiri, olahraga, buang air kecil dan bahkan ketika bekerja. Masalah ini dapat mengganggu aktivitas perempuan, baik dia aktif secara seksual atau tidak.

Perubahan juga terjadi pada penampilan vagina dan vulva, bibir vagina akan terlihat lebih tipis. Anda mungkin juga akan mengalami iritasi dan rasa panas.

Jika Anda mengalami rasa panas, gatal dan tak nyaman pada daerah vagina, sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter. Gejala tersebut akan diagnosis dengan pertanyaan seputar berapa lama Anda mengalami gejala tersebut, tentang pengobatan yang dijalani, atau cara Anda membersihkan vagina.

Biasanya dokter akan melakukan tes panggul, mengecek vagina untuk memastikan ada kemerahan atau tidak. Tes ini akan membantu Anda menemukan penyebabnya, atau kemungkinan infeksi seperti infeksi saluran kencing.

Apa penyebab vagina kering?

Dalam mengobati suatu penyakit, Anda harus mengetahui terlebih dahulu akar permasalahannya atau penyebabnya, begitu pun untuk mengobati vagina yang kering. Ada beberapa penyebab yang bisa Anda lihat:

1. Perubahan hormon

Berdasarkan American Congress of Obstetricians and Gynecologists, penyebab paling umum vagina kering adalah penurunan level estrogen selama menopause, pramenopause, setelah melahirkan, atau selama menyusui. Pengobatan kimia untuk kanker seperti kemoterapi dan radiasi pada panggul dapat menyebabkan penurunan estrogen dan lubrikasi vagina.

2. Obat tertentu

Obat alergi, asma, dan flu mengandung antihistamin yang memiliki efek di dalam tubuh, sehingga adanya penurunan lubrikasi vagina.

3. Kurangnya gairah

Salah satu penyebab keringnya vagina bisa jadi karena rendahnya libido atau permasalahan seksual dengan pasangan. Contohnya, masih berdasarkan Goldstein, pasangan mungkin memiliki performa seks yang kurang, melewatkan foreplay, atau mengalami ejakulasi dini.

4. Iritasi

Produk perawatan tubuh juga bisa memicu pada kering vagina, seperti sabun berbahan kimia, macam-macam produk kebersihan, dan parfum. Beberapa perempuan memiliki masalah alergi terhadap detergen dan sabun. Pun dengan pakaian, seperti celana dalam dan handuk, juga dapat membuat iritasi vagina Anda. Alergi yang timbul tersebut bisa berupa masalah pada lubrikasi atau objek; seperti bakteri yang berada di vagina Anda.

5. Kecemasan

Faktor psikologis dan emosional bisa mengganggu gairah seksual dan membuat vagina Anda menjadi kering. Menurut Goldstein, ketika perempuan cemas, akan terjadi kurangnya aliran darah, sehingga kekeringan di daerah vagina pun terjadi. Kecemasan juga akan memicu hormon kortisol, hormon ini dapat mengganggu cara kerja estrogen.

Bagaimana cara mengatasi vagina kering?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Anda harus menemukan akar penyebab untuk mengobati vagina kering. Misalnya, perempuan yang memiliki masalah dengan lubrikasi vagina karena perubahan hormon, mungkin dokter akan menyarankan terapi estrogen sebagai pengobatan.

Pengobatan vagina kering dengan hormon

Hormon estrogen yang dimasukkan ke dalam vagina untuk kasus hot flashes, vagina kering, dan perubahan warna kulit. Hormon tersebut dimasukkan dalam bentuk cincin, tablet, atau krim.

Berikut ini tiga tipe estrogen vaginal:

  • Vaginal estrogen ring (Estring): dokter akan memasukkan cincin yang lembut dan fleksibel ke dalam vagina. Di sana, estrogen ini akan dilepas langsung ke jaringan vagina. Namun, jenis ini tidak permanen, Anda harus menggantinya setiap tiga bulan
  • Vaginal estrogen tablet (Vagifem): Anda menggunakan aplikator sekali pakai untuk memasukan tablet ke dalam vagina Anda sehari sekali untuk dua minggu pertama pengobatan. Lalu, Anda akan memasukannya dua kali seminggu sampai Anda tidak lagi membutuhkannya
  • Vaginal estrogen cream (Estrace, Premarin): Anda juga akan menggunakan aplikator untuk memasukan krim ke vagina. Krim diaplikasikan untuk satu sampai dua minggu, lalu frekuensinya dikurangi satu sampai tiga kali seminggu seperti yang diarahkan oleh dokter

Namun, terapi estrogen tidak direkomendasikan untuk:

  • Penderita kanker payudara
  • Perempuan yang memiliki riwayat kanker endometrium
  • Ibu hamil dan menyusui

Pengobatan vagina kering dengan mengubah kebiasaan

Ada cara lain yang lebih nyaman, cara ini juga bisa dipakai untuk rasa kering yang sakit akibat seks, seperti:

  • Gunakan pelumas saat seks: ada sejumlah produk pelumas yang dapat membantu mengatasi kekeringan vagina. Pelumas ini berbahan dasar silikon, minyak, dan air. Biasanya pelumas lebih sering digunakan untuk membuat nyaman ketika berhubungan seks dibanding sebagai lubrikasi vagina jangka panjang.
  • Gunakan pelembap khusus vagina: Anda bisa mencari pelembab khusus vagina, sebab pelembap membantu memasukan air ke dalam jaringan vagina.
  • Hindari mencuci vagina dengan sabun. Anda harus menghindari membersihkan vagina dengan sabun banyak busa, sabun yang wangi, serta lotion. Hal ini dapat menyebabkan kekeringan semakin parah. Jika ingin mencegah infeksi vagina yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri, Anda bisa menggunakan pembersih kewanitaan yang mengandung povidone-iodine. Jika digunakan di bagian luar vagina, cairan povidone-iodine terbukti ampuh mematikan parasit penyebab infeksi, namun sekaligus menjaga keseimbangan pH vagina dan tak membuat vagina kering.

Source: Rizki Pratiwi . Data medis direview oleh dr. Tania Savitri.

 

Perubahan yang Akan Terjadi Pada Vagina Seiring Bertambahnya Usia

KHUSUS PASUTRI


perubahan-vagina

Ketika usia kita menua, tidak hanya rambut dan kulit saja yang mengalami penuaan. Beberapa bagian tubuh lainnya juga mengalami perubahan. Apa saja? Pada perempuan, contohnya payudara yang mulai kendur. Perempuan juga pasti mengalami menopause. Tak hanya itu saja, bentuk genital pada perempuan pun dapat mengalami perubahan. Mungkin Anda tidak menyadarinya saat vagina mengalami perubahan. Ya, ternyata bentuk vagina berubah seiring dengan bertambahnya usia. Ingin tahu seperti apa?

Bagaimana perubahan vagina seiring kita bertambah tua?


Perubahan ini dimulai saat Anda tumbuh dewasa, tapi kita akan mulai membahasnya mulai dari usia 20 tahun. Berikut ini penjelasannya:

Bentuk vagina usia 20 tahun setelah pubertas

Memasuki usia 20 tahun, Anda telah selesai mengalami pubertas. Akhirnya organ tubuh Anda mencapai fase ukuran dewasa. Begitu juga dengan labia mayora (bagian luar bibir vagina), bentuknya akan menjadi lebih ramping. Pada usia ini, lemak subkutan (lemak yang letaknya di bawah permukaan kulit) mengalami penurunan, termasuk di genital Anda.

Perubahan warna vagina pada usia 30 tahun

Pada usia ini terjadi perubahan hormon akibat kehamilan dan pil KB. Penuaan dapat menyebabkan labia minora (bagian dalam bibir yang melingkari klitoris dan mulut vagina) menggelap. Penggunaan pil KB selama beberapa tahun dapat menyebabkan vagina mengering, serta terbatasnya lubrikasi vagina.

Beberapa perempuan mengalami kekeringan vulva akibat pemakaian pil KB. Penyebabnya adalah pil ini dapat menghambat hormon laki-laki yang disebut androgen, vulva inilah yang memiliki reseptor terhadap hormon androgen.

Sama halnya dengan kehamilan dan melahirkan, vulva dan vagina tetap akan terkena dampaknya. Bahkan beberapa perempuan menemukan varises di vagina akibat rahim membengkak ketika Anda hamil. Tapi tenang saja, pembesaran pembuluh darah tersebut ketika hamil adalah hal yang wajar.

Mungkin Anda khawatir bentuk vagina tidak akan kembali setelah melahirkan, faktanya adalah bentuk vagina akan kembali normal saat melahirkan. Alasannya adalah vagina kaya akan pasokan darah dan memiliki keelastisitasan yang alami. Ada beberapa perempuan yang mengalami beberapa kerusakan otot dan saraf mengingat adanya tekanan pada otot dasar panggul selama kehamilan dan kelahiran.

Efek perubahan estrogen pada usia 40 tahun

Ya, pada usia ini memang fungsi reproduksi akan sedikit menurun. Perempuan masih tetap mengalami ovulasi dan menstruasi, tapi siklus ini akan lebih pendek dari biasanya. Anda juga mulai mengalami tanda-tanda akan menopause akibat penurunan hormon estrogen. Uniknya bagi Anda yang terbiasa mencukur rambut kemaluan, Anda akan menyadari efek dari mencukur itu sendiri, yaitu perubahan pigmen kulit sekitar vagina. Penurunan hormon estrogen berpengaruh pada rambut kemaluan yang mulai menipis pada usia ini.

Perubahan vagina pada usia 50 tahun

Mungkin pada usia ini, Anda mulai mengalami awal-awal menopause. Efek dari penurunan estrogen dapat membuat vagina menjadi lebih tipis, kurang elastis, kering pada vulva, dan vagina. Anda akan memerlukan pelumas tambahan saat berhubungan seks, agar tidak sakit dan iritasi. Jika Anda sering memerhatikan perubahan pada vagina, Anda akan menemukan vagina kehilangan lemak dan kolagen, sehingga sangat mungkin ditemukan kerutan pada bagian ini. Ketika hormon estrogen berkurang, pH vagina pun akan berkurang, vagina Anda dapat terkena bakteri tertentu. Keasaman pun bisa bertambah sehingga vagina sangat rentan terhadap infeksi.

Perubahan vagina usia 60 tahun

Hot flashes dan berkeringat pada malam hari dapat terjadi selama beberapa tahun. Kering pada vagina tidak dapat dihindari, sekitar 50 hingga 60 persen perempuan mengalami masalah kering pada vagina. Anda perlu mengunjungi dokter untuk mengatasi masalah ini.

Berhubungan seks jelas akan terasa menyakitkan untuk Anda. Selain itu, Anda mungkin juga akan mengalami inkontinensia urin (kondisi di mana Anda tidak dapat menahan buang air kecil). Anda akan mengalami gejala pascamenopause. Jika Anda mengalami sensasi terbakar atau panas setelah berhubungan seks, jangan lupa untuk berkonsultasi pada dokter. Pelembap vagina juga dapat Anda gunakan untuk membantu meringankan kering pada vagina.

Source: Rizki Pratiwi . Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

Serba-serbi Operasi Peremajaan Vagina

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_232901278

Bedah vagina awalnya dikembangkan sebagai prosedur rekonstruksi untuk memperbaiki cacat lahir. Beberapa kondisi tertentu (misalnya, Müllerrian agenesis atau aplasia, vaginal agenesis, adrenal hyperplasia kongenital) perlu diperbaiki atau dikoreksi agar perempuan muda bisa bertumbuh besar dengan kemampuan buang air kecil secara normal, memiliki siklus menstruasi, dan bisa terlibat dalam hubungan seksual sebagai orang dewasa.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini, prosedur bedah vagina juga digunakan sebagai tujuan kosmetik. Vaginoplasty, umum disebut sebagai peremajaan vagina, adalah prosedur yang biasanya dapat memperbaiki masalah otot vagina yang mengendur disebabkan oleh proses melahirkan atau penuaan, dan merupakan cara cepat untuk meningkatkan kehidupan seksual seseorang. Prosedur ini biasanya menguatkan otot vagina, sehingga kekuatan kontraksi yang lebih besar dan kontrol yang lebih baik untuk memungkinkan sensasi yang lebih kuat selama aktivitas seksual. Prosedur kosmetik ini sering dikombinasikan dengan labiaplasty. Labiaplasty adalah prosedur bedah plastik untuk memperindah penampilan bibir vulva, atau labia.

Semua wanita yang dinilai cukup sehat untuk menjalani prosedur bedah bisa menjalankan peremajaan vagina. Oleh sebab itu, kini semakin banyak wanita, terutama perempuan muda, memilih untuk menjalankan prosedur ini hanya untuk tujuan estetika atau untuk mencapai kehidupan seks yang lebih ideal.

Peremajaan vagina bukanlah satu-satunya solusi

Vaginoplasty tidak direkomendasikan untuk wanita hamil atau mereka yang sedang merencanakan kehamilan. Jika seorang wanita menjalankan prosedur ini sebelum melahirkan, proses persalinan akan jauh lebih sulit dan menyakitkan, belum lagi proses persalinan yang mungkin akan merusak hasil dari vaginoplasty.

Vaginoplasty dan prosedur peremajaan vagina lainnya tidak seharusnya dipandang sebagai cara bagi seseorang untuk membuat tubuhnya terlihat ‘normal’. Ukuran, bentuk, warna, dan penampilan dari setiap vulva berbeda antar satu orang dengan yang lainnya. Terlebih lagi, sangat tidak mungkin untuk bisa menentukan seperti apa tampilan vagina yang “normal”.

Selain itu, vaginoplasty tidak seharusnya dilakukan untuk hanya untuk memuaskan keinginan pasangannya. Jika seorang wanita merasa nyaman dengan tubuhnya, pasangannya pun juga harus begitu. Demikian pula, operasi tidak seharusnya dilakukan sebagai cara untuk “memperbaiki” hubungan.

Vaginoplasty adalah sebuah prosedur yang memiliki dampak personal terhadap tubuh Anda. Keputusan untuk mengubah bentuk tubuh harus dibuat sedemikian rupa secara mandiri setelah menimbang segala pro kontra.

Hingga batas tertentu, vaginoplasty dapat menjadi solusi terbaik untuk beberapa wanita. Namun, hal ini bukanlah satu-satunya pilihan. Senam kegel dan senam vagina lainnya juga bisa digunakan untuk menguatkan otot-otot dasar panggul. Beberapa krim vagina yang dijual di pasaran bertujuan untuk menyebabkan pembengkakan pada vagina untuk memberikan kesan lebih kuat dan kencang. Krim ini bisa digunakan dalam jangka waktu tertentu untuk secara bertahap meningkatkan sensasi seksual, namun tidak ada jaminan bahwa setiap penggunanya akan puas dengan hasil yang diberikan.

Namun memang, kelemahan utama dari alternatif ini adalah hasil akhirnya tidak akan secepat atau permanen dibanding dengan prosedur bedah plastik.

Hasil mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi

Jika Anda sedang mempertimbangkan vaginoplasty, pastikan bahwa Anda membaca semua risiko dan manfaat dan berat mereka terhadap satu sama lain. Jika Anda memutuskan bahwa operasi peremajaan vagina sesuai keinginan dan kebutuhan Anda, dan berkonsultasi dengan dokter spesialis khusus prosedur ini.

Risiko yang terkait dengan vaginoplasty mirip dengan banyak operasi umum lainnya, termasuk infeksi, perdarahan, bekas luka yang parah, dan pembekuan darah. Namun, risiko ini biasanya jarang selama pasien berada dalam kesehatan yang baik. Risiko lainnya termasuk kerusakan saraf, kolaps vagina, dan pelumas alami yang tidak seimbang, meskipun kasus ini terbilang langka jika Anda ditangani oleh dokter bedah yang terampil.

Beberapa bekas luka operasi normal dan akan memudar dengan sendirinya selama pasien melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam proses pemulihan. Jika Anda memutuskan melakukan vaginoplasty, dokter bedah akan membahas secara rinci risiko yang terkait dengan prosedur dan kesehatan Anda.

Risiko yang paling umum — dan yang paling penting — untuk dipertimbangkan ketika memutuskan peremajaan vagina adalah bahwa pasien mungkin akan merasa tidak puas dengan hasil akhirnya. Meski banyak wanita mengklaim bahwa vaginoplasty terbukti efektif meningkatkan kualitas kehidupan seks mereka, sebenarnya tidak ada jaminan bahwa hal yang sama berlaku bagi setiap orang.

Kadang, prosedur ini bisa mengakibatkan vagina tidak seketat yang diharapkan, atau malah sangat terasa ketat hingga mungkin Anda tidak bisa melakukan seks yang nyaman dengan pasangan Anda. Pada kasus ini, terapi tambahan atau pembedahan perbaikan akan mungkin dibutuhkan untuk meraih hasil akhir yang diinginkan.

Source: Oleh Ajeng Quamila. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

 

5 Cara Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Vagina

KHUSUS PASUTRI


cara-terbaik-menjaga-kesehatan-kewanitaan

Menjaga kesehatan vagina Anda adalah suatu hal yang gampang-gampang susah. Sebenarnya vagina Anda adalah salah satu organ tubuh yang paling cerdas karena mampu membersihkan diri dan mengatur kelembapan alaminya tanpa bantuan zat-zat kimia apa pun. Akan tetapi, kadang hal ini tak benar-benar dipahami sehingga beberapa wanita justru membahayakan vagina karena menggunakan beragam produk kewanitaan yang tak diperlukan. Lalu, sebenarnya bagaimana cara terbaik untuk menjaga kesehatan organ kewanitaan Anda? Silakan simak tips-tips jitu di bawah ini, mulai dari membersihkan vagina sampai bercinta dengan aman.

1. Membersihkan Vagina

Menjaga kesehatan vagina dimulai dari kebiasaan Anda membersihkannya. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, vagina adalah organ tubuh yang mampu membersihkan diri sendiri. Akan tetapi, rutin membersihkan vagina bisa membantu mencegah tumbuhnya bakteri dan menjaga agar daerah kewanitaan Anda tetap terasa segar. Maka, harap perhatikan hal-hal ini sebelum Anda membersihkan vagina.

Bilas dengan air hangat

Untuk membersihkan vagina setiap harinya, cukup bilas dengan air hangat (bukan air mendidih) ketika Anda mandi. Anda bisa melarutkan sedikit saja garam laut (sea salt) ke dalam air hangat untuk membantu mengatasi rasa gatal di daerah kewanitaan. Namun, jangan pakai garam mandi yang marak dijual saat ini dengan pewarna, pewangi, dan zat-zat tambahan lainnya. Garam mandi justru berisiko menimbulkan iritasi.

Tak perlu pakai pembersih kewanitaan

Membersihkan vagina dengan air hangat dan garam saja sudah cukup. Ini karena vagina memiliki cairan khusus untuk membunuh bakteri atau kuman penyebab infeksi. Sementara itu, pembersih kewanitaan mengandung berbagai bahan kimia yang terlalu keras bagi daerah kewanitaan yang sangat sensitif.

Jangan pakai sabun wangi atau antibakteri

Sama seperti pembersih kewanitaan, sabun mandi Anda juga sifatnya terlalu keras bagi vagina. Apalagi jika sabun Anda mengandung pewangi, antibakteri, pengawet, atau pewarna buatan. Sabun juga akan mengganggu pH alami vagina. Jika Anda memang ingin membersihkan vagina, pilih sabun yang tidak mengandung pewangi, pewarna, antibakteri, atau alkohol. Anda juga tidak disarankan untuk membersihkan bagian dalam vagina Anda, cukup usap sedikit saja bagian luarnya.

Mengeringkan Vagina

Setelah Anda mandi, buang air kecil, atau membersihkan vagina, hati-hati saat mengeringkannya. Gunakan handuk atau tisu yang lembut dan tepuk-tepuk pelan hingga kering. Jangan menggosok atau mengusapnya terlalu keras karena bisa menimbulkan iritasi.

2. Memilih pakaian dalam yang ramah bagi vagina

Meskipun pakaian dalam yang berbahan sutra atau renda tampak lebih manis, jangan dipakai terlalu sering. Pasalnya, vagina Anda membutuhkan sirkulasi udara yang baik supaya tidak terlalu lembap. Jadi, sebaiknya pilih pakaian dalam dengan bahan katun asli. Agar organ intim Anda bisa bernapas lega setelah seharian terperangkap dalam pakaian dalam dan celana atau rok yang ketat, tidur tanpa pakaian dalam di malam hari bisa jadi solusinya.  

3. Rutin mengganti pembalut

Untuk menjaga kesehatan vagina, sebaiknya Anda rutin mengganti pembalut, tampon, atau pantyliner. Memakai pembalut, tampon, dan pantyliner selama lebih dari empat jam berisiko menyebabkan infeksi. Ini karena organ kewanitaan Anda tak bisa bernapas melalui plastik yang melapisi pembalut dan pantyliner. Selain itu, terlalu lama memakai tampon juga rentan menimbulkan toxic shock syndrome.

4. Makanan yang baik untuk menjaga kesehatan vagina

Memiliki pola makan yang sehat adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan vagina. Maka, pastikan bahwa Anda makan makanan dengan gizi seimbang dan minum banyak air putih. Untuk mencegah infeksi ragi vagina, Anda bisa mengonsumsi yogurt yang mengandung probiotik. Selain itu, buah cranberry dan teh hijau juga baik untuk mencegah infeksi saluran kencing. Kalau organ intim Anda terasa kering dan sakit ketika bercinta, Anda bisa makan apel dan alpukat guna meningkatkan lubrikasi alami vagina.

5. Hati-hati saat bercinta

Anda juga perlu mencegah penyakit kelamin, infeksi, dan iritasi dengan mempraktekkan seks yang aman. Maka, selalu gunakan kondom tanpa rasa atau pewangi saat bercinta. Pastikan juga bahwa Anda dan pasangan tidak lanjut melakukan penetrasi vagina setelah seks anal. Hal ini berisiko memindahkan berbagai kuman dan bakteri ke daerah kewanitaan Anda. Anda juga bisa meminta pasangan Anda untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum bercinta atau melakukan fingering (menyentuh dan merangsang vagina dengan tangan).

Source: Oleh Irene Anindyaputri. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

Penyebab Vagina Kendur dan Cara Mengatasinya

KHUSUS PASUTRI


Vagina-Bau-Mungkin-Ini-Penyebabnya

Setelah melahirkan atau sudah memasuki usia menopause, banyak wanita mengkhawatirkan kondisi kesehatan reproduksinya. Salah satu keluhan yang muncul antara lain vagina mengendur.  Keluhan ini juga dikenal dengan istilah sindrom vagina kendur (vaginal relaxation syndrome).

Biasanya kondisi ini ditandai dengan hilangnya gairah bercinta, sulit mendapatkan kenikmatan seksual atau orgasme, serta dalam beberapa kasus wanita akan mengalami inkontinensia urin yaitu sulit mengendalikan laju urin.

Apabila Anda mengalami tanda-tanda tersebut, bisa jadi Anda memiliki kondisi sindrom vagina kendur. Sindrom ini bisa disembuhkan dan pada kebanyakan kasus tidak membahayakan. Untuk mencari tahu lebih lanjut soal sindrom vagina kendur, baca terus informasi berikut.

Apa itu sindrom vagina kendur?

Sindrom vagina kendur adalah kondisi di mana dinding, otot, serta jaringan vagina melemah. Vagina jadi tidak bisa berkontraksi seperti biasanya. Inilah yang membuat vagina terasa tidak rapat, jadi lebih longgar. Sindrom ini bukan penyakit, melainkan kondisi medis.

Bagaimana vagina bisa mengendur?

Pada kebanyakan kasus, kondisi ini terjadi karena dinding vagina meregang terlalu lebar akibat proses persalinan normal. Akan tetapi, biasanya perlahan-lahan vagina akan kembali lagi pada bentuk awalnya. Sindrom vagina kendur juga bisa dialami wanita yang sudah lanjut usia atau memasuki usia menopause. Pada wanita menopause atau lanjut usia, dinding vagina menipis karena kurangnya kadar kolagen dan hormon estrogen. Akibatnya, dinding vagina yang seharusnya tetap kencang dan elastis jadi mengendur. Biasanya jika diakibatkan oleh proses penuaan ini, vagina juga akan terasa lebih kering.

Meski sangat jarang, biasanya sindrom vagina kendur juga bisa menjadi salah satu gejala berbagai penyakit. Penyakit yang biasanya ditandai dengan vagina mengendur adalah penyakit prolaps organ panggul. Gejala lain yang mungkin menandakan penyakit ini adalah adanya rasa tertekan pada panggul atau vagina, sakit ketika berhubungan seks, benjolan pada bukaan vagina, serta sulit buang air besar.

Siapa saja yang berisiko terkena sindrom vagina kendur?

Sindrom ini bisa dialami oleh siapa pun, terlepas dari usia seorang wanita. Akan tetapi, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan Anda mengalami sindrom vagina kendur. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:

  • Sudah pernah menjalani proses persalinan normal (lewat vagina) selama berkali-kali
  • Usia di atas 48 tahun
  • Kelainan hormon turunan (genetik)
  • Penuaan dini
  • Sudah pernah menjalani operasi panggul
  • Perubahan berat badan yang drastis

Pengobatan apa yang bisa dijalani untuk memperbaiki vagina kendur?

Untuk mengetahui apakah Anda benar-benar mengalami sindrom vagina kendur, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Setelah didiagnosis dengan sindrom tersebut, ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa Anda pilih. Pengobatan yang Anda jalani biasanya bisa dipertimbangkan sesuai dengan keseriusan kondisi Anda dan berbagai alasan pribadi. Simak berbagai pengobatannya berikut ini.

1. Laser

Kondisi vagina yang mengendur bisa dipulihkan dengan prosedur peremajaan vagina. Dalam prosedur ini, laser yang diarahkan pada vagina akan memicu pertumbuhan dan perbaikan kolagen. Vagina pun akan jadi lebih rapat.

2. Terapi Hormon

Apabila sindrom yang dialami disebabkan oleh kelainan atau perubahan hormon, Anda mungkin akan dianjurkan untuk menjalani terapi hormon. Biasanya terapi ini ditujukan pada pasien yang sedang dalam masa menopause atau sudah berusia lanjut.

3. Senam Kegel

Senam ini ditujukan untuk melatih otot-otot panggul. Dengan mengencangkan otot panggul, area vagina pun jadi lebih kencang. Wanita yang habis bersalin normal dianjurkan untuk menjalani senam Kegel untuk mengembalikan keremajaan vagina. Senam ini dilakukan dengan cara menahan kontraksi otot panggul (otot yang dipakai untuk menahan laju urin) selama beberapa detik.

Source: Oleh Irene Anindyaputri, Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

3 Cara Aman dan Terbukti Efektif untuk Merapatkan Vagina

KHUSUS PASUTRI


Sugaring beauty treatment

Salah satu masalah yang sering dialami wanita namun malu diungkapkan adalah vagina yang sudah tidak serapat dulu. Sebenarnya, masalah ini cukup umum dan pada sebagian besar kasus merupakan hal yang alamiah. Namun, vagina yang mengendur mungkin bisa membuat Anda tidak percaya diri dan tidak mendapat kenikmatan yang maksimal di tempat tidur. Selain itu, vagina yang tidak rapat mungkin menyebabkan kondisi seperti inkontinensia urin. Nah, Anda tak perlu khawatir. Dengan perawatan dan teknik yang tepat, vagina bisa diremajakan lagi. Ada berbagai cara merapatkan vagina yang bisa Anda coba. Berikut ulasan lengkap masing-masing caranya.

1. Senam untuk mengencangkan Vagina

Vagina bisa saja mengendur karena berbagai hal. Bisa jadi karena otot-otot panggul bawah di area vagina Anda melemah atau karena lapisan kulit vagina jadi mengendur. Jika saat berhubungan seks Anda tidak merasakan sensasi gigitan vagina yang cukup kuat, bisa jadi penyebabnya adalah otot-otot panggul bawah Anda melemah. Hal ini mungkin terjadi karena proses persalinan normal atau proses penuaan.

Untuk mengencangkan kembali otot-otot di sekitar vagina, Anda bisa melakukan senam di rumah. Salah satunya adalah senam Kegel. Simak panduan melakukan senam Kegel dalam tautan ini. Selain senam Kegel, Anda bisa melakukan senam sederhana seperti senam pinggul, squat, dan angkat kaki. Rutin melakukan senam-senam tersebut bisa jadi cara merapatkan vagina yang ampuh.

2. Terapi Laser

Kalau penyebab vagina Anda mengendur adalah proses penuaan alami, Anda bisa mempertimbangkan terapi laser. Dengan terapi laser, lapisan kulit vagina Anda akan “ditembak” dengan sinar laser khusus. Laser akan memicu produksi kolagen dalam kulit. Dengan begitu, lapisan kulit dan jaringan vagina pun akan kembali kencang dan kenyal seperti dulu lagi.

Terapi untuk meremajakan organ kewanitaan ini tidak membutuhkan operasi atau bedah apa pun. Prosesnya sangat cepat, yaitu hanya kira-kira 15 menit. Alat penembak laser akan dimasukkan ke dalam vagina sejauh empat sampai enam sentimeter. Laser kemudian dinyalakan atau ditembak di dalam vagina. Nyala laser ini akan menembus ke dalam dinding vagina kira-kira sampai setengah milimeter. Kedalaman ini cukup untuk menggapai lapisan kulit yang bertugas untuk menghasilkan kolagen. Kehangatan dari sinar laser ini akan mendukung produksi kolagen dan elastin, yaitu dua jenis zat protein yang berfungsi untuk menjaga kekencangan dan kekenyalan lapisan kulit.

3. Menjaga Pola Makan Sehat

Salah satu cara merapatkan vagina yang cukup mudah adalah menjaga pola makan sehat. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, vagina bisa jadi kendur akibat proses penuaan. Proses penuaan ini disebabkan oleh berkurangnya kolagen dan elastin. Sementara itu, kadar kolagen dan elastin dalam tubuh akan menurun akibatradikal bebas yang merusak sel-sel dalam lapisan kulit vagina. Untuk menangkal dan mencegah radikal bebas, Anda harus meningkatkan asupan makanan yang kaya antioksidan.

Makanan yang kaya antioksidan adalah sayur dan buah-buahan yang warnanya kuat, entah sangat gelap atau sangat cerah. Sumber pangan lainnya yang kaya antioksidan antara lain kacang-kacangan, jamur, ikan, dan yogurt.

Hindari mengonsumsi minuman beralkohol, makanan yang mengandung bahan kimia keras atau pengawet, serta berhentilah merokok. Hal-hal tersebut adalah sumber radikal bebas yang bisa mengganggu kadar kolagen dan elastin pada area kewanitaan Anda.

Source: Oleh Irene Anindyaputri. Data medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

 

Benarkan Ukuran Vagina Menentukan Seberapa Hebatnya Orgasme Wanita?

KHUSUS PASUTRI


shutterstock_739909162

Katanya, vagina yang sudah melar bisa membuat seks tidak lagi terasa enak bagi laki-laki dan perempuan itu sendiri. Itu sebabnya banyak perempuan yang mencari berbagai macam cara untuk kembali merapatkan vagina demi mendapatkan kepuasan seksual yang diidamkan. Benarkan besar kecilnya bentuk vagina seorang wanita bisa memengaruhi kepuasan seksual semua orang yang terlibat dalam hubungan seks tersebut?

Bentuk vagina menentukan kepuasan seksual, benar atau tidak?

Banyak yang percaya kalau bentuk vagina itu pada awalnya sangat ketat, dan ketika sudah berhubungan seks lama-lama vagina akan melar karena sudah dimasuki penis. Anggapan ini salah besar. Yang perlu lebih dulu dipahami adalah, sebenarnya ukuran dan bentuk vagina setiap wanita bisa berbeda-beda.

Para ahli menemukan bahwa kedalaman liang vagina rata-rata adalah sekitar 10 cm, dengan lebar liang vagina rata-rata bisa sekitar 2.1-3.5 cm. Lebar liang vagina yang terlalu sempit (hanya sekitar 2 cm) memang dapat menyebabkan wanita merasa nyeri saat berhubungan seks, sehingga mungkin memengaruhi kepuasan seksualnya. Vagina yang terlalu rapat bahkan bisa menjadi pertanda Anda mengalami vaginismus.

Bagaimana dengan vagina yang sudah kendur? Tidak ada patokan yang dibuat dalam dunia medis untuk menentukan seberapa ketat atau kendurnya vagina perempuan. Jangan salah. Pasalnya, meski memang vagina kendur lebih sering dialami oleh perempuan yang sudah pernah melahirkan, vagina perempuan yang masih “perawan” pun juga bisa mengendur. Mengendurnya vagina adalah respon alami tubuh tanda bahwa seorang wanita sebenarnya telah terangsang dengan baik, sehingga penetrasi akan lebih mudah dilakukan dan tidak terasa sakit.

Sampai saat ini masih sedikit penelitian medis yang dapat membuktikan bahwa ukuran dan bentuk vagina wanita berpengaruh pada kemampuannya untuk mencapai orgasme. Bahkan sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal International Urogynecology tahun 2011 menunjukan bahwa ukuran vagina sama sekali tidak memengaruhi gairah dan aktivitas seksual perempuan.

Terlebih, ada banyak faktor lainnya yang bisa memengaruhi kepuasan seksual perempuan agar bisa mencapai orgasme. Mulai dari rasa percaya dan keintiman dengan pasangan, seberapa jauh ia sudah terangsang, rangsangan apa saja yang ia terima, dan berbagai masalah psikologis lainnya.

Tidak semua orgasme wanita bisa dicapai lewat penetrasi vagina

Selama ini kita menganggap bahwa orgasme wanita hanya bisa dicapai lewat penetrasi penis ke dalam vagina. Padahal berdasarkan sebuah penelitian yang dikutip oleh Medical Daily, hanya ada kurang dari 25% perempuan yang mengaku mengalami orgasme lewat seks penetratif penis.

Ketimbang pusing memikiran ukuran dan bentuk vagina Anda, mengapa tidak melihatnya dari sudut pandang baru. Ada banyak cara bagi perempuan untuk meraih orgasme. Salah satunya adalah dengan rangsangan klitoris, sebuah tombol seks yang sedikit tersembunyi di dekat lubang vagina. malah, ada lebih banyak wanita yang merasa lebih mudah berorgasme lewat stimulasi klitoris.

Ya, klitoris adalah titik rangsangan yang bisa memicu adanya orgasme. Pasalnya ada sekitar delapan ribu titik saraf yang bermukim di klitoris wanita. Meski masih pro dan kontra, orgasme memang dapat dicapai dengan merangsang klitoris, baik secara tidak langsung lewat posisi seks tertentu saat penetrasi penis menyenggol klitoris, atau dengan rangsangan langsung misalnya dengan permainan tangan atau seks oral.

Jangan terlalu pusing mengkhawatirkan ukuran vagina Anda

Dilansir dalam laman WebMD, Christoper Tarnay, MD seorang direktur divisi Female Pelvis Medicine and Reconstructive Surgary dari UCLA Medical Center mengatakan, terkadang wanita terlalu takut akan kondisi vaginanya. 

Padahal, setiap wanita memiliki karakteristik vagina nya masing-masing. Selama tidak ada masalah kesehatan yang timbul, tidak masalah seperti apa bentuk vagina Anda. Namun jika ada yang Anda khawatirkan dengan rasa sakit, ketidaknyamanan atau perdarahan saat berhubungan seks, segera temui dokter Anda.

Pada dasarnya untuk Anda bisa mendapatkan kepuasan seksual yang hakiki, hubungan seks yang ideal haruslah didukung dengan ikatan emosional yang kuat dengan   pasangan,  suasana yang  nyaman, dan tidak melupakan  foreplay  (pemanasan).

Source: Oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji . Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.

 

 

Penasaran Seperti Apa Bau Vagina yang Sehat?

KHUSUS PASUTRI


Ini Kata Para Ahli

Vagina-Bau-Mungkin-Ini-Penyebabnya

Vagina mungkin jadi salah satu anggota tubuh yang sering bikin Anda khawatir. Pasalnya, banyak wanita merasa segan atau malu bertanya ke dokter dan tenaga medis seputar kesehatan vagina. Padahal, layaknya anggota tubuh yang lain, Anda perlu mengenal vagina dengan baik. Salah satu cara untuk menilai kesehatan vagina adalah dengan mengenali bau vagina. Namun, pertama-tama Anda harus tahu dulu seperti apa bau vagina yang normal. Ini dia penjelasannya.

Bau Vagina yang Sehat

Seperti apa bau vagina yang normal?

Vagina yang normal dan sehat seharusnya tidak wangi layaknya bunga-bunga atau buah-buahan. Bau vagina juga seharusnya tak seperti obat atau bahan kimia. Tak ada bagian tubuh manusia mana pun yang mengeluarkan aroma harum karena memang tidak perlu.

Setiap vagina memiliki bau yang khas, berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Namun, pada dasarnya vagina mengeluarkan bau yang agak asam seperti cuka.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh spesialis kandungan dan kesehatan reproduksi dari WebMD, dr. Heather Rupe, aroma ini bahkan bisa tercium dari jarak kira-kira 30 sentimeter jauhnya. Tak perlu khawatir, hal ini normal dan seharusnya tidak menganggu Anda.

Mengapa vagina berbau agak asam?

Bau vagina yang asam datang dari koloni bakteri alami serta cairan yang diproduksi vagina. Koloni bakteri dan cairan ini bersifat asam, yaitu dengan pH normal 4,5. Keasaman area organ kewanitaan ini penting untuk mencegah infeksi bakteri atau virus. Justru jika keasamannya terganggu, vagina jadi lebih rentan terhadap bakteri jahat, virus, dan mikroorganisme lain penyebab penyakit.  

Namun, bau vagina bisa berubah-ubah seiring dengan siklus menstruasi wanita. Anda mungkin merasakan bau yang lebih kuat setelah selesai haid. Pada kebanyakan kasus, biasanya hal ini disebabkan oleh perubahan hormon atau sisa-sisa lapisan dinding rahim (endometrium) yang ikut luruh.  

Haruskah pakai sabun pembersih kewanitaan agar vagina harum?

Tidak, wanita tak perlu pakai sabun pembersih kewanitaan untuk menjaga vagina tetap segar. Perlu diingat, vagina adalah salah satu organ tubuh yang mandiri dan canggih. Vagina sudah punya sistem sendiri untuk membersihkan diri dari berbagai bakteri dan kuman. Selain itu, vagina juga mengandung banyak bakteri baik yang akan mencegah tumbuhnya bakteri jahat. Bakteri jahat inilah yang biasanya menyebabkan bau yang menyengat.

Sementara itu, sabun pembersih kewanitaan akan mengacaukan kadar keasaman (pH) alami vagina. Ini karena sabun kewanitaan tidak bisa membedakan mana bakteri baik dan jahat. Akibatnya, bau vagina justru tambah menyengat meskipun setelah mencuci vagina baunya memang jadi wangi seperti bunga-bungaan. Wangi tersebut hanya bersifat sementara saja.

Apa artinya jika vagina berbau menyengat?

Meskipun bau vagina normal agak asam, seharusnya baunya tidak sampai menyengat atau tak sedap. Seperti dijelaskan oleh dr. Mary Jane Minkin dari Yale University School of Medicine, vagina berbau menyengat disertai dengan cairan vagina berlebihan mungkin mengindikasikan infeksi bakteri atau infeksi ragi vagina. Anda juga bisa jadi mengidap penyakit kelamin seperti gonore atau klamidia. Maka, jika Anda mencurigai bau vagina yang menyengat seperti amis atau busuk, segera periksakan diri ke dokter.

Oleh Irene Anindyaputri . Data medis direview oleh dr. Yusra Firdaus.