7 PLTS Baru di NTB

PT PLN Persero menargetkan tujuh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru di Kepulauan Sumbawa, NTB, akan beroperasi pada pertengahan 2013.

Tujuh lokasi tersebut berada di Kepulauan Sumbawa, antara lain Pulau Medang, Sekotok, Moyo, Bajo Pulo, Maringkik, dan tiga subranting, yaitu Lantung, Lebin dan Lawis.

“Pertengahan tahun depan tujuh PLTS ini sudah bisa operasi,” kata Deputi Manager Perencanaan PT PLN Wilayah NTB Anang Imam dalam publikasi PLN, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, sekarang ini sedang tahap proses lelang tujuh lokasi dengan kapasitas yang bervariasi dan diperkirakan masa kontruksi PLTS sekitar tiga bulan.

Investasi tujuh PLTS dengan kapasitas lebih dari 900 kiloWattpeak (kwp) mencapai Rp33 miliar.
“Tujuh PLTS baru dengan total sekitar 900 kWp mampu mengurangi konsumsi pemakaian BBM pembangkit listrik diesel cukup signifikan, yakni setara dengan penghematan biaya operasional penyediaan listrik sekitar Rp2 miliar per bulan,” ungkapnya.

Sebelumnya, PLN NTB sudah mengoperasikan tiga PLTS di tiga pulau kawasan wisata dengan total kapasitas 820 kWp, yaitu Gili Trawangan berkapasitas 600 kWp, Gili Air 160 kWp, serta Gili Meno berkapasitas 60 kWp. Dengan pengoperasian ini bisa menghemat biaya operasional sekitar Rp1,8 miliar per bulan.

Untuk PLTS Gili Trawangan tahap I berkapasitas 200 kWp sudah beroperasi sejak Maret 2011 dan tahap II berkapasitas 400 kWp beroperasi pada Mei 2012. Total investasi dua unit PLTS tersebut mencapai hampir Rp25 miliar.

“Dua unit PLTS dengan luas lahan 2,5 hektare ini terdiri dari 3.300 photovoltaic module. Sedangkan lahan PLTS disediakan pemerintah daerah sebagai dukungan terhadap program go green solution,”katanya.

Sumber: AntaraNews

Advertisements

Bali Digadang Untuk Kembangkan PLTS

[23 Mei] Dua kabupaten di Bali, yakni Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bangli, mendapat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kapasitas PLTS tesebut 2 X 1 MW yang terkoneksi dengan jaringan PLN.

”Ini sebuah terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan warga Karangasem dan Bangli,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, saat meresmikan dimilainya pembangunan projek tersebut di Karangasem, Senin, 25 Februari 2013.

Projek berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare dengan 100 panel solar cell. Adapun nilai investasinya mencapai Rp 26 miliar. ”Ini merupkan PLTS terbesar dan akan terus dikembangkan,” ujar Jero Wacik.

Menurutnya, pemerintah tidak terlalu menekankan perhitungan ekonomi dalam projek itu. Namun diharapkan akan menjadi percontohan untuk dikembangkan oleh pihak-pihak lain, seperti kalangan swasta, sehingga bisa ditebar di daerah lain Indonesia. ”Malah kami persilahkan untuk dijiplak,” ucapnya.

Jero Wacik mengatakan, Kementerian ESDM sangat fokus dalam mengembangkan sumber energi alternatif karena minyak bumi harganya semakin mahal dan cenderung merusak lingkungan.

Dia mencontohkan, harga listrik dengan minyak bumi sebagai pembangkitnya telah mencapai 40 sen dolar per kwh, sedangkan dengan solar cell hanya 20 sen dolar per kwh.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Alihudin Sitompul, menjelaskan pembangunan PLTS dilakukan oleh PT Surya Energi Indotama yang pengelolaannya akan diserahkan kepada Pemerinah Kabupaten Karangasem.

Perusahaan tersebut merupakan bagian bisnis usaha dari PT LEN Industri Persero yang berbasis di Bandung, Jawa Barat.

tempo

Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

PS10_solar_power_tower

Pembangkit Listrik Tenaga Surya PS10 memfokuskan energi matahari ke menara matahari menggunakan rangkaian cermin yang tersebar di sekitarnya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya


Pembangkit listrik tenaga surya adalah pembangkit listrik yang mengubah energi surya menjadi energi listrik. Pembangkitan listrik bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung menggunakan fotovoltaik dan secara tidak langsung dengan pemusatan energi surya. Fotovoltaik mengubah secara langsung energi cahaya menjadi listrik menggunakan efek fotoelektrik.[1] Pemusatan energi surya menggunakan sistem lensa atau cermin dikombinasikan dengan sistem pelacak untuk memfokuskan energi matahari ke satu titik untuk menggerakan mesin kalor.

Pemusatan Energi Surya


Sistem pemusatan energi surya (concentrated solar power, CSP) menggunakan lensa atau cermin dan sistem pelacak untuk memfokuskan energi matahari dari luasan area tertentu ke satu titik. Panas yang terkonsentrasikan lalu digunakan sebagai sumber panas untuk pembangkitan listrik biasa yang memanfaatkan panas untuk menggerakkan generator. Sistem cermin parabola, lensa reflektor Fresnel, dan menara surya adalah teknologi yang paling banyak digunakan. Fluida kerja yang dipanaskan bisa digunakan untuk menggerakan generator (turbin uap konvensional hingga mesin Stirling) atau menjadi media penyimpan panas.

Ivanpah Solar Plant yang terleak di Gurun Mojave akan menjadi pembangkit listrik tenaga surya tipe pemusatan energi surya terbesar dengan daya mencapai 377 MegaWatt. Meski pembangunan didukung oleh pendanaan Amerika Serikat atas visi Barrack Obama mengenai program 10000 MW energi terbarukan, namun pembangunan ini menuai kontroversi karena mengancam keberadaan satwa liar di sekitar gurun.

Fotovoltaik


Sel surya atau sel fotovoltaik adalah alat yang mengubah energi cahaya menjadi energi listrik menggunakan efek fotoelektrik. Dibuat pertama kali pada tahun 1880 oleh Charles Fritts.

Pembangkit listrik tenaga surya tipe fotovoltaik adalah pembangkit listrik yang menggunakan perbedaan tegangan akibat efek fotoelektrik untuk menghasilkan listrik. Solar panel terdiri dari 3 lapisan, lapisan panel P di bagian atas, lapisan pembatas di tengah, dan lapisan panel N di bagian bawah. Efek fotoelektrik adalah di mana sinar matahari menyebabkan elektron di lapisan panel P terlepas, sehingga hal ini menyebabkan proton mengalir ke lapisan panel N di bagian bawah dan perpindahan arus proton ini adalah arus listrik.

Penerapan


Indonesia

Di Indonesia, PLTS terbesar pertama dengan kapasitas 2×1 MW terletak di Pulau Bali, tepatnya di dearah Karangasem dan Bangli. Pemerintah mempersilakan siapa saja untuk meniru dan membuatnya di daerah lain karena PLTS ini bersifat opensource atau tidak didaftarkan dalam hak cipta.

Wilayah

  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Alor, Nusa Tenggara Timur
  • Sulawesi Selatan

Jejak Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia

Uni Lubis. Published 4:28 PM, December 28, 2015. Updated 6:54 PM, December 29, 2015

Dimulai di era Presiden SBY, Presiden Jokowi melanjutkan komitmen meningkatkan energi terbarukan. Mengapa di NTT?

Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said (kiri) dan Direktur PT. Len Industri (Persero) Ahraham Mose (kanan), saat meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diresmikan di desa Oelpuah K

Presiden Jokowi (tengah) berbincang dengan Menteri ESDM Sudirman Said (kiri) dan Direktur PT Len Industri (Persero) Abraham Mose (kanan) saat meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diresmikan di desa Oelpuah Kabupaten Kupang, NTT, pada 27 Desember 2015.Foto oleh Kornelis Kaha/Antara

Agustus lalu, saya dan beberapa jurnalis dari Indonesia dan Malaysia diundang ke Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Sepanjang perjalanan dari satu tempat tujuan ke tujuan lain, dari tujuan peliputan bisnis dan ekonomi sampai tujuan wisata, ada satu hal yang menarik perhatian: Tiongkok giat mengembangkan energi listrik terbarukan melalui turbin angin dan panel surya.

Di Xinjiang, provinsi yang didominasi gurun pasir, sinar matahari melimpah sepanjang tahun. Rumah penduduk yang terletak menyebar di padang pasir, dilengkapi dengan lembaran panel penangkap sinar matahari atau solar home system (SHS) yang bisa memenuhi kebutuhan listrik sebuah keluarga.

Pemerintah Tiongkok tahun ini membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia, dengan kemampuan menghasilkan 200 Mega Watt peak (MWp). Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di Gurun Gobi ini bakal menyuplai kebutuhan listrik untuk sekitar 1 juta rumah tangga.

Secara cepat, Tiongkok mengejar posisi Jerman sebagai produsen listrik tenaga surya terbesar di dunia. Dua pertiga dari panel surya dunia diproduksi di negeri Tirai Bambu itu.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana, mengatakan potensi PLTS di Indonesia sangat besar.

“Teman-teman di Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM pernah menghitung, katanya 560 Gigawattp,” kata Rida, ketika saya kontak Senin siang, 28 Desember. Dia baru saja pulang dari Kupang, menghadiri peresmian PLTS di Desa Oelpuah, Kabupaten Kupang.

Tahun 2014, total produksi listrik tenaga surya dengan sistem photovoltaic (PV) yang menggunakan panel pengangkat sinar surya untuk dikonversi secara langsung menjadi tenaga listrik menjadi 178 Gigawattp. Ada penambahan 40 Gigawattp dalam satu tahun saja. Kontribusi energi listrik tenaga surya sekitar 1 persen dari total bauran energi listrik dunia.

PLTS yang dibangun oleh PT LEN Industri sebagai Independent Power Producer (IPP) di Kabupaten Kupang berkapasitas 5 Megawattp. Uji coba sudah dilakukan dalam dua pekan sebelum diresmikan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada Minggu, 27 Desember, dan berhasil memproduksi 4 MWp.

Proyek yang berdiri di atas tanah seluas tujuh hektare itu menelan investasi 11,2 juta dolar AS.

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, meski hanya 5 MWp, bagi Kupang pasokan dari PLTS ini merupakan tambahan yang cukup signifikan.

“Daya efektif listrik di Kupang adalah 68 MW,yang sebenarnya sudah memasuki situasi krisis karena reserve margin-nya sangat minimal,” kata Sudirman sebagaimana ditulis dalam siaran persnya.
Saat ini juga masih terdapat antrian yang pemasangan listrik hingga 64 MW. Kawasan industri terpadu Kupang juga sebenarnya sudah siap. Hanya saja terkendala pasokan listrik.

Sistem PLTS Grid-Connected yang digunakan pada PLTS ini memungkinkan pembangkit tenaga surya ini bekerja secara paralel dan terhubung langsung dengan jaringan listrik utama sehingga tidak menggunakan sistem baterai karena listrik yang dihasilkan langsung dialirkan ke jaringan listrik eksisting pada siang hari.

“Karena sistem on-grid, maka listrik langsung bercampur dengan pasokan dari PLN. Tergantung kebutuhan. Rata-rata untuk rumah tangga sekitar 150 – 150 watt sehari kebutuhannya,” ujar Rida.

Dimulai di Bali pada era SBY

Mengingat potensinya, maka Indonesia tergolong terlambat masuk ke pengembangan PLTS. Padahal, Indonesia berada di garis khatulistiwa dengan sinar surya berlimpah.

Selama ini, pengembangan listrik tenaga surya dilakukan dengan skala rumah tangga menggunakan SHS. Yang memiliki skala besar terpusat, tersebar letaknya, kebanyakan di kawasan timur Indonesia.

Pada Februari 2013, Menteri ESDM saat itu, Jero Wacik, meresmikan dua PLTS sistem PLTS Grid-Connected di dua lokasi, yaitu Bangli dan Karangasem, Provinsi Bali, dengan total daya masing-masing sebesar 1 MWp. Saat itu keduanya menjadi PLTS dengan kapasitas terbesar.

plts-di-indonesia-yang-memiliki-skala-besar_482C059B9B3E4C12ADA6BBE5869C9B21

PLTS Bangli dan Karangasem saat itu dinyatakan sebagai proyek percontohan bagi PLTS di provinsi lain. Pemerintah memulai proyek ini pada April 2012 sebagai bagian dari komitmen memanfaatkan sumber energi terbarukan.Sumber: Alamendah.org

“Pembangunan listrik dengan menggunakan BBM saat ini sudah mahal sekali, yaitu 40 sen per KWh. Saya sudah perintahkan agar PLN jangan lagi membangkitkan listrik dengan menggunakan BBM. Kita beralih ke energi baru dan terbarukan,” kata Jero saat itu.

Menurut hitungan Jero, potensi tenaga matahari di Indonesia saat ini sekitar 50.000 MW. Yang diproduksi baru 10 MWp.

Dalam lima tahun terakhir, ketika isu pemanasan global menguat dan dampak bagi perubahan iklim justru lebih mahal bagi kelangsungan bumi dan penghuninya, adu cepat produksi energi terbarukan kita sambut gembira.

Dimulai di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), produksi listrik tenaga surya dan tenaga panas bumi dipercepat.

Jokowi melanjutkan komitmen itu dan berjanji di depan kepala pemerintahan sedunia bahwa Indonesia akan mencapai 23 persen energi terbarukan pada 2025. Jokowi menyampaikan itu di depan forum pemimpin di Konferensi Perubahan Iklim, atau (COP 21), di Paris, Perancis, pada 30 November 2015.

Juli lalu, Jokowi juga meresmikan PLTP Unit V Kamojang yang dioperasikan Pertamina. Pembangunan unit sebelumnya dilakukan di era SBY.

Listrik dari jaringan cerdas

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di desa Oelpuah Kabupaten Kupang, NTT, Minggu (27/12).

Presiden Jokowi meresmikan PLTS di desa Oelpuah Kabupaten Kupang, NTT, pada 27 Desember 2015. Foto oleh Kornelis Kaha/Antara

Menyediakan listrik bagi 250 jutaan penduduk Indonesia yang tersebar di pulau-pulau memang tidak mudah. Data tahun 2012 baru 73,4 persen wilayah Indonesia dialiri listrik. Tahun 2015, Kementerian ESDM mencantumkan angka 85,1 persen rasio elektrifikasi.

Wilayah Timur seperti NTT dan Maluku menjadi prioritas pengembangan listrik tenaga surya karena ketergantungan akan listrik bertenaga diesel dan bahan bakar minyak terkendala transportasi. Belum lagi jika cuaca buruk, transportasi laut pasti terganggu.

Untuk wilayah seperti NTT dan Maluku, juga Papua yang konturnya bergunung, yang perlu dilakukan adalah pengembangan jaringan cerdas (smart-grid) yang bisa mengombinasikan beragam sumber listrik secara otomatis sesuai dengan permintaan. Listrik tenaga surya dioptimalkan di siang hari, misalnya, sementara di malam hari menggunakan tenaga baterei.

Dalam bukunya, Gelombang Ekonomi Inovasi, mantan Menteri Riset dan Teknologi yang juga mantan Ketua Komite Inovasi Nasional, Muhammad Zuhal, mengatakan bahwa sistem jaringan cerdas paling pas untuk Benua Maritim Indonesia.

Tahun 2012, pemerintah memulai teknologi jaringan cerdas energi di Pulau Sumba, NTT. Daerah ini memiliki keanekaragaman sumber energi terbarukan, seperti energi surya, angin, air, dan biogas kotoran ternak.

“Jaringan ini juga memanfaatkan komunikasi data satelit VSAT untuk sistem kontrol dan manajemen data,” tulis Zuhal.

Jaringan cerdas yang timbal-balik ini bisa secara otomatis menghitung berapa per Kwh listrik dari sumber tertentu pada saat periode beban puncak (peak hour) dan beban rendah (off-peak).

“Sistem ini memungkinkan komunikasi interaktif secara cerdas antara pelanggan dan pemasok,” kata Zuhal.

Misalnya, pelanggan rumah tangga dan industri yang menggunakan panel surya memiliki kelebihan pasokan listrik, mereka dapat melakukan transaksi jual beli Kwh secara otomatis. Ini menghindari pemborosan energi dalam bentuk membuangnya dalam bentuk panas sebagaimana dalam sistem sentralisasi energi.

Sistem ini dibangun oleh Pusat Konversi dan Konservasi Energi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Saya tidak tahu apakah Pak Jokowi tahu tentang informasi ini. Sayang kalau tidak diteruskan, karena kajian ini basisnya adalah ekonomi berbasis inovasi dan sudah bisa dikembangkan sendiri oleh anak bangsa sendiri.

PLTS di Kupang mencatat penggunaan tenaga kerja dan komponen dalam negeri sekitar 70 persen. Ini juga patut kita apresiasi. –Rappler-

Note: Uni Lubis adalah seorang jurnalis senior dan Eisenhower fellow

PLTS Terapung Terbesar di Dunia Hadir di Cirata

by Fakta.News – 28 Des 2017 | 12:06 WIB

Energi Baru Terbarukan
Beroperasi 2019, PLTS Terapung Terbesar di Dunia Hadir di Cirata

Ilustrasi-PLTS

Surabaya – PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) telah menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Cirata, Jawa Barat, akan beroperasi bertahap mulai kuartal I 2019. Pembangkit berkapasitas 200 megawatt (MW) ini disebut-sebut menjadi PLTS terapung terbesar di dunia.

“Pada tahap awal akan beroperasi 50 MW pada kuartal I 2019,” ungkap Direktur Utama PT PJB, Iwan Agung Firstantara, Kamis (28/12).

Anak usaha PT PLN (Persero) tersebut bekerja sama dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) Masdar. Penandatanganan perjanjian pengembangan PLTS oleh keduanya sudah dilakukan pada akhir November lalu dengan nilai investasi mencapai US$180 juta atau sekitar Rp2,4 triliun.

Menurut Iwan, pembangunan PLTS ini merupakan dukungan perseroan untuk mencapai target penggunaan energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025. Nantinya, setelah beroperasi, kehadiran pembangkit ini bakal melengkapi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Cirata.

“Jadi siang hari listrik 200 MW bisa disuplai dari PLTS, cadangan air bisa ditahan. Kemudian malam hari PLTA bisa produksi listrik. Jadi ini kombinasi yang ideal,” tuturnya.

Tak cuma itu saja, selain pembangkit berbahan bakar surya, anak usaha PLN ini juga bakal membangun PLTA Batang Toru dengan kapasitas 110 megawatt (MW). Proyek ini masuk dalam proyek 35 ribu megawatt (MW) yang ditargetkan bakal beroperasi 5-6 tahun ke depan.

“Ini sudah financial closing dan pembebasan lahan,” ucapnya.

Untuk pembangkit EBT, saat ini PJB telah mengoperasikan pembangkit berbahan bakar air, yaitu PLTA Cirata dengan kapasitas 1.000 MW dan PLTA Brantas 250 MW. Mereka mengklaim selain ramah lingkungan, energi tersebut juga dapat diperbarui sehingga dapat berkelanjutan dan tak akan habis.

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, pernah menyatakan bahwa proyek PLTS ini akan menjadi PLTS terapung pertama di Indonesia dan diharapkan dapat menghasilkan tarif listrik di bawah Biaya Pokok Penyediaan (BPP) setempat.

“Untuk Jawa Barat di bawah US$6,5 sen per kilo Watt hour (kWh) karena apabila di atas BPP akan sulit untuk dijalankan,” kata Arcandra di Jakarta, November lalu.

Lalu Chief Executive Officer (CEO) Masdar, Mohammed Al Ramahi, mengungkapkan proyek PLTS terapung di Jawa Barat tersebut tidak hanya terbesar di Indonesia, tetapi juga akan menjadi yang terbesar di dunia.

“Kami tidak hanya membangun PLTS terapung yang terbesar di Indonesia, tapi juga yang terbesar di dunia. Dengan adanya perjanjian kerja sama ini mempermudah jalan agar cepat beroperasi,” ungkapnya.

/Novianto

Tol Sumo Diresmikan, Pakde Karwo: Terima Kasih Pak Jokowi

by Dana Aditiasari – detikFinance. Selasa 19 Dec 2017, 17:53 WIB

72aa920e-6de1-4af7-8f45-17705028e1ba_169

Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau yang akrab disapa Pakde Karwo mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas percepatan pembangunan jalan tol Surabaya-Mojokerto. Tol tersebut dirancang sejak 1994 dan baru bisa dilalui pada hari ini.

Hal ini langsung disampaikan Soekarwo di depan Jokowi saat peresmian di Surabaya, Selasa (19/12/2017).

“Terima kasih kepada pak Presiden Jokowi. Mulai tahun 1994 sampai hari ini jalan tol Sumo baru bisa dilalui pak,” kata Soekarwo.

Gaya Jokowi Jajal Tol Sumo dengan Mobil Listrik

Jalan tol sepanjang 36,27 km tersebut, kata Soekarwo besar pengaruhnya terhadap perekonomian Surabaya, sekaligus mendorong pengentasan kemiskinan dan pengangguran.

“Pada kali ini saya ucapkan terima kasih atas peresmian ini karena ini merupakan peningkatan kesejahteraan masyarakat Jatim. Dengan peresmian ini, akan mendorong lebih lanjut peresmian jalan tol lain seperti Mojokerto,” paparnya.

Indahnya Tol Sumo Dilihat Dari Udara

Diharapkan niat Presiden Jokowi untuk menyambungkan sampai ke Banyuwangi bisa terealisasi hingga akhir 2019.

“Semoga akhir tahun 2019 bisa lebih banyak tol yang diselesaikan. Semoga Trans Jawa sampai Banyuwangi bisa tersambung semua. Kami berharap pembangunan jalan tol akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya. (mkj/ang)

Jokowi Resmikan Kereta Bandara Soetta 2 Januari 2018

Eduardo Simorangkir – detikFinance. Selasa 19 Dec 2017, 18:57 WIB

a465948b-c8c0-4666-9174-0fc09f5778c4_169

Jakarta – Kereta Api (KA) Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang dibangun oleh PT Railink dipastikan akan beroperasi pada awal tahun depan atau lebih tepatnya 2 Januari 2018. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat ditanyakan mengenai jadwal pengoperasian kereta ini.

“Kereta bandara akan dioperasikan resmi oleh Presiden Jokowi pada 2 Januari 2018. Jadi kita serahkan kepada KAI untuk operasionalnya,” katanya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Dengan beroperasinya KA Bandara sehari setelah tahun baru, maka jadwal pengoperasiannya pun terhitung mundur satu bulan dari jadwal awal. Sebelumnya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pengoperasian sejatinya sudah bisa dilakukan pada tanggal 1 Desember 2017 lalu, namun adanya beberapa hal yang harus dikoordinasikan mengenai jalur yang dilewati membuat jadwal operasi pun harus ditunda.

“Mestinya tanggal 1 itu sudah bisa dioperasikan secara rutin. Komersialnya nanti saat diresmikan oleh pak Presiden Jokowi. Jadi ini semacam simulasi terhadap beberapa rangkaian-rangkaian baik yang di Jakarta maupun Soekarno Hatta dulu supaya matching,” katanya kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Sementara Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, pengoperasian KA Bandara menunggu perkerasan jalur baru yang dilewati oleh kereta agar kecepatannya bisa optimal saat beroperasi.

“Nanti kita tunggu waktu dari Presiden. Tapi karena tadi masih ada pembersihan sedikit, lalu pengerasan kestabilan jalur lintasannya, minimal 10 hari dari sekarang baru bisa selesai. Mungkin di atas tanggal 7 Desember,” katanya saat menjajal KA Bandara pada akhir November lalu.

PT Railink selaku operator kereta Bandara Soetta sendiri telah menyiapkan 10 trainset kereta Bandara Soekarno-Hatta dengan kapasitas 33.000 penumpang setiap harinya. Jadwal pengoperasian kereta akan tiba setiap 30 menit sekali, mulai dari pukul 3 dini hari hingga jam 11 malam.

(eds/zlf)

Proyek Strategis Jokowi yang Rampung Jadi 26

by Ardan Adhi Chandra – detikFinance. Rabu 20 Dec 2017, 15:21 WIB

360fca0e-5ff9-46af-a51e-d43bc4336bbe_169

Jakarta – Sebanyak 26 Proyek Strategis Nasional (PSN) telah selesai dibangun hingga 19 Desember 2017. Sebanyak 26 PSN yang telah selesai dibangun dengan rincian 20 diselesaikan di 2016 dan 6 proyek diselesaikan pada 2017.

Angka realisasi tersebut, bertambah 2 proyek dari perkembangan tanggal 14 Desember yang baru rampung 24 proyek.

Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Wahyu Utomo mengungkapkan sebanyak 26 proyek yang sudah selesai menelan dana investasi sebesar Rp 46,5 triliun. Selain itu, ada juga program 35.000 megawatt (MW) yang sudah beroperasi sebanyak 998 MW sebesar Rp 26,96 triliun, maka itu total 26 proyek ditambah dengan satu pogram ketenagalistrikan yang sudah beroperasi mencapai sekitar Rp 73 triliun.

Total project selesai 26 project Rp 46,5 triliun. 998 MW Rp 26,96 triliun, total semuanya Rp 73 triliun. Ini yang sudah selesai,” kata Wahyu dalam jumpa pers Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) di Penang Bistro, Jakarta Pusat, Rabu (20/12/2017).

Adapun 6 proyek yang telah selesai di 2017 adalah

  1. Jalan Akses Tanjung Priok,
  2. PLBN Nanga Badau,
  3. PLBN Aruk,
  4. PLBN Wini,
  5. Tol Soreang-Pasirkoja
  6. Jalan Tol Surabaya-Mojokerto

Dua proyek yang baru rampung beberapa waktu lalu yakni Jalan Tol Soreang-Pasirkoja, dan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto dengan nilai proyek keseluruhan mencapai Rp 13,1 triliun.

Sementara capaian untuk 35.000 MW hingga Desember 2017 sebanyak 998 MW beroperasi, 15.676 MW tahap konstruksi, 13.782 MW telah mendapatkan power purchase agreement (PPA) namun belum financial close, 3.163 MW dalam tahap pengadaan, dan 2.228 MW dalam tahap perencanaan.

35.000 MW, 998 MW sudah operasi sudah bisa digunakan oleh PLN dan bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat,” ujar Wahyu.

Selain itu, terdapat 145 proyek dan satu program yang sudah masuk tahap konstruksi, 9 proyek dalam tahap transaksi, 86 proyek dan 1 program dalam tahap penyiapan.

Dari 145 proyek tersebut, 37 di antaranya sudah beroperasi sebagian, seperti Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Jalan Tol Becakayu, KEK Tanjung Lesung, dan KEK Mandalika.

“Sebagian besar tahap konstruksi dan sebagian transaksi,” ujar Wahyu.

Sedangkan untuk 37 proyek yang masuk kategori proyek prioritas, hingga Desember 2017,

  • 20 proyek di antaranya telah memasuki tahap konstruksi,
  • 5 proyek dalam proses transaksi, dan
  • 12 proyek dalam tahap penyiapan.

Beberapa contoh proyek prioritas yang telah mencapai tahap konstruksi, antara lain

  • Jalan Tol Balikpapan-Samarinda,
  • MRT Jakarta fase I,
  • Palapa Ring Broadband,
  • PLTU Batang, dan
  • Tangguh LNG Train 3.

Proyeksi kemajuan PSN sampai dengan 2020, total proyek yang akan beroperasi sebanyak 170 proyek baik parsial maupun keseluruhan. Hal tersebut dengan tambahan proyek yang mulai beroperasi pada 2018 sebanyak 50 proyek, 2019 56 proyek, dan 2020 sebanyak 23 proyek. (ara/dna)

Progres Pembangunan 12 Bendungan Baru Dibangun Presiden Jokowi 2017

16-03-17_Presiden Joko Widodo Tinjau Waduk Jati Gede_Dam View-10-small

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan ada banyak bendungan yang dibangun hingga 2019 nanti. Tujuh bendungan di antaranya telah rampung, sembilan bendungan dari program pemerintahan sebelumnya masih terus dikerjakan, dan ada 12 bendungan yang baru dibangun mulai 2015.

Lokasi dari ke-12 bendungan tersebut didominasi oleh pulau-pulau di luar Jawa, yakni Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Saat ini bendungan tersebut masih terus dikerjakan, meski masih menemui kendala dalam pembebasan lahan.

“Kendala masih di pembebasan tanah,” kata Kepala Pusat Bendungan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Ni Made Sumiarsih, kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Bendungan tersebut di antaranya Bendungan Keureuto di Aceh, Bendungan Logung di Jawa Tengah, Bendungan Raknamo di NTT, Bendungan Lolak di Sulawesi Utara, Bendungan Karian di Banten, Bendungan Bintang Bano di NTT, Bendungan Tanju Mila di NTB, Bendungan Paselloreng di Sulawesi Selatan, Bendungan Rotiklot di NTT, Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan, Bendungan Estuari Sei Gong di Batam, dan Bendungan Sindang Heula di Banten.

Bendungan Raknamo di NTT menjadi yang paling terdepan progres fisiknya, mencapai 92,87%. Sedangkan yang paling kecil adalah Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan 21,87%.

Berikut progres fisik hingga 1 Agustus 2017 seperti dikutip dari data monitoring Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR:

  1. Bendungan Keureuto, Aceh, dimulai tahun 2015, target selesai tahun 2019, progres fisik saat ini 35,31%.
  2. Bendungan Logung, Jawa Tengah, dimulai tahun 2014, target selesai tahun 2018, progres fisik saat ini 55,88%.
  3. Bendungan Raknamo, NTT, dimulai tahun 2014, target selesai 2019, progres fisik saat ini 92,87%.
  4. Bendungan Lolak, Sulawesi Utara, dimulai tahun 2014, target selesai 2019, progres fisik saat ini 37,77%.
  5. Bendungan Karian, Banten, dimulai tahun 2015, target selesai 2019, progres fisik saat ini 36,55%.
  6. Bendungan Bintang Bano, NTT, dimulai tahun 2015, target selesai 2019, progres fisik saat ini 31,42%.
  7. Bendungan Tanju dan Mila, NTB, dimulai tahun 2015, target selesai 2018, progres saat ini 62,73%.
  8. Bendungan Paselloreng, Sulawesi Selatan, dimulai tahun 2015, target selesai 2019, progres fisik saat ini 60,54%.
  9. Bendungan Rotiklot, NTT, dimulai tahun 2015, target selesai 2018, progres fisik saat ini 69,62%.
  10. Bendungan Tapin, Kalimantan Selatan, dimulai tahun 2015, target selesai 2019, progres fisik saat ini 21,87%.
  11. Bendungan Estuari Sei Gong, Batam, dimulai tahun 2015, target selesai 2018, progres fisik saat ini 43,37%.
  12. Bendungan Sindang Heula, Banten, dimulai tahun 2015, target selesai 2018, progres fisik saat ini 30,49%.

Dikebut Sejak 2014, Inilah Capaian Pembangunan Infrastruktur Presiden Jokowi

16-03-24_Presiden Jokowi Patroli dengan Mobil RI-1 Tinjau Lanjutan Pembangunan Tol Balikpapan Samarinda-1-small

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menggenjot pembangunan infrastruktur sejak awal kabinet berjalan. Pembangunan infrastruktur dikebut untuk meningkatkan daya saing Indonesia yang selama ini sudah cukup tertinggal dibanding negara berkembang di kawasan lainnya.

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang diterima detikFinance, seperti dikutip Jumat (3/8/2017), beberapa capaian yang telah diraih dalam pembangunan infrastruktur terdiri dari pembangunan jalan baru, jalan perbatasan, jalan tol, jembatan, bendungan, hingga perumahan.

Pada bidang ketahanan air dan pangan, hingga kini telah diselesaikan 7 bendungan, di antaranya Bendungan Jatigede, Titab, Nipah, Bajulmati, Rajui, Paya Seunara, dan Teritip. Selain itu telah dilakukan pembangunan 265.000 hektar jaringan irigasi baru dan rehabilitasi 1,05 juta ha jaringan irigasi.

Di bidang konektivitas, telah diselesaikan pembangunan 2.623 km jalan baru, termasuk di dalamnya Jalan Trans Papua, perbatasan Papua, Trans Kalimantan, perbatasan Kalimantan, dan perbatasan NTT.

Sedangkan untuk jalan tol, hingga akhir 2016 ada 176 km jalan tol baru yang telah dioperasikan. Sedangkan hingga akhir 2017 ini, diharapkan ada tambahan jalan tol baru yang dioperasikan sepanjang 392 km, yang terdiri dari Jalan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatera.

“Sebagian besar di antaranya masih terus kami perjuangkan untuk dapat dituntaskan sebelum tahun 2019 yang akan datang,” kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono.

Pemerintah juga tengah membangun jembatan baru sepanjang 29.859 meter, seperti Jembatan Tayan di Kalbar, Jembatan Merah Putih di Ambon, dan Jembatan Soekarno di Manado, Jembatan Teluk Kendari di Sultra dan Holtekamp di Jayapura.

Dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan permukiman, telah dimulai pekerjaan Sistem Pengembangan Air Minum (SPAM) Umbulan di Jawa Timur yang gagasannya telah dimulai sejak tahun 80-an. Pengerjaannya berhasil dimulai melalui skema KPBU sehingga mengurangi beban APBN. Ke depan, juga akan dilakukan kontrak 3 KPBU SPAM lainnya, yakni di Karian, Semarang Barat dan Bandar Lampung.

Sementara untuk pengembangan kawasan perbatasan sebagai embrio pusat pertumbuhan wilayah, pemerintah telah menyelesaikan renovasi 7 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, yaitu Skouw di Papua, Entikong, Badau, dan Aruk di Kalbar serta Mota’ain, Motamasin, dan Wini di NTT.

Di bidang perumahan, pada 2015 telah terbangun 699.770 unit rumah, sedangkan di 2016 ada 805.169 unit rumah.