Tag Archives: Revolusi Industri 4.0

Infrastruktur Digital Topang Percepatan Masuki Industri 4.0

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (tengah) berbincang dengan Rektor ITB Kadarsah Suryadi (kanan) dan Director and Chief Innovation and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Arief Musta’in (kiri) seusai meresmikan IoT Innovation & Future Digital Economy Lab di ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/3/2019). – (antarafoto)

Bandung, Kominfo – Industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi. Revolusi tersebut merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sepenuhnya tidak hanya dalam proses produksi, tetapi juga di seluruh rantai nilai guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya untuk melahirkan model bisnis yang baru dan berbasis digital.

“Untuk melangkah ke sana, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era Industri 4.0 dan tentunya konektivitas menjadi backbone digital infrastruktur seperti Palapa Ring yang telah memberikan penguatan konektivitas digital khususnya jaringan 4G,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartartosaat meresmikan Future Digital Lab di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Senin (18/03/2019).

Making Indonesia 4.0 mendorong Indonesia untuk mencapai 10 besar ekonomi di tahun 2030, mengembalikan net export ke kisaran 10 persen, meningkatkan produktivitas kerja dua kali lipat, dan alokasi 2% dari PDB untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi. Upaya ini berpeluang meningkatkan 1-2 persen pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tambahan lebih dari 10 juta tenaga kerja serta peningkatan kontribusi industri manufaktur pada perekonomian.

“Di era Industri 4.0, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja melek digital, dengan komposisi 30 persen di industri manufaktur dan 70 persen di industri penunjang yang nantinya akan mendorong tambahan ekonomi sebesar USD150 Miliar,” imbuhnya.

Langkah awal pelibatan teknologi dalam ekonomi Indonesia telah melahirkan empat Unicorn, atau perusahaan startup dengan nilai valuasi mencapai USD1 Miliar, yaitu GoJek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak.

“Indonesia adalah negara dengan jumlah Unicorn terbanyak di ASEAN. Unicorn ini tidak hanya mendorong pemanfaatan teknologi yang makin luas namun juga mengangkat perekonomian masyarakat dengan memudahkan para pelaku ekonomi mikro mendapat akses pasar,” jelasnya.

Terapkan IoT

Kementerian Perindustrian terus mendorong inovasi sebagai elemen penting dari Revolusi Industri 4.0. Upaya tersebut merupakan implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0 sehingga Indonesia siap menapaki industri digital baik dari segi infrastruktur maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

“Salah satu prioritas peta jalan Making Indonesia 4.0 adalah peningkatan alokasi anggaran untuk aktivitas research and development (R&D) teknologi dan inovasi. Ini adalah lompatan besar dan kerja keras yang perlu didukung segenap pemangku kepentingan,” ujar Airlangga.

Lab pengembangan ekonomi digital ‘IoT Innovation & Future Digital Economy Lab’ tersebut diprakarsai Indosat Ooredoo Business. Future Digital Economy Lab diharapkan mampu menghasilkan ide inovasi, referensi desain produk dan solusi guna menjawab kasus-kasus IoT yang dapat dikembangkan dalam skala industri untuk beragam kebutuhan baik itu pengembangan produk, layanan, manufaktur, marketing, dan lain-lain.

“Dahulu di era globalisasi yang menjadi kunci adalah bahasa Inggris, sekarang di era digitalisasi kuncinya adalah koding dan statistik data. Kalau menerapkan itu apapun jurusan sekolahnya, maka kita akan siap di era digital,” ucapnya.

Future Digital Economy Lab merupakan lab inovasi pertama didirikan dalam program yang diprakarsai Indosat Ooredo. Selanjutnya, Indosat Ooredoo juga akan bekerja sama dengan institusi pendidikan lainnya seperti Universitas Bina Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, UNIKA Atma Jaya, Universitas Trilogi, dan STIE PERBANAS.

Selanjutnya, President University, Universitas Prasetiya Mulya, Institut Teknologi Sepuluh November, serta Universitas Udayana. Sinergi ini untuk menyediakan sarana pembelajaran dan pengembangan talenta digital berbasis awareness dengan cara learning by doing.

“Kami harap, dengan Future Digital Lab ini, ITB menjadi powerhouse dalam kebangkitan digital ekonomi Indonesia dan mencapai target masuk 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030,” ungkapnya.

Menperin mengatakan, setidaknya sudah ada tiga laboratorium IoT yang diresmikan dan dikunjungi dalam satu tahun terakhir. “Ini adalah langkah emas bagi Indonesia untuk menguasai inovasi dan teknologi,” ungkapnya.

Airlangga menyampaikan, industri 4.0 sangat erat kaitannya dengan penyediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi seperti Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding. Sehingga, hal tersebut akan jadi tantangan besar bagi Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan dinamika Industri 4.0.

Director & Chief Innovation and Regulatory Officer Indosat Ooredoo, Arief Musta’in menambahkan, tren dan percepatan teknologi akan memberikan perubahan pada kebutuhan, mulai dari sosial hingga perubahan cara pemerintah melayani masyarakat. Karena itu kata dia, Indosat Ooredoo memposisiskan sebagai mitra digital yang terpercaya, bagi perusahaan, pemerintah dan transformasi digital di posisinya masing-masing.

“Kami juga berpartisipasi dalam inisiatif Making Indonesia 4.0 yang dijalankan pemerintah dengan mengambil peran sebagai hub dan kolaborasi dalam menguatkan sistem yang menjadi fondasi dari Industri 4.0,” imbuhnya.

Selain itu menurut Arief, Indosat Ooredoo Business menyediakan infrastruktur digital, yang salah satu komponen terpentingnya adalah Internet of Things. Komponen ini merupakan bagian besar dari bisnis masa depan dan mengubah interaksi masayarakat dan sosial.

“Internet of Things adalah bagian dari industri 4,0 yang merupakan proses besar yang membutuhkan keahilian khusus, karena itu kami menyadari IoT erat dengan tumbuhnya ide dan inovasi yang akan kita kembangkan bersama,” tegasnya.

Director and Chief Innovation and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Arief Musta’in (kiri) bersama Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo Ismail (ketiga kiri) dan Guru Besar STEI ITB Suhono H. Supangkat (tengah) meninjau IoT Innovation & Future Digital Economy Lab seusai peresmian di ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/3/2019). Indosat Ooredoo Business dan ITB menghadirkan Future Digital Economy Lab yang bertujuan untuk menjadi wadah dalam mengembangkan inovasi penguatan sumber daya serta menghasilkan beragam ‘use case’ berbasis IoT yang dapat diproduksi di dalam negeri guna meningkatkan perekonomian bangsa dan menciptakan peluang usaha di berbagai industri. (antarafoto)

Source: Keminfo Site Resmi

Progres Palapa Ring Hampir 100 Persen, Indonesia Bakal Nikmati Internet Cepat

JAKARTA – Proyek pembangunan fiber optik kabel atau Palapa Ring hampir 100 persen selesai. Lengkapnya, Palapa Ring Barat telah selesai 100 persen dengan panjang fiber optik 2.995 Km.

Sementara itu, Palapa Ring tengah mencapai 99 persen dengan 2.995 Km. Untuk pembangunan fiber optik di Timur sendiri sedikit tertinggal dengan capaian 80 persen atau 6.878 Km

Disebutkan oleh Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi, Anang Latif, molornya pembangunan di daerah timur karena kondisi geografis yang ekstrem, khususnya di Papua.

“Palapa Ring internet bagian tengah 1 persen lagi dan rencananya selesai pada Desember 2018. Lalu, di Timur ini yang masih berjuang ya. Kesulitannya itu medannya yang susah,” kata Anang kepada Okezone, di Gedung Merdeka, Kamis (29/11/2018).

Lebih lanjut, dalam mewujudkan Indonesia Merdeka Sinyal pada 2020. Pemerintah melalui BAKTI, tak hanya membangun proyek Palapa Ring, namun juga mendirikan base transceiver station (BTS) di daerah pelosok Indonesia. Meskipun demikian, sama halnya dengan Palapa Ring, pembangunan BTS di sejumlah daerah juga terhalang medan yang berat.

“Mendesain jaringan tidak mudah, sinyal itu ibarat lampu ketika di sini dia akan mencoba menyinari semua, tapi tidak semua titik tersinari. Ini karena terhalang oleh alam contohnya saja salah satu sinyal terhalang bangunan dan gunung. Satu desa memang satu BTS, namun faktanya di lapangan itu macam-macam. Ada bukit ada bangunan, makanya kita korbankan itu untuk mencari sinyal harus keluar sedikit untuk jalan solusinya, di kota pun seperti itu,” jelas Anang.

Untuk informasi, pembangunan Palapa Ring dan BTS merupakan wujud pemerintah untuk membangun daerah pinggiran dan menghilangkan kesenjangan digital. Proyek Palapa Ring menyediakan kabel fiber optik yang memungkinkan penyediaan akses internet yang menjangkau Indonesia wilayah bagian Barat, Tengah dan Timur.

Proyek tersebut telah didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui BP3TI yang kini dinamakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (BAKTI). Ditargetkan proyek ini rampung tahun depan, di mana kecepatan internet yang cukup tinggi dengan 10 Mbps di wilayah pedesaan dan 20 Mbps di perkotaan.

Sumber berita: http://www.okezone.com (29/11/2018)

Source: Keminfo Site Resmi

Bakti Rilis Tarif Palapa Ring Barat

Jakarta – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi merilis harga sewa infrastruktur jaringan tulang punggung Palapa Ring Barat dengan tarif termurah Rp 20 juta per bulan.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informan (Bakti), Anang Lathif mengatakan pihaknya menetapkan tarif berbeda untuk tiap proyek karena mempertimbangkan nilai investasi, harga pasar, dan hunian pengguna.

Dalam Keputusan Direktur Utama BAKTI, terdapat dua layanan yang diterapkan yakni layanan penyediaan kapasitas pita lebar (bandwidth) dan layanan penyediaan serat optik pasif atau dark fiber.

Perinciannya, untuk tarif layanan penyediaan kapasitas pita lebar, terdapat empat kategori berdasarkan besarnya investasi.

Pengguna infrastruktur Ralapa Ring Barat harus membangun jaringan lagi untuk bisa terhubung ke jaringan tulang punggung tersebut. Kendati demikian, jaringan tulang punggung ini membantu menurunkan investasi yang harus dikeluarkan penyedia layanan telekomunikasi.

“Setidaknya bagian termahal di jaringan backbone-nya sudah dibangun oleh pemerintah,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (28/9).

Selain itu, agar bisa menarik pemanfaatan infrastruktur, pihaknya pun menawarkan potongan harga. Kalau terdapat satu peminat, peminat tersebut berhak mendapat potongan harga 50% dari tarif yang telah ditetapkan. Kemudian, bila terdapat dua peminat, potongan harga menjadi 33% dan 25% untuk tiga peminat.

“Khusus untuk kapasitas, kalau hanya ada satu peminat di segmen tertentu, akan mendapatkan diskon.”

Anang berujar dengan tarif tersebut telah terdapat 10 perusahaan berminat dengan 6 perusahaan di antaranya merupakan operator seluler. “[Seluruhnya) 10 operator, termasuk semua operator seluler,” kata Anang.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur CEO Indosat Ooredoo Joy Wahjudi mengatakan pada prinsipnya pihaknya akan menggunakan infrastruktur Palapa Ring sesuai dengan kebutuhan.

“Prinsipnya sih selama memang kami butuhkan, pasti akan kami gunakan,” katanya.

Sebelumnya, dia menyebut jaringan transmisi merupakan hal yang diperlukan untuk memperluas cakupan jaringan di luar Jawa. Di sisi lain, investasi yang dikeluarkan untukjaringan tulang punggung terlalu besar bila harus ditanggung perusahaan.

“Saya butuhlah untuk fixed line, untuk luar Jawa mau enggak mau. Isu terbesar untuk luar Jawa itu transmisi, our biggest problem,” kata Joy.

Presiden Direktur CEO PT XL Axiata Tbk. Dian Siswarini mengatakan ketertarikan perusahaan terhadap pemanfaatan infrastruktur tersebut didasarkan pada kebutuhan.

“Kalau sesuai dengan kebutuhan, tentu kami tertarik,” katanya.

Palapa Ring Barat menyediakan tulang punggung jaringan serat optik sepanjang 2.275 km dengan 1.730 km terbentang di laut dan 545 km di darat.

Pada proyek Palapa Ring Barat, infrastruktur mencakup lima wilayah yang akan merasakan koneksi internet cepat yaitu Ranai, Kepulauan Riau; Tebing Tinggi, Sumatra Utara; Kepulauan Meranti, Kepulauan Riau; Bengkalis, Riau; Lingga, Kepulauan Riau dan Tarempa, Kepulauan Anambas.

Kelima kota dan kabupaten ini bisa merasakan jaringan internet 4G dengan kecepatan sekira 30 Mbps. Tercatat, setidaknya terdapat 94.000 penduduk di lima wilayah tersebut.

Pemerintah telah mengumumkan tarif pemanfaatan Palapa Ring Barat, infrastruktur tulang punggung (backbone) serat optik sepanjang 2.275 km yang terbentang 1.730 km di area laut dan 545 km di area darat.

Harga acuan berlaku berlaku universal baik untuk operator seluler maupun penyedia internet kabel. Harga yang ditawarkan, belum mencakup diskon yang merujuk pada jumlah peminat

Tarif Palapa Ring Barat

Layanan Penyediaan Kapasitas Pita Lebar (Bandwidth) per Bulan

Layanan Penyediaan Serat Optik Pasif (Dark Fibre) per Km per Tahun

Jalur Darat Rp12.00Q.000 Jalur Laut Rp16.000.000

Sumber berita : Bisnis Indonesia (01/10/2018)

Source: Keminfo Site Resmi

Simak perkembangan terkini Palapa Ring

Konsorsium Moratel bersiap membangun jaringan kabel dalam proyek Palapa Ring paket Barat. PT Moratelindo

KONTAN.CO.ID – Pemerintah menargetkan proyek Palapa Ring paket Barat dan Tengah beroperasi di tahun 2018. Sedangkan, proyek Palapa Ring paket Timur ditargetkan beroperasi pada 2019. Dengan demikian, dua tahun mendatang, semua Palapa Ring sudah aktif beroperasi.

Palapa Ring sendiri merupakan proyek prioritas pemerintah yang nantinya bakal menghubungkan seluruh ibu kota kabupatan/ kota dengan kabel optik, terutama untuk daerah yang saat ini belum dijamah fasilitas internet berkecepatan tinggi.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Mekominfo) Rudiantara menyampaikan, saat ini proses pengerjaan Palapa Ring paket Barat telah mencapai 74%, Palapa Ring paket Tengah mencapai 26% dan Palapa Ring paket Timur sudah 17% pengerjaan.

Pada awal Agustus lalu, penggelaran kabel serat optik laut batch 1 di Palapa Ring paket Barat telah dilakulan, dengan total panjang kabel kurang lebih 1.242 kilometer (km). Proyek tersebut meliputi segmen Tanjung Bembam Batam-Tarempa (sepanjang 369 km), Tarempa-Ranai (322 km), Ranai-Singkawang (352 km) dan segmen Sekanah Daik Lingga-UQJ Bintan Tanjung Bembam (199 km).

Awal September 2017, penggelaran kabel serat optik laut batch 2 di Palapa Ring paket Barat bakal mulai dikerjakan. Segmen yang akan dikerjakan meliputi Batam- Karimun- Tebing Tinggi- Bengkalis- Siak serta segmen Daik Lingga- KualaTungkal.

“Palapa Ring Barat itu targetnya Februari 2018. Tapi kami upayakan maju beberapa bulan. Jadi akhir 2017 semoga sudah bisa beroperasi,” kata Rudiantara saat rapat bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di kawasan parlemen, Senin (28/8).

Ia mengakui pengerjaan Palapa Ring paket Barat memang lebih cepat dibandingkan paket Tengah dan Timur. Pasalnya, lelang tender Palapa Ring Barat lebih dulu dibanding Palapa Ring Tengah dan Timur. Di samping itu, kendala yang dihadapi relatif mudah dibandingkan Palapa Ring paket Timur.

“Di bagian Timur, kami terkendala infrastruktur dan pembebasan tanah adat. Apalagi di Papua dan Papua Barat. Dua wilayah itu yang tersulit,” ungkapnya. Sama halnya dengan kendala di wilayah perbatasan dan perbukitan.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Rudiantara menjelaskan, saat ini pihak pengadaan proyek bisa menggarap penggelaran kabel serat optik lewat proyek infrastruktur yang sudah jadi. Rencananya kabel serat optik tersebut akan digelar di jalan paralel perbatasan.

“Istilahnya, dimana Pak Basuki bangun jalan, di situ kami nebeng menanam kabel serat optik, agar efisien,” terangnya.

Ia pun menuturkan, proyek Palapa Ring selama ini berusaha menyasar titik-titik yang dekat dengan pantai agar tidak terkendala oleh perijinan lahan dan sebagainya. Wilayah pantai dinilai relatif mudah untuk menggarap penggelaran kabel serat optik.

Soal pendanaan proyek Palapa Ring, Rudiantara menjelaskan, 20% pendanaan didapatkan dari APBN dan 80% dari loan perbankan. “Saat ini yang memegang konsorsium terbesar ada di BNI, sekitar 60%, selebihnya di ICBC sekitar 25%, Bank Papua dan beberapa bank lain,” ujarnya.

Pembiayaan proyek menggunakan skema availibility payment (AP) dengan kontrak proyek 15 tahun. Proyek Palapa Ring paket Barat diperkiran menelan dana AP sebesar Rp 3,48 triliun, sedangkan Palapa Ring Tengah sebanyak Rp 3,5 triliun dan Palapa Ring Timur sebanyak Rp 14,06 triliun.

Anggota Komisi I DPR RI asal Fraksi PDI-P, Andreas Pareira mengapresiasi upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan proyek Palapa Ring ini. Ia berharap pada tahun 2019, Indonesia sudah bisa terkoneksi internet secara luas.

“Yang penting pemerintah harus keep on the track saja. Sesuai dengan perencanaan awal dan fokus. Yang paling penting, dalam pendanaan via loan, peran bank lokal harus diprioritaskan. Jangan sampai porsi bank asing lebih banyak,” tukasnya.

Source: Site Kominfo Resmi

Satelit Nusantara Satu Bantu Kurangi Kesenjangan Akses Internet

Jakarta, Kominfo – Satelit Nusantara Satu secara resmi diluncurkan secara langsung dari Stasiun Angkatan Udara Cape Caneveral, Florida, Amerika Serikat. Berdasarkan hasil pantauan melalui live streaming, peluncuran satelit Nusantara Satu sesuai target, yakni pada hari Jum’at, (22/02/2019) atau pada hari Kamis sekitar pukul 8.45 waktu setempat.

Direktur Utama PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso mengatakan, satelit Nusantara Satu ini akan mulai beroperasi pada bulan April 2019 mendatang. Adi berharap, satelit ini sebagai upaya dalam mengurangi kesenjangan jaringan komunikasi internet cepat di Tanah Air.

“Kebutuhan internet atau broadband sangat tinggi, kami memperkirakan ada 25 ribu desa yang tidak memiliki koneksi komunikasi internet memadai. Jadi, target kami untuk membantu mencakup mereka,” kata Adi sebelum proses peluncuran dilakukan.

Satelit Nusantara Satu ini akan disewa oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Hal ini sesuai dengan target BAKTI untuk memberikan fasilitas dan kebutuhan internet di wilayah yang tidak terjangkau kabel serat optik. BAKTI akan menggunakan layanan satelit PSN ini selama lima tahun kedepan sambil menunggu diselesaikannya Satelit Multifungsi Pemerintah yang ditargetkan selesai pada tahun 2023.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latif menuturkan, penyediaan kapasitas satelit telekomunikasi merupakan upaya menyediakan kapasitas satelit lebih awal sembari menunggu konstruksi Proyek KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha) Satelit Multifungsi

“Sembari menunggu penyelesaian Satria (Satelit Indonesia Raya) yang ditargetkan selesai 2020, kita menyediakan akses internet cepat untuk kebutuhan layanan pendidikan, kesehatan dan pertahanan keamanan dengan kerja sama ini,” ungkap Anang Latif dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penyediaan Kapasitas Satelit Telekomunikasi di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/01/2019).

Penyediaan Kapasitas Satelit Telekomunikasi tersebut, tambah Anang, dimanfaatkan untuk mendukung program Layanan Akses Internet (BAKTI Aksi) dan layanan backhaul BTS (BAKTI Sinyal).

Menurut Dirut BAKTI, setiap pemenang lelang akan menyediakan kapasitas satelit sebesar 21 Gbps (Gigabytes per second). Bahkan dengan penyediaan kapasitas itu, Anang Latif optimistis target merdeka sinyal akan bisa terwujud dengan cepat.

Nusantara Satu merupakan satelit Indonesia pertama yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) berkapasitas hingga 15 Gbps. Teknologi ini, diyakini mampu memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia.

Pada akhir tahun 2018, BAKTI telah menggelar lelang penyediaan kapasitas satelit telekomunikasi (transponder) berbasis HTS. PT. Pasifik Satelit Nusantara merupakan salah satu pemenang tender tersebut. Adapun perusahaan lainnya yang lolos evaluasi yakni, PT Indo Pratama Teleglobal, PT. APlikanusa Lintasarta dan Telkom.

BAKTI juga rencananya akan menggunakan 60 persen kapasitas Ku-band satelit Nusantara Satu yang akan memulai operasinya pada bulan April mendatang. Saat ini, sebanyak 70 persen total kapasitas Nusantara Satu sudah terpakai.

Satelit Nusantara Satu memiliki kapasitas 26 transponder C-band dan 12 transponder Extended C-band. Selain itu, juga terdapat 8 spot beam Ku-band dengan total kapasitas bandwidth mencapai 13,6 Gbps. Area cakupan dari satelit ini mencapai seluruh wilayah di Tanah Air.

Palapa Ring Untuk Pemerataan Akses Broadband

Jakarta, Kominfo – Proyek Palapa Ring akan menyediakan koneksi dari barat hingga timur Indonesia. Proses pembangunan untuk di area barat dan tengah sudah dimulai, sementara financial closing pembangunan area timur akan dilakukan awal 2017 nanti, dan seluruhnya ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2019. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, ketika menyampaikan keynote speech di acara launching Foxconn Luna di Ritz-Carlton Mega Kuningan, Senin (7/11/2016) siang sambil memperlihatkan peta rencana koneksi Palapa Ring kepada audiens.

Lebih lanjut Rudiantara menjelaskan baru 400 dari 514 kabupaten kota di Indonesia yang memiliki akses broadband. Sehingga masih ada 114 titik yang harus diselesaikan dengan bekerja sama dengan operator. Dari 114 titik ada 57 titik yang akan ditangani oleh pemerintah, misalnya Natuna yang merupakan titik strategis Indonesia dengan Laut Cina selatan, serta daerah timur lainnya.

“Di Papua itu harus bayar lebih mahal karena infrastruktur yang harus dibangun oleh operator itu lebih mahal. Kalau begitu pemerintah yang akan step in untuk membangun area yang tidak dibangun oleh operator,” tuturnya.

Selain 57 kabupaten, ada 28 titik yang juga turut akan dibangun sebagai penyambung dengan titik yang sudah ada. Hal ini dilakukan agar seluruh rakyat Indonesia dapat menikmati akses internet cepat. Saat ini, rata-rata kecepatan internet di Jakarta adalah 7 megabyte persecond. Namun, saudara-saudara kita yang ada di Papua hanya bisa menikmati internet dengan kecepatan sekitar 300 kilobyte per second saja.

“Kalau kita tidak bangun daerah timur, mereka akan terus menggunakan 2G dan menggunakan satelit sehingga biayanya makin mahal.”

Hal ini merupakan langkah yang diambil pemerintah untuk membentuk ekosistem yang baik bagi transisi internet 2G ke 4G di Indonesia. (DPS/TF)

Source: Site Kominfo Resmi

Sekilas Tentang Palapa Ring

Latar Belakang

Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik (untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku) dan satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.

Sasaran dan Strategi

Pembangunan jaringan serat optik nasional, yang akan menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Proyek Palapa Ring ini akan mengintegrasikan jaringan yang sudah ada (existing network) dengan jaringan baru (new network) pada wilayah timur Indonesia (Palapa Ring-Timur). Palapa Ring-Timur akan dibangun sejauh 4.450 KM yang terdiri dari sub marine cable sejauh 3.850 km dan land cable sepanjang 600 KM dengan landing point sejumlah lima belas titik pada 21 kota/kabupaten.

Jaringan tersebut berkapasitas 100 GB (Upgradeable 160 GB) dengan mengusung konsep ring, dua pair (empat core). Strategi pembangunan proyek Palapa Ring ini adalah dengan membentuk suatu konsorsium dimana anggota konsorsium terdiri dari penyelenggara telekomunikasi di tanah air.

Hasil yang diharapkan

Jaringan ini akan menjadi tumpuan semua penyelenggara telekomunikasi dan pengguna jasa telekomunikasi di Indonesia dan terintegrasi dengan jaringan yang telah ada milik penyelenggara telekomunikasi.

“Sovereignty/Kedaulatan Negara” dan “Ketahanan Nasional” melalui ketersediaan infrastruktur telekomunikasi yang terintegrasi.

Akselerasi pertumbuhan dan pemerataan pembangunan sosial ekonomi melalui ketersediaan infrastruktur jaringan telekomunikasi berkapasitas besar yang terpadu bisa memberikan jaminan kualitas internet dan komunikasi yang berkualitas tinggi, aman, dan murah.

Perkembangan Palapa Ring

Saat ini sedang dibangun untuk wilayah Indonesia bagian Timur tahap1 untuk jalur Mataram-Kupang, sepanjang 1.800km.

Source: Site Kominfo Resmi

Mengenal Definisi Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya

Revolusi industri telah terjadi sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda di tanah air. Kala itu, pekerjaan yang dilakukan secara manual mulai digantikan oleh kehadiran mesin. Seiring dengan perkembangan teknologi, revolusi industri pun turut berulang dalam kurun waktu tertentu. Sejak tahun 2018, istilah revolusi industri 4.0 mulai gencar diperkenalkan.

Definisi Revolusi Industri 4.0

Menurut penuturan Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartanto, revolusi industri 4.0 mulai dipopulerkan oleh Jerman. Fenomena tersebut bisa didefinisikan sebagai perubahan besar-besaran di bidang industri yang mulai melibatkan digitalisasi dalam setiap aspek. Presiden RI, Joko Widodo, ingin Indonesia mulai berbenah diri untuk menghadapi revolusi tersebut. Sehingga butuh road map dan langkah-langkah konkret lainnya untuk turut bersaing secara global.

Hal-Hal yang Terjadi Saat Revolusi Industri Terbaru

Sumber : Tactix

Revolusi Industri 4.0 membuat pemanfaatan teknologi menjadi semakin populer di ranah industri. Sebagian pekerja bahkan bisa digantikan oleh kehadiran mesin-mesin canggih berkonsep digital. Sebenarnya, Anda tak perlu khawatir dengan revolusi industri. Karena fenomena tersebut tetap membutuhkan dukungan dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil menggunakan teknologi. Proses pengoperasian sistem berbasis teknologi harus dilakukan oleh para SDM yang sudah expert. Sehingga prinsip efisiensi dan efektivitas bisa diwujudkan sesuai tujuan bisnis.

Revolusi Industri Turut Mempengaruhi Dunia Pendidikan

Sumber : Serc Carleton

Bukan hanya dunia kerja dan bisnis yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0. Dunia pendidikan pun turut mendapatkan pengaruh besar. Generasi muda di tanah air harus dididik secara tepat agar siap menghadapi revolusi industri. Selain dibekali dengan ilmu-ilmu konvensional, konsep implementasi teknologi juga harus diajarkan sejak dini. Generasi muda mesti memiliki rasa keingintahuan yang besar dan kemauan untuk berinovasi. Agar kecanggihan teknologi yang lebih sempurna dan bermanfaat bisa diwujudkan di masa mendatang.

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dianggap potensial sebagai ladang investasi global. Banyak kesempatan kerja dan bisnis yang terbuka lebar di masa mendatang. Mendapatkan suntikan dana pun bukan hal yang sulit bagi sejumlah bidang bisnis. Jadi, Anda pun harus mempersiapkan diri untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Kalau tak ingin menjadi pekerja yang diabaikan karena keterbatasan kemampuan, jangan malas mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan teknologi.

Source: Magazine-Job-Like

Menyiapkan diri menyambut Industri 4.0

Indonesia konfidens memasuki era Revolusi Industri 4.0. Itu setidaknya yang tercermin dari peluncuran program Making Indonesia 4.0 oleh presiden awal April lalu. Inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini akan membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030; mengembalikan angka net export industri 10%; menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta; meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat; serta mengalokasikan 2% dari GDP untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi atau tujuh kali lipat dari saat ini.

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menawarkan sisi positif (“the promises”) tapi juga negatif (“the perils”). Dan mau tidak mau, siap tidak siap, Indonesia akan “ditelan” oleh revolusi yang ditopang oleh teknologi-teknologi abad 21 seperti machine learning, artificial intelligence, internet of things, hingga 3D printing ini. So, memang kita harus mempersiapkan diri, merencanakan, dan menyusun strategi untuk menghadapi Era Industri 4.0 ini.

1. Transformasi Industri: “Disruptive Effect”

Revolusi Industri 4.0 menghasilkan perubahan yang supercepat, eksponensial, dan disruptif. Industri-industri lama “dirusak” (creative destruction) sehingga menghasilkan industri-industri baru dengan pemain yang baru, model bisnis baru, dan value proposition baru.

Perubahan disruptif Industri 4.0 ini memiliki kekuatan “membilas” industri lama: ritel tradisional dibilas oleh ecommerce; media cetak dibilas oleh media online; layanan taksi tradisional dibilas layanan taksi berbasis sharing economy; layanan telko dibilas oleh layanan OTT (over-the-top) seperti WhatsApp; mass manufacturing bakal dibilas oleh additive manufacturing yang tailor-made dengan adanya teknologi 3D printing; bahkan nilai tukar negara akan dibilas oleh cryptocurrency (Blockchain).

Perubahan sangat mendadak ini bukannya tanpa kerugian ekonomi-sosial. Dampak paling mendasar adalah terjadinya migrasi nilai (value migration) dari pemain inkumben ke pemain-pemain baru (startup). Value migration ini memicu bergugurannya pemain inkumben karena pasarnya digerogoti oleh pemain-pemain baru dengan model bisnis baru berbasis digital. Peritel tradisional mulai berguguran, koran dan majalah tak lagi terbit, dan puluhan industri mengalami pelemahan permintaan.

2. Ketimpangan Ekonomi: “Platform Effect”

Tantangan paling pelik dari Revolusi Industri 4.0 adalah melebarnya ketimpangan ekonomi (income inequality) antara pemilik modal (capital) baik fisik maupun intelektual, dengan penduduk yang mengandalkan tenaga kerja murah (labor).

Pasar di berbagai sektor Industri 4.0 by-default mengarah ke struktur pasar yang bersifat monopolistik sebagai dampak dari apa yang disebut “platform effect”. Dalam teori ekonomi platform digital menghasilkan increasing return to scale bagi produsen dimana tingkat hasil semakin meningkat seiring meningkatnya skala ekonomi. Ya, karena setelah platform digital (dan software secara umum) tercipta, maka biaya produksi selanjutnya mendekati nol.

Digital giant seperti Google, Facebook, Amazon, eBay, AirBnB, Ali Baba memiliki kekuatan luar biasa dalam mendisrupsi pasar dengan menciptakan model bisnis baru berbasis platform, kemudian “menyerap” nilai di industri lama layaknya vacuum cleaner, dan kemudian mendominasinya.

Konsekuensi dari platform effect adalah terkonsentrasinya aset ke segelintir pemain dominan yang mendominasi pasar. Tren ke arah monopoli Industri 4.0 kini sudah terlihat dimana Google misalnya, telah menguasai sekitar 88% bisnis pencarian di internet (online search) dan iklan berbasis pencarian (search ads). Dengan Android, Google juga menguasai 80% sistem operasi ponsel. Amazon telah menguasai 70% seluruh penjualan ebook dunia. Sementara Facebook kini telah menguasai 77% pasar jejaring sosial.

Harap Anda tahu, The Big Four (Google, Amazon, Facebook, Amazon) kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 3 kali lipat GDP Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar yang begitu besar tersebut hanya dinikmati sekitar 500 orang (total jumlah karyawan 4 raksasa digital tersebut). Sementara GDP Indonesia “dimakan” sekitar 250 juta manusia. Betapa ketimpangannya begitu dramatis.

Tapi disisi lain industri 4.0 telah melahirkan para pelaku StartUp yang menjadi ujung tombak inklusif ekonomi, banyak
StartUp berbasis P2P lending yang telah berhasil menopang sisi finansial UMKM yang selama ini mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas pembiayaan dari perbankan, dengan semakin mudahnya akses keuangan yang difasilitasi oleh P2P Lending tersebut diharapkan UMKM bisa terus meningkatkan bisnisnya. Munculnya market place barang barang khusus telah berhasil mengangkat derajat industri kreatif,
StartUp Qlapa, Du’anyam dan masih banyak lainnya telah mempu mengingkatkan added value produk yang dihasilkan oleh masyarakat bawah (UMKM) khususnya kerajinan tangan. Start up bidang pertanian telah berhasil memutus mata rantai distribusi sehingga tercipta perdagangan yang lebih fair dari produsen ( petani) ke konsumen.

3. Pengangguran Massal: “Automation Effect”

Di era Industri 4.0 semakin banyak pekerjaan manusia yang tergantikan oleh robot (otomasi). Tak hanya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, pekerjaan-pekerjaan analitis dari beragam profesi seperti dokter, pengacara, analis keuangan, konsultan pajak, wartawan, akuntan, hingga penerjemah.

“The fourth industrial revolution seems to be creating fewer jobs in new industries than previous revolutions,” ujar Klaus Schwab pendiri World Economic Forum dan penulis The Fourth Industrial Revolutions (2016).

Dengan kemajuan teknologi machine learning, AI, big data analytics, IoT, hingga 3D printing, maka pekerjaan akan bergeser dari “low-income manual occupations” dan “middle-income routine/repetitive jobs” ke “high-income cognitive/creative jobs”. Ini akan memicu pengangguran massal karena hampir semua pekerjaan akan dilakukan oleh mesin (robot).

Tanda-tanda ke arah “job destructions” ini kini sudah mulai tampak.

  • Amazon Go misalnya, akan menghilangkan kasir di gerai-gerai supermarketnya karena sudah tergantikan oleh machine learning.
  • Amazon Prime Air bakal menghilangkan pekerjaan kurir karena tergantikan oleh drone dalam mengirimkan barang ke konsumen.
  • Driverless Car yang dikembangkan oleh Google (Waymo) akan menghilangkan pekerjaan sopir.
  • Narrative Science, telah mengembangkan algoritma untuk membuat artikel yang bakal menghilangkan profesi wartawan. Christian Hammond CEO-nya meramalkan di tahun 2025, sekitar 90% berita ditulis oleh algoritma.
  • Komputer cerdas Watson milik IBM kini sudah bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosa pasien.

Kalau Revolusi Industri 1.0 menghasilkan “working class”, maka Revolusi Industri 4.0 menghasilkan “useless class” (Harari, 2016), ya karena tenaga manusia (labor) dalam proses produksi barang dan jasa semakin minimal. Tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan lagi karena sebagian besar tergantikan oleh algoritma/robot.

Tapi kita tidak perlu khawatir berlebihan, dulu ketika transportasi online hadir di tengah tengah kita, banyak yang berpikir bahwa akan banyak supir yang menjadi pengangguran, tapi apakah hal itu terjadi ? jawabannya adalah tidak, justru dengan adanya transportasi berbasis online mampu menyerap lebih banyak driver, dan meningkatkan bisnis UKM khususnya makanan melalui hadirnya Go Food. Ingat Henry Ford ? berapa banyak orang yang awalnya ketakutan ketika Ford memproduksi mobil, yang terbayang dalam benak mereka dalah para supir delman akan menganggur ? tapi justru dengan dibukanya pabrik mobil oleh Ford, banyak orang yang kemudian diserap dalam proses produksi mobil.

Prerequisite: “Agile Government”

Untuk bisa mengelola Revolusi Industri 4.0 diperlukan gaya pemerintahan yang kreatif, adaptif, cepat, dan mumpuni dalam mengelola perubahan eksponensial yang dihasilkan oleh Revolusi Industri 4.0. Inilah yang disebut “Agile Government”.

Agile Government menuntut pemerintah bisa menjalankan proses politik, legislatif, dan regulatif yang adaptif mengikuti setiap perkembangan Revolusi Industri 4.0. Untuk bisa melakukannya ia harus berkolaborasi secara intens dengan seluruh elemen stakeholders (bisnis, akademis, komunitas, masyarakat) dalam menuntun proses trasformasi digital di level negara, industri, dan masyarakat secara luas.

So mari kita berkolaborasi untuk mengahadapi peralihan industri 4.0 ini, agar visi mulia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pelan tapi pasti akan menjadi kenyataan.

Materi inti diambil dari tulisan Pak Siwo ( Yuswohadydotcom) dengan judul ”Tantangan Revolusi Industri 4.0″ , yang kemudian disertai beberapa argumen pribadi saya.

Source: kawanpendi

The Fourth Industrial Revolution (IR 4.0) and what it means for students like you

From self-driving cars to drone-delivered online shopping, the Fourth Industrial Revolution is changing how we live, work, and communicate. But with more and more jobs being taken over by artificial intelligence, what do students today need to do to stay relevant for future job markets?

The Fourth Industrial Revolution (IR 4.0) is expected to change how we live, work, and communicate; it is also likely to change the things we value and the way we value them in the future. Presently, we can already see changing business models and employment trends.

According to The World Economic Forum, an estimated 65% of kids enrolling in primary education today will end up working in jobs that haven’t been created yet.

Automation and artificial intelligence are change agents in 4IR that will make certain groups of employees redundant, replacing them with new workers with the needed skills or with machines that do the job cheaper. Gone are the days where students go to college or university to study for a degree that will set them up with a job for life.

With technological advances, jobs with these three qualities are most likely to be automated:

  • repetitive
  • based on rules
  • involve limited or well-defined physicality

According to the US Bureau of Labor Statistics, these are some jobs that have a 95% or higher probability of being automated:

  • Cashiers
  • Office clerks, general
  • Secretaries and administrative assistants
  • Bookkeeping, accounting and auditing clerks
  • Cooks, restaurants
  • Team assemblers
  • Receptionists and information clerks
  • Landscaping and groundskeeping workers
  • Shipping, receiving and traffic clerks
  • Inspectors, testers, sorters, samplers, and weighers
  • Counter attendants, cafeteria/food concession
  • Tellers
  • Billing and posting clerks
  • Counter and rental clerks
  • Driver/Sales workers
  • Foodservice hosts and hostesses
  • Packaging/Filling machine operators
  • Operating engineers and equipment operators
  • Bill and account collectors
  • Loan officers
  • Insurance claims and policy processing clerks
  • Claims adjusters, examiners and investigators
  • Parts salespersons
  • Electrical and electronic equipment assemblers
  • Telemarketers
  • Dispatchers
  • Data entry keyers
  • Legal secretaries
  • Order clerks
  • Payroll and timekeeping clerks
  • Molding/Coremaking/Casting machine operators
  • Ushers, lobby attendants, and ticket takers
  • Library assistants and technicians
  • Switchboard operators

A 2013 research by Oxford University showed that out of around 700 occupations, 12 were found to have a 99 per cent chance of being automated in the future:

  • Data entry keyers
  • Library technicians
  • New accounts clerks
  • Photographic process workers and processing machine operators
  • Tax preparers
  • Cargo and freight agents
  • Watch repairers
  • Insurance underwriters
  • Mathematical technicians
  • Sewers, hand
  • Title examiners, abstractors, and searchers
  • Telemarketers

Do you see the trend here? So if jobs that are repetitive and which involve limited physicality are most likely to be taken over by robots, which type of jobs will continue to be in demand in the world of 4IR? According to Graham Brown-Martin, there are three key areas where humans beat machines that are key to future job creation:

  • Creative Endeavours—everything from scientific discovery to creative writing and entrepreneurship
  • Social Interaction—robots just don’t have the kind of emotional intelligence that humans do
  • Physical Dexterity and Mobility—millennia of hiking mountains, swimming lakes and dancing practice gives humans extraordinary agility and physical dexterity

The same study by Oxford University lists eight occupations that are least likely to be computerised based on current technology:

  • Recreational therapists
  • First-line supervisors of mechanics, installers, and repairers
  • Emergency management directors
  • Mental health and substance abuse social workers
  • Audiologists
  • Occupational therapists
  • Orthotists and prosthetists
  • Healthcare social workers
  • First-line supervisors of fire-fighting and prevention workers
  • Oral and maxillofacial surgeons
  • Lodging managers
  • Dietitians and nutritionists
  • Choreographers
  • Sales engineers
  • Instructional coordinators
  • Physicians and surgeons
  • Psychologists
  • Elementary school teachers, except special education
  • General dentists
  • First-line supervisors of police and detectives

In a nutshell, 46.4% of jobs in manufacturing, 32.3% in finance and 44% in wholesale and retail are forecast to be lost by the early 2030s. Less affected will be human health and social work, which are expected to affect less than a fifth of jobs.

Source: StudyMalaysia on May 2, 2018 | Top Stories, Career Guide