Tag Archives: Silvia Halim

Mengenal Silvia Halim, Sosok Wanita Hebat di Balik Proyek Besar MRT Jakarta

Biography Silvia Halim

313 hari lagi!

Begitulah tampilan angka di depan laman PT MRT Jakarta saat saya menulis thread ini.

Bukan dibuat tanpa maksud, jumlah hari yang terpampang tersebut adalah perhitungan waktu mundur sebelum akhirnya target mass rapid transit ( MRT ) Jakarta dioperasikan pada Maret 2019 mendatang. Sebuah momen yang diharap dan dinanti-nanti khususnya bagi warga Jakarta yang mulai penat dengan kemacetan ibukota.

Bila membicarakan soal pembangunan MRT, taukah kamu Gan bahwa dibalik proyek besar tersebut ada salah satu sosok perempuan yang punya peranan cukup penting dalam pembangunan ini?

Seorang sosok yang menurut saya punya pandangan dan prinsip yang juga bisa jadi cerminan dari semangat Kartini modern masa kini.

Dialah Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta yang menjadi satu-satunya wanita dalam jajaran direksi PT MRT Jakarta tersebut.

Perempuan kelahiran 18 Juni 1982 ini telah ditunjuk sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta sejak 31 Agustus 2016 silam. Jangan ragukan kemampuannya di bidang pembangunan infrastruktur ya Gan! Sebelum di PT MRT Jakarta, Silvia sudah memiliki pengalaman 12 tahun berkarir di Land Transport Authority (LTA) Singapura sebagai Project Manager untuk beberapa proyek insfrastruktur di sana.

Kini, sebagai Direktur Konstruksi, Silvia mengemban tugas utama untuk menjaga dan mengawal pekerjaan di MRT dari segi progress, kualitas dan safety yang ada di lapangan agar sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan sejak awal.

Beberapa waktu lalu saya pun berkesempatan untuk berbincang langsung dengan sosoknya di kantor PT MRT Jakarta yang terletak di kawasan Thamrin. Dan dari perbincangan tersebut ada banyak hal yang semakin membuat saya kagum terhadap sosoknya. Mulai dari ceritanya dalam berkarir hingga soal pandangan terhadap kartini dan wanita masa kini.

Tak pernah membatasi diri hanya karena dia perempuan

Saat kuliah, Silvia mengambil jurusan Teknik Sipil di Nanyang Technologycal University dan pada akhirnya berkarir di sektor konstruksi di mana keduanya kerap di cap sebagai sesuatu yang “lebih laki” oleh beberapa orang. Meski demikian , Silvia tak pernah membiarkan hal itu mempengaruhinya dalam menentukan masa depan yang ia pilih dan jalani.

Quote:

“Nggak. It didn’t really cross my mind at that point of time when i make those decision. Bahwa beberapa hal lebih cocok untuk pria dan bahwa saya perempuan lebih cocok apa. That never really became a factor for me.”

Pilihannya untuk berkuliah di Singapura dan mengambil jurusan teknik sipil, jurusan yang mungkin bagi banyak orang masih terlihat sebagai jurusan yang diminati pria tersebut bisa dibilang terjadi begitu saja. Saat itu ia mendapat kesempatan untuk bersekolah di Nanyang Techonologycal University. Kesempatan itu pun langsung ia ambil karena baginya bersekolah di Singapura saat itu adalah salah satu caranya belajar hidup mandiri, mengurus diri sendiri.

Begitu pula ketika memasuki dunia kerja, Silvia yang baru lulus saat itu langsung dihadapkan dengan mayoritas rekan kerja yang kebanyakan adalah bapak-bapak yang sangat berpengalaman di bidang konstruksi. Meski begitu Silvia tak pernah canggung ataupun merasa kecil hati karena menjadi minoritas di antara dominasi karyawan pria. Baginya, ketimpangan perbandingan jumlah wanita dan pria saat itu bukan jadi masalah yang menghambatnya untuk bekerja secara maksimal.

Quote:

“I have bigger problem.Bukan gender, tapi masalah showing that i am capable. Saya bisa walaupun saya masih muda di posisi itu sebagai seorang Project Engineer. Jadi my focus is more on how to demonstrate that I capable to do that job that I was given. Dan nggak ada cara lain saat itu kecuali saya harus mau merendah untuk bisa belajar dengan bapak-bapak ini yang lebih berpengalaman, namun di saat yang bersamaan juga bisa menunjukkan kalau saya berani mengambil keputusan dan berkolaboratif dengan mereka dalam mengerjakan proyek.”

Pernah mengalami diskriminasi tapi tidak pernah membuatnya ingin berhenti

Meski Silvia sendiri tidak pernah menganggap gender sebagai penghalang untuk seseorang bisa berkarya di tempat kerja, namun Silvia pernah mengalami kejadian tak menyenangkan yang akhirnya membuatnya sadar bahwa dalam realitanya masih ada ketidakadilan bagi perempuan di dunia kerja.

Itu ia alami saat bekerja di Singapura. Saat itu ia dan salah satu rekannya yang pria sama sama memiliki perfomance yang bagus. Meski begitu, Silvia harus rela ketika hanya rekan kerjanya saja yang dipromosikan. Alasan atasannya saat itu adalah meski perfomance keduanya sama-sama bagus dan memulai kerja di saat yang sama , tapi tetap secara record rekannya lebih senior. Ini dikarenakan ketika seorang pria Singapura sudah menjalankan wamil, maka masa service dia selama wamil akan dihitung sebagai kerja secara tidak langsung. Hal tersebut membuat Silvia sadar bahwa adanya sistem tersebut membuat perempuan harus bekerja dua kali lebih berat dibanding pria.

Quote:

“Awalnya saya ngerasa oh fine. Tapi sesudah itu saya berpikir. It was not because i was performing less than him. Its just because the system and the situation made did such that laki laki singaporean itu akan lebih maju karirnya dibanding sama saya walau kita masuknya bareng dan performancenya sama. Itu by sistem. Itu membuat saya sadar kalau saya mau lebih maju berarti saya harus kerja double. I has to show that saya better than that person baru saya bisa mendapat pengakuan yang sama. Itu sih the first reality check yang saya pernah alami bahwa dunia itu tidak as fair and square as you hope to be. Saya merasa i have to work extra hard kalau begitu.”

Beruntungnya Silvia, saat pindah ke Indonesia ia langsung masuk ke posisi yang cukup tinggi sehingga mungkin memberikannya sedikit keuntungan untuk tidak merasakan perjuangan dari bawah untuk ke atas dan tidak mengalami diskriminasi. Meski demikian, untuk konteks selama ia bekerja di PT MRT Jakarta dan kesehariannya di pemprov ia merasa perkembangannya sudah cukup baik. Bahwasanya gender bukan menjadi sesuatu yang dipermasalahkan di PT MRT Jakarta.

Meski ia menjadi satu-satunya direksi perempuan, namun dalam hal seperti memberikan pendapat menurutnya sudah cukup seimbang antara kesempatan yang ia punya dengan jajaran direksi lainnya. Tak hanya itu, ia juga merasa posisi dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan di tempatnya bekerja kini sudah cukup seimbang. Hal ini bisa dilihat lewat diberikannya ruang bagi perempuan untuk duduk di posisi-posisi yang cukup strategis seperti kepala divisi dan department di MRT Jakarta.

Quote:

“Kepala divisi operasi yang akan mengoperasikan seluruh MRT onwards itu perempuan. Kepala divisi business development yang juga berperan penting dalam keberlangsungan perusahan ini kedepannya, supaya kita bisa terus mandiri dan tidak bergantung terus kepada subsidi atau PSO dari pemerintah itu perempuan. Kepala department engineering kita yang mendesain dan melihat desain tunnel dan stasiun, itu juga perempuan. Sampai level bawah nanti seperti masinis pun ada masinis perempuan. The first in indonesia. It was quite a deliberate decision dari PT MRT Jakarta bahwa oke buat masinis lets open it even to the female. Bukan hanya laki gitu. Jadi so far my own experience has been positive. Bahwa untuk kesempatan perempuan dalam pekerjaan saya di Indonesia sekarang sudah cukup baik. “

Ingin berkontribusi dan membawa perubahan kepada masyarakat

The sense of being able to contribute in making a difference to the society. Itu adalah alasan yang menurut Silvia membuatnya senang sekaligus terus bertahan di jalur pekerjaannya sekarang.

Samahalnya dengan pekerjaannya dulu di Singapore, kini Silvia masih terlibat dalam pengerjaan proyek untuk publik yang menjadikannya tak hanya sebatas civil engineer namun juga berada dalam posisinya sebagai seorang public servant. Posisi yang menurutnya paling sedikit diapresasi.

Kalau ada yang sukses its taken for granted. Harus beres. Tapi kalau ada sesuatu yang gak beres atau sesuatu yang salah aja dikit aja, its really unforgiving. Publik akan komplain di surat, di sosial media bahkan ketika itu hanya kecil.

Namun hal ini tidak jadi masalah bagi Silvia karena ketika proyek tersebut selesai, ia bisa melihat bagaimana itu dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Quote:

“That is the job satisfaction. That knowing that we can do that for the peopleitu yang membuat saya bertahan di pekerjaan dan bidang ini walau suka dukanya kerja kok kayak gak diappreciate. Tapi kita tau bahwa itu bisa membawa perubahan di keseharian. Jadi itu yang jadi kepuasan bekerja di sini.”

Konsep “Perempuan Ideal” yang salah kaprah dan tantangan bagi perempuan Indonesia masa kini

Menurut Silvia, tantangan menjadi seorang perempuan Indonesia masa kini ada pada masih kuatnya persepsi soal standar menjadi perempuan ideal. Misalnya harus sukses di karir, di keluarga, dalam mengurus anak, dan sebagainya. Standar-standar dan persepsi yang menurut Silvia justru membuat perempuan seakan berada dalam sebuah box yang mengikat.

Itu yang bagi silvia adalah tantangan yang harus dipatahkan oleh perempuan Indonesia masa kini. Menurutnya tidak perlu ada definisi perempuan ideal itu tadi. Karena perempuan harus bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus merasa bersalah atau kurang karena tidak melakukan hal-hal tertentu sesuai standar yang dipersepsi orang banyak.

Quote:

“Kenapa kita tidak bisa secara bebas mengejar kehidupan kita sendiri? Mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga pun tidak masalah bila itu dilakukan secara bebas tanpa tekanan budaya atau sosial. Itu sebabnya menurut saya tidak ada definisi perempuan ideal. There is no such thing. Apa sih ideal itu? Nggak ada menurut saya. The thing is that woman should be able to be whoever they want to be and whatever it is tanpa harus merasa bersalah atau merasa kurang karena mereka tidak melakukan hal tertentu berdasarkan standar tertentu. Harusnya everybody can be whoever they want to be.”

Berani dan kerja keras jadi kunci

Sama halnya seperti Kartini yang berani bersuara dan melawan persepsi terhadap wanita di zaman itu, Silvia juga selalu memegang prinsip untuk selalu berani. Khususnya berani untuk mengejar mimpi. Salah satunya caranya ya dengan tidak membatasi diri hanya karena gendermu perempuan dan tetap bekerja keras demi tunjukan bahwa kita mampu dan layak berada di posisi yang kita inginkan.

Quote:

“Saya selalu bilang dan pegang apa namanya jangan takut untuk mengejar mimpimu. Dan itu bisa kamu mulai dengan berhenti membuat keputusan tertentu hanya karena kamu perempuan. Misalnya, saya nggak bisa ngomong seperti ini karena saya perempuan. Atau justru saya harus bertindak seperti ini karena perempuan. No! You can do certain things for other reason but not because you are a woman. Dan kedua adalah kerja keras.We have to work hard and to show with result and action that you deserve to be where you are or to do what you are to do.”

Jadi untuk perempuan Indosia yang masih ragu untuk mengejar mimpi, jangan lupa semangat dan pesan dari Silvia Halim ya Sis!Jangan

Source: Kaskus

Pendekar Wanita Infrastruktur

Biography Silvia Halim

Silvia Halim, Pendekar Wanita Infrastruktur

Jejeran stiker bergambar peta jalur-jalur transportasi di Jakarta terpasang rapih di setiap kaca-kaca ruangan kantor di lantai 21 Wisma Nusantara, Jakarta. Siang itu, Jumat 2 Maret 2018, sejumlah karyawan PT MRT Jakarta terlihat bersiap rapat.

Kantor tersebut terlihat modern dan langsung berhadapan dengan proyek Mass Rapid Transit (MRT) fase I antara Lebak Bulus-Bundaran HI, yang sedang dalam tahap pengerjaan.

Dari kantor tersebut sejumlah persiapan pekerjaan MRT Jakarta dimulai. Bahkan hingga 25 Februari 2018 kemarin perkembangan proyek itu telah mencapai 91,86 persen, atau sudah memasuki tahap akhir untuk bisa segera beroperasi tahun 2019.

Di antara ruangan kantor tersebut terdapat papan tanda tangan komitmen karyawan PT MRT Jakarta untuk menyelesaikan tahap konstruksi, #MenujuMaret2019. Di ruangan itu pula muncul seorang perempuan muda berparas cantik menyapa ramah.

Dia adalah Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta. Lahir di Jakarta 35 tahun silam, Silvia bergabung dengan MRT Jakarta sejak September 2016 setelah berkiprah di luar negeri.

“Jadi sebenarnya belum lama saya bergabung, yaitu sekitar satu tahun setengah, bersamaan dengan sejumlah direktur yang lain juga,” ujar Silvia, Jumat 2 Maret 2018.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim (kanan) bersama dengan Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta Jakarta William P Sabandar (tengah) dan Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Agung Wicaksono (kiri) saat meninjau perkembangan pembangunan proyek MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Ia mengungkapkan bisa masuk ke MRT Jakarta setelah melamarkan diri. Namun, dia saat itu tidak tahu level apa yang ditawarkan . Yang ia tahu, PT MRT Jakarta butuh tenaga-tenaga profesional di bidang konstruksi dari luar negeri untuk pulang ke Tanah Air.

“Saya coba ajukan [lamaran kerja], diskusi beberapa kali dan ada tahapan interviewnya juga. Akhirnya dipercaya untuk posisi Direktur Konstruksi MRT Jakarta,” katanya kepada VIVA.

Silvia mengakui, keberanian untuk melamar ke PT MRT Jakarta lantaran dia telah memiliki beberapa pengalaman bidang konstruksi di Singapura. Terlebih, sejak lulus kuliah hingga bekerja, Silvia memang fokus di sektor konstruksi.

Lulusan teknik sipil dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura ini telah banyak berkecimpung dalam project management infrastruktur di Kota Singa itu. Maka Silvia pun sangat familiar dengan konsep railway yang akan diterapkan di Indonesia saat ini.

Belajar dari Singapura

Silvia sangat paham akan proyek infrastruktur transportasi, sehingga dia mengaku tak terlalu sulit untuk mengerjakan proyek MRT Jakarta. Dia sudah berpengalaman dalam pembuatan infrastruktur bawah tanah maupun tumpang tindih.

Ia menceritakan, sebelum bergabung dengan MRT Jakarta, sejumlah proyek yang sama saat itu sedang ia kerjakan di Singapura. Silvia fokus pada land transport system, di mana proyek terbesar dikerjakannya adalah road tunnel dan bukan underpass.

“Saya terakhir kerjakan terbesar adalah road tunnel. Ini bukan yang 100 meter, tapi tiga road tunnel di interchange, di junction paling complicated Singapura. Di bawah road tunnel ada MRT yang beroperasi, jadi technical challengenya tinggi,” jelasnya.

Dari sejumlah proyek itu, Silvia menanganinya sejak dari perencanaan proyek, desain, konstruksinya seperti apa, hingga sampai pada operasi. Sehingga, saat mengerjakan proyek MRT di Jakarta dirinya tak terlalu banyak menemukan hambatan teknis.

“Kalau secara teknis (tantangan) ya di Singapura, karena kondisi urbannya sudah lebih komplek. Di sana kehati-hatiannya sangat tinggi, sedangkan di Jakarta tidak sebanyak Singapura infrastrukturnya sehingga pada dasarnya seperti bangun underpass, jadi masih lebih mudah lah,” ujarnya.

Satu hambatan yang masih terbersit di pikirannya saat menangani MRT Jakarta saat ini, lanjut Silvia, adalah terkait birokrasi yang sanga rumit. Dirinya pun harus menyiapkan empat konsep jika ternyata terhambat sejumlah aturan yang bervariasi di Indonesia.

Maka, perempuan berusia 35 tahun ini berharap ilmu yang dimiliki dapat membantu selesainya konstruksi MRT di Jakarta tepat waktu. Ia juga memiliki cita-cita untuk bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat dari konstruksi yang diciptakan.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim (tengah) saat meninjau proyek pembangunan di Jakarta. (Dok. PT Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta)

Tak hanya itu, di luar kontruksi MRT yang ia siapkan, ada juga infrastruktur penunjang untuk memudahkan masyarakat. Salah satunya kata Silvia adalah fasilitas pedistrian yang dirancang lebih baik agar penggunakan transportasi MRT lebih nyaman.

“Kita juga mikirin, bukan cuma struktur stasiun, tapi yang di atas nih, di jalanannya bagaimana. fasilitas pedestriannya menunjang enggak? karena kan ekspektasi kita orang akan berjalan, atau turun di sekitar stasiun, berjalan masuk ke stasiun kita,” tambahnya.

Sejak dimulai pada 2013, hingga 25 Februari 2018, secara keseluruhan proyek fisik MRT telah mencapai 91,86 persen. Terdiri dari 87,99 persen konstruksi eleveted dan 95,76 persen konstruksi underground.

Selain itu, untuk konstruksi stasiun sudah terlihat di Stasiun Sisingamangaraja yang memasuki tahap pemasangan rangka atap. Sehingga, saat rangka atap dipasang, bentuk dari stasiun layang sudah mulai terlihat.

Tak Canggung

Bekerja di bidang yang didominasi laki-laki, Silvia mengaku sebelumnya tak pernah berpikir akan berkarier di sektor konstruksi. Bahkan, tak terpikir sedikit pun bahwa konstruksi adalah pekerjaan laki-laki.

“Tidak pernah terbersit di kepala saya waktu saya mulai berkarier. Never in my mind saya merasa seperti itu. Jadi saat saya mulai kerja ga pernah terpikir ini pekerjaan cowok, jadi engga cocok buat saya. Ya saya buat simple engineering itu general,” jelasnya.

Silvia menceritakan, selama bekerja di sektor konstruksi, dia tidak menemui ada pembedaan antara perempuan dan Laki-laki. Hanya saja ada beberapa kebijakan yang membuatnya harus mengakui bahwa sebuah kesenioran menjadi pertimbangan perusahaan.

Hal itu Silvia alami saat bekerja di Singapura. Walau bersama rekan sekerjanya memiliki performace yang sama-sama bagus, namun karena dia dipandang lebih senior maka mendapatkan promosi lebih dahulu.

Maka, dia memiliki sebuah keinginan yang harus tertular kepada seluruh perempuan di Indonesia. “Perempuan harus memiliki keunggulan dari laki-laki dengan terus bekerja keras,” ujarnya.

Direktur Konstruksi Silvia Halim (kiri) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) saat meninjau pedestrian di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Silvia menyadari ada beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menentukan sebuah kebijakan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Hal itu pernah dia temukan saat menyelesaikan pekerjaannya di Singapura.

Di sana, setiap keputusan yang diambil laki-laki dan perempuan berbeda dari kualitas outputnya. Salah satunya cara berkomunikasi. Gaya komunikasi dengan laki-laki lebih kepada perintah atasan yang harus diterapkan sesuai 1,2,3 dan seterusnya.

Sedangkan cara komunikasi dengan perempuan adalah sifatnya lebih kepada mendengarkan pendapat dan menerima masukan. Cara seperti ini membuat kontraktor akan setuju caranya dan bekerja dengan lebih baik.

“Saya ingat, bos laki-laki selalu bilang ,’Sudah, perintah aja siapa kontraktornya, keluarin surat segala macam.’ Sedangkan saya tidak, karena ingin mencari win-win agar kontraktor setuju dan senang hati mengerjakannya sehingga pekerjaa lebih baik,” paparnya.

Dipuji Anak Buah

Silvia, yang bergabung dengan PT MRT Jakarta di pertengahan proyek yang sedang berjalan, mengaku tak banyak hambatan yang ditemui bersama anak buahnya. Terlebih latar belakang yang dimilikinya sama-sama berilmu teknil sipil, sehingga langsung bisa menyatu dengan yang lainnya.

Ia mengakui, tim di bawahnya sudah cukup matang karena sudah menjalankan sejak MRT di mulai pada 2013 hingga 2016. Tim yang diketuainya pun telah mengerti apa yang terjadi di lapangan sehingga membutuhkan sedikit arahan dan usulan dari apa yang sudah dirinya pelajari sehingga semakin kuat.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim (tengah) saat meninjau proyek pembangunan di Jakarta. (Dok. PT Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta)

Dari saat masuk, Silvia pun tak merasa memiliki hambatan secara teknik dengan tim yang diketuainya. Hanya saja, satu hambatan yang belum terselesaikan hingga saat ini adalah menyelesaikan masalah birokrasi yang rumit di Indonesia.

Hal tersebut pun diakui oleh bawahannya, Heru Nugroho Adhy Prasetyo, Project Manager Eleveted Section PT MRT Jakarta. Menurutnya, Silvia adalah direktur konstruksi yang luar biasa dan sangat menguasai bidangnya.

Ia memandang, sangat tepat jabatan itu diemban Silvia karena memiliki pengalaman, background yang sama saat bekerja di Singapura. Pekerjaan sejenis yang dikerjakannya saat ini membuat dia sangat pandai dalam memimpin sebuah proyek.

“Dia tidak saja memiliki pengetahuan, tapi juga seseorang yang pandai. Justru karena beliau adalah perempuan di sini lah kelebihannya. Dia sangat detail, dan sesuatu yang barangkali secara umum dibandingkan Laki-laki,” jelasnya kepada VIVA.

Heru mengungkapkan, di bawah kepemimpinan Silvia tim bekerja dengan sangat baik, terlebih dia selalu menempatkan diri secara setara dalam setiap diskusi, rapat rutin dan pembicaraan dalam nyelesaikan masalah.

Dari situ, Silvia mengajarkan semua orang untuk bisa mengeluarkan pendapatnya dan menghargai semua usul yang disampaikan. Selain itu, lanjut Heru, Silvia juga selalu memberikan motivasi agar apa yang dikerjakan bisa dilakukan dengan baik.

Silvia orang yang tepat di MRT, saat dibutuhkan kecepatan kerja, ketelitian serta komunikasi yang baik di perusahaan. Adanya Silvia membuat banyak orang termotivasi dan pekerjaan tertata dengan baik,” ujar Heru. (ren)

Source: Viva

Silvia Halim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Silvia Halim (lahir di Jakarta, 18 Juni 1982; umur 36 tahun) adalah perempuan satu-satunya di jajaran direksi PT Mass Rapid Transit Indonesia yang ditugaskan untuk memimpin proyek konstruksi MRT Jakarta. Ia membawahi 60 orang pekerja yang mayoritas adalah laki-laki.

Selama masa pengerjaan proyek MRT, Silvia ditugaskan untuk memantau, mengelola, dan melalukan observasi di lapangan terkait perkembangan proyek MRT. Surat kabar Kompas mencatat, Silvia mampu dapat menyatukan semua aspirasi untuk pembangunan proyek MRT. Ia melakukan pendekatan komunikasi terbuka baik di lapangan mapun dengan pemerintah sehingga setiap masalah atau kendala yang di lapangan akan didiskusikan terlebih dahulu dengan cara meeting kerja antara semua jajaran yang terkait proyek.

Related Posts: